• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

6 BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Sumber Bahaya

Kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat menimbulkan kerugian, baik kerugian langsung maupun tidak langsung. Kerugian ini bisa dikurangi jika kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dengan cara dideteksi sumber-sumber bahaya yang dapat mengakibatkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja tersebut (Sahab, 1997).

Sumber-sumber bahaya bisa berasal dari : a. Manusia

Termasuk pekerja dan manajemen. Kesalahan utama sebagian besar kecelakaan, kerugian, atau kerusakan terletak pada karyawan yang kurang bergairah, kurang terampil, kurang tepat, terganggu emosinya yang pada umumnya menyebabkan kecelakaan dan kerugian. Selain itu apa yang diterima atau gagal diterima melalui pendidikan, motivasi, serta penggunaan peralatan kerja berkaitan langsung dengan sikap pimpinan (Silalahi dan Silalahi, 1995)

b. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam suatu proses dapat menimbulkan bahaya jika tidak digunakan sesuai fungsinya, tidak ada latihan tentang penggunaan alat tersebut, tidak dilengkapi dengan

(2)

pelindung dan pengaman serta tidak ada perawatan atau pemeriksaan. Perawatan atau pemeriksaan dilakukan agar bagian dari mesin atau alat yang berbahaya dapat dideteksi sedini mungkin (Sahab, 1997)

c. Bahan

Menurut Sahab (1997) bahaya dari bahan meliputi berbagai risiko sesuai dengan sifat bahan, antara lain :

1) Mudah terbakar, 2) Mudah meledak, 3) Menimbulkan alergi, 4) Menyebabkan kanker, 5) Bersifat racun, 6) Radioaktif,

7) Mengakibatkan kelainan pada janin,

8) Menimbulkan kerusakan pada kulit dan jaringan tubuh. d. Proses

Dalam proses kadang menimbulkan asap, debu, panas, bising dan bahaya mekanis seperti terjepit, terpotong atau tertimpa bahan. Hal ini dapat mengakibatkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Tingkat bahaya dari proses ini tergantung pada teknologi yang digunakan. (Sahab, 1997).

(3)

e. Cara atau sikap kerja

Menurut Sahab (1997) cara kerja yang berpotensi terhadap terjadinya bahaya atau kecelakaan berupa tindakan tidak aman, misalnya :

1) Cara mengangkat yang salah, 2) Posisi yang tidak benar, 3) Tidak menggunakan APD, 4) Lingkungan kerja,

5) Menggunakan alat atau mesin yang tidak sesuai. f. Lingkungan Kerja

Menurut Silalahi dan Silalahi (1995), keadaan lingkungan yang dapat merupakan keadaan berbahaya antara lain :

1) Suhu dan kelembaban udara, 2) Kebersihan udara,

3) Penerapan dan kuat cahaya, 4) Kekuatan bunyi,

5) Cara dan proses kerja, 6) Udara, gas-gas bertekanan, 7) Keadaan lingkungan setempat,

8) Keadaan mesin-mesin, perlengkapan dan peralatan kerja serta bahan.

(4)

2. Kecelakaan Kerja

Tarwaka (2008) mendefinisikan kecelakaan kerja adalah sebagai berikut “Suatu kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga semula yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya”.

Heinrich dalam Tarwaka (2008) mengemukakan suatu teori sebab akibat terjadinya kecelakaan yang selanjutnya dikenal dengan “Teori Domino”. Dari lima faktor penyebab yang secara berurutan dan berdiri sejajar antara faktor satu dengan yang lainnya. Kelima faktor tersebut antara lain :

a. Domino kebiasaan, b. Domino kesalahan,

c. Domino Tindakan dan kondisi tidak aman, d. Domino kecelakaan,

e. Domino cedera.

Selanjutnya, untuk mencegah terjadinya kecelakaan adalah cukup dengan membuang salah satu kartu domino atau memutuskan rangkaian mata rantai domino tersebut.

Berdasarkan teori dari Heinrich tersebut, Bird dan Germain dalam Tarwaka (2008) memodifikasi teori domino dengan merefleksikan ke dalam hubungan manajemen secara langsung dengan sebab akibat kerugian kecelakaan.

