ASURANSI SYARIAH DAN REASURANSI SYARIAH
Dosen Pembimbing :
Disusun Oleh: Yody Tistanto
Jurusan Program Magister Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarih Hidayatullah
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini membuat manusia tampak mengalami
kemajuan dalam hidup dan kehidupan ekonomi yang serba canggih dan modern di dunia.
Namun, bila menelusuri lebih detail, sebenarnya bagian mana di belahan dunia ini yang dan
berubah dari suasana serba sederhana menjadi berkecukupan dan modern ? Tampaknya,
kemajuan yang selama ini di anggap maju ternyata masih mengalami kemunduran. Hal tersebut
ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dinikmati oleh setiap warga Negara.
Negara Eropa dan Amerika misalnya mendikte Negara Asia terutama Timur Tengah untuk
menerapkan ekonomi konvensional yang berbasis bunga. Hampir semua hukum keperdataan
diwarnai oleh system konvensional yang berbasis bunga termasuk penerapan asuransi
konensional yang telah menciptakan keresahan dan ketidakadilan kepada nasabahnya.
Mudah-mudahan visi dan misi asuransi syariah yang tidak berbasis pada bunga dan dapat mengubah
rintangan-rintangan yang selama ini membungkus umat manusia dalam hidup ketidakwajaran
dan kecurangan.
Pengkajian pada pokok bahasan ini, penulis akan memaparkan beberapa poin berkenaan
asuransi syari’ah dan asuransi konvensional sebagai suatu perbandingan, terutama yang
berkaitan keunggulan asuransi syariah bila dibandingkan dengan asuransi konvensional yang
selama ini menjadi acuan hidup dalam hukum perasuransian di Indonesia. Demikian pula penulis
akan mambahas konsep, sumber hukum, akad perjanjian, pengelolaan dana, dan keuntungan. B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah Pengertian Asuransi Syariah? 2. Sejarah Berdirinya Asuransi Syariah?
3. Pandangan Ulama Mengenai Asuransi Syariah?
4. Landasan Hukum Asuransi Syariah Dan Akad Asuransi Syariah?
5. Pengertian Reasuransi Syariah (Retakaful)? 6. Akad Dalam Asuransi Dan Reasuransi?
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
Kata “asuransi” banyak berasal dari bahasa-bahasa asing diantaranya adalah1: Bahasa Belanda ”assurantie”, yang berarti pertangungan.
Bahasa Italia “insurensi”, yang berarti jaminan.
Bahasa Inggris “assurance”, yang berarti jaminan.
Bahasa Arab “At-ta’min”, yang berarti perlindungan, ketenangan, rasa aman dan bebas dari
rasa takut.
Dari segi bahasa menurut:
1. Wirjono berarti sebuah persetujuan pihak, yang menjamin berjanji kepada pihak yang
dijamin atas kerugian yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin karena akibat dari
sebuah peristiwa yang belum jelas terjadi.2
2. Abbas Salim berarti suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit)
yang sudah pasti sebagai (substitusi) kerugian-kerugian yang belum pasti.
3. Syeikh Musthafa az-Zarqa berarti cara dalam menghindari risiko yang akan dihadapinya. 4. Ensiklopedi Hukum Islam berarti transaksi perjanjian antara dua pihak; pihak pertama
berkewajiban untuk membayar iuran dan pihak lain berkewajiban memberikan jaminan
sepenuhnya kepada pembayar iuran.
5. UU No. 2 thn 1992 pasal 1 berarti perjanjian antara dua pihak atau lebih dimana pihak
penangung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk
memberikan pergantian kepada tertanggung karena suatu kerugian, kerusakan dan lain
sebagainya.
6. Faturrahman Djamil berarti suatu persetujuan dimana pihak yang menanggung berjanji
terhadap pihak yang ditanggung untuk menerima sejumlah premi mengganti kerugian yang
mungkin akan diderita oleh pihak yang ditanggung, sebagai akibat dari suatu hal yang
mungkin akan terjadi.
Setelah memperhatikan beberapa definisi asuransi diatas, baik dari segi bahasa ataupun
istilah, dapat disimpulkan bahwa dalam suatu perjanjian asuransi minimal terlibat pihak pertama
yang sanggup menanggung atau menjamin bahwa pihak lain mendapatkan pergantian dari suatu
kerugian yang mungkin akan di derita sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum
tentu terjadi atau belum di tentukan saat akan terjadinya.
