REALISASI VISI DAN MISI BUPATI TOBA SAMOSIR DALAM PEMBANGUNAN DI TOBA SAMOSIR PERIODE 2016-2018
SKRIPSI
OLEH
JOSUA H P SIAGIAN 140906057
Dosen Pembimbing : Drs. Zakaria, M. SP.
DEPARTEMEN ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan dan diperbanyak oleh : Nama : Josua H P Siagian
Nim : 140906057 Departemen : Ilmu Politik
Judul : Realisasi Visi Dan Misi Bupati Toba Samosir Dalam Pembangunan Di Toba Samosir Periode 2016-2018
Menyetujui:
Ketua Departemen Ilmu Politik Dosen Pembimbing
(Dr. Warjio, Ph.D) (Drs. Zakaria, M. SP)
NIP. 197408062006041003 NIP. 195801151986011002
Mengetahui:
Dekan FISIP USU
(Dr. Muryanto Amin, S.Sos.M.si) NIP. 197409302005011002
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi Ini Telah Dipertahankan Dihadapan Panitia Penguji Skripsi Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, dilaksanakan pada:
Hari : Tanggal : Pukul : Tempat : Tim Penguji Ketua :
( )
NIP.
Anggota I :
( )
NIP.
Anggota II :
( )
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, menyatakan sesungguhnya :
1. Karya tulis ilmiah saya dalam bentuk Skripsi dengan judul “Realisasi Visi Dan Misi Bupati Toba Samosir Dalam Pembangunan Di Toba Samosir Periode 2016-2018 ” adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik, baik di Universitas Sumatera Utara maupun di perguruan tinggi lain.
2. Skripsi ini murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain, kecuali arahan dari tim pembimbing dan penguji.
3. Didalam skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasi orang lain, kecuali ditulis dengan cara menyebutkan pengarang dan mencantumkannya pada daftar pustaka.
4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya, dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran di dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh karena skripsi ini, serta sanksi lainnya sesuai dengan norma dan ketentuan hukum yang berlaku.
Medan, 2019
(Josua H P Siagian)
iv UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK
ABSTRAK
Josua H P Siagian (140906057): Realisasi Visi dan Misi Bupati Toba Samosir Dalam Pembangunan Di Toba Samosir Periode 2016- 2018. Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Drs. Zakaria, M. SP selaku dosen pembimbing.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana realisasi visi dan misi Bupati Toba Samosir pada tahun 2016 - 2018 yang dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Metode penelitian yang digunakan adalah dengan metode deskriptif kualiatatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam mencapai realisasi visi dan misi Bupati Toba Samosir yang dilaksanakan oleh OPD pada tahun 2016 - 2018 masih terdapat poin-poin yang tidak sesuai dengan target pencapaian berdasarkan indikator kinerja yang telah disusun dan sudah ditetapkan. Hal ini dikarenakan sumber dana yang tidak sesuai dengan target kebutuhan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam menjalankan program dan kegiatan pembangunan.
Kata kunci : Realisasi Visi dan Misi, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Indikator Kinerja
ABSTRACT
Josua H. P. Siagian (140906057): Vision and Mission Realization of Toba Samosir Regent in development of Toba Samosir for 2016-2018 Period. Guided by Bapak Drs. Zakaria, M.
SP.
The objective of the study was to see how far the realization of vision and mission Toba Samosir Regent in 2016 - 2018 period that held by Local Government Agencies. The research method used is qualitative descriptive method. The result of this study conclude that in achieving vision and mission realization of Toba Samosir Regent that held by Local Government Agencies in 2016 – 2018 there are few points that not suitable with achievement target based on specified performance indicator. This happen because the source of funds that not suitable with target needs of Local Government Agencies in implementing programs and event of development.
Keywords : Vision and Mission Realization, Local Government Agencies, Performance Indicator.
v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur yang dalam penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Realisasi Visi Dan Misi Bupati Toba Samosir Dalam Pembangunan Di Toba Samosir Periode 2016-2018”. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Strata 1 (S1) dan dalam mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Politik di Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Skripsi ini tidak terlepas atas dukungan dari berbagai pihak. Maka dari itu, tidak lupa pula penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan Skripsi ini. Adapun pihak-pihak tersebut ialah:
1. Tuhan Yang Maha Esa.
2. Yang paling teristimewa saya ucapkan ribuan terimakasih kepada kedua orang tua saya, kepada papa Jhon M Siagian dan mama Tarida Napitupulu yang paling saya cintai yang tidak hentinya berdoa untuk kesuksesan saya, yang selalu mendengarkan keluh kesah saya yang selalu sabar dan tidak berhenti memberi dukungan, motivasi serta nasihat baik yang selalu menjadi pegangan saya dalam menjalani kehidupan.
3. Kakak saya Dolpiana Yolanda Siagian dan kedua adik perempuan saya Yohana Siagian dan Yesicca Viona Siagian yang menjadi motivasi saya untuk lebih semangat dalam mengerjakan penelitian ini
4. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si, selaku Dekan FISIP USU.
5. Bapak Dr. Warjio, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP USU.
6. Bapak Husnul Isa Harahap, S.Sos, M,Si selaku sekretaris jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
7. Kepada Bapak Drs. Zakaria, M. SP selaku dosen pembimbing penulis selama proses penulisan skripsi ini yang telah sabar membimbing dan memberikan semangat dan banyak membantu terkhusus memberikan masukan-masukan yang membangun dalam proses pengerjaan skripsi ini sehingga dapat selesai dengan baik.
8. Kepada sahabat saya Sambi Faradolin Mahulae yang menemani saya baik suka dan duka.
9. Kepada teman saya Andreas Simorangkir yang telah banyak membantu dan menolong saya dalam penelitian ini.
10. Semua teman-teman Ilmu Politik 2014 untuk waktu, kebersamaan, saran dan bantuan selama perkuliahan dan juga proses pengerjaan penelitian ini.