(5)

Bird dan Germain dalam Tarwaka (2008) menyebutkan tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman yang secara langsung menyebabkan kecelakaan yang biasanya dapat dilihat dan dirasakan. Penyebab langsung tersebut berupa :

a. Tindakan tidak aman (Unsafe Act)

Tindakan tidak aman merupakan pelanggaran terhadap tata cara kerja yang aman sehingga dapat menimbulkan peluang akan terjadinya kecelakaan, misalnya :

1) Mengoperasikan peralatan tanpa wewenang,

2) Mengoperasikan sebuah mesin/peralatan/kendaraan dengan kecepatan tidak layak,

3) Berada dalam pengaruh obat-obatan terlarang dan alkohol, 4) Gagal mengikuti prosedur kerja,

5) Melepas alat pengaman,

6) Membuat alat pengaman tidak berfungsi, 7) Tidak memakai alat pelindung diri,

8) Menggunakan peralatan yang sudah rusak, 9) Posisi kerja yang salah,

10) Pengangkutan yang tidak layak, 11) Bersendau gurau di waktu kerja, 12) Kegagalan untuk memperingatkan.

Suma’mur (1996) menyebutkan dari penyelidikan -penyelidikan, ternyata faktor manusia dalam timbulnya kecelakaan

(6)

sangat penting. Selalu ditemui dari hasil-hasil penelitian, bahwa 80-85% kecelakaan disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan manusia.

b. Kondisi tidak aman (Unsafe Condition)

Kondisi fisik yang membahayakan dan langsung membuka terhadap kecelakaan. Keadaan tidak aman tersebut antara lain : 1) Peralatan atau material yang rusak,

2) Pelindung atau pembatas yang tidak layak, 3) Alat pelindung diri yang kurang sesuai,

4) Sistem peringatan tanda bahaya yang kurang berfungsi, 5) Kebersihan dan tata ruang tempat kerja tidak layak,

6) Kondisi lingkungan kerja mengandung debu, gas, asap, atau uap yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).

7) Intensitas kebisingan yang melebihi NAB, 8) Paparan radiasi,

9) Temperatur ruang kerja terlalu tinggi atau rendah, 10) Penerangan yang kurang atau berlebihan,

11) Ventilasi yang kurang,

12) Bahaya kebakaran dan peledakan, 13) Tindakan yang terbatas atau berlebihan.

Selanjutnya Menurut Miner (1992) Unsafe Behavior adalah tipe perilaku yang mengarah pada kecelakaan seperti bekerja tanpa menghiraukan keselamatan, melakukan pekerjaan tanpa ijin,

(7)

menyingkirkan peralatan keselamatan, pengoperasian pekerjaan pada kecepatan yang berbahaya, menggunakan peralatan tidak standart, bertindak kasar, kurang pengetahuan, cacat tubuh atau keadaan emosi yang terganggu.

a. Penyebab Unsafe Behavior

Muchinsky (1987) menyebutkan orang atau pekerja sering melakukan unsafe behavior terutama disebabkan oleh :

1) Merasa telah ahli di bidangnya dan belum pernah mengalami kecelakaan.

2) Reinforcement yang besar dari lingkungan untuk melakukan unsafe act.

3) Pengawas atau manajer yang tidak peduli dengan safety b. Upaya yang Biasa Dilakukan untuk Mengurangi Unsafe Behavior

Upaya yang biasa dilakukan untuk mengurangi Unsafe Behavior menurut Muchinsky (1987) antara lain :

1) Menghilangkan bahaya di tempat kerja dengan merekayasa faktor bahaya atau mengenalkan kontrol fisik

Cara ini dilakukan untuk mengurangi potensi terjadinya unsafe behavior, namun tidak selalu berhasil karena pekerja

mempunyai kapasitas untuk berperilaku unsafe dan mengatasi kontrol yang ada.

