• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. KOLONISASI FUNGI SELAMA PROSES DEKOMPOSISI SERASAH DAUN Avicennia marina PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "V. KOLONISASI FUNGI SELAMA PROSES DEKOMPOSISI SERASAH DAUN Avicennia marina PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

5.1. Pendahuluan 5.1.1. Latar Belakang

Fungi merupakan satu di antara berbagai kelompok mikroorganisme yang memainkan peran sangat penting dalam proses dekomposisi serasah bahan- bahan tumbuhan. Selain fungi, kelompok mikroorganisme dan organisme lain seperti bakteri, cacing, kepiting dan lain-lain, serta faktor lingkungan juga ikut mengambil bagian dalam proses dekomposisi serasah tersebut. Fungi memainkan peran penting dalam ekosistem mangrove terutama dalam hubungannya dengan bakteri untuk mempercepat dekomposisi serasah daun (Fell dkk., 1975). Fungi merupakan pengurai utama dalam dekomposisi daun- daun mangrove karena mempunyai kemampuan untuk menguraikan selulosa dan lignin. Seperti diketahui selulosa dan lignin secara bersama merupakan komponen utama penyusun dinding sel di daun.

Nakagiri dkk., (1996) mengemukakan bahwa dalam ekosistem mangrove terdapat beranekaragam jenis fungi yang meliputi suku Ascomycotina, Basidomycotina, Deuteromycotina dan Mastigomycotina. Di antara bermacam kelompok jenis fungi ini, ada yang mempunyai kemampuan mendekomposisi ranting, akar tunjang (prop root), serasah daun, dan bagian-bagian pohon lainnya. Selain itu jenis-jenis fungi tersebut juga berperan dalam kelangsungan ekosistem mangrove.

Dari hasil penelitian Ito dan Nakagiri (1997) diketahui bahwa pada rizosfer Sonneratia alba terdapat 9 jenis fungi yang terdiri atas : Acremonium sp., Alternaria alternata, Cylindrocarpon destractans, Fusarium moniliforme, Pestalotiopsis sp.1 Pencillium sp. 1, Trichoderma harzianum, dan 2 jenis tidak teridentifikasi. Adapun pada rizosfer A. marina ditemukan 10 jenis fungi, yaitu : Aspergillus aculeatus, Engyodontium album, Gliomastix murorum, Pencillium sp.

2, Pencillium sp. 3, Pencillium sp. 4, Trichoderma aureoviride, Trichoderma harzianum, Virgaria nigra, dan 1 jenis tidak teridentifikasi.

Kuthubutheen (1984) menggunakan teknik pencucian dan observasi langsung, untuk mengetahui fungi yang terdapat pada daun mangrove A. alba

(2)

dan R. mucronata. Dengan teknik pencucian didapatkan marga-marga fungi sebagai berikut : Aspergillus, Choanephora, Cladosporium, Curvularia, Fusarium, Nigrospora, Penicillium, Pestalotiopsis, Trichoderma dan Zygisporium. Adapun marga dan jenis-jenis fungi yang didapatkan dengan cara observasi langsung jumlahnya lebih kecil dibanding marga-marga fungi yang didapatkan dengan teknik pencucian, antara lain : Cladosporium oxysporum , Corynespora cassicolla, Fusarium, Penicillium, Pestalotiopsis guepini dan Zygosporium masonii. Jenis- jenis dan marga fungi tersebut dapat tumbuh pada kedua permukaan daun tumbuhan mangrove tersebut. Selain meneliti marga dan bebagai jenis fungi yang terdapat pada kedua jenis daun mangrove tersebut Kuthubutheen (1984) juga melihat hubungan antara kandungan tanin daun-daun mangrove dengan jumlah jenis fungi. Diketahui bahwa jenis fungi yang terdapat pada daun Rhizophora yang mempunyai kandungan tanin lebih tinggi daripada daun Avicennia adalah Pestalotiopsis guepini dan P. versicolor. Adapun pada daun Avicennia ditemukan Fusarium.

Habitat mangrove adalah rumah bagi kelompok jenis fungi yang disebut

“manglicolous fungi”. Kelompok organisme ini berperan dalam siklus unsur hara pada habitat mangrove (Kohlmeyer dkk., 1995). Kohlmeyer dan Kohlmeyer (1979) menemukan 43 jenis fungi yang terdiri atas 23 Ascomycotina, 17 Deuteromycotina dan 3 Basidiomycotina. Ravikumar dan Vittal (1996) mendapatkan 48 jenis fungi pada dekomposisi pohon Rhizophora di Pichavaram, India Selatan. Di kawasan pesisir laut Indian Afrika Selatan, Steinke dan Jones (1993) mendapatkan 93 jenis fungi laut, 55 jenis di antaranya berasal dari kayu mangrove Avicennia marina. Kathiresan dan Bingham (2001) menyajikan daftar jenis-jenis fungi mangrove yang diidentifikasi oleh beberapa peneliti yang dapat dilihat pada Tabel 9.

Berbagai jenis fungi yang dominan pada permukaan daun (phylloplane) mangrove adalah Alternaria alternata, Rhizopus nigricans, Aspergillus dan Penicillium spp. Jumlah koloni berbagai jenis fungi ini berkorelasi negatif dengan kandungan tanin daun. Berbagai jenis fungi ini dapat hidup pada serasah daun mangrove yang banyak mengandung asam amino dan pada daun segar mangrove yang banyak mengandung tanin dan gula. Dua jenis fungi parasit, yaitu Pestalotiopsis agallochae dan Cladosporium marinum didapatkan pada daun Excoecaria agallocha dan A. marina. Kedua jenis fungi ini menyebabkan

(3)

penyakit dieback pada tegakan Rhizophora mangle di Costa Rica (Tattar dkk., 1994 diacu oleh Kathiresan dan Bingham, 2001).

Tabel 9. Jenis-jenis fungi yang terdapat pada mangrove dan penelitinya

Jenis-jenis fungi Peneliti

Aigialus striatispora Hyde (1992) Aniptodera longispora Hyde (1990)

A. salsuginosa Nakagiri dan Ito (1994) Calathella mangrovei Jones dan Agerer (1992) Cryptovalsa halosarceicola Hyde (1993)

Eutypa bathurstensis Hyde dan Rappaz (1993) Falciformispora lignatilis Hyde (1992)

Halophytophthora kandeliae Ho dkk., (1991)

H. kandeliae Newel dan Fell (1992)

H. vesicula Newel dan Fell (1992)

H. spinosa Newel dan Fell (1992)

Halosarpheia minuta Leong dkk., (1991)

Hapsidascus hadrus Kohlmeyer dan Kohlmeyer (1991) Hypoxylon oceanicum Whalley dkk., (1994)

Julella avicenniae Hyde (1992)

Khuskia oryzae Pal dan Purkayastha (1992)

Lophiostoma asiana Hyde (1995)

Massarina ramunculicola Hyde (1991)

M. armatispora Hyde dkk., (1992)

M. velatospora Hyde (1991)

Payosphaeria minuta Leona dkk., (1990)

Pedumispora Hyde dan Jones (1992)

Phomopsis mangrovei Hyde (1991)

Saccardoella Hyde (1992)

Trtematospaeria lineolatispora Hyde (1992) Sumber : Kathiresan dan Bingham (2001)

Sengupta dan Chhoundri (1994) mendapatkan Rhizoctonia dan Fungi Mikoriza Arbuskula pada komunitas mangrove Sunderbans. Fungi Mikoriza Arbuskula dapat meningkatkan pertumbuhan anakan Cajanas yang tumbuh pada kondisi lingkungan miskin hara.

Dari 43 jenis fungi yang dicoba pada tegakan Rhizophora hanya 7 jenis fungi yang dapat tumbuh dan berkembang, dan beberapa jenis lainnya hanya dapat hidup pada lingkungan yang spesifik. Selain itu pada percobaan dengan 48 jenis fungi yang dicoba pada akar tunjang, hanya 44 jenis fungi yang dapat hidup, sedang pada anakan dan kayu mangrove secara berturut-turut hanya 18 dan 16 jenis fungi yang dapat hidup. Perubahan keadaan fisik lingkungan dan perubahan genetik dapat menyebabkan terjadi perubahan morfologi dan fisiologi fungi. Sebagai contoh, Pestalotiopsis versicolor yang didapat dari Ceriops

(4)

decandra ketika ditumbuhkan pada kawasan yang berbeda kondisi lingkungannya, menyebabkan terjadi perubahan tekstur miselia, perbedaan kecepatan tumbuh dan intensitas sporulasi (Bera dan Purkayastha, 1992 diacu oleh Kathiresan dan Bingham, 2001).

