Tugas Makalah Psikologi Konseling Fauzan

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MAKALAH

“PSIKOLOGI KONSELING” “PSIKOLOGI KONSELING”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Psikologi Konseling Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Psikologi Konseling

DISUSUN OLEH : DISUSUN OLEH : Nama : Fauzan Nurcholish Nama : Fauzan Nurcholish NIM

NIM : : 11640100541164010054 Kelas

Kelas : : BKI 4 BKI 4 bb

PROGRAM STUDI PROGRAM STUDI

BIMBINGAN KONSELING ISLAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2018/2019 2018/2019

(2)

Kata Pengantar Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt karena kami masih diberi kesehatan dan Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt karena kami masih diberi kesehatan dan kesempatan untu

kesempatan untu

k menyelesaikan makalah ”PSIKOLOGI KONSELING” ini sebagai bentuk

k menyelesaikan makalah ”PSIKOLOGI KONSELING” ini sebagai bentuk

 pendalaman materi Psikologi Konseling yang

 pendalaman materi Psikologi Konseling yang merupakan mata kuliah yang sedang saya tempuh.merupakan mata kuliah yang sedang saya tempuh. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi besar Muhammad saw. Beserta keluarga dan para sahabatnya, yang telah membimbing dan memberdayakan umat saw. Beserta keluarga dan para sahabatnya, yang telah membimbing dan memberdayakan umat melalui dakwah dan pendidikan sehingga dapat melaksanakan pengabdiannya kepada Allah swt. melalui dakwah dan pendidikan sehingga dapat melaksanakan pengabdiannya kepada Allah swt. Tak lupa kami ucapkan terima kasih pada dosen pengampuh Mata Kuliah saya yang telah Tak lupa kami ucapkan terima kasih pada dosen pengampuh Mata Kuliah saya yang telah mencurahkan ilmunya kepada saya yang masih sangat haus ilmu. Dan tak lupa pula saya mencurahkan ilmunya kepada saya yang masih sangat haus ilmu. Dan tak lupa pula saya ucapkan terimakasih pada teman-teman yang telah mendukung atau menginspirasi kami dalam ucapkan terimakasih pada teman-teman yang telah mendukung atau menginspirasi kami dalam menyelesaikan makalah ini.

menyelesaikan makalah ini.

saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya pihak saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya pihak  pemakalah sangat

 pemakalah sangat mengharapkan saran-smengharapkan saran-s aran aran yang sekiranya yang sekiranya dapat dapat memperbaiki kesalamemperbaiki kesalahan atauhan atau kekurangan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

(3)

BAB I BAB I

PENDAHULUAN PENDAHULUAN A.

A. Latar BelakangLatar Belakang

Sebagai calon konselor kita harus mampu melakukan konseling, hal ini dipelajari dalam Sebagai calon konselor kita harus mampu melakukan konseling, hal ini dipelajari dalam  psikologi, yaitu

 psikologi, yaitu psikologi konseling, psikologi konseling, yang merupakan yang merupakan cabang dari cabang dari psikologi. Kita psikologi. Kita harus harus mampumampu memahami psikologi konseling agar kita bisa mengerti dan menjadi acuan dalam melakukan memahami psikologi konseling agar kita bisa mengerti dan menjadi acuan dalam melakukan konseling.

konseling.

Dengan mengetahui pengertian dari psikologi, konseling dan psikologi konseling, maka Dengan mengetahui pengertian dari psikologi, konseling dan psikologi konseling, maka sedikit banyaknya akan membantu kita sebagai calon konselor untuk dapat melaksanakan proses sedikit banyaknya akan membantu kita sebagai calon konselor untuk dapat melaksanakan proses konselor yang baik. Juga diharapkan kita mampu menerapkan pemahaman psikologi kita konselor yang baik. Juga diharapkan kita mampu menerapkan pemahaman psikologi kita terhadap proses konseling karena dengan memahami proses mental dari klien akan membantu terhadap proses konseling karena dengan memahami proses mental dari klien akan membantu kita dalam menyusun langkah berikut dalam membantu penyelesaian masalah yang sedang kita dalam menyusun langkah berikut dalam membantu penyelesaian masalah yang sedang dihadapi klien.

dihadapi klien.

Didalam makalah ini, di jel

Didalam makalah ini, di jelaskan tentang defenisi dari psikologi, konseling, dan psikologiaskan tentang defenisi dari psikologi, konseling, dan psikologi konseling. Semoga akan membantu kita pembaca

konseling. Semoga akan membantu kita pembaca dalam mengasah pemahaman yang mendukungdalam mengasah pemahaman yang mendukung terwujudnya keprofesionalan sebagai seorang konselor.

terwujudnya keprofesionalan sebagai seorang konselor. B. Rumusan Masalah

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Psikologi Konseling ? 1. Apa pengertian dari Psikologi Konseling ? 2. Apa tujuan dari Psikologi Konseling ? 2. Apa tujuan dari Psikologi Konseling ? 3. Apa Manfaat dari Psikologi Konseling ? 3. Apa Manfaat dari Psikologi Konseling ?

4. Apa Konsep/Prinsip Dasar Psikologi Konseling ? 4. Apa Konsep/Prinsip Dasar Psikologi Konseling ?

5. Bagaimana Pendekatan Pendekatan Psikologi Konseling ? 5. Bagaimana Pendekatan Pendekatan Psikologi Konseling ? C. Tujuan

C. Tujuan 1. Untuk

1. Untuk mengetahui mengetahui pengertian dari Ppengertian dari Psikologi Konseling.sikologi Konseling. 2. Untuk mengetahui tujuan dari Psikologi Konseling. 2. Untuk mengetahui tujuan dari Psikologi Konseling. 3. Untuk mengetahui Manfaat dari

3. Untuk mengetahui Manfaat dari Psikologi KonselingPsikologi Konseling

4. Untuk mengetahui Konsep/Prinsip Dasar Psikologi Konseling 4. Untuk mengetahui Konsep/Prinsip Dasar Psikologi Konseling 5. Untuk mengetahui Pendekatan Pendekatan Psikologi Konseling 5. Untuk mengetahui Pendekatan Pendekatan Psikologi Konseling

(4)

BAB II BAB II PEMBAHASAN PEMBAHASAN A.

A. Pengertian Psikologi KonselingPengertian Psikologi Konseling

Psikologi konseling adalah suatu kegiatan yang dibangun melalui adanya interaksi antara Psikologi konseling adalah suatu kegiatan yang dibangun melalui adanya interaksi antara klien dengan psikolog/konselor untuk mengidentifikasi persepsi, kebutuhan, nilai, perasaan, klien dengan psikolog/konselor untuk mengidentifikasi persepsi, kebutuhan, nilai, perasaan,  pengalaman, harapan, s

 pengalaman, harapan, serta erta masalah masalah yang dihadapi klien. yang dihadapi klien. Hal ini Hal ini dilakukan dengan tujuan dilakukan dengan tujuan untukuntuk memecahkan masalah-masalah psikologis klien dengan menyadarkan klien akan akar masalah memecahkan masalah-masalah psikologis klien dengan menyadarkan klien akan akar masalah yang sebenarnya dihadapi hingga akhirnya klien dapat menemukan sendiri solusi dari masalah yang sebenarnya dihadapi hingga akhirnya klien dapat menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya.

yang dihadapinya.

Seorang yang menghadapi permasalahan dalam hidupnya, kadang kala dirasakan begitu Seorang yang menghadapi permasalahan dalam hidupnya, kadang kala dirasakan begitu  berat atau

 berat atau mengganggu kehidupannya dalam keseharian. mengganggu kehidupannya dalam keseharian. Namun, seringkali Namun, seringkali mereka menghadapimereka menghadapi masalah tersebut tanpa tahu benar dan menyadari apa sebenarnya akar dari masalah mereka masalah tersebut tanpa tahu benar dan menyadari apa sebenarnya akar dari masalah mereka tersebut. Melalui proses konseling inilah bersama-sama antara konselor dengan klien tersebut. Melalui proses konseling inilah bersama-sama antara konselor dengan klien menemukan akar masalah yang ada dan menyadarkan klien akan apa yang harus dilakukannya menemukan akar masalah yang ada dan menyadarkan klien akan apa yang harus dilakukannya untuk memecahkan masalahnya tersebut.

untuk memecahkan masalahnya tersebut.

Firman Allah dalam Q.S Al-Isra ayat 26 Firman Allah dalam Q.S Al-Isra ayat 26



 







“Dan berikanlah kepada keluarga

“Dan berikanlah kepada keluarga

-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan

(hartamu) secara boros.”

(hartamu) secara boros.”

Dari ayat diatas menjelakan bahwa sesama manusia harus saling peduli. Ini adalah salah Dari ayat diatas menjelakan bahwa sesama manusia harus saling peduli. Ini adalah salah satu dasar

Al-satu dasar Al-

Qur’an yang menjadi landasan konseling untnuk memberikan bantuan terhadap

Qur’an yang menjadi landasan konseling untnuk memberikan bantuan terhadap

seseorang yang sedang menghadapi masalah.

seseorang yang sedang menghadapi masalah.

