PERUSAHAAN PERTAMBANGAN DI BURSA EFEK
INDONESIA 2009 - 2013
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Program Studi Manajemen
Oleh:
Arif Indr/a Pranata
0901054
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Pertambangan di Bursa Efek Indonesia 2009 - 2013
Oleh: Arif Indra Pranata
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
sarjana pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis
©Arif Indra Pranata Universitas Pendidikan Indonesia
April 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang, skripsi ini tidak boleh diperbanyak
seluruhnya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto copy, atau cara lainnya
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI UNTUK UJIAN SIDANG DRAFT SKRIPSI
PENGARUH NILAI PASAR TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN PERTAMBANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA
2009 -2013
ARIF INDRA PRANATA 0901054
Skripsi ini telah disetujui dan disahkan oleh:
1. Dosen Pembimbing
Budhi Pamungkas G, SE. M.Sc NIP. 19820707 200912 1 005
2. Ketua Program Studi
Dr. Vanessa Gaffar, SE., AK. MBA NIP. 19740307 200212 2 001
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul "Pengaruh Nilai
Pasar Terhadap Return Saham Perusahaan Pertambangan di Bursa Efek Indonesia
2009 - 2013" ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri.
Saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak
sesuai dengan etika ilmu yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas
pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi apabila di kemudian hari
ditemukan adanya pelanggaran etika keilmuan atau ada klaim dari pihak lain
terhadap keaslian karya saya ini.
Bandung, April 2015
Arif Indra Pranata NIM: 0901054
ABSTRAK
Arif Indra Pranata, 0901054. Pengaruh Nilai Pasar Terhadap Return Saham Perusahaan Pertambangan di Bursa Efek Indonesia 2009 - 2013. Di bawah bimbingan Budhi Pamungkas Gautama, SE.,M.Sc.
Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari suatu investasi. Tanpa adanya return investor tidak akan berminat untuk berinvestasi karena tujuan utama investor melakukan investasi adalah untuk mendapatkan suatu keuntungan atau return. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh menurunnya return saham pada perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2009 – 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran nilai pasar yang diukur oleh price to book value dan gambaran return saham pada perusahaan pertambangan di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2009 – 2013 dan mengukur pengaruh nilai pasar yang diukur dengan price to book value terhadap return saham.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan verifikatif. Dalam penelitian ini dari 38 perusahaan pertambangan diambil 20 perusahaan untuk dijadikan sampel dengan menggunakan purpose sampling. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear sederhana dan uji hipotesis menggunakan uji t.
Setelah dilakukan penelitian maka didapat hasil yang menunjukan bahwa nilai pasar mempunyai fluktuasi yang cenderung menurun sehingga menyebabkan kepercayaan investor terhadap perusahaan menurun dan return saham mempunyai trend yang cenderung menurun sehingga menyebabkan return saham yang didapat menurun pula. Nilai pasar berpengaruh terhadap return saham dan memiliki hubungan yang positif.
ABSTRACT
Arif Indra Pranata, 0901054. The Influence of Market Value towards Stock
Return Mining Company in Indonesia Stock Exchange 2009 – 2013. Under guidance of Budhi Pamungkas Gautama, SE.,M.Sc.
Stock return is a result that obtained from an investment. Without return investors will not be interested to invest, because the main purpose of investment is to earn a profit or return. This research is motivated by stock returns decreasing phenomenon of mining company in Indonesian Stock Exchanged 2009-2013 period. This Research is to reveal the market value as measured by price to book value, to describe of stock returns of mining company in Indonesian Stock Exchanged 2009 - 2013 period and to measure the effect of market value measured by price to book value to stock return.
This research uses descriptive and verification method. In this study of 38 mining companies were taken 20 companies to be sampled using purposive sampling. The analysis used in this study is a simple linear regression and hypothesis testing using t test.
After done researching, the results showed that the fluctuations of market value have tended to decline, decreasing investor confidence in the company as well as stock returns have a trend that tends to decline, reducing the stock return that obtained. The market value has an effect on stock returns and have a positive relation.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Secara umum pasar modal memiliki peranan penting dalam kemajuan
perekonomian suatu negara, karena perusahaan dapat mendapatkan dana
menunjang kegiatan operasionalnya, salah satunya melalui sarana pasar modal.
Sedangkan bagi pemegang saham atau investor baik itu individu maupun
perusahaan, pasar modal dapat menjadi salah satu sarana menginvestasikan
dananya mendapatkan keuntungan berupa deviden dan capital gain. Karena pada
umumnya, perusahaan yang menjual surat berharga (saham atau obligasi) ke pasar
modal adalah perusahaan yang sudah mempunyai reputasi bisnis yang baik dan
terpercaya, sehingga saham-saham yang dikeluarkan akan laku dijual belikan di
bursa.
Menurut Undang – Undang Pasar Modal Republik Indonesia Nomor 8
tahun 1995 Pasal 1 butir 13 menyebutkan bahwa “Pasar modal adalah kegiatan
yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan
publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan potensi
yang berkaitan dengan efek.
Saham adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan
individu atau institusi dalam perusahaan (Ang, 1997). Sedangkan menurut Suad
Di dalam pasar modal keuntungan dari saham dapat dihubungkan dengan
return saham. Karena return saham merupakan tujuan utama dari para pemegang
saham atau investor, oleh sebab itu perusahaan harus memberikan rasa aman dan
kepercayaan kepada investor dengan pemberian return yang optimal dari
investasi-investasi yang ada di perusahaannya. Penentuan return saham dapat
dilihat dari kinerja perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut dari harga
saham pada penutupan akhir tahun ke tahun. Para investor mengharapkan return
yang maksimal. Harapan memperoleh return yang maksimal tersebut diusahakan
agar dapat terwujud dengan mengadakan analisis dan upaya tindakan yang
berkaitan dengan investasi dalam sahamnya.
Sentimen negatif akibat krisis ekonomi global terhadap Indonesia
berdampak paling besar ke pasar saham. Koreksi harga saham terjadi di hampir
seluruh sektor. Utamanya di sektor pertambangan, perdagangan, dan pertanian.
Secara keseluruhan, indeks harga saham di sektor pertambangan
mengalami pelemahan pada 2012 sejalan dengan melambatnya perekonomian
dunia. Indeks harga saham di sektor pertambangan sebenarnya masih menguat
sepanjang kuartal pertama dan mulai menurun pada April dan Mei.
Bapak Chairul tandjung sebagai ketua KEN (komite ekonomi nasional)
mengungkapkan bahwa menurunnya harga saham perusahaan pada sektor
pertambangan tersebut tidak terlepas dari penurunan harga-harga komoditas
pertambangan di pasar internasional. Sejak awal tahun 2012, komoditas
pertambangan seperti aluminium, nikel, dan timah putih menunjukkan penurunan
per ton pada Februari 2012 turun menjadi 15.658 dolar AS per ton pada Agustus
2012. Sedangkan, harga timah putih dari harga rata-rata sebesar 2.057 dolar AS
per ton pada Februari 2012, turun menjadi 1.814 dolar AS per ton pada Agustus
2012.
http://id.beritasatu.com/energy/ken-2013-kinerja-sektor-tambang-masih-tertekan/50496
Saham-saham pertambangan terus mengalami tekanan akibat penurunan
harga komoditas dan kebijakan pemerintah yang tak menguntungkan perusahaan
pertambangan. Kalangan pelaku pasar memperkirakan tekanan terhadap saham
pertambangan akan berlanjut hingga akhir 2012.
