• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Daya Terima Agar-Agar Dadih Susu Kerbau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Uji Daya Terima Agar-Agar Dadih Susu Kerbau"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anak Sekolah Dasar

2.1.1 Pengertian dan karakteristik anak sekolah dasar

Anak sekolah dasar adalah anak yang berusia 7-12 tahun, memiliki fisik

lebih kuat mempunyai sifat individual serta aktif dan tidak bergantung dengan

orang tua. Biasanya pertumbuhan anak putri lebih cepat dari pada putra.

Kebutuhan gizi anak sebagian besar digunakan untuk aktivitas pembentukan dan

pemeliharaan jaringan. Karakteristik anak sekolah meliputi:

1. Pertumbuhan tidak secepat bayi.

2. Gigi merupakan gigi susu yang tidak permanen (tanggal).

3. Lebih aktif memilih makanan yang disukai.

4. Kebutuhan energi tinggi karena aktivitas meningkat.

5. Pertumbuhan lambat.

6. Pertumbuhan meningkat lagi pada masa pra remaja.

Anak sekolah biasanya banyak memiliki aktivitas bermain yang menguras

banyak tenaga, dengan terjadi ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan

keluar, akibatnya anak menjadi kekurangan gizi. Untuk mengatasinya, ibu bisa

(2)

2.1.2 Masalah gizi anak sekolah dasar

Masalah gizi (malnutrition) adalah gangguan pada beberapa segi

kesejahteraan perorangan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak

terpenuhinya kebutuhan akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi

berkaiatan erat dengan masalah pangan.

Masalah pangan antara lain menyangkut ketersediaan pangan dan

kerawanan konsumsi pangan yang dipengaruhi oleh kemiskinan, rendahnya

pendidikan dan adat/kepercayaan yang terkait dengan tabu makanan. Sementara,

permasalahan gizi tidak hanya terbatas pada kondisi kekurangan gizi saja

melainkan tercakup pula kondisi kelebihan gizi.

Di beberapa daerah pada sekelompok masyarakat Indonesia terutama di

kota-kota besar, masalah kesehatan masyarakat utama justru dipicu dengan

adanya kelebihan gizi, meledaknya kejadian obesitas di beberapa daerah di

Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai konsekuensi yang

serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang kesehatan.

Dengan kata lain, masih tingginya prevalensi kurang gizi di beberapa daerah dan

meningkatnya prevalensi obesitas yang dramatis di beberapa daerah yang lain

akan menambah beban yang lebih komplek dan harus dibayar mahal oleh bangsa

Indonesia dalam upaya pembangunan bidang kesehatan, sumber daya manusia

dan ekonomi. Kelompok anak sekolah pada umumnya mempunyai kondisi gizi

yang lebih baik daripada kelompok balita, karena kelompok umur sekolah mudah

dijangkau oleh berbagai upaya perbaikan gizi yang dilakukan oleh pemerintah

(3)

Meskipun demikian masih terdapat berbagai kondisi gizi anak sekolah

yang tidak memuaskan, misal berat badan yang kurang, anemia defisiensi Fe,

defisiensi vitamin C dan daerah-daerah tertentu juga defisiensi Iodium

(Sediaoetama, 2006).

2.1.3 Kebutuhan makan pada anak sekolah

Awal usia 7 tahun anak mulai masuk sekolah, dengan demikian anak-anak

mulai masuk ke dalam dunia baru, dimana dia mulai banyak berhubungan dengan

orang-orang di luar keluarganya, dan dia berkenalan dengan suasana dan

lingkungan baru dalam kehidupannya. Hal ini tentu saja banyak mempengaruhi

kebiasaan makan mereka. Pengalaman-pengalaman baru, kegembiraan di sekolah,

rasa takut terlambat tiba di sekolah, menyebabkan anak-anak ini sering

menyimpang dari kebiasaan waktu makan yang sudah diberikan kepada mereka.

Adanya aktivitas yang tinggi mulai dari sekolah, kursus, mengerjakan

pekerjaan rumah (PR) dan mempersiapkan pekerjaan untuk esok harinya,

membuat stamina anak cepat menurun kalau tidak ditunjang dengan intake pangan

dan gizi yang cukup dan berkualitas. Agar stamina anak usia sekolah tetap fit

selama mengikuti kegiatan di sekolah maupun kegiatan ekstra kurikuler, maka

saran utama dari segi gizi adalah ibu harus tetap mengontrol makanan anak, dan

berikan anak makanan tambahan (makanan selingan) yang dapat memperkuat

kekebalan tubuhnya. Pentingnya mengkonsumsi makanan selingan selama di

sekolah adalah agar kadar gula tetap terkontrol baik, sehingga konsentrasi

(4)

Tabel 2.1 Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan (per orang per hari) anak umur 7-12 tahun

Gol.Umur Berat Tinggi Energi Protein

7-9 tahun

2.1.4 Pola konsumsi makanan jajanan anak sekolah dasar

Dewasa ini perilaku mengkonsumsi makanan jajanan menunjukkan

adanya kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun, baik di perkotaan maupun

di pedesaan. Konsumsi makanan jajanan di masyarakat diperkirakan terus

meningkat mengingat makin terbatasnya waktu anggota keluarga untuk mengolah

makanan sendiri. Keunggulan makanan jajanan adalah murah dan mudah di dapat,

serta cita rasa yang enak dan cocok dengan selera sebagian besar masyarakat.

Makanan jajanan yang pada umumnya digemari masyarakat adalah makanan kecil

ringan yang biasa dikonsumsi sebagai makanan selingan dan bersifat tidak

mengenyangkan (Moehji, 2000).

Pada umumnya anak-anak pada usia sekolah memilih makanan jajanan

yang disukai saja, dan sebagian besar makanan jajanan tersebut mengandung

tinggi karbohidrat, sehingga membuat cepat kenyang, selain itu keamanan dan

kesehatan dari jajanan tersebut masih sangat diragukan. Makanan yang tidak

cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan anak, akan menyebabkan

perubahan metabolisme dalam otak, sehingga mengakibatkan ketidakmampuan

otak berfungsi secara normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis,

(5)

dan terjadi ketidaksempurnaan biokimia dalam otak sehingga berpengaruh

terhadap perkembangan kecerdasan dan fungsi kognitif anak.

