I 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

93 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perencanaan pembangunan daerah adalah proses penyusunan tahapan

kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya,

guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka

meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah

dalam jangka waktu tertentu. Dokumen perencanaan pembangunan jangka

menengah daerah terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah

(RPJMD) dan Rencana Strategis SKPD (Renstra-SKPD). Penyusunan dokumen

RPJMD dikoordinasikan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

(BAPPEDA), sedangkan penyusunan Renstra SKPD disusun oleh SKPD sesuai

dengan tugas dan kewenangannya.

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) merupakan unsur penyelenggara

pemerintahan daerah yang dalam upaya mencapai keberhasilannya perlu

didukung dengan perencanaan yang baik sesuai dengan visi dan misi organisasi.

Pendekatan yang dilakukan adalah melalui perencanaan strategis yang merupakan

serangkaian rencana tindakan dan kegiatan mendasar yang dibuat untuk

diimplementasikan oleh organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi

yang telah ditetapkan sebelumnya. Sesuai dengan peraturan perundangan yang

berlaku bahwa setiap SKPD perlu menyusun Rencana Strategis (Renstra) SKPD

sebagai dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah di setiap SKPD

untuk jangka waktu lima tahun. Renstra SKPD disusun sesuai dengan tugas dan

fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif.

(2)

penyusunan Renstra SKPD, penyusunan rancangan Renstra SKPD, penyusunan

rancangan akhir Renstra SKPD dan penetapan Renstra SKPD.

Pemerintah Kota Bandung saat ini telah memiliki Rencana Pembangunan

Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bandung Tahun 2005-2025 (Perda No. 08

Tahun 2008) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota

Bandung Tahun 2014-2018. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) melakukan

penyusunan Renstra SKPD yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan,

program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja

Perangkat Daerah (SKPD).

Bappeda sebagai lembaga teknis yang mempunyai tugas pokok dan fungsi

dalam perumusan perencanaan pembangunan daerah memiliki peran dan fungsi

strategis dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan. Untuk

mendukung pelaksanaan tupoksi Bappeda diperlukan suatu dokumen rencana

strategis yang memberikan arah kebijakan dan fokus program dalam lima tahun

mendatang. Dokumen Renstra Bappeda tersebut harus terintegrasi dengan

dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah kota yaitu RPJMD Kota

Bandung 2014-2018.

Renstra merupakan komitmen Bappeda yang digunakan sebagai tolok ukur

dan alat bantu bagi perumusan kebijakan penyelenggaraan pemerintahan

khususnya dalam kebijakan perencanaan pembangunan kota Bandung serta

sebagai pedoman dan acuan dalam mengembangkan dan meningkatkan kinerja

sesuai dengan kewenangan, tugas pokok dan fungsi Bappeda dengan

mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta peluang dan

ancaman yang dihadapi dalam rangka mendukung pencapaian visi Kota Bandung,

(3)

1.2

Landasan Hukum

1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional Program Pembangunan Nasional;

2) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

yang telah diubah kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12

Tahun 2008 ;

3) Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah;

4) Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 Tentang Pedoman

Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal;

5) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian

Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah

Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

6) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tatacara

Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana

Pembangunan Daerah;

7) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2010 Tentang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional;

8) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2007 Tentang

Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal;

9) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Tentang

Perubahan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

10) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang

pelaksanaan PP No 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara

Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana

Pembangunan Daerah;

11) Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor 06 Tahun 2009 Tentang

(4)

12) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 18 Tahun 2011 Tentang

Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 06 Tahun 2006

tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung;

13) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 8 Tahun 2007 Tentang Urusan

Pemerintahan Daerah Kota Bandung;

14) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2008 Tentang

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun

2005-2025;

15) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 Tentang

Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008

Tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi

Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musyawarah Perencanaan

Pembangunan Daerah;

16) Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 12 tahun 2009 Tentang

Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 12 tentang

Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kota

Bandung;

17) Peraturan Walikota Bandung No 410 Tahun 2010 tentang Tugas Pokok,

Fungsi, Uraian Tugas dan Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan

Daerah Kota Bandung;

18) Peraturan Walikota Bandung No 121 Tahun 2010 tentang Tata Cara

Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan serta

pedoman dan Tata cara Musyawarah Perencanaan pembangunan

Daerah.

1.3 Maksud Dan Tujuan

Maksud dari penyusunan Revisi Rencana Strategis Bappeda adalah melakukan

penyesuaian arah dan pedoman pelaksanaan program dan kegiatan tahunan bagi

Bappeda dalam melaksanakan tugas dan fungsi khususnya dalam kurun waktu 5

(5)

Adapun tujuan penyusunan Renstra Bappeda adalah untuk:

mengoptimalkan tugas pokok, fungsi dan peran Bappeda sebagai institusi

perencanaan pembangunan dalam mencapai target pencapaian Rencana

Pembangunan Jangka Menengah Daearah (RPJMD) Kota Bandung Tahun

2014-2018.

menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan Bappeda Kota

Bandung.

1.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Renstra Bappeda Kota Bandung 2014-2018 disusun sebagai

berikut :

Bab 1 Pendahuluan t

erdiri atas latar belakang, landasan hukum, maksud dan

tujuan penyusunan Renstra Bappeda dan sistematika penulisan;

Bab 2 Gambaran Pelayanan SKPD

memuat informasi tentang peran (tugas

dan fungsi) SKPD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah,

mengulas secara ringkas apa saja sumber daya yang dimiliki SKPD dalam

penyelenggaraan tugas dan fungsinya, mengemukakan capaian-capaian

penting yang telah dihasilkan melalui pelaksanaan Renstra SKPD periode

sebelumnya, mengemukakan capaian program prioritas SKPD yang telah

dihasilkan melalui pelaksanaan RPJMD periode sebelumnya, dan mengulas

hambatan-hambatan utama yang masih dihadapi dan dinilai perlu diatasi

melalui Renstra SKPD;

Bab 3 Isu-Isu Strategis Berdasarkan Tugas dan Fungsi

memuat

permasalahan-permasalahan pelayanan SKPD, telaahan visi, misi dan

program KDH terpilih, telaahan Renstra K/L, telaahan terhadap RTRW dan

penentuan isu-isu strategis;

Bab 4 Visi, Misi, Tujuan, Strategi dan Kebijakan

terdiri atas :Uraian Visi

dan Misi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung,. Tujuan

merupakan penjabaran visi SKPD yang lebih spesifik dan terukur sebagai

(6)

cara untuk mewujudkan tujuan, dirancang secara konseptual, analisis,

realistis, rasional dan komprehensif. Strategi diwujudkan dalam kebijakan

dan program, yang terakhir pada BAB IV adalah mengenai Kebijakan yaitu

Arah yang diambil oleh SKPD dalam menentukan bentuk konfigurasi

program dan kejadian untuk mencapai tujuan.

