• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PTP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PTP"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL)

BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PTP. NUSANTARA XIII

(PERSERO) DESA SAMUNTAI KECAMATAN LONG IKIS

KABUPATEN PASER KALIMANTAN TIMUR

Oleh :

HASAN BASRI

NIM. 100500105

PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN

JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

SAMARINDA

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan PKL : Laporan Praktek Kerja Lapang (PKL) Budidaya Kelapa Sawit di PTP. Nusantara XIII (Persero) Desa Samuntai Kecamatan Long Ikis Kabupaten Paser

Nama : Hasan Basri

N I M : 100 500 105

Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Manajemen Pertanian

Menyetujui,

Pembimbing, Penguji I Penguji II

Nurlaila, SP, MP Riama Rita Manulang, SP, MP F. Silvi Dwi Mentari , S. Hut NIP. 19711030 200112 2 001 NIP. 19701116 620000 2 001 NIP. 19770723 0200312 2 002

Menyetujui/Mengesahkan,

Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda

Ir. Syarifuddin, MP NIP. 19650706 200112 1 001

(3)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan KaruniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas-tugas selama Praktek Kerja Lapang (PKL) di PTP. Nusantara XIII (Persero), Desa Samuntai, Kecamatan Long ikis, Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur dengan lancar dan tanpa ada halangan apapun.

Keberhasilan dan kelancaran dalam pelaksanaan PKL ini juga tidak terlepas dari peran serta dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih kepada :

1. Keluarga yang telah banyak memberikan motifasi dan doa kepada penulis selama ini.

2. Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

3. Bapak Ir. Hasanudin, MP selaku Ketua Jurusan Mananjemen Pertanian 4. Bapak Ir. Syarifuddin, MP selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman

Perkebunan.

5. Ibu Nurlaila, SP, MP selaku dosen pembimbing.

6. Ibu Riama Rita Manulang, SP, MP dan Ibu F. Silvi Dwi Mentari, S.Hut, MP selaku dosen penguji PKL.

7. Bapak Bambang heriawan selaku Senior Manager PTP. Nusantara XIII (Persero)

8. Bapak-bapak asisten yang telah membantu membimbing di lapangan.

9. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.

(4)

Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini masih terdapat kekurangan, namun penulis berharap laporan ini tetap dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.

Samarinda, 25 Mei 2013

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ...ii

KATA PENGANTAR ...iii

DAFTAR ISI ...v

DAFTAR LAMPIRAN ...vi

I. PENDAHULUAN A. Latar Balakang ...1

B. TujuanPraktek ...2

C. Hasil Yang Diharapkan...2

II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN A. Tinjauan Umum Perusahaan ...3

B. Manajemen Perusahaan ...3

C. LokasiDan Waktu Kegiatan PKL ...5

III. HASIL PRAKTIKUM A. Persiapan LapanganUntukMenanamKelapaSawit ...6

1. Pembuatan Jalan...6

2. Perun ...8

3. MenanamLCC (Leguminosae Cover Crop) ...10

B. PerawatanTanaman...12

1. PerawatanTanaman Belum Menghasilkan ...12

a. Pengendalian Ilalangdengancarakimia ...13 b. Sensus Pokok...15 2. PerawatanTanaman Menghasilkan ...17 a. Pemupukan...17 b. Penunasan...20 c. Pengerasan Jalan...22

d. Pengendalian Ulat Api Dan Ulat Kantong (Injeksi) ...24

C. Panen Dan Transportasi TBS...26

1. Kegiatan Sebelum Panen ...26

a. Pembuatan Pasar Pikul ...26

2. Panen Dan Pengangkutan ...28

a. Panen...28

b. Pengangkutan ...31

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ...34

B. Saran...35

DAFTAR PUSTAKA ...36

(6)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1. Peta PTP. Nusantara XIII (Persero) ... 38

2. StrukturOrganisasi Perusahaan... 40

3. PersiapanLapanganUntukMenanamKelapaSawit... 41

4. PerawatanTanamanBelumMenghasilkan ... 42

5. PerawatanTanamanMenghasilkan ... 43

(7)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Komoditas kelapa sawit memegang peranan yang cukup strategis bagi perekonomian Indonesia. Minyak sawit merupakan bahan baku utama produk pangan maupun non pangan. Komoditas ini mampu menciptakan kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan yang mempunyai nilai yang tinggi apabila dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. untuk itu pemerintah telah menetapkan kebijakan pendirian perusahaan perkebunan besar dan plasma, terutama di Kalimantan. Selain itu dengan diadakannya pengembangan perkebunan kelapa sawit maka akan terbuka peluang besar dalam penerimaan tenaga kerja khususnya tenaga yang terampil dan handal di bidang perkebunan.

Politeknik Pertanian Negeri Samarinda khususnya Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan memasukkan program kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini untuk membentuk ahli madya yang memiliki keterampilan di bidang tanaman perkebunan.

PKL yang dilaksanakan oleh mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Program Studi Budidaya Tanaman Perkebuan di berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit merupakan rangkaian kegiatan kurikulum yang telah ditentukan pada semester akhir.

(8)

B. Tujuan Praktek

1. Dapatmemahami budidaya kelapa sawitsecara langsung di lapangan. 2. Memahami penggunaan alat, bahan dan sarana yang tepat dan efisien

dalam kegiatan budidaya tanaman sawit.

3. Menambah pengetahuan mahasiswa agar mampu berpikir secara praktis mengenai kegiatan yang sesungguhnya terjadi dilapangan.

C. Hasil Yang Diharapkan

1. Menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang usaha perkebunan kelapa sawit.

2. Dapat menjadi tenaga kerja yang terlatih dan terampil. 3. Menumbuhkan kedisiplinan kerja bagi para mahasiswa.

(9)

II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

A. Tinjauan Umum Perusaha

PT. Perkebunan Nusantara XIII (Persero) disingkat PTPN XIII adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) didirikan pada tanggal 11 Maret 1996, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 tahun 1996 dan akte notaris Harun Kamil, SH No.46 tanggal 11 Maret 1996 dan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman RI melalui keputusan No. C2-8341.IIT.01.01.TII.96 tahun 1996 serta tambahan berita negara RI No. 81. Pada awal operasinya (Maret-Juli 1996). Kantor direksi PTPN XIII menempati kantor eks. LO PTPN VII. Karena gedung tersebut akan direhab maka kantor direksi berpindah sementara waktu ke kantor PT. POS Indonesia pada tahun 1996-1998. Setelah pembangunan gedung kantor direksi yang baru selesai, maka hingga saat ini kantor direksi PTPN XIII pindah ke Jalan Sultan Abdurrachman No. 11 Pontianak, Kalimantan Barat. PTPN XIII merupakan penggabungan dari proyek pengembangan 8 (delapan) eks PTP yaitu PTP VI, VII, XII, XIII, XVIII, XXIV-V, XXVI DAN XXIX yang semuanya berlokasi di Pulau Kalimantan.

PTPN XIII bergerak pada bidang usaha agroindustri. Komoditas utama yang dikelola PTPN XIII yaitu kelapa sawit dan karet. Arah pengembangan kelapa sawit dilakukan melalui usaha horizontal dan vertical.

Pengembangan horizontal melalui perluasan areal.

kebun plasma mengingat luas wilayah Kalimantan dengan iklim tropis sepanjang tahun masih terbuka untuk memperluas areal perkebunan. Sedangkan pengembangan yang bersifat vertical merupakan strategi

(10)

membangun Down Stream Industry, di mana di dalamnya terdapat industri fraksinasi, refinery, oleo kimia, dan industri pemanfaatan sisa olahan.

Dari sisi manajemen, dalam upaya mewujudkan visinya PTPN XIII melakukan Program Transformasi Bisnis (PTB) yang dicanangkan sejak bulan Mei 2001. Salah satu produk dari PTB adalah manajemen telah menetapkan

Strategic Initiatives (SI) yang merupakan terobosan fundamental dalam upaya

meningkatkan pola kerja konvensional (Business as usual) menjadi perusahaan berbasis ilmu pengetahuan standar kelas dunia. Dalam proses transformasi bisnis, Strategic Initiatives menjadi penting karena menjadi pijakan untuk melakukan lompatan bisnis dalam keseluruhan operasional perusahaan PTPN XIII. Sampai dengan akhir tahun ini PTPN XIII telah mempekerjakan karyawan tetap dan honorer sebanyak 13 ribuan orang, dengan dukungan ribuan karyawan tersebut, PTPN XIII telah menunjukkan pertumbuhan kinerja yang konsisten. Konsisten pertumbuhan kinerja manajemen PTPN XIII bagi seluruh karyawan merupakan bekal dalam menyambut masa depan PTPN XIII.

PTPN XIII (Persero) Kebun Long Ikis berlokasi di Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Propinsi Kalimantan Timur. Sebelum diganti PTPN XIII (Persero).

A. Manajemen Perusahaan

NAMA JABATAN Tugas/Job Diskription

Bambang Heriawan Manajer Bertanggung jawab atas kontiunitas Perusahaan Nur Hamzah Askep Wilayah Utara Bertanggung jawab

membantu tugas Manajer Marsyah Askep Wilayah Selatan Memonitor semua

kegiatan Afdeling baik Fisik maupun Administrasi Hotmaison Nasution Kepala Tata Usaha &

Keuangan

Memonitor semua kegiatan Administrasi & Keuangan, Pembukuan dll.

