PENETAPAN KADAR RANITIDIN HCl DALAM SEDIAAN TABLET GENERIK BERLOGO YANG DIPERDAGANGKAN DI WILAYAH
CIMAHI DENGAN METODE KCKT
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan sebagai syarat menyelesaikan Program Diploma III Jurusan Farmasi
Disusun oleh :
TUTI SRIATUN P17335112220
KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN FARMASI
2015
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa : Karya Tulis Ilmiah dengan judul
PENETAPAN KADAR RANITIDIN HCl DALAM SEDIAAN TABLET GENERIK BERLOGO YANG DIPERDAGANGKAN DI WILAYAH CIMAHI
DENGAN METODE KCKT
Disusun oleh :
TUTI SRIATUN P17335112220
Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan pada sidang Karya Tulis Ilmiah
Pembimbing
Dra. Hj. Mimin Kusmiyati, M.Si NIP. 196808111994032001
Mengetahui Ketua Jurusan Farmasi
Dra. Hj. Mimin Kusmiyati, M.Si NIP 196308111994032001
Karya Tulis Ilmiah ini telah diajukan pada sidang Karya Tulis Ilmiah Program Pendidikan Diploma III Jurusan Farmasi
Politeknik Kesehatan Bandung Tanggal 29 Juli 2015
PENETAPAN KADAR RANITIDIN HCl DALAM SEDIAAN TABLET GENERIK BERLOGO YANG DIPERDAGANGKAN DI WILAYAH CIMAHI
DENGAN METODE KCKT
Disusun oleh :
TUTI SRIATUN P17335112220
Penguji : Tanda Tangan
Ketua : Dra.Hj.Mimin Kusmiyati, M.Si NIP : 196308111994032001
( _____________ )
Anggota : Yayat Sudaryat, ST.MT NIP :195810051981021002
( _____________ )
Anggota : Widyastiwi M.Si.Apt
NIP :199006052014022002 ( _____________ )
Motto
Bermimpilah yang sebesar-besarnya, tapi bersegeralah untuk mengerjakan sekecil-kecilnya kebaikan yang terdekat.
Tuhan tidak mengharuskan kita sukses, Tuhan hanya mengharapkan kita mencoba Persembahan
Yang Utama Dari Segalanya...
Sembah sujud serta syukur kepada Allah SWT. Taburan cinta dan kasih sayang-Mu telah memberikanku kekuatan, membekaliku dengan ilmu serta memperkenalkanku dengan cinta. Atas karunia serta kemudahan yang Engkau berikan akhirnya karya tulis ilmiah yang sederhana ini dapat terselesaikan. Sholawat dan salam selalu terlimpahkan keharibaan
Rasullah Muhammad SAW.
Kupersembahkan karya sederhana ini kepada orang yang sangat kukasihi dan kusayangi.
Mimi dan Bapak Tercinta
Sebagai tanda bakti, hormat, dan rasa terima kasih yang tiada terhingga kupersembahkan karya kecil ini kepada Mimi dan Bapak yang telah memberikan kasih sayang, segala dukungan, dan cinta kasih yang tiada terhingga yang tiada mungkin dapat kubalas hanya dengan selembar kertas yang bertuliskan kata cinta dan persembahan. Semoga ini menjadi langkah awal untuk membuat Mimi dan Bapak bahagia karna kusadar, selama ini belum bisa berbuat yang lebih. Untuk
Mimi dan Bapak yang selalu membuatku termotivasi dan selalu menyirami kasih sayang, selalu mendoakanku, selalu menasehatiku menjadi lebih baik,
Terima Kasih Mimi.... Terima Kasih Bapak...
My Brother’s dan Sister
Untuk kakak -kakakku, tiada yang paling mengharukan saat kumpul bersama kalian, walaupun sering bertengkar tapi hal itu selalu menjadi warna yang tak akan bisa tergantikan, terima kasih atas doa dan bantuan kalian selama ini, hanya karya
kecil ini yang dapat aq persembahkan. Maaf belum bisa menjadi orang yang bisa dibanggakan , tapi aq akan selalu menjadi yang terbaik untuk kalian semua...
My Sweet Heart “My Little Family”
Sebagai tanda cinta kasihku, Ibu persembahkan karya kecil ini buat kalian. Terima kasih atas kasih sayang, perhatian, dan kesabaran kalian yang telah memberikan Ibu semangat dan inspirasi dalam mneyelesaikan Katya Tulis ini, semoga .
Karya Tulis ini menjadi motivasi kalian anak-anakku untuk menjadi lebih baik dari ibu love you all....
My Best friend’s
Buat sahabatku “Affifah Aulia Rahmawati “ terima kasih atas bantuan, doa, dan semangat yang kamu berikan selama aku kuliah, aku tak akan melupakan semua yang telah kamu berikan selama ini. Buat anak-anak recok “Khilda,Agung, Riska Unyu.Artis gagal Agnes Herlina” kapan kita bisa kongkow-kongkow lagi, buat partner debatku Azmil Umur kamu
yang selalu aku rindukan untuk bertengkar lagi, buat Lina Habibah bunda penyabar dan penolongku, buat Bu Ela si orang tasik yang culun dan polos tapi pintarnya ndak bisa aku kalahkan, buat rivalku di kelas dalam belajar pak H.Susilohadi yang membuatku selalu tertawa bahagia, buat bude Yulia si bunda yang paling kalem terima kasih atas
bantuan kalian, semangat kalian dan candaan kalian, aku tak akan melupakan kalian.
Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiahku...
Ibu Dra HjMimin Kusmiyati M,Si selaku dosen pembimbing Karya Tulis Ilmiah saya, terima kasih banyak .. ibu.., Bapak Yayat Sudaryat ST, MT selaku dosen Kimia Farmasi Analisi terima kasih banyak bapak saya sudah dibantu
selama ini, sudah dinasehati, sudah diajari, saya tidak akan lupa atas bantuan dan kesabaran dari bapak dan ibu.
Terima kasih banyak pak..bu.., bapak ibu adalah dosen favorit saya..
Seluruh Dosen Pengajar di Jurusan Farmasi :
Terima kasih banyak untuk semua ilmu, didikan dan pengalaman yg sangat berarti yang telah kalian berikan kepada kami…
Staf Akademik :
Bu Siti ,Pak Edy, Pak Aries,Pak Kudi dan semua staf akademik di Jurusan Farmasi, terima kasih banyak atas semua bantuan kalian…
Teman2 angkatan 2012 :
Terima kasih banyak untuk bantuan dan kerja samanya selama ini…
Serta semua pihak yg sudah membantu selama penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini...
.”your dreams today, can be your future tomorrow”
TUTI SRIATUN
vi
PENETAPAN KADAR RANITIDIN HCl DALAM SEDIAAN TABLET GENERIK BERLOGO YANG DIPERDAGANGKAN DI WILAYAH
CIMAHI DENGAN METODE KCKT Tuti Sriatun-P17335112220
ABSTRAK
Pengawasan produk obat harus dilakukan untuk menjamin mutu dan keamanannya. Salah satu jenis pengawasan mutu tersebut adalah analisis kadar senyawa aktif dalam proses pengendalian mutu obat. Ranitidin merupakan senyawa furan golongan antagonis reseptor H2 (H2-blockers atau zat penghambat- asam) yang bekerja menghambat secara selektif sekresi asam-lambung yang meningkat akibat histamin. Kadarnya dapat ditentukan secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT).Dalam penelitian ini dilakukan penetapan kadar tablet ranitidin HCl generik secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) metode fase terbalik menggunakan kolom C 18, fase gerak yang digunakan metanol : air (75 : 25), laju alir 0,5 mL/menit dan deteksi pada panjang gelombang 322 nm. Hasil uji identifikasi yang dilakukan terhadap ranitidin HCl baku sekunder dan tablet ranitidin HCl memberikan puncak dengan waktu retensi 4,530 menit. Penentuan linearitas kurva kalibrasi ranitidin HCl dihitung berdasarkan luas puncak, diperoleh hubungan yang linear antara luas puncak dan konsentrasi pada rentang konsentrasi 5 ppm sampai 9 ppm dengan koefisien korelasi (r)=0,993 dan persamaan garis y = 15134x - 289105. Dari hasil penetapan kadar, didapatkan kadar ranitidin dalam tablet ranitidin HCl dari berbagai produsen yang diberi nama sampel A, B, C, D, E masing-masing adalah sampel A 98,12 %, sampel B 90,21 %, sampel C 90,31%, sampel D 89,70%, sampel E 89,18%. Dari 5 sampel yang dianalisis didapat 3 sampel yang memenuhi syarat dan 2 sampel yang tidak memenuhi syarat yang tercantum dalam Farmakope Indonesia Edisi V, yaitu mengandung ranitidin HCl setara dengan ranitidin tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket.