Distribusi jenis fungi dalam habitat mangrove dapat merefleksikan keadaan fisik habitat mangrove. Kohlmeyer dan Kohlmeyer (1993) di Belize Amerika Tengah mendapatkan, bahwa keanekaragaman jenis fungi dipengaruhi oleh

umur tegakan mangove.

Hyde (1990) menemukan 57 jenis fungi yang terdapat pada Rhizophora apiculata di hutan mangrove Brunei. Kebanyakan jenis-jenis fungi ini tumbuh di atas ketinggian pasang air laut rata-rata. Hasil pengamatan Sadaba dkk., (1995) yang dilakukan di Mai Po, Hongkong pada Acanthus ilicifolius yang mengalami senescen bagian atas (apical) banyak dikoloni oleh jenis-jenis fungi terestrial, sedang bagian bawahnya banyak dikoloni oleh jenis-jenis fungi laut. Jenis substrat dan frekuensi pasang surut air laut, juga berpengaruh terhadap keberadaan berbagai jenis fungi yang tumbuh pada habitat mangrove. Sebagai contoh, kayu-kayu mangrove yang mengalami dekomposisi merupakan tempat tumbuh yang baik bagi fungi.

Pada hutan mangrove Malaysia terdapat 30 jenis fungi lignocolous. Jenis- jenis fungi tersebut di antaranya adalah Halosarpheia marina, Lulworthia sp.

Lignicola laevis, Halosarpheia retorquens, Eutypa sp., Kallichroma tethys, Marinosphaera mangrovei, Phoma sp. dan Julelia avicenniae. Keanekaragaman jenis dan kelimpahan terbesar berbagai jenis fungi tersebut terdapat pada kayu A. marina (Tan dan Leong, 1992 ; Alias dkk., 1995).

Frekuensi Fusarium pada permukaan daun R. mucronata cenderung menurun dari waktu ke waktu. Kecuali Pestalotiopsis, pada semua bagian daun R. mucronata yang mengalami dekomposisi, beberapa jenis fungi menunjukkan keberadaannya dengan frekuensi yang kecil. Pada serasah daun A. alba Cladosporium oxysporum menunjukkan populasi dengan frekuensi yang meningkat. Adapun Z. masonii dan Codinaea simplex tidak terdapat pada serasah daun A. alba dan lebih sering terdapat pada serasah daun R. mucronata (Kuthubutheen, 1984).

Menurut Nakagiri dkk., (1996) Halophytophthora adalah jenis fungi zoosporik yang hidup terutama di air payau mangrove dan mengolonisasi serasah daun mangrove yang terdapat di bawah permukaan air. Halophytophtora

(5)

dapat tumbuh dan bereproduksi pada kisaran salinitas dan suhu yang luas, tetapi kondisi optimumnya untuk tumbuh berbeda antara satu jenis dengan jenis lainnya. Jenis fungi ini paling sering didapatkan pada serasah daun berbagai macam jenis mangrove yang terdapat di bawah permukaan air di kawasan Asia- Pasifik. Fungi-fungi ini dengan keanekaragaman jenis, bentuk morfologi, sifat fisiologi dan selama siklus hidupnya diperkirakan ikut berperan dalam proses dekomposisi serasah daun mangrove dan kelangsungan ekosistem mangrove.

Kerapatan populasi fungi tanah pada rizosfer adalah 7.8 x 103 cfu/g bobot kering tanah dan beberapa jenis fungi yang ditemukan pada permukaan akar (rhizoplane) Salicornia europaea adalah Acremonium strictum , Alternaria alternata dan Cladosporium cladosporiodes. Rata-rata populasi fungi pada rizosfer S. europae adalah 7.8 x 103 cfu/g bobot kering tanah. Jumlah ini lebih tinggi dibanding pada tanah mangrove (1.2 x 103 cfu/g). Hal ini diperkirakan terjadi karena keadaan anaerobik dan kandungan yang tinggi logam berat pada tanah mangrove (Ito dkk., 1999).

Fungi dengan berbagai macam jenis enzim yang diproduksinya dapat mempercepat proses dekomposisi serasah. Untuk dapat hidup dan berperan dalam proses dekomposisi serasah, mikroorganisme memerlukan beberapa persyaratan antara lain ketersediaan unsur hara, ketersediaan bahan ekstraktif, suhu , pH, O2, CO2 yang optimum dan air yang cukup.

Bakteri dan fungi memperoleh energi untuk metabolismenya berasal dari hasil penguraian karbohidrat (Waring dan Schlesinger, 1985). Faktor yang mempengaruhi aktivitas mikroorganisme dalam penguraian bahan organik tumbuhan, yaitu jenis tumbuhan dan iklim setempat. Pengaruh jenis tumbuhan terhadap mikroorganisme biasanya dalam bentuk sifat fisik dan kimia daun yang keduanya tercermin dalam perbandingan unsur Karbon (C) dan unsur Nitrogen (N) yang dinyatakan sebagai nisbah C :N (Thaiutsa dan Granger, 1979).

Mikroorganisme terestrial pada rizosfer tumbuhan tingkat tinggi selain mendekomposisi bagian-bagian tumbuhan tersebut, juga tumbuh menggunakan jaringan akar mati atau sekresi jaringan akar untuk kelangsungan hidupnya pada akar dan tanah sekitarnya (Ito dkk., 1999).

Dalam proses dekomposisi serasah diperlukan waktu dan tahap-tahap yang harus dilewati sampai serasah terurai sempurna. Diperkirakan pada tiap tahap tersebut ditemukan jenis-jenis bakteri dan fungi yang berbeda. Faktor lingkungan juga merupakan satu di antara berbagai komponen yang ikut

(6)

berperan dalam proses dekomposisi serasah. Pada ekosistem mangrove, satu faktor lingkungan yang berperan khas adalah salinitas air laut yang dipengaruhi oleh pasang dan surut air laut, topografi, masukan air tawar dari sungai dari daratan, evaporasi serta musim hujan dan panas. Pada ekosistem mangrove banyak ditemui jenis-jenis mangrove, seperti Avicennia marina, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Bruguiera gymnorrhiza dan

lain-lain. Dari sekian banyak jenis yang tumbuh pada ekosistem mangrove A. marina merupakan jenis pionir yang banyak tumbuh di estuaria, muara

sungai, dan di pinggir pantai di dekat muara sungai. A. marina banyak menghasilkan serasah berupa daun. Didasari oleh hal-hal yang telah diuraikan di atas maka penelitian telah dilakukan untuk melihat pengaruh tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi serasah daun A. marina terhadap jenis-jenis fungi yang digunakan untuk menjawab pertanyaan berikut :

1. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap jumlah jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A.marina yang proses mengalami dekomposisi ?

2. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap populasi fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi ?

3. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi ?

4. Apakah tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap frekuensi kolonisasi jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi ?

5.1.2. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi terhadap :

1. Perkembangan jumlah jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

2. Perkembangan populasi fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

(7)

3. Perkembangan keanekaragaman jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

4. Frekuensi kolonisasi berbagai jenis fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

5.1.3. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

perkembangan jumlah jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

2. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

perkembangan jumlah populasi fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

3. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap perkembangan keanekaragaman jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

4. Tingkat salinitas dan lama masa dekomposisi berpengaruh terhadap

frekuensi kolonisasi jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi.

5.2. Bahan dan Metode

5.2.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di kawasan hutan mangrove Perum Perhutani Desa Ciasem Kec. Blanakan BKPH Pamanukan KPH Purwakarta, dan di Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia Pusat Studi Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor.

Penelitian dilakukan mulai Juli 2003 sampai dengan Januari 2005.

Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah : jumlah jenis fungi, populasi fungi, keanekaragaman jenis fungi dan frekuensi kolonisasi berbagai jenis fungi pada serasah daun A. marina.