Adapun uang yang telah dibayarkan oleh pihak tertanggung akan tetap menjadi milik pihak
yang menaggung apabila peristiwa yang dimaksud tidak terjadi. Dalam Asuransi paling tidak ada
tiga unsure yang terlibat. Pertama,pihak tertanggung yang berjanji membayarkan uang premi
1 Rodoni, Ahmad dan Hamid, Abdul, Lembaga Keuangan Syariah (Zikrul Hakim: Jakarta)hal 93
kepada pihak penangung secara sekaligus atau secara angsur. Kedua, pihak pihak penanggung
yang berjanji akan membayar sejumlah uang kepada pihak tertanggung secara sekaligus atau
secara angsur apabila ada unsure ketiga. Ketiga, suatu peristiwa yang belum jelas terjadi. 2. SEJARAH BERDIRINYA ASURANSI SYARIAH
Munculnya asuransi syariah di dunia islam di dasarkan adanya anggapan yang menyatakan
bahwa asuransi yang ada selama ini, yaitu asuransi konvensional banyak mengandung unsur :
gharar, maisir, riba3.
Gharar (ketidakjelasan)
Gharar itu terjadi pada asuransi konvensional, dikarenakan tidak adanya batas waktu pembayaran
premi yang didasarkan atas usia tertanggung. Jika baru sekali seorang tertanggung membayar
premi ditakirkan meninggal, perusahaan asuransi akan rugi sementara pihak tertanggung merasa
untung secara materi. Jika tertanggung dipanjangkan usianya, perusahaan asuransi akan untung
dan pihak tertaggung merasarugi secara financial4. Maisir (judi)
Unsur maisir dalam asuransi konvensional karena adanya unsur gharar, terutama dalamkasus
asuransi jiwa. Apabila pemegang polis asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir
polis asuransinya dan telah membayar preminya sebagian, maka ahli waris akn menerima
sejumlah uang tertentu. Pemegang polis tidak mengetahui bagaimana dan darimana cara
perusahaan asuransi konvensional membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini dipandang
karena keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil resiko oleh persahaan
yang bersangkutan. Yang disebut maisir disinijika perusahaan asuransi mengandalkan banyak
sedikitnya klaim yang dibayarkannya5. Riba
Dalam hal riba semua asuransi konvensional menginvestasikan semua dananya dengan bunga,
yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan saat perhitungan
kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan didepan.
Pernyataan yang serupa telah jauh-jauh di kumandangkan di Malaysia. Jawatan kuasa
kecil malaysia menyatakan dalam kertas kerjanya yang berjudul “Ke arah Insurance secara
Islami” di Malaysia. Bahwa asuransi masa kini mengikuti cara pengelolaan dari Barat dan
3 Rodoni, Ahmad dan Hamid, Abdul, Lembaga Keuangan Syariah (Zikrul Hakim: Jakarta)hal 97
4 www.wikimu.com
sebagian operasinya tidak sesuai dengan ajaran islam6. Atas landasan itulah kemudian
dirumuskan bentuk asuransi yang terhindar dari ktiga unsur yang diharamkan islam itu.
Selanjutnya, pada dekadetahun 70-an, di beberapa Negara islam atau di Negara-negara
yang mayoritas berpenduduk Muslim, mulai bermunculan asuransi yang prinsip opersionalnya
mengacu pada nilai-nilai islam dan terhindar dari unsur-unsur yang diharamkan.
Pada tahun 1979, Islamic Insurance Co. Ltd berdiri di Sudan, Islamic Insurance Co. Ltd di
Arab Saudi. Pada tahun 1983, berdiri Dar al-mal al-Islami di Genewa dan Takaful Islam di
Luxumburg, Takaful Islam Bahamas di Bahamas, dan at-Takaful al-Islami di Bahrian. Adapun di
Negara tetangga yang paling dekat dengan Indonesia, yakni Malaysia, telah berdiri Syarikat
Takaful Sendirian Berhad pada tahun 1984.
Sedangkan di Indonesia, asuransi Takaful baru muncul pada tahun 1994 seiring dengan
diresmikannya PT. Asuransi Takaful Keluarga dan PT. Asuransi Takaful umum pada tahun 1995.
Gagasan untuk mendirikan asuransi islam di Indonesia sebenarnya telah muncul sejak lama, dan
pemikiran tersebut lebih menguat pada saat diresmikannya Bank Muamalat Indonesia pada tahun
1991.
3. PANDANGAN ULAMA MENGENAI ASURANSI SYARIAH
Tujuan asuransi sangatlah mulia, karena bertujuan untuk tolong-menolong dalam kebaikan.