11. Kepada nama dan semua yang belum dan tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Medan, 2019
(Josua H P Siagian)
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 12
1.3Batasan Masalah ... 12
1.4 Tujuan Penelitian ... 13
1.5 Manfaat Penelitian ... 13
1.6 Kerangka Teori ... 13
1.6.1 Defenisi Visi dan Misi ... 14
1.6.2 Teori Pembangunan ... 18
1.6.3 Teori Kebijakan Publik ... 21
1.7 Metodologi Penelitian ... 25
1.7.1 Jenis Penelitian ... 26
1.7.2 Teknik Pengumpalan Data ... 27
1.7.3 Teknik Analisa Data ... 27
1.7.4 Sistematika Penulisan ... 28
BAB II Kondisi Umum Daerah 2.1 Sejarah Singkat Kabupaten Toba Samosir ... 29
2.2 Karakteristik Lokasi dan Wilayah ... 30
2.2.1 Luas Wilayah dan Batas Wilayah Administrasi ... 30
2.2.2 Topografi ... 30
2.2.3 Geologi ... 32
2.2.4 Klimatologi ... 32
2.2.5 Pengunaan Lahan ... 33
2.2.6 Kondisi Demografi ... 34
2.3 Aspek Pelayanan Umum ... 36
2.3.1 Urusan Pemerintahan Wajib ... 36
2.3.2 Urusan Lain ... 46
BAB III Pembahasan Tentang Realisasi Misi Bupati Toba Samosir Dalam Memacu Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas Dan Berdaya Saing Pada Tahun 2016-2018 ... 51
3.1 Tujuan dan Sasaran Misi Bupati Toba Samosir ... 52 3.2 Strategi dan Arah Kebijakan Bupati Toba Samosir ... 52 3.3 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Penanggungjawab
Dalam Melaksanakan Misi Memacu Pertumbuhan Ekonomi
Yang Berkualitas dan Berdaya Saing ... 53 3.3.1 Dinas Tenaga Kerja ... 54 3.3.2 Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu ... 58 3.3.3 Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi Usaha Kecil
Menengah (UKM) ... 64 BAB IV Penutup
4.1 Kesimpulan ... 76 4.2 Saran ... 78
ix
Daftar Tabel
Tabel Judul Hal
1 Kondisi Kelerengan Lahan Kabupaten Toba Samosir Tahun 2015 30 2 Curah Hujan dan Hari Hujan Tiap Bulan Kabupaten Toba Samosir
Tahun 2017 33
3 Luas Penggunaan Lahan Menggunakan Analisis Luas Tutupan Lahan
di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2015 34
4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Menurut Kelompok Umur Dan Jenis
Kelamin Pada Tahun 2017 36
5 Target Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan OlehDinas
Tenaga KerjaToba Samosir Tahun 2016-2021 41
6 Target Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Bidang
Koperasi Usaha Kecil Dan Menegah Toba Samosir Tahun 2016-2021 45 7
Target Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Toba Samosir Tahun 2016-2021
46 8 Pencapaian PDRB Kabupaten Toba Samosir tahun 2013-2017 49 9 PDRB Kabupaten Toba Samosir ADHB Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2017 49
10 Target Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Bidang
Perdagangan Toba Samosir Tahun 2016-2021 51
11 Target Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Bidang
Perindustian Modal Toba Samosir Tahun 2016-2021 52 12 Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Dinas
Tenaga Kerja Toba Samosir Tahun 2016-2018 60
13
Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Toba Samosir Tahun 2016-2018
65
14 Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Bidang Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Toba Samosir Tahun 2016-2018 70 15 Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Bidang
Perdagangan Toba SamosirTahun 2016-2018 75
16 Realisasi Pencapaian Indikator Kinerja Penyelenggaraan Oleh Bidang
Perindustian Toba SamosirTahun 2016-2018 77
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Undang-Undang 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, mengamanatkan kepada pemerintah daerah untuk menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Dokumen RPJMD merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, dan program satuan kerja perangkat daerah, lintas satuan kerja perangkat daerah dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
Menurut UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, pengertian visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai
2
tujuan. Program diartikan sebagai instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan1.
Visi dan misi merupakan sebuah rangkaian filosofi atau tujuan yang ditetapkan suatu organisasi sebagai arah tujuan kemana organisasi atau perusahaan akan dibawa. Wibisono menjelaskan visi dan misi sebagai berikut:
Visi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian sebuah organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Atau dapat dikatakan bahwa visi merupakan pernyataan want to be dari organisasi atau perusahaan. Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Sedangkan misi merupakan penetapan sasaran atau tujuan perusahaan dalam jangka pendek (biasanya 1 sampai 3 tahun). Misi merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan tujuan atau alasan eksistensi organisasi, yang memuat apa yang disediakan oleh perusahaan kepada masyarakat, baik berupa produk ataupun jasa.2
Dari pengertian di atas penulis menarik kesimpulan bahwa visi merupakan rangkaian kalimat yang dirumuskan secara umum mengenai keadaan daerah yang ingin dicapai di masa depan. Sedangkan misi merupakan rangkaian kalimat yang dirumuskan secara umum mengenai upaya-upaya serta menetapakan sasaran atau tujuan yang dibuat oleh pemerintah dan akan dilaksanakan serta direalisasikan dari visi yang telah ada sehingga dapat dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat
1UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Pasal 1 angka 12, 13, 14,15, 16.
2 Wibisono, Manajemen Kinerja: Konsep Desain dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan, Jakarta: Erlangga, 2006, hal. 43.
Visi dan misi kepala daerah merupakan dua hal yang berbeda. Pembedaan dilakukan dengan maksud untuk memperjelas jenis institusi seperti apa harapan dan tujuan kedepanya. Visi dan misi akan memperjelasarah mana yang akan dituju oleh kepala daerah. Secara sederhana, visi dapat diartikan sebagai pandangan, keinginan, cita-cita, dan impian-impian tentang masa depan.
Pernyataan visi ini mengisyaratkan mengenai tujuan puncak yang hendak dicapai oleh kepala daerah.Visi biasanya memiliki kata-kata yang singkat, langsung, dan menuju tujuan yang hendak dicapai oleh kepala daerah.
Konsep visi yang baik adalah dibangun dari beberapa komunitas organisasi.
Perumusan visi yang efektif melibatkan semua personel organisasi. Dengan demikian tingkat kepemilikan visi yang telah dirumuskan menjadi tanggung jawab semua anggota yang terlibat dipemerintah daerah untuk dapat melakukan dan merealisasikan visi yang telah disusun.
Kriteria visi yang baik harus memenuhi beberapa kriteria yaitu 1.
Succinct. Pernyataan visi harus singkat sehingga tidak lebih dari 3-4 kalimat. 2.
Appealing. Visi harus jelas dan memberikan gambaran tentang masa depan yang akan memberikan semangat pada anggota organisasi. 3. Feasible. Visi yang baik harus bisa dicapai dengan sumber daya, energi, waktu. Visi haruslah menyertakan tujuan dan objektif yang stretch bagi anggota organisasi. 4.
Meaningful. Pernyataan visi harus bisa menggugah emosi positif anggota organisasi namun tidak boleh menggunakan kata-kata yang mewakili sebuah emosi.
Kriteria misi yang baik haruslah memenuhi beberapa kriteria yaitu 1.Simple and Clear. Pernyataan misi harus dicukup diwakili oleh 2-3 pernyataan saja.
4
Semua pernyataan tersebut harus sederhana dan jelas dimengerti serta tidak menggunakan jargon-jargon organisasi. 2. Broad and long-term in future. Pernyataan misi organisasi harus cukup luas mengakomodasikan perkembangan organisasi di masa mendatang. Misi organisasi harus bisa menunjukan gambaran yang akan dicapai di masa depan dengan jelas. Pernyataan misi organisasi harus tetap valid pada 20 tahun mendatang sama seperti kondisi sekarang. 3. Focus on the present. Pernyataan misi organisasi tidak boleh terlalu berorientasi pada masa depan sehingga kurang bisa fokus pada kondisi organisasi di masa sekarang. 4. Easy to understand. Misi organisasi harus mudah dimengerti.
Misi yang mudah dimengerti akan memudahkan mengkomunikasikan misi tersebut kepada anggota organisasi dan stakeholder.3
Berkaitan dengan PILKADA, kepala daerah yang akan mencalonkan diri sebagai calon perlu menyiapkan serta menyusun visi misi yang akan mereka tawarkan kepada masyarakat yang akan memilih, sebab pentingnya visi, misi dan program ini tergambarkan dari peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait penyelenggaraan PILKADA.
Sebagaimana yang tertera dalam Peraturan KPU No. 68 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pencalonan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dinyatakan bahwa salah satu yang harus menjadi lampiran surat pencalonan bakal calon pasangan adalah naskah visi, misi dan program bakal pasangan calon secara tertulis. Tidak hanya berhenti disitu saja, sesuai pasal 11, pasal 12 dan pasal 15 Peraturan KPU No. 69 Tahun 2009 tentang Pedoman
3 Muhammad Ghazali, “Menentukan Visi Dan Misi Yang Baik”, diakses dari
https://muhammadghazali.wordpress.com/2012/02/25/menentukan-visi-dan-misi-yang-baik/, pada tanggal 14 Maret 2019 pukul 20:41.
