12
Universitas Kristen Petra
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori
2.1.1 Film Sebagai Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah komunikasi yang terjadi melalui media massa modern seperti surat kabar, film, radio dan televisi. Jadi dalam artian yang lain komunikasi massa adalah penyebaran pesan dengan menggunakan media yang ditujukan kepada masyarakat yang absrtrak, yaitu sejumlah orang yang tidak tampak oleh penyampai pesan (Effendy, 2002, p.50).
Komunikasi yang menggunakan media massa yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen. Pesan-pesannya bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak, selintas (khususnya media elektronik). Komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, dan komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini (Mulyana, 2000, p.11).
Menurut Charles R. Wright komunikasi massa memiliki empat macam fungsi, yaitu (Wiryanto, 2000, p.11) :
a. Surveillance, menunjuk pada fungsi pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan, baik di luar maupun di dalam masyarakat. Fungsi ini berhubungan dengan apa yang disebut dengan Handling News.
b. Correlation , meliputi fungsi interpretasi pesan yang menyangkut lingkungan dan tingkah laku tertentu dalam mereaksi kejadian-kejadian, fungsi diidentifikasikan sebagai fungsi editorial atau propaganda.
c. Transmision, menunjuk pada fungsi mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai dan norma-norma sosial budaya dari satu generasi ke generasi yang lain atau dari anggota-anggota suatu masyarakat kepada pendatang baru. Fungsi ini diidentifikasikan sebagai fungsi pendidikan.
d. Entertainment, menunjuk pada kegiatan-kegiatan komunikatif yang dimaksudkan untuk memberi hiburan tanpa mengharap-efek-efek tertentu. Penelitian ini adalah penelitian dengan menggunakan film sebagai objek penelitian dan film
13
Universitas Kristen Petra
sendiri merupakan salah satu bentuk media massa modern yang kedua muncul di dunia (Sobur, 2004).
Film dianggap sebagai media hiburan ketimbang media pembujuk. Namun jelas, film sebenarnya punya kekuatan persuasi yang sangat besar. Karena film memerlukan khalayak yang besar, karena pasar luar negeri merupakan sumber pendapatan utama, dan karena kontrol pemerintah selalu mengancam, para produser berusaha tidak menyinggung perasaan siapapun. Mereka membuat film tentang kenakalan remaja, skandal asmara, pemisahan rasial, kejahatan dan kesehatan mental, namun mereka berusaha untuk tidak menyinggung kepentingan siapapun (William, 2004, p.252)
Belakangan juga muncul pula film-film yang mengumbar seks, kriminal dan kekerasan. Kekuatan dan kemampuan film menjangkau banyak segmen sosial, lantas membuat para ahli film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya.
Dalam banyak penelitian tentang dampak film terhadap masyarakat, hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami secara linier. Artinya, film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan ( message ) di baliknya, tanpa pernah berlaku sebaliknya. Makna film sebagai representasi dari realitas masyarakat, bagi Turner, berbeda dengan film sekedar sebagai refleksi realitas. Sebagai refleksi dari realitas, film sekedar “memindah” realitas ke layar tanpa mengubah realitas itu. Sementara itu, sebagai representasi dari realitas, film membentuk dan “menghadirkan kembali” realitas berdasarkan kode-kode, konvensi- konvensi, dan ideologi dari kebudayaannya (Sobur, 2004, p.128).
2.1.2 Ras dan Rasisme
Asal mula istilah ras diketahui sekitar tahun 1600. Saat itu, Francois Bernier, seorang antropolog berkebangsaan Perancis, pertama kali mengemukakan gagasan tentang pembedaan manusia berdasarkan kategori atau karakteristik warna kulit dan bentuk wajah. Segera setelah itu, orang lalu secara gamblang menetapkan hirarki manusia berdasarkan karakteristik fisik atas orang Eropa berkulit putih, yang diasumsikan merupakan warga kelas atas, berlawanan dengan orang Afrika yang berkulit hitam sebagai warga kelas dua. Atau dengan menguar-nguarkan slogan seolah-olah orang Eropa merupakan penyelamat bagi orang Africans-Americans,
14
Universitas Kristen Petra
yang dianggap primitif. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap stratifikasi dalam berbagai idang, seperti bidang sosial, ekonomi, politik, di mana orang kulit hitam merupakan sub ordinasi orang kulit putih. Itulah sistem stratifikasi sosial antar ras yang dibuat orang Eropa di abad pertengahan (Liliweri, 2005, p.21)
Ras sendiri bila dilihat dari sudut pandang biologis, memiliki pengertian adalah populasi manusia yang terbagi menjadi kelas-kelas sosial yang sesuai dengan karakteristik keturunan yang membedakan antara satu grup atau kelompok manusia dengan kelompok yang lain (Marger, 1994, p.19). Para antropologis menemukan tiga karakter yang membedakan tiap-tiap ras, yaitu:
1. Sesuai dengan keadaan anatomi, yaitu warna kulit, tekstur rambut, bentuk atau ukuran badan dan bentuk muka atau kepala.
2. Dilihat dari sudut pandang fisiologis seperti contohnya penyakit bawaan dan perkembangan hormonal.
3. Yang terakhir adalah komposisi darah dalam tubuh.
Ras dalam pertaliannya dengan makna rasisme, merujuk pada kelompok manusia yang ditentukan oleh dirinya sendiri atau oleh pihak lain, yang berlainan secara kultural berdasarkan ciri-ciri jasmaniah yang tidak dapat berubah. Jadi ras dalam rasisme ditentukan secara sosial, tetapi berdasarkan ciri-ciri fisik (Daldjoeni, 1991, p.82). Diskriminasi terhadap ras dan etnis tampaknya merupakan dikriminasi yang paling banyak menimbulkan perbuatan brutal. Banyak penelitian psikologi sosial berfokus pada sikap terhadap anti kulit hitam di Amerika Serikat. Sejak ratusan tahun sudah disebutkan bahwa sikap kulit putih terhadap orang negro di Amerika Serikat (AS) adalah negatif. Mereka cenderung melihat bahwa kulit hitam merefleksikan persepsi umum mengenai orang desa, budak dan pekerja kasar.
Bila dilihat sebagai sebuah sistem atau sebuah ideologi, rasisme terstruktur atau terbagi menjadi tiga pengertian yaitu:
1. Manusia secara alami sudah terbagi atau dibedakan sesuai dengan keadaan fisik.
2. Sesuai dengan keadaan fisik sebuah suku atau ras, juga kepribadian dan kemampuan intelektual.
3. Bila dilihat dari dasar genetik sebuah suku, sebuah kelompok atau suku, merasa lebih kuat atau lebih baik dari suku yang lain. (Marger, 1994, p.26)
Ideologi rasisme menunjukan bahwa sebuah kelompok atau suku
15
Universitas Kristen Petra
mendominasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik dan segala kekuasaan dalam sebuah institusi dan hanya membagi kekuasaan yang dimiliki hanya pada kelompok atau suku-nya sendiri dengan mengabaikan suku-suku minoritas. Ideologi rasisme menggambarkan bahwa ketidaksetaraan adalah hasil dari bangsa atau suku kulit hitam yang dipandang rendah dengan bangsa kulit putih yang lebih berkuasa (Marger, 1994).