Diantara berbagai disiplin ilmu, yang memiliki kedekatan hubungan dengan konseling Diantara berbagai disiplin ilmu, yang memiliki kedekatan hubungan dengan konseling adalah psikologi, bahkan secara khusus dapat dikatakan bahwa konseling merupakan aplikasi adalah psikologi, bahkan secara khusus dapat dikatakan bahwa konseling merupakan aplikasi dari psikologi, terutama jika dilihat dari tujuan, teori yang digunakan, dan proses dari psikologi, terutama jika dilihat dari tujuan, teori yang digunakan, dan proses  penyelenggaraannya. Oleh karena

 penyelenggaraannya. Oleh karena itu telaah itu telaah mengenai konseling mengenai konseling dapat disebut dapat disebut dengan psikologidengan psikologi konseling (counseling psychology).

konseling (counseling psychology).

Dilihat dari proses konseling, Psikologi konseling adalah cabang kekhususan dari Dilihat dari proses konseling, Psikologi konseling adalah cabang kekhususan dari  psikologi

 psikologi yang mengkaji yang mengkaji berbagai berbagai aspek aspek yang teyang terlibat rlibat dalam dalam proses proses konseling. konseling. Aspek-aspek Aspek-aspek ituitu meliputi karakteristik; konseling, konselor, konseli dan masalahnya, berbagai kondisi yang meliputi karakteristik; konseling, konselor, konseli dan masalahnya, berbagai kondisi yang menunjang dan menghambat konseling, serta metode atau pendekatan-pendekatan dalam menunjang dan menghambat konseling, serta metode atau pendekatan-pendekatan dalam konseling.

konseling.

Didalam proses

Didalam proses konseling, konseling, semua aspek tersebut semua aspek tersebut saling terkait. saling terkait. Sehingga tidak Sehingga tidak dapatdapat dilepaskan satu sama lain. Seorang konselor professional akan lebih berhasil dalam memberikan dilepaskan satu sama lain. Seorang konselor professional akan lebih berhasil dalam memberikan  pelayanan konseling kepada kon

 pelayanan konseling kepada konselinya.selinya.

(5)

Keprofesionalan seorang konselor didukung oleh pemahaman psikologinya yang luas. Keprofesionalan seorang konselor didukung oleh pemahaman psikologinya yang luas. Karena dengan pemahaman terhadap Psikologi akan sangat membantu seorang konselor dalam Karena dengan pemahaman terhadap Psikologi akan sangat membantu seorang konselor dalam memahami tingkah laku dan proses mental dari seorang klien. Tanpa psikologi maka ia tidak memahami tingkah laku dan proses mental dari seorang klien. Tanpa psikologi maka ia tidak akan mampu menciptakan suasana konseling yang efektif. Karena didalam proses konseling akan mampu menciptakan suasana konseling yang efektif. Karena didalam proses konseling konselor diharapkan mampu untuk memanfaatkan segala kondisi yang menunjang kesuksesan konselor diharapkan mampu untuk memanfaatkan segala kondisi yang menunjang kesuksesan  proses konseling dan menghin

 proses konseling dan menghindari faktor-faktor yang dapat menghambat konseling.dari faktor-faktor yang dapat menghambat konseling.

Pemahaman terhadap psikologi juga akan membantu konselor dalam memilih metode Pemahaman terhadap psikologi juga akan membantu konselor dalam memilih metode dan pendekatan-pendekatan konseling yang tepat dan mampu menereapkannya dalam layanan dan pendekatan-pendekatan konseling yang tepat dan mampu menereapkannya dalam layanan konseling, sehingga ia dapat membawa konseli/klien kearah jalan menuju individu yang mampu konseling, sehingga ia dapat membawa konseli/klien kearah jalan menuju individu yang mampu mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki pola pikir positif.

mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki pola pikir positif. B.

B. Tujuan Psikologi KonselingTujuan Psikologi Konseling

Psikologi konseling secara umum bertujuan untuk mengembangkan penggunaan Psikologi konseling secara umum bertujuan untuk mengembangkan penggunaan teori-teori psikologi dalam konseling kepada target konseling. Teori-teori-teori psikologi konseling ini di teori psikologi dalam konseling kepada target konseling. Teori-teori psikologi konseling ini di antaranya teori psikologi Freudian, teori psikologi Behavioristik, dan teori psikologi Humanistik. antaranya teori psikologi Freudian, teori psikologi Behavioristik, dan teori psikologi Humanistik. Secara khusus, tujuan psikologi konseling adalah untuk melakukan pengkajian secara Secara khusus, tujuan psikologi konseling adalah untuk melakukan pengkajian secara sistematis, logis, dan objektif terhadap variable vari

sistematis, logis, dan objektif terhadap variable variabel yang berpengaruh terhadap konseling.abel yang berpengaruh terhadap konseling. C.

C. Manfaat dari Psikologi KonselingManfaat dari Psikologi Konseling a.

a. Bimbingan konseling akan membuat diri kita merasa lebih baik, merasa lebihBimbingan konseling akan membuat diri kita merasa lebih baik, merasa lebih  bahagia,

 bahagia, tenang tenang dan dan nyaman nyaman karena karena bimbingan bimbingan konseling konseling tersebut tersebut membantu membantu kitakita untuk menerima setiap sisi yang ada di dalam diri

untuk menerima setiap sisi yang ada di dalam diri kita.kita.  b.

 b. Bimbingan konseling juga membantu menurunkan bahkan menghilangkanBimbingan konseling juga membantu menurunkan bahkan menghilangkan tingkat tingkat stress dan depresi yang kita alami karena kita dibantu untuk mencari tingkat tingkat stress dan depresi yang kita alami karena kita dibantu untuk mencari sumber stress tersebut serta dibantu pula mencari cara penyelesaian terbaik dari sumber stress tersebut serta dibantu pula mencari cara penyelesaian terbaik dari  permasalahan yang belum terselesaikan itu.

 permasalahan yang belum terselesaikan itu. c.

c. Bimbingan konseling membantu kita untuk dapat memahami dan menerima diriBimbingan konseling membantu kita untuk dapat memahami dan menerima diri sendiri dan orang lain sehingga akan meningkatkan hubungan yang efektif dengan sendiri dan orang lain sehingga akan meningkatkan hubungan yang efektif dengan orang lain serta dapat berdamai dengan diri sendiri.

orang lain serta dapat berdamai dengan diri sendiri. d.

d. Perkembangan personal akan meningkat secara positif karena adanya bimbingaPerkembangan personal akan meningkat secara positif karena adanya bimbinga konseling.

konseling. D.

D. Konsep/Prinsip Dasar Psikologi KonselingKonsep/Prinsip Dasar Psikologi Konseling Konsep/Prinsip Dasar :

Konsep/Prinsip Dasar : Pengertia

Pengertian n Psikologi KonselingPsikologi Konseling

Psikologi Konseling Mmerupakan cabang dari psikologi yang mengkaji berbagai aspek Psikologi Konseling Mmerupakan cabang dari psikologi yang mengkaji berbagai aspek yang terlibat dalam proses konseling. aspek - aspek tersebut meliputi karakteristik konseli, yang terlibat dalam proses konseling. aspek - aspek tersebut meliputi karakteristik konseli, konselor, dan masalah - masalahnya, berbagai kondisi yang nmenghambat atau menunjang konselor, dan masalah - masalahnya, berbagai kondisi yang nmenghambat atau menunjang  proses konesling serta metode atau pendekatan - pendekatan

(6)

Tujuan Psikologi Konseling Tujuan Psikologi Konseling

Tujuan secara umum yaitu untuk mengembangkan penggunaan teori - teori psikologi Tujuan secara umum yaitu untuk mengembangkan penggunaan teori - teori psikologi dalam layanan konseling kepada konseli. sedangkan tujuanya secara khusus yaitu untuk dalam layanan konseling kepada konseli. sedangkan tujuanya secara khusus yaitu untuk melakukan pengkajian secara sistematius, logis, dan obyektif terhadap variabel - variabel dalam melakukan pengkajian secara sistematius, logis, dan obyektif terhadap variabel - variabel dalam konseling. variabel - variabel tersebut adalah sebagai berikut :

konseling. variabel - variabel tersebut adalah sebagai berikut : 1.

1. hakikat, tujuan, prinsip - prinsip, asas - asas dalam konseling.hakikat, tujuan, prinsip - prinsip, asas - asas dalam konseling. 2.

2. karakteristik dan kompetensi konselor profesional.karakteristik dan kompetensi konselor profesional. 3.

3. karakteristik konseli dan masalah - masalahnya.karakteristik konseli dan masalah - masalahnya. 4.

