Seni Budaya Seni Rupa SMP KK G Prof

122  12 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Mata Pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

GURU PEMBELAJAR

MODUL PELATIHAN GURU

KELOMPOK KOPETENSI G

Profesional :

Pengertian Gambar Model

Pedagogik :

Berkomunikasi Secara Efektif, Empatik, dan Santun

dengan Peserta Didik

U PEMBELAJ

AR

MA

TA PELAJ

ARAN SENI R

UP

A SMP

KEL

OMPOK K

(2)

Zulfi Hendri, M.Sn..

PENGERTIAN

GAMBAR MODEL

PENGERTIAN

GAMBAR MODEL

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI G

MATA PELAJARAN SENI BUDAYA/SENI RUPA

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

(3)
(4)

Copyright 2016

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan

Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan

c

Penulis : Zulfi Hendri, M.Sn.

Editor Substansi : Drs. IGN Swastapa, M.Ds. Editor Bahasa : Drs. Noor Widijantoro, M.Pd.

PENGERTIAN

GAMBAR MODEL

PENGERTIAN

GAMBAR MODEL

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI G

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

HALAMAN JUDUL ………..………. i

SAMBUTAN DIRJEN GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN …………. iii

KATA PENGANTAR ………....……… v

DAFTAR ISI ………...……... vii

DAFTAR GAMBAR ………. ix

PENDAHULUAN ………....……. 1

A. Latar Belakang ………. 1

B. Tujuan ………..………...….. 1

C. Peta Kompetensi ………...……. 1

D. Ruang Lingkup ……….……… 2

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. GAMBAR MODEL MANUSIA ....………. 3

A. Pengertian Model Manusia ... 3

B. Metode Pembinaan Gambar Model ... 5

C. Pemilihan dan Penataan Obyek ... 8

D. Teknik Menggambar Model ... 9

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2. SKETSA ... 17

A. Pengertian Sketsa ... 17

B. Tahapan dalam Membuat Sketsa ... 22

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3. PERMASALAHAN DALAM GAMBAR MODEL ... 23

A. Prinsip-prinsip dalam Gambar Model ... 23

B. Elemen-elemen dalam Gambar Model ... 28

C. Latihan/Kasus/Tugas ……….. 33

DAFTAR PUSTAKA ... 35

(11)
(12)

Gambar 1 Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan ... 18 Gambar 2 Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan tinggi

(13)
(14)

A. Latar Belakang

Modul ini merupakan bahan ajar yang digunakan untuk Kegiatan Guru Pembelajar mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) Sekolah Menengah Pertama (SMP). Modul ini berisi materi tentang: 1) Petunjuk Penggunaan Modul, 2) Teori Belajar serta Pendekatan Pembelajaran Seni Budaya (Seni Rupa), 3) Pengertian Gambar Model Manusia, Sketsa, dan Permasalahan dalam Gambar Model.

B. Tujuan

Modul ini diperuntukkan bagi guru-guru yang mengajar mata pelajaran Seni Budaya di SMP. Modul ini memberikan pengayaan bagi guru Seni Budaya yang memiliki latar belakang pendidikan seni rupa. Agar memiliki pengalaman belajar Seni Budaya yang baik, maka guru harus memiliki kemauan dalam mengekspresikan konsep seni rupa khususnya tentang gambar model, baik secara teoritis maupun praktis.

C. Peta Kompetensi

Modul ini dapat dipelajari secara mandiri maupun melalui pengarahan dan bimbingan dari instruktur. Secara madiri guru harus memahami konsep dan teori substansi yang dipaparkan, kemudian diimplentasikan melalui praktik.

Demikian pula penerapan materi seni budaya ke dalam berbagai pendekatan diharapkan dapat membantu meningkatkan hasil belajar seni budaya melalui berbagai model pembelajaran sesuai yang dipaparkan dalam modul ini.

D. Ruang Lingkup

(15)
(16)

GAMBAR MODEL MANUSIA

A. Pengertian Gambar Model Manusia

lstilah Gambar model atau Gambar benda, dalam bahasa lnggris "Still Life" atau "Still-life" adalah "Picture of inanimate objects, common still life subjects include vessels, food, flowers, books, clothing". Dari pengertian tersebut dapat diartikan bahwa gambar model adalah lukisan atau gambar yang menggunakan obyek hidup dan dapat juga berupa benda mati.