Warga yang dinyatakan sebagai warga dari kelompok mayoritas atau superior atau dominan dalam suatu negara seringkali membawa sifat-sifat sebagai berikut:
a. Kelompok yang merasa memiliki kontrol dan kekuasaan untuk mengontrol dalam kehidupan bermasyarakat.
b. Kelompok yang memiliki dominasi dalam hal kebudayaan.
c. Sekelompok orang yang bersikap bahwa hanya merekalah yang superior terhadap kelompok etnik yang dijadikan inferior.
d. Mereka yang mempercayai bahwa kelompok minoritas harus disingkirkan.
e. Mereka menganggap dirinya adalah kelompok yang paling berhak sehingga mereka pun dapat mengklaim bahwa mereka paling berkuasa, mempunyai status sosial yang tinggi, dan karena itu mempunyai harga diri yang tinggi.
f. Mereka yang selalu mencurigai kelompok minoritas.
g. Mereka dianggap sebagai pahlawan.
Sedangkan warga yang dinyatakan sebagai warga dari kelompok minoritas atau inferior atau sub ordinasi juga membawa ciri-ciri seperti berikut ini:
a. Kelompok yang dibedakan secara fisik dengan kelompok mayoritas.
b. Kelompok yang diberlakukan tidak adil oleh kelompok dominan dalam masyarakat melalui prasangka, diskriminasi, dan segregasi.
c. Mereka selalu merasa bahwa dirinya adalah sasaran objek diskriminasi.
d. Kelompok yang relatif kurang berpengaruh, distereotipekan dengan negatif.
e. Kurang mempunyai sumber daya, privilese : kurang atau bahkan tidak berpeluang mendapatkan kekuasaan seperti mayoritas.
f. Kelompok minoritas biasanya dinikahkan dengan anggota dari kelompoknya sendiri.
g. Mereka selalu yang ditekan dan dihalangi oleh mayoritas.
16
Universitas Kristen Petra
h. Memiliki status yang tidak bebas dan status tersebut didapatkan melalui garis keturunan. (Liliweri, Alo, 2005, p.100-113)
2.1.3 Rasisme dalam Film Hollywood
Awal mula penggunaan kata – kata “negro” dalam industri film Hollywood bermula dari tahun 1930-an, julukan tersebut menjadi suatu hal yang cukup mengagetkan di era tersebut. Julukan ini digunakan hampir disetiap bagian produksi Hollywood, contohnya: reflektor lampu yang berwarna hitam disebut negro oleh para kru, lalu balkon dari sebuah bioskop dijuluki sebagai surga negro, para pengamat film seperti New Movie Magazine dan Boy’s Cinema memberi julukan pada karakter yang berkulit hitam disebut negro di dalam sinopsis atau plot cerita, lalu seorang penulis rubrik glamour di Hollywood menyebut bahan kain berwarna gelap yang digunakan oleh Vivien Leigh atau Myrna Loy sebagai negro coklat.
(Scott, 2014, p.1)
Tidak hanya itu saja rasisme penggunaan kata negro juga di tunjukkan dalam film Hollywood yang berjudul Emperor Jones (1933), cukup besar protes yang dilakukan oleh kulit hitam terhadap film tersebut. Didalam film tersebut diceritakan adanya penggunaan kata – kata negro lebih dari 20 kali dalam kurun waktu 90 menit yang dilakukan oleh pemeran kulit putih maupun kulit hitam. (Scott, 2014, p.3).
Joseph Breen selaku penanggung jawab Production Code Administration lebih tertarik untuk melindungi industri properti dan memberikan topeng terhadap permasalahan rasisme daripada mengurangi penghinaan terhadap kulit hitam di dalam film Hollywod. (Scott, 2014, p.24)
2.1.4 Whiteness vs Africans-Americans
Ras atau lebih dikenal dengan sebutan rasisme dan sering disamaartikan dengan rasialisme. Istilah rasialisme digunakan untuk menyebut gagasan yang meyakini adanya kaitan kausal antara ciri-ciri jasmaniah seseorang dengan keturunan, kepribadian, intelektualitas, kebudayaan, atau gabungan dari semuanya. Gagasan ini kemudian menimbulkan perasaan superioritas pada ras tertentu terhadap ras yang lain. Rasialisme sering kali bertalian dengan kelompok non biologis dan non rasial, seperti sekte keagamaan, kebangsaan, kebahasaan,
17
Universitas Kristen Petra
etnik atau kultural atau cuma sebuah prasangka yang sering kali dilihat dari steriotip dan kecemburuan sosial. Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu tentang ras, ras ditentukan bukan secara sosial melainkan berdasarkan ciri-ciri fisik (Rachman, dkk, 1999, p. 94-96).
Terdapat dua aspek yang mempengaruhi sikap rasialisme yaitu sikap diskriminasi ras yang mencakup segala bentuk perilaku pembedaan berdasarkan ras. Bentuk diskriminasi ras tampak jelas dalam pemisahan (segregasi) tempat tinggal warga ras tertentu di dunia barat maupun timur. Juga tata pergaulan antar ras yang memperlakukan etiket (sopan santun) berdasarkan superioritas atau inferioritas golongan. Aspek kedua dari rasialisme adalah prasangka ras.
Prasangka adalah gejala psikologis yang ditandai dengan sikap penuh emosi yang tak disertai bukti-bukti terlebih dulu berdasarkan pengalaman. Pendorong munculnya prasangka dalam pergaulan antar ras adalah sugesti, kepercayaan, keyakinan, dan emulasi (persaingan, perlombaan). Biasanya prasangka terdapat di kalangan negara-negara barat yang sebagian besar masyarakatnya kulit putih, kelompok mayoritas ini lalu meremehkan orang kulit hitam (Rachman, dkk, 1999, p. 97-98).
Kedua aspek ini saling menguatkan atau tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Prasangka mewujudkan suatu rasionalisasi bagi diskriminasi, sedangkan diskriminasi sering kali membawa ancaman. Dalam suasana prasangka dan diskriminasi tidak terdapat tempat bagi tolerasi dan keterbukaan. Contoh : di negara Afrika Selatan, apabila orang kulit putih memihak orang kulit hitam, ia akan diperlakukan buruk oleh sesama orang kulit putih. Diskriminasi ras di Afrika Selatan pada saat ini masih berlangsung, terlebih ketika orang kulit putih kuatir akan kemungkinan majunya orang kulit hitam di segala bidang. Maka orang kulit putih menutup segala pintu ke arah kemajuan yang mungkin dimanfaatkan orang kulit hitam (Rachman, dkk, 1999, p. 97-98).
Dari kedua aspek tersebut, muncullah paham yang bernama “whiteness”
yang berdasarkan pendapat Dr. Gregory Jay, professor of English senior director, cultures, and communities program university of Wisconsin, Milwaukee mengatakan bahwa setidaknya pada abad 17, ras kulit putih muncul sebagai penanda istilah hukum dan pengatur kehidupan sosial. Ras ini diakui sebagai
18
Universitas Kristen Petra
warga negara, dapat menikmati pendidikan di sekolah dan gereja, bisa menikahi siapa saja, dan bisa melakukan segala apapun tanpa ada batasan. Ia menyimpulkan bahwa ras kulit putih memiliki hak-hak istimewa dan berhak mendapatkan perlindungan yang lebih dibandingkan ras lain (Jay, 2016).