Kata kunci : KCKT, Ranitidin HCl, Kadar, Generik.
vii
DETERMINATION OF HCl RANITIDIN LEVELS IN PREPARATION CARRYING THE TABLETS GENERIC TRADED IN AREAS CIMAHI
USING HPLC METHOD Tuti Sriatun-P17335112220
ABSTRACT
Quality control of drugs should be done to assure quality and safety of products.
One of process to control the quality is determining amount of active compound in process control. Ranitidin is furan compound that selectively inhibit the secretion of gastric acid which increase by histamin. Drug content could be analyze by HPLC method. In this study drug content of ranitidin HCl generic tablet was conducted with reverse phase method, using C18 as stationary phase, methanol : aquadest (75:25) as mobile phase, flow rate 0,5 mL/ minute and UV detector wavelength 322 nm. Identification test of ranitidin HCl secondary standard and ranitidin HCl tablet showed the peak with retention time 4,530 minute. Linearity of calibration curve ranitidin HCl counted by peak area, linearity between peak area and various range concentration start from 5 ppm to 9 ppm was obtained, the value of coefficient correlation (r) = 0,993 and equation y = 15134x – 289105. The results of the determination of content, was obtained in content ranitidin tablets ranitidin HCl from various producers named sample A , B , C , D , E each sample is A 98,12 % , B 90,21 % sample , C 90,31 % sample , D 89,70 % sample , E 89,18 % sample. Out of 5 samples that have been analyzed obtained 3 sample was who is qualified and 2 samples didn’t meet the conditions as mentioded in Farmakope Indonesia 5th Edition, which is ranitidin HCl contain equivalent to ranitidin not less than 90,0 % and not more than 110 % of the amount stated in etiquette.
Keywords: HPLC, Ranitdin HCl, Drug Content, Generic
viii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
Puji dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Mulia yang telah melimpahkan rahmat, karunia, dan ridhoNYA , sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Penetapan Kadar Ranitidin HCl dalam Sediaan Tablet Generik Berlogo yang diperdagangkan di Wilayah Cimahi dengan Metode KCKT” yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Diploma III pada Politeknik Kesehatan Kemenetrian Kesehatan Bandung Jurusan Farmasi. Shalawat serta salam tak lupa saya curahkan kepada Rasululloh SAW semoga kita termasuk kepada umat yang diberi syafaat di hari akhir nanti. Amin.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- sebesarnya kepada Ibu Dra.Hj Mimin Kusmiyati, M.Si, selaku Kepala Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Bandung serta pembimbing yang selalu membimbing dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama penelitian dan penulisan KTI ini berlangsung.
Tak lupa pula penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Yayat Sudaryat ST,MT dan Ibu Widyastuti selaku tim penguji sidang
KTI.
2. Staf Laboratorium Terpadu unit Laboratorium Politeknik Kesehatan Bandung yang telah dengan sabar,tulus dan ikhlas mendampingi selama penelitian di laboratorium.
ix
3. Segenap dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Bandung yang telah memberikan ilmunya sehingga mengantarkan penulis dalam menyelesaikan studi Diploma III di Jurusan Farmasi Poltekkes Bandung.
4. Sahabat –sahabat terbaik mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Bandung angkatan 2012 yang telah membantu selama kuliah, terima kasih atas semua dukungannya.Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih memiliki banyak kekurangan.
Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis bersedia menerima kritik dan saran yang membangun untuk KTI ini. Semoga KTI ini bermanfaat dan berguna bagi pengetahuan umum dan ilmu farmasi khususnya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
Bandung, 12 Agustus 2015
Penulis
x
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ……….
LEMBAR PENGESAHAN ………..
LEMBAR PERSEMBAHAN ………...
ABSTRAK ………....
I ii iv vi
ABSTRACT …..……….. vii
KATA PENGANTAR ………... viii
DAFTAR ISI ………. x
DAFTAR LAMPIRAN ………. xiii
DAFTAR GAMBAR ……… xiv
DAFTAR TABEL ………. xv BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ………...
1.2 Rumusan Masalah ………..
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum ………....
1.3.2 Tujuan Khusus ………...
1.4 Manfaat Penelitian ……….
1 3
3 3 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gastritis ………..
2.2 Ranitidin HCl ………
5 6
xi
2.2.1 Sifar Fisikokimia ……….
2.2.2 Farmakodinamik ………..
2.2.3 Farmakokinetik ………
2.2.4 Indikasi ………
2.2.5 Efek Samping ………...
2.2.6 Interaksi Obat ………...
2.2.7 Dosis ………
2.2.8 Bentuk Sediaan ………
2.3 Tablet ……….
2.4 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi ……….
2.4.1 Cara Kerja KCKT ………
2.4.2 Komponen KCKT ………....
2.4.3 Pemakaian Kromatografi ……….
2.4.4 Penggunaan KCKT dalam Analisis Farmasi …………...
2.5 Analisis Kualitatif dan Kuantitatif ……….
6 7 7 8 8 8 9 9 9 10 12 13 19 19 20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ………..
3.2 Rancangan Penelitian ……….
3.3 Populasi dan Sampel ………..
3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian ……….
3.5 Bahan dan Alat Penelitian
3.5.1 Bahan Penelitian ………..
3.5.2 Alat Penelitian ……….
24 24 24 25
25 25
xii
3.6 Definisi Operasional ……….
3.7 Cara Pengumpulan Data ………
3.8 Cara Pengolahan dan Analisis Data ………...
26 27 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Penentuan Metode Analisis ……….
4.1.2 Validasi Metode Analisis …..………...
4.1.3 Analisis Kuantitatif Sampel ……….
4.2 Pembahasan ………...
32 37 40 41 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ………
5.2 Saran ………..
45 45
DAFTAR PUSTAKA ………... xvi
LAMPIRAN ……….. 46
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Optimasi Kondisi Analisis ………... 46
Lampiran 2 Kromatogram Sampel A, B, C, D, E ……… 54
Lampiran 3 Contoh Perhitungan Uji Akurasi ……….. 59
Lampiran 4 Perhitungan Uji Presisi ………. 61
Lampiran 5 Perhitungan Uji Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantifikasi (LOQ) ………... 62
Lampiran 6 Perhitungan Kadar Sampel ………... 63
Lampiran 7 Alat yang Digunakan ……….………. 70
Lampiran 8 Bahan yang Digunakan ………...………. 72
Lampiran 9 Dokumentasi Praktikum ………..………. 73
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Struktur Ranitidin ………….………. 6
Gambar 2.2 Bagan Alat KCKT ………...………... 13
Gambar 4.1 Spektrum Serapan Ranitidin HCl……….. 32
Gambar 4.2 Kromatogram Uji Kesesuaian Sistem ...………. 36
Gambar 4.3 Kurva Kalibrasi Ranitidin HCl……….. 38
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel 4.1
Tabel Definisi Operasional ……….
Hasil penetapan komposisi fase gerak asetonitril dan air pada konsentrasi 10 ppm kecepatan alir 0,75 mL/menit , panjang gelombang 322 nm dan volume penyuntikan 20 µL dan hasil komposisi fase gerak metanol dan air pada konsentrasi 10 ppm kecepatan alir 0,5 mL/menit, panjang gelombang 322 nm dan volume penyuntikan 20 µL ………...
26
35 Tabel 4.2 Hasil uji kesesuaian sistem ranitidin HCl pada konsentrasi 5
ppm, dengan komposisi fase gerak metanol dan air (75 : 25) pada kecepatan alir 0,5 mL/menit, panjang gelombang 322 nm, dan volume penyuntikan 20 µL……….. 37 Tabel 4.3 Data Hasil Uji Linieritas ………. 38 Tabel 4.4 Hasil Uji Akurasi Ranitidin HCl……….. 39 Tabel 4.5 Data Kadar Ranitidin HCl dalam Sediaan Tablet Generik
yang Ditentukan Berdasarkan Luas Puncak ………... 41
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gastritis berasal dari kata gaster yang artinya lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan dinding mukosa lambung yang dapat bersifat akut, kronik, difus, atau lokal. Gejalanya adalah rasa tak enak pada perut bagian atas, misalnya rasa perut selalu penuh, mual-mual, perasaan panas pada perut, rasa pedih sebelum atau sesudah makan dan sebagainya (Prince dkk, 1995; Hadi.
