_____________________________________________
Volume 8, No. 6, Oktober 2014 http://www.lpsdimataram.com
HUBUNGAN PERSALINAN BEKAS SEKSIO SESAREA
DENGAN CARA PERSALINAN, LUARAN JANIN
Oleh :
St.Halimatusyaadiah , Ni Nyoman Trisnawati
Jurusan Kebidanan Poltekkes Mataram
Abstract : Though perform Caesarean section repeatedly pose health risks to mother and baby. NTB
Provincial General Hospital as a referral hospital has increased the number of births by caesarean section
in the past 3 years until 37.3% cases in 2012.. The purpose of research is to analyze the former labor
relations by caesarean section delivery, fetal outcome and results of uterine rupture in the province
General Hospital in 2012. Design research is an bservational analytic cross sectional approach. The
population in this study were all women giving birth in the year 2012 a number of 2706 births with
maternalsamples
hroughout
the
former
Caesarean
section
that
met
the inclusion criteria a total of 97 cases. Based on the results of data analysis 72% women with history
section caesarea have labour with section caesarea, and fetal outcomes largely the result not asfiksia.
With event as much as 3 cases of uterine ruptur. Result of analiysis with the chi square test on how to get
the delivery at p = 0.036 means that there is a significant relationship between the former delivery by
caesarean section delivery, which the former capital at risk of Caesarean section deliveries perabdominal
7 times. While the results of fetal outcomes obtained p = 0.755 wich means there is no relationship but
are at risk for asfikisa fetal outcomes. While the result of uterine ruptur obtained p = 0.421 which means
that significant relationship have risk for uterine. Based on this study advised the public, especially
mothers with a history of previous Caesarean section to find out how the monitoring of pregnancy, mode
of delivery, and the selection of the proper delivery to prevent complications in the mother and fetus. And
for health workers have specific atantion especially for women with history caesarea section, to
minimize complication in mother and fetus.
Keywords: Childbirth former Caesarean section, way of delivery, fetal 0utcome results, uterine rupture
PENDAHULUAN
Pengakhiran kehamilan dengan seksio sesarea
saat ini sudah menjadi tren diseluruh dunia.
Beberapa ibu hamil melakukan operasi seksio
sesarea berulang-ulang karena berbagai alasan.
Padahal melakukan seksio sesarea berulang bisa
menimbulkan resiko terhadap kesehatan ibu dan
bayi yang dikandungnya. Salah satu komplikasi
yang potensial adalah lmplantasi plasenta yang
abnormal, ini terjadi pada 1 dari 2.500 kehamilan.
Disamping itu kejadian ruptur uteri bisa terjadi
apabila persalinan tidak dengan pengawasan yang
adekuat. Ruptur uteri atau robekan uterus
merupakan peristiwa yang sangat berbahaya.
Ruptur ini paling sering terjadi pada parut bekas
seksio sesarea jenis klasik. Frekuensi ruptur uteri
di Rumah Sakit besar di Indonesia berkisar 1 : 92
sampai 1 : 294 persalinan. Angka ini sangat tinggi
jika dibandingkan dengan negara maju antara 1 :
1250. (Marsianto, 2002)
Ibu dengan riwayat ruptur uteri merupakan
kontra indikasi untuk melahirkan pervaginam.
Kontra indikasi yang lain yaitu riwayat operasi
sebelumnya dengan jenis parut klasik, ibu dengan
panggul
sempit,
plasenta
previa,
atau
malpresentasi, dan ibu yang menolak untuk
dilakukannya
persalinan
percobaan
dan
menginginkan persalinan seksio sesarea elektif. (
Karkata, 2012)
Seorang ibu yang menjalani seksio sesarea,
baik yang terencana ataupun dalam intra partum
mempunyai risiko dua kali lipat akan morbiditas
maternal yang buruk dan mortalitas (termasuk
kematian,
histrektomy,
tranfusi
darah,
dan
perawatan intensif), dan lima kali lipat risiko
infeksi pasca persalinan dibandingkan persalinan
_____________________________________
http://www.lpsdimataram.com Volume 8, No. 6, Oktober 2014pervaginam.(Karkata 2012)Disamping itu bayi
yang lahir dengan persalinan seksio saesarea sering
mengalami masalah bernafas untuk pertama
kalinya, sering pula bayi terpengaruh obat anastesi
yang diberikan pada ibu ( Hassan 2007).
Menurut Hansen A (2007), mengatakan
bahwa bayi yang lahir dengan seksio sesarea
memiliki hampir 4 kali peningkatan risiko
gangguan pada sistem pernafasan kemungkinan
berkaitan dengan perubahan fisiologi akibat proses
kelahiran. Proses kelahiran dengan seksio sesarea
memicu pengeluaran hormon stress pada ibu yang
diperkirakan menjadi kunci pematangan paru-paru
bayi yang terisi air sehingga bayi lahir mengalami
asfiksia (Hansen, 2007 )
Morbiditas
maternal
setelah
menjalani
tindakan seksio saesarea masih 4-6 kali lebih tinggi
daripada persalinan pervaginam, karena ada
peningkatan resiko yang berhubungan dengan
proses persalinan sampai proses perawatan setelah
pembedahan (Safitri, 2008 )
Meskipun memiliki resiko morbiditas dan
mortalitas pada ibu dan janin, persalinan dengan
seksio sesarea terus mengalami peningkatan.
