• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VII.DI SMP NEGERI 3 LEMBANG KABUPATEN PINRANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS VII.DI SMP NEGERI 3 LEMBANG KABUPATEN PINRANG"

Copied!
173
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

NURHIDAYAH 10519 2348 15

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1441 H / 2020 M

(2)

ii

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA

KELAS VII.DI SMP NEGERI 3 LEMBANG KABUPATEN PINRANG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Program Studi

Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

NURHIDAYAH 10519 2348 15

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1441 H / 2020 M

(3)
(4)
(5)
(6)

vi ABSTRAK

Nurhidayah, 10519234815 . Penerapan Metode Pembelajaran Talking Stick Terhadap Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang. Skripsi, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Makassar. Di bimbing oleh Sumiati dan Nurhidaya, M.

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui minat belajar Pendidikan Agama Islam siswa kelas VII.D SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang dan 2) Mengetahui penerapan metode Talking Stick dalam meningkatkan minat belajar Pendidikan Agama Islam siswa SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama dua siklus penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII.D SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang yang berjumlah 30 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) Minat belajar siswa sebelum penerapan metode Talking Stick pada siklus I belum mencapai nilai ketuntasan KKM, jumlah siswa yang mencapai ketuntasan 9 siswa dan siswa yang tidak tuntas 21 siswa dari 30 jumlah siswa dengan perolehan rata-rata yaitu 55,53. 2) Penerapan metode Talking Stick dalam meningkatkan minat belajar siswa terdiri dari satu siklus yaitu pada siklus II jumlah siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 28 siswa dan siswa yang tidak tuntas 2 siswa dari 30 jumlah siswa dengan rata-rata 86,70, penerapan metode Talking Stick dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa apa yang di inginkan peneliti sudah tercapai sehingga penelitian ini dikatakan berhasil dan tidak dilanjutkan lagi pada siklus berikutnya.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Rabbil’ Alamin peneliti panjatkan ke hadirat Allah Swt, yang maha pengasih lagi maha penyayang. Atas segala limpahan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Tiada jalan tanpa rintangan, tiada puncak tanpa tanjakan, tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Dengan kesungguhan dan keyakinan untuk terus melangkah, akhirnya sampai dititik akhir penyelesaian skripsi.

Peneliti menyadari, semua tak lepas dari bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak, maka melalui kesempatan ini peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua saya yaitu Ayahanda Usman dan Ibunda Paisa, yang tiada henti-hentinya mendoakan, memberi dorongan moril maupun materi selama menempuh pendidikan. Begitu pula peneliti mengucapkan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE.,MM. Selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I, selaku Dekan Fakultas Agama Islam. 3. Amirah Mawardi, S.Ag.,M.Si. selaku ketua Prodi Pendidikan Agama Islam,

dan Nurhidaya M, S.Pd.I., M.Pd.I selaku sekretaris Prodi Pendidikan Agama Islam.

4. Dr. Sumiati, S.Ag., M.A dan Nurhidaya M, S.Pd.I., M.Pd.I, selaku pembimbing peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

(8)

viii

5. Bapak/ibu para dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

6. Teman dan sahabat peneliti, yang selalu memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Terakhir ucapan terima kasih juga disampaikan kepada mereka yang namanya tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu tetapi banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Peneliti senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun karena peneliti yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi peneliti. Aamiin .

Makassar, 14 Jumadil Akhir 1441 H 08 Februari 2020 M

Peneliti

NURHIDAYAH

(9)

ix DAFTAR ISI

SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

BERITA ACARA MUNAQASYAH ... iv

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Metode Pembelajaran Talking Stick ... 8

1. Pengertian Metode Pembelajaran... 8

2. Macam-macam Metode Pembelajaran ... 9

3. Pengertian Metode Pembelajaran Talking Stick ... 11

4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Pembelajaran Talking Stick ... 13

B. Konsep Minat Belajar Pendidikan Agama Islam ... 14

(10)

x

2. Prinsip-prinsip Belajar ... 20

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar ... 24

C. Kerangka Pikir ... 26

D. Hipotesis ... 29

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

A. Jenis Penelitian ... 30

B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 31

C. Faktor yang Diselidiki ... 31

D. Prosedur Penelitian ... 32

E. Instrumen Penelitian ... 40

F. Teknik Pengumpulan Data ... 42

G. Tehnik Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 44

1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang ... 44

2. Lokasi SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang ... 44

3. Visi dan Misi SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang ... 45

4. Tujuan Sekolah ... 46

5. Keadaan Guru ... 47

6. Keadaan Tata Usaha... 48

(11)

xi

8. Keadaan Sarana dan Prasarana ... 49

9. Ekstra Kurikuler ... 50

10.Struktur Organisasi Sekolah ... 51

B. Penerapan Metode Pembelajaran Talking Stick dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang ... 53

C. Pelaksanaan Tindakan dan Paparan Hasil Penelitian Tindakan Siklus I dan Siklus II ... 54

1. Siklus I ... 54

2. Siklus II ... 64

D. Rekapitulasi Hasil Penelitian Siklus I (Pretest) dan Siklus II (Posttest) ... 75 BAB V PENUTUP ... 80 A. Kesimpulan ... 80 B. Saran ... 81 DAFTAR PUSTAKA ... 83 RIWAYAT HIDUP ... 85 LAMPIRAN ... 86

(12)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kategori Hasil Belajar... 43

Tabel 4.1 Nama-nama Pimpinan (Kepala) Sekolah dari Tahun 1973-2020 ... 44

Tabel 4.2 Identitas Sekolah ... 45

Tabel 4.3 Keadaan Guru ... 47

Tabel 4.4 Keadaan Tata Usaha ... 48

Tabel 4.5 Keadaan Siswa ... 49

Tabel 4.6 Keadaan Sarana dan Prasarana ... 50

Tabel 4.7 Ekstra Kurikuler ... 51

Tabel 4.8 Kategori Hasil Belajar Siklus I ... 60

Tabel 4.9 Kategori Penilaian Hasil Belajar Siklus I ... 63

Tabel 4.10 Kategori Hasil Belajar Siklus II ... 70

Tabel 4.11 Kategori Penilaian Hasil Belajar Siklus II ... 72

Tabel 4.12 Rekapitulasi Nilai Siklus I dan Siklus II ... 75

(13)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 28

Gambar 3.1 Metode Penelitia Tindakan ... 32

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Sekolah ... 52

Gambar 4.2 Grafik Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I ... 63

Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II ... 73

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Silabus ... 87 Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 94 Lampiran 3 Soal Pretest dan Posttest ... 125 Lampiran 4 Daftar Hadir, Daftar Nilai, Lembar Observasi Aktivitas

