Tinjauan Yuridis Perjanjian Sewa menyewa Ruangan dan Konsesi Usaha Antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan Dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan

28 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang

Pembangunan Nasional yang sedang dilaksanakan bertujuan untuk

mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, materil dan spiritual

berdasarkan pancasila dan UUD 1945. Guna mencapai hal tersebut, maka

pembangunan dilaksanakan disegala bidang antara lain: politik, ekonomi, sosial,

budaya, pertahanan dan keamanan, dengan memerlukan kerja sama disemua pihak,

bukan hanya pemerintah sebagai pelaksana, melainkan juga semua lapisan

masyarakat.

Sebagai makhluk sosial yang memiliki kebutuhan dasar berupa sandang,

pangan dan papan, warga negara Indonesia dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945

dalam memenuhi penghidupan yang layak sebagaimana disebutkan dalam Pasal 27

ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak atas

pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.”

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, secara sadar atau tidak, sesungguhnya

manusia telah melakukan suatu perjanjian, yaitu suatu hubungan yang menimbulkan

suatu peristiwa atau akibat hukum dengan pihak lain, dan hal itu dapat menyangkut

berbagai macam aspek kehidupan dalam masyarakat, baik dalam bentuk lisan

maupun dengan bentuk tulisan, seperti perjanjian sewa-menyewa, perjanjian jual beli,

(2)

kenderaan bermotor seperti mobil dan sepeda motor, perabot rumah tangga, dan lain

sebagainya.

Perjanjian yang dimaksud dalam tulisan ini, adalah perjanjian menurut Pasal

1313 KUHPerdata Buku Ketiga Bab Kedua, yaitu “Suatu perjanjian adalah suatu

perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang

lain atau lebih.”

Manusia (person) dalam dunia hukum adalah subjek hukum atau pendukung hak dan kewajiban. Setiap manusia adalah pembawa hak dan mampu melakukan perbuatan hukum atau mengadakan hubungan hukum yang harus diikuti dengan adanya kecakapan hukum(rechsbekwaamheid)dan kewenangan hukum. Dimana Ada dua macam subjek hukum yang dikenal dalam ilmu hukum, yaitu antara lain:

1. Natuurlijke persoon (natural person), yaitu manusia pribadi (Pasal 1329 KUHPerdata).

2. Rechtspersoon (legal entity), yaitu badan atau perkumpulan yang didirikan dengan sah yang berkuasa melakukan perbuatan-perbuatan perdata (Pasal 1654 KUHPerdata).

Badan hukum merupakan subjek hukum, sama halnya seperti manusia pribadi. Menurut Meijers, badan hukum meliputi sesuatu yang menjadi pendukung hak dan kewajiban. Ia menambahkan bahwa badan hukum itu merupakan suatu realitas konkret, riil, walaupun tidak dapat diraba. Sedangkan Pengertian badan hukum sebagai subjek hukum mencakup unsur-unsur atau kriteria (materil) sebagai berikut:

a. Perkumpulan orang atau perkumpulan modal (organisasi).

b. Dapat melakukan perbuatan hukum (rechtshandeling) dalam hubungan-hubungan hukum(rechtsbetrekking).

c. Mempunyai harta kekayaan sendiri. d. Mempunyai pengurus.

e. Mempunyai hak dan kewajiban.

f. Dapat digugat atau menggugat di depan pengadilan.1

Disamping unsur-unsur diatas, terdapat pendapat lain yang menyebutkan

bahwa sesuatu dapat dikatakan sebagai badan hukum jika memenuhi unsur-unsur

kriteria formil sebagai berikut :

1Mulhadi, Hukum Perusahaan dan Bentuk-bentuk badan Usaha di Indonesia, Ghalia

(3)

a. Dinyatakan secara tegas dalam peraturan atau undang-undang yang mengaturnya.

b. Dinyatakan secara tegas di dalam akta pendiriannya.

c. Dalam prosedur pendiriannya diperlukan campur tangan pemerintah seperti kewajiban adanya pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. d. Di dalam praktek kebiasaan diakui sebagai badan hukum.

e. Ditegaskan dalam yurisprudensi.2

PT. Indomobil Bintan Corpora (IBC) Cabang Medan sebagai subjek hukum

yang berbentuk badan hukum, didirikan pada tahun 1987 oleh Indomobil Group

untuk mengembangkan bisnis penjualan mobil bekas, penyewaan kendaraan,

penjualan spare part, dan Workshop (perbengkelan).

PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan untuk pengembangan bisnis

usahanya tersebut, telah menjalin kerjasama usaha dengan berbagai pihak di medan

dan sekitarnya salah satunya menjalin kerjasama dengan Perseroan Terbatas (P.T)

Angkasa Pura Persero yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang

terletak di Bandara Udara Polonia Medan.

Kerjasama antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT.

(Persero) Angkasa Pura II terjalin dalam bentuk perjanjian sewa menyewa ruangan

dan konsesi usaha. PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan yang dalam

aktivitas usahanya sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa sewa menyewa

mobil dan jasa lainnya menyewa tempat dan bagi hasil atas usahanya kepada pihak

PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan, sebagai pihak yang menyewakan dengan

membuat surat perjanjian sewa menyewa yang telah disepakati oleh kedua

perusahaan tersebut.

