2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Business Performance
Performa bisnis berkaitan dengan bagaimana perusahaan dapat mencapai kemampuan finansial dan kemampuan pasar yang tinggi, menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mampu bersaing dan memiliki competitive advantage (Li et al., 2004). Performa bisnis juga dikaitkan dengan kemampuan perusahaan untuk dapat menciptakan value produk yang tinggi, yang mana dapat dicapai dengan berbagai strategi yang dimiliki perusahaan (Liker, 2004). George (2002) menjelaskan tentang apa saja yang dilakukan oleh perusahaan untuk dapat mencapai tingkat competitive level yang tinggi yaitu bagaimana perusahaan dapat melakukan terobosan untuk mengurangi biaya paling tidak sebesar 5% setiap tahunnya. Salah satu tanda perusahaan yang memiliki kemampuan bisnis yang baik adalah perusahaan dapat memberikan upah yang lebih tinggi.
Apabila melihat perkembangan yang ada, maka pengukuran performa bisnis suatu perusahaan mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Apabila pada masa awal revolusi industri, penilaian performa bisnis hanya terkait dengan jumlah produksi, saat ini jumlah produksi yang besar belum menunjukkan tingginya competitive advantage yang dimiliki oleh perusahaan. Berkembangnya sistem informasi dan berbagai ilmu seperti manajemen modern dan munculnya isu-isu global warming dan berbagai value perusahaan menunjukkan bahwa dunia saat ini sudah berubah. Isu lain yang kini naik ke permukaan adalah isu mengenai CSR dan ini menunjukkan perkembangan pengukuran performa perusahaan yang terus berkembang, dari pusat penilaian adalah barang kepada penciptaan value melalui sumber daya manusia yang ada (Grudem, 2003). Kecepatan produksi yang tinggi tidak menjamin tingginya performa perusahaan, begitu pula keberadaan sumber daya yang berlimpah dan memiliki tingkat bahan baku yang tinggi serta barang jadi yang menumpuk tidak bisa menjadi ukuran tingginya performa bisnis perusahaan (Liker, 2004).
Berkembangnya teknologi juga mendukung saling terkaitnya berbagai aspek sumber daya yang dimiliki perusahaan. George (2002) menunjukkan bahwa
perusahaan yang ada saat ini tidak terlalu mementingkan jumlah barang yang besar maupun jumlah stock yang ada. Toyota, salah satu perusahaan manufaktur yang menerapkan prinsip lean manufacturing melalui sistem produksi Toyota membuktikan keperkasaannya dengan meminimalkan stock dan mengandalkan kekuatan supply chain management yang dimiliki perusahaan dan memiliki supplier yang mana juga dikembangkan oleh pihak Toyota (Liker, 2004).
Perkembangan sistem produksi yang lean ini juga diadopsi dari Toyota, yang pada saat ini diterapkan di berbagai industri di dunia. Konsep-konsep dasar dari lean production system seperti just in time, kaizen, dan heijunka serta jidoka kini makin berkembang baik di industri di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Menilik pada beberapa literatur yang sudah disebutkan, maka indikator performa bisnis yang digunakan adalah low-cost effort, tingkat gaji, dan daya saing perusahaan dibandingkan dengan kompetitor, serta kaizen activity.
2.2 Supply Chain Management Performance
Supply chain management didefinisikan oleh Council of Logistics Management (1986) sebagai the process of planning, implementing, and controlling the efficient, cost effective flow and storage of raw materials, in- process inventory, finished goods, and related information flow from point-of- origin to point-of-consumption for the purpose of conforming to customer requirements. Ada beberapa poin penting yang dapat diambil dari definisi diatas yaitu proses, perencanaan, implementasi, control, flow, efektif, efisien, bahan baku, inventori, finished goods, informasi, conforming to customer requirement.
Secara sederhana, kerangka berpikir SCM dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Raw Material
Raw Material
Manufacturer
Manufacturer
Manufacturer
Assembler
Assembler
Warehouse
Warehouse
Warehouse
Customer
Customer
Customer
Customer
Customer
Gambar 2.1 Model Generik Supply Chain Management (Thomas & Griffin, 1996)
Gambar 2.1 menunjukkan kerangka pemikiran SCM, yang mana dimulai dari bahan baku hingga sampai ke konsumen melewati beberapa proses diantaranya manufaktur, perakitan, gudang, dan konsumen. Kelima aspek ini terangkum dalam konteks supply chain management, yang terkait dengan berbagai bagian di perusahaan seperti bagian pengadaan, pemasaran, produksi, PPIC, bahkan terkait dengan improvement, hingga bagian gudang.
