• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis persediaan kayu jati dengan metode EOQ pada UD.Ronggo Jati Sragen dean

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis persediaan kayu jati dengan metode EOQ pada UD.Ronggo Jati Sragen dean"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

HALAMAN PERSETUJUAN

Tugas Akhir dengan judul :

ANALISIS PERSEDIAAN KAYU JATI DENGAN METODE EOQ PADA

UD.RONGGO JATI SRAGEN

Surakarta, 15 Februari 2010

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing

(2)

commit to user

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Tugas Akhir dengan judul :

ANALISIS PERSEDIAAN KAYU DENGAN METODE EOQ PADA

UD.RONGGO JATI SRAGEN

Telah disahkan oleh Tim Penguji Tugas Akhir Program Studi Diploma III Manajemen Industri Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Surakarta, April 2010 Tim Penguji Tugas Akhir :

Sinto Sunaryo,SE,M.SI

NIP.19750306 200012 2 001 Penguji

Sarwoto,SE

(3)

commit to user

MOTTO

Sahabat adalah teman setia yang slalu

menemani kita meski kita sudah melupakan

dan meninggalkan ia. Ia akan senantiasa

menunggu kita untuk memeluk dan menjaga

kita di saat susah,sedih , menanggis, dan

bahagia. (penulis)

Persahabatan bagaikan tangan dan mata ,

saat tangan terluka mata menangis. Saat

mata menangis tangan menghapusnya.

(penulis)

Tidak ada kata terlambat,kita harus bisa

jadi lebih baik,hari ini harus lebih baik

(4)

commit to user

v

PERSEMBAHAN

Atas kehendak Allah karya tulis ini kupersembahkan untuk :

- Alm.Bapak dan Ibu tercinta, semoga Allah senantiasa menjaga dan memberkati di dunia dan diakherat.

- Mbak Arum, Iin, Pungki, Pak Upik

(5)

commit to user

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT atas berkat, rahmat dan hidayahnya yang terlimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ANALISIS PERSEDIAAN

KAYU JATI DENGAN METODE EOQ PADA UD.RONGGO JATI

SRAGEN”. Tugas Akhir ini, penulis menyadari bahwa kelancaran dan

keberhasilan penulisan ini tidak pernah lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak, untuk itu dengan segenap hati penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Bambang Sutopo M.Com, M.Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret

2. Ibu Intan Novela QA, SE, MSi selaku Ketua Program D3 Manajemen Industri Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret 3. Bapak Sarwoto selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhir yang

sangat membantu dalam proses penggerjaan Tugas Akhir ini

4. Mbak Tutik dan Mbak Anik selaku Pembimbing Pendamping dari UD Ronggo Jati yang sangat membantu dalam mencari data

5. Alm Bapak, Doa semangat ibuku yang selalu menyertaiku ,Mbak Arum, Iin, adikku Pungki yang telah membantu ketik dan seluruh keluarga. Terima kasih atas segala yang kalian berikan.

6. Pak.Upik atas dukungan berupa materi

7. Junika Alvionita atas dukungan dan semangatnya

(6)

commit to user

vii

duka selama menimba ilmu di bangku kuliah mari kita teruskan perjuangan kita.

9. Semua pihak-pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang secara langsung maupun tidak langsung telah banyak membantu penulis dalam memyelesaikan tugas akhir ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan tugas akhir ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhirnya penulis berharap, karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Surakarta, 2009

(7)

commit to user

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

ABSTRAKSI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

E. Metode Penelitian... 5

1. Lokasi Penelitian ... 5

2. Sumber Data ... 5

3. Metode Pengumpulan Data ... 6

F . Kerangka Pemikiran ... 8

(8)

commit to user

ix

B. Jenis-jenis Persediaan ... 11

C. Fungsi Persediaan ... 12

D. Biaya-biaya yang Timbul dari Adanya Persediaan ... 13

E. Fungsi dan Tujuan Persediaan ... 15

F. Teknik Analisis ... 18

BAB III PEMBAHASAN A. Gambaran Objek Penelitian ... 25

1. Sejarah Perkembangan Perusahaan ... 25

2. Struktur Organisasi Perusahaan dan personalia... 25

3. Aspek Pemasaran Perusahaan ini meliputi ... 30

B. Laporan Magang Kerja ... 30

1. Pengertian ... 30

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang ... 31

3. Kegiatan Magang ... 31

C. Analisis Data ... 32

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 45

B. Saran ... 46

(9)

commit to user

DAFTAR TABEL

TABEL

3.1 Kebutuhan Kayu jati tahun 2007per m3 ... 33

3.2 Biaya Pemesanan Tahun 2007 ... 35

3.3 Biaya Penyimpanan Selama Tahun 2007 ... 37

3.4 Penghitungan Standar Deviasi ... 41

(10)

commit to user

xi

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR

1.1 Kerangka Pemikiran ... 8

2.1 Grafik EOQ ... 19

2.2 Grafik Safety Stock... 21

(11)

commit to user

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Pernyataan

(12)

commit to user

ABSTRAKSI

ANALISIS PERSEDIAAN KAYU JATI DENGAN METODE EOQ PADA

UD.RONGGO JATI SRAGEN

DEAN ANGGORO F3506077

Persediaan adalah salah satu hal yang berperan penting dalam pencapaian tujuan perusahaan. Dengan adanya persediaan yang optimal, maka perusahaan mampu memenuhi kebutuhan consumen di pasaran, tanpa harus menunggu barang karena kehabisan stock di gudang. Tanpa adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya pada statu waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang memerlukan atau meminta barang atau jasa yang di hasilkan. Oleh sebab itu perusahaan harus mempunyai persediaan yang optimal dalam kuantitas yang tepat, pada waktu yang tepat dan biaya yang minimal.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan persedian barang pada UD.RONGGO JATI, dengan menggunakan metode EOQ. Metode ini digunakan untuk menentukan pembelian/pemesanan dan biaya – biaya persediaan yang lebih ekonomis. Asumsi dalam menggunakan metode EOQ adalah ketersediaan barang yang dapat dipastikan/permintaan constan dan lead time.

Dari hasil analisis yang penulis lakukan yaitu dengan membandingkan kebijakan pengelolaan persediaan yang sekarang berlaku diperusahaan dengan menggunakan metode EOQ dalam menggadakan pemesanan barang, maka diperoleh kesimpulan bahwa menggunakan metode EOQ lebih optimal daripada kebijakan perusahaan. Hal ini bisa dilihat dengan menggunakan meyode EOQ diperoleh biaya persediaan yang lebih kecil, yaitu sebesar Rp. 50.102.230 sedangkan biaya persediaan menurut kebijakan perusahaan sebesar Rp. 65.940.000 sehingga terjadi selisih sebesar Rp.15.837.770. Untuk mengantisipasi hal – hal yang tidak di inginkan berhubungan dengan pengadaan barang, maka perusahaan perlu menyediakan persediaan penyelamat (safety stock) sebesar 11,055 m3. Perusahaan juga sebaiknya melakukan pemesanan kembali (reoder point) saat persediaan gudang tinggal 10,34 m3.