Dalam tiga pekan terakhir, sejumlah saham emiten tambang mengalami
tekanan. Beberapa saham tersebut seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) turun
8,84%, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun 16,46%, PT Bumi
Resources Tbk (BUMI) turun 42%, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) turun
9,17%, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) turun 15,61%, dan PT Vale
Indonesia Tbk (INCO) turun 22,13%.
http://energitoday.com/2012/05/23/harga-komoditas-dunia-turun-kinerja-saham-pertambangan-tertekan/
Di Bursa Efek Indonesia terdapat 3 sektor, yaitu sektor utama (industri
penghasil bahan baku), sektor kedua (industri manufaktur), dan sektor ketiga
(industri jasa). Sektor utama terdiri dari sektor pertanian dan pertambangan, sektor
real estate, sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi, sektor keuangan, dan
sektor perdagangan, jasa dan investasi.
Dalam penelitian ini, sektor pertambangan yang listing di BEI menjadi
objek penelitian dalam periode waktu 2009-2013. Sektor pertambangan ini
merupakan salah satu indicator penggerak Indeks Harga Saham Gabungan.
Didalam sektor pertambangan ini terdapat 4 subsektor, yaitu subsektor
batu bara, subsektor minyak dan gas bumi, subsektor logam dan mineral,
subsektor batu – batuan. Dalam keempat sektor ini terdapat total 38 emiten
dengan rincian, 21 emiten pada subsektor batu bara, 7 emiten dalam subsektor
minyak dan gas bumi, 8 emiten di subsektor logam dan mineral, dan 2 emiten
pada subsektor batu – batuan.
Seorang investor akan menanamkan modalnya dengan tujuan mencari
pendapatan atau pengembalian investasi (return) baik berupa cash dividend
maupun capital gain yang didapat dari selisih antara harga jual saham terhadap
harga belinya. Tanpa adanya keuntungan yang dapat dinikmati dari suatu investasi
tentunya investor tidak mau berinvesitasi jika pada akhirnya tidak ada hasil (Ang,
1997).
Return saham ialah hasil yang diperoleh dari suatu investasi (Jogiyanto,
2010: 109). Jika disimpulkan dari definisinya ada suatu resiko yang harus
diperhitungkan oleh investor, yautu tingkat return saham suatu sekuritas
dipengaruhi oleh kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari
aktivitas usahanya. Permasalahan utama yang menjadi pertimbangan investor
Berikut perbandingan return saham pada sektor utama pertanian dan
pertambangan :
Tabel 1.1
Rata – Rata Return Saham Perusahaan Sektor Utama Bursa Efek Indonesia
2009 – 2013
(dalam %)
Sumber: Indonesia Stock Exchange 2009 – 2013 (Data diolah kembali)
Tabel diatas menunjukan return saham perusahaan sektor utama di Bursa
Efek Indonesia yaitu perusahaan pertambangan dan pertanian dari tahun 2009 –
2013. Pada tahun 2009 rata – rata return saham perusahaan pertambangan sebesar
0,87% terjadi penurunan pada 2010 sebesar 0,78% menjadi 0,09%, sedangkan
pada perusahaan pertanian pada tahun 2009 rata- rata return saham sebesar 0,72%
terjadi kenaikan pada 2010 sebesar 0,11% menjadi 0,83%. Pada tahun 2011
terjadi penurunan pada return saham perusahaan pertambangan sebesar 0,04%
menjadi 0.05% begitupun pada perusahaan pertanian terjadi penurunan sebesar
0,78% menjadi 0.05%, pada tahun 2012 terjadi penurunan pada return saham
perusahaan pertambangan sebesar 0,28% menjadi -0,23%, perusahaan pertanian
2009 2010 2011 2012 2013
0,16% menjadi -0,07%, sedangkan return saham perusahaan pertanian mengalami
penurunan sebesar 0,01% menjadi -0,05%.
Dari tabel dan penjelasan diatas dapat terlihat bahwa sektor pertambangan
mengalami penurunan return saham yang lebih besar dibandingkan dengan sektor
pertanian.
Return Saham Perusahaan Pertambangan dan Pertanian yang terdapat di
Bursa Efek Indonesia tahun 2009 – 2013 bila disajikan dalam grafik maka akan
seperti berikut :
Sumber: Indonesia Stock Exchange 2009 – 2013 (Data diolah kembali) Grafik 1.1
Rata – Rata Return Saham Perusahaan Pertambangan dan Pertanian Bursa Efek Indonesia 2009 – 2013
Return saham pada tahun 2009-2013 mengalami fluktuasi dan cenderung
menurun. Meskipun return saham dari sektor pertambangan dan pertanian ini
menurun akan tetapi penurun yang terjadi pada sektor pertanian lebih sedikit bila
bisa dikatakan kinerja perusahaan sektor pertambangan lebih buruk daripada
sektor pertanian. Bagi para investor hal ini berdampak pada turunnya return yang
didapatkan oleh investor, sehingga akan mempengaruhi keputusan investor untuk
membeli saham perusahaan tersebut atau menjual saham yang telah dibeli untuk
menghindari kerugian. Sedangkan bagi perusahaan kondisi ini berdampak pada
hilangnya kepercayaan investor terhadap perusahaan sehingga perusahaan akan
kehilangan sumber tambahan modal.
Setiap investasi pasti ada resiko, untuk memperkecil resiko tersebut
investor bisa mempelajari dan menyimpulkan informasi tentang perusahaan,
diantaranya kinerja perusahaan melalui analisis kinerja keuangan pada laporan
keuangan. Analisis rasio keuangan yang biasa digunakan untuk melihat kondisi
perusahaan di pasar modal adalah rasio likuiditas, profitabilitas, aktivitas,
solvabilitas dan nilai pasar. Dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah
rasio nilai pasar. Nilai pasar merupakan rasio yang lazim dan khusus
dipergunakan di pasar modal untuk menggambarkan situasi/keadaan perusahaan
di pasar modal, tidak berarti rasio lainnya tidak dipakai (Harahap, 2010: 310).
Indikator nilai pasar diantaranya adalah price to book value. Pengertian price to
book value sendiri menurut Harahap (2008: 311) adalah perbandimgam antara harga saham di pasar modal dengan nilai buku saham tersebut yang digambarkan
di neraca.
Menurut Tandelilin (2001), ada hubungan antara harga saham dengan nilai
suatu saham. Perbandingan antara harga saham dengan nilai buku ekuitas
perusahaan dapat menggunakan rasio price to book value. Price to book value
menunjukan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai
relatifnya terhadap modal yang diinvestasikan oleh investor.
Apabila Price to Book Value (PBV) suatu perusahaan tinggi maka
gambaran penilaian pasar pada perusahaan tersebut juga baik, sehingga penilaian
investor terhadap perusahaan baik pula. Penilaian investor yang baik akan
merubah permintaan saham pada perusahaan, sehingga harga saham akan berubah
dan mempengaruhi return saham.(Rahardjo,2009:50).
Price to book value menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham),
semakin tinggi rasio ini semakin besar tambahan kekayaan (wealth) yang
dinikmati oleh pemilik perusahaan (Husnan, 2006: 76). Semakin tinggi price to
book value maka semakin besar nilai yang diciptakan bagi investor, sejalan
dengan hal tersebut kepercayaan terhadap perusahaan di pasar modal pun akan
meningkat dan mengakibatkan tingginya permintaan akan saham perusahaan
tersebut. Dengan tingginya permintaan saham di pasar modal maka harga saham
perusahaan tersebut akan terdorong dan return bagi investor pun akan naik.