Teknis Kampanye Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, lebih lanjut diatur bahwa visi, misi dan program pasangan calon dalam pelaksanaan kampanye harus dibuat secara tertulis, wajib disampaikan kepada masyarakat pemilih dan akan menjadi dokumen resmi daerah apabila pasangan calon terpilih menjadi Kepada Daerah dan Wakil Kepala Daerah, sehingga atas dasar inilah maka sudah menjadi kewajiban bagi KPUD sebagai penyelenggara PILKADA untuk memfasilitasi penyebarluasan materi kampanye yang meliputi visi, misi dan program pasangan calon tersebut kepada masyarakat dalam rangka pendidikan politik.4
Dan setelah kepala daerah tersebut telah terpilih maka visi misi tersebut harus dituangkan serta dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Berdasarkan ketentuan Pasal 263 ayat (3) dan Pasal 264 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, RPJMD merupakan penjabaran visi, misi dan program kepala daerah yang memuat tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan, pembangunan daerah dan keuangan daerah, serta program perangkat daerah dan lintas perangkat daerah yang disertai dengan kerangka pendanaan bersifat indikatif untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang disusun dengan berpedoman pada RPJPD dan RPJMN, yang ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda).
4Andi Chairil Furqan, “MENYOAL VISI, MISI DAN PROGRAM “SANG CALON” (KAITANNYA DENGAN KEUANGAN DAERAH)”, diakses dari https://andichairilfurqan.wordpress.com/tag/calon-kepala- daerah/, pada tanggal 11 Maret 2019 pukul 00:21.
6
Dengan memperhatikan peraturan atau regulasi diatas maka semestinya visi dan misi kepala daerah dan wakil kepala daerah baik pada saat mencalonkan diri dalam PILKADA maupun setelah terpilih sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah sangat penting untuk diperhatikan secara cermat dan serius oleh seluruh lapisan masyarakat, karena selain hal ini menyangkut keberlanjutan pembangunan di daerah, juga akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat daerah itu sendiri. Masyarakat harus selalu mengawasi pelaksanaan visi misi kepala daerah dan wakil kepala daerah yang sudah terpilih sehingga dapat dilaksanakan serta direalisasikan selama mereka menjalankan roda pemerintahannya agar dapat terwujud kesejahteraan masayarakat di segala aspek kehidupan.
Kepala Daerah yang memiliki visi harus dapat menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang harus diselesaikan dalam jangka menengah serta sejalan dengan visi dan arah pembangunan jangka panjang daerah. Dengan mempertimbangkan kondisi daerah, permasalahan pembangunan, tantangan yang dihadapi serta isu-isu strategis. Sehingga pada akhir periode dapat teralisasi dengan baik dan sesuai dengan keinginan kepala daerah yang membuat visi tersebut. Adapun Visi Bupati Toba Samosir pada periode 2016-2021 ialah
“Toba Samosir Hebat 2021”.
Dalam rangka mengimplementasikan serta mewujudkan visi “Toba Samosir Hebat 2021” maka telah disusun dan dirumuskan misi. Dimana dalam rumusan misi disusun untuk memberikan kerangka bagi tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan yang ingin dicapai dan menentukan langkah yang harus ditempuh untuk mencapai visi. Rumusan misi ini juga memperhatikan faktor-faktor lingkungan strategis, baik internal dan eksternal (kekuatan, kelemahan, peluang
dan tantangan) yang dihadapi. Misi disusun untuk memperjelas langkah yang harus dilakukan dalam rangka mencapai perwujudan visi. Adapun misi pembangunan Kabupaten Toba Samosir untuk 5 (lima) tahun kedepan adalah:
1) Mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good governance) dan bersih (clean governance);
2) Memantapkan dan mengutamakan penyediaan Infrastruktur yang memadai;
3) Membangun pelayanan kesehatan dan pendidikan yang bermutu, namun terjangkau oleh masyarakat;
4) Memacu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdaya saing;
5) Meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan pertanian yang berorientasi pada kesinambungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat;
6) Memberdayakan dan mengefektifkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dan mewujudkan masyarakat yang religius.
Dalam poin-poin misi diatas penulis ingin memfokuskan pada misi 4 yakni
“Memacu Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas Dan Berdaya Saing” dimana memiliki maksud bahwa untuk menciptakan peningkatan produktifitas perekonomian masyarakat di Kabupaten Toba Samosir diperlukan penataan, fasilitasi dan pembinaan dari Pemerintah terhadap kemudahan akses masyarakat akan faktor – faktor produksi.
Dalam pemerintahan daerah salah satu hal yang penting untuk dapat direalisasikan adalah disektor ekonomi oleh karena itu misi berupa memacu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan memiliki daya saing harus mampu
8
dilaksanakan serta direaslisasikan dengan baik sehingga akan berdampak menciptakan kestabilan politik di suatu daerah. Oleh Sebab itu pemerintah daerah harus mampu meningkatkan kualitas perekonomian daerah serta meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat sehingga daya beli masyarakat terhadap kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi agar masayarakat mendapatkan kesejahteraan. Sehingga dalam perpolitikan di daerah jika masyarakat memiliki daya beli yang terjangkau akan menghindari terjadinya konflik-konflik yang dapat menggangu kestabilan disektor ekonomi.
Pada sektor ekonomi isu UMKM, perkembangan kontribusi sektor industri Kabupaten Toba Samosir cenderung mengalami penurunan selama periode 2011- 2015. Isu strategis yang harus dilaksanakan oleh pemerintah bagaimana meningkatkan produktivitas kabupaten. Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi menjadi ujung tombak daya saing. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Toba Samosir harus mampu menumbuhkan jumlah wirausaha di kalangan masyarakat yang berkelanjutan. Koperasi diharapkan menjadi lembaga penguat tumbuhnya usaha mikro para wisahawan pemula. Oleh karena itu peningkatan kuantitas dan kualitas koperasi aktif harus dikondisikan.
Pada sektor koperasi usaha kecil dan menegah Pembangunan koperasi dan usaha kecil menengah memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Peranan koperasi sebagai sokoguru perekonomian dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah terbukti lebih mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi. Permasalahan yang dihadapi antara lain:
1. Kualitas SDM pengelola koperasi/UMKM masih rendah.
2. Jaringan pasar industri kecil dan kemitraan dalam usaha pemasaran masih terbatas.
3. Akses modal bagi UMKM masih terbatas.
Dalam sektor investasi/ penanaman modal, keberhasilan investasi/ penanaman modal akan memberikan kontribusi pada kegiatan ekonomi riil dan pertumbuhan ekonomi. Laju pertumbuhan ekonomi toba samosir selama ini sebagian besar ditopang dari besarnya konsumsi dalam negeri atau regional bukan dari pertumbuhan investasi maupun ekspor. Permasalahan yang dihadapi:
1. Pengelolaan promosi investasi belum optimal.
2. Lahan bagi usaha industri berskala menengah/besar terbatas.
Dalam sektor perdagangan harus ada kesesuaian antara produk, kelancaran distribusi, sarana prasarana, informasi pasar dan pengembangan perdagangan daerah. Disamping menangani perdagangan antar wilayah regional maupun internasional, juga dituntut mampu menyediakan pasar tradisional yang mempunyai daya saing dan berkualitas. Permasalahan yang dihadapi antara lain :
1. Daya saing produk Toba Samosir di pasar regional, nasional maupun global masih rendah.
2. Masih rendahnya minat investor dalam sektor perdagangan.
3. Kondisi sarana prasarana pasar tradisional kurang memadai.
Dalam sektor perindustrian secara geografis Kabupaten Toba Samosir tidak mungkin mempunyai kawasan industri besar yang secara ekonomis mampu meningkatkan pertumbuhan investasi dan penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu industri di Kabupaten Toba Samosir diutamakan industri yang ramah lingkungan dan padat karya. Permasalahan yang dihadapi antara lain:
10
1. Penguasaan dan penerapan teknologi bagi UKM masih kurang.
2. Akses permodalan bagi UMKM masih rendah.
3. Ketersediaan bahan baku industri masih terbatas.
4. Kemitraan antar pelaku usaha belum optimal.
Dalam sektor ketenagakerjaan merupakan aspek yang mendasar dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan karena meliputi dimensi ekonomi dan sosial yang luas. Urusan ketenagakerjaan berkaitan dengan kondisi penduduk usia kerja, angkatan kerja, dan ketersediaan lapangan kerja. Permasalahan yang dihadapi :
1. Perluasan lapangan kerja belum sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja;
2. Sarana prasarana penyelenggaraan pelatihan kerja masih minim dan belum sesuai dengan perkembangan kebutuhan pasar kerja.
