KEBISINGAN PADA RUMAH SAKIT DAN KENYAMANAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM METHODIST KOTA MEDAN
TAHUN 2010
SKRIPSI Oleh :
NIM. 081000241 LISNAWATY SIHOMBING
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011
HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul :
KEBISINGAN PADA RUMAH SAKIT DAN KENYAMANAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM METHODIST KOTA MEDAN
TAHUN 2010
Yang Dipersiapkan dan Dipertahankan Oleh :
NIM. 081000241 LISNAWATY SIHOMBING
Telah Diuji Dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi Pada Tanggal 11 Februari 2011 dan
Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji
Ketua Penguji Penguji I
Ir. Evi Naria, MKes Ir. Indra Chahaya, MSi NIP. 196803201993032001 NIP. 196811011993032005
Penguji II Penguji III
dr. Devi Nuraini Santi, MKes
NIP. 197002191998022001 NIP.197803312003121001 dr. Taufik Ashar, MKM
Medan, Februari 2011 Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara Dekan,
NIP. 196108311989031001 Dr. Drs. Surya Utama, MS
Lembar Persembahan
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran dalam Kristus Yesus
( Filipi 4: 7 ) Hari-hari yang kujalani
Penuh liku-liku
Engkau memberi jalan kepadaku
Dan menuntunku hingga disaat akhir perjuanganku Engkau memberikan yang terbaik untukku
Dari lubuk hati yang terdalam kupersembahkan Karya kecil ini kepada :
Yesus Kristus Juruselamatku
Bapak K. Silaban dan Ibunda D. Panjaitan Juga Suami ku tercinta “Heriyyandy Sinulingga,AP”
Tidak akan kulupakan sepanjang hidupku atas apa yang telah diberikan dan diajarkan kepadaku
Kakak , Adik-adikku dan seluruh keluarga besarku Dan juga buat seluruh teman-teman ku
…….Terima kasih atas doa dan kasihnya….
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga tetapi nyatakanlah .Dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam
doa dan permohonan, dengan ucapan syukur ( Filipi 4 : 6 )
With Love,
Lisnawaty Sihombing
ABSTRAK
Kebisingan merupakan masalah yang hampir selalu dijumpai disemua tempat.
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan atau semua suara yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan gangguan pendengaran.
Kenyamanan lingkungan di rumah sakit adalah keadaan nyaman dan ketenangan pasien di utamakan untuk membantu mempercepat proses penyembuhan, tingkat kebisingan di setiap kamar (ruang) berdasarkan fungsinya harus memenuhi syarat kesehatan.Untuk menghindari dampak negatif dari kebisingan, maka tingkat kebisingan yang boleh diterima oleh pendengaran dibatasi berdasarkan lingkungan antara lain pada lingkungan rumah sakit adalah 55 dB(A).
Adapun jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan tujuan untuk mengetahui Kebisingan Pada Rumah Sakit dan Kenyamanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan Tahun 2010 dengan jumlah sampel sebanyak 30 pasien.
Hasil penelitian menunjukan bahwa di Rumah Sakit Umum Methodist Medan tingkat kebisingan di setiap ruangan rawat inap yaitu > 77 dB(A) tidak ada yang memenuhi syarat kesehatan 55 dB(A), sesuai dengan KepMen LH No. 48 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan. Keluhan gangguan kenyamanan ( gangguan tidur) yang paling banyak di alami oleh pasien di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada Direktur Rumah Sakit Umum Methodist Medan dapat mengurangi kebisingan di ruangan rawat inap dengan memasang peredam suara di dalam dan di luar ruangan tersebut, penggunaan jalur hijau sepanjang jalan raya, penanaman pohon keras seperti : pohon bambu dan rumput hijau yang banyak di halaman Rumah Sakit Umum Methodist Medan serta pembuatan penghalang atau rintangan (pagar) yang tidak terputus, padat dan tidak berlubang antara Rumah Sakit Umum Methodist Medan dengan jalan raya, diharapkan kepada keluarga yang menjaga pasien pada saat jam isitirahat menutup jendela dan mematikan TV, agar tidak menggagu kenyamanan pasien dan diharapkan ada penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak kebisingan lain nya bagi pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
Kata Kunci : Tingkat Kebisingan, Kenyamanan Pasien Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan
ABSTRACT
Noise, a problem which is frequently found in many places, can generate health problem to human beings and environmental comfort or all of the unwanted noises can create a hearing problem.
Comfort in a hospital is a comfortable condition and the peace felt by the patients which is especially provided to help accelerate the healing process of the patients, the level of noise in each ward, based on its function, should met the health requirements. To avoid the negative impact of noise, the noise level that can be accepted by human hearing is limited based on its environment such as 55dB (A) in a hospital area.
The purpose of this descriptive study was to find out the level of noise in a hospital and the comfort felt by the patients being hospitalized in Methodist General Hospital in 2010. The samples for this study were 30.
The result of this study showed that the level of noise in each ward of Methodist General Hospital was > 77 PdB (A) that there was none of them meeting the health requirement of 55 dB (A) introduced in the Decree of Minister of Environmental Affairs No.48/1996 on the Standard Level of Noise. Sleep disturbance was the most uncomfortable condition complained by the patients being hospitalized in Methodist General Hospital, Medan.
The Director of Methodist General Hospital is suggested to reduce the level of noise in the in-patient wards by installing the noise reducing devices either inside or outside of the wards, to grow hard trees such as bamboo trees and green grass mostly found on the yard of hospital along the green belt of the road, and to built a solid and long fence between the road and Methodist General Hospital, Medan. The family member accompanying the patients should close the windows and turn of the television in order not to disturb the comfort felt by the patients. It is expected that further studies to be done to know the impact of other noises on the patients being hospitalized in Methodist General Hospital.
Key words: Noise Level, Comfort, Patient, Methodist General Hospital
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Lisnawaty Sihombing
Tempat/Tanggal Lahir : Palembang, 17 Maret 1983
Agama : Khatolik
Status Perkawinan : Belum menikah Jumlah Bersaudara : 4 Orang
Alamat Rumah : Jl. Betawi II No.1710 RT.26 RW.07, Kelurahan Lebong Gajah. Kode Pos 30163 Palembang
Riwayat Pendidikan
Tahun 1987 - 1988 : TK Xaverius 9 Palembang Tahun 1988 - 1994 : SD Xaverius 9 Palembang Tahun 1994 - 1997 : SLTP Xaverius 7 Palembang Tahun 1997 - 2000 : SLTA Methodist 1 Palembang
Tahun 2000 - 2003 : Akademi Keperawatan Perdhaki Charitas Palembang
Tahun 2008 - 2011 : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Riwayat Pekerjaan
Tahun 2003 - 2005 : Rumah Sakit Umum Charitas Palembang Tahun 2005 – 2011 : Rumah Sakit Umum Methodist Medan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat kasih dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Kebisingan Pada Rumaah Sakit Dan Kenyamanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan Tahun 2011”.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus dibuat untuk dapat menyelesaikan pendidikan Strata I pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih sangat jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan dari berbagai hal. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun demi kebaikan isi skripsi ini.
Selama proses pendidikan dan penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
2. Ir. Evi Naria, MKes selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Ir. Evi Naria, MKes selaku Dosen Pembimbing skripsi I yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Ir. Indra Chahaya S, Msi selaku Dosen Pembimbing skripsi II yang telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Drs. Jemadi, M. Kes selaku Dosen Pembimbing Akademik penulis di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh dosen dan staf Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
7. Direktur Rumah Sakit Umum Methodist Medan yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis.
8. Kepada pasien yang di rawat di Rumah Sakit Umum Methodist Medan yang mau bersedia di wawancarai penelitian dalam penyusunan skripsi penulis.
