• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBINAAN OLIMPIADE MATEMATIKA SEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODEL PEMBINAAN OLIMPIADE MATEMATIKA SEK"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MODEL PEMBINAAN OLIMPIADE MATEMATIKA SEKOLAH DASAR DI PROPINSI BALI

oleh

I Wayan Puja Astawa Jurusan Pendidikan Matematika

Fakultas MIPA, Universitas Pendidikan Ganesha ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui kemampuan model pembinaan olimpiade Matematika yang dikembangkan dengan struktur program 30% pemantapan teori, 50% latihan soal, dan 20% wawancara (moderasi) dalam meningkatkan kemampuan akademik calon peserta olimpiade dan (2) membandingkan efektivitas pembinaan model “blok kontinyu” dengan model “blok diskrit” yang menghasilkan peningkatan kemampuan akademik calon peserta olimpiade Matematika Sekolah Dasar (SD) yang lebih tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto terhadap peserta pembinaan olimpiade tahun 2004. Populasi penelitian adalah semua siswa kelas 4, 5, atau 6 SD yang memperoleh nilai minimal 7,0 untuk mata pelajaran Matematika sejak kelas 4. Sampel penelitian diambil dengan gabungan teknik purposive dan kuota sampling yang dengan jumlah sampel 20 orang yang selanjutnya sebagian mengikuti pembinaan dengan model “blok kontinyu” dan sebagian lagi mengikuti pembinaan dengan model “blok diskrit”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model pembinaan olimpiade yang dikembangkan dengan struktur program tersebut di atas mampu meningkatkan kemampuan akademik calon peserta olimpiade Matematika dan (2) peningkatan kemampuan akademik calon peserta olimpiade tidak tergantung dari model pembianaan yang mereka ikuti. Walapun demikian, disarankan untuk mengombinasikan kedua model pembinaan ini dalam penerapan lebih lanjut.

(2)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

ABSTRACT

The objectives of this research were to: (1) know the effect of the olympic training on mathematics developed by 30% theoritical discussion, 50% problem exercises, and 20% interview in increasing academic ability of students who would be mathematics olympiad candidates and (2) determine which of the training model either continuum block model or discrete block model was higher in increasing academic ability of student of mathematics olympiad candidates. This was an ex post facto research on students of Bali in academic year 2004 who would be candidates for national science olympiad on mathematics. Population of the study was all students of grade 4, 5, and 6 who got at least 7.0 mark on their mathematics subjects since they were in grade 4. The size of the was 20. It was drawn from the population using purposive and quota sampling. The sample then was split into 2 groups and each of them was given different training model. One group followed a continuum block model and the other group followed a discrete block model. The results of this research showed that (1) the olympic training on mathematics that was developed as above could improve academic ability of the students and (2) increment of academic ability of the students who underwent the olympic training on mathematics did not depend on the training model that was followed. Though, the implementation of a combination of the two training models is suggested. Key words : olympic training on mathematics, continuum block model and

discrete block model

1. Pendahuluan

(3)

global. Peningkatan mutu pendidikan harus menyeluruh yang mencakup semua bidang ilmu atau mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Akan tetapi, berbagai persoalan yang dihadapi, peningkatan mutu pendidikan dapat diprioritaskan pada mata pelajaran-mata pelajaran yang esensial. Salah satu mata pelajaran yang esensial tersebut adalah mata pelajaran ilmu dasar, yaitu Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Prioritas kepada kedua mata pelajaran ini diberikan karena keduanya memiliki peranan sangat penting dalam pengembangan daya nalar dan kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Di samping itu, kedua mata pelajaran tersebut merupakan tulang punggung dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejalan dengan amanat UU No. 20 tahun 2003, mutu pendidikan juga digariskan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam PP ini ditegaskan tentang pentingnya mutu pendidikan dan sistem penjaminannya yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan standarisasi pendidikan secara nasional. Secara nasional, harus ada acuan tentang standar isi, standar proses, standar pengelolaan, standar keuangan dan standar lainnya yang berkaitan dengan proses pendidikan sebagai suatu sistem. Penetapan standar secara nasional dimaksudkan sebagai acuan mutu pengembangan pendidikan di daerah-daerah sehingga dapat dibandingkan antara satu dengan yang lainnya.