Dilihat dari angka kejadian seksio sesarea,
dilaporkan bahwa di Amerika Serikat prevalensi
seksio sesarea dengan indikasi parut uterus sebesar
35%, Australia 35%, Skotlandia 43%, dan Perancis
28%. World Health Organization ( WHO )
menanggapi hal ini dengan mengeluarkan panduan
yang
menyatakan
bahwa
seharusnya
total
persentasi operasi sesarea tidak lebih dari 15%
dari seluruh kelahiran, dan harus kurang dari 9,5%
pada negara berkembang ( Gondo, 2010)
Angka kejadian seksio sesarea di Indonesia
menurut data survey nasional pada tahun 2007
adalah 921.000 (22,8%) dari 4.039.000 persalinan.
Dan angka persalinan dengan seksio sesarea di 12
Rumah Sakit Pendidikan berkisar antara 2,1% -
11,8%. ( Gondo, 2010)
Rumah Sakit Umum Propinsi NTB sebagai
rumah sakit rujukan mengalami peningkatan
jumlah persalinan dengan seksio sesarea dalam 3
tahun terakhir. Berdasarkan laporan Ruang
Bersalin RSUP NTB jumlah persalinan dengan
seksio sesarea yaitu 565 (23,5%) dari total 2.406
kasus
persalinan
pada
tahun
2010.
Dari
keseluruhan persalinan tersebut sebanyak 389
(16,1%) bayi mengalami asfiksia. Pada tahun 2011
persalinan dengan seksio sesarea menjadi 590
(26,06%) dari total 2.264 kasus persalinan, dan
399 (17,6%) bayi mengalami asfiksia. Sedangkan
di tahun 2012 jumlah persalinan dengan seksio
sesarea sebanyak 1009 (37,3%) dari total 2.706
kasus persalinan dan 541 (19,9%) bayi mengalami
afiksia (Mulyani, 2012 )
Angka persalinan dengan seksio sesarea
berdasarkan data diatas cukup tinggi bila
dibandingkan dengan panduan yang ditetapkan
WHO yaitu persalinan seksio sesarea di rumah
sakit rujukan sebesar 15% dari total persalinan.
Tingginya angka persalinan dengan seksio sesarea
ini secara tidak langsung akan meningkatkan
jumlah persalinan ibu dengan bekas seksio sesarea
di kemudian hari. Seperti yang telah dibahas pada
halaman sebelumnya resiko yang paling berbahaya
pada persalinan bekas seksio sesarea adalah ruptur
uteri. Angka kejadian ruptur uteri di Rumah Sakit
Umum Provinsi NTB tahun 2012 sejumah 4 kasus
(0,14%) dari total 2.706 persalinan. Tiga
diantaranya terjadi pada ibu dengan bekas seksio
sesarea
.Tujuan umum dalam penelitian ini adalah
untuk Menganalisis hubungan persalinan bekas
seksio sesarea dengan cara persalinan, hasil luaran
janin dan kejadian ruptur uteri di Rumah Sakit
Umum Provinsi NTB tahun 2012
METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan adalah
observasional analitik dengan pendekatan secara
Cross Sectional. Lokasi penelitian dilakukan di
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB. Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin
pada tahun 2012 sejumlah 2706 persalinan dengan
sampel seluruh ibu bersalin bekas seksio sesarea
sejumlah 97 kasus. Uji hipotesis dalam penelitian
ini menggunakan chi square test
Definisi operasional
1.
Cara persalinan :
Cara akhir mengakhiri
kehamilan
2.
Hasil luaran janin : Kondisi bayi saat
dilahirkan
3.
Ruptur uteri : Kondisi robeknya uterus pada
saat persalinan
4.
Persalinan bekas Seksio Saesarea : Ibu
bersalin dengan riwayat seksio saesarea pada
persalinan terdahulu
_____________________________________________
Volume 8, No. 6, Oktober 2014 http://www.lpsdimataram.com
HASIL PENELITIAN
a.
Jumlah Persalinan Bekas Seksio Sesarea
Tabel 1. Distribusi Jumlah Persalinan Bekas
Seksio Sesarea
No
Persalinan Bekas
Seksio Sesarea
Jumlah
n
%
1.
2.
Bekas Seksio
Sesarea <2 kali
Bekas Seksio
Sesarea
≥
2 kali
81
16
83,5%
16,5%
Jumlah
97
100
Jumlah persalinan pada ibu bekas seksio sesarea
<2 kali sebagian besar pada kategori 81 kasus
(83,5%).
b.