Siswa, Daftar Nama-nama Kelompok Siklus I dan II ... 134 Lampiran 5 Dokumentasi dan Persuratan ... 152

(15)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah-ubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan Islam menkritik dengan cara mengungkapkan teori pendidikan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang dilakukan masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik untuk dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat pada masa yang akan datang. Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal, non formal, dan informal di sekolah dan luar sekolah yang berlangsung seumur hidup, bertujuan untuk mengoptimalisasi kemampuan-kemampuan individu.1

Pendidikan menurut UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Tentang Bab 1 dan Pasal 1 menjelaskan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

1Abdul Kadir, Dasar-dasar Pendidikan (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2012),

Cet. I, h. 59-61.

(16)

2

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasaan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.2

Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya dengan baik jika memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsurnya, konsep dasar yang melandasinya, dan wujud pendidikan sebagai sistem. Adapun sifat sasarannya yaitu manusia, pendidikan mengandung banyak aspek dan sifatnya sangat kompleks. Maka tidak sebuah batasan pun yang cukup memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.3 Selain itu, dijelaskan dalam Qur’an Surah Al-Mujadalah (58) ayat 11 yang berbunyi :

⧫ ⧫ ❑⧫◆ ⬧  ⬧ ❑⬧⬧  ▪☺ ❑⬧⬧ ⧫  ⬧  ⬧◆  → →⬧ ⬧⧫  ⧫ ❑⧫◆  ⧫◆ ❑➔ ➔ ◆  ◆ ☺ ⧫❑➔☺➔⬧   Terjemahannya :

“Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu. Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka 2Undang-Undang Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), h. 5-6.

3 Umar Tirtarahardja & Drs. S.L. La Sulo, Pengantar Pendidikan (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2015), Cet. II, h. 32-33.

(17)

berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.4

Setelah saya menganalisis dalil di atas, maka peneliti dapat memahami bahwa QS. Al-Mujadalah (58) ayat 11 memberikan kita penjelasan bahwa begitu pentingnya ilmu pengetahuan, sehingga derajat orang-orang berilmu lebih tinggi dari pada orang-orang yang beriman namun tidak memiliki ilmu. Namun ilmu tentunya tidak datang begitu saja, tetapi harus melalui proses pembelajaran. Oleh sebab itu guru sebagai pemegang peranan terpenting dalam proses pembelajaran, harus bisa menerapkan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik.

Guru memegang peranan penting dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Gaya penyajian yang digunakan guru dalam membahas materi pembelajaran berpengaruh terhadap perhatian siswa. Berkenaan dengan itu, materi pelajaran hendaknya disajikan dengan cara yang menarik sehingga rasa ingin tahu siswa terhadap materi pelajaran meningkat. Tujuan guru Mengajar adalah untuk mengadakan sebuah perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku siswa. Perubahan tersebut dilakukan seorang guru dengan menggunakan suatu strategi mengajar untuk mencapai tujuan dengan memilih metode yang tepat.

Gaya mengajar yang digunakan guru dalam mengajar di kelas mempengaruhi minat belajar siswa. Sering dikemukakan bahwa karena gaya mengajar guru yang digunakan dalam mengajar menggunakan metode ceramah, maka cara guru melatih siswa menjawab soal-soal adalah hafalan dan yang penting adalah melatih bagaimana mempersiapkan sukses dalam ujian. Adapun

4 Kementrian Agama RI, Al-Fattah : Al-Qur’an 20 Baris Terjemah (Bandung: CV Mikraj

(18)

4

tujuan dari metode pembelajaran talking stick dapat dilihat dari rumusan konsep metode tersebut, yang di dalamnya memperhatikan partisipasi siswa dalam memperoleh dan memahami pengetahuan serta mengembangkannya.

Untuk mencapai minat belajar yang optimal, sudah seharusnya setiap guru dalam memberikan pengajaran Pendidikan Agama Islam selalu berusaha agar dapat diserap dengan baik oleh para siswa, memotivasi dan berinovasi agar minat belajar siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam meningkat. Tetapi dalam kenyataannya hasil yang diharapkan masih jauh dari kenyataan. Untuk meningkatkan minat belajar siswa, perlu diperhatikan baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor dari diri dalam siswa itu sendiri, di antaranya adalah sikap terhadap mata pelajaran, motivasi belajar, gaya belajar siswa dan lain sebagainya. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor dari luar, di antaranya adalah kualitas guru mengajar, lingkungan siswa, perhatian orang tua, kemampuan guru, fasilitas sekolah, metode evaluasi, gaya mengajar dan lain sebagainya.5

Pembelajaran yang berpusat pasa siswa diharapkan dapat mendorong siswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Pembelajaran yang inovatif yang berpusat pada siswa memiliki keragaman metode pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dari siswa. Metode-metode pembelajaran inovatif salah satunya adalah Talking Stick. Metode pembelajaran Talking Stick akan mendorong siswa untuk lebih menguasai materi. Konsep metode pembelajaran Talking Stick akan mendorong guru dan siswa

5 Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: CV. Wacana Prima, 2007), h.

(19)

melaksanakan praktek pembelajaran secaraaktif dan kreatifsehingga diharapkan tercapainya peningkatan hasil belajar secara optimal.dalam metode ini akan diadakan permainan dimana guru akan memberikan tongkat kepada siswa, dan siswa yang mendapat tongkat harus menjawab pertanyaan dari guru.6

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang umumnya dihadapi oleh guru adalah mengemas proses pembelajaran agar dapat memberikan pengalaman yang bermakna bagi siswa. Oleh karena itu, setiap siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan ide-ide mereka sendiri, dan menggunakan metode mereka sendiri untuk belajar. Hal inilah yang menarik perhatian penuh peneliti untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul: Penerapan Metode Pembelajaran Talking Stick Terhadap Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang.

B. Rumusan Masalah

Setelah melihat latar belakang yang ada dan agar dalam penelitian ini tidak terjadi kerancuan, maka peneliti dapat membatasi dan merumuskan permasalahan sebagai berikut: “Bagaimanakah Penerapan Metode Pembelajaran Talking Stick Terhadap Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang ?