2.2 Makanan Jajanan

Makanan jajanan atau dalam bahasa Inggris disebut street food menurut

Food and Agriculture (FAO) didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang

dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat

keramaian umum lain yang langsung dimakan atau dikonsumsi tanpa pengolahan

atau persiapan lebih lanjut. Makanan jajanan memegang peranan penting dalam

mernberikan kontibusi tambahan untuk kecukupan gizi, khususnya energi dan

protein. Kebiasaan jajan di sekolah terjadi karena 3-4 jam setelah makan pagi

perut akan terasa lapar kembali.

Kebanyakan pedagang makanan jajanan disekolah tersebut adalah industri

rumah tangga. Perlu disadari bahwa sering kali makanan hasil buatan industri

rumah tangga mengandung bahan tambahan makanan yang berbahaya, salah

satunya adalah pemanis buatan yang dilarang ataupun pemanis buatan yang

diizinkan tetapi dalam jurnlah berlebih. Industri pangan dan minuman lebih

menyukai menggunakan pemanis buatan karena selain harganya relatif murah,

tingkat kemanisan pemanis buatan jauh lebih tinggi dari pemanis alami. Hal

tersebut mengakibatkan terus meningkatnya penggunaan pemanis buatan terutama

sakarin dan siklamat.

Pemanis buatan sakarin dan siklamat merupakan jenis pemanis yang

khusus ditujukan bagi penderita diabetes. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa

(6)

sakarin, penggunaan siklamat dapat pula berbahaya mengingat hasil

metabolismenya, yaitu sikloheksamina bersifat karsinogenik, sehingga sekresi

lewat urin dapat merangsang pertumbuhan tumor pada kandung kemih tikus.

Salah satu kriteria keamanan makanan jajanan yang dijual di lingkungan

sekolah adalah aman dari komposisi gizi dan bahan tambahan pangan, maka

komposisi makanan jajanan harus diperhatikan. Anak sekolah umumnya setiap

hari menghabiskan seperempat waktunya di sekolah. Hanya sekitar 5 persen anak

sekolah membawa bekal dari rumah. Oleh karena itu mereka lebih suka jajan

makanan jajanan kaki lima dan mempunyai kemampuan untuk mernbeli makanan

jajanan.

Makanan jajanan dapat berupa minuman atau makanan dengan jenis, rasa,

dan warna yang bervariasi dan memikat. Variasi rasa, jenis dan terutama warna

yang memikat dan menarik minat anak sekolah untuk membeli makanan jajanan.

Sekarang ini, jajan menjadi sebagai kebiasaan anak sepulang sekolah. Dikutip dari

buletin Info POM, kebiasaan orang tua memberikan uang jajan dan tidak

menjadikan bekal adalah salah satu alasan terbentuknya kebiasaan jajan pada anak

sekolah.

Makanan jajanan dapat ditemukan hampir di setiap sekolah dasar

biasanya, terdapat di luar sekolah atau dalam sekolah. Makanan jajanan

ditempatkan di tempat yang terbuka dan terkadang dicampur bahan-bahan yang

berbahaya. Hal ini menyebabkan makanan jajanan menjadi tidak sehat dan

berbahaya untuk dikonsumsi, hasil penelitian yang dilakukan Badan Pengawas

(7)

(IPB) membuktikan 35% jajanan anak sekolah di Indonesia tidak sehat

dikonsumsi.

2.3 Susu Kerbau

Susu merupakan bahan pangan yang sangat bermanfaat bagi manusia.

Sebagai bahan makanan, susu mengandung semua zat yang dibutuhkan oleh tubuh

dan semua dapat diserap oleh darah dan dimanfaatkan. Di dalam kehidupan sehari

hari susu sapi yang umumnya dijadikan sebagai bahan makanan, walaupun pada

dasarnya masih ada susu yang bersumber dari ternak lain yang tidak kalah penting

nilainya dari susu sapi seperti susu kerbau. Di Asia Tenggara susu kerbau banyak

digunakan untuk melengkapi susunan makanan anak setelah disapih dari ibunya

terutama yang tinggal didaerah pedesaan. Sedangkan di Indonesia, beberapa

daerah seperti : Minangkabau, Sulawesi Selatan dan Tapanuli Utara telah

memanfaatkan susu kerbau sebagai bahan makanan contohnya dadih

(Anonymous, 1991).

Sebagaimana ternak perah lainnya, kerbau perah mempunyai hasil utama

susu. Kerbau termasuk pemasok susu terbesar kedua di dunia setelah sapi. Sekitar

separuh kerbau di dunia adalah kerbau tipe sungai yang diternakkan dengan

tujuan untuk menghasilkan susu dengan kadar lemak yang tinggi (Warner,

1976). Bahan dasar yang terdapat pada susu kerbau meliputi : protein, lemak,

karbohidrat, vitamin dan mineral. Banyak hasil olahan susu yang dapat

dikembangkan dari bahan dasar ini. Hasil olahan tersebut dibuat berdasarkan ciri

dan sifat bahan tersebut. Pada dasarnya susu kerbau diolah untuk memperpanjang

(8)

Pencemaran mikrobia seringkali mengakibatkan umur simpan susu

menjadi pendek dan teknologi olahan dikembangkan untuk mengatasi hal itu.

Pengetahuan dan teknologi yang dikuasai oleh manusia telah memungkinkan susu

untuk diolah lebih lanjut. Pengolahan dapat meningkatkan kualitas susu yang

dihasilkan. Sebab berbagai macam mikroorganisme berbahaya dapat

dikurangiselama proses pengolahan, dan dapat memperpanjang daya simpan

(Adnan, 1984).