(4)

Sebagai mitra usaha PT. Angkasa Pura Persero yang merupakan Badan Usaha

Milik Negara (BUMN) pada awal tahun 1992 sebagai sebuah BUMN yang berstatus

Perum dialihkan dan ditetapkan pemerintah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1992, tanggal 17 Maret 1992

ditetapkan sebagai pengelola Bandar Udara Polonia Medan. Dengan akta Notaris

Muhani Salim, SH Nomor 3 Tahun 1993 tanggal 2 Januari 1993 didirikan Perseroan

Terbatas (Persero) Angkasa Pura II, disingkat dengan nama PT. (Persero) Angkasa

Pura II.

“Selanjutnya mulai Januari 1994, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 30

Tahun 1995, Pengelolaan Bandar Udara Polonia Medan diserahkan kepada PT.

(Persero) Angkasa Pura II”.3

Berkaitan dengan kerjasama sewa menyewa antara PT. Indomobil Bintan

Corpora Cabang Medan dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan, bentuk

kesepakatan perjanjian sewa menyewa sebagaimana yang diatur dalam pasal 1548

KUHPerdata yakni, “Sewa menyewa ialah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang

satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak lainnya kenikmatan dari

sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga,

yang oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya”.4

“Perjanjian sebagai suatu figur hukum harus mengandung kepastian hukum.

3 http://nembers.bumn-ri.com/angkasa pura2.com/corporate-profile.html, dalam Syafrida

Waty Tarigan NIM: 057011087, Perjanjian Sewa Menyewa Ruangan Penerbangan pada PT. Angkasa Pura II Bandara Udara Polonia Medan dengan Perusahaan Penerbangan Mandala Airlines Cabang Medan,Tesis MKN USU, 2007, hal. 2.

(5)

Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikat perjanjian itu, yaitu sebagai

Undang-Undang bagi para pihak”.5

Menurut Pasal 1320 KUHPerdata, suatu perjanjian dikatakan sah apabila

memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.

Jika terdapat unsur paksaan, kekhilafan, penipuan, ataupun penyalahgunaan

keadaan maka perjanjian dinyatakan tidak berlaku.

2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian.

Cakap menurut hukum adalah orang yang sudah dewasa dan sehat pikirannya.

Menurut Pasal 1330 KUHPerdata, orang yang dinyatakan tidak cakap

menurut hukum adalah :

a. Orang-orang yang belum dewasa.

b. Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan.

c. Orang-orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh

Undang-Undang, dan semua orang kepada siapa Undang-Undang telah melarang

membuat perjanjian-perjanjian tertentu.

Namun berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 1963

menyatakan bahwa perempuan yang bersuami tidak lagi digolongkan sebagai

yang tidak cakap. Mereka berwenang melakukan perbuatan hukum tanpa bantuan

atau izin dari suaminya.

(6)

Selain itu, terdapat subjek hukum yang dilarang undang-undang untuk

melakukan perbuatan-perbuatan hukum tertentu, diantaranya adalah:

a. Orang-orang dewasa yang dinyatakan pailit oleh putusan pengadilan. b. Badan hukum yang dinyatakan pailit oleh putusan pengadilan.

c. Seseorang untuk waktu yang pendek maupun untuk waktu yang lama meninggalkan tempat tinggalnya, tetapi sebelum pergi ia tidak memberikan kuasa kepada orang lain untuk mewakili dirinya dan mengurus harta kekayaannya.6

3. Mengenai suatu hal tertentu.

Artinya suatu perjanjian harus mempunyai sesuatu yang dijadikan sebagai

objek dalam perjanjian tersebut. Objek perjanjian dapat berupa benda ataupun

suatu kepentingan yang melekat pada benda. Apa saja yang menjadi objek

dari yang diperjanjikan harus disebut secara jelas.

4. Suatu sebab yang halal.

Mengenai suatu sebab yang halal dalam Pasal 1320 KUHPerdata bukanlah

sebab dalam arti yang menyebabkan/yang mendorong orang untuk membuat

perjanjian, melainkan sebab dalam arti isi perjanjian itu sendiri yang

menggambarkan tujuan yang akan dicapai tidak bertentangan dengan

Undang-Undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

Keempat syarat di atas mutlak harus ada atau mutlak harus dipenuhi dalam

suatu perjanjian, oleh karenanya tanpa salah satu syarat tersebut di atas perjanjian

tidak dapat dilaksanakan.

Sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha tidak diatur secara khusus di dalam

6

(7)

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dengan demikian, maka bagi pihak yang

ingin membuat hubungan hukum mengenai sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha

ini, dibuat ketentuan-ketentuan sendiri oleh para pihak sepanjang tidak melanggar

ketentuan-ketentuan umum dan kaedah-kaedah yang memaksa.

Walaupun tidak diatur secara khusus, dapat dipergunakan ketentuan dalam

Buku III KUHPerdata, khususnya Pasal 1338 tentang Azas Kebebasan Berkontrak

atau Azas Terbuka. Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

berbunyi : “Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang

bagi mereka yang membuatnya.”

Sehubungan dengan ketentuan tersebut peneliti ingin mengetahui lebih lanjut

seberapa jauh kebebasan berkontrak tersebut di atas dalam perjanjian sewa menyewa

ruangan dan konsesi usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan

dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan.

Perjanjian sewa-menyewa antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang

Medan dengan PT. (Persero ) Angkasa Pura II Medan adalah penyewaan ruangan yang

mempunyai fungsi sebagai tempat kegiatan usaha PT. Indomobil Bintan Corpora

Cabang Medan dalam usaha bisnis rental mobil sebagai sarana transportasi darat.