5.2.2. Pengumpulan Serasah Daun A . marina

Serasah daun dikumpulkan dengan menggunakan 5 sampai 10 kain kasa/nilon berukuran 3 x 4 m, yang diletakkan dengan cara mengikatkannya di antara dua pohon pada ketinggian di atas garis pasang tertinggi. Serasah daun

(8)

A. marina yang dikumpulkan sebanyak 6600 g (50 g serasah x 11 perlakuan x 3 ulangan x 4 tingkat salinitas) .

5.2.3. Penempatan Serasah Daun A. marina di Lapangan

Serasah daun A. marina sebanyak 50 g dimasukkan ke dalam kantong serasah (litter bag) yang berukuran 40 x 30 cm dan terbuat dari nilon dengan mesh 1 x 1 mm. Jumlah kantong berisi serasah yang disiapkan sebanyak 132 buah (11 kali pengambilan x 3 ulangan x 4 tingkat salinitas). Kantong serasah yang sudah berisi serasah daun A. marina ditempatkan di lapangan yang memiliki berbagai tingkat salinitas, sesuai dengan perlakuan. Salinitas yang telah diukur dengan hand refractometer. Pada lokasi dengan tingkat salinitas yang telah ditentukan dibuat empat plot yang masing-masing berukuran 430 cm x 50 cm. Sebanyak 33 kantong serasah yang masing-masing berisi 50 g serasah daun A. marina ditempatkan secara acak dalam tiap plot. Agar tidak dihanyutkan oleh pasang air laut ke-empat ujung kantong serasah ini diikatkan pada kayu pancang yang dibuat dari bambu dengan panjang masing-masing 50 cm dan diameter 1,5 cm. Ke-empat kayu yang sudah diikatkan dengan kantong serasah, selanjutnya ditancapkan di tanah sampai pada kedalaman 40 cm. Adapun cara lain yang bisa digunakan adalah pengikatan keempat sudut kantong serasah pada akar atau pangkal batang pohon terdekat. Sebanyak 3 kantong berisi serasah diambil dari tiap tingkat salinitas sekali lima belas hari dan pengambilan kantong berisi serasah dilakukan sampai hari ke-165 (11 kali pengambilan) setelah serasah diletakkan di lapangan.

5.2.4. Isolasi Fungi dari Serasah Daun A. marina

Penentuan populasi fungi dilakukan dengan menggunakan metode pengenceran dengan membuat suatu seri pengenceran (dilution series) suspensi contoh. Pengenceran serasah daun A. marina dan isolasi fungi pada media dalam cawan Petri (Gambar 10) dilakukan melalui tahapan kerja sebagai berikut:

1. Sebanyak 10 gram contoh serasah daun A. marina yang telah dihancurkan dalam mortar dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml. Selanjutnya ditambahkan air yang berasal dari lingkungan serasah ditempatkan yang telah disterilkan sampai volume mencapai 100 ml. Setelah pengenceran serasah daun A. marina ini mencapai tingkat yang optimal yaitu 10-7 kemudian sebanyak 0,1 ml suspensi hasil pengenceran diambil dari tiap

(9)

tingkat pengenceran. Selanjutnya suspensi dibiakkan dalam media cawan Petri dengan media PDA yang telah diberi antibiotik Kemicetine dengan takaran 0.1 gr/l dan ditempatkan pada suhu ruang. Untuk tiap tingkat pengenceran, pekerjaan diulang 2 kali.

2. Pengamatan terhadap koloni yang muncul dilakukan 1 sampai 12 hari setelah masa inkubasi. Untuk mendapatkan jumlah populasi fungi per ml larutan contoh serasah daun A. marina dilakukan juga seperti metode penghitungan bakteri.

Penentuan populasi fungi dari serasah daun A. marina yang telah memperoleh berbagai perlakuan dilakukan juga dengan menggunakan metode pengenceran dengan membuat suatu seri pengenceran (dilution series) serasah daun A. marina seperti metode pengenceran serasah daun yang belum mengalami dekomposisi.

5.2.5. Identifikasi Fungi

Biakan murni fungi diremajakan pada media PDA, dan diinkubasi selama 5 – 7 hari pada suhu ruang. Isolat fungi yang telah tumbuh pada media, diamati ciri-ciri makroskopiknya yaitu ciri koloni seperti sifat tumbuh hifa, warna dan diameter koloni dan warna massa spora atau konidia. Isolat fungi juga ditumbuhkan pada kaca obyek (slide culture), yaitu dengan cara meletakkan potongan agar sebesar 4 x 4 x 2 mm yang telah ditumbuhi fungi pada kaca obyek, yang kemudian ditutup dengan kaca penutup. Isolat pada kaca obyek ini ditempatkan dalam kotak plastik berukuran 30 x 20 x 6 cm, yang telah diberi pelembab berupa kapas basah. Isolat fungi pada kaca obyek ini dibiarkan selama beberapa hari pada kondisi ruang sampai isolat fungi tumbuh cukup berkembang. Ketika isolat fungi telah berkembang dilakukan pengangkatan kaca penutup yang telah ditumbuhi fungi dengan hati-hati untuk membuang potongan agar. Selanjutnya pada bekas potongan agar ditetesi 1 tetes larutan Lactofenol untuk membuat kultur permanen. Kaca penutup yang juga telah ditumbuhi fungi selanjutnya ditempatkan di atas larutan Lactofenol di atas kaca objek. Kultur kaca ini diamati dengan menggunakan mikroskop cahaya untuk mengetahui ciri mikroskopik fungi yaitu ciri-ciri hifa, ada tidaknya sekat pada hifa, tipe percabangan hifa, konidiofor, konidiogenesis, serta ciri-ciri konidia atau spora (bentuk dan rangkaian) dan ukuran spora. Ciri-ciri yang didapatkan ditabulasi, kemudian dicocokkan dengan kunci identifikasi fungi (Rifai, 1969, Gams dan

(10)

Lacey,1972, Gams, 1975a dan 1975b, Samuels, 1976 ; 1990, Sutton, 1980, Bisset, 1983; 1991, White, 1987, Singh dkk., 1991, Ellis, 1993 dan Lowen, 1995).

Setelah fungi diidentifikasi dicatat, jumlah jenis, populasi, keanekaragaman jenis dan frekuensi kolonisasi fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina.

Kegiatan ini dilakukan pada tiap kali pengambilan serasah dari lapangan selama masa proses dekomposisi, yaitu mulai dari hari ke-0 (kontrol) sampai hari ke-165.

5.2.6. Pengumpulan Data

Data tentang identitas, jumlah jenis, populasi, keanekaragaman jenis dan frekuensi kolonisasi tiap jenis fungi dikumpulkan untuk mengetahui pengaruh tingkat salinitas air laut, serta lama dekomposisi terhadap parameter-parameter tersebut. Adapun serasah daun A. marina ditempatkan pada lokasi dengan tingkat salinitas sebagai berikut :

A. Tingkat salinitas < 10 ppt B. Tingkat salinitas 10 – 20 ppt C. Tingkat salinitas 20 – 30 ppt D. Tingkat salinitas > 30 ppt

Pengumpulan data dilakukan setelah serasah ditempatkan di lapangan dengan berbagai tingkat salinitas, selama waktu sebagai berikut :

A. Tanpa penempatan serasah (kontrol) G. Hari ke – 90

B. Hari ke – 15 H. Hari ke – 105

C. Hari ke – 30 I. Hari ke – 120

D. Hari ke – 45 J. Hari ke – 135

E. Hari ke – 60 K. Hari ke – 150

F. Hari ke – 75 L. Hari ke – 165

Tiap kali pengamatan dilakukan dalam 3 ulangan selama 165 hari, yang untuk masing-masing diambil kantong yang awalnya berisi serasah sebanyak 50 g.

5.2.7. Penentuan Indeks Keanekaragaman Jenis Fungi

Indeks Keanekaragaman Jenis fungi dihitung menggunakan Shannon’s Index (Shannon dan Weaver, 1949 diacu oleh Ludwig dan Reynolds, 1988) dengan Rumus (3).

(11)

5.3. Hasil

5.3.1. Jenis-jenis Fungi yang Terdapat pada Serasah Daun A. marina yang Belum Mengalami Proses Dekomposisi

Pada kontrol yaitu serasah yang belum mengalami proses dekomposisi di lapangan didapatkan 6 jenis fungi. Jumlah koloni berbagai jenis fungi dari tiap ulangan yang terdapat pada serasah daun A. marina yang belum mengalami proses dekomposisi (kontrol) dapat dilihat pada Lampiran 11. Adapun jumlah koloni rata-rata dan jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang belum mengalami dekomposisi di lapangan dapat dilihat pada Tabel 10.