Cara Persalinan Ibu Dengan Bekas Seksio
Sesarea
Tabel 2. Distribusi Cara Persalinan Pada Ibu
Dengan Bekas Seksio Sesarea
No
Cara
Persalinan
Jumlah
n
%
1.
2.
Pervaginam
Perabdominal
27
70
28
72
Jumlah
97
100
Cara persalinan pada ibu dengan bekas seksio
sesarea sebagian besar dengan cara perabdominal
atau seksio sesarea yaitu 70 kasus (72%)
dibandingkan dengan cara pervaginam yaitu 27
kasus (28%).
c.
Hasil Luaran Janin Pada Ibu Bekas Seksio
Sesarea Dengan persalinan Pervaginam
Tabel 3 Distribusi Hasil Luaran Janin Pada Ibu
Bekas Seksio Sesarea Dengan Persalinan
Pervaginam
No
Hasil Luaran
Janin
Jumlah
n
%
1.
2.
Asfiksia
Tidak Asfiksia
9
18
33
67
Jumlah
27
100
Luaran janin pada ibu dengan bekas seksio
sesarea yang lahir dengan cara pervaginam,
sebagian besar tidak mengalami asfiksia yaitu
sejumlah 18 (67%), dan sisanya mengalami
asfiksia yaitu 9 (33%) dari total 27
d.
Hasil Luaran Janin Pada Ibu Bekas Seksio
Sesarea Dengan Persalinan Perabdominal
Tabel 4 Distribusi Hasil Luaran Janin Pada
Ibu Bekas Seksio Sesarea Dengan
Persalinan Perabdominal
No
Hasil Luaran
Janin
Jumlah
n
%
1.
2.
Asfiksia
Tidak Asfiksia
16
54
23
77
Jumlah
70
100
Hasil luaran janin pada ibu dengan bekas
seksio
sesarea
yang
lahir
dengan
cara
perabdominal atau seksio sesarea tidak mengalami
asfiksia yaitu 54 kasus (77%) dari 70 kasus, dan
sisanya mengalami asfiksia.
e.
Kejadian Ruptur Uteri Pada Ibu Bersalin
Bekas Seksio Sesarea
Tabel 5 Distribusi Kejadian Ruptur Uteri Pada
Ibu Dengan Bekas Seksio Sesarea
No
Kejadian Ruptur
Uteri
Jumlah
n
%
1.
2.
Ada Ruptur Uteri
Tidak ada Ruptur
Uteri
3
94
3
97
Jumlah
97
100
Ibu bersalin tidak mengalami ruptur uteri yaitu
sejumlah 94 (97%) kasus, dan sisanya mengalami
ruptur uteri sejumlah 3 kasus (3%), dari total 97
kasus.
f.
Analisis
Hubungan
Persalinan
Bekas
Seksio Sesarea Dengan Cara Persalinan
http://www.lpsdimataram.com
Tabel 6 Tabel Silang Hubungan Persalinan
Bekas Seksio Sesarea Dengan Cara
Persalinan
Ibu Bersalin Cara Persalinan Pervaginam Perabdominal n % n % Bekas SC <2kali 26 32,1 55 67,9 Bekas Sc ≥2 kali 1 6,2 15 93,8 Total 27 27,8 70 72,2 p=0,036 OR=7,091Persalinan pada ibu bekas seksio sesarea <
kali dominan dengan cara perabdominal yaitu 55
kasus (67,9%) dan sisanya melahirkan pervaginam
sejumlah 26 kasus (32,1%), demikian pula pada
persalinan ibu bekas seksio sesarea
dominan melahirkan dengan cara perabdominal
sebesar 15 kasus (93,8%) dan sisanya dengan cara
pervaginam.
Dari hasil uji statistik menggunakan uji
Square pada tingkat kesalahan 5 % (
didapatkan nilai p = 0,036 (
hipotesa alternatif diterima, artinya ada hubungan
yang signifikan antara persalinan
sesarea dengan cara persalinan.
Dari hasil analisis data didapatkan OR= 7,091
berarti ibu bersalin dengan bekas seksio sesarea
memiliki risiko 7 kali untuk persalinan
perabdominal atau kembali seksio sesarea.
g.
Analisis Hubungan Persalinan Bek
Sesarea Dengan Hasil Luaran Janin
Tabel7 menunjukkan bahwa hasil luaran janin
pada ibu dengan bekas seksio sesarea <2 kali
sebagian besar tidak mengalami asfiksia yaitu
sejumlah 59 kasus (72,8%) dan sisanya mengalami
asfiksia, demikian pula hasil luaran janin pada ibu
bekas seksio
≥
2 kali sebagian besar tidak
mengalami asfiksia yaitu 13 kasus (81,2%) dan
sisanya mengalami asfiksia.
