Oleh :
MUHAMMAD AKMAL ASHROF 130100298
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
Universitas Sumatera Utara
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran
Oleh :
MUHAMMAD AKMAL ASHROF 130100298
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2016
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Latar Belakang: Kanker ovarium merupakan penyebab kematian tertinggi dari kanker ginekologi yang menyerang perempuan. Kira-kira 30% tumor ovarium merupakan tumor germ cell yang berasal dari germ cell primordial ovarium.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013-2015.
Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain cross-sectional secara retrospektif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita tumor germ cell ovarium yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel penelitian diambil dengan metode total sampling.
Hasil: Dari 32 kasus yang dianalisis selama periode penelitian, berdasarkan jenis histopatologi didapati disgerminoma, yolk sac tumor, immature teratoma, mixed germ cell, dan mature cystic teratoma. Berdasarkan umur, ditemukan 6 kasus pada kelompok < 20 tahun, 22 kasus pada kelompok 20-45 tahun, dan 4 kasus pada kelompok > 45 tahun. Kemudian, berdasarkan stadium ditemukan 5 kasus pada stadium I, lalu 4 kasus pada stadium III, dan 1 kasus pada stadium II serta stadium IV.
Kesimpulan: Jenis histopatologi yang paling banyak ditemukan untuk yang ganas adalah disgerminoma (75%) sedangkan pada yang jinak mature cystic teratoma (100%) dan insidensi tertinggi didapati pada kelompok umur 20-45 tahun.
Selanjutnya, stadium yang paling sering ditemukan adalah stadium IC (20,8%).
Kata kunci : tumor ovarium, germ cell tumor ovarium, jenis histopatologi, jinak, ganas
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
ABSTRACT
Background: Among all gynecological cancer that affect women, ovarian cancer cause the highest mortality. Approximately 30% of ovarian tumor is ovarian germ cell tumors which is derived from primordial germ cell of the ovary.
Objective: The purpose of this study is to determine the characteristic of ovarian germ cell tumors in H. Adam Malik Central General Hospital on 2013-2015.
Method: This research is a descriptive study in cross-sectional design retrospectively. The samples of this study are medical records of ovarian germ cell tumors that meet inclusion and exclusion criterias using total sampling method.
Result: Of the 32 cases of ovarian germ cell tumors during the study period, based on histopatologic pattern there were dysgerminoma, yolk sac tumor, immature teratoma, mixed germ cell, and mature cystic teratoma. Based on age, as many as 6 cases occur in < 20 years group, 22 cases in 20-45 years group, and 4 cases in
> 45 years group. Then, based on stage there were 5 cases in stage I, 4 cases in stage III, and 1 cases in both stage I and stage IV.
Conclusion: The most common histopatological pattern was dysgerminoma for malignant (75%) while for benign was mature cystic teratoma (100%) and the highest incidence rate was found in 20-45 years age group. Then, the most common stage was stage IC (20,8%).
Keywords : ovarian tumors, ovarian germ cell tumors, histopatologic type, benign, malignant
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul
“Karakteristik Tumor Germ Cell Ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013- 2015” sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran.
Penyusunan penelitian ini dapat diselesaikan atas bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, peneliti ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Ayahanda tercinta, drg. Khudri dan ibunda tercinta, drg. Mahrita, Sp.Perio yang telah memberikan semangat, doa, dan dukungan kepada peneliti.
2. Kakak, abang ipar dan keponakan tercinta, Siti Fatrinisa Hasanah, S.Psi, M.Psi, Kreshna Aditya, S.Psi, dan Nayya yang selalu menghibur dan memberikan motivasi dalam pengerjaan skripsi ini.
3. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4. dr. Lokot Donna Lubis, M.Ked(PA), Sp.PA, selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
5. dr. Riza Rivany, Sp.OG(K), selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
6. dr. Cut Aria Arina, Sp.S, selaku Ketua Penguji yang telah memberikan nasihat-nasihat dalam penyempurnaan skripsi ini.
7. dr. Vita Camelia, Sp.KJ, selaku Anggota Penguji yang telah memberikan nasihat-nasihat dalam penyempurnaan skripsi ini.
8. Nadia Iftari Darwizar yang selalu setia mendampingi dan memberikan dukungan dalam pengerjaan skripsi ini.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara 9. Rekan bimbingan skripsi, Fajrina, Chaliza dan Lisa yang telah membantu dan mendukung peneliti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
10. Sahabat-sahabat peneliti, Hafiz, Teuku, Akbar, Gina, Kelas Praktikum A3 yang gokil, Tim Basket FK USU, La Belle FC dan Anak Nongs serta abangda Alexander Josethang yang telah memberikan semangat, kritik, dan saran sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
11. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan selanjutnya. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Desember 2016
Peneliti
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Persetujuan ... i
Abstrak ... ii
Abstract ... iii
Kata Pengantar ... iv
Daftar Isi ... vi
Daftar Tabel ... viii
Daftar Gambar ... ix
Daftar Lampiran ... x
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.3.1. Tujuan umum ... 2
1.3.1. Tujuan khusus ... 2
1.4. Manfaat Penelitian ... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Anatomi Ovarium ... 4
2.2. Histologi Ovarium ... 4
2.3. Tumor Germ Cell Ovarium ... 5
2.3.1. Definisi dan klasifikasi ... 5
2.3.2. Disgerminoma ... 7
2.3.3. Yolk sac tumor ... 9
2.3.4. Embryonal carcinoma ... 11
2.3.5. Polyembryoma ... 12
2.3.6. Choriocarcinoma ... 13
2.3.7. Mature cystic teratoma (dermoid cyst) ... 13
2.3.8. Immature teratoma ... 15
2.3.9. Struma ovarii ... 17
2.3.10. Carcinoid ... 17
2.3.11. Neuroectodermal-type tumours ... 18
2.3.12. Sebaceaous tumours ... 18
2.3.13. Gonadoblastoma ... 19
2.3.14. Mixed germ cell tumors ... 19
2.3.15. Mixed germ cell-sex cord-stromal tumour ... 19
2.3.16. Stadium tumor ovarium ... 20
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
BAB 3 KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP ... 22
3.1. Kerangka Teori ... 22
3.2. Kerangka Konsep ... 23
BAB 4 METODE PENELITIAN ... 24
4.1. Jenis Penelitian ... 24
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24
4.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 24
4.3.1. Populasi ... 24
4.3.2. Sampel ... 24
4.4. Teknik Pengumpulan Data ... 25
4.5. Definisi Operasional ... 25
4.6. Pengolahan dan Analisa Data ... 27
4.6.1. Pengolahan data ... 27
4.6.2. Analisa data ... 27
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 28
5.1. Hasil Penelitian ... 28
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 28
5.1.2. Karakteristik Sampel ... 28
5.2. Pembahasan ... 30
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 33
6.1. Kesimpulan ... 33
6.2. Saran ... 33
DAFTAR PUSTAKA ... 34 LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