Namun persoalan yang dipertikaikan lebih lanjut oleh para Ulama adalah bagaimana instrumen
yang akan mewujudkan niat baik dari asuransi tersebut; baik itu bentuk akad yang melandasinya,
sistem pengelolaan dana, bentuk manajemen dan lain sebagainya
Dari permasalahan instrumen pendukung inilah para Ulama terbagi kepada 2 kelompok besar 7:
Kedua kelompok dimaksud, masing-masing mempunyai dasar hukum dan memberikan
alasan-alasan hukum sebagai penguat terhadap argument atau pendapat yang disampaikannya.
Disamping itu, ada yang berpendapat membolehkan asuransi yang bersifat social (ijtima’i) dan
mengharamkan asuransi yang bersifat komersial (tijari) serta ada pula yang meragukannya
(syubhat).
Kelompok yang mengharamkan asuransi syariah :
6 Rodoni, Ahmad dan Hamid, Abdul, Lembaga Keuangan Syariah (Zikrul Hakim: Jakarta) hal 98
Ibnu Abidin, Ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa asuransi adalah haram, karena uang
setoran peserta (premi) tersebut adalah iltizam ma lam yalzam (mewajibkan sesuatu yang tidak
lazim / wajib)
Muhammad Bakhit al-muthi’i (mufti Mesir) mengatakan bahwa akad asuransi yang
menjamin atas harta benda pada hakikatnya termasuk dalam kafalah atau ta’addi / itlaf.
Muhammad al-Ghazali mengatakan bahwa asuransi adalah haram karena mengandung riba.
Beliau melihat riba tersebut dalam pengelolaan dana asuransi dan pengembalian premi yang
disertai bunga ketika waktu perjanjian telah habis.
Menurut Warkum Sumitro pengharaman asuransi berdasarkan atas 5 alasan8:
1. Asuransi mengandung unsur perjudian yang dilarang dalam islam. 2. Asuransi mengandung unsur riba yang dilarang dalam islam.
3. Asuransi termasuk jual beli atau tukat-menukar mata uang tidak secara tunai.
4. Asuransi objek bisnisnya tergantung pada hidup dan matinya seseorang,yang berarti
mendahului takdir Allah SWT.
5. Asuransi mengandung eksploitasi yang bersifat menekan.
Menurut Mahdi Hasan pelarangan praktik asuransi berdasarkan atas 4 alasan9:
1. Asuransi tak lain adalah riba berdasarkan kenyataan bahwa tidak ada kesetaraan antara kedua
pihak yang terlibat, padahal kesetaraan demikian wajib adanya.
2. Asuransi juga merupakan perjudian, karena ada penggantungan kepemilikan pada munculnya
resiko.
3. Asuransi adalah pertolongan dalam dosa, karenaperusahaan asuransi meskipun milik Negara,
tetap merupakan institusi yang mengadakan transaksi dengan riba.
4. Dalam asuransi jiwa juga terdapat unsure risywah, karena kompensasi di dalamnya adalah
sesuatu yang tidak dapat dinilai.
Kelompok yang membolehkan asuransi syariah :
Antara lain dikemukakan oleh Ibnu Abidin, Wahab Khalaf, Mustafa Ahmad Zarqa (guru
besar Universitas Syirya), Syaikh Abdurrahman Isa (guru besar Universitas al-azhar Mesir), Prof.
Dr. Muhammad Yusuf Musa (guru besar Universitas Kairo), Syaikh Abdul Khalaf, dan Prof. Dr.
Muhammad al-Bahi,
Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa asuransi merupakan suatu bentuk muamalat yang baru
dalam islam dan memiliki manfaat serta nilai positif bagi ummat selama di landasi oleh
praktik-praktik yang sesuai dengan nilai-nilai islam.
Argumentasi yang mereka pakai dalam membolehkan asuransi menurut Faturrahman Djamil
adalah sebagai berikut10:
1. Tidak terdapat nash Alqur’an atau hadits yang melarang asuransi.
2. Dalam asuransi terdapat kesepakatan dan kerelaan antara kedua belah pihak. 3. Asuransi menguntungkan kedua belah pihak
8 Zainuddin ali, Hukum Asuransi Syariah (Sinar Grafika:Jakarta 2008) hal 80
9 ibid
4. Asuransi mengandung kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat di
investasikan dalam kegiatan pembangunan.
5. Asuransi termasuk akad mudharabah antara pemegang polis dengan perusahaan asuransi. 6. Asuransi termasuk usaha bersama yang di dasarkan pada prinsip tolong-menolong.
Dalam Islam,asuransi haruslah bertujuan kepada konsep tolong menolong dalam kebaikan dan
ketakwaan.