Whiteness adalah kata yang ditunjukan untuk memberikan identitas rasial dan terhubung ke dalam makna sosial terkait dengan perbedaan ras. Perbedaan ini dapat terlihat dari proses afiliasi, dimana proses ini akan membentuk kerjasama yang dilakukan beberapa orang untuk mencapai suatu kesepakatan eksternal.
Semua orang kulit putih akan lebih mudah mengklaim hak- hak istimewanya dibanding orang non kulit putih. Hal yang perlu diingat tentang permasalahan
“whiteness” ialah bila orang kulit putih sadar bahwa mereka dapat mengalami hukum yang berbeda dengan orang non kulit putih. Sedangkan orang non kulit putih bila ingin menjalankan sesuatu hal harus meminta izin terlebih dahulu kepada orang kulit putih (Nielsen, 2008, p.2-3).
Afrika-Amerika, atau Afro-Amerika, adalah sebuah kelompok etnis di Amerika Serikat yang nenek moyangnya banyak berasal dari Afrika di bagian Sub-Sahara dan Barat. Mayoritas dari rakyat etnis Afrika-Amerika berdarah Afrika, Eropa dan Amerika Asli. Istilah yang digunakan untuk merujuk kepada kelompok etnis ini dalam sejarah termasuk negro, kulit hitam, dan istilah lainnya dalam bahasa Inggris: colored, Afro-Americans.
Menurut Liliweri, bangsa kulit hitam pertama kali dijual dan diperdagangkan ke selatan Amerika sejak 1607 hingga 1807 ketika akhirnya pengimporan tersebut dilarang. Setelah Abraham Lincoln yang menentang perbudakan dilantik sebagai Presiden AS pada 1860, perbudakan pun dihapuskan pada 1863 melalui status hukum. Kedatangan orang-orang kulit hitam yang jumlahnya terus bertambah itu akhirnya mendorong pemerintah untuk mengakui kehadiran mereka tak lebih sebagai budak adalah The Thirteenth Amendment to the Constitution, yang mengatur perbudakan secara hukum di tahun 1865 (dalam Fabriana, Liliweri, 2005, p. 116).
Menurut Marger, Sistem perbudakan pada abad ke 18-19 di Amerika adalah sistem awal terbentuknya rasisme yang meyakini bahwa ras, kelompok, suku atau warga kulit hitam memiliki atau berada di tingkat sosial yang lebih
19
Universitas Kristen Petra
rendah dibandingkan dengan ras, kelompok, suku atau warga kulit putih di Amerika (dalam Fabriana, Marger, 1994, p.29). Doktrin supremasi kulit putih yang digunakan untuk mendukung lembaga perbudakan merupakan bagian dari adat dan kebijakan Amerika, bahwa Mahkamah Agung tahun 1875 setuju menyimpulkan baik Amerika Utara maupun Selatan menganggap budak sebagai suatu tatanan rendah dan sama sekali tidak layak untuk berasosiasi dengan ras kulit putih, baik dalam hubungan sosial atau politik, dan lebih jauh, budak tidak memiliki hak yang seperti orang kulit putih (Rottenberg, 1992, p.9).
Menurut Liliweri, catatan terpenting tentang kelompok etnik baru terjadi dalam abad ke-20, di mana ada gerakan hak sipil yang memenangkan legal bagi penghapusan diskriminasi ras, termasuk diskriminasi sekolah, hak sipil, serta penggunaan fasilitas umum. Masalah umum yang dihadapi oleh kelompok warga kulit hitam ini adalah pendapatan mereka yang rendah, kehidupan sosial-ekonomi sebagai orang yang sangat miskin, bekerja pada jenis pekerjaan kasar dengan jumlah pengangguran dua kali lebih dari kulit putih (dalam Fabriana, Liliweri, 2005, p. 116).
Identitas Afrika- Amerika ini kompleks dan sering diperdebatkan. Dalam memahami identitas sosial ini setidaknya memiliki lima dimensi yang saling berhubungan:
1. Dimensi Ras
Dimensi ras berhubungan dengan karakteristik genetik dan asal geografis suatu kelompok manusia. Label rasial "African American" berlaku untuk orang Amerika yang memenuhi kriteria fisik tertentu dan merupakan keturunan dari penduduk Afrika.
2. Dimensi Etnis
Dimensi etnis didasarkan pada praduga budaya dan keturunan biologis.
Berdasarkan paradigma, anggota komunitas etnis Afrika Amerika diharapkan akan berkomitmen untuk reproduksi khas budaya mereka untuk menjaga integritas kelompok dengan mengamati norma orang kulit hitam. Tapi ada konsepsi sosial yang menggambarkan “pengasingan” keberadaan etnis campuran (African American).
20
Universitas Kristen Petra
3. Dimensi Nasional
Dimensi nasional termasuk kriteria yang berhubungan dengan dimensi ras atau etnis. Namun di samping itu, menekankan asal-usul wilayah kelompok atau budaya. Secara khusus, wilayah geografis yang relevan biasanya dilihat sebagai
"tanah air" nenek moyang dan sumber kebanggaan kelompok-biasanya, beberapa bagian dari sub-Sahara Afrika.
4. Dimensi Budaya
Dimensi budaya merupakan konsepsi sosial yang tidak selalu terikat pada fisik bersama sifat, hubungan keturunan, atau asal-usul geografis. Maksudnya, orang hitam bisa saja bersikap seperti “layaknya” orang kulit putih, dan orang kulit putih memiliki perilaku seperti orang kulit hitam.
5. Dimensi Politik
Dimensi politik ialah untuk identitas African American. Hal ini umumnya diambil untuk melibatkan komitmen terhadap nilai-nilai politik tertentu (misalnya, hak- hak sipil yang sama, kelompok politik pemberdayaan) dan strategi tertentu perlawanan terhadap penindasan (misalnya, protes publik terorganisir, solidaritas kelompok) (McPherson, 2004, p.176-177).
Dari konsep di atas terdapat tiga kategori yang dipakai untuk melihat kemampuan orang kulit putih dan orang kulit hitam. Kategori-kategori ini adalah : 1. Kategori Behavior :
Kategori ini memperlihatkan bahwa orang kulit hitam digambarkan sebagai orang tidak beradab dan tidak berpikir panjang dalam bertindak (Guerrero, 1993, p. 123) sedangkan orang kulit putih digambarkan sebagai orang yang kompetitif, agresif, mudah introspeksi diri serta dapat mengevaluasi kehidupan yang sedang mereka alami untuk mencapai kepuasan hidup.
2. Kategori Emotion :
Kategori ini melihat orang kulit putih, khususnya laki-laki, tidak ekspresif secara emosional. Menurut Balswick (1982), hal tersebut termasuk dalam kategori “male inexpressiveness” yang berarti bahwa laki-laki tidak mengungkapkan secara verbal perasaannya karena ia telah disosialisasikan oleh lingkungan untuk tidak menunjukan emosi. Sedangkan orang kulit hitam bila ingin memperjuangkan
21
Universitas Kristen Petra
suatu hal, mereka lebih dahulu memiliki sikap yang ragu-ragu dan berpikir bahwa diri mereka tidak mampu mengatasi peristiwa kehidupan yang dihadapi secara pribadi.