(13)
(14)
(15)

commit to user

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(16)

commit to user

2 Adanya pengadaan bahan baku yang besar dapat menyebabkan tingginya biaya penyimpanan serta investasi dalam persediaan bahan baku tentu saja menyebabkan berkurangnya dana investasi dalam bidang yang lain seperti peluasan produksi sehingga dapat menghilangi kemajuan perusahaan tersebut, dilain pihak adanya pengadaan bahan baku yang terlalu kecil atau sedikit memunculkan suatu keadaan tidak tercukupinya suatu kebutuhan sehingga proses produksi terhambat atau tidak berjalan lancar. Persediaan bahan baku yang kecil dapat mengakibatkan frekuensi pembelian bahan baku menjadi sangat tinggi, sehingga menyebabkan biaya – biaya persiapan pembelian bahan baku (ordering cost atau up cost) akan menjadi sangat tinggi pula dimana suatu perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar. Agar persediaan bahan baku dapat tercukupi untuk suatu proses produksi sangat diperlukan adanya pembelian bahan baku yang optimal. Adanya suatu fungsi manajerial sangat penting dikarenakan persediaan fisik (barang mentah, barang dalam proses, barang jadi dan pembantu lain). Merupakan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva lancar dalam suatu perusahaan (Handoko, 1999 : 333).

(17)

commit to user

– jaga kalau ada apa – apa) dari persediaan “just-in-time” (persediaan seperluanya). Akan tetapi pada dasarnya bahan baku sebernanya tidak hanya untuk menjaga kelangsungan proses produksi saja, tetapi mempunyai tujuan yang lebih jauh yaitu penentuan persedian bahan baku yang betul – betul dapat menimbulkan efisiensi bagi perusahaan karena itu berarti akan memperbesar beban bunga, memperbesar biaya penyimpanana dan pemeliharaan gudang, memperbesar kerugian karena kerusakan yang berakibat terhadap turunnya kualitas bahan baku sehingga semua ini akan memperkecil keuntungan perusahaan. Sebaliknya adanya investasi yang terlalu kecil dalam persediaan bahan baku akan mempunyai efek yang menekan keuntunganya juga, kekurangan material menjadikan perusahaan tidak dapat bekerja dengan kapasitas produksi yang penuh, selain itu akan mempertinggi biaya produksi rata – rata yang pada akhirnya akan mengurangi keuntungan yang diperolehnya.

Setiap perusahaan berusaha meminimalkan biaya total operasi yang ada dalam perusahaan dengan menentukan seberapa besar persediaan bahan baku perusahaan itu sendiri, berapa jumlah bahan baku yang harus dipesan setiap kali melakukan pemesanan dan kapan pemesanan bahan baku dilakukan.

(18)

commit to user

4 mulai menipis. Untuk itu penulis ingin menggunakan metode EOQ di dalam pengadaan bahan baku serta membandingkan antara kebijakan persediaan perusahaan yang tidak menggunakan EOQ dengan jika perusahaan menggunakan EOQ.

Berdasarkan uraian diatas, maka pengadaan bahan baku yang optimal perlu dilakukan oleh perusahaan. Sehingga penulis tertarik untuk mengetahui pengadaan bahan yang optimal pada sebuah perusahaan mebel. dalam penulisan tugas akhir ini dengan mengmbil judul “ANALISIS PERSEDIAAN KAYU JATI DENGAN METODE EOQ

PADA UD RONGGO JATI SRAGEN”

B. RUMUSAN MASALAH

Masalah-masalah pokok yang mendorong penelitian tentang penerapan analisys Pengendalian Bahan Baku pada UD Ronggo Jati adalah;

1. Berapa jumlah persedian bahan baku yang optimal dengan memakai metode EOQ

2. Berapa total biaya persediaan bahan baku pada UD Ronggo Jati 3. Berapa jumlah persedian pengaman yang dibutuhkan pada UD

Ronggo Jati

(19)

commit to user

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah 1. Untuk mengetahui jumlah persedian bahan baku kayu jati yang

optimal untuk perusahaan UD Ronggo Jati

2. Untuk mengetahui total biaya persedian bahan baku kayu jati 3. Untuk mengetahui jumlah persedian pengaman yang dibutuhkan 4. Untuk mengetahui kapan dilakukan pemesanan kembali bahan

baku kayu jati.

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak antara lain :

1. Bagi perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan bagi pimpinan perusahaan dalam membuat keputusan maupun kebijakan terutama yang berkaitan dengan pengendalian persediaan bahan baku untuk meminimasi biaya

2. Bagi penulis

Penelitian ini menambah pengetahuan, wawasan dan menerapkan teori yang didapat dari bangku kuliah khususnya tentang manajemen persediaan yang diterapkan dalam dunia kerja.

3. Bagi pihak lain

(20)

commit to user

6

E. METODE PENELITIAN

1. Lokasi penelitian

Penelitian dilaksanakan pada UD Ronggo Jati yang beralamat di Jl. Solo-Purwodadi km 17, Karang Rejo,Sragen

2. Sumber data

Sumber data yang digunakan antara lain : a. Data primer

Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data dengan cara melakukan wawancara dengan staf di bagian Administrasi,di bagian pengolahan dan dibagian persediaan.

b. Data sekunder

Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data dari catatan, dokumen perusahaan.

Contoh data sekunder adalah :

1. Mencari data tentang sejarah perusahaan

2. Mencari data tentang struktur organisasi beserta tugas dan wewenang.

3. Mencari informasi data tentang kebutuhan bahan baku pada tahun 2007

(21)

commit to user 3. Metode pengumpulan data

Penulis menggunakan pengumpulan data yaitu :

a. Interview atau wawancara merupakan bentuk komunikasi verbal yang bertujuan untuk memperoleh informasi.

b. Pemeriksaan dokumen yaitu membuka arsip – arsip yang kiranya berkaitan dengan data yang dibutuhkan penulis dari perusahaan.

c. Ovservasi langsung ke perusahaan yaitu melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk meperoleh tambahan data yang dibutuhkan mengenai persediaan bahan baku yang sebenarnya.