6 Arie Eko Cahyono, Penerapan Pembelajaran Kooperatif Melalui MetodeTalking Stick Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas XI Apk 1 SMK PGRI 05 Jember Tahun Ajaran 2010/2011

(20)

6

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk Meningkatkan Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang?

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, dan manfaat yang dapat di peroleh :

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini di harapkan mampu menambah ilmu pengetahuan pada siswa terutama dalam bidang pendidikan. Sebagaimana penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi sebagai metode pembelajaran yang aktif bagi siswa. 2. Manfaat Praktis

a. Bagi Siswa

Siswa diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran sehingga dapat memperkaya ilmu pengetahuan siswa sehingga memperoleh minat belajar yang meningkat.

b. Bagi Guru

Diharapkan dapat mengembangkan keterampilan guru untuk menghadapi permasalahan dalam proses pembelajaran di kelas serta menambah wawasan untuk menerapkan metode talking stick..

(21)

c. Bagi Sekolah

Hendaknya memberikan fasilitas pembelajaran yang memadai, serta sarana pendukung untuk melksanakan perbaikan pembelajaran demi meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Pembelajaran Talking Stick

1. Pengertian Metode Pembelajaran

Metode merupakan pembelajaran landasan praktik pembelajaran hasil perenungan teori psikologi pendidikan dan teori belajar yang dirancang berdasarkan analisi terhadap implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di kelas. Metode pembelajaran dapat diartikan pula sebagai pola yang digunakan untuk penyusunan kurikulum, mengatur materi, dan memberi petunjuk pada guru di kelas. Metode pembelajaran ialah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.

Mills berpendapat bahwa ”metode adalah bentuk representasi akurat sebagai proses aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan metode itu”. Metode merupakan interpretasi terhadap hasil observasi dan pengukuran yang diperoleh beberapa sistem.

Menurut Arends, metode pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Metode pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan

(23)

prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.7

Adapun dalil yang menguatkan tentang metode pembelajaran dalam QS. An-Nahl (16) ayat 125 :  ◼  ◼◆ ☺⧫ ⬧→❑☺◆ ◆⧫  ◆      ◆ ◆❑➔ ◼ ☺  ⧫   ◆❑➔◆ ◼ ⧫⧫☺  Terjemahannya :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.8

Setelah saya menganalisis dalil di atas, maka peneliti dapat memahami bahwa QS. An-Nahl (16) ayat 125 memberikan kita penjelasan bahwa dalam menyampaikan materi pelajaran harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami siswa menggunakan kata-kata yang bijak sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Terdapat 3 metode yang terkandung yaitu metode hikmah (perkataan yang bijak), metode mau’idhzah hasanah (nasehat yang baik) dan metode jidal (debat).

2. Macam-macam Metode Pembelajaran

7 Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), Cet. XIV, h. 45-46.

8 Kementrian Agama RI, Al-Fattah : Al-Qur’an 20 Baris Terjemah (Bandung: CV Mikraj

(24)

10

Metode pembelajaran merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru agar penggunaannya bervariasi sesuai yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Metode pembelajaran merupakan cara atau tahapan yang digunakan dalam interaksi antara peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme metode pembelajaran.9

Adapun macam-macam metode pembelajaran antara lain : a. Metode Karya Wisata (Out Door)

Pembelajaran outdoor hampir identik dengan pembelajaran karya wisata arinya aktivitas belajar siswa dibawa ke luar kelas. Sering dalam implementasi outdoor, siswa tidak memiliki panduan belajar sehingga esensi kegiatan tersebut kurang dirasakan manfaatnya. Pembelajaran outdoor selain untuk peningkatan kemampuan juga lebih bersifat untuk peningkatan aspek-aspek psikologi siswa seperti rasa senang, dan rasa kebersamaan yang selanutnya berdampak terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.10

b. Metode Talking Stick

Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta menuntut siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran yaitu metode Talking Stick. Pembelajaran dengan metode Talking Stick mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat.11

c. Metode Discovery Learning

9 Muhammad Afandi, dkk, Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah, (Cet. I; Semarang

: Unissula Press Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 2013), h. 15. http://cyber.unissula.ac.id/pdf (13 Januari 2020)

10 Ibid, h. 83 11 Ibid, h. 90

(25)

Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran yang tidak berbentuk final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan menggunakan teknik pendekatan pemecahan masalah.12

d. Metode Brainstorming

Brainstorming merupakan bentuk dari pengembangan metode diskusi, dimana semua ide atau gagasan ditampung oleh ketua kelompok dan hasilnya kemudian dijadikan peta gagasan dan hasilnya sudah menjadi kesepakatan bersama dalam kelompok.13

e. Metode Diskusi

Diskusi adalah percakan ilmiah oleh beberapa orang yang tergabung dalam satu kelompok untuk saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan mendapatkan jawaban dan kebenaran atas suatu masalah.14

f. Metode Pembelajaran Luar Kelas (Outdoor Study)

Metode outdoor study atau metde di luar kelas adalah metode dimana guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan mengakrabkan siswa denganlingkungannya.15

3. Pengertian Metode Pembelajaran Talking Stick

Metode Pembelajaran Talking stick ( tongkat berbicara ) adalah metode pembelajaran yang dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang

12 Ibid, h. 98 13 Ibid, h. 103 14 Ibid, h. 109 15 Ibid, h. 115

(26)

12

tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Selain untuk melatih berbicara, metode ini juga menuntut siswa dapat bekerjasama dengan teman-temannya agar dapat mengerti dan siap untuk menjawab pertanyaan dari guru.16

Menurut Hengky keunggulan talking stick adalah “pertanyaan yang fokus pada materi pelajaran, menguji kesiapan siswa, memotivasi keberanian dan keterampilan siswa, memupuk tanggung jawab dan kerja sama, mengajarkan mengeluarkan pendapat sendiri, agar siswa berpikir sendiri apa jawaban dari pertanyaan tersebut dan mengasah kemampuan dan pengalaman siswa”.17

Metode pembelajaran talking stick dipergunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berorientasi pada terciptanya kondisi belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari satu siswa kepada siswa lainnya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dan selanjutnya mengajukan pertanyaan.18

Pembelajaran dengan metode talking stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat. Pembelajaran dengan metode talking stick diawali oleh penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Peserta didik diberi kesempatan membaca dan mempelajari materi tersebut. Berikan waktu yang cukup untuk aktivitas ini.