3. Kategori Intelligence :
Kategori yang melihat bahwa orang kulit hitam memiliki intelegensi lebih rendah dari pada orang kulit putih sehingga orang kulit hitam cenderung mengandalkan emosi dan sensualitas di atas intelektual atau logika (Guerrero, 1993, p.123).
2.1.5 Representasi
Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia: dialog, tulisan, video, film, fotografi, dan lain sebagainya. Secara ringkas, representasi adalah produksi makna melalui bahasa. Lewat bahasa (simbol-simbol dan tanda tertulis, lisan, atau gambar) tersebut itulahseseorang dapat mengungkapkan pikiran, konsep, dan ide-ide tentang sesuatu (Juliastuti, 2000).
“Representasi berasal dari kata “ represent ” yang bermakna “ stand for ” artinya “berarti” atau juga “ act as delegate for ” yang bertindak sebagai perlambang atau sesuatu (Kerbs, 2001, p.456). Representasi juga dapat berarti sebagai suatu tindakan yang menghadirkan atau mempresentasikan sesuatu lewat sesuatu yang lain di luar dirinya, biasanya berupa tanda atau simbol”. (Piliang, 2003, p.21).Isi atau makna dari sebuah film dapat dikatakan dapat merepresentasikan suatu realita yang terjadi karena menurut Fiske representasi ini merujuk pada proses yang adegan realitasnya disampaikan dalam komunikasi, via kata-kata, bunyi atau kombinasinya.
(Fiske, 2004, p.282)
Representasi adalah suatu praktik penting yang memproduksi kebudayaan (Hall, 1997, p.25). Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas, kebudayaan menyangkut “pengalaman berbagi”. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada di situ membagikan pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam “bahasa” yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama.
2.1.6 Tanda dan Makna Untuk Semiotika
Tiga unsur utama yang harus dalam dalam setiap studi tentang makna
22
Universitas Kristen Petra
adalah tanda, acuan tanda dan pengguna tanda, tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi indra manusia; tanda mengacu pada sesuatu diluar tanda itu sendiri; dan bergantung pada pengenalan oleh penggunanya sehingga bisa disebut tanda (Fiske, 2004). Dua model makna yang sangat berpengaruh dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce (1839-1914) dan Ferdinand de Saussure (1857-1913), yang pada perkembangannya sangat mempengaruhi model-model berikutnya. Pierce melihat tanda, acuannya dan penggunanya sebagai tiga titik dalam segitiga. Masing-masing terkait erat pada dua yang lainnya, dan dapat dipahami hanya dalam artian pihak lain. Saussure mengambil cara yang sedikit berbeda, Saussure menyatakan bahwa tanda terdiri atas bentuk fisik dan konsep mental yang terkait, dan konsep ini merupakan pemahaman atas realitas eksternal.
Tanda terkait pada realitas hanya melalui konsep orang yang menggunakannya (Fiske, 2004).
Pierce menyatakan bahwa tanda dibentuk melalui relasi segitiga antara tanda, pengguna dan realitas eksternal sebagai suatu keharusan model untuk mengkaji makna. (Fiske, 2004, p.62). Pierce, yang biasanya dipandang sebagai pendiri tradisi semiotika Amerika, menjelaskan modelnya secara sederhana:
A sign is something that is attributed to someone for something in some respect or capacity . Signs point to a person , namely , creating in the mind of that person an equivalent sign , or perhaps a more developed sign . Signs that the creation of what I call the interpretant of the first sign . Signs that indicate something , that object ( Fiske , 2004 , P.63 ) .
Tanda merupakan suatu atribut untuk seseorang atau sesuatu yang disepakati bersama. Tanda mengarah pada seorang yang membuat orang tersebut berpikiran hal yang sama, atau bahkan berpikiran tentang tanda yang lebih berkembang. Tanda memiliki arti yang disebut interpretasi. Tanda mengindikasikan sesuatu, yaitu objek (Fiske, 2004, p.63)
Sign
Object Interpretant
Gambar 2.1 Unsur Makna Pierce Sumber: Fiske (2004, p.63)
23
Universitas Kristen Petra
Selanjutnya Pierce membagi tanda menjadi tiga tipe, yakni icon (ikon), index (indeks) dan simbol (simbol). Ketiga kategori tipe tanda tersebut digambarkan dalam sebuah segitiga berikut ini:
Menurut Pierce, model tersebut merupakan model yang sangat bermanfaat dan fundamental mengenai sifat tanda. Seperti yang dijelaskan berikut ini:
Each sign is determined by the object , first of all , by taking part in the character of the object , when I call the sign an icon ; second , by being real and in his individual existence associated with individual object , when I call the sign an Index ; Third , with more or less approaching certainty that it will be interpreted as signs denote objects as a consequence of habit ; when I call the sign a definitive estimate symbol that it is interpreted as an object denotative as a result of a habit when we call a sign of a symbol ( Fiske , 2004 , p.70 ) .
Setiap tanda mengarah pada objek, pertama dengan mengambil bagian dalam karakter objek ketika saya menyebut tanda sebagai ikon. Kedua, dengan menjadi nyata dan eksistensi individualnya terhadap objek individual, ketika saya menyebut tanda sebagai indeks. Ketiga , dengan kurang lebih mendekati kepastian bahwa hal itu akan ditafsirkan sebagai tanda-tanda menunjukkan benda sebagai konsekuensi dari kebiasaan ; ketika saya sebut tanda sebagai simbol bahwa itu ditafsirkan sebagai denotatif objek sebagai hasil dari kebiasaan ketika kita sebut tanda simbol ( Fiske , 2004 , p.70 ) .
Ikon
Simbol Indeks
Gambar 2.2 Kategori Tipe Tanda Pierce Sumber: Fiske (2004, p.70)
24
Universitas Kristen Petra
Berbeda dengan Pierce, Saussure lebih memperhatikan cara tanda-tanda (atau dalam hal ini, kata-kata) terkait dengan tanda-tanda lain dan bukannya cara tanda-tanda terkait dengan “objek”-nya Pierce. Jadi, model dasar Saussure berbeda penekanannya dengan Pierce. Dia lebih memfokuskan perhatiannya langsung pada tanda itu sendiri. Bagi Saussure, tanda merupakan objek fisik dengan sebuah makna;
atau, untuk menggunakan istilahnya, sebuah tanda terdiri atas penanda ( Signifier ) dan petanda ( Signified ). Penanda adalah citra tanda seperti yang kita persepsi (Fiske, 2004) atau dengan kata lain bunyi yang memiliki makna tertentu atau coretan yang makna tertentu (Kurniawan, 2001).
Konsep mental ini secara luas sama pada semua anggota kebudayaan yang sama yang menggunakan bahsa yang sama. Kedua unsur ini seperti dua sisi dari sekeping mata uang atau selembar kertas. Hubungan antara penanda dan petanda ini oleh Saussure diistilahkan sebagai pertandaan (signifikasi). Jadi, model Saussure bisa divisualkan seperti pada gambar berikut ini:
Dalam kategori tanda, Saussure hanya menaruh perhatian pada simbol, karena simbol adalah kata-kata (Fiske, 2004, p.69). Ia hanya tertarik pada relasi penanda dengan petanda dan satu tanda dengan tanda-tanda yang lain (Fiske, 2004, p.75). Konsep Pierce dan Saussure ini sangat membantu dalam memahami tanda- tanda pada film, terutama tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu
.