4.  pengembangan ko pengembangan kondisi psikologis yang menunjang ndisi psikologis yang menunjang berlangsungnya proses konseling.berlangsungnya proses konseling. 5.

5. upaya mengatasi hambatan - hambatan dalam proses konseling.upaya mengatasi hambatan - hambatan dalam proses konseling. Bidang Kjian dalam Psikologi Konseling

Bidang Kjian dalam Psikologi Konseling

 hakikat, tujuan, prinsip - prinsip, dan asas - asas khakikat, tujuan, prinsip - prinsip, dan asas - asas konseling.onseling. 

 karakteristik dan kompetensi konselor profesional.karakteristik dan kompetensi konselor profesional. 

 karakteristik konseli dan masalah - masalahnya.karakteristik konseli dan masalah - masalahnya. 

 hambatan - hambatan dalam proses konseling.hambatan - hambatan dalam proses konseling. 

 kondisi psikologis yang menunjang berlangsungnya konseling.kondisi psikologis yang menunjang berlangsungnya konseling.

Metode - Metode Pengembangan Psikologi Konseling Secara garis besar metode Metode - Metode Pengembangan Psikologi Konseling Secara garis besar metode  pengembangan

 pengembangan psikologi psikologi konseling konseling terbagi terbagi menjadi menjadi dua dua yaitu yaitu metodemetode longitudinal longitudinal   dan metode  dan metode cross- sectional 

cross- sectional .. Metode

Metode longitudinal longitudinal  yaitu metode pengembangan yang dilakukan dalam kurun waktu yang yaitu metode pengembangan yang dilakukan dalam kurun waktu yang relatif lama untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan. misalnya, konselor hendak relatif lama untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan. misalnya, konselor hendak mengembangkan penerapan teori - teori tertentu seperti teori Gestalt untuk membantu konseli mengembangkan penerapan teori - teori tertentu seperti teori Gestalt untuk membantu konseli yang menderita depresi.

yang menderita depresi. Metode

Metode  cross-sectional   cross-sectional   adalah metode pengembangan yang membutuhkan waktu yang  adalah metode pengembangan yang membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk memperoleh data - data yang diinginkan. desain pengembangan metode ini relatif singkat untuk memperoleh data - data yang diinginkan. desain pengembangan metode ini ada dua yaitu eksperimen dan non eksperimen. metode eksperimen yaitu peneliti harus ada dua yaitu eksperimen dan non eksperimen. metode eksperimen yaitu peneliti harus melakukan

melakukan treanment treanment . sedangkan non eksperimen peneliti tidak memberikan treatmen tetapi. sedangkan non eksperimen peneliti tidak memberikan treatmen tetapi cukup mengumpulkan data data secara teliti dari beberapa konseli mengunakan metode cukup mengumpulkan data data secara teliti dari beberapa konseli mengunakan metode -metode tertentu dan hasilnya dianalisis serta diinterprensi secara objektif. Metode - -metode yang metode tertentu dan hasilnya dianalisis serta diinterprensi secara objektif. Metode - metode yang digunakan dalam non eksperimen yaitu sebagai berikut :

digunakan dalam non eksperimen yaitu sebagai berikut : 1.

1. Metode Intropeksi.Metode Intropeksi. 2.

2. Metode Ekstropeksi.Metode Ekstropeksi. 3.

3. Metode Kuisioner.Metode Kuisioner. 4.

4. Metode Wawancara.Metode Wawancara. 5.

5. Metode Sosiometri.Metode Sosiometri. 6.

6. Metode Biografi.Metode Biografi. 7.

7. Metode Dokumentasi.Metode Dokumentasi. 8.

8. Metode Kelompok.Metode Kelompok. 9.

(7)

E.

E. PendekataPendekatan n Pendekatan Psikologi KonselingPendekatan Psikologi Konseling 1. PENDEKATAN BEHAVIORAL

1. PENDEKATAN BEHAVIORAL

Pendekatan behavioral atau perilaku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang Pendekatan behavioral atau perilaku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang  berakar pada berbagai teori belajar. Konseling model ini menyertakan

 berakar pada berbagai teori belajar. Konseling model ini menyertakan penerapan yang sistematispenerapan yang sistematis  prinsip

 prinsip

 – 

 – 

 prinsip belajar pada pengubahan perilaku kearah cita prinsip belajar pada pengubahan perilaku kearah cita

 – 

 – 

 cita yang adaptif. Pendekatan cita yang adaptif. Pendekatan  behavioral tidak menguraikan asumsi

 behavioral tidak menguraikan asumsi

 – 

 – 

 asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan

langsung. Setiap orang dipandang memiliki kecenderungan

 – 

 – 

 kecenderungan positif dan negative kecenderungan positif dan negative yang sama. Manusia pada dasar

yang sama. Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budanya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial buda yanya.yanya. Dalam kegiatan konseling behavioral tidak ada suatu teknik konseling pun yang selalau harus Dalam kegiatan konseling behavioral tidak ada suatu teknik konseling pun yang selalau harus digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dieliminasi dan diganti dengan teknik digunakan, akan tetapi teknik yang dirasa kurang baik dieliminasi dan diganti dengan teknik yang baru.

yang baru.

Berikut ini adalah beberapa teknik konseling behavioral : Berikut ini adalah beberapa teknik konseling behavioral : 1. Desensitisasi sistematik (systematic desensitization ). 1. Desensitisasi sistematik (systematic desensitization ).

Teknik desensitisasi sistematik bermaksud mengajar klien untuk memberikan respon yang tidak Teknik desensitisasi sistematik bermaksud mengajar klien untuk memberikan respon yang tidak knsisten dengan kecemasan yang dialami klien. Teknik ini tak dapat berjalan ta

knsisten dengan kecemasan yang dialami klien. Teknik ini tak dapat berjalan ta npa tekniknpa teknik relaksasi.

relaksasi.

Di dalam konseling itu klien diajar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan Di dalam konseling itu klien diajar untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman

membayangkan pengalaman

 – 

 – 

 pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan atau pengalaman yang mencemaskan, menggusarkan atau mengecewakan.

mengecewakan.

Situasi yang diberikan disusun secara sistematik dari

Situasi yang diberikan disusun secara sistematik dari yang kurang mencemaskan hingga yangyang kurang mencemaskan hingga yang  paling mencemaskan

 paling mencemaskan 2. Assertive Training 2. Assertive Training

Dalam assertive training konselor berusaha meberikan keberanian kepada klien dalam mengatasi Dalam assertive training konselor berusaha meberikan keberanian kepada klien dalam mengatasi kesulitan tehadap orang lain. Pelaksanaan teknik ini adalah ialah dengan role playing.

kesulitan tehadap orang lain. Pelaksanaan teknik ini adalah ialah dengan role playing. 3. Aversion therapy

3. Aversion therapy

Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negative dan memperkuat peril

Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negative dan memperkuat peril aku psitif.aku psitif. 4. Home Work

4. Home Work

Yaitu suatu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi Yaitu suatu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu.

tertentu.

2. PENDEKATAN

2. PENDEKATAN PSIKOANALITIK PSIKOANALITIK 

Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dan tiga system id, eg, dan Menurut pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian terdiri dan tiga system id, eg, dan

superego. Id adalah system kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari superego. Id adalah system kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bersifat tidak id ketika dilahirkan. Id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bersifat tidak logis, amoral, dan di dorong oleh s

logis, amoral, dan di dorong oleh satu kepentingan : memuaskan kebutuhanatu kepentingan : memuaskan kebutuhan

 – 

 – 

 kebutuhan naluriah kebutuhan naluriah sesuai dengan asas kesenangan. Ego adalah tempat bersema

sesuai dengan asas kesenangan. Ego adalah tempat bersema yam intelegensi dan rasionalitas yangyam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan implus

mengawasi dan mengendalikan implus

 – 

 – 

implus buta dari id. Superego adalah kode moralimplus buta dari id. Superego adalah kode moral

individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk , benar atau salah. individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk , benar atau salah. Ada lima teknik dasar dari konseling psikoanalisis

(8)

1. Asosiasi bebas 1. Asosiasi bebas

Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau menikis alam pikirannya dari alam Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atau menikis alam pikirannya dari alam  pengalaman dan pemikiran sehari

 pengalaman dan pemikiran sehari

 – 

 – 

 hari sekarang ini, sehingga klien mudah hari sekarang ini, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya.

mengungkapkan pengalaman masa lalunya. 2. Interpretasi

2. Interpretasi

Adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, Adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan, dan bahkan

resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan, dan bahkan mengaajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasi dalam mimpi

mengaajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasi dalam mimpi , asosiasi, asosiasi  bebas, resistensi, dan transferensi klien.

