BAB I
PENDAHULUAN
I. 1. Identitas Pemrakarsa
Nama Perusahaan : PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia Pimpinan Perusahaan : Shimeno Yoshiro
Jabatan : Presiden Direktur
Jenis Kegiatan : Industri Mesin Penambangan Penggalian dan Konstruksi Izin Usaha Industri : 524/1/IU/PMA/2015 tanggal 25 Juni 2015
Izin Lingkungan : 503.9.a/Kep.155/BPMPPT/X/2014 tanggal 7 Oktober 2014 Status Penanaman Modal : Penanaman Modal Asing (PMA)
Asal Negara : Jepang
NPWP : 02.858.619.6-413.000
Alamat Perusahaan : Kawasan Industri MM2100
Jl. Irian X Blok RR 2, Desa Cikedokan
Kec. Cikarang Barat, Kab. Bekasi, Jawa Barat Telepon/ Fax : 021 – 2808 0145/ 021 – 2808 0142
Penanggung Jawab UKL – UPL
a. Nama : Shimeno Yoshiro b. Jabatan : Presiden Direktur
c. Alamat : Kawasan Industri MM2100
Jl. Irian X Blok RR 2, Desa Cikedokan
Kec. Cikarang Barat, Kab. Bekasi, Jawa Barat d. No. Telepon : 021 – 2808 0145
I.2. Tujuan dan Kegunaan Laporan Pemantauan Lingkungan
Penyusunan laporan implementasi upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan ini dimaksudkan untuk memenuhi kewajiban seperti tertuang dalam Rekomendasi dokumen UKL dan UPL No. 660.2.1/121/TL&ADL/BPLH tanggal 8 Mei 2014 dan Izin Lingkungan No. 503.9.a/Kep. 155/BPMPPT/X/2014 tanggal 7 Oktober 2014 atas kegiatan PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia. Adapun maksud dan tujuan penyusunan laporan pemantauan lingkungan adalah :
1. Melakukan analisis terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak akibat kegiatan industri mesin penambangan penggalian dan konstruksi.
2. Mengevaluasi upaya pengelolaan limbah/cemaran yang telah dilakukan PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
3. Mengetahui tindakan perbaikan pengelolaan yang perlu dilakukan terutama yang berkaitan dengan upaya efisiensi dan minimalisasi limbah/ cemaran dalam menjaga kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup di area PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
4. Mengevaluasi tindakan-tindakan yang telah dilakukan untuk mengetahui tingkat pencapaian target dan menentukan upaya penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai target yang telah ditetapkan.
5. Sebagai bahan evaluasi atau pengawasan bagi instansi yang berwenang dalam pemenuhan peraturan perundangan yang berlaku di bidang lingkungan hidup.
I. 3. Lokasi Usaha dan/atau Kegitan
Gambar 1.1. Peta Situasi PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia (sumber: Google Maps, citra satelit 2018)
Kegiatan industri PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia berlokasi di Jl. Irian X Blok RR2 Kawasan MM2100, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kegiatan industri mesin penambangan penggalian dan konstruksi ini menempati lahan seluas 49.180 m2, dengan batas wilayah :
• Utara : Jalan Irian X
• Selatan : Jalan Aru Blok RR-3
• Timur : Jalan Aru
• Barat : Jalan Irian Blok RR-1 PT. KYB Hydraulics
Manufacturing Indonesia
u
Tata guna lahan di lokasi PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.1. Tata Guna Bangunan PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia
No. I. Jenis Bangunan Luas (m2)
1 Pabrik 10.880
2 Canopy 1.960
3 Kantor 1.600
4 Teras 110
5 Ruang Elektronik 160
6 Ruang Compressor 96
7 Ruang Pompa Air 64
8 Ruang Pembersih Air 48
9 Ruang Boiler 112
10 Ruang Panel LPG 4
11 Gudang LPG 60
12 Ruang Limbah 60
13 Crom Removal Tank 150
14 WWTP 150
15 Pos Jaga 47,50
16 Parkir Mobil Beratap 474,30
17 Parkir Motor Beratap 202,50
18 Gardu Listrik 24
II. Sarana & Prasarana
19 Jalan dan Parkir Beton Tebal 20 cm 10.310,23
20 Pagar Tembok 449
21 Pagar Trails 449
22 Saluran Air Pasangan Beton Lebar 40 cm 324 23 Saluran Air Pasangan Beton Lebar 50 cm 426 24 Saluran Air Pasangan Beton Lebar 60 cm 615 25 Riool Saluran Air Pasangan Beton Lebar 50
cm
10 26 Riool Saluran Air Pasangan Beton Lebar 60
cm
317
Sumber : Surat Izin IMB No. 503/ 284/A/BPMPPT tanggal 23 September 2014
Area terbuka yang tersisa sebanyak 40,82 %, area ini difungsikan sebagai taman dan area terbuka hijau. Dengan maksud menjaga kualitas udara ambien dan mengurangi limpasan air hujan dikarenakan adanya bangunan pabrik.
I.4. Deskripsi Kegiatan
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai deskripsi kegiatan/usaha produksi yang dilakukan oleh PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, mulai dari jenis dan kapasitas produksi, waktu operasional, kebutuhan material, peralatan, proses produksi, jumlah tenaga kerja, kebutuhan air bersih, kebutuhan energi dan sistem manajemen penanggulangan kebakaran.