Dilihat dari objeknya, yang menjadi objek perjanjian sewa menyewa tersebut

sangat jarang dijumpai dalam masyarakat umum. Oleh karena itu menarik untuk

diteliti lebih lanjut, dengan melihat hak dan kewajiban masing-masing pihak dan

bagaimana penyelesaiannya bila terjadi perselisihan atau suatu masalah dalam

(8)

tersebut, dengan judul tesis: “Tinjauan Yuridis Perjanjian Sewa Menyewa

Ruangan dan Konsesi Usaha Antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang

Medan Dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan.”

B. Perumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana bentuk klausula pelaksanaan perjanjian sewa menyewa ruangan dan

konsesi usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT.

(Persero) Angkasa Pura II Medan?

2. Bagaimana hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian sewa menyewa

ruangan dan konsesi usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan

dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan?

3. Upaya apa yang dilakukan dalam penyelesaian perselisihan yang mungkin timbul

terhadap pelaksanaan perjanjian sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha

antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT. (Persero)

Angkasa Pura II Medan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini dimaksudkan adalah:

1. Untuk mengetahui bentuk klausula pelaksanaan perjanjian sewa menyewa

ruangan dan konsesi usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan

dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan.

2. Untuk mengetahui hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian sewa

(9)

Cabang Medan dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan.

3. Untuk mengetahui cara menyelesaikan perselisihan yang mungkin timbul dalam

pelaksanaan perjanjian sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha antara PT.

Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II

Medan.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun

praktis, yaitu:

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan

masukan serta sumbangsih bagi pengembangan ilmu pengetahuan pada bidang

ilmu hukum, khususnya dalam perjanjian sewa-menyewa.

2. Secara praktis, Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat sebagai sumbangan

pemikiran dan pemasukan bagi para pihak baik itu masyarakat pada umumnya

dan kalangan bisnis khususnya, ataupun pihak-pihak lain yang berkepentingan

sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian sewa menyewa.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran kepustakaan, khususnya pada lingkungan Sekolah

Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara Medan, penelitian

mengenai “Perjanjian Sewa Menyewa Ruangan dan Konsesi Usaha Antara PT.

Indomobil Bintan Corpora Dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan” belum

pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Dengan demikian penelitian ini adalah

(10)

peneliti-peneliti pendahulu yang pernah melakukan penelitian mengenai masalah

perjanjian sewa menyewa, namun menyangkut judul dan substansi pokok

permasalahan yang dibahas berbeda dengan penelitian ini. Adapun penelitian yang

berkaitan dengan perjanjian sewa menyewa tersebut yaitu:

1. “Perjanjian Sewa Menyewa Ruangan Penerbangan pada PT. Angkasa Pura II

Bandara Udara Polonia Medan dengan Perusahaan penerbangan Mandala airlines

Cabang Medan” oleh Syafrida waty Tarigan, NIM: 057011087, dengan

permasalahan yang dibahas:

a. Bagaimana pelaksanaan terjadinya perjanjian sewa menyewa ruangan bandara

udara yang dilakukan oleh PT. (Persero) Angkasa Pura II Bandar Udara

Polonia Medan dengan Perusahaan Penerbangan PT. Mandala Airlines

Cabang Medan?

b Bagaimana hak dan kewajiban PT. (Persero) Angkasa Pura II dengan PT.

Mandala Airlines dalam perjanjian sewa menyewa yang dilakukan?

c. Bagaimana penyelesaian perselisihan yang mungkin timbul dalam perjanjian

sewa menyewa ruangan bandara udara?

2. “Tinjauan Yuridis Perjanjian Sewa Menyewa gedung antara Dinas Pendapatan

Daerah dengan Plaza Medan Fair” oleh: Reny Aswati Sianturi NIM: 087011105,

dengan permasalahan yang dibahas:

a. Bagaimanakah hubungan hukum para pihak dalam perjanjian sewa menyewa

gedung yang dilakukan penyewa (Safaruddin, SH) dengan PT. Anugerah

(11)

b. Apakah yang menjadi kendala dalam pelaksanaan perjanjian sewa menyewa

gedung yang dilakukan penyewa (Safaruddin, SH) dengan PT. Anugerah

Prima sebagai pemilik Gedung Plaza Medan Fair?

c. Bagaimanakah penyelesaian sengketa bila terjadi wanprestasi dalam

perjanjian sewa menyewa gedung yang dilakukan penyewa (Safaruddin, SH)

dengan PT. Anugerah Prima sebagai pemilik Gedung Plaza Medan Fair?

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam

membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis.

Kerangka teori dimaksud adalah “kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat,

teori, tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui”.7

Teori bermanfaat untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala

spesifik atau proses tertentu terjadi dan suatu teori harus diuji dengan

menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya.

Menurut Soerjono Soekanto, bahwa: “kontinuitas perkembangan ilmu hukum, selain

bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat

ditentukan oleh teori.”8

7M. Solly Lubis,Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, hal. 80.