 bebas, resistensi, dan transferensi klien. 3. Analisis mimpi

3. Analisis mimpi

Yaitu suatu teknik untuk membuka hal

Yaitu suatu teknik untuk membuka hal

 – 

 – 

hal yang tak disadari dan member kesempatanhal yang tak disadari dan member kesempatan klien untuk menilik masalah

klien untuk menilik masalah

 – 

 – 

 masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena diwaktu tidur pertahanan

adalah karena diwaktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks ego menjadi lemah dan kompleks yangyang terdesakpun muncul ke permukaan.

terdesakpun muncul ke permukaan. 4. Analisis Resistensi

4. Analisis Resistensi

Analis resistensi ditunjukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan

Analis resistensi ditunjukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan

 – 

 – 

 alasan terjadinya alasan terjadinya resistensinya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi. Penafsiran resistensinya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi. Penafsiran analisis atas resistensi ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan

analisis atas resistensi ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan

 – 

 – 

 alasan alasan yang ada di balik resistensi sehingga dia bisa menanganinya.

yang ada di balik resistensi sehingga dia bisa menanganinya. 5. Analisis Tansferensi

5. Analisis Tansferensi

Analisis tranferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis

Analisis tranferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis sebab mendorongsebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam ter

klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam ter api. Ia memungkinkanapi. Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi

klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi

 – 

 – 

 fiksasi dan deprivasi fiksasi dan deprivasi

 – 

 – 

deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pegaruh masa

deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pegaruh masa lampau terhadaplampau terhadap kehidupannya sekarang.

kehidupannya sekarang.

3. PENDEKATAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK  3. PENDEKATAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK 

Psikologi eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama Psikologi eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih

adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih

 – 

 – 

alih suatu systemalih suatu system teknik

teknik

 – 

 – 

 teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Oleh karena  teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Oleh karena itu , pendekatanitu , pendekatan eksistensial

eksistensial

 – 

 – 

 humanistic bukan suatu aliran terapi, bukan pula suatu teori t humanistic bukan suatu aliran terapi, bukan pula suatu teori t unggal yangunggal yang sistematik.

sistematik.

Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial humanistic tidak memiliki Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial humanistic tidak memiliki teknik

teknik

 – 

 – 

 teknik yang ditentukan secara  teknik yang ditentukan secara ketat. Teknik konseling yang dikembangkan olehketat. Teknik konseling yang dikembangkan oleh konselor eksistensial humanistic hanya sedikit. Konselor eksistensial

konselor eksistensial humanistic hanya sedikit. Konselor eksistensial

 – 

 – 

 humanistic bisa humanistic bisa meminjam teknik

meminjam teknik

 – 

 – 

 teknik dari model teknik dari model

 – 

 – 

 model lain. Dalam konseling ini, diagnosis, pengetesan, model lain. Dalam konseling ini, diagnosis, pengetesan, dan pengukuran

dan pengukuran

 – 

 – 

 pengukuran eksternal tidak dipandang penting. Dengan demikian  pengukuran eksternal tidak dipandang penting. Dengan demikian , konseling, konseling model ini bisa menjadi sangat konfrontatif.

model ini bisa menjadi sangat konfrontatif.

Untuk contoh mengenai bagaimana seorang terapis yang berorientasi eksistensial bekerja dalam Untuk contoh mengenai bagaimana seorang terapis yang berorientasi eksistensial bekerja dalam  pertemuan terapi, bisa ditunjuk surat klien yang telah diun

 pertemuan terapi, bisa ditunjuk surat klien yang telah diungkapkan di muka.gkapkan di muka. Berikut ini adalah dalil-dalil

Berikut ini adalah dalil-dalil yang mendasari praktek terapi eksistensial-humanistik yangyang mendasari praktek terapi eksistensial-humanistik yang dikembangkan dari suatu survei atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial

dikembangkan dari suatu survei atas karya-karya para penulis psikologi eksistensial , berasal dari, berasal dari Frankl (1959, 1963), May (1953, 1958, 1961), Maslow (1968), Jourard (1971), dan Bugental Frankl (1959, 1963), May (1953, 1958, 1961), Maslow (1968), Jourard (1971), dan Bugental

(9)

(1965), mempresentasikan sejumlah tema penting yang merinci praktek-praktek terapi. (1965), mempresentasikan sejumlah tema penting yang merinci praktek-praktek terapi. Dalil 1: kesadaran diri

Dalil 1: kesadaran diri

Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang maka ia semakin hidup sebagai Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang maka ia semakin hidup sebagai  pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesangg

 pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untukupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia.

mengalami hidup secara penuh sebagai manusia. Dalil 2: kebebasan dan tanggung jawab

Dalil 2: kebebasan dan tanggung jawab

Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk Manusia adalah makhluk yang menentukan diri, dalam arti bahwa dia memiliki kebebasan untuk memilih diantara alternatif-alternatif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus memilih diantara alternatif-alternatif. Karena manusia pada dasarnya bebas, maka dia harus  bertanggung jawab atas pengarahan hidu

 bertanggung jawab atas pengarahan hidup dan penentuan nasibnya.p dan penentuan nasibnya. Dalil 3: keterpusatan dan kebutuhan akan orang lain

Dalil 3: keterpusatan dan kebutuhan akan orang lain

Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan dan keterpusat

Setiap individu memiliki kebutuhan untuk memelihara keunikan dan keterpusat anny, tapi padaanny, tapi pada saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan

saat yang sama ia memiliki kebutuhan untuk keluar dari dirinya sendiri dan untuk berhubunganuntuk berhubungan dengan orang lain serta dengan alam.

dengan orang lain serta dengan alam.

• Keberanian untuk ada

• Keberanian untuk ada

• Pengalaman kesendirian

• Pengalaman kesendirian

• Pengalaman keberhubungan

• Pengalaman keberhubungan

Dalil 4 Pencarian Makna Dalil 4 Pencarian Makna

Salah satu karakteristik yang khas pada manusia adalah perjuangannya untuk merasakan arti dan Salah satu karakteristik yang khas pada manusia adalah perjuangannya untuk merasakan arti dan maksud hidup.

maksud hidup.

• Masalah penyisihan nilai

• Masalah penyisihan nilai

-nilai lama-nilai lama

• Belajar untuk menemukan makna dalam hidup

• Belajar untuk menemukan makna dalam hidup

• Pandangan eksistensial tentang

• Pandangan eksistensial tentang psikopatologi

psikopatologi

Dalil 5 kecemasan sebagai syarat hidup Dalil 5 kecemasan sebagai syarat hidup Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar

Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia. Kecemasan tidak perlu merupakan suatumanusia. Kecemasan tidak perlu merupakan suatu  patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang

 patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan.kuat untuk pertumbuhan. Kecemasan adalah akibat dari kesadaran ata

Kecemasan adalah akibat dari kesadaran atas tanggung jawab untuk memlilih.s tanggung jawab untuk memlilih.

• Kecemasan sebagai sumber

• Kecemasan sebagai sumber pertumbuhan

pertumbuhan

• Pelarian dari kecemasan

• Pelarian dari kecemasan

• Implikasi

• Implikasi

-implikasi konseling bagi kecemasan-implikasi konseling bagi kecemasan Dalil 6 : kesadaran atas kematian dan Non-Ada Dalil 6 : kesadaran atas kematian dan Non-Ada Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia

Kesadaran atas kematian adalah kondisi manusia yang mendasar yang memberikan maknayang mendasar yang memberikan makna kepada hidup. Para eksistensialis

kepada hidup. Para eksistensialis mengungkapkan bahwa hidup memiliki makna karena memilikimengungkapkan bahwa hidup memiliki makna karena memiliki  pembatasan waktu.

 pembatasan waktu.

Dalil 7 : perjuangan untuk aktualisasi diri Dalil 7 : perjuangan untuk aktualisasi diri

Kecenderungan untuk menjadi apa saja yang mereka mampu, memiliki kecenderunagan ke arah Kecenderungan untuk menjadi apa saja yang mereka mampu, memiliki kecenderunagan ke arah  pengembangan keunikan d

 pengembangan keunikan dan ketunggalan, penemuan identitas pribadi, dan pan ketunggalan, penemuan identitas pribadi, dan perjuangan demierjuangan demi aktualisasi potensi-potensinya secara penuh.

aktualisasi potensi-potensinya secara penuh. 4. PENDEKATAN CLIENT

4. PENDEKATAN CLIENT –  –  CENTERED CENTERED

Terapi model ini dikembangkan pertama kali oleh Carel Rogers dengan sebutan Client Centered Terapi model ini dikembangkan pertama kali oleh Carel Rogers dengan sebutan Client Centered Therapy (Meador dan Rogers, 1973 ) yaitu suatu metode perawatan psikis yang dilakukan

Therapy (Meador dan Rogers, 1973 ) yaitu suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara dengan konseli agar tercapai gambaran

dengan cara berdialog antara dengan konseli agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal selfyang serasi antara ideal self ( diri konseli yang ideal ) dengan actual self

(10)

sebenarnya. sebenarnya.