Gambar model sebenarnya masih merupakan bagian dari seni lukis, namun ada pendapat yang memasukkan gambar model ini ke-wilayah menggambar (drawing). Hal ini dapat dimengerti, karena keduanya mempunyai cara pandang dan konsepsi yang berbeda meskipun jika dikaji lebih mendalam keduanya mempunyai perbedaan sangat tipis. Sebagai contoh gambar model di bidang seni rupa mungkin lain jika dibandingkan dengan di bidang Arsitektur, baik ditinjau dari tujuan, fungsi, maupun dari segi teknik yang digunakan.

Dalam dunia seni rupa, khususnya seni lukis, gambar model sering dianggap sebagai suatu disiplin ilmu menggambar yang baik (trampil) menarik terutama dalam komposisi. Gambar model seringkali diperlakukan sebagai upaya latihan menggambar obyek benda hidup (manusia) secara tepat. lni berarti yang dilatih adalah masalah keterampilan teknik menggambar dan prinsip-prinsip penyusunan elemen yang terkait, tanpa melibatkan emosi. Sehingga kadang-kadang hasil gambar model tampak tidak hidup, tanpa melibatkan emosi. Karena dalam gambar model semata-mata hanya melatih teknik menggambar secara baik. Sebenarnya secara visual antara menggambar model dengan melukis manusia tidaklah terlalu berbeda jauh .

(17)

Keduanya obyek yang digambar bisa sama, tetapi bagaimana cara memandang obyek yang digambar berbeda. Pada lukisan tidak meniru obyek seperti halnya pada gambar model melainkan merupakan hasil intepretasi dari obyek yang digambar. lni berarti obyek belum tentu sesuai dengan yang diinginkan, jika belum sesuai maka bisa dikurangi, ditambah bahkan diubah sesuai dengan keinginan pelukis, dan hal tersebut ada benarnya jika dikaitkan dengar sebuah pendapat bahwa "Seni lukis adalah merupakan manifestasi ekspresi estetis dengan menggunakan garis, bidang dan warna". Dari uraian tesebut setidaknya dapat memberikan gambaran tentang perbedaan antara gambar model dan lukisan, sehingga dalam pembahasan selanjutnya tidak terjadi pemahaman yang salah.

Banyak pelukis atau seniman tertarik dan menghargai lukisan dengan objek benda hidup atau mati. Ketiadaan emosi dan sifatnya yang statis, kemungkinan lebih besar sebagai pengalaman estetis, yang diakibatkan permasalahan dan pertimbangan yang sifatnya pribadi. Namun suatu ungkapan pada lukisan dan obyek gambar model, bisa bukan bersifat pribadi, melainkan dihargai sebagai alat bantu dalam teknik menggambar (melukis) secara baik, maka gambar model lebih sering di perlakukan sebagai suatu latihan.

Berbagai hasil karya gambar model atau lukisan dengan obyek benda hidup yang ada, masing-masing pelukis menggunakan bahan/media dan teknik yang bervariasi sesuai dengan kesenangannya. Jika seluruh karya tersebut dipilah dan dikelompokkan, maka ada dua macan teknik, yaitu:

1. Teknik Kering adalah menggunakan bahan kering, antara lain; pensil, konte, arang, pastel (crayon) dengan bidang gambar kertas padalarang atau karton.

2. Teknik Basah.

(18)

Gambar model sebagai bagian dari lukisan yang paling sederhana, tidak terlalu bayak melibatkan emosi, karena obyeknya benda hidup atau mati dalam posisi tetap, oleh karenanya sering diartikan sebagai bentuk latihan menggambar atau melatih teknik menggambar secara baik. Untuk itu agar hasilnya optimal diperlukan berbagai persiapan, metode menggambar yang benar dan latihan secara intensif dan kontinyu. Sedangkan bentuk latihan menggambar model, sudah barang tentu diawali dari yang paling mudah ketingkat yang paling sulit, baik dari persoalan pemilih obyek dan penyusunannya yang paling sederhana sampai dengan bagaimana cara menangarai problema teknik menggambar yang sangat kompleks. Permasalahan semacam itu harus dikuasai, namun semuanya dikembalikan pada diri masing-masing, dan hal tersebut semata-mata untuk pemenuhan kreativitas.