S,1983). Gangguan ini disebabkan oleh sekresi asam lambung serta aktivitas pepsin yang berlebihan akibat rangsangan gastrin. Satu dari lima orang dewasa di Amerika Serikat menderita gejala nyeri ulu hati (heartburn) dan terjadi sekurang- kurangnya sekali dalam seminggu (Goodman dan Gilman, 2012). Gastritis di kota Bandung pada tahun 2012 masuk peringkat keenam dalam dua puluh besar penyakit rawat jalan dengan penderita sebanyak 4,12% (Anonim, 2013).
Ranitidin adalah salah satu obat gastritis yang merupakan senyawa furan golongan antagonis reseptor H2 (H2-blockers atau zat penghambat-asam) yang bekerja menghambat secara selektif sekresi asam-lambung yang meningkat akibat histamin, dengan jalan persaingan terhadap reseptor-H2 di lambung dimana efek kerja dari ranitidin ini adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga mengurangi vasodilatasi dan tekanan darah menurun (Tjay T. H dan Kirana R, 2013).
2
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tentang “Kewajiban Menggunakan Obat Generik Di Fasilitas Pelayanan Masyarakat” mengatakan “Obat Generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya”.
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan metode analisis teknik kromatografi dengan fase gerak cairan dan fase diam cairan atau padatan yang mampu menganalisis komponen dalam sampel dengan kadar yang sangat kecil yaitu dalam jumlah nanogram (10-9 g) bila menggunakan detektor serapan UV bahkan hingga dalam jumlah pikogram (10-12 g) bila dengan detektor fluoresensi dan elektrokimia (Johnson dkk, 1991; Putra E. D. L, 2004).
Sediaan ranitidin HCl dalam bentuk tablet, selain generik berlogo juga tersedia nama dagang. Untuk memasyarakatkan obat generik diperlukan informasi tentang mutu obat yang bersangkutan. Mutu obat generik yang sering dipertanyakan perlu dimantapkan dengan berbagai data laboratorium. Hal inilah yang melatar belakangi peneliti untuk melakukan penetapan kadar ranitidin HCl generik dari berbagai produsen dengan menggunakan metode Kromatografi Cair Kinerja Kinggi yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi V dimana syaratnya adalah “Tiap tablet Ranitidin Hidroklorida mengandung Ranitidin Hidroklorida, C13H22N4O3S.HCl, setara dengan Ranitidin C13H22N4O3S tidak kurang dari 90,0%
dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket”.
3
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Berapa kadar ranitidin pada sediaan tablet ranitidin HCl generik berlogo dari berbagai produsen?
2) Apakah kadar ranitidin dalam sediaan tablet ranitidin HCl generik berlogo sudah sesuai dengan persyaratan Farmakope Indonesia Edisi V tahun 2014?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum
Menetapkan kadar ranitidin dalam sediaan tablet ranitidin HCl generik berlogo dengan metode KCKT berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi V.
1.3.2 Tujuan khusus
1) Mengetahui kadar ranitidin dalam sediaan tablet ranitidin HCl generik berlogo dari berbagai produsen secara KCKT.
2) Membandingkan hasil pengujian yang diperoleh dengan persyaratan kadar yang ditetapkan Farmakope Indonesia Edisi V tahun 2014.
1.4 Manfaat Penelitian 1) Bagi peneliti
Sebagai data otentik telah dilakukan penelitian mengenai penetapan kadar ranitidin HCl dengan metode KCKT.
4
2) Bagi Jurusan Farmasi
Sebagai sumbangan ilmu pengetahuan tentang penetapan kadar ranitidin HCl dengan metode KCKT.
3) Bagi Masyarakat
Sebagai informasi bagi masyarakat tentang mutu obat generik.
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gastritis
Maag atau radang lambung atau tukak lambung atau gastritis adalah gejala penyakit yang menyerang lambung dikarenakan terjadi luka atau peradangan lambung yang menyebabkan sakit dan perih pada perut.
Bila mukosa lambung sering kali atau dalam waktu cukup lama bersentuhan dengan aliran balik getah duodenum yang bersifat alkalis, peradangan sangat mungkin terjadi dan akhirnya malah berubah menjadi tukak lambung.
Penyebab dari gastritis antara lain karena mekanisme penutupan pylorus tidak bekerja dengan sempurna sehingga terjadi refluks, mukosa lambung dikikis oleh garam-garam empedu dan lysolesitin (dengan kerja detergens) yang mengakibatkan timbul luka-luka mikro, hipersekresi asam sehingga dinding lambung dirangsang secara kontinyu dan akhirnya terjadi gastritis dan tukak, turunnya daya tangkis mukosa, yang dalam keadaan sehat sangat tahan terhadap sifat agresif HCl-pepsin. Sementara penyebab dari tukak lambung selain dari gastritis kronis juga disebabkan oleh infeksi Helicobacter pylori.
Gejala-gejala dari penyakit ini antara lain nyeri lambung dan muntah- muntah akibat erosi kecil di selaput lendir, perasaan terbakar dan perih di lambung 15-60 menit setelah makan, perasaan kembung dan mual.
6
Penanganan yang dapat dilakukan antara lain dengan menghindari penyebab–penyebab tersebut diatas dan makanan yang merangsang (cabe, merica), juga makan terlalu banyak sekaligus.
Pengobatan spesifik tidak diperlukan, kadang–kadang hanya diperlukan H2 – blockers untuk mengurangi sekresi asam (Tjay T. H dan Kirana R, 2013).
2.2 Ranitidin HCl
Ranitidin HCl merupakan salah satu antagonis reseptor H2 yang bekerja menghambat sekresi asam lambung. Senyawa furan ini ditemukan tahun 1981 memiliki daya hambat terhadap sekresi asam lebih kuat dari pada simetidin. Tidak merintangi perombakan oksidatif dari obat-obat lain sehingga tidak mengakibatkan interaksi yang tidak diinginkan (Tjay T. H dan Kirana R, 2013).
2.2.1 Sifat Fisikokimia Rumus Struktur :
Gambar 2.1 Struktur Ranitidin
Nama Kimia : N-[2 -[[[ 5-[( Dimetilamino )metil)-2- furanil)metil)tio) etil 1-N'- meti/-2 -nitro-1,1- etenadiamina, hidroklorida
Rumus Molekul : C13H22N4O3S.HCI Berat Molekul : 350,87
7
Pemerian : Serbuk hablur, putih sampai kuning pucat, praktis tidak berbau, peka terhadap cahaya dan kelembaban. Melebur pada suhu lebih kurang 140º disertai peruraian.
Kelarutan
pH :
:
Sangat mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol.
Antara 4,5 dan 6,0; lakukan penetapan menggunakan larutan (1 dalam 100).
Wadah dan Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik, tidak tembus cahaya (Depkes RI, 2014).
2.2.2 Farmakodinamik
Menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversibel. Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi asam lambung, sehingga pada pemberian ranitidin sekresi asam lambung dihambat walaupun tidak sebaik penekanan sekresi asam lambung pada keadaan basal. Ranitidin dapat menghambat sekresi asam lambung akibat perangsangan obat muskarinik, stimulasi vagus, atau gastrin juga mengganggu volume dan kadar pepsin cairan lambung (FKUI, 2007).
2.2.3 Farmakokinetik
Bioavailalibilitas secara oral sekitar 50% dan meningkat pada pasien penyakit hati. Waktu paruh kira-kira 1,7-3 jam pada orang dewasa dan memanjang pada orang tua, pasien gagal ginjal dan penyakit hati. Kadar puncak pada plasma dicapai dalam 1-3 jam dan yang terikat protein plasma hanya 15%
8
,metabolisme di hati, diekskresi melalui ginjal sisanya melalui tinja. Dapat melalui plasenta dan ASI maka penggunaannya hanya bila sangat diperlukan (FKUI, 2007).