Tabel 2.1. Klasifikasi Tumor Germ Cell Ovarium ... 6 Tabel 2.2. Stadium Kanker Ovarium (FIGO) ... 21 Tabel 5.1. Distribusi Kasus Tumor Germ Cell Ovarium ... 29 Tabel 5.2. Distribusi Kasus Tumor Germ Cell Ovarium Berdasarkan
Histopatologi ... 30
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
Gambar 2.1. Histologi Ovarium ... 5
Gambar 2.2. Disgerminoma ... 8
Gambar 2.3. Disgerminoma ... 8
Gambar 2.4. Endodermal sinus tumor ovarium ... 10
Gambar 2.5. Embryonal carcinoma ... 12
Gambar 2.6. Polyembryoma ... 12
Gambar 2.7. Mature cystic teratoma (dermoid cyst) ... 14
Gambar 2.8. Mature cystic teratoma ... 14
Gambar 2.9. Mature cystic teratoma ... 14
Gambar 2.10. Immature teratoma ovarium ... 16
Gambar 3.1. Kerangka Teori ... 22
Gambar 3.2. Kerangka Konsep ... 23
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 2 Persetujuan Komisi Etik Tentang Pelaksanaan Penelitian Lampiran 3 Izin Survei Awal Penelitian
Lampiran 4 Izin Penelitian oleh RSUP H. Adam Malik Lampiran 5 Data Induk
Lampiran 6 Hasil Output SPSS
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kanker ovarium merupakan penyebab kematian paling sering akibat kanker dari tumor ginekologik di Amerika Serikat. Insiden kanker ovarium di Amerika Serikat adalah 12,1 per 100.000 perempuan tiap tahunnya, berdasarkan kasus pada tahun 2008-2012. The American Cancer Society memperkirakan 22.280 kasus baru kanker ovarium terdiagnosis pada tahun 2016 dan 14.240 perempuan akan meninggal akibat penyakit ini.1
Berdasarkan data pusat Patologi Anatomi di Indonesia, tumor ganas ovarium merupakan peringkat ketiga terbanyak dari seluruh tumor ganas saluran genital perempuan, selain itu tumor ganas ovarium merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah tumor ganas payudara dan tumor ganas serviks.2
Tumor ovarium berdasarkan asal selnya terbagi atas tumor epithelial, mesenchymal, germ cell, sex-cord stromal, miscellaneous, tumour-like lesion, mesothelial, soft tissue tumor, lymphoid and myeloid.3
Tumor germ cell berasal dari germ cell primordial ovarium yang dapat tumbuh di bagian extragonad seperti mediastinum dan retroperitoneum.4 Berdasarkan gambaran histologinya tumor germ cell ovarium dikelompokkan menjadi disgerminoma, yolk sac tumor, embryonal carcinoma, polyembryoma, nongestational choriocarcinoma, teratomas, mixed germ cell tumor, gonadoblastoma, mixed germ cell sex cord-stromal tumor.3
Kira-kira 30% tumor ovarium merupakan tumor germ cell, dengan mature cystic teratoma (dermoid cyst) sebagai subtipe yang paling sering dijumpai. Tumor germ cell ovarium ditemukan 3-4% dari seluruh keganasan ovarium yang terjadi di negara barat, sedangkan di Jepang sekitar 20% dari kanker ovarium adalah tumor germ cell ganas.5
Menurut Rezkini6 penelitian yang dilakukan di Departemen Patologi Anatomi FKUI/RSUPNCM pada tahun 1997-2006 didapatkan tumor ovarium sebanyak
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara 2266 kasus, dimana jenis non-epitel sebanyak 1592 kasus (70,26%), diikuti jenis germ cell sebanyak 578 kasus (25,5%), sex cord sebanyak 96 kasus (4,24%) dengan umur termuda 0-9 tahun dan tertua 80-89 tahun. Hampir 70% kanker ovarium terdiagnosis pada stadium lanjut, menyebar dalam rongga abdomen atas (stadium III) atau lebih luas (stadium IV) dengan angka harapan hidup selama 5 tahun hanya sekitar 15-20%, sedangkan harapan hidup stadium I dan II diperkirakan dapat mencapai 90% dan 70%.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian tentang karakteristik tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013 - 2015.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah adalah:
Bagaimanakah karakteristik tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013 – 2015?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013 – 2015.
1.3.2. Tujuan khusus :
Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui karakteristik tumor germ cell ovarium berdasarkan jenis histopatologi
2. Mengetahui karakteristik tumor germ cell ovarium berdasarkan umur
3. Mengetahui karakteristik tumor germ cell ovarium ganas berdasarkan stadium
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara 1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
1. Penelitian mengenai karakteristik tumor germ cell ovarium belum pernah dilakukan sebelumnya di RSUP H. Adam Malik
2. Sebagai sarana untuk melatih berpikir secara logis dan sistematis serta mampu menyelenggarakan suatu penelitian berdasarkan metode yang baik dan benar
2. Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar tentang tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013-2015
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Ovarium
Ovarium merupakan organ yang berbentuk seperti buah almond, berfungsi untuk perkembangan dan pelepasan ovum, serta sintesis dan sekresi hormon- hormon steroid. Ukuran ovarium cukup bervariasi. Selama masa reproduksi, panjang ovarium 2,5–5 cm, lebar 1,5–3 cm, dan tebal 0,6-1,5 cm. Setelah menopause, ukuran ovarium sangat mengecil.7
Ovarium melekat pada ligamentum latum melalui mesovarium. Ligamentum utero-ovarika memanjang dari bagian lateral dan posterior uterus, tepat di bawah insersi tuba, ke uterus atau kutub bawah ovarium. Biasanya panjangnya beberapa sentimeter dan diameternya 3-4 mm. Ovarium ditutup oleh peritoneum dan terdiri dari otot serta serat-serat jaringan ikat yang merupakan sambungan dari uterus.
Ligamentum suspensorium ovarii memanjang dari bagian atas atau kutub tuba ke dinding pelvis; yang dilewati oleh saraf dan pembuluh ovarika.7
2.2. Histologi Ovarium
Ovarium dilapisi oleh satu lapisan sel kuboid rendah atau gepeng yaitu epitel germinal, yang bersambung dengan mesotelium peritoneum viscerale. Dibawah epitel germinal adalah lapisan jaringan ikat padat yang disebut tunika albuginea.8
Ovarium memiliki korteks di bagian tepi dan medula di bagian tengah, tempat ditemukannya banyak pembuluh darah, saraf , dan pembuluh limfe. Selain folikel, korteks mengandung fibrosit dengan serat kolagen dan retikular. Medula adalah jaringan ikat padat tidak teratur yang bersambungan dengan ligamentum mesovarium yang menggantungkan ovarium. Pembuluh darah besar di medula membentuk pembuluh darah yang lebih kecil yang menyebar di seluruh korteks ovarium. Mesovarium dilapisi oleh epitel germinal dan mesotelium peritoneum.8
Di stroma korteks terlihat banyak folikel ovarium, terutama jenis yang lebih kecil, dalam berbagai tahap perkembangan. Folikel yang paling banyak adalah
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
folikel primordial, yang terletak di tepi korteks dan dibawah tunika albuginea.
Folikel primordial adalah struktur yang paling kecil dan paling sederhana. Folikel ini dikelilingi oleh satu lapisan sel folikular gepeng. Folikel primordial mengandung oosit primer.8
Gambar 2.1. Histologi Ovarium9
2.3. Tumor Germ Cell Ovarium 2.3.1. Definisi dan klasifikasi
Tumor germ cell berasal dari germ cell primordial ovarium, insidennya sepersepuluh dari insiden tumor germ cell testis. Tumor germ cell ini dapat tumbuh di bagian extragonad seperti mediastinum dan retroperitoneum.