SCM menjadi studi yang dikembangkan secara terus menerus. Isu yang saat ini sedang dikembangkan sekalipun belum banyak diaplikasikan di Indonesia adalah awareness terhadap lingkungan terkait dengan SCM. SCM ini menjadi salah satu strategi yang kini diterapkan secara global. Pembentukan suatu aliran barang dan informasi yang borderless, yang kemudian didukung dengan perkembangan IT yang begitu pesatnya. Akhirnya pengembangan di bidang SCM ini menjadi salah satu strategi yang dimanfaatkan untuk meningkatkan competitive advantage dari perusahaan.
Kanji & Wong (1999) memberikan beberapa aspek yang penting dalam aplikasi SCM di dalam perusahaan untuk mencapai business excellence process, meliputi customer satisfaction, internal customers, all work is process, measurement, teamwork, people make quality, continuous improvement cycle, prevention. Thomas & Griffin (1996) menyampaikan tiga hal yang penting dalam SCM adalah buyer-vendor coordination, production-distribution coordination, dan inventory-distribution coordination. Lambert & Cooper (2000) menyatakan beberapa komponen penting dalam SCM adalah planning method, work flow, organization structure, communication and information flow facility structure, dan product flow facitlity structure. Gambar 2.2 berikut ini akan menunjukkan faktor-faktor yang dapat mendukung SCM:
Gambar 2.2 Supply Chain Management dalam Kaitannya dengan Kinerja Perusahaan (Mentzer et al., 2001)
Gambar 2.2 menunjukkan berbagai aspek yang nantinya akan dapat berpengaruh pada aliran SCM dan menjadi penentu tingkat performa bisnis dari suatu perusahaan. Apabila diperhatikan, seperti sebelumnya sudah disebutkan, bahwa SCM mencakup hampir seluruh aspek yang ada di perusahaan.
Berdasarkan penelitian-penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa indikator untuk SCM Practice adalah planning, struktur organisasi, fasilitas informasi dan komunikasi, dan just-in-time
2.3 Total Quality Management Practice
Dasar dari TQM adalah kualitas, yang dapat didefinisikan sebagai conformance to standard atau kesesuaian dengan permintaan konsumen. Dasar dari TQM adalah membawa kualitas menuju kepada seluruh elemen pada perusahaan sehingga tercipta pola pikir dari setiap orang di dalam perusahaan agar dapat menghasilkan kinerja yang berkualitas. Menurut Ada delapan prinsip dalam TQM, yaitu: (1) customer focus, (2) insure total employee involvement, (3) process centered, (4) integrated system, (5) strategic & systematic approach, (6) continual improvement, (7) fact based decision making, dan (8) communication.
TQM menggunakan berbagai tools dalam aplikasinya. Tools yang sering digunakan adalah the seven quality tools, serta filosofi PDCA atau DMAIC dalam rangka terus mengembangkan suatu sistem agar dapat memiliki kualitas yang
sesuai dengan keinginan konsumen baik itu barang maupun jasa. Tidak hanya itu, TQM mengintegrasikan kualitas dengan manajemen, sehingga peran manajemen menjadi penting dalam mengembangkan kualitas. Integrasi antara visi dan misi perusahaan serta diturunkan menjadi tujuan dan target yang ingin dicapai perusahaan sampai kepada program kerja dan penilaian kinerja dengan mempertimbangkan key performance indicator.
Istilah TQM sendiri bukan merupakan hal yang baru, dan di Amerika Serikat juga ada suatu award yang disebut MBNQA. Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat berlomba-lomba untuk mendapatkan award ini. Karena TQM ini meliputi berbagai aspek, aplikasinya sendiri bukanlah hal yang mudah. Berbagai negara memiliki kesulitan tersendiri dalam aplikasi TQM.