Tempat terbaik dalam menyimpan susu adalah dalam lemari es. Namun

menyimpan susu didalam gelap lebih dianjurkan, karena cahaya matahari dapat

mengubah aroma susu dan merusak vitamin B2-nya. Mengingat pengaruh negatif

tersebut, sebaiknya wadah atau gelas untuk menyimpan susu terbuat dari bahan

tidak tembus cahaya. Susu yang disimpan didalam freezer dapat bertahan selama

3 bulan pada suhu –17.8ºC. Susu harus di thawing terlebih dahulu didalam lemari

es sebelum diminum. Susu yang dibekukan kadang kadang menjadi sedikit

mengkristal. Tetapi hal itu tidak berpengaruh terhadap kualitas susu

(Sumoprastowo, 2000).

Susu kerbau mudah dikenal dari warnanya yang putih bersih. Bisa diolah

secara variatif menjadi berbagai jenis keju. Karena teksturnya lebih pekat dan

lebih kental maka lebih hemat ketika diolah. Susu kerbau mengandung sedikit

kadar air sehingga mudah diolah. Banyaknya kandungan lemak pada susunya

karena kerbau membuang kelebihan lemak dari tubuhnya ke dalam susunya

(9)

2.3.1 Komposisi susu kerbau

Secara umum, komposisi susu kerbau sama dengan susu dari ternak

ruminansia lainnya, hanya saja dengan proporsi yang berbeda beda. Susu kerbau

mudah dikenal karena memiliki ciri seperti : Warnanya lebih putih, lebih kaya

lemak, globula lemak susunya lebih kecil dan beremulsi dengan susu. Lemaknya

lebih mudah dicerna dan mengandung mineral yang lengkap. Curd

proteinnyalebih lunak. Susu kerbau dapat diminum orang yang alergi minum susu

sapi dan baik untuk orang yang mengalami gangguan sistem pencernaan.

Susu kerbau memiliki ciri khas seperti ketiadaan karoten sehingga

membuat warna susu kerbau lebih putih daripada susu lainnya. Selain itu, susu

kerbau relatif tidak mengandung kasein bebas, mengandung lebih sedikit nitrogen

dan asam salat, dan dadih susu kerbau lebih banyak mengandung mineral Ca dan

P (Wisnu : 2002).

Tabel 2.2 Komposisi susu kambing, susu domba, susu kerbau, susu sapi dan susu ibu (ASI)

(10)

Tabel 2.3 Rataan kualitas susu sapi dan susu kerbau di Sumatera Utara

Sumber : Sirait (1991)

Penelitian Sirait (1991) menunjukkan bahwa susu kerbau di Kotamadya

Medan Sumatera Utara memiliki kadar lemak dan protein yang lebih tinggi

dibandingkan susu sapi.

2.3.1.1 Kadar lemak susu kerbau

Kay (1974) menyatakan bahwa globula-globula penyusun lemak pada susu

kerbau adalah trigiserida (gliserol), kolesterol, lipid, pospolipin, lecitin, vitamin A

dan D dan alpha tocopherol. Lemak susu disekresi sebagai globula-globula lemak.

Ukuran globula-globula lemak pada susu kerbau lebih besar dibandingkan dengan

susu sapi. Diameter globula-globula lemak susu pada kerbau India adalah

4,1-4,8µ sementara sapi 3,6-4,0µ. Fahmi et al. disitasi Kay (1974) menyatakan bahwa

pada penelitiannya pada kerbau Yunani diketahui diameter rata-rata globula lemak

(11)

Tabel 2.4 Kadar asam lemak pada susu kerbau

Tingkat laktasi dan umur kerbau diyakini mempengaruhi kadar lemak susu

kerbau (Fahimmudin, 1975). Kadar lemak susu meningkat sejak awal masa laktasi

dan mencapai taraf tertinggi pada bulan keempat dan kelima laktasi. Pada umur

laktasi ke empat atau ke lima kadar lemak yang terkandung dalam susu kerbau

mencapai tingkat tertinggi. Arumughan dan Narayanan(1981) mengatakan bahwa

dengan meningkatnya masa laktasi kerbau perubahan yang sangat nyata adalah

dari lemak kolostrum yaitu meningkatnya kadar asam-asam lemak berkarbon

rendah dan menurunnya asam oleat.

2.3.1.2 Kadar protein susu kerbau

Secara umum protein susu dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kasein

dan whey. Harper dan Hall (1981) berpendapat bahwa kasein adalah suatu protein

yang disintesa oleh kelenjar susu. Komposisi protein susu terdiri dari kasein,

-laktoglobulin, α-laktalbumin, serum albumin, immunoglobulin, IgG1, dan IgG2.

(12)

-kasein dan κ kasein. Kadar αkasein, -kasein, -kasein susu kerbau adalah 26,1,

50,5, dan 23,4 (Kay, 1974 ).

2.3.1.3 Kadar laktosa susu kerbau

Olson (1951) menyatakan bahwa laktosa atau gula susu adalah bagian dari

larutan susu yang sebenarnya, ditemukan di dalam bahan kering, bahan baku

industri keju dan buttermilk, bahan baku dari industri mentega. Laktosa ditemukan

sedikit di dalam produk yang berbahan dasar susu, karena pemisahan yang tidak

sempurna dalam proses pembuatannya. Laktosa hanya ditemukan di dalam susu

dan merupakan produk dari sekresi kelenjar mammary. Susu dari spesies hewan

yang berbeda akan memiliki jumlah laktosa yang berbeda.

Laktosa atau gula susu adalah gula yang ditemukan hanya pada susu.

Laktosa mudah dicerna khususnya oleh bayi dan anak kecil. Laktosa menyediakan

keseimbangan nutrisi makanan di dalam susu dan membantu dalam

penggunaan lemak susu, mineral, dan vitamin (Diggins dan Bundy, 1961).