Guru selanjutnya meminta kepada peserta didik menutup bukunya. Guru mengambil tongkat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tongkat tersebut 16 Suriani Siregar, Jurnal Biotik: Pengaruh Model Pembelajaran Talking Stick Terhadap Hasil Belajar dan Aktivitas Visual Siswa Pada Konsep Sistem Indra ( Aceh Tenggara : FKIP Universitas Gunung Leuser, 2015 ), h. 101-102.

17 Ibid, h. 102.

18Muhammad Afandi, dkk, Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah, (Cet. I; Semarang

(27)

diberikan kepada salah satu peserta didik. Peserta didik yang menerima tongkat tersebut diwajibkan menjawab pertanyaan dari guru demikian seterusnya. Ketika stick bergulir dari peserta didik ke peserta didik lainnya, seyogianya diiringi musik.

Langkah akhir dari metode talking stick adalah guru memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajarinya. Guru memberi ulasan terhadap seluruh jawaban yang diberikan peserta didik, selanjutnya bersama-sama peserta didik merumuskan kesimpulan.19

4. Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Metode Pembelajaran Talking Stick

a. Kelebihan Metode Pembelajaran Talking Stick

Metode pembelajaran talking stick memiliki beberapa kelebihan, yaitu : 1) Menguji kesiapan siswa pada saat proses pembelajaran

berlangsung. Pada pembelajaran yang menggunakan metode talking stick guru akan memberikan pernyataan kepada siswa secara acak dan bergilir. Hal tersebut dilakukan agar masing-masing siswa memiliki kesiapan pada saat menerima pertanyaan. 2) Melatih iswa untuk berbicara sesuai petunjuk dan materi yang

sedang dipelajari serta pernyataan yang diperolehnya. Sebelum menerima pertanyaan dari guru, siswa akan menyimak atau mendengarkan bacaan yang dibacakan oleh guru dengan materi yang terkait.

19 Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), Op.cit, Cet. XIV, h. 109-110.

(28)

14

3) Agar siswa lebih giat dan berkonsentrasi belajar. Dengan menggunakan metode pembelajaran talking stick ini siswa akan lebih giat dan berkonsentrasi pada saat pembelajaran agar bisa menjawab pertanyaan yang akan diberikan oleh guru.20

b. Kekurangan Metode Pembelajaran Talking Stick

Adapaun kekurangan dari metode pembelajaran Talking Stick yaitu membuat siswa senam jantung. Dalam permainan ini siswa akan tiba-tiba mendapatkan giliran memegang tongkat dan harus menjawab pertanyaan dari guru. Setiap siswa tidak akan pernah tau kapan dirinya mendapat giliran menjawab pertanyaan. Hal ini di karenakan guru memberikan pertanyaan secara acak seiring dengan berhentinya lagu yang diputar atau yang dinyanyikan. Siswa yang secara spontan mendapat tongkat untuk menjawab pertanyaan dari guru akan merasa grogi atau rasa takut yang berlebihan.21

B. Konsep Minat Belajar Pendidikan Agama Islam 1. Definisi Minat Belajar

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktifitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.22

20 Nurafdholifa, Penggunaan Metode Talking Stick Untuk Meningkatkan Pemahaman

Siswa pada Materi Permasalahan Sosial di Kelas IV MI Darul Falah Boro Bunut Pakis Malang (Malang : Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2013), h. 23-24. http://etheses.uin-malang.ac.id/pdf (13 Januari 2020)

21 Ibid, h. 24.

22 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2010 ), h. 180.

(29)

Minat (interest) merupakan persepsi bahwa suatu aktifitas menimbulkan rasa ingin tahu dan menarik, bisaanya disertai oleh keterlibatan kognitif dan efek yang positif.23 Sebuah dalil dari hadits yang diriwayatkan oleh bukhari menjelaskan : َلاَق ٍديِعَس اَنَث َّدَح َلَاَق ٍراَّشَب ُنب ٌدَّحَحُم اَنَث َّدَح نًع ٍكِلاَم ِنب ِسنَا نَع ِح اَّيَّتلا وُبَا يِنَث َّدَح َلاَق ُتَبعُشاَنَث َّدَح يرستلاو فيفختلا بحي ناكواوُرِ فَنُتلآ َواوُرِ شَب َواوُرِ سَعُتلآ َواوُرٍ سَي َلاَق َمَّلَس َو ِحيَلَع ُ َّاللَّ ِ لَص ِ يِبَّنلا يلع (٨٣׃١,يراخبلا) سانلا Artinya :

“Hadis Muhammad ibn Basysyar katanya hadis Yahya ibn Sâ’id katanya hadis Syu’bah katanya hadis Abu Tayyâh dari Anas ibn Malik dari Nabi saw. Rasulullah saw. bersabda: Mudahkanlah dan gembirakanlah dan jangan kamu menakut-nakutkan dan jangan mempersulit. Rasulullah saw. suka memberikan keringanan dan kemudahan kepada manusia.(al-Bukhari, I: 38)”

Setelah saya menganalisis dalil di atas, maka peneliti dapat memahami bahwa hadist di atas memberikan kita penjelasan bahwa dalam menyampaikan suatu pelajaran seorang guru harus mempunyai cara atau metode pembelajaran agar siswa mudah memahami apa yang di sampaikan oleh guru dan apa yang mereka pelajari, sehingga siswa akan selalu mengasah otak dalam melakukan sesuatu atau yang mereka ujikan seperti belajar sebelum memasuki proses belajar mengajar.

Minat merupakan kemauan yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dikerjakan. Menurut Jeanne, minat terbagi atas dua yaitu : a. Minat Situasional yakni minat yang dipicu secara temporer oleh sesuatu di

lingkungan sekitar.

(30)

16

b. Minat Pribadi yakni minat yang bersifat jangka panjang dan relatife stabil pada suatu topik atau aktifitas.24

Belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Walaupun pada kenyataannya tidak semua perubahan termasuk kategori belajar. Misanya, perubahan fisik, mabuk, gila dan sebagainya.