(12)

Berikut ini akan diuraikan pemikiran-pemikiran, butir-butir pendapat serta

teori yang akan menjadi dasar kerangka bagi penelitian ini menurut TeoriPositivisme

hukum dan Teori perjanjan.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi dengan

mengutip pendapat John Austin mengartikan hukum positif yang analitis yaitu:

Hukum itu sebagaia command of the lawgiver(perintah dari pembentuk undang-undang atau penguasa), yaitu suatu perintah mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau yang memegang kedaulatan, hukum dianggap sebagai suatu sistem yang logis, tetap, dan bersifat tertutup (closed logical system). Hukum secara tegas dipisahkan dari moral dan keadilan tidak didasarkan pada penilaian baik buruk.9

Hukum positif merupakan aliran yang berpandangan bahwa studi tentang wujud hukum seharusnya merupakan studi tentang hukum yang benar-benar terdapat dalam sistem hukum dan bukan hukum yang seyogianya ada dalam norma-norma moral. John Austin, eksponen terbaik dari aliran ini, mendefinisikan hukum sebagai perintah dari otoritas yang berdaulat di dalam masyarakat. Suatu perintah yang merupakan ungkapan dari keinginan yang diarahkan oleh otoritas yang berdaulat, yang mengharuskan orang atau orang-orang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu hal. Perintah itu bersandar karena adanya ancaman kejahatan, yang akan dipaksakan berlakunya jika perintah itu tidak ditaati.10

Selain menggunakan teori positivisme hukum dari John Austin dalam

menganalisis tesis ini, juga cenderung digunakan teori sistem yang digunakan

Mariam Darus Badrulzaman, bahwa "sistem adalah kumpulan asas-asas hukum yang

terpadu, yang merupakan landasan di atas mana dibangun tertib hukum".11

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sunaryati Hartono, "bahwa sistem

9

Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi,Pengantar Filsafat Hukum,Mandar Maju, Bandung, 2002, hal. 55.

10Satjipto Rahardjo,Ilmu Hukum,PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1986, hal. 48.

11Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, Alumni, Bandung,

(13)

adalah sesuatu yang terdiri dari sejumlah unsur atau komponen yang selalu pengaruh

mempengaruhi dan terkait satu sama lain oleh satu atau beberapa asas".12Jadi, dalam

sistem hukum terdapat sejumlah asas-asas hukum yang menjadi tonggak dasar dalam

pembentukan seperangkat norma hukum dalam suatu perundang-undangan.

Dengan demikian, "pembentukan hukum dalam bentuk hukum positif harus

berorientasi pada asas-asas hukum sebagai jantung peraturan hukum tersebut".13Oleh

sebab itu, pemahaman akan asas hukum tersebut sangat penting dalam menganalisa

sejauh mana asas kebebasan berkontrak dalam pelaksanaan perjanjian sewa menyewa

ruangan dan konsesi usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan

dengan PT. Angkasa Pura Persero Medan. Dengan demikian maka analisa masalah

yang diajukan lebih berfokus pada sistem hukum positif khususnya mengenai

substansi hukum, yakni dalam ketentuan peraturan perundang-undangan tentang

perjanjian sewa menyewa.

Pengertian perjanjian telah diatur dalam pasal 1313 KUHPerdata, yaitu:

"Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih

mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. "Abdulkadir Muhammad,

memberikan pengertian tentang perjanjian bahwa: “suatu persetujuan dengan mana

dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan sesuatu dalam

lapangan harta kekayaan”.14

12 C.F.G. Sunaryati Hartono,Politik hukum Menuju satu sistem Hukum Nasional, Alumni,

Bandung, 1991, hal. 56.

13Satjipto Rahardjo,Ilmu Hukum,Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal. 15.

14

(14)

Perjanjian harus dibedakan dengan perikatan. Dalam istilah hukum perjanjian

disebut dengan “overeenkomst”dan perikatan disebut dengan “verbintenis”.Namun demikian, M. Yahya Harahap menyamakan antara perjanjian dengan perikatan dan

memberi pengertian sebagai berikut: “Perjanjian mengandung pengertian suatu

hubungan hukum kekayaan atau harta benda antara dua orang atau lebih yang

memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus

mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi”.15

Mengenai pengertian perikatan itu sendiri para pembuat undang-undang tidak

memberikan defenisi mengenai perikatan, namun demikian batasan mengenai

perikatan itu dapat diketahui melalui definisi yang diberikan oleh para ahli hukum.

Menurut J. Satrio, perikatan dapat dirumuskan sebagai : “Hubungan hukum antara dua

pihak dimana di satu pihak ada hak di lain pihak ada kewajiban. Perikatan merupakan

isi dari perjanjian. Sebenarnya yang dinamakan perjanjian adalah

sekelompok/sekumpulan perikatan yang mengikat para pihak dalam perjanjian

tersebut”.16

Selanjutnya inti dari suatu perjanjian adanya prestasi yang harus dipenuhi

sebagaimana yang diatur dalam pasal 1234 KUHPerdata, yaitu: “Tiap-tiap perikatan

adalah untuk memberikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat

sesuatu.” Dari perkataan sesuatu inilah yang memberikan kebebasan kepada para

pihak untuk menentukan isi perjanjian yang dikenal dengan asas kebebasan

15M. Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung, 1986, hal. 6.

16J. Satrio,Hukum Perjanjian (Perjanjian Pada Umumnya),Citra Aditya Bakti, Bandung,

(15)

berkontrak. Namun kebebasan dalam membuat perjanjian boleh dilakukan asal saja

tidak bertentangan dengan norma hukum, ketertiban dan kesusilaan karena ini sangat

menentukan keabsahan dari perjanjian tersebut.