9. Kepada kedua orang tuaku tercinta, kakak Diana, abang Nando, dan adik Vera tersayang yang telah banyak memberikan doa, dukungan moril dan materi selama penulis mengikuti dan menyelesaikan perkuliahan ini.
10.My Honey ”Heriyandy Sinulingga.AP”. Terima kasih suami ku untuk semua kasih sayang, doa, pengertian, dukungan, semangat dan kesabaran yang abang berikan selama ini.” I love you so much”.
11.Seluruh rekan-rekan mahasiswa angkatan 2008 Fakultas Kesehatan Masyarakat, khususnya Devina Saragi, SKM, Tria Silvina dan teman-teman sepeminatan ”Kesehatan Lingkungan” yang telah memberikan semangat dan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.
12.Kepada rekan-rekan kerja khususnya bagian Hemodialisa di Rumah SakitUmum Methodist Medan yang telah mendoakan agar sukses menempuh sidang skripsi. Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa akan membalas semua kebaikan dan bantuan yang telah penulis terima selama ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa melimpahkan berkat dan rahmatNya bagi kita semua.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya keluarga besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
.
Medan, Februari 2011 Penulis
Lisnawaty Sihombing
DAFTAR ISI
Halaman Pengesahan ... i
Abstrak ... ii
Riwayat Hidup Penulis ... iv
Kata Pengantar ... v
Daftar Isi ... viii
Daftar Tabel ... x
Daftar Gambar ... xi
Daftar Lampiran ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan Penelitian ... 5
1.3.1. Tujuan Umum ... 5
1.3.2. Tujuan Khusus ... 5
1.4. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1. Kebisingan ... 7
2.1.1. Defenisi Kebisingan ... 7
2.1.2. Timbulnya Bising ... 8
2.1.3. Lokasi Bising ... 8
2.1.4. Areal Bising ... 8
2.2. Jenis Kebisingan dan Alat Pengukur Kebisingan ... 9
2.2.1. Jenis Kebisingan ... 9
2.2.2. Alat Pengukur Kebisingan ... 9
2.3. Sumber-sumber Bising ... 10
2.4. Kebisingan serta Pengaruhnya Terhadap Kesehatan, Lingkungan dan Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan ... 11
2.4.1. Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesehatan ... 11
2.4.2. Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Lingkungan .. 13
2.4.3. Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan ... 13
2.5. Anatomi dan Fisiologi Pendengaran ... 14
2.5.1. Anatomi Pendengaran ... 14
2.5.2. Fisiologi Pendengaran ... 17
2.6. Pengaruh Kebisingan ... 17
2.6.1 Pengaruh Kebisingan pada Pendengaran ... 17
2.6.2. Pengaruh Kebisingan Terhadap Pasien Di Ruangan Rawat- Inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan ... 19
2.7. Cara Pengendalian Kebisingan ... 19
2.8. Kerangka Konsep ... 20
BAB III METODE PENELITIAN ... 21
3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 21
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 21
3.2.1. Lokasi Penelitian ... 21
3.2.2. Waktu Penelitian ... 21
3.3. Populasi dan Sampel ... 22
3.3.1. Populasi ... 22
3.3.2. Sampel ... 22
3.4. Jenis Data Penelitian ... 22
3.4.1. Data Primer ... 22
3.4.2. Data Skunder ... 23
3.5. Cara Kerja Penelitian ... 23
3.5.1. Cara Kerja Sound Level Meter ... 23
3.5.2. Pemeriksaan Tekanan Darah Dan Denyut Nadi... 24
3.6. Defenisi Operasional ... 25
3.7. Aspek Pengukuran ... 26
3.8. Pengolahan Dan Analisis Data ... 26
3.8.1. Pengolahan Data ... 26
3.8.2. Analisis Data ... 27
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 28
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 28
4.2. Kontruksi Bangunan Ruangan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan... 29
4.3. Hasil Penelitian ... 30
4.3.1. Karakteristik Responden ... 30
4.3.1.1. Umur ... 30
4.3.1.2. Jenis Kelamin ... 30
4.3.1.3. Pendidikan ... 31
4.3.1.4. Tekanan Darah ... 31
4.3.1.5. Penyakit Yang Diderita ... 32
4.4 Sumber Bising Yang Utama ... 33
4.5. Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan ... 34
4.6. Keluhan Gangguan Kenyamanan Responden ... 35
4.7. Tabulasi Silang ... 36
BAB V PEMBAHASAN ... 41
5.1. Karakteristik Responden ... 41
5.2. Sumber Bising Yang Utama ... 42
5.3. Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan ... 42
5.4. Keluhan Gangguan Kenyamanan Responden ... 43
5.5. Tabulasi Silang ... 44
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 45
6.1. Kesimpulan ... 45
6.2. Saran ... 46 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Halaman
Tabel 2.1. Jenis Akibat Kerja ... 12
Tabel 2.2. Tingkat Kebisingan Peruntukan Kawasan dan Lingkungan ... 14
Tabel.4.1. Responden Berdasarkan Umur ... 30
Tabel 4.2. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 30
Tabel 4.3. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 31
Tabel 4.4. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Responden ... 31
Tabel 4.5. Responden Berdasarkan Penyakit Yang Diderita ... 32
Tabel 4.6. Sumber Bising Yang Utama Menurut Responden ... 33
Tabel 4.7. Rata-rata Tingkat Kebisingan Dalam dan Luar Ruangan Rawat Inap – Rumah Sakit Umum Methodist Medan ... 34
Tabel 4.8. Keluhan Gangguan Kenyamanan Responden ... 35
Tabel 4.9. Tabulasi Silang Umur Dengan Gangguan Kenyamanan Responden .... 36
Tabel 4.10. Tabulasi Silang Jenis Kelamin Dengan Gangguan Kenyamanan Responden ... 37
Tabel 4.11.Tabulasi Silang Tekanan Darah Dengan Gangguan Kenyamanan Responden ... 38
Tabel 4.12.Tabulasi Silang Penyakit Yang Diderita Dengan Gangguan Kenyamanan Responden ... 39
Tabel 4.13.Tabulasi Silang Sumber Bising Yang Utama Dengan Gangguan Kenyamanan Responden ... 40
DAFTAR GAMBAR
No Halaman Gambar 1. Anatomi Telingah Tengah ... 16
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Lampiran 1. : Kuesioner
Lampiran 2. : Denah Titik Pengukuran Kebisingan Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan
Pada Responden Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan Lampiran 3 : Foto-foto Penelitian Berdasarkan Informasi Responden Tentang
Sumber Kebisingan Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
Gambar 1. Rumah Sakit Umum Metodhist Medan.
Gambar 2. Salah Satu Pintu Kamar Rawat Inap VIP I Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan
Gambar 3. Salah Satu Gambar Ruangan Rawat Inap VIP I Rumah Sakit Umum Methodist Medan
Gambar 4. Salah Satu Pasien Yang Dirawat Inap Di Ruangan VIP II Rumah Sakit Umum Methodist Medan Lampiran 4. : Keputusan MENLH No : KEP-48/MENLH/II/1996
Tentang Baku Tingkat Kebisingan
Lampiran 5. : Keputusan MENLH No : KEP-48/MENLH/II/1996 Tentang Metoda Pengukuran, Perhitungan Dan Evaluasi Tingkat Kebisingan Lingkungan
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kebisingan merupakan masalah yang hampir selalu dijumpai disemua tempat.