Laktosa tidak berasa manis seperti sukrosa atau gula tebu. Ratio rasa manis antara

laktosa dan sukrosa adalah 1 banding 6. Sangat sedikit informasi dalam

membandingkan nilai laktosa dan dan gula lain yang dipakai dalam makanan.

Laktosa terdapat pada susu yang berasal dari semua spesies hewan yang

sangatl berperanan penting dalam nutrisi, khususnya untuk hewan muda. Energi

dari laktosa dapat dibandingkan dengan glukosa dan mempunyai kemampuan

physikologi yang tidak ditemukan pada gula lain. Laktosa mempunyai food

value yang sama dengan sukrosa dan karbohidrat lain dan penambahan

(13)

sangat baik untuk media tumbuh bakteri. Laktosa memiliki nilai kesehatan yang

lebih dalam bentuk fermentasi yaitu susu acidhophilus dan hasil lain dari

fermentasi susu yang merupakan hasil dari kerja bakteri di dalam laktosa susu.

Fahimuddin (1975) mengatakan bahwa kadar laktosa kerbau antar 4.27 –

5.28%. Kadar laktosa mengalami peningkatan pada susu kerbau antara bulan

kedua dan ketiga laktasi, dan pada bulan ke enam laktasi nilainya menjadi tetap

dan menurun. Laktasi memberikan efek yang sangat signifikan terhadap kadar

laktosa.

Laktosa adalah disakarida yang terdirio dari galaktosa dan laktosa. Laktosa

hanya ditemukan dalam susu yang merupakan karbohidrat dasar dari banyak

spesies. Salah satu gen yang mempengaruhi kadar laktosa adalah a-lactalbumin

(a-LA). a-Lactalbumin adalah :

a. Susu yang memiliki protein kering 25% dari total protein pada susu sapi., dan

bernilai 2-5% dari total skim protein susu.

b. Tidak ada katalis aktif di dalam a-Lactalbumin, tapi mempunyai hubungan

yang sangat dekat dengan pembentukan laktosa.

c. Memiliki kesamaan dalam struktur dengan lisosom. Lisosom adalah

glikosidase dengan hidrolisis dari polisakarida di dalam dinding sel bakteri.

d. a-LA mengubah gula binding yang dimiliki galaktosiltransfer, jadi laktosa di

(14)

2.3.2 Manfaat susu kerbau bagi tubuh

Susu kerbau terdiri dari banyak jenis zat gizi yang berguna untuk

pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Adapun manfaat susu kerbau untuk tubuh

adalah :

a. Protein

Protein dalam susu kerbau merupakan protein lengkap atau mengandung

semua asam amino esensial dalam jumlah yang dapat mendukung pertumbuhan.

Protein susu terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu kasein yang dapat

diendapkan oleh asam dan enzim renin dan protein whey yang dapat mengalami

denaturasi oleh panas pada suhu kurang lebih 65 0c (Purnomo,1985).

Protein dalam susu berfungsi membentuk jaringan baru selama

pertumbuhan dan perkembangan tubuh,memelihara jaringan tubuh, menyediakan

asam amino yang diperlukan untuk membentuk enzim pencernaan dan

metabolisme serta antibodi yang diperlukan, mengatur keseimbangan air,

mempertahan kenetralan (asam-basa) tubuh (Khomsan,2004).

b. Lemak

Lemak pada susu kerbau banyak mengandung asam lemak jenuh.Lemak

berfungsi mengubah bentuk dan ukuran substansi dalam sel, berfungsi dalam

pembentukan sel otak,dan lain-lain. Kekurangan asam lemak omega 6

menyebabkan pertumbuhan menurun,kegagalan reproduktif, perubahan kulit dan

rambut,serta patologi hati. Lemak berfungsi menyediakan energi untuk membantu

(15)

c. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan sumber energi terbesar dalam tubuh dan

merupakan komponen nutrient ( zat gizi ) terbesar dalam makanan sehari-hari.

Laktosa merupakan karbohidrat utama yang terdapat dalam susu yang terdiri dari

glukosa dan galaktosa. Laktosa mudah diasimilasikan sebagai makanan dengan

proses hidrolisa menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim usus laktase

(Purnomo,1985).

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi, bahan pembentuk berbagai

senyawa tubuh, bahan pembentuk asam amino esensial, metabolisme normal

lemak, menghemat protein, meningkatkan pertumbuhan bakteri usus,

mempertahan gerak usus (teruatama serat), meningkatkan konsumsi

protein,mineral dan vitamin B (Khomsan,2004).

d. Vitamin

Vitamin dalam susu kerbau berfungsi untuk membantu pengaturan atau

kegiatan tubuh.Tanpa vitamin, manusia tidak akan dapat melakukan aktivitas

hidup serta memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh. Adapun vitamin

yang banyak di dalam susu kerbau adalah vitamin D.Vitamin D erat sekali

fungsinya untuk kesehatan tulang. Ketika tubuh kekurangan vitamin D dapat

menyebabkan riket pada anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa.Selain

itu kekurangan vitamin D juga menyebabkan gigi mudah rusak dan otot

(16)

e. Mineral

Susu kerbau lebih banyak mengandung mineral Ca(kalsium)

dibandingkan dengan susu lainnya sehingga susu kerbau lebih cepat

menggumpal.Untuk memperlambat terjadinya gumpalan, susu kerbau

dicampurkan dengan air (Wisnu,2002).

Kalsium berfungsi membantu mengentalkan darah, penyerapan vitamin

B12, mengirimkan isyarat-isyarat ke seluruh tubuh, membantu otot berkontraksi

dan relaksasi (Soehardjo,1986).

f. Air

Air berfungsi sebagai pelarut dalam terjadinya reaksi kimia di dalam

tubuh.

2.4 Dadih

Dadih merupakan salah satu produk fermentasi susu tradisional yang

sangat khas di daerah Sumatera Barat. Dadih dibuat dengan bahan dasar susu

kerbau yang dimasukkan dalam bambu dan ditutup menggunakan daun pisang

atau plastik, kemudian difermentasi pada suhu kamar selama 1-2 hari hingga

terbentuk gumpalan (Elida, 2002).