(8)

2) Mengubah sikap pekerja agar lebih peduli dengan keselamatan dirinya

Cara ini didasarkan atas asumsi bahwa perubahan sikap akan mengubah perilaku. Berbagai upaya yang dapat dilakukan adalah melalui kampanye dan safety training. Pendekatan ini tidak selalu berhasil karena ternyata perubahan sikap tidak diikuti dengan perubahan perilaku. Sikap sering merupakan apa yang seharusnya dilakukan bukan apa yang sebenarnya dilakukan.

3) Memberikan punishment terhadap unsafe behavior

Cara ini tidak selalu berhasil karena pemberian punishment terhadap perilaku unsafe harus konsisten dan segera setelah muncul, hal inilah yang sulit dilakukan karena tidak semua unsafe behavior dapat terpantau secara langsung. 4) Memberikan reward terhadap munculnya safety behavior

Cara ini sulit dilakukan karena reward minimal harus setara dengan reinforcement yang didapat dari perilaku unsafe. 3. Behavior Based Safety (BBS)

Behavior Based Safety (BBS) adalah perilaku keselamatan

manusia di area kerja dalam mengidentifikasi bahaya serta menilai potensi risiko yang timbul hingga bisa diterima dalam melakukan pekerjaan yang berinteraksi dengan aktivitas, produk dan jasa yang dilakukannya (Rahardjo, 2010).

(9)

a. Pendekatan Behavior Based Safety untuk mengurangi Unsafe Behavior

Menurut Cooper (1999) mengidentifikasi adanya tujuh kriteria yang sangat penting bagi pelaksanaan program behavioral safety, yaitu antara lain :

1) Melibatkan partisipasi karyawan yang bersangkutan

Salah satu sebab keberhasilan behavioral safety adalah karena melibatkan seluruh pekerja dalam safety management. Pada masa sebelumnya safety management bersifat top-down dengan tendensi hanya berhenti di management level saja. Hal ini berarti para pekerja yang berhubungan langsung dengan unsafe behavior tidak dilibatkan dalam proses perbaikan safety

performance. Behavioral safety mengatasi hal ini dengan

menerapkan sistem bottom-up, sehingga individu yang berpengalaman dibidangnya terlibat langsung dalam mengidentifikasi unsafe behavior. Dengan keterlibatan workforce secara menyeluruh dan adanya komitmen, ownership seluruh pekerja terhadap program safety maka

proses improvement akan berjalan dengan baik.

2) Memusatkan perhatian pada perilaku unsafe yang spesifik Alasan lain keberhasilan behavioral safety adalah memfokuskan pada unsafe behavior (sampai pada proporsi yang terkecil) yang menjadi penyumbang terbesar terjadinya

(10)

kecelakaan kerja di perusahaan. Menghilangkan unsafe behavior berarti pula menghilangkan sejarah kecelakaan kerja

yang berhubungan dengan perilaku tersebut. Untuk mengidentifikasi faktor di lingkungan kerja yang memicu terjadinya unsafe behavior para praktisi menggunakan teknik behavioral analisis terapan dan memberi reward tertentu pada

individu yang mengidentifikasi unsafe behavior. Praktisi lain juga mengidentifikasikan kekurangan sistem manajemen yang berhubungan agar cepat ditangani sehingga tidak lagi memicu terjadinya unsafe behavior. Unsafe atau safety behavior yang teridentifikasi dari proses tersebut disusun dalam check list dalam format tertentu, kemudian dimintakan persetujuan karyawan yang bersangkutan. Ketika sistem behavioral safety semakin matang individu menambahakan unsafe behavior dalam check list sehingga dapat dikontrol atau dihilangkan. Syarat utama yang harus dipenuhi yaitu, unsafe behavior tersebut harus observable, setiap orang bisa melihatnya.

3) Didasarkan pada data hasil observasi

Observer memonitor safety behavior pada kelompok

mereka dalam waktu tertentu. Makin banyak observasi makin reliabel data tersebut, dan safety behavior akan meningkat.