4. Metode analisis data

a. EOQ (economic order quantity)

Adalah metode untuk menentukan jumlah bahan baku yang dibeli untuk memperoleh biaya yang minimal atau ekonomis. 2DS = Q2H

Q2 = H DS 2

Q* = 2DS Dimana :

Q = jumlah barang setiap pemesanan

Q* = jumlah optimal barang per pemesanan (EOQ) D = permintaan tahunan barang persediaan, dalam unit

(22)

commit to user

8 H = biaya penahanan atau penyimpanan per unit per tahun Safety stock

Safety stock merupakan yang dicadangakan sebagai pengaman kelangsungan proses produksi dengan harapan proses produksi tidak akan terganggu hanya karena ketidakpastian adanya persediaan bahan baku

d =

( )

n x x

å

-b. Lead time

Untuk menjamin kelancaran proses produksi dan perlu memperhatikan jangka waktu antara pembelian bahan baku c. Reoder point

Reoder point adalah satu titik dimana harus diadakan pemesanan lagi sehingga bahan baku yang dipesan tiba tepat pada waktunya, yaitu pada saat persediaan sama dengan nol. Rumus reoder point adalah sebagai berikut :

ROP = d × L Dimana :

ROP = Reoder point L = Lead time

(23)

commit to user

F. KERANGKA PEMIKIRAN

Pemakaian bahan baku

Biaya persediaan EOQ

Perkiraan

Untuk mengetahui persediaan bahan baku optimal, maka perusahaan harus mengetahui pemakaian kebutuhan bahan baku. Kemudian dilakukan perhitungan dengan biaya persediaan yang dikeluarkan.

Selain itu perlu adanya persediaan pengaman (safety stock) untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan baku. Disamping harus punya persediaan pengaman (safety stock), perusahaan harus menetapkan kapan mengadakan pembelian atau pemesanan bahan baku (reoder point) yang dipengaruhi waktu tunggu. Setelah kebutuhan persediaan bahan baku tersebut dapat diketahui keberadaanya disaat bahan baku tersebut digunaka, dan untuk waktu tunggu dapat diketahui seberapa lama waktu yang diperlukan saat terjadi pemesanan bahan

Persediaan bahan baku yang optimal

(24)

commit to user

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Persedian

Persediaan menurut Sentono (1997:61) adalah kekayan lancar yang terdapat dalam perusahaan dalam bentuk persedian bahan mentah (bahan baku/raw material), barang setengah jadi (waktu proses), dan barang jadi (finished goods).

Sedangkan menurut Assauri (1999:169) Persediaan adalah aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha normal/persediaan barang-barang yang masih dalam pekerjaan atau proses produksi atau persedian bahan baku yang menunggu penggunaanya dalam proses produksi

Menurut Nasution (2003:103) persediaan adalah sumberdaya yang menganggur (iddle resource) yang menunggu proses lanjut. Yang dimaksud proses lanjut adalah berupa kegiatan produksi pada system manufaktur, kegiatan pemasaran pada system distribusi ataupun kegiatan konsumsi pangan pada system rumah tangga.

Dari pengertian-pengertian diatas maka dapat diketahui persedian merupakan sesuatu jenis kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan dalam bentuk barang-barang yang berupa bahan mentah, barang setengah jadi, serta barang jadi yang dengan maksud untuk dijual kembali secara langsung maupun melalui

(25)

commit to user

proses produksi dalam siklus normal perusahaan, atau barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi ataupun yang menunggu waktu penggunan dalam suatu proses produksi. Pada dasarnya suatu perusahan mempermudah atau memperlancar jalanya operasi pada penjualan untuk memenuhi kebutuhan para konsumen

Persedian barang dagangan adalah elemen yang sangat penting dalam menentukan harga pokok penjualan pada perusehaan dagang eceran maupun perusahaan dagang dengan partai besar. Perusahaan pengaruh terhadap neraca maupun laporan rugi laba. Dalam neraca sebuah perusahaan dagang atau perusahan dagang atau perusahaan manufaktur persedian seringkali merupakan bagian yang sangat besar dari keseluruh aktiva lancer yang dimiliki perusahaan. Perusahaan menggambarkan 70% dari keseluruhan aktiva lancar (Jusup, 1999:99)

B. Jenis – Jenis Persediaan

Menurut jenis dan posisi bahan didalam urutan pengerjaan produk, perusahaan dikelompokan menjadi (Handoko, 2000:334 – 335) :

1. Persediaan bahan mentah (Raw material)

(26)

commit to user

12 2. Persediaan komponen – komponen rakitan (Purchased

Parts/Component)

Persediaan barang – barang yang terdiri dari komponen –

komponen yang diperoleh dari perusahaan secara langsung dirakit menjadi satu produk.

3. Persediaan bahan pembantu/penolong (supplies)

Persediaan barang yang diperlukan dalam proses produksi,

tetapi tidak merupakan bagian atau komponen barang jadi. 4. Persediaan barang dalam proses (work in proses)

persediaan yang merupakan pengeluaran dan tiap – tiap

bagian dalam proses produksi atau apa yang telah diolah menjadi satu bentuk tetapi masih diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.

5. persedian barang jadi (finished goods)

persediaan barang – barang yang telah selesai diproses/diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan

C. Fungsi Persediaan

Menurut Handoko (2000:335 – 336) persediaan mempunyai 3 fungsi yaitu :

a. Fungsi Decoupling

Adalah memungkinkan operan – operan perusahaan internal

(27)

commit to user

Persediaan ini memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan langganan tanpa tergantung pada supplier

b. Fungsi Ekonomis Lot Sizing

Melalui penyimpanan persedian perusahaan dapat memproduksi dan membeli sumber – sumber daya alam kuantitas yang dapat mengurangi biaya – biaya per unit

c. Fungsi Antisipasi

Sering perusahaan menghadapi fluktasi permintaan yang dapat piperkirakan atau diramalkan berdasarkan pengalaman atau data – data masa lalu yaitu permintaan musiman

D. Biaya – Biaya Yang Timbul Dari Adanya Persediaan

Menurut Assauri (1999:72) biaya – biaya yang timbul dari adanya persediaan adalah :

1. Biaya Pemesanan (Ordering cost)

Biaya pemesanan adalah biaya yang dikaitkan dengan usaha untuk mendapatkan barang dari luar. Sifat biaya pemesanan ini adalah semakin besar frekuensi pembelian semakin besar biaya pemesanan

2. Biaya Penyimpanan (Carrying cost)

(28)

commit to user

14 a. Biaya Modal

Biaya modal meliputi biaya modal diinvestasikan persediaa, gedung dan peralatan yang diperlukan untuk mengadakan dan memelihara peralatan

b. Biaya Simpan

Biaya simpan meliputi: biaya sewa gedung, perawatan, dan perbaikan bangunan,listrik, gaji personel karyawan, pajak dan asuransi peralatan. Biaya tersebut ada yang bersifat tetap, variable, maupun semi fixed/semi variable c. Biaya Resiko

Biaya resiko persediaan meliputi: biya keuangan, asuransi persediaan, biaya susut secara fisik, dan resiko kehilangan 3. Biaya Kekurangan Persediaan

Biaya kekurangan persediaan terjadi apabila persediaan tidak tersedia digudang ketika dibutuhkan untuk produksi/ketika langganan menerimanya

4. Biaya kapasitas

(29)

commit to user 5. Biaya Bahan/Barang

Biaya bahan atau barang adalah harga yang harus dibayar atas item yang dibeli. Biaya ini akan dipengaruhi oleh besarnya diskon yang diberikan oleh supplier.

