LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG
BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT. PRADIKSI GUNATAMA
DESA KERANG, KECAMATAN BATU ENGAU,
KABUPATEN PASER, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Oleh
MUHAMMAD ALIS
NIM. 080 500 162
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Praktek Kerja Lapang : BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT. PRADIKSI GUNATAMA, DESA KERANG, KECAMATAN BATU ENGAU, KABUPATEN PASER, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Nama : Muhammad Alis
Nim : 080 500 162
Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Manajemen Pertanian.
Menyetujui,
Mengesahkan,
Lulus ujian pada tanggal Pembimbing,
Ir. Budi Winarni, MSi NIP. 19610914 199001 2 001 Penguji, Nurlaila, SP, MP NIP. 19711030 200112 2 001 Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Ir. Hasanuddin, MP NIP. 19630805 198903 1 005
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas-tugas selama Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Pradiksi Gunatama, Desa Kerang, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur hingga tersusunnya laporan ini.
Keberhasilan dan kelancaran dalam pelaksanaan PKL ini juga tidak terlepas dari peran serta dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada :
1. Orang tua yang telah banyak memberikan motifasi dan doa kepada penulis selama ini.
2. Ibu Ir. Budi Winarni, MSi selaku dosen pembimbing praktek kerja lapang. 3. Ibu Nurlaila, SP, MP sebagai dosen penguji praktek kerja lapang.
4. Mr. Yeap C.K selaku Pimpinan PT. Pradiksi Gunatama beserta jajarannya 5. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis berharap saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan laporan ini.
Samarinda, Mei 2011
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR LAMPIRAN ... v
I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 2
C. Hasil Yang Diharapkan ... 2
II. KEADAAN UMUM PERUSHAAN ... 3
A. Tinjauan Umum Perusahaan ... 3
B. Manajemen Perusahan ... 4
C. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL ... 5
III. HASIL PRAKTEK ... 6
A. Survei Areal ... 6
1. Pembuatan batas kebun ... 6
2. Pemancangan ... 8
B. Pembibitan main nursery ... 10
1. Pengisian polybag ... 10
2. Penyiraman bibit ... 11
3. Penyiangan Gulma ... 13
4. Pemupukan ... 14
C. Penanaman ... 16
D. Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) ... 17
1. Penyulaman ... 17
2. Rawat piringan ... 19
3. Pembuatan tapak timbun ... 21
4. Konsolidasi pohon ... 23
E. Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) ... 24
1. Babat gawangan ... 24
2. Pemeliharaan tunas ( pruning) ... 25
F. Panen dan Pengangkutan ... 27
1. Panen ... 27
2. Pengangkutan ... 31
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ... 33
A. Kesimpulan ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 35
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Bagan struktur organisasi PT. Pradiksi Gunatama ... 37
2. Peta Estate A7 ... 38
3. Kegiatan pembuatan batas kebun ... 39
4. Kegiatan penentuan titik tanam (pemancangan) ... 39
5. Penyiraman bibit sistem sumisansui di main nursery ... 40
6. Kegiatan penyiangan gulma ... 40
7. Kegiatan penanaman bibit umur 2 tahun ... 41
8. Kegiatan rawat piringan dengan kimia ... 41
9. Kegiatan pembuatan tapak timbun ... 42
10. Kegiatan konsolidasi pohon ... 42
11. Kegiatan penyusunan pelepah ... 43
12. Kegiatan panen dengan menggunakan dodos ... 43
13. Kegiatan pengangkutan TBS ke TPH ... 44
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komoditas kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia cukup memegang peranan penting dan strategis karena komoditas ini mempunyai prospek yang cerah sebagai sumber devisa. Permintaan minyak kelapa sawit disamping digunakan sebagai bahan mentah industri pangan juga digunakan sebagai bahan mentah industri non pangan. Jika dilihat dari biaya produksinya, komoditas kelapa sawit jauh lebih murah biaya produksinya daripada minyak nabati lainnya. Minyak kelapa sawit merupakan produk perkebunan yang memiliki prospek yang cerah di masa mendatang. Potensi tersebut terletak pada keragaman kegunaan dari minyak sawit (Fauzi, 2004).
Kelapa sawit di Indonesia dewasa ini merupakan komoditas primadona, luasnya terus berkembang dan tidak hanya merupakan monopoli perkebunan besar negara atau perkebunan swasta. Saat ini perkebunan rakyat sudah berkembang pesat. Perkebunan kelapa sawit yang semula hanya di Sumatera Utara dan di Daerah Istimewa Aceh saat ini sudah berkembang di beberapa provinsi, antara lain Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Irian Jaya, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan khususnya Kalimantan Timur yang sedang dalam tahap perluasan daerah budidaya tanaman kelapa sawit (Sastrosayono, 2006).
Banyaknya perkebunan kelapa sawit mampu pula menciptakan kesempatan kerja yang luas. Sehubungan dengan hal tersebut maka Politeknik Pertanian Negeri Samarinda mempunyai program Praktek Kerja Lapang ke perkebunan dengan harapan agar mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya mengenai budidaya tanaman kelapa sawit selama praktek kerja lapang (PKL). Dengan bekal ini diharapkan alumnus memiliki kemampuan yang memadai sehingga dapat mengisi kesempatan kerja yang ada di dunia kerja khususnya perkebunan nantinya.
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat membandingkan antara teori yang diperoleh di perkuliahan dan praktek langsung di lapangan.
2. Mahasiswa dapat memahami tata cara penggunaan alat-alat, bahan dan sarana yang ada di lapangan.
C. Hasil Yang Diharapkan
1. Mahasiswa dapat menguasai kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan 2. Dapat menjadi tenaga kerja yang terlatih.