Data empiris mengenai price to book value perusahan pertambangan yang
Tabel 1.2
Rata – Rata Price to Book Value (PBV) Pada Perusahaan Pertambangan Bursa Efek
Indonesia 2009 – 2013
(dalam rupiah)
Sumber: Indonesia Stock Exchange 2009 – 2012 (Data diolah kembali)
Tabel diatas menunjukan perkembangan price book to value pada tahun
2009 – 2013. Pada tahun 2009 rata – rata price to book value berada di Rp. 5,36
dan terjadi kenaikan sebesar Rp. 1,59 pada tahun 2010 menjadi Rp. 6,95. Pada
tahun 2011, 2012, dan 2013 terjadi penurunan price to book value, pada tahun
2011 menurun Rp. 4,38 menjadi Rp. 2,57 pada tahun 2012 menurun Rp. 0,94
menjadi Rp. 1,63 dan pada tahun 2013 kembali mengalami penurunan sebesar Rp.
0,8 menjadi Rp. 0,83.
Price to book value pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009 – 2013 bila dilihat dalam bentuk grafik adalah
sebagai berikut:
Sumber: Indonesia Stock Exchange 2009 – 2013 (Data diolah kembali)
Grafik 1.2
Rata – Rata Price to Book Value Perusahaan Pertambangan Bursa Efek Indonesia 2009 – 2013
Penelitian serupa pernah dilakukan oleh Fahmi Poernamawati (2008)
dengan judul Pengaruh Price Book Value Ratio (PBV) dan Price Earning Ratio
(PER) terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di
Bursa Efek Indonesia. Hasil dari penelitian tersebut adalah terdapat pengaruh
yang signifikan dari price to book value dan price earning ratio terhadap return
saham.
Berdasarkan fenomena penurunan return saham pada perusahaan
pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia serta nilai pasar yang
mempengaruhinya dengan rasio price to book value maka peneliti tertarik untuk
2009 2010 2011 2012 2013
rata- rata 5,36 6,95 2,57 1,63 0,83
melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH NILAI PASAR
TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA 2009 - 2013”.
1.2 Identifikasi Masalah
Bedasarkan latar belakang di atas, dijelaskan bahwa return saham sektor
pertambangan mengalami fluktuasi dan cenderung menurun dari tahun 2009 –
2013. Hal ini tentu menjadi kerugian karena dengan return saham yang terus
menurun tentu investor pun akan sulit untuk berinvestasi kepada perusahaan.
Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari suatu investasi.
Menurut Ang (1997) menyatakan bahwa “tanpa adanya keuntungan yang dapat
dinikmati dari suatu investasi tentunya investor tidak mau berinvestasi jika pada
akhirnya tidak ada hasil”. Lebih lanjut setiap investasi baik jangka panjang
maupun jangka pendek mempunyai tujuan mendapatkan keuntungan (return).
Sebelum melakukan investasi, investor perlu mempertimbangkan dan
memilih dimana dananya akan ditanamkan. Untuk itu investor perlu informasi
tentang perusahaan – perusahaan yang akan dipilihnya, Suad Husnan (2006: 54)
mengemukakan bahwa sebelum investor melakukan investasi pada sekuritas,
perlu dirumuskan terlebih dahulu kebijakan investasi, menganalisis laporan
keuangan dan mengevaluasi kinerja keuangan.
Menurut Tandelilin (2001), ada hubungan antara harga saham dengan nilai
perusahaan dapat menggunakan rasio price to book value. Price to book value
menunjukan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai
relatifnya terhadap modal yang diinvestasikan oleh investor.
Apabila Price to Book Value (PBV) suatu perusahaan tinggi maka
gambaran penilaian pasar pada perusahaan tersebut juga baik, sehingga penilaian
investor terhadap perusahaan baik pula. Penilaian investor yang baik akan
merubah permintaan saham pada perusahaan, sehingga harga saham akan berubah
dan mempengaruhi return saham.(Rahardjo,2009:50).
Price to book value menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa
yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham),
semakin tinggi rasio ini semakin besar tambahan kekayaan (wealth) yang
dinikmati oleh pemilik perusahaan (Husnan, 2006: 76). Semakin tinggi price to
book value maka semakin besar nilai yang diciptakan bagi investor, sejalan dengan hal tersebut kepercayaan terhadap perusahaan di pasar modal pun akan
meningkat dan mengakibatkan tingginya permintaan akan saham perusahaan
tersebut. Dengan tingginya permintaan saham di pasar modal maka harga saham
perusahaan tersebut akan terdorong dan return bagi investor pun akan naik.
Definisi price to book value sendiri adalah perbandingan antara harga saham di
pasar dengan nilai buku saham tersebut yang digambarkan di neraca (Harahap,
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat dibuat rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran Nilai Pasar pada perusahaan pertambangan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
2. Bagaimana gambaran Return Saham pada perusahaan pertambangan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
3. Bagaimana pengaruh Nilai Pasar terhadap Return Saham pada
perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
1.4 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui gambaran Nilai Pasar pada perusahaan pertambangan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
2. Mengetahui gambaran Return Saham pada perusahaan pertambangan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
3. Mengetahui Pengaruh Nilai Pasar terhadap Return Saham pada
1.5 Kegunaan Penelitian
a. Bagi Investor
Sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi
di pasar modal khususnya yang berkaitan dengan nilai pasar dan return
saham.
b. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi
manajemen perusahaan untuk memecahkan masalah yang
berhubungan dengan nilai pasar dan return saham.
c. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu pedoman dan
menjadi sumbangan pemikiran atau referensi bagi pihak-pihak yang
berkepentingan terutama bagi mahasiswa yang akan meneliti lebih
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan merupakan suatu hal yang penting yang harus dicapai
secara maksimal oleh setiap perusahaan, karena kinerja keuangan merupakan
gambaran dari kemampuan perusahaan dalam mengelola sumber keuangannya.
Dan analisis terhadap kinerja keuangan suatu perusahaan sangat penting bagi para
investor.
Menurut Suad Husnan (2005:54) “sebelum pemodal melakukan investasi
pada sekuritas, perlu dirumuskan terlebih dahulu kebijakan investasi,
menganalisis laporan keuangan, dan mengevaluasi kinerja keuangan”. Hal ini
dilakukan sebagai bahan pertimbangan untuk investor dalam pengambilan
keputusan berinvestasi pada perusahaan terkait. Dengan mengetahui kinerja
keuangan perusahaan, investor dapat mengetahui potensi yang dimiliki
perusahaan di masa depan.
Menurut Agnes Sawir (2005:1) “kinerja keuangan adalah kondisi yang
mencerminkan keadaan keuangan suatu perusahaan berdasarkan sasaran, standar,
dan kriteria yang telah ditetapkan”.
Sedangkan meunrut Munawir (2000:64) “kinerja keuangan merupakan
menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara jumlah tertentu dengan
jumlah yang lain.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan
adalah penentuan ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan
suatu perusahaan dalam memperoleh laba sehingga nilai perusahaan yang tinggi
dapat dicapai dengan baik.
2.1.1.1 Komponen Kinerja Keuangan
Komponen-komponen kinerja keuangan berupa rasio keuangan merupakan
alat yang dapat digunakan untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan
perusahaan.
Menurut Harmono (2009:106) analisis keuangan dapat diklasifikasikan ke
dalam lima aspek kinerja keuangan perusahaan yaitu:
1. Likuiditas (Liquidity)
Likuditas menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
jangka pendeknya. Likuiditas dapat dihitung melalui sumber informasi
tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan hutang lancar.