Tabung bambu dalam pembuatan dadih memegang peranan penting dalam

mempertahankan kualitas dari dadih khususnya sifat organoleptik dadih (warna,

aroma, rasa, dan tekstur). Dadih yang baik ditentukan oleh kualitas fisik,

kandungan dan keasaman dadih. Kualitas fisik dadih yang baik adalah berwarna

putih menyerupai tahu yang bisa dimakan dengan sendok serta memiliki karakter

(17)

susu asam. Aroma khas pada dadih juga merupakan percampuran dari aroma susu,

daun pisang dan bambu (Sirait dalam Sari, 2009).

Bambu yang sering digunakan dalam pembuatan dadih yaitu bambu ampel

(Bambusa vulgaris) karena memiliki rasa pahit sehingga dapat menghindarkan

produk dari semut dan jenis bambu ini sering digunakan karena di dalamnya

terdapat beberapa jenis mikrobia yang secara alami dapat memfermentasikan susu

menjadi dadih (Usmiati dkk, 2009).

Mikroorganisme diduga dari permukaan tabung bambu bagian dalam,

permukaan daun penutup, dan dari susu yang digunakan. Mikroorganisme

tersebut adalah bakteri asam laktat (BAL). Dari beberapa penelitian diketahui

bahwa dadih mengandung bakteri baik yaitu asam laktat (Lactobacillus casei)

yang potensial sebagai probiotik. Asam laktat di dalam dadih berperan dalam

pembentukan tekstur dan cita rasa (Usmiati dan Miskiyah, 2011).

Bambu yang digunakan memiliki diameter ± 4-5 cm dan dipotong dengan

panjang ± 15 cm. Susu yang dimasukkan ke dalam bambu sebanyak ± 300 ml per

bambu (Taufik, 2004).

Pembuatan dadih menggunakan media bambu segar yang baru dipotong

dapat menghasilkan perpaduan aroma susu dan aroma khas bambu yang segar

serta memiliki warna putih dan kental (Usmiati dan Miskiyah, 2011). Kualitas

dadih yang baik bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang licin dan

beraroma susu dan khas bambu (Sayuti, 1992).

Penelitian mengenai suhu penyimpanan pada dadih dilakukan pada suhu

(18)

efektif dalam memperpanjang masa simpan dadih karena suhu dingin

memperlambat proses fermentasi dan mencegah terjadinya aktivitas metabolisme

kultur starter dan mikroorganisme pencemar (Sisriyenni dan Yayu, 2004).

Dadih dalam kemasan bambu dan disimpan pada suhu ruang hanya

bertahan sampai hari ke-8, setelah itu dadih mengalami kerusakan. Kerusakan

dadih disebabkan adanya kapang dan belatung pada bambu dan juga kekentalan

dadih berkurang sehingga aroma dadih pun juga berubah (Miskiyah dan Usmiati,

2011).

Dadih dikonsumsi langsung dengan memakai sendok ataupun diolah. Pada

umumnya dadih dimanfaatkan sebagai lauk pauk, makanan selingan, pelengkap

upacara adat dan sebagai obat-obatan tradisional (Sughita dan Aidi, 1998).

Sumber:https://www.google.com/sea rch?q= dadih&source= lnms&tbm= isch&sa= X&ved= 0ahUK EwjM3eOF6qvMAhUmn6YKHQ2BCm8Q_AUIBygB&biw= 1440&bih= 751

(19)

Sumber:https://www.google.com/sea rch?q= dadih&source= lnms&tbm= isch&sa= X&ved = 0ahUKEwjM3eOF6qvMAhUmn6YKHQ2BCm8Q_AUIBygB&biw= 1440&bih= 751

Gambar 2. Dadih Susu Kerbau

2.4.1 Komposisi dadih susu kerbau

Secara umum komposisi dadih susu kerbau sama dengan susu lainnya

yaitu karbohidrat, protein, vitamin, mineral, lemak dan air. Namun, lemak dan

protein pada dadih susu kerbau lebih banyak daripada susu lainnya.

Dadih susu kerbau memiliki ciri khas seperti ketiadaan karoten sehingga

membuat warna susu kerbau lebih putih daripada susu lainnya. Selain itu, dadih

susu kerbau relatif tidak mengandung kasein bebas, mengandung lebih sedikit

nitrogen dan asam salat, dan dadih susu kerbau lebih banyak mengandung mineral

Ca dan P (Wisnu : 2002).

Tabel 2.5 Kandungan Gizi Dadih Susu Kerbau

Zat Gizi Nilai Gizi (%)

Air 81,79 - 82,40

Protein 6,91 - 7,06

Lemak 7,98 - 8,17

Abu 0,90 - 0,91

Keasaman 1,28 - 1,32

pH 4,76 - 4,81

(20)

2.5 Agar-Agar

Benech (2012) menyatakan bahwa agar-agar atau agarosa adalah zat yang

biasanya berupa gel yang diolah dari rumput laut atau alga. Jenis rumput laut yang

biasa diolah untuk agar-agar adalah Eucheuma spinosum (Rhodophycophyta) dan

rumput laut dari golongan Phaeophycophyta (Gracilaria dan Gelidium).

Agar-agar sebenarnya adalah karbohidrat dengan molekul tinggi yang

mengisi dinding sel rumput laut, tergolong kelompok pektin dan merupakan suatu

polimer yang tersusun dari monomer galaktosa. Agar-agar dapat dibentuk sebagai

bubuk dan diperjualbelikan.

Gel terbentuk karena pada saat dipanaskan di air, molekul agar-agar dan

air bergerak bebas. Ketika didinginkan, molekul-molekul agar-agar mulai mulai

saling merapat, memadat dan membentuk kisi-kisi yang mengurung

molekul-molekul air, sehingga terbentuk sistem koloid padat cair.