Terjadinya keadaan ini dapat diterangkan dengan adanya migrasi germ cell dari yolk sac bagian kaudal ke mesentrium sebelum menetap di sex cord dari gonad.4 Sebelum kombinasi kemoterapi modern, prognosis tumor germ cell ganas sangat buruk, terkecuali disgerminoma. Kemoterapi multiagent telah menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam tingkat angka bertahan hidup secara keseluruhan, memungkinkan adanya pendekatan konservatif fertility-sparing, karena efikasi dari pembedahan cytoreductive pada tingkat lanjutan tidak sejelas tumor epitel ovarium ganas.5
Berdasarkan histologinya, tumor germ cell ovarium dikelompokkan seperti pada Tabel 2.1.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.1. Klasifikasi Tumor Germ Cell Ovarium 3 Dysgerminoma
Variant-syncytiotrophoblast
Yolk sac tumor (Primitive Endodermal Tumor) Polyvesicular vitelline tumor
Glandular Intestinal
Endometrioid-like Parietal
Embryonal carcinoma Polyembryoma
Nongestational Choriocarcinoma Teratomas
Immature Mature (adult)
Solid Cystic
With secondary tumor Fetiform (homunculus) Monodermal
Struma ovarii Carcinoid tumor
Insular Trabecular
Strumal carcinoid tumor Mucinous carcinoid tumor Neuroectodermal tumors Sebaceous tumors Other
Mixed germ cell tumors Gonadoblastoma
With MGCTs
Mixed Germ Cell Sex Cord-Stromal Tumor
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
2.3.2. Disgerminoma
Disgerminoma adalah tumor germ cell primitif yang terdiri dari sel yang tidak memiliki pola diferensiasi spesifik.3 Disgerminoma merupakan tumor germ cell ganas yang paling sering ditemukan (50% dari seluruh tumor germ cell ganas). Tumor ini menyerupai germ cell primordial, secara morfologi identik dengan seminoma dan extragonadal germinoma. Umur penderita yang paling sering menderita disgerminoma berkisar antara 20 – 30 tahun (umur rata – rata 22 tahun) dan 10 – 20 % pasien didiagnosis saat kehamilan. Tumor ini sangat jarang terjadi pada umur di bawah 5 tahun dan setelah menopause.5
Sekitar 5% disgerminoma dijumpai pada fenotip perempuan dengan gonad yang abnormal. Keganasan ini berhubungan dengan pasien yang memiliki pure gonadal dysgenesis (46XY, bilateral streak gonads), mixed gonadal dysgenesis (45/45XY, unilateral streak gonads – contralateral testes) atau androgen insensitivity syndrome (46XY, testicular feminization). Manifestasi yang berhubungan dengan hormon estrogen yaitu isosexual pseudoprecocity, menstruasi tidak teratur dan perdarahan vagina atau pregnancy-like symptoms, biasanya disebabkan oleh peningkatan kadar serum beta β-hCG.4
Penderita disgerminoma biasanya memiliki massa di abdomen atau pelvis yang membesar dengan cepat sehingga menyebabkan nyeri tekan pada daerah tersebut.3 Peningkatan serum lactate dehydrogenase (LDH) dan placental alkaline phosphatase (PLAP) bisa juga dijumpai pada pasien disgerminoma.4
Ukuran diameter disgerminoma yaitu antara 5-15 cm, berlobus-lobus, padat, potongan tumor bewarna abu-abu putih sampai abu-abu coklat.10
Gambaran khas disgerminoma secara mikroskopis menyerupai sarang-sarang yang terdiri dari sel bulat besar, poligonal dengan sitoplasma granular eosinofilik yang jernih.4
Pemeriksaan ultrasonografi, CT-scan, dan MRI menunjukkan massa padat dengan nodul multipel yang dipisahkan oleh septa fibrovascular. Gambaran kalsifikasi khususnya berupa speckled pattern, menandakan terdapatnya gonadoblastoma.11
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.2. Disgerminoma. Permukaan potongan berwarna kecoklatan, seperti daging, dan berlobus.5
Gambar 2.3. Disgerminoma. Sarang sel tumor dipisahkan oleh septa fibrous dengan sejumlah limfosit.5
Penatalaksaan pasien disgerminoma stadium awal adalah pembedahan.
Kemoterapi atau radiasi diberikan kepada pasien dengan penyakit metastasis.
Karena secara prinsip penyakit ini menyerang perempuan, pertimbangan khusus harus diberikan untuk mencegah fertilitas.4
Penggunaan kemoterapi untuk disgerminoma metastasis sudah banyak dilakukan dan dilaporkan berhasil. Teknik ini dianggap sebagai pilihan utama pada kasus metastasis. Regimen kemoterapi yang paling sering digunakan untuk tumor germ cell adalah BEP (bleomycin, etoposide, dan cisplatin), VBP (vinblastine, bleomycin, dan cisplatin), dan VAC (vincristine, actinomycin, dan cyclophosphamide).4
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Secara keseluruhan 75-90% disgerminoma memiliki 5-year survival rate;
untuk pasien stadium Ia memiliki kesempatan lebih dari 90%. Kadar serum LDH dan PLAP perlu dimonitor untuk mengantisipasi kejadian disgerminoma berulang.5
2.3.3. Yolk sac tumor
Yolk sac tumor adalah tumor germ cell primitif dengan variasi pola yang berbeda. Yolk sac tumor atau yang sering disebut juga endodermal sinus tumor adalah tumor germ cell ganas kedua yang paling sering ditemukan sesudah disgerminoma dengan angka kejadian sekitar 20% dari seluruh neoplasma ganas germ cell ovarium.5 Tumor ini sering menyerang anak-anak dan perempuan muda (rata-rata berumur 19 tahun). Pada beberapa kasus, tumor ini juga ditemukan pada perempuan peri- atau pasca menopause dan biasanya berhubungan dengan surface epithelial tumors.12
Nyeri jangka pendek pada abdomen merupakan keluhan yang paling sering dirasakan pasien dan pada saat pemeriksaan akan dijumpai pembesaran massa di daerah tersebut. Penderita juga akan mengalami manifestasi endokrin, yang paling sering yaitu virilisasi. Kadang pasien ditemukan memiliki gonadal dysgenesis dan bisa disertai dengan amenorea primer. Peningkatan serum level Alfa Feto Protein (>1000 ng/mL) dan CA-125 juga dijumpai. Berbeda dengan disgerminoma, yolk sac tumor jarang berhubungan dengan kehamilan.5
Yolk sac tumor biasanya unilateral dan berukuran besar (median 15 cm), dengan permukaan eksternal lunak, padat, dan pada pemotongan tampak berwarna coklat keabu-abuan. Kista-kista kecil menunjukkan “honeycomb appearance”
yaitu karakteristik polyvesicular vitelline variant dari yolk sac tumor. Jika kalsifikasi ditemukan, perlu dicurigai komponen tumor germ cell yang lain, biasanya mature cystic teratoma (15 %).11
Secara mikroskopis, tumor ini menunjukkan campuran dari pola yang berbeda. Yang paling sering adalah reticular, lalu terdapat microcystic, pseudopapillary, solid, polyvesicular vitelline pattern, frequently admixed.