2.2.4 Indikasi
Efektif untuk pengobatan dan perawatan ulkus duodenum, gangguan refluks lambung-esofagus (Gastro-esophageal Reflux Disorder = GERD), pengobatan kondisi hipersekresi patologis (Zolilinger Ellison syndrome) untuk mengatasi gejala akibat sekresi asam lambung yang berlebihan, profilaksis tukak stress (stress ulcers) (FKUI, 2007).
2.2.5 Efek Samping
Pada cardio vaskuler; aritmia jantung dan bradikardia.SSP; Sakit kepala, mengantuk, kelelahan, pusing, halusinasi, depresi, insomnia. Dermatitis ; alopesia, ruam, eritema multiforme, GI; Mual, muntah, perut tidak nyaman, diare, sembelit, pankreatitis. HEMA; agranulositosis, hemolitik autoimun atau anemia aplastik. trombositopenia, granulositopenia. HEPA; Cholestatic atau efek hepatoseluler. Reaksi hipersensitivitas (A to Z Drug Facts, 2003).
2.2.6 Interaksi Obat
Diazepam dengan ranitidin menghambat absorpsi diazepam dan mengurangi kadar plasmanya sejumlah 25%. Etanol : dapat meningkatkan kadar etanol dalam plasma. Glipizide : efek yang mungkin terjadi hipoglikemia meningkat. Ketokonazol : Dapat mengurangi efek ketoconazole. Lidocaine : Dapat menyebabkan peningkatan kadar lidokain. Warfarin : dapat mengganggu
9
warfarin clearance,efek hypoprothrombinemic dapat meningkat; sehingga perlu penyesuaian (A to Z Drug Facts, 2003).
2.2.7 Dosis
Satu kali sehari 300 mg sesudah makan malam selama 4-8 minggu, sebagai pencegah satu kali sehari 150 mg, i.v. 50 mg sekali (Tjay T. H dan Kirana R, 2013).
2.2.8 Bentuk Sediaan
Bentuk tablet 150 mg/tablet,kaplet 300 mg/tablet, injeksi (ampul) 25 mg/mL @ 2 mL (Hardjosaputra, dkk, 2008).
2.3 Tablet
Tablet merupakan sediaan solid yang mengandung satu atau lebih zat aktif dengan atau tanpa berbagai eksipien dan dibuat dengan mengempa campuran serbuk dalam mesin tablet. Definisi lain dari tablet adalah unit bentuk sediaan solid dibuat dengan mengempa campuran serbuk yang mengandung zat aktif dengan atau tanpa bahan tambahan yang dipilih guna membantu dalam proses pembuatan dan untuk menciptakan sifat sifat sediaan tablet yang dikehendaki (Chorles J.P Siregar, 2008).
Tablet memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu:
1) Harus merupakan produk menarik (bagus dilihat) yang mempunyai identitasnya sendiri serta bebas dari serpihan, keretakan, pemucatan, kontaminasi, dan lain lain.
10
2) Harus sanggup menahan guncangan mekanik selama produksi dan pengepakan.
3) Stabil secara fisika, kimia.
4) Mampu melepas zat berkhasiat sesuai dengan yang diharapkan.
5) Bioavailalibilitas (Lachman, 1986 ).
6) Memenuhi keseragaman ukuran 7) Memenuhi keseragaman bobot 8) Memenuhi waktu hancur
9) Memenuhi keseragaman isi zat berkhasiat
10) Memenuhi waktu larut (dissolution test) (Anief, M. 2010).
11) Penetapan kadar zat aktif
Penetapan kadar zat aktif bertujuan untuk mengetahui apakah kadar zat aktif yang terkandung didalam suatu sediaan sesuai dengan yang tertera pada etiket dan memenuhi syarat seperti yang tertera pada masing-masing monografi.
Bila zat aktif obat tidak memenuhi syarat maka obat tersebut tidak akan memberikan efek terapi dan juga tidak layak untuk dikonsumsi (Depkes RI, 2014).
2.4 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Pada akhir tahun 1960-an, semakin banyak usaha dilakukan untuk pengembangan kromatografi cair sebagai suatu teknik mengimbangi kromatografi gas. High Performance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi Cair Penampilan Tinggi atau High Preformance = Tekanan atau Kinerja Tinggi, High
11
Speed = Kecepatan Tinggi dan Modern = moderen telah berhasil dikembangkan dari usaha ini. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau High Perfomance Liquid Chromatography (HPLC) merupakan salah satu metode kimia dan fisikokimia. KCKT termasuk metode analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak cairan dan fasa diam cairan atau padat. Banyak kelebihan metode ini jika dibandingkan dengan metode lainnya. Kelebihan itu antara lain:
1) Mampu memisahkan molekul-molekul dari suatu campuran 2) Mudah melaksanakannya
3) Kecepatan analisis dan kepekaan yang tinggi
4) Dapat dihindari terjadinya dekomposisi / kerusakan bahan yang dianalisis 5) Resolusi yang baik
6) Dapat digunakan bermacam-macam detektor 7) Kolom dapat digunakan kembali\
8) Mudah melakukan "sample recovery" (Putra,2004).
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan sistem pemisahan dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi. Hal ini karena didukung oleh kemajuan dalam teknologi kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sangat sensitif dan beragam KCKT mampu menganalisa berbagai cuplikan secara kualitatif maupun kuantitatif, baik dalam komponen tunggal maupun campuran.
(Depkes RI, 2014).
Kegunaan umum KCKT adalah untuk: pemisahan sejumlah senyawa organik, anorganik, maupun senyawa biologis; analisis ketidakmurnian
12
(impurities); analisis senyawa-senyawa tidak mudah menguap (non-volatil);
penentuan molekul-molekul netral, ionik, isolasi dan pemurnian senyawa;
pemisahan senyawa-senyawa yang strukturnya hampir sama; pemisahan senyawa- senyawa dalam jumlah sekelumit (trace elements), dalam jumlah banyak, dan dalam skala proses industri.KCKT merupakan metode yang tidak destruktif dan dapat digunakan baik untuk analisa kualitatif maupun kuantitatif.
KCKT paling sering digunakan untuk : menetapkan kadar senyawa- senyawa tertentu seperti asam-asam amino, nukleat dan protein-protein dalam cairan fisiologis; menentukan kadar senyawa-senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintetis, atau produk-produk degradasi dalam sediaan farmasi, memurnikan senyawa dalam campuran.
Keterbatasan metode KCKT adalah untuk identifikasi senyawa, kecuali jika KCKT dihubungkan dengan spektrometer massa (MS). Keterbatasan lainnya adalah jika sampelnya sangat kompleks, maka resolusi yang baik sulit diperoleh (Gandjar & Rohman, 2012).
2.4.1 Cara Kerja KCKT
Kromatografi merupakan teknik yang mana solut atau zat-zat terlarut terpisah oleh perbedaan kecepatan elusi, dikarenakan solut-solut ini melewati suatu kolom kromatografi. Pemisahan solut-solut ini diatur oleh distribusi solut dalam fase gerak dan fase diam.Penggunaan kromatografi cair secara sukses terhadap suatu masalah yang dihadapi membutuhkan penggabungan secara tepat dari berbagai macam kondisi operasional seperti jenis kolom, fase gerak, panjang dan diameter kolom, kecepatan alir fase gerak, suhu kolom, dan ukuran sampel.
13
Instrumentasi KCKT pada dasarnya terdiri atas delapan komponen pokok yaitu: (1) fase gerak, (2) sistem penghantaran fase gerak,alat untuk memasukkan sampel, (4) kolom, (5) detektor, (6) wadah penampung buangan fase gerak, (7) tabung penghubung, dan (8) suatu komputer atau integrator atau perekam (Gandjar & Rohman, 2012).
2.4.2 Komponen KCKT
Gambar 2.2 Bagan Alat KCKT
1) Fase gerak
Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert) terhadap fase gerak.Bahan yang umum digunakan adalah gelas dan baja anti karat. Daya tampung wadah harus lebih besar dari 500 mL, yang dapat digunakan selama 4 jam untuk kecepatan alir yang umumnya 1-2 mL/menit (Parinduri dan Fatimah, 2009).
Fase gerak sebelum digunakan harus dilakukan degassing (penghilangan gas) yang ada pada fase gerak,sebab adanya gas akan berkumpul dengan komponen
14
lain terutama di pompa dan detektor sehingga akan mengacaukan analisis.Fase gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari partikel-partikel kecil ini.
Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi yang ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen-komponen sampel.Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak), kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. Fase gerak yang sering digunakan adalah campuran pelarut- pelarut hidrokarbon dengan pelarut yang terklorisasi atau menggunakan pelarut-pelarut jenis alkohol. Pemisahan menggunakan fase normal kurang umum digunakan.
Fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase gerak), kemampuan elusi menurun dengan meningkatnya polaritas pelarut. Fase gerak yang umum digunakan adalah campuran larutan buffer dengan methanol atau campuran air dengan asetonitril.
Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah selama elusi).Elusi bergradien digunakan untuk meningkatkan resolusi campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai kisaran polaritas yang luas (Gandjar & Rohman, 2012).
15
2) Fase Diam
Kebanyakan fase diam pada KCKT berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzene. Permukaan silica adalah polar dan sedikit asam karena adanya gugus silanol (Si-OH) Oktadesil silica (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang, maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi sesuai untuk solut yang polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.
Solut yang polar terutama yang bersifat basa, akan memberikan puncak yang mengekor (tailing peak) pada penggunaan fase diam silika fase terikat. Hal ini disebabkan oleh adanya interaksi adsorpsi antara solut dengan residu silanol dan pengotor logam yang terdapat pada silika. Masalah ini dapat diatasi dengan end-capping yakni proses menutup residu silanol dengan gugus trimetilsilil dan menggunakan silika dengan kemurnian tinggi (kandungan logam < 1 ppm) (Gandjar & Rohman, 2012).
3) Pompa
Pompa yang digunakan untuk KCKT syaratnya harus inert terhadap fase gerak dimana bahan yang umum dipakai adalah gelas, baja tahan karat, teflon, dan batu nilam dan sebaiknya mampu memberikan tekanan 5000 psi dan mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 3 mL/ menit. Untuk tujuan
16
preparatif, pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan 20 mL/ menit.
Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel, konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa dalam KCKT yaitu: pompa dengan tekanan konstan, dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan (Gandjar & Rohman, 2012).
4) Injektor
Injektor berfungsi untuk memasukan sampel, ada 3 tipe dasar injektor yang dapat digunakan :
a) Stop-Flow : Aliran dihentikan, injeksi dilakukan pada kinerja atmosfir, sistem tertutup, dan aliran dilanjutkan lagi. Teknik ini bisa digunakan karena difusi di dalam cairan kecil clan resolusi tidak dipengaruhi
b) Septum : Septum yang digunakan pada KCKT sama dengan yang digunakan pada Kromtografi Gas. Injektor ini dapat digunakan pada kinerja sampai 60 -70 atmosfir. Tetapi septum ini tidak tahan dengan semua pelarut-pelarut Kromatografi Cair. Partikel kecil dari septum yang terkoyak (akibat jarum injektor) dapat menyebabkan penyumbatan.
c) Loop Valve : Tipe injektor ini umumnya digunakan untuk menginjeksi volume lebih besar dari 10 μ dan dilakukan dengan cara automatis (dengan menggunakan adaptor yang sesuai, volume yang lebih kecil dapat diinjeksikan secara manual). Pada posisi LOAD, sampel diisi kedalam
17
loop pada kinerja atmosfir, bila VALVE difungsikan, maka sampel akan masuk ke dalam kolom (Putra, 2004).
Sampel-sampel cair dan larutan disuntikan melalui injektor secara langsung ke dalam fase gerak yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom.
Injektor terbuat dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample loop) internal dan eksternal. Kelebihan pengisian sampel ini akan dikeluarkan ke pembuang (Gandjar & Rohman, 2012).
5) Kolom
Kolom adalah jantung kromatografi. Berhasil atau gagalnya suatu analisis tergantung pada pemilihan kolom dan kondisi percobaan yang sesuai. Kolom umumnya dibuat dari stainlesteel dan biasanya dioperasikan pada temperatur kamar, tetapi bisa juga digunakan temperatur lebih tinggi Kolom dapat dibagi menjadi dua kelompok :
a) Kolom analitik : Diameter dalam 2 -6 mm. Panjang kolom tergantung pada jenis material pengisi kolom. Untuk kemasan pellicular, panjang yang digunakan adalah 50 - 100 cm. Untuk kemasan poros mikropartikulat, 10 - 30 cm.
b) Kolom preparatif: umumnya memiliki diameter 6 mm atau lebih besar dan panjang kolom 25 -100 cm. (Putra,2004)
Panjang kolom bervariasi dari 15-150 cm. Pengisi kolom biasanya adalah silica gel, alumina, dan elit. Pengisi kolom seperti partikel pellicular, yaitu butiran gelas yang dilapisi dengan materi berpori (Khopkar, 2010).
18
6) Detektor
Detektor pada KCKT dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal (yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia. Idealnya suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a) Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.
b) Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang sangat kecil.
c) Stabil dalam pengoperasiannya.
d) Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita.
e) Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas (kisaran dinamis linier). Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.
Detektor pada KCKT dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu : a) Detektor Universal
Detektor yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa.
19
b) Detektor Spesifik
Detektor yang spesifik hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif seperti detektor UV-Vis, detektor fluorescensi, dan elektrokimia (Gandjar & Rohman, 2012).
Detektor KCKT yang umum digunakan adalah detektor UV 254 nm. Karena variabel panjang gelombang dapat digunakan untuk mendeteksi banyak senyawa dengan range yang luas (Putra, 2004).
2.4.3 Pemakaian Kromatografi
1) Pemakaian untuk tujuan kualitatif mengungkapkan ada atau tidak adanya senyawanya tertentu dalam cuplikan.
2) Pemakaian untuk tujuan kuantitatif menunjukkan banyaknya masing-masing komponen campuran.
3) Pemakaian untuk tujuan preparatif untuk memperoleh komponen campuran dalam jumlah memadai dalam keadan murni (Gritter dkk, 1991)
2.4.4 Penggunaan KCKT dalam Analisis Farmasi
Metode KCKT merupakan metode yang sangat populer untuk menetapkan kadar senyawa obat baik dalam bentuk sediaan atau dalam sampel hayati.Hal ini disebabkan KCKT merupakan metode yang memberikan sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi (Gandjar & Rohman, 2012).
20
2.5 Analisis Kualitatif dan Kuantitatif 1) Analisis Kualitatif
Ada 3 pendekatan untuk analisis kualitatif yakni:
a) Perbandingan antara retensi solut yang tidak diketahui dengan data retensi baku yang sesuai (senyawa yang diketahui) pada kondisi yang sama. Untuk kromatografi yang menggunakan kolom (seperti KCKT dan KG), waktu retensi (tR) atau volume retensi (VR) senyawa baku dan senyawa yang tidak diketahui dibandingkan dengan cara kromatografi secara berurutan dalam kondisi alat yang stabil dengan perbedaan waktu pengoperasian antar keduanya sekecil mungkin.
b) Dengan cara spiking, untuk kromatografi yang melibatkan kolom, spiking dilakukan dengan menambah sampel yang mengandung senyawa tertentu yang akan diselidiki dengan senyawa baku pada kondisi kromatografi yang sama. Hal ini dilakukan dengan cara: pertama, dilakukan proses kromatografi sampel yang tidak di- spiking. Kedua, sampel yang telah di- spiking dengan senyawa baku dilakukan proses kromatografi. Jika pada puncak tertentu yang diduga mengandung senyawa yang diselidiki terjadi peningkatan tinggi puncak/ luas puncak setelah di-spiking dibandingkan dengan tinggi puncak/ luas puncak yang tidak dilakukan spiking maka dapat diidentifikasi bahwa sampel mengandung senyawa yang kita selidiki.
21
c) Menggabungkan alat kromatografi dengan spektrometer massa.
Pada pemisahan dengan menggunakan kolom kromatografi, cara ini akan memberikan informasi pada spektra massa solut dengan waktu retensi tertentu.
Spektra solut yang tidak diketahui dapat dibandingkan dengan spektra yang ada di data base komputer atau diinterpretasi sendiri. Cara ini dapat dilakukan untuk solut yang belum ada baku murninya.(Gandjar & Rohman, 2012)
2) Analisis Kuantitatif
Untuk menjamin kondisi yang digunakan dalam analisis stabil dan reprodusibel, baik pada penyiapan sampel atau proses kromatografi, berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam analisis kuantitatif:
a) Analit (solut) harus telah diketahui dan terpisah sempurna dari komponen-komponen lain dalam kromatogram.
b) Baku dengan kemurnian yang tinggi dan telah diketahui harus tersedia.
c) Prosedur kalibrasi yang sudah diketahui harus digunakan.