Kata Semiotika atau Semiologi berasal dari bahasa Yunani, Semeion yang Tanda
Petanda (konsep mental) Penanda
(eksistensi fisik dari tanda)
Gambar 2.3 Unsur Makna Saussure Sumber: Fiske (2004, p.70) Atau makna Tersusun
atas
Realitas eksternal pertanda
plus
25
Universitas Kristen Petra
berarti tanda. Menurut John Fiske, semiotika adalah studi tentang pertandaan dan makna, ilmu tentang tanda, tentang bagaimana makna dibangun dalam “teks” media, atau studi tentang bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat yang mengkomunikasikan makna (Fiske, 2004). Berkenaan dengan studi semiotika, pada dasarnya pokok perhatian pendekatan semiotika adalah tanda ( sign ). Menurut John Fiske, terdapat tiga bidang studi utama dalam semiotika, yakni:
1. Tanda itu sendiri. Hal ini terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang berbeda, dan cara tanda-tanda itu terkait dengan manusia yang menggunakannya. Tanda adalah konstruksi manusia dan hanya bisa dipahami dalam artian manusia yang menggunakannya.
2. Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat atau budaya atau untuk mengeksploitasi saluran komunikasi yang tersedia untuk mentransmisikannya.
3. Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Ini pada gilirannya bergantung pada penggunaan kode-kode dan tanda-tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri.
Teks merupakan fokus perhatian yang utama dalam semiotika. Teks dalam hal ini dapat diartikan secara luas, bukan hanya teks tertulis saja. Segala sesuatu sistem tanda komunikasi seperti yang yang terdapat pada teks tertulis, bisa dianggap sebagai teks”, misalnya film, sinetron, drama opera sabun, kuis, iklan, fotografi hingga tayangan sepakbola (Fiske, 2004). “Isi media terdiri dari sejumlah besar
“teks”, yang seringkali dibakukan dan berulang, yang disusun atas dasar kebiasaan gaya dan aturan tertentu, yang seringkali menggambarkan mitos dan kesan yang telah dikenal atau terselubung yang ada dalam kebudayaan penyusun dan penerima isi teks” (McQuail, 2003, p.182).
Dalam semiotika (ilmu tentang tanda) terdapat dua perhatian utama yakni:
hubungan antara tanda dan maknanya dan bagaimana suatu tanda dikombinasikan menjadi suatu kode (Fiske dan Hartley, 2003, p.22). Tanda-tanda yang sering kali digunakan dalam program televisi dapat dikategorikan menjadi tiga level yakni:
1. Level pertama adalah reality (realitas)
26
Universitas Kristen Petra
Pada level ini realitas dapat berupa kostum pemain (dress), riasan (make up), penampilan (appearance), lingkungan (environment), perilaku (behavior), ucapan (speech), gerakan (gesture), ekspresi (expression), suara (sound), dan sebagainya. Beberapa kode-kode sosial yang merupakan realitas didefinisikan secara nyata dan persis dalam medium seperti warna kulit, pakaian, ekspresi wajah, perilaku, dan sebagainya. Semua kode sosial ini telah dipahami sebagai kode budaya yang ditangkap secara elektronik melalui kode -kode teknis.
2. Level kedua adalah representation (representasi)
Level representasi meliputi kerja kamera (camera), pencahayaan (lighting), perevisian (editing), musik (music), dan suara (sound), yang kemudian menstransmisikan kode-kode representasional antara lain naratif (narrative), konflik (conflict), karakter (character), aksi (action), dialog (dialogue), latar (setting), casting.
3. Level ketiga adalah ideology (ideologi)
Merupakan hasil dari level realita dan level representasi yang terorganisir kepada penerimaan dan hubungan sosial oleh kode-kode ideologi, seperti individualisme, patriarki, ras, kelas, materialisme, kapitalisme, dan lain sebagainya. Posisi pembacaan ada pada posisi sosial yang mana penggabungan antara kode -kode televisual, sosial, dan ideologi menjadi satu untuk membuatnya berhubungan, penyatuan rasa “ untuk membuat “rasa” dari program kita dengan cara ini kita dimanjakan pada ideologi praktis diri kita, kita memelihara dan mengesahkan ideologi dominan dan penghargaan kita untuk kesenangan yang mudah dari pengenalan akan hal yang lazim dan cukup.
Dalam menganalisa representasi dominasi ras kulit putih terhadap kulit hitam dalam film The Avengers ini, peneliti menggunakan kode yang ada dalam teori The Codes of Television John Fiske. Peneliti memilih kode-kode ini karena kode-kode ini dianggap cocok untuk menjelaskan penggambaran dominasi ras yang ada dalam film The Avengers. Berikut penjelasan kode televisi yang akan digunakan peneliti dalam meneliti representasi rasisme dalam film The Avengers , yaitu:
27
Universitas Kristen Petra
Appearance (Penampilan)
Penampilan adalah keseluruhan tampilan fisik seseorang meliputi aspek sosiologis dan gaya personal. Sosiologis meliputi tinggi dan berat badan, warna kulit, warna dan jenis rambut, warna dan bentuk mata, bentuk hidung dan bentuk tubuh. Selain itu termasuk juga cacat, seperti amputasi dan bekas luka. Gaya personal meliputi pakaian yang dikenakan diseluruh tubuh, gaya potongan serta warna rambut, kosmetik dan make up dan modifikasi bagian tubuh. Selain itu juga termasuk perawatan pembentukan tubuh baik medis maupun non medis, seperti kawat gigi, alat bantu pendengaran, tambalan gigi, kacamata, dan lain -lain. Setiap pribadi memiliki penampilan yang berbeda disebabkan oleh hal genetika maupun dandanan personal (human physical appearance, wikipedia foundation, 2006). Setiap unsur -unsur penampilan baik berkaitan dengan genetika maupun dandanan personal kerap memunculkan persepsi or ang lain terhadap suatu pribadi. Seperti yang dikatakan Mulyana (2007, p.329) bahwa “seringkali orang memberi makna tertentu pada karakteristik fisik orang yang bersangkutan, seperti bentuk tubuh, warna kulit, model rambut, dan sebagainya”.
Dress (Kostum)
Pratista (2007) menjelaskan mengenai kostum pada sebuah film meliputi segala hal yang dikenakan oleh para pemeran beserta dengan semua aksesoris yang digunakan. Busana beserta aksesoris yang dikenakan tersebut tidak hanya sebagai pakaian tetapi memiliki fungsi sesuai dengan konteks naratif yang digunakan. Adapun beberapa fungsi dalam film antara lain sebagai penunjuk ruang dan waktu, status sosial, kepribadian pelaku cerita, motif penggerak cerita dan juga citra pelaku.