I.4.1. Jenis dan KapasitasProduksi
PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia merupakan perusahaan industri mesin penambangan penggalian dan konstruksi, yang ditetapkan di dalam Izin Usaha Industri No. 524/1/IU/PMA/2015. Jenis dan kapasitas produksi adalah sebagai berikut
Tabel 1.2. Jenis dan Kapasitas Produksi
No Jenis Produksi
Kapasitas Produksi/
Tahun Jenis Alat Angkut Izin Riil*
1. Mesin Penambangan Penggalian dan Konstruksi a.l. Hydraulic Cylinder
36.000 13.004 Truk, Forklift
*Produksi riil selama semester 1 tahun 2019
Sumber:PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019
I.4.2. Waktu Operasional
Waktu operasional PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia berlaku dua shift dan dibedakan menjadi dua kategori, yaitu kegiatan di kantor dan di bagian produksi.
Dengan penjelasan seperti di bawah ini.
a. Jumlah Waktu Kerja/ Shift : 2 Shift (2 shift produksi, 1 Non shift) b. Bagian Produksi
- 1 hari : 10 jam (8 jam + 2 jam lembur)
- 1 minggu : 5 hari
- Shift 1 : 06:00~14: 50 WIB
- Shift 2 : 21:10~06:00 WIB
c. Bagian Kantor/ Office
- 1 hari : 8 jam
- 1 minggu : 5 hari
- Shift Office : 07:00 – 16:00 WIB
I.4.3. Klasifikasi Kerja
PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia memiliki total tenaga kerja sebanyak 64 (enam puluh lima) orang dengan rincian dijelaskan pada tabel 1.3. di bawah ini.
Tabel 1.3. Klasifikasi Tenaga Kerja Klasifikasi
pekerjaan
Jenis Kelamin Daerah Tempat Tinggal Pendidikan
L P Jml
WNI WNA
SD SLTP SLTA D3/S1
Lokal Komuter Lokal Komuter harian
1.Manager ke atas 3 1 4 - 4 - 2 - - - 4
2. Staff 14 5 19 - 19 - - - - 7 12
3. Buruh/Karyawan 41 - 41 - 41 - - - - 41 -
Total 58 6 64 - 64 - 2 - - 46 18
Komuter: Pekerja yang dalam satu hari, pergi pagi dan kembali di sore hari (atau bergantung shift) ke tempat tinggalnya.
Lokal : Pekerja yang tinggal di Jarak hunian 2,5 Km Sumber:PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019
I.4.4. Bahan Baku dan Bahan Penolong
Pada tabel 1.4 dipaparkan jenis bahan baku dan bahan penolong yang dipakai oleh PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia untuk memproduksi mesin penambangan penggalian dan konstruksi.
Tabel 1.4. Bahan Baku dan Bahan Penolong
No.
Jenis Bahan Baku dan
Bahan Penolong
Kapasitas Penggunaan
(Ton per Tahun)
Bentuk Fisik
Sifat
Bahan Asal Bahan Sistem Penyimpanan
Neraca Bahan
% Produk
% Sisa Bahan Baku
1 Ball, steel 0,07 Padat Tidak Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0
2 Band 7,45 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0
3 Band
Subassy 14,39 Padat Tidak Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 4 Bearing,
Cushion 16,41 Padat Tidak Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 5 Bottom, Cyl 342,46 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0
6 Bushing 4,13 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 7 Bushing,
Pin 59,3 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0
8 Cap 0,42 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0
9 Color 7,41 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 10 Flange 292.23 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0
11 Head, Cyl 245,28 Padat Tidak Import/ Gudang 100 0
Berbahaya lokal Tertutup
No.
Jenis Bahan Baku dan
Bahan Penolong
Kapasitas Penggunaan
(Ton per Tahun)
Bentuk Fisik
Sifat
Bahan Asal Bahan Sistem Penyimpanan
Neraca Bahan
% Produk
% Sisa ...(lanjutan)
12 Holder,
Pipe 9,48 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0
13 Joint 5,03 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0
14 Nipple 0,01 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 15 Nipple,
Grease 0,1 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 16
Nipple, Grease
Assy 0,99 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 17 Nut (for
Piston) 0,19 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 18 O – Ring 0,15 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 19 Pipe Assy 273,3 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0
20 Piston 119,7 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 21 Plate,
Shipping 0,85 Padat Tidak Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0
22 Plug 0,06 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 23 Plug,
Shipping 0,01 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 24 Ring, Back
– Up 0,48 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 25 Ring,
Buffer 0,30 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 26 Ring, Seal
Assy 1,16 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 27 Ring, Slide 1,83 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 28 Ring,
Wipper 4,27 Padat Tidak
Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 29 Rod, Piston
Assy 1.974,8 Padat Tidak Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 99 1
30 Seal,
Cushion 0,16 Padat Tidak Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0
31 Shim 0,0 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0
32 Stopper 0,0 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 100 0 33 Tube, Cyl 1.183,89 Padat Tidak
Berbahaya Import/
lokal Gudang
Tertutup 92 8
34 U - Ring 4,54 Padat Tidak Berbahaya
Import/
lokal
Gudang
Tertutup 100 0 Bahan Penolong
1 Cat 11,36 Cair Berbahaya Impor/lokal Gudang
Tertutup 80 20
Sumber: PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019
I.4.5. Jenis Peralatan Produksi
PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia menggunakan mesin – mesin yang memiliki energi penggerak dari listrik dan petroleum gas. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1.5.