Untuk kromatografi yang melibatkan kolom, kuantifikasi dapat dilakukan dengan ; luas puncak atau dengan tinggi puncak. Tinggi puncak atau luas puncak berbanding langsung dengan banyaknnya solut yang dikromatografi, jika dilakukan pada kisaran detektor yang linier.
1) Metode Tinggi Puncak
Metode yang paling sederhana untuk pengukuran kuantitatif adalah dengan tinggi puncak. Tinggi puncak diukur sebagai jarak dari garis dasar ke puncak maksimum. Penyimpangan garis dasar diimbangi dengan interpolasi garis dasar antara awal dan akhir. Metode tinggi puncak hanya
22
digunakan jika perubahan tinggi puncak linier dengan konsentrasi analit.
Kesalahan akan terjadi jika metode ini digunakan pada puncak yang mengalami penyimpangan (asimetris) atau jika kolom mengalami kelebihan muatan.
2) Metode Luas Puncak
Prosedur penentuan luas puncak serupa dengan tinggi puncak. Suatu teknik untu mengukur luas puncak adalah dengan mengukur luas sebagai hasil kali tinggi puncak dan lebar pada setengah tinggi (W1/2). Teknik ini hanya dapat digunakan untuk kromatografi yang simetris atau yang mempunyai bentuk serupa. Saat ini integrator elektronik telah banyak digunakan untuk mengukur luas puncak pada kromatografi cair kinerja tinggi dan pada kromatografi gas.Integrator digital mengukur luas puncak dan mengubahnya dalam bentuk angka.
Metode kuantifikasi untuk analasis kuantitatif dengan kromatografi ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode baku eksternal, metode baku internal, dan metode normalisasi internal
1) Metode baku eksternal
Metode yang paling umum untuk menetapkan konsentrasi senyawa yang tidak diketahui konsentrasinya dalam suatu sampel adalah dengan menggunakan plot kalibrasi menggunakan baku eksternal. Larutan baku (kadang-kadang disebut dengan kalibrator) disiapkan dengan konsentrasi tertentu yang sudah diketahui (misal 1,0; 2,0; 3,0; dan 4,0 mg/mL). Sejumlah tertentu volume larutan ini diinjeksikan dan
23
dianalisis, lalu respon detektor (luas puncak) diplotkan terhadap konsentrasi.
2) Metode baku internal
Baku internal merupakan senyawa yang berbeda dengan analit, meskipun demikian senyawa ini harus terpisah dengan baik selama proses pemisahan.Salah satu alasan utama digunakannya baku internal adalah jika suatu sampel memerlukan perlakuan sampel yang signifikan.
3) Normalisasi internal
Normalisasi internal merupakan nilai tertentu dalam kromatografi untuk tujuan kuantitatif yang mana beberapa sampel dapat ditentukan secara bersama-sama dan konsentrasi absolut dibutuhkan.Untuk analisis kuantitatif diasumsikan bahwa lebar atau tinggi puncak sebanding dengan konsentrasi atau konsentrasi zat yang menghasilkan puncak (Gandjar & Rohman, 2012).
24 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah deskriptif karena penelitian ini untuk memperoleh data kuantitatif berupa kadar ranitidin dalam sediaan tablet ranitidin HCl generik berlogo kemudian membandingkannya dengan persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia Edisi V.
3.2 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini merupakan rancangan cross-sectional dimana penelitian ini hanya dilakukan pada satu waktu dan tidak digunakan untuk mencari hubungan antara variabel yang diuji.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah obat ranitidin HCl generik berlogo bentuk tablet yang beredar di wilayah kota Cimahi. Pengambilan sampel dilakukan secara sampling jenuh dimana semua anggota populasi sebagai sampel sehingga didapat 5 sampel dari produsen yang berbeda dan akan dianalisis yang mengandung ranitidin HCl yang setara dengan ranitidine 150 mg.
25
3.4 Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu unit Laboratorium Politeknik Kesehatan Bandung pada bulan Mei-Juni 2015.
3.5 Bahan dan Alat Penelitian 3.5.1 Bahan Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ranitidin tablet generik berlogo dari 5 produsen, Ranitidin HCl baku sekunder (Promed), metanol p.a untuk pelarut (Fulltime),metanol p.a HPLC Gradien Grade untuk fase gerak (Fisher Chemical), asetonitril p.a, kertas perkamen, aquabidestilata (Ikapharmindo Putramas)
3.5.2 Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca analik, alat- alat gelas, mikropipet 20-200 µL , mikropipet 100-1000 µL, tip biru dan tip kuning, mortir dan stamfer, spatel, syringe, vortex, pipet tetes, vial, botol semprot, membran filter 0,45 µm, Spektrofotometer UV-Vis, KCKT Shimadzu ,LC 20 Prominance (Low Gradien ) kolom C 18, kolom 4,6 mm x 150 mm.
26
3.6 Definisi Operasional
Tabel 3.1
Tabel Definisi Operasional Karakteristik Definisi Cara Ukur Alat
Ukur Hasil Ukur Skala Ukur Validasi Proses
penilaian suatu metoda
analisis untuk membuktikan bahwa metode analisis
tersebut memenuhi syarat sesuai tujuan
penggunaan
-Akurasi -Presisi -Linearitas -LOD -LOQ
Kromato grafi cair kinerja tinggi
-Dikatakan akurat jika nilai ukur mendekati nilai sebenarnya -Presisi jika nilai simpangan baku relatif (RSD) ≤ 2%
-Kurva kalibrasi yang
menghubungkan antara respon (y) dengan
konsentrat (x) dengan nilai r mendekati 1 -Konsentrasi analit terendah yang dapat dideteksi
-Konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi
Skala ratio
Penetapan kadar
ranitidine HCl
Ranitidin merupakan antagonis reseptor H2
dimana penetapan kadarnya ditetapkan menurut Farmakope Indonesia.
-Waktu retensi -
Kromatogra m
Kromato grafi cair kinerja tinggi
-Menit -Luas area
Skala rasio
27
3.7 Cara Pengumpulan Data 1. Penentuan Metode Analisis
a) Pembuatan Larutan Induk Ranitidin
Ditimbang seksama 10,0 mg ranitidin hidroklorida baku sekunder kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 10,0 mL larutkan dengan metanol p.a dan ditepatkan sampai tanda batas dengan metanol p.a sehingga diperoleh larutan ranitidine HCl 1000 ppm. Dari larutan induk konsentrasi 1000 ppm diambil 2,50 mL dan diencerkan dengan metanol p.a dalam labu tentukur 25,0 mL sampai tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi 100 ppm sebagai larutan induk ranitidine HCl.
b) Penentuan Panjang Gelombang Maksimum untuk Analisis
Dibuat spektrum serapan ultraviolet larutan standar ranitidine HCl dengan konsentrasi 20 ppm dalam metanol pada panjang gelombang 200-400 nm menggunakan Spektrofotometer UV-Visibel, ditentukan panjang gelombang maksimumnya.
c) Penetapan Fase Gerak
Larutan standar ranitidin HCl pada konsentrasi 10 ppm diinjeksikan sebanyak 20 µL pada komposisi fase gerak asetonitril : aquabidestilata pada perbandingan 70:30, 75:25, 65:35, 60:40, 80:20, 40:60,30:70 dengan laju alir 0,75 mL/menit, waktu pembacaan 30 menit,dideteksi pada panjang gelombang 322 nm serta diinjeksikan larutan standar ranitidine HCl pada konsentrasi 5 ppm sebanyak 20 µL pada komposisi fase gerak
28
metanol : aqubidestilata pada perbandingan 75:25 dengan laju alir 0,5 mL/menit, waktu pembacaan 7,5 menit, panjang gelombang 322 nm.
d) Uji Kesesuaian Sistem
Larutan standar ranitidin HCl diinjeksikan pada konsentrasi 5 ppm sebanyak 20 µL ke alat KCKT dengan fase gerak terpilih kemudian dilihat jumlah lempeng teoritis, resolusi atau daya pisah (R), dan faktor ikutan puncak.