Beberapa dimensi TQM, menurut Prajogo & Sohal (2007) adalah leadership, people management, customer focus, process management, product quality, dan product innovation. Hampir sama dengan penelitian tersebut, dimensi TQM pada small medium enterprises meliputi quality data and reporting, role of top management, employee relations, supplier quality management, training, quality policy, dan process management (Demirbag et al., 2006). Amar & Zain (2001) melakukan penelitian tentang barriers TQM, menyimpulkan bahwa penghalang utama aplikasi TQM di Indonesia adalah dari sisi sumber daya manusia. Berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, maka indikator yang digunakan dalam penelitian ini adalah leadership, employee relations, dan product innovation.
2.4 Supply Quality Management
Aliran rantai pasok dalam suatu perusahaan tidak dapat dilepaskan dari adanya suatu kerjasama antar perusahaan, dan inilah cara untuk mendapatkan bahan baku dengan kualitas terbaik dengan harga yang murah (Liker, 2004).
Aliran rantai pasok dipadukan dengan usaha menjaga kualitas suatu barang menjadi suatu issue yang sangat penting dewasa ini. Integrasi SCM dan TQM memungkinkan perusahaan memiliki aliran rantai pasok yang lancar diiringi dengan kualitas barang yang terbaik. Kuncinya adalah adanya information sharing dan kolaborasi antara dua perusahaan.
Cohen (2005) menjelaskan bahwa kolaborasi internal yang sangat baik dibutuhkan sebelum memutuskan untuk berkolaborasi dengan perusahaan lain.
Berkaitan dengan hal ini, maka perlu adanya manajemen internal perusahaan yang baik. Faktanya bahwa kolaborasi antar departemen di dalam perusahaan jauh lebih susah untuk dikembangkan daripada kolaborasi eksternal.
Supply quality management memiliki tujuan akhir untuk dapat mengintegrasikan TQM dan SCM, dengan berbagai langkah-langkah praktis yang dibutuhkan untuk dapat diaplikasikan dalam perusahaan. Tentu saja benefit yang diharapkan adalah adanya koordinasi yang baik, baik itu internal maupun eksternal perusahaan. TQM akan memperkuat internal perusahaan, sedangkan SCM berusaha untuk memperkuat hubungan kolaborasi baik dengan supplier maupun dengan customer.
2.5 Collaboration
Kolaborasi didefinisikan sebagai bentuk kerjasama antara dua atau lebih perusahaan dalam suatu aliran rantai pasok. Kolaborasi ini dilakukan dalam berbagai hal, seperti informasi hingga standar kualitas antara 2 perusahaan. Ada juga beberapa perusahaan yang memiliki inisiatif untuk mengembangkan supplier mereka sehingga mendapatkan keuntungan jangka panjang. Proses kolaborasi antara perusahaan dapat digambarkan pada gambar 2.3
Gambar 2.3 Model Supply Chain Collaboration (Simatupang & Sridharan, 2004)
Model tersebut menunjukkan kaitan proses supply chain dan kolaborasi.
Kolaborasi meliputi sinkronisasi keputusan, yang mana akan menentukan informasi yang dibutuhkan. Selain itu terkait juga dengan insentif yang didapatkan perusahaan yang mana akan memotivasi adanya koordinasi dan kolaborasi yang semakin akurat antara dua perusahaan atau lebih. Akhirnya dapat dilakukan proses supply chain yang dapat dilakukan secara bersama-sama meliputi perencanaan, peramalan, inventori, pemesanan, delivery, sampai dengan penjualan.
Menurut Tarigan (2009), beberapa keuntungan dalam perusahaan yang berkolaborasi yaitu meningkatkan customer service, mengurangi pekerjaan yang menggunakan kertas, meningkatkan profitabilitas, pengurangan biaya, peningkatan market competitiveness, dan meningkatkan quality assurance, yang mana dalam penelitian ini, indikator yang digunakan adalah benefit kepada supplier, pengurangan cost, teamwork, sharing knowledge, dan improve quality.
Vlachos & Bourlakis (2006) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi kolaborasi yaitu komitmen, trust, dan information exchange management, category management, dan physical distribution. Merangkum dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, maka dalam penelitian ini indikator yang digunakan dalam variabel collaboration adalah commitment, risk sharing, trust, dan information exchange management.