(11)

Nicho Kusumayudha Assten Personalian & UMUM Memonitor semua kegiatan Personil, Pelatihan, Penilaian, Penerimaan T. Kerja, Persiapan Rapat, HGU dan K3

Hanung Prasetyo Asisten Teknik Umum & CD

Bertangungjawab

terhadap kegiatan Teknik Mesin, Elektronik

(Woksop) dan Infrassturtur .

Nur Hamzah Asisten Transport Bertanggung jawa semua kegiatan transportasi baik produksi maupun Pool dr. Lina Rosalyn Ka Polikbun Memberikan

Pelayan/Perawatan Kesehatan dan Menyediakan obat -obatan.

Kapten Ponidi Kepala Pengamanan Bertanggung jawab terhadap semua Keamanan Personil maupun Material serta obyek-obyek Vital yang ada di perusahaan Murhadinurrahman Asisten Afdeling I

Beringin Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing. Marsyah Asisten Afdeling II Bukit

Tundet Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing. Suharji Asisten Afdeling III Lati

Bilas Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing. Dwi Agus Subiyanto Asisten Afdeling IV

Bukit Bambu Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing. Anwar Anshari Asisten Afdeling V

Lembah Batu Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing.

(12)

Edy Suparmono Asisten Afdeling VI Sindet Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing. Sartono Asisten Afdeling VII

Dataran Hijau Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing. Sutanto Haryo Budi Asisten Afdeling VIII

Sandeley Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing. Bambang Firman Edy Asisten Afdeling IX Pasir Mayang Bertanggung jawab terhadap kegiatan Produksi dan Pemeliharaan Tanaman di Afdeling masing-masing.

a. Jumlah personil Kebun Tabara Inti

NO

GOLONGAN

JUMLAH

1

Karyawan Pimpinan

15

2

Karyawan PRB

271

3

Karyawan KHT

518

4

P K W T

267

5

Honor

7

J U M L AH

1.078

b. Waktu dan Jam ketentuan jam kerja Kantor Kebun Tabara Inti

Ketentua Jam Kerja Kantor, 40 Jam/mingguh (7 Jam Kerja / Hari)

Hari Jam Kerja Jam Istrirahat Keterangan

Senin s/d Kamis 07.00 – 15.30 Wita 12.00 - 13.00 Wita Istirahat 1 Jam

Jumat 07.00 – 12.00 Wita - Tanpa istirahat Sabtu 07.00 - 12.30 Wita - Tanpa istirahat

(13)

B. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL

Kegiatan PKL dilaksanakan di PTP. Nusantara ( Persero ).

Desa : Samuntai Kecamatan : Long Ikis Kabupaten : Paser

Provinsi : Kalimantan Timur

Pelaksanaan PKL dimulai dari tanggal 01 Maret 2013 dan berakhir pada tanggal 1 Mei 2013.

III. HASIL PRAKTIKUM

A. Pembibitan

Pembibitan suatu kegiatan budidaya pada benih (kecambah) atau hasil kultur jaringan kelapa sawit untuk menyiapkanya agar dapat hidup dan tumbuh berkembang normal disertai dengan kerakteristik yang di khendaki (sleksi) saat ditanman di areal penanaman.

1. Pembibitan Awal (Pre Nursery)

Pada pembibitan awal pre nursery yang berumur 0 sampai 3 bulan dilkukan pemindahan dari bebybaq ke polybaq yang besar, pada proses pemindahan ke polybaq besar yang berisi tanah tobsoil tanah di lubangi dengan mengunakan alat bor, sedangkan kecambah pembibitan sendiri mengunakan hasil persilangan Dura x Fesifera = Tenera seadangkan kecambah sendiri dipesan dari Sumatra Medan, Scofindo, Lonsum dan Marihat.

(14)

a. Tujuan

Untuk memelihara bibit secara intensif sehingga pertumbuhannya sehat dan seragam serta mendapatkan jaminan akan hasil atau produksi yang tinggi.

b. Dasar teori

Pembibitan awal (Pre Nursery) merupakan proses

menumbuhkan kecambah menjadi bibit yang nantinya menjadi tanaman kelapa sawit dengan dilakukan pemeliharaan dari umur 0-3 bulan di areal pembibitan awal ini

c. Alat dan bahan

Alat : cangkul, polybag ukuran 17 cm x 22 cm.

Bahan : lahan, kecambah, tanah top soil.

d. Prosedur kerja

1) Siapkan alat dan bahan yang digunakan.

2) Tentukan lokasi kegiatan dan tanah tempat dudukan babybag. ditiggikan dan diberi penyangga agar tidak mudah rebah dan tidak terkena banjir.

3) Tanah diayak dan dibersihkan dari sisa kayu-kayuan, perakaran dan sampah.

4) Isi polybag dengan tanah top soil (tanah lapisan atas).

5) Susun barisan polybag yang terdiri dari 4 polybag perbaris dengan jarak 7,5 - 80 cm.

6) Siram selama 1 minggu dan jika perlu tanah ditambah lagi berkisar 2 cm di bawah permukaan polybag.

(15)

e. Hasil yang dicapai

Lokasi blok 1,2 m x 10 m dapat menampung 1.200 polybag. Norma kerja 340 polybag per Hk dalam 1 hari dapat menyelesaikan 30.000 polybag dikerjakan 9 orang.

2. Pembibitan Utama ( Main nusery )

Pada pembibitan utama (main nusery) pembibitan yang berumur 10 sampai 12 bulan, merupakan tahapan selanjutnya dari pembibitan pre nursery

a. Tujuan

Untuk melakukan seleksi bibit sehingga bibit yang ditanam di lapangan hanya bibit yang normal.

b. Dasar teori

Pembibitan Utama (Main Nursery) merupakan proses pembibitan yang diperoleh dari pembibitan awal (Pre Nursery) setelah diseleksi dengan umur maksimum 10-12 bulan sebelum tanam

c. Alat dan bahan

Alat : skop plastik, ayakan, parang, cangkul, polybag ukuran 40 x

50 cm.

Bahan : tanah top soil.

d. Prosedur kerja

(16)

2) Siram selama 1 minggu dengan jumlah 2 liter / harinya dan jika perlu tanah ditambah lagi berkisar 2 cm di bawah permukaan

polybag.

3) Isi polybag dengan tanah yang telah di ayak (mengandung pasir cukup) kira – kira 1-2 cm dari bibir atas polybag.

4) Bibit per petak 100 bibit, dengan jumlah baris 5 (lima) dan tiap baris berisi 20 bibit atau disesuuaikan dengan keadaan lapangan.

e. Hasil yang diharapkan

Setiap polybag memiliki ukuran lebar 40 cm, tinggi 50 cm, tebal 0,2 mm, dengan 60 – 80 lubang, warna hitam mengkilat tahan selama 1 tahun di main nusery. Dalam 1 hari dapat menyelesaikan 125 polybag per Hk untuk 1 orang pekerja.

3. Penyiraman a. Tujuan

Untuk menjaga kelembaban pada media, memudahkan pergerakan akar hingga pertumbuhan bibit lebih optimal serta mempermudahkan penyerapan unsur hara dan untuk mendinginkan tubuh tanaman.

b. Dasar teori

Menurut Setyamidjaja (2003), penyiraman dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari mulai dari pukul 6.ºº - 10.ºº pagi dan sore 15.ºº-18.ºº sore. Kebutuhan air untuk penyiraman kurang lebih 2 liter/polybag/hari. Setiap bibit membutuhkan sejumlah air dalam pertumbuhannya yang terus meningkat seiring dengan pertambahan umur. Air merupakan kebutuhan utama dalam pembibitan karena sangat

(17)

dibutuhkan dalam proses fisiologis. Penyiraman yang kurang akan mengakibatkan kelainan bahkan dapat menimbulkan kematian pada tanaman. Rata-rata kebutuhan air di pembibitan setara dengan curah hujan 3,4 mm/hari. Untuk umur 3-6 bulan 2 liter/pokok/hari dan 6-12 bulan 3 liter/pokok/hari, dengan rata-rata kebutuhan air 2,5 liter per pokok per hari. Jika hujan lebih dari 10 mm penyiraman boleh tidak dilakukan.

c. Alat dan bahan

Alat : pompa air, sprinkler

Bahan : Kolam sumber air

d. Prosedur kerja

1) Siapkan alat dan bahan yang digunakan. 2) Penyiraman dilakukan 2 kali sehari.

3) Penyiraman pertama pada pagi hari yang dilakukan dari jam 06 – 10.00 sampai jam 10.

4) Penyiraman kedua pada sore hari yang dilakukan dari jam 3 sampai jam 15.00 - 18.00.

e. Hasil yang dicapai

Dari hasil penyiraman, diharapkan pertumbuhan bibit lebih optimal dan kelembaban pada polybag seimbang untuk masa pertumbuhan yang lebih lanjut. Untuk norma kerja ± 200.000 polybag per Hk untuk 1 orang pekerja.

(18)

4. Pengendalian Gulma

a. Tujuan

Untuk membersihkan gulma yang tumbuh pada polybag yang dapat menghambat pertumbuhan akibat persaingan baik hara maupun sinar matahari antara bibit dengan gulma sehingga pertumbuhan bibit lebih optimal.

b. Dasar Teori

Menurut Nasution (1986), pada umumnya gulma yang tumbuh dalam polybag sangat mengganggu pertumbuhan bibit karena gulma mudah melakukan regenerasi sehingga unggul dalam persaingan dengan tanaman budidaya. Kehadiran gulma dalam perkebunan kelapa sawit tidak dikehendaki karena dapat mengakibatkan:

1) Menurunkan produksi akibat bersaing dalam pengambilan unsur hara, air, sinar matahari, dan ruang hidup.

2) Menurunkan mutu produksi akibat terkontaminasi oleh bagian-bagian gulma.