Prof. Subekti, S.H., mendefenisikan perjanjian adalah “sebagai suatu peristiwa

dimana seseorang berjanji untuk melaksanakan suatu hal”.17 Suatu perjanjian

dinamakan juga persetujuan, karena kedua belah pihak tersebut setuju untuk

melaksanakan sesuatu hal tertentu. Dengan adanya persetujuan antara para pihak

yang membuat perjanjian, maka terjadi saling mengikatkan antara satu pihak dengan

pihak lainnya.

Kemudian R. Setiawan, SH., memberikan perbaikan mengenai definisi yang

ada dalam Pasal 1313 KUHPerdata yakni:

1. “Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan yang

bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum.

2. Menambahkan perkataan “atau saling mengikatkan dirinya” dalam Pasal 1313

KUHPerdata”.18

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa perjanjian merupakan

perhubungan hukum antara dua orang atau lebih, dan perjanjian menimbulkan

ketentuan-ketentuan hak dan kewajiban antara dua pihak, atau dengan kata lain

perjanjian berisi perikatan.

Hukum perjanjian menganut sistem terbuka karena diberikan kebebasan

17

Subekti,Hukum Perjanjian, cet. 25, Intermasa, Jakarta, 2005, hal. 1.

18

(16)

kepada para pihak yang membuat perjanjian untuk membuat ketentuan-ketentuan

sendiri yang menyimpang dari pasal-pasal hukum perjanjian. Dengan syarat

perjanjian-perjanjian yang mereka adakan itu, tidak bertentangan dengan

undang-undang, nilai-nilai kesusilaan dan ketertiban umum.

Sistem terbuka ini juga disebut asas kebebasan berkontrak, yang tercermin

dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata: “Semua persetujuan yang dibuat secara sah

berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”

Mariam Darus Badrulzaman mengatakan bahwa “perjanjian baku adalah

perjanjian yang isinya dibakukan dan dituangkan dalam bentuk formulir”.19Perjanjian

baku dibuat secara tertulis dan tidak mungkin dibuat secara lisan.

Perjanjian yang sah berkekuatan sebagai undang-undang bagi para pihak yang

membuatnya. Istilah sah menunjukkan bahwa perjanjian harus sesuai menurut hukum

dan harus dilakukan dengan iktikad yang baik.

Dari berbagai seminar yang diadakan mengenai Asas Hukum Nasional, maka

disepakati sejumlah asas dalam hukum perjanjian. Secara garis besar maksud

masing-masing asas itu sebagaimana dipaparkan oleh Mariam Darus Badrulzaman adalah

sebagai berikut:

1. Asas Konsensualisme.

Asas ini dapat ditemukan dalam Pasal 1320 dan Pasal 1338 KUHPerdata. Dalam Pasal 1320 KUHPerdata penyebutnya tegas sedangkan dalam Pasal 1338 KUHPerdata didalamnya ditemukan istilah “semua”. Kata-kata “semua” menunjukkan bahwa setiap orang diberi kesempatan untuk menyatakan keinginannya (will),yang dirasanya baik untuk menciptakan perjanjian. Asas ini

19

(17)

sangat erat hubungannya dengan asas kebebasan mengadakan perjanjian atau asas kebebasan berkontrak.

2. Asas Kepercayaan.

Seorang yang mengadakan perjanjian dengan pihak lain, harus dapat menumbuhkan kepercayaan diantara kedua pihak bahwa satu sama lain akan memenuhi prestasinya dikemudian hari. Tanpa adanya kepercayaan, maka perjanjian itu tidak mungkin akan diadakan oleh para pihak. Dengan kepercayaan ini kedua pihak mengikatkan dirinya oleh perjanjian yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai Undang-Undang.

3. Asas Kekuatan Mengikat.

Dalam perjanjian terkandung suatu asas kekuatan mengikat. Terikatnya para pihak pada apa yang diperjanjikan, dan juga terhadap beberapa unsur lain sepanjang dikehendaki oleh kebiasaan dan kepatutan, akan mengikat para pihak. 4. Asas Persamaan Hak.

Asas ini menempatkan para pihak di dalam persamaan derajat, tidak ada perbedaan, walaupun ada perbedaan kulit, bangsa kepercayaan, kekuasaan, jabatan dan lain-lain. Masing-masing pihak wajib melihat adanya persamaan ini dan mengharuskan kedua pihak untuk menghormati satu sama lain sebagai manusia ciptaan Tuhan.

5. Asas Keseimbangan.

Asas ini menghendaki kedua pihak untuk memenuhi dan melaksanakan perjanjian itu. Kreditur mempunyai kekuatan untuk menuntut perlunasan prestasi melalui kekayaan debitur, namun kreditur memikul pula beban untuk melaksanakan perjanjian itu dengan itikad baik. Dapat dilihat disini bahwa kedudukan kreditur yang kuat diimbangi dengan kewajibannya untuk memperhatikan itikad baik, sehingga kedudukan kreditur seimbang.

6. Asas Moral.

Suatu perbuatan sukarela dari seorang tidak menimbulkan hak baginya untuk menggugat kontraprestasi dari pihak debitur. Juga hal ini terlihat di dalam

zaakwaarneming, dimana seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan dengan sukarela (moral) yang bersangkutan mempunyai kewajiban (hukum) untuk meneruskan dan menyelesaikan perbuatannya, asas ini terdapat dalam Pasal 1339 KUHPerdata. Faktor-faktor yang memberikan motivasi pada yang bersangkutan untuk melakukan perbuatan hukum adalah berdasarkan pada “Kesusilaan” (Moral), sebagai panggilan dari hati nuraninya.