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan atau semua suara yang tidak dikehendaki yang dapat menimbulkan gangguan pendengaran. Kenyamanan di rumah sakit adalah keadaan nyaman dan ketenangan pasien di utamakan untuk membantu mempercepat proses penyembuhan, tingkat kebisingan di setiap kamar (ruang) berdasarkan fungsinya harus memenuhi syarat kesehatan. Efek kebisingan dengan intensitas tinggi terhadap pendengaran berupa ketulian syaraf telah banyak ditemukan, kebisingan selain memberikan efek terhadap pendengaran juga dapat menimbulkan efek bukan pada pendengaran dan efek ini bisa terjadi walaupun intensitas kebisingan tidak terlalu tinggi.(Haryono,2009)
Penentuan tingkat kebisingan, biasanya dinyatakan dalam satuan decibel (dB), Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 718 tahun 1987 tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan menyatakan pembagian wilayah kebisingan dalam empat zona antara lain Zona A, Zona B, Zona C, dan Zona D. Zona A adalah zona untuk penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan atau sosial dimana tingkat kebisingannya adalah 35-45 dB. Zona B untuk perumahan, tempat pendidikan dan rekreasi dimana tingkat kebisingannya berkisar 45-55 dB. Zona C antara lain perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dengan kebisingan sekitar 50-60 dB.
Zona D bagi lingkungan industri, pabrik, stasiun kereta api, dan terminal bus dimana tingkat kebisingan 60-70 dB.
Menurut perkiraan WHO pada tahun 1995 terdapat 120 juta penderita gangguan pendengaran diseluruh dunia. Jumlah tersebut mengalami peningkatan yang sangat bermakna pada tahun 2001 menjadi 250 juta orang , 222 juta diantaranya adalah penderita dewasa sedangkan sisanya 28 juta adalah anak berusia dibawah 15 tahun dari jumlah tersebut kira kira 2/3 diantaranya berada di negara berkembang.
Pada tahun 2005 terdapat 278 juta penderita gangguan pendengaran, kurang lebih 75 juta hingga 140 juta penderita bermukim di wilayah Asia Tenggara.
Berdasarkan hasil penelitian tingkat kebisingan di ruangan playstation di Padang Bulan diperoleh bahwa 16 (50%) responden yang bermain playstation setelah 60-119 menit mengalami telinga berdengung. Responden yang mengalami keluhan tuli sementara sejumlah 9 (36%) setelah 120-179 menit bermain playstation.
Responden yang mengalami rasa lelah sejumlah 21 (40,38%) setelah 120-179 menit bermain playstation. Responden yang mengalami kepala pusing sejumlah 15 (36,59%) setelah 120-179 menit bermain playstation. Responden yang mengalami otot/urat leher terasa tegang sejumlah 18 (43,9%) setelah 120-179 menit bermain playstation. Responden yang mengalami perut terasa tidak nyaman sejumlah 6 (37,5%) setelah 60-119 menit bermain playstation. Responden yang mengalami perasaan mual sejumlah 7 (38,88%) setelah 120-179 menit bermain playstation.
Responden yang mengalami denyut nadi tidak teratur sejumlah 8 (42,1%) setelah 120-179 menit bermain playstation (Oloan, 2005).
Beberapa aktifitas kehidupan modern justru sering kali menjadikan kebisingan sebagai bagian yang tidak terpisahkan, misalnya diskotik-diskotik yang memperdengarkan musik-musik keras, ruangan latihan senam, pertokoan-pertokoan
yang menggunakan musik untuk menarik perhatian konsumen, konser musik rock, sepeda motor tanpa peredam, mercon, kembang api, walkman, lousdpeaker, permainan anak yang berbunyi keras, games (Djelantik, 2004).
Kebisingan di Rumah Sakit adalah masalah penting yang umumnya semakin buruk, bahkan dalam kontruksi bangunan. Tingkat kebisingan yang tinggi di rumah sakit dapat berkonstribusi terhadap stres dan kelelahan dalam staf rumah sakit, mengurangi kecepatan penyembuhan pasien. Kebisingan juga merupakan penyebab utama dari kekurangan dan gangguan tidur antara pasien meningkatkan kecemasan dan penurunan kepercayaan pasien. Pasien terpapar kebisingan juga dapat mengubah pengalaman, mengubah memori, meningkatkan emosi, toleransi kurang terhadap nyeri dan perasaan terisolasi (Susan, 2005).
Data WHO mengatakan tingkat kebisingan disebuah bangsal rumah sakit seharusnya berada disekitar tingkat yang sama dengan suara bisikan diperpustakaan.
Namun hasil penelitian menunjukkan tingkat kebisingan justru mendekati suara kantor yang sibuk atau seseorang yang berlatih piano.
Sumber bising di rumah sakit adalah alarm, telepon, mesin es, suara staf, suara yang dihasilkan teman sekamar, permukaan di rumah sakit seperti lantai, dinding dan langit-langit mencerminkan suara keras bukan menyerapnya, disamping itu letak rumah sakit yang dekat dengan jalan raya dapat menimbulkan kebisingan akibat dari suara kendaraan truk, dan mobil yang lalu lalang (Susan, 2005).
Rumah Sakit Umum Methodist Medan yang terletak di Kota Medan, tepatnya di Jalan M.H. Thamrin No.105 Medan dikelilingi oleh jalan raya jaraknya ± 3 meter yang tidak pernah berhentinya segala kendaraan yang lewat, baik sepeda motor,
mobil bahkan becak motor, dan terdapat jasa pencucian sepeda motor ± 3 meter sebelah kanan Rumah Sakit Umum Methodist Medan yang membuat suara penuh kebisingan, dari hasil pengukuran kebisingan yang dilakukan peneliti pada saat survei pendahuluan adalah pada pagi hari ada lima titik yaitu sudut kiri 77,86 dB, kanan 77,88 dB (depan), sudut kiri 77,82 dB, kanan 77,84 dB (belakang), bagian tengah 77,78 dB dan sore hari sudut kiri 77,86 dB, kanan 7,83 dB (depan), sudut kiri 77, 85 dB, kanan 77, 82 dB (belakang), tengah 77,87 dB dengan menggunakan Sound Level Meter digital sedangkan tingkat kebisingan yang diperbolehkan di Rumah Sakit hanya 55 dB. Pasien yang dirawat merasa terganggu akibat suara yang berisik, sulit untuk beristirahat disamping untuk berobat perlu istirahat yang cukup dan mengharapkan ketenangan serta kenyamanan agar dapat membantu proses penyembuhan. Jumlah pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan berjumlah rata-rata 100 pasien setiap minggunya.
Survei yang dilakukan peneliti hampir seluruh pasien tidak dapat menikmati hal yang diinginkannya karena tidak luput dari kebisingan yang berasal dari lingkungan di sekitar wilayah Rumah Sakit Umum Methodist Medan tersebut Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Kebisingan Pada Rumah Sakit Dan Kenyamanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan Tahun 2010.
1.2. Perumusan Masalah
Rumah Sakit Umum Methodist Medan yang berada di pinggir jalan raya utama dan jasa pencucian sepeda motor kondisi ini tentu memungkinkan terjadinya ketidaknyamanan pasien yang di rawat inap.Berdasarkan latar belakang tersebut
maka masalah penelitian ini adalah ”Bagaimana Kebisingan Pada Rumah Sakit Dan Kenyamanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan Tahun 2010”.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kebisingan Pada Rumah Sakit Dan Kenyamanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan Tahun 2010.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui karakteristik (umur, jenis kelamin, pendidikan, tekanan darah, dan penyakit yang diderita sewaktu masuk) pasien yang di rawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
2. Untuk mengetahui sumber bising yang utama ruangan rawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
3. Untuk mengetahui tingkat kebisingan ruangan rawat inap di Rumah Sakit Methodist Medan.
4. Untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kenyamanan terhadapan kebisingan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi pihak Rumah Sakit Umum Methodist Medan sebagai masukan agar dapat mengurangi kebisingan di setiap ruangan rumah sakit dan khusus nya ruangan rawat inap.
2. Bagi peneliti sebagai sarana untuk memperdalam pengetahuan serta mengembangkan teori yang telah diperoleh selama masa perkuliahan.
3. Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan referensi si penelitian tentang kebisingan selanjutnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kebisingan
2.1.1. Defenisi Kebisingan
Bising adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki atau disenangi. Dalam penilaian bising ini mungkin terjadi penilaian yang subjektif, mungkin juga terjadi penilaian yang objektif. Sebaiknya dalam penilaian bising memakai alat bantu misalnya Sound Level Meter, dB meter dan harus mempunyai tolak ukur kebisingan (Gabriel, 2001).
Kebisingan adalah bunyi yang dapat mengganggu dan merusak pendengaran manusia. Menurut teori fisika, bunyi adalah rangsangan yang diterima oleh syaraf pendengar yang berasal dari suatu sumber bunyi. Apabila syaraf pendengaran tidak menghendaki rangsangan tersebut maka bunyi tersebut dinamakan sebagai suatu kebisingan (Wardhana, 2004).
Untuk nenyatakan kualitas suatu bunyi digunakan pengertian sebagai berikut : 1. Frekuensi bunyi, yaitu jumlah getaran perdetik. Satuan bunyi dinyatakan dalam
Hertz, disingkat Hz.
2. Intensitas Bunyi, yaitu perbandingan tegangan suara yang dating dan tegangan suara standar yang dapat didengar oleh manusia normal pada frekuensi 1000 Hz, dengan satuan deci Bell, disingkat dB (Wardhana, 2004).
2.1.2. Timbulnya Bising
Timbulnya bising oleh karena bunyi ireguler, bunyi dari berbagai sumber sehingga kesan kacau, intensitas bunyi maupun tekanan bunyi yang besar melampaui nilai ambang pendengaran. Frekuensi bunyi untuk ambang bawah pendengaran adalah 1000 Hz dan ambang atas pendengaran 3000 Hz.(Gabriel, 2001).
2.1.3. Lokasi Bising
Sembilan puluh sembilan persen (99%) lokasi bising berada di kota, sedangkan satu persen (1%) berada di pedesaan. Lokasi kebisingan di perkotaan yaitu di tempat keramaian, lalu lintas yang hiruk pikuk, pabrik-pabrik dan pembangkit listrik tenaga diesel. Di pedesaan kebisingan terjadi pada mesin penyosohan beras yang sedang beroperasi, diesel pembangkit listrik yang beroperasi dan mesin pembasmi hama pertanian (Gabriel, 2001).
2.1.4. Areal bising
Areal bising adalah daerah bising. Daerah bising diklasifikasikan atas 3 (tiga) kategori, yaitu :
1. Areal lokal tertutup, bising pada perkantoran dan diskotik.
2. Areal semi bebas, bising didalam ruang tertutup dan oleh karena sifat bunyi dapat mengalami transmisi melalui dinding sehingga di sekitar luar gedung terimbas bising, misalnya pembangkit listrik tenaga diesel, pabrik pengalengan.
3. Areal bebas, bising terjadi di daerah terbuka sehingga banyak orang (masyarakat) merasakan bising, contoh dilapangan terbang (Gabriel, 2001).
2.2. Jenis Kebisingan dan Alat Pengukur Kebisingan 2.2.1. Jenis Kebisingan
Secara umum kebisingan dapat dikelompokkan berdasarkan kontinuitas, intensitas, dan spektrum frekuensi suara yang ada, seperti berikut :
1. Kebisingan yang kontinu dengan spektrum frekwensi yang luas (steady state,, wide band noise), misalnya mesin-mesin, kipas angin dan lain lain.
2. Kebisingan kontinu dengan spektrum frekuensi sempit (steady state narrow band noise) misalnya gergaji sirkuler, katup gas, dan lain-lain.
3. Kebisingan terputus putus (intermittent), misalnya lalu lintas, suara kapal terbang dilapangan udara.
4. Kebisingan implusif (impact or implusive noise), seperti pukulan, tukul, tembakan bedil atau meriam ledakan.
5. Kebisingan implusif berulang misalnya mesin tempa di perusahaan (Suma’mur, 1996).
2.2.2. Alat Pengukur Kebisingan
Alat utama untuk mengukur tingkat kebisingan adalah Sound Level Meter.
Alat ini berfungsi mengukur kebisingan yang berada dalam kisaran 30-130 desibel (dB) dengan frekuensi antara 20-20.000 Herzt (Hz). Didalam alat ini sudah terpasang sistem kalibrasinya sendiri, kecuali untuk kalibrasi mikrofon yang memerlukan pengecekan dengan kalibrasi tersendiri. Sebagai kalibrasi dapat dipakai pengeras suara yang kekuatan suaranya diatur oleh amplifier, juga dapat digunakan untuk keperluan kalibrasi.
Kebisingan yang terputus putus biasanya direkam lebih dahulu dengan tape recorder berkualitas tinggi yang mampu merekam suara dengan frekuansi antara 20- 30 KHz. Kaset berisi rekaman itu kemudian dibawa kelaboratorium untuk dianalisis (Budiman, 2007).
2.3. Sumber Bising
Sumber bising adalah suatu hal yang tidak dapat diragukan lagi sebagai asal atau aktifitas yang menghasilkan suara bising yang merusak pendengaran baik bersifat sementara ataupun permanen. Sumber bising utama dalam pengedalian dalam pengendalian bising lingkungan dapat diklasifikasikan dalam kelompok :
1. Bising interior
Sumber bising yang paling sering dibuat oleh manusia dan yang harus dipertanggungjawabkan adalah yang disebabkan oleh radio dan televisi, alat- alat musik, bantingan pintu , pembicaraan yang keras, dan lalu lintas ditangga.
Selain itu dapat pula ditambahkan bunyi anak-anak yang bermain, tangis bayi.
Bising bangunan dihasilkan oleh mesin dan alat rumah tangga seperti, kipas angin, kompresor, pendingin, pencuci piring, penghancur sampah, mesin cuci, pengering, pembersih vakum, pengkondisi udara, penghancur makanan, pembuka kaleng dan lain-lain.
2. Bising luar
Bising yang dikategorikan berasal dari aktifitas di luar ruangan seperti transportasi udara, termasuk bus,truk, mobil, sepeda motor, mobil-mobil balap.
transportasi air, kereta rel, mesin-mesin diesel, kapal motor, kapal penyeret, yang penting diketahui bahwa makin cepat kendaraan akan seemakin keras
suara bising yang dihasilkan. Reduksi bising luar oleh jarak diatur oleh hukum balikan kuadrat. Penurunan 6 dB akan tercatat tiap kali tiap kali jarak antara sumber dan penerima digandakan bila tidak ada pemantul bunyi dekat sumber bunyi.
3. Bising pesawat udara
Bising pesawat udara merupakan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya pada lingkungan kita karena mempengaruhi jumlah orang yang selalu bertambah. Walaupun banyak sekali usaha yang dilakukan untukuntuk mereduksi bising pesawat udara tidak ada pemecahan tekhnik yang terlihat (Doelle, 1993).
2.4. Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesehatan, Lingkungan dan Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan
2.4.1 . Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Kesehatan
Pengaruh utama kebisingan terhadap kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengar yang dapat menyebabkan ketulian progresif. Efek kebisingan pada pendengaran biasanya bersifat sementara dan pemulihan dapat terjadi secara cepat.
Namun apa bila seseorang berada terus menerus ditempat kebisingan dan terpajan pada kebisingan itu, orang tersebut akan kehilangan daya dengar yang sifatnya menetap dan tidak dapat pulih kembali. Ketulian biasanya dimulai pada frekuensi suara sekitar 4000 Hz yang kemudian meningkat dan meluas ke frekuensi di sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang digunakan untuk percakapan.