Bab 5 Rencana Program dan Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok

Sasaran dan Pendanaan Indikatif

memuat rencana program dan kegiatan,

indikator kinerja, kelompok sasaran, dan pendanaan indikatif;

Bab 6 Indikator Kinerja SKPD Yang Mengacu Pada Tujuan dan Sasaran

RPJMD

memuat indikator kinerja SKPD yang secara langsung menunjukkan

kinerja yang akan dicapai SKPD dalam lima tahun mendatang sebagai

(7)

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN

BAPPEDA KOTA BANDUNG

2.1

Tugas, Fungsi Dan Struktur Organisasi Bappeda

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bandung adalah

lembaga teknis di lingkungan Pemerintah Kota Bandung yang melaksanakan

urusan perencanaan pembangunan. Pembentukan Bappeda Kotamadya Daerah

Tingkat II Bandung didasarkan pada Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 1981 dan

Perda Nomor 24 Tahun 1981. Dalam era desentralisasi dan otonomi daerah,

dikeluarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 06 Tahun 2001 tentang

Pembentukan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Tingkat Kota

Bandung, yang mengubah nama Bappeda Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung

menjadi Bappeda Kota Bandung. Perubahan tugas pokok dan fungsi serta struktur

organisasi Bappeda kembali mengalami perubahan sesuai dengan ditetapkannya

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 12 Tahun 2009 tentang perubahan atas

Peraturan Daerah Kota Bandung nomor 12 tahun 2007 tentang Pembentukan Dan

Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kota Bandung.

Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 12 Tahun 2009 dan

Peraturan Walikota Bandung Nomor 410 Tahun 2010 tentang Rincian tugas pokok,

fungsi, uraian tugas dan tata kerja Badan perencanaan pembangunan daerah Kota

bandung, Susunan Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota

Bandung terdiri dari :

1. Kepala Badan;

2. Sekretariat, membawahi :

a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

b. Sub Bagian Keuangan;

(8)

3. Bidang Perencanaan Tata Ruang, Sarana dan Prasarana, membawahi :

a. Sub Bidang Perencanaan Tata Ruang dan Lingkungan Hidup;

b. Sub Bidang Perencanaan Sarana dan Prasarana.

4. Bidang Perencanaan Ekonomi dan Pembiayaan, membawahi :

a. Sub Bidang Perencanaan Pengembangan Ekonomi;

b. Sub Bidang Perencanaan Pembiayaan dan Pengembangan Usaha

Daerah.

5. Bidang Perencanaan Sosial Budaya dan Kesejahteraan Rakyat, membawahi:

a. Sub Bidang Perencanaan Sosial Budaya;

b. Sub Bidang Perencanaan Kesejahteraan Rakyat.

6. Bidang Perencanaan Pemerintahan, membawahi :

a. Sub Bidang Perencanaan Sumber Daya Pemerintahan;

b. Sub Bidang Perencanaan Kerjasama Pembangunan Daerah.

7. Bidang Penelitian, Pengembangan dan Statistik, membawahi :

a. Sub Bidang Penelitian dan Pengembangan;

b. Sub Bidang Statistik.

8. Bidang Penanaman Modal, membawahi :

a. Sub Bidang Penanaman modal dan Promosi Daerah;

b. Sub Bidang Bina Potensi dan Kerjasama Daerah.

9. Unit pelaksana teknis Badan.

10. Kelompok Jabatan Fungsional.

Secara lengkap bagan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Badan Perencanaan

(9)

Gambar 2.1

(10)

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah mempunyai tugas pokok

melaksanakan

penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di

bidang

perencanaan pembangunan daerah dan penanaman modal. Untuk melaksanakan

tugas pokok diatas, Bappeda mempunyai fungsi:

a.

Perumusan kebijakan teknis di bidang perencanaan pembangunan daerah dan

penanaman modal;

b.

Pengkoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan daerah;

c.

Pemberian dukungan atas penyelenggaraan Pemerintahan daerah dibidang

penanaman modal;

d.

Pembinaan dan pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah dan

penanaman modal yang meliputi perencanaan tata ruang dan fisik, perencanaan

ekonomi dan pembiayaan, perencanaan sosial budaya dan kesejahteraan rakyat,

pemerintahan, penelitian pengembangan dan statistik serta penanaman modal;

e.

Pelaksanaan pelayanan teknis administratif Badan; dan

f.

Pelaksanaan tugas lain yang diterbitkan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan

fungsinya.

Rincian Tugas Pokok dan Fungsi Bappeda ditetapkan dengan Peraturan

Walikota Bandung No 410 Tahun 2010 dengan rincian sebagai berikut :

A. KEPALA BADAN

Tugas

pokok :

melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan

perencanaan dan pengendalian pembangunan daerah.

Fungsi

:

a. perumusan kebijakan teknis perencanaan pembangunan;

b. pengkoordinasian penyusunan perencanaan pembangunan;

c. pembinaan dan pelaksanaan tugas lingkup perencanaan

pembangunan daerah;

d. pelaksanaan tugas lain yang diberikan Walikota sesuai

dengan tugas dan fungsinya; dan

e. pembinaan, monitoring, evaluasi dan laporan kegiatan

(11)

B. SEKRETARIAT

Tugas

Pokok:

melaksanakan

sebagian

tugas

Badan

Perencanaan

Pembangunan Daerah lingkup kesekretariatan

Fungsi :

a. pelaksanaan penyusunan rencana kegiatan kesekretariatan;

b. pelaksanaan kesekretariatan Badan yang meliputi

administrasi umum dan kepegawaian, keuangan dan

program;

c. pelaksanaan pengkoordinasian penyelenggaraan

tugas-tugas Bidang;

d. pelaksanaan pengkoordinasian penyusunan rencana,

program, evaluasi dan pelaporan kegiatan Badan;

e. pengkoordinasian penyelenggaraan tugas-tugas Sekretariat ;

f. pembinaan, monitoring, evaluasi dan laporan kegiatan

C. BIDANG PERENCANAAN SOSIAL BUDAYA

Tugas

Pokok :

melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan lingkup

perencanaan sosial budaya dan kesejahteraan rakyat.

Fungsi :

a. penyusunan bahan perumusan kebijakan teknis

perencanaan pembangunan lingkup perencanaan sosial

budaya dan perencanaan kesejahteraan rakyat;

b. penyusunan petunjuk teknis lingkup perencanaan sosial

budaya dan perencanaan kesejahteraan rakyat;

c. pembinaan dan pelaksanaan pengkoordinasian penyusunan

d. perencanaan pembangunan lingkup perencanaan sosial

budaya dan perencanaan kesejahteraan rakyat; dan

e. pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan

pelaksanaan lingkup perencanaan sosial budaya dan

(12)

D. BIDANG PERENCANAAN TATA RUANG, SARANA DAN PRASARANA

Tugas

Pokok:

melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan lingkup

perencanan tata ruang, sarana dan prasarana.