Asuransi syariah memiliki landasan filosofi yang berbeda dengan asuransi konvensional,
yaitu mencari ridha Allah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Model asuransi syariah11 :
1. Non-Profit Model biasanya dipakai oleh perusahaan sosial milik Negara atau organisasi
yang dikelola secara non-profit (nirlaba). Model inilah yang sesungguhnya paling
mendekati konsep dasar asuransi syariah karena selaras dengan kaidah-kaidah berikut :
saling bertanggung jawab, saling bekerja sama, dan saling melindungi.
2. Al-Mudharabah model, secara teknis, al-Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara
dua pihak dimana pihak pertama menyediakan 100% modal sedangkan pihak lainnya
menjadi pengelola. Disini terjadi pembagian untung rugi diantara anggota (shahibul mal)
dan pihak pengelola / perusahaan asuransi (mudharib).
3. Wakalah, berbeda dengan akad mudharabah, dibawah akad wakalah, Takaful berfungsi
sebagai wakil peserta dimana dalam menjalankan fungsinya (sebagai wakil), Takaful
berhak mendapatkan biaya jasa (fee) dalam mengelola keuangan mereka.
4. LANDASAN HUKUM ASURANSI SYARIAH
Secara structural, landasan operasional asuransi syariah di Indonesia masih menginduk
pada peraturan yang mengatur usaha perasuransian secara umum (konvensional). Baru ada
peraturan yang secara tegas menjelaskan asuransi syariah pada Surat Keputusan Direktur jendral
Lembaga Keuangan No. Kep. 4499/LK/2000 tentang Jenis, Penilaian dan Pembatasan Investasi
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan Sistem Syariah.
1. Akad Asuransi Syariah
Asuransi syariah mempunyai akad yang di dalamnya dikenal dengan istilah tabarru’yang
bertujuan kebaikan untuk menolong diantara sesame manusia, bukan semata-mata untuk
komersial dan akad tijarah. Akad tijarah adalah akad atau transaksi yang bertujuan komersial,
misalnya akad mudharabah, wadiah,wakalah, dan sebagainya. Dalam bentuk akad tabarru’
mutabari mewujudkan usaha untuk membantu seseorang dan hal ini di anjurkan oleh syariat
islam, penderma yang ikhlas akan mendapatkan ganjaran pahala yang besar.
Selain itu, akad transaksi asuransi syariah mengandung kepastian dan kejelasan sehingga
peserta asuransi menerima polis asuransi sesuai dengan apa yang dibayarkan (yang masuk ke
rekening peserta) ditambah dengan dana tabarru’ dari setiap peserta asuransi. Karena itu, setiap
peserta asuransi yang mendapat musibah atau kerugian akan menerima bantuan dalam bentuk
ganti rugi terhadap musibah yang dihadapinya. Bantuan dimaksud bersumber dari dana akad
tabarru.
Menurut penulis asuransi syariah kini, banyak di buru masyrakat dan telah semakin di
nikmati , ini bisa dilihat dari respons masyarakat yang berbondong-bondong menjadi nasabah
asuransi syariah. Kini nyaris semua perusahaan asuransi membentuk unit syariah. Bahkan
asuransi asing juga ikut membuka unit syariah. Ini dikarenakan asuransi syariah mempunyai
keunggulan bila dibandingkan dengan asuransi konvensional. Perbedaan dan keunggulannya
terdapat pada prosedur penyimpanan dana, operasional dana asuransi,dan akadnya. Asuransi
syariah sudah didirikan sejak 10 tahun yang lalu, dan hampir setiap tahunnya selalu mengalami
peningkatan. PT. Asuransi Syariah Takaful menunjukan perkembangan yang cukup pesat,
termasuk di wilayah Indonesia Timur, dari segi premi nasabah yang masuk di asuransi,
menunjukan peningkatan 50% di Makassar tahun 200612. Bahkan tahun 2006 juga di targetkan
harus meningkat menjadi dua kali lipat.