3. Menjadi mahasiswa yang terampil dan mempunyai kedisiplinan dalam melakukan pekerjaan.
II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
A. Tinjauan Umum Perusahaan
PT. Pradiksi Gunatama merupakan perusahaan daerah yang berlokasi di Kerang, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Berdiri pada tanggal 1 Mei 1997 berdasarkan Akta Notaris Hendra Widianto SH. Nomor 01. Dengan luasan areal keseluruhan 38.000 ha tanam dan 2.100 ha LC (Land Clearing). Dalam operasionalnya PT. Pradiksi Gunatama, membawahi PT. Senabangun Aneka Pertiwi yang terdiri atas 8 Divisi dan 1 Pembibitan. Jenis topografi berdasarkan hasil survei yang dilakukan, sebagian besar areal menunjukan topografi berbukit dan sebagian lagi dataran dengan kemiringan antara 0-150, ketinggian tempat berkisar antara 0-100 meter dari permukaan laut.
Data curah hujan tahunan yang didasarkan dari data curah hujan
Kalimantan Timur lokasi proyek memiliki curah hujan berkisar 2.000 mm/tahun, jumlah hari hujan rata-rata 8 hari/bulan. Dari data curah
hujan tersebut menurut Koppen lokasi proyek diklasifikasikan sebagai tipe A karena merata sepanjang tahun dengan periode kering sangat pendek.
Jenis tanah di PT. Pradiksi Gunatama didominasi jenis tanah podsolik merah kuning. Kemampuan tanah memiliki kedalaman efektif diperkirakaan 70 – 80 cm atau lebih, bertekstur halus, tergenang periodik dan kemungkinan terjadi erosi.
B. Manajemen Perusahaan
1. General Manager
Merupakan pemegang jabatan tertinggi di PT. Pradiksi Gunatama dengan membawahi seluruh organisasi lainnya yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan lapangan dan administrasi.
2. Senior Manager
Merupakan pemegang jabatan tertinggi kedua dan bertanggung jawab langsung kepada General Manager
3. Estate Manager
Merupakan pemegang jabatan ketiga setelah Senior Manager. 4. Asisten Kepala (Askep)
Askep atau Asisten Kepala membawahi seluruh Asisten Divisi dan kegiatan yang ada di kantor dan bertanggungjawab kepada Estate Manager.
5. Kasie Administrasi
Kasie Administrasi sama dengan Kepala Tata Usaha, bertanggung jawab atas semua permasalahan yang ada di kantor besar, seperti pembukuan, bagian tanaman, personalia, kasir, pembelian, pergudangan dan office boy. 6. Asisten Divisi
Asisten Divisi merupakan bawahan dari Asisten Kepala, Asisten Divisi merupakan pemegang jabatan tertinggi di divisinya masing-masing. Asisten Divisi bertanggung jawab atas divisi yang dipegangnya.
7. Koordinator
Koordinator adalah pembantu Asisten Divisi yang bertugas di lapangan untuk mengarahkan dan mengawasi Mandor dan Karyawan.
8. Krani Divisi
Krani Divisi adalah orang yang bertanggung jawab atas semua hari kerja (HK) karyawan.
9. Mandor Mandor adalah pembantu Koordinator Divisi yang bertugas di lapangan
untuk mengawasi karyawan yang bekerja. 10. Workshop
Workshop tempat memperbaiki alat-alat pertanian dan mobil angkut yang rusak.
11. Humas
Humas berhubungan dengan urusan kemasyarakatan. Struktur organisasi dapat dilihat pada Lampiran 1
C. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL
Lokasi Praktek Kerja Lapang berada di PT. Pradiksi Gunatama, merupakan perusahaan swasta yang berlokasi di Desa Kerang, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser. Peta lokasi dapat dilihat pada Lampiran 2. Kegiatan PKL dilakukan sejak tanggal 1 Maret sampai dengan 30 April 2011.
III. HASIL PRAKTEK
A. Survei Areal
1. Pembuatan batas kebun
a. Tujuan
1) Menentukan titik batas kebun sesuai izin lokasi.
2) Membuat rintisan batas lokasi kebun sehingga membentuk poligon. 3) Membuat batasan enclave terhadap lahan masyarakat, lahan yang
tidak diusahakan dan lahan konservasi. b. Dasar Teori
Survei areal merupakan tahapan pembukaan lahan yang dikerjakan untuk memperoleh gambaran detail lokasi yang akan dijadikan kebun kelapa sawit, sehingga memudahkan pekerjaan pembukaan lahan dan pengendaliannya. Pekerjaan survei areal dalam pembuatan batas kebun bertujuan untuk memperoleh gambaran detail tentang batas lokasi sehingga membentuk poligon, yang akan dijadikan kebun kelapa sawit (Sunarko, 2008).
c. Alat dan bahan Alat:
1) Kompas
2) Global Position System (GPS) 3) Parang
5) Cat merah 6) Kuas 7) Peta dasar 8) Patok kayu 9) Alat tulis
Bahan: lahan yang akan dibuka d. Prosedur Kerja
1) Titik batas kebun ditentukan sesuai izin lokasi dengan melihat peta dasar terlebih dahulu.
2) Untuk menentukan titik, digunakan GPS dan peta dasar. Setelah titik ditentukan, lalu tanda anak kayu ditancap dan diberi cat warna merah. Kegiatan pembuatan batas kebun dapat dilihat pada Lampiran 3
3) Penentuan arah dengan kompas terlebih dahulu dari titik yang sudah ditentukan sesuai dengan petunjuk yang ada dipeta dasar. 4) Setelah itu dilakukan perintisan dengan menggunakan alat rintis
yaitu parang.