Fungsi :

a. penyusunan bahan perumusan kebijakan teknis

perencanaan lingkup perencanaan tata ruang dan

lingkungan hidup, serta perencanaan sarana dan prasarana;

b. penyusunan petunjuk teknis lingkup perencanaan tata

ruang dan lingkungan hidup, serta perencanaan sarana dan

prasarana;

c. pembinaan dan pelaksanaan pengkoordinasian penyusunan

perencanaan pembangunan lingkup perencanaan tata ruang

lingkungan hidup, serta perencanaan sarana dan prasarana;

d. pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan

pelaksanaan

perencanaan lingkup perencanaan tata ruang dan

lingkungan hidup, serta perencanaan sarana dan prasarana;

E. BIDANG PERENCANAAN EKONOMI DAN PEMBIAYAAN

Tugas

Pokok:

melaksanakan sebagian tugas Kepala Bappeda lingkup

perecanaan ekonomi dan pembiayaan

Fungsi :

a. penyusunan

bahan

perumusan

kebijakan

teknis

perencanaan

pembangunan

lingkup

perencanaan

pengembangan ekonomi serta perencanaan pembiayaan dan

pengembangan usaha daerah;

b. penyusunan

petunjuk

teknis

lingkup

perencanaan

pengembangan ekonomi serta perencanaan pembiayaan dan

pengembangan usaha daerah;

c. pembinaan dan pelaksanaan pengkoordinasian penyusunan

(13)

ekonomi serta perencanaan pembiayaan dan pengembangan

usaha daerah;

d.

pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan

pelaksanaan lingkup perencanaan pengembangan ekonomi

serta perencanaan pembiayaan dan pengembangan usaha

daerah.

F. BIDANG PENELITIAN, PENGEMBANGAN DAN STATISTIK

Tugas

Pokok:

melaksanakan sebagian tugas Kepala Bappeda lingkup

penelitian, pengembangan dan statistik

Fungsi :

a. penyusunan bahan perumusan kebijakan teknis lingkup

penelitan pengembangan dan statistik;

b. penyusunan petunjuk teknis lingkup litbang dan statistik;

c. pelaksanaan

dan

pengkordinasian

penelitian

dan

pengembangan lingkup penelitan pengembangan dan

statistik;

d. monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan penelitian

dan pengembangan lingkup penelitan pengembangan dan

statistik.

G. BIDANG PENANAMAN MODAL

Tugas

Pokok:

melaksanakan sebagian tugas Kepala Bappeda lingkup

penanaman modal

Fungsi :

a.

perencanaan dan penyusunan program lingkup informasi

penanaman modal dan promosi daerah serta bina potensi

dan kerjasama investasi;

b.

penyusunan

petunjuk

teknis

lingkup

informasi

penanaman modal dan promosi daerah serta bina potensi

dan kerjasama investasi;

(14)

promosi daerah serta bina potensi dan kerjasama investasi;

dan

d.

monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan lingkup

informasi penanaman modal dan promosi daerah serta bina

potensi dan kerjasama investasi.

H. KEPALA UNIT PELAKSANA TEKNIS LEMBAGA PENGADAAN SECARA

ELEKTRONIK (LPSE)

a.

menyusun rencana dan program kerja Unit Pelaksana Teknis

Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) sebagai

pedoman pelaksanaan tugas;

b.

membagi tugas kepada bawahan berdasarkan rumusan

tugas dan potensi bawahan agar tugas dan fungsi dapat

dilaksanakan secara efektif dan efisien;

c.

mengarahkan tugas kepada bawahan berdasarkan program

kerja Unit Pelaksana Teknis Lembaga Pengadaan Secara

Elektronik (LPSE) agar sasaran tetap terfokus;

d.

membina bawahan dengan cara memotivasi bawahan untuk

meningkatkan produktivitas kerja dan pengembangan

karier;

e.

merumuskan kebijakan operasional penyedia barang dan

jasa secara elektronik;

f.

mengordinasikan penyiapan panitia pengadaan barang/jasa

dengan SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Bandung;

g.

menyusun dan mensosialisasikan petunjuk teknis pemilihan

penyedia barang/jasa secara elektronik di lingkungan

Pemerintah Kota Bandung;

h.

melakukan hubungan kerja, baik internal maupun eksternal

untuk kelancaran pelaksanaan tugas UPT BEP;

(15)

Penyedia Barang dan jasa secara elektronik di lingkungan

Pemerintah Kota Bandung;

j.

mengendalikan pelaksanaan tugas Unit Pelaksana Teknis

Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE);

k.

menyusun telaahan staf berisi saran dan masukan kepada

pimpinan sebagai bahan perumusan/penetapan kebijakan di

Unit Pelaksana Teknis

Lembaga Pengadaan Secara

Elektronik (LPSE);

l.

mengordinasikan seluruh pemilihan penyedia barang/jasa

secara elektronik di lingkungan Pemerintah Kota Bandung;

m.

merumuskan rencana pengumuman putaran paket lelang

secara elektronik baik di media massa maupun di media

elektronik;

n.

menyusun laporan pelaksanaan kegiatan UPT Lembaga

Pengadaan Secara Elektronik (LPSE)

sebagai bahan

pertanggungjawaban kepada Kepala Bappeda.

I. SATUAN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

a. kelompok jabatan fungsional pada Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah terdiri atas sejumlah tenaga dalam

jenjang jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai

kelompok sesuai dengan bidang keahliannya.

b. setiap kelompok dipimpin oleh seorang tenaga fungsional

yang diangkat oleh Walikota atas usul Kepala Badan.

c. pembentukan jenis, jenjang dan jumlah jabatan fungsional

ditetapkan oleh Walikota berdasarkan kebutuhan dan beban

kerja, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

(16)

2.2

Sumber Daya SKPD

2.2.1 Sumber Daya Manusia

Kepemerintahan yang baik (

good governance

) adalah prasyarat bagi

terbentuknya pemerintahan yang efektif dan demokratis. G

ood governance

digerakkan oleh prinsip-prinsip partisipatif, penegakan hukum yang efektif,

transparansi, responsif, kesetaraan, visi strategis, efektif dan efisien, profesional,

akuntabel dan pengawasan yang efektif. Dengan kaitan tersebut, peningkatan

kualitas penyelenggaraan pemerintahan khususnya sumberdaya aparatur harus

menjadi salah satu prioritas penting dan strategis dalam program saat ini dan di

masa yang akan datang. Sumberdaya aparatur pemerintah menempati posisi

strategis yang bukan saja mewarnai melainkan juga menentukan arah kemana suatu

daerah akan dibawa.

Pemerintah Daerah adalah implementator kebijakan publik yang mengemban

tugas dan fungsi-fungsi pelayanan, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat.

Oleh karena itu, pemerintahan di masa mendatang adalah pemerintahan yang

cerdas, yang mampu menerjemahkan kebijakan publik ke dalam langkah-langkah

operasional yang kreatif dan inovatif dengan orientasi pada kepentingan

masyarakat. Pemerintahan yang cerdas hanya bisa diwujudkan jika aparaturnya

cerdas.