(11)

4) Proses pembuatan keputusan berdasarkan data

Hasil observasi atas perilaku kerja dirangkum dalam data prosentase jumlah safety behavior. Berdasarkan data tersebut bisa dilihat letak hambatan yang dihadapi. Data ini menjadi umpan balik yang bisa menjadi reinforcement positif bagi karyawan yang telah berperilaku safe, selain itu bisa juga menjadi dasar untuk mengoreksi unsafe behavior yang sulit dihilangkan.

5) Melibatkan intervensi secara sistematis dan observasional Keunikan sistem behavioral safety adalah adanya jadwal intervensi yang terencana. Dimulai dengan briefing pada seluruh departemen atau lingkungan kerja yang dilibatkan, karyawan diminta untuk menjadi relawan yang bertugas sebagai observer yang tergabung dalam sebuah project team. Observer detraining agar dapat menjalankan tugas mereka.

kemudian mengidentifikasi unsafe behavior yang diletakkan dalam check list. Daftar ini ditunjukkan pada para pekerja untuk mendapat persetujuan. Setelah disetujui, observer melakukan observasi pada periode waktu tertentu, untuk menentukan baseline. Setelah itu barulah program interverensi dilakukan dengan menentukan goal setting yang dilakukan oleh karyawan sendiri. Observer terus melakukan observasi. Data hasil observasi kemudian dianalisis untuk mendapatkan feed

(12)

back bagi para karyawan. Team project juga bertugas

memonitor data secara berkala, sehingga perbaikan dan koreksi terhadap program dapat terus dilakukan.

6) Menitikberatkan pada umpan balik terhadap perilaku kerja Dalam sistem behavioral safety umpan balik dapat berbentuk seperti : umpan balik verbal yang langsung diberikan pada karyawan sewaktu observasi; umpan balik dalam bentuk data (grafik) yang ditempatkan dalam tempat-tempat yang strategis dalam lingkungan kerja; dan umpan balik berupa briefing dalam periode tertentu dimana data hasil observasi

dianalis untuk mendapatkan umpan balik yang mendetail tantang perilaku yang spesifik.

7) Membutuhkan dukungan dari manager

Komitmen manajemen terhadap proses behavioral safety biasanya ditunjukkan dengan memberi keleluasaan pada observer dalam menjalankan tugasnya, memberikan penghargaan yang melakukan safety behavior, menyediakan sarana dan bantuan bagi tindakan yang harus segera dilakukan, membantu menyusun dan menjalankan umpan balik, dan meningkatkan inisiatif untuk melakukan safety behavior dalam setiap kesempatan. Dukungan dari manajemen sangat penting karena kegagalan dalam penerapan behavioral safety biasanya

(13)

disebabkan oleh kurangnya dukungan dan komitmen dari manajemen.

b. Hasil yang diharapkan dari penerapan Behavioral Based Safety Ada delapan hasil penerapan behavior based safety yang terencana dalam suatu perusahaan (Cooper,1999).

1) Angka kecelakaan kerja yang rendah, 2) Meningkatkan jumlah safety behavior, 3) Mengurangi accident cost,

4) Program tetap bertahan dalam waktu lama, 5) Penerimaan sistem oleh semua pihak,

6) Generalisasi behavioral safety pada sistem lain (contoh : sistem manajemen),

7) Follow up yang cepat dan regular,

8) Peningkatan laporan tentang kecelakaan kerja yang terjadi. 4. Metode DO IT

Menurut E.Scott Geller dalam Health and Safety Protection (2011) dijelaskan bahwa salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan merubah perilaku-perilaku yang kritikal adalah dengan metode DO IT. DO IT merupakan singkatan dari: D : Define

O : Observe

I : Intervene

(14)

a. Define

E.Scott Geller dalam Health and Safety Protection (2011) menyebutkan tahapan pertama yang harus dilakukan dalam program BBS adalah mendefinisikan atau menentukan target-target perilaku dari pekerja yang akan dihilangkan/diperbaiki atau ditingkatkan/dipertahankan. Meskipun pada umumnya yang menjadi prioritas adalah perilaku tidak aman, namun dapat juga ditentukan perilaku-perilaku aman yang harus dipertahankan atau ditingkatkan. Dalam menentukan target perilaku yang akan dimasukkan kedalam program BBS. Ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menentukan perilaku yang menjadi target, yaitu :

1) Brainstorming ; beberapa orang yang mewakili departemen dan tingkat jabatan dimintai masukkannya terhadap perilaku-perilaku tidak aman yang dilakukan oleh pekerja dengan cara menuliskan diatas potongan kertas.