Salah satu jenis agar yang biasa dikonsumsi masyarakat adalah

agar-agar powder. Agar-agar-agar powder dimasak pada suhu 70-850 C dan mulai memadat

pada suhu 32-400 C. Agar-agar digunakan sebagai makanan karena mengandung

serat (fiber) lunak yang tinggi dan kalori yang rendah. Kandungan serat lunak

yang tinggi membantu melancarkan pembuangan sisa-sisa makanan di usus

(21)

Tabel 2.6 Nilai Gizi 6,5 gr Tepung Agar-Agar

Sumber : PT Satelit Sriti (2015)

2.6 Uji Organoleptik

Penilaian organoleptik disebut juga dengan penilaian indra atau penilaian

sensorik yang merupakan suatu cara penilaian yang paling primitif atau sudah

lama dikenal. Penilaian organoleptik sangat banyak digunakan untuk menilai

mutu dalam industri pangan dan industri hasil pertanian lainnya. Kadang-kadang

penilaian ini dapat memberikan hasil penilaian yang sangat teliti. Dalam beberapa

hal penilaian dengan indera bahkan melebihi ketelitian alat yang paling sensitif

(Susiwi, 2009).

Indera yang berperan dalam uji organoleptik adalah indera penglihatan,

penciuman, pencicipan, peraba dan pendengaran. Panel diperlukan untuk

melaksanakan penelitian organoleptik dalam penilaian mutu atau sifat-sifat

sensorik suatu komoditi, panel bertindak sebagai instrumen atau alat. Panel ini

terdiri atas orang atau kelompok yang bertugas menilai sifat dari suatu komoditi.

Orang yang menjadi anggota panel disebut panelis.

Uji hedonik atau kesukaan merupakan salah satu jenis uji penerimaan.

Dalam uji ini panelis diminta mengungkapkan tanggapan pribadinya tentang

(22)

mengemukakan tingkat kesukaan/ketidaksukaan. Tingkat-tingkat kesukaan ini

disebut orang skala hedonik, misalnya amat sangat suka, sangat suka, suka, agak

suka, netral, agak tidak suka, tidak suka, sangat tidak suka dan amat sangat tidak

suka. Skala hedonik dapat direntangkan atau diciutkan sesuai yang diinginkan

peneliti (Rahayu, 1998).

2.7 Panelis

Menurut Rahayu (1998), dalam penilaian organoleptik dikenal tujuh

macam panel, yaitu panel perseorangan, panel terbatas, panel terlatih, panel agak

terlatih, panel tidak terlatih, panel konsumen dan panel anak-anak. Perbedaan

ketujuhpanel tersebut didasarkan pada keahlian dalam melakukan penilaian

organoleptik.

a. Panel perseorangan

Panel perseorangan adalah orang yang sangat ahli dengan kepekaan

spesifik yang sangat tinggi yang diperoleh karena bakat atau latihan-latihan yang

sangat intensif. Panel perseorangan sangat mengenal sifat, peranan dan cara

pengolahan bahan yang akan dinilai dan menguasai metode-metode analisa

organoleptik dengan sangat baik. Keuntungan menggunakan panelis ini adalah

kepekaan tinggi, biasa dapat dihindari, penilaian efisien. Panel perseorangan

biasanya digunakan untuk mendeteksi penyimpangan yang tidak terlalu banyak

dan mengenali penyebabnya.

b. Panel terbatas

Panel terbatas terdiri dari 3-5 orang yang mempunyai kepekaan tinggi

(23)

faktor-faktor dalam penilaian organoleptik dan mengetahui cara pengolahan dan

pengaruh bahan baku terhadap hasil akhir.

c. Panel terlatih

Panel terlatih terdiri dari 15-25 orang yang mempunyai kepekaan cukup

baik. Untuk menjadi panelis terlatih perlu didahului dengan seleksi dan

latihan-latihan. Panelis ini dapat menilai veverapa rangsangan sehingga tidak terlampau

spesifik.

d. Panel agak terlatih

Panel agak terlatih terdiri dari 15-25 orang yang sebelumnya dilatih untuk

mengetahui sifat-sifat tertentu. Panel agak terlatih dapat dipilih dari kalangan

terbatas dengan menguji datanya terlebih dahulu. Sedangkan data yang sangat

menyimpang boleh tidak digunakan dalam keputusannya.

e. Panel tidak terlatih

Panel tidak terlatih terdiri dari 25 orang awam yang dapat dipilih

berdasaran jenis suku-suku bangsa, tingkat social dan pendidikan. Panel tidak

terlatihnya diperbolehkan menilai sifat-sifat organoleptik yang sederhana seperti

sifat kesukaan, tetapi tidak boleh digunakan dalam uji pembedaan. Panel tidak

terlatih biasanya terdiri dari orang dewasa dengan komposisi panelis pria sama

dengan panelis wanita.

f. Panel konsumen

Panel konsumen teridir dari 30 hingga 100 orang tergantung pada target

pemasaran komoditi. Panel ini mempunyai sifat yang sangat umum dan dapat

(24)

g. Panel anak-anak

Panel yang khas adalah panel yang menggunakan anak-anak berusia 3-10

tahun. Biasanya anak-anak digunakan sebagai panelis dalam penilaian

produk-produk pangan yang disukai anak-anak seperti permen, es krim dan sebagainya,

cara penggunaan panelis anak-anak harus bertahap, yaitu dengan pemberitahuan

atau dengan bermain bersama, kemudian dipanggil untuk diminta responnya

terhadap produk yang dinilai dengan alat bantu gambar seperti boneka yang

sedang sedih, biasa, atau tertawa.

2.8 Bahan Tambahan 2.8.1 Gula

Secara umum gula ditambahkan pada produk untuk memberikan rasa

manis. Fungsi gula dalam pembuatan produk selain memberikan rasa manis juga

berpengaruh terhadap pembentukan struktur produk, memperbaiki tekstur dan

keempukan, memperpanjang kesegaran dengan cara mengikat air serta

merangsang pembentukan warna yang baik (Subarna, 1996).