2.6 Information Sharing
Information sharing merupakan salah satu inti koordinasi antara dua perusahaan, dan merupakan inti dari SCM. Adanya IS memungkinkan perusahaan untuk dapat menyediakan barang dan jasa sesuai dengan standar yang diminta.
Zhou & Benton (2007) menjelaskan bahwa IS dapat meningkatkan praktek supply chain, yang mana memungkinkan terbentuknya competitive advantage antara perusahaan yang satu dengan yang lain. Li & Lin (2006) memberikan penjelasan bahwa IS terkait dengan tiga hal, yaitu environment uncertainty, intra- organizational facilitators, dan inter-organizational relationships.
Ada banyak penelitian mengenai IS yang dikaitkan dengan SCM. IS sendiri sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari teknologi informasi / IT. Berkaitan
dengan hal tersebut, Gilalinia et al. (2011) menunjukkan pentingnya IT sebagai suatu sarana di dalam perusahaan untuk dapat melakukan IS. Tanpa IT, IS akan mengalami kemacetan karena kecepatan informasi tidak akan mencapai kecepatan yang dibutuhkan. Tidak hanya itu, dalam rangka pertukaran informasi, perlu adanya konektivitas dan willingness antar perusahaan (Fawcett et al., 2007). Pola yang berkembang saat ini adalah informasi yang dibagikan dan digunakan antara perusahaan ini akhirnya akan dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan bersama. Pardo et al. (2006) menjelaskan bahwa IS berkembang pesat di dalam perusahaan-perusahaan yang sudah menerapkan SCM practice dengan baik, dan akan semakin berkembang seiring dengan adanya dinamika SCM, dan keduanya akan saling berkaitan.
Penelitian-penelitian sebelumnya mencoba melihat IS bukan hanya dari dalam perusahaan tetapi juga antar perusahaan. Hal ini pula yang akan dilakukan dalam penelitian ini, yang mana indikator yang digunakan dalam variabel IS adalah inter-organizational relationships, willingness, dan IT-enabler.
2.7 Kerangka Pemikiran Penelitian
Kerangka penelitian yang dilakukan mengacu pada suatu ilmu yang disebut sebagai resource based view. Barney (2001) menjelaskan bahwa dalam mencapai competitive advantage, ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu resource dan capability. Resource mencakup sumber daya yang dimiliki perusahaan, dalam penelitian ini resource yang ditinjau adalah kolaborasi perusahaan satu dengan yang lain dan adanya information sharing antar perusahaan rekanan. Capability adalah suatu sumber daya yang tidak dapat diimitasi oleh perusahaan lain, yang merupakan sesuatu yang unik dalam suatu perusahaan (Makadok, 2011). Capability dalam penelitian ini meliputi TQM Practice dan SCM practice.
SCM berhubungan dengan usaha untuk mencapai kepuasan dengan biaya yang lebih efektif yang dicapai melalui proses integrasi supplier (Christopher &
Juttner, 2000). Apabila melihat dari tujuannya, yaitu kepuasan, biaya efektif, dan integrasi supplier, SCM dalam hal ini mencakup banyak hal. Apabila berkaitan dengan kepuasan, maka SCM tidak dapat dilepaskan dari kualitas, yang mana
kualitas berarti kesesuaian dengan standard yang ditetapkan oleh konsumen, baik itu internal maupun eksternal. Apabila melihat dari tujuan SCM tersebut, dapat dilihat bahwa inti dari penerapan SCM Practice adalah menciptakan value, dengan tujuan akhirnya adalah performa bisnis dari suatu perusahaan.
Kualitas dapat dihasilkan dengan adanya manajemen yang dapat berkomitmen menjaga kualitas tersebut. Dukungan manajemen menjadi penting dalam rangka menciptakan suatu standar kualitas yang sesuai, yang diharapkan TQM dapat menjadi sebuah kultur dalam perusahaan (Liker, 2004).