Dari Tabel 10 dapat dijelaskan bahwa jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang belum mengalami dekomposisi di lapangan adalah sebagai berikut : Aspergillus sp. 1 (Gambar 15) bentuk koloni jenis fungi ini Tabel 10. Jumlah koloni rata-rata x 102 (cfu/ml) tiap jenis fungi pada serasah

daun A. marina yang belum mengalami proses dekomposisi (kontrol)

No. Jenis fungi Jumlah koloni rata-

rata x 102 (cfu/ml) 1. Aspergillus sp. 1 1

2. Aspergillus sp. 2 6,33 3. Aspergillus sp. 3 1,33 4. Curvularia lunata 0,67 5. Fungi tidak teridentifikasi 1 0.33 6. Fusarium sp. 1 8,67 Jumlah seluruh koloni rata-rata 18,33

dapat dilihat pada Gambar 15 A sedang bentuk mikroskopik disajikan pada Gambar 15 B. Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik Aspergillus sp. 1 diuraikan pada Lampiran 12 a. Populasi jenis fungi ini pada serasah daun rata-rata 1 x 102 cfu/ml, Aspergillus sp. 2 (Gambar 16) didapatkan dengan jumlah koloni rata-rata 6.33 x 102 cfu/ml bentuk koloni (Gambar 16 A), bentuk mikroskopik Aspergillus sp. 2 (Gambar 16 B). Adapun ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik fungi ini disajikan pada Lampiran 12 b. Pada Gambar 17 dapat dilihat Aspergillus sp. 3 yang merupakan juga satu jenis fungi terdapat pada serasah daun yang belum mengalami dekomposisi di lapangan. Bentuk koloni jenis fungi ini dapat dilihat pada Gambar 17 A sedang bentuk mikroskopik Aspergillus sp. 3 (Gambar 17 B),

(12)

Gambar 15. Aspergillus sp. 1. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Vesikel (b), Fialid (c), Konidia (d) dan Hifa (e)

adapun ciri-ciri makroskopik dan mikroskopiknya dapat dilihat pada Lampiran 12 c. Koloni Aspergillus sp. 3 yang terdapat pada serasah daun adalah sebanyak rata- rata 1.33 x 102 cfu/ml. Curvularia lunata (Gambar 18) dengan bentuk koloni yang dapat dilihat pada Gambar 18 A dan bentuk mikroskopik pada Gambar 18 B. Jenis fungi ini ditemukan pada serasah dengan jumlah koloni rata- rata 0.67 x 102 cfu/ml. Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik Curvularia lunata dapat dilihat pada Lampiran 12 d. Satu jenis fungi yang tidak teridentifikasi 1 (Gambar 19) juga terdapat pada serasah daun yang belum ditempatkan di lapangan. Bentuk koloni fungi ini dapat dilihat pada Gambar 19 A, sedang bentuk mikroskopik jenis fungi ini disajikan pada Gambar 19 B. Jumlah koloni fungi ini

Gambar 16. Aspergillus sp. 2. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), konidiofor (a), Dinding konidiofor (b), Vesikel (c), Fialid (d) dan Konidia (e)

A B

a

b c

d

e

10 µm

A B

a

b c

d e

10 µm

(13)

Gambar 17. Aspergillus sp. 3. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Vesikel (b), Konidia (c) dan Hifa (d)

Gambar 18. Curvularia lunata. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidia (a), Hifa (b) dan Septa (c).

Gambar 19. Jenis fungi tidak teridentifikasi 1. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B)

A B

a b

c

d

10 µm

A B

a

b

c

10 µm

A B 10 µm

(14)

pada serasah daun rata-rata 0.33 x 102 cfu /ml. Adapun ciri-ciri makroskopik jenis fungi ini disajikan pada Lampiran 12 e. Jenis fungi lain yang ditemukan adalah Fusarium sp. 1 (Gambar 20) dengan jumlah koloni rata-rata 8.7 x 102 cfu/ml. Bentuk koloni dapat dilihat pada Gambar 20 A sedang bentuk mikroskopik Fusarium sp. 1 disajikan pada Gambar 20 B. Adapun ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik fungi ini diuraikan pada Lampiran 12 f.

Gambar 20. Fusarium sp. 1. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Konidia (b), Hifa (c) dan Septa (d)

5.3.2. Jenis-jenis Fungi yang Terdapat pada Serasah Daun A. marina yang Mengalami Proses Dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt

Pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt ditemukan 18 jenis fungi. Jumlah koloni rata-rata dan jenis-jenis fungi yang ditemukan pada serasah daun A. marina yang mengalami beberapa lama masa dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt dapat dilihat pada Tabel 11. Adapun jumlah koloni fungi tiap ulangan pada serasah daun A.

marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt dapat dilihat pada Lampiran 13. Dari data padaTabel 11 dapat dijelaskan bahwa terdapat 18 jenis fungi yang mengkolonisasi serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi mulai 15 hari sampai 165 hari. Adapun jumlah tiap jenis fungi bervariasi dari satu waktu ke waktu berikutnya selama masa dekomposisi. Selama masa dekomposisi tersebut tidak selalu ke-18 jenis fungi tersebut ada. Hanya dua jenis fungi yang ditemukan pada hampir tiap lama masa dekomposisi, yaitu Aspergillus sp. 2 kecuali pada serasah yang telah mengalami

A B

b a c

d

10 µm

(15)
(16)

proses dekomposisi selama 15 hari. Jenis fungi kedua yang hampir selalu ada adalah Aspergillus sp. 1, kecuali pada serasah yang mengalami proses dekomposisi selama 30,45,75 dan 90 hari. Koloni fungi yang paling banyak didapatkan adalah Aspergillus sp. 2 , yaitu 5,79 x 102 cfu/ml. Jenis fungi ini mengolonisasi serasah yang telah mengalami proses dekomposisi mulai 30 hari sampai 165 hari atau dengan frekuensi kolonisasinya 90.9%. Koloni terbanyak Aspergillus sp. 2 didapatkan pada serasah daun yang mengalami proses dekomposisi selama 120 hari, yaitu sebanyak rata-rata 3,77 x 103 cfu/ ml.

Aspergillus sp. 4 adalah koloni fungi terbanyak kedua (Gambar 21) dengan bentuk koloni seperti pada Gambar 21 A, mengolonisasi serasah mulai 15 hari sampai 165 hari. Jumlah koloni fungi ini adalah rata-rata 2,91 x 102 cfu/ml dengan frekuensi 27.3%. Bentuk mikroskopik Aspergillus sp. 4 dapat dilihat pada Gambar 21 B dan ciri-ciri makroskopik dan mikroskopiknya disajikan pada Lampiran 12 g.

Kolonisasi serasah oleh jenis fungi ini terjadi setelah serasah mengalami proses dekomposisi selama 30, 75 dan 90 hari. Koloni terbanyak, yaitu rata-rata 2,90 x 103 cfu/ml didapatkan pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 30 hari. Koloni fungi terbanyak ke-tiga yang didapat pada serasah daun adalah Aspergillus sp. 1 dengan jumlah rata-rata 2.64 x 102 cfu/ml. Jenis fungi ini mengolonisasi serasah yang telah mengalami dekomposisi selama 15, 60, 105, 120, 135, 150 dan 165 hari. Frekuensi kolonisasi jenis fungi ini lebih besar dibanding frekuensi kolonisasi Aspergillus sp. 4, yaitu 63,6%.

Gambar 21. Aspergillus sp. 4. Koloni berumur 7 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Vesikel (b), Fialid (c), Konidia (d) dan Hifa (e)

A B

a

b

c d

e

10 µm

(17)

Trichoderma sp. 1 (Gambar 22) mengolonisasi serasah yang telah mengalami dekomposisi selama 105 hari dengan frekuensi kolonisasi hanya sebesar 9.1%. Adapun jumlah koloni yang berhasil diisolasi adalah rata-rata 2.03 x 103 cfu/ml. Pada Gambar 22 A disajikan bentuk koloni Trichoderma sp.1.

Adapun pada Gambar 22 B dapat dilihat bentuk miroskopik Trichoderma sp. 1.