Disini penulis akan melampirkan beberapa perusahaan asuransi syariah yang sudah
berkembang didalam maupun di luar negri, baik Negara muslim ataupun non-muslim. Asuransi Syariah di Beberapa Negara13
Negara-Negara Arab
No. Nama Perusahaaan Tahun Negara
1. As-Salam Islamic Takaful 1992 Bahrain 2. Islamic Insurance and Re-Insurance 1985 Bahrain 3. Sarikat Takaful Al-Islamiyah 1983 Bahrain 4. Takaful International 1989 Bahrain
5. Islamic Insurance 1989 Jordan
6. International Company for Cooperative Insurance
1989 Kwait
7. Qatar Islamic Insurance 1994 Qatar
8. Al-Aman Cooperative Insurance 1985 Saudi Arabia 9. Global Islamic Insurance 1985 Saudi Arabia 10. International Islamic Insurance 1985 Saudi Arabia
12 Zainuddin Ali Hukum Asuransi Syariah (Sinar Grafika:Jakarta ) hal 77
11. Islamic Arab Insurance 1979 Saudi Arabia 12. Islamic International Insurance (Salamat) 1985 Saudi Arabia 13. Islamic Takaful and Re-Takaful 1986 Saudi Arabia 14. Islamic Takaful and Re-Takaful (Bahamas) 1983 Bahamas 15. Islamic Universal Insurance 1983 Saudi Arabia 16. National Cooperative Insurance (NCCI) 1986 Saudi Arabia
17. Al-Baraka Insurance 1984 Sudan
18. Islamic Insurance 1979 Sudan
19. Sheikan Insurance 1979 Sudan
20.. The National Re-Insurance Company 1979 Sudan 21. The United Insurance Company 1968 Sudan 22. Watania Cooperative Insurance 1989 Sudan 23. BEIT ladat Ettamine Tounsi Saudi 1985 Tunisia
24. Oman Insurance 1985 UAE
25. Allience Insurance 1985 UAE
Negara-negara Muslim Non-Arab14
1. Insurance Islam TAIB Sendirian Barhand 1993 Brunei Darussalam 2. Tabung Amanah Islam 1993 Brunei Darussalam 3. Takaful and Re-Takaful 1993 Brunei Darussalam 4. Takaful Al-Birhad 1993 Brunei Darussalam
5. Life Takaful 1999 Bahamas
6. General Takaful 1999 Bahamas
7. Syarikat Takaful Indonesia 1999 Indonesia 8. PT. Asuransi Takaful Keluarga 1994 Indonesia 9. PT. Asuransi Takaful Umum 1994 Indonesia 10. PT. Syarikat Takaful 1994 Indonesia 4. Takaful S.A (formerly Islamic Takaful) 1982 Luxembrug 5. Sosar Al-Amane (al- Baraka Group) 1982 Senegal 6. Ampro Holding Singapore Pte 1982 Singapura
7. Keppel Insurance 1982 Singapura
8. Syarikat Takaful Singapura 1995 Singapura
9. Armana Srilangka 1999 Srilangka
10. Takaful T&T 1999 Trinidan
11. Takaful UKLtd. 1982 UK
12. UBK @ IIBU Manzil Programmes 1998 UK 13. Failaka Investments, Inc 1996 USA 14. Takaful USA Management Service, LLC 1996 USA
Dalam perkembangan pasar asuransi yang sangat besar di Indonesia, asuransi syariah baru
mencapai sekitar 1,5% dari total asuransi yang ada. Padahal berdasarkan data di BKKN, jumlah
penduduk di Indonesia telah mencapai 220 juta dengan tingkat pertumbuhannya sekitar 1,48%
per tahun dan tingkat kelahiran sebesar 2,6. Pertumbuhan penduduk tersebut, tentu akan menjadi
peluang untuk membuka usaha asuransi syariah dengan jumlah penduduk yang amat besar,
ditambah dengan persentase umat islam yang mencapai 88% dari jumlah penduduk yang ada
sehingga akan menjadi pangsa pasar yang besar bagi asuransi syariah.
Kini telah banyak masyarakat yang menjadi peserta asuransi syariah, karena menurut
mereka system asuransi syariah menjanjikan system yang lebih adil, transparan dan terhindar
dari unsure perjudian. Oleh karena itu masyarakat merasa lebih aman dengan asuransi syariah.
5.
PENGERTIAN REASURANSI SYARIAH (RETAKAFUL)
Reasuransi syariah (retakaful) adalah suatu proses saling menanggung antara pemberi sesi (ceding company) dengan penanggung ulang (reasurdur) dengan proses suka sama suka dari berbagai resiko dan persyaratan yang ditetapkan dalam akad yang dikenal dengannama konsep sharing of risk.15 UU No. 40 tahun 2014 menyebutkann bahwa reasuransi syariah adalah usaha
pengelolaan resiko berdasarkan prinsip syariah atas resiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi syariah, perusahaan penjaminan syariah, atau perusahaan reasuransi syariah lainnya.