2. Solvabilitas (Solvability)
Solvabilitas mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai dengan hutang.
Solvabilitas mempunyai beberapa implikasi, (1) kredit mengharapkan dana
yang disediakan pemilik perusahaan sebagai margin keamanan bila
pemilik hanya menyediakan sebagian kecil modalnya maka resiko bisnis
melalui hutang, pemilik masih dapat mengendalikan perusahaan; (3) bila
perusahaan mendapatkan keuntungan lebih besar dari dana yang
dipinjamnya dibandingkan biaya bunga yang harus dibayar, maka
pengambilan kepada pemilik dapat diperbesar.
3. Aktivitas (Activity)
Aktivitas ini mengukur tingkat efektivitas pemanfaatan sumber daya
perusahaan dengan cara membandingkan tingkat penjualan dengan
investasi dalam berbagai rekening aktiva seperti perputaran persediaan,
perputaran piutang, perputaran aktiva tetap dan juga biaya perputaran total
aktiva.
4. Profitabilitas (Profitability)
Profitabilitas mengukur tingkat efektivitas pengelolaan (manajemen)
perusahaan yang ditunjukkan oleh jumlah keuntungan yang dihasilkan dari
penjualan dan investasi. Profitabilitas juga menggambarkan kemampuan
perusahaan untuk mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan
sumber yang ada di perusahaan seperti kas, modal, jumlah karyawan,
jumlah cabang dan sebagainya.
5. Pasar (Market)
Suatu metode yang digunakan oleh perusahaan untuk melihat kondisi
pasar. Dengan hal ini, maka perusahaan akan lebih mudah mendapatkan
2.1.2 Nilai Pasar
2.1.2.1 Pengertian Nilai Pasar
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2008:310) “Nilai pasar merupakan rasio
yang lazim dan yang khusus dipergunakan di pasar modal yang menggambarkan
situasi/keadaan prestasi perusahaan di pasar modal”. Sedangkan menurut Desy
(2012) “nilai pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat
tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar, nilai pasar ditentukan oleh permintaan
dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa”.
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan nilai pasar (market
value) yaitu harga barang atau surat berharga yang diindikasikan oleh penawaran
pasar, yaitu harga yang tambahan barangnya dapat dijual atau dibeli. Pada suatu
saat, nilai pasar suatu surat berharga ditentukan oleh nilai penjualan terakhir.
Untuk surat-surat berharga yang tidak aktif, saat tidak ada penawaran,
yang digunakan ialah harga penawaran terakhir. Untuk surat berharga yang tidak
terdaftar di bursa, nilai pasar ditentukan oleh penjualan terakhir atau ditentukan
oleh lembaga penilai. Nilai pasar secara terus-menerus berfluktuasi ketika ada
berita-berita hangat dan akan sering berubah sepanjang hari.
Menurut Ang (1997) Price to Book Value (PBV) merupakan rasio pasar
yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai
2.1.2.2 Indikator Nilai Pasar
Menurut Harahap (2010: 310) rasio untuk menilai nilai pasar adalah :
1. Price to Book Value (PBV)
PBV (Price to Book Value) menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari
apa yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi
rasio ini semakin besar tambahan kekayaan (wealth) yang dinikmati oleh pemilik
perusahaan (Husnan, 2006: 76).
Jika disimpulkan apabila harga pasar berada dibawah nilai bukunya,
investor memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial. Bila seorang
investor pesimis atas suatu prospek suatu saham maka banyak saham yang dijual
pada harga dibawah nilai buku sedangkan bila investor optimis maka saham dijual
dengan harga diatas nilai bukunya. Semakin tinggi nilai PBV maka semakin tinggi
pula perusahaan itu dilnilai oleh investor dibandingkan dengan dana yang
ditanamkan di perusahaan tersebut. (Ang, 1997)
Pengertian PBV sendiri menurut Harahap (2008: 311) adalah
perbandingan antara harga saham di pasar dengan nilai buku saham tersebut yang
digambarkan di neraca.
��� =
�� �� �� � ��ℎ�
�� �� �� �
2.1.3 Pasar Modal
2.1.3.1 Pengertian Pasar Modal
Menurut Husnan (2003) pasar modal adalah pasar untuk berbagai
instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjual-belikan, baik dalam
bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah,
public authorities, maupun perusahaan swasta.
Menurut Usman (1990:62), umumnya surat-surat berharga yang
diperdagangkan di pasar modal dapat dibedakan menjadi surat berharga bersifat
hutang dan surat berharga yang bersifat pemilikan.
Surat berharga yang bersifat hutang umumnya dikenal nama obligasi dan
surat berharga yang bersifat pemilikan dikenal dengan nama saham. Lebih jauh
dapat juga didefinisikan bahwa obligasi adalah bukti pengakuan hutang dari
perusahaan, sedangkan saham adalah bukti penyertaan dari perusahaan.
Pengertian pasar modal secara umum adalah suatu sistem keuangan yang
terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan semua
lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat berharga yang
beredar. Dalam arti sempit, pasar modal adalah suatu pasar (tempat, berupa
gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi,
dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang
efek (Sunariyah, 2000 : 4).
Dilihat dari pengertian akan pasar modal diatas, maka jelaslah bahwa pasar
modal juga merupakan salah satu cara bagi perusahaan dalam mencari dana
2.1.3.2 Pelaku Pasar Modal
Menurut Kasmir (2001 : 183-189) para pemain utama yabng terlibat di
pasar modal dan lembaga penunjang yang terlibat langsung dalam proses transaksi
antara pemain utama sebagai berikut :
1. Emiten
Perusahaan yang akan melakukan penjualan surat-surat berharga atau
melakukan emisi di bursa (disebut emiten). Dalam melakukan emisi, para emiten
memiliki berbagai tujuan dan hal ini biasanya sudah tertuang dalam rapat umum
pemegang saham (RUPS), antara lain :
a. Perluasan usaha, modal yang diperoleh dari para investor akan digunakan
untuk meluaskan bidang usaha, perluasan pasar atau kapasitas produksi.
b. Memperbaiki struktur modal, menyeimbangkan antara modal sendiri
dengan modal asing.
c. Mengadakan pengalihan pemegang saham. Pengalihan dari pemegang
saham lama kepada pemegang saham baru.
2. Investor
Pemodal yang akan membeli atau menanamkan modalnya di perusahaan yang
melakukan emisi (disebut investor). Sebelum membeli surat berharga yang
ditawarkan, investor biasanya melakukan penelitian dan analisis tertentu.
Penelitian ini mencakup bonafiditas perusahaan, prospek usaha emiten dan
a. Memperoleh deviden. Ditujukan kepada keuntungan yang akan
diperolehnya berupa bunga yang dibayar oleh emiten dalam bentuk
deviden.
b. Kepemilikan perusahaan. Semakin banyak saham yang dimiliki maka
semakin besar pengusahaan (menguasai) perusahaan.
c. Berdagang. Saham dijual kembali pada saat harga tinggi,
pengharapannya adalah pada saham yang benar-benar dapat menaikkan
keuntungannya dari jual beli sahamnya.