Dalam belajar yang terpenting adalah proses, bukan hasil yang diperolehnya. Artinya, belajar harus diperoleh dengan usaha sendiri, adapun orang lain itu hanya sebagai perantara atau penunjang dalam kegiatan belajar agar belajar itu dapat berhasil dengan baik.25

Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepenjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya.26

Belajar juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Sebagaian besar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Belajar merupakan suatu aktivitas yang dapat dilakukan secara psikologis maupun secara fisiologis :

1) Aktivitas secara psikologis yaitu aktivitas yang merupakan proses mental, misalnya aktivitas berfikir, memahami, menyimpulkan, menyimak,

24 Ibid, h. 104.

25 Pupuh Fathurrohman & M. Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islami (Bandung : PT. Refika Aditama, 2014), Cet. VI, h. 6. 26 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2016) Cet. XIX, h. 1.

(31)

menelaah, membandingkan, membedakan, mengungkapkan, menganalisis dan sebagainya.

2) Aktivitas secara fisiologis yaitu aktivitas yang merupakan proses penerapan atau praktik, misalnya melakukan eksperimen atau percobaan, latihan, kegiatan praktik, mebuat karya (produk), apresiasi dan sebagainya.

Menurut Surya belajar dapat diartikan sebagai :

“Suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasi dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya.27

Seseorang yang telah berhasil dalam belajar akan mengalami perubahan tingkah laku. Menurut Slameto, ciri-ciri perubahan tingkah laku dalam pengertian belajar meliputi :

a) Perubahan terjadi secara sadar

Ini berarti bahwa seseorang yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya ia merasakan terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya, ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebisaaannya bertambah. Jadi perubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan tidak sadar, maka tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar, karena orang yang bersangkutan tidak menyadari akan perubahan itu.

b) Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional

27 Rusman, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi Mengembangkan

(32)

18

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan, tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan ataupun proses belajar berikutnya. Misalnya jika seorang anak belajar menulis, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat menulis menjadi dapat menulis. Perubahan ini berlangsung terus hingga kecakapan menulisnya menjadi lebih baik dan sempurna. Ia dapat menulis indah, dapat menulis dengan pulpen, dapat menulis dengan kapur dan sebagainya.

c) Perubahan dalam belajar bersifat dan aktif

Dalam kegiatan belajar, perubahan-perubahan itu senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banyak dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan melalui usaha individu itu sendiri. Misalnya perubahan tingkah laku karena usaha orang yang bersangkutan.

d) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara

Perubahan yang bersifat sementara atau temporer terjadi hanya untuk bersifat beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air mata, bersin, menangis dan sebagainya, tetapi tidak dapat di golongkan sebagai perubahan dalam arti belajar. Perubahan yang terjadi Karena proses belajar bersifat menetap atau permanen. Ini berarti bahwa tingkah laku

(33)

yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapn seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki bahkan akan makin berkembang terus dipergunakan atau di latih.

e) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang akan dicapai. Perubahan belajar terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari.

f) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui suatu proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.28

Tujuan belajar sebenarnya sangat banyak dan bervariasi. Tujuan belajar yang eksplisit diusahakan untuk dicapai dengan tindakan intruksional, lazim dinamakan Intructional effects, yang bisaa berbentuk pengetahuan dan keterampilan. Sementara, tujuan belajar sebagai hasil yang menyertai tujuan belajar intruksional lazim disebut nurturant effects. Bentuknya berupa, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sikap terbuka dan demokkratis, menerima

28 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinyai ( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2010 ), Op.cit, h. 3.

(34)

20

orang lain, dan sebagainya. Tujuan ini merupakan konsekuensi logis dari peserta didik “menghidupi” (live in) suatu system lingkungan belajar tertentu.29

Jadi dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah kecenderungan hati terhadap sesuatu yang dapat dipelajari yang dianggap penting dan berguna sehingga sesuatu itu dapat kemudian diikuti dengan perasaan senang.

2. Prinsip-Prinsip Belajar

Dalam suatu proses pembelajaran pasti memiliki prinsip-prinsip tertentu agar peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran sedemikian rupa. Adapun prinsip-prinsip dalam belajar yaitu :

Pertama,prinsip belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri :

a. Sebagai hasil tindakan rasional instrumental yaitu perubahan yang disadari.

b. Kontinu atau berkesinambungan dengan perilaku lainnya.. c. Fungsional atau bermanfaat sebagai bekal hidup.

d. Positif atau berakumulasi.

e. Aktif atau sebagai usaha yang direncanakan dan dilakukan.

f. Permanen atau tetap, sebagaimana dikatakan oleh wittig,, belajar sebagai any relatively permanent change in an organism’s behavioral repoeroire that occurs as a result of experience.

g. Bertujuan dan terarah.

h. Mencakup keseluruhan potensi kemanusiaan.

29 Agus Suprijono, Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), Op.cit, Cet. XIV, h. 5.

(35)

Kedua, belajar merupakan proses. Belajar terjadi karena didorong kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses sistemik yang dinamis, konstruktif, dan organic. Belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai komponen belajar.

Ketiga, belajar merupakan bentuk pengalaman. Pengalaman pada dasarnya adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.30

Adapun prinsip-prinsip belajar yang relatif berlaku umum berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual. 1) Perhatian dan Motivasi

Perhatian mempunyai peranan penting dalam kegaiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran itu dapat dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Motivasi adalah tenaga yang digunakan untuk menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang.

Motivasi erat kaitannya dengan minat. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap penting dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut mengubah tingkah laku dan motivasinya. Motivasi dapat bersifat

(36)

22

internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat ekternal, yakni datang dari orang lain.31

2) Keaktifan

Dalam setiap proses belajar siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Sedangkan kegiatan psikis misalnya menggunakan khazanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis yang lain.

3) Keterlibatan Langsung

Belajar secara langsung dalam hal ini tidak sekedar mengamati secara langsung melainkan harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Keterlibatan siswa di dalam belajar tidak hanya keterlibatan fisik semata, tetapi juga keterlibatan emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukann keterampilan. 4) Pengulangan

Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal,

31 Rusman, dkk, Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi

Mengembangkan Profesionalitas Guru ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2015), op.cit, Cet. IV, h. 22-23.

(37)

merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan, maka daya-daya tersebut akan berkembang. 32

5) Tantangan

Dalam situasi siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk mempelajarinya.33

6) Balikan dan Penguatan

Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu akan mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Hal ini juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif atau escape condotioning. Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinyabalikan dan penguatan.