Make Up (Tata Rias)
Make Up adalah sebagai metode dalam hubungannya dengan pencahayaan panggung untuk menyorot wajah para aktor agar membuat ekspresi terlihat oleh penonton dari jarak moderat. Hal ini sering kali berhubungan dengan definisi mata dan bibir serta highlights dan lowlights dari tulang wajah (Make up, wikipedia foundation, 2010). Make up atau
28
Universitas Kristen Petra
tata rias menurut Pratista (2008) dalam film memiliki dua fungsi, yaitu untuk menunjuk usia dan untuk menggambarkan wajah non manusia.
Selain dua fungsi utama tersebut, make up juga digunakan untuk membedakan seorang pemain jika bermain dalam peran yang berbeda dalam satu film. Make up juga kerap digunakan untuk menyamakan seorang pemeran dengan wajah asli tokoh yang ia perankan, biasanya dalam film-film biografi.
Environment (Lingkungan)
Lingkunganadalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air , energi surya , mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan.
Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, air, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi. Sedangkan komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia (lingkungan, wikipedia, 2010)
Behaviour (Perilaku)
Perilaku adalah suatu aksi atau reaksi dari sebuah objek atau organisme dan biasanya berhubungan dengan lingkungan. Untuk manusia perilaku dapat merupakan sesuatu yang biasa dilakukan, tidak biasa atau aneh, sesuatau yang dapat diterima, ataupun sesuatu yang tidak dapat diterima. Perilaku yang bagaimana yang dapat diterima atau biasa dilakukan diukur dengan norma-norma sosia l serta kontrol sosial (behavior, wikipedia foundation, 2006).
Speech (Cara Berbicara)
Cara berbicara menurut penjelasan Pratista (2008) mengacu kepada jenis bahasa bicara pada komunikasi verbal yang digunakan dalam sebuah film. Wilayah (negara) dan waktu (periode) merupakan unsur yang menjadi penentu sebuah cara berbicara pada sebuah film. Biasanya film- film produksi sebuah negara selalu menggunakan bahasa induk negaranya.
Bahasa bicara juga berhubungan dengan aksen. Aksen digunakan untuk meyakinkan penonton bahwa cerita tersebut benar-benar terjadi di sebuah
29
Universitas Kristen Petra
wilayah. Selain itu aksen juga digunakan untuk menunjukkan dari mana seorang karakter berasa.
Gesture (Gerakan)
Gesture adalah gerakan komunikasi nonverbal yang dilakukan oleh seseorang dalam menyampaikan pesan yang mencerminkan emosinya.
Gesture atau gerakan tidak bersifat Universal, tergantung dari budaya atau pemikiran orang tersebut (Gesture, Wikipedia Foundation, 2006). Gesture merupakan bagian penting dalam film untuk mengekspresikan. Argyle dalam Wainwright (2007, p.81) menyebutkan ada lima fungsi gesture dalam film:
1. Ilustrasi dan isyarat-isyarat penghubung bicara lainnya 2. Isyarat-isyarat konvensional dan bahasa isyarat
3. Gerakan mengekspresikan emosi 4. Gerakan mengekspresikan kepribadian
5. Gerakan yang digunakan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan ritual lainnya
Expression (ekspresi)
Ekspresi wajah atau mimik adalah hasil dari satu atau lebih gerakan atau posisi otot pada wajah. Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal, dan dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang ya ng mengamatinya. Ekspresi wajah merupakan salah satu cara penting dalam menyampaikan pesan sosial dalam kehidupan manusia , namun juga terjadi pada mamalia lain dan beberapa spesies hewan lainnya. Mulyana (2007) juga menjelaskan dalam bukunya mengenai perilaku nonverbal yang dianggap paling banyak “ber bicara” adalah ekspresi wajah, khususnya pandangan mata. Kontak mata memiliki dua fungsi dalam mengekspresikan sebuah pesan. Pertama, fungsi pengatur untuk memberi tahu orang lain apakah kita akan melakukan hubungan dengan orang itu atau menghindarinya. Kedua, fungsi ekspresif untuk memberi tahu orang lain bagaimana perasaan kita terhadapnya.
Sound (Suara)
30
Universitas Kristen Petra
Pratista (2008) menjelaskan bahwa suara dalam film dapat berarti seluruh suara yang keluar dari gambar. Suara dapat meliputi dialog, musik, dan efek suara. Suara memiliki peran aktif dalam mendukung aspek naratif dan estetik film secara keseluruhan.
Pada sub sub bab ini akan dibahas terlebih dahulu mengenai efek suara. Efek suara, yang sering disebut noise, memiliki fungsi utama sebagai pengisi suara latar. Suara latar dapat memberikan kesan hidup pada film.
Camera (Kamera)
Kamera dalam pembuatan film tidak hanya berperan sebagai alat perekam, tetapi cara merekam atau pengambilan gambar inilah yang perlu diperhatikan. Berikut adalah beberapa teknik pengambilan gambar berdasarkan besar kecil subjek, antara lain menurut Naratama (2004) :
1. Extreme Long Shot (ELS)
Extreme Long Shot digunakan bila ingin mengambil gambar yang sangat amat jauh, panjang, luas, dan berdimensi lebar. Shot ini biasanya digunakan untuk pembukaan film dan untuk memperkenalkan penonton mengenai lokasi cerita.
2. Long Shot (LS)
Long Shot menangkap gambar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Long Shot yang juga disebut dengan landscape format, biasanya digunakan untuk mengantarkan mata penonton kepada kejelasan suatu suasana dan objek.
3. Medium Long Shot (MLS)
Medium Long Shot menangkap gambar dari ujung kepala hingga setengah kaki. Shot ini biasa digunakan sebagai variasi estetika gambar. Angle yang digunakan dapat dikreasi sedemikian rupa agar menghasilkan tampilan yang menarik.
4. Medium Shot (MS)
Medium Shot menangkap gambar dari tangan hingga ke atas kepala. Shot ini biasanya digunakan untuk menunjukkan ekspresi dan emosi dari pemeran kepada penonton.
5. Middle Close Up (MCU)
31
Universitas Kristen Petra
Middle Close Up menangkap gambar dari ujung kepala hingga perut. Penonton masih tetap dapat melihat latar belakang tetapi penonton juga diarakhan untuk mengenal lebih detail profil, bahasa tubuh, dan emosi pemeran.
6. Close Up (CU)
Close up menangkap gambar penuh dari leher hingga ujung kepala.
Shot ini adalah komposisi yang paling sering digunakan. Melalui shot ini emosi dan juga reaksi dari mimik wajah tergambar dengan jelas.
7. Extreme Close Up (ECU)
Extreme Close Up berfokus kepada satu objek saja. Misalnya hidung, mata, atau alis saja. Shot ini jarang digunakan dalam produksi film.
Berdasarkan sudut pandang kamera yang digunakan, Pratista (2008) menyebutkan ada dua jenis sudut pandang kamera yang banyak digunakan, yaitu:
1. High-angle
High-angle mampu memberikan kesan objek seolah tampak kecil, lemah, serta terintimidasi.
2. Low-angle
Low-angle mampu memberik kesan objek tampak lebih besar (bahkan raksasa), dominan, percaya diri, serta kuat.
3. Eye Level
Eye Level memberikan kesan netral. Dimana objek ditampilkan sesuai dengan apa yang ada didunia nyata.