5) Meteran/tali ditarik sepanjang rintisan dan dipasang patok dengan menggunakan anak kayu dan diberi cat warna merah.
6) Titik diambil setiap 50 m dengan menggunakan GPS. e. Hasil yang dicapai
Untuk kegiatan survei, ketentuan norma yang diberlakukan oleh PT. Pradiksi Gunatama 800-1000 m/HK.
2. Pemancangan
a. Tujuan
1) Mencegah dan mengatasi timbulnya pengaruh kekurangan cahaya matahari pada tanaman.
2) Untuk mendapatkan letak dan barisan tanaman yang teratur. b. Dasar teori
Pedoman pemancangan didasarkan pada tanaman sebelumnya pada areal penanaman. Penanaman kelapa sawit di lapangan dilakukan dengan mata lima yaitu perhitungan yang dihasilakan oleh segitiga sama sisi. Pemancangan adalah pemasangan kayu atau bambu yang ditancapkan ditempat-tempat yang akan ditanami tanaman kelapa sawit. Pancang ini sebagai tanda bagi karyawan atau buruh untuk membuat lubang tanam. Pemasangan pancang ini tidak mudah karena harus memperhatikan kelurusan barisan, juga harus memperhatikan kelurusan diagonalnya. Pemasangan pancang dilakukan dari sisi timur atau barat sebagai patokannya (Sastrosayono, 2006).
c. Alat dan bahan Alat: 1) Kompas 2) Tali sling 3) Pancang 4) Parang 5) Meteran
Bahan: lahan yang telah dibuka d. Prosedur kerja
1) Sebelum dilakukan pemancangan terlebih dahulu ditentukan titik pusat sebagai patokan.
2) Kompas digunakan untuk membidik dari arah Timur - Barat dengan titik (90º-270º) serta arah Utara -Selatan dengan titik (0º - 180º). Kegiatan pemancangan dapat dilihat pada lampiran 4 3) Pancang ditancapkan sesuai dengan lebar/jarak tanam yang telah
ditentukan yaitu 9,20 m X 8 m.
4) Dientukan titik mati dan titik hidup sampai terbentuk mata lima. Untuk lahan yang dibuka dengan cara mekanik digunakan tali sling yang telah diberi tanda sesuai dengan jarak tanam yang dikehendaki.
e. Hasil yang dicapai
Berdasarkan kegiatan pemancangan yang telah dilakukan, norma yang diberlakukan oleh PT. Pradiksi Gunatama 2 ha/3 HK. Namun kegiatan pemancangan ini dikerjakan dengan sistem borongan.
B. Pembibitan Main Nursery. 1. Pengisian polybag.
a. Tujuan
Untuk mendapatkan media tanam yang siap untuk di tanami bibit dari pembibitan pre nursery.
b. Dasar teori
Pembibitan tanaman kelapa sawit dilakukan dengan sistem dua tahap (double stage system) yaitu melalui pembibitan awal (pre nursey) dan pembibitan utama (main nursery). Pembibitan adalah usaha untuk menyediakan bibit kelapa sawit yang superior dan siap untuk ditanam di lapangan. Selain itu lkegiatan ini memastikan ketersediaan bibit dalam jumlah yang cukup berkualitas dan tepat waktu dengan biaya yang rasional. Kegiatan pembibitan meliputi pengisian polybag, penyiraman yang teratur, penyiangan gulma dan pemupukan (Sastrosayono, 2006).
Pengisian polybag dilakukan setelah tanah dirotari atau dibajak dengan menggunakan alat berat. Polybag yang digunakan berukuran 35 x 40 x 0,1 warna hitam. Pengisian polybag menggunakan tanah topsoil yaitu tanah bagian atas yang memiliki struktur remah dan gembur, jika terpaksa menggunakan topsoil berupa tanah liat, maka media tersebut harus dicampur dengan pasir kasar. Polybag diisi tanah sampai penuh lalu hentakkan sampai memadat (Sunarko, 2008).
c. Alat dan bahan
Alat : cangkul, polybag Bahan: tanah
d. Prosedur kerja
1) Polybag diecer masing-masing dua baris setiap 50 meter.
2) Tanah dimasukkan ke dalam polybag dengan menggunakan cangkul sampai penuh.
3) Setelah polybag penuh lalu dihentakkan agar tanah memadat lalu disusun dengan rapi.
e. Hasil yang dicapai
a) Pengisian polybag menggunakan sistem borongan, untuk 1 HK dapat diperoleh 400 polybag.
b) Karena karyawan merupakan karyawan borongan, maka banyak polybag yang diisi secara terburu-buru sehingga polybag yang terisi tidak sempurna dan tidak padat.
2. Penyiraman bibit.
a. Tujuan
Agar kebutuhan bibit akan zat cair terpenuhi sehingga diperoleh bibit yang sehat dan mendapatkan pertumbuhan yang normal.
b. Dasar teori
Sumisansui sistim irigasi adalah sistim irigasi kabut, untuk mendapatkan tekanan atau dorongan air yang kuat dan mampu memenuhi semua kebutuhan air untuk penyiraman.