7. Asas Kepatutan.

Asas ini dituangkan dalam Pasal 1339 KUHPerdata. Asas kepatutan disini berkaitan dengan ketentuan mengenai hal perjanjian. Asas kepatutan ini harus dipertahankan, karena melalui asas ini ukuran tentang hubungan ditentukan juga oleh rasa keadilan dalam masyarakat.

8. Asas Kebiasaan.

(18)

hal-hal yang diatur secara tegas, juga hal-hal-hal-hal yang dalam keadaan dan kebiasaan yang diikuti.

9. Asas Kepastian Hukum.

Perjanjian sebagai suatu figur hukum harus mengandung kepastian hukum. Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikat perjanjian itu, yaitu sebagai Undang-Undang bagi para pihak.20

Pengertian hubungan sewa menyewa diatur dalam Pasal 1548 KUHPerdata

yaitu: “Sewa-menyewa ialah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu

mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari

suatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga, yang

oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya.”

Dalam hal perjanjian sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha antara PT.

Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II

Medan dibuat berdasarkan kontrak klausula yang disepakati bersama oleh kedua

perusahaan tersebut. Dimana PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan sebagai pihak

yang menyewakan dan PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan sebagai pihak

penyewa, yang juga dikenakan konsesi atau kompensasi (fee) dari hasil usaha yang diperolehnya tersebut.

“Perjanjian sewa menyewa tidak memberikan suatu hak kebendaan, tetapi

hanya memberi suatu hak perseorangan, terhadap orang yang menyewakan ada hak

persoonlijk”terhadap pemilik, akan tetapi hak orang yang menyewakan ini mengenai juga suatu benda, yaitu barang yang disewakan”.21

Dari uraian diatas, dapatlah dikemukakan unsur-unsur yang tercantum dalam

20Ibid.

, hal. 42-44. 21

(19)

perjanjian sewa-menyewa adalah:

a. Adanya pihak yang menyewakan dan pihak penyewa; b. Adanya konsensus antara kedua belah pihak;

c. Adanya objek sewa-menyewa, yaitu barang, baik barang bergerak maupun tidak bergerak;

d. Adanya kewajiban dari pihak yang menyewakan untuk menyerahkan kenikmatan kepada pihak penyewa atas suatu benda; dan

e. Adanya kewajiban dari penyewa untuk menyerahkan uang pembayaran kepada pihak yang menyewakan.

Adapun hak dari pihak yang menyewakan adalah menerima harga sewa yang telah ditentukan. Sedangkan kewajiban pihak yang menyewakan, yaitu:

a. Menyerahkan barang yang disewakan kepada sipenyewa (Pasal 1550 ayat (1) KUHPerdata);

b. Memelihara barang yang disewakan sedemikian rupa, sehingga dapat dipakai untuk keperluan yang dimaksudkan (Pasal 1550 ayat (2) KUHPerdata);

c. Memberikan hak kepada penyewa untuk menikmati barang yang disewakan (Pasal 1550 ayat (3) KUHPerdata);

d. Melakukan pembetulan pada waktu yang sama (Pasal 1551 KUHPerdata); e. Menanggung cacat dari barang yang disewakan (Pasal 1552 KUHPerdata).

Sedangkan hak dari pihak penyewa adalah menerima barang yang disewakan dalam keadaan baik, dan kewajiban penyewa adalah:

a. Memakai barang sewa sebagai seorang kepala rumah tangga yang baik, artinya kewajiban memakainya seakan-akan barang itu kepunyaannya sendiri; b. Membayar harga sewa pada waktu yang telah ditentukan (Pasal 1560

KUHPerdata).22

Manusia bukanlah satu-satunya subjek hukum. Dalam lalu lintas hukum badan

hukum juga dapat berperan sebagai subjek hukum. Sudikno Mertokusumo

menyatakan : “Disamping orang dikenal juga subjek hukum yang bukan manusia yang

disebut badan hukum. Badan hukum adalah organisasi atau kelompok manusia yang

mempunyai tujuan tertentu yang dapat menyandang hak dan kewajiban”.23

Dalam penelitian ini, yang menjadi objek perjanjian adalah sewa ruangan dan

22Salim HS.,Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak,Sinar Grafika, Jakarta,

2003, hal. 59-62.

23

(20)

konsesi usaha yang telah diberikan oleh PT. Angkasa Pura Persero Medan. Dengan

demikian terjalin hubungan mitra usaha antara perusahaan pengelola PT. (Persero)

Angkasa Pura II Medan dengan PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan sebagai

pihak penyewa.

Menurut Sudikno Mertokusumo: “Setiap hubungan hukum yang diciptakan

oleh hukum selalu mempunyai dua segi yang isinya di satu pihak hak, sedang di pihak

lain kewajiban. Tidak ada hak tanpa kewajiban, sebaliknya tidak ada kewajiban tanpa

hak”.24

Selanjutnya inti dari suatu perjanjian adalah adanya prestasi yang harus

dipenuhi. Pada umumnya literatur yang ada membagi prestasi ke dalam tiga macam,

sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1234 KUHPerdata, yaitu: “Menyerahkan

sesuatu, berbuat sesuatu, dan tidak berbuat sesuatu.”