Semakin berkembangnya asuransi syariah di Indonesia, memerlukan adanya reasuransi yang beroperasional sesuai syariah Islam untuk bekerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Reasuransi syariah diperlukan oleh asuransi syariah untuk saling membantu bilamana terjadi klaim dari peserta pada waktu yang tidak dapat diperkiraan sebelumnya. Di mana besarnya klaim tersebut di luar batas kemampuan membayar asuransi syariah. Kemampuan perusahaan asuransi syariah untuk menanggung risiko dari suatu pertanggungan disebut “retensi”, yang merupakan batas maksimum dari total klaim yang harus dibayar perusahaan asuransi syariah. Bilamana total klaim yang harus dibayar melebihi retensi yang telah ditentukan perusahaan asuransi, maka perlu adanya keterlibatan reasuransi syariah untuk ikut menanggung beban sebagian dari klaim tersebut. Jika hal ini tidak dilakukan, maka perusahaan asuransi syariah akan mengalami gagal bayar (default) yang berpotensi merugikan peserta karena klaimnya tidak dapat dibayar.
Kerjasama antara reasuransi syariah dengan asuransi syariah, berdasarkan fatwa DSN No. 53/DSN-MUI/III/2006 aktivitas ini menggunakan akad tabarru. Hal ini sesuai dengan tujuan kerjasama tersebut untuk saling tolong-menolong, dan bukan semata-mata untuk tujuan
komersial. Hubungan asuransi syariah dengan reasuransi syariah, hampir sama dengan hubungan asuransi syariah dengan peserta. Dalam hubungan asuransi syariah dengan peserta, di mana pihak asuransi syariah sebagai penanggung kerugian (insuer) yang mungkin menimpa peserta sebagai pihak tertanggung (insured). Sedangkan dalam reasuransi syariah sebagai pihak penanggung (insuer), dan sebagai pihak tertanggung asuransi syariah (insured) tanpa adanya keterlibatan langsung antara reasuransi syariah dengan peserta sebagai pemegang polis dari suatu perusahaan asuransi syariah.
Dengan mengasuransikan kembali sebagian premi yang dikelola perusahaan asuransi syariah, berarti perusahaan asuransi syariah menyebarkan sebagian risiko kepada reasuransi syariah. Hal ini untuk menghindari kerugian yang lebih besar karena adanya klaim peserta dan menghindari gagal bayar dari perusahaan asuransi syariah.
6. AKAD DALAM ASURANSI DAN REASURANSI 1. Akad tijarah
Akad tijarah yaitu akad yang dilakukan dengan tujuan (motif) komersial dalam hal ini terutama akad mudharabah. Dalam akad mudharabah, perusahaan bertindak sebagai pengelola (mudharib) sedangkan para peserta (pemegang polis) bertindak sebagai pemilik modal (sahibul mal).
2. Akad Tabarru’
Akad tabarru`yaitu bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan semata-mata kebajikan dan tolong-menolong(ta’awun); bukan untuk mengedepankan tujuan komersial/bisnis. Dalam akad tabarru’,peserta secara sadar memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang terkena musibah. sedangkan perusahaan bertindak sebagai pengelola dana hibah tersebut sebagaimana mestinya.
Kedua jenis akad ini secara bersamaan berlaku dalam akad asuransi terutama terkait dengan porsi dana yang diberikan oleh pemegang polis (nasabah).16
7. JENIS REASURANSI SYARIAH
Ditinjau dari ruang lingkup pada dasarnya ada tiga jenis reasuransi, yaitu:
1. Specific/Facultative Reinsurance, yaitu aktivitas penempatan reasuransi yang didasarkan pada kepentingan masing-masing pihak. Perusahaan asuransi boleh menawarkan atau tidak menawarkan risiko yang di luar batas kemampuan membayar kepada reasuransi, sebaliknya reasuransi boleh menerima atau menolak apabila ditawari risiko tersebut.
2. Automatic/Treaty Reinsurance, yaitu perjanjian reasuransi di mana perusahaan asuransi setuju atas penempatan kelebihan risiko kepada reasuransi dan reasuransi secara otomatis
menyetujui atas penempatan kelebihan risiko tersebut dari perusahaan asuransi sampai batas jumlah tertentu yang telah disetujui bersama.
3. Facultative Obligatory Reinsurance, yaitu gabungan antara facultative insurance dengan
treaty insurance. Perusahaan asuransi boleh menempatkan atau tidak menempatkan kelebihan risiko kepada reasuransi. Akan tetapi apabila perusahaan asuransi berkehendak menempatkan kelebihan risiko, maka reasuransi harus menerimanya sampai batas jumlah yang disetujui bersama.