B. Metode Pembinaan Gambar Model

Proses pembinaan menggambar model diperlukan metode pendekatan secara langsung dan terbuka. Dengan cara memberikan kebebasan untuk mengadakan eksperimen berfikir, memilih dan memberikan motivasi untuk membeda-bedakan. Sehingga siswa merasa bahwa hal tersebut merupakan suatu kebutuhan. Dengan demikian akan menghasilkan karya-karya yang lebih baik dan memuaskan. Pada sisi lain dalam proses kreatif (berkarya) selain memberikan motivasi dengan menggunakan pendekatan langsung dan terbuka, adalah masalah pembinaan teknis penggarapan/ pengerjaan. Jika dalam proses tersebut terjadi suatu hambatan teknis, maka akan segera dapat ditangani, dan siswa dapat secara cepat, trampil menangani dan menguasainya.

(19)

Pemberian ulasan sewaktu proses menggambar berlangsung sebenarnya sangat menguntungkan, karena jika kesalahan yang vital terjadi, dan diketahui setelah karya tersebut selesai, maka untuk memperbaikinya akan memakan waktu, tenaga dan material yang cukup banyak. Mengingat untuk memperbaiki suatu kesalan dalam sebuah lukisan harus secara menyeluruh, karena permasalahannya yang kompleks, terkait antara elemen satu dengan lainnya. Pemberian ulasan setelah karya selesai juga tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan pemberian ulasan sewaktu proses menggabar berlangsung, karena selain fungsinya menunjukkan kelebihan dan kekurangan secara menyeluruh dari karya yang telah dihasilkan, secara tidak langsung memberikan sejumlah pengetahuan, yang nantinya dapat dijadikan suatu kesadaran dalam melakukan sesuatu sesuai metode yang diajarkan pada karya- karya berikutnya.

Adapun metode pembinaan menggambar bentuk dapat dilakukan antara lain dengan cara:

a. Memberikan pengarahan tentang obyek yang digambar dengan menggunakan metode analitis, baik dari pemilihan obyek, penyusunannya, hubungan antar obyek yang digambar, pencahayaan, gelap terang, draperi dan sebagainya, secara menyeluruh. Begitu pula perlu diberikan pengarahan agar siswa dapat mengembangkan fantasinya. Karena gambar model dengan obyek benda hidup dan mati, tidaklah benar-benar diam, jika pelukis atau siswa dengan baik termotivasi. Obyek gambar model dari benda hidup dan mati adalah diangkat dari alam dan kehidupan. Oleh karenanya tidak ada alasan mengapa obyek alam ini tidak harus dihidupkan kembali pada posisinya yang statis.

(20)

kedalam obyek alami, untuk mengembangkan imajinasi yang sifatnya individual.

Selanjutnya siswa menggunakan obyek yang ada di dalam khayalannya atau pikirannya. Di sini masalahnya adalah obyek alami dibuat untuk melebihi posisinya yang statis atau kurang melibatkan emosi, menjadi ungkapan yang sifatnya sugestif (menjelaskan lebih). Berawal dari pendapat seperti inilah sebenarnya hasil sebuah lukisan yang merupakan intepretasi terhadap objek akan sulit dibedakan dengan gambar model atau gambar bentuk yang menyertakan cerita kedalam objek alami yang memiliki daya ungkap lebih dan sugestif. Namun dengan uraian tersebut, setidaknya akan memberikan sedikit kejelasan dan pemahaman tentang pengertian gambar model.

Pada akhirnya dapat dimulai kegiatan menggambar model dengan menggunakan media cat air atau cat minyak. Melalui melukis dengan obyek benda mati atau benda hidup seperti manusia, akan menawarkan banyak keuntungan. Mereka tidak hanya dapat menemukan sesuatu benda yang tak terhitung banyaknya dan jenis manusia untuk dipilih sebagai obyek yang cukup bagus dan layak untuk dijadikan sebuah lukisan, tetapi juga dapat memilih dan mengatur obyek tersebut diposisikan di atas suatu tempat, mungkin dirubah sedikit, digeser sedikit, dibalik posisinya, memberi obyek tertentu lainnya demi tuntutan komposisi tertentu, atau mungkin tidak ada perubahan didalam pengaturannya.