Waktu penyiraman dilakukan pagi jam7-10 dan sore jam 4-6. kebutuhan air untuk penyiraman kurang lebih 2 liter/polybag. setiap bibit membutuhkan sejumlah air dalam pertumbuhannya yang terus meningkat seiring dengan pertambahan umur. Air merupakan kebutuhan dalam pembibitan karena dibutuhkan dalam fisiologis. Penyiraman yang kurang akan mengakibatkan kelainan bahkan dapat menimbulkan kematian. Rata-rata kebutuhan air di pembibitan setara
dengan curah hujan 3,4 mm/hari. Untuk umur 3-6 bulan 2 liter/pokok/hari dan 6-12 bulan 3 liter/pokok/hari, dengan rata-rata
kebutuhan air 2,5 liter/pokok/hari (Setyamidjaja, 1991). c. Alat dan bahan
Alat : sumisansui
Bahan: air, bibit kelapa sawit d. Prosedur kerja
1) Mesin dihidupkan lalu gulungan sumisansui dibuka.
2) Semua keran diputar atau dibuka dengan demikian air akan mengalir dengan sendirinya dan secara otomatis akan menyiram tanaman dengan sempurna.
3) Semua bibit akan tersiram air dengan baik sesuai dengan kebutuhan bibit. Kegiatan penyiraman dapat dilihat pada Lampiran 5.
e. Hasil yang dicapai
Penyiraman setiap polybag memerlukan 2 liter air perhari. Kebutuhan air ini akan terpenuhi dengan penyiraman selama 60 menit dengan menggunakan penyiraman sumisansui.
3. Penyiangan gulma.
a. Tujuan
Agar kondisi bibit bersih dari gulma dan mempercepat pertumbuhan bibit serta tidak terjadi persaingan unsur hara.
b. Dasar teori
Gulma yang tumbuh di dalam polybag dan yang tumbuh liar di tanah di antara polybag serta jalan di areal pembibitan harus dibersihkan atau disemprot dengan herbisida. Penyiangan gulma dilakukan dua kali sebulan disesuaikan dengan pertumbuhan gulma
(Setyamidjaja, 1991).
Pengendalian gulma merupakan salah satu kegiatan yang di lakukan untuk membunuh gulma yang tumbuh di sekitar bibit atau tanaman dengan cara manual atau kimia sesuai dengan jenis gulma agar tidak merugikan tanaman, bahkan tidak menurunkan tingkat pertumbuhannya (Sastrosayono 2006).
c. Alat dan bahan Alat : parang
d. Prosedur kerja
Pengendalian gulma di dalam polybag dan di luar polybag dilakukan secara manual (mencabut) dan tidak boleh menggunakan herbisida. Kegiatan penyiangan gulma dapat dilihat pada Lampiran 6.
e. Hasil yang dicapai
Berdasarkan kegiatan penyiangan gulma diperoleh hasil 1 ha/hari dengan jumlah pekerja 6 sampai 8 orang.
4. Pemupukan
a. Tujuan
Untuk meningkatkan kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi bibit menjadi relatif stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Pupuk juga menggantikan unsur hara yang hilang karena pencucian sehingga diperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat serta subur.
b. Dasar teori
Pemupukan bibit sangat penting dilaksanakan agar diperoleh bibit yang sehat, pertumbuhan cepat dan subur. Dosis dan jadwal pemupukan sangat tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit di main nursery. Sebaiknya waktu pemupukan pada pagi hari (Sunarko,
2008).
Pemupukan adalah salah satu tindakan perawatan tanaman yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Pemupukan bertujuan untuk menambah ketersediaan unsur hara
didalam tanah untuk kesuburan tanah. Selain itu pemupukan juga bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman pada proses pertumbuhan vegetatif maupun generatif (Pahan, 2006). c. Alat dan bahan
Alat : ember, karung dan mangkok
Bahan: pupuk majemuk N, P, K, Mg 15, 15, 6, 4 dan 12, 12, 17, 2. d. Prosedur kerja
1) Pemupukan pertama kali dilakukan pada bibit yang berumur 3 bulan.
2) Pupuk dituang kedalam ember lalu pupuk ditabur di sekeliling pokok tanaman dengan dosis 1gram/pokok
3) Pupuk diaplikasikan secara merata dipermukaan tanah dalam polybag dengan jarak 5-8 cm dari batang bibit dan tidak boleh mengenai daun. Setelah berumur 12 bulan pupuk dapat disebar secara merata didalam polybag. pupuk yang digunakan adalah pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P, K dan Mg 15, 15, 6, 4 dan 12, 12, 17, 2.
4) Pemupukan ini dilakukan dengan sistem manual dengan rotasi 2 kali sebulan.
e. Hasil yang dicapai
Berdasarkan kegiatan pemupukan yang dilaksanakan, diperoleh pemupukan bibit dengan norma kerja 1 HK/ha.
C. Penanaman
a. Tujuan
Untuk melanjutkan kelangsungan hidup tanaman di lapangan sehingga produksi dapat ditentukan.
b. Dasar teori
Penanaman di lapangan harus dilakukan pada saat musim hujan. Penanaman pada periode musim kering yang sudah diperkirakan, harus dihindari sesaat sebelum dilakukan pindah tanam. Selama proses penanaman, harus diteliti bahwa tanah disekeliling bibit telah dipadatkan. Penanaman bibit kelapa sawit di lapangan sangat penting, karena akan menentukan produksi dan kelangsungan hidup tanaman. Penanaman bibit di lapangan dilakukan setelah bibit berusia 12 bulan (Sastrosayono,
2006).
c. Alat dan bahan
Alat : cangkul, parang
Bahan : bibit kelapa sawit yang siap tanam. d. Prosedur kerja
a. Polybag disobek dan dilepaskan dari bibit, bibit beserta tanahnya diletakkan di dasar lubang tanam. Tanaman diusahakan tegak lurus. b. Kegiatan pembuatan lubang tanam sebelum penanaman,digali tanah
dengan menggunakan cangkul dengan lebar 50 cm dan kedalaman 40 cm.
c. Tanah yang pertama kali ditimbunkan adalah tanah bagian atas (topsoil) kemudian subsoil
d. Bagian topsoil diletakkan dekat akar sehingga disaat regenerasi akar, akar akan berkembang dalam tanah yang subur dan bisa menyerap unsur hara dengan mudah.
e. Penimbunan dilanjutkan sampai lubang tanam penuh kemudian tanah dipadatkan. Kegiatan penanaman dapat dilihat pada Lampiran 7. e. Hasil yang dicapai
Pelaksanaan penanaman di PT. Pradiksi Gunatama dikerjakan dengan sistem borongan. Norma kerja yang diberikan oleh perusahan adalah 1 ha/HK.
D. Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 1. Penyulaman
a. Tujuan
Tujuannya untuk mempertahankan kerapatan populasi pohon sesuai standar.
b. Dasar teori
Pemeliharaan tanaman adalah suatu usaha untuk meningkatkan dan menjaga kesuburan tanah dalam lingkungan pertumbuhan tanaman, guna mendapatkan tanaman yang sehat dan berproduksi secara optimal. Kegiatan ini meliputi rawat piringan, penyulaman, pembutan tapak timbun, konsolidasi pohon.
Penyulaman merupakan kegiatan penanaman kembali tanaman yang mati. Sebelum dilakukan penyulaman terlebih dahulu dilakukan sensus pohon. Jumlah pohon yang akan disulam di setiap areal pada tahun pertama, kedua dan ketiga dapat diketahui dengan mudah berdasarkan hasil sensus. Penyulaman dilakukan dengan mengganti tanaman kelapa sawit yang mati dengan tanaman yang baru dari pembibitan yang sudah disiapkan sebelumnya. Kematian atau kurang baiknya pertumbuhan kelapa sawit dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu penanaman kurang teliti, kekeringan, terendam air, terserang hama, penyakit, atau pengganggu lain. Bibit yang digunakan sebaiknya memiliki umur dan jenis yang sama dengan tanaman yang diganti, untuk memperoleh pertumbuhan yang seragam (Sunarko 2008). c. Alat dan bahan
Alat : cangkul, parang. Bahan: bibit kelapa sawit. d. Prosedur kerja
1) Digali kembali lubang tanam yang sudah mati dengan ukuran lubang 60 x 60 x 40 cm
2) Polybag disayat dari atas ke dasar lalu bibit dikeluarkan
3) Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan posisi tegak lurus
4) Tanah galian dimasukan ke dalam lubang hingga membentuk gundukan setinggi 5 cm, dipadatkan tanah disekitar tanaman agar tertanam kokoh.
5) Dibuat piringan dengan lebar 50 cm, piringan harus bebas gulma. e. Hasil yang dicapai
Melakukan kegiatan penanaman penyulaman dilakukan selama 1 hari jam kerja, norma kerja 1 HK minimal 32 pokok.
2. Rawat piringan
a. Tujuan
1) Membebaskan piringan pohon dari gulma yang dapat merugikan tanaman utama.
2) Memudahkan pelaksanaan panen seperti pengangkutan ke TPH dan penguntilan brondolan.
3) Penempatan pupuk yang diberikan dapat mencapai sasaran yang optimal.
4) Mempercepat fase TM (Tanaman Menghasilkan). b. Dasar teori
Gulma merupakan vegetasi yang tumbuh secara alami dan menjadi pesaing bagi tanaman utama sehingga kehadiranya tidak dikehendaki karena dapat menghambat pertumbuhan dan produksi serta dapat mengganggu kegiatan lainya. Umumnya gulma mudah melakukan regenerasi sehingga unggul dalam pesaingan dengan tanaman budidaya. Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan
usaha untuk meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus ditingkatkan sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannya secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman pokok (Agustia, 1997).
Perawatan piringan secara manual merupakan item weeding. Pekerjaan ini dilakukan dengan rotasi 3 kali 1 tahun. Perawatan piringan berarti pembersihan yang dilakukan pada piringan pohon tanaman (Anonim, 1995).
c. Alat dan bahan Alat : sprayer
Bahan: air, herbisida, semua gulma yang ada di piringan pokok sawit. d. Prosedur kerja
1) Penentuan Blok
Blok yang akan dilakukan penyiangan ditentukan terlebih dahulu berdasarkan intensitas serangan gulma dan kondisi blok tanaman. Luas masing-masing blok adalah 40-50 Ha.
2) Persiapan alat
Peralatan disiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan di lapangan dan masing-masing karyawan bertanggung jawab dengan alatnya masing-masing.
3) Pelaksanaan
Pengisian air ke dalam sprayer kemudian dilanjutkan dengan pengisian herbesida Trendy 2 gr dan Supretox 80 cc dengan menggunakan botol takaran kemudian diaduk hingga tercampur rata. Penyemprotan dilakukan secara perlahan pada piringan, sampai dengan lebar tajuk secara merata dan jangan sampai mengenai pelepah serta daun kelapa sawit. Kegiatan rawat piringan dapat dilihat pada lampiran 8.
e. Hasil yang dicapai
a) Piringan harus bersih sampai tajuk terluar.
b) Untuk 1 HK perawatan piringan dengan khemis diperoleh 264 pokok atau 2 ha.