2) Grup diskusi dengan beberapa orang yang mewakili setiap departemen atau bagian.

3) Analisis terhadap berbagai penyebab kecelakaan yang pernah terjadi.

4) Berdasarkan temuan audit K3.

Bisa saja ditemukan atau diperoleh banyak sekali perilaku tidak aman dari proses tersebut diatas, namun pihak manajemen

(15)

harus menentukan perilaku berisiko mana yang akan menjadi perioritas utama untuk masuk program BBS. Ruang lingkup program BBS juga harus ditentukan agar program BBS bisa menjadi lebih fokus dan efektif.

b. Observe

E.Scott Geller dalam Health and Safety Protection (2011) menyebutkan setelah ditentukan perilaku berisiko yang akan dijadikan target dalam program BBS, maka tahap selanjutnya dilakukan observasi atau pengamatan terhadap pekerja-pekerja diarea atau bagian yang sudah ditentukan. Pengamatan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengamatan terbuka dan pengamatan tertutup. Pengamatan terbuka maksudnya adalah pengamatan dilakukan secara langsung dan diketahui oleh yang diamati. Tentu metode ini seringkali akan mendapatkan hasil yang bias karena pekerja yang merasa diamati akan bekerja secara lebih hati-hati. Meskipun demikian pekerja yang sudah terbiasa berperilaku tidak aman akan tetap memunculkan perilaku tidak amannya. Pengamatan tertutup maksundya adalah pengamatan dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh pekerja yang diamati. Hal ini bisa dilakukan oleh pihak ke tiga atau pekerja didalam grup yang sama yang diminta secara khusus melakukan pengamatan sambil bekerja. Sangat tidak disarankan pengamatan dilakukan oleh atasan atau manajer, karena para pekerja yang

(16)

diamati oleh atasan akan berusaha menghilangkan perilaku tidak aman mereka. Sebelum melakukan pengamatan, observer harus diberikan pengarahan dan penjelasan tentang apa yang harus diamati dan berapa lama pengamatan harus dilakukan. Dalam melakukan pengamatan terhadap perilaku pekerja harus :

1) Spesifik sesuai dengan yang sudah ditentukan atau didefinisikan,

2) Perilaku tersebut harus teramati dan tidak boleh berasumsi, sehingga bisa diukur atau dihitung berapa kali tindakan tersebut dilakukan selama pengamatan.

3) Pengamatan dan penilaian harus objektif, tidak boleh diinterpretasikan oleh pengamat, mencatat apa adanya sesuai yang dilihat.

4) Pengamatan harus pada pekerjaan yang normal berlangsung sehari- hari. Dalam melakukan pengamatan juga harus disiapkan checklist aktivitas untuk setiap kegiatan yang dilakukan, sehingga pengamat tinggal hanya memberi tanda apakah kegiatan atau aktifitas dilakukan secara aman atau berisiko.

c. Intervence

Menurut E.Scott Geller dalam Health and Safety Protection (2011) tahap ketiga adalah dilakukan pengamatan dan semua data-data observasi diolah, maka selanjutnya dilakukan intervensi untuk

(17)

memperbaiki perilaku berisiko yang ditemukan dari hasil observasi. Dalam membuat program intervensi sebaiknya melibatkan pekerja diarea-area yang akan di intervensi. Masukan dari pekerja yang sehari-harinya melakukan aktifitas tersebut akan sangat penting dalam merancang program intervensi yang efektif. Dalam membuat program intervensi juga harus ditentukan berapa lama intervensi akan dilakukan agar terjadi perubahan yang diharapkan.