Seiring berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah terjadi perubahan sebutan atau istilah, seperti Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) berubah menjadi Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Visi dan Misi dalam pembangunan Kabupaten Toba Samosir pada periode 2016-2021 perlu diterjemahkan dalam rumusan kebijakan umum dan program secara konsisten dan spesifik. Kebijakan umum dan program pembangunan merupakan satu jembatan konseptual untuk menghubungkan antara rumusan tujuan jangka menengah dengan capaian pembangunan tahunan. Kebijakan umum merupakan arah kebijakan yang diambil dalam rangka mencapai sasaran yang terukur dari masing-masing sasaran dalam RPJMD sedangkan program pembangunan merupakan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan
yang dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau bersama masyarakat, yang dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah.
Dalam melaksanakan visi dan misi setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) harus mampu menunjukkan layanan terbaik kepada masyarakat dalam upaya mewujudkan dan merealisasikan visi dan misi kepala daerah maupun dalam upaya mencapai indikatir kinerja pembangunan daerah pada aspek kesejahteraan, pelayanan, dan peningkatan daya saing daerah dengan mempertimbangkan permasalahan dan isu strategis yang relevan.
Konsep pembangunan setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Toba Samosir merupakan salah satu penjabaran dari visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan daerah sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Toba Samosir 2016-2021.
Dari penjelasan diatas maka peneliti ingin melakukan penelitian yang mendalam pada pelaksanaan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam merealisasikan visi misi Bupati Kabupaten Toba Samosir pada periode 2016- 2018. Dalam hal ini peneliti mengambil judul “ Realisasi Visi Misi Bupati Toba Samosir Dalam Pembangunan Toba Samosir Periode 2016-2018”.
12 1.2.Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, mengapa dalam pelaksanaan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) belum mampu merealisasikan Visi dan Misi Bupati Toba Samosir pada periode 2016-2018?
1.3.Batasan Masalah
Batasan masalah adalah usaha untuk menetapkan masalah dalam batasan penelitian yang akan diteliti. Batasan Masalah ini berguna untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk kedalam masalah penelitian dan faktor apa saja yang tidak termasuk kedalam ruang penelitian tersebut. Maka untuk memperjelas dan membatasi ruang lingkup penelitian dengan tujuan menghasilkan uraian yang sistematis diperlukan adanya batasan masalah. Adapun batasan masalah yang akan diteliti oleh penulis yaitu:
1. Penelitian ini mengkaji realisasi Visi dan Misi Bupati Toba Samosir dalam pembangunan Toba Samosir pada periode 2016-2018.
2. Penelitian akan memfokuskan Misi Bupati Toba Samosir dalam memacu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdaya saing.
3. Penelitian ini akan memfokuskan pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terkait pada Misi Poin 4.
4. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Toba Samosir.
1.4.Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai tujuan :
1. Untuk Mengetahui Pelaksanaan Organisasi Perangkat Daerah dalam Merealisasikan Visi Misi Bupati Toba Samosir dalam Pembangunan Toba Samosir Pada Periode 2016-2018.
1.5.Manfaat Penelitian
1. Untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan menjadi sebuah kajian ilmiah di bidang Ilmu Politik.
2. Bagi masyarakat penelitian ini dapat bermanfaat sebagai masukan bagi semua pihak untuk dapat mengetahui Oragnisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam merealisasikan Visi Misi Bupati Toba Samosir dalam Pembangunan Toba Samosir Pada Periode 2016-2018.
3. Bagi Pemerintah Toba Samosir Periode 2016-2018 diharapkan agar dapat menyelesaikan visi dan misi diakhir periode.
14 1.6.Kerangka Teori
Dalam melakukan suatu penelitian, seorang peneliti perlu memakai teori atapun penjelasan lainnya dalam memecahkan permasalahan yang ditelitinya.
Kerangka teori merupakan dasar untuk melakukan suatu penelitian dan teori yang dipergunakan untuk menjelaskan fenomena sosial-politik yang akan dianalisa oleh peneliti5. Sebagai landasan berfikir dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah yang ada, perlu adanya pedoman teoritis yang dapat membantu dan sebagai bahan referensi dalam penelitian. Kerangka teori ini diharapkan memberikan pemahaman yang jelas dan tepat bagi peneliti dalam memahami masalah yang diteliti.
1.6.1.Definisi Visi dan Misi 1) Visi
Setiap kepala daerah dan wakil kepala daerah dalam menjalankan pemerintahan daerah perlu mempunyai sebuah visi untuk mencapai kesuksesan dalam menjalankan roda pemerintahannya. Visi adalah apa yang diinginkan oleh kepala daerah dan wakil kepala daerah di masa depan. Visi dapat memberikan aspirasi dan motivasi disamping memberikan panduan atau rambu-rambu dalam menyusun strategi pemerintahan. Pernyataan visi yang efektif adalah menggambarkan secara jelas gambaran dari permintahan yang ingin dikembangkan. Visi digunakan sebagai pemandu untuk merubah hal–hal yang berhubungan dengan masyarakat dan pemerintahan. Visi menjelaskan pada masyarakat kemana pemerintahan selama 5 tahun yang akan dituju.
5 Muhammad Idrus, Metode Penelitian Ilmu Sosial, Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, Yogyakarta, Erlangga, 2009, hlm. 190.
Visi berkaitan dengan pandangan ke depan menyangkut ke mana instansi pemerintah harus dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, .inovatif, serta produktif. Visi adalah suatu gambaran menantang tentang keadaan masa depan yang berisikan cita dan citra yang ingin diwujudkan instansi pemerintah. Rumusan visi hendaknya: (a) mencerminkan apa yang ingin dicapai sebuah organisasi; (b) memberikan arah dan fokus strateji yang jelas; (c) mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan stratejik yang terdapat dalam sebuah organisasi; (d) memiliki orientasi terhadap masa depan sehingga segenap jajaran harus berperan dalam mendefinisikan dan membentuk masa depan organisasinya; (e) mampu menumbuhkan komitmen seluruh jajaran dalam lingkungan organisasi; dan (f) mampu menjamin kesinambungan kepemimpinan organisasi.6
Visi menurut Wibisono merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan cita- cita atau impian sebuah organisasi atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Atau dapat dikatakan bahwa visi merupakan pernyataan want to be dari organisasi atau perusahaan. Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif.7
Berdasarkan penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepala daerah dalam visi nya memberikan pandangan serta menyatakan cita-cita atau impian bagi organisasi yang ingin dicapai dalam hal ini menyangkut instansi pemerintah daerah yang harus dibawa dan diarahkan agar dapat berkarya secara konsisten dan tetap eksis, antisipatif, .inovatif, serta produktif. Agar kelak dalam menjalankan
6 Keputusan KLAN No.239/IX/6/8/2003 Tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah, hlm. 6
7 Wibisono, op,cit, 2006, hlm. 43.
16
visi nya kepala daerah memberikan seluruh daya, upaya, dan perhatian sehingga dapat terkonsentrasi merealisasikan harapan yang tergambar dalam visi. Dalam arah pembangunan visi merupakan kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang (clarity of direction). Visi juga harus menjawab permasalahan pembangunan daerah dan/atau isu strategis yang harus diselesaikan dalam jangka menengah serta sejalan dengan visi dan arah pembangunan jangka panjang daerah.