Ciri-ciri makroskopik serta mikroskopiknya dapat dilihat pada Lampiran 12 h.

Gambar 22. Trichoderma sp. 1. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Fialid (b), Konidia (c) dan Hifa (d)

Pada tingkat salinitas < 10 ppt ini juga ditemukan isolat fungi tidak teridentifikasi 2 (Gambar 23) dengan jumlah koloni rata-rata 0,88 x 102 cfu/ml.

Jenis fungi ini berhasil diisolasi pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 45 dan 75 hari dengan frekuensi kolonisasinya sebesar 18.2%. Bentuk koloni fungi ini disajikan pada Gambar 23 A sedang bentuk mikroskopik dapat dilihat pada Gambar 23 B. Ciri-ciri makroskopik disajikan pada Lampiran 12 i.

Jenis fungi yang juga mengolonisasi serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi dalam lingkungan dengan salinitas < 10 ppt adalah Fusarium sp. 2 (Gambar 24). Jenis fungi ini muncul dan berhasil diisolasi pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 75, 135 dan 165 hari. Jumlah koloni jenis fungi ini adalah rata-rata 0.76 x 102 cfu / ml dengan frekuensi kolonisasinya sebesar 27.3%. Bentuk koloni Fusarium sp. 2 disajikan pada Gambar 24 A. Adapun bentuk mikroskopik fungi ini dapat dilihat pada Gambar 24 B, sedang ciri-ciri makroskopik dan mikrospiknya disajikan pada Lampiran 12 j.

A B

a

b

c d

10 µm

(18)

Gambar 23. Jenis Fungi tidak teridentifikasi 2. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B)

Gambar 24. Fusarium sp. 2. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Konidia (b) dan Hifa (c)

Penicillium sp. 1(Gambar 25) berhasil diisolasi sebanyak rata-rata 0.46 x 102 cfu / ml pada serasah yang mengalami proses dekomposisi selama 60 hari.

Frekuensi kolonisasi jenis fungi ini sebesar 9.1% dari sebelas kali pengamatan.

Bentuk koloni Penicillium sp. 1 disajikan pada Gambar 25 A sedang bentuk mikroskopik fungi ini dapat dilihat pada Gambar 25 B. Adapun ciri-ciri makroskopik dan mikroskopiknya pada Lampiran 12 k.

Trichoderma sp. 2 (Gambar 26) dan Aspergillus sp. 3 berhasil diisolasi dari serasah daun A. marina dengan frekuensi kolonisasi masing-masing yang sama yaitu sebesar 18.2% dengan jumlah koloni rata-rata 0,27 x 102 cfu/ ml.

Trichoderma sp. 2 didapatkan pada serasah daun yang telah mengalami proses dekomposisi 45 dan 120 hari. Bentuk koloni Trichoderma sp. 2 disajikan pada

A B

a c

b

10 µm

A B 10 µm

(19)

Gambar 26 A sedang bentuk mikroskopiknya dapat dilihat pada Gambar 26 B.

Ciri-ciri makroskopik serta mikroskopiknya disajikan pada Lampiran 12 l. Adapun Aspergillus sp. 3 didapatkan pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 150 dan 165 hari. Jenis-jenis fungi lain yang masing- masing ditemukan satu kali dari sebelas kali waktu pengamatan pada serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi adalah sebagai berikut : i) Penicillium sp. 2 (Gambar 27) dengan bentuk koloni seperti yang disajikan pada Gambar 27 A, sedang bentuk mikroskopik pada Gambar 27 B.

Gambar 25. Penicillium sp. 1. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Metula (b), Fialid (c), Konidia (d) dan Hifa (e)

Gambar 26. Trichoderma sp. 2. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan

Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Hifa (b) dan Konidia (c)

A B

a d

c

b e

10 µm

A B 10 µm

a c

b

(20)

Gambar 27. Penicillium sp. 2. Koloni berumur 7 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Metula (b), Fialid (c), Konidia (d) dan Hifa (e)

Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik yang disajikan pada Lampiran 12 m, ii) Aspergillus sp. 5 (Gambar 28) dengan bentuk koloni dapat dilihat pada Gambar 28 A, sedang bentuk mikroskopik disajikan pada Gambar 28 B. Ciri-ciri mikroskopik dan makroskopiknya pada Lampiran 12 n, iii) Fusarium sp. 3 (Gambar 29) dengan bentuk koloni (Gambar 29 A) sedang bentuk mikroskopik yang disajikan pada Gambar 29 B. Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik Fusarium sp. 3 disajikan pada Lampiran 12 o, iv) Penicillium sp. 3 (Gambar 30) dengan bentuk koloni pada Gambar 30 A, serta bentuk mikroskopik pada Gambar 30 B, ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik Penicillium sp. 3 disajikan pada Lampiran 12 p, v) Penicillium sp. 4 (Gambar 31) dengan bentuk koloni (Gambar 31 A) sedang bentuk mikroskopik yang disajikan pada Gambar 31 B.

Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik pada Lampiran 12 q, vi) Curvularia lunata, vii) Trichoderma sp.3 (Gambar 32) dengan bentuk koloni seperti yang terlihat pada Gambar 32 A sedang bentuk mikroskopik ditampilkan pada Gambar 32 B.

Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik disajikan pada Lampiran 12 r, viii) Aspergillus sp. 6 (Gambar 33) dengan bentuk koloni disajikan pada Gambar 33 A, sedang bentuk mikroskopik ditampilkan pada Gambar 33 B. Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik disajikan pada Lampiran 12 s, dan ix) Penicillium sp. 5 (Gambar 34) dengan bentuk koloni pada Gambar (Gambar 34 A), dan bentuk mikroskopik disajikan pada Gambar 34 B ; ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik Penicillium sp. 5 disajikan pada Lampiran 12 t.

A B

e

d b

c a

10 µm

(21)

Gambar 28. Aspergillus sp. 5. Koloni berumur 7 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Dinding konidiofor (b), Vesikel (c), Fialid (d), Konidia (e) dan Hifa (f)

Gambar 29. Fusarium sp. 3. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Konidia (b), Hifa (c) dan Septa (d)

Gambar 30. Penicillium sp. 3. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Fialid (b), Konidia (c) dan Hifa (d)

B

a

c

b d

10 µm

A

B

a b

d c

10 µm

A

B

f b

a e

c d

10 µm

A

(22)

Gambar 31. Penicillium sp. 4. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Metula (b), Fialid (c), Konidia (d) dan Hifa (e)

Gambar 32. Trichoderma sp. 3. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B) Konidiofor (a), Fialid (b), Konidia (c) dan Hifa (d)

Gambar 33. Aspergillus sp. 6. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B) Konidiofor (a), Fialid (b), Konidia (c), dan Hifa (d)

B

a b

c

10µm

d

A

B

b a

c

d

10 µm

A

B a

e b d

c

10 µm

A

(23)

Gambar 34. Penicillium sp. 5. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Fialid (b), Konidia (c) dan Hifa (d)

5.3.3. Jenis-jenis Fungi yang Terdapat pada Serasah Daun A. marina yang Mengalami Proses Dekomposisi pada Tingkat Salinitas 10 – 20 ppt

Jumlah koloni rata-rata dan jenis-jenis fungi yang ditemukan pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt dapat dilihat pada Tabel 12. Jumlah koloni fungi tiap ulangan dapat dilihat pada Lampiran 14. Dari Tabel 12 dapat dijelaskan bahwa fungi yang berhasil diisolasi dari serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt adalah sebanyak 12 jenis.

Jenis fungi yang paling banyak terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi adalah Aspergillus sp. 2 dengan jumlah koloni rata-rata 2,0 x 102 cfu/ ml. Aspergillus sp. 2 ditemukan pada serasah daun yang telah mengalami dekomposisi selama 15, 45, 60, 105, 120, 135, 150 dan 165 hari serta tidak ditemukan pada hari ke-30, 75 dan 90. Frekuensi ditemukannya fungi ini adalah sebesar 72.7%. Adapun jumlah koloni terbanyak yang berhasil diisolasi dari serasah daun A. marina adalah pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15 hari dengan jumlah koloni rata-rata 8 x 102 cfu/ ml.