Permasalahannya adalah bagaimana menghubungkan antara SCM dan TQM yang ada di perusahaan. Selama ini TQM dan SCM dianggap sebagai sebuah ilmu manajemen yang memiliki tujuan yang sama, dengan proses yang berbeda. Hal ini disampaikan oleh Kanji & Wong (1999) yang mana menyatakan bahwa SCM tidak akan dapat mencapai tujuannya tanpa TQM, khususnya continuous improvement. Selain itu juga salah satu tujuan SCM adalah melakukan efisiensi biaya, yang mana hal ini akan dicapai dengan melakukan proses yang benar. Salah satu prinsip dari TQM adalah fokus kepada proses, yang mana penurunan biaya dapat dilakukan melalui perbaikan proses.
Kepuasan dan integrasi supplier juga akan melibatkan informasi antar perusahaan yang terlibat dalam kolaborasi. Li dan Lin (2006) menyatakan bahwa dengan adanya persebaran informasi, perusahaan dapat mencapai praktek SCM yang lebih baik, dalam hal ketepatan barang dan kualitas antara perusahaan, dan juga antar departemen di perusahaan. Zhao (2011) juga memberikan penjelasan bahwa unsur penting dalam pembentukan SCM practice adalah dengan melakukan IS.
Kolaborasi juga adalah salah satu faktor yang penting dalam peningkatan kinerja SCM. Hal ini dikarenakan tanpa adanya kolaborasi yang baik antara perusahaan, proses SCM tidak akan dapat berjalan dengan baik (Kampstra, et al., 2006). Realita ini menunjukkan bahwa kolaborasi menjadi salah satu ujung tombak dari SCM untuk dapat meningkatkan performa perusahaan.
2.8 Kerangka Konseptual Penelitian dan Penarikan Hipotesa
Adapun kerangka konseptual penelitian ini adalah mencapai SCM practice yang maksimal dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Ada tiga faktor yang diamati yaitu TQM practice, kolaborasi, dan information sharing. Tujuan akhir penelitian ini akan diarahkan kepada bagaimana faktor- faktor tersebut akan mempengaruhi SCM Practice dan pada akhirnya mencapai performa bisnis perusahaan. Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
SCM Practice (X4) TQM Practices
(X3) H1
Information Sharing (X1)
H5
Business Performance (X5) H6
Collaboration (X2) H3
H2
H4 H7
X1.1 X1.2 X1.3 X4.1 X4.2 X4.3
X5.1 X5.2 X5.3 X5.4 X2.1
X2.2 X2.3
X3.1 X3.2 X3.3
X1.4 X1.5 X2.4
X4.4
Gambar 2.4 Kerangka Konseptual Penelitian
Integrasi antara suatu sistem continuous improvement dan SCM akan menjadi suatu strategi yang akan sangat menguntungkan perusahaan apabila perusahaan dapat menerapkannya mulai dari tingkat manajemen hingga karyawan, inilah yang dinyatakan oleh Casadesus & Castro (2005). Senada dengan penelitian tersebut, Kanji & Wong (1999) berpendapat bahwa SCM tanpa continuous improvement, yang merupakan salah satu prinsip TQM, tidak akan dapat berkembang. Lin et al. (2003) memberikan argumentasi bahwa TQM memiliki pengaruh yang kuat kepada SCM, khususnya dalam bidang supplier relationship.
H1 : “TQM Practice” memiliki dampak positif terhadap “SCM Practice”
Salah satu faktor yang juga tidak kalah penting dalam peningkatan kinerja perusahaan adalah implementasi TQM yang selama ini bermasalah di Indonesia.
Secara konseptual, ada banyak perusahaan yang menerapkan TQM, namun secara praktek, TQM jarang sekali ditemui di perusahaan-perusahaan di Indonesia. Amar dan Zain (2001) menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan perusahaan sulit berkembang adalah karena tidak memiliki human resource yang memiliki komitmen untuk melakukan TQM. Han et al. (2002) menganalisa hubungan TQM dan SCM serta BP, mendapatkan kesimpulan yang cukup menarik, yaitu praktek SCM tidak memiliki pengaruh yang signifikan, sedangkan TQM memiliki pengaruh yang sangat signifikan, yang mana penelitian ini dilakukan di China. Huang et al. (2008) juga menyatakan bahwa ada korelasi positif antara TQM dan performa bisnis perusahaan, yang mana ia melakukan penelitian di Taiwan.
H2 = “TQM Practice” memiliki dampak positif terhadap “Business Performance”
Kolaborasi dalam suatu rangkaian SCM juga menjadi faktor yang esensial.