Di Indonesia nilai ambang batas (NAB) untuk kebisingan adalah 85 dB. Nilai tersebut secara terus menerus dikaji oeh Panitia Teknik Nasional (NAB) (Budiman, 2007).
Meskipun pengaruh suara banyak kaitannya dengan faktor-faktor psikologis dan emosional, ada kasus-kasus serius seperti kehilangan pendengaran terjadi karena tingginya tingkat kenyaringan suara pada tingkat tekanan suara berbobot A dan karena lamanya terpajan terhadap kebisingan itu.
Berikut jenis akibat kebisingan : Tabel 2.1. Jenis Akibat Kebisingan
Tipe Uraian
Akibat lahiriah
Kehilangan pendengaran
Perubahan ambang batas sementara akibat kebisingan, perubahan ambang batas permanen akibat kebisingan
Akibat fisiologis Rasa tidak nyaman atau stress meningkat, tekanan darah meningkat, sakit kepala, bunyi dering
Akibat psikologis
Gangguan emosional
Kejengkelan, kebingungan
Gangguan gaya hidup
Gangguan tidur atau istirahat, hilang konsentrasi waktu bekerja, membaca dan sebagainya.
Gangguan pendengaran
Merintangi kemampuan mendengarkan TV, radio, percakapan, telpon dan sebagainya.
(Sumber: Susanto, 2006)
2.4.2. Kebisingan Serta Pengaruhnya Terhadap Lingkungan.
Kategori kebisingan lingkungan meliputi antara lain, yaitu :
1. Jumlah kebisingan, yaitu semua kebisingan disuatu tempat tertentu dan suatu waktu tertentu.
2. Kebisingan spesifik, yaitu kebisingan di antara jumlah kebisingan yang dapat dengan jelas dibedakan untuk alasan-alasan akustik. Seringkali sumber kebisingan dapat diidentifikasikan.
3. Kebisingan residual, yaitu kebisingan yang tertinggal sesudah penghapusan seluruh kebisingan spesifik dari jumlah kebisingan di suatu tempat tertentu.
4. Kebisingan latar belakang, yaitu semua kebisingan lainnya ketika memusatkan perhatian pada suatu kebisingan tertentu. Penting untuk membedakan antara kebisingan residual dan kebisingan latar belakang (Budiman,2007).
2.4.3. Nilai Ambang Batas (NAB) Kebisingan
Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996).
Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan, peruntukan kawasan dan lingkungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini (KepMenLH No.48 Tahun 1996).
Tabel.2.2. Tingkat Kebisingan Peruntukan Kawasan Dan Lingkungan Peruntukan Kawasan/Lingkungan Kegiatan Tingkat Kebisingan
dB (A) a. Peruntukan Kawasan
1. Perumahan dan Pemukiman 55
2. Perdagangan dan Jasa 70
3. Perkantoran dan Perdagangan 65
4. Ruang Terbuka Hijau 50
5. Industri 70
6. Pemerintahan dan Fasilitas Umum 60
7. Rekreasi 70
8. Khusus
- Bandar Udara -
- Stasiun Kereta Api -
- Pelabuhan Laut 70
- Cagar Budaya 60
b. Lingkungan Kegiatan
1. Rumah Sakit 55
2. Sekolah atau Sejenisinya 55
3. Tempat Ibadah atau Sejenisnya 55
(Sumber : KepMen LH No. 48 Tahun 1996) 2.5. Anatomi dan Fisiologi Pendengaran 2.5.1. Anatomi Pendengaran
Telinga adalah organ pendengaran. Syaraf yang melayani indera ini adalah syaraf Kranial kedelapan atau Nervus Auditorius. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu :
1. Telinga Luar
Terdiri dari atas aurikel atau pinna, berukuran besar serta dapat bergerak dan membantu mengumpulkan gelombang suara dan meatus audiotorius externa yang menjorok ke dalam menjauhi pinna, serta menghantarkan getaran suara menuju membran timpani.
2. Telinga Tengah atau rongga timpani
Bilik kecil yang mengandung udara. Rongga itu terletak sebelah dalam membran timpani atau gendang telinga, yang memisahkan rongga itu dari meatus auditorius externa. Rongga itu sempit serta memiliki dinding tulang dan dinding membaranosa, sementara pada bagian belakanagnya bersambung dengan antrum mastoid dalam prosesus mastoideus pada tulang temporalis, melalui sebuah celah yang disebut aditus.
3. Rongga Telinga Dalam
Berada dalam bagian os petrosum tulang temporalis. Rongga telinga dalam itu terdiri dari berbagai rongga yang menyerupai saluran-saluran dalam tulang temporalis. Rongga-rongga itu disebut labirin tulang, dan dilapisi membran sehingga membentuk labirin membranosa. Saluran-saluran membran ini mengandung cairan dan ujung-ujung akhir saraf pendengaran dan keseimbangan.
Labirin tulang terdiri dari tiga bagian. Vestibula yang merupakan bagian tengah, dan tempat bersambungnya bagian-bagian, ibarat sebuah pintu yang menuju ruang tengah (vestibula) pada sebuah rumah. Saluran setengah lingkaran bersambung dengan vestibula. Kokalea adalah sebuah tabung terbentuk spiral yang membelit dirinya laksana sebuah rumah siput.
Nervus Auditorius (saraf pendengaran) terdiri dari dua bagian : Salah satu dari padanya pengumpulan sensibilitas dari bagian vestibuler rongga telinga dalam, yang mempunyai hubungan dengan keseimbangan. Serabut-serabut saraf ini bergerak menuju nukleus vestibularis yang berada pada titik pertemuan antara pons dan
medula oblongata, lantas kemudian bergerak terus menuju serebelum. Bagian kokhlearis pada nervus auditorius adalah saraf pendengar sebenarnya. Serabut- serabut sarafnya mula-mula dipancarkan kepada sebuah nukleus khusus yang berada tepat dibelakang talamus, lantas dari sana dipancarkan lagi menuju pusat penerima akhir dalam kortex otak yang terletak pada bagian bawah lobus temporalis. Suara ditimbulkan oleh getaran atmosfer yang dikenal sebagai gelombang suara, yang kecepatan dan volumenya berbeda-beda. Gelombang suara bergerak melalui rongga telinga luar yang menyebabkan membran timpani bergetar.
Nervus vestibularis yang tersebar hingga kanalis semisirkuleris, mengantarkan impuls-impuls menuju otak. Impuls-impuls itu dibangkitkan dalam kanal-kanal tadi, karena adanya perubahan kedudukan cairan dalam kanal. Hal inii mempunyai hubungan erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan (Evelyn, 2004).
Gambar 2.1. Anatomi Telinga (Sumber : Rambe 2003)
2.5.2. Fisiologi Pendengaran
Fisiologi pendengaran adalah sebagai berikut, getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang diteruskan ke liang telinga dan mengenai membran timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Selanjutnya stapes menggerakkan foramen ovale yang juga menggerakkan perilimfe dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui membran reissner yang mendorong endolimfe dan membran basalis ke arah bawah dan perilimfe dalam skala timpani akan bergerak sehingga foramen rotundum terdorong ke arah luar. Pada waktu istirahat, ujung sel rambut Corti berkelok, dan dengan terdorongnya membran basal, ujung sel rambut itu menjadi lurus. Rangsangan fisik ini berubah menjadi rangsangan listrik akibat adanya perbedaan ion Natrium dan Kalium, rangsangan itu akhirnya diteruskan ke pusat sensorik pendengaran di otak melalui saraf pusat yang ada di lobus temporalis (Rambe, 2003).
2.6. Pengaruh Kebisingan
Pengaruh ambang dengar akibat paparan bising tergantung pada frekuensi bunyi, intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa yakni :
1. Adaptasi
Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan terasa terganggu oleh kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan tidak merasa terganggu lagi karena suara terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan.