Aspergillus sp. 4 ditemukan pada serasah yang telah mengalami dekomposisi selama 30, 75, 90, 135, 150 dan 165 hari dengan jumlah koloni rata-rata 1.76 x 102 cfu/ ml. Jumlah koloni ini menempati jumlah terbesar ke-dua setelah Aspergillus sp. 2 dengan frekuensi kolonisasi 54.6%.

Aspergillus sp. 3 dan Penicillium sp. 1 menempati posisi ketiga dengan jumlah koloni rata-rata 0.46 x 102 cfu/ml untuk masing-masing jenis. Aspergillus

A B

c b

a

d

10 µm

(24)
(25)

sp. 3 berhasil diisolasi pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15, 150 dan 165 hari. Adapun Penicillium sp. 1 berhasil diisolasi dari serasah yang telah 60 hari mengalami proses dekomposisi. Frekuensi kolonisasi masing-masing jenis fungi tersebut berturut-turut adalah sebesar 27.3% dan 9.1%.

Selanjutnya jenis fungi yang berhasil diisolasi dari serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt, adalah Aspergillus sp. 1 dengan frekuensi kolonisasi sebesar 36.4% yang berhasil diisolasi dari serasah daun yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15, 60, 90 dan 105 hari dengan jumlah koloni sebesar 0.39 x 102 cfu/ ml.

Dari serasah daun A. marina ini juga berhasil diisolasi Aspergillus sp. 5 dengan jumlah koloni rata-rata selama 165 hari dekomposisi 0,27 x 102 cfu/ ml.

Frekuensi kolonisasi jenis fungi ini adalah 18.2 % yang berhasil diisolasi dari serasah daun yang mengalami proses dekomposisi selama 45 dan 105 hari.

Jenis-jenis fungi lain yang berhasil diisolasi dari serasah daun A. marina pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt yang masing-masingnya mempunyai frekuensi kolonisasi sebesar 9.1% adalah sebagai berikut : i) Jenis fungi tidak teridentifikasi (2) dengan koloni rata-rata sebanyak 0,25 x 102 / ml. ii)Trichoderma sp. 1 jumlah koloni rata-rata 0,18 x 102 cfu/ ml, iii) Trichoderma sp. 4 (Gambar 35), dengan bentuk koloni ditampilkan pada Gambar 35 A sedang bentuk mikroskopik dapat dilihat pada Gambar 35 B. Ciri-ciri makroskopik dan mikroskopiknya disajikan pada Lampiran 12 u ; Jumlah koloni jenis fungi ini pada serasah daun adalah

Gambar 35. Trichoderma sp. 4. Koloni berumur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Fialid (b), Konidia (c) dan Hifa (d)

A B

a

b

c d

10 µm

(26)

rata-rata 0,12 x 102 cfu/ ml, iv) Fusarium sp. 2 dengan koloni sebanyak rata- rata 0,09 x 102 cfu/ ml yang berhasil diisolasi dari serasah daun yang telah mengalami dekomposisi selama 75 hari, v) Penicillium sp. 3dan vi) Penicillium sp. 2 .

5.3.4. Jenis-jenis Fungi yang Terdapat pada Serasah Daun A. marina yang Mengalami Proses Dekomposisi pada Tingkat Salinitas 20 – 30 ppt

Jumlah koloni rata-rata dan jenis-jenis fungi yang ditemukan tiap pengamatan pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt dapat dilihat pada Tabel 13.

jumlah koloni fungi tiap ulangan yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt dapat dilihat pada Lampiran 15.

Data pada Tabel 13 menunjukkan bahwa dari serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt berhasil diisolasi sebanyak 12 jenis fungi. Jumlah koloni jenis fungi ini menurut lama masa dekomposisi berkisar dari 0,03 x 102 cfu/ ml sampai 1,52 x 102 cfu/ ml. Jumlah terbanyak adalah koloni Aspergillus sp. 2 yaitu rata-rata 1,52 x 102 cfu/ ml. Jenis fungi ini berhasil diisolasi dari serasah daun yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15, 30,45 ,60 ,105, 120, dan 135 hari dengan frekuensi kolonisasinya sebesar 54,6%.

Aspergillus sp. 4 terdapat pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 30, 75, 105, 135, 150 dan 165 hari dengan jumlah koloni rata-rata 1.15 x 102 cfu/ ml. Frekuensi kolonisasi jenis fungi ini pada serasah daun A. marina adalah 45.5% dengan jumlah koloni terbanyak didapatkan setelah serasah mengalami 165 hari masa dekomposisi.

Data pada Tabel 13 menunjukkan bahwa Trichoderma sp. 4 menempati urutan ke-tiga dengan jumlah koloni rata-rata 0.73 x 102 cfu/ ml. Adapun frekuensi jenis fungi ini mengkolonisasi serasah adalah 36.4% dari sebelas kali waktu pengamatan. Jenis fungi ini berhasil diisolasi dari serasah daun yang telah mengalami proses dekomposisi selama 30, 45, 105 dan 165 hari.

Selanjutnya pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi selama 15 sampai 165 hari pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt, juga ditemukan Aspergillus sp. 3 dengan koloni rata-rata sebanyak 0.64 x 102 cfu/ ml.

(27)
(28)

Frekuensi kolonisasi jenis fungi ini selama proses dekomposisi serasah daun A.

marina adalah 81.8 %. Jenis fungi ini didapatkan pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15, 30, 45, 75, 90, 105, 135, 150, 165 hari. Dapat diketahui pula bahwa Aspergillus sp. 3, mengkolonisasi pada hampir selama waktu pengamatan dekomposisi, kecuali setelah 60 dan 120 hari masa dekomposisi.

Seperti pada serasah daun A. marina yang berada pada tingkat salinitas <

10 dan 10 – 20 ppt, maka pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt juga ditemukan Aspergillus sp. 1. Jumlah koloni jenis fungi ini 0.46 x 102 cfu/ ml. Jenis fungi ini ditemukan 15 hari setelah masa dekomposisi dengan frekuensi kolonisasinya sebesar 9.1%. Penicillium sp. 1 berhasil diisolasi dari serasah setelah 60 dan 90 hari mengalami dekomposisi dengan jumlah koloni rata-rata 0.36 x 102 cfu/ ml.

Ferkuensi kolonisasi jenis fungi ini pada serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi adalah 18.2% dari semua jumlah pengamatan.

Enam jenis fungi, yaitu Aspergillus sp. 5, Penicillium sp. 3, Trichoderma sp.

1, Fusarium sp. 3, Aspergillus sp. 7, Aspergillus sp. 6 mempunyai frekuensi kolonisasi yang sama (9,1%) pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt. Aspergillus sp. 5 dapat diisolasi dari serasah yang telah 150 hari mengalami proses dekomposisi dengan jumlah koloni rata-rata 0,27 x 102 cfu/ ml . Koloni Penicillium sp. 3 berhasil diisolasi sebanyak 0,06 x 102 cfu/ ml, sedang Trichoderma sp. 1 dengan koloni rata-rata sebanyak 0,06 x 102 / ml, didapatkan pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 150 hari. Adapun Fusarium sp. 3 dengan jumlah koloni rata-rata 0,03 x 102 / ml dapat diisolasi setelah serasah mengalami proses dekomposisi selama 165 hari. Aspergillus sp. 7 (Gambar 36) dengan jumlah koloni rata rata 0,03 x 102 / ml dapat diisolasi dari serasah yang telah mengalami 75 hari proses dekomposisi. Pada Gambar 36A ditampilkan bentuk koloni Aspergillus sp. 7 sedang bentuk mikroskopiknya disajikan pada Gambar 36 B. Adapun ciri-ciri makroskopik dan miroskopiknya dapat dilihat pada Lampiran 12 v. Aspergillus sp. 6 berhasil diisolasi dari serasah setelah mengalami 60 hari proses dekomposisi. Frekuensi kolonisasi fungi ini adalah 9.1%.

(29)

Gambar 36. Aspergillus sp. 7. Koloni umur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Dinding konidiofor (b), Vesikel (c), Fialid (d), Konidia (e) dan Hifa (f)

5.3.5. Jenis-jenis Fungi yang Terdapat pada Serasah Daun A. marina yang Mengalami Proses Dekomposisi pada Tingkat Salinitas >30 ppt

Jumlah koloni rata-rata dan jenis-jenis fungi tiap pengamatan pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt dapat dilihat pada Tabel 14. Jumlah koloni fungi tiap ulangan pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30, disajikan pada Lampiran 16.