7) Perbedaan Individu

32 Ibid, h. 24 33 Ibid, h. 25.

(38)

24

Siswa merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa yang sama persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan belajar ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memerhatikan masalah perbedaan individual. Pembelajaran klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa cara, misalnya :

a) Penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi b) Penggunaan metode instruksional

c) Memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa pandai dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang. d) Dalam memberikan tugas, hendaknya disesuaikan dengan minat dan

kemampuan siswa.34

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar

Secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat tidak muncul dengan sendirinya melainkan adanya faktor yang menyebabkan timbulnya minat dalam diri peserta didik tersebut. Adapun faktor yang mempengaruhi minat belajar, di antaranya :

a. Orang Tua

Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga, oleh karenya orang tua sangat besar pengaruhnya dalam menentukan minat belajar dalam diri siswa terhadap pelajaran sebagaimana yang dikutip oleh Abd. Rahman

(39)

Abror bahwa tidak semua siswa memulai bidang studi baru karena faktor minatnya sendiri. Ada yang mengembangkan minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari gurunya, teman kelasnya, atau orang tuanya.

b. Guru

Sikap guru yang diperlihatkan kepada siswa memiliki peranan penting dalam membangkitkan minat siswa. Apabila siswa tidak berminat terhadap gurunya maka siswa tidak akan mau belajar. Oleh karena itu apabila siswa tidak berminat terhadap gurunya maka sebaiknya dibangkitkan sikap positif (sikap menerima) kepada gurunya agar siswa mau belajar memperhatikan pelajaran.

c. Materi Pelajaran

Bahan pelajaran akan menarik bagi siswa jika terlihat adanya hubungan antara pelajaran dengan kehidupan nyata. Hal ini dapat berhasil membangkitkan minat siswa jika bahn pelajaran dikaitkan langsung dengan tematik kehidupan siswa pada saat itu. Pelajaran akan lebih menarik jika siswa diberi kesempatan untuk dapat giat sendiri. Kesempatan mengambil sendiri, giat secara mandiri, sudah akan memungkinkan sisw dapat meresapkan bahan-bahan pelajaran.

d. Media/Alat Pembelajaran

Alat pelajaran erat sekali hubungannya dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. Alat pelajaran yang lengkap

(40)

26

dan tepat akan melancarkan penerimaan bahn pelajaran yang diberikan kepada siswa. Media atau alat pelajaran yang menarik digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran juga dapat mempengaruhi timbulnya minat siswa untuk mau belajar. Seorang guru yang menggunakan media dapat menarik siswa untuk tetap dapat memperhatikan penjelasan guru. Karena pada umumnya ada siswa yang cenderung lebih giat belajarnya karena adanya penggunaan media oleh gurunya terlebih jika siswa diikut sertakan dalam penggunaan media tersebut.35

C. Kerangka Pikir

Penerapan metode pembelajaran merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan minat belajar siswa. Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai pola pembelajaran yang telah didesain dengan strategi pembelajaran disertai langkah-langkah (sintaks) dan perangkat pembelajaran. Dalam metode pembelajaran telah terangkum pendekatan dan metode pembelajaran yang efektif.

Berdasarkan pengamatan, minat belajar siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang masih tergolong rendah. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran talking stick yang merupakan metode pembelajaran dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat maka wajib menjawab pertanyaan dari guru. Langkah-langkah metode talking stick, dimulai dengan guru menyampaikan materi pokok pelajaran, kemudian guru memberikan kesempatan siswa untuk menjawab dan memahami materi yang diberikan, setelai selesai membaca dan

35 Nur Faizah, Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa Kelas VII SMP

Al-Mubarak Pondik Aren Tangerang Selatan (Jakarta : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2010), h. 16-17.

(41)

memahami materi siswa menutup buku. Kemudian guru mengambil tongkat yang telah disiapkan sebelumnya dan memberikan kepada siswa secara acak, bagi siswa yang meegang tongkat diwajibkan menjawab pertanyaan yang disajikan oleh guru. Setelah siswa menjawab pertanyaan, kemudian siswa memberikan tongkat ke siswa lain yang juga akan diberi pertanyaan oleh guru. Demikina seterusnya, setelah itu guru bersama siswa menyimpulkan materi dan kemudian guru memberikan evaluasi. Kelebihan dari metode talking stick ini yaitu siswa dapat berpartisipasi aktif selama proses pelajaran, dapat menarik rasa ketertarikan siswa untuk mengikuti proses pelajaran dan dapat mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan percaya diri dalam mengemukakan pendapat.

Dengan metode pembelajaran talking stick diharapkan tidak hanya minat belajar saya yang meningkat, namun juga dapat meningkatkan keaktifan aktivitas belajar siswa dalam kelas. Dan juga dengan adanya alat bantu tongkat memberikan kesan pembelajaran yang kreatif dan menarik.

(42)

28

Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pikir

Keaktifan Siswa Yang Rendah Dan Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Yang

Masih Kurang

Model Pembelajaran Guru Yang Kurang Menarik

Penggunaan Metode Pembelajaran Talking Stick

Meningkatnya Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang

Kabupaten Pinrang

Kondisi Akhir Yang Diharapkan Siswa Belajar Secara Aktif Setelah Menggunakan Metode Pembelajaran

(43)

D. Hipotesis

Metode pembelajaran yang baik adalah metode pembelajaran yang lebih mengeksplor keterlibatan anak dalam belajar baik secara fisik maupun psikis sehingga meningkatkan minat belajar siswa. Metode pembelajaran talking stick menuntut siswa untuk berani berbicara dan mengemukakan pendapatnya serta memudahkan siswa untuk mengingat pelajaran yang telah diberikan.

Siswa memiliki minat belajar yang rendah dan kurang siap untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran , mereka cenderung tidak aktif dan kurang memperhatikan maupun mengikuti jalannya proses pembelajaran

Berdasarkan kerangka teoritik yang dikemukakan, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran talking stick dapat berpengaruh terhadap minat belajar Pendidikan Agama Islam siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas dapat diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran didalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas melalui tindakan tertentu.36

Menurut Suyanto mengemukakan bahwa :

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik- praktik pembelajaran di kelas secara profesional.37

Adapun faktor pendorong pada penelitian tindakan kelas adalah keinginan untuk memperbaiki kinerja guru. Dengan demikian, guru berperan sebagai subjek penelitian yang merancang penelitian serta mengimplementasikannya.38

36Suyanto dalam bukunya Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas (Cet 1; Jakarta: Kencana Prenada Media Group 2009), h. 26.