(4)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

serta mulai dilaksanakan sejak OSN ke-2 di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pelaksanaan Olimpiade Matematika SD/MI tersebut mempunyai 2 tujuan, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus (Ditjen TK SD Depdiknas, 2003, 2004, 2005). Tujuan umumnya adalah meningkatkan mutu pendidikan Matematika di SD/MI secara komprehensif melalui penumbuhkembangan budaya belajar, kreativitas, dan motivasi meraih prestasi terbaik dengan kompetisi yang sehat serta menjunjung nilai-nilai sportivitas. Tujuan khususnya adalah (1) menyediakan wahana bagi siswa SD/MI untuk mengembangkan bakat dan minat di bidang Matematika sehingga dapat berkreasi serta melakukan inovasi sesuai kemampuannya, (2) memotivasi siswa SD/MI agar selalu meningkatkan kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual berdasarkan norma-norma yang sehat sehingga dapat memacu kemampuan berpikir nalar, dan (3) menjaring bibit unggul dan berprestasi sebagai calon peserta olimpiade Matematika tingkat internasional. Tujuan pelaksanaan OSN SD/MI ini sejalan dengan tujuan dan harapan dari pelaksanaan olimpiade sains tingkat yang lebih tinggi seperti berikut.

The science olympiad can be a successful experience in many ways: 1. It can increase student interest in science

2. it can enhance student self-esteem by giving a feeling of belonging and accomplishment

3. It can enrich classroom science program 4. It can strengthen school spririt

5. It can involve the comuniy 6. It can be fun !!!

(5)

Khusus untuk Olimpiade Matematika internasional, tujuan pelaksanaannya adalah menemukan, mendorong, dan menantang bakat-bakat muda dalam Matematika; menumbuhkan persahabatan antara Matematikawan; dan memberikan kesempatan pertukaran informasi dan pikiran tentang pengajaran Matematika di sekolah-sekolah (Muchlis, A, 2003).

Seperti Olimpiade Matematika yang lain, Olimpiade Matematika SD menguji kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah Matematika yang tidak rutin (Muchlis, A, 2004). Hal ini berarti bahwa siswa dituntut untuk menggunakan seluruh kemampuan Matematika yang telah diperoleh di sekolah secara kreatif untuk menyelesaikan soal-soal Matematika. Keberhasilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal tidak rutin tergantung dari kreasi dan inovasi mereka dalam menerjemahkan dan merencanakan pemecahan masalah/soal-soal. Perhatikan dua contoh soal berikut.

Contoh 1: Hitunglah 23 + 79 = …

Contoh 2. Hitunglah : 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + … + 100 = …

(6)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

Keberhasilan seorang peserta lomba pada jenjang OSN Matematika SD ditentukan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah kesiapan peserta. Kesiapan ini meliputi kesiapan fisik dan kesiapan mental, termasuk di dalamnya adalah kesiapan dalam hal kemampuan akademik. Oleh karena itu, mempersiapkan siswa mengikuti ajang lomba tentu sangat perlu untuk dilakukan. Menyadari pentingnya persiapan diri peserta OSN Matematika sebelum berlomba di tingkat nasional, perlu dilakukan pengkajian terhadap model-model pembinaan untuk mengembangkan kemampuan siswa calon peserta OSN menjadi lebih baik. Dalam menghadapi OSN Matematika tahun 2003, di Provinsi Bali dikembangkan model pembinaan kontinyu selama dua minggu dengan struktur program pendalaman materi sekitar 30% dan sisanya 70% berupa latihan-latihan soal. Model pembinaan dengan struktur program di atas ternyata belum mampu menyiapkan calon peserta lomba yang benar-benar siap secara akademik. Hal ini terlihat dari hasil lomba OSN Matematika di Balikpapan, dari 2 orang peserta yang diikutkan sebagai peserta, hanya satu orang yang menempati peringkat 10 dari keseluruhan peserta (Puja Astawa, 2003).