E. Fungsi Dan Tujuan Persediaan

Persediaan dapat membantu fungsi yang penting yang akan menambah fleksibilitas operasi perusahaan. Terdapat beberapa tujuan penting persediaan menurut (Zulfikarijah, 2005:6) :

1. Fungsi Ganda

Fungsi utama persediaan adalah memisahkan produksi dan distribusi. Pada saat penawaran atau item persediaan tidak teratur,maka mengamankan persediaan merupakan keputusan yang terbaik.

2. Mengantisipasi adanya inflasi

Persediaan dapat mengantisipasi perubahan harga dan inflasi, Penempatan persediaan kas dalam bank merupakan pilihan tepat untuk mengembalikan investasi.

(30)

commit to user

16 4. Menjaga adanya ketidakpastian

Dalam system persediaan terdapat ketidakpastian dalam hal permintaan, penawaran dan waktu tunggu. Persediaan pengaman dijaga untuk memproteksi adanya ketidakpastian, baik persediaan bahan baku, persediaan pengaman barang dalam proses maupun persediaan barang jadi. Misalnya persediaan bahan bakuharus dijaga untuk menantisipasi ketidakpastian pengiriman oleh penjual dan persediaan barang dalam proses harus dijaga untuk mengantisipasi terjadinya perubahan penjadwalan yang tidak tepat. Menjaga produksi dan pembelian yang ekonomis.

5. Menjaga produksi dan pembelian yang ekonomis

Seringkali perusahaan memproduksi skala ekonomis bahan baku dalam lot. Dalam hal ini lot produksi melebihi periode waktu dan tidak dilanjutkan ke produksi sampai lot mendekati habis. Kondisi ini memungkinkan dapat membengkaknya biaya persiapan mesin produksi dan pembelian bahan baku. Karena biaya pemesanan, diskon jumlah pemesanan, dan biaya transportasi seringkali lebih ekonomis pada pembelian dalam jumlah besar, maka sebagian lot dapat dijadikan persediaan untuk penggunaanya.

6. Mengantisipasi perubahan permintaan penawaran

(31)

commit to user

enam pengunanaan persediaan menurut (Render dan Heizer, 2001:314) :

1) Untuk memberikan suatu stock barang – barang agar dapat memenuhi permintaan yang diantisipasi akan timbul dari konsumen.

2) Untuk memasangkan produksi dengan distribusi. Misalnya, bila permintaan produknya tinggi hanya pada musim panas, suatu perusahaan dapat membentuk stock selama musim dingin, sehingga biaya pengurangan stock dan kehabisan stock dapat dihindari. Demikian pula, bila pasokan suatu perusahaan berfluktuasi, persediaan bahan baku ekstra mungkin diperlukan.

3) Untuk mengambil keuntungan dari potongan jumlah, karena pembelian dalam jumlah besar dapat secara substansial menurunkan biaya produk.

4) Untuk menghindari dari kekurangan stock yang dapat terjadi karena cuaca, kekurangan pasokan, masalah mutu, atau pengiriman yang tidak tepat. “safety stock” misalnya barang ditangan ekstra dapat mengurangi resiko kehabisan stock.

(32)

commit to user

18

F. Tehnik analisis

a. Economic Order Quantity

Menurut Rander dan Heizer (2001:316) merupakan teknik tertua juga sebuah metode manajemen persediaan yang paling terkenal Economic Order Quantity (EOQ), merupakan sebuah konsep dasar yang digunakan untuk menjawab pertanyaan “berapa jumlah yang harus dipesan” karena dengan semakin dekatnya perkiraan persediaan dengan terpenuhinya permintaan maka hal ini dapat menghemat opportunity cost pada perusahaan dan dapat meminimalisasikan biaya total. Konsep ini banyak digunakan di perusahaan-perusahaan atas usaha yang dilakukan oleh seorang konsultan yang bernama Wilson. Dan pada tahun 1915 FW, Harris mengembangkan rumus ini. Pada saat beberapa biaya menigkat dan yang lain menurun, maka keputusn ukuran pemesanan terbaik jarang terjadi. Ukuran lot terbaik akan menghasilkan persediaan yang mencukupi untuk mengurangi beberapa biaya penyimpanan. Dalam hal ini terdapat kompromi terhadap biaya tersebut. Model EOQ dapat digunakan untuk menentukan persediaan dengan syarat harus memenuhi beberapa asumsi dibawah ini:

(33)

commit to user

2) Harga item sama untuk semua ukuran pemesanan (tidak diskon)

3) Semua pesanan dikirim pada waktu yang sama

4) Lead time konstan dan diketahui dengan baik. Persediaan datang pada saat persediaan habis

5) Item merupakan produk tunggal dan tidak ada kaitanya dengan produk lain

6) Biaya penempatan dan pemesanan diabaikan untuk sejumlah pesanan

7) Stuktur biaya kusus digunakan dengan cara biya item untuk unit konstan dan tidak ada diskon untuk pembelian jumlah besar

Gambar 2.1

Grafik Economic Order Quantity

Q : Jumlah yang dipesan kapan saja persediaan mencapai titik pesanan kembali (R)

d : Tingkat permintaan dan penggunaan per hari. L : Lead time

Q

R R - dL

(34)

commit to user

20 Karena permintaan akan produk adalah konstan dan seragam, grafik persediaan dari waktu ke waktu berbentuk seperti dalam grafik 2-1 (ini menyebabkan mengapa EOQ sering disebut model Continuous).

Economic Order Quantity dicari dengan cara :

Jumlah pemesanan EOQ yaitu jumlah pemesanan yang dapat diminimalkan total biaya persediaan, sehingga persediaan biaya hanya dapat didasarkan pada biaya yang dapat mempengaruhi pemesanan dan pembelian yaitu total biaya pemesanan yaitu total pemesanan dan total biaya penyimpanan, sehingga :

TOC = TCC

Sehingga EOQ dapat dihitung dengan :

C ds EOQ= 2

b. Safety Stock

(35)

commit to user

ketidakpastian permintaan mengalami peningkatan, maka akan mengalami kehabisan stok (stock out). Safety stoc merupakan dilemma dimana adany stoct out akan berakibat terganggunya proses produksi dan adanya stoct yang berlebihan juga akan membengkakan penyimpanan biaya.