Namun, Ahmadi Miru, tidak sependapat dengan pembagian tersebut karena,

melakukan prestasi tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara yaitu:

a. Prestasi yang berupa barang, cara melaksanakannya adalah dengan menyerahkan sesuatu (barang);

b. Prestasi yang berupa jasa, cara melaksanakannya adalah dengan berbuat sesuatu;

c. Prestasi yang berupa tidak berbuat sesuatu, cara pelaksanaannya adalah dengan bersikap pasif yaitu tidak berbuat sesuatu yang dilarang dalam perjanjian.25

Walaupun pada umumnya prestasi para pihak secara tegas ditentukan dalam

kontrak, prestasi tersebut juga dapat lahir karena diharuskan oleh kebiasaan,

24Ibid,hal. 29.

25Ahmadi Miru,Hukum Kontrak Perencanaan Kontrak,PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta,

(21)

kepatutan, atau undang-undang. Oleh karena itu, “Prestasi yang harus dilakukan oleh

para pihak telah ditentukan dalam perjanjian atau diharuskan oleh kebiasaan,

kepatutan atau undang-undang, tidak dilakukannya prestasi tersebut berarti telah

terjadi ingkar janji atau disebut wanprestasi ”.26

Dalam perjanjian sewa menyewa juga dikenal adanya wanprestasi, dan yang

dimaksud dengan “Wanprestasi adalah apabila seorang debitur tidak melakukan

prestasi sama sekali atau melakukan prestasi yang keliru atau terlambat melakukan

prestasi, maka dalam hal-hal yang demikian inilah yang disebut seorang debitur

melakukan wanprestasi”.27

Wanprestasi dapat timbul dari dua hal :

a. “Kesengajaan, maksudnya perbuatan itu memang diketahui atau dikehendaki oleh

debitur.

b. Kelalaian, maksudnya debitur tidak mengetahui adanya kemungkinan bahwa

akibat itu akan timbul”.28

2. Kerangka Konsepsi

Suatu konsep merupakan “abstraksi mengenai suatu fenomena yang

dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan,

kelompok atau individu tertentu”.29

“Konsep bukan merupakan gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan

26Ibid., hal.71.

27

A. Qirom Syamsudin Meliala,Pokok-pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, Liberty, Yogyakarta, 1985, hal. 26.

28Ibid,hal. 29.

(22)

suatu abstraksi dari gejala tersebut. Gejala itu sendiri dinamakan fakta, sedangkan

konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan-hubungan dalam fakta

tersebut”.30 “Kerangka konsep mengandung makna adanya stimulasi dan dorongan

konseptualisasi untuk melahirkan suatu konsep baginya atau memperkuat

keyakinannya akan konsepnya sendiri mengenai sesuatu permasalahan”.31

Selain itu, kerangka konsep dipergunakan juga untuk memberikan pegangan

pada proses penelitian ini, perlu dirumuskan serangkaian pengertian yang dimaksud

dalam tulisan ini, berkaitan dengan perjanjian sewa menyewa ruangan dan konsesi

usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT. Angkasa Pura

Persero Medan, antara lain:

a. Perseroan Terbatas: Pasal 1 angka 7 UUPT adalah “Perseroan publik atau

Perseroan yang melakukan penawaran umum saham, sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal”.32

b. Hukum Perdata Indonesia adalah hukum perdata yang berlaku bagi seluruh

Wilayah di Indonesia. Hukum perdata yang berlaku di Indonesia adalah

hukum perdata barat (Belanda) yang pada awalnya berinduk pada Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata yang aslinya berbahasa Belanda atau dikenal

denganBurgerlijk Wetboekdan biasa disingkat dengan B.W.

30Soerjono Soekanto,Op.Cit., hal. 124.

31M. Solly Lubis,Loc.Cit.

32Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas,

(23)

c. PT. Corporatama (CSM) sebagai badan hukum didirikan pada tahun 1987

oleh Indomobil Group untuk mengembangkan bisnis penjualan mobil bekas,

penyewaan mobil, dan perbengkelan belakangan dikenal dengan nama PT.

Indomobil Bintan Corpora yang diteliti dalam penelitian ini adalah Cabang

Medan.

d. PT. Angkasa Pura II Persero adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Yang ditetapkan pemerintah dalam hal pengelolaan Bandar Udara Polonia

Medan, pada awal tahun 1992, Angkasa Pura II sebagai sebuah BUMN yang

berstatus Perum dialihkan dan ditetapkan pemerintah menjadi Perusahaan

Perseroan (Persero) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1992,

tanggal 17 Maret 1992. Selanjutnya dengan Akta Notaris Muhani Salim, SH

Nomor 3 Tahun 1993 tanggal 2 Januari 1993 didirikan Perseroan Terbatas

(Persero) Angkasa Pura II, yang dalam penelitian ini adalah terletak di Kota

Medan.

e. Pihak Penyewa adalah orang atau badan hukum yang mendapatkan

kenikmatan atas suatu, barang selama jangka waktu tertentu dan untuk itu ia

berkewajiban untuk membayar harga sewa. Dalam perianjian sewa-menyewa,

pihak yang nenyewakan hanya rnenyerahkan pemakaian dan pemungutan

hasil dari barang kepada penyewa sedangkan hak milik tetap berada pada

tangan yang menyerahkan.33

(24)

f. Objek perjanjian sewa menyewa adalah barang dan harga. Untuk barang

bergerak maupun tidak bergerak, yang ditetapkan dalam perjanjian sewa

menyewa diantara kedua pihak merupakan objek perjanjian sewa menyewa

sepanjang barang itu dikuasai oleh pihak yang menyewakan dan dikehendaki

oleh penyewa untuk dinikmati kegunaannya. Dengan syarat barang yang

diserahkan adalah barang yang halal, artinya tidak bertentangan dengan

undang-undang, ketertiban dan kesusilaan. Dalam penelitian ini objek

perjanjian sewa menyewa dimaksud adalah Ruangan dan Konsesi Usaha di

PT. Angkasa Pura Persero Medan.