Selain itu, gula juga dapat berfungsi sebagai pengawet karena gula dapat

mengurangi aw bahan pangan sehingga dapat menghambat pertumbuhan

mikroorganisme (Yaumil dalam Buckle, et al., 2012). Gula yang digunakan bisa

dalam bentuk gula pasir, gula pasir halus, atau tepung gula. Jumlah gula yang

ditambahkan akan berpengaruh terhadap tekstur dan penampakan produk.

2.8.1.1 Gula Aren

Gula aren berasal dari pohon enau yang diproses secara alami.

(25)

dibandingkan dengan gula putih. Gula aren memiliki nilai indeks glikemik yang

lebih rendah yaitu sebesar 35 sedangkan pada gula pasir indeks glikemiknya

sebesar 58. Indeks glikemik (GI) adalah skala atau angka yang diberikan pada

makanan tertentu berdasarkan seberapa besar makanan tersebut meningkatkan

kadar gula darahnya, skala yang digunakan adalah 0-100. Indeks glikemik disebut

rendah jika berada di skala kurang dari 50, indeks glikemik sedang jika nilainya

50-70 dan indeks glikemik tinggi jika angkanya di atas 70.

Proses pembuatan gula aren umumya lebih alami sehingga zat-zat tertentu

yang terkandung di dalamnya tidak mengalami kerusakan dan tetap utuh. Serta

tidak membutuhkan proses penyulingan yang berkali-kali atau menggunakan

tambahan bahan untuk memurnikannya. Para ahli mengungkapkan nilai indeks

glikemik yang lebih rendah ini membuat gula aren lebih aman dikonsumsi dan

tidak menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang signifikan, sehingga bisa

membahayakan tubuh terutama bagi penderita diabetes. Serta semakin gelap

warna gula, maka jejak nutrisinya cenderung lebih banyak. Selain kandungan

gulanya yang lebih sedikit, gula aren juga diketahui mengandung

senyawa-senyawa lain yang bermanfaat seperti thiamine, riboflavin, asam askorbat, protein

dan juga vitamin C.

Gula aren mengandung glukosa cukup tinggi yang dapat membersihkan

ginjal sehingga kita terhindar dari penyakit ginjal (Sapari, 1994). Kekhasan gula

aren dari segi kimia yaitu mengandung sukrosa kurang lebih 84% dibandingkan

dengan gula tebu dan gula bit yang masing-masing hanya 20% dan 17% sehingga

(26)

(Rumokoi, 1990). Selain itu, kandungan gizi gula aren (protein, lemak, kalium

dan posfor) lebih tinggi dari gula tebu dan gula bit. Gula aren terdapat dalam tiga

bentuk yaitu gula cetak (kerekan), gula pasir dan gula semut (Sapari, 1994). Gula

cetak pada umumnya memiliki bentuk sesuai bentuk cetakan yang digunakan.

Gula pasir adalah gula aren yang dikristalkan kecil-kecil seperti pasir dan

berwarna merah. Gula semut bukanlah gula yang bentuknya seperti semut dan

bukan pula gula yang dikerumuni semut. Gula semut merupakan jenis gula yang

dibuat dari nira dengan bentuk serbuk atau kristal dan berwarna kuning

kecokelatan sampai coklat (Lutony, 1993). Gula semut mirip dengan gula pasir

(aren), akan tetapi ukurannya lebih besar sedikit dari pada gula pasir. Gula semut

ini telah dipasarkan secara luas dengan berbagai merek. Umumnya gula aren

diproduksi dalam bentuk gula cetak yang disebut juga sebagai gula padat, akan

tetapi ada juga yang diproduksi dalam bentuk gula cair(Lutony, 1993).

Gula aren memiliki banyak kegunaan selain sebagai pemanis makanan

juga digunakan sebagai penyedap masakan, campuran dalam pembuatan cuka

untuk empek-empek, kecap dan lain-lain. Gula merah cetak memiliki sifat sensori

yang berbeda tergantung pada bahan baku pembuatannya. Untuk gula merah cetak

dari nira aren memiliki aroma khas aren, warna coklat muda, rasa lebih manis dan

(27)

Tabel 2.7 Kandungan Gizi Gula Merah Aren

Jenis Kandungan Dalam 100 gr Gula Merah Aren

Kalori Karbohidrat

Kalsium Fosfor

Besi Air

368 kalori 95 gr 75 mg 35 mg 3 mg 4 mg

Sumber: Depkes R.I., (1981)

Sumber:https://www.google.com/sea rch?q= dadih&source= lnms&tbm= isch&sa= X&ved= 0ahUK EwjM3eOF6qvMAhUmn6YKHQ2BCm8Q_AUIBygB&biw= 1440&bih= 751#tbm= isch&q= gula+ a ren

Gambar 3. Gula Aren

2.9 Daya Terima Makanan

Daya terima makanan adalah kesanggupan seseorang untuk menghabiskan

makanan yang disajikan (Rudatin, 1997). Daya terima atau preferensi makanan

dapat didefinisikan sebagai tingkat kesukaan atau ketidaksukaan individu terhadap

suatu jenis makanan. Diduga tingkat kesukaan ini sangat beragam pada setiap

individu. Sehingga akan berpengaruh terhadap konsumsi pangan (Suhardjo,

1989).

Segi sosial budaya pangan berhubungan dengan konsumsi pangan dalam

menerima atau menolak bentuk atau jenis pangan tertentu, perilaku ini berakar

(28)

umumnya kebiasaan pangan seseorang tidak didasarkan atas keperluan fisik akan

zat-zat gizi yang terkandung dalam pangan. Kebiasaan makan berasal dari pola

pangan yang diterima budaya kelompok dan diajarkan kepada seluruh anggota

keluarga (Suhardjo, 2003).

