• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Rokhmat S Labib, MEI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh: Rokhmat S Labib, MEI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: Rokhmat S Labib, MEI

Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka):

"Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

(TQS al-Hujurat [49]: 14).

Beriman adalah meyakini secara penuh terhadap semua perkara yang wajib diimani. Karena letaknya di dalam hati, maka orang lain hanya mengetahui dari pernyataan yang disampaikan pelakunya. Namun tidak ada yang tersembunyi bagi Allah SWT, apakah pernyataan tersebut benar atau dusta. Maka Dia berhak menerima pengakuan keimanan seseorang atau tidak. Ayat ini adalah di antara yang memberitakan penolakan Allah atas pengakuan iman seseorang atau suatu kaum.

Tunduk Belum Tentu Beriman

Allah SWT berfirman: Qâlat al-A’râb âmannâ (orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah

beriman"). Kata al-A’rab menunjuk kepada orang

(2)

Arab Badui. Mereka banyak tinggal di gurun-gurun dan pada rumput. Menurut Mujahid,

al-Qurthubi,  al-Alusi, al-Syaukani, dan lain-lain, ayat ini turun berkenaan dengan Bani Asad bin Khuzaimah. Sedangkan menurut al-Sudi, sebagaimana dikutip al-Baghawi, ayat ini turun

berkenaan dengan Juhainah, Muzainah, Asyja’, dan Ghifar.

Meskipun ada perbedaan siapa mereka, namun yang pasti Arab Badui yang dimaksudkan ayat ini adalah sebagian dari mereka. Tidak semuanya. Sebab, sebagaimana dikatakan al-Qurthubi dalam tafsirnya, ada di antara orang yang Arab Badui yang beriman kepada Allah dan hari akhir seperti digambarkan Allah SWT.

Dalam ayat ini diberitakan bahwa ada sekelompok orang Arab Badui mengatakan: âmannâ (ka mi beriman). Secara bahasa, kata

al-îmân berarti al-tashdîq

(membenarkan). Sedangkan secara syar’i, maknanya adalah al-tashdîq al-jâzim al-muthâbiq li al-wâqi’ ‘an dalîl

(membenarkan dengan pasti, sesuai dengan fakta, bersumber dari dalil). Dengan demikian, keyakinan tersebut pasti; perkara yang diimani juga harus dibangun dengan dalil yang qath’i.

Sebagaimana telah maklum, perkara yang wajib diimani tersebut adalah tentang Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, dan

al-qadha` wa al-qada r `

. Mengingkari sebagian atau semuanya, dapat mengeluarkan pelakunya dari keimanan.

Dengan demikian, ketika beberapa orang Arab Badui mengatakan bahwa mereka telah beriman, berarti mereka menyatakan bahwa diri telah membenarkan dengan pasti terhadap semua perkara yang wajib diimani tersebut. Akan tetapi, pernyataan keimanan mereka tersebut ternyata ditolak oleh Allah SWT dalam kalimat selanjutnya: Qul lam tu`minû (katakanlah

[kepada mereka], "Kamu belum beriman).

Ayat ini memerintahkan rasul-Nya untuk menyampaikan kepada orang-orang Arab Badui bahwa: lam tu`minû (kamu belum beriman). Artinya, kamu belum membenarkannya dengan pembenaran yang benar, yang terlahir dari keyakinan hati, niat yang ikhlas, dan

thuma`nînah

(ketenangan, kepercayaan). Demikian penjelasan al-Syaukani dalam tafsirnya. Menurut

al-Zamakhsyari, frasa

(3)

lam tu`minû

berarti mendustakan pengakuan iman mereka.

Kemudian ditegaskan kepada mereka: walâkin qûlû aslamnâ (tetapi katakanlah: "Kami telah

tunduk"). Secara bahasa, kata al-i

slâm berarti

al-istislâm wa al-inqiyâd.

(penyerahan diri dan ketundukan). Sehingga kata aslamnâ

berarti istalamnâ

(kami tunduk atau menyerah).

Sedangkan secara syar’i, kata al-Islâm menunjuk kepada agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, seperti disebutkan dalam QS Ali Imran [3]: 19. Dengan

demikian al-islâm dalam pengertian ini bersifat umum,

mencakup iman dan amal; akidah dan syariah. Pengertian tersebut juga terdapat dalam semua

kata yang terbentuk darinya, baik al-i

sm, seperti kata muslim

(orang yang beragama Islam) , atau

al-fi’l, seperti aslam

(telah masuk Islam) , aslim

(masuklah ke dalam Islam) , dan lain-lain. Sehingga, kata aslamnâ

berarti masuk Islam.

Dalam konteks ayat ini, kata aslamnâ bermakna bahasa. Artinya, mereka tersebut telah tunduk

dan menyerah. Menurut al-Zajjaj, al-islâm di sini

bermakna izh-

hâr al-khudhû’ wa qabûl mâ atâ bihi al-nabiyy

(4)

(menampakkan ketundukan dan menerima apa yang dibawa Nabi SAW). Tak jauh berbeda, al-Qurthubi dan al-Syaukani juga menafsirkan

aslamnâ

di sini dengan ungkapan:

Kami tunduk dan menyerah karena kami takut diperangi dan ditawan.

Ibnu ‘Athiyah juga memaknainya dengan al-istislâm wa al-izh-hâr

(ketundukan dan penampakan ) yang membuat mereka dan darah mereka terlindungi.