Collaboration ini terkait dengan bagaimana perusahaan dapat mempercayai dan berkoneksi secara lancar dengan partner bisnis mereka (Kampstra et al., 2006).
Handfield & Betchtel (2001) yang mengemukakan bahwa relasi dan trust adalah dua hal yang paling mempengaruhi SCM practice. Senada dengan pernyataan tersebut, Tarigan (2009) menyatakan adanya korelasi positif antara collaboration dengan SCM practice.
H3 = “Collaboration” berpengaruh secara positif terhadap “SCM Practice”
IS akan dipengaruhi oleh kolaborasi antara dua perusahaan atau lebih.
Pertukaran informasi antara dua perusahaan yang saling berkolaborasi akan menyebabkan adanya pertukaran informasi hingga pengambilan keputusan bersama (Aviv, 2006). Pardo et al. (2006) menyatakan bahwa proses information sharing ini dimulai dari trust yang berawal dari perjanjian kolaborasi antar
perusahaan satu dengan yang lain masing-masing dengan kepentingan mereka akan berusaha memberikan informasi yang detail tentang permintaan mereka.
H4 = “Collaboration” yang baik akan berpengaruh secara positif terhadap peningkatan kualitas “Information Sharing”
Informasi memegang peranan yang penting dalam pembentukan SCM practices, terkait dengan bagaimana sebuah perusahaan memiliki kemampuan untuk memberikan informasi kepada rekanan SCM mereka, dan dengan IS yang baik, maka SCM Practice akan semakin berkembang (Li & Lin, 2006).
Zhou & Benton (2007) memberikan penjelasan bahwa IS dan SCM akan saling berkaitan satu sama lain. Semakin baik kualitas informasi yang dibagikan perusahaan akan semakin baik pula relasi antar perusahaan, sehingga SCM practice antara keduanya dapat berjalan dengan optimal, yang mana mereka meneliti hal ini di perusahaan manufaktur. Zhao (2002) secara jelas menjelaskan dan setuju bahwa IS memiliki suatu hasil yang signifikan terhadap SCM Practice, yang mana hal ini diteliti di kontraktor yang menangani proyek-proyek. Melihat beberapa penelitian sebelumnya, maka sebenarnya IS dan SCM Practice saling berkaitan dan penerapan keduanya sudah sangat luas.
H5 = “Information Sharing” akan berkorelasi secara positif dengan “SCM Practice”
IS juga menjadi salah satu faktor yang penting dalam usaha untuk mencapai kekuatan bisnis suatu perusahaan. Umumnya, organisasi akan menjadi semakin berkembang pada saat ada informasi yang cukup banyak dan disaring sesuai dengan kebutuhan yang ada. Kanji & Wong (1999) berkesimpulan bahwa IS akan meningkatkan level dari competitive advantage suatu perusahaan. Realita di Indonesia juga menunjukkan bahwa IS memiliki suatu kecenderungan bagi perusahaan untuk mereka dapat berkembang. Permasalahannya adalah di Indonesia, IS masih sangat jarang dilakukan mengingat adanya hal yang masih dianggap rahasia oleh suatu perusahaan.
H6 = “Information Sharing” akan berkorelasi positif dengan “Business Performance”
SCM memiliki peran penting dalam peningkatan performa bisnis perusahaan. Hal utama yang ingin dicapai sebenarnya adalah keseuaian kualitas (meliputi berbagai dimensi) dan pengurangan biaya. Kerjasama antara dua perusahaan akan dapat menghasilkan barang yang diproduksi dengan biaya yang rendah namun kualitas yang tinggi. Li & Lin (2006) menyebutkan bahwa SCM memiliki pengaruh yang signifikan terhadap performa bisnis suatu perusahaan, melalui berbagai aspek. Chen & Lado (2004) memberikan penjelasan bahwa pentingnya relasi antara supplier dan distributor dalam rangka membentuk performa bisnis yang optimal. Senada dengan itu, Blalock & Veloso (2006) menjelaskan pentingnya SCM dalam rangka meningkatkan business performance didukung dengan IT dan pertumbuhan ekonomi.
H7 = “SCM Practice” memiliki dampak positif terhadap “Business Performance”