Schiller-Duval bodies merupakan gambaran khas dari yolk sac tumor. Schiller-
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Duval bodies atau Glomeruloid adalah suatu formasi papiler dengan struktur kistik. Formasi papiler terdiri dari pembuluh darah pada bagian tengah yang dikelilingi oleh ruang yang edematous dan dilapisi oleh sel kuboid sampai kolumnar dengan inti yang menonjol dan sitoplasma jernih. Hyaline intracytoplasmic dan extracytoplasmic (hyaline globule) dijumpai terutama pada pola hepatoid atau mikrokistik.5
Gambar 2.4. Endodermal sinus tumor ovarium. Terdapat Schiller-Duval body dengan vena sentralnya dan lapisan endoderm.4
Pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan menunjukkan massa kompleks yang dominan kistik. Visualisasi komponen kistik pada tumor terlihat lebih baik dengan CT-scan, hal ini membantu klasifikasi stadium tumor dan karakteristik massa.11
Penatalaksanaan yolk sac tumor terdiri dari eksplorasi pembedahan, unilateral salpingo-oophorectomy, dan frozen section untuk diagnosis.
Histerektomi dan contralateral salpingo-oophorectomy tidak menunjukkan hasil yang signifikan.4
Untuk kemoterapi, regimen VPB lebih efektif dibandingkan VAC, terutama dalam pengobatan tumor yang belum direseksi secara komplit. Pasien dengan tumor stadium I memiliki 95% survival rate dan 75% untuk tingkat lanjutan.
Lokasi metastasis yang paling sering adalah hati, peritoneum, dan kelenjar getah
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
bening. Kadar serum AFP berguna untuk memonitor respon pengobatan dan kejadian berulang.4
2.3.4. Embryonal carcinoma
Embryonal carcinoma merupakan tumor yang sangat jarang terjadi pada ovarium.4 Tumor ini berasal dari germ cell primitif yang secara morfologi identik dengan pasangannya di testis dan mampu berdiferensiasi somatik serta ekstraembrionik.3
Tumor ini sering terjadi pada anak-anak dan perempuan muda < 30 tahun (rata-rata umur 15 tahun). Gejala klinis pada embryonal carcinoma yaitu terdapat massa abdomen atau pelvis dan sekitar 50% kasus menunjukkan peningkatan level beta β-hCG karena adanya syncytiotrophoblast cells yang bertanggung jawab terhadap manifestasi yang berhubungan dengan endokrin, termasuk isosexual precocity, perubahan siklus menstruasi atau perdarahan vagina, tanda dan gejala pseudopregnancy, tanda virilisasi seperti hirsutisme. Serum AFP dalam batas normal atau sedikit meningkat.5
Embryonal carcinoma biasanya unilateral dan besar, dengan ukuran diameter sekitar 15 cm, dan mempunyai permukaan eksternal yang lunak. Pada pemotongan, umumnya berbentuk padat bewarna putih hingga abu-abu dengan area perdarahan dan nekrosis.3
Secara mikroskopis, gambarannya berbentuk sarang-sarang atau lapisan padat. Terdiri dari sel pleomorfik yang berukuran sedang hingga besar. Single- cells necrosis memberikan gambaran latar belakang yang kotor dan terdapat syncytiotrophoblast cells.5
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.5. Embryonal carcinoma. Pertumbuhan padat sel primitif yang dikelilingi stroma selular.5
Penatalaksanan embryonal carcinoma sama dengan yolk sac tumor (unilateral oophorectomy diikuti kombinasi kemoterapi dengan BEP). Radiasi tidak terlalu berguna untuk penatalaksanaan primer.4
2.3.5. Polyembryoma
Polyembryoma adalah tumor ovarium langka yang terdiri dari “embryoid bodies”. Tumor ini menirukan struktur diferensiasi embrionik awal (tiga lapisan somatik: endoderm, mesoderm, ectoderm). Lesi cenderung terjadi pada perempuan muda, premenarche dengan tanda pseudopuberty dan peningkatan titer Alfa Feto Protein (AFP) dan human Chorionic Gonadotropin (hCG).
Regimen VAC pada kemoterapi dilaporkan efektif.4
Gambar 2.6. Polyembryoma. Beberapa badan embryoid menunjukkan embryonic disk dan yolk sac vesikel pada stroma primitif berstruktur longgar.5
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
2.3.6. Choriocarcinoma
Choriocarcinoma ovarium adalah tumor langka yang menirukan epitel penutup vili plasenta yaitu cytotrophoblast dan syncytiotrophoblast. Jika tumor ini terjadi sebelum pubertas atau bersamaan dengan tumor germ cell lainnya, kemungkinan besar asalnya dari germ cell. Pada perempuan di umur reproduktif, tumor ini bisa juga hasil metastasis dari intrauterine gestational tumor.13
Choriocarcinoma bersifat unilateral, padat, dan hemoragik. Secara mikroskopis menunjukkan gambaran cytotrophoblast dan syncytiotrophoblast ganas.13
Pemeriksaan serum hCG berkala sangat berguna baik untuk diagnosis maupun follow-up. Tumor ini sangat agresif namun memperlihatkan respon yang baik terhadap kemoterapi.13
2.3.7. Mature cystic teratoma (dermoid cyst)
Tumor ini merupakan tumor ovarium yang paling sering terjadi (20-40%) dan memiliki prevalensi tertinggi pada neoplasma germ cell. Mature teratoma adalah tumor germ cell jinak yang berasal dari salah satu dari tiga lapisan germ cell yang muncul dari pembagian parthenogenetic germ cell abnormal.3
Mature teratoma memiliki distribusi umur yang luas, sekitar 50% terjadi pada perempuan dengan umur antara 20-40 tahun. Nyeri abdomen adalah gejala yang paling sering muncul, diikuti oleh perdarahan uteri abnormal. CA-125, CA19-9, dan CEA bisa meningkat pada penderita mature teratoma.5
Tumor ini berukuran kurang dari 10 cm, memiliki gambaran khas yaitu permukaan eksternal yang halus, dan pada pemotongan kistik adanya rambut yang banyak dan sebaseaous material. Nodul putih, bulat mengandung tulang atau gigi sering dijumpai menonjol dari dinding kista (Rokitansky protuberance).11
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.7. Mature cystic teratoma (dermoid cyst). Struktur rambut disertai dengan nodul yang berisi gigi (Rokitansky protuberance).5
Gambar 2.8. Mature cystic teratoma. Kulit dan jaringan pilosebasea ditemukan pada dinding kista.5
Gambar 2.9. Mature cystic teratoma. Jaringan kartilago terlihat di bawah epitel organ respiratori dan kelenjar saliva.5
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Mature teratoma secara keseluruhan terdiri dari jaringan matang yang cenderung menirukan komposisi beberapa organ normal. Terdapat temuan-temuan yang tidak biasa seperti :
• Proliferasi pembuluh darah menonjol
• Fokus mikroskopik jaringan saraf imatur
• Peritonitis granulomatosa
• Melanosis peritonei
• Tumor jinak dan keganasan sekunder5
Pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan lesi kistik dengan densely echogenic tubercle (Rokitansky nodule), yang menonjol ke dalam lumen. Adanya gambaran tulang dan gigi memfasilitasi diagnosis. Pada CT-scan, mature teratoma terlihat sebagai massa kompleks dengan septa yang terbagi-bagi, internal debris, variable attenuation, kalsifikasi berbeda dan adanya lemak. Jika tumor mengandung lemak, hal itu juga bisa dibedakan dengan MRI.5
Berhubung tumor ini jinak dan kebanyakan pasien masih muda saat didiagnosis maka pembedahan konservatif disarankan, dengan reseksi komplit kista untuk mencegah kejadian berulang. Penatalaksanaan termasuk pemeriksaan ketat terhadap pemeriksaan ovarium lainnya untuk mengesampingkan keterlibatan ovarium bilateral.5
2.3.8. Immature teratoma
Immature teratoma merupakan tumor germ cell ganas ketiga pada ovarium.