Gambar 2.2 Grafik Safety Stock

Maka tujuan model ini adalah menentukan besarnya persediaan (safety stock) untuk memimumkan biaya kehabisan bahan (expenced cost of shotages) dan biaya penyimpan persediaan pengaman. Gambar 2.2 memperihatkan kalau perusahaan tidak memiliki pengalaman maka perusahaan akan mengalami kekurangan bahan.

Menurut Zulkifikarijah (2006:144) ada beberapa factor yang dapat menyebabakan perusahaan melakukan safety stock, yaitu

1. Biaya atau kerugian yang disebabkan oleh stock out tinggi. Apabila bahan yang digunakan untuk proses produksi tidak

Pesanan diterima

(36)

commit to user

22 tersedia, maka aktivitas perusahaan akan terhenti yang menyebabkan terjadinya idle tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang pada akhirnya perusahaan akan kehilangan penjualan. Stock out pada produk jadi menyebabkan pengiriman tertunda dan pelanggan harus menunggu akibat keterlambatan ini.

2. Variasi atau ketidakpastian permintaan yang meningkat. Adanya jumlah permintaan atau tidak sesuai dengan peramalan yang ada diperusahaan menyebabkan tingkat kebutuhan persediaan yang meningkat pula, oleh karena itu perlu dilakakan antisipasi terhadap safety stock agar semua permintaan dapat terpenuhi.

3. Resiko Stockout meningkat. Keterbatasan jumlah peserdiaan yang ada di pasar dan kesulitan yang dihadapi perusahaan mendapat persediaan akan berdampak pada sulitnya terpenuhi persediaan yang ada diperusahaan, kesulitan ini akan menyebabkan persediaan mengalami stock out.

(37)

commit to user

Persediaan pengaman (Sefety Stock) dicari dengan cara : SS=d max - d

d max = permintaan maxsimum per hari d = permintaan per hari

c. Reorder Point

Setelah kita menentukan beberapa persediaan yang akan dipesan ,kita akan melihat pada pertanyaan persediaan yang kedua , kapankah pemesanan kembali akan dilakukan . model persediaan sederhana EOQ mengasumsikan bahwa suatu permintaan pesanan bersifat seketika, dengan kata lain mengasumsikan bahwa suatu perusahaan akan menunggu sampai tingkat persediaanya sampai nol sebelum perusahaan memesan kembali. Dan dengan seketika kiriman yang dipesan akan diterima. Akan tetapi waktu diantara pemesanan hingga saat barang diterima disebut Leat Time, dan basa saja pengirim bias lebih cepat atau terlambat, maka metode ini dinamakan RQP ( Re Order Poin) yang memiliki fungsi membarikan pertimbangan atas keputusan kapankah perusahaan akan memesan persediaan kembali, hal ini dapat diungkapkan dalam konteks pemesanan ulang.

Titik Pemesanan Ulang dicari dengan cara: ROP =U x L

U = Permintaan per hari

(38)

commit to user

24 Untuk permintaan per hari dicari dengan cara:

D =

hari per ja jml

D ker

(39)

commit to user

BAB III PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Perusahaan

1. Sejarah Perkembangan Perusahan

UD. RONGGO JATI yang berlokasi di Karangrejo kalijambe, Sragen adalah perusahaan yang bergerak di bidang furniture, yang menyediakan berbagai macam produk furniture, almari, meja kursi dll

Perusahaan ini didirikan oleh Bapak Surono pada tahun 1988. Bapak Surono adalah pemimpin utama perusahaan ini, selama perusahaan ini berdiri belum terjadi pergantian pemimpin, selama dipimpin bliau perusahaan ini mengalami kemajuan yang pesat.

Perusahaan ini pertama kali usaha hanya memproduksi kusen-kusen dan jual beli kayu glondongan. Semakin berkembangnya zaman dan respon yang baik dari konsumen maka perusahaan ini mulai bergerak di bidang furniture yang mulai berkembang hasil-hasil produksinya mulai dari pintu ukir, almari, kusen, meja makan dll. Produksi barang-barang masih masih dilingkup pasar lokal dan pesanan dari mitra kerja. Di tahun 2011 perusahaan akan untuk menembus pasar ekspor dangan lebih meningkatkan kwalitas barang produksi.

2. Struktur Organisasi Perusahaan dan Personalia

(40)

2

6

STRUKTUR ORGANISASI UD RONGGO JATI

Pimpinan

Keuangan

Administrasi

Kasir

Kepala Gudang

Administrasi Gudang

Bagian Umum

Sopir

Bagian Produksi

Teknisi

Gambar 3.1

Struktur Organisasi UD. Ronggo Jati

(41)

Dibawah ini adalah uraian dan tugas dari masinng-masing bagian struktur

organisasi UD.RONGGO JATI :

1) Pimpinan

Tugas dan tangging jawab pimpinan adalah:

a) Menetapkan kebijakan umun dalam menyusun rencana kerja dan

rencana anggaran pendapatan dan belanja perusahaan.

b) Memberikan penilaian, pengarahan dan saran tentang kinerja

perusahaan yang dilakukan oleh para bagian bawah pimpinan

c) Penanggung jawab utama semua kegiatan dan usaha untuk

mencapai tujuan perusahaan

2) Keuangan

Tugas dan tanggung jawab bagian keuangan adalah

a) Membuat catatan pembukuan terhadap transaksi-transaksi yang

dilakukan oleh perusahaan

b) Bertanggung jawab atas keamanan keuangan perusahaan

3) Kepala Gudang

Tugas dan tanggung jawab seorang kepala gudang adalah

a) Mengawasi kegiatan keluar masuk barang yang ada digudang

b) Mengelola dan mengatur barang yang datang

4) Administrasi Gudang

Tugas dan tanggung jawab administrasi

(42)

commit to user

28 c) Membuat dan menghitung retur barang

5) Bagian Umum

Tugas dan tanggung jawab bagian umum

a) Mengatur dan mengontrol bagian teknis yang ada diperusahaan

b) Menangani masalah transportasi kendaraan diperusahaan

6) Sopir

Tugas dan tanggung jawab sopir adalah mengantar pesanan barang

kepada pelanggan.