Produksi film juga mengenal istilah pergerakan kamera. Pergeraka kamera ini berfungsi mengikuti pergerakan seorang pemeran serta objek. Pergerakan kamera juga sering digunakan untuk menggambarkan suasana sebuah lokasi paronama.
Ada beberapa jenis pergerakan kamera, menurut Pratista (2008) antara lain:
1. Pan
Pan merupakan singkatan dari panorama. Istilah panorama digunakan karena pada umumnya pergerakan kamera ini digunakan untuk menggambarkan pemandangan secara luas. Pergerakan Pan adalah horizontal (kanan dan kiri) dengan posisi kamera statis.
32
Universitas Kristen Petra
2. Tilt
Tilt biasanya digunakan untuk memperlihatkan objek yang tinggi atau raksasa di depan seorang pemeran. Pergerakan Tilt adalah secara vertical (atas dan bawah) dengan posisi kamera statis.
3. Tracking
Tracking shot atau yang juga disebut dengan dolly shot merupakan pergerakan kamera secara horizontal yang bersamaan dengan perubahan posisi kamera.
4. Crane Shot
Crane Shot merupakan pergerakan kamera secara vertical, horizontal, atau kemana saja dengan posisi kamera berubah. Posisi kamera tetap berada dalam posisi melayang. Crane shot biasanya digunakan untuk menggambarkan situasi kota, bangunan, areal taman, dan lain-lain.
Lighting (Pencahayaan)
Pengambilan gambar pada film sepenuhnya dibantu oleh permainan dan pengaturan cahaya. Tata cahaya dapat mempengaruhi suasana serta mood sebuah film. Tata cahaya dalam film menurut Pratista (2008) dapat dikelompokkan menjadi empat unsur, yakni :
1. Kualitas pencahayaan
Kualitas pencahayaan mengacu pada besar kecilnya intensitas pencahayaan.
Cahaya terang (highlight) cenderung menghasilkan bentuk objek serta bayangan yang jelas, sementara cahaya lembut (softlight) cenderung menghasilkan bayangan yang tipis.
2. Arah pencahayaan
Arah pencahayaan mengacu pada posisi sumber cahaya terhadap objek. Objek yang biasanya adalah pelaku cerita dan paling sering adalah bagian wajah. Arah cahaya sendiri dapat dibagi menjadi lima, yaitu:
(1) arah depan (frontal lighting), menghilangkan bayangan dan menegaskan bentuk objek atau wajah karakter
(2) arah samping (side lighting), menampilkan bayangan di samping tubuh karakter atau wajah
(3) arah belakang (back lighting), menampilkan siluet objek
33
Universitas Kristen Petra
(4) arah bawah (under lighting), biasanya digunakan untuk efek horror. Juga dapat digunakan untuk mempertegas sumber cahaya alami seperti lilin, api unggun, dan lain sebagainya
(5) arah atas (top lighting), sangat jarang digunakan dan biasanya digunakan untuk mempertegas sebuah benda atau karakter.
3. Sumber cahaya
Sumber cahaya mengacu pada karakter sumber cahaya, baik itu pencahayaan buatan maupun pencahayaan natural yang menampilkan pencahayaan seperti apa adanya di lokasi setting. Dua sumber cahaya yaitu sumber cahaya utama (key light) dan sumber cahaya pengisi (fill light).
4. Warna cahaya
Warna cahaya mengacu pada penggunaan warna dari sumber cahaya. Warna cahaya natural adalah warna putih (sinar matahari) dan warna kuning muda (lampu).
Editing (Penyutingan)
Definisi editing pada tahap produksi menurut Pratista (2008, p.123) adalah
“proses pemilihan serta penyambungan gambar -gambar yang telah diambil”.
Seme ntara definisi editing pasca produksi adalah teknik –teknik yang digunakan untuk menghubungkan tiap shot-nya. Adapun sineas memiliki wilayah kontrol yang amat luas untuk menghubungkan shot-shot dalam film-film mereka baik secara grafis, ritmis, spasial, da n temporial.
Sineas juga dapat memilih bentuk transisi sesuai tuntutan naratif dan estetik yang ia imginkan. Berikut adalah bentuk-bentuk editing antara lain:
1. Cut
Cut adalah transisi atau peralihan dari satu shot ke shot lainnya secara langsung.
Editing ini paling banyak digunakan.
2. Wipe
Wipe adalah transisi shot dimana frame sebuah shot digeser ke arah kiri, kanan, atas, bawah, atau lainnya hingga berganti menjadi sebuah shot baru. Teknik wipe digunakan untuk perpindahan shot yang terputus waktu namun tidak berselisih jauh.
3. Dissolve
34
Universitas Kristen Petra
Dissolve adalah transisi shot dimana gambar pada shot sebelumnya selama sesaat bertumpuk pada shot setelahnya.
4. Fade
Fade adalah transisi shot di mana gambar secara perlahan intensitasnya bertambah gelap hingga frame berwarna hitam dan gambar shot berikutnya muncul.
Music (Musik)
Musik menurut Pratista (2008, p. 154) merupakan “salah satu elemen yang paling berperan penting dalam memperkuat mood, nuansa, serta suasana sebuah film.
Musik dapat juga menjadi jiwa sebuah film ”
Sementara menurut Marselli Sumarno (1996) ada delapan fungsi musik dalam film, yaitu:
1. Membantu merangkai adegan sehingga menimbulkan kesan kesatuan
2. Menutupi kelemahan atau kecacatan sebuah film. Kelemahan dapat berupa akting yang lemah atau dialog yang dangkal. Harapannya dengan musik yang tepat, kelemahan tersebut diubah menjadi lebih dramatik
3. Menunjukkan suasana batin tokoh-tokoh utama film 4. Menunjukkan suasana waktu dan tempat
5. Mengiringi kemunculan susunan kerabat kerja (credit title) 6. Mengiringi adegan dengan ritme cepat
7. Mengantisipasi adegan mendatang dan membentuk ketegangan dramatik 8. Menegaskan karakter lewat musik
Narative (Naratif)
Naratif menurut Pratista (2008, p.33) adalah “suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu”. Definisi ini berangkat dari asumsi bahwa sebuah kejadian tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada alasan yang jelas.
Conflict (Konflik)
Konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya (konflik, wikipedia foundation , 2010)
Character (Karakter)
35
Universitas Kristen Petra
Sumarno (1996) menuliskan pembentukan karakter dalam sebuah film sangat penting dan dikaitkan dengan proses penokohan. Proses penokohan akan mengarahkan seorang pemeran menyajikan penampilan yang tepat seperti cara bertingkah laku, ekspresi emosi dengan mimik dan gerakgerik, cara berdialog, untuk tokoh cerita yang dia bawakan. Ada lima jenis karakter yang banyak disajikan dalam film menurut penjelasan Sony & Sinta (2007), antara lain:
1. Karakter Protagonis
Karakter Protagonis biasanya merupakan karakter utama. Karakter Protagonis mewakili sisi kebaikan dan mencerminkan sifat-sifat kebenaran.
2. Karakter Sidekick
Karakter Sidekick adalah pasangan karakter protagonis. Biasanya memiliki peran membantu atau mendukung karakter protagonis.