3) Secara umum kehadiran gulma akan meningkatkan biaya usaha tani karena adanya penambahan kegiatan di tanaman.

c. Alat dan bahan

Alat : parang dan karung.

Bahan : gulma, bibit kelapa sawit.

d. Prosedur kerja

1) Siapkan alat dan bahan yang digunakan. 2) Mencabut gulma yang ada dalam polybag.

(19)

3) Memangkas atau mendongkel gulma yang ada di luar polybag. 4) Mengumpulkan gulma dalam karung.

5) Membuang gulma keluar dari areal pembibitan atau bedengan.

e. Hasil yang dicapai

Pengendalian gulma secara manual norma kerja 1.000 pokok per Hk dengan jumlah pekerja 8 orang.

5. Pemupukan a. Tujuan

Untuk meningkatkan kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi bibit menjadi relatif stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Pupuk juga menggantikan unsur hara yang hilang karena pencucian maupun penguapan.

b. Dasar Teori.

Menurut Pahan (2008), pemberian pupuk majemuk dan urea dalam bentuk larutan dilakukan setelah semai berumur 1 bulan dengan interval waktu setiap minggu. Bibit kelapa sawit memberikan respon yang sangat baik terhadap campuran unsur NPK. Aplikasi pupuk NPK yang efektif dan efisien terutama diberikan dalam dosis rendah secara kontinyu. Dengan sistem penyiraman dan curah hujan yang cukup tinggi, sebagian unsur hara (pupuk) yang diberikan akan tercuci dan hilang.

c. Alat dan bahan

Alat : ember, takaran.

(20)

d. Prosedur kerja

1) Siapkan alat dan bahan yang digunakan.

2) Sebelum diberi pupuk tanaman disiram terlebih dahulu.

3) Pemberian pupuk 3 gram NPK 15:15:6:4 untuk bibit berumur 4-7 minggu.

4) Pemberian pupuk 15 gram NPK 12:12:17:2 per polybag untuk bibit berumur ± 5 bulan.

5) Setelah pemupukan selesai dilakukan penyiraman kembali agar daun tidak terbakar serta mencegah penguapan.

e. Hasil yang dicapai

Untuk polybag kecil norma kerja 1.000 pokok per Hk, dengan jumlah tenaga kerja 20 orang sehingga dalam sehari dapat menyelesaikan sebanyak 20.000 pokok sedangkan untuk polybag besar norma kerja 2.500 pokok per Hk, dengan jumlah tenaga kerja 20 orang dapat menyelesaikan sebanyak 50.000 pokok. Dengan melakukan pemupukan sangat diharapkan pertumbuhan bibit lebih optimal dan bebas dari serangan penyakit.

6. Seleksi Bibit (Thinning 0ut)

a. Tujuan

Menghindari terangkutnya bibit abnormal ke tahap selanjutnya sehingga bibit yang ditanam dilapangan hanya bibit yang normal saja. Bibit yang abnormal bila terus dipelihara maka tidak akan menghasilkan keuntungan bahkan kerugian di kemudian hari maka dari itu perlu di

(21)

b. Dasar teori

Seleksi bibit (thinning out) merupakan proses pemilihan bibit yang afkir atau abnormal untuk dikumpulkan dan dimusnahkan sehingga hanya bibit yang normal sajalah yang dipertahankan. Seleksi bibit minimal dilakukan 2 kali yakni saat dari pre-nursery ke main-nursery dan juga ketika bibit berumur 9 bulan atau saat hendak ditanam di lapangan. Bibit-bibit yang disingkirkan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Bentuk badan (Habitus) tidak normal, erect atau kaku, pelepah muda lebih pendek daripada pelepah tua, tinggi bibit di bawah rata-rata, dan daun tidak mau membuka.

2) Daun tidak normal seperti anak daun sempit bergulung, anak daun tidak membuka, anak daun pendek dan lebar, anak daun sangat rapat, dan anak daun sangat jarang (Anonim, 2008).

c. Alat dan bahan

Alat : parang, kayu.

Bahan : bibit sawit umur 6 bulan.

d. Prosedur kerja

Seleksi dilakukan pada bibit berumur 6 bulan dimulai dari pojok per bedengan apabila terlihat gejala atau ciri-ciri bibit yang abnormal maka harus ditebas (culling).

e. Hasil yang dicapai

Seleksi bibit dikerjakan oleh tim riset yang khusus menangani masalah bibit dan dibantu oleh mandor lapangan beserta karyawan yang berjumlah 4 orang, norma kerja 10.000 pokok per Hk. Beberapa bibit yang didapat abnormal adalah : tumbuh tegak (Sterille erect), anak

(22)

daun tersusun rapat (short internode), dan permukaan tajuk rata (flat

tof).

B. Persiapan Lapangan Untuk Menanam Kelapa Sawit

Tahapan persiapan lapangan untuk menanam kelapa sawit antara lain:

1. Membuat batas blok (blocking).

2. Membuat jalan antar AFD 1 – AFD 9 dengan mengunakan gleder.

3. Pembersihan lahan (Land clearing)yang tahapannya terdiri dari imas, tumbang, dan rencek.

4. Perun

5. Konservasi tanah dan air

6. Menanam tanaman penutup tanah.

Adapun tahapan pekerjaan diatas yang telah diikuti oleh mahasiswa selama PKL adalah sebagai berikut :

1. Pembuatan Jalan

Dalam perkebunan kelapa sawit jalan merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang semua aktifitas kebun. Tanpa adanya sarana jalan yang memadai maka aktifitas kebun dapat terganggu yang akhirnya akan berdampak pada kurang maksimalnya produksi buah maupun tranportasi buah ke Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit.

a. Tujuan

Tujuan utama dari pembuatan jalan adalah untuk memperlancar transportasi buah sawit dari kebun menuju pabrik pengolahan. Selain itu jalan juga sangat berperan dalam

(23)

memperlancar transportasi karyawan serta alat dan bahan yang diperlukan dalam kegiatan di dalam kebun.

b. Dasar Teori

Menurut Pahan (2008), pembuatan jalan dilakukan sebelum pekerjaan imas dan tumbang. Dengan adanya jalan, pada saat memulai pembukaan lahan, akan meningkatkan mutu pembukaan lahan itu sendiri. Perkebunan kelapa sawit menghasilkan produk dalam bentuk tandan buah segar (TBS) dan untuk mengangkutnya ke pabrik pengolahan diperlukan jalan yang dapat memenuhi beberapa persyaratan dan manfaat.

c. Pembahasan

Pembuatan jalan dilakukan pada saat awal pembukaan lahan karena jalan tersebut dibutuhkan untuk mempercepat pelaksanaan pekerjaan dan memudahkan kontrol pekerjaan di lapangan. Namun pada kenyataannya pembuatan jalan di lahan plasma Bukit Permata Estate dilakukan sekaligus pada saat perun. Hal ini dilakukan karena keterbatasan alat berat yang ada dan mengejar target penanaman. Meskipun tidak sesuai teori yang ada proses pembuatan jalan yang dilaksanakan bersamaan dengan perun ini berjalan dengan baik.

2. Perun

Perun adalah proses pembersihan lahan dari tegakan tumbuhan berdiameter = 10 cm dan kayu – kayu eks tumbangan menggunakan alat berat.

a. Tujuan

Membersihkan areal yang akan ditanami kelapa sawit dari kayu

(24)

b. Dasar Teori

Menurut Pahan (2008), dalam sistem pembukaan lahan tanpa proses bakar, setelah penumbangan langsung dilakukan proses perun secara mekanis dengan bulldozer atau excavator.

c. Pembahasan

Pembuatan jalan dilakukan pada saat awal pembukaan lahan karena jalan tersebut dibutuhkan untuk mempercepat pelaksanaan pekerjaan dan memudahkan kontrol pekerjaan di lapangan.

3. Menanam LCC (Leguminosae Cover Crop)

Menanam tanaman penutup tanah yang berupa tanaman kacang - kacangandi perkebunan kelapa sawit adalah salah satutahapan pekerjaan yang penting. Membangun tanamanpenutup tanah bertujuan supaya gawangantanaman kelapa sawit dapat ditutupi dengankacangan untuk menggantikan seluruh vegetasialam yang sudah dibersihkan sewaktu pembukaanlahan.Apabila tanaman kacangan dirawat secaraserius diharapkan dalam jangka waktu 3 – 4 bulankacangan dapat menutup seluruh areal dan bebasdari semua gulma(Anonim,

2010). a. Tujuan

Tujuan dari penanaman LCC ini adalah untuk menekan pertumbuhan gulma, sehingga dapat menghemat biaya pengendalian gulma, meningkatkan kandungan bahan organik tanah, memperbaiki kondisi fisik tanah yaitu aerasi dan menjaga kelembaban tanah, serta mencegah dan mengurangi erosi permukaan tanah.

(25)

b. Dasar Teori

Menurut Pahan (2006), Penanaman tanaman penutup tanah baik yang dilakukan sebelum maupun sesudah bibit ditanam, merupakan usaha yang sangat dianjurkan di perkebunan kelapa sawit. Jenis tanaman penutup tanah biasanya dipilih dari jenis kacang-kacangan. Jenis tanaman penutup tanah yang biasa ditanam di kebun kelapa sawit adalah Calopogonium mucunoides (CM),

Pruraria javanica (PJ), Centrocema pubescent (CP), Calopogonium caeralium (CC), Mucuna bracteata (MB) dan Pureira Triloba(PT).

c. Pembahasan

Penanaman tanaman penutup tanah di PTP. Nusantara XIII (Persero) dilakukan setelah tanaman sawit ditanam di lapangan dan telah berumur 1 tahun. Penanaman dilakukan dengan sistem larikan. Teknis penanaman telah sesuai dengan standar perusahaan. Hanya saja waktu penanaman terlambat. Seharusnya penanaman dilaksanakan pada awal pembukaan lahan.