Menurut Fleming dan Lardner (2002) unsur inti dari modifikasi perilaku adalah ABC Model of Behavior, Antecedent/ Pendahulunya (A), Behavior/Perilaku (B) dan Consequences/ Konsekuensi (C). ABC Model of Behavior menentukan perilaku yang dipicu oleh satu set pendahulunya (sesuatu yang mendahului perilaku dan kausal terkait dengan perilaku) dan diikuti oleh konsekuensi (hasil dari perilaku bagi individu) yang menambah atau mengurangi kemungkinan bahwa perilaku akan diulang. Para pendahulu diperlukan tetapi tidak cukup untuk mendorong terjadinya perilaku. Konsekuensi menjelaskan mengapa orang mengadopsi perilaku tertentu.

Analisis ABC mengidentifikasi pola antecedents dan konsekuensi yang memperkuat terjadinya perilaku dan konsekuensi yang terjadi untuk perilaku yang diinginkan. Analisis ini memfasilitasi identifikasi intervensi untuk mengatur ulang

(18)

antecedents dan konsekuensi meningkatkan frekuensi perilaku

yang diinginkan. Untuk berhasil melakukan analisis ABC, diperlukan untuk memiliki pemahaman yang jelas mengenai perilaku dan apa yang penting bagi orang-orang yang melakukan suatu perilaku. Oleh karena itu, melibatkan individu dengan pengalaman spesifik perilaku sangat penting. ABC model of behavior adalah dasar teoritis untuk intervensi modifikasi perilaku,

tetapi menerapkan model teoritis dalam praktik adalah proses yang lebih kompleks. Contoh salah satu teknik intervensi dalam BBS yaitu model intervensi ABC sebagai berikut :

1) Activator : memasang safety sign, membuat garis atau jalur pejalan kaki, dan sebagainya.

2) Behavior : mengendarai dengan batasan kecepatan, dan sebagainya.

3) Consequency : Skorsing atau bentuk sanksi lainya.

Program intervensi harus spesifik dan dijelaskan kepada semua pekerja yang terlibat didalamnya. Program intervensi juga harus didukung penuh oleh manajemen puncak agar dapat berjalan efektif.

d. Test

Menurut E.Scott Geller dalam Health and Safety Protection (2011) yang dimaksud test di sini adalah mengukur dampak dari intervensi yang dilakukan dengan cara terus melakukan

(19)

pengamatan dan pencatatan terhadap perilaku berisiko selama proses intervensi dilakukan. Tahapan ini dapat dilakukan secara paralel dengan tahapan intervensi, jika terlihat bahwa intervensi yang dilakukan tidak efektif maka dapat dilakukan intervensi baru atau strategi baru. Tujuan tahapan ini adalah untuk melihat efektivitas dari program intervensi yang dibuat, namun jangan terburu-buru untuk memutuskan bahwa satu program intervensi tidak efektif karena untuk merubah perilaku diperlukan waktu yang mungkin lama dari yang diperkirakan. Bisa juga ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku berisiko pekerja sehingga program intervensi menjadi kurang efektif. Jika demikian halnya, maka yang perlu dilakukan adalah menambah bentuk intervensi lain untuk memperkuat program intervensi yang sedang berjalan. 5. Safety Culture

Dalam suatu organisasi, budaya keselamatan merupakan bagian dari budaya organisasi yang harus memperhitungkan faktor pengambilan kebijakan, manajer, dan pekerja dalam mewujudkan keselamatan yang terintegrasi. Budaya keselamatan diartikan dalam INSAG-4 dalam Heni (2011) sebagai berikut : “Budaya keselamatan adalah susunan karakteristik dan sikap yang terbentuk dalam organisasi dan individu sebagai prioritas utama”.

Ada tiga hal penting dalam membangun budaya keselamatan. Pertama, adanya tata nilai keselamatan. Kedua, adanya pola perilaku

(20)

yang sama. Ketiga, keselamatan adalah tanggung jawab semua orang dalam organisasi. Dari ketiga karakteristik budaya keselamatan ini, tata nilai tidak dirumuskan secara baik dan ringkas dalam keselamatan tradisional, sehingga orang tidak mengetahuinya, yang ada hanya nalurinya saja “ingin selamat”. Karena tidak terorganisasi, reaksi “mencari selamat” sama sekali tidak beraturan yang justru menghambat proses penyelamatn diri. Semua perilaku keselamatan yang tradisional itu memang perlu ditata, diorganisasi, dan digalakkan agar menjadi milik semua orang (Heni, 2011).