37Masnur Muslich, Melaksanakan PTK Itu Mudah (Classrom Action Research)

Pedoman Praktis bagi Guru Profesional (Cet 1; Jakarta : PT Bumi Aksara. 2009), h. 9. 38Op.Cit., h. 27.

(45)

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang. Alasan peneliti memilih sekolah ini adalah karena letaknya strategis sehingga mempermudah dalam melaksanakan penelitian. Dan yang menjadi objek penelitian dalam penelitian ini adalah Siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang.

C. Faktor Yang Diselidiki

Adapun faktor yang diselidiki yaitu Penerapan Metode pembelajaran Talking Stick Terhadap Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang.

1. Metode Talking Stick

Metode Talking Stick yang dimaksud dalam penelitian ini adalah metode yang diterapkan oleh guru dengan memberikan pertanyaan kepada siswa setelah guru menjelaskan materi ajar pada saat proses pembelajaran dengan cara menggiring tongkat yang disertai musik agar siswa memiliki kemampuan mengingat materi, keinginan untuk belajar, dan tugas yang diberikan dipertanggung jawabkannya.

2. Meningkatkan Minat Belajar

Meningkatkan minat belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dengan melihat antusias siswa serta nilai yang diperoleh siswa melalui tes hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang diberikan setelah mengikuti proses pembelajaran. Maksud dalam penelitian ini adalah hasil yang menunjukkan tingkat penguasaan dan pemahaman siswa SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten

(46)

32

Pinrang dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam setelah menggunakan metode Talking Stick. Dengan demikian, dalam penelitian ini peneliti hanya hendak meneliti penerapan metode pembelajaran Talking Stick terhadap minat belajar Pendidikan Agama Islam siswa di SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang. D. Prosedur Penelitian

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini direncanakan dua siklus. Setiap siklus penelitian tindakan dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan dan satu kali evaluasi. Adapun skema alur siklus yang direncanakan dalam penelitian ini sebagai berikut

:

Gambar 3.1: Metode Penelitian Tindakan39

39 Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT Bumi Aksara), h.74. Rencana Siklus I Tindakan Siklus I • Persiapan Pembelajaran • Pelaksanaan Pembelajaran • Evaluasi Observasi Siklus I Refleksi Analisis Evaluasi Belum Berhasil Rencana Siklus II Tindakan Siklus II • Persiapan Pembelajaran • Pelaksanaan Pembelajaran • Evaluasi Observasi Siklus II Refleksi Analisis Berhasil

(47)

Berdasarkan skema di atas maka prosedur kerja penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut :

1. Siklus I

a. Perencanaan

Pada tahap perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrument pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Secara rinci, pada tahapan perencanaan terdiri dari kegiatan sebagai berikut :

1) Mengidentifikasi dan menganalisis masalah, yaitu secara jelas dapat di mengerti masalah apa yang akan diteliti. Masalah tersebut harus benar-benar faktual terjadi di lapangan, masalah bersifat umum di kelasnya, masalah cukup penting dan bermanfaat bagi peningkatan mutu hasil pembelajaran, dan masalah pun harus dalam jangkauan kemampuan peneliti.

2) Menetapkan alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan, yang akan melatar belakangi PTK.

3) Merumuskan masalah secara jelas, baik dengan kalimat tanya maupun kalimat pernyataan.

4) Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan. Umumnya dimulai dengan menetapkan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik dan yang dapat dilakukan guru.

(48)

34

5) Menentukan cara untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan indikator-indikator keberhasilan serta berbagai instrument pengumpul data yang dapat dipakai menganalisis indikator keberhasilan itu.

6) Membuat secara rinci rancangan tindakan. b. Tindakan

Pada tahap ini, rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Rancangan tindakan tersebut tentu saja sebelumnya telah “dilatihkan” kepada si pelaksana tindakan (guru) untuk dapat diterapkan dalam kelas sesuai dengan skenarionya. Skenario dari tindakan harus dilaksanakan dengan baik.

Pada PTK yang dilakukan oleh guru, pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan. Waktu tersebut dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan sajian beberapa pokok bahasan dari mata pelajaran tertentu.

Berikut contoh ringkasan rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan pada satu PTK.

1) Dirancang penerapan metode tugas dan diskusi dalam pembelajaran X untuk pokok bahasan : A, B, C, dan D.

2) Format tugas : pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, dipilih ketua, sekretaris, dan lain-lain dan anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan cara yang menyenangkan.

3) Kegiatan kelompok : mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok belajar memahami materi, dan menuliskan hasil diskusi dalam OHT untuk persiapan presentasi.

(49)

4) Presentasi dan diskusi pleno : masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru bertindak sebagai moderator, kemudian lakukan diskusi dan ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran.

5) Jenis data yang dikumpulkan : makalah kelompok, lembar OHT hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, dan lain-lain.

Skenario atau rancangan tindakan yang akan dilakukan, hendaknya dijabarkan serinci munkin secara tertulis. Rincian tindakan itu menjelaskan (a) langkah demi langkah kegiatan yang akan dilakukan, (b) kegiatan yang seharusnya dilakukan guru, (c) kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh siswa, (d) rincian tentang jenis media pembelajaran yang akan digunakan dan cara menggunakannya, (e) jenis instrument yang akan digunakan untuk pengumpulan data/pengamatan di sertai dengan penjelasan rinci bagaimana menggunakannya.

c. Pengamatan atau observasi

Tahap ini, peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun, termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, kuis, presentase, nilai tugas dan lain-lain) atau data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.

(50)

36

d. Refleksi

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.

Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan :perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi.

2. Siklus II

Siklus II merupakan tindakan perbaikan siklus I. Secara umum, penerapan pembelajaran pada siklus II sama dengan penerapan pembelajaran pada siklus I, hanya saja dilakukan lebih cermat dan memperhatikan hal-hal yang belum tercapai pada siklus I. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

a. Perencanaan

Pada tahap perencanaan peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrument pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Secara rinci, pada tahapan perencanaan terdiri dari kegiatan sebagai berikut :

1) Mengidentifikasi dan menganalisis masalah, yaitu secara jelas dapat dimengerti masalah apa yang akan diteliti. Masalah tersebut harus

(51)

benar-benar faktual terjadi di lapangan, masalah bersifat umum di kelasnya, masalah cukup penting dan bermamfaat bagi peningkatan mutu hasil pembelajaran, dan masalah pun harus dalam jangkauan kemampuan peneliti.