3. Lembaga Penunjang.
Fungsi lembaga penunjang ini antara lain turut serta mendukung
beroperasinya pasar modal, sehingga mempermudah baik emiten maupun investor
dalam melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pasar modal. Lembaga
penunjang yang memegang peranan penting di dalam mekanisme pasar modal
adalah sebagai berikut :
a. Penjamin emisi (underwriter). Lembaga yang menjamin terjualnya
saham/obligasi sampai batas waktu tertentu dan dapat memperoleh dana
yang diinginkan emiten.
b. Perantara perdagangan efek (broker / pialang). Perantaraan dalam jual
beli efek, yaitu perantara antara si penjual (emiten) dengan si pembeli
(investor). Kegiatan yang dilakukan oleh broker antara lain adalah
memberikan informasi tentang emiten dan penjualan efek kepada
c. Perdagangan efek (dealer), berfungsi sebagai pedagang dalam jual beli
efek dan sebagai perantara dalam jual beli efek.
d. Penanggung (guarantor). Lembaga penengah antara si pemberi
kepercayaan dengan si penerima kepercayaan. Lembaga yang dipercaya
oleh investor sebelum menanamkan dananya.
e. Wali amanat (trustee). Jasa wali amanat diperlukan sebagai wali dari si
pemberi amanat (investor). Kegiatan wali amanat meliputi :
1) Menilai kekayaan emiten.
2) Menganalisis kemampuan emiten.
3) Melakukan pengawasan dan perkembangan emiten.
4) Memberi nasehat kepada para investor dalam hal yang berkaitan
dengan emiten.
5) Memonitor pembayaran bunga dan pokok obligasi.
6) Bertindak sebagai agen pembayaran.
f. Perusahaan surat berharga (securities company). Mengkhususkan diri
dalam perdagangan surat berharga yang tercatat di bursa efek. Kegiatan
perusahaan surat berharga antara lain :
1) Sebagai pedagang efek.
2) Penjamin emisi.
3) Perantara perdagangan efek.
g. Perusahaan pengelola dana (investment company). Mengelola surat-surat
berharga yang akan menguntungkan sesuai dengan keinginan investor,
terdiri dari 2 unit yaitu sebagai pengelola dana dan penyimpan dana.
h. Kantor administrasi efek. Kantor yang membantu para emiten maupun
investor dalam rangka memperlancar administrasinya.
1) Membantu emiten dalam rangka emisi.
2) Melaksanakan kegiatan menyimpan dan pengalihan hak atas saham
para investor.
3) Membantu menyusun daftar pemegang saham.
4) Mempersiapkan koresponden emiten kepada para pemegang saham.
5) Membuat laporan-laporan yang diperlukan.
2.1.3.3 Fungsi dan Manfaat Pasar Modal
Sebagai pasar berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang biasa
diperjualbelikan, maka pasar modal menurut Sunariah dalam bukunya
pengetahuan pasar modal (2003 : 8) menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu :
1. Fungsi Ekonomi
Pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua
kepentingan, yaitu investor pihak yang memiliki kelebihan dana dan issuer pihak
yang memerlukan dana. Dengan adanya pasar modal maka pihak yang memiliki
kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan
memperoleh return (imbalan) sedangkan pihak issuer dalam hal ini perusahaan
yang dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus
2. Fungsi Keuangan
Pasar modal memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh return
(imbalan) bagi pemilik dana, sesuai dengan karateristik investasi yang dipilih.
Dengan adanya pasar modal diharapkan aktifitas perekonomian menjadi
meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi
perusahaan-perusahaan. Sehingga perusahaan dapat beroperasi dengan skala yang lebih besar
dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran
masyarakat luas.
Pekembangan ekonomi suatu negara sangat ditentukan oleh lembaga
perbankan dan keuangan termasuk di dalamnya pasar modal. Menurut Sunariah
dalam bukunya Pengetahuan Pasar Modal (2003 : 9) bahwa manfaat pasar modal,
yaitu :
1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha
sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal.
2. Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan upaya
diversifikasi.
3. Menyediakan leding indikator bagi trend ekonomi negara.
4. Penyebaran kepemilikan perusahaan sampai lapisan masyarakat menengah.
5. Penyebaran kepemilikan, keterbukaan dan profesionalisme, menciptakan
iklim berusaha yang sehat.
6. Menciptakan lapangan kerja / profesi yang menaik.
2.1.3.4 Instrumen Pasar Modal
Menurut BAPEPAM, instrument pasar modal terdiri dari :
1. Saham
Saham adalah sertifikat yang menunjukan bukti kepemilikan suatu
perusahaan dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva
perusahaan. Manfaat yang diperoleh dari pemilikan saham adalah sebagai berikut:
a. Deviden : Bagian dari keuntungan yang dibagikan kepada pemilik
saham.
b. Capital gain : Keuntungan yang diperoleh dari selisih positif harga beli
dan harga jual saham.
c. Manfaat non finansial, yaitu memiliki hak suara dalam aktivitas
perusahaan.
2. Obligasi
Obligasi adalah surat pengakuan hutang suatu perusahaan yang akan
dibayar pada waktu jatuh tempo sebesar nilai nominalnya. Penghasilan yang
diperoleh dari obligasi berupa tingkat bunga yang akan dibayarkan oleh
perusahaan penerbit obligasi tersebut pada saat jatuh tempo.
3. Surat Berharga Turunan (Derivative)
Selain dua jenis efek diatas yang sudah banyak digunakan sebagai media
hutang di bursa efek Indonesia, terdapat beberapa jenis efek yang merupakan
a. Option (opsi)
Option adalah surat pernyataan yang dikeluarkan oleh
seseorang/lembaga (tetapi bukan emiten) untuk memberikan hak kepada
pemegangnya untuk membeli saham (call option) dan menjual saham (put
option) pada harga yang telah ditentukan sebelumnya.
b. Warrant
Warrant adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan
yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham
perusahaan dengan persyaratan yang telah ditentukan sebelumnya.
Persyaratan tersebut biasanya mengenai harga, jumlah, dan masa berlakunya
warrant tersebut.
c. Right
Right adalah surat yang diterbitkan oleh perusahaan yang
memberikan hak kepada pemegangnya (pemilik saham biasa) untuk
membeli tambahan saham pada penerbitan saham baru. Sering juga dikenal
dengan HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu).
d. Reksadana
Reksadana adalah saham, obligasi, atau efek lain yang dibeli oleh
sejumlah investor dan dikeloala oleh sebuah perusahaan investasi
2.1.4 Saham
Saham merupakan instrumen investasi yang banyak diperdagangkan
karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Menurut
Irham Fahmi dan Yovi Lavianti Hadi (2009:68) saham adalah:
1. Tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana pada suatu perusahaan.
2. Kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan dan
diikitu dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap
pemegangnya.
3. Persediaan yang siap untuk dijual.
Menurut Suad Husnan (2005:36) “saham adalah bukti tanda kepemilikan
atas suatu perusahaan”, sedangkan menurut Robert Ang (1997:2) “saham adalah
surat berharga sebagai bukti penyertaan atau kepemilikan individu maupun
institusi dalam suatu perusahaan berbentuk perseroan terbatas”.
Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa saham
merupakan tanda bukti kepemilikan individu atau institusi atas suatu perusahaan
dan mempunyai hak atas sebagian kekayaan perusahaan sesuai dengan jumlah
2.1.4.1 Jenis – Jenis Saham
Menurut Jogiyanto (2010: 111) ada beberapa jenis saham yang beredar di
masyarakat, antara lain:
1. Saham preferen (preferred stock)
Saham preferen mempunyai sifat gabungan (hybrid) antara obligasi (bond)
dan saham biasa. Seperti bond yang membayarkan bunga atas pinjaman,
saham preferen juga memberikan hasil tetap berupa dividen preferen.