Tabel 1.5. Jenis Peralatan Produksi No. Jenis Alat Jumlah
Unit
Kondisi (%)
Negara Pembuat
Energi Penggerak
Jenis Dampak/
Cemaran
1 Welder 2 90 Japan Listrik Panas, Bau,
Bising
2 Lathe 1 90 Japan Listrik Debu
3 S & RB 1 90 Japan Listrik Debu
4 Cleaning
Machine 3 90 Japan Listrik Panas, Debu
5 Perform
Checking 1 90 Japan Listrik -
6 Painting 1 90 Malaysia Listrik Panas, Debu
7 Compressor 2 90 Japan Listrik Noise
8 Boiler 2 90 Japan Petroleum
Gas Heat
9 Other Machine:
- Water Purifire 1 90 Indonesia Listrik -
Sumber: PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019
I.4.6. ProsesProduksi
Pada bagan 1.1 digambarkan alur produksi PT. KYB Manufacturing Indonesia.
Bagan 1.1. Diagram Alir Proses Produksi (sumber: PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia)
Berikut ini merupakan uraian proses produksi sesuai dengan bagan1.1 :
1. Bahan baku berupa cylinder tube masuk pada proses edge machining untuk diproses pada mesin Lathe di kedua sisinya
2. Pemberian nomor seri pada material flange
3. Pengelasan hasil dari edge machining dengan flange
4. Hasil pengelasan kemudian didinginkan pada proses flange cooling 5. Proses Finish Machining pada permukaan dalam tabung tersebut 6. Pembersihan bottom
7. Pengepresan collar pada bottom
8. Hasil pengelasan kemudian dilakukan pengelasan bottom 9. Didinginkan pada proses bottom cooling
10. Pengepresan pinbush pada bottom
11. Pembersihan bagian dalam dari tabung pada proses final cleaning (produk A) 12. Pengepresan pinbush pada piston rod yang telah diproses pada dry buffing
(pengkilapan)
13. Pembersihan piston rod (produk B) 14. Pengepresan DU bush pada cylinder head
15. Hasil pengepresan dibersihkan kemudian dilakukan pemasangan seal (produk C) 16. Pemeriksaan apabila terdapat produk yang reject
17. Produk C kemudian digabungkan dengan produk B pada proses piston rod assembling (produk D)
18. Produk D digabungkan dengan produk A pada proses cylinder assembly 19. Pengukuran produk secara paralel
20. Pemeriksaan kinerja dari produk tersebut 21. Pre Treatment Sebelum Pengecatan 22. Pengecatan
23. Pengemasan dan penjualan
I.4.7. Kebutuhan Air Bersih
Tabel 1.6. Penggunaan Air Bersih
Jenis Sumber
*Penggunaan Rata - Rata m3/bulan
Diolah/Tidak
Diolah Keterangan
WTP Kawasan
MM2100 764 Diolah oleh
MM2100
Untuk kegiatan produksi, Kantor dan MCK Karyawan
*Perhitungan data Januari – Juni 2019
Penggunaan air bersih rata-rata selama semester 1 tahun 2019 sebesar 764 m3/bulan, dimana sumber air bersih tersebut disuplai dari Kawasan Industri MM2100. Dan air limbah yang dihasilkan dari proses produksi dan non produksi sebesar 90% dari volume air bersih.
Air limbah yang dihasilkan kemudian diolah di fasilitas WWTP Kawasan Industri MM2100.
Bagan 1.2. Neraca Air Rata-Rata per Bulan Semester 1 Tahun 2019 (sumber: PT. KYB Manufacturing Indonesia)
WTP MM2100 764 m3/ bulan
Proses Produksi (Cleaning) 343 m3/bulan
Kebersihan Karyawan (MCK) 114 m3/bulan
Mushola &
Kebersihan Pabrik 192 m3/bulan
Siram Tanaman 76,5 m3/bulan
WWTP MM2100 687, 5 m3/bulan
Meresap ke dalam tanah dan terevaporasi
LO SS
I. 4.8. Kebutuhan Energi, Bahan Bakar, dan Pelumas
Pada tabel 1.7 dan tabel 1.8 secara berturut – turut dijelaskan mengenai penggunaan energi & bahan bakar dan pelumas oleh PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
Tabel 1.7. Penggunaan Energi & Bahan Bakar Penggunaan Energi
Jenis Energi Kapasitas Terpasang Pemakaian Rata- Rata per Bulan*
Sumber
Listrik 1.200 kVA 79.860 KWH PT Cikarang Listrindo
Penggunaan Bahan Bakar
Jenis Kebutuhan/ Bulan Penggunaan/bulan Penanganan Sisa
Gas Acorn 46 tabung Habis terpakai
Gas O2 32 tabung Habis terpakai
Gas CO2 11 tabung Habis terpakai
LPG 4,570 kg Habis terpakai
*rata- rata pemakaian selama 6 bulan terakhir
Sumber: PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019 Tabel 1.8. Penggunaan Pelumas
No. Jenis Pelumas Kebutuhan Penanganan Sisa Sumber 1 Oli Pelumas 1,234 liter/bulan Dikerjasamakan dengan
pihak ke – 3 Sumber: PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019
I.4. 9. Sarana Proteksi Kebakaran
PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia memiliki sistem manajemen
kebakaran sesuai standar yang berlaku, rincian sarana proteksi kebakaran dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.9 Sarana Proteksi Kebakaran
No. Nama Alat Bentuk/Jenis Jumlah Satuan
1 Fire Detector Smoke/Flame 15 Pcs
2 Hydrant Box 17 pcs
3 APAR Powder ABC Tabung 113 Pcs
4 APAR CO2 Tabung 2 Pcs
5 Alarm Ssytem Alarm 14 pcs
6 Alarm Gas Alarm 1 pcs
7 Rate of Rise Heat Detector
Detektor 36 pcs
8 Photoelectric Smoke Detector
Detektor 15 pcs
9 Fixed Temperature Heat Detector
Detektor 2 pcs
Sumber: PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019
I.4.10.Jenis Alat Angkut dan Kendaraan
Di bawah ini merupakan jenis alat angkut dan kendaraan yang dipergunakan oleh PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
Tabel 1.10 Jenis Alat Angkut dan Kendaraan
No. Penggunaan Jenis Kendaraan Volume 1 Bahan Baku/
penolong
Truck 45 unit/ bulan
2 Hasil Produksi Truck 34 unit/ bulan
3 Limbah Truck 20 kali/ bulan
4 Karyawan/ Buruh:
a. Mobil Pribadi Sedan, Van 7 unit/ hari
b. Lain - lain Motor 69 unit/ hari
Sumber: PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia, 2019
BAB II
PELAKSANAAN DAN EVALUASI
II.1. Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan
Uraian di bawah merupakan komitmen PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia dalam melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan guna memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif yang timbul akibat kegiatan operasional industri mesin penambangan penggalian dan konstruksi, sesuai kewajiban yang tertuang dalam dokumen UKL-UPL dan Izin Lingkungan.