(7)

mental mereka tidak terpisah lama dengan orang tua atau orang yang menjadi pelindungnya. Kedua model ini dipilih dengan mempertimbangkan aspek-aspek psikologi siswa SD seperti perkembangan kognitif, perkembangan emosi, dan perkembangan sosial yang berbeda dengan siswa pada tingkatan yang lain (Santrock, 1998). Emosi siswa SD umumnya masih labil sehingga mereka sering kesulitan mengontrol perasaannya. Di samping itu, sifat ketergantungan dengan orang tua atau orang yang menjadi pelindungnya relatif masih tinggi. Hal ini menjadi sangat krusial manakala mereka berinteraksi dengan teman sejawatnya dalam berkompetisi menjadi yang terbaik sehingga terpilih sebagai peserta OSN wakil daerah. Oleh karena itu, peranan orang dewasa seperti pembina/pelatih OSN atau orang tua masih sangat diperlukan. Kehadiran sosok orang dewasa masih sangat dominan dalam rangka meredam emosinya. Selanjutnya, calon peserta OSN untuk kedua model pembinaan diberikan program pembinaan dengan struktur program 30% pemantapan teori, 50% latihan soal, dan sisanya 20% wawancara atau moderasi. Terkait dengan hal tersebut di atas, permasalahan yang akan dikaji lebih lanjut adalah sebagai berikut. (1) Apakah model pembinaan Olimpiade Matematika SD yang dikembangkan dengan struktur program 20% pemantapan teori, 50% latihan soal, dan 30% wawancara atau moderasi mampu meningkatkan kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika? (2) Model manakah, antara “blok kontinyu” dan “blok diskrit” yang menghasilkan peningkatan kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika SD yang lebih tinggi?

(8)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

pemantapan teori, 50% latihan soal, dan 30% wawancara atau moderasi mampu meningkatkan kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika. (2) Model “blok diskrit” menghasilkan peningkatan kemampuan akademik yang lebih tinggi calon peserta OSN Matematika SD 2. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian ex post facto dengan subjek penelitian semua siswa Sekolah Dasar di Provinsi Bali yang memenuhi syarat sebagai calon peserta Olimpiade Matematika SD pada tahun ajaran 2003/2004, yaitu: (1) duduk di kelas 4, 5 atau 6, dan (2) memperoleh nilai minimal 7 pada mata pelajaran Matematika sejak duduk di kelas 4. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan gabungan teknik purposive dan kuota sampling. Besarnya anggota sampel penelitian adalah 20 orang yang berasal dari SD negeri maupun swasta. Anggota-anggota sampel dikelompokkan menjadi 2, yaitu kelompok sampel yang dibina dengan model “blok kontinyu” dan kelompok sampel yang dibina dengan model “blok diskrit”. Banyak anggota sampel untuk tiap model pembinaan adalah 10 orang.

Data yang digali dalam penelitian ini adalah data tentang kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika Provinsi Bali sebelum dan setelah mengikuti pembinaan. Untuk mengumpulkan data tersebut di atas, digunakan tes dan wawancara. Tes yang digunakan untuk memilih sampel penelitian disusun dengan mengacu pada standar tes Olimpiade Matematika SD tahun sebelumnya. Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menjawab permasalahan pertama berupa uji t dari observasi berpasangan, yaitu

n S

D t

d

(9)

dengan D adalah rerata skor perbedaan kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika Provinsi Bali sebelum dan setelah pembinaan. Di samping itu, peningkatan kemampuan akademik dianalisis dengan g-factor dengan rumus:

(Cox dan Junkin, 2002)

dengan Sf = prosentase skor setelah pembinaan, Si = prosentase skor

sebelum pembinaan, dan Sm = prosentase skor maksimum ideal.

Permasalahan kedua dianalisis dengan menggunakan statistik uji t sebagai berikut:

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan 3.1 Hasil Penelitian

Hasil tes para peserta pembinaan disajikan dalam bentuk prosentase. Untuk keseluruhan peserta, rerata dan standar deviasi skor tes sebelum dan setelah pembinaan serta peningkatannya disajikan pada tabel 01, sedangkan rerata dan standar deviasi skor tes sebelum dan setelah pembinaan serta peningkatannya untuk kelompok pembinaan model “blok diskrit” dan model “blok kontinyu”disajikan pada Tabel 02.