Tumor ini menunjukkan banyak variasi jaringan imatur yang berhubungan juga dengan elemen matur. Immature teratoma bisa terjadi pada segala umur tetapi lebih sering pada umur 20 tahun. Gejalanya tidak spesifik, sekitar 80% pasien memiliki massa pada abdomen dan terasa nyeri. Peningkatan kadar serum AFP terlihat pada 2/3 pasien meski secara signifikan masih lebih rendah dibandingkan penderita yolk sac tumor. CA-125 dan CA 19-9 juga meningkat pada 90% dan 50% pasien sedangkan β-hCG dan CEA jarang meningkat. Pasien dengan immature teratoma bisa jadi memiliki riwayat mature cystic teratoma yang sudah direseksi beberapa bulan atau tahun sebelumnya, khususnya multiple dan
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
ruptured.5
Secara makroskopis, tumor biasanya berukuran besar, unilateral, padat, bewarna coklat keabu-abuan dan dapat mengandung kista, perdarahan dan nekrosis.3
Jaringan pada tumor ini berasal dari tiga lapisan germ cell dengan banyak variasi dari jaringan imatur dan matur. Banyaknya neuroepithelial immature digunakan untuk menentukan tingkatan immature teratoma, yaitu :
• Grade 1 : 1 dalam lapangan pandang kecil dalam satu slide
• Grade 2 : 1-3 dalam lapangan pandang kecil dalam satu slide
• Grade 3 : lebih dari 3 dalam lapangan pandang kecil dalam satu slide5 Adapun beberapa temuan-temuan yang tidak biasa pada tumor ini, yaitu :
• Proliferasi pembuluh darah yang menonjol
• Implan glial mature atau immature
• Fokus kecil yolk sac
• Lebaran sel syncytiotrphoblast5
Gambar 2.10. Immature teratoma ovarium. Jaringan saraf immature menunjukkan rossetes dengan nukleus yang berlapis – lapis. Embryonal glia
menunjukkan nukleus atipikal yang padat.13
Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan tingkatan tumor. Pada grade 1 hanya dilakukan operasi. Namun, persentase metastasis grade 2 atau 3 tanpa kemoterapi mencapai 80%. Mayoritas pasien dengan stadium I grade 2 atau 3 yang ditatalaksana dengan kemoterapi memiliki 5- and 10- year survival rates >
80%.5
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
2.3.9. Struma ovarii
Struma ovarii adalah lesi kistik yang didominasi jaringan tiroid (5%-20%
dari mature cystic teratoma). Meskipun jarang, hipertiroid bisa jadi berhubungan dengan struma ovarii.13
Tumor ini lebih sering terjadi pada umur reproduktif. Manifestasi klinis sama dengan pasien mature cystic teratoma. Hampir 1/3 pasien memiliki asites.3
Pilihan utama penatalaksanaan struma ovarii adalah oophorectomy tetapi pada struma ganas oophorectomy harus didampingi dengan pengangkatan tumor ekstra ovarian lainnya. Secara umum, follow-up jangka panjang disarankan.5
2.3.10. Carcinoid
Carcinoid merupakan monodermal teratoma yang terdiri dari sel neuroendokrin, secara morfologi mirip dengan tumor yang muncul di gastrointestinal tract.5
Tumor ini kebanyakan terjadi pada pasien postmenopause. Flushing dan diare adalah manifestasi klinis yang paling sering ditemukan. Gejala lain termasuk cardiac murmurs, pedal edema, dan arterial hypertension. Five-hydroxyindole acetic acid (5-HIAA) level pada urin sering meningkat.5
Secara makroskopis, carcinoid memiliki komponen yang mirip dengan mature cystic teratoma. Ketika tumor ini tidak berhubungan dengan mature cystic teratoma, bentuk tumornya padat. Semua carcinoid primer bersifat unilateral, memiliki ukuran yang bervariasi dari mikroskopik sampai diameternya 20 cm, dan berwarna coklat muda hingga kuning atau abu-abu pucat.11
Sekitar 95% carcinoid adalah jinak; namun insular dan mucinous carcinoid bisa menjadi ganas, terutama ketika terdapat perluasan melebihi ovarium.5
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
2.3.11. Neuroectodermal-type tumours
Tumor ini terdiri dari jaringan neuroectodermal yang secara morfologi dan diferensiasi mirip dengan tumor neuroectodermal pada sistem saraf pusat. Tidak jarang, tumor ini menyerupai peripheral-type tumours (Ewing sarcoma/primitive neuroectodermal tumour).3
Neuroectodermal type tumours jarang terjadi. Tumor ini bisa terjadi pada pasien dengan rentang umur yang luas (6-69 tahun), tersering pada umur muda.
Biasanya unilateral dan dijumpai nyeri pada abdomen/pelvis atau massa pada abdomen. Gejala yang lain termasuk menstruasi yang tidak teratur, penurunan berat badan, dan tanda hormon androgen berlebihan.3
Gambaran makroskopis menunjukkan tumor besar, padat atau kistik.
Komponen padatnya lunak dan bewarna abu-abu hingga putih. Secara mikroskopis, neuroectodermal-type tumours identik dengan pasangannya di sistem saraf pusat atau perifer. Tumor ini dibagi dalam beberapa grup yaitu diferensiasi, primitif dan anaplastik. Grup diferensiasi termasuk didalamnya ependymoma, astrocytoma, dan oligodendroglioma. Tumor primitif yaitu neuroectodermal tumours (PNETs), neuroblastoma, ependymoblastoma, medulloblastoma dan medulloepithelioma. Glioblastoma multiforme termasuk ke dalam grup anaplastik.3
Tingkatan klinis sangat penting dalam menentukan faktor prognostik.