II.1.1. Komponen Fisika – Kimia
Pelaksanaan pengelolaan komponen fisika – kimia lingkungan meliputi kualitas udara (emisi dan ambien), kebisingan, air limbah, pengelolaan limbah B3, manajemen limpas air hujan, dan estetika lingkungan.
II.1.1.1.Kualitas Udara a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang ditimbulkan adalah penurunan kualitas udara di sekitar lingkungan produksi maupun di lingkungan pabrik
b. Sumber Dampak
Kegiatan yang menjadi sumber dampak penurunan kualitas udara adalah pengoperasian mesin-mesin produksi dan mesin – mesin pendukung lainnya, seperti boiler, dan kendaraan.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah :
• Implementing Rules and Regulation MM2100 (IRR-2018, Rev 003)
• Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian pencemaran Udara
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.5 tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
• Melakukan penyiraman pada area terbuka untuk meminimalisasi debu.
• Pemasangan exhaust fan dan penyediaan ventilasi yang cukup memadai yang berfungsi untuk memperlancar sirkulasi udara di ruang produksi.
• Melakukan penghijauan dengan menanam pohon peneduh maupun tanaman hias di area terbuka yang tersedia serta memelihara tanaman penghijauan yang telah ada.
Selain berfungsi secara ekologis sebagai green barrier, tanaman penghijauan juga berfungsi secara estetis di lingkungan pabrik.
• Menjaga kebersihan area industri untuk meminimalisasi timbulnya debu yang berlebih serta perawatan alat/ mesin secara rutin.
• Penyediaan alat pelindung diri (APD) bagi operator alat/mesin produksi maupun penunjang seperti masker untuk melindungi diri dari gangguan gas yang bersifat toxic.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan untuk kualitas udara lingkungan kerja dilakukan di area store material dan area assembly. Sedangkan untuk kualitas udara ambien dilakukan di area depan (up wind) dan belakang pabrik (down wind).
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah DLH Kabupaten Bekasi dan pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.1.2.Kualitas Emisi Udara a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang ditimbulkan adalah perubahan komposisi gas di lapisan troposfer yang dapat menurunkan kualitas udara sekitar lingkungan kerja dan lingkungan pabrik.
b. Sumber Dampak
Kegiatan yang menjadi sumber dampak penurunan kualitas udara adalah emisi dari sumber tidak bergerak (boiler dan mesin painting) dan sumber bergerak (forklift).
c. Tolok Ukur
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah:
• Implementing Rules and Regulation MM2100 (IRR-2018, Rev 003)
• Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 07 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu Emisi Udara Sumber Tidak Bergerak Bagi Ketel Uap.
• Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 04 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
• Melakukan maintenance secara berkala pada mesin boiler dan mesin painting.
• Melakukan penghijauan dengan menanam pohon peneduh maupun tanaman hias di area terbuka yang tersedia serta memelihara tanaman penghijauan yang telah ada.
Selain berfungsi secara ekologis sebagai green barrier, tanaman penghijauan juga berfungsi secara estetis di lingkungan pabrik.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan Kualitas Emisi Udara dilakukan di lokasi pengoperasian mesin boiler dan mesin painting, serta kendaraan bermotor (forklift)
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah bagian HR&GA dan bagian maintenance PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah DLH Kabupaten Bekasi dan pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.1.3.Kebisingan dan Iklim Kerja a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang ditimbulkan penurunan tingkat kesehatan dan kenyamanan di sekitar lingkungan produksi maupun di lingkungan pabrik.
b. Sumber Dampak
Kegiatan yang menjadi sumber dampak peningkatan intensitas kebisingan dan Iklim Kerja adalah operasional peralatan produksi, transportasi kendaraan yang keluar/masuk ke area pabrik.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur kebisingan dalam ruangan dan ISBB yang digunakan adalah :
• Implementing Rules and Regulation MM2100 (IRR-2018, Rev 003)
• Peraturan Menteri Tenaga kerja transmigrasi No. 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan kerja. Tolok ukur kebisingan luar ruangan adalah Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
• Isolasi sumber bising, yaitu dengan menempatkan sumber bising di ruang tertutup.
• Identifikasi sumber bising dan kewajiban pemakaian alat pelindung diri (earplug atau earmuff) pada lokasi dengan intensitas kebisingan yang relatif tinggi.
• Pemeliharaan peralatan produksi secara rutin dan teratur.
• Melakukan penghijauan disekitar pabrik dan pengelolaan sirkulasi udara di ruang kerja.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
• Lokasi Pengelolaan Kebisingan Outdoor dilakukan di area depan (up wind) dan belakang (down wind) pabrik.