7) Keamanan

Bertugas menjaga dan mengamankan perusahaan selama 24 jam dan

menerima dan mengecek truk bawaan perusahaan

8) Bagian Produksi

Tugas dan Tanggung jawab karyawan adalah memproduksi barang

dari barang mentah menjadi barang jadi

b. Personalia

1) Jumlah keryawan

Jumlah karyawan di UD.Ronggo Jati berjumlah 70 orang untuk

karyawan tetap dengan rincian :

a) Keuangan 4 Orang

b) Bagian Gudang 5 Orang

c) Bagian Umum 1 Orang

d) Bagian Produksi 51 Orang

(43)

f) Teknisi 2 Orang

g) Keamanan 2 Orang

70 Orang

2) Jam Kerja

Jam kerja yang berlaku pada UD.Ronggo Jati adalah sebagai

berikut :

Senin – Jum’at : Pukul 08.00 – 16.00 WIB

Istirahat : Pukul 12.00 - 13.00 WIB

3) Sistem Penggajian

Sistem penggajian yang berlaku di UD.Ronggo Jati dibagi

berdasarkan atas jabatan dan tingkat keahlian karyawan yaitu :

a) Karyawan Tetap

Pembayaran dilakukan secara bulanan dan dibayarkan setiap

tanggal 10.

b) Karyawan Harian

Pembayaran dilakukan setiap hari Sabtu

4) Kesejahteraan karyawan

Dalam hal ini UD.Ronggo Jati juga juga memperhatikan

kesejahteraan dan anggota keluarga dalam bentuk

a) Memperoleh tunjangan hari raya (THR)

b) Biaya pengobatan jika terjadi kecelakaan kerja

(44)

commit to user

30 3. Aspek Pemasaran Perusahaan ini Meliputi

a. Produk

Produk yang terdapat pada UD.Ronggo Jati antara lain pintu ukir,

almari, meja rias, kursi tamu,kusen-kusen, dipan, meja makan, meja

kursi berbagai jenis dan model.

b. Harga

Penetapan harga tiap produk berdasarkan ukuran, jenis kayu yang

digunakan dan tingkat kerumitan ukiran

c. Saluran Distibusi

Distribusi menurut Gitosudarmo (1999:253) adalah kegiatan yang

harus dilakukan oleh pengusaha untuk menyalurkan, menyebarkan,

mengirim serta menyampaikan barang yang dipasarkan itu kepada

konsumen. Dalam menentukan saluran distribusi sebaiknya

perusahaan harus berhati-hati. Karena peran ini Sangat penting baik

bagi perusahaan maupun konsumen.

B. LAPORAN MAGANG KERJA

1. Pengertian

Magang kerja asalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh

mahasiswa baik secara kelompok maupun individu yang terjun

langsung didunia kerja. Magang kerja wajib dilakukan oleh mahasiwa

Diploma Tiga jurusan Manajemen Industri semester akhir waktu

(45)

2. Waktu dan Pelaksanaan Magang Kerja

Magang dilaksanakan selama satu bulan yaitu tanggal 2 Maret

2009 sampai dengan tanggal 3 Maret 2009, atau selama liburan

semester V. Sedangkan pelaksanaan adalah hari Senin – Jum’at :

Pukul 08.00-14.00 WIB.

Magang kerja dilaksanakan di UD.Ronggo Jati yang terletak di

Jl.Solo-Purwodado km.17, Kalijambe, Sragen.

3. Kegiatan Magang

Selama mengikuti magang mahasiswa wajib melaksanakan

kegiatan yang di tetapkan oleh perusahan, kegiatan tersebut meliputi

a) Minggu pertama dan kedua

Selama minggu pertama dan kedua masiswa melakukan kegiatan

sebagai berikut:

1) Perkenalan dengan staff kantor maupun bagian gudang

2) Mencatat dan mengumpulkan data perusahaan yang

diperlukan.

b) Minggu ketiga dan keempat

Kegiatan minggu ketiga dan keempat meliputi :

1) Membantu karyawan dibagian administrasi gudang

(46)

commit to user

32

C. Analisis Data

Metode yang penilis gunakan dalam penelitian mengenai data persediaan

barang UD. Ronggo Jati adalah metode Economic Order Quantity (EOQ).

EOQ adalah suatu metode untuk menganalisa jumlah pengadaan barang

1. Analisis menurut kebijakan perusahaan

Selama ini UD.Ronggo Jati memperoleh bahan baku dari supplier ,

tetapi perusahaan menerapkan pengendalian kwalitas yang ketat dan teliti

mengenai bahan baku supaya produksinya berkualitas baik.

Kebutuhan bahan baku dari tahun ke tahun semakin meningkat

disebabkan oleh pesanan yang meningkat. Persediaan kebutuhan bahan

baku kayu jati selama ini menyesuaikan kondisi barang yang ada

digudang, sehingga perusahaan sering mengalami kekurangan bahan

baku kayu jati karena pemesanan dilakukan saat persediaan kayu jati

digudang mulai menipis, hal ini dapat berdampak pada pelayanan kepada

konsumen, jika banyak pesanan maka perusahaan tidak dapat memenuhi

semuanya dan pengirimanpun bisa tidak tepat waktu.

Perusahaan perlu lebih memperhatikan jumlah dan kualitas pembelian

bahan baku yang lebih ekonomis. Sehingga terkadang perusahaan akan

mengalami kekurangan dan kelebihan bahan baku dan dapat

(47)

= 45,5 m3

Berikut adalah data kebutuhan kayu jati tahun 2007 per m3 :

Tabel 3.1

Kebutahan kayu jati tahun 2007 per m3

No Periode Kebutuhan (X)

Sumber UD. Ronggo Jati Tahun 2007

1). Jumlah pengadaan rata-rata barang

Jumlah pengadaan rata-rata barang pada periode 2007 yang

dilakukan UD. Ronggo Jati setiap bulan adalah sebagai berikut:

= Jumlah kebutuhan barang selama setahun

Frekuensi pengadaan selama satu tahun

= 546

(48)

commit to user

34 2) Biaya Pemesanan

Biaya pemesanan adalah biaya yang akan terkait langsung

dengan kegiatan pemesanan barang oleh perusahaan. Biaya ini akan

semakin besar bila perusahaan semakin sering melakukan kegiatan

pemesanan barang. Biaya pemesanan tidak memperhitungkan jumlah

unit yang dipesan, namun biaya ini cuma menghitungkan frekuensi

pemesanan. Biaya –biaya yang ditanggung oleh UD. Ronggo Jati

adalah sebagai berikut.

a) Biaya Telepon

Yaitu biaya yang timbul karena adanya komunikasi lewat telepon

didalam proses pemesanan kayu jati selama tahun 2007. Yaitu

sebesar Rp 1.820.000

b) Biaya bongkar muat barang

Yaitu biaya yang timbul akibat pemakaian tenaga untuk

memindahkan kayu jati dari truk ke gudang. Perusahaan mempunyai 4

pekerja dengan gaji setiap bongkar muat kayu jati sebasar Rp

40.000/orang. Selama tahun 2007 terjadi 22 kali bongkar muat kayu

jati.