Dari Tabel 14 dapat dijelaskan bahwa fungi pada serasah daun A .marina yang telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt adalah 15 jenis. Jenis fungi yang jumlah rata-rata koloninya terbanyak 1,21 x 102 cfu/ ml dijumpai pada serasah daun yang telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt ini adalah Penicillium sp. 6 (Gambar 37). Jenis fungi tersebut berhasil diisolasi pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi selama 30, 45, 120 dan 165 hari. Frekuensi kolonisasi jenis fungi ini pada serasah daun A. marina sebesar 36.4% dari sebelas kali pengamatan yang dilakukan. Bentuk koloni Penicillium sp. 6 disajikan pada Gambar 37 A sedang bentuk mikroskopik jenis fungi ini dapat dilihat pada Gambar 37 B. Ciri- ciri makroskopik dan mikroskopiknya diuraikan pada Lampiran 12 w.

Jenis fungi yang menempati posisi terbanyak kedua dengan rata-rata koloninya, yaitu 1,03 x 102 cfu/ml pada serasah daun yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt, adalah Fusarium sp. 2. Jenis fungi ini berhasil diisolasi dari serasah yang telah mengalami proses dekomposisi

A B

d f

e

b c a

10 µm

(30)
(31)

selama 15 hari, dengan frekuensi kolonisasinya sebesar 9.1%. Aspergillus sp. 2 mempunyai frekuensi kolonisasi terbesar, yaitu 72.7% pada serasah daun A.

marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas >30 ppt.

Jenis fungi ini ditemukan pada 30, 60, 90, 105, 120, 135, 150 dan 165 hari setelah serasah mengalami proses dekomposisi. Jumlah koloni rata-rata, jenis fungi tersebut adalah 0.94 x 102 cfu/ ml. Trichoderma sp. 4 berhasil diisolasi dari serasah daun yang telah mengalami proses dekomposisi selama 30, 45, 105, 120, 135, 150 dan 165 hari. Frekuensi kolonisasi jenis fungi ini adalah 63.6%.

Adapun jumlah koloni rata-rata yang dapt diisolasi 0.88 x 102 cfu/ ml. Jenis fungi tidak teridentifikasi 3 (Gambar 38) berhasil diisolasi 30 hari setelah serasah mengalami proses dekomposisi, dengan koloni rata-rata 0,06 x 102 cfu/ml. Ciri- ciri makroskopik jenis fungi ini disajikan pada Lampiran 12 x.

Gambar 37. Penicillium sp. 6. Koloni umur 14 hari pada media PDA (A) dan Bentuk mikroskopik (B), Konidiofor (a), Fialid (b), Konidia (c) dan Hifa (d)

Gambar 38. Jenis fungi tidak teridentifikasi 3, koloni berumur 14 hari pada media PDA

A

a

c

b d

B 10 µm

(32)

Untuk memudahkan pembeda antara ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik berbagai jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang belum dan telah mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas, pada Lampiran 17 disajikan rangkuman ciri-ciri makroskopik dan ciri mikroskopik fungi yang didapatkan.

5.3.6. Perbandingan Jumlah Jenis Fungi pada Berbagai Tingkat Salinitas Jumlah jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt, 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt dengan > 30 ppt serta kontrol disajikan pada Gambar 39. Jumlah jenis fungi terbesar yaitu 18 jenis didapatkan pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt.

Gambar 39. Jumlah jenis fungi pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi dalam lingkungan dengan berbagai tingkat salinitas

5.3.7. Perbandingan Populasi Fungi pada Berbagai Tingkat salinitas

Pada Gambar 40 dapat dilihat bahwa populasi fungi terbesar rata-rata 18.

33 x 102 cfu/ml yang terdapat pada serasah daun A. marina yang belum mengalami proses dekomposisi di lapangan. Populasi fungi pada serasah daun A. marina pada tingkat salinitas < 10 ppt, yaitu 16.67 x 102 cfu/ml lebih besar dibandingkan dengan populasi fungi pada serasah daun A. marina yang

6

18

12 12

15

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

Jumlah jenis fungi

Kontrol <10ppt 10-20ppt 20-30ppt >30ppt Tingkat salinitas

(33)

mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt, dan > 30 ppt yang masing-masingnya sebesar rata-rata 6.04 x 102 cfu/ml, 5.34 x 102 cfu/ml dan 5.96 x 102 cfu/ml.

Gambar 40. Populasi fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang belum dan yang telah mengalami proses dekomposisi di lingkungan dengan berbagai tingkat salinitas

5.3.8. Indeks Keanekaragaman Jenis Fungi

Nilai rata-rata Indeks Shannon untuk Keanekaragaman Jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang yang telah mengalami proses dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas, berkisar dari rendah sampai sedang. Indeks Keanekaragaman Jenis fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada lingkungan dengan salinitas < 10 ppt, 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt dan > 30 ppt secara berturut-turut adalah 1.96, 1.86, 1.95 dan 2.20. Indeks Keanekaragaman Jenis ini lebih besar dibandingkan dengan Indeks Keanekaragaman Jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang belum mengalami proses dekomposisi, yaitu 1.26.

5.3.9. Frekuensi Kolonisasi Fungi

Pada serasah daun A. marina yang telah mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas terdapat perbedaan dalam frekuensi pemunculan koloni berbagai jenis. Frekuensi kolonisasi fungi pada serasah daun A. marina yang

18.33

16.67

6.04 5.34 5.96

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Populasi fungi x102 (cfu/ml)

Kontrol <10 ppt 10-20 ppt 20-30 ppt > 30 ppt Tingkat salinitas

(34)

telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt (Tabel 11) berkisar dari 9,1 sampai 90,9 % dari sebelas kali pengamatan yang dilakukan.

Frekuensi kolonisasi terbesar ditempati oleh Aspergillus sp. 2, yaitu 90,9 %.

Jenis fungi ini mengkolonisasi serasah daun A. marina setelah 30 sampai 165 hari mengalami proses dekomposisi, sedang 15 hari setelah mengalami proses dekomposisi jenis fungi ini belum didapati mengolonisasi serasah. Frekuensi kolonisasi Aspergillus sp.1 pada serasah daun A. marina adalah 63,6 % yang menempati posisi kedua dari jenis-jenis fungi yang ditemukan pada tingkat salinitas < 10 ppt. Jenis fungi ini didapatkan pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi selama 15, 60, 105, 120, 135, 150 dan 165 hari.

Pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt, frekuensi kolonisasi terbesar juga ditempati oleh Aspergillus sp. 2 dengan nilai frekuensi 72,7 % yang berarti terdapat delapan kali pemunculan koloni fungi ini dari sebelas kali pengamatan yang dilakukan.

Frekuensi kolonisasi fungi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt (Tabel 12) berkisar dari 9,1 % sampai 72,7%. Jenis-jenis fungi yang mempunyai nilai ferkuensi terbesar kedua dan ketiga adalah Aspergillus sp. 4 dan Aspergillus sp. 1 dengan nilai masing-masing sebesar 54,6 % dan 36,4%.

Frekuensi kolonisasi jenis-jenis fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt (Tabel 13), berkisar dari 9,1 sampai 81,8 %. Jenis fungi yang mempunyai nilai frekuensi terbesar adalah Aspergillus sp. 3 yang selanjutnya berturut-turut diikuti oleh Aspergillus sp. 2, Aspergillus sp. 4 dan Trichoderma sp. 4 dengan nilai frekuensi masing-masing adalah 81,1 %, 54,6 %, 45,5% dan 36,4%.

Pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt frekuensi kolonisasi fungi terbesar ditempati oleh Aspergillus sp. 2 dengan nilai frekuensi 72,7 %. Jenis fungi ini didapatkan pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 30, 60, 90, 105, 120, 135, 150 dan 165 hari. Adapun frekuensi kolonisasi fungi terbesar kedua dengan nilai 63,6% ditempati oleh Trichoderma sp. 4. Frekuensi kolonisasi berbagai jenis fungi pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 165 hari pada tingkat salinitas > 30 ppt dapat dilihat pada Tabel 14.