2. Peningkatan Ambang Dengar Sementara
Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahan-lahan akan kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang pendengaran sementara ini mula-mula terjadi pada frekuensi 4000 Hz, tetapi bila pemaparan berlangsung lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara akan menyebar pada frekuensi sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan lama pemaparan makin besar perubahan nilai ambang pendengarannya. Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung dari sensivitas masing-masing individu.
3. Peningkatan Ambang Dengar Menetap
Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi pada frekuensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan. Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak menyadari bahwa pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah pemeriksaan audiogram.
Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah istirahat beberapa jam (1-2 jam). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama (10-15 tahun) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti sampai terjadi destruksi total organ Corti. Proses ini belum jelas terjadinya, tetapi mungkin karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatakan perubahan metabolisme dan vaskuler
sehingga terjadi kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ Corti.
Akibatnya terjadi kehilangan pendengaran yang permanen. Umumnya frekuensi pendengaran yang mengalami perubahan intensitas adalah antara 3000-6000 Hz dan kerusakan alat Corti untuk reseptor bunyi yang terberat terjadi pada frekuensi 4000 Hz. (Rambe,2003).
2.7. Cara Pengendalian Kebisingan
Terdapat tiga komponen penting yang harus diperhatikan untuk melakukan pengendalian kebisingan yaitu sebagai berikut :
1. Sumber kebisingan
Pengendalian kebisingan terhadap sumbernya dapat dilakukan dengan cara desain akustik yaitu mengurangi vibrasi dan mengubah struktur, subsitusi alat, dan mengubah proses kerja.
2. Media perantara kebisingan
Pengendalian terhadap media perantara kebisingan dapat dilakukan dengan cara menjauhkan jarak terhadap sumber kebisingan dan akustik ruang.
3. Penerima kebisingan
Pengendalian terhadap penerimaan kebisingan dapat dilakukan dengan cara menggunakan alat pelindung telinga, rotasi kerja dan mengubah jadwal kerja (Budiman,2007).
2.8. Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
Umur
Jenis Kelamin
Pendidikan
Tekanan Darah
Penyakit Yang Diderita
Sumber Bising
Tingkat Kebisingan
Kenyamanan Pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit
Umum Methodist Medan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu untuk mengetahui Kebisingan Pada Rumah Sakit Dan Kenyamanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Umum Methodist Medan Tahun 2010.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Methodist Medan , dengan pertimbangan:
1. Lokasi Rumah Sakit Umum Methodist Medan yang jaraknya ± 3 meter dari jalan raya sehingga banyak kendaraan yang berlalu lalang memungkinkan tingkat kebisingan tinggi yang dapat mengganggu kenyaman pasien yang di rawat inap.
2. Terdapat jasa pencucian sepeda motor berada di sebelah kanan Rumah Sakit Methodist Medan yang jaraknya ± 3 meter memungkinkan tingkat kebisingan yang tinggi sehingga mengganggu kenyaman pasien yang di rawat inap.
3.2.2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai bulan November tahun 2010.
3.3. Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi mencakup seluruh pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan sebanyak 100 pasien yang menderita penyakit Diare, Demam, Diabetes Militus dan Penyakit Kulit, lama rawatan minimal 3-5 hari pada umur pasien 20-50 tahun.
3.3.2. Sampel
Adapun sampel penelitin ini adalah pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan sebanyak 30 pasien dengan kriteria pasien yang di rawat inap yang menderita penyakit Diare, Demam, Diabetes Militus dan Penyakit Kulit, lama rawat minimal 3-5 hari pada umur pasien 20-50 tahun.
3.4. Jenis Data Penelitian 3.4.1. Data Primer
Data primer adalah data yang diambil langsung oleh peneliti untuk mengetahui kebisingan pada Rumah Sakit dan kenyamanan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
Data primer dapat diperoleh dengan cara :
1. Pengukuran tingkat kebisingan di Rumah Sakit Umum Methodist Medan dengan menggunakan alat Sound Level Meter.
2. Kuesioner yang diberikan kepada pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
3. Pemeriksaan tekanan darah pada pasien dan denyut nadi selama 1 menit pada pergelangan tangan pasien yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
3.4.2.Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari bagian administrasi Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
3.5. Cara Kerja Penelitian
3.5.1. Cara Kerja Sound Level Meter
Pengukuran tingkat kebisingan di ruangan rawat inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan dengan menggunakan Sound Level Meter. Cara kerjanya adalah dengan melakukan pengukuran di 5 titik yaitu sudut kiri depan, sudut kanan depan, sudut kiri belakang, sudut kanan belakang dan tengah, ruangan rawat inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan. Pengukuran dilakukan pada jam kerja yaitu sekitar pukul 08.00-19.00 WIB. Prosedur penggunaan Sound Level Meter adalah sebagai berikut:
A. Persiapan alat
1. Pasang baterai pada tempatnya.
2. Tekan tombol power.
3. Cek garis tanda pada monitor untuk mengetahui baterai dalam keadaan baik atau tidak.
4. Kalibrasi alat dengan kalibrator, sehingga alat pada monitor sesuai dengan angka kalibrator.
B. Pengukuran tingkat kebisingan
1. Pilih selektor pada posisi yaitu fast untuk jenis kebisingan kontinu dan slow untuk jenis kebisingan impulsif/ terputus-putus
2. Pilih selektor range intensitas kebisingan 3. Tentukan lokasi pengukuran
4. Pengukuran dilakukan dengan memposisikan microphone Sound Level Meter tepat didepan atau di sebelah speaker/sumber suara musik.
Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan selama 10 menit dengan waktu ukur setiap 5 detik. Pengukuran dilakukan pada pagi hari dan sore hari pada saat jam kunjungan keluarga pasien yaitu :
1. Pengukuran I pada pagi hari jam 8.00-10.00 WIB
2. Pengukuran II pada sore hari pada jam 17.00-19.00 WIB
Hasil rata-rata pengukuran I dan II ditetapkan sebagai intensitas kebisingan.
3.5.2. Pemeriksaan Tekanan Darah Dan Denyut Nadi
Pemeriksaan tekanan darah dengan menggunakan alat tensi meter.
Pengukuran dilakukan pada pagi hari dan sore hari yaitu : 1. Pengukuran I pada pagi hari jam 8.00 WIB
2. Pengukuran II pada sore hari pada jam 18.00 WIB
Hasil rata-rata pengukuran I dan II bahwa tekanan darah meningkat dari tekanan darah normal orang dewasa di atas 120/80-130/80 mmHg(Syafriidah,2005).
Pemeriksaan denyut nadi selama 1 menit pada pergelangan tangan Pasien di rungan rawat inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan dengan cara:
1. Pegang tangan dengan telapak tangan menghadap ke atas
2. Letakkan tiga jari pemeriksa pada pembuluh arteri radialis, dengan jari telunjuk paling dekat dengan jantung probandus.
3. Rasakan denyut nadi probandus, hitung frekuensinya (Mulyo,2005).
3.4. Defenisi Operasional
1. Karakteristik (umur, jenis kelamin, pendidikan, tekanan darah, dan penyakit yang diderita) responden adalah identitas pasien di ruang rawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
2. Sumber kebisingan adalah sumber informasi yang di rasakan pasien rawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
3. Tingkat kebisingan adalah ukuran energi bunyi yang dinyatakan dalam satuan desibel disingkat dB pada ruangan rawat inap di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
4. Keluhan kesehatan adalah gangguan kenyamanan yang di rasakan pasien rawat inap meliputi gangguan psikologis dan gangguan fisiologis yang berpengaruh dengan kebisingan.
5. Memenuhi syarat adalah tingkat kebisingan tidaak melebihi nilai ambang batas sehingga tidak mengganggu kesehatan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
6. Tidak memenuhi syarat adalah tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas sehingga mengganggu kesehatan (gangguan kenyamanan) berdasarkan
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.