Dari hasil uji statistik menggunakan uji
Square pada tingkat kesalahan 5 % (
didapatkan nilai p = 0,755
hipotesa alternatif ditolak, artinya tidak ada
_____________________________________
VolumeTabel Silang Hubungan Persalinan
Bekas Seksio Sesarea Dengan Cara
Cara Persalinan Jumlah Perabdominal % n % 67,9 81 100 93,8 16 100 72,2 97 100
Persalinan pada ibu bekas seksio sesarea <2
kali dominan dengan cara perabdominal yaitu 55
kasus (67,9%) dan sisanya melahirkan pervaginam
sejumlah 26 kasus (32,1%), demikian pula pada
persalinan ibu bekas seksio sesarea
≥
2 kali
dominan melahirkan dengan cara perabdominal
dan sisanya dengan cara
menggunakan uji Chi
pada tingkat kesalahan 5 % (
α
= 0,05)
= 0,036 (p<0,05) berarti
hipotesa alternatif diterima, artinya ada hubungan
yang signifikan antara persalinan bekas seksio
Dari hasil analisis data didapatkan OR= 7,091
berarti ibu bersalin dengan bekas seksio sesarea
memiliki risiko 7 kali untuk persalinan
perabdominal atau kembali seksio sesarea.
Analisis Hubungan Persalinan Bekas Seksio
Sesarea Dengan Hasil Luaran Janin
Tabel7 menunjukkan bahwa hasil luaran janin
pada ibu dengan bekas seksio sesarea <2 kali
sebagian besar tidak mengalami asfiksia yaitu
sejumlah 59 kasus (72,8%) dan sisanya mengalami
l luaran janin pada ibu
2 kali sebagian besar tidak
mengalami asfiksia yaitu 13 kasus (81,2%) dan
menggunakan uji Chi
pada tingkat kesalahan 5 % (
α
= 0,05)
= 0,755 (p>0,05) berarti
hipotesa alternatif ditolak, artinya tidak ada
hubungan yang signifikan antara persalinan bekas
seksio sesarea dengan hasil luaran janin.
Tabel .7 Tabel Silang Hubungan Persalinan Bekas
Seksio Sesarea Dengan Hasil Luaran
Janin
Dari hasil analisis data didapatkan OR= 1,616
berarti ibu hasil luaran janin pada ibu bersalin
dengan
bekas
seksio
sesarea
memiliki
kemungkinan 1,6 kali untuk mengalami asfiksia.
h.
Analisis
Hubungan
Persalinan
Bekas
Seksio Sesarea Dengan Kejadian Ruptur
Uteri
Tabel 8 Tabel silang Hubungan Persalinan Bekas
Seksio Sesarea Dengan Kejadian Ruptur
Uteri
Ibu
Bersalin
Ruptur uteri
Ada
ruptur
uteri
ruptur uteri
n
%
Bekas
SC<2kali
2
2,5
Bekas
SC
≥
2kali
1
6,2
Total
3
3,1
P=0,421
OR=0,380
Tabel 8 menunjukkan bahwa ibu bersalin
dengan bekas seksio sesarea <2 kali dominan tidak
mengalami ruptur uteri yaitu sejumlah 79 kasus
(97,5%) dan sisanya mengalami ruptur uteri
sejumlah 2 kasus (2,5%). Demikian juga pada ibu
_____________________________________
Volume 8, No. 6, Oktober 2014hubungan yang signifikan antara persalinan bekas
seksio sesarea dengan hasil luaran janin.
Tabel .7 Tabel Silang Hubungan Persalinan Bekas
Seksio Sesarea Dengan Hasil Luaran
il analisis data didapatkan OR= 1,616
berarti ibu hasil luaran janin pada ibu bersalin
dengan
bekas
seksio
sesarea
memiliki
kemungkinan 1,6 kali untuk mengalami asfiksia.
Analisis
Hubungan
Persalinan
Bekas
Seksio Sesarea Dengan Kejadian Ruptur
Tabel silang Hubungan Persalinan Bekas
Seksio Sesarea Dengan Kejadian Ruptur
Ruptur uteri
Jumlah
Tidak
ruptur uteri
n
%
n
%
79
97,5
81
100
15
93,8
16
100
94
96,9
97
100
P=0,421
OR=0,380
Tabel 8 menunjukkan bahwa ibu bersalin
dengan bekas seksio sesarea <2 kali dominan tidak
mengalami ruptur uteri yaitu sejumlah 79 kasus
(97,5%) dan sisanya mengalami ruptur uteri
sejumlah 2 kasus (2,5%). Demikian juga pada ibu
_____________________________________________
Volume 8, No. 6, Oktober 2014 http://www.lpsdimataram.com
bekas seksio sesarea
≥
2 sejumlah 15 kasus (93,8%)
tidak mengalami ruptur uteri, dan sisanya 1 kasus
(6,2%) mengalami ruptur uteri.
Dari hasil uji statistik menggunakan uji Chi
Square pada tingkat kesalahan 5 % (
α
= 0,05)
didapatkan nilai p = 0,421 (p>0,05) berarti
hipotesa alternatif ditolak, artinya tidak ada
hubungan yang signifikan antara persalinan bekas
seksio sesarea dengan kejadian ruptur uteri.