(21)

yang paling biasa sampai yang bagus. Selain obyek-obyek tersebut juga dapat memanfaatkan kain korden, dari tenunan/tekstur dan warnanya yang menarik, atau bisa juga menggunakan potongan kain dari pakaian lama yang mana pakaian lama sering mempunyai karakter yang menarik dan bagus. Sedikit untuk material baru yang memiliki karakter seperti yang diinginkan itu.

C. Pemilihan dan Penataan Obyek

Membuat gambar model yang baik dan bernilai, perlu adanya persiapan secara menyeluruh. Diantaranya adalah pemilihan obyek apakah itu manuisa atau benda mati lainnya serta penataannya. Obyek sehari-hari yang sederhana adalah merupakan pilihan yang bijaksana. Sebab obyek tersebut meskipun hanya biasa dan kurang bagus, dalam gambar model tidak menjadi masalah. Karena menggambar model harus membuat indah. Ambil sisi baiknya pada sebuah obyek dengan ketajaman mata pelukis dan apresiasi yang dimiliki, maka obyek yang sederhana dan biasa, akan menjadi lukisan yang menarik dan bernilai. Mungkin suatu ketika seseorang perlu mencari obyek dari teman-teman siswa yang berasal dari perkampungan dengan kejelian pengamatan pelukis bisa mendapatkan obyek yang indah dan menarik dari tempat yang jauh dari sekolah.

Pemilihan model jangan dimulai dengan yang terlalu rumit, atau memiliki tingkat kesulitan tinggi, model dapat berupa anak yang cukup berbaju kaos, dan diberi hiasan sederhana. Jumlah model maupun warna jika perlu dikurangi terlebih dahulu. Mungkin ditambah 1 (satu) lembar atau 2 (dua) tangkai bunga dari bentuk yang menarik. lni lebih mudah dan leluasa dalam pengaturannya. Jadi untuk memilih model yang sederhana lebih cenderung dihubungkan dengan penggunaan model atau warna, sehingga dapat mengorganisir kedalam penyatuan komposisi.

(22)

dan kontinyu. lni semua dilakukan agar mendapatkan komposisi yang menarik, bernilai dan bermanfaat.

D. Teknik Menggambar Model

Pada dasarnya teknik menggambar model dan melukis tidaklah berbeda, karena teknik yang digunakan juga teknik-teknik yang biasa digunakan untuk melukis pada umumnya. Teknik dalam menggambar juga bergantung pada media ataupun bahan yang digunakan untuk melukis. Untuk proses pembelajaran sederhana tentunya dapat menggunakan teknik dengan media kering, tetapi untuk pendalaman materi akan dibahas media cat air dan cat minyak. Kedua media ini apakah cat air dan cat minyak sama-sama memiliki sifatnya yang basah, maka teknik penggambarannya perlu memakai kuas/palet. Kuas yang digunakan bervariasi, baik di tinjau dari ukuran, bentuk, atau tingkat kelenturannya. Semua itu semata-mata terkait dengan fungsi dan tujuannya. Dalam hal tertentu penggunaan cat air dan cat minyak bisa sama, sebagai contoh: untuk memberi warna pada bidang yang luas digunakan kuas yang ukurannya besar (Eterna no 12), hanya untuk pencapaian efek tertentu dan sifat bahannya yarig berbeda maka jenis kuas yang digunakan kelembutannya juga disesuaikan. Untuk cat air penggambarannya transparan, oleh karenanya penggunaan air cukup banyak, maka pada umumnya kuas yang digunakan bulu kuasnya lembut. Sedangkan untuk cat minyak yang relatif lebih kental/pekat, maka kuas yang dipakai lebih kaku dan lentur.

(23)

Hal ini disebabkan karena efek kuas yang dilhasilkan tidak sesuai dengan yang dipikir dan dirasakan.