Terkait dengan hal tersebut di atas, jumlah aparatur Bappeda Kota Bandung

berdasarkan data dari Sub Bagian Umum dan Kepegawaian sampai Bulan

September Tahun 2013 berjumlah 88 orang. Komposisi jabatan dalam struktur

organisasi Bappeda Kota Bandung dapat dilihat pada tabel 2.1. Berdasarkan data

yang ditampilkan pada Tabel 2.1, dengan jenjang eselonering II, Bappeda

menjalankan fungsi koordinasi dengan SKPD lain. Bidang perencana di Bappeda

bermitra dengan SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Bandung dan secara intensif

melaksanakan koordinasi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Fungsi koordinasi merupakan fungsi paling strategis yang dijalankan oleh Bappeda

(17)

Bidang Perencanaan Ekonomi dan pembiayaan, Bidang perencanaan Sosial Budaya

dan Kesejahteraan Rakyat, Bidang Tata Ruang, Sarana dan Prasarana. Keempat

bidang tersebut mengkoordinasikan seluruh SKPD dalam kegiatan perencanan

pembangunan.

Tiga bidang lain dengan eselonering yang sama menjalankan fungsi

supporting

terhadap bidang perencana tersebut. Bidang Penelitian, Pengembangan

dan Statistik memberikan dukungan berupa penyediaan data statistik dan hasil

kajian dalam penyusunan dokumen perencanaan. Bidang penanaman modal

memberikan dukungan dalam penyusunan dokumen perencanan yang berkaitan

dengan penanaman modal dan investasi, sedangkan sekretariat menjalankan peran

untuk memberi dukungan penyelanggaraan kegiatan secara keseluruhan.

Tabel 2.1

Kondisi Kepegawaian Berdasarkan Eselon Jabatan

No

Uraian

Eselon I

Eselon II

Eselon III

Eselon IV

Staf

Jumlah

1

Kepala Bappeda

1

1

2

Sekretariat

1

3

19

23

3

Bidang Pemerintahan

1

2

6

9

4

Bidang Sosbud &

Kesra

1

2

5

8

5

Bidang Ekonomi

1

2

6

9

6

Bidang Penanaman

Modal

1

2

4

7

7

Bidang PPS

1

2

8

11

8

Bidang Tata Ruang

dan Sarana Prasarana

1

2

10

13

9.

BEP

2

3

5

10.

Pejabat Fungsional

4

JUMLAH

1

7

17

63

88

Sekretariat memiliki jumlah pejabat pada eselon IV dan jumlah karyawan

yang lebih banyak daripada bidang yang lain, mengingat beban kerja di sekretariat

yang cukup tinggi. Yang menjadi catatan dalam struktur Bappeda adalah adanya

jabatan fungsional peneliti dan perencana yang bertanggung jawab secara langsung

kepada Kepala Bappeda dan tidak terikat secara struktur dengan bidang-bidang

perencana. Kondisi kepegawaian Bappeda berdasarkan tingkat pendidikan dapat

(18)

Tabel 2.2

Kondisi Kepegawaian Berdasarkan Pendidikan yang Ditamatkan

No

Uraian

S3

S2

S1

D3

SLT

A

SLTP

SD

Jumlah

1

Kepala Bappeda

1

1

2

Sekretariat

3

14

2

2

1

1

23

3

Bidang Perencanaan

Pemerintahan

3

2

1

2

1

9

4

Bidang Perencanaan

Sosial Budaya dan

Kesra

1

2

4

1

9

5

Bidang Perencanaan

Ekonomi dan

Pembiayaan

6

1

2

9

6

Bidang Penanaman

Modal

1

6

7

7

Bidang PPS

2

7

2

11

8

Bidang Perencanaan

Tata Ruang dan

Sarana Prasarana

5

5

1

11

9

BEP

1

4

5

10

Pejabat Fungsional

2

2

4

JUMLAH

1

20

50

5

9

1

2

88

%

1,14

22,73

56,82

5,68

10,23

1,14

2,27

100%

Sumber : Subbagian Umum dan Kepegawaian Bappeda Kota Bandung

Kapasitas dan kapabilitas karyawan berkaitan erat dengan tingkat

pendidikannya. Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 2.2, tingkat

pendidikan karyawan Bappeda yang paling banyak adalah pendidikan S-1

sebanyak 50 orang (56,82%). Tingkat pendidikan bagian terbesar dari karyawan

Bappeda yang relatif tinggi ini merupakan modal dasar yang penting dalam

peningkatan kinerja Bappeda secara umum.

Jumlah karyawan Bappeda yang menamatkan pendidikan S-2 cukup besar,

tercatat sebanyak 20 orang. Secara prosentase, jumlah tersebut mencapai 22,73 %

dari seluruh karyawan Bappeda, sebagai lembaga yang memposisikan dirinya

menjadi

Think Tanknya

Pemerintah Kota Bandung, tentu ini menjadi modal dasar

yang besar dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi Bappeda sebagai lembaga

perencana secara optimal.

Namun demikian, kendala dalam ketersediaan SDM yang menjadi issu

(19)

fungsional perencana dan peneliti. Sekalipun kebijakan internal Pemerintah Kota

telah memperlihatkan keberpihakan terhadap pejabat fungsional, belum menarik

minat untuk mengambil jalur karir sebagai pejabat fungsional.

2.2.2 Anggaran

Dari sisi anggaran, bappeda Kota Bandung mendapatkan alokasi anggaran

yang meningkat dari tahun ke tahun, tabel dibawah ini memperlihatkan jumlah

alokasi anggaran 2009-2012 beserta serapannya sebagai berikut :

Tabel 2.3 Alokasi Anggaran Bappeda 2009-2012

No

Tahun Anggaran

Jumlah Anggaran (Rp)

Realisasi (Rp)

Persentase (%)

1

2009

13,476,416,855

12,325,159,889

91,46

2

2010

20,121,066,129,5

16,307,477,293

81,05

3

2011

24,123,396,632

21,116,188,344

87,53

4

2012

20,752,236,759.42

19,492,776,509

93,93

5

2013

27,965,113,329

Sumber : hasil olahan Perda APBD

Peningkatan alokasi anggaran tidak berbanding lurus dengan

serapan

anggarannya, permasalahan penyerapan anggaran seringkali disebabkan karena

beberapa kegiatan dilaksanakan pada APBD perubahan di Bulan Oktober sehingga

ada keterbatasan waktu dalam

melaksanakan kegiatan

dan penyerapan

anggarannnya. Kecermatan dalam menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran

(RKA) yang menjadi pedoman pelaksanaan program/kegiatan baik dari sisi

anggaran maupun dari indikator kinerja turut menentukan serapan dan alokasi

anggaran yang dibutuhkan.