g. Konsesi Usaha adalah ijin kesempatan berusaha di daerah/tempat wilayah

bandar udara untuk mengadakan kegiatan usaha dalam hal ini PT. Indomobil

Bintan Corpora Cabang Medan di bidang rental mobil, yang dikenakan

pungutan atau kompensasi (fee) oleh PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan selaku pemilik tempat (pihak yang menyewakan), sesuai kesepakatan bersama

antara pihak yang menyewakan tempat dengan pihak penyewa untuk jangka

waktu tertentu.

G. Metode Penelitian

1. Spesifikasi Penelitian

“Sifat dari penelitian ini adalah deskriptif, artinya penelitian ini bertujuan

untuk mendeskripsikan, menggambarkan atau melukiskan secara cermat sistematis

(25)

unsur-unsur yang ada atau suatu fenomena tertentu”.34 Dalam hal ini yaitu untuk

melukiskan tentang bagaimana pelaksanaan perjanjian sewa menyewa ruangan dan

konsesi usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT.

(Persero) Angkasa Pura II Medan.

2. Metode Pendekatan

“Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan juridis normatif”.35 Dengan melakukan pengkajian dan analisis terhadap peraturan perundang-undangan yang

berhubungan dengan pelaksanaan perjanjian sewa menyewa khususnya, perjanjian

sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha antara PT. Indomobil Bintan Corpora

Cabang Medan dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan.

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dengan mengumpulkan data

primer dan data sekunder. Data primer didapat dengan melihat dan meneliti klausula

perjanjian sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha yang dilakukan oleh PT.

Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan dengan PT. (Persero) Angkasa Pura II

Medan, serta dengan melalui hasil wawancara dengan responden atau informan yang

kompeten menyangkut penelitian ini.

Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari studi kepustakaan dengan

mempelajari :

1. Bahan Hukum Primer yang terdiri dari:

34

Kaelan MS.,Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat,Paradigma, Yogyakarta, 2005, hal. 58.

35Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia,

(26)

a. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1992 Angkasa Pura II sebagai sebuah

BUMN yang berstatus Perum, dialihkan pemerintah menjadi Perusahaan

Perseroan (Persero), selanjutnya Nomor 3 Tahun 1993, tanggal 2 Januari 1993

didirikan Perseroan Terbatas (Persero) Angkasa Pura II, dengan Akte Notaris

Muhani Salim, SH. Yang disingkat dengan nama PT. Persero Angkasa Pura II,

b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan

Kehakiman.

c. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

d. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif

Penyelesaian Sengketa.

e. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas,

c. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris,

d. KUHDagang,

e. KUHPerdata.

2. Bahan Hukum Sekunder yaitu “semua bahan hukum yang merupakan publikasi

dokumen tidak resmi meliputi buku-buku, karya ilmiah”36 dan kontrak klausula

perjanjian yang mengatur tata tertib sewa menyewa ruangan dan konsesi usaha.

3. Bahan Hukum Tertier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan

atau bahan hukum penunjang terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum

sekunder, seperti kamus umum, kamus hukum, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar

dan internet.

36

(27)

4. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data akan sangat menentukan hasil penelitian sehingga

apa yang menjadi tujuan penelitian ini dapat tercapai. Untuk mendapatkan hasil

penelitian yang objektif dan dapat dibuktikan kebenarannya serta dapat

dipertanggung jawabkan hasilnya, maka dalam penelitian akan dipergunakan alat

pengumpulan data.

Dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang diperlukan, dipergunakan

alat pengumpulan data sebagai berikut:

a. Studi Dokumen.

Studi dokumen yaitu dengan cara menelaah dan mempelajari peraturan

perundang-undangan, buku hukum atau karya ilmiah, majalah, internet, teori

dan dokumen-dokumen kontrak perjanjian sewa menyewa yang berhubungan

dengan permasalahan yang akan diteliti.

b. Pedoman Wawancara.

Penelitian ini dilakukan dengan wawancara yang menggunakan pedoman

wawancara (interview). Dengan beberapa informan seperti, Kepala Perwakilan PT. Indomobil Bintan Corpora Cabang Medan, Kepala Cabang

PT. (Persero) Angkasa Pura II Medan Pegawai atau karyawan kedua

(28)

5. Analisis Data

“Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan

data ke dalam pola, kategori dan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan

dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data”.37

Mengingat sifat penelitian maupun objek penelitian, maka semua data yang

diperoleh akan dianalisa secara kualitatif, dengan cara data yang telah terkumpul dipisah-pisahkan, diseleksi, dipilah-pilah berdasarkan kualitas dan relevansinya

menurut kategori masing-masing dan kemudian ditafsirkan dalam usaha untuk

mencari jawaban terhadap masalah penelitian. Dengan menggunakan metode berfikir

deduktif, sehingga akan menghasilkan uraian yang bersifat deskriptif, yaitu uraian yang menggambarkan permasalahan dan hasil analisis tersebut diharapkan dapat

menjawab permasalahan yang diteliti.

37

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...