Pendekatan client centered

Pendekatan client centered difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untukdifokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara

menemukan cara

 – 

 – 

 cara menghadapi kenyataan secara le cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh. Klien , sebagai orang yangbih penuh. Klien , sebagai orang yang  paling mengetahui dirinya adalah orang y

 paling mengetahui dirinya adalah orang yang harus menemukan tingkah laku yang ang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantaslebih pantas  bagi dirinya.

 bagi dirinya.

Konselor yang memilih terapi model i

Konselor yang memilih terapi model ini memang menggunakan teknikni memang menggunakan teknik

 – 

 – 

 teknik, tetapi teknik, tetapi menitikberatkan pada sikap

menitikberatkan pada sikap

 – 

 – 

 sikap konselor. Teknik sikap konselor. Teknik

 – 

 – 

 teknik dasar menca teknik dasar mencakup mendengarkankup mendengarkan aktif, merefleksikan perasaan

aktif, merefleksikan perasaan

 – 

 – 

 perasaan; menjelaskan, perasaan; menjelaskan,

dan “hadir” bagi konseli.

dan “hadir” bagi konseli. Dukungan dan

Dukungan dan

 pemberian keyakinan bisa digunakan

 pemberian keyakinan bisa digunakan jika layak. Pendekatan ini tidak memasukan pengetesanjika layak. Pendekatan ini tidak memasukan pengetesan diagnostic, penafsiran, kasus sejarah, dan bertanya.

diagnostic, penafsiran, kasus sejarah, dan bertanya.

Implementasi teknik konseling tersebut didasari atas paham filsaf

Implementasi teknik konseling tersebut didasari atas paham filsaf at serta siat serta sikap konselor yangkap konselor yang melatarbelakangi penggunaan model terapi ini. Karena itu penggunaan teknik seperti petranyaan, melatarbelakangi penggunaan model terapi ini. Karena itu penggunaan teknik seperti petranyaan, dorongan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi yang rendah.

dorongan, interpretasi, dan sugesti dipakai dalam frekuensi yang rendah. Adapun beberapa tahap dalam konseling terapi client centered antara Adapun beberapa tahap dalam konseling terapi client centered antara lain :lain :

• Klien dating kepada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien

• Klien dating kepada konselor atas kemauan sendiri. Apabila klien dating atas suruhan orang

dating atas suruhan orang

lain , maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang sangat bebas dan permisif

lain , maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang sangat bebas dan permisif dengandengan tujuan agar klien memilih apakah ia akan terus meminta

tujuan agar klien memilih apakah ia akan terus meminta bantuan atau akan membatalkannya.bantuan atau akan membatalkannya.

• Situasi konseling sejak awal harus menjadi t

• Situasi konseling sejak awal harus menjadi tanggung jawab klien, unuk itu konselor

anggung jawab klien, unuk itu konselor

menyadarkan klien menyadarkan klien

• Konselor memberanikan klien

• Konselor memberanikan klien agar ia mampu

agar ia mampu mengemukaka

mengemukakan perasaannya. Konselor harus

n perasaannya. Konselor harus

 bersikap ramah, bersahabat, dan menerima klien sebagaimana adanya  bersikap ramah, bersahabat, dan menerima klien sebagaimana adanya

• Konselor menerima perasaan klien

• Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya

serta memahaminya

• Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya

• Konselor berusaha agar klien dapat memahami dan menerima keadaan dirinya

• Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil

• Klien menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil

• Klien merealisasikan pilihannya itu.

• Klien merealisasikan pilihannya itu.

5. PENDEKATAN GESTALT 5. PENDEKATAN GESTALT

Terapi ini dikembangkan oleh Fredrick S. Pearl (1894-1970) yang didasari oleh empat aliran Terapi ini dikembangkan oleh Fredrick S. Pearl (1894-1970) yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisis, fenomenologis, dan eksistensialisme serta psikologi gestalt. M

yakni psikoanalisis, fenomenologis, dan eksistensialisme serta psikologi gestalt. M enurut Pearlsenurut Pearls individu itu aktif secara keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian

individu itu aktif secara keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian

 – 

 – 

 bagian atau organ bagian atau organ

 – 

 – 

organ semata. organ semata.

Tujuan terapi Gestalt bukanlah penyesuaian terhadap masyarakan. Pearls mengingatkan bahwa Tujuan terapi Gestalt bukanlah penyesuaian terhadap masyarakan. Pearls mengingatkan bahwa kepribadian dasar pada zaman kita adalah neurotic sebab, menurut ke

kepribadian dasar pada zaman kita adalah neurotic sebab, menurut ke yakinannya, kita hidupyakinannya, kita hidup dimasyarakat yang tidak sehat. Kita bisa memilih me

dimasyarakat yang tidak sehat. Kita bisa memilih menjadi bagian dari ketidaksehatan kolektifnjadi bagian dari ketidaksehatan kolektif dan atau menghadapi resiko menjadi sehat. Tujuan terapi selanjutnya adalah membantu klien dan atau menghadapi resiko menjadi sehat. Tujuan terapi selanjutnya adalah membantu klien agar menemukan pusat dirinya.

agar menemukan pusat dirinya.

Sasaran utama terapi gestalt adalah pencapaian kesadaran. Dengan kesadaran, klien memiliki Sasaran utama terapi gestalt adalah pencapaian kesadaran. Dengan kesadaran, klien memiliki kesanggupan untuk menghadapi dan menerima bagian

kesanggupan untuk menghadapi dan menerima bagian

 – 

 – 

 bagian keberadaan  bagian keberadaan yang diingkarinyayang diingkarinya serta untuk berhubungan dengan pengalaman

serta untuk berhubungan dengan pengalaman

 – 

 – 

 pengalaman subjektif dengan kenyataan. Klien pengalaman subjektif dengan kenyataan. Klien  bisa menjadi suatu kesatuan dan menyeluruh. Apabila klien menjad

 bisa menjadi suatu kesatuan dan menyeluruh. Apabila klien menjadi sadar , maka urusannyai sadar , maka urusannya yang tidak selesai akan selalu muncul sehingga bisa ditangani dalam terapi.

yang tidak selesai akan selalu muncul sehingga bisa ditangani dalam terapi. Terapi Gestalt adalah lebih dari sekedar sekumpulan teknik atau permaina

Terapi Gestalt adalah lebih dari sekedar sekumpulan teknik atau permaina

 – 

 – 

 permainan. Teknik permainan. Teknik

 – 

 – 

teknik dalam terapi Gestalt digunakan sesuai dengan gaya pribadi terapis. teknik dalam terapi Gestalt digunakan sesuai dengan gaya pribadi terapis. Levitsky dan Pearls( 1970, hlm.144-149) menyajikan suatu uraian

(11)

 permainan yang biasa digunakan d

 permainan yang biasa digunakan dalam terapi Gestalt yang mencakup :alam terapi Gestalt yang mencakup :

• Permainan Dialog

• Permainan Dialog

Terapis Gestalt menaruh pehatian yang besar pada

Terapis Gestalt menaruh pehatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi kepribadian. Yangpemisahan dalam fungsi kepribadian. Yang

 paling utama a

 paling utama adalah pemisah a

dalah pemisah antara “top dg”

ntara “top dg” dengan “un

dengan “under dog”. Top

der dog”. Top dog itu adil, otoriter,

dog itu adil, otoriter,

moralistic, menuntut, berlaku sebagai maji

moralistic, menuntut, berlaku sebagai majikan,dan manipulative. Sedangkan underdogkan,dan manipulative. Sedangkan underdog

memanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban, defensive, membela diri, tak berdaya, memanipulasi dengan memainkan peran sebagai korban, defensive, membela diri, tak berdaya, lemah dan ingin dimaklumi.dialvg antara dua kecenderungan yang berlawanan memiliki sasaran lemah dan ingin dimaklumi.dialvg antara dua kecenderungan yang berlawanan memiliki sasaran meningkatkan taraf integrasi polaritas

meningkatkan taraf integrasi polaritas

 – 

 – 

 polaritas dan konflik polaritas dan konflik

 – 

 – 

 konflik yang ada pada diri konflik yang ada pada diri seseorang ke taraf yang lebih tinggi. Dengan sasaran itu te

seseorang ke taraf yang lebih tinggi. Dengan sasaran itu te rapis tidak bermaksud memisahkanrapis tidak bermaksud memisahkan klien dari sifat

klien dari sifat

 – 

 – 

 sifat tertentu, tetapi mendorong klien agar belajar menerima. sifat tertentu, tetapi mendorong klien agar belajar menerima.