2. Validasi Metode Analisis
a) Kurva Kalibrasi Ranitidin dan Uji Linieritas
Larutan standar ranitidin HCl 100 ppm dipipet sebanyak 0,25 mL, 0,30 mL , 0,35 mL, 0,40 mL, 0,45 mL, kedalam labu tentukur 5,0 mL ditambahkan metanol p.a sampai tepat tanda batas.hingga didapat larutan dengan konsentrasi 5 ppm, 6 ppm, 7 ppm, 8 ppm, 9 ppm. Masing-masing larutan dengan berbagai konsentrasi disaring melalui filter ukuran 0,45 µm. kemudian diinjeksikan ke dalam sistem KCKT dengan volume penyuntikan ± 20 µL pada kondisi terpilih. Setelah itu dianalisis regresi perbandingan luas puncak terhadap konsentrasi ranitidin dari masing- masing konsentrasi dan dibuat kurva kalibrasi dengan persamaan garis regresi linier (y = a + bx ). Dihitung koefisien korelasi (r) dari kurva tersebut.
b) Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantifikasi (LOQ)
Larutan standar ranitidin HCl dengan konsentrasi 5 ppm disaring melalui filter ukuran 0,45 µm. kemudian diinjeksikan ke dalam sistem KCKT
29
dengan volume penyuntikan ± 20 µL pada kondisi terpilih. Setelah itu dihitung LOD dan LOQ dihitung melalui nilai noise alat yaitu 50 µV.
LOD = 3 x 50 µV
Luas Area x Konsentrasi yang diinjeksikan (mg/L) LOQ = 3 x 50 µV
Luas Area x Konsentrasi yang diinjeksikan (mg/L)
c) Uji Akurasi
Dibuat larutan sampel konsentrasi 5 ppm. Dibuat larutan standar konsentrasi 100 ppm.Untuk akurasi 80% dipipet larutan standar sebanyak 0,4 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 10,0 mL lalu ditambahkan larutan sampel sebanyak 2,0 mL kocok sampai homogen kemudian tambahkan pelarut sampai tanda batas lalu disaring melalui membran filter ukuran 0,45 µm. Untuk akurasi 100% dipipet larutan standar sebanyak 0,5 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 10,0 mL lalu ditambahkan larutan sampel sebanyak 2,0 mL kocok sampai homogen kemudian tambahkan pelarut sampai tanda batas lalu disaring melalui membran filter ukuran 0,45 µm. Untuk akurasi 120% dipipet larutan standar sebanyak 0,6 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 10,0 mL lalu ditambahkan larutan sampel sebanyak 2,0 mL kocok sampai homogen kemudian tambahkan pelarut sampai tanda batas lalu disaring melalui membran filter ukuran 0,45 µm. Masing-masing larutan akurasi diinjeksikan sebanyak tiga kali ke dalam sistem KCKT dengan volume penyuntikan 20 µL pada kondisi
30
terpilih hasil pengukuran dicatat luas area dan konsentrasinya dan dihitung
% recovery-nya.
d) Uji Presisi
Dibuat larutan standar ranitidin HCl 7 ppm lalu disaring melalui membran filter ukuran 0,45 µm kemudian diinjeksikan ke dalam sistem KCKT dengan volume penyuntikan 20 µL pada kondisi terpilih diulangi sebanyak 6 kali kemudian dihitung persentasi simpangan baku relatif atau
% RSD (Relative Standard Deviation) dengan nilai ≤ 2%.
3. Analisis Kuantitatif Sampel
Ditimbang seksama masing-masing sampel ranitidine HCl 10 tablet yang telah memenuhi keseragaman bobot kemudian digerus hingga halus dan homogen.
Sampel serbuk ditimbang setara dengan 50 mg ranitidin kemudian dimasukkan kedalam labu tentukur 10,0 mL dilarutkan dengan metanol p.a kocok hingga larut sempurna lalu ditepatkan dengan metanol p.a sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan uji 2000 ppm. Larutan uji dibuat dengan konsentrasi 500 ppm dengan memipet 2,5 mL larutan uji 2000 ppm dimasukkan ke dalam labu tentukur 10,0 mL kemudian ditambahkan metanol p.a sampai tanda batas.Larutan sampel dibuat dengan konsentrasi 5 ppm dengan memipet 0,1 mL larutan uji 500 ppm dimasukkan ke dalam labu tentukur 10,0 mL kemudian ditambahkan metanol p.a sampai tanda batas disaring dengan membran filtrasi ukuran 0,45µm kemudian masing-masing larutan sampel diinjeksikan ke alat KCKT sebanyak 20 µL pada kondisi terpilih. Kromatogram yang terbentuk diamati dan diukur respon puncak
31
utamanya. Respon puncak yang dihasilkan dibandingkan dengan respon puncak baku dan dihitung kadar ranitidine HCl dalam sampel.
3.7 Cara Pengolahan Data dan Analisis Data
Data hasil pengukuran kadar dari kelima sampel dibandingkan nilainya dengan persyaratan yang tertera pada Farmakope Indonesia Edisi V.
32 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Penentuan Metode Analisis
1) Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan menggunakan Spektrofotometri (Shimadzu), bertujuan untuk mengetahui panjang gelombang maksimal dari zat aktif yang akan dianalisis menggunakan KCKT. Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan menggunakan baku sekunder ranitidin HCl yang didapatkan dari PT. Promed. Baku sekunder dilarutkan dalam methanol dan dibuat konsentrasi 20 ppm selanjutnya dianalisis menggunakan Spektrofotometer UV dengan range panjang gelombang 200-400 nm.
Berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi V, ranitidin HCl dapat dideteksi pada panjang gelombang 322 nm.
Gambar 4.1 Spektrum Serapan Ranitidin HCl Ranitidin ƛ = 324,4 nm
33
Dari hasil pengukuran didapatkan panjang gelombang maksimum ranitidin HCl adalah 324,4 nm. Data tersebut mendekati dengan yang tercantum dalam Farmakope Indonesia Edisi V. Berdasarkan data tersebut maka diambillah panjang gelombang 322 nm untuk analisis menggunakan KCKT.
2) Penetapan Komposisi Fase Gerak
Penetapan komposisi fase gerak merupakan parameter yang harus dioptimasi. Fase gerak yang digunakan dalam sistem KCKT harus dapat menghasilkan puncak yang simetris dan terpisah. Berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi V fase gerak untuk ranitidin HCl adalah metanol dan ammonium asetat dengan perbandingan 70 : 30. Namun dalam praktiknya, penggunaan dapar pada sistem KCKT sedikit dihindari karena dapar terdiri dari asam dan garam dimana garam akan menggumpal sehingga dapat menyumbat kolom yang dapat merusak kolom. Penetapan kadar ranitidin HCl dilakukan pada kondisi optimum dengan KCKT menggunakan kolom C 18 .
Pertama-tama dilakukan optimasi fase gerak menggunakan kombinasi fase gerak asetonitril dan air dengan perbandingan 70:30 dengan laju alir 0,75 mL/menit panjang gelombang 322 nm dan volume penyuntikan 20 µL waktu pembacaan 30 menit dengan konsentrasi baku ranitidin HCl 10 ppm. Didapat puncak tailing dengan waktu retensi 3,392 menit. Kemudian dilakukan modifikasi fase gerak yaitu komposisi kedua asetonitril dan air (75 :25) didapat dua puncak dengan waktu retensi 3,380 menit dan 3,574 menit. Komposisi ketiga yaitu asetonitril dan air (65 : 35) didapat waktu retensi 3,444 menit dengan puncak yang tailing. Komposisi keempat yaitu asetonitril dan air (60 : 40) didapat duoble
34
puncak dengan waktu retensi 3,487 menit dan 3,803 menit. Komposisi kelima asetonitril dan air (80 : 20) didapat double puncak pada waktu retensi 3,485 menit dan 3,600 menit. Komposisi fase gerak keenam asetonitril dan air (40 : 60) didapat double puncak dengan tailing yang lebar dengan waktu retensi 3,577 menit dan 4,505 menit. Komposisi fase gerak ketujuh asetonitril dan air (30 : 70) didapat double puncak yang asimetris dengan tailing yang lebar dengan waktu retensi 4,209 menit dan 4,671 menit.