Permasalahan anggaran di Bappeda juga berkaitan dengan belum di

milikinya Analisis Standar Biaya (ASB) untuk Program/kegiatan yang dilaksanakan,

sehingga tidak ada standar baku yang dapat diterapkan dalam alokasi anggaran

(20)

sehingga penentuan alokasi anggaran untuk kegiatan tersebut tidak memiliki dasar

yang secara normatif maupun akademik dapat dipertanggungjawabkan.

Belum terintegrasinya Perencanaan dan penganggaran dalam satu sistem,

manjadi titik lemah selanjutnya, dimana otoritasnya tidak berada pada institusi

Bappeda sehingga menyebabkan banyak kegiatan yang sudah direncanakan,

tereduksi pada proses penganggaran, demikian juga banyak kegiatan yang

dilaksanakan diluar rencana yang telah ditetapkan.

2.2.3 Aset, Sarana dan Prasarana

Bappeda Kota Bandung menempati kantor yang berdiri diatas lahan seluas

1.202 meter persegi milik PDAM Pemerintah Kota Bandung yang berada di Jalan

Tamansari Nomor 76 dan mulai digunakan pada tahun 2002. Secara umum kondisi

sarana dan prasarana yang dimiliki dan dipergunakan dalam mendukung

pelaksanaan kinerja Bappeda Kota Bandung dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut :

Tabel 2.4

Rekapitulasi Sarana Dan Prasarana

Bappeda Kota Bandung Sampai Dengan Tahun 2012

No

Nama Barang

Banyaknya

Kondisi Barang

1

Kendaraan roda 4

16

Baik

2

Kendaraan roda 2

18

Baik

3

AC

7

Baik

4

Lemari/Rak/Buffet/Filling

Cabinet

103

Baik

5

Brankas

2

Baik

6

Meja

120

Baik

7

Kursi

164

Baik

9

Pesawat telepon/faks.

8

Baik

10

Mesin Tik

15

Baik

11

Komputer

46

Baik

12

Note Book/Laptop

33

Baik

13

Printer

27

Baik

14

Scanner

3

Baik

15

Paper Sheredder

3

Baik

16

Projector

9

Baik

17

Layar

4

Baik

19

Handphone

15

Baik

(21)

No

Nama Barang

Banyaknya

Kondisi Barang

21

VGA 6 Porte 4

1

Baik

23

DLP Teknologi

1

Baik

24

Maket Miniatur

1

Baik

25

GPS

1

Baik

Lokasi Kantor Bappeda yang cukup strategis memudahkan aksesibilitas dari

dan menuju kantor Bappeda, lokasi yang terpisah dari kompleks perkantoran

Pemerintah Kota Bandung di Jl. Wastukencana maupun kompleks kantor

Pemerintah Kota di Jalan Cianjur memberi peluang untuk menyelenggarakan

kegiatan secara lebih mandiri dan terfokus.

Demikian juga sarana pendukung kelancaran pelaksanaan pekerjaan yang

tersedia dalam jumlah dan kualitas memadai seperti kendaraan dinas mapun

peralatan penunjang pekerjaan (komputer, scanner dll) dengan anggaran untuk

pemeliharaan yang juga cukup memadai.Permasalahan pada asset, sarana dan

prasarana di Bappeda Kota Bandung berkaitan dengan kapasitas gedung yang tidak

berimbang dengan jumlah personil, status kepemilikan gedung yang masih

terkendala dari sisi legalitas menyebabkan pembangunan kantor tidak bisa

dilaksanakan secara menyeluruh, sekalipun pada Tahun Anggaran 2011 telah

dilakukan rehabilitasi gedung kantor, tetapi baru dilakukan perbaikan yang sifatnya

partial. Permasalahan dalam pengelolaan barang berkaitan dengan inventarisasi

asset (barang dan kendaraan) terutama yang dipergunakan oleh pejabat yang sudah

tidak lagi bertugas di Bappeda, serta tidak tersedianya tempat penyimpanan yang

memadai untuk barang dan dokumen produk Bappeda.

2.3

Kinerja Pelayanan Bappeda Kota Bandung

Kinerja pelayanan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung

yang utama berkaitan dengan urusan yang menjadi kewenangannnya yaitu:

(1)urusan perencanaan pembangunan, (2) Urusan statistik skala kota, (3) sebagaian

urusan penataan Ruang dan (4) urusan penanaman modal dengan fokus pada ; (1)

(22)

Evaluasi (4) Kebijakan penanaman modal (5) Kebijakan statistik dasar (6) Koordinasi

Statistik Antar sektor (7) Pengembangan jejaring Statistik Khusus dan (8)

(23)

Tabel 2.5

Pencapaian Kinerja Pelayanan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung

NO

Indikator Kinerja

sesuai Tugas dan

Fungsi SKPD

Target

SPM

Target IKK

Target IKU

Target Renstra SKPD Tahun ke-

Realisasi Capaian Tahun ke-

Rasio Capaian pada Tahun

ke-1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

1.

Prosentase

akomodasi usulan

Musrenbang Kota

& Reses DPRD

minimal 30%

dalam RKPD

≥30

%

≥30

%

≥30

%

≥30 %

≥30 %

≥30 % ≥30 %

100% 100% 100%

2.

Tersedianya

dokumen

perencanaan

sesuai UU

Penataan Ruang

Perda

RDTR

Sosialisasi

Perda

RDTR

Sosialisasi 100% 100% 100%

3.

Prosentase

Akomodasi

program RPJMD

ke dalam RKPD

70% 75% 80% 90 %

95 %

70% 75% 80%

100% 100% 100%

4.

Kenaikan Jumlah

Investor

500

perusahaan

500

perusahaan

100% 100% 100%

5.

Tingkat

Ketersediaan

Data/informasi

dan Statistik

Daerah

(24)

NO

Indikator Kinerja

sesuai Tugas dan

Fungsi SKPD

Target

SPM

Target IKK

Target IKU

Target Renstra SKPD Tahun ke-

Realisasi Capaian Tahun ke-

Rasio Capaian pada Tahun

ke-1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

6.

Tersedianya

dokumen

perencanaan

pembangunan

yang ditetapkan

dengan Perkada

Ada/tidak

ada

Ada ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

100% 100% 100%

7.

Tersedianya

dokumen RPJMD

pembangunan

yang ditetapkan

dengan

Perda/Perkada

Ada/tidak

ada

Ada ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

100% 100% 100%

8.

Tersedianya

dokumen RKPD

pembangunan

yang ditetapkan

dengan Perkada

Ada/tidak

ada

Ada ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

9.