3. Pembuatan Tapak Timbun
a. Tujuan
Memperbaiki tempat tumbuh tanaman sawit yang tergenang air, sehingga akar dapat tumbuh dengan baik di permukaan tapak timbun b. Dasar teori
Tapak timbun merupakan kegiatan mempertinggi tempat tumbuh tanaman yang tergenang air dengan cara mengangkut tanah dari luar dan menimbun bagian pokok tanaman hingga batas tertentu. Hasil setelah dilakukan tapak timbun, daun tanaman mulai menghijau dan akar tanaman mulai berkembang dengan baik setelah 1 bulan (Pahan,
c. Alat dan bahan Alat : cangkul
Bahan : tanaman kelapa sawit yang terendam air d. Prosedur kerja
1) Dibuat tapak timbun dengan diameter 1,5 m dan tinggi ± 0,5 m dengan cara menggali tanah di sekitar tanaman serta dibuatkan parit. Kegiatan tapak timbun dapat dilihat pada Lampiran 9.
2) Setelah terbentuk piringan, maka dilakukan pemadatan dengan meletakkan kayu di sekitar piringan dimaksudkan tanah yang sudah terbentuk tidak mudah terkena erosi.
3) Dilakukan peninjauan sebelum melakukan tapak timbun, karena pada area yang komposisi tanahnya berbeda, mungkin mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda (seperti antara tanah pasir dan tanah bergambut).
e. Hasil yang dicapai
Dengan adanya kegiatan pembuatan tapak timbun maka mahasiswa dapat mengetahui dan mempraktekkan secara langsung pembuatan tapak timbun dilapangan. Hasil kerja untuk 1 HK diperoleh 7 sampai 10 pokok tanaman.
4. Konsolidasi pohon
a. Tujuan
Tujuan dari konsolidasi pohon adalah untuk menegakkan pohon kelapa sawit yang miring, memperkuat perakaran dengan menambahkan tanah ke piringan sawit.
b. Dasar Teori
Menurut Setyamidjaja, (1991) untuk menegakkan tanaman kelapa sawit yang miring dilkukan penegakan pohon (konsolidasi) pada saat umur tanaman 16-18 bulan di lapangan. Teknik konsolidasi pohon dilakukan antara lain untuk :
1) Mengatasi tanaman miring karena penanaman tidak padat dilakukan penimbunan dan memberikan penyokong apabila sulit untuk ditegakkan.
2) Apabila pangkal akar berada di atas permukaan tanah dilakukan pembumbunan.
3) Pangkal akar yang tertanam dapat diatasi dengan menggali tanah di sekitar pangkal akar.
c. Alat dan bahan
Alat : cangkul, parang, anakan kayu. Bahan: tanaman kelapa sawit.
d. Prosedur kegiatan
1) Dicari pohon kelapa sawit yang miring.
3) Penambahan tanah dilakukan dengan menimbun pokok sawit dengan tanah yang diambil di sekitar pokok sawit tersebut.
4) Sambil menambah tanah pokok sawit yang miring harus ditegakkan lalu diberi penyanggah kayu. Kegiatan konsolidasi pohon dapat dilihat pada Lampiran 10.
e. Hasil yang dicapai
Berdasarkan kegiatan konsolidasi sawit ini dilaksanakan 1 HK mendapat 10 sampai 30 pohon. Frekuensi biasanya lebih besar apabila keadaan lingkungan mendukung dalam pengerjaan konsolidasi pohon ini.
E. Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM). 1. Babat gawangan
a. Tujuan
Tujuannya adalah membasmi gulma yang tumbuh di gawangan dengan cara menebas semua gulma, sehingga persaingan tanaman utama dan gulma, terhadap persaingan unsur hara dapat dihindari.
b. Dasar teori
Semua gulma liar dan anak kayu yang tumbuh di gawangan harus dibasmi dengan rotasi 3 kali setahun selama dua tahun dan kacangan yang menjalar pada pelepah sawit diturunkan dan tidak dibenarkan memotong pelepah. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mekanis dengan penebasan. Jenis gulma yang dikendalikan adalah anakan kayu, keladi dan alang-alang (Risza, 1995).
c. Alat dan bahan
Alat : parang, dan arit Bahan: gulma.
d. Prosedur kerja
Gulma yang dikendalikan antara lain kayu-kayuan, gelagah, keladi, ilalang dan sebagainya. Cara pelaksanaannya adalah ditebas.
e. Hasil yang dicapai
Kegiatan babat gawangan yang dilakukan di PT. Pradiksi Gunatama memakai sistem target. Untuk 1 HK norma perusahaan menargetkan minimal diperoleh 7 gawangan.
2. Pemeliharaan tunas (Pruning)
a. Tujuan
Penunasan bertujuan untuk mempermudah aktivitas panen dan memperlancar penyerbukan.
b. Dasar teori
Pemeliharaan tunas adalah kegiatan pemotongan pelepah daun dengan alat dodos atau egrek, dengan rotasi sebaiknya 8 bulan sekali. Pada saat penunasan harus diusahakan sampai batas songgo 2 sehingga setelah penunasan pelepah daun masih tersisa 48-56 pelepah. Bekas tunasan harus mepet dengan pokok kelapa sawit
c. Alat dan bahan
Alat : dodos ukuran 10 cm.
Bahan: pelepah kelapa sawit yang melebihi songgo 2. d. Prosedur kerja
1) Penentuan blok yang tanamannya akan ditunas 2) Persiapan peralatan penunasan
3) Pelaksanaan penunasan, karyawan memasuki ancak masing-masing, kemudian melakukan pemotongan pelepah yang lebat dengan menggunakan dodos menyisakan songgo 2, potongan pelepah maksimaal 15 cm dari batang tanaman.
4) Pelepah yang sudah terpotong kemudian disusun di gawangan mati dengan arah membujur.
e. Hasil yang dicapai
Pemangkasan pelepah sebanyak 30 pokok untuk 1 HK dan disusun pada gawangan mati dengan arah membujur.