• Bermain Proyeksi

• Bermain Proyeksi

Dalam bermain proyeksi terapis meminta kepada klien yang mengatakan “saya tidak bis

Dalam bermain proyeksi terapis meminta kepada klien yang mengatakan “saya tidak bis

aa

mempercaya

mempercayaimu” untuk

imu” untuk memainkan peran sebagai orang yang tidak

memainkan peran sebagai orang yang tidak bisa menaruh kepercayaan

bisa menaruh kepercayaan

guna menyikapi sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya. Dengan kata guna menyikapi sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya. Dengan kata

lain, terapis meminta klien untuk

lain, terapis meminta klien untuk “mencoba

“mencobakan” pertanyaan – 

kan” pertanyaan – 

 pertanyaan tertentu yang ditujukn pertanyaan tertentu yang ditujukn kepada orang lain dalam kelompok.

kepada orang lain dalam kelompok.

• Teknik pembalikan

• Teknik pembalikan

Ilustrasi dari teknik pembalikan ini adalah kasus s

Ilustrasi dari teknik pembalikan ini adalah kasus seorang wanita yang diminta untuk menjadieorang wanita yang diminta untuk menjadi seorang yang jahat. Terapis meminta kepada klien untuk berkeliling untuk mendatangi semua seorang yang jahat. Terapis meminta kepada klien untuk berkeliling untuk mendatangi semua orang dalam kelompoknya dan memberikan kutukan, menunjukan niat jahat, dan

orang dalam kelompoknya dan memberikan kutukan, menunjukan niat jahat, dan mengatakanmengatakan sesuatu yang ditakuti mereka. Dia menimbun kebencian dan dendam sebagai hasil dari

sesuatu yang ditakuti mereka. Dia menimbun kebencian dan dendam sebagai hasil dari sampingan represinya. Ketika ia

sampingan represinya. Ketika ia didorong untuk mengungkapkdidorong untuk mengungkapkan sisi buruknya yang beluman sisi buruknya yang belum  pernah dilakukannya,hasilnya cuku

 pernah dilakukannya,hasilnya cukup dramatis. Klien secara intens merasakan sisi yangp dramatis. Klien secara intens merasakan sisi yang diingkarinya dan lambat laun dapat mengintegrasikan sisi tersebut ke dalam kepribadiannya. diingkarinya dan lambat laun dapat mengintegrasikan sisi tersebut ke dalam kepribadiannya.

• Permainan ulangan

• Permainan ulangan

Para anggota kelompok terapi melakukan permainan berbagi pengulangan satu sama lain dalam Para anggota kelompok terapi melakukan permainan berbagi pengulangan satu sama lain dalam upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan yang dilakukan oleh mer

upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan yang dilakukan oleh mer eka dalam memenuhieka dalam memenuhi tuntutan memainkan peran

tuntutan memainkan peran

 – 

 – 

 peran sosial. Mereka menjadi lebih sadar betapa mereka selalu peran sosial. Mereka menjadi lebih sadar betapa mereka selalu mencoba memenuhi pengharapan

mencoba memenuhi pengharapan

 – 

 – 

 pengharapan orang lain, sadar seberapa besar derajat pengharapan orang lain, sadar seberapa besar derajat keinginan mereka untuk disetujui, diterima, dan disukai , serta sejauh mana mereka berusaha keinginan mereka untuk disetujui, diterima, dan disukai , serta sejauh mana mereka berusaha memperoleh penerimaan.

memperoleh penerimaan.

• Permainan melebih – 

• Permainan melebih – 

 lebihkan lebihkan

Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas

Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tandatanda

 – 

 – 

 tanda dan isyarat tanda dan isyarat

 – 

 – 

 isyarat halus yang dikirimkan oleh seseorang melalui bahasa  isyarat halus yang dikirimkan oleh seseorang melalui bahasa tubuh, gerakantubuh, gerakan

 – 

 – 

gerakan, sikapgerakan, sikap  badan , mimic muka bisa mengkm

 badan , mimic muka bisa mengkmunikasikan maknaunikasikan makna

 – 

 – 

 makna yang penting, begitu pula isyarat makna yang penting, begitu pula isyarat

 – 

 – 

isyarat yang tidak lengkap. Klien diminta untuk melebih

isyarat yang tidak lengkap. Klien diminta untuk melebih

 – 

 – 

 lebihkan gerakan lebihkan gerakan

 – 

 – 

 gerakan atau gerakan atau mimic muka secara berulang

mimic muka secara berulang

 – 

 – 

 ulang yang biasanya mengintensifkan perasa ulang yang biasanya mengintensifkan perasaan yang berpaut padaan yang berpaut pada tingkah laku dan membuat makna bagian dalam menjadi lebih jelas.

tingkah laku dan membuat makna bagian dalam menjadi lebih jelas.

• Tetap dengan perasaan

• Tetap dengan perasaan

Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati

Teknik ini bisa digunakan pada saat klien menunjuk pada perasaan atau suasana hati yang tidakyang tidak menyenangkan yang sangat ingin dia menghindarinya. Terapis mendesak kli

menyenangkan yang sangat ingin dia menghindarinya. Terapis mendesak kli en untuk tetapen untuk tetap dengan atau menahan perasaannya yang ia ingin hindari itu. Kebanyakan klien melarikan diri dengan atau menahan perasaannya yang ia ingin hindari itu. Kebanyakan klien melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasa

dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasa anan

 – 

 – 

 perasaan  perasaan yang tidak menyenagkn.yang tidak menyenagkn. Terapis bisa meminta klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan apapun yang

(12)

dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam l

dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam l ebih dalam perasaan dan ebih dalam perasaan dan tingkahtingkah laku yang ingin dihindarinya.

laku yang ingin dihindarinya.

6. PENDEKATAN RATOINAL EMOTIF THERAPY (RET) 6. PENDEKATAN RATOINAL EMOTIF THERAPY (RET)

RET dikembangkan oleh seorang eksistensialis Albert Ellis pada tahun 1962. Sebagaimana RET dikembangkan oleh seorang eksistensialis Albert Ellis pada tahun 1962. Sebagaimana diketahui aliran ini dilatarbelakangi oleh filsafat eksistensialisme yang berusaha memahami diketahui aliran ini dilatarbelakangi oleh filsafat eksistensialisme yang berusaha memahami manusia sebagimana adanya.

manusia sebagimana adanya.

RET menolak pandangan aliran psikoanalisis berpandangan bahwa peristi

RET menolak pandangan aliran psikoanalisis berpandangan bahwa peristi wa dan pengalamanwa dan pengalaman individu menyebabkan terjadinya gangguan emosional. Meurut Ellis bukanlah pengalaman atau individu menyebabkan terjadinya gangguan emosional. Meurut Ellis bukanlah pengalaman atau  peristiwa eksternal yang menimbulkan emosiomnal, akan tetapi tergantung k

 peristiwa eksternal yang menimbulkan emosiomnal, akan tetapi tergantung kepada pengertianepada pengertian yang diberikan terhadap peristiwa atau pengalaman itu. Gangguan emosi terjadi disebabkan yang diberikan terhadap peristiwa atau pengalaman itu. Gangguan emosi terjadi disebabkan  pikiran

 pikiran

 – 

 – 

 pikiran seseorang yang bersifatirrasional t pikiran seseorang yang bersifatirrasional tehadap peristiwa dan pengalaman yangehadap peristiwa dan pengalaman yang dilaluinya.

dilaluinya.

RET bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap ,

RET bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap , persepsi, cara berpersepsi, cara berpikir, keyakinan,pikir, keyakinan, serta pandangan klien yang irrasional menjadi rasional sehingga ia dapat mengembangkan diri serta pandangan klien yang irrasional menjadi rasional sehingga ia dapat mengembangkan diri dan mencapai realisasi

dan mencapai realisasi diri yang optimal. Menghilangkan gangguan emosional yang dapatdiri yang optimal. Menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri seperti : benci, takut, rasa bersalah, cemas, was

merusak diri seperti : benci, takut, rasa bersalah, cemas, was

 – 

 – 

 was, marah, sebagai akibat bepikir was, marah, sebagai akibat bepikir yang irrasional, dan melatih serta mendidik klien agar dapat menghadapi kenyataan hidup secara yang irrasional, dan melatih serta mendidik klien agar dapat menghadapi kenyataan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan diri, nilai

rasional dan membangkitkan kepercayaan diri, nilai

 – 

 – 

 nilai, dan kemampuan diri nilai, dan kemampuan diri

Berikut ini adalah beberapa teknik konseling RET dapat diikuti, antara lain adalah teknik Berikut ini adalah beberapa teknik konseling RET dapat diikuti, antara lain adalah teknik yangyang  berusaha menghilangkan gangg

 berusaha menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri yang terdiri atas :uan emosional yang merusak diri yang terdiri atas :

• Assertive training. Yaitu melatih

• Assertive training. Yaitu melatih dan membiasakan klien terus menerus menyesuaikan diri

dan membiasakan klien terus menerus menyesuaikan diri

dengan perilaku tertentu yang diinginkan. dengan perilaku tertentu yang diinginkan.