Dibandingkan dengan saham biasa, saham preferen mempunyai beberapa
hak, yaitu hak atas dividen tetap dan hak pembayaran terlebih dahulu jika
terjadi likuidasi. Oleh Karena itu, saham preferen dianggap mempunyai
karakteristik ditengah-tengah antara bond dan saham biasa
2. Saham biasa (common stock)
Jika perusahaan hanya mengeluarkan satu kelas saham saja, saham ini
biasanya dalam bentuk saham biasa. Pemegang saham adalah pemilik dari
perusahaan yang mewakilkan kepada manajemen untuk menjalankan operasi
perusahaan sebagai pemilik perusahaan, pemegang saham biasa mempunyai
beberapa hak, yaitu hak control (pemegang saham bias mempunyai hak untuk
memlilih dewan direksi), hak menerima pembagian keuntungan (sebagai
pemilik perusahaan, pemegang saham berhak mendapat bagian dari
3. Saham Treasuri (treasury stock)
Saham Treasuri adalah saham milik usahaan yang sudah pernah dikeluarkan
dan beredar yang kemudian dibeli kembali oleh perusahaan untuk tidak
dipernsiunkan tetpai disimpan sebagai treasuri.
2.1.4.2 Nilai Saham
Menurut Jogiyanto (2010: 122) Ada berbagai jenis nilai saham, yaitu:
1. Nilai par / Nilai nominal (par value / face value)
Nilai nominal dari suatu saham merupakan nilai kewajiban yang ditetapkan
untuk tiap-tiap lembar saham. Kepentingan dari nilai nominal adalah untuk
kaitannya dengan hukum. Nilai nominal ini merupakan modal per lembar
yang secara hukum harus ditahan di perusahaan untuk proteksi kepada
kreditor yang tidak dapat diambil oleh pemegang saham.
2. Nilai buku (book value)
Nilai buku per lembar saham menunjukkan aktiva bersih yang dimiliki oleh
pemegang saham dengan memiliki satu lembar saham. Karena aktiva bersih
adalah sama dengan total ekuitas pemegang saham, maka nilai buku per
3. Nilai pasar (market value)
Nilai pasar berbeda dengan nilai buku, jika nilai nuku merupakan nilai yang
dicatat pada saat saham dijual oleh perusahaan, maka nilai pasar adalah harga
saham yang terjadi di pasar bursa saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku
pasar.
4. Nilai intrinsik / Nilai riil (fair value / reasonable value)
Nilai intrinsik adalah nilai sebenarnya dari saham yang diperdagangkan.
Sedangkan nilai pasar adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa pada
saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar.
2.1.4.3 Harga Saham
Harga saham menurut Jogiyanto (2010: 8) adalah harga saham yang terjadi
di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan
oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal.
Sedangkan menurut Agus Sartono (2001: 9), harga saham terbentuk
dipasar dipasar modal dan ditentukan oleh beberapa faktor seperti laba per lembar
saham (Earning Per Share), rasio laba terhadap harga per lembar saham atau
price earning ratio (PER), tingkat bunga bebas resiko yang diukur dari tingkat
Dilihat pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa harga saham terbentuk
dari adanya transaksi yang terjadi di pasar modal yang ditentukan oleh permintaan
dan penawaran saham yang bersangkutan dengan dipengaruhi oleh beberapa
faktor.
Menurut Weston dan Brigham (2005: 26), faktor-faktor yang
mempengaruhi harga saham adalah :
1. Laba per lembar saham (Earning Per Share/EPS)
Seorang investor yang melakukan investasi pada perusahaan akan menerima
laba atas saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar saham
(EPS) yang diberikan perusahaan akan memberikan pengembalian yang
cukup baik. Ini akan mendorong investor untuk melakukan investasi yang
lebih besar lagi sehingga harga saham perusahaan akan meningkat.
2. Tingkat Bunga
Tingkat bunga dapat mempengaruhi harga saham dengan cara :
a. Mempengaruhi persaingan di pasar modal antara saham dengan obligasi,
apabila suku bunga naik maka investor akan menjual sahamnya untuk
ditukarkan dengan obligasi. Hal ini akan menurunkan harga saham. Hal
sebaliknya juga akan terjadi apabila tingkat bunga mengalami penurunan.
b. Mempengaruhi laba perusahaan, hal ini terjadi karena bunga adalah biaya,
semakin tinggi suku bunga maka semakin rendah laba perusahaan. Suku
bunga juga mempengaruhi kegiatan ekonomi yang juga akan
3. Jumlah Kas Deviden yang Diberikan
Kebijakan pembagian deviden dapt dibagi menjadi dua, yaitu sebagian
dibagikan dalam bentuk deviden dan sebagian lagi disisihkan sebagai laba
ditahan. Sebagai salah satu factor yang mempengaruhi harga saham, maka
peningkatan pembagian deviden merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan kepercayaan dari pemegang saham karena jumlah kas deviden
yang besar adalah yang diinginkan oleh investor sehingga harga saham naik
4. Jumlah laba yang didapat perusahaan
Pada umumnya, investor melakukan investasi pada perusahaan yang
mempunyai profit yang cukup baik karena menunjukan prospek yang cerah
sehingga investor tertarik untuk berinvestasi, yang nantinya akan
mempengaruhi harga saham perusahaan.
5. Tingkat Resiko dan Pengembalian
Apabila tingkat resiko dan proyeksi laba yang diharapkan perusahaan
meningkat maka akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Biasanya
semakin tinggi resiko maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian saham
yang diterima.
Sedangkan menurut Alwi (2003: 87), ada beberapa faktor yang
mempengaruhi pergerakan harga saham atau indeks harga saham, antara lain:
1. Faktor Internal (Lingkungan Mikro)
b. Pengumuman pendanaan (financing announcements), seperti pengumuman
yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.
c. Pengumuman badan direksi manajemen (management-board of director
announcements) seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen,
dan struktur organisasi.
d. Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan merger,
investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi,
laporan divestasi dan lainnya.
e. Pengumuman investasi (investment annuncements), seperti melakukan
ekspansi pabrik, pengembangan riset dan, penutupan usaha lainnya..
f. Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negoisasi
baru, kontrak baru, pemogokan dan lainnya.
g. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba
sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, earning per share
(EPS) dan dividen per share (DPS), price earning ratio, net profit margin,
return on assets (ROA), dan lain-lain. 2. Faktor Eksternal (Lingkungan Makro)
a. Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan
deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi
ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
b. Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan karyawan
terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan
c. Pengumuman industri sekuritas (securities announcements), seperti
laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham
perdagangan, pembatasan/penundaaan trading.
d. Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan
faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya pergerakan harga
saham di bursa efek suatu negara.
e. Berbagai isu baik dari dalam negeri dan luar negeri.
2.1.4.4 Analisis Harga Saham
Sebelum megnambil keputusan untuk melakukan investasi atau pembelian
suatu saham, investor biasanaya menggunakan beberapa metode analisis saham
seperti yang dijelaskan Jogiyanto (2010: 126), yaitu:
a. Analisis Fundamental
Suad Husnan (2005: 307) mengatakan analisis fundamental mencoba
memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan :
1. Mengestimasi nilai faktor – faktor fundamental yang mempengaruhi
harga saham di masa yang akan datang.
2. Menerapkan hubungan variabel – variabel tersebut sehingga diperoleh
taksiran harga saham.
Model ini sering disebut sebagai share price forecasting model, dan sering
dipergunakan dalam berbagai pelatihan analisa sekuritas.
kunci dalam laporan keuangan untuk memperhitungkan apakah harga saham
sudah diapresiasi secara akurat.