Menurut Pahan (2008), kebijakan untuk membangun tanaman penutup tanah sebaiknya dilakukan sejak awal penanaman kelapa sawit karena dapat meningkatkan kadar humus, juga akan mempercepat proses peningkatan kesuburan tanah.

C. Perawatan Tanaman

1. Perawatan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)

Menurut Fauzi (2002),perawatan tanaman merupakan salah satu tindakan yang sangat penting dan menentukan masa produktif tanaman.

(26)

Perawatan bukan hanya ditujukan terhadap tanaman, tetapi juga pada media tumbuh (tanah). Walaupun tanaman dirawat dengan baik, tetapi perawatan tanah diabaikan maka tidak akan banyak member manfaat.

Menurut Pahan (2008), yang dimaksud tanaman belum menghasilkan (TBM) adalah mulai penanaman sampai tanaman berumur 36 bulan. Kegiatan dari pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) yaitu garuk piringan pokok, pengendalian gulma di gawangan, membuat dan memelihara pasar kontrol, membuat dan memelihara pasar pikul, wiping lalang, kastrasi, tunas pasir,konsolidasi pokok, inventarisasi pokok dan penyisipan.

Tujuan utama dari perawatan tanaman belum menghasilkan (TBM) diantaranya adalah mendorong pertumbuhan vegetatif, menjamin tanaman yang homogen, menjamin kebersihan blok dan mempercepat fase tanaman menghasilkan (TM).

a. Pengendalian Ilalang dengan Cara Kimia

Ilalang merupakan gulma pesaing utama,menekan pertumbuhan dan dapat menurunkanproduksi sampai 20 %. Ilalang mengeluarkan zatallelopati yang menjadi racun bagi tanaman. Hidupberumpun yang padat populasi (450 batang/m)sehingga menciptakan sheet dan dapat tumbuhpada setiap jenis tanah. Berkembang biak denganbiji yang dengan mudah diterbangkan angin dandari akar rimpang atau rhizome yang sangat pesatperkembangannya. Dalam waktu 75 hari dapatmenghasilkan

(27)

permukaan laut.Pemberantasan dilapangan dilakukan dengan cara chemis (Anonim, 2010).

Selain karena menghasilkan zat alelopati, ilalang harus dihentikan perkembang biakannya karena sangat bersaing dalam penyerapan hara dan air, berperan dalam menyulut kebakaran, dan tidak memberi kontribusi apapun bagi tanaman sawit.

a. Tujuan

Tujuan dari pengendalian ilalang ini adalah untuk menekan populasinya hingga pada tingkat yang tidak merugikan bagi tanaman sawit

b. Dasar Teori

Menurut Pahan (2008), ilalang adalah gulma yang sangat berbahaya dan mutlak harus dikendalikan. Pengendalian ilalang mendapat perhatian serius karena gulma ini sangat merugikan dan gampang berkembang biak secara cepat.

c. Pembahasan

Pemberantasan ilalang dengan menggunakan bahan kimia memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan secara manual. Pengendalian gulma secara kimia juga memerlukan biaya dan tenaga kerja yang cenderung lebih rendah dibanding secara manual.

2. Perawatan Tanaman Menghasilkan (TM)

Karena tanaman telah menghasilkan makapemeliharaan TM lebih difokuskan kepada produksi dengan harapan agar panen dapatberjalan

(28)

dengan baik dilapangan.Pekerjaan-pekerjaan pada masa TM ini hampirsama saja dengan masa TBM.

a. Pemupukan

Salah satu tindakan perawatan tanaman yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemupukan. Pupuk dapat menambah ketersediaan unsur hara di dalam tanah yang sangat diperlukan oleh tanaman. Kekurangan unsur hara bagi tanaman akan menyebabkan produksi menurun bahkan kematian.

a. Tujuan

Memberikan nutrisi yang dibutuhkan tanaman sesuai dengan rekomendasi perusahaan atau badan riset yang telah dipercaya oleh perusahaan.

b. Dasar Teori

Menurut Setyamidjaja (1991), Pemupukan memberikan kontribusi yang sangat luas dalam meningkatkan produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Salah satu efek pemupukan yang sangat bermanfaat yaitu meningkatnya kesuburan tanah yang menyebabkan tingkat produksi tanaman menjadi relatif stabil serta meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit serta pengaruh iklim yang tidak menguntungkan.

Menurut Mangoensoekarjo (2008), salah satu tindakan yang sangat penting dalam teknis budidaya kelapa sawit adalah pmupukan. Tujuan dari pemupukan adalah menambah ketersediaan unsure hara di dalam tanah agar tanaman dapat

(29)

menyerapnya sesuai kebutuhan. Pumupukan harus dilakukan secara teratur menurut bagan pemupukan, sedangkan bagan pemupukan dibuat berdasarkan hasil analisis tanah maupun analisis daun.

Pelaksananan pemupukan akan mencapai sasaran apabila dilakukan dengan prinsip 5T yaitu : Tepat jenis (sesuai kebutuhan), tepat dosis (sesuai rekomendasi), tepat waktu (kisaran curah hujan 100-200 ml/bulan), tepat cara dengan penebaran merata melingkari piringan ± 30 cm dari tajuk tanaman serta terpupuk tuntas dan tepat tempat yaitu di piringan

(Anonim, 2010). c. Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan dalam kegiatan pemupukan adalah

Truck dum dyna, pupuk NPK kujang, tas gendong, mangkok takar.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah pupuk majemuk NPK kujang 16 - 12 – 21 – TE.

d. Prosedur Kerja

a) Pupuk majemuk NPK kujang - karung dilangsir ke kebun menggunakan dum truck dyna dan diletakan di tepi blok. b) Tim ecer mengecer pupuk masuk kedalam blok. Berat pupuk

per karung adalah 50 kg. Satu karung pupuk diaplikasikan pada 4 pokok tanaman.

c) Tukang tabur mengambi pupuk dari karung kecil kemudian dimasukan kedalam tas gendong.

(30)

d) Pupuk ditabur menggunakan takaran yang telah disesuaikan. Penaburan dilakukan dengan menaburkan pupuk mengelilingi pokok sawit di dalam piringan (Lampiran 5, Gambar 10).

e. Hasil Yang Dicapai

Dari hasil pengamatan di lapangan dapat diperoleh hasil bahwa prestasi kerja untuk tenaga pemupukan adalah 300 kg/HK.

f. Pembahasan

Penebaran pupuk merata mengelilingi piringan pokok kelapa sawit mengunakan mangkok tabur yang sudah dikalibrasi sesuai dengan dosis yang direkomendasikan untuk TM dan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman berdasarkan usia tanam. Rekomendasi pemupukan diperoleh dari hasil sensus Leaf

Sampling Unit (LSU)yang selanjutnya diuji di badan riset yang

telah dipercaya oleh perusahaan.

D. Sensus Pokok

Perkebunan kelapa sawit merupakan sebuah usaha dengan investasi jangka panjang, karena itu data tentang keadaan lapangan yang sesungguhnya sangat diperlukan untuk dapat memprediksikan seberapa besar biaya yang akan diperlukan pada nantinya. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang keadaan kebun maka perlu dilakukan pendataan sejak dini. Sensus pokok merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendata keadaan tanaman di lapangan agar produksi per hektarnya dapat selalu dipantau dengan baik.

(31)

a. Tujuan

Tujuan dari sensus pokok adalah untuk mendapatkan data yang lengkap tentang keadaan sebenarnya di lapangan yang berhubungan dengan produktifitas tanaman agar diperoleh hasil akhir yang maksimal.

b. Dasar teori

Sensus pokok yang dilakukan secara teliti danteratur dapat memberikan gambaran mengenai keadaan blok yang sebenarnya. Manfaat hasil sensus adalah kemudahan mengelolakebun, antara lain:Mengetahui jumlah pokok (termasuk keperluanpokok sisipan), pokok sakit/abnormal, data parit,data sarana fisik (jalan, jembatan, titi panen,dll), pekerjaan pemupukan, sertapengendalian hama dan penyakit.Data pokok normal dan abnormal yang didapatkan lebih awal akan sangat bermanfaat untuk menyusun program penyisipan, sehingga didapat produksi per ha yang maksimal(Anonim,2010).

c. Alat

Alat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah alat tulis dan lembar format sensus .

d. Prosedur kerja

a) Petugas sensus berjalan di pasar rintis dan arah berjalan menurut arah barisan dimulai dari arah barat selatan.

b) Dalam sekali jalan penyensus dapat melakukan sensus terhadap 2 baris.

c) Selain melakukan sensus pokok,petugas juga dapat melakukan sensus terhadap sungai, parit, dan lain-lain.

(32)

d) Untuk TBM dilakukan 2 rotasi sensus per tahun, sedangkan untuk TM dilakukan 1 rotasi sensus per tahun.

e. Hasil Yang Dicapai

Standar prestasi kerja di PTP. Nusantara XIII (Persero) untuk kegiatan sensus pokok adalah 0,2 HK/ha.

b. Pembahasan

Dari kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa dengan frekuensi kerja 2 hari dapat diperoleh hasil 2 ha/HK. Kondisi topografi yang berbukit serta gulma yang terlalu tinggi membuat jalan penyensus menjadi lambat. Banyaknya parit alam juga menjadikan banyak areal yang tidak bisa ditanami dan barisan menjadi sedikit bergeser sehingga terkadang membiaskan pandangan penyensus.