2) Menetapkan alasan mengapa penelitian tersebut dilakukan, yang akan melatar belakangi PTK.

3) Merumuskan masalah secara jelas, baik dengan kalimat tanya maupun kalimat pernyataan.

4) Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan. Umumnya dimulai dengan menetapkan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik dan yang dapat dilakukan guru.

5) Menentukan cara untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan indikator-indikator keberhasilan serta berbagai instrument pengumpul data yang dapat dipakai menganalisis indikator keberhasilan itu.

6) Membuat secara rinci rancangan tindakan. b. Tindakan

Pada tahap ini, rancangan strategi dan skenario penerapan pembelajaran akan diterapkan. Rancangan tindakan tersebut tentu saja sebelumnya telah “dilatihkan” kepada si pelaksana tindakan (guru) untuk dapat diterapkan dalam di kelas sesuai dengan skenarionya. Skenario dari tindakan harus dilaksanakan dengan baik.

(52)

38

Pada PTK yang dilakukan oleh guru, pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan.Waktu tersebut dibutuhkan untuk dapat menyelesaikan sajian beberapa pokok bahasan dari mata pelajaran tertentu.

Berikut contoh ringkasan rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan pada satu PTK.

1) Dirancang penerapan metode tugas dan diskusi dalam pembelajaran X untuk pokok bahasan : A, B, C, dan D.

2) Format tugas : pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, dipilih ketua, sekretaris, dan lain-lain dan anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan cara yang menyenangkan.

3) Kegiatan kelompok : mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok belajar memahami materi, dan menuliskan hasil diskusi dalam OHT untuk persiapan presentasi.

4) Presentasi dan diskusi pleno : masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru bertindak sebagai moderator, kemudian lakukan diskusi dan ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran.

5) Jenis data yang dikumpulkan : makalah kelompok, lembar OHT hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, dan lain-lain.

Skenario atau rancangan tindakan yang akan dilakukan, hendaknya dijabarkan serinci munkin secara tertulis. Rincian tindakan itu menjelaskan (a) langkah demi langkah kegiatan yang akan dilakukan, (b) kegiatan yang seharusnya dilakukan guru, (c) kegiatan yang diharapkan di lakukan oleh siswa, (d) rincian tentang jenis media pembelajaran yang akan digunakan dan cara

(53)

menggunakannya, (e) jenis instrument yang akan digunakan untuk pengumpulan data/pengamatan di sertai dengan penjelasan rinci bagaimana menggunakannya. c. Pengamatan atau observasi

Tahap ini, peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah di susun, termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, kuis, presentase, nilai tugas dan lain-lain) atau data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, antusias siswa, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.

d. Refleksi

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.

Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan :perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi.40

(54)

40

E. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian sebagai alat yang digunakan dalam meneliti, yang betul-betul direncanakan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data Empiris sebagaimana adanya sebab penelitian akan berhasil apabila banyak menggunakan instrument agar data tersebut dapat menjawab pertanyaan41. Adapun pendapat lain mengenai instrument penelitian,yaitu:

“Instrument penelitian adalah alat yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data dari kegiatan penelitiannya.Instrument penelitian ini dapat menguji atau menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan karena data yang diperoleh akan dijadikan landasan dalam mengambil kesimpulan.”42

Adapun yang menjadi instrument penelitian ini yaitu : 1. Pedoman Observasi

Alat yang digunakan dalam observasi adalah pedoman observasi. Pedoman observasi adalah catatan yang berisi petunjuk dalam membuat sebuah pengamata, khususnya pengamatan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan menggunakan metode Talking Stick selama proses belajar mengajar berlangsung dan juga sebagai instrument untuk mengamati aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar pada siswa SMP Negeri 3 Lembang Kabupaten Pinrang.

2. Instrument Tes

Tes merupakan himpunan pertanyaan yang harus dijawab, harus ditanggapi atau tugas yang harus dilaksanakan oleh orang yang di tes. Tes

41 P. Joko Subagya, Metodologi Dalam Teori dan Praktek, (Cet. IV; Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 63

(55)

digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang siswa telah menguasai pelajaran yang disampaikan terutama meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan.43

a) Instrument Pre-Tes

Pre-Tes dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa serta hasil belajar pada metode yang digunakan oleh guru sebelum penerapan metode Talking Stick pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

b) Instrument Post-Tes

Post-Tes, Tes penelitian ini berisi pertanyaan-pertanyaan tertulis yang diberikan kepada siswa berupa tugas-tugas yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan lalu diberikan penskoran untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah penerapan metode Talking Stick.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto, data yang relevan dengan penelitian.44 Dokumentasi atau yang sering dikenal sebagai dokumen merupakan catatan-catatan peristiwa yang telah dilakukan yang berbentuk gambar atau tulisan dan foto-foto atau video tersebut dapat dijadikan bukti kongkrit untuk menilai segala tingkah laku siswa dan sebagai pendukung bahwa peneliti betul-betul melakukan Penelitian Tindak Kelas (PTK).

43 Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran (Yogyakarta: Multi Pressindo cet ke-1, 2012), h. 67

Gambar

Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pikir
Gambar 3.1:  Metode Penelitian Tindakan 39
Tabel 3.1  Kategori Hasil Belajar
Tabel 4.2  Identitas Sekolah  IDENTITTAS SEKOLAH
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang pen ulis lakukan mengenai “Hubungan minat baca dengan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa/i di sekolah SMP Negeri 9 Kota Tangerang

Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen serta seluruh staf Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah dengan

KEBAYORAN LAMA JAKARTA SELATAN" diajukan kepada Fakultas IImu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif HidayatuJlah Jakarta, dall telah dinyatakan lulus dalam ujian munaq; 'yah

Pembelajaran dengan menggunakan metode Talking Stick dan Snowball Throwing bertujuan untuk melatih siswa lebih tanggap dalam berkomunikasi, membuat siswa lebih aktif,

Choirin Nasikhah. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Imam Sutomo, M.Ag. Kata Kunci: Metode Talking Stick

Belajar terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana

21 Selanjutnya pada tahun 2011,Dimas Pamuncak mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan penelitian skripsi dengan judul pengaruh gaya belajar visual, auditori dan kinestetik

Pengaruh hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam melalui penerapan metode talking stick Adapun tahapan metode yang dilakukan peneliti yakni dengan terlabih