Penjabaran

Program RPJMD

kedalam RKPD

Jumlah

program

RKPDthn n/

jml program

RPJMD yg

hrs

dilaksanakan

x 100%

70% 75% 80% 90 %

95 %

70% 75% 80%

100% 100% 100%

(25)

NO

Indikator Kinerja

sesuai Tugas dan

Fungsi SKPD

Target

SPM

Target IKK

Target IKU

Target Renstra SKPD Tahun ke-

Realisasi Capaian Tahun ke-

Rasio Capaian pada Tahun

ke-1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

11. Buku Bandung

Dalam Angka

Ada/tidak

ada

Ada ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

100% 100% 100%

12. Buku PDRB

Ada/tidak

ada

Ada ada

ada

ada

ada

ada

ada

ada

100% 100% 100% 100%

13. Prosentase

akomodasi

program/kegiatan

RPJMD ke dalam

RKPD

Jumlah

program

RKPDthn n/

jml program

RPJMD yg

hrs

dilaksanakan

x 100%

(26)

NO

Indikator Kinerja

sesuai Tugas dan

Fungsi SKPD

Target

SPM

Target IKK

Target IKU

Target Renstra SKPD Tahun ke-

Realisasi Capaian Tahun ke-

Rasio Capaian pada Tahun

ke-1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

1

2

3

4

5

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

(14)

(15)

(16)

(17)

(18)

(19)

(20)

14

Prosentase

kesesuaian target

kinerja RPJMD

terhadap Renstra

SKPD

Jumlah

Target

kinerja RPJM

thn n /

Jumlah

target kinerja

Renstra X

100%

80% 90% 95% 100%

100%

100% 100% 100% 100%

100% 100% 100% 100%

15

Prosentase

kesesuaian

Program/kegiatan

Renstra SKPD

terhadap Renja

SKPD

Akomodasi

prog,keg

Renstra/

prog,keg

Renja X

100%

(27)

Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang pemerintahan daerah, Undang-undang Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,

dan Peraturan Walikota Nomor 410 Tahun 2010 tentang Rincian Tugas Pokok,

Fungsi, Uraian Tugas Dan Tata Kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Kota Bandung maka jenis pelayanan yang dilakukan oleh Bappeda Kota Bandung

adalah sebagai berikut:

1.

Menyusun rancangan awal dan rancangan akhir Rencana Pembangunan

Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD);

2.

Menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah untuk

penyusunan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah

(RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD);

3.

Merumuskan program prioritas dan pagu anggaran sebagai bahan

penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

4.

Menetapkan petunjuk pelaksanaan perencanaan dan pengendalian

pembangunan daerah skala kota dan Kecamatan;

5.

Merumuskan bahan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Perencanaan

dan Pengendalian Pembangunan skala Daerah;

6.

Merumuskan kebijakan pelaksanaan kerjasama pembangunan antar daerah,

antara daerah dengan swasta dalam dan luar negeri;

7.

Merumuskan kebijakan pelaksanaan pengelolaan data dan informasi

pembangunan daerah skala Daerah:

8.

Merumuskan petunjuk pelaksanaan pengelolaan kawasan skala kota yang

meliputi keserasian pengembangan perkotaan, manajemen dan kelembagaan

pengembangan wilayah, pengembangan pembangunan perwilayahan, serta

pengembangan kawasan prioritas cepat tumbuh dan andalan kota;

(28)

10. Merumuskan perencanaan tata ruang yang meliputi penyusunan dan

Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK), Penyusunan dan

penetapan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis;

11. Merumuskan bahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah di Daerah dan

kawasan strategis kota;

12. Mengendalikan pelaksanaan dan sosialisasi Norma, Standar, Prosedur, dan

Kriteria (NSPK) bidang perencanaan dan pengendalian pembangunan;

13. Merumuskan kebijakan strategis operasionalisasi Rencana Tata Ruang

Wilayah Kota (RTRWK) dan Rencana Tata Ruang Strategis Kota;

14. Merumuskan program sektoral dalam rangka perwujudan struktur dan pola

pemanfaatan ruang wilayah kota dan kawasan strategis kota;

15. Mengendalikan pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan strategis kota;

16. Merumuskan kebijakan penetapan dan pelaksanan petunjuk pelaksanaan

pengembangan pembangunan perwilayahan skala kota;

17. Merumuskan kebijakan pengembangan kawasan prioritas, cepat tumbuh dan

andalan skala kota;

18. Bimbingan, konsultasi dan koordinasi perencanaan, pelaksanaan dan

pengendalian pembangunan daerah skala kota;

19. Bimbingan, konsultasi dan koordinasi kerjasama pembangunan antardaerah,

dan antara daerah dengan swasta, dalam dan luar negeri skala kota;

20. Bimbingan, konsultasi dan koordinasi pelayanan perkotaan skala kota dan

Kecamatan;

21. Bimbingan, konsultasi dan koordinasi pengelolaan kawasan dan lingkungan

perkotaan, keserasian pengembangan perkotaan, pengembangan kawasan

prioritas, kawasan cepat tumbuh dan kawasan andalan, perencanaan

kelembagaan dan manajemen pengembangan wilayah dan kawasan skala

kota dan kecamatan;

22. Melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pembangunan daerah

skala kota dan Kecamatan;

23. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan kawasan dan lingkungan

(29)

prioritas, cepat tumbuh dan andalan skala kota, keserasian pengembangan

perkotaan, kelembagaan dan manajemen pengembangan wilayah dan

kawasan skala kota;

24. Mengordinasikan perencanaan kerjasama pembangunan antar daerah, antara

daerah dengan swasta dalam dan luar negeri;

25. Mengordinasikan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan yang

bersumber dari APBDaerah Provinsi maupun APBN;

26. Merumuskan bahan perencanaan kerjasama pembangunan antar Kab/Kota,

kerjasama pembangunan dengan swasta, kerjasama pembangunan dalam dan

luar negeri;

27. Menyusun evaluasi rencana pembangunan berdasarkan hasil evaluasi

pimpinan SKPD se-Kota Bandung;

28. Merumuskan kebijakan pengelolaan data dan informasi serta pengembangan

penanaman modal dan promosi daerah skala kota;

29. Merumuskan pedoman, pembinaan, pengawasan, pengembangan potensi

dan kerjasama investasi dengan dunia usaha di tingkat kota;

30. Mengendalikan

pelaksanaan

monitoring

dan

evaluasi

pelaksanaan

pembangunan daerah skala kota;

31. Merumuskan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota;

32. Mengkoordinasikan pelaksanaan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan

kerjasama pembangunan antar daerah dalam dan luar negeri;

33. Menetapkan bahan kebijakan pemberian dukungan penyelenggaraan statistik

dasar, survey dan sensus skala kota.

2.4.

Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Bappeda

Berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi utamanya berkaitan dengan penyusunan

dokumen perencanaan, kebijakan penanaman modal, perencanaan tataruang dan

penyediaan statistik skala kota dan kinerja pelayanan yang disampaikan pada Sub

bab sebelumnya, berikut tantangan dan peluang pengembangan pelayanan

(30)

1.

Belum optimalnya aplikasi Dokumen Perencanaan maupun hasil kajian yang

disusun Bappeda baik oleh internal Bappeda maupun oleh Dinas Teknis

terkait;

2.

Optimalisasi koordinasi antara institusi perencana dengan pemegang otoritas

penganggaran, untuk menjaga konsistensi antara perencanaan dan

penganggaran, sehingga program dan kegiatan yang telah direncanakan tidak

tereduksi di dalam proses penganggaran;

3.