Analisis fundamental menggunakan data – data yang ada dalam laporan
keuangan perusahaan dan informasi lain yang didapat sebagai acuan atau bahan
yang diolah atau dianalisis untuk memprediksi kinerja perusahaan di masa yang
akan datang.
b. Analisis Teknikal
Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham
dengan mengamati perubahan harganya diwaktu yang lalu, volume perdagangan
dan indeks harga saham gabungan
Para pelaku pasar modal di Bursa Efek Indonesia menggunakan informasi
tersebut untuk meraih keuntungan dari investasi mereka dengan cara menentukan
kapan akan membeli atau menjual saham, dengan memanfaatkan
indikator-indikator teknis ataupun menggunakan analisis grafis.
2.1.5 Return Saham
Return saham ialah hasil yang diperoleh dari suatu investasi (Jogiyanto,
2010: 109). Menurut Jogiyanto (2010: 109), return dibedakan menjadi 2 (dua),
yaitu:
a. Return realisasian (realized return) merupakan return yang telah
terjadi. Return realisasian dihitung menggunakan data historis. Return
realisasian penting digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja
b. Return ekspektasian (expected return) merupakan return yang
diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang yang
belum terjadi.
Menurut Ang (1997: 23), Expected return didefinisikan sebagai return yang
diharapkan oleh seorang investor atas suatu investasi yang akan diterima pada
masa yang akan datang. Faktor yang mempengaruhi return suatu investasi yaitu
faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor internal perusahaan sebagai contoh kualitas dan reputasi
manajemennya, struktur permodalannya, struktur hutang perusahaan,
dan lain sebagainya.
2. Faktor eksternal seperti pengaruh kebijakan moneter dan fiskal,
perkembangan sektor industrinya, dan lainnya. Faktor ekonomi
misalnya terjadinya inflasi (kenaikan harga) dan deflasi (penurunan
harga).
Dalam penelitian ini jenis return yang digunakan adalah return realisasi
dimana return yang telah terjadi dan dihitung berdasarkan data historis dan
sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan di pasar modal.
Menurut Jogiyanto (2010: 207) pada umumnya untuk menghitung return
Jogiyanto (2010: 207)
Keterangan:
Rit : tingkat keuntungan saham i pada periode t.
Pit : harga penutupan saham i pada periode t (periode terakhir)
Pit-1 : harga penutupan saham i pada periode sebelumnya (awal)
Tujuan investor menanamkan dananya adalah dengan tujuan mencari
pendapatan atau pengembalian investasi (return) baik berupa cash dividend
maupun capital gain yang didapat dari selisih antara harga jual saham terhadap
harga belinya. Tanpa adanya keuntungan yang dapat dinikmati dari suatu investasi
tentunya investor tidak mau berinvesitasi jika pada akhirnya tidak ada hasil (Ang,
1997).
2.2 Pengaruh Nilai Pasar Terhadap Return Saham
Menurut Robert Ang (1997:18.44) nilai pasar dapat diukur dengan
beberapa pendekatan yaitu dividend Yield, Dividend Per Share (DPS), Earning
Per Share (EPS), Dividend Payout Ratio (DPR), Price Earning Ratio (PER),
Book Value Share (BVS), Price to Book Value (PBV).
PBV (Price to Book Value) menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari
apa yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi
perusahaan (Husnan, 2006: 76). Definisi PBV sendiri adalah perbandingan antara
harga saham di pasar dengan nilai buku saham tersebut (Harahap, 2008: 311). Jika
disimpulkan apabila harga pasar berada dibawah nilai bukunya, investor
memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial. Bila seorang investor
pesimis atas suatu prospek suatu saham maka banyak saham yang dijual pada
harga dibawah nilai buku sedangkan bila investor optimis maka saham dijual
dengan harga diatas nilai bukunya. Semakin tinggi nilai PBV maka semakin tinggi
pula perusahaan itu dinilai oleh investor dibandingkan dengan dana yang
ditanamkan di perusahaan tersebut (Ang, 1997).
2.3 Penelitian Terdahulu
1. Fahmi Poernamawati (2008) Pengaruh Price Book Value Ratio (PBV)
dan Price Earning Ratio (PER) terhadap Return Saham Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian
terdapat pengaruh yang signifikan dari price to book value dan price
earning ratio terhadap return saham.
2. Putu Rendi Suryagung Ryadi dan I Ketut Sujana (2013) Pengaruh Price
Earnings Ratio, Profitabilitas, Nilai Pasar terhadap return saham indeks
LQ45 di BEI. Hasil penelitiannya adalah Price Earnings Ratio dan
Profitabilitas berpengaruh negatif sedangkan nilai pasar yang diukur oleh
Price to Book Value berpengaruh positif terhadap return saham indeks
3. Penelitian Wardjono (2010) Analisis Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Price to Book Value Implikasinya Terhadap Return
Saham. Hasil penelitiannya adalah Price to book value berpengaruh
positif dan signifikan terhadap return saham.
4. Jurnal Penelitian I Wayan Adi dan Henny Rahyuda (2012) Pengaruh
Faktor Fundamental terhadap Return Saham pada perusahaan makanan
dan minuman di BEI. Hasil dari penelitian ini adalah DER, EPS, NPM,
PBV secara simultan berpengaruh signifikan terhadap return saham pada
perusahaan makanan dan minuman di BEI.
5. Jurnal Penelitian Meythi dan Mariana Mathilda (2012) Pengaruh PER
dan PBV terhadap Return Saham Indeks LQ45 2007-2009. Hasil dari
penelitian ini adalah PER dan PBV secara simultan tidak berpengaruh
terhadap Return Saham.
6. Jurnal Penelitian Agung Sugiarto (2011) Analisis Pengaruh Beta, Size
Perusahaan, DER dan PBV terhadap Return Saham. Hasil Penelitan ini
adalah PBV memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Return
Saham.
2.4 Kerangka Pemikiran
Kinerja keuangan suatu perusahaan merupakan salah satu informasi
terpenting yang harus diketahui oleh para investor. Informasi tersebut dapat
dijadikan oleh investor sebagai alat ukur pertimbangan untuk mengambil
keputusan dalam berinvestasi dengan cara melihat potensi kinerja perusahaan di
kondisi yang mencerminkan keadaan keuangan suatu perusahaan berdasarkan
sasaran, standar, dan kriteria yang telah ditetapkan”.
Komponen-komponen kinerja keuangan berupa rasio keuangan merupakan
alat yang dapat digunakan untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan
perusahaan. Kinerja keuangan dapat ditinjau melalui berbagai pendekatan
diantaranya: profitabilitas, likuiditas, aktivitas, pasar dan solvabilitas.
Nilai pasar dapat diukur dengan beberapa pendekatan yaitu dividend Yield,
dividend per share (DPS), earning per share (EPS), dividend payout ratio (DPR), price earning ratio (PER), book valueshare (BVS), price to book value (PBV).
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah price to book value
karena menurut Tandelilin (2001), ada hubungan antara harga saham dengan nilai
buku (book value) per lembar saham dan itu bisa dijadikan pendekatan untuk
mencari nilai suatu saham, karena secara teori nilai buku tercermin dari nilai pasar
suatu saham. Perbandingan antara harga saham dengan nilai buku ekuitas
perusahaan dapat menggunakan rasio PBV karena menunjukan seberapa besar
kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai relatifnya terhadap modal yang
diinvestasikan oleh investor.