Dari hasil analisis data didapatkan OR= 0,380
berarti ibu bersalin bekas seksio sesarea memiliki
risiko sebanyak 0,380 kali untuk terjadinya ruptur
uteri.
PEMBAHASAN
a.
Jumlah Persalinan Bekas Seksio Sesarea
Berdasarkan hasil analisis data didapatkan ibu
bersalin bekas seksio sesarea didominasi oleh ibu
bekas seksio sesarea <2 kali yaitu sejumlah 81
kasus (83,5%) sedangkan pada ibu bekas seksio
sesarea
≥
2 kali sebanyak 16 kasus (16,5%).
Jumlah persalinan seksio sesarea terdahulu
merupakan salah satu kriteria yang diperhatikan
dalam seleksi pemilihan cara persalinan untuk ibu
bersalin bekas seksio sesarea. Dimana ibu bersalin
dengan bekas seksio sesarea
≥
2 kali disarankan
untuk melakukan seskio sesarea terencana atau
elektif.
Menurut Karkata K (2012) ibu bersalin bekas
seksio sesarea
≥
2 kali memiliki resiko terjadi
ruptur uteri 5 kali lebih besar daripada seksio
sesarea >2 kali.
b.
Cara Persalinan Ibu Dengan Bekas Seksio
Sesarea
Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian
ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu
bersalin dengan bekas seksio sesarea melahirkan
dengan cara perabdominal atau seksio sesarea yaitu
sejumlah 70 kasus (72%) dan sisanya dengan cara
pervaginam yaitu 27 kasus (28%). Dari data
tersebut dapat disimpulkan ibu yang berhasil
melaksanakan persalinan pervaginam setelah
seksio sesarea atau Vaginal Birth After Caesarean
sejumlah 27 kasus.
Tingginya persalinan perabdominal pada ibu
dengan bekas seksio sesarea di Rumah Sakit
Umum Propinsi NTB, dapat dikarenakan oleh
penatalaksanaan persalinan ibu bekas seksio
sesarea didahului dengan seleksi yang ketat dalam
pemilihan cara persalinan, terutama pada ibu yang
akan menjalankan persalinan pervaginam. Seleksi
ini meliputi riwayat persalinan terdahulu yaitu
indikasi seksio sesarea terdahulu, jenis insisi, dan
komplikasi terdahulu. Sedangkan pada kehamilan
yang sekarang yang menjadi pertimbangan yaitu
apakah saat ini terdapat indikasi operasi berulang,
dan apakah terdapat penyulit kehamilan (Caughey,
2001)
Selain itu selama persalinan percobaan
pervaginam pada ibu dengan bekas seksio sesarea
dilakukan observasi yang lebih ketat. Apabila
terjadi kemacetan persalinan atau bayi mengalami
gawat janin, maka kehamilan segera diakhiri
dengan seksio sesarea untuk menyelamatkan ibu
dan janin (Caughey, 2001)
Sesuai
dengan
pendapat
menurut
Wirakusumah
F
(2009),
hal
yang
perlu
diperhatikan
untuk
menentukan
prognosis
persalinan pervaginam dengan parut uterus adalah
jenis sayatan uterus yang telah dilakukan pada saat
operasi sebelumnya, jumlah dan indikasi operasi
seksio sesarea terdahulu, apakah jenis seksio
sesarea elektif atau emergensi dan apakah terdapat
komplikasi pada kelahiran terdahulu( Kumboyo,
2008)
Penelitian yang dilakukan oleh Merril dan
Gibbs (1978) dalam Cuningham FG (2006)
melaporkan bahwa kelahiran pervaginam berhasil
dilakukan pada 83% pasien yang pernah menjalani
seksio sesarea sebelumnya dengan seleksi dan
pengawasan yang ekstra ( Cunningham, 2006)
Kelemahan pada penelitian ini penulis tidak
membedakan cara persalinan ibu apakah seksio
sesarea terencana (elektif) atau seksio sesarea
karena gagal persalinan percobaan atau Vaginal
Birth After Caesarean. Sehingga tidak dapat
diketahui
gambaran
keberhasilan
persalinan
percobaan pada ibu dengan bekas seksio sesarea.
c.
Hasil Luaran Janin
Hasil analisis data menunjukan hasil luaran
janin pada ibu dengan bekas seksio sesarea yang
lahir dengan cara pervaginam sebagian besar tidak
mengalami asfiksia yaitu sejumlah 18 kasus (67%)
dari total 27 kasus, dan sisanya mengalami
asfiksia.