4 orang x Rp 40.000= Rp 160.000

(49)

c) Biaya transportasi

yaitu biaya yang terjadi karena pemakaian kendaraan

perusahaan untuk penggambilan bahan baku kayu jati.biaya

trnsportasi ini meliputi biaya pembelian solar pada truk angkut.

Selama tahun 2007 total biaya transprotasi untuk penggambilan

kayu jati sebesar Rp 10.050.000

Berikut adalah jumlah biaya pemesananyang dilakukan

UD.Ronggo Jati

Tabel 3.2

Biaya pemesanan tahun 2007

Jenis biaya Jumlah

Biaya telepon Biaya bongkar muat Biaya transportasi

Rp 1.820.000 Rp 3.520.000 Rp 10.050.000

Jumlah Rp 15.390.000

Sumber UD. Ronggo Jati tahun 2007

Maka biaya pemesanan sekali pesan untuk pengadaan barang

adalah

= Rp 15.390.000

12

(50)

commit to user

36 3) Biaya Penyimpanan

Biaya penyimpanan yaitu biaya yang harus ditanggung oleh

perusahaan karena adanya penyimpanan barang. Biaya penyimpanan

akan semakin tinggi jumlahnya apabila jumlah unit yang disimpan

semakin besar. Biaya penyimpanan tidak terpengaruh dengan jumlah

frekuensi pemesanan barang.

Berikut adalah biaya-biaya penyimpanan yang ditanggung oleh UD

Ronggo Jati

a) Biaya penyusutan gedung

Pada saat ini gedung UD.Ronggo Jati telah memiliki gedung

sebagai tempat penyimpanan barang sehingga perusahaan tidak

mengeluarkan uang untuk menyewa gedung .

Perkiraan biaya pengusutan gedung sebesar Rp 1.000.000

b) Biaya tenaga kerja gudang

Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar gaji

karyawan bagian gudang yaitu karyawan yang bertugas menata dan

mengatur barang digudang. UD. Ronggo Jati memperkerjakan 6 orang

tenaga kerja dengan gaji Rp 25.000 perhari

6 orang x Rp 25.000 x 300 =Rp 45.000.000

c) Biaya listrik

Biaya yang disediakan perusahaan untuk membayar pemakaian

(51)

perusahaan telah menetapkan sebesar 50% dari keseluruhan biaya

yang akan dikeluarkan oleh perusahaan.

50% x Rp 6.100.000 = Rp 3.050.000

d) Biaya perawatan gudang

Biaya yang disediakan perusahaan untuk merawat &

membersihkan gudang agar gudang layak dipakai untuk menyimpan

barang sebesar Rp 1.500.000. Biaya perawatan gedung ini biasanya

meliputi pengecatan gedung, pembenahan atap jika ada yang rusak.

Berikut adalah jumlah biaya penyimpanan barang UD.Ronggo

Jati selama tahun 2007.

Tabel 3.3

Biaya penyimpanan selama tahun 2007

Jenis biaya Jumlah Biaya

Biaya penyusutan gedung Biaya tenaga kerja gudang Biaya listrik

Jumlah Rp 50.550.000

Sumber : UD. Ronggo Jati tahun 2007

Biaya penyimpanan untuk persediaan barang adalah

Rp50.500.000, sehingga besar biaya penyimpanan per unit adalah :

(52)

commit to user

38 4) Total Biaya Persediaan (Total Inventory Cost)

Menurut kebijakan perusahaan yaitu jumlah total biaya yang harus

dikeluarkan perusahaan untuk menyediakan barang. Selama ini UD.

Rongga Jati belum menggunakan suatu metode tertentu untuk

menghitung biaya persediaan.

Diketahui :

pesan Biaya pesan sekali : Rp 1.282.500

Biaya simpan per unit : Rp 92.582,418

Sehingga biaya persediaan selama tahun 2007 adalah

TIC : Biaya pemesanan + Biaya penyimpanan

: (Rp 1.282.500 x 12) + (Rp 92.582,418 x 546)

: Rp 15.390.000 + Rp 50.550.000

: Rp 65.940.000

2. Analisis dengan Metode EOQ

Metode yang penulis gunakan dalam penelitian mengenai data

persediaan barang UD. Rongga Jati adalah metode Economical Order

Quantity (EOQ). EOQ adalah suatu metode untuk menganalisis

jumlah pengadaan barang yang paling ekonomis dalam pengadaan

barang atau bahan. Dengan pengadaan yang lebih ekonomis dapat

menekan atau mengurangi biaya untuk pengeluaran perusahaan

terutama biaya-biaya yang menyangkut persediaan. Langkah dalam

(53)

a) Analisis besarnya persediaan barang yang optimal

1) Biaya penyimpanan per unit (C) : Rp 92.582,418

2) Biaya pemesanan sekali pesan (S) : Rp 1.282.500

3) Kebutuhan barang selama 1 tahun (D) : 546

Maka persediaan barang yang optimal adalah

Q* =

b) Frekuensi pengadaan yang ekonomis untuk kebutuhan barang

selama tahun 2006 adalah sebagai berikut :

Frekuensi pengadaan =

Q

setahun barang

kebutuhan Jumlah

Frekuensi pengadaan =

123 546

Frekuensi pengadaan = 4,4 kali

Jadi, Frekuensi pengadaan = 4,4 kali.

c) Total biaya persediaan atau Total Inventory Cost

Total persediaan atau total inventory cost adalah jumlah

keseluruhan biaya persediaan meliputi biaya pemesanan dan biaya

penyimpanan barang. Cara menghitung total biaya persediaan

(54)

commit to user

Sehingga biaya total persediaan selama satu tahun adalah :

= Frekuensi pemesanan x TIC

= 4,3 x Rp 11.386.870,59

= Rp 50.102.230,58

3. Menentukan Persediaan Pengamanan (Safety Stock)

Kebutuhan perusahaan akan adanya barang tidak akan sama

setiap bulannya, selain itu barang yang dipesan oleh perusahaan

belum tentu selalu datang pada waktunya. Hal ini perlu diantisipasi

oleh manajemen perusahaan yaitu dengan menyediakan persediaan

pengamanan atau safety stock hal ini dimasukkan agar konsumen

tidak kecewa apabila barang yang di gudang kehabisan stock barang.