7. Keluhan gangguan kenyamanan adalah jenis keluhan yang dirasakan pasien yang dirawat di ruangan Rumah Sakit Umum Methodist Medan. Keluhan gangguan kenyamanan berupa susah mendengar, telinga berdengung dan denyut nadi tidak teratur.
3.6. Aspek Pengukuran
Aspek pengukuran adalah untuk melihat gambaran ada atau tidaknya hubungan tingkat pemaparan kebisingan terhadap kenyamanan responden terhadap kebisingan yang diukur melalui pernyataan yang terdapat dalam lembar kuesioner.
3.7. Pengolahan dan Analisis Data 3.7.1. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Editing
Data yang dikumpulkan kemudian diperiksa. Bila terdapat kesalahan dalam pengumpulan data, data diperbaiki (editing) dengan cara memeriksa kembali jawaban yang kurang.
2. Koding
Data yang sudah diperiksa kemudian diklasifikasikan dan diberi tanda atau kode.
3. Tabulating
Untuk mempermudah pengolahan data serta pengambilan kesimpulan, data dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi dan dianalisis.
3.7.2. Analisis Data
Data yang dikumpulkan, kemudian dianalisis untuk menggambarkan (mendeskripsikan) masing-masing variabel indenpenden dan variabel dependen dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Methodist Medan yang berada di jalan M.H. Thamrin No. 105 Medan yang diteliti terletak di Kecamatan Medan Kota. Ada pun batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kelurahan Sei Rengas Permata (jalan raya)
Sebelah Selatan : Kelurahan Sei Rengas Permata (jasa pencucian sepeda motor) Sebelah Barat : Kelurahan Sei Rengas I (rumah penduduk)
Sebelah Timur : Kelurahan Sei Rengas Permata(jalan raya)
Bangunan Rumah Sakit Methodist Medan terdiri dari 4 lantai adalah sebagai berikut :
Lantai 1 : Merupakan lokasi ruang UGD
Lantai 2 : Merupakan lokasi ruang rawat inap VIP I, VIP II, dan Vapiliun Kebidanan.
Lantai 3 : Merupakan lokasi ruang rawat inap Kelas I dan Kelas II (Ekonomi).
Lantai 4 : Merupakan lokasi Praktek Dokter Spesialis.
4.2. Kontruksi Bangunan Ruangan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan
Kontruksi bangunan ruangan rawat inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan ada 2 yaitu :
1. Ruang VIP I dan VIP II kontruksi bangunan : 1.Jenis dinding : Beton
2.Daun jedela : Kaca
3.Pintu : Kayu
4.Lantai : Keramik
5.Tumbuhan : Pot bunga di koridor jalan ruangan rawat inap 2. Ruang kelas I dan kelas II (ekonomi) kontruksi bangunan :
1. Jenis dinding : Beton 2.Daun jedela : Kaca
3.Pintu : Kayu di lapisi triplek
4.Lantai : Tegel
5.Tumbuhan : Pot bunga di koridor jalan ruangan rawat inap
4.3.1. Karakteristik Responden 4.3.1.1. Umur
Berdasarkan hasil kuisoner di dapatkan karakteristik responden berdasarkan umur.
Tabel 4.1. Responden Berdasarkan Umur
No Umur (Tahun) Jumlah Persentase (%)
1 20 – 30 9 30,0
2 31 – 40 7 23,3
3 41 – 50 14 46,7
Total 30 100,0
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa responden terbanyak pada kelompok umur 41 – 50 tahun 9 orang (30,0%) dan terendah pada kelompok umur 31 – 40 tahun yaitu 7 orang (23%).
4.3.1.2. Jenis Kelamin
Berdasarkan kuisoner didapatkan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 4.2. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1 Laki-Laki 11 36,7
2 Perempuan 19 63,3
Total 30 100,0
Tabel 4.2. menunjukkan bahwa bising terbanyak dengan jenis kelamin perempuan yaitu 19 orang (63,3%) dan terendah dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 11 orang (36,7%).
4.3.1.3. Pendidikan
Berdasarkan hasil kuisoner didapatkan karakteristik responden berdasarkan pendidikan.
Tabel 4.3. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1 Tidak Sekolah/tidak Tamat 2 6,7
2 SD 3 10,0
3 SLTP 3 10,0
4 SLTA 5 16,7
5 Sarjana 17 56,7
Total 30 100,0
Tabel 4.3. menunjukkan bahwa responden bising terbanyak dengan pendidikan Sarjana yaitu 17 orang (56,7%) dan terendah dengan tingkat pendidikan Tidak sekolah/tidak tamat yaitu 2 orang (6,7%).
4.3.1.4. Tekanan Darah
Berdasarkan hasil kuisoner didapatkan karakteristik responden berdasarkan pengukuran tekanan darah.
Tabel 4.4. Hasil Pengukuran Tekanan Darah Responden
No Tekanan Darah (mmHg) Jumlah Persentase (%)
1 120/110 mmHg 2 6,7
2 130/110 mmHg 2 6,7
3 140/110 mmHg 10 33,3
4 150/110 mmHg 16 53,3
Total 30 100,0
Tabel 4.4. menunjukkan bahwa hasil pengukuran tekanan darah seluruh tidak normal, tekanan darah normal adalah 120/80-130/80 mmHg. Bising terbanyak pada pasien dengan dengan tekanan darah 150/110 mmHg yaitu 16 orang (53,3%) dan terendah dengan tekanan darah 130/110 mmHg yaitu 2 orang (6,7%).
Berdasarkan pengumpulan hasil kuisoner di dapatkan responden dengan jenis penyakit yang diderita pada ruangan rawat inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
4.3.1.5. Penyakit Yang Diderita
Berdasarkan hasil kuisoner didapatkan karakteristik responden berdasarkan penyakit yang diderita .
Tabel 4.5. Responden Berdasarkan Penyakit Yang Diderita
No Penyakit Jumlah Persentase (%)
1 Diare 10 33,3
2 Demam 12 40,0
3 Diabetes Melitus 5 16,7
4 Penyakit Kulit 3 10,0
Total 30 100,0
Tabel 4.5. menunjukkan bahwa penyakit yang diderita responden di ruang rawat inap karena bising tetinggi pada responden yaitu demam 12 orang (40,0%) dan terendah pada penyakit kulit yaitu 3 orang (10,0%).
4.4. Sumber Bising Yang Utama
Berdasakan informasi responden tentang sumber kebisingan yang utama di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
Tabel 4.6. Sumber Bising Yang Utama Menurut Responden
No Sumber Bising Jumlah Persentase (%)
1 Lalu lintas kendaraan 9 30,0
2 Jasa Pencuci Motor 11 36,7
3 Suara Orang yang Berkunjung 5 16,7
4 Suara Benda Yang Bergerak 2 6,7
5 Suara Benda Yang Berbunyi 3 10,0
Total 30 100,0
Tabel 4.6. menunjukkan bahwa sumber kebisingan yang utama terbanyak berasal dari jasa pencuci motor yaitu 11 (36,7%) dan terendah berasal dari suara benda yang bergerak yaitu 2 orang (6,7%).