Karena penggunaan fase gerak asetonitril dan air tidak menghasilkan puncak yang bagus maka dilakukan optimasi fase gerak menggunakan fase gerak metanol dan air dengan perbandingan 75 : 25 dengan menyuntikkan konsentrasi standar 5 ppm, waktu pembacaan 7,5 menit laju alir 0,5 mL/menit pada panjang gelombang 322 nm. Pada optimasi ini didapat puncak ranitidin HCl yang simetris yang muncul pada menit ke 4,530 menit. Dari percobaan tersebut didapat kondisi optimum untuk analisis ranitidin HCl sudah didapatkan yaitu sebagai berikut : a. Fase gerak : Metanol dan air (75 : 25)
b. Laju alir : 0,500 mL/menit
c. Detektor : UV
d. Panjang gelombang : 322 nm e. Waktu pembacaan : 7,5 menit f. Volume penyuntikan : 20 µL
35
Tabel 4.1 Hasil penetapan komposisi fase gerak asetonitril dan air pada konsentrasi 10 ppm kecepatan alir 0,75 mL/menit , panjang gelombang 322 nm dan volume penyuntikan 20 µL dan hasil komposisi fase gerak metanol dan air pada konsentrasi 10 ppm kecepatan alir 0,5 mL/menit, panjang gelombang 322 nm dan volume penyuntikan 20 µL.
Fase Gerak (v/v) TR (menit)
Luas Area
(µAU) N
Asetonitril : Air = 70 : 30 3,392 1321536 261480 Asetonitril : Air = 75 : 25 3,380
3,574
553223 598571
437202 34997 Asetonitril : Air = 65 : 35 3,444 1142427 230424 Asetonitril : Air = 60 : 40 3,487
3,803
628688 569457
247423 87035 Asetonitril : Air = 80 : 20 3,485
3,600
447600 686853
30249 33703 Asetonitril : Air = 40 : 60 3,577
4,505
1039147 40234
494034 237759 Asetonitril : Air = 30 : 70 4,209
4,671
854464 273666
2513447 7542764 Metanol : Air = 75 : 25 4,530 490494 632956 Keterangan :
TR = Time Retension (waktu retensi) N = Plat teoritis
36
3) Uji Kesesuaian Sistem
Pada uji kesesuaian sistem terdapat parameter-parameter untuk menetapkan kesesuaian sistem sebelum analisis yaitu meliputi bilangan lempeng teoritis (N), resolusi atau daya pisah (R), dan faktor ikutan puncak. Pada umumnya, paling tidak ada 2 kriteria yang biasanya dipersyaratkan untuk menunjukkan kesesuaian sistem suatu metode (Rohman,2012).Uji kesesuaian sistem telah dilakukan dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Data mengenai uji kesesuaian sistem dapat dilihat pada tabel 5.2 dan data selengkapnya tercantum pada gambar 5.2
Gambar 4.2 Kromatogram Uji Kesesuaian Sistem
37
Tabel 4.2 Hasil uji kesesuaian sistem ranitidin HCl pada konsentrasi 5 ppm, dengan komposisi fase gerak metanol dan air (75 : 25) pada kecepatan alir 0,5 mL/menit, panjang gelombang 322 nm, dan volume penyuntikan 20 µL.
Parameter uji Persyaratan Hasil uji Jumlah lempeng
teoritis
Tidak ˂ 700 632,956
Resolusi Tidak ˂ 1,5 2,291
Faktor ikutan Tidak ˃ 2,0 1,131
4.1.2 Validasi Metode Analisis 1) Kurva Kalibrasi Ranitidin HCl
Setelah mendapat kondisi optimasi dan uji kesesuaian sistem untuk analisis ranitidin HCl yaitu dengan menggunakan fase gerak metanol dan air dengan perbandingan 75 : 25, penelitian dilanjutkan dengan pembuatan kurva kalibrasi ranitidin HCl. Kurva dibuat dari 5 variasi konsentrasi yaitu 5 ppm, 6 ppm, 7 ppm, 8 ppm, 9 ppm. Kelima variasi konsentrasi tersebut diinjeksikan pada sistem KCKT dan dihitung nilai regresi dan persamaan garisnya.
Dari hasil perhitungan didapat nilai regresi (nilai R) dari kurva kalibrasi adalah 0.993 dan persamaan garis y = 15134x - 289105. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kurva kalibrasi linear.
38
Tabel 4.3 Data Hasil Uji Liniearitas Konsentrasi
(ppm) Luas Area
5 490494
6 589621
7 763944
8 930999
9 1076537
Gambar 4.3 Kurva Kalibrasi Ranitidin HCl
2) Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantifikasi (LOQ)
Uji batas deteksi dan batas kuantfikasi ini dilakukan untuk mengetahui batas deteksi dan batas kuantifikasi terendah dari sampel yang masih dapat menghasilkan data dengan akurasi dan presisi yang baik. Batas deteksi yang
39
didapat dari hasil pengujian 0,00153 mg/L dan batas kuantifikasi yang didapat dari hasil pengujian yaitu 0,00509 mg/L. (Perhitungan pada lampiran 5)
3) Uji Akurasi
Uji akurasi dilakukan dengan metode adisi dengan 3 rentang spesifik yaitu 80%, 100%, dan 120% dari kadar sampel yang diukur dan dilakukan secara simultan. Hasil uji akurasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.4 Hasil Uji Akurasi Ranitidin HCl Rentang
spesifik (%)
Replikasi
Konsentrasi (ppm)
% Recovery Baku Sampel Baku +
Sampel
80
1 4 1,392 5,736 108,6
2 4 1,392 5,574 104,6
3 4 1,392 5,493 102,5
100
1 5 1,392 6,533 102,8
2 5 1,392 6,603 104,2
3 5 1,392 6,116 94,5
120
1 6 1,392 7,477 101,4
2 6 1,392 7,750 106
3 6 1,392 7,038 94,1
Rata-rata 102,1
40
Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan rata-rata % Recovery dari pengukuran ranitidin HCl secara berturut-turut adalah 102,1 %. Rata-rata % Recovery yang didapat menurut Harmita dengan analit dalam matrik sampel 0,01 masih dalam rentang akurasi yaitu 90-107% sehingga dapat disimpulkan bahwa metode analisis memiliki akurasi yang baik.(Contoh perhitungan pada lampiran 3)
4) Uji Presisi
Uji presisi dilakukan pada konsentrasi 7 ppm dengan melakukan penyuntikan berulang sebanyak 6 kali.Syarat hasil uji presisi adalah simpangan baku relatif atau % RSD (Relative Standard Deviation) dari masing-masing pengukuran dengan nilai ≤ 2% . Hasil uji presisi didapat % RSD adalah 0,8 %.
(Perhitungan pada lampiran 4) 4.1.3 Analisis Kuantitatif Sampel
Sampel yang dianalisis terdiri dari dari 5 buah sampel (masing-masing 10 tablet) yang didapat dari apotek di wilayah kota Cimahi. Kelima sampel tersebut kemudian diberi nama yaitu sampel A, B, C, D,E. Kelima sampel masing-masing dipreparasi dilakukan pengenceran kemudian disuntikkan ke KCKT sebanyak 2 kali dari tiap sampel lalu dihitung kadar sampel dari masing-masing hasil kromatogram sehingga didapat hasil sebagai berikut :(Data lengkap dapat dilihat pada lampiran 6)
41
Tabel 4.5 Data Kadar Ranitidin HCl dalam Sediaan Tablet Generik yang ditentukan berdasarkan Luas Puncak
No Nama Sampel Kadar (%)
Ranitidin HCl
Kadar (%) Ranitidin
1. Sampel A 109,42 98,12
2. Sampel B 100,68 90,21
3. Sampel C 100,79 90,31
4. Sampel D 100,14 89,70
5. Sampel E 99,53 89,18
4.2 Pembahasan
Pada penelitian ini telah dilakukan penetapan kadar ranitidin HCl dengan metode KCKT dimana sebelumnya dilakukan validasi metode antara lain linearitas, batas deteksi dan batas kuantifikasi, akurasi serta presisi. Penetapan kadar ranitidin HCl selain menggunakan metode KCKT dapat juga menggunakan metode spektrofotometri dan titrimetri. Suatu sediaan farmasi dapat dikatakan masih memberikan efek terapi dan bioavailabilitas yang baik di dalam tubuh manusia salah satu syaratnya adalah kadar zat aktif dalam sediaan farmasi tersebut masih memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia edisi V. Penetapan kadar ini merupakan salah satu uji yang dilakukan sebelum obat beredar di pasaran yang bertujuan untuk mengetahui apakah kadar zat aktif yang terkandung didalam sediaan sesuai dengan yang tertera pada etiket dan memenuhi syarat seperti yang tertera pada masing-masing monografi.