Masih kurangnya SDM yang memiliki skill dan kompetensi sesuai dengan

tugas dan kewajiban utama-nya;

4.

Belum adanya sistem pengelolaan

knowledge

yang dapat menghimpun seluruh

produk Bappeda secara terintegrasi sehingga informasi mengenai dokumen

hasil kajian maupun dokumen perencanaan tidak mudah didapatkan,

implikasi lebih jauhnya kemungkinan duplikasi kajian atau dokumen

perencanan menjadi lebih besar.

5.

Beragamnya sumber data sebagai bahan penyusunan dokumen perencanaan;

6.

Belum tersusunnya standar kinerja yang terukur bagi setiap jabatan struktural

maupun fungsional serta pelaksana di lingkungan Bappeda;

7.

Belum optimalnya alokasi anggaran untuk pengembangan SDM.

8.

Belum optimalnya koordinasi dan sinkronisasi proses perencanaan

pembangunan daerah antara Bappeda dengan SKPD lain;

9.

Lemahnya kapasitas kelembagaan perencanaan di tingkat basis yang

menyebabkan kurang efektifnya proses perencanaan

Bottom Up

;

10. Belum optimalnya pengelolaan dan pemanfaatan data pembangunan yang

tersusun secara sistematis dan akurat, teknologi informasi dan komunikasi,

serta pengendalian perencanaan pembangunan.

11.

Belum adanya

unit cost

sehingga standar biaya dokumen perencanaan belum

tersedia. Hal tersebut menyebabkan, kedalaman/substansi output kegiatan

(31)

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN

TUGAS DAN FUNGSI

3.1

Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung

Berdasarkan tugas dan fungsi pelayanan yang dilaksanakan oleh Bappeda

yang berkaitan dengan penyusunan dokumen perencanaan, perencanaan tata

ruang, penyediaan

support

berupa statistik skala kota dan pelayanan bidang

penanaman modal dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut :

1. Belum optimalnya aplikasi Dokumen Perencanaan maupun hasil kajian yang

disusun Bappeda baik oleh internal Bappeda maupun oleh Dinas Teknis terkait;

2. Optimalisasi koordinasi antara institusi perencana dengan pemegang otoritas

penganggaran, untuk menjaga konsistensi antara perencanaan dan

penganggaran, sehingga program dan kegiatan yang telah direncanakan tidak

tereduksi di dalam proses penganggaran;

3. Masih kurangnya SDM yang memiliki skill dan kompetensi sesuai dengan

tugas dan kewajiban utama-nya;

4. Belum adanya sistem pengelolaan

knowledge

yang dapat menghimpun seluruh

produk Bappeda secara terintegrasi sehingga informasi mengenai dokumen

hasil kajian maupun dokumen perencanaan tidak mudah didapatkan, implikasi

lebih jauhnya kemungkinan duplikasi kajian atau dokumen perencanan

menjadi lebih besar;

5. Belum terkelolanya sumber data dan informasi yang mendukung proses

perencanaan sehingga sumber data masih bergam;

(32)

7. Kebijakan Pemerintah yang belum mendukung terbentuknya jabatan

fungsional Perencana dan Peneliti di lingkungan Pemerintah Kota Bandung;

8. Belum optimalnya alokasi anggaran untuk pengembangan SDM.

9. Belum optimalnya koordinasi dan sinkronisasi proses perencanaan

pembangunan daerah antara Bappeda dengan SKPD lain;

10. Lemahnya kapasitas kelembagaan perencanaan di tingkat basis yang

menyebabkan kurang efektifnya proses perencanaan

Bottom Up

;

11. Belum optimalnya pengelolaan dan pemanfaatan data pembangunan yang

tersusun secara sistematis dan akurat, teknologi informasi dan komunikasi,

serta pengendalian perencanaan pembangunan.

12. Belum adanya

unit cost

sehingga standar biaya dokumen perencanaan belum

tersedia. Hal tersebut menyebabkan, kedalaman output kegiatan tidak bisa

diukur.

13. Informasi tentang potensi penanaman modal dan peluang investasi di Kota

Bandung belum akurat dan tersedia secara optimal

14. Iklim investasi di Kota Bandung yang masih belum kondusif

3.2

Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala

Daerah

Sesuai dengan Visi dan Misi Kota Bandung yang tercantum dalam RPJMD

Kota Bandung Tahun 2014 – 2018 yaitu :

“TERWUJUDNYA KOTA BANDUNG

YANG UNGGUL, NYAMAN, DAN SEJAHTERA”

Penjabaran Visi di atas adalah sebagai berikut:

Bandung

: adalah meliputi wilayah dan seluruh isinya. Artinya Kota

Bandung dan semua warganya yang berada dalam suatu

kawasan dengan batas-batas tertentu yang berkembang sejak

(33)

Unggul

: adalah menjadi yang terbaik dan terdepan serta contoh bagi

daerah lain dalam upaya terobosan perubahan bagi kenyaman

dan kesejahteraan warga Kota Bandung.

Nyaman

: adalah terciptanya suatu kondisi dimana kualitas lingkungan

terpelihara dengan baik, serta dapat memberikan kesegaran

dan kesejukan bagi penghuninya. Kota yang nyaman adalah

suatu kondisi dimana berbagai kebutuhan dasar manusia

seperti tanah, air, dan udara terpenuhi dengan baik sehingga

nyaman untuk ditinggali serta ruang-ruang kota dan

infrastruktur pendukungnya responsif terhadap berbagai

aktifitas dan perilaku penghuninya.

Sejahtera

: yaitu mengarahkan semua pembangunan kota pada

pemenuhan kebutuhan lahir dan batin warganya, agar

manusia dapat memfungsikan diri sebagai hamba dan wakil

Tuhan di bumi. Kesejahteraan yang ingin dilahirkan di Kota

Bandung merupakan kesejahteraan yang berbasis pada

ketahanan

keluarga

dan

Iingkungan

sebagai

dasar

pengokohan sosial masyarakat.Masyarakat sejahtera tentunya

tidak hanya dalam konteks lahiriah dan materisaja, melainkan

juga sejahtera jiwa dan batiniah.Kesejahteraan dalam artinya

yang sejati adalah keseimbangan hidup yang merupakan buah

(34)

dan jasad. Kesatuan elemen ini diharapkan mampu saling

berinteraksi dalam melahirkan masa depan yang cerah, adil

dan makmur. Keterpaduan antara sejahtera lahiriah dan

batiniah adalah sebuah manifestasi akan sebuah sejahtera yang

paripurna. Kesejahteraan yang seperti inilah yang akan

membentuk kepecayaan diri yang tinggi pada masyarakat

(35)

MISI

Misi-misi ini disusun dalam rangka mengimplementasikan Iangkah-langkah

yang akan dilakukan dalam mewujudkan visi yang telah dipaparkan di atas.

Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam penyusunan misi ini adalah :

Manusia yang

berdaya saing, ekonomi kokoh, tata kelola pemerintah yang baik, infrastruktur

berkelanjutan, serta kokohnya interaksi sosial, budaya dan kemasyarakatan Kota Bandung

.

Kelima hal ini merupakan bidang garapan besar yang akan menjadi sebuah

panduan dalam bagaimana memandang pembangunan di Kota Bandung.

Adapun Misi tersebut terdiri dari:

1. Menata

Kota

Bandung

melalui

penataan

ruang,pembangunan

infrastruktur, dan fasilitas pubilk yang berkelanjutan (

sustainable

) dan

nyaman.

2. Menghadirkan tata kelola pemerintahan yang efektif, bersih dan

melayani.

3. Membangun masyarakat yang mandiri, berkualitas dan berdaya saing.

4. Membangun perekonomian yang kokoh, maju, dan berkeadilan.

Mengingat eratnya kaitan antara Renstra Bappeda Kota Bandung dengan

Dokumen RPJMD 2014-2018, maka dalam penyusunannya harus menjadikan

Dokumen Perencanaan Jangka menengah tersebut sebagai acuan, artinya indikator

kinerja Bappeda Kota Bandung harus diarahkan untuk mencapai target kinerja

sesuai dengan kewenangan Bappeda yang telah dicantumkan dalam target Kinerja

RPJMD.

(36)

mewujudkan seluruh Misi dalam RPJMD sesuai dengan kewenangan yang

dimiliki sebagai berikut:

A.

Misi Ke 1, menata Kota Bandung melalui penataan ruang, pembangunan

infrastruktur, dan fasilitas pubilk yang berkelanjutan (

sustainable

) dan nyaman

dengan indikator kinerja : Terwujudnya perencanaan tata ruang kota yang

nyaman dan berkelanjutan yang sesuai dengan UU penataan ruang. Target

yang akan dicapai adalah :

1) Mewujudkan struktur dan pola ruang yang efektif dan efisien dalam

memberikan pelayanan kepada masyarakat secara berkelanjutan;

2) Mewujudkan Penataan di Kawasan DAS Cikapundung, dengan target

kinerja tersusunnya Peraturan Walikota Rencana Kawasan Strategis DAS

Cikapundung dan Sosialisasinya.

3) Mewujudkan Penataan di Kawasan Braga, dengan target kinerja

tersusunnya Peraturan Walikota Rencana Kawasan Braga.

4) Mewujudkan perencanaan prasarana transportasi, dengan target kinerja

Tersosilaisasikannya Masterplan Transportasi Kota Bandung 2010-2030

5) Mewujudkan perencanaan sanitasi kota, dengan target kinerja tersusunya

Peraturan Walikota Strategi Sanitasi Kota beserta sosialisasi dan

Pengendaliannnya.

6) Mewujudkan perencanaan drainase banjir, dengan target kinerja

tersusunnya Peraturan Walikota Masterplan Drainase Kota Bandung

7) Mewujudkan

perencanaan

permukiman,

dengan

target

kinerja

(37)

B.

Misi Ke 2, menghadirkan tata kelola pemerintahan yang efektif, bersih dan

melayani dengan Indikator kinerja :

Penyusunan dokumen perencanaan harus dibuat secara tertulis dan

tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan targetnya adalah

dokumentasi hasil-hasil perencanaan diunggah/upload dalam

Website Bappeda Kota Bandung

Penyusunan dokumen perencanaan harus memenuhi standar etika

dan nilai-nilai yang berlaku, artinya sesuai dengan prinsip-prinsip

administrasi yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di

stakeholders,

dengan target kinerja 1 (satu) Dokumen LAKIP Pertahun

Adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil, dan sudah

sesuai dengan visi dan misi organisasi, serta standar yang berlaku,

dengan target kinerja kesesuaian antara dokumen perencanaan SKPD

(Renstra dan Renja) dengan dokumen perencanaan di atasnya,

dengan target kinerja penyusunan 1 (satu) Dokumen Renja Bappeda

Pertahun.

Adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi,

dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar

tersebut tidak terpenuhi, dengan target kinerja Tersusunnnya

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahunan dan

Laporan Akhir Masa Jabatan (AMJ) 5 (lima)Tahun sekali

Konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah

ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut, dengan

target kinerja tersusunnya 4 (empat) Dokumen Monitoring dan

Evaluasi Pertahun

(38)

Ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil yang

telah dicapai. dengan target kinerja Penyusunan Bandung Integrated

Resources Management System dan Aplikasinya

a. Indikator Kinerja Pengembangan Statistik adalah Penyusunan Data Bahan

Dokumen Perencanaan yang terdiri dari :

Penyusunan Buku Bandung dalam Angka, dengan target kinerja

1(satu) Dokumen Pertahun

Penyusunan

Buku

Profil

Kota,

dengan

target

kinerja

1Dokumen/tahun

Penyusunan PDRB, dengan target kinerja 1(satu) Dokumen Pertahun

Penyusunan Suseda, dengan target kinerja 1(satu) Dokumen setiap 3

(tiga) tahun

Penyusunan IPM, dengan target kinerja 1 (satu) Dokumen Pertahun

b. Indikator Kinerja Pemanfaatan Teknologi Informasi

Penyusunan Bandung Integrated Management Resources System

(BIRMS)

Implementasi Bandung Integrated Management Resources System

(BIRMS)

C.

Misi Ke 3, Membangun masyarakat yang mandiri, berkualitas dan berdaya

saing dengan indikator kinerja :

a. Indikator Kinerja Perencanaan Sosial Budaya dan Kesejahteraan Rakyat

Meningkatnya kualitas kehidupan sosial Budaya Masyarakat di Kota

Bandung

Figur

Gambar 2.1Struktur Organisasi Bappeda Kota Bandung
Gambar 2 1Struktur Organisasi Bappeda Kota Bandung. View in document p.9
Tabel 2.1Kondisi Kepegawaian Berdasarkan Eselon Jabatan
Tabel 2 1Kondisi Kepegawaian Berdasarkan Eselon Jabatan. View in document p.17
Tabel 2.2Kondisi Kepegawaian Berdasarkan Pendidikan yang Ditamatkan
Tabel 2 2Kondisi Kepegawaian Berdasarkan Pendidikan yang Ditamatkan. View in document p.18
Tabel 2.3 Alokasi Anggaran Bappeda 2009-2012
Tabel 2 3 Alokasi Anggaran Bappeda 2009 2012. View in document p.19
Tabel 2.4Rekapitulasi Sarana Dan Prasarana
Tabel 2 4Rekapitulasi Sarana Dan Prasarana. View in document p.20
Tabel 2.5Pencapaian Kinerja Pelayanan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung
Tabel 2 5Pencapaian Kinerja Pelayanan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung. View in document p.23
Tabel 6.1Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD
Tabel 6 1Indikator Kinerja SKPD yang Mengacu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD. View in document p.71

Referensi

Memperbarui...