3. Karakter Antagonis
Karakter Antagonis merupakan karakter yang mewakili sifat-sifat negatif.
Karakter Antagonis bertentangan dengan karakter protagonis.
4. Karakter Kontagonis
Karakter Kontagonis adalah rekan karakter antagonis.
5. Karakter Skeptis
Karakter Skeptis adalah karakter yang tidak peduli atau tidak segan terhadap tokoh protagonis. Karakter Skeptis bukan berarti melawan seperti halnya karakter antagonis, tetapi cederung memandang rendah karakter protagonis.
Action (Aksi)
Aksi adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia baik berupa fisik maupun pikiran dan terjadi karena adanya kemauan dan gairah untuk melakukan sesuatu atau berlandaskan sesuatu (Action, Wikipedia Foundation, 2006).
Dialouge (dialog)
Definisi dialog menurut Pratista (2008, p.151) adalah “bahasa komunikasi verbal yang digunakan semua karakter di dalam maupun di luar cerita film (narasi)”.
Dialog sebuah film juga perlu memperhatikan bahasa bicara dan aksen.
Casting (pemeran)
Pemeran adalah orang yang memainkan peran tertentu dalam suatu aksi panggung, acara televisi atau film. Ia biasanya adalah orang yang dididik atau
36
Universitas Kristen Petra
dilatih secara khusus untuk bersandiwara melalui suatu kursus atau sekolah, atau berpura-pura memerankan suatu tokoh sehingga tampak seperti tokoh sungguhan (pemeran, wikipedia foundation, 2010).
Setting (tempat)
Setting atau latar adalah suatu keadaaan atau letak dari suatu komunitas tetapi pada perkembangannya dapat dikatakan sebagai lingkungan. Latar merupakan waktu dan lokasi dimana sebuah cerita terjadi seringkali menentukan keadaan yang terjadi pula (setting, wikipedia foundation, 2006). Sumarno (1996, p.62) juga menuliskan bahwa “Dalam sebuah film,latar atau setting merupakan tempat dan waktu berlangsungnya cerita”. Setting diharapkan dapat memberi informasi lengkap kepada penonton tentang peristiwa-peristiwa yang sedang disaksikan.
Setting memiliki fungsi antara lain: penunjuk ruang dan waktu, status sosial, pembangun mood, penunjuk motif tertentu, dan pendukung aktif adegan.
Film merupakan salah satu penerapan bidang semiotika. Film dibangun dengan banyak tanda. Tanda-tanda itu termasuk sebagai sistem tanda yang bekerjasama dengan baik dalam rangka mencapai efek yang diharapkan. Yang paling penting dalam film adalah gambar dan suara: kata yang diucapkan (ditambah dengan suara-suara lain yang serentak mengiringi gambar-gambar) dan musik film tersebut (Zoest, 1996, 109).
Dalam hal ini, sistem semiotika paling penting adalah proses kerjanya timbul dari silih bergantinya gambar-gambar. Jadi jelas adanya bahwa bersamaan dengan tanda-tanda pada arsitektur, terutama indeksial, pada film terutama digunakan tanda-tanda ikonis, yakni tanda-tanda yang menggambarkan sesuatu (Zoest, 1996, p.109).
2.2 Nisbah Antar Konsep
Film merupakan bagian dari komunikasi massa di masa kini. Film seringkali dijadikan media hiburan daripada media informasi oleh masyarakat. Film juga mampu mejangkau berbagai kalangan masyakarat dari berbagai segmen.
Kemampuan film menjangkau seluruh lapisa masyarat juga disertai dengan potensi film untuk mempengaruhi sikap masyakarat melalui pesan yang film tersebut bawa.
Secara sadar atau tidak film menyampaikan pesan tertentu kepada khalayak nya.
37
Universitas Kristen Petra
Pesan tersebut merupakan pesan ideologis yang merupakan representasi dari realitas yang ada di masyarakat. Pesan yang disampaikan oleh film bisa bermacam macam.
Mulai dari pesan moral yang sederhana hingga pesan ideologi.
Pesan tersebut disampaikan dalam bentuk tanda dan lambang yang ada di dalam film tersebut. Tanda dan lambang dalam film merupakan sebuah representasi dari sebuah realitas yang ada. sebagai representasi dari realitas, film mampu membentuk dan menghadirkan kembali realitas berdasarkan kode-kode,konvensi- konvensi dan ideologi dari kebudayaan nya. Film menyampaikan pesan nya ke komunikan dengan bersifat idelogis. Artinya pesan yang disampaikan oleh film selalu memiliki makna tersembunyi (makna sekunder) atau ideologis. Untuk memahami hal ini maka diperlukan analisis tekstual semiotika. Analisis tekstual semiotika yang digunakan adalah milik John Fiske. Semiotika adalah studi tentang tanda dan makna dari sistem tanda; ilmu tentang tanda, tentang bagaimana makna dibangun dalam “teks” media; atau studi tentang bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat yang mengkomunikasikan makna.
Dalam studi tentang semiotika film ini nantinya akan dilakukan analisis terhadap seluruh sistem tanda dan lambang dalam film ini baik berupa gambar atau suara/ studi semiotika ini diguanakan untuk membantu mengetahui bagaimana representasi ras kulit hitam dan kulit putih dalam film The Avengers.
38
Universitas Kristen Petra
2.3 Kerangka Pemikiran
Film-film Hollywood seringkali menampilkan bias ras. Ras kulit hitam seringkali digambarkan sebagai sosok antagonis atau kaum marjinal.
Bahkan hanya sebagian kecil ras kulit hitam yang mendapatkan apresiasi di ajang Oscars.
Dalam film The Avengers tokoh kulit hitam digambarkan sebagai pemimpin dan setara dengan kulit putih
Ras adalah populasi manusia yang terbagi menjadi kelas-kelas sosial yang sesuai dengan karakteristik keturunan yang membedakan antara satu grup atau
kelompok manusia dengan kelompok yang lain (Marger, 1994, p.19).
Kode-kode Televisi John Fiske
Level Realitas
Kode-kode sosial termasuk dalam level pertama ini yakni meliputi appearance (penampilan), dress (kostum), make-up (riasan), environment (lingkungan), behavior (perilaku), speech (cara berbicara), gesture (gerakan), expression (ekspresi). Level ini adalah level paling dasar yang paling nampak dan mudah terlihat.
Level Representasi
Kode-kode yang termasuk dalam level kedua ini berkaitan dengan kode-kode teknik, seperti camera (kamera), lighting (pencahayaan), editing (penggabungan gambar), musik (musik), sound (suara).
Merupakan level kedua, dimana pesan disampaikan lewat cara tertentu dalam teknik perfilm-an.
Level Ideologi
Pada level ketiga ini mecakup kode-kode representative seperti narrative (naratif), conflict (konflik), action (tindakan), dialogue (dialog), setting (latar), casting (pemeran). Level paling terakhir dimana pesan yang disampaikan melalui sesuai yang mendalam yang bahkan bisa tak disadari
Representasi ras kulit hitam dan kulit putih dalam film The Avengers Tokoh kulit hitam selalu digambarkan sebagai sidekick atau
tokoh pelengkap. Sedangkan tokoh kulit putih selalu memerankan “the real” hero.
Semiotika