PBV menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau
sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan (pemegang saham), semakin tinggi
rasio ini semakin besar tambahan kekayaan (wealth) yang dinikmati oleh pemilik
perusahaan (Husnan, 2006: 76). Semakin tinggi PBV maka semakin besar nilai
permintaan akan saham perusahaan tersebut. Dengan tingginya permintaan saham
di pasar modal maka harga saham perusahaan tersebut akan terdorong dan return
bagi investor pun akan naik. Definisi PBV sendiri adalah perbandingan antara
harga saham di pasar dengan nilai buku saham tersebut yang digambarkan di
neraca (Harahap, 2008: 311).
Investor akan menanamkan modalnya dengan tujuan mencari pendapatan
atau pengembalian investasi (return) baik berupa cash dividend maupun capital
gain yang didapat dari selisih antara harga jual saham terhadap harga belinya.
Tanpa adanya keuntungan yang dapat dinikmati dari suatu investasi tentunya
investor tidak mau berinvesitasi jika pada akhirnya tidak ada hasil (Ang, 1997).
Penurunan return saham bagi investor sangat berdampak pada turunnya
hasil investasi karena turunnya nilai return perusahaan. Dengan turunnya return
maka investor pun akan berfikir kembali untuk berinvestasi dengan membeli
saham di pasar modal, bahkan investor akan menjual saham yang telah dibeli
untuk menghindari kerugian. Sebaliknya jika return saham meningkat maka
investor akan berinvestasi dengan membeli saham perusahaan tersebut di pasar
modal karena return saham yang tinggi akan menghasilkan keuntungan yang
Sumber : Rahardjo (2009)
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Pengaruh Nilai Pasar Terhadap Return Saham Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
: Pengaruh Antar Variabel KINERJA KEUANGAN
PERUSAHAAN
LIKUIDITAS
SOLVABILITAS AKTIVITAS PROFITABILITAS
NILAI PASAR
PASAR MODAL
RETURN SAHAM HARGA SAHAM
2.5 Paradigma Penelitian
Menurut Sugiyono (2011: 42), paradigma penelitian merupakan pola pikir
yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti dan umumnya
mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang akan dijawab melalui
penelitian, kegunaan teori ini adalah untuk merumuskan hipotesi, jenis dan jumlah
hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan.
Berikut merupakan gambaran dari paradigma pemikiran yang sesuai
dengan uraian diatas :
Sumber : Rahardjo (2009)
Gambar 2.2 Paradigma Pemikiran 2.6 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat
praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Menurut Suharsimi
Arikunto (2006:71) “hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara
terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul”.
Sedangkan menurut Sugiyono (2011) “hipotesis adalah jawaban sementara
terhadap rumusan masalah penelitian, dikatakan sementara karena jawaban yang
diberikan baru didasarkan pada fakta-fakta yang empiris yang diperoleh melalui
pengumpulan data”.
Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang diajukan penulis adalah
sebagai berikut :
BAB IV
TEMUAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Temuan
4.1.1 Gambaran Umum
Di Bursa Efek Indonesia terdapat 3 sektor, yaitu sektor utama (industri
penghasil bahan baku), sektor kedua (industri manufaktur), dan sektor ketiga
(industri jasa). Sektor utama terdiri dari sektor pertanian dan pertambangan, sektor
kedua yaitu sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri dan sektor
industri barang konsumsi, sedangkan sektor ketiga terdiri dari sektor property dan
real estate, sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi, sektor keuangan, dan
sektor perdagangan, jasa dan investasi.
Didalam sektor pertambangan terdapat 4 subsektor, yaitu subsektor batu
bara, subsektor minyak dan gas bumi, subsektor logam dan mineral, subsektor
batu – batuan. Dalam keempat subsektor ini terdapat total 38 emiten dengan
rincian, 21 emiten pada subsektor batu bara, 7 emiten dalam subsektor minyak
dan gas bumi, 8 emiten di subsektor logam dan mineral dan 2 emiten di subsektor
batu – batuan.
Dari total 38 emiten ini hanya ada 20 emiten yang konsisten terdaftar di
Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008 – 2013, berikut adalah daftar nama
Tabel 4.1
Daftar Nama Perusahaan Yang Masuk Kedalam Objek Penelitian (Perusahaan Yang Konsisten Terdaftar di Bursa Efek Indonesia 2008 – 2013)
NO. Perusahaan Kode
Emiten Tanggal Listing
1 ANEKA TAMBANG (Persero) Tbk. ANTM 27 November 1997
2 RATU PRABU ENERGI Tbk. ARTI 30 April 2003
3 ATPK RESOURCES TbK. ATPK 17 April 2002
4 BUMI RESOURCES Tbk. BUMI 30 Juli 1990
5 CITA MINERAL INVESTINDO Tbk. CITA 20 Maret 2002
6 CAKRA MINERAL Tbk. CKRA 19 Mei 1999
12 INDO TAMBANGRAYA MEGAH Tbk. ITMG 18 Desember 2007
13 RESOURCE ALAM INDONESIA Tbk. KKGI 1 Juli 1991
14 MEDCO ENERGI INTERNASIONAL Tbk. MEDC 12 Oktober 1994
15 MITRA INVESTINDO Tbk. MITI 16 Juli 1997
16 PERDANA KARYA PERKASA Tbk. PKPK 11 Juli 2007
17 TAMBANG BATU BARA BUKIT ASAM (Persero) Tbk. PTBA 23 Desember 2002
18 PETROSEA Tbk. PTRO 21 Mei 1990
19 RADIANT UTAMA INTERINSCO Tbk. RUIS 12 Juli 2006
20 TIMAH (Persero) Tbk. TINS 19 Oktober 1995
Berikut adalah 20 profil singkat perusahaan pertambangan yang konsisten
terdaftar di BEI dari tahun 2008 – 2013 :
4.1.1.1 Profil PT. Aneka Tambang (persero) Tbk. (ANTM)
PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) didirikan dengan nama
"Perusahaan Negara (PN) Aneka Tambang" tanggal 05 Juli 1968 dan mulai
beroperasi secara komersial pada tanggal 5 Juli 1968. Kantor pusat ANTM
adalah Pemerintah Republik Indonesia, dengan memiliki 1 Saham Preferen
(Saham Seri A Dwiwarna) dan 65% di saham Seri B.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan ANTM
adalah di bidang pertambangan berbagai jenis bahan galian, serta menjalankan
usaha di bidang industri, perdagangan, pengangkutan dan jasa lainnya yang
berkaitan dengan galian tersebut. Saat ini, Kegiatan utama Perusahaan meliputi
bidang eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian serta pemasaran bijih nikel,
feronikel, emas, perak, bauksit, batubara dan jasa pemurnian logam mulia. Di
tahun 2014, Perusahaan akan mulai menjual komoditas baru chemical grade
alumina (CGA) seiring dengan mulai beroperasinya pabrik pengolahan CGA di
Tayan, Kalimantan Barat. Selain itu Perusahaan juga tengah mengembangkan
bisnis pembangkit tenaga listrik.
Pada tanggal 27 Nopember 1997, ANTM memperoleh pernyataan efektif
dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ANTM
(IPO) kepada masyarakat sebanyak 430.769.000 saham (Seri B) dengan nilai
nominal Rp500,- per saham dan Harga Penawaran Perdana sebesar Rp1.400,- per
saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada
tanggal 27 Nopember 1997.
4.1.1.2 Profil PT. Ratu Prabu Energi Tbk. (ARTI)
Ratu Prabu Energi Tbk (dahulu PT Arona Binasejati Tbk) (ARTI)
didirikan tanggal 31 Maret 1993 dan memulai kegiatan operasinya secara
komersial pada tahun 1996. Kantor pusat ARTI beralamat di Gedung Ratu Prabu