F. Panen dan Pengangkutan 1. Panen
a. Tujuan
Kegiatan panen bertujuan untuk mendapatkan tandan buah segar (TBS) yang tinggi, memperoleh rendemen yang baik, mendapatkan mutu minyak yang tinggi, biaya panen yang efisien, exploitasi berjalan dengan baik sehingga mencapai umur produktif yang lama. Buah yang dipanen adalah buah yang sesuai dengan fraksi panen yang telah ditentukan oleh perusahaan.
b. Dasar Teori
Proses pemasakan buah dapat dilihat dari perubahan warna buahnya. Buah kelapa sawit yang masih mentah berwarna hijau karena pengaruh zat klorofil selanjutnya akan berubah menjadi merah atau oranye akibat pengaruh beta karoten. Kriteria kematangan tandan dinyatakan dalam jumlah buah sawit yang jatuh. Sebagai patokan, minimum buah sawit yang jatuh sebanyak 10 buah untuk tanaman muda menghasilkan dan 15 buah untuk tanaman tua menghasilkan
(Sunarko, 2008).
Kriteria panen ditentukan pada saat kandungan minyak dalam daging buah maksimal dan kandungan asam lemak bebas terendah. Kriteria matang panen yang paling baik adalah 2 brondolan/kg berat tandan Untuk mencapai tujuan pemanenan, kualitas dan kuantitas yang tinggi, maka pelaksanaan ketentuan panen mencakup sistem panen,
rotasi panen kriteria matang panen dan persentase brondolan, serta pelaksanaan angkut dan pengolahan secepat mungkin (Risza 1995).
Menurut Nurhayati, (1997) tanaman dinyatakan memasuki usia panen tanaman menghasilkan (TM) apabila sudah berumur 30 bulan setelah tanam, kriteria matang panen yaitu :
Mentah : brondolan segar yang terlepas kurang dari 5 brondolan
Matang/ masak : brondolan segar yang terlepas 5 atau lebih dari 5 brondolan
Lewat matang : 75% atau 100% brondolan luar telah lepas Tandan kosong : brondolan yang sisa dalam tandan hanya 25% Tangkai panjang : panjang Tangkai melebihi 3 cm dari pangkal buah. c. Alat dan Bahan
Alat : dodos 8 cm, gancu, parang, karung, gerobak, batu asah. Bahan: TBS kelapa sawit yang memenuhi kriteria matang panen. d. Prosedur Kerja
1) Pemeriksaan TBS Kelapa Sawit
Buah yang dipanen harus memenuhi kriteria matang panen yang telah ditentukan. Pemeriksaan ini bertujuan agar buah yang dipanen adalah buah yang benar-benar matang sehingga rendemen yang diperoleh akan lebih tinggi.
Kriteria Matang Panen di PT. Pradiksi Gunatama adalah : a) Warna buah orange kemerahan.
b) Sudah ada buah yang lepas atau membrondol.
c) Di PT. Pradiksi gunatama memanen dengan fraksi 2 dan 3. Dikatakan fraksi 2 apabila dalam setiap 1 kg TBS telah jatuh brondolan sebanyak 2 biji, sedangkan untuk fraksi 3 apabila telah jatuh 3 biji untuk setiap 1 kg.
Suatu areal sudah dapat dipanen apabila : a) Tanaman berumur 30 bulan di lapangan.
b) 60 % pohon telah mempunyai buah yang siap panen. c) Berat tandan buah segar (TBS) > 3 kg.
2) Pemotongan pelepah (Pruning)
Pelepah yang dipotong adalah pelepah yang berada di bawah buah yang akan dipanen (songgo buah).
3) Pengumpulan pelepah
Pelepah yang telah dibuang pada pokok tanaman dipotong dengan menggunakan parang menjadi 3 bagian dan disusun rapi di gawangan mati. Kegiatan penyusunan pelepah dapat dilihat pada Lampiran 11.
4) Pengambilan tandan buah
Tandan buah dipotong mepet dari pokok dengan menggunakan dodos ukuran 8 cm. Kegiatan panen dapat dilihat pada Lampiran 12.
5) Pengutipan brondolan
Semua berondolan dikutip dan dikumpulkan dalam karung dan ditumpuk di TPH.
6) Pengumpulan buah
Buah kelapa sawit beserta brondolannya dikumpulkan dan diangkut dengan menggunakan karung atau angkong melalui jalan pasar pikul menuju TPH. Kegiatan pengangkutan ke TPH dapat dilihat pada Lampiran 13. Tangkai buah dipotong huruf V sebelum diangkut ke pabrik agar kehilangan minyak pada TBS bisa diminimalkan
7) Penyusunan Tandan Buah Segar ( TBS)
TBS kelapa sawit disusun rapi di TPH, agar memudahkan dalam perhitungan buah. Di PT. Pradiksi Gunatama disusun 10 TBS per baris. Brondolan dipisahkan, di tumpuk dalam karung yang berada di TPH. Penumpukan TBS di TPH dapat dilihat pada Lampiran 14 e. Hasil yang dicapai
1) Berdasarkan kegiatan panen hasil yang didapat berupa tandan buah segar yang siap diangkut ke pabrik untuk mengalami proses selanjutnya yaitu pengambilan minyak dari daging buah.
2) Tenaga panen yang tidak sesuai dengan luas areal yang dimiliki, sehingga banyak buah matang yang tidak terpanen. 1 HK minimal 32 pokok.
2. Pengangkutan
a. Tujuan
Kegiatan pengangkutan bertujuan untuk mengangkut sesegera mungkin TBS beserta brondolannya untuk diolah di pabrik, sehingga diharapkan tidak terjadi sisa (restan) buah.
b. Dasar Teori
Menurut Anonim (1995) pengangkutan buah TBS dan brondolan dari lapangan ke pabrik harus segera dilakukan pada hari itu juga setelah buah dipanen. Operasi pengangkutan saling mendukung dengan operasi panen dan pengolahan, karena sifat pengoperasiannya merupakan tiga sub sistem induk yaitu Panen-Angkut-Olah (PAO). Buah yang sudah ada di tempat pengumpulan hasil (TPH) harus sesegera mungkin diangkut ke pabrik karena kalau buah sampai bermalam di kebun akan menyebabkan asam lemak bebas (ALB) meningkat dan kandungan rendemen minyak menurun.
c. Alat dan Bahan
Alat : tojok, gancu, penggeruk brondolan, karung, traktor, truk . Bahan : TBS dan brondolan.
d. Prosedur Kerja
1. Blok pengangkutan ditentukan berdasarkan kegiatan panen yang telah dilaksanakan pada hari yang sama.
2. Pengangkutan terlebih dahulu menggunakan traktor dari dalam blok dengan tenaga kerja 2 orang.
3. Buah di TPH dimasukan ke dalam traktor dengan menggunakan tojok dan brondolan dimasukan dengan menggunakan karung, brondolan TPH harus bersih. Kegiatan pengangkutan TBS ke traktor dapat dilihat pada lampiran 14
4. Setelah penuh traktor menuju loading kemudian akan diangkut oleh truk ke pabrik.
e. Hasil yang dicapai
1) Berdasarkan kegiatan tersebut satu buah traktor dapat menggangkut 3 ret perhari, sedangkan truk hanya 1 ret perhari ke pabrik.
2) Kurangnya unit kerja, terutama yang bergerak dalam hal pengangkutan buah
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari kegiatan praktek kerja lapang yang dilakukan disalah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Pradiksi Gunatama dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Dari kegiatan PKL ini mahasiswa dapat belajar banyak secara langsung mengenai teknis budidaya tanaman kelapa sawit serta aspek pengenalan kebun lainnya.
2. Tidak semua ilmu teori yang diperoleh di kampus sesuai dengan kegiatan praktek di lapangan:
a. Pada teori pembuatan batas kebun menggunakan peralatan yang masih minim yaitu hanya menggunakan kompas sementara kenyataan di lapangan menggunakan GPS dan teodolit.
b. Pemancangan untuk menentukan jarak tanam, teori yang diperoleh di kampus menggunakan jarak tanam 9 m x 9 m sementara di lapangan jarak tanam disesuaikan dengan kontur dan factor kesuburun tanah yaitu 9,20 m x 8 m.
c. Untuk penanaman teori yang diperoleh di kampus bibit yang ideal untuk ditanam di lapangan adalah bibit yang berumur 12 bulan. Sementara kenyataan di lapangan menggunakan bibit yang berumur lebih dari 2 tahun dimaksudkan agar tahan terhadap serangan hama babi dan landak.
d. Pengangkutan harus sesegera mungkin di lakukan dan diolah di PKS kurang dari 24 jam setelah panen, sedangkan kenyataan di lapangan karena belum mempunyai PKS maka sisa atau restan lebih dari 48 jam setelah dipanen.
B. Saran
Kegiatan praktek kerja lapang ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa oleh karena itu disarankan :
1. Perlu penyempurnaan kegiatan praktek budidaya tanaman kelapa sawit di kampus agar mahasiswa mendapat yang sesuai dengan kenyataan di lapangan.
2. Perlu penambahan peralatan praktek yang memadai agar mahasiswa dapat belajar dengan baik sehingga kelak mempunyai bekal pada saat kegiatan PKL.
DAFTAR PUSTAKA
Agustia RA. 1997. Pengendalian Gulma Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) Laporan Keterampilan Profesi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Anonim. 1995. Breavat Dasar I Tanaman Kelapa Sawit. Astra Agro Niaga.
Jakarta.
Fauzi Y. 2004. Kelapa Sawit. Jakarta. Penebar Swadaya.
Nurhayati SL. 1997. Pemanenan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jaq.) Laporan
Ketrampilan Profesi, Fakultas Pertanian IPB. Bogor.
Pahan I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis Dari
Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.
Risza S. 1995. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta
Sastrosayono, S. 2006. Budidaya kelapa sawit. PT. Agromedia Pustaka. Setyamidjaja, D. 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius Yokyakarta.
Sunarko. 2008. Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit. dengan sistem
kemitraan. PT. Agromedia Pustaka.
Lampiran : 1 Bagan Struktur Organisasi PT. Pradiksi Gunatama
GENERAL MANAGER
SENIOR MANAGER
ESTATE MANAGER
KEPALA TATA USAHA ASISTEN KEPALA
ASISTEN DIVISI B MANDOR
KELILING keliling ADMINISTRASI ASISTEN DIVISI D ASISTEN DIVISI C ASISTEN DIVISI A KRANI DIVISI KOORDINATOR MANDOR KRANI DIVISI KOORDINATOR MANDOR KRANI DIVISI KOORDINATOR MANDOR KRANI DIVISI KOORDINATOR MANDOR
KERANI PIMS KERANI GUDANG
GGGGUDANG PENJAGA GUDANG
Lampiran 3 : Kegiatan pembuatan batas kebun
Lampiran 5 : Penyiraman bibit system sumisansui di main nursery
Lampiran 7 : Kegiatan penanaman bibit umur 2 tahun
Lampiran 9: Kegiatan pembuatan tapak timbun
Lampiran 11 : Kegiatan penyusunan pelepah
Lampiran 13 : Kegiatan pengangkutan TBS ke TPH
Lampiran 14 : Tempat penumpukan hasil (TPH)