• Lokasi Pengelolaan Kebisingan Indoor dilakukan di area assembly dan area store material.
• Lokasi Pengelolaan Iklim Kerja (ISBB) dilakukan di area assembly dan area store material.
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah bagian HR&GA dan bagian maintenance PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah UPTD Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah II Provinsi Jawa Barat, DLH Kabupaten Bekasi dan Pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.1.4.Air Limbah a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang ditimbulkan peningkatan beban WWTP MM2100 dan penurunan kualitas badan air penerima.
b. Sumber Dampak
Sumber dampak berasal dari proses cleaning painting di bagian produksi serta aktivitas MCK karyawan, serta housekeeping area pabrik.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur kualitas air Limbah adalah regulasi dari kawasan MM2100, dimana air limbah domestik dan air limbah industri disalurkan ke WWTP MM2100 untuk diolah sebelum disalurkan ke badan air penerima.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
Upaya pengelolaan yang dilakukan adalah menyalurkan air limbah yang dihasilkan dari aktivitas pabrik ke WWTP MM2100.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan di saluran service manhole menuju WWTP MM2100.
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah DLH Kabupaten Bekasi dan pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.1.5.Limbah B3 a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang ditimbulkan Penurunan kualitas air tanah, air permukaan dan kualitas tanah.
b. Sumber Dampak
Sumber dampak berasal dari penggunaan bahan B3, gudang bahan B3 dan TPS Limbah B3.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur pengelolaan limbah B3 adalah Tolok ukur Limbah B3 adalah Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Limbah B3.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
• Melakukan Identifikasi Jenis dan Karakteristik Limbah B3
• Membangun TPS Limbah B3 Sesuai Dengan Karakteristik Limbah B3 yang dihasilkan dan sesuai peraturan pemerintah yang berlaku.
• Pengelolaan Limbah B3 yang dihasilkan, bekerja sama dengan pihak ke-3 yang mempunyai izin pengangkutan, pengumpul, dan pemanfaat limbah B3, yang sesuai dengan peraturan yang berlaku, serta setiap serah terima limbah B3 dilengkapi dengan bukti lembar manifest.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan di TPS Limbah B3 PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah DLH Kabupaten Bekasi dan pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.1.6.Limpasan Air Hujan a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang ditimbulkan adalah peningkatan debit limpasan air hujan di lokasi pabrik dan genangan air saat turun hujan.
b. Sumber Dampak
Sumber dampak peningkatan limpasan air hujan adalah penutupan lahan oleh bahan kedap air seperti bangunan gedung/beton, jalan aspal atau bahan kedap air lainnya.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah :
• Implementing Rules and Regulation MM2100 (IRR-2018, Rev 003) halaman 65.
BCR<60% mengharuskan membuat sumur resapan dan bipori. pada area terbuka berupa lahan penghijauan, tersedianya media untuk mengurangi limpasan air hujan seperti sumur resapan dan/atau lubang resapan biopori, tidak adanya genangan air dan luapan air pada saluran drainase
• Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2019 tentang Pemanfaatan Air Hujan.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
• Memelihara saluran drainase mikro yang ada di area pabrik agar tidak ada sampah yang dapat menghambat aliran air, sehingga pada musim hujan tidak sampai terjadi genangan dan luapan air dari saluran drainase.
• Melakukan penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya kuat di area-area terbuka sehingga sistem perakaran tanaman dapat menahan laju aliran air hujan dan presentase air yang meresap ke dalam tanah semakin besar.
• Membuat lubang biopori atau sumur resapan untuk mengurangi limpasan air hujan dari area pabrik.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan di seluruh area terbuka, saluran drainase mikro serta di lokasi sumur resapan/biopori.
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah DLH Kabupaten Bekasi dan pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.1.7.Estetika Lingkungan a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang ditimbulkan adalah mengurangi estetika lingkungan.
b. Sumber Dampak
Sumber dampak berasal dari limbah domestik seperti sisa makanan, housekeeping, dan kertas/packaging.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Perda Kabupaten Bekasi No. 9 Tahun 2007.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
• Membangun TPS limbah domestik permanen dan kedap air dengan kapasitas sesuai kebutuhan pabrik.
• Menyediakan bak – bak sampah di ruang kantor dan ruang produksi untuk menampung limbah padat non B3 dan setiap hari sampah yang terkumpul di bak diambil untuk dikumpulkan di TPS Pabrik.
• Bekerjasama dengan rekanan yang memiliki izin pengelolaan limbah non B3 dari DLH Kabupaten Bekasi sesuai dengan Perda Kabupaten Bekasi No. 9 Tahun 2007.
• Meminta pihak rekanan untuk menyerahkan bukti pembuangan limbah padat non B3 ekonomis ke TPA Kabupaten Bekasi.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan di ruang produksi, ruang kantor dan TPS Pabrik.
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah DLH Kabupaten Bekasi dan pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.2. Komponen Sosekbud
II.1.2.1.Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) a. Jenis Dampak
Jenis dampak yang timbul adalah risiko sakit dan kecelakaan kerja akibat bekerja di PT.
KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
b. Sumber Dampak
Sumber dampak berasal dari aktivitas produksi dan non produksi PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah ada tidaknya kecelakaan kerja dan sakit akibat kerja pdi PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
• Pemeriksaan kesehatan/medical check up terhadap seluruh karyawan setiap tahun.
• Dokumentasi dan evaluasi jam kerja selamat atau kecelakaan kerja di lingkungan kerja PT KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
• Evaluasi standar operasi K3 pada setiap aktivitas produksi di area PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan di seluruh area pabrik.