E. Penunasan

Penunasanmerupakan pekerjaan yangmengandung 2 aspek yang saling bertolak belakang, yakni mengusahakan agar cabang yang masih produktif tetap dipertahankan, tetapi dilain pihak kadangkala harus dipotong untuk mempermudah pekerjaan potong buah dan memperkecil losses (brondolan tersangkut dicabang).

a. Tujuan

Adapun tujuan dari penunasan antara lain : Mempermudah pekerjaan potong buah, menghindari tersangkutnya brondolan pada ketiak cabang, memperlancar proses penyerbukan alami, mempermudah pengamatan buah matang pada saat potong buah, dan melakukan sanitasi.

(33)

b. Dasar Teori

Penunasan adalah kegiatan pemotongan pelepah daun dengan menggunakan dodos atau egrek, dengan rotasi 9 bulan sekali. Pada saat penunasan harus diusahakan sampai batas songgo 2 sehingga setelah penunasan pelepah daun masih tersisa 48- 56 pelepah untuk tanaman muda dan 40 – 48 untuk tanaman tua. Bekas tunasan harus dekat dengan pokok sawit(Pahan, 2008).

c. Alat Dan Bahan

Alat yang digunakan adalah dodos / egrek dengan diameter mata dodos 14 cm dan panjang gagang 1,5 – 2 m sedangkan egrek digunakan pada pohon kelapa sawit yang berumur 25 tahun yaitu menunas daun yang gondrong / yang tidak pernah di panen. Adapun bahan yang digunakan adalah pelepah sawit diluar pelepah produktif.

d. Prosedur Kerja

a) Pelepah dipotong rapat ke batang dengan bekas tebasan berbentuk tapak kuda.

b) Dua pelepah dibawah buah harus disisakan (songgo 2).

c) Pelepah disusun di gawangan mati, memanjang searah barisan pohon, saling tindih dan tidak berserakan. Diusahakan pangkal pelepah letaknya seragam (ke timur/barat).

d) Setiap 5 m dibuat pintu untuk jalan melintas antar gawangan.

e) Susunan pelepah baik di gawangan mati maupun diantara pokok dalam barisan harus berada diluar piringan.

(34)

e. Hasil Yang Dicapai

Dari hasil pengamatan di lapangan dapat diperoleh hasil bahwa prestasi kerja untuk tukang tunas adalah 35 pokok/HK.

f. Pembahasan

Kegiatan penunasan dilaksanakan pada TM dengan tahun tanam 1988 - 1996. Dengan mengikuti standar yang telah ditetapkan perusahaan, hasil yang dari kegiatan penunasan ini dapat sesuai dengan yang diaharapkan. Keadaan blok menjadi terlihat lebih bersih dan rapi sehingga dapat memberikan kemudahan bagi aktifitas dalam blok.

F. Pengerasan jalan

Pengerasan jalan dilakukan pada jalan yang kondisinya rusak dan dan tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan dengan tonase yang besar. Jalan dengan keadaan tanah yang gembur sangat menyulitkan pengoperasian alat transportasi kebun sehingga aktifitas kebun akan terganggu.

a. Tujuan

Memperbaiki tekstur atau kepadatan jalan agar tetap dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

b. Dasar Teori

Jalan yang telah ada harus dirawat sedemikian rupa sehingga keadaan jalan tetap dalam keadaan bersih dan dapat dilalui setiap saat. Keadaan lapisan permukaan jalan harus dipelihara untuk menjamin pengeringan air permukaan jalan. Peningkatan jalan terutama pengerasan, penimbunan dan pengupasan pada pendakian-pendakian, permukaan

(35)

jalan dapat juga dipadatkan dengan cangkang sawit, campuran pasir dengan batu (sirtu) danbatu(Anonim, 2010).

c. Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam pekerjaan ini antara lain: Road

grader, bulldozer, bomag (compactor). Bahan yang digunakan untuk

menimbun jalan adalah batu laterit.

d. Prosedur kerja

a) Badan jalan yang akan ditimbun (dikeraskan) diperbaiki ukurannya. Bila ada lumpur juga harus disingkirkan dari badan jalan.

b) Badan jalan kemudian dipadatkan dengan bomag.

c) Badan jalan yang telah dipadatkan ditimbun dan diratakan dengan batu laterit setebal 15 cm.

d) Batu yang diratakan kemudian dipadatkan kembali hingga benar-benar padat.

e) Bentuk jalan harus dipertahankan. Parit di tepi kanan dan kiri jalan juga harus tetap dijaga kedalamannya.

e. Hasil Yang Dicapai

Hasil kerja penimbunan dan pengerasan jalan sangat dipengaruhi oleh cuaca dan kelancaran transportasi truk batu timbun. Apabila cuaca dan transportasi mendukung dalam satu hari dapat menimbun sekitar 300 - 500 m badan jalan.

f. Pembahasan

Banyaknya blok yang telah berproduksi namun sarana jalannya kurang memadai menyebabkan banyak buah yang tidak bisa dikeluarkan dari dalam blok. Hal ini sangat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

(36)

Perbaikan jalan terutama pengerasan sangat mutlak dilakukan agar produksi kebun dapat dicapai secara lebih maksimal.

G. Pengendalian Ulat Api dan Ulat Kantong dengan Cara Injeksi

Ulat api dan ulat kantong menyerang tanaman kelapa sawit pada bagian daun. Kedua hama ini sangat merusak apabila serangannya telah berada diatas ambang ekonomi. Perkembang biakannya yang tergolong mudah membuat hama ini perlu mendapat penanganan yang serius. Untuk itu PTP. Nusantara XIII (Persero) mengambil kebijakan untuk melakukan pengendalian kedua hama ini dengan cara injeksi.

a. Tujuan

Menurunkan populasi hama ulat sampai pada tingkat yang tidak merugikan.

b. Dasar Teori

Serangan ulat api dan ulat dan ulat kantong (ulat pemakan daun kelapa sawit) telah banyak menimbulkan masalah yang berkepanjangan dengan terjadinya eksplosi dari waktu ke waktu. Hal ini menyebabkan kehilangan daun (defoliasi) tanaman yang berdampak langsung terhadap penurunan produksi. Kehilangan daun yang mencapai hampir 100% pada TM berdampak langsung terhadap penurunan produksi hingga 70% (1 kali serangan) dan 93% (terjadi serangan ulat pada tahun yang sama). Hal ini menerangkan betapa seriusnya dampak dari serangan ulat api yang tidak dapat dikendalikan (Pahan, 2008).

c. Pembahasan

Pada dasarnya pengendalian ulat api dapat dilakukan di luar tanaman (tidak melalui jaringan). Misalnya dengan penyemprotan ataupun foging.

(37)

Namun, karena serangan ulat api bersamaan dengan ulat kantong maka diambil kebijakan untuk penanggulangan secara injeksi karena ulat kantong dapat melindungi diri dari semprotan maupun foging dengan menggunakan kantong yang menyelimuti badannya.

H. Panen Dan Transportasi TBS

Kegiatan yang harus dilakukan agar panen dapat berjalan dengan baik antara lain :

1. Kegiatan sebelum panen yang terdiri dari : a. Pembuatan pasar pikul.

b. Pembuatan pasar tengah.

c. Pembuatan Tempat Pengumpulan Hasil (TPH).

d. Pembuatan Loading Ramp.

2. Panen

a. Potong buah b. Pengangkutan

Adapun kegiatan yang telah diikuti selama PKL antara lain :

1. Kegiatan Sebelum Panen a. Pembuatan Pasar Pikul

Untuk pelaksanaan operasional kebun diperlukan jalan yang berfungsi sebagai tempat lewat karyawan maupun sarana produksi dan hasil produksi. Pembuatan pasar pikul pada dasarnya bertujuan agar fungsi tersebut dapat dilakukan dengan tepat.

a. Tujuan

Mempermudah jalannya angkong dan pemanen untuk mengeluarkan buah dari dalam blok.

(38)

b. Dasar teori

Pasar Pikul adalah jalan setapak yangdibuat searah barisan tanaman memotong collectionroad atau jaringan jalan yang telah ada. Pasar pikul berfungsi untuk melayani 2 baris tanaman dalam pasarpikul dalam proses pekerjaan pemanen. Selain itu pasar pikul juga berfungsi untuk kontrol, memudahkan pemupukan, penyemprotan, sensus dan pekerjaan lainnya(Anonim, 2010).

c. Alat

Alat yang dipakai antara lain : cangkul, parang, dan sabit.

d. Prosedur kerja

a) Untuk lahan bukit dicari terlebih dahulu daerah yang terlihat datar dan mudah untuk jalan angkong.

b) Lebar pasar pikul adalah 1,2 m.

c) Pasar pikul dibuat tegak lurus dengan CR.

d) Areal pasar pikul harus bersih.

e) Apabila ada daerah yang berlubang maka diratakan dengan tanah menggunakan cangkul.

e. Hasil Yang Dicapai

Standar minimal yang harus dicapai seorang pekerja untuk mendapatkan upah 1 HK adalah 0,5 ha/HK.

f. Pembahasan

Pasar pikul sangat memberikan kontribusi yang sangat penting bagi kelancaran kegiatan di dalam blok. Jelas dapat dimengerti bahwa output hamper semua kegiatan akan rendah

(39)

apabila kondisi pasar pikulnya tidak memadai, apalagi tidak ada sama sekali.