_____________________________________
http://www.lpsdimataram.com Volume 8, No. 6, Oktober 2014Kondisi
bayi
saat
dilahirkan
sangat
dipengaruhi oleh kondisi kehamilan ibu dan proses
persalinan. Pemilihan cara persalinan yang tepat
dan pemantauan denyut jantung janin yang ketat
selama proses persalinan pervaginam pada ibu
dengan bekas seksio sesarea menentukan kondisi
bayi yang dilahirkan, disamping itu bayi yang
dilahirkan pervaginam pada proses persalinan
mengalami kompresi dada, sehingga mendorong
cairan pada paru-paru janin untuk keluar dari
saluran pernafasan, sehingga pada saat dilahirkan
bayi bernafas dan paru-paru bayi terisi udara (
Khadijah, 2012 )
Demikian pula dengan kondisi bayi yang
dilahirkan perabdominal, sebagian besar tidak
mengalami asfiksia yaitu sejumlah 54 kasus (77%)
dari total 77 kasus.
Kondisi bayi yang dilahirkan dengan cara
seksio sesarea tergantung dari alasan atau indikasi
dilakukannya seksio sesarea. Disamping itu,
keputusan
yang
tepat
untuk
melakukan
pengakhiran kehamilan dengan seksio sesarea
memberikan pengaruh yang besar terhadap hasil
luaran janin. Sesuai dengan tujuan dilakukannya
tindakan
seksio
sesarea
yaitu
untuk
menyelamatkan ibu dan janin.
Hal ini didukung oleh pendapat yang
diutarakan Husodo L (2002) bahwa nasib anak
yang dilahirkan dengan seksio sesarea banyak
tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk
melakukan seksio sesarea.
Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian
yang dilakukan Caughey AB (2001) yaitu 463 dari
478 (97 %) bayi yang lahir pervaginam
mempu-nyai skor Apgar pada 5 menit pertama adalah 8
atau lebih. Skor Apgar bayi yang lahir tidak
berbe-da bermakna paberbe-da Vaginal Birth After Caesarean
dibanding seksio sesarea ulangan elektif.
Morbidi-tas bayi yang berhasil Vaginal Birth After
Caesa-rean tidak berbeda bermakna dengan bayi yang
lahir normal.
(20)d.
Kejadian Ruptur Uteri
Dari hasil analisis pada penelitian ini di
da-patkan sebagian besar ibu bersalin tidak
menga-lami ruptur uteri yaitu sejumlah 94 (97%) kasus,
dan sisanya mengalami ruptur uteri sejumlah 3
ka-sus (3%), dari total 97 kaka-sus.
Ruptur uteri merupakan komplikasi yang
terjadi terutama pada persalinan pervaginam
dengan bekas seksio sesarea, dan lebih sering
terjadi pada ibu dengan riwayat seksio sesarea
klasik. Rumah Sakit Umum Propinsi NTB sebagai
rumah sakit rujukan, menerima rujukan pasien
dengan berbagai kasus, termasuk persalinan pada
ibu dengan bekas seksio sesarea yang sudah
memasuki inpartu bahkan yang mengalami
kemacetan. Sehingga seleksi awal yang seharusnya
dilakukan untuk milih cara persalinan tidak dapat
dilakukan.
Menurut Kornea K (2012), ibu hamil dengan
bekas seksio sesarea disarankan dirujuk untuk
melakukan pemeriksaan kehamilan di dokter
spesialis Obgyn dan diharapkan bersalin dibawah
pengawasan dokter spesialis Obgyn. Kelemahan
pada penelitian ini, penulis tidak membedakan ibu
bersalin bekas seksio sesarea yang datang dengan
rujukan atau tidak dengan rujukan.
e.
Hubungan Persalinan Bekas SC Dengan
Cara Persalinan
Ibu hamil dengan riwayat seksio sesarea pada
persalinan yang terdahulu mempunyai dua pilihan
persalinan, yaitu persalinan percobaan pervaginam
setelah seksio sesarea atau seksio sesarea
terencana.
Pada penelitian ini berdasarkan hasil analisa
didapatkan persalinan ibu bekas seksio sesarea < 2
kali sebagian besar dengan cara perabdominal
yaitu 55 kasus (67,9%), begitu juga pada ibu bekas
seksio sesarea
≥
2 kali yang bersalin perabdominal
sebesar 15 kasus (93,8%). Dari hasil uji statistik
menggunakan uji Chi Square didapatkan p=0,36
(p<0,05), artinya ada hubungan yang signifikan
antara persalinan bekas seksio sesarea dengan cara
persalinan, dimana ibu bersalin dengan bekas
seksio memiliki resiko 7 kali melahirkan dengan
cara perabdominal.
Berdasarkan
prosedur
penatalaksanaan
persalinan bekas seksio sesarea di Rumah Sakit
Umum Propinsi NTB, ibu dengan bekas seksio
sesarea
≥
2 kali di sarankan untuk melakukan
seksio sesarea terencana atau elektif, sehingga
pada
penelitian
ini
didapatkan
persalinan
perabdominal pada ibu dengan bekas seksio
sesarea
≥
2 kali sangat besar yaitu 93,8%. Hal ini
tidak sejalan dengan pendapat menurut Kornea K
(2012 yang menyebutkan ibu dengan 2 atau lebih
luka bekas operasi transversal bukan merupakan
_____________________________________________
Volume 8, No. 6, Oktober 2014 http://www.lpsdimataram.com
kontra indikasi untuk dilakukannya Vaginal Birth
After Caesarea, namun sebelumnya ibu harus
diberikan informasi yang lengkap mengenai
keberhasilan dan faktor resiko yang dapat terjadi
(Karkata, 2012)
Berdasarkan
hasil
beberapa
penelitian
sebelumnya keberhasilan persalinan pervaginam
pasca seksio sesarea setelah riwayat 1-2 kali seksio
sesarea adalah 72-76% (Cuningham, 2006)
f.
Hubungan Persalinan Bekas Seksio Sesarea
Dengan Hasil Luaran Janin
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 7 dapat
dilihat bahwa hasil luaran janin pada ibu bersalin
bekas seksio sesarea <2 kali sebagian besar tidak
asfiksia yaitu 59 kasus (72,8%) demikian juga
hasil luaran janin pada ibu bekas seksio searea
≥
2
kali yang tidak asfiksia sejumlah 13 kasus (81,2%)
. Dari hasil uji statistik menggunakan uji Chi
Square didapatkan p=0,755 (p>0,05) artinya tidak
ada hubungan yang signifikan antara persalinan
bekas seksio sesarea dengan hasil luaran janin.
Berdasarkan hasil OR=1,616 yang memiliki makna
bahwa hasil luaran janin pada ibu bersalin bekas
seksio sesarea memiliki risiko mengalami asfiksia
sebesar 1,616 kali, artinya pemantauan kejahteraan
janin pada persalinan bekas seksio sesarea harus
dilakukan dengan lebih ketat.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya,
keadaan bayi (luaran janin) yang dilahirkan sangat
tergantung pada pertumbuhan janin di dalam
uterus, kualitas pengawasan antenatal, penanganan
persalinan dan perawatan sesudah lahir. Rumah
Sakit Umum Propinsi NTB memiliki fasilitas
kamar operasi dengan dokter spesialis Obgyn dan
dokter anastesi yang bertugas 24 jam, sehingga
selama proses persalinan ibu dengan bekas seksio
sesarea apabila terjadi kemacetan atau gawat janin
dapat segera dilakukan tindakan seksiso sesarea.
Selain itu keterampilan resusitasi pada bayi baru
lahir juga memberi pengaruh besar terhadap
kondisi bayi yang dilahirkan.
Didukung oleh pendapat Kornea K (2012)
yang merekomendasikan ibu hamil dengan bekas
seksio sesarea agar dirujuk melahirkan ke tempat
yang memiliki fasilitas kamar operasi untuk
melakukan seksio sesarea segera serta persiapan
resusitasi neonatal. Serta pemantauan janin secara
ketat untuk menditeksi adanya ruptur uteri atau
asfiksia perinatal.
Selain itu, jenis anastesi pada persalinan
dengan seksio sesarea juga memberikan pengaruh
pada bayi terutama penggunaan total anastesi,
sehingga pada umumnya anastesi yang digunakan
adalah anastesi spinal atau regional. Sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Jacob dan
Phenningher yang membandingkan 834 seksio
sesarea dengan 834 persalinan pervaginam resiko
rendah menyimpulkan bahwa seksio sesarea
berulang dan seksio sesarea atas indikasi distosia
tanpa kelainan frekuensi denyut jantung janin dan
dilakukan dibawah pengaruh anastesi regional
jarang memerlukan resusitasi janin (Cunningham,
2006)
Sedangkan hasil luaran janin pada ibu bersalin
dengan bekas seksio sesarea yang mengalami
asfiksia besar dipengaruhi oleh faktor- faktor
antara lain keadaan plasenta yaitu plasenta previa
atau solusio plasenta, keadaan tali pusat janin yaitu
lilitan tali pusat, kondisi ibu seperti anemia,
dehidrasi, syok, ruptur uteri, ibu dengan hipertensi,
diabetes militus dan gangguan pertumbuhan janin
(Manuaba 2012)
g.
Hubungan
Persalinan
Bekas
Seksio
Sesarea Dengan Kejadian Ruptur Uteri
Pada penelitian ini hasil analisis menunjukan
ibu bersalin dengan bekas seksio sesarea <2
sebagian besar tidak mengalami ruptur uteri yaitu
79 kasus (97,5%), begitu juga pada ibu riwayat
seksio sesarea
≥
2 kali sebanyak 15 kasus (93,8%)
tidak mengalami ruptur uteri. Uji statistik
menggunakan uji Chi Square didapatkan p=0,421
(p>0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang
signifikan antara persalinan bekas seksio sesarea
dengan kejadian ruptur uteri. Dan pada didapatkan
nilai OR=0,380 yang artinya persalinan bekas
seksio sesarea memiliki risiko terjadinya ruptur
uteri sebesar 0,380 kali.
Pada ibu bersalin dengan bekas seksio sesarea
di Rumah Sakit Umum Propinsi NTB, untuk
mencegah timbulnya ruptur uteri selain dengan
dilakukannya seleksi awal yang ketat dalam
menentukan cara persalinan yaitu seksio sesarea
elektif atau persalinan percobaan pervaginam, di
kamar bersalin dilakukan pemantauan persalinan
yang ketat meliputi keadaan umum ibu, tanda vital,
_____________________________________
http://www.lpsdimataram.com Volume 8, No. 6, Oktober 2014kontraksi uterus, denyut jantung janin dan
kemajuan
persalinan
dengan
tujuan
dapat
mendeteksi kemungkinan terjadinya distosia pada
persalinan dan mendeteksi gejala ruptur uteri.
Di samping itu faktor jenis insisi seksio
sesarea yang sebagian besar insisi tranversal, dan
jarak persalinan lebih dari 18 bulan sejak seksio
sesarea terdahulu juga mempengaruhi kejadian
ruptur uteri pada ibu riwayat seksio sesarea (
Mar-sianto, 2002)
Menurut Marsianto 2002, ruptur uteri sering
terjadi pada rahim yang telah di seksio sesarea
sebelumnya, terutama pada seksio sesarea klasik
dari pada insisi transversal rendah. Lebih lagi jika
dilakukan partus percobaan
Berbeda dengan hasil penelitian Caughey dkk,
dalam Cuningham FG (2006) membandingkan
angka ruptur uteri pada 3757 wanita dengan
riwayat
satu
kali
jaringan
parut
uterus
dibandingkan dengan 134 wanita yang memiliki 2
kali riwayat insisi. Angka ruptur uteri secara
bermakna meningkat 5 kali lipat pada wanita
dengan
riwayat
dua
kali
seksio
sesarea
dibandingkan dengan satu kali seksio sesarea (3,75
versus 0,8%).
Perbedaan tersebut diatas dikarenakan kasus
ibu bersalin dengan bekas seksio sesarea
≥
2 kali
sebagian besar melahirkan dengan cara sksio
sesarea sesuai dengan prosedur penatalaksanaan
persalinan pada ibu dengan bekas seksio sesarea di
Rumah Sakit Umum Propinsi NTB yaitu ibu
bersalin dengan riwayat
≥
2 kali seksio sesarea
dianjurkan untuk melakukan seksio sesarea
terencana (elektif) untuk mencegah terjadinya
ruptur uteri
SIMPULAN
1.
Dari
hasil
analisis
didapatkan
jumlah
persalinan pada ibu bekas seksio sesara <2
kali sebanyak 81 kasus (83,5%) dan pada ibu
bekas seksio sesarea
≥
2 kali sebanyak 16
kasus (16,5%).
2.
Dari hasil analisis didapatkan bahwa cara
persalinan pada ibu dengan bekas seksio
sesarea
lebih
dominan
dengan
cara
perabdominal atau seksio sesarea yaitu 70
kasus (72%).
3.
Hasil luaran janin pada ibu dengan bekas
seksio sesarea yang lahir dengan cara
pervaginam, sebagian besar tidak mengalami
asfiksia yaitu sejumlah 18 kasus (67%)..
4.
Hasil luaran janin pada ibu dengan bekas
seksio sesarea yang lahir dengan cara
perabdominal atau seksio sesarea sebagian
besar tidak mengalami asfiksia yaitu 54 kasus
(77%)
5.
Dari hasil analisis dapatkan kejadian ruptur
uteri pada ibu dengan bekas seksio sesarea
sejumlah 3 kasus (3%).
6.
Ada
hubungan
yang
signifikan
antara
persalinan bekas seksio sesarea dengan cara
persalinan.(p value = 0,036)
7.
Tidak ada hubungan yang signifikan antara
persalinan bekas seksio sesarea dengan hasil
luaran janin. (p value = 0,755)
8.
Tidak ada hubungan yang signifikan antara
persalinan bekas seksio sesarea dengan
kejadian ruptur uteri (p value= 0,421).
DAFTAR PUSTAKA
Aminullah A. 2002. Asfiksia Neonatorum dalam
Ilmu
Kebidanan.
Edisi
Ketiga.
Jakarta:
Yayasan
Bina
Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Caughey AB (2001), Risk of Vaginal Birth
After
Caesarean:
http://www.bmj.com/content/early/
2001/12/31
Chalik T, 2009. Perdarahan dalam kehamilan
lanjut dan persalinan. Dalam Ilmu
Bedah Kebidanan. Edisi keempat.
Cunningham FG et al, 2006. Obstetri Williams
Edisi 21 Vol 2. Jakarta: EGC
Departemen Kesehatan RI. 2010. Survey
Demografi Kesehatan Indonesia.
Jakarta.
Gondo HK dkk, 2010 Profil Operasi Seksio
Saesarea di SMF Obstetri dan
Ginecology
RSUP
Sanglah,
_____________________________________________
Volume 8, No. 6, Oktober 2014 http://www.lpsdimataram.com