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Penanggung jawab P2K3 adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah UPTD Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah II Provinsi Jawa Barat dan Pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.1.2.2.Kesempatan Kerja a. Jenis Dampak
Dampak yang ditimbulkan adalah terbukanya kesempatan kerja di PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia bagi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan.
b. Sumber Dampak
Pembangunan industri mesin penambangan penggalian dan konstruksi oleh PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
c. Tolok Ukur
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah jumlah penduduk sekitar yang menjadi karyawan PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
d. Upaya Pengelolaan Lingkungan
Upaya pengelolaan yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada penduduk yang berdomisili di Desa Cikedokan dan Kecamatan Cikarang Barat khususnya dan penduduk Kabupaten Bekasi pada umumnya untuk mengisi lowongan pekerjaan yang dibutuhkan PT KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
e. Lokasi Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan di kantor PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
f. Waktu Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan dilakukan selama operasional pabrik berlangsung, khususnya pada saat penerimaan karyawan tambahan atau untuk mengisi posisi yang kosong.
g. Pelaksana Pengelolaan Lingkungan
Pelaksana pengelola lingkungan adalah HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah UPTD Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah II Provinsi Jawa Barat dan Pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.2. Pelaksanaan Upaya Pemantauan Lingkungan II.2.1. Komponen Fisika - Kimia
II.2.1.1.Kualitas Udara
a. Jenis Dampak Yang Dipantau
Dampak yang dipantau kualitas udara di sekitar lingkungan produksi maupun di lingkungan pabrik, baik udara ambien maupun udara lingkungan kerja.
b. Lokasi Pemantauan
Pemantauan kualitas udara lingkungan kerja dilakukan di ruang produksi, yaitu area store material dan area assembling. Sedangkan pemantauan kualitas udara ambien dilakukan di halaman depan (up wind) dan belakang (down wind) pabrik.
Lokasi Pemantauan Udara Ambien Tanggal 16 April 2019
• Up Wind : S 060 19’ 43.90” E 1070 05’ 44.90”
• Down Wind : S 060 19’ 48.00” E 1070 05’ 46.00”
Tanggal 17 Juni dan 18 Juni
• Up Wind (17/6/19~18/6/19) : S 060 19’ 43.90” E 1070 05’ 44.90”
• Down Wind (18/6/19~19/6/19) : S 060 19’ 48.00” E 1070 05’ 46.00”
c. Periode Pemantauan
Pemantauan kualitas udara dilakukan satu kali dalam waktu 6 bulan.
d. Metode Pemantauan
Pemantauan kualitas udara dilakukan dengan pengambilan sampel udara untuk dianalisis di laboratorium terakreditasi KAN dan teregistrasi sebagai laboratorium lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
e. Tolok Ukur Pemantauan
Tolok ukur dampak yang digunakan adalah :
• Implementing Rules and Regulation MM2100 (IRR-2018, Rev 003)
• Peraturan Pemerintah RI No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja.
f. Hasil Pemantauan Lingkungan
Hasil Pemantauan kualitas udara ambien pada Semester I-2019 yang dilaksanakan pada tanggal 16 April 2019 dan 17~18, 18~19 Juni 2019 menunjukan bahwa kualitas udara ambien masih memenuhi baku mutu lingkungan. Pemantauan udara ambien up wind dilakukan pada kondisi suhu 38.60C pada tanggal 16 April 2019 dan 32.10C pada tanggal 17 Juni 2019, kelembaban 45.0 % pada tanggal 16 April 2019 dan 51,2 % pada tanggal 17 Juni 2019, kecepatan angin 1.2 m/s dan arah angin ke Timur. Pemantauan udara
ambien down wind dilakukan pada tanggal 16 April 2019 kondisi suhu 380C dan pada tanggal 18 Juni 2019 kondisi suhu 32.10C , tanggal 16 April 2019 kelembaban 38.4% dan tanggal 18 Juni 2019 Kelembaban 51,2 %, kecepatan angin pada tanggal 16 April 2019 1.0 m/s dan arah angin ke Barat sedangkan tanggal 18 Juni 2019 kecepatan angin 0.8 m/s dan arah angina ke selatan. Hasil pemantauan dapat dilihat pada tabel 2.1 dan 2.2.
Tabel 2.1. Hasil Pengukuran Udara Ambien UP WIND dan DOWN WIND tanggal 16 April 2019
No Parameter Unit Waktu
Pengukuran
Baku Mutu Lingkungan*
UP WIND
DOWN WIND
1 Carbon Monoxide (CO) µg/Nm3
1 hour 24 hours
1 Year
30,000 10,000
-
551.54 - -
613.54 - -
2 Sulfur Dioxide (SO2) µg/Nm3
1 hour 24 hours
1 Year
900 365 60
11.84 - -
18.74 - -
3 Nitrogen Dioxide (NO2) µg/Nm3
1 hour 24 hours
1 Year
400 150 100
8.14 - -
5.74 - - 4 Oxidants (O3) µg/Nm3 1 hour
1 Year
235 50
3.55 -
2.14 -
5 Hydrocarbon (HC) µg/Nm3 3 hours 160 0.044 0.540
*IRR MM2100 tahun 2018 Rev.3
Tabel 2.2. Hasil Pengukuran Udara Ambien UP WIND dan DOWN WIND tanggal 17~19 Juni 2019
No Parameter Unit Waktu
Pengukuran
Baku Mutu Lingkungan*
UP WIND
DOWN WIND
1 Amonia (NH3) ppm
1 hour 24 hours
1 Year
2.00 - -
0.061 - -
0.055 - - 2 Hydrogen Sulfide (H2S) ppm
1 hour 24 hours
1 Year
0.02 - -
<0.001 - -
<0.001 - - 3 Particulate Matter
(PM10) µg/Nm3 24 hours
1 Year
150 -
11.84 -
14.85 -
4 Particulate Matter
(PM10) µg/Nm3 24 hours
1 Year
66 -
3.54 -
2.15 -
6 Lead (Pb) µg/Nm3 24 hour
1 Year
2 -
<0.01 -
<0.01 -
7 TSP µg/Nm3 24 hour
1 Year
230 -
53.34 -
53.34 - *IRR MM2100 tahun 2018 Rev 003
Hasil pemantauan kualitas udara lingkungan kerja di area assembly dan Store Material masih memenuhi baku mutu lingkungan sesuai dengan Permenaker No.5 tahun 2018 dan IRR MM2100 tahun 2018 Rev 003.