Tumor primitif dan anaplastik dapat bersamaan dengan penyakit extra-ovarian dan tumor diferensiasi bisa jadi lebih ganas.3
2.3.12. Sebaceaous tumours
Neoplasma ini menyerupai berbagai bentuk dari cutaneous sebaceous gland tumours (sebaceous adenoma, basal cell carcinoma with sebaceous differentiation, sebaceous carcinoma) yang bisa saja muncul didalam kista dermoid. Tumor ini juga jarang terjadi dan biasanya menyerang orang dewasa dengan gejala klinis berupa massa pada pelvis.3
Gambaran makroskopis menunjukkan lebih sering terdapat kista dan berhubungan dengan kista dermoid. Secara mikroskopis, tumor identik dengan
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
cutaneous counterpart dan dijumpai sel sebasea dengan pewarnaan oil red-O yang merupakan ciri khas tumor ini. Kebanyakan tumor bersifat jinak tetapi pasien dengan gejala karsinoma bersifat ganas.3
2.3.13. Gonadoblastoma
Gonadoblastoma adalah tumor ovarium yang jarang terjadi dan khasnya berhubungan dengan gonadal dysgenesis, terutama pada perempuan yang memiliki kromosom Y. Tumor ini terjadi pada perempuan di bawah 30 tahun, walaupun 20% ditemukan pada laki-laki dengan cryptorchidism, hypospadias, dan female internal sex organs. Kebanyakan perempuan yang terkena tumor ini menderita amenorea primer dan perkembangan abnormalitas dari genitalia.13
Secara makroskopis, gonadoblastoma berukuran kecil sekitar 2-3 cm dan berwarna coklat atau putih. Tumor ini terdiri dari sarang-sarang germ cell primodial yang bercampur dengan elemen sex cord dan menyerupai sel granulosa dan immature sertoli.5
Pure gonadoblastoma bersifat jinak. Prognosis tumor dengan transformasi bergantung pada tipe ukuran dan tingkat komponen sekunder.3
2.3.14. Mixed germ cell tumors
Mixed germ cell tumors mengandung dua atau lebih elemen lesi yang telah dijelaskan di atas. Kombinasi yang paling sering adalah disgerminoma dan yolk sac tumor. Lesi campuran ini bisa mensekresi salah satu dari AFP, hCG, keduanya atau bahkan tidak sama sekali tergantung dari komponennya sendiri.4
Penatalaksanaan tumor ini adalah kombinasi kemoterapi, BEP lebih sering digunakan. Ciri prognostik yang paling penting yaitu ukuran tumor primer dan ukuran relatif dari komponen ganas di dalamnya.4
2.3.15. Mixed germ cell-sex cord-stromal tumour
Neoplasma ini terdiri dari germ cell dan elemen sex cord yang terjadi secara genetik dan fenotipik pada perempuan normal dan tanpa gambaran yang khas dari gonadoblastoma. Tumor ini jarang terjadi dan kebanyakan menyerang bayi atau
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
anak-anak dibawah umur 10 tahun. Kadang-kadang, tumor ini berhubungan dengan isosexual pseudoprecocity.3
Gambaran makroskopis menunjukkan tumor berukuran besar, unilateral, massa padat dengan permukaan berwarna abu-merah muda atau kuning hingga coklat pucat. Secara mikroskopis, proporsi sex cord dan komponen germ cell bervariasi.3
Kebanyakan lesi secara klinis bersifat jinak. Perkembangan ke arah ganas dan metastasis jarang ditemukan.3
2.3.16. Stadium tumor ovarium
Stadium digunakan untuk menentukan seberapa jauh kanker menyebar (metastasis). Stadium kanker ovarium ditentukan setelah pembedahan laparatomy surgical staging untuk mengambil contoh jaringan dan dilihat dibawah mikroskop. Stadium kanker ovarium diklasifikasikan menurut International Federation of Gynecologist and Obstetricians (FIGO). Sistem ini menggunakan istilah ukuran tumor (T), apakah telah menyebar ke dekat lymph nodes (N), atau ke organ yang lebih jauh atau mengalami metastasis (M).3
Stadium diekspresikan dengan menggunakan angka Romawi dari I-IV, semakin rendah angkanya, semakin kecil kemungkinan kankernya menyebar.
Tetapi, ketika mencapai angka tertinggi (stadium IV), semakin besar penyebaran kanker.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2.2. Stadium Kanker Ovarium (FIGO)
Stadium Kanker Ovarium Primer (FIGO) 3
Stadium I
Perumbuhan terbatas pada ovarium
1. Stadium IA: pertumbuhan terbatas pada satu ovarium; tidak ada asites yang berisi sel ganas, tidak ada pertumbuhan di permukaaan luar, kapsul utuh.
2. Stadium IB : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium; tidak ada asites berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul intak.
3. Stadium IC : tumor dengan stadium 1a atau 1b tetapi ada tumor di permukaan luar satu atau kedua ovarium; atau dengan kapsul pecah; atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan bilasan peritonium positif.
Stadium II
Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan perluasan ke panggul
1. Stadium IIA: perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba.
2. Stadium IIB : perluasan ke jaringan pelvis lainnya.
Stadium III
Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implan di peritoneum di luar pelvis dan/atau metastasis kelenjar getah bening retroperitoneal
1. Stadium IIIA1 : tumor terbatas bermetastasis pada kelenjar getah bening retroperitonial 2. Stadium IIIA1i : Kelenjar getah bening bermetastasis ≤ 10 mm
3. Stadium IIIA1ii: Kelenjar getah bening bermetastasis ≥ 10 mm
4. Stadium IIIA2 : Tumor mengenai peritoneal diluar panggul terbukti secara mikroskopis dan/atau kgb retroperitoneal.
5. Stadium IIIB: Implan di permukaaan peritoneal dan terbukti secara makroskopis dengan diameter ≤ 2 cm dan/atau kgb retroperitoneal
6. Stadium IIIC: Implan di permukaaan peritoneal dan terbukti secara makroskopis dengan diameter ≥ 2 cm dan/atau kgb retroperitoneal
Stadium IV
Pertumbuhan tumor pada peritoneum dengan metastasis jauh.
1. Stadium IV A : Efusi pleura dengan sitologi positif
2. Stadium IV B : Metastasis ke parenkim dan metastasis ke ekstra abdominal.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
BAB 3
KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP
3.1. Kerangka Teori
Gambar 3.1. Kerangka Teori Tumor germ cell ovarium
Ganas Jinak
Stadium (FIGO) Disgerminoma
Yolk sac tumor
Embryonal carcinoma Polyembryoma
Choriocarcinoma Immature teratoma
Mature cystic teratoma
Struma ovarii
Carcinoid
Neuroectodermal
Mixed germ cell
Sebaceous
Gonadoblastoma
Mixed germ cell sex cord-stromal
Stadium I Stadium II Stadium III Stadium IV
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara 3.2. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dari penelitian ini adalah:
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 3.2. Kerangka Konsep Klasifikasi berdasarkan histopatologi
Umur Stadium
Tumor germ cell ovarium
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross- sectional secara retrospektif dari data sekunder untuk menilai karakteristik tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013-2015.
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik, Medan. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan bahwa RSUP H. Adam Malik merupakan Rumah Sakit Rujukan untuk wilayah regional Pulau Sumatera dan rumah sakit ini memiliki jumlah kasus yang banyak. Waktu penelitian dimulai dari bulan Agustus 2016 – November 2016.
4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data rekam medis penderita tumor germ cell ovarium yang datang berobat ke RSUP H. Adam Malik.
4.3.2. Sampel
Yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah seluruh data rekam medis penderita tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik.
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode total sampling yaitu metode penentuan sampel dengan mengambil seluruh anggota populasi sebagai responden atau sampel. Dalam penelitian ini, sampel adalah seluruh pasien yang didiagnosis menderita tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013-2015 dan tercatat dalam rekam medis.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara 4.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa data rekam medis seluruh pasien penyakit tumor germ cell ovarium di RSUP H. Adam Malik periode 2013-2015. Data rekam medis tersebut dicatat kemudian ditabulasikan dengan variabel penelitian.