Atau, kalaupun dimaknai secara syar’i, yakni masuk Islam, maka keputusan untuk masuk Islam tersebut tidak didasarkan pada niat yang benar dan ikhlas. Menurut al-Syaukani, ini merupakan sifat orang munafik. Sebab, mereka masuk Islam secara lahir, namun hati mereka tidak

beriman. Pengertian ini diperkuat dengan firman Allah SWT berikutnya: Walammâ yadkhul

al-îmân fî qulûbikum (k

arena iman itu belum masuk ke dalam hatimu). Artinya:

Apa yang kalian nyatakan oleh lisanmu tidak sesuai dengan hatimu. Namun hanya sekadar ucapan dengan lisan tanpa didasarkan keyakinan yang shahih dan niat yang ikhlas.

Demikian penjelasan al-Syaukani dalam tafsirnya.

Pahala Beriman Tidak Dikurangi

Setelah dijelaskan mengenai penolakan atas pengakuan keimanan mereka serta penjelasan hakikat mereka, kemudian dinyatakan: Wain tuthî’ûl-Lâh wa Rasûlahu lâ yalitkum min

a’mâlikum syay`a (dan jika kamu taat kepada Allah dan

Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun [pahala] amalanmu). Ketaatan yang

dimaksudkan adalah ketaatan yang dilakukan secara lahir maupun batin, dalam keadaan ramai

maupun sepi. Ibnu ‘Abbas berkata, “ K

amu memurnikan keimanan”

. Demikian dikatakan al-Baghawi dalam tafsrnya.

Tak jauh berbeda, menurut al-Syaukani, pengertian ayat ini adalah: Jika kamu menaati Allah SWT dan rasul-Nya dengan ketaatan yang shahih dan bersumber dari niat yang ikhlas dan hati yang membenarkan tanpa kemunafikan.

Al-Zamakhsyari juga mengatakan bahwa pengertian taat kepada Allah SWT dan rasul-Nya

(5)

adalah mereka bertaubat dari kemunafikan yang mereka lakukan, mengikat hati mereka dengan keimanan, dan mengamalkan konsekuensinya. Apabila mereka melakukan demikian, maka Allah SWT menerima taubat mereka dan memberikan ampunan-Nya kepada mereka, dan mengaruniakan pahala yang besar atas mereka. 

Terhadap orang yang melakukan demikian, dijanjikan:  lâ yalitkum min a’mâlikum syay`a. Dikat akan

lâta yalitu ketika naqasha

(berkurang). Sehingga, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir, pengertian ayat ini adalah Allah SWT tidak mengurangi pahala dari amal yang kerjakan sedikit pun. Ini sebagaimana diberitakan dalam QS al-Thur [52]: 21.

Ayat ini pun diakhiri dengan firman-Nya: Innal-Lâha Ghafûr[un] Rahîm[un] (sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang").

Ghafûr

berarti pengampun terhadap orang yang bertaubat kepada-Nya, dan Rahîm

(penyayang) terhadapnya, ketika menerima taubatnya. Demikian penjelasan Abdurahaman al-Sa’di. Ungkapan ini memberikan dorongan kepada mereka untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri dengan melakukan ketaatan kepada Allah SWT dan rasul-Nya.

Patut dicatat, sekalipun ayat ini turun berkenaan dengan sekolompok orang Arab Badui, dan mereka pula yang disebutkan secara jelas dalam ayat ini, namun ayat ini berlaku umum, mencakup siapa saja yang memiliki sikap dan karakter seperti mereka. Yakni mereka yang mengaku beriman, namun keimanan yang sebenarnya belum merasuk dalam hati dan jiwa.

Maka pengakuan keimanan mereka dinafikan Allah SWT. Oleh karena itu bagi siapa pun yang menginginkan pengakuan iman mereka diakui Allah SWT, maka keimanannya harus benar.

Yakni, membenarkan semua perkara yang wajib diimani dengan pembenaran yang pasti. Tidak diliputi kebimbangan atau keraguan sedikit pun.

Atas dasar keimanan yang benar inilah ketaatan Allah SWT dan rasul-Nya dilakukan. Ketika ketaatan tersebut dilandasi keimanan, kita bisa berharap mendapatkan pahala dari-Nya. Tidak akan dikurangi, bahkan akan dilipatgandakan. Siapa yang tertarik dengannya? Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

(6)

Ikhtisar:

1. Pengakuan keimanan dari seseorang tidak serta diterima Allah SWT.

2. Ketaatan kepada Allah SWT harus dilandasi dengan keimanan yang benar.

3. Pahala orang yang beriman dan melakukan ketaatan kepada Allah SWT dan rasul-Nya tidak akan dikurangi sedikit pun

Referensi

Dokumen terkait

1.Meyakini keberadaan kitab-kitab Allah merupakan perkara yang sangat penting bagi umat Islam. Sebagai orang yang beriman kepada kitab Allah berarti kita

Dan sungguh orang-orang kafir yang sebelum mereka (kafir Mekah) telah mengadakan tipu daya, tetapi semua tipu daya itu adalah dalam kekuasaan Allah|. Dia mengetahui apa yang

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka.. melakukan

Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti

Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung; (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih (TQS al-Nahl

menyatakan bahwa Malaikat lebih utama dari orang yang. beriman, ada yang mengatakan sebaliknya, ada

Allah SWT berfirman: Wa al-ladzîna yabîtûna li Rabbihim sujjad[an] wa qiyâm[an] (dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka)..

.Jika dikaitkan dengan iman, Islam masih di bawahnya, karena siapa pun bisa masuk Islam secara lahir, seperti yang Allah sampaikan, "Orang-orang Arab Badui berkata, 'Kami telah