Pemantauan dilakukan pada tanggal 16 Juni 2019, dengan kondisi suhu 33.9 0C dan kelembaban 62.6% pada area assembly. Kondisi suhu 34.7 0C dan kelembaban 58.5% pada area Store Material. Dan pemantauan yang dilakukan tanggal 17 Juni 2019, dengan kondisi suhu 34.6 0C dan kelembaban 51.9% pada area assembly. Kondisi suhu 35.0 0C dan kelembaban 49.6% pada area Store Material.
Hasil pemantauan dapat dilihat pada tabel 2.3 dan 2.4 di bawah ini.
Tabel 2.3. Hasil Pengukuran Kualitas Udara Lingkungan Kerja
No Parameter Unit Baku Mutu Area Assembly Area Store Material
1 Carbon Monoxide (CO) mg/m3 25 0.055 0.034
2 Nitrogen Oxide (NO2) BDS 0.20 0.017 0.088
3 Sulfur Dioxide (SO2) mg/m3
(PSD/KTD) 0.25 0.066 0.16
4 TSP mg/m3 10 0.085 0.049
*Keputusan Menteri Tenaga Kerja No 05/2018
Tabel 2.4. Hasil Pengukuran Kualitas Udara Lingkungan Kerja
No Parameter Unit Baku Mutu Area Assembly Area Store Material
1 Ammonia (NH3) mg/m3 25 0.099 1.08
2 Hydrocloric Acid (HCL) BDS 2 0.014 0.066
3 Hydrogen Sulfide (H2S) mg/m3
(PSD/KTD) 1 <0.01 0.074
4 Carbon Dioxide (CO2) mg/m3 5000 5.14 0.034
*IRR MM2100 tahun 2018 Rev 003 *Keputusan Menteri Tenaga Kerja No 05/2018
g. Pelaksana Pemantauan Lingkungan
Penanggung jawab pemantauan terhadap kualitas udara adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pengelolaan lingkungan adalah UPTD Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah II Provinsi Jawa Barat, Pengelola kawasan industri MM2100.
II.2.1.2. Kualitas Emisi Udara a. Jenis Dampak Yang Dipantau
Dampak yang dipantau adalah penurunan kualitas udara akibat peningkatan kadar gas dan debu di udara ruang produksi dan lingkungan pabrik yang bersumber dari pengoperasian mesin-mesin produksi dan pengoperasian boiler.
b Lokasi Pemantauan
Pemantauan kualitas emisi udara dilakukan pada cerobong boiler (BS2-01 & BS2-02) dan cerobong painting. Serta pemantauan emisi kendaraan bermotor (2 unit Forklift).
c. Periode Pemantauan
Pemantauan kualitas emisi udara dilakukan 1 x /6 bulan d. Metode Pemantauan
Pemantauan kualitas emisi udara dilakukan dengan pengambilan sampel udara untuk dianalisis di laboratorium terakreditasi KAN dan teregistrasi sebagai laboratorium lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
e. Tolok Ukur Pemantauan
Tolok ukur yang digunakan adalah
• Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 07 Tahun 2007 Tentang Baku Mutu Emisi Udara Sumber Tidak Bergerak Bagi Ketel Uap dan PerMenLH No.
13/MENLH/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak.
• Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 04 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru.
f. Hasil Pemantauan Lingkungan
Hasil pemantauan emisi cerobong boiler dan cerobong painting pada Semester I-2019 yang dilaksanakan pada tanggal 16 April 2019 menunjukan bahwa kualitas udara emisi masih memenuhi baku mutu lingkungan. Hasil pemantauan emisi cerobong painting dapat dilihat pada tabel 2.3, hasil pemantauan emisi cerobong boiler dapat dilihat pada tabel 2.4, dan pada tabel 2.5 terdapat hasil uji emisi forklift.