James Reason dalam Heni (2011) menyebutkan budaya keselamatn berfungsi antara lain :

a. Meminimalkan kemungkinan kecelakaan akibat kesalahan yang dilakukan individu.

b. Meningkatkan kesadaran akan bahaya melakukan kesalahan. c. Mendorong pekerja untuk menjalani setiap prosedur dalam semua

tahap pekerjaan.

d. Mendorong pekerja untuk melaporkan kesalahan/kekurangan sekecil apapun yang terjadi untuk menghindari terjadinya kecelakaan.

Heni (2011) menyebutkan budaya keselamatan mempunyai dua komponen utama. Komponen pertama adalah kerangka kerja yang diperlukan dalam suatu organisasi dan hal ini merupakan tanggung jawab hirarki manajemen. Komponen kedua adalah sikap pekerja pada

(21)

semua tingkatan dalam merespon dan memanfaatkan kerangka kerja tersebut.

Menurut Geller (2001) secara umum total safety culture membutuhkan perhatian berkelanjutan terhadap tiga hal berikut : a. Environment factors (termasuk peralatan, perlengkapan, prosedur,

standard, dan temperatur, keadaan fisik)

b. Person factors (termasuk sikap, kepercayaan dan kepribadian seseorang)

c. Behavior factors (termasuk praktek kerja aman, serta turut campur dalam masalah safety orang lain)

Tiga faktor diatas bersifat dinamis dan interaktif. Perubahan di dalam salah satu faktor dapat mempengaruhi dua faktor lainnya. Sebagai contoh, behaviors/perilaku yang mengurangi kemungkinan kecelakaan sering melibatkan perubahan lingkungan dan menuju kepada sikap yang konsisten dengan safe behaviors. Hal ini secara khusus benar jika behaviors/perilaku dilakukan dengan sukarela. Dengan kata lain, ketika seseorang memilih untuk bertindak dengan aman (act safely), mereka bertindak dalam pola pikir aman (safe thinking). Perilaku tersebut sering menghasilkan perubahan dalam

(22)

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Tempat Kerja

Manusia, Peralatan, Bahan, Proses, Cara kerja, Lingkungan

Kerja

Sumber Bahaya

Kecelakaan Kerja

Unsafe Condition Unsafe Action

Behavior Based Safety

Metode DO IT

Safety Culture Unsafe Behavior

Teori Domino

Gambar

Gambar 2.1. Kerangka PemikiranTempat Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Merupakan rating tertinggi, dimana ini dapat menunjukkan bahwa obligasi ini berisiko paling rendah dan kemampuan terbaik untuk membayar bunga dan pokok hutang sesuai

Penggunaan botol susu dengan karet penghisap yang keras berisiko mengganggu pertumbuhan rahang, lengkung gigi-geligi, lidah dan otot-otot wajah. Proses menghisap pada

CAPM menyarikan hubungan antara imbal hasil dan risiko dari aset serta hubungan antara imbal hasil aset tersebut dengan imbal hasil aset-aset lainnya, seperti dalam Scott,

Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan inspeksi adalah tahap pesiapan, pelaksanaan, pengembangan upaya perbaikan, tindakan korektif dan laporan (Tarwaka, 2008)

Sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 mengenai bentuk dari penelantaran rumah tangga telah ditentukan dalam Pasal 9 undang-undang

Menurut Panji Nugroho (2013) dalam bukunya yang berjudul Pupuk Kompos Cair bahwa sampah anorganik dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk

Tahap transinternalisasi merupakan tahap yang lebih mendalam dari tahap transaksi nilai. Pada tahap transinternalisasi yaitu tahap dimana peserta didik sudah merespon

a) Apa yang menjadi karakteristik hasil proses yang ditentukan dan yang tidak ditentukan dari hasil proses; b) Apa yang menjadi kriteria untuk pemantauan,