Dengan mempertimbangkan kondisi daerah, permasalahan pembangunan, tantangan yang dihadapi serta isu-isu strategis, maka dirumuskan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan jangka menengah daerah maka Visi Kabupaten Toba Samosir Tahun 2016-2021, yaitu “TOBA SAMOSIR HEBAT 2021”
2) Misi
Misi menurut Wibisono merupakan rangkaian kalimat yang menyatakan tujuan atau alasan eksistensi organisasi, yang memuat apa yang disediakan oleh perusahaan kepada masyarakat, baik berupa produk ataupun jasa.8
Misi adalah suatu pernyataan tentang apa yang harus dikerjakan oleh perusahaan atau lembaga dalam usaha mewujudkan Visi tersebut. Misi dapat pula didefinisikan sebagai langkah-langkah yang harus dilaksanakan oleh sebuah organisasi secara bertahap untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut yang akhirnya akan mencapai gambaranyang sesuai atau ideal dari organisasi tersebut.
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh instansi pemerintah, sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan. Dengan pernyataan
8 Wibisono, op,cit, 2006, hlm. 46.
misi diharapkan seluruh anggota organisasi dan pihak yang berkepentingan dapat mengetahui dan mengenal keberadaan dan peran instansi pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Misi suatu instansi harus jelas dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. Misi juga terkait dengan kewenangan yang dimiliki instansi pemerintah dari peraturan perundangan atau .kemampuan penguasaan teknologi sesuai dengan strateji yang telah dipilih. Perumusan misi instansi pemerintah harus memperhatikan masukan pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholders), dan memberikan peluang untuk perubahanl penyesuaian sesuai dengan tuntutan perkembangan lingkungan stratejik. Rumusan misi hendaknya mampu: (a) Melingkup semua pesan yang terdapat dalam visi; (b) memberikan petunjuk terhadap tujuan yang akan dicapai; (c) memberikan petunjuk kelompok sasaran mana yang akan dilayani oleh instansi pemerintah;
dan (d) memperhitungkan berbagai masukan dari stakeholders.9
Karena pentingnya visi dan misi, maka proses mengembangkan visi dan misi pun menjadi begitu penting untuk mengevaluasi kekurangan- kekurangan dalam penyusunan visi dan misi dimasa lampau, guna menciptakan visi yang semakin baik kedepannya. Adapun proses pengembangan visi dan misi ini dapat dilakukan melalui grup diskusi, berkomunikasi dengan bawahan, mensurvey lingkungan eksternal untuk mengetahui perkembangan kebutuhan masyarakat, dan berkomitmen antara seluruh anggota organisasi untuk merealisasikan visi dan misi seoptimal mungkin.
9 Keputusan KLAN No.239/IX/6/8/2003 Tentang Perbaikan Pedoman Penyusunan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Intansi Pemerintah, hlm. 7
18
Adapun misi pembangunan Kabupaten Toba Samosir untuk 5 (lima) tahun kedepan adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good governance) dan bersih (clean governance).
2. Memantapkan dan mengutamakan penyediaan infrastruktur yang memadai.
3. Membangun pelayanan kesehatan dan pendidikan yang bermutu, namun terjangkau oleh masyarakat.
4. Memacu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdaya saing.
5. Meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan pertanian yang berorientasi pada kesinambungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
6. Memberdayakan dan mengefektifkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dan mewujudkan masyarakat yang religius.
1.6.2. Teori Pembangunan
Pembangunan merupakan suatu cara untuk memperbaiki kondisi dari yang buruk menjadi lebih baik. Dinamika dan realisasi pembangunan juga membutuhkan perencanaan matang. Pembangunan membahas suatu hal yang kompleks, dimana pembangunan meliputi perubahan-perubahan sosial. Riant Nugroho mengatakan bahwa dalam pembangunan, perencanaan pembangunan menjadi kunci, karena sesungguhnya ini adalah pekerjaan yang maha rumit.
Seperti diketahui, istilah “pembangunan” adalah istilah khas dari proses rekayasa
sosial (dalam arti luas, termasuk ekonomi, politik, kebudayaan, dan sebagainya) yang dilaksanakan oleh negara-negara berkembang.10
Nugroho mengemukakan bahwa, kecenderungan mempergunakan pendekatan politik atau pendekatan ekonomi untuk menyelesaikan masalah pada saat ini sudah tidak memadai lagi karena antara politik dan ekonomi, memiliki satu kesamaan. Keduanya adalah alat ukur yang relatif bersifat subyektif, yakni tergantung kepada siapa yang mempergunakan pendekatan tersebut. Menurutnya, pendekatan yang lebih tepat dipergunakan dalam menyusun konsep pembangunan baru dengan pendekatan manajemen. Makna manajemen di sini lebih luas daripada sekedar manajemen perusahaan atau pemerintahan. Manajemen di sini adalah sebuah paradigma dan sebuah filosofi hidup. Manajemen adalah bagaimana kita menata kehidupan yang lebih baik, tertata, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan manajemen dimulai dengan menyusun Visi, Kemudian Misi, Strategi, dan Aksi pembangunan. Visi adalah arah ke mana kita hendak pergi, sedangkan misi adalah tentang apa yang harus dikerjakan dalam usaha mewujudkan visi. Ditegaskan oleh Nugroho agar paradigma dan pendekatan pembangunan yang baru ini dapat dilaksanakan, maka visi baru perlu dirumuskan dan dijadikan dasar perumusan kebijakan dan strategi jaringan pembangunan.
Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan. Menurut Nugroho, strategi pembangunan yang paling akomodatif untuk era globalisasi adalah pemberdayaan.
10 Riant Nugroho, Reinventing Pembangunan Menata Ulang Paradigma Pembangunan untuk Membangun Indonesia Baru dengan Keunggulan Global, Jakarta, 2003, hlm. 86.
20
Lebih lanjut Nugroho menyatakan bahwa strategi pembangunan pemberdayaan adalah meletakkan organisasi publik sesuai tugas-pokok-dan- fungsinya, dan demikian pula dengan kedua organisasi yang lain. Strategi yang bersifat makro tersebut dijabarkan dalam strategi mikro yang bersifat aksi yakni setiap organisasi harus menjalani proses “reinventing” atau penemuan diri, dengan melalui tiga penahapan. Pertama, reorientasi, yaitu menemukan di mana kondisi saat ini, apa yang masih tersisa dan hendak ke mana tujuan organisasi. Kedua, restrukturisasi yakni menata ulang seluruh rancang bangun organisasi dan nilai agar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai serta kondisi riil dan potensial yang dimiliki. Ketiga, aliansi yakni menyetarakan dan menyamakan langkah antar organisasi, baik di dalam sektornya maupun lintas sektor.
Menurut Arief Budiman yang seorang ahli pembangunan memaparkan mengenai teori pembangunan di Indonesia. Teori pembangunan yang dikemukakan oleh Arief berdasarkan kepada beberapa defenisi dan konsep dari teori lain seperti teori Moderniasi, teori keterbelakangan dan teori ketergantungan (Dependency Theory). Teori modernisasi adalah teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan yang terjadi dalam suatu negara disebabkan oleh faktor-faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negeri yang bersangkutan. Teori modernisasi merupakan salah satu pelengkap dalam teori pembangunan dunia ketiga. Teori ini menjelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan pembangunan disuatu negara disebabkan oleh tingginya tabungan dan investasi11.
11Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta, Gramedia Pustaka utama, 1995, hlm.
18
Selanjutnya dalam mendefenisikan teori pembangunan dalam perkembangannya muncul teori keterbelakangan. Teori Keterbelakangan muncul sebagai reaksi terhadap fenomena kegagalan penerapan teori Modernisasi di Amerika Latin. Teori ini cenderung melihat pembangunan dan keterbelakangan di banyak negara melalui pendekatan yang lebih condong kepada aspek politik dan pemerintahan disebuah negara. Keterbelakangan dan kemiskinan di banyak negera khususnya di negara dunia ketiga sebagai akibat dari adanya ketergantungan terhadap kekuatan ekonomi global dan konflik internasional. Kemiskinan yang dialami oleh bangsa-bangsa di negara yang sedang berkembang merupakan akibat dari sistem ekonomi dunia yang tidak seimbang, dimana sekelompok negara kuat mengeksploitasi negara-negara yang lebih lemah12.
Dan terakhir teori yang mendasari terbentuknya teori pembangunan ialah keberadaan teori ketergantungan (Dependent Development Theory). Teori ini menyatakan bahwa ketergantungan terhadap ekonomi internasional tidak selalu menghasilkan keterbelakangan di dunia ketiga. Sistem ekonomi dunia menurut pandangan ini bisa menjadi pendukung atau penghambat terhadap kemajuan ekonomi di negara-negara yang sedang membangun. Teori ini menganggap bahwa kemajuan ekonomi sebuah negara, lebih tergantung kepada faktor-faktor domestik dari pada global. Faktor-faktor tersebut antara lain kemampuan dan kapasitas pemerintah, pemilik modal, masyarakat dan hubungan antar kelas yang dapat menjadi faktor pendukung ke arah pertumbuhan ekonomi dan proses modernisasi.
1.6.3. Teori Kebijakan Publik
12Ibid., hlm 64.
22
Istilah kebijakan publik merupakan terjemahan istilah bahasa Inggris, yaitu public policy. 13Menurut Thomas R. Dye, “Public Policy is whatever the government choose to do or not to do”.(kebijakan publik adalah apa pun pilihan pemerintah untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu). Menurut Dye, apabila pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu, tentu ada tujuannya karena kebijakan publik merupakan “tindakan” pemerintah. Apabila pemerintah memilih untuk tidak melakukan sesuatu, juga merupakan kebijakan publik yang ada tujuannya.
Sementara itu, Thomas Dye mendefinisikan bahwa kebijakan publik adalah segala sesuatu yang dikerjakan atau tidak dikerjakan oleh pemerintah, alasan suatu kebijakan harus dilakukan dan manfaat bagi kehidupan bersama harus menjadi pertimbangan yang holisitik agar kebijakan tersebut mengandung manfaat yang besar bagi warganya dan tidak menimbulkan kerugian, di sinilah pemerintah harus bijaksana dalam menetapkan suatu kebijakan14.
Pada hakikatnya kebijakan publik dibuat oleh pemerintah berupa tindakan- tindakan pemerintah. Kebijakan publik, baik untuk melakukan maupun tidak melakukan sesuatu mempunyai tujuan tertentu. Kebijakan publik ditujukan untuk kepentingan masyarakat.
Untuk keperluan praktis menurut Mutopodidjaja menawarkan working definition yang diharapkan dapat mempermudah pengamatan atas fenomena kebijakan yang aktual. Dikatakan bahwa kebijakan publik adalah suatu keputusan untuk mengatasi permasalahan tertentu agar mencapai tujuan tertentu, yang
13 R. Thomas Dye, Horn Meter, Under Standing Public Police, Pentice Hall, Inc, Englewood Cliffs, USA, Th, 1987, hlm. 3.
14Sahya Anggara. Kebijakan Publik, Bandung: CV Pustaka Setia, 2014, hlm. 35.
dilaksanakan oleh instansi yang berwenang dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan negara dan pembangunan. Dalam kehidupan administrasi publik, secara formal keputusan tersebut dituangkan dalam berbagai bentuk perundang- undangan.15
Aturan atau peraturan tersebut secara sederhana dipahami sebagai kebijakan publik. Dengan demikian, kebijakan publik dapat diartikan sebagai suatu hukum. Akan tetapi, tidak hanya hukum, tetapi juga harus memahaminya secara utuh dan benar. Ketika suatu isu yang menyangkut kepentingan bersama dipandang perlu untuk diatur, formulasi isu tersebut menjadi kebijakan publik yang harus dilakukan dan disusun serta disepakati oleh para pejabat yang berwenang. Ketika kebijakan publik ditetapkan menjadi suatu kebijakan publik, seperti menjadi undang-undang, Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden termasuk Peraturan Daerah maka kebijakan publik tersebut berubah menjadi hukum yang harus ditaati.16
Dibawah ini merupakan aspek penting dalam kebijakan publik :17 1. Kebijakan sebagai suatu konsep
Beragam defenisi mengenai konsep kebijakan publik sebagaimana dikemukan oleh Thomas Dye bahwa kebijakan publik adalah apapun yang dipilih oleh pemerintah untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu (Public Policy is whatever the government choose to do or not to do).
Sementara itu, pendapat yang berbeda dikemukan oleh Mustopodidjaja yang berpandangan bahwa masalah “dengan atau tanpa” pelaksanaan, suatu keputusan
15 Ibid., hlm. 30.
16Ibid., hlm. 36-37.
17Ibid.,hlm. 44-47.
24
agar dapat disebut sebagai suatu kebijakan, perlu dilihat dalam kontek “ sistem kebijakan” yang lebih luas, seperti tingkat keterlibatan organisasi pengambil keputusan dalam proses pelaksanaan kebijakannya. Dalam kaitannya dengan konsep kebijakan publik, rumusan defenisi tersebut dilengkapi bahwa keputusan yang dimaksud diambil oleh pemerintah sebagi pihak yang berwewang dalam rangka penyelenggaran pemerintah negara dan pembangunan. Melihat fenomena empiris yang sering terjadi dalam penyelenggaraan pemerintahan bahwa suatu keputusan belum tentu menjadi sebuah kebijakan. Hal tersebut dibenarkan karna untuk menjadi suatu kebijakan harus ditindaklanjuti dengan melegalformalkan keputusan.
2. Kebijakan Publik Merupakan Produk Pemerintah
Para ahli kebijakan memiliki kesepakatan yang sama, yakni bahwa kebijakan publik merupakan produk pemerintah (termasuk lembaga-lembaga pemerintahan) yang ditujukan untuk memberikan arah dan pedoman untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang berkaitan dengan proses penyelenggaran pemerintahan (termasuk masalah-masalah yang berhungan dengan masyarakat dan warga negara).
3. Elemen-elemen dalam Sistem Kebijakan Publik
Melaksanakan dan mengimplementasikan kebijakan publik bukanb merupakan hal yang sederhana karna sifatnya yang dapat berimplikasi luas, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat, proses kebijakan publik dalam formulasinya perlu memerhatikan lingkungan. Berkaitan dengan proses tersebut, Dunn merumuskan tiga elemen penting dalam sistem kebijakan publik, yaitu
lingkungan kebijkan (policy environments), kebijakan publik (public policies) dan pelaku kebijakan (policy stakeholders).
4. Aspek-aspek yang Berkaitan dengan Sistem Kebijakan Publik Menurut Burdock ada tiga aspek kebijakan yang perlu diperhatikan yaitu:
a. Aspek kesejarahan. Perubahan kebijakan terjadi dalam konteks kebijakan yang sama yang pernah dibuat pada masa lalu
b. Aspek lingkungan. Kebijkan publik tidak mungkin terlepas dari pengaruh lingkungan, yaitu ketika kebijakan tersebut dibangun dan dilaksanakan.
c. Aspek kelembagaan. Suatu kebijakan publik pasti akan selalu berhubungan dengan berbagai lembaga/institusi.