Pengalaman berikutnya tentang penyiapan cat yang diplotot pada palet untuk menggambar, sering dijumpai siswa hanya menyiapkan warna-warna yang pada saat itu akan digunakan, misalnya warna merah, kuning, hijau, untuk penggambaran baju, sedangkan warna untuk latar depan (fore ground) dan latar belakangnya (back ground) menyusul, bahkan mungkin belum terpikirkan, bahwa selama proses menggambar dimungkinkan akan muncul warna-warna lain yang di luar perhitungan. Hal semacam ini sebenarnya merupakan suatu kesalahan yang sangat mendasar. Seharusnya untuk melukis, baik dengan menggunakan media cat air maupun cat minyak, sebelum melukis semua warna yang ada harus sudah disiapkan dengan memelotot di palet yang telah disediakan. Terlepas nantinya wama tersebut akan digunakan atau tidak. Mengapa demikian? Pertama karena sewaktu melukis pada umumnya tanpa diduga sering muncul kebutuhan warna-warna tertentu yang tidak terpikirkan sebelumnya dan jika pada saat membutuhkan warna tersebut ternyata belum tersedia, biasanya pelukis karena terlanjur asyik berekspresi, pada umumnya sudah malas untuk memelotot cat lagi, sehingga pewarnaan berikutnya menjadi seadanya sesuai dengan cat yang telah tersedia. Kebiasan seperti ini sudah barang tentu harsilnya tidak akan ideal karena dipaksakan dengan apa adanya. Kedua keuntungannya jika semua warna telah diplotot (disiapkan) sebelum melukis, warna-warna tersebut akan memberikan rangsangan pengembangan fantasi dalam mewarnai pada obyek yang digarap.

1. Teknik Aquarel (teknik cat air)

(24)

tone yang dibutuhkan. Perlu diingat bahwa perubahan tone pada teknik ini bersifat halus dan lembut.

Efek-efek artistik yang dihasilkan pada lukisan teknik aquarel tampak pada keakuratan sapuan kuas dan kepekaan dalam pengaturan kecairan cat air yang digunakan serta permainan penggunaan alat lainnya, seperti kuas besar, kapas atau kalau perlu menggunakan alat pengering (hair dryer).

Menggambar dengan teknik aquarel sesungguhnya bukan saja terletak pada kepandaian dalam memainkan air. Kemampuan membuat sketsa dalam teknik aquarel sangat dibutuhkan. Karena sketsa berfungsi untuk acuan dalam membentuk dan memberikan warna selanjutnya. Apalagi jika pada lukisan tersebut terdapat warna putih, baik dari putihnya obyek yang digambar atau mungkin dari high light putih kertas yang tidak boleh digantikan dengan putihnya cat air. Jika ini tidak terpenuhi biasanya lukisan tersebut dianggap kurang berhasil akibat kemampuan menyeketnya yang belum mahir. Selain itu kematangan dan ketepatan dalam menggores sangat berharga, mengingat jika warna yang dikuaskan keliru apalagi jika penggunaan airnya kurang, bahkan sudah terlanjur agak kering, maka hal ini sulit dihapus atau dibetulkan. Oleh karena itu keterampilan ini perlu dilatih dengan penuh kesabaran.

Selanjutnya dalam teknik aquarel, biasanya pewarnaan berawal dari warna muda ke warna yang lebih tua atau dari yang terang ke yang lebih gelap. lni tidak boleh terbalik, karena jika terbalik dan kebetulan salah akan sulit diatasi, mengingat kertasnya sudah terlanjur kotor.

2. Teknik Cat Minyak

(25)

karya seni lukisan yang sudah dihasilkan dengan penggunakan cat minyak dengan berbagai teknik yang ada.

Memulai berkarya seni termasuk menggambar model dengan cat minyak, tentunya sama dengan melukis pada umumnya. Pertama-tama setelah pelukis menyiapkan bahan dan alat, pelukis pastilah mengawali dengan proses membuat sketsa terlebih dahulu. Sketsa akan sangat membantu pelukis dalam mengatur komposisi dan proporsi dari objek yang akan digambar. Setelah sketsa selesai dibuat dan dirasa sempurna barulah pelukis mulai menggunakan pewarna untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Berdasarkan pengalaman praktik, sebelum memberikan pewarnaan secara menyeluruh, ada baiknya seluruh permukaan kanvas diberi warna tipis dan cair, misalnya veridian green ditambah bum sienna, atau yellow ochre dicampur dengan bum umbre, disesuaikan dengan wama apa yang nantinya memimpin atau memegang peranan atau prosentasenya paling dominan. Warna tipis dan cair tersebut dipakai untuk membasahi dan juga difungsikan untuk menyatukan antara obyek yang satu dengan lainnya dan menyatukan warna yang satu dengan lainnya secara menyeluruh. Hal ini tampaknya sepele tetapi cukup menentukan untuk langkah berikutnya. Mengingat teknik semacam ini disadari atau tidak disadari akan mengkasilkan kesatuan (unity) warna yang ada dengan kanvas.