Tabel 01 : Rerata Prosentase Skor Tes Seluruh Peserta Pembinaan Olimpiade Matematika Provinsi Bali Tahun 2004

Statistik Sebelum Setelah Peningkatan/Penurunan

Rerata 56.16 66.64 10.48

(10)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

Tabel 02: Rerata Prosentase Skor Tes Peserta Pembinaan Olimpiade Matematika Provinsi Bali Tahun 2004

Kelompok Sebelum Setelah Peningkatan/Penurunan Blok Diskrit 60.23

(5.75)

65.72 (16.83)

5.49 (14.21) Blok Kontinyu 52.09

(2.73)

67.56 (13.99)

15.46 (13.44)

Catatan : angka yang dinyatakan dalam kurung merupakan standar deviasi.

Tabel 03: g-factor Untuk Mengukur Peningkatan Kemampuan Akademik Peserta Pembinaan Olimpiade Matematika Provinsi Bali Tahun 2004

Kelompok Rata-rata

g-factor Kriteria

Blok Diskrit 0,326 Sedang

Blok Kontinyu 0,153 Rendah

Total 0,24 Rendah

(11)

5% dan dengan derajat kebebasan 19 adalah sebesar 2,093. Dari perhitungan ini terlihat bahwa nilai t hitung lebih besar dari nilai kritis 2,093. Dengan demikian, hipotesis nol ditolak (nilai p = 0.0042). Selanjutnya analisis g-factor menunjukkan bahwa secara umum peningkatan kemampuan akademik yang dihasilkan dari pengembangan model pembinaan tersebut masih tergolong rendah. Akan tetapi, untuk kelompok pembinaan dengan model diskrit peningkatan kemampuan akademik yang dihasilkan dari model pembinaan ini tergolong sedang.

Untuk permasalahan kedua, hipotesis nol-nya adalah tidak ada perbedaan peningkatan kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika SD antara model pembinaan “blok diskrit” dan model pembinaan “blok kontinyu”. Perhitungan uji statistik menunjukkan bahwa thitung = 1.61. Nilai t kritis pada taraf signifikansi 5% dan dengan derajat

kebebasan 18 adalah sebesar 2,101. Dari perhitungan ini terlihat bahwa nilai t hitung berada pada daerah penerimaan H0. Dengan demikian,

hipotesis nol diterima.

3.2 Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis untuk permasalahan pertama menunjukkan bahwa model pembinaan yang dikembangkan dengan struktur program pembinaan seperti diuraikan sebelumnya mampu meningkatkan kemampuan akademik calon peserta olimpiade bidang Matematika SD. Hal ini menunjukkan bahwa struktur program pembinaan yang dikembangkan mampu meningkatkan kemampuan peserta dalam menyelesaikan soal-soal Matematika yang setara dengan soal-soal olimpiade nasional.

(12)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

pemantapan konsep-konsep dasar Matematika dan latihan-latihan soal Matematika yang merupakan soal-soal pemecahan masalah. Latihan-latihan soal yang diberikan selama pembinaan membuat peserta mampu mengembangkan wawasan berpikir kritisnya. Hal ini sejalan dengan pendapat Piaget yang menekankan pentingnya latihan-latihan serta lingkungan dalam menumbuhkembangkan intelegensi siswa (Suparno, 2001).