Meskipun aspek-aspek penting yang dikemukakan diatas memiliki perbedaan konsep, secara kontekstual terdapat kesamaan pandangan, yaitu lingkungan, materi-substansi kebijakan, dan organisasi/lembaga (pengusul- stakeholders;shareholders). Ketiga aspek tersebut memiliki hubungan dan saling berkaitan satu sama lain.
1.7.Metodologi Penelitian
Dalam menyelesaikan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif. “Penelitian deskriptif adalah suatu cara yang digunakan untuk memecahkan masalah yang ada pada masa sekarang berdasarkan fakta dan data- data yang ada. Penelitian ini untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena”18. Handari Nawawi juga mendefinisikan metode penelitian deskriptif adalah “prosedur pemecahan masalah yang diselidiki
18Bambang Prasetyo dkk.Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2005. hlm. 42.
26
dengan menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek penelitian seseorang,lembaga, masyarakat dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya di lokasi penelitian, dengan melakukan analisis dan menyajikan data-data dan fakta-fakta secara sistematis sehingga dapat dipahami dan disimpulkan”19.
1.7.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif.“Bogdan dan Taylor mengungkapkan bahwa “metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapat diamati”20.Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan atau proses penjaringan informasi dari kondisi sewajarnya dalam kehidupan suatu obyek, dihubungkan dengan pemecahan masalah, baik dari sudut pandang teoritis maupun praktis.
1.7.2.Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data dan informasi yang dibutuhkan maka penulis melakukan teknik pengumpulan data dengan menggunakan teknik pengumpulan data primer dan data sekunder.21 Teknik pengumpulan data tersebut yakni sebagai berikut:
1. Data Primer Pengumpulan data primer dalam penelitian ini yakni melalui sumber data yang diperoleh melalui buku-buku, data, artikel dan dokumen pemerintah daerah Kabupaten Toba Samosir. Selain itu data primer juga
19Handari Nawawi. Metode Penelitian Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 2003.
hlm. 63.
20Sanafiah Faisal. Format Penelitian Sosial Dasar – Dasar Aplikasi.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 1995. hlm. 20.
21Muhammad Idrus, op,cit, hlm. 105.
diperoleh melalui data-data dan dokumentasi dari lembaga dan instansi pemerintah daerah yang berkaitan dengan penelitian ini. Selain itu penulis juga mencari informasi dan referensi tambahan melalui dokumen peraturan pemerintah daerah, kebijakan pemerintah daerah, peraturan perundang-undangan, artikel, majalah, koran dansebagainya.
2. Data Sekunder Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini ialah melalui metode wawancara (Interview). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini ialah melalui metode Purpossive Sampling atau dikenal dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan narasumber yang menguasai informasi.
1.7.3 Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif.Penelitian ini ingin mendeskripsikan ataupun menggambarkan objek yang diamati berdasarkan fakta dan data yang ada dilapangan setelah dilakukannya penelitian. Peneliti menggunakan penelitian deskriptif kualitatif sehingga peneliti menggunakan metode wawancara, dokumentasi dan data-data yang mendukung teori, yang kemudian diuraikan dan dijelaskan sehingga pada akhirnya akan mendapatkan penyelesaian terhadap permasalahan yang diteliti.
Adapun yang menjadi teknik analisa data dalam penelitian ini dimulai dari proses pengumpulan data melalui teknik pengumpulan data kemudian dianalisis dengan variabel-variabel pada kerangka teori. Permasalahan dalam penelitian ini akan terjawab setelah data dan informasi telah terkumpul dari narasumber dan sumber- sumber yang terkait dan kemudian dianalisis oleh peneliti.
28 1.7.4 .Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, metodologi penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II: KONDISI UMUM DAERAH
Dalam bab ini akan menggambarkan segala sesuatu mengenai objek penlitian yaitu tentang sejarah serta kondisi umum daerah serta target Organisasi Perangkat Deaerah (OPD) terkait misi memacu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdaya saingdi Kabupaten Toba Samosir.
BAB III : REALISASI VISI DAN MISI BUPATI TOBA SAMOSIR.
Dalam bab ini akan berisikan mengenai realisasi visi misi bupati Toba Samosir dalam menjalankan pemerintahannya berupa tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan, kebijkan umum, program pembangunan serta Organisasi Perangkat Deaerah (OPD) yang bertanggungjawab dalam melaksanakan misi mengenai memacu pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berdaya saing.
BAB IV : PENUTUP
Dalam bab ini akan berisikan mengenai kesimpulan dan saran.
BAB II
KONDISI UMUM DAERAH
2.1 Sejarah Singkat Kabupaten Toba Samosir
Kabupaten Toba Samosir merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Tapunuli Utara melalui Undang-undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Toba Samosir dan Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Mandailing Natal. Kabupaten Toba Samosir diresmikan pada tanggal 9 Maret 1999 bertempat di Kantor Gubernur Sumatera Utara oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid atas nama Presiden Republik Indonesia sekaligus melantik Sahala Tampubolon selaku Pejabat Bupati Kabupaten Toba Samosir dan sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Toba Samosir P. Simbolon. Pada saat di bentuk Kabupaten Toba Samosir terdiri atas 13 Kecamatan, 4 Perwakilan Kecamatan Pembantu, 281 Desa dan 19 Kelurahan dengan Kecamatan Balige sebagai Ibu Kota Kabupaten.
Pada tahun 2003 Kabupaten Toba Samosir di mekarkan menjadi Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Samosir berdasarkan Undang-Undang No 36 Tahun 2003 tentang pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdang Berdagai.
Pada tahun 2006 terbentuk 3 Kecamatan baru yaitu Kecamatan Tampahan sebagai pemekaran dari Kecamatan Balige, Kecamatan Nassau pemekaran dari Kecamatan Habinsaran, dan Kecamatan Siantar Narumonda pemekaran dari Kecamatan Porsea. Dan tahun 2008 terbentuk 2 Kecamatan baru, yaitu Kecamatan Parmaksian dan Kecamatan Bonatua Lunasi. Dalam kondisi saat ini
30
Kabupaten Toba Samosir sudah memiliki 16 Kecamatan, 231 Desa dan 13 Kelurahan dengan dengan Kecamatan Balige sebagai Ibu Kota Kabupaten.