Tabel 2.3. Pemantauan Emisi Udara Pada Cerobong Painting
No. Parameter Unit Baku Mutu*)
Hasil Pengukuran
1 Ammonia (NH3) mg/m3 0.5
<0.01
2 Hydrogen Chloride (HCl) mg/m3 5 <0.01
3 Chlorine (Cl2) mg/m3 10 < 0.01
4 Nitrogen Oxide (NO2) mg/m3 1,000 <0.02
5 Particle mg/m3 350 16.54
6 Total Reduced Sulfur (H2S) mg/m3 35 <0.03
7 Sulfur Dioxide (SO2) mg/m3 800 22.84
8 Hydrogen Fluoride (HF) mg/m3 10 <0.01
9 Mercury (Hg) mg/m3 5 <0.003
10 Arsenic (As) mg/m3 8 <0.005
11 Antimony (Sb) mg/m3 8 <0.005
12 Cadmium (Cd) mg/m3 8 <0.002
13 Zink (Zn) mg/m3 50 <0.01
14 Lead (Pb) mg/m3 12 <0.01
15 Opacity % 35 5
* ) Emission Air Quality Standard, The Minister of Environment Decree No. 13/MENLH/3/1995 Gas volume is measured in Standard Temperature and Pressure condition ( T = 25 0C and P = 1 atm)
Tabel 2.4 Pemantauan Emisi Udara Pada Cerobong Boiler 1
No. Parameter Unit Baku Mutu*) Boiler (BS2-01) Boiler (BS2-02)
1 Sulfur Dioxide (SO2) mg/m3 150 15.84 5.35
2 Nitrogen Oxide (NO2) mg/m3 650 8.57 17.54
* ) Emission Air Quality Standard, The Minister of Environment Regulation No.07/2007 Attachment VI Gas volume is measured in Standard Temperature and Pressure condition ( T = 25 0C and P = 1 atm)
Tabel 2.5 Pemantauan Emisi Udara Pada Forklift Berbahan Bakar Gas
No. Parameter Unit Baku Mutu*) Forklift (01) Forklift (02)
1 Carbon Monoxide (CO) mg/m3 2.2 0.350 0.88
2 Hydro Carbon (HC) + NOx mg/m3 0.5 0.065 0.074
*) Methods of air sampling and analysis comply to Ministry of Environmental RI Decree 04/2009
g. Pelaksana Pemantauan Lingkungan
Pelaksana pemantauaan lingkungan adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pemantauan lingkungan adalah Pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.2.1.3. Kebisingan dan Iklim Kerja
a. Jenis Dampak Yang Dipantau
Dampak yang dipantau adalah peningkatan intensitas kebisingan dan ISBB akibat pengoperasian mesin-mesin produksi, pengoperasian boiler, transportasi kendaraan di area pabrik.
b. Lokasi Pemantauan
• Lokasi Pengelolaan Kebisingan Outdoor dilakukan di area depan (up wind) dan belakang (down wind) pabrik.
• Lokasi Pengelolaan Kebisingan Indoor dilakukan di area store material dan area assembling.
• Lokasi Pengelolaan Iklim Kerja (ISBB) dilakukan di area store material dan area assembling.
c. Periode Pemantauan
Pemantauan intensitas kebisingan dan ISBB dilakukan 1 x /6 bulan e. Metode Pemantauan
Pemantauan intensitas kebisingan dan ISBB dilakukan dengan metode pengukuran di tempat (in site) menggunakan Sound Level Meter dan alat ukur ISBB oleh Laboratorium yang terakreditasi KAN.
E. Tolok Ukur Pemantauan
Tolok ukur kebisingan yang digunakan adalah
• Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 5 tahun 2018 tentang keselamatan dan kesehatan kerja Lingkunga Kerja.
• SK KemenLH No: KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
F. Hasil Pemantauan Lingkungan
Hasil Pemantauan pada Semester I –2019 yang dilaksanakan pada tanggal 16 April 2019 menunjukan bahwa intensitas kebisingan baik lokasi indoor maupun outdoor masih memenuhi baku mutu. Hal ini sesuai dengan tabel berikut
Tabel 2.6. Hasil Pemantauan Kebisingan Outdoor dan Indoor
*) Outdoor : Max Value KEP. 48/MENLH/XI/1996, for Industrial Estate = 70 dB(A)
**) Indoor : MaX Value Kep. No.5/2018 = 85 dB(A) (Exposure time 8 hours )
No. Sampling Area Time Test Result Unit
A OUTDOOR
1 UP WIND 12:30 56.3
dB(A)
2 DOWN WIND 11:30 59.8
B INDOOR
1 AREA ASSEMBLY (ASSY) 10:04 80.5
dB(A)
2 AREA STORE MATERIAL 11:00 70.8
Tabel 2.7. Hasil Pemantauan ISBB
No. Sampling Area Time Temperature (°C) ISBB
Wet Dry Globe WBGT Index
1 AREA ASSEMBLY (ASSY) 10:30 28.3 33.3 33.3 29.8
2 AREA STORE MATERIAL 13:15 28.4 33.4 33.4 29.8
g. Pelaksana Pemantauan Lingkungan
Pelaksana pemantauaan lingkungan adalah bagian HR&GA PT. KYB Hydraulics Manufacturing Indonesia.
h. Instansi Pengawas
Instansi pengawas pemantauan lingkungan adalah UPTD Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah II Provinsi Jawa Barat, Pengelola Kawasan Industri MM2100.
II.2.1.4. Air Limbah
a. Jenis Dampak Yang Dipantau
Jenis dampak yang dipantau ialah peningkatan dan penurunan kualitas air limbah produksi dan air limbah domestik.
b. Lokasi Pemantauan
Pemantauan kualitas air limbah produksi di outlet Industrial Waste Water pada koordinat S 060 19’ 47,70” E 1070 05’ 45,80” pada tanggal 16 April 2019, dan pada tanggal 17 Juni 2019. dan lokasi pemantauan air limbah Mainhole ( Air limbah produksi dan domestik ) pada tanggal 16 April 2019, dan 17 Juni 2019 dengan koordinatS 060 19’ 48,50” E 1070 05’ 48,75”.
c. Periode Pemantauan
Pemantauan Kualitas udara dilakukan 1 x /6 bulan selama kegiatan operasi berlangsung.
d. Metode Pemantauan
Pemantauan dilakukan dengan cara mengambil sampel air limbah dan dianalisis di laboratorium yang terakreditasi KAN dan teregistrasi sebagai laboratorium lingkungan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.