4.5. Definisi Operasional
1. Variabel : Tumor germ cell ovarium
Definisi : Berasal dari germ cell primordial ovarium yang dapat tumbuh di bagian extragonad seperti mediastinum dan retroperitoneum. Tumor germ cell terbagi atas jinak dan ganas. Tumor jinak terdiri dari mature cystic teratoma, struma ovarii, carcinoid, sebaceous, gonadoblastoma, mixed germ cell sex cord-stromal. Tumor ganas terbagi atas disgerminoma, yolk sac tumor, embryonal
carcinoma, choriocarcinoma, immature teratoma, neuroectodermal, mixed germ cell.
Cara ukur : Observasi rekam medis Alat ukur : Rekam medis
Hasil ukur : 1. Disgerminoma 2. Yolk Sac Tumor 3. Embryonal carcinoma
4. Polyembryoma
5. Choriocarcinoma 6. Immature Teratoma 7. Neuroectodermal 8. Mixed germ cell
9. Mature Cystic Teratoma 10. Struma ovarii
11. Carcinoid
12. Sebaceous
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara 13. Gonadoblastoma
14. Mixed Germ Cell Sex Cord-Stromal Skala ukur : Nominal
2. Variabel : Umur
Definisi : Umur penderita ketika didiagnosis tumor germ cell ovarium seperti tercatat di rekam medis RSUP H. Adam Malik yang dikategorikan sebagai berikut :
Cara ukur : Observasi rekam medis Alat ukur : Rekam medis
Hasil ukur : 1. <20 tahun
2. 20-45 tahun
3. >45 tahun Skala ukur : Interval
3. Variabel : Stadium
Definisi : Stadium tumor germ cell ovarium yang didiagnosis pada pasien seperti tercatat di rekam medis RSUP H. Adam Malik yang dikategorikan berdasarkan aturan (WHO, 2014):
Cara ukur : Observasi rekam medis Alat ukur : Rekam medis
Hasil ukur : 1. Stadium 1 2. Stadium 2 3. Stadium 3 4. Stadium 4 Skala ukur : Ordinal
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara 4.6. Pengolahan dan Analisa Data
4.6.1. Pengolahan data
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) editing, dilakukan untuk pengecekan dan perbaikan dari data- data yang dikumpulkan, (2) coding yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan, (3) entry, yakni memasukkan data-data ke dalam program atau software komputer, dan (4) cleaning, pengecekan kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
4.6.2. Analisa data
Analisa data dilakukan dengan memasukkan data ke dalam program komputer dan menggunakan aplikasi SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Kemudian dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi dan dilakukan pembahasan sesuai dengan pustaka yang ada.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pemerintah dengan kategori kelas A. Selain itu, RSUP H. Adam Malik juga merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 502/Menkes/IX/1991, RSUP H. Adam Malik ditetapkan sebagai rumah sakit pendidikan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5.1.2. Karakteristik Sampel
Berdasarkan hasil peninjauan rekam medis, terdapat 32 kasus tumor germ cell ovarium pada tahun 2013-2015.
Sampel pada penelitian ini dikelompokan berdasarkan rentang umur pra reproduksi, reproduksi, pre menopause. Seperti yang terlihat pada Tabel 5.1, kejadian tumor germ cell ovarium paling banyak terjadi pada kelompok umur 20- 45 tahun yaitu 22 kasus (68,8%). Kemudian, terdapat beberapa data statistik tambahan, seperti Mean (rata-rata) umur sampel adalah 29,47 (SD±15,127) dan umur paling muda (minimum) yang tercatat pada penelitian ini terjadi di usia 1 tahun sedangkan paling tua (maksimum) 78 tahun.
Berdasarkan jenis histopatologi (Tabel 5.2.), disgerminoma merupakan tumor ganas yang paling banyak ditemukan dengan jumlah kejadian sebanyak 18 kasus (75%). Pada tumor jinak, jenis yang paling banyak dijumpai adalah mature cystic teratoma dengan jumlah kejadian sebanyak 8 kasus (100%).
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara Sesuai dengan klasifikasi yang dibuat oleh International Federation of Gynecologist and Obstetricians (FIGO), terdapat empat stadium untuk kanker ovarium. Seperti yang terlihat pada Tabel 5.1., 13 kasus (54,2%) tidak dapat diklasifikasikan karena tidak tercantumnya stadium di dalam rekam medis.
Namun, dapat disimpulkan bahwa stadium yang paling banyak ditemukan adalah stadium I dengan jumlah kejadian sebanyak 5 kasus (20,8%).
Tabel 5.1. Distribusi Kasus Tumor Germ Cell Ovarium
Frekuensi Persentase (%)
Umur (n = 32)
< 20 tahun 6 18,8
20-45 tahun 22 68,8
> 45 tahun 4 12,5
Stadium (n = 24)
IC 5 20,8
IIA 1 4,2
IIIC 4 16,7
IVA 1 4,2
Tidak Ada 13 54,2
Jenis (n = 32)
Jinak 8 75
Ganas 24 25
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara Tabel 5.2. Distribusi Kasus Tumor Germ Cell Ovarium Berdasarkan
Histopatologi
Histopatologi Frekuensi Persentase (%)
Ganas (n = 24)
Disgerminoma 18 75
Yolk Sac Tumor 3 12,5
Embryonal carcinoma 0 0
Polyembryoma 0 0
Choriocarcinoma 0 0
Immature teratoma 2 8,3
Neuroectodermal 0 0
Mixed germ cell 1 4,2
Jinak (n = 8)
Mature cystic teratoma 8 100
Struma ovarii 0 0
Carcinoid 0 0
Sebaceous 0 0
Gonadoblastoma 0 0
Mixed germ cell sex cord- stromal
0 0
5.2. Pembahasan
Distribusi kasus berdasarkan umur menunjukan bahwa tumor germ cell ovarium paling sering terjadi pada umur 20-45 tahun dengan jumlah 22 kasus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sarwono10, bahwa hampir 70% tumor ovarium berasal dari germ cell pada umur sekitar 20 tahun. Berikutnya, pada umur < 20 tahun dengan jumlah 6 kasus dan > 45 tahun sebanyak 4 kasus. Disgerminoma ditemukan pada 75% penderita umur antara 10-30 tahun, 5% pada umur 10 tahun, dan jarang pada umur di atas 50 tahun. Mature cystic teratoma atau dermoid cyst dapat terjadi pada segala umur, tetapi insiden puncaknya terjadi pada umur 20-40 tahun.14 Insidensi neoplasma ovarium pada anak-anak adalah 2,6 per 100.000
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara perempuan. Yolk sac tumors terhitung sebanyak 1% dalam kejadian neoplasma tersebut dan lebih sering tercatat pada umur antara 18-25 tahun.15 Immature teratoma yang merupakan tumor germ cell ganas ditemukan sekitar 50% pada umur 10-20 tahun.10
Insidensi jenis histopatologi tumor jinak dan ganas menunjukan hasil yang bervariasi. Dalam penelitian ini, terdapat 24 kasus tumor germ cell ovarium tipe ganas dan 8 kasus tipe jinak. Hal ini sesuai dengan pernyataan Aminimoghaddam, dkk.16 bahwa tumor germ cell ovarium ganas memang tipe yang paling sering terjadi dengan persentase sebesar 80%. Namun, hasil yang berbeda dikemukakan oleh Forae & Aligbe17. Mereka melakukan penelitian terhadap 236 lesi ovarium di Nigeria dan didapati frekuensi tumor jinak dan ganas masing-masing adalah 84,7% dan 15,3%. Pada penelitian tersebut, mature cystic teratoma merupakan tumor jinak yang paling banyak dijumpai dengan persentase sebesar 62%
sedangkan tumor germ cell ovarium tipe ganas hanya 27,7% dari seluruh kasus keganasan yang ada. Alasan mengapa dijumpai hasil yang berbeda tidak dapat dijelaskan secara pasti, namun, hal ini kemungkinan terjadi karena variasi etnis dan jumlah sampel.17
Dalam penelitian ini, diketahui bahwa jenis histopatologi yang paling sering ditemukan adalah disgerminoma yaitu sebanyak 18 kasus (75%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Baker & Oliva5 bahwa disgerminoma memang tipe yang paling sering terjadi (50% dari seluruh tumor germ cell ganas). Berikutnya, pada tumor jinak yang paling banyak dijumpai adalah mature cystic teratoma atau bisa disebut juga dengan dermoid cyst dengan jumlah sebanyak 8 kasus (100%).