• Sosiodrama. Yaitu semacam sandiwara pendek t

• Sosiodrama. Yaitu semacam sandiwara pendek tentang masalah kehidupan sosial.

entang masalah kehidupan sosial.

• Self modeling. Yaitu teknik

• Self modeling. Yaitu teknik yang bertujuan menghilang

yang bertujuan menghilangkan perilaku tertentu, dimana konselor

kan perilaku tertentu, dimana konselor

menjadi model, dank lien berjanji akan mengikuti. menjadi model, dank lien berjanji akan mengikuti.

• S

• S

ocial modeling. Yaitu membentuk perilaku baru melalui model sosial dengan cara imitasocial modeling. Yaitu membentuk perilaku baru melalui model sosial dengan cara imitas i,i, observasi

observasi

• Teknik reinforcement. Yaitu memberi reward terhadap perilaku rasional atau

• Teknik reinforcement. Yaitu memberi reward terhadap perilaku rasional atau memperkuatny

memperkuatnyaa

• Desensitisasi sistematik 

• Desensitisasi sistematik 

• Relaxation

• Relaxation

• Self control. Yaitu denga

• Self control. Yaitu denga

n mengontrol dirin mengontrol diri

• Diskusi

• Diskusi

• Simulasi, dengan bermain peran atara konselor dengan klien

• Simulasi, dengan bermain peran atara konselor dengan klien

• Homework assignment

• Homework assignment

• Bibliografi

• Bibliografi

7. PENDEKATAN REALITAS 7. PENDEKATAN REALITAS

Pendiri terapi Realitas adalah William Glaser. Terapi Realitas adalah bentuk pengubahan Pendiri terapi Realitas adalah William Glaser. Terapi Realitas adalah bentuk pengubahan  perilaku karena dalam penerapan institusionalnya, merupakan tipe peng

 perilaku karena dalam penerapan institusionalnya, merupakan tipe pengondisisan operan yangondisisan operan yang tidak ketat.

tidak ketat.

Menurut terapi ini, akan sangat berguna bila menganggap identitas dalam pengertian “identitas

Menurut terapi ini, akan sangat berguna bila menganggap identitas dalam pengertian “identitas

keberhasilan” lawan “identitas kegagalan”

keberhasilan” lawan “identitas kegagalan”. Dengan kata

. Dengan kata lain orang membutuhkan

lain orang membutuhkan

identitas danidentitas dan

mampu mengembangkan “identitas keberhasilan” maupun “identitas kegagalan”. Terapi

(13)

 berlandaskan motivasi pertumbuhan dan antideterministik.  berlandaskan motivasi pertumbuhan dan antideterministik.

Tujuan umum konseling realitas adalah membimbing konseli kearah mempelajari perilaku yang Tujuan umum konseling realitas adalah membimbing konseli kearah mempelajari perilaku yang real

real

ities dan

ities dan bertanggung jawab serta mengembangkan “identitas keberhasilan”. Konselor

bertanggung jawab serta mengembangkan “identitas keberhasilan”. Konselor

 berkewajiban membantu konseli dalam membuat pertimbang

 berkewajiban membantu konseli dalam membuat pertimbanganan

 – 

 – 

 pertimbangan nilai tentang pertimbangan nilai tentang  perilakunya sendiri dan dalam merencanakan tindakan bagi p

 perilakunya sendiri dan dalam merencanakan tindakan bagi perubahan.erubahan. Tugas utama konselor dalam

Tugas utama konselor dalam konseling ini adalah melibatkan diri konseling ini adalah melibatkan diri dengan konseli dan mendorongdengan konseli dan mendorong konseli untuk menghadapi kenyataan dan untuk membuat pertimbangan nilai

konseli untuk menghadapi kenyataan dan untuk membuat pertimbangan nilai mengenaimengenai  perilakunya sekarang. Setelah konseli menetapkan prub

 perilakunya sekarang. Setelah konseli menetapkan prubahanahan

 – 

 – 

 perubahan spesifik yang perubahan spesifik yang dinginkannya, rencana

dinginkannya, rencana

 – 

 – 

 rencana dibuat, dan hasilnya dievaluasi. rencana dibuat, dan hasilnya dievaluasi.

Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, terapis bisa menggunakan  beberapa teknik sebagai berikut :

 beberapa teknik sebagai berikut :

• Terlibat dalam permaina peran dengan klien

• Terlibat dalam permaina peran dengan klien

• Menggunakan humor 

• Menggunakan humor 

• Mengonfrontasikan k 

• Mengonfrontasikan k 

lien dan menolak dalih apapunlien dan menolak dalih apapun

• Membantu klien dalam merumuskan rencana – 

• Membantu klien dalam merumuskan rencana – 

 rencana yang spesifik bagi tindakan rencana yang spesifik bagi tindakan

• Bertindak sebagai model dan guru

• Bertindak sebagai model dan guru

• Memasang batas – 

• Memasang batas – 

 batas dan menyusun situasi terapi batas dan menyusun situasi terapi

• Melibatkan diri dengan klien dalam upaya mencari kehidup

• Melibatkan diri dengan klien dalam upaya mencari kehidup

an yang lebih efektif.an yang lebih efektif. Terapi realitas tidak memasukan sejumlah teknik

Terapi realitas tidak memasukan sejumlah teknik yang secara umum diterima oleh pendekatanyang secara umum diterima oleh pendekatan

 – 

 – 

 pendekatan terapi lain. Teknik

 pendekatan terapi lain. Teknik

 – 

 – 

 teknik diagnostic tidak menjadi bagian dari terapi realitas sebab teknik diagnostic tidak menjadi bagian dari terapi realitas sebab diagnostic dianggap membuang waktu, merusak klien dengan menyematkan label

diagnostic dianggap membuang waktu, merusak klien dengan menyematkan label pada klienpada klien yang cenderung mengekalkan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan gagal. Teknik l yang cenderung mengekalkan tingkah laku yang tidak bertanggung jawab dan gagal. Teknik l ainain yang tidak digunakan adalah penafsiran, pemahaman, wawancara nondirektif, asosiasi

yang tidak digunakan adalah penafsiran, pemahaman, wawancara nondirektif, asosiasi  bebas,analisis transferensi dan resistensi, dan analisis mimpi.

 bebas,analisis transferensi dan resistensi, dan analisis mimpi. 8. PENDEKATAN ANALISIS

8. PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONTRANSAKSIONALAL

Pendekatan ini dikembangkan Oleh Eric Berne, berlandaskan suatu teori kepribadian yang Pendekatan ini dikembangkan Oleh Eric Berne, berlandaskan suatu teori kepribadian yang  berkenaan dengan analisis structural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerang

 berkenaan dengan analisis structural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagika bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak. analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak. Analisis Transaksional adalah psikoterapu transaksional yang dapat digunakan dalam konseling Analisis Transaksional adalah psikoterapu transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam konseling kelompok.

individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam konseling kelompok. AT memekankan aspek

AT memekankan aspek

 – 

 – 

aspek kognitif rasional behavioral dan berorientasi kepada peningkatanaspek kognitif rasional behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga konseli akan mampu membuat

kesadaran sehingga konseli akan mampu membuat putusanputusan

 – 

 – 

 putusan baru dan mengubah cara putusan baru dan mengubah cara hidupnya.

hidupnya.

Tujuan dasar AT adalah membantu klien dalam membuat putusan

Tujuan dasar AT adalah membantu klien dalam membuat putusan

 – 

 – 

 putusan baru yang putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah

menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klienmendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan

agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan

 – 

 – 

 putusan putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh permainan yang manipulative dan oleh scenario

dini mengenai posisi hidupnya dan oleh permainan yang manipulative dan oleh scenario

 – 

 – 

scenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom

scenario hidup yang mengalahkan diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai denganyang ditandai dengan kesadaran, spontanitas, dan keakraban.

kesadaran, spontanitas, dan keakraban. Sebagian besar metode dan proses

Sebagian besar metode dan proses

 – 

 – 

 proses, prosedur proses, prosedur

 – 

 – 

 prosedur, dan teknik prosedur, dan teknik

 – 

 – 

 teknik yang umum teknik yang umum digunakan dalam praktek Analisis Transaksional. Sebagian besar metode dan proses terapeutik digunakan dalam praktek Analisis Transaksional. Sebagian besar metode dan proses terapeutik AT bisa diterapkan ada terapi individual maupun pada terapi kelompok.

AT bisa diterapkan ada terapi individual maupun pada terapi kelompok.