KESIMPULAN
Asuransi syariah disebut juga dengan asuransi ta’awaun atau tolong-menolong. Oleh
karena itu dapat dikatakan bahwa asuransi ta’awun prinsip dasarnya adalah dasar syariat yang
saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan
sekitar 16 tahun yang lalu berdiri, tetapi perusahaan asuransi tidak kalah dengan asuransi
konvensional yang telah berdiri lebih dahulu. Bisa dilihat perkembangan asuransi syariah dari
banyaknya perusahaan asuransi konvensional yang membuka unit usaha syariah. Dan banyaknya
dana premi yang dihimpun akhir tahun 2007 mencapai10 miliyar.
Kini masyarakat telah banyak yang beralih ke asuransi syariah, bukan karena syariah saat
ini sedang naik daun, tetapi karena mereka sudah mengetahui bahwa yang berdasarkan prinsip
syariahlah yang lebih baik. Mengapa syariah dikatakan lebih baik? Karena perasuransian yang
ada selama ini mengandung unshur gharar, maisir dan riba, yang mana ketiga unsure itu
diharamkan oleh Islam. Keunggulan asuransi syariah telihat dari segi konsep, sumber hokum,
akad perjanjian, pengelolaan dana, dan keuntungan, bila dibandingkan dengan asuransi
konvensional.
DAFTAR PUSTAKA
Rodoni, Ahmad dan Abdul Hamid.2008. Lembaga Keuangan Syariah.Jakarta:Zikrul Hakim.
Sudarsono,Heri,2008. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah.Yogyakarta:Ekonisia
www.pojokasuransi.com
www.wikimu.com
Zainuddin Ali,Prof.2008.Hukum Asuransi Syariah.Jakarta:Sinar Grafika
Takaful.com/atu/pro06.html
Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian.
Kusnanto, Amir, 2011. Bank Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah, Badan Penerbit STIE Malangkuçeçwara, Malang.
Siamat, Dahlan. 2001. Manajemen Lembaga Keuangan, Edisi Ketiga Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta.
UU No. 40 tahun 2014 Tentang Perasuransian
LAMPIRAN
FATWA DSN-MUI BERKENAAN DENGAN ASURANSI
1. Fatwa No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman umum asuransi syariah
Menimbang:
a. Bahwa dalam menyongsong da upaya mengantisipasi kemungkonan terjadinya rsiko dalam
c. Bahwa bagi mayoritas umat muslim di Indonesia,asuransi merupakan persoalan baru yang
masih banyak dipertanyakan,apakah status hokum maupun cara aktivitasnya sejalan dengan
prinsip-prinsip syariah.
d. Bahwa oleh karena itu,untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab pertanyaan
masyarakat,Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang asuransi
yang berdasarkan prinsip syariah untuk dijadikan pedoman oleh pihak-pihak yang
memerlukan.
Mengingat:
a. Firman Allah tentang perintah mempersiapkan hari depan:
“Hai orang-orang yang beriman,bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yng telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat);dan bertakwalah
kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS.Al-Hasyr(59) ayat 18).
b. Firman Allah tentang prinsip-prinsip bermuamalah,baik yang harus dilaksanakan maupun
dihindarkan,antara lain:
“Hai orang-orang yang beriman,penuhilah aqad-aqd itu.dihalalkan bagimu binatang
ternak,kecuali yang dibacakan kepadamu.(yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan
berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.Sesungguhnya Allah menetapkan
hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.(QS.Al-Maidah(5) ayat 90).
c. Firman Allah tentang perintah untuk saling tolong-menolong dalam perbuatan positif,antara
lain:
“Dan menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada
Allah,sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.(QS.Al-Maidah(5) ayat 2).
d. Hadits-hadits Nabi SAW. Tentang beberapa prinsip bermuamalah,antara lain:
Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia, Allah akan melepaskan
kesulitan darinya pada hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia
(suka) menolong saudaranya.(HR.Muslim dari Abu Hurairah).
1. Pada dasarnya,semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya .
2. Segalaa mudharat harus dihindarkan sedapat mungkin. 3. Segala mudharat (bahaya) harus dihilangkan.
Memperhatikan:
1. Hasil Lokakarya Asuransi Syariah DSN-MUI tanngal 13-14 Rabiuts Tsani 1422 H/4-5
Juli 2001 M.
2. Pendapat dan saran peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada senin,tanggal 15
Muharram 1422 H/09 April 2001.
3. Pendapat dan saran peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada 25 Jumadil Awwal
1422/15 Agustus 2001 dan 29 Rajab 1422 H/17 Oktober 2001.