Peranan lingkungan khususnya lingkungan belajar sangat penting dalam menciptakan suasana yang memungkinkan tumbuhnya pengetahuan dan keterampilan baru pada diri siswa (Purwanto, 2004). Sejalan dengan hal ini, model pembinaan olimpiade dilaksanakan untuk menciptakan lingkungan yang sesuai agar mampu menumbuhkan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang calon peserta Olimpiade Matematika. Unsur penting yang perlu diperhatikan dalam perkembangan pemikiran siswa calon peserta olimpiade adalah latihan dan pengalaman (Suparno, 2001). Latihan berpikir, merumuskan masalah dan memecahkannya, serta mengambil kesimpulan akan membantu calon peserta untuk mengembangkan pemikiran dan intelegensinya. Semakin banyak latihan yang dilakukan semakin berkembanglah cara berfikirnya. Demikian juga, kalau siswa semakin banyak melakukan latihan memecahkan persoalan Matematika, maka siswa semakin mengerti dan semakin berkembang cara berfikirnya.

(13)

pengalaman logiko matematik berguna untuk mengkonstruksi hubungan-hubungan antarobjek, transmisi sosial berasal dari orang lain sebagai motivator atau fasilitator, dan pengaturan sendiri berguna untuk memperoleh keseimbangan dengan pengalaman baru yang telah diperoleh dari lingkungan. Pengalaman pisik, pengalaman logiko matematik, transmisi sosial dan pengaturan sendiri dikembangkan secara maksimal dalam program pembinaan yang dikembangkan.

Aspek penting yang lain yang dikembangkan dalam proses pembinaan adalah menumbuhkan motivasi. Motivasi ini merupakan dorongan bagi siswa (peserta) untuk dapat menunjukkan kemampuan terbaiknya. Motivasi yang ditumbuhkan selama dalam proses pembinaan lebih banyak bersifat motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang berasal dari luar diri peserta pembinaan. Motivasi ditumbuhkan dengan cara menumbuhkan kesadaran para peserta pembinaan akan kemampuan dirinya dan menciptakan suasana persaingan yang sehat untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam peningkatan kemampuan akademik peserta pembinaan dalam menyelesaikan soal-soal Matematika antara peserta yang mengikuti pembinaan model “blok diskrit” dan peserta yang mengikuti pembinaan model “blok kontinyu”. Hal ini berarti peningkatan kemampuan akademik peserta pembinaan dalam menyelesaikan soal-soal Matematika tidak ditentukan oleh model pembinaan yang dikenakan kepada mereka. Walaupun demikian, penerapan model pembinaan yang akan dikembangkan perlu dilandasi dengan pengkajian keunggulan dan kelemahan masing-masing model.

(14)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

dalam satu rentang waktu secara kontinyu, (2) peserta pembinaan tidak terlalu banyak kehilangan materi pelajaran sekolah. Kelemahan yang menonjol dari model ini adalah munculnya rasa bosan di kalangan peserta. Hal ini disebabkan oleh faktor dominan berupa ketergantungan para peserta dengan orangtuanya. Pada usia 11 - 12 tahun siswa masih memerlukan perlindungan orang dewasa (orang tua) dalam melaksanakan aktivitasnya.

Keunggulan model “blok diskrit” adalah rasa bosan yang rendah karena mereka terpisah dari orang tuanya dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Namun, kelemahan yang menonjol adalah peluang peserta mengikuti pembinaan secara periodik akan menurun. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah keselamatan peserta dan biaya dalam perjalanan karena peserta pulang pergi ke tempat pembinaan dengan frekuensi yang tinggi.

(15)

sedangkan pada lomba yang sama tahun 2006 di Semarang diperoleh satu medali perak dan satu medali perunggu (Puja Astawa, 2005, 2006),

4. Penutup

Berdasakan hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan bahwa (1) Model pembinaan Olimpiade Matematika SD yang dikembangkan dengan struktur program pembinaan 30% pemantapan teori, 50% latihan soal, dan 20% wawancara (moderasi) mampu meningkatkan kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika. (2) Peningkatan kemampuan akademik peserta pembinaan olimpiade tidak tergantung dari model pembinaan yang diterapkan. Dengan kata lain, kedua model pembinaan yaitu model “blok kontinyu” dan model “blok diskrit” menghasilkan peningkatan yang sama pada kemampuan akademik calon peserta OSN Matematika.