(35)

5.4. Pembahasan

Jumlah jenis fungi terbesar didapatkan pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt. Hal ini terjadi karena kondisi ini hampir sama dengan kondisi tawar (payau) yang cukup baik untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis fungi dibanding dengan kondisi pada tingkat salinitas yang lebih tinggi. Jumlah jenis ini berkurang dengan peningkatan salinitas, yaitu 12 pada salinitas 10 – 20 ppt dan 20 – 30 ppt masing-masingnya. Adapun pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt, jumlah jenis fungi lebih besar dibanding jumlah jenis fungi pada serasah yang mengalami dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt dan 20 – 30 ppt. Hal ini diperkirakan terjadi karena pengaruh aliran sungai yang terdapat di dekat lokasi penelitian. Diperkirakan propagul fungi yang berasal dari daratan yang tercuci berupa spora, hifa, konidia dan lain-lain terbawa oleh aliran sungai, sehingga waktu terjadi pasang banyak propagul mungkin terbawa ke lokasi penelitian dan menempel pada serasah daun A. marina serta terlibat dalam proses dekomposisi serasah yang berasal pada tingkat salinitas > 30 ppt. Mungkin pula propagul fungi ini berada pada kondisi dorman pada serasah daun A. marina. Selanjutnya propagul dorman tersebut pada waktu dilakukan isolasi di laboratorium dapat tumbuh dan berkembang. Dunn dan Baker (1983) mendapatkan bahwa viabilitas propagul 30 jenis fungi masih terpelihara pada pasir yang terbenam air laut selama 5 minggu.

Populasi terbesar jenis fungi didapatkan pada serasah daun A. marina yang belum mengalami proses dekomposisi di lapangan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada serasah yang belum ditempatkan di lapangan diperkirakan bahan- bahan perkembangbiakan fungi berasal dari lingkungan sekitar yang berasal dari tanah, terbawa oleh angin, burung, serangga dan lain-lain. Diperkirakan pada serasah daun yang belum mengalami proses dekomposisi di lapangan merupakan tempat yang sesuai bagi berbagai jenis fungi tersebut untuk dapat tumbuh dan berkembang. Walaupun jumlah jenis fungi yang terdapat pada serasah daun adalah kecil tetapi jenis-jenis fungi ini mampu berkembangbiak dengan baik, sehingga menghasilkan populasi yang besar.

Pada berbagai tingkat salinitas yang diteliti, populasi terbesar jenis fungi didapatkan pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt. Pola ini hampir sama dengan pola

(36)

jumlah jenis fungi yang juga terbesar pada serasah yang telah mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt. Dengan makin tinggi tingkat salinitas lingkungan maka makin menurun populasi fungi. Hal ini terjadi karena faktor-faktor yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis fungi lebih banyak terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas yang hampir mendekati tawar, yaitu <

10 ppt. Berbagai jenis fungi dapat tumbuh dan bekembang lebih baik pada salinitas < 10 ppt dibandingkan dengan pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt dan 20 – 30 ppt. Adapun populasi fungi lebih besar pada serasah daun A. marina yang berada pada tingkat salinitas > 30 ppt. Seperti halnya dengan jumlah jenis, juga populasi yang lebih besar pada lingkungan dengan tingkat salinitas > 30 ppt dibanding pada tingkat salinitas 20 – 30 ppt, diperkirakan juga disebabkan oleh pengaruh pasang yang membawa propagul fungi yang terbawa dari daratan.

Pada saat terbawa oleh air sungai propagul fungi ini diperkirakan berada dalam keadaan dorman, sehingga pada waktu dilakukan isolasi dengan kondisi yang menguntungkan, propagul dapat aktif kembali untuk tumbuh dan berkembang.

Kalau propagul fungi ini dibiarkan tetap berada dalam kondisi lingkungan dengan tingkat salinitas > 30 ppt, maka diperkirakan jenis-jenis tertentu fungi yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan tersebut, yaitu salinitas yang tinggi ini akan mati.

Keanekaragaman jenis fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi pada semua tingkat salinitas yang diteliti menunjukkan perberdaan yang besar. Di sini jelas terlihat bahwa sekalipun jumlah jenis fungi dan populasi fungi paling besar didapatkan pada tingkat salinitas < 10 ppt, tetapi untuk keanekaragaman jenis hal tersebut tidak berlaku. Bahkan terlihat

kecenderungan bahwa keanekaragaman jenis fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas > 30 ppt,

lebih besar dibanding dengan yang berada pada salinitas yang lebih rendah.

Menurut Fisher dan Binkley (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan populasi (population density) dan keanekaragaman jenis (species diversity) organisme tanah, adalah pasokan oksigen, kelembaban, suhu tanah, kandungan unsur hara dan jumlah bahan-bahan organik tanah.

Hubungan tingkat salinitas dan jumlah koloni fungi yang didapatkan pada serasah daun yang belum dan telah mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas (Lampiran 18), menunjukkan jenis-jenis fungi yang mempunyai

(37)

koloni terbesar, yaitu Aspergillus sp. 2 (terbesar pada kontrol, < 10, 10 – 20 dan 20 – 30) dan Fusarium sp 2 (terbesar pada > 30 ppt). Adapun jumlah koloni fungi terbesar kedua pada serasah daun yang mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas, yaitu Aspergillus sp.4.

5.5. Kesimpulan

Tingkat salinitas < 10 ppt adalah kondisi lingkungan yang lebih sesuai untuk bertahan hidup, pertumbuhan dan perkembangan berbagai jenis fungi pada serasah daun A. marina dibanding dengan tingkat salinitas yang lebih tinggi. Pengaruh tingkat salinitas dapat dilihat berdasarkan jumlah jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt dengan jumlah jenis 18 dibandingkan dengan jumlah jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt dan > 30 ppt yang masing-masing sebesar 12, 12 dan 15. Adapun populasi fungi yaitu 16.67 x 102 cfu/ ml yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt adalah juga terbesar, dibanding dengan besar populasi fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt, > 30 ppt dan kontrol yang masing-masing sebesar rata-rata 6.04 x 102 cfu/

ml, 5.34 x 102 cfu / ml, 5.96 x 102 cfu / ml. Indeks Keanekaragaman Jenis fungi pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas menunjukkan perberdaan yang tidak besar, kecuali bila dibandingkan dengan serasah yang belum mengalami dekomposisi terlihat adanya perbedaan yang besar. Adapun Indeks Keanekragaman jenis untuk fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas < 10 ppt, 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt, > 30 ppt dan pada serasah yang belum mengalami proses dekomposisi berturut-turut adalah 1.96, 1.86, 1.95, 2.20 dan 1.26.

Frekuensi kolonisasi fungi yang terdapat pada tingkat salinitas < 10 ppt adalah 90,9 % dari sebelas kali pengamatan yang dilakukan terhadap berbagai jenis fungi yang ada selama terjadi proses dekomposisi serasah daun A. marina.

Adapun frekuensi kolonisasi fungi yaitu 72, 7 %, 81,1 % dan 72,7 % terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada tingkat salinitas 10 – 20 ppt, 20 – 30 ppt dan > 30 ppt.

(38)

Referensi

Dokumen terkait

Serasah yang mengalami dekomposisi memberikan sumbangan bahan organik yang dapat mempertahankan kesuburan tanah dan merupakan sumber pakan bagi berbagai jenis ikan dan organisme

SAPRIL ANAS HASIBUAN: Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp pada Berbagai Tingkat Salinitas.. Dibimbing oleh YUNASFI dan

Untuk itu suatu penelitian telah dilakukan di kawasan hutan mangrove Sicanang Belawan Medan pada Agustus – Desember 2008 yang bertujuan untuk mengukur laju dekomposisi serasah

marina yang mengalami dekomposisi selama 15 sampai dengan 165 hari pada semua tingkat salinitas, ini disebabkan oleh proses-proses fisik berupa kehancuran serasah yang besar..

Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritus bagi ekosistem laut dan

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh tingkat salinitas terhadap laju dekomposisi serasah dan mengetahui kandungan unsur hara karbon (C), nitrogen (N) dan

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh tingkat salinitas terhadap laju dekomposisi serasah dan mengetahui kandungan unsur hara karbon (C), nitrogen (N) dan

Hasil pengukuran rata-rata nilai konstanta laju dekomposisi (k) serasah pada masing-masing stasiun berturut-turut adalah sebesar 0.88, 0.54, dan 0.51 dari bobot