Menurut Sinha & Ewies18, mature cystic teratoma adalah tumor jinak yang paling sering terjadi pada umur reproduktif (70%) dan postmenopause (20%). Yolk sac tumor atau Endodermal Sinus Tumors (EST) dengan gambaran khas Schiller- Duval bodies ditemukan pada 3 kasus (12,5%). Meskipun Berek & Novak4 mengatakan tumor ini adalah tumor ganas ketiga yang paling sering terjadi setelah disgerminoma dan immature teratoma, akan tetapi menurut Goyal, dkk19 berdasarkan laporan kasus, yolk sac tumor merupakan tumor ganas kedua yang paling banyak dijumpai setelah disgerminoma dengan persentase 70%.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara Selanjutnya, tumor ganas yang ditemukan adalah tipe immature teratoma dengan jumlah 2 kasus (8,3%). Tumor ini termasuk tumor ganas yang sering terjadi dengan persentase kasus sebesar 53%.19 Jenis histopatologi yang terakhir ditemukan pada penelitian ini adalah Mixed germ cell tumors dengan jumlah 1 kasus (4,2%). Kebanyakan mixed germ cell tumors terdiri dari dua komponen germ cell. Insidensi kejadian berkisar antara 10-81%. Kombinasi yang paling sering ditemukan adalah disgerminoma dan yolk sac tumors namun pada penelitian ini kombinasi yang dijumpai adalah disgerminoma (40%) dan poorly differentiated choriocarcinoma (60%).20
Stadium tumor ditentukan melalui surgical staging. Pada penelitian ini ditemukan stadium yang tidak adekuat dikarenakan operasi awal pasien dilakukan di luar RSUP H. Adam Malik sehingga stadium tidak bisa ditegakan karena keterbatasan sumber daya manusia dan sarana yang memadai. Penderita tumor germ cell ovarium paling banyak ditemukan pada stadium I dengan jumlah 5 kasus (20,8%). Hal ini sesuai dengan pernyataan Zhao, dkk21 bahwa tumor germ cell ovarium biasanya didiagnosis pada stadium awal. Meskipun pada stadium awal biasanya asimptomatik namun tumor dapat ditemukan pada pemeriksaan ginekologik rutin. Perut membesar dan perdarahan postmenopause merupakan gejala yang sering dialami penderita tumor germ cell ovarium.22 Pendapat yang sama diungkapkan oleh Lintong23 dimana tumor germ cell ovarium dapat tumbuh dengan cepat dan sebagian besar ditemukan pada stadium IA. Akan tetapi, pernyataan yang berbeda dikemukakan oleh Rezkini bahwa hampir 70% kanker ovarium terdiagnosis pada stadium lanjut, baik sudah menyebar dalam rongga abdomen atas (stadium III) maupun lebih luas (stadium IV) dengan angka harapan hidup selama 5 tahun hanya sekitar 15-20%. Berdasarkan International Federation of Gynecologist and Obstetricians (FIGO), pada stadium I pertumbuhan kanker terbatas pada ovarium.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa:
1. Penderita tumor germ cell ovarium paling banyak terdapat pada kelompok umur 20-45 tahun dengan jumlah kejadian sebanyak 22 kasus (68,8%)
2. Walaupun terdapat 13 kasus yang tidak mencantumkan stadium, stadium yang paling sering ditemukan adalah stadium IC dengan jumlah kejadian sebanyak 5 kasus (20,8%)
3. Berdasarkan jenis histopatologi, jenis yang paling sering dijumpai adalah disgerminoma dengan jumlah kejadian sebanyak 18 kasus (75%)
6.2. Saran
Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh peneliti, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut yaitu:
1. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar menggunakan sampel dengan skala yang lebih luas sehingga menjadi representatif untuk menggambarkan populasi.
2. Pencatatan rekam medis mengenai stadium sebaiknya ditulis secara lengkap.
Hal ini dapat membantu para peneliti yang khususnya menggunakan data rekam medis pada penelitiannya.
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
DAFTAR PUSTAKA
1. Green AE, Garcia AA, Ahmed S. Ovarian Cancer. eMedicine [Internet]. 2016
May [cited 2016 May 7]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/255771-overview.
2. Rambe IR, Asri A, Adrial. Profil Tumor Ganas Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Periode Januari 2011 Sampai Dengan Desember 2012. Jurnal Kesehatan Andalas.
2014;3(1):54.
3. Prat J, Cao D, Carinelli SG, Nogales FF, Vang R, Zaloudek CJ. Germ cell tumours. In: Kurman RJ, Carcangiu ML, Herrington CS, Young RH, editors.
WHO Classification of Tumours of Female Reproductive Organs. 4th ed.
Lyon: IARC; 2014. p. 57-68.
4. Berek JS. Berek & Novak’s Gynecology. 14th ed. USA: Lippincott Williams
& Wilkins; 2007. p. 1505-1520.
5. Baker PM, Oliva E. Germ Cell Tumors of the Ovary. In: Nucci MR, Oliva E, editors. Gynecologic Pathology. Boston: Elsevier Inc; 2009. p. 501-536.
6. Rezkini P. Hubungan Antara Usia Pasien dan Derajat Keganasan Tumor Ovarium Primer Tipe Sel Benih di Jakarta selama 10 tahun (1997-2006).
Jakarta: FKUI; 2009.
7. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, et al. Williams Obstetrics. 24th ed. USA: McGraw-Hill; 2014. p. 29-30.
8. Eroschenko VP. Atlas Histologi diFiore: dengan Korelasi Fungsional. 11th ed.
Jakarta: EGC; 2010. p.
9. Tortora GJ, Nielsen MT. Principles of Human Anatomy. 12th ed. USA: John Wiley & Sons, Inc; 2011. p. 901.
10. Busmar B. Kanker Ovarium. In: Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi.
Jakarta: YBP-SP; 2006. p. 480.
11. Shaaban AM, Rezvani M, Elsayes KM, Jr. Baskin H, Mourad A, Foster BR, et al. Ovarian Malignant Germ Cell Tumors: Cellular Classification and Clinical and Imaging Features. Radiographics. 2014 May-Jun;34(3):777-798.
Universitas Sumatera Utara