Berkaitan dengan hasil penelitian ini, disarankan untuk mengembangkan model pembinaan olimpiade yang merupakan kombinasi antara model “blok kontinyu” dan “blok diskrit”. Kombinasi antara kedua model ini berupa model blok kontinyu yang diselingi dengan waktu jeda (sehari atau dua hari) untuk menghindari kejenuhan peserta. Waktu jeda bisa diisi dengan kegiatan belajar sambil bersenang-senang seperti wisata pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

(16)

______________Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 2 TH. XXXX April 2007

Anonim. 2004. Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Tingkat Nasional. Jakarta:Direktorat TK dan SD Dirjen Dikdasmen Depdiknas.

Anonim. 2005. Olimpiade Sains Nasional Tingkat SD/MI. Jakarta:Direktorat TK dan SD Dirjen Dikdasmen Depdiknas.

Cox, A. J and W. F Junkin. 2002.Enhanced Student Learning in the Physic Laboratory. Physic education

Dahar, R W 1989.Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga

Muchlis, A. 2003. Olimpiade Matematika Sekolah Dasar. Makalah disampaikan pada rakor Direktorat TK SD di Banjarmasin Kalimantan Selatan

_______. 2004. Olimpiade Sains Nasional: Matematika Sekolah Dasar. Makalah disampaikan pada rakor Direktorat TK SD di Pontianak Kalimantan Barat

_______. 2005. Olimpiade Sains Nasional (OSN) Bidang Matematika tingat Sekolah Dasar. Makalah disampaikan pada rakor Direktorat TK SD di Medan Sumatra Utara.

Naskah Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Naskah Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

Online material available at: http://www.mysoly.org/elmentary/index.htm Puja Astawa, I W. 2003. Laporan Pakar Pendidikan Bidang Matematika

Propinsi Bali dalam Rangka OSN 2003. tidak diterbitkan. Subdin Dikdas Disdik Bali

---. 2004. Laporan Bulanan Pakar Pendidikan Bidang Matematika Propinsi Bali dalam Rangka OSN 2004. tidak diterbitkan. Subdin Dikdas Disdik Bali

(17)

---. 2006. Laporan Bulanan Pakar Pendidikan Bidang Matematika Propinsi Bali dalam Rangka OSN 2006. tidak diterbitkan. Subdin Dikdas Disdik Bali

Purwanto, Ngalim M. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Remaja Rosda Karya

Santrock, John W. 1998. Child Development. 8th eds. Boston : Mc Graw Hill

Sujana. 2002.Metoda Statistika. Bandung : Tarsito

Suparno, Paul. 2001. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget . Yogyakarta : Kanisius

Gambar

Tabel 03: g-factor Untuk Mengukur Peningkatan Kemampuan AkademikPeserta Pembinaan Olimpiade Matematika Provinsi Bali Tahun2004

Referensi

Dokumen terkait

Susanto, Hery, 2005, Soal Olimpiade MIPA Bidang Matematika Tingkat SD/MI Provinsi Jawa Timur , artikel dalam Jurnal Mahkota Matematika Volume 1 Nomor 1 September 2005 ,

Menurut Mauliddin, faktor-faktor kesulitan yang dialami oleh guru dalam memahami soal-soal olimpiade matematika adalah guru-guru tidak terbiasa mengerjakan soal-soal

Selanjutnya dibahas tentang beberapa strategi yang dapat dilakukan para pengawas untuk membina para guru nyang siswanya berbakat matematika melalui olimpiade

Pembinaan dilaksanakan dengan tujuan untuk (1) meningkatkan pengetahuan siswa SD dalam bidang sains, (2) meningkatkan keterampilan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal

Soal-soal latihan untuk siswa yang ingin mengikuti OSK atau olimpiade mata pelajaran Matematika tingkat

SOAL SELEKSI OLIMPIADE SAINS TINGKAT KABUPATEN/KOTA 2016 CALON TIM OLIMPIADE MATEMATIKA INDONESIA 2017 Bidang Matematika Waktu : 120 menit KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Kumpulan latihan soal-soal OSP (Olimpiade Sains Pengetahuan) Matematika SMA tahun 2023 dengan

Soal Olimpiade Sains Nasional Bidang Matematika Jenjang Sekolah Dasar Tingkat Provinsi - Tahun