Dewan Syariah Nasioanal menetapkan: Fatwa tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.
1. Pertama : ketentuan umum
1. Asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara
sejumlah orang /pihak melalui investasi dalam bentuk aset atau tabbaru’ yang
memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad yang
sesuai dengan syariah.
2. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah yang tidak
mengandung gharar (penipuan),masyir (perjudian),riba,zhulm (penganiayaan),risywah
(suap),barang haram,dan maksiat.
3. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersial.
4. Akad tabbaru’ adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebajikan dan
tolong-menolong,bukan semata untuk tujuan komersial.
5. Premi adalah kewajiban peserta asuransi untuk memberikan sejumlah dana kepada
perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad.
6. Klaim adalah hak peserta asuransi yang wajib diberikan oleh perusahaan asuransi sesuai
dengan kesepakatan dalam akad. 2. Kedua: Akad dalam asuransi
1. Akad yang dilakukan antara peserta denagn perusahaan terdiri dari akad tijarah atau akad
tabbaru’.
2. Akad tijarah yang dimaksud dalam ayat (1) adalah mudharabah. Sedangkan akad tabbaru’
adalah hibah.
3. Dalam akad,sekurang-kurangnya harus disebutkan: a) Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan.
c) Jenis akad tijarah atau akad tabbaru’ sertya syarat-syarat yang disepakati,sesuai jenis
asuransi yang diakadkan.
3. Ketiga: Kedudukan para pihak dalam akad tijarah dan tabbaru’
1. Dalam akad tijarah (mudharabah) perusahaan bertindak sebagai mudharib (pengelola)
dan peserta bertindak sebagai sebagai shahibul mal (pemegang polis).
2. Dalam akad tabbaru’ (hibah),peserta memberikan hibah yang akn digunakan untuk menolong
peserta lain yang terkena musibah.Sedangkan perusahaan bertindak sebagai pengelola dana
hibah.
4. Keempat: Ketentuan dalam akad tijarah dan tabbaru’
1. Jenis akad tijarah dapat menjadi jenis akad tabbaru’ bila pihak yang tertahan haknya,dengan
rela melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan
kewajibannya.
2. Jenis akad tabbaru’ tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah.
5. Kelima: Jenis asuransi dan akadnya
1. Dipandang dari segi asuransi itu terdiri atas asuransi kerugian dan asuransi jiwa
2. Sedangkan akad bagi kedua jenis asuransi tersebut adalah mudharabah atau hibah
6. Keenam: Premi
1. Pembayaran premi didasarkan atas jenis akad tijarah dan jenis akad tabarru
2. Untuk menentukan besarnya premi perusahaan asuransi syariah dapat menggunakan rujukan,
misalnya table mortalita untuk asuransi jiwa dan table mordibita untuk asuransi kesehatan,
dengan syarat tidak memasukkan unsure riba dalam perhitungannya.
3. Premi yang berasal dari jenis akad mudharabah dapat diinvestasikan dan hasil investasinya
dibagihasilkan kepada peserta
7. Ketujuh: Klaim
1. Klaim dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati pada awal perjanjian
2. Klaim dapat berbeda dalam jumlah, sesuai dengan premi yang dibayarkan.
3. Klaim atas akad tijarah sepenuhnya merupakan hak peserta, dan merupakan kewajiban
perusahaan untuk memenuhinya.
4.Klaim atas akad tabarru’ merupakan hak peserta dan merupakan kewajuban perusahaan,
sebatas yang di sepakati dalam akad.
8. Kedelapan: Investasi
1. Perusahaan selaku pemegang amanah wajib melakukan investasi dari dana yang terkumpul
2. Investasi wajib dilakukan sesuai dengan syariah
9. Kesembilan: Reasuransi
Asuransi syariah hanya dapat melakukan reasuransi kepada perusahaan reasuransi yang
berlandaskan prinsip syariah.
10. Kesepuluh :Pengelolaan
1.Pengelolaan asuransi syariah hanya boleh dilakukan oleh suatu lembaga yang berfungsi
sebagai pemegang amanah.
2.Perusahaan asuransi syariah memperoleh bagi hasil dari pengelolaan dana yang terkumpul
atas dasar akad tijarah
11. Kesebelas: Ketentuan Tambahan
1. Implementasi dari fatwa ini harus selalu dikonsultasikan dan diawasi oleh DPS.
2. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara
para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak
3. Fatwa ini berlaku sejak tangal ditetapkan, dengan ketentuan jika dikemudian hari ternyata
terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Jakarta