2. Panen dan Pengangkutan a. Panen

Panen merupakan pekerjaanutama dipekerbunan kelapa sawit karena langsung menjadi sumber pemasukan uang bagi perusahaan melalui penjualan minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit. Oleh karena itu tugas utama personil dilapangan ialah mengambil buah dari pokok dan mengantarkannya kepabrik sebanyak-banyaknya dengan cara dan dalam waktu yang tepat. Cara yang tepat akanmempengaruhi kuantitas produksi (ekstraksi), sedangkan waktu yang tepat akan mempengaruhi kualitas produksi (asam lemak bebas).

b. Tujuan

Untuk memperoleh uang dari hasil penjualan tandan buah segar atau penjualan minyak kelapa sawit (MKS) dan inti kelapa sawit (IKS).

c. Dasar Teori

Menurut Fadli dkk (2006), panen adalah kegiatan berurut yang meliputi pemotongan tandan buah segar (TBS), pengutipan brondol, pemotongan dan penyusunan pelepah serta pengangkutan dan penyusunan tandan dan brondol ke tempat penumpukan hasil (TPH).

Untuk mencapai tujuan panen, kualitas dan kuantitas yang tinggi, maka pelaksanaan ketentuan panen mencakup sistem panen, rotasi panen, kreteria matang panen, persentase matang panen dan persentase brondolan serta pelaksanaan angkut dan pengolahan secepat mungkin (Sam’ani, 1995).

(40)

d. Alat Dan Bahan

Alat – alat yang digunakan dalam panen antara lain :egrek dan gagang egrek sepanjang 8 m, gancu, angkong, karung gendong dan karung brondol. Bahan yang dimaksud adalah objek panen yaitu tandan buah segar (TBS), brondolan dan pelepah kelapa sawit.

a. Prosedur Kerja

a) Pengorganisasian panen. Dalam satu organisasi panen terdiri dari 1 orang mandor panen, 1 orang krani panen, pemanen dan pengambil brondolan, kebutuhan tenaga panen dan pengambil brondolan dengan perbandingan 1:1.

b) Penentuan sistem panen. Sistem yang digunakan adalah sistem hancak giring.

c) Menentukan blok yang akan dipanen. d) Persiapan peralatan panen.

e) Pelaksanaan panen :

(1) Pemanen memasuki ancak pada blok yang akan dipanen berjalan pada baris tanaman sambil memperhatikan setiap pohon, mengamati jumlah brondolan pada piringan maupun tajuk tanaman karena terkadang brondolan terperangkap di pangkal pelepah.

(2) Jika pemanen menjumpai buah matang, pemanen memotong pelepah dengan menyisakan songgo 2 dan menyusunnya digawangan mati.

(3) Pemanen memotong buah matang atau buah yang berwarna merah (minimal brondol 5 - 7) menggunakan egrek.

(41)

(4) TBS dimasukan kedalam angkong dan dilangsir menuju tempat pengumpulan hasil (TPH). Brondolan yang berada di sekitar pokok sawit harus ikut terangkut hingga bersih. (5) TBS yang telah ada di TPH disusun 5 tandan perbaris

dengan tangkai menghadap kearah jalan. Tangkai buah yang terlalu panjang dipotong sampai rapat dengan buah. (6) TBS yang telah selesai disusun diberi tanda nomor

pemanen pada tangkaitandan TBS dan karung brondolan untuk memudahkan pengontrolan mandor dan krani panen.

b. Hasil Yang Dicapai

Untuk mencapai basis borong seorang pemanen harus dapat mengeluarkan tandan buah segar dari dalam blok sebanyak buah matang yang telah di panen.

c. Pembahasan

Selama pengawasan setiap hari pemanen berhasil menyelesaikan hancaknya masing-masing, dengan tandan buah yang diperoleh sesuai basis yang telah ditentukan.

I. Pengangkutan

Tanaman kelapa sawit merupakan salah satutanaman produksi yang tonase per hadan per tahunnya sangat tinggi. Oleh karena itu organisasi ataupekerjaan transportasi diperkebunan kelapa sawit adalah salah satu pekerjaan yang utama. Transportasi buah yang baik juga akan berpengaruh baik bagi output dari pekerjaan panen dan pengolahan di pabrik.

(42)

a. Tujuan

Kegiatan pengangkutan bertujuan untuk mengangkut sesegera mungkin tandan buah segar (TBS) beserta berondolanya untuk diolah di pabrik, sehingga diharapkan tidak terjadi restan buah.

b. Dasar Teori

Pengangkutan buah (TBS dan brondolan) dari lapangan ke pabrik harus segera dilakukan pada hari itu juga setelah buah dipanen. Operasi pengangkutan saling mendukung dengan operasi panen dan pengolahan, karena sifat pengoperasiannya merupakan 3 sub sistem induk yaitu Panen - Angkut - Olah (PAO). Buah yang sudah ada di TPH harus sesegera mungkin diangkut ke pabrik karena kalau buah sampai bermalam di kebun akan menyebabkan asam lemak bebas (ALB) meningkat dan kandungan rendemen minyak menurun (Sam’ani, 1995).

Menurut Pahan (2008), dalam pengelolaan kebun kelapa sawit, faktor transportasi harus mendapat perhatian khusus. Keterlambatan (restan) pengangkutan TBS ke PKS akan mempengaruhi proses pengolahan, kapasitas olah, dan mutu produk akhir.

c. Alat Dan Bahan

Alat – alat yang digunakan dalam pengangkutan buah antara lain :,dump

truck, dan tojok. Bahan yang dimaksud adalah objek yang akan diangkut yaitu

tandan buah yang telah berada di tempatpengumpulan hasil.

d. Prosedur kerja

a) Pencatatan jumlah TBS di setiap TPH berfungsi untuk keperluan pembuatan surat pengantar buah (SPB) dan pemesanan alat angkut (truk).

(43)

b) Persiapan alat angkut yang jumlahnya disesuaikan dengan hasil panen dalam satuan ton.

c) Pelangsiran buah menggunakan hartop 4 WD (wild drive) dilakukan hanya untuk blok yang tidak dapat dimasuki truk. Sedangkan blok yang jalannya dapat dimasuki oleh truk, buah dapat langsung dimuat d) Pemuatan buah ke truk

(1) Buah dimuat menggunakan tojok kedalam truk dan dicatat jumlah janjang yang termuat dan yang afkir.

(2) Brondolan dimuat kedalam truk tanpa disertai karung dan dicatat kilogram brondolan yang dimuat kedalam truk.

(3) Setelah bak truk penuh diisi dengan buah dan brondolan, bak truk kemudian di susun berdasar kan saf.

(4) Setelah semua kegiatan diatas selesai, kerani panen membuatkan surat pengantar buah yang diberikan kepada operator truk, yang menyatakan bahwa buah siap diangkut ke pabrik kelapa sawit (PKS).

e. Hasil Yang Dicapai

Untuk mendapatkan upah 1 HK, dalam satu hari seorang operator dump

truck harus mengangkut buah dengan tonase minimal 5 - 7 ton.

f. Pembahasan

Untuk memaksimalkan transportasi buah dari kebun pemilihan alat transportasi yang tepat mutlak perlu diperhatikan. Hal ini erat kaitannya dengan biaya angkut dan infestasi jalan. Pengoperasian john deereyang berlebihan sangat berperan dalam mempercepat rusaknya badan jalan sehingga pengoperasiannya harus sangat diminimalisir.

(44)

J. pengolahan hasil.

1. Penerimaan dan Penimbangan TBS dipabrik a. Tujuan

1) Untuk mengetahui seluruh TBS yang diterima di pabrik.

2) Untuk mengetahui berapa ton / jumlah hasil CPO dan kernel. Untuk mengetahui jumlah CPO dan kernel yang akan dikirim keluar pabrik.

b. Dasar Teori

Sebelum diolah dalam pabrik kelapa sawit (PKS), tandan buah segar (TBS) yang berasal dari kebun pertama kali diterima di stasiun penerimaan buah untuk ditimbang di jembatan timbang untuk mengetahui jumlah berat TBS yang di terima oleh pabrik dan di tampung sementara di penampungan buah. (pardamean, 2008).

c. Alat dan Bahan

Alat: Jembatan timbang, dump truk dan slip timbangan Bahan : TBS

d. Prosedur Kerja

1) Pastikan permukaan Platform bersih, agar hasil penimbangan yang diperoleh adalah berat kelapa sawit murni.

2) Pastikan posisi truk dijembatan timbang telah sesuai.

3) Supir dan awak truk lainnya harus turun dan menjauh dari areal jembatan timbang.

4) Petugas jembatan timbang meminta Surat Pengantar Buah (SPB) dari supir dan memasukan data kekomputer. Supir dan awak truk lainnya dapat kembali kedalam truk dan mulai

(45)

membongkar muatan truk berupa buah kelapa sawit diareal penumpukan buah atau di stasiun Loading Ramp.

5) Supir truk diharapkan mengambil Tiket Timbangan pada petugas jembatan timbang sebelum keluar dari areal pabrik.

e. Hasil Yang Dicapai

Dengan adanya penimbangan dapat di ketahui jumlah TBS yang diterima pabrik sebelum di lakukan pengolahan

f. Pembahasan

Penerimaan dan penimbangan TBS sama dengan teori terlebih dahulu buah di timbang di jembatan timbangan.

2. Stasiun Loading Ramp a. Tujuan

1) Menerima TBS dari kebun.

2) Menyiapkan lori untuk pengisian buah

3) Untuk mengetahui kapasitas jumlah TBS yang masuk kedalam pabrik sebelum dilakukan sortasi.

4) Sebagai tempat penampungan TBS dan kontinuitas untuk pengolahan bisa terjaga.

b. Dasar Teori

TBS yang telah ditimbang di jembatan timbang selanjutnya dibongkar di loading ramp dengan menuang langsung dari truk

(46)

c. Alat dan bahan:

Alat: Pintu Hidrolic, transfer carriage, capstan, lori, rel, sekop, sapu, tojok dan gancu.

Bahan: TBS.

d. Prosedur Kerja

1) Pastikan sejumlah lori kosong sudah tersedia dan siap menerima TBS dari Hopper Loading Ramp.

2) Pengaturan dump truck TBS masuk ke pelataran Loading Ramp yang teratur sehingga arus kendaraan lancar.

3) Pastikan dump truck berada pada tempat (pintu-pintu) yang kosong di Loading Ramp.

4) Pengisian Lori harus dimulai dari pintu penerimaan No.1. 5) Lori harus diisi seoptimal mungkin (sesuai kapasitas lori)

e. Hasil kerja

Diperoleh TBS yang siap untuk direbus (tahap sterilizer.)

f. Pembahasan

TBS yang telah di timbang ditampung di tempat penampungan sama dengan teori menurut (Pahan, 2006).

3. Stasiun (Sterilizer) /Perebusan a. Tujuan

1) Menghentikan aktifitas Enzim Lifase yang terdapat dalam buah. 2) Memudahkan pelepasan brondolan dari tandan.

(47)

4) Mengurangi kadar air buah, hal ini menyebabkan mengalami dehidrasi sehingga saat diolah kernel mudah lepas dari cangkangnya.

b. Dasar Teori

Dalam proses perebusan, TBS dipanaskan dengan uap pada temperatur sekitar 135 c dan tekanan 2,0-2,8 kg/ cm2 selama 80-90 menit

( pahan, 2006). c. Alat dan Bahan

Alat : Lori, alat penarik (Capstan), jaringan rail (railtrack), Transfer

Carriage System , Sterelizer.

Bahan : Buah sawit yang telah dimasak, Steam (uap). d. Prosedur Kerja

1) TBS berada pada posisnya didalam perebusan 2) Tutup pintu rebusan dan kunci dengan kuat 3) Tutup valve pengaman, valve penbuangan uap

e. Hasil Yang Dicapai

Buah yang mudah dikupas dengan kadar air dan asam lemak yang rendah.

f. Perbandingan teori dengan praktek

Perebusan buah sama dengan teori yaitu menghentikan aktifitas

Enzim Lifase yang terdapat dalam buah, Memudahkan pelepasan

brondolan dari tandan dan Memudahkan proses pelumatan dan pengepressan buah.

(48)

4. Station Theressing a. Tujuan

Tujuanya adalah membantu proses pelepasan brodolan dari janjangan dan memisahkan antara brondolan dan janjangan.

b. Dasar teori

Menurut Sastrosayono (2006), mesin pelepas buah brerupa tromel yang memiliki garis tengah 180 cm dan panjang 3 – 4 meter. Dinding tromel terbuat dari besi bulat yang pemasanganya tidak terlalu rapat. Jarak antara besi dan besi dan lainya sekitar 5 cm. Buah yang telah direbus dituangkan ke dalam thresser untuk melepaskan buah kelapa sawit dari tandanya.

c. Alat dan bahan

Alat : Thresser dan perlengkapan safety Bahan : Buah sawit yang telah di rebus

d. Prosedur kerja

1). Buah yang telah direbus dimasukan kedalam Thresser, untuk melepaskan dan memisahkan antara brondolan dengan janjangan.

2). Brondolan yang telah lepas akan jatuh kebawah dan dibawa ke proses elanjutnya menggunakan Elevator

3). Janjangan yang telah kosong dibuang keluar menggunakan empty

bunch Conveyor, yang selanutnya akan di olah menjadi pupuk

(49)

e. Hasil kerja

Tenega kerja diperlukan dalam proses perebusan sebanyak 2 orang.

f. Pembahasan

Dalam proses Thresing, brondolan dan janjangan akan terpisah yaitu brondolan yang sudah lepas akan keluar melalui kisi – kisi threser menuju ke Station Press dengan bantuan Conveyor dan Elvator dibawah, sedangkan janjangan kosong dengan bantuan empty bunch

Conveyor dibwa ke tempat pembuangan janjangan kosong.

4. Station Pressing

a. Tujuan

Tujuanya adalah untuk menghancurkan daging buah dan memisahkan antara daging buah dengan biji.

b. Dasar teori

Menurut Ketaren (2008), buah yang telah terpisah dari tandannya dimasukan kedalam tangki penghancur. Sebagai pembantu dalam proses ini dipakai uap air panas dan hasil hancuranya disebut

jladren. Jladren dimasukan kedalam alat pengepres yang berbentuk

silinder tegak. Pengepresan dilakukan pada tekanan sebesar 200 – 300 Kg cm² dengan kecepatan penekanan 5 – 6 kali dalam satu menit.

Minyak sawit yang telah dihasilkan dari pengepresan dislurkan ke tangki penampungan untuk di olah lebih lanjut. Sedangkan ampas yang dikeluarkan dari ujung alat pres tersiri dari

(50)

gumpalan serat, serabut, daging buah, butiran biji, serta kotoran lainya. Biji – biji akan dipisahkan dari ampasnya dengan mesin sparator (Sastrosayono,2006).

c. Alat dan bahan

Alat : Digester, Screw Press, Crude Oil Guter. Bahan : Brondolan sawit

d. Prosedur kerja

1. Borondolan dari trheser akan dimsukan kedalam unit – unit digester (mesin pengaduk), untuk melepaskan daging buah dari nut, serta melepas sel – sel minyak dari daging buah dengan cara mencabik cabik dan mengaduk brondolan.

2. Kemudian buah yang telah hancur akan dimasukan kedalam mesin press untuk ditekan. Minyak yang dihasilkan akan mengalir melalui lobang Press cage sedangkan ampasnya akan keluar seiring dengan putaran Screw Press.

3. Minyak yang dihasilkan akan disalurkan ketempat lainya yaitu

Station Carification, dan nutnya (biji) Menuju ke station kernel.

e. Hasil kerja

Tenaga kerja yang diperlukan dalam proses perebusan sebanyak 1 orang.

f. Pembahasan

Pada proses station ini merupakan proses pemisahan minyak dari a,pas press (Press Cake). Peralatan utama dalam proses station Pressing adalah Digester dan Screw Press. Dimana pada digester tempratur yang digunakan 90 - 95º C dengan kebutuhan steam 6,6% dari jumlah umpan.

(51)

Pada saat pengepresan, buah yang telah diaduk dan dicabik dicamourkan dengan air panas sebanyak 19,29% dari jumlah massa yang akan di pres. Hasil presan adalah minyak kasar ±58% dan ampas presan ±41,9%.

5. Station Clarification

a. Tujuan

1) Untuk melakukan proses pemisahan dan penjernihan CPO yang di hasilkan dari presan.

2) Untuk melakukan proses penjernihan dari air dan lumpur.

b. Dasar teori

Menurut Sastrosayono (2006), cairan minyak yang keluar dari mesin pemeras, keadaanya masih belum murni karena masih tercampur dengan air dan kotoran lainya. Untuk memurnikanya perlu dilakukan proses klarifikasi yang berlangsung dari beberapa tahap yaitu :

1) Pemisahan pasir dan bahan padatan seperti erat 2) Pemisahan lumpur

3) Pemurnian minyak 4) Pengurangan kadar air

c. Alat dan bahan

Alat : Vibrating Screen, Crude Oil Tank (COT), Countinous

Settling Tank (CST), Sludge Tank, Sludge Separator, Oil Prifier, Vaccum Dryer.

Bahan : Minyak yang berasal dari tempat press.

d. Prosedur kerja

1) Minyak yang telah dihasilkan dari pengepresan akan di salurkan ke vibrating scren untuk menyaring minyak dari kotoran seperti

(52)

pasir, serat dan koptoran - kotoran lainya yang terikut, kemudian minyak akan ditampung sementara di COT sebelum ke CST. 2) Setelah minyak ditampung di COT, kemudian minyak di tampung

di CST untuk memisahkan minyak, Sludge dan pasir halus. Disini minyak dan sludge akan dipisahkan, dimna minyak akan disalurkan ke oil tank sedangkan sludgenya akan di salurkan ke

sludge tank.

3) Minyak yang ada pada oil tank akan di saring kembali dari kotoran yang terbawa, kemudian minyak akan disalurkan ke Oil

Prifer untuk mengurangi kadar air dan kotoran. Alat ini disebut Vaccum Dryer. Minyak yang telah murni akan di tampung di Stroge tank.

e. Hasil kerja

Tenaga kerja yang diperlukan dalam proses perebusan sebanyak 2 orang.

f. Pembahasan

Station klarifikasi adalah station untuk melakukan proses pemisahan dan penjernihan CPO yang dihsilkan dari pressan. CPO dari proses eksterasi masih mengandung sejumlah air, sludge dan lumpur. Untuk mendapatkan minyak CPO yang memiliki standart mutu yang ditentukan maka dilakukan penjernihan atau proses klarifikasi.

Pada dasarnya proses klarifikasi berlangsung dengan prinsip pengendapan berdasarkan berat jenis dan gaya centrifugal. Selama proses klarifikasi belangsung tempratur yang ideal untuk memudahkan

(53)

proses pemisahan adalah 90 – 100ºc tempratur yang rendah akan menyulitkan dalam proses pemisahan minyak dengan Sludge.

6. Station Kernellary a. Tujuan

1) Untuk memisahkan antara fiber dengan nut sehingga mengasilkan kernel

2) Untuk memisahkan cangkang dengan kernel 3) Untuk proses pembuatan Palm Kerenel oil (PKO)

b. Dasar teori

Menurut Sastrosayono (2006), ampas dari sisa pengepresan dimsaukan kedalam ketel, lalu ketel diputar pada sumbunya dengan kecepatan 15 putaran per menit. Dengan putaran ini, ampas dari sisa pengepresan dilemparkan ke dinding dan keluar melalui lubang – lubang, Sehingga yang tertinggal hanya biji – biji. Biji – biji tersebut akan keluar dari ketel dan di oleh ke proses selanjutnya.

c. Alat dan bahan

Alat : Craked Mixer, Riple Mill, Vibrator, Hydro Cyclone, polishing

Drum, Law TeneraDust Separation (LTDS), Krenel Dryer.

Bahan : Nut dan Kernel.

d. Prosedur kerja

1) Nut yang dihasilkan dari ampas press akan dibersihkan terlebih dahulu dari fiber. Kemudian nut akan dimasukan kedalam polishing drum untuk dilakukan pemisahan nut dengan kotoran yang telah terikut, selanjutnya nut dimsaukan kedalam nut silo untuk diperam.

(54)

2) Nut yang ada di nut silo akan di umpankan kedalam Riplle Mill untuk melakukan pemecahan nut, sehingga kerenel terpisah dari cangkangnya.

3) Nut yang telah pecah akan di salurkan ke Low Tenerra Dust

Sparation (LTDS) I dan II untuk dilakukan pemisahan antara

kerenel dengan cangkang. Dan dilanjutkan proses pemisahan di

Hydro Cyclone.

4) Kerenel yang dipisah dari cangkangnya akan dibawa ke kerenel silo untuk dilakukan pengeringan dab selanjutnya dimasukan kedalam kernen bin dan siap untuk di pasarkan.

e. Hasil kerja

Tenega kerja yang diperlukan dalam proses perebusan sebanyak 4 orang.

f. Pembahasan

Ada empat tahapan dalam operasional Station Kerenel yaitu: 1) Tahapan Pengkondisian Nut.

Pengkondisian nut bertujuan untuk melengkangkan atau melepaskan kerenel dari cangkang. Metode yang dilakukan adalah memasukan pansa kedalam inti kerenel dan hal ini akan melepaskan kerenel dari sekeliling cangkang.

2) Tahapan pemecahan Nut

Proses pemecahan nut dilakukan pada mesin pemecahan nut yaitu Ripple Mill. Hasil dari riplle mill ini adalah pemecahan nut sehingg kerenel terpisah dari cangkangnya. Pada Ripple mill ini

(55)

umpan diusahan harus konstan dan tidak berlebihan agar pemecahan terjadi secara sempurna dan tidak adanya losses.

3) Tahapan pemisahan antar kerenel dan shell

Pemisahan kerenel dan cangkang dilakukan pada LTDS I dan II dan dilanjutkan dengan proses pemisahan di Hydro Cyclone prinsip kerja dari LTDS ini dimana debu, cangkang ringan, fibre dan kerenel pecah terangkat keatas dan masuk kedalam Cyclone LTDS dan akhirnya masuk ke Shell bin untuk dijadikan bahan bakar Boiler. 4) Pengeringan kerenel

Proses pengeringan ini dilakukan pada kerenel silo / krenel dryer yang di lengkapi dengan saluran – saluran udara untuk melewatkan udara panas. Pabrik di PTP. Nusantara XIII (persero)

(56)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kegiatan praktek kerja lapang yang dilakukan disalah satu perusahaan perkebunan PTP. Nusantara XIII (Persero) dapat disimpulkan bahwa :

1. Pada pembibitan kelapa sawit dilakukan untuk mendapatkan bibit yang sehat, jagur, dan tepat salur sesuai kebutuhan melalui seleksi, memudahkan memelihara bibit dan pengawasan serta memper oleh bibit sebagai bahan tanaman dengan Quality Assurance.

2. Pada tahap persiapan lapangan untuk menanam kelapa sawit, pembuatan jalan seharusnya dilakukan setelah pekerjaan imas dan tumbang, sedangkan kenyataan di lapangan dilakukan sekaligus dengan pelaksanaan perun. Penanaman LCC seharusnya dilakukan setelah pembukaan lahan dan bukan setelah bibit ditanam di lapangan.

3. Pada perawatan TBM pada tahun 1996, pengendalian ilalang dilakukan dengan menggunakan herbisida merk Gliposat dengan konsentrasi 0,8 %. Pengendalian dengan cara ini terbukti dapat menurunkan tingkat populasi ilalang.

4. Pada perawatan TM, pemupukan tanaman menggunakan pupuk majemuk 16 - 12 - 21 + 1 TE. Pemilihan jenis dan dosis pupuk ditentukan oleh perusahaan pada setiap gawangan kelapa sawit di buat 8 lubang poket dengan jarak ½ meter . Selain pemupukan, TM juga perlu ditunas untuk mempermudah berbagai kegiatan di kebun seperti panen, pemupukan, dan pengamatan buah. Selain itu penunasan juga bertujuan untuk sanitasi.

(57)

5. Sensus pokok adalah merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mendata keadaan tanaman di lapangan agar produksi perhektarnya dapat di pantau dengan baik.

6. Tunas pemeliharaan adalah pekerjaan memotong pelepah daun dengan alat dodos atau egrek, pada saat penunasan harus di usahakan batas songgo dua, sehingga setelah ditunas jumlah pelepah daun masih tersisa 48 – 56 pelepah

7. Pengererasan jalan dilakukan pada jalan yang tekstur tanahnya mudah amblas pengerasan penimbunan dan pengupasan pada pendakian pendakian, pengersan jalan dilakukan pada jalan utama dan jalan masuk blok.

8. Pengendalian hama ulat api dan ulat kantong pada perawatan TM dilakukan menggunakan insektisida sistemik mek Manthene 75 SP dengan konsentrasi 40 %. Kegiatan ini dilakukan dengan sistem injeksi. Setiap pokok disuntik larutan sebanyak 20 cc. Pengendalian dengan cara ini terbukti dapat menurunkan intensitas serangan kedua hama tersebut. 9. Sebelum panen dilakukan diperlukan sarana jalan bagi pemanen untuk

mengeluarkan buah dari dalam blok. Sarana jalan ini disebut pasar pikul. Proses pembuatannya dilakukan dengan cara manual. Pembagian hancak panen dilakukan menggunakan hancak giring. Untuk mencapai basis borong, seorang pemanen harus dapat mengeluarkan buah dari dalam blok sebanyak buah yang telah matang. Pengangkutan buah dilakukan menggunakan Dump Truck Dyna. Sedangkan untuk blok yang keadaan jalannnya tidak dapat dilewati oleh truk maka pengangkutan dilakukan menggunakan Artco.

(58)

10. Penerimaan TBS di PKS (Pabrik kelapa sawit) adalah untuk mencapai keberhasilan pengelolaan di pabrik, prioritas utam adalah meningkatkan efisiensi ketel uap (boiler).

B. Saran

1. Pelatihan kedisiplinan sejak dini perlu diterapkan agar mahasiswa tidak kaget pada waktu PKL nantinya. Selain itu, kegiatan praktek di kampus seharusnya juga diterapkan sebagaimana mestinya paling tidak dapat dijadikan sebagai simulasi kegiatan di perusahaan.

2. Sebaiknya ada ikatan kerjasama antara Politeknik Peratanian Negeri Samarinda dengan perusahaan perkebunan khususnya sehingga dalam pelaksanaan praktek kerja lapang nantinya mahasiswa tidak mengalami kesulitan untuk mencari lokasi PKL.

Gambar

Gambar 1. Peta PT. TELEN Bukit Permata 1
Gambar 2. Peta PT. TELEN Bukit Permata 2
Gambar 3. Struktur organisasi perusahaan
Gambar 8 . Pencampuran herbisida Slash
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penulis juga menyarankan agar sebaiknya ada ikatan kerja sama antara kampus dengan instansi-instansi khususnya yang berkaitan dengan bidang perkebunan di tempat melaksanakan

Dikerjakan sistem borongan dengan upah perpolybag Rp 550.- dengan target pekerja 100 polybag perhari. Mahasiswa hanya diberi contoh cara pengisian dalam 1 blok dengan waktu

Dosis dan jadwal pemupukan sangat tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit di pembibitan utama (main nursery), sebaiknya pemupukan pada pagi hari. Pada umumnya

Dari kegiatan praktek kerja lapang yang dilakukan disalah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Dari kegiatan PKL ini Mahasiswa dapat belajar banyak dan secara

Pemupukan mekanis menggunakan alat (traktor) penebar pupuk untuk areal yang yang relatif ratadan di terapkan karena minmnya tenaga kerja dan meminimalisir pengluaran biaya.

mengganti tanaman kelapa sawit yang mati dengan tanaman yang baru dari pembibitan yang sudah disiapkan sebelumnya. Bibit yang digunakan sebaiknya memiliki umur dan jenis yang sama

2) Taksasi panen untuk menunjukan jumlah tenaga panen sesuai ketentuan buah matang, dan untuk menentukan jumlah unit/truk yang akan mengirim Tandan Buah Segar (TBS) ke Pabrik Kelapa

Pengisian air ke dalam sprayer kemudian dilanjutkan dengan pengisian herbesida Trendy 2 gr dan Supretox 80 cc dengan menggunakan botol takaran kemudian diaduk