4.5. Hasil Pengukuran Tingkat kebisingan
Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan alat pengukur kebisingan Sound Level Meter maka di dapatkan rata-rata kebisingan di dua titik pengukuran yaitu di dalam dan luar ruangan rawat inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
Tabel 4.7. Rata-Rata Tingkat Kebisingan Dalam dan Luar Ruangan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan
No Ruangan Titik
Pengukuran Dalam Kamar Responden dB(A)
Titik
pengukuran Luar Kamar Responden dB(A)
Memenuhi Syarat/Tidak Memenuhi Syarat Kep MENLH
No.KEP48/MENLH/II/1996
VIP I
1 301 77,40 77,45 Tidak memenuhi Syarat
2 302 75,80 75,85 Tidak memenuhi Syarat
3 304 77,45 77,48 Tidak memenuhi Syarat
4 308 75,40 75,42 Tidak memenuhi Syarat
5 310 77,45 77,50 Tidak memenuhi Syarat
6 312 76,46 76,48 Tidak memenuhi Syarat
7 316 77,42 77,45 Tidak memenuhi Syarat
8 318 76,49 76,50 Tidak memenuhi Syarat
9 320 75,50 75,52 Tidak memenuhi Syarat
VIP II
10 202 77,50 77,52 Tidak memenuhi Syarat
11 203 77,45 77,46 Tidak memenuhi Syarat
12 207 76,58 76,60 Tidak memenuhi Syarat
13 209 77,46 77,48 Tidak memenuhi Syarat
14 211 77,50 77,51 Tidak memenuhi Syarat
15 212 76,80 76,88 Tidak memenuhi Syarat
16 214 76,52 76,54 Tidak memenuhi Syarat
17 216 77,45 77,46 Tidak memenuhi Syarat
18 220 76,54 76,56 Tidak memenuhi Syarat
KELAS II
19 Ester 1 77,45 77,46 Tidak memenuhi Syarat
20 Ester 3 77,50 77,52 Tidak memenuhi Syarat 21 Ester 6 77,43 77,45 Tidak memenuhi Syarat 22 Ester 8 76,45 76,47 Tidak memenuhi Syarat 23 Ester 10 76,80 76,83 Tidak memenuhi Syarat 24 Ester 12 77,43 77,45 Tidak memenuhi Syarat
Tabel 4.7. Rata-Rata Tingkat Kebisingan Dalam dan Luar Ruangan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Methodist Medan
KELAS II (EKONOMI)
25 Lydia 1 77,60 77,62 Tidak memenuhi Syarat 26 Lydia 4 77,66 77,68 Tidak memenuhi Syarat 27 Lydia 6 77,62 77,63 Tidak memenuhi Syarat 28 Lydia 9 77,65 77,66 Tidak memenuhi Syarat 29 Lydia 14 77,60 77,63 Tidak memenuhi Syarat 30 Lydia 15 77,66 77,67 Tidak memenuhi Syarat
Tabel 4.7. Menunjukan bahwa rata-rata tingkat kebisingan tertinggi ada pada dalam ruangan Lydia 4 dan Lydia 15 yaitu masing-masing sebesar 77,66 dB, sedangkan rata-rata kebisingan tertinggi pada luar ruangan Lydia 9 yaitu sebesar 77,66 dB, rata-rata tingkat kebisingan terendah ada pada dalam dalam VIP II kamar 308 yaitu 75,40 dB dan luar ruangan VIP II kamar 308 yaitu 75,42 dB.
4.6. Keluhan Gangguan Kenyamanan Responden
Berdasarkan hasil kuisoner di dapatkan responden mengalami keluhan gangguan kenyamanan.
Tabel 4.8. Keluhan Gangguan Kenyamanan Responden
No Keluhan Kesehatan Jumlah Persentase (%)
1 Susah Mendengar 2 6,7
2 Telinga berdengung 5 16,7
3 Gangguan Tidur 13 43,3
4 Telinga Berdengung 2 6,7
5 Stress/Mudah Marah 3 10,0
6 Denyut Nadi Tidak Teratur 5 16,7
Total 30 100,0
Tabel 4.8. menunjukkan bahwa responden yang mengalami keluhan gangguan kenyamanan karena bising terbanyak adalah gangguan tidur yaitu 13 orang (43,3%) dan terendah dengan keluhan telinga berdengung dan susah mendengar yaitu masing-masing yaitu 2 orang (6,7%).
4.7. Tabulasi Silang
Tabulasi silang antara karakteristik ( umur, jenis kelamin, tekanan darah, dan penyakit yang di derita) dan sumber bising di Rumah Sakit Umum Methodist Medan.
Tabel.4.9. Tabulasi Silang Umur Dengan Gangguan Kenyamanan Responden No Gangguan
Kenyamanan
Umur
Total 20-30 % 31-40 % 41-50 %
1. Susah Mendengar 0 0 0 0 2 100,0 2
2. Sakit Kepala 2 40,0 3 60,0 0 0 5
3. Gangguan tidur 7 53,8 2 15,4 4 30,8 13
4. Telinga Berdengung 0 0 0 0 2 100,0 2
5. Stress /Mudah
marah 0 0 1 50,0 1 50,0 2
6. Denyut nadi tidak
Teratur 0 0 1 20,0 5 80,0 5
Total 9 7 14 30
Tabel 4.9 . menunjukan bahwa umur responden paling banyak pada kelompok umur 41-50 tahun yaitu 14 orang dan terendah ada umur 31-40 tahun yaitu 7 orang.
Tabel.4.10. Tabulasi Silang Jenis Kelamin Dengan Gangguan Kenyamanan Responden
No Gangguan Kenyamanan
Jenis Kelamin
Total Laki-laki % Perempuan %
1. Susah Mendengar 1 50,0 1 50,0 2
2. Sakit Kepala 1 20,0 4 80,0 5
3. Gangguan tidur 7 53,8 6 46,2 13
4. Telinga Berdengung 1 50,0 1 50,0 2
5. Stress /Mudah
marah 1 33,3 2 66,7 3
6. Denyut nadi tidak
Teratur 0 0 5 100,0 5
Total 11 19 30
Tabel 4.10. menunjukan bahwa jenis kelamin responden terbanyak pada jenis kelamin perempuan dan terendah ada pada keluhaan denyut nadi tidak teratur dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 0 (0%).
Tabel.4.11. Tabulasi Silang Tekanan Darah Dengan Gangguan Kenyamanan Responden No Gangguan
Kenyamanan
Tekanan Darah
Total 120/
110 % 130/
110 % 140/
110 % 150/
110 %
1. Susah Mendengar 0 0 0 0 0 0 2 100,0 2
2. Sakit Kepala 0 0 1 20,0 4 80,0 0 0 5
3. Gangguan tidur 2 15,4 1 7,7 6 46,2 4 30,8 13
4. Telinga Berdengung 0 0 0 0 0 0 2 100,0 2
5. Stress /Mudah
marah 0 0 0 0 0 0 3 100,0 3
6. Denyut nadi tidak
Teratur 0 0 0 0 0 0 5 100,0 5
Total 2 2 10 16 30
Tabel 4.11. menunjukan bahwa tekanan darah responden terbanyak pada tekanan darah 150/80 mmHg dan terendah pada tekanan darah 120/110 mmHg dan 130/110 mmHg.
Tabel.4.12. Tabulasi Silang Penyakit Yang Diderita Dengan Gangguan Kenyamanan Responden
No Gangguan Kenyamanan
Penyakit Yang Diderita
Total Dia
re % Dem
am %
Diab etes Melli tus
%
Peny akit Kulit
%
1. Susah Mendengar 0 0 0 0 2 100,0 0 0 2
2. Sakit Kepala 1 20,0 2 40,0 2 40,0 0 0 5
3. Gangguan tidur 4 30,8 6 46,2 1 7,7 2 15,4 13
4. Telinga Berdengung 1 50,0 0 0 0 0 1 50,0 2
5. Stress /Mudah
marah 2 66,7 1 33,3 0 0 0 0 3
6. Denyut nadi tidak
Teratur 2 40,0 3 60,0 0 0 0 0 5
Total 10 12 5 3 30
Tabel 4.12. menunjukan bahwa penyakit yang di derita responden terbanyak pada penyakit Demam yaitu 6 orang (46,2%), dan terendah pada penyakit Diare yaitu 0 (0%).