(55)

dengan metode statistik yaitu dengan membandingkan pemakaian

barang sesungguhnya dengan rata-rata pemakaian barang kemudian

dicari berapa besar penyimpangannya atau standar deviasi. Standar

deviasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

SD =

Penghitungan Standar Deviasi

(56)

commit to user

42 Dengan asumsi bahwa manajemen perusahaan menggunakan dua

standar penyimpanan atau penyimpangan yang paling ujung yang

tidak ditolerir, serta dengan mempergunakan satu sisi dari kurve

normal (yang mempunyai nilai 1,65 dimana nilail ini dapat dilihat dalam

tabel area kurve normal). Maka perhitungan besarnya persediaan

pengaman adalah sama dengan nilai dari dua standar penyimpangan

yang ada yaitu sebagai berikut :

Safety stock = Z x Standar Deviasi

= 1,65 x 6,7

= 11,055

4. Analisis Titik Pemesanan Kembali (Re Order Point)

Lead Time pada UD. Rongga Jati adalah dua hari, maka untuk

menghitung rata-rata dengan asumsi bahwa setahun adalah 300 hari

yaitu :

Penggunaan rata-rata per hari =

hari kebutuhan Jumlah

300

= 300 546

= 1,82

Jadi, besarnya Re Order Point adalah sebagai berikut :

Re Order Point = d x L x ss

(57)

Jadi, pemesanan kembali barang harus dilaksanakan oleh perusahaan

pada waktu persediaan di gudang sebesar 10,34 m3

Tabel 3.5

Perbandingan Antara Kebijakan Perusahaan dengan Metode EOQ

No. Keterangan Kebijakan

Perusahaan

Metode EOQ Selisih

1 Pengadaan rata-rata

barang

45,5 122,9 77,4

2 Persediaan

penyelamat

Tak ada 11,055 11,055

3 Titik pemesanan

kembali

Tak ada 10,34 10,34

4 Total biaya persediaan Rp 65.940.000 Rp 50.102.230 15.837.770

Dari tabel tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1) Pengadaan rata-rata barang menurut kebijakan perusahaan

sebesar 45,5 m3 sedangkan menurt EOQ adalah sebesar 122,9.m3

2) Menurut kebijakan perusahaan persediaan penyelamatan tidak ada

sedangkan menurut metode EOQ perusahaan harus mengadakan

persediaan penyelamatan sebesar 11,055 m3

3) Perusahaan tidak mencatat pasti kapan harus melakukan

pemesanan kembali tetapi menurut metode EOQ perusahaan

harus mengadakan pemesanan kembali saat persediaan tinggal

10,34 m3.

4) Besar biaya perusahaan menurut kebijakan perusahaan adalah

Rp65.940.000, sedangkan analisis metode EOQ besarnya biaya

(58)

commit to user

44

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A Kesimpulan

Berdasarkan pada analisis data pada UD.GONGGO JATI maka dapat

diperoleh kesimpulan sebagai berikut

1. Mengacu pada metode EOQ, kebijakan perusahaan tentang

pengadaan barang belum dilakukan seoptimal mungkin, hal ini dapat

dilihat dari hasil analisis yang penulis lakukan yaitu jumlah pengadaan

rata-rata barang yang dipesan perusahaan menurut kebijakan

sekarang adalah sebesar 45,5 m3. Sedangkan menurut metode EOQ

adalah sebesar 122,9 m3. Jadi jumlah persediaan barang optimal yang

harus dipesan oleh perusahaan agar penjualan tetap lancer adalah

sebesar 122,9 m3.

2. Bersarnya biaya persediaan barang menurut kebijakan perusahaan

yaitu sebesar Rp65.940.000. Dibandingkan dengan dengan biaya

persediaan menurut kebijakan perusahaan, perhitungan dengan

metode EOQ relative lebih rendah yaitu sekitar Rp50.102.230

3. Besarnya persediaan penyelamatanatau safety stock yang harus

disediakan UD.RONGGO JATI untuk penjualan barang adalah

sebesar 11,055 m3. Hal ini dapat dilakukan dengan pertimbangan

apabila perusahaan berada pada saat junlah permintaan mengalami

lonjakan maka safety stock dapat menutupi permintaan tersebut,

sehingga proses penjualan dapat berjalan lancar.

(59)

4. Melalui analisis yang penulis lakukan UD.RONGGO JATI sebaiknya

melakukan pemesanan barang kembali (Ro Order Poin) apabila

persediaan digudang kususnya kayu jati tinggal 10.34 m3. Kondisi ini

perlu diperhatikan agar perusahaan tidak mengalami kehabisan stock

atau kekurangan barang.

B.Saran

Dari kesimpulan diatas penulis dapat memberikan saran untuk

UD.Ronggo Jati dijadikan bahan pertimbanganbagi pihak perusahaan

dalam pengadaan persediaan barang yaitu :

1. Perusahaan sebaiknya menerapkan metode EOQ dalam melakukan

pengadaan persediaan barang dengan asumsi dengan pertimbangan

analisis yang penulis lakukan, karena dengan metode EOQ lebih

dapat meningkatkan efisiensi dan mencapai biaya persediaan barang

yang lebih ekonomis dibandingkan dengan kebijakan perusahaan

yang sekarang diterapkan.

2. Perusahaan sebaiknya menyediaan persediaan penyelamat (Safety

Stock) untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan

sehubungan dengan persediaan barang agar tidak terjadi kekurangan

barang sehingga proses penjualan tidak terganggu.

3. Perusahan hendaknya melakukan pemesanan kembali (Re Order

Point) untuk menghidari keterlambatan pesanan barabg saat saat

Gambar

   TABEL
GAMBAR  1.1 Kerangka Pemikiran .................................................................
Gambar 1.1 Kerangka pemikiran
   Gambar 2.1
+7

Referensi

Dokumen terkait

31 tahun 1997 merumuskan bahwa yang dimaksud dengan pemeriksaan tanpa hadirnya terdakwa dalam pengertian In absentia adalah pemeriksaan yang dilaksanakan supaya perkara

Romo paroki berperan memasukkan standar atau jobdesk dewan bendahara dan tim akuntan itu di Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki (PPDP). Terkait dengan penentuan penerapan

TU URUT TE RUT TE rut terguga RUT TER RUT TER RUT TER URUT T URUT T URUT TE URUT TE RUT TER URUT TE URUT TE RUT TER ERBAND ERBANDI at I s/d tur RBANDI RBANDI RBANDI TERBAND

bahwa system membantu melakukan banyak transaksi. Ukur dan kelola nilai kembali pemasaran : dalam hal ini CRM yang baik akan memantau biaya pemasaran dan peranya dalam

Terdapat tiga komponen lalu lintas yaitu manusia sebagai konsumen, kendaraan dan jalan yang saling melakukan interaksi dalam pergerakan kendaraan yang memenuhi kondisi

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa mahasiswa Pendidikan Kimia semester 6 memiliki keenam aspek keterampilan berpikir kritis, yakni aspek memberikan

1. Mengetahui kinerja Badan Permusyawaratan Desa dalam menjaring aspirasi masyarakat dalam pembangunan. Pendekatan yang dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa dalam

Pendidikan Jasmani di sekolah tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, hal ini terlihat dari siswa masih kesulitan dalam memahami konsep dan penguasaan terhadap teknik