• Analisis Struktural

• Analisis Struktural

(14)

Analisis structural adalah alat

Analisis structural adalah alat yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsidan fungsi ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anaknya. Para klien AT belajar bagaimana mengenali ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anaknya. Para klien AT belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan egonya itu. Analisis structural membantu klien dalam megubah pola

ketiga perwakilan egonya itu. Analisis structural membantu klien dalam megubah pola

 – 

 – 

 pola pola yang dirasakan menghambat dan membantu klien agar

yang dirasakan menghambat dan membantu klien agar menemukan perwakilan ego yang manamenemukan perwakilan ego yang mana yang menjadi landasan tingkah yang mana menja

yang menjadi landasan tingkah yang mana menjadi landasan tingkah lakunya. Dengandi landasan tingkah lakunya. Dengan  penemuannya, klien bisa memperhitung

 penemuannya, klien bisa memperhitungkan pilihan-pilihannya.dua tipe masalah yang berkaitankan pilihan-pilihannya.dua tipe masalah yang berkaitan dengan struktur kepribadian bisa diselidiki melalui analisis structural : pencemaran dan

dengan struktur kepribadian bisa diselidiki melalui analisis structural : pencemaran dan  penyisihan. Pencemaran terjadi apabila isis perwakilan ego yang satu bercampur deng  penyisihan. Pencemaran terjadi apabila isis perwakilan ego yang satu bercampur dengan isian isi  perwakilan ego yang lainnya.

 perwakilan ego yang lainnya.

Penyisihan terdapat ketika ego anak yang tersisih bisa merintangi e

Penyisihan terdapat ketika ego anak yang tersisih bisa merintangi e go orang tua atau apabila egogo orang tua atau apabila ego orang tua yang tersisih merintangi ego anak, yakni apabila garis

orang tua yang tersisih merintangi ego anak, yakni apabila garis

 – 

 – 

 garis batas ego yang kaku garis batas ego yang kaku tidak memungkinkan gerakan bebas. Ego orang tua yang konstan men

tidak memungkinkan gerakan bebas. Ego orang tua yang konstan men yisihkan ego orang dewasayisihkan ego orang dewasa dewasa, dan ego anak. Orang semacam ini bisa bersifat menghakimi, moralis, dan menuntut dewasa, dan ego anak. Orang semacam ini bisa bersifat menghakimi, moralis, dan menuntut terhadap orang lain,bertindak dengan cara

terhadap orang lain,bertindak dengan cara mendominasi dan otoriter. Ego anak mendominasi dan otoriter. Ego anak yang konstanyang konstan menyisihkan ego orang dewasa dan ego orang tua. Orang ini terusmenerus bersifat kekanak menyisihkan ego orang dewasa dan ego orang tua. Orang ini terusmenerus bersifat kekanak

 – 

 – 

kanakan. Ego orang dewasa yang konstan menyisihkan ego orang tua

kanakan. Ego orang dewasa yang konstan menyisihkan ego orang tua dan ego anak mdan ego anak menjadikanenjadikan individu ini kurang menunjukan perasaan dan kurang spontan.

individu ini kurang menunjukan perasaan dan kurang spontan.

• Permainan peran

• Permainan peran

Dalam terapi kelompok, situasi-situasi permainan peran bisa melibatkan para anggta lain. Dalam terapi kelompok, situasi-situasi permainan peran bisa melibatkan para anggta lain. Seorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber Seorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalahbbagi anggota lainnya. Bentuk permainan lainnya adalah

masalahbbagi anggota lainnya. Bentuk permainan lainnya adalah permainan yang menonjolkanpermainan yang menonjolkan gaya-gaya khas dari ego orang tua

gaya-gaya khas dari ego orang tua yang konstan, ego orang dewasa yang konstan, dan ego anakyang konstan, ego orang dewasa yang konstan, dan ego anak yang konstan, atau permainan- permainan

yang konstan, atau permainan- permainan tertentu agar memungkinkan klien memperoleh umpantertentu agar memungkinkan klien memperoleh umpan  balik tentang tingkah laku sekarang

 balik tentang tingkah laku sekarang dalam kelompokdalam kelompok

• Percontohan keluarga

• Percontohan keluarga

Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan

Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orangsebanyak mungkin orang yang berpengaruh dimasa lampau, termasuk dirinya sendiri. Dia menetapkan situasi dan yang berpengaruh dimasa lampau, termasuk dirinya sendiri. Dia menetapkan situasi dan menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran para anggota keluar

menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran para anggota keluar ga yangga yang dibayangkannya. Diskusi, tindakan, dan evaluasi selanjutnya bisa

dibayangkannya. Diskusi, tindakan, dan evaluasi selanjutnya bisa mempertinggi kesadranmempertinggi kesadran tentang suatu situasi yang spesifik dan makna-makna pribadi yang berlaku pada klien. tentang suatu situasi yang spesifik dan makna-makna pribadi yang berlaku pada klien.

• Analisis scenario

• Analisis scenario

Pembuatan scenario mula-mula terjadi secara nonverbal pada masa kanak-kanak melalui Pembuatan scenario mula-mula terjadi secara nonverbal pada masa kanak-kanak melalui pesan- pesan dari orang tua. Selama tahun-tahun pertama perkembangan

 pesan dari orang tua. Selama tahun-tahun pertama perkembangannya, seseorang belajar tentangnya, seseorang belajar tentang nilai dirinya sebagai pribadi

nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya daladan tempat dirinya dalam kehidupan. Selanjutnya, pembentukanm kehidupan. Selanjutnya, pembentukan skenario berjalan melalui cara-cara langsung maupun tidak langsung.

skenario berjalan melalui cara-cara langsung maupun tidak langsung.

Analisis skenario bisa dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar scenario berisi item-item Analisis skenario bisa dilaksanakan dengan menggunakan suatu daftar scenario berisi item-item yang berkaitan dengan posisi-posisi hi

yang berkaitan dengan posisi-posisi hidup, penipuan-penipuandup, penipuan-penipuan, permainan-permainan yang, permainan-permainan yang

semuanya merupakan komponen-komponen fungsional utama pada scenario kehidupan individu. semuanya merupakan komponen-komponen fungsional utama pada scenario kehidupan individu.

(15)

BAB III BAB III PENUTUP PENUTUP A. Kesimpulan A. Kesimpulan

Psikologi Konseling adalah gabungan dari Psikologi dan Konseling yang berarti sebagai suatu Psikologi Konseling adalah gabungan dari Psikologi dan Konseling yang berarti sebagai suatu cabang ilmu kegiatan yang dibangun melalui adanya interaksi antara klien dengan cabang ilmu kegiatan yang dibangun melalui adanya interaksi antara klien dengan  psikolog/konselor untuk mengidentifikasi kebutuhan, nilai, peras

 psikolog/konselor untuk mengidentifikasi kebutuhan, nilai, peras aan, pengalaman, harapan, sertaan, pengalaman, harapan, sertaa masalah yang dihadapi klien.

masalah yang dihadapi klien.

Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah psikologis klien dengan Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memecahkan masalah-masalah psikologis klien dengan menyadarkan klien akan akar masalah yang sebenarnya dihadapi hingga akhirnya klien dapat menyadarkan klien akan akar masalah yang sebenarnya dihadapi hingga akhirnya klien dapat menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya.

menemukan sendiri solusi dari masalah yang dihadapinya. B. Saran

B. Saran

Sebagai calon konselor selain harus menguasai ilmu konseling kita juga harus menguasai Sebagai calon konselor selain harus menguasai ilmu konseling kita juga harus menguasai  psikologi, kerena psokolog

(16)

Daftar Pustaka Daftar Pustaka 1.

1. Akhyar, Akhyar, Syaiful LSyaiful Lubis. ubis. 2011. 2011. Konseling Konseling Islami Islami dan dan Kesehatan Kesehatan Mental. Cita Mental. Cita PustakaPustaka Perintis. Medan.

Perintis. Medan. 2.

2. https://www.kosngosan.com/2017/06/makalah-materi-konsep-psikologi-konseling.htmlhttps://www.kosngosan.com/2017/06/makalah-materi-konsep-psikologi-konseling.html 3.

3. Niamah. 2012.Niamah. 2012.Pengertian Bimbingan Konseling Menurut Pendapat Beberapa Ahli.Pengertian Bimbingan Konseling Menurut Pendapat Beberapa Ahli.

4.

4. LumonggangLumonggang, Namo, Namora Lubra Lubis. Memahami is. Memahami Dasar-dasar Konseling Dasar-dasar Konseling dalam Teori dalam Teori dandan Praktik.

Praktik. 5.

5. Supriyadi, T. 2011. Psikologi konseling. Inti Prima Promosindo. Jakarta.Supriyadi, T. 2011. Psikologi konseling. Inti Prima Promosindo. Jakarta. 6.

6. Surya, Surya, Mohammad. Mohammad. 2003. 2003. Psikologi Psikologi Konseling. Konseling. Pustaka BPustaka Bani ani Quraisy. Quraisy. Bandung.Bandung. 7.

7. Hartono, SoedHartono, Soedarmadji Boy. 201armadji Boy. 2012. Psikologi 2. Psikologi Konseling (Edisi RevKonseling (Edisi Revisi). Kencana isi). Kencana PrenadaPrenada Media Group. Jakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :