LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG
BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT. SUKSES TANI
NUSASUBURDESA LABANGKAKECAMATAN BABULU
KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA
KALIMANTAN TIMUR
Oleh :
DWI KURNIAWAN
NIM. 110500052
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
HALAMAN PENGESAHAN
Judul :Laporan praktek kerja lapang (PKL)budidaya kelapa sawit di PT.Sukses Tani Nusasubur, Desa Labangka, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara. Kalimantan Timur
Nama : Dwi Kurniawan
NIM : 110500052
Program Studi : Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan : Manajemen Pertanian
Menyetujui,
Menyetujui/Mengesahkan,
Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Nur Hidayat, SP. M.Sc NIP. 19721025 200112 1 001 Pembimbing Jamaluddin, SP.M.Si NIP. 197206122001121003 Penguji I, Yuanita,SP.MP NIP. 19661125 200112 2 001 Penguji II, Sri ngapiyatun, SP. MP NIP.197708272001122002
KATA PENGANTAR
Segala Puji Dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT.Sukses Tani Nusa Subur selama dua bulan, berdasarkan hasil PKL
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Kedua Orang Tua yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik secara moril dan materi kepada penulis.
2. Bapak Ir.Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
3. Bapak Nurhidayat, SP, M.Sc selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan.
4. Bapak Jamaluddin, SP, M.Si selaku Dosen Pembimbing PKL.
5. Ibu Yuanita,SP,MP dan Ibu Sri Ngapiyatun,SP, MP selaku Dosen Penguji PKL.
6. Rekan-rekan mahasiswa yang telah banyak membantu dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan Praktek Kerja Lapang ini masih jauh dari kesempurnaan,untuk itu saran dan kritik yang bersipat membangun dan penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun pembaca.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAN ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
I. PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1
B. Tujuan kegiatan ... 2
C. Hasil Yang Diharapkan ... 2
II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN A. Tinjauan Umum Perusahaan ... 3
B. Manajemen Perusahaan ... 4
C. Lokasi Dan Waktu PKL ... 6
III. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG A. Perawatan tanaman menghasilkan ... 7
1. Pengendalian gulma ... 7 a. Rawat gawangan ... 7 1) Manual ... 8 2) Kimia ... 9 b. Rawat gawangan ... 11 1) Manual (DAK) ... 11 2) Kimia ... 13 c. Infus Epipit... 14 2. Penunasan (pruning) ... 17 3. Pemupukan ... 19 a. Manual ... 19 b. Mekanis ... 21
4. Pengendalian hama dan penyakit tanaman ... 23
a. Pembuatan TS da BS ... 23
b. Early Worning System (EWS) ... 25
B. Panen dan Pengangkutan ... 27
1. Sensus produksi ... 27
a. Manual ... 29 b. Mekanis ... 32 3. Pengangkutan ... 34 IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... B. Saran ... DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman 1. Struktur Organisasi PT.Sukses Tani Nusasubur... 40 2. Peta Afdeling Echo ... 41 3. Dokumentasi kegiatan PKL di PT.Suses Tani Nusasubur ... 42
1
I. PENDAHULUUAN
A. LatarBelakang
Kelapa sawit merupakan tanaman komoditas perkebunan yang cukup penting di Indonesia dan masih memiliki prospek pengembangan yang cukup cerah. Komoditas kelapa sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil olahanya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa non migas terbesar bagi Negara selain karet dan kopi (Sastrosayono, 2006).
Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang dapat diandalkan, karena minyak yang dihasilkan memiliki berbagai keunggulan dibandingkan minyak yang dihasilkan tanaman lain. Kelapa sawit di Indonesia dewasa ini merupakan komoditas primadona, luasnya terus berkembang. Saat ini perkebunan rakyat sudah berkembang pesat. Perkebunan kelapa sawit yang semula hanya di Sumatera Utara dan di daerah Istimewa Aceh saat ini sudah berkembang di berbagai provinsi, antara lain Sumatra Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Irian jaya, Jawa Barat, Kalimantan Berat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan khususnya kalimantan Timur yang sedang dalam tahap perluasaan daerah budidaya tanaman kelapa sawit(Sastrosayono, 2006).
Era pengembangan kelapa sawit di kalimantan timur dimulai pada tahun 1982 yang dirintis melalui proyek perkebunan inti rakyat (PIR) yang dikelola PTP VI. Pada tahun 2011 luas areal kelapa sawit baru mencapai 827,347 ha yang terdiri dari 164,952 ha sebagai tanaman plasma, 17,237 ha milik BUMN sebagai inti dan 654,158 ha milik perkebunan swasta. Produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 4.471,546 ton pada tahun 2011. Dari sejumlah
2
perkebunan swasta yang telah memperoleh ijin lokasi sementara ini telah beroprasi membangun kebun dalam skala yang luas baru sebanyak kurang lebih 330 prusahaan (Anonim, 2010).
Banyaknya perkebunan kelapa sawit mampu pula meciptakan kesempatan kerja yang luas namun diperlukan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan perkebunan. Sehubungan hal tersebut maka Politeknik Pertanian Negeri Samarinda mempunyai program Praktek Kerja lapang (PKL) keperkebunan dengan harapan agar para lulusannya mempunyai keterampilan yang bisa diandalkan untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan selama PKL di dunia kerja khususnya perkebunan nantinya.
B. TujuanPraktek
Tujuan dari kegiatan PKL adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kegiatan budidaya kelapa sawit yang ada di perkebunan.
2. Mahasiswa dapat memahami prosedur dan tata cara penggunaan alat-alat dan bahan yang digunakan di lapangan.
C. Hasil Yang Diharapkan
1. Menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang usaha perkebunan
kelapa sawit.
2. Mahasiswa dapat melaksanakan proses kegiatan yang ada di perkebunan khususnya tentang kegiatan-kegiatan budidaya kelapa sawit dengan baik.
3. Mahasiswa dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi nantinya
3
II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
A. Tinjauan Umum Perusahaan
PT. Sukses Tani Nusasubur, merupakan anak perusahaan perkebunan swasta yaitu PT. Astra Agro Lestari. Tbk (AAL) yang sendirinya merupakan salah satu badan usaha dari PT. Astra International.
Seiring dengan kemajuan era modern ini perusahan yang bergerak dibidang industri perkebunan kelapa sawit ini berdiri pada tahun 1990 yang bernama PT.Sukses Tani Nusasubur, kabupaten Panajam Paser Utara, provinsi Kalimantan Timur.memiliki ijin lokasi dengan luas 9000 Ha, dengan Hak Guna Usaha (HGU) seluas 7.936,92 Ha. Saat ini PT Sukse Tani Nusasubur memiliki area tanam seluas 5.079,55 dan mampu memproduksi kelapa sawit sekitar 18,55 ton/Ha.
PT. STN terbagi atas delapan afdeling yaitu : Afdeling Alpa (OA), Afdeling Bravo (OB), Afdeling Carlie (OC), Afedeling Echo (OE), Afdeling Delta (OD), Afdeling Fanta (OF), Afdeling Golf (OG) dan Afdeling India (OI) .Masing – masing afdeling memiliki luas wilayah dan topografi yang berbeda – beda. Salah satunya Afdeling Echo dengan luas areal 577,35 Ha danluas areal tanamnya di bagi menjadi 24 blok.
PT.STN dipimpin oleh seorang administratur dengan singkatan ADM. PT ini terbagi atas 2 rayon , setiap rayon terdiri atas empat afdeling masing-masing rayon memiliki kepala kebun yang bertanggung jawab penuh atas seluruh kegiatan yang terjadi di kebun tersebut dan kepala kebun memiliki kepala afdeling untuk membantu pekerjaan dilapangan.
4
Di PT STN saat ini sedang dibangun pabrik kelapa sawit yang ditargetkan beroprasi pada bulan September 2014, dan sekarang masih dalam proses pembangunan. Lokasi pembangunan pabrik berada di tengah kebun kelapa sawit yang tepatnya di afdeling echo.
B. Menejemen Kebun
Berikut peran beberapa tugas penting di dalam keorganisasian di kebun PT.STN antara lain :
1. Administratur Kebun
Estate manager bertindak sebagai pimpinan yang mengkoordinasikan seluruh kendali kegiatan di Kebun. Bertanggung jawab terhadap semua kegiatan pekerjaan dan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan di kebun atau unit yang dipimpinnya. Menentukan kebijakan dalam hal penggunaan dana dan anggaran kebun. 2. Kasie Administrasi
Kasie Administrasi (KTU) bertanggung jawab dan melaksanakan semua kegiatan yang berada di kantor kebun. KTU bertanggung jawab dalam pembukuan dan administrasi perkantoran di kebun yang bersangkutan.
3. Kepala kebun/ Asisten Kepala
Asisten kepala (Askep) membantu tugas estate manager dan bertanggung jawab terhadap rayon yang dipimpinnya, misal Askep mengambil salah satu divisi dibawah pengawasannya bersama Asisten divisi memeriksa pekerjaan yang telah diperiksa oleh Asisten dan apabila menggunakan bahan maka Askep dapat memproritaskan pemeriksaan terhadap cara kerja dan hasil kerja dari pemakaian dosis dengan benar.
5
Askep turut mendiskusikan hasil kerja di lapangan serta masalah yang dihadapi di lapangan untuk mencari jalan keluarnya. Askep menyampaikan pada Maneger semua kendala di lapangan serta alternatif penyelesaiaan masalah tersebut sehingga Manager dapat menetapkan kebijakannya.
4. Asisten Kebun/afdeling
Asisten kebun bertanggung jawab dan melaksanakan pencapaian target terhadap divisi yang dipimpinnya dalam melaksanakan semua kegiatan, baik secara teknis maupun administrasi, misalnya menerima laporan hasil kerja dari para mandor, kemudian membuat rencana kerja. 5. Mandor
Mandor memiliki pekerjaan utama mengawasi pekerjaan dan bertanggung jawab atas terlaksananya pekerjaan yang menjadi pengawasannya. Mandor terdiri dari Mandor 1, sebagai pembantu Asisten dalam hal supervisi dan pengorganisasian pekerjaan rutin dan Mandor lapangan yang bertanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang dilakukan beserta bahan yang digunakan.
6. Krani
Mencatat hasil setiap karyawan atau berhubungan dengan teknis administrasi laporan pekerjaan di afdeling setiap hari yang didapat dari para mandor.
7. Karyawan
Pekerjaan utama sebagai pelaksana langsung kegiatan di kebun. Adapun status karyawan Buruh Harian Lepas (BHL) dan Karyawan Tetap (HT). (struktur organisasi dapat dilihat pada lampiran 1)
6
C. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL
Kegiatan PKL dilaksanakan di PT. Sukses Tani Nusasubur. Desa : Labangka
Kecamatan : Babulu
Kabupaten : Penajam Paser Utara (PPU) Provinsi : Kalimantan Timur
Dilaksanakan mulai dari tanggal 03 Maret sampai dengan tanggal 09 Mei 2014.
7
III. HASIL PRAKTEK LAPANG
A. Perawatan Tanaman Menghasilan (TM)
Karena tanaman telah menghasilkan maka pemeliharaan TM lebih difokuskan kepada produksi dengan harapan agar panen dapatberjalan dengan baik dilapangan.Pekerjaan-pekerjaan pada masa TM tidak jauh berbeda dengan masa TBM.
Menurut Risza (1995), yang dimaksud dengan pemeliharaan tanaman menghasilkan adalah umur 3 tahun sampai umur 25 tahun. Dimana kegiatan pemeliharaan tanaman menghasilkan meliputi, garuk piringan, babat gawangan, dongkel anak kayu, waiping lalang,tunas pemeliharaan, pemeliharaan saluran air, pemeliharaan teras dan tangga-tangga panen, inventarisasi pokok dan penyisipan tanaman.
Sedangkan kegiatan-kegiatan yang saya temui dan pelajari dalam perawatan tanaman menghasilkan (TM) di PT.Sukses Tani Nusasubur
1. Pengendalian gulma a. Rawat piringaan
Menurutpahan (2008), Salah satu hal yang terpenting dalam perawatan adalah perawatan piringan, secara manual maupun kimia pekerjaan ini dilakukan denganrotasi 3-4 kali 1 tahun. hal ini perlu agar memudahkan dalam pemupukan, mengurangi perebutan unsur hara yang disebabkan oleh gulma, mengurangi timbulnya hama dan penyakit.
8
1) Secara manual a) Tujuan
Bertujuan untuk mempermudah aktivitas panen, pemupukan, penunasan dan pengawasan serta mengurangi kompetisi dengan gulma dalam penyerapan unsur hara, air dan cahaya matahari.
b) Dasar teori
Menurut Risza (1994), piringan pokok digaruk bersih dengan radius 2 M, pasar pikul dan terasan dibabat tandes selebar 1 M, dan pada areal rendahan yang becek, piringan pokok cukup dibabat mepet.
c) Alat dan bahan
Alat : cangkul dan penggaruk d) Prosedur kerja
(1) Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan
(2) Pekerja memasukai areal blok dan mendatangi pokok sawit dan medangir atau menggaruk gulma yang tumbuh di sekeliling pokok tanaman sawit hingga bersih (3) Lebar piringan yang digaruk dengan jarak radius 2 m
dari pokok sawit.
(4) Gulma hasil garukan dikumpulan dan dibuang di gawangan mati.
9
e) Hasil kerja
Untuk prestasi kerja yang di lakukan selama 7 jam kerja adalah 60 pokok/HK. Saat ini kegiatan circle manual di kerjakan secara borongan.
f) Pembahasan
Dari hasil pengamatanyang kami lakukan pembersihan piringan dengan cara manual ini lebih efektif karena pertumbuhan gulam rotasinya akan lebih lama dan kesuburan tanah tetap terjaga karena tidak terkena bahan kimia.
2) Secara kimiawi a) Tujuan
Untuk membebasan tumbuhan dari gulma sehingga mempermudah semua aktivitas panen, pemupukan, mengurangi persaingan unsur hara dan air dengan gulma. b) Dasa teori
Menurut Pahan (2008), piringan, pasar rintis (pasar panen), dan Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) merupakan beberapa sarana terpenting dari produksi dan perawatan. Piringan berfungsi sebagai tempat untuk menyebarkan pupuk. Selain itu, piringan juga merupakan daerah jatuhnya tandan buah dan brondolan.pasar rintis berfungsi sebagai jalan untuk mengangkut buah ke TPH. Sementara TPH berfungsi sebagai tempat pengumpulan hasil panen sebelum diangkut ke Pabrik Kelapa Sawit.
10
c) Alat dan Bahan
Alat : kep sprayer, timba air, dan takaran dosis Bahan : material round up,dan air
d) Prosedur Kerja
(1) mempersiapan dan pengecekan alat-alat yang akan digunakan.
(2) Menentukan blok yang akan akan dilakukan penyemprotan.
(3) Sebelum melakukan penyemprotan terlebih dahulu melakukan identifikasi gulma di blok yang akan disemprot.
(4) Proses penyemprotan : memasukan air kurang lebih 5 l ke dalam kep. Kemudian memasukan herbisida glyphosate jenis round up, dengan dosis 60 cc/keptambahkan air hingga batas 15 l
(5) Selanjutnya Pengaplikasian siap untuk dilakuan. e) HasilKerja
Dari kegiatan yang telah di lakukan dalam 1 orang karyawan/pekerja dapat melakukan penyemprotan sebanyak rata-rata 12 kep/Hk. Itu dapat di sesuaikan dengan kodisi di lapangan.
f) Pembahasan
Dari hasil pengamatan pegendalian gulma dengan menggunakan bahan aktif glyposate jenis herbicida round up dengan dosis 60 cc/keff dapat membunuh/mematikan
11
gulma tersebut hingga tuntas. Dengan catatan pengaplikasiannya tepat sasaran. (kegiatan dapat di lihat pada gambar 1).
b. RawatGawangan
Menurut Mangoensoekarjo (2003), di perkebunan kelapa sawit memang sering ditemui masalah gulma, baik dipiringan maupun di gawangan.
1) Dongkel AnakKayu (DAK) secara manual a) Tujuan
Perawatan yang dilakukan,bertujuan Mematikan gulma anak kayu yang tidak bisa mati dengan cara chemis. Gulma yang termasuk dalam kelompok DAK yaitu kayu-kayuan, mimosa, kerisan, mikania, pisangan, bambu.
b) Dasar teori
Semua tumbuhan yang berkayu, pakis gajah, pisangan dan keladi-keladian harus didongkel hingga akarnya keluar .Teknik pengendalian manual dilakukan dengan alat cados (cangkul kecil). Dengan alat ini, gulma dapat dibongkar hingga ke perakarannya. Dalam pengendalian manual tidak dibenarkan menggunakan parang babat. (Pahan, 2008) c) Alat
Alat : cangdos dan cangkul d) Prosedur kerja
(1) menentukan blok yang akan di lakukan wedding manual (2) kegiatan pendongkelan : mendongkel semua tumbuhan
12
gawangan, yang tinggi gulmanya mencapai kurang lebih 50 m
(3) di dongkel hingga akar keluar dan di kumpulan pada satu tempat atau gawangan mati
(4) di usahakan akar dan batang gulma tidak bersentuhan dengan tanah, agar cepat kering dan mati. e) Hasil kerja
Hasil kalibrasi yang kami lakukan, produksi 1 hk 29 pokok. Dengan luas yang diproduksi adalah 0,25 ha. Dilakukan selama 7 jam kerja dengan waktu istirahat 30-35 menit. Setiap 1 jam kerja mendapatkan kurang lebih 4,4-5 pokok. Dan tergantung dari ketebalan gulma digawangan. f) Pembahasan
Kegiatan perawatan gawangan yang dilakukan secara manual realisasi dilapangan denganStandar Oprasional Prosedur(SOP) di perusahaan yaitu dengan cara mendongkel anak kayu hingga tuntas keakarnya dan menghindari pembabatan agar pertumbuhan gulma akan lama .(kegiatan dapat di lihat pada gambar 2).
2) Kimia
Pengendalian gulma secara kimia pada gawangan. Gulma dikendalikan dengan menggunakan herbisida dengan kandungan bahan aktif paraquat yang bersifat kontak.
13
a) Tujuan
Mempermudah aktivitas pemupukan serta memudahkan dalam pemanenan buah. Adapun gulma sasarannya adalah cledemia, terongan, putri malu, keladi, resam dan juga anak sawit
b) Dasar teori
Menurut Anonim (2008), pada jalan rintis dan gawangan pengendalian gulma dilakuakan secara kimia menggunakan herbisida kontak atau sistemik sesuai dengan jenis gulma yang menjadi sasaran.
c) Alat dan bahan
Alat : keff sprayer, gelas ukur, timba air Bahan :herbisida sistemik (Ally), air d) Prosedur kerja
(1) Menyiapan dan alat-alat yang akan digunakan.
(2) Menentukan blok yang akan akan dilakukan penyemprotan.
(3) Melakukani dentifikasi gulma untuk menentukan jenis herbisida yang akan digunakan
(4) memasukan air kurang lebih 5 l ke dalam keff. Kemudian memasukan herbisida glyphosat jenis gramoxone dengan dosis 60 cc/keff. Selanjutnya tambahkan air hingga batas 15 l.
14
(5) Selanjutnya pengaplikasian siap untuk dilakukan, dengan cara penyemprotan di antara pokok tanama yaitu di gawangan .
e) Hasil kerja
Prestasi kerja karyawan Untuk pekerjaan rawat gawangan kimia normanya adalah 0,8 HK/ha. Realisasi di lapangan dari pengamatan yang saya lakukan 1 HK dapat mengerjakan 0,92 ha.
f) Pembahasan
Gulma yang paling dominan adalah harendong (Clidemia Hirta)dan resam. Untuk pengendalian harendong (Cledimia)lebih efektif jika menggunakan herbisida sistemik. Sedangkan untuk resam dikendalikan dengan menggunakan herbisida kontak. (kegiatan dapat di lihat pada gambar 3). c. Infus Epifit
Infus efipit adalah pengendalain gulma yang tumbuhnya menempel pada batang kelapa sawit dengan cara memotong bagian akar gulma tersebut dan melakukan penginfusan dengan cara membungkus akar gulma dengan herbisida
1) Tujuan
Bertujuan agar batang tanaman kelapa sawit terhindar dari gangguan gulma atau anak kayu. dan mengurangi terjadinya persaingan unsur hara dan air,sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik,serta memudahkan pemanen dalam proses memanen buah.
15
2) Dasar teori
Menurut Mangoensoekarjo (2003), gulma yang tumbuh sebagai efipit pada batang kelapa sawit dapat menyebabkan brondolan buah tertahan pada batang sawit yang kelak akan tumbuh menjadi anak sawit dan akan menjadi gulma..
3) Alat dan bahan
Alat : parang,botol,selang, gunting,sarung tangan. Bahan : round up dan air, plastik es, tali rafia. 4) Prosedur kerja
a) Tentukan blok yang akan dilakukan penginfusan
b) Menyiapkan alat dan menghitung kebutuhan matrial yang di butuhkan dengan dosis 20 cc/tumbuahan epipit.
c) Mengamati setiap pokok sawit yang di tumbuhi epipit
d) Mencari akar epipit yang tumbuh di pokok sawit, yang melingkar pada batang pokok sawit
e) Memotong akar dan menganalisa akar dan arah tumbuh epipit tersebut dan mengusahakan mencari akar yang besar. f) Siapkan kantong plastikyang diisi dengan matrial round up
dengan dosis 20 cc di tambah airper kantong plastik
g) Akar tumbuhan epifit yang kita potong dan di pastikan akar yang mengarah keatas selanjutnya di masukan kedalam kantong plastik yang berisi matrial herbisida tersebut
h) Kemudian di ikat menggunakan tali rafia yang sudah di siapkan dan di pastikan ikatan tersebut kuat agar kantong tersebut tidak melorot
16
5) HasilKerja
Matrial herbisida yang dibutuhan dalam 1 HK adalah 5 ldengan dosisi yaituUntuk 1 plastik es digunakan 20 cc larutan round up dengan kandungan material murni sebanyak 5cc/plastik. Untuk target 1 Hk real di lapangan dapat mengerjakan sebanyak kurang lebih 80-100 epifit
6) Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang saya lakukan setelah kurang lebih 3 minggu epipit yang diinfus mengering, daun epifit mulai menguning setelah 4 hari dan mulai rontok setelah 1 minggu . Pengendalian dengan cara penginfusan ini merupakan pengetahuan baru bagi saya.karena belum dapat dalam teori di kampus. pengendalian inipun cukup efektif apabila tepat sasaran . Dan hemat pengeluaran biaya. (kegiatan dapat di lihat pada gambar 4).
2. Penunasan
Kegiatan membuang atau memotong pelepah yang berlebihan Pada tanaman kelapa sawit. Tujuannya adalah Menjaga atau mengatur jumlah pelepah dipokok sesuai kebutuhan pada tingkat umur tanaman dengan cara membuang pelepah yang tidak berguna lagi bagi tanaman.
a. Tujuan
Menjaga suplai hara dan air tidak terus berlangsung kepada jaringan pelepah yang tidak produktif lagi, sehingga mendorong pertumbuhan Vegetatif tanaman. Memudahkan pekerjaan panen dan perawatan.Menjaga agar brondolan tidak
17
menyangkut di ketiak pelepah. menjaga kelembaban agar tidak mempercepat perkembangan hama/penyakit. Meningkatkan efektifitas penyerbukan
b. Dasar teori
Penunasan adalah kegiatan pemotongan pelepah daun dengan menggunakan dodos atau egrek, dengan rotasi 9 bulan sekali. Pada saat penunasan harus diusahakan sampai batas songgo 2 sehingga setelah penunasan pelepah daun masih tersisa 48- 56 pelepah untuk tanaman muda dan 40 – 48 untuk tanaman tua. hal ini berpengaruh dengan produksi tanaman, penunasan bertujuan untuk mengurangi persaingan makanan, buah dengan pelepah yang tidak produktif, mempermudah pada saat pemanenan, pemupukan, serta memperlancar proses penyerbukan alami (Pahan, 2006)
c. Alat dan bahan
Alat : Egrek dan parang
Bahan : Pelepah kelapa sawit yang under. d. Prosedur kerja
1) Penentuan blok yang akan dilakukan penunasan. 2) Mempersiapkan alat penunasan.
3) Pelaksanaan penunasan, pekerja memasuki blok kemudian melakukan pemotongan pelepah dengan menggunakan egrek kemudian menyisakan songgo 2, potongan pelepah maksimal 15 cm dari batang tanaman.
4) Pelepah yang di pruning adalah pelepah yang sengkleh,kering dan berlebihan.
18
5) Pelepah yang sudah terpotong kemudian di potong menjadi 3 bagian lalu disusun di gawangan mati dengan arah membujur. e. Hasil kerja
Dari hasil Pengamatan yang kami lakukan, produksi 60 pokok/hari untuk 1 HK. Dilakukan selama 7 jam kerja dengan waktu istirahat sekitar30 menit. Setiap per jam kerja mendapatkan kurang lebih 9 hingga 10 pokok.Hal itu tergantung dari banyaknya pelepah yang harus diturunkan.
f. Pembahasan
Kegiatan penunasan memudahkan pekerjaan potong buah, menghindari tersangkutnya brondolan pada ketiak pelepah, memperlancar proses penyerbukan alami, mempermudah pengamatan buah pada saat sensus pokok. Pekerjaan pruning sudah sesuai dengan teori yang ada, realisasi di perusahaan penunasan juga menggunakan manajemen pelepah. (kegiatan dapat di lihat pada gambar 5)
3. Pemupukan
Kegiatan pemupukan di perkebunan Kelapa Sawit memegang peranan penting karena pemupukan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap produksi. Biayanya sekitar 15-20% terhadap biaya produksi atau hampir 60 % dari total biaya pemeliharaan.Pemupukan memberikan kontribusi yang sangat luas dalam meningkatkan produksi dan kualitas produk yang dihasilkan.(Setyamidjaja,1991).
Pemupukan di PT. Sukses Tani Nusasubur di bagi menjadi dua sistem pemupukan di antaranya adalah :
19
a. Manual 1) Tujuan
Tujuan pemupukan adalah untuk mempertahankan kesuburan tanah yaitu dengan memberikan pupuk ke dalam tanah sebagai pengganti unsur hara yang telah diambil oleh tanaman..
2) Dasar teori
Pelaksanaan pemupukan akan mencapai sasaran apabila dilakukan dengan prinsip 4T yaitu : Tepat jen, tepat dosis, tepat waktu (curah hujan 100-200 ml/bulan), tepat cara dengan penebaran atau poket melingkari piringan sekitar 30 cm dari tajuk tanaman serta terpupuk tuntas (Anonim, 2007)
3) Alat dan bahan
Alat : truk, kain gendong, jerigen ukuran 20 l, mangkuk takaran, pisau
Bahan: Pupuk NPK 16-6-23 4) Prosedur Kerja
a) Menentukan blok yang akan dipupuk
b) Persiapan alat dan tenaga kerja yang dibutuhkan
c) Persiapan unit transport untuk pengangkutan pupuk dari gudang menuju blok.
d) Pengangkutan dan pengeceran : pupuk diecer pada setiap path/gawangan dari hasil perhitungan jumlah pokok dalam baris tersebut
20
e) Kegiatan pemupukan : buka karung danpupuk di masukan kedalam ember
f) Proses pemupukan manual ini menggunakan sistem poket : Pupuk di masukkan kedalam lubang poket yang sudah di buat dan lubang yang sudah berisi pupuk di tutup kembali menggunakan tanah.
g) Dalam 1 Pokok sawit terdapat 4 lubang poket , dosis per pokok sawit adalah 2 kg
h) Setelah pemupukan selesai karung bekas pupuk dikutip dan di kembalikan kegudang untuk kepentingan lain
5) Hasil Kerja
Untuk target 1 HK adalah 500 kg atau 10 sak untuk.pemupuk diharuskan menutup lubang poket yang sudah dipupuk.
6) Pembahasan
Pemupukan dilakukan sesuai dengan rekomendasi dari perusahaan, dimana pemberian pupuk untuk TM dosis pupuk diberikan berdasarkan keseimbanganunsur hara. Dalam prakteknya penentuan dosis pupuk tahap TM dilakukan melalui analisa tanah, analisa daun.(kegiatan dapat di lihat pada gambar 6).
b. Mekanik 1) Tujuan
Tujuan pemupukan adalah untuk mempertahankan kesuburan tanah yaitu dengan memberikan pupuk ke dalam
21
tanah sebagai pengganti unsur hara yang telah diambil oleh tanaman.
2) Dasar teori
Berdasarkan alat yang digunakan pemupukan dapat di lakukan secara manual dan mekanik. Pemupukan mekanis menggunakan alat (traktor) penebar pupuk untuk areal yang yang relatif ratadan di terapkan karena minmnya tenaga kerja dan meminimalisir pengluaran biaya. (Anonim, 2011)
3) Alat dan bahan
Alat : truk, conycom, pisau Bahan : Pupuk NPK 16-6-23 4) Prosedur Kerja
a) menentukan blok yang akan di pupuk
b) Persiapan alat dan tenaga kerja yang dibutuhkan
c) Persiapan unit transport untuk pengangkutan pupuk dari gudang menuju blok.
d) Pengangkutan dan pengeceran. Ecer pupuk di lakukan sesuai dengan kebutuhan perbarisan pokok kelapa sawit. Dan kita sudah mengetahui jumlah pokok pada gawangan tersebut.
e) Kegiatanpemupukan : Pupuk di buka menggunakan pisau lalu di masukan kedalam bak penampungan pada alat penabur (conycom) pupuk tersebut oleh 2 orang helfer f) Kapasitas bak penampungan pupuk tersebut adalah 7 sak
22
g) Alat yang di oprasikan oleh 1 orang operator berjalan Pada jalan yang sudah di buat di anatar Pokok sawit Sistem pemupukanya adalah sistem tabuar.
h) Pupuk ditabur secara total di bagian sekeliling tanaman kelapa sawit. Yaitu alat tersebut menyemburkan pupuk dari bagian kanan dan kiri alat dengan radius 2 Pokok sawit. Dosis per pokok sawit adalah 2 kg
i) Karung pupuk dikumpulkan dan dikembalikan kegudang untuk kepentingan lain.
5) Hasil kerja
Kapasitas bak Conycom adalah 350 kg atau 7 sak pupuk. 1 unit conycom ditargetkan dapat mengerjakan 20-25 ha/unit. Setiap 1 jam conycom mampu menghabisan 12 sak pupuk. 1 unit conycom membutuhkantenaga kerja yaitu 1 operator dan 2 tenaga helfer.
6) Pembahasan
Dibandingkan dengan pemupukan manual, pemupukan mekanis lebih hemat dari segi biaya karena membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit. (kegiatan dapat di lihat pada gambar 7).
4. Pengendalain hama dan penyakit
a. Pembuatan Titik Sampel (TS) dan Baris Sampel (BS)
TS adalah titk awal dimana dimulai pengamatan untuk melihat perhektarnya serangan pada kebun tersebut. BS adalah baris yang di
23
buat pada baris tanaman untuk memudahkan di temukannya titik sampel
1) Tujuan
Untuk memudahkan dalam proses pengamatan Early Warning System nantinya .
2) Dasar teori
Menurut Mangoensoekarjo(2003), untuk melakukan sensus pengamatan hama dilakukan dengan patokan tiap 1 pohon sample mewakili 2-3 ha areal tanam,titik sensus adalah pohon sebagai pusat sensus,
3) Alat dan bahan Alat : kuas, parang
Bahan : cat (berwarna biru) 4) Prosedur
a) Pembuatan TS dengan rumus interval di bawah ini (1) TS = JP – 6
n – 1
JP :JumlahPokok TS : Titik Sampel
N : jumlah titik sampel dalam baris
(2) Setelah pokok dapat, carilah bagian pelepah yang kuat kerok pelepah sampai bersih kemudian tulis TS menggunakan cat warna
(3) TS berisi nama blok dan nomor TS
b) Pembuatan BS dengan rumus interval di bawah ini (1) BS = JB – 6
24
m – 1
JB : JumlahBaris BS : Baris Sampel
M : jumlah baris sampel dalam blok
(2) Kerok pelepah hingga bersih dan tulis BS dengan rincian tulisan BS yang ke berapa dan seluruh TS yang terdapat pada BS tersebut
5) Hasil kerja
Dalam pembuatan titik sampel (TS) dan baris sampel (BS) tidak ditargetkan. Tetapi dari hasil kalibrasi dalam 1 hari mendapatkan 15 titk sampel dan 3 baris sampel karena dalam satu baris sampel terdapat 5 titik sampel
6) Pembahasan
Rumus TS dan BS biasa digunakan untuk lahan tanam yang datar, sedangkan untuk lahan pegunungan atau landai penggunaan rumus tersebut agak susah karena adanya lebungan yang memisahkan antar blok sehingga baris tanam tidak tersambung. Tetapi sebisa mungkin penggunaan rumus di lapangan diterapkan.Dalam Satu TS mewakili 1 ha tanam dan untuk satu BS terdiri dari beberapa TS. (kegiatan dapat di lihat pada gambar8)
b. Early Warning System (EWS)
EWS adalah sistem pengamatan secara dini pada setiap blok untuk mengetahui gejala tingkat serangan hama dan penyakit yang menyerang tanaman.
25
1) Tujuan
EWS bertujuan untuk mengetahui keberadaan organisme pengganggu tanaman yang berupa hama dan penyakit.
2) Dasar teori
Menurut Pahan (2008), Upaya mendeteksi hama dan penyakit pada waktu yang lebih dini mutlak harus dilaksanakan. Selain akan memudahkan tindakan pencegahan dan pengendalian, keuntungan deteksi dini juga bertujuan agar tidak terjadi ledakan serangan yang tak terkendalikan. Menurut Mangoensoekarjo (2003), sistem peringatan dini atau early warning system (EWS). Pada pelaksanaan sistem ini kebun kelapa sawit disensus secara berkala sehingga dapat selalu diketahui ada tidaknya serangan hama dan bila ada, perkembangannya diikuti terus.
3) Alat dan bahan
Alat : egrek untuk pokok tinggi, form pengamatan, alat ukur Bahan : kantong plastik
4) Prosedur
a) Pengamatan EWS dimulai dari TS terkecil dalam blok tersebut b) Pengamatan dimulai dari TS tersebut, pokok TS tersebut
sebagai pokok pusat dilakukannya pengamatan
c) Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati bagian-bagian dari kelapa sawit (daun, batang, buah, dll) jika terdapat gejala serangan atau terdapat organisme pengganggu tanaman, bagian yang terserang atau yang terdapat organisme
26
pengganggu tanaman(OPT) diturunkan dan dilakukan pengamatan lebih lanjut
d) Kemudian pengamatan berlanjut dari pokok TS ke lingkaran pokok pertama yang mengelilingi pokok TS
e) Kemudian berlanjut pada lingkaran ke dua dan ke tiga
f) Sistem pengamatan EWS berbentuk seperti lingkar obat nyamuk
g) Kemudian menganalisa tingkat serangan yang terjadi pada TS tersebut, tergolong tingkat serangan ringan, sedang, atau berat. h) Kemudian masukkan data dalam form pengamatan dan di
laporkan di kantor afdeling. 5) Hasil kerja
Pengamatan early worning system (EWS) di lakukan selam 1 bulandengan menyelesaian semua blok yang ada dalam afdeling tersebut.
6) Pembahasan
Pengamatan EWS dilakuka untuk mengetahui adaserangan atau tidak.Pengamatan EWS akan ditindak lanjuti jika serangan tergolong dalam tingkat serangan sedang hingga berat. Adapun beberapa jenis Ulat api yang saat ini sedang berkembang di PT.STN adalah Setothosea asigna
B. Panen dan Pengangkutan 1. Sensus Produksi
Sensus produksi adalah penghitungan atau pendataan terhadap tanaman menghasilkan untuk mengetahui atau memperkirakan
27
produksi selama satu semester (enam bulan mendatang) dengan cara menghitung kerapatan buah
a. Tujuan
Untuk mengetahui produksi tiap semester sehingga dapat diketahui estimasi/perkiraan produksi untuk mendatang.
b. Dasar teori
Sensus produksi ialah pencacahan /perhitungan atau pendataan terhadap tanaman kelapa sawit yang bertujuan untuk mengetahui atau memperkirakan produksi enam bulan kedepan,(Yudantara, 1999).
Menurut Mangoensoekarjo (2003), produksi tandan buah segar (TBS) ditentukan oleh jumlah tandan bunga yang dapat berkembang menjadi tandan buah. Tandan ini dapat diramalkan lebih awal, yakni enam bulan sebelumnya.
c. Alat
Alat : Alat tulis, lembar format sensus. d. Prosedurkerja
1) Menentukan blok yang akan di sensus. mengetahui luasan blok dan jumlah pokok tanamannya. Untuk menentukan sampel yang akan di ambil.
2) Petugas sensus berjalan di antar barisan pokok tanaman dan arah berjalan menurut arah barisan. Dan mengamati tanaman kelapa sawit yang di jadikan sebagai sample.
3) Sekali jalan penyensus dapat melakukan sensus produksi terhadap 2 baris yaitu kanan dan kiri tanaman.
28
4) Penyensus mengamati tanaman kelapa sawit item yang di amati adalah jumlah bunga, buah hitam, buah merah dan pokok istirahat.
5) Dari hasil sensus selanjutnya di catat pada lembar format. dan di hitung dan di hitung kerapatan buahnya.
e. Hasil Kerja
Sampel sensus di ambil 10% dari jumlah pokok yang ad di blok tersebut. Dari hasil sensus produksi yang dilakukan kita mendapatkan data yang akurat dan dapat memperkirakan/taksasi produksi untuk kedepannya.
f. Pembahasan
Sensus produksi bulan untuk mengetahui taksasi 6 bulan ke depan. Hasil perhitungan berupa jumlah bungan dan buah hitam dikalikan dengan berat janjang rata-rata (BJR) akan didapatkan
produksi selama 6 bulan kedepan. (kegiatan dapat dilihat pada gambar 9.)
2. Pemotongan Buah dan Langsir ke TPH a. Manual
1) Tujuan
Kegiatan potong buah bertujuan untuk mendapatkan TBS yang memenuhi kriteria matang panen dan keuntungan dari hasil penjualan minyak kelapa sawit (MKS) dan inti kernel sawit 2) Dasar teori
Proses pemasakan buah dapat dilihat dari perubahan warna buahnya. Buah kelapa sawit yang masih mentah berwarna hijau karena pengaruh zat klorofil selanjutnya akan berubah menjadi
29
merah atau orange akibat pengaruh beta karoten. kriteria kematangan tandan dinyatakan dalam jumlah buah sawit yang jatuh. Sebagai patokan, minimun buah sawit yang jatuh sebanyak 10 buah untuk tanaman muda menghasilkan dan 15 buah untuk tanaman tua menghasilkan (Sunarko, 2008).
3) Alat dan bahan
Alat : egrek, parang, kereta dorong, gancu, pengeruk brondolan dan karung
Bahan : TBS kelapa sawit dan brondolan 4) Prosedur kerja
a) Penentuan blok yang akan di panen sesuai dengan rotasi panen
b) Taksasi buah yang akan di panen dari hasil sensus harian. Bertujuan untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja yang akan di gunakan
c) Kegiatan panen : Pemanen memasuki blok pada ancak yang telah ditentukan
d) Pemanen berjalan memasuki baris tanaman dengan memperhatikan brondolan dalam piringan, jika terdapat ≥ 10 brondolan di piringan berarti buah siap untuk dipanen
e) Penurunan pelepah terlebih dahulu jika buah terselip atau susah untuk diturunkan lalu Buah di potong menggunakan egrek
30
f) Setelah buah turun, pemanen menyusun pelepah terlebih dahulu pada gawangan mati sebelum pindah pada pokok berikutnya
g) Langsir buah ke TPH
(1) Buah dinaikkan ke atas angkong
(2) Kemudian pengangkong mengutip brondolan disekitar piringan dan dinaikkan ke atas angkong
(3) Setelah penuh buah dilangsir ke TPH
(4) Buah disusun 5 janjang per baris dengan tangkai menghadap ke jalan untuk memudahkan dalam perhitungan janjang
(5) Tangkai panjang dipotong membentuk huruf V dengan istilah (cangkem kodok), sisa potongan tangkai janjang dikumpulkan menjadi satu dalam lubang yang sudah disediakan.
(6) Kemudian pengangkong menuliskan kupon panen sesuai dengan jumlah TBS yang ada di TPH.
5) Hasilkerja
Untuk pemanen 1 Hk harus dapat memenuhi basis, basis pemanen tergantung blok contoh untuk blok OE.06 basis 1 hk pemanen adalah 1640 kg. Jika melebihi dari basis sudah termasuk kedalam premi. 1HK dapat mengerjakan 2-2,5 ha jika berpasangan pemanen dan pengangkong normanya 2 HK 4-5 ha
31
6) Pembahasan
Persiapan panen merupakan pekerjaan yang paling penting. Karena persiapan panen yang baik akan menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mingkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah persiapan kondisi area, penyediaan tenaga kerja, dan penyediaan alat kerja.
b. Mekanis 1) Tujuan
Untuk memperoleh buah segar yang telah masuk kreteria matang dan memperoleh kadar minyak yang tinggi dan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan pengolahan TBS. 2) Dasar teori
Menurut Anonim(2008), penggunaan alat pemuat mekanis di lahan perkebunan kelapa sawit pada lahan datar. Pada kondisi tersebut efisiensi panen kelapa sawit akan meningkat dan penggunaan tenaga kerja juga akan semakin rendah.
3) Alat dan bahan
Alat : wintor, egrek, tojok, gancu, parang, penggaruk brondolan, kampak, karung
Bahan : tandan buah segar dan brondolan 4) Prosedur
a) Penentuan blok yang akan di panen sesuai dengan rotasi panen
32
b) Taksasi buah yang akan di panen dari hasil sensus harian. Bertujuan untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja yang akan di gunakan
c) Kegiatan panen : Pemanen memasuki blok pada ancak yang telah ditentukan
d) Pemanen berjalan memasuki baris tanaman dengan memperhatikan brondolan dalam piringan, jika terdapat ≥ 10 brondolan di piringan berarti buah siap untuk dipanen
e) Penurunan pelepah terlebih dahulu jika buah terselip atau susah untuk diturunkan lalu Buah di potong menggunakan egrek
f) Setelah buah turun, pemanen menyusun pelepah terlebih dahulu pada gawangan mati sebelum pindah pada pokok berikutnya
g) Langsir buah ke TPH
(1) Buah dinaikkan alat langsir mekanik yaitu wintor menggunaan tojok
(2) Kemudian helper mengutip brondolan yang telah dikumpulkan oleh pemanen dan dinaikkan ke atas wintor (3) Setelah bak wintor penuh buah dilangsir ke TPH
(4) Buah disusun dengan tangkai menghadap ke jalan untuk memudahkan dalam perhitungan janjang
(5) Tangkai panjang dipotong membentuk huruf V dengan istilah (cangkem kodok), sisa potongan tangkai janjang
33
dikumpulkan menjadi satu dalam lubang yang sudah disiapkan
(6) Kemudian helper/operator menuliskan kupon panen. 5) Hasil
Basis wintor adalah 2250 kg. Wintor berkapasitas 300 kg dalam sekali muat dan hanya menghabiskan solar 3 l selama 7 jam kerja. Panen mekanis menggunakan sistem 5 banding 2 yang artinya 5 pengegrek dan 2 helper/pengangkut. Sistem anca yang di gunakan dalah ancak giring, berbeda dengan sistem ancak panen manual yang menggunakan sistem ancak tetap
6) Pembahasan
Persiapan panen merupakan pekerjaan yang paling penting. Karena persiapan panen yang baik akan menjamin tercapainya target produksi dengan biaya panen seminimal mingkin. Untuk panen dengan sistem pelangsiran buah ke TPH menggunakan wintor ini merupakan hal yang baru. (kegiatan dapat di lihat pada gamabr 10,11 dan 12)
3. Pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS)
Pengangkutan adalah kegiatanpemuatan buah kelapa sawit beserta brondolannya hingga tuntas agar tidak terjadi restan dari kebun menggunakan transportasi untuk di bawa ke pabrik kelapa sawit. a. Tujuan
Kegiatan pengangkutan bertujuan untuk mengangkut tandan buah segar (TBS) beserta berondolanya agar tidak terjadi restan untuk dikirim ke pabrik dan diolah.
34
b. Dasar teori
Menurut Risza (1994). Pengangkutan buah (TBS dan brondolan) dari lapangan ke pabrik harus segera dilakukan pada hari itu juga setelah buah dipanen. Buah yang sudah ada di TPH harus sesegera mungkin diangkut ke pabrik karena kalau buah sampai bermalam di kebun akan menyebabkan asam lemak bebas (ALB) meningkat dan kandungan rendemen minyak.
c. Alat dan bahan
Alat : truk angkut , Penggaruk brondolan,tojok,gancu, karung. Bahan : TBS dan brondolan yang ada di TPH.
d. Prosodur kerja
1) Pencatatan jumlah TBS di setiap TPH yang di lakukan oleh krani panen
2) Penukaran kupon panen warna putih dengan kupon angkut warna merah bertujuan memastikan kebenaran jumlah TBS yang terdapat pada setiap TPH
3) Persiapan alat angkut dan tenaga pengangkut 4) Kegiatan pemuatan buah ke truk :
a) Buah dimuat menggunakan tojok kedalam bak truk oleh 2 orang helfer dan dicatat oleh krani jumlah janjang yang termuat
b) Brondolan di kutip hingga bersih di TPH dan dimuat kedalam truk menggunakan karung
5) Setelah semua kegiatan pemuatan buah kedalam truk selesai, krani panen membuat Surat Angkut Buah (SAB) yang diberikan
35
kepada driver/sopir truk, untuk pengiriman buah ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS).
e. Hasil kerja
Dari hasil pengawasan pemuatan dalam 1 truk untuk tipe bak kayu bermuatan 370 janjang, dengan berat janjang rata-rata (BJR) 23.1 adalah 8547 kg untuk tonase yaitu 8 ton lebih. Dan dalam proses pengerjaannya di butuhkan 2 orang helper sebagai tenaga pengangkut. Basis helfer untuk 1 Hk adalah 3500 kg, apabila untuk 2 helfer adalah 7000 kg atau 7 ton.Apabila muatan lebih dari basis tonasenya masuk ke dalam premi, harga premi /kg adalah 85 rupiah f. Pembahasan
Pengangkutan buah di lakukan dengan 2 sistem yaitu pengangkutan dengan kendaraan milik kebun dan pengangkutan oleh kendaraan pemborong (kontraktor) (kegiatan angkut dapat dilihat pada gambar 13 dan 14)
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kegiatan praktek kerja lapang yang dilakukan di PT. Sukses Tani
Nusasubur dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Prinsip kegiatan budidaya kelapa sawit adalah perawatan tanaman menghasilkan (Rawat gawangan, Rawat piringan, Infus Epifit, Pemupukan, Peruning, Pengendalian HPT), dan panen serta Pengangkutan TBS
2. Prosedur kegiatan,alat dan bahan yang digunakan sudah mendekaati standar oprasional prosedur perusahaan.
B. Saran
Kegiatan praktek kerja lapang ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa, oleh karena itu disarankan :
1. Perlu penyempurnaan kegiatan praktek budidaya tanaman kelapa sawit di kampus agar mahasiswa mendapat yang sesuai dengan kenyataan di lapangan.
2. Melakukan pengecekan ke lapangan pada saat mahasiswa melakukan kegiatan PKL, dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan PKL di lapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. Buku Petunjuk Teknis Budidaya Tanaman Kelapa Sawit. Agro Tirta Kencana. Jakarta.
Anonim, 2008. Pedoman Teknis Budidaya Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses
Anonim, 2010.Petunjuk Teknis Budidaya Kelapa Sawit. PT. Rea Kaltim Plantation
Anonim, 2011.Metode Pemupukan Kelapa Sawit . Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura .Riau
Mangoensoekarjo, S 2003. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit, Gadjah Mada university press, yoyakarta
Pahan, 2006. Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta
Pahan, I.2008. Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Jakarta.
Risza S. 1994. Upaya Peningatan Produktifitas Kelapa Sawit. kanisius. Yogyakarta
Risza S. 1995. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta
Sastrosayono, 2006. Budidaya Kelapa Sawit. PT. Agromedia Pustaka Setyamidjaja, D. 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius, Yogyakarta.
Sunarko. 2008. Budidaya dan Pengolahan Kebun Kelapa Sawit. Dengan sistem kemitraan. PT. Agromedia Pustaka
Yudantara. 1999. Pedoman Praktis Budidaya Tanaman Kelapa SawitBedugul Corporation Plantation Dan Trading Company. Jakarta.
42
Lampiran 3 . Dokumentasi KegiatanPKL di PT.Sukses Tani Nusasubur
Gambar 1. Kegiatan Circle Path TPH (rawat piringan)
43
Gambar 3. Kegiatan Wedding Chemis (rawat gawangan)
44
Gambar 5. Kegiatan penunasan
45
Gambar 7. Kegiatan pemupukan mekanik
46
Gambar 9. Kegiatan Sensus Produksi
47
Gambar 11. Kegiatan Langsir Buah Manual ke TPH
48
Gambar 13. Kegiatan Angkut Buah dari TPH