2.2 Karakteristik Lokasi dan Wilayah
2.2.1 Luas Wilayah dan Batas Wilayah Administrasi
Secara geografis, Kabupaten Toba Samosir berada pada posisi 2⁰03 - 2⁰40
Lintang Utara dan 98⁰56-99⁰40 Bujur Timur, dengan luas wilayah 2.021,80 km². Kabupaten Toba Samosir, berbatasan dengan 5 (lima) kabupaten yaitu:
Utara : Kabupaten Simalungun
Timur : Kabupaten Labuhanbatu Utara dan Kabupaten Asahan Selatan : Kabupaten Tapanuli Utara
Barat : Kabupaten Samosir 2.2.2 Topografi
A. Kemiringan Lahan
Kondisi kelerengan atau topografi wilayah Kabupaten Toba Samosir sangat variatif, yaitu datar (0-8%), berombak (8-15%), bergelombang (15-25%), curam (25-40%), dan terjal/ bergunung (>40%) untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.1:
Tabel 2.1 Kondisi Kelerengan Lahan Kabupaten Toba Samosir Tahun 2015
No Kecamatan
Luas Lereng (Ha)
Datar (D) Berombak (BK)
Bergelombang (BG)
Curam (C)
Terjal (T)
0-8% 8-15% 15-25% 25-40% >40%
1 Balige 6,125.95 2,494.74 -
2 Tampahan 2,287.69 472.85 -
3 Laguboti 5,660.21 694.65 -
No Kecamatan
Luas Lereng (Ha)
Datar (D) Berombak (BK)
Bergelombang (BG)
Curam (C)
Terjal (T)
0-8% 8-15% 15-25% 25-40% >40%
4 Habinsaran 13,720.30 11,565.55 5,939.97 285.26 -
5 Borbor 368.00 15,201.63 18,577.11 3,907.23 -
6 Nassau 2,211.80 14,203.99 12,738.67 648.82 -
7 Silaen 6,084.53 459.12 -
8 Sigumpar 2,237.44 -
9
Porsea (masihtermasukPa rmaksiandanBonat
uaLunasi )
6,614.47 512.47 -
10 Pintu P. Meranti 17,199.40 6,873.08 2,259.92 12,160.07 -
11 Siantar Narumonda 3,460.68 20.06 -
12 Lumban Julu 7,452.46 11,795.6 -
13 Uluan 5,252.68 1,036.66 -
14 Ajibata 2,252.07 4,826.82 -
Jumlah 80,927.69 51,492.76 39,515.67 35,665.90 - Sumber : Toba SamosirDalamAngka,2016
B. Ketinggian Lahan
Kabupaten Toba Samosir berada di Dataran Tinggi Bukit Barisan dengan ketinggian 900-2.200 m dpl, dengan topografi secara umum terdiri dari daerah
32
bergelombang dan berbukit yang diselingi oleh dataran yang relatif rata serta berbatasan langsung dengan Danau Toba.
2.2.3 Geologi
Kondisi struktur geologi di Kabupaten Toba Samosir terdiri dari 2 (dua) alluvium, 7 (tujuh) formasi, 1 (satu) kelompok dan 1 (satu ) tufa. Variasi tersebut antara lain: alluvium muda, formasi bohorok, formasi gunung api, formasi kuala, formasi puetu, formasi samosir, formasi sihapas, formasi telisa dan tufa toba.
Jenis tanah secara umum di Kabupaten Toba Samosir terdiri dari komposisi tanah yang didominasi tanah tufa toba, pasir bercampur tanah liat, kapur dan sebagian lainnya yang terdiri dari lapisan tanah yang relatif kurang subur untuk pertanian.
2.2.4 Klimatologi
Sesuai dengan letaknya yang berada di garis khatulistiwa, Kabupaten Toba Samosir tergolong ke dalam daerah beriklim tropis basah dengan suhu berkisar antara 17ºC-29ºC dan rata-rata kelembaban udara 85,04 %. Rata-rata tinggi curah hujan per bulan yang terjadi di Kabupaten ini pada tahun 2015 adalah sebesar ± 175 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 10 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juni sebesar 228 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 5 hari.
Sedangkan pada bulan April curah hujan yang turun sangat rendah sekitar 135 mm, dengan jumlah hari hujan 8 hari dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.2 Curah Hujan dan Hari Hujan Tiap Bulan Kabupaten Toba Samosir Tahun 2017.
No. Bulan Curah Hujan (mm3) Hari Hujan (Hari)
1 Januari 156 20
2 Februari 109 15
3 Maret 214 19
4 April 212 19
5 Mei 44 11
6 Juni 135 15
7 Juli 74 10
8 Agustus 146 16
9 September 187 23
10 Oktober 113 16
11 Nopember 221 24
12 Desember 194 21
Sumber: Toba SamosirDalamAngka, 2018
2.2.5 Penggunaan Lahan
Luas wilayah Kabupaten Toba Samosir berdasarkan data statistik adalah 202.180 Ha. Penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Toba Samosir berdasarkan hasil interpretasi citra landsat Kabupaten Toba Samosir Tahun 2011, dengan menggunakan analisis peta tutupan lahan, diperoleh penggunaaan lahan yang terdiri dari hutan primer, hutan sekunder, kebun campuran, perkebunan, permukiman, sawah, semak belukar, tanah terbuka, ladang/tegalan dan tubuh air.
Penggunaan lahan terbesar terdiri dari penggunaan lahan hutan primer 38,66%, dan terkecil penggunaan lahan untuk tubuh air. Untuk lebih jelasnya luasan tiap jenis penggunaan lahan di Kabupaten Toba Samosir berdasarkan analisis tutupan lahan, dapat dilihat pada Tabel sebagai berikut :
Tabel 2.3 Luas Penggunaan Lahan Menggunakan Analisis Luas Tutupan Lahan di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2015.
No. Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
34
1 Hutan Primer 80.159 38,66
2 Hutan Sekunder 12.596 6,07
3 Kebun Campuran 48.847 23,56
4 Perkebunan 1.476 0,71
5 Permukiman 1.578 0,76
6 Sawah 16.465 7,94
7 Semak/Belukar 13.317 6,42
8 Tanah Terbuka 2.230 1,08
9 Tegalan/Ladang 29.398 14,18
10 Tubuh Air 1.282 0,62
Jumlah 202.180 100%
Sumber: Analisis citra landsat, 2011 2.2.6 Kondisi Demografi
Kabupaten Toba Samosir tahun 2017 adalah salah satu kabupaten dari tujuh Kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, dimana Danau Toba merupakan danau terluas di Indonesia. Suku yang mendiami Kabupaten Toba Samosir pada umumnya adalah suku BatakToba dan suku lainnya antara lain Simalungun, Karo dan Mandailing, serta suku diluar Toba seperti Melayu, Nias, Jawa, Minangkabau, dan Tionghoa.
Penduduk Toba Samosir mayoritas penganut Agama Kristen Protestan dan Katolik, diikuti dengan Agama Islam, Buddha, Hindu dan lainnya seperti Farmalim, dengan bahasa daerahnya adalah bahasa batak toba. Sedangkan mata pencaharian penduduk berasal dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutunan, perdagangan, dan industri.
Tabel 2.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Pada Tahun 2017.
Kelompok Umur Jumlah Laki- laki (Orang)
Jumlah Perempuan
(Orang)
Jumlah Laki- laki+Perempuan
(Orang)
0-4 10.597 10.246 20.843
5-9 10.944 10.517 21.461
10-14 10.057 9.359 19.416
15-19 9.177 7.930 17.017
20-24 5.056 4.194 9.250
25-29 5.587 5.127 10.714
30-34 5.774 5.590 11.364
35-39 5.689 5.588 11.277
40-44 5.372 5.508 10.880
45-49 4.828 5.169 9.997
50-54 4.278 5.016 9.294
55-59 4.134 5.261 9.395
60-64 3.861 4.448 8.309
65+ 4.943 7.540 12.483
Jumlah 90.297 91.493 181.790
Sumber: Badan Pusat Stastik Kabupaten Toba Samosir.
Jumlah penduduk Kabupaten Toba Samosir tahun 2017 adalah sebesar 181.790 jiwa, dengan jumlah rumah tangga (RT) adalah 44.516 RT dan luas wilayah daratan adalah 2.021,8 km², tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Toba Samosir tahun 2017 adalah sebesar 89,91 jiwa/km². Kecamatan Balige yang merupakan ibukota kabupaten, pusat perdagangan dan pusat pemerintahan memiliki persebaran dan kepadatan penduduk di Kabupaten Toba Samosir, Kecamatan Balige adalah kecamatan dengan jumlah penduduk paling tinggi dan dengan tingkat kepadatan sebesar 423,58 jiwa/km². Kemudian diikuti oleh Kecamatan Porsea dengan tingkat kepadatan sebesar 371,49 jiwa/km². Sedangkan Persebaran penduduk dengan jumlah penduduk terendah berada pada Kecamatan