Menurut Wirakusumah (1990) yang dikutip oleh Mulyaningrum (2007)

kesukaan terhadap makanan didasari oleh sensorik, sosial, psikologi, agama,

emosi, budaya, kesehatan, ekonomi, cara persiapan dan pemasakan makanan,

serta faktor-faktor terkait lainnya. Penilaian seseorang terhadap kualitas makanan

berbeda-beda tergantung selera dan kesenangannya. Perbedaan suku pengalaman,

umur dan tingkat ekonomi seseorang mempunyai penilaian tertentu terhadap jenis

makanan, sehingga standar kulitas makanan sulit untuk ditetapkan. Walaupun

demikian ada beberapa aspek yang dapat dinilai yaitu persepsi terhadap cita rasa

makanan, nilai gizi dan higiene atau kebersihan makanan tersebut.

a. Penampilan dan cita rasa makanan

Menurut Moehyi (1992) cita rasa makanan mencakup 2 aspek utama yaitu

penampilan makanan sewaktu dihidangkan dan rasa makanan pada saat dimakan

kedua aspek tersebut sama pentingnya untuk diperhatikan agar betul-betul dapat

menghasilkan makanan yang memuaskan. Daya penerimaan terhadap suatu

makanan ditentukan oleh rangsangan yang ditimbulkan oleh makanan melalui

indera penglihat, penciuman serta perasa atau pencecap bahkan mungkin

pendengar. Walaupun demikian faktor utama yang akhirnya mempengaruhi daya

(29)

makanan itu. Oleh karenanya penting sekali dilakukan penilaian cita rasa untuk

mengetahui daya penerimaan konsumen.

Menurut Winarno (1997) rasa suatu makanan merupakan faktor yang turut

menentukan daya terima konsumen. Rasa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

senyawa kimia, suhu, konsentrasi dan interaksi dengan komponen rasa yang lain.

Warna makanan memegang peranan utama dalam penampilan makanan karena

merupakan rangsangan pertama pada indera mata. Warna makanan yang menarik

dan tampak alamiah dapat meningkatkan cita rasa. Oleh sebab itu dalam

penyeleggaraan makanan harus mengetahui prinsip-prinsip dasar untuk

mempertahankan warna makanan yang alami, baik dalam bentuk tehnik memasak

maupun dalam penanganan makanan yang dapat mempengaruhi makan.

b. Konsistensi atau tekstur makanan

Konsistensi atau testur makanan juga merupakan komponen yang turut

menentukan cita rasa makanan karena sensitifitas indera cita rasa dipengaruhi oleh

konsistensi makanan. Makanan yang berkonsistensi padat atau kental akan

memberikan rangsangan lebih lambat terhadap indera kita. Penyajian makanan

merupakan faktor tertentu dalam penampilan hidangan yang disajikan. Jika

penyajian makanan tidak dilakukan dengan baik. Seluruh upaya yang telah

dilakukan guna menampilkan makanan dengan cita rasa tinggi akan tidak berarti

penampilan makanan waktu disajikan akan merangsang indera terutama

penglihatan yang berkaitan dengan cita rasa makanan itu. Rasa makanan

merupakan faktor kedua yang menentukan cita rasa makanan setelah penampilan

(30)

saraf melalui indera penglihatan sehingga mampu membangkitkan selera untuk

mencicipi makanan itu, maka pada tahap selanjutnya rasa makanan itu akan

ditentukan oleh rangsangan terhadap indera penciuman dan indera perasa.

Aroma yang disebarkan oleh makanan merupakan daya tarik yang sangat

kuat dan mampu merangsang indera penciuman sehingga membangkitkan selera.

Timbulnya aroma makanan disebabkan oleh terbentuknya senyawa yang mudah

menguap itu dapat sebagai akibat atau reaksi karena pekerjaan enzim atau dapat

juga terbentuk tanpa bantuan reaksi enzim.

2.10 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 4. Bagan Kerangka Konsep

Bagan di atas menjelaskan bahwa untuk mengetahui daya terima panelis

terhadap organoleptik (rasa, warna, aroma dan tekstur) dari agar-agar dadih susu

kerbau dilakukan uji kesukaan (uji hedonik). Agar-Agar Dadih

Susu Kerbau

Organoleptik (Rasa, Aroma,

Warna dan Tekstur) dari

Agar-Agar Dadih Susu

Kerbau Uji

Gambar

Tabel 2.1 Angka kecukupan gizi rata-rata yang dianjurkan (per orang  per hari) anak umur 7-12 tahun
Tabel 2.2 Komposisi susu kambing, susu domba, susu kerbau, susu sapi dan susu ibu (ASI)
Tabel 2.3 Rataan kualitas susu sapi dan susu kerbau di Sumatera Utara
Tabel 2.4 Kadar  asam lemak pada susu kerbau Asam lemak
+6

Referensi

Dokumen terkait

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa daya tahan dadih dan yoghurt susu kerbau Murrah memiliki waktu penyimpanan selama 3 hari dan 5 hari pada

Penyiapan susu kerbau murrah Perbandingan sari sisal dan susu kerbau.. Pemasakan susu kerbau Dadih

Selai dari kulit jeruk manis memiliki kandungan air, abu, protein, kalsium, lemak karbohidrat dan vitamin C bagus untuk dikonsumsi sebagai bahan isian dan bahan

Penambahan ampas tahu dalam pembuatan kerupuk memberikan sumbangan protein, lemak dan karbohidrat yang cukup baik dibandingkan dengan kerupuk dasar yang bahan utamanya

Sumatera Barat dari bahan dasar susu kerbau atau biasa dikenal dengan dadih.. yang dapat

Hasil Analisis Data Sifat Uji Organoleptik Dadih dan Yoghurt Susu Kerbau.. Murrah Dengan SPSS (Statistical Package for the Social Sciences)

Rasa yang dihasilkan oleh yoghurt berbahan susu kerbau cenderung lebih asam dibanding berbahan susu full krim, karena produksi asam oleh bakteri lebih cepat

Buku ini berisi tentang analisis makanan meliputi asam amino, protein, karbohidrat, minyak dan lemak, vitamin, air dan mineral, serta bahan tambahan