(26)

putih yang paling sering dipakai, Zink white bahan bakunya sebagian dari logam Zinkum, warnanya putih cenderung kemerahan, dan sifatnya mudah teroksidasi. Oleh karenanya jika cara menguasnya diulang-ulang pada tempat yang sama, akan mudah tercampur atau terjadi pergesekan dengan udara, sehingga hasilnya kurang jernih (kusam atau letek). Hal ini dapat diatasi dengan sedikit menggoreskan kuas, dengan tekanan kuas yang tidak terlalu kuat. Untuk penguasaan ini perlu latihan yang rutin dan selalu memberikan catatan-catatan pada setiap perubahan yang terjadi.

Cara lain agar cat setelah digoreskan ke kanvas tetap jernih bisa menggunakan pisau palet. Hanya saja akibat pergesekan pisau palet yang datar, hasilnya terlalu mengkilat, sehingga kadang-kadang memantulkan cahaya dan hasilnya kurang enak dipandang. Untuk cat putih (titanium) problemnya sama dengan zink white, hanya bedanya cat- titanium white warnanya putih kebirubiruan. Sedangkan warna putih zink white warnanya cenderung kemerahan, maka warna ini dapat dipergunakan campuran atau kombinasi untuk warna-warna panas (kuning, merah, orange, violet merah, kuning, dan hijau). Sedangkan titanium white untuk warna-warna dingin (hijau, hijau biru, biru, biru violet). Untuk warna hitam (Ivory Black), sesungguhnya jika tidak terpaksa, lebih baik diganti campuran warna Prussion Blue dicampur dengan warna Burn Umbre (coklat tua), campuran ini sudah cukup gelap dan tua. Campuran dari kedua warna ini jika tercampur warna putih selama proses menggambar, abu-abu yang dihasilkan tidak tampak kotor (pucat), hal ini akan berbeda jika dibandingkan dengan warna abu-abu dari hasil percampuran warna hitam dan putih.

(27)

yang sudah bisa melakukan dengan benar. Pada umumnya seorang pemula sewaktu menguas, cat bukannya tertiggal pada kain kanvas, melainkan terjadi yang sebaliknya, cat tersebut malahan mengumpul pada logam dibelakang bulu kuasnya. Kurang berhasilnya menguas tersebut sebenarnya hanya masalah penekanan kuas yang terlalu kuat, oleh karenanya sewaktu menguas perlu sambil merasakan seberapa besar penekanan kuasnya, kalau kuas hanya diletakkan dan digeser hasilnya bagaimana, atau jika tekanannya sedikit dan kuas digeser cepat hasilnya seperti apa dan seterusnya. Dengan latihan menguas menggunakan berbagai variasi, baik tekanan maupun kecepatan menggeser kuas akan memberikan pengalaman yang bermanfaat terutama untuk pemenuhan kebutuhan berekspresi.

Membahas tentang teknik melukis pada umumnya dan khususnya menggambar model, terlebih jika penggambarannya secara realistik, yang notabenya banyak ketentuan, banyak hal yang harus dipatuhi misalnya tentang proporsi, gelap terang, karakter, perspektif, pencahayaan, draperi, pewarnaan dan unity (kesatuan). Keterikatan ketentuan-ketentuan yang sekaligus sebagai kriteria keberhasilan inilah yang harus dipenuhi, meskipun unik pencapaianya perlu latihan secara intensif dan metodis. Dalam menggambar model, ada dua metode yang dapat digunakan. Pertama adalah metode global dan dilanjutkan dengan menggunakan metode analitis.

Metode global (mengerjakan secara keseluruhan) ini diawali dari pembuatan sketsa secara keseluruhan, lalu dilanjutkan dangan pemberian warna yang berfungsi untuk menyatukan seluruh elemen pada bidang kanvas. Setelah pemberian warna dasar berlangsung, dilanjutkan dengan penggarapan setiap obyek secara garis besar (Block In).

(28)
(29)
(30)

SKETSA

A. Pengertian Sketsa

Awal dari kegiatan manggambar model, sebelum mewarnai, memberi gelap terang, bayangan sampai penyelesaian akhir, perlu kiranya diawali dengan pembuatan sketsa untuk memimpin kegiatan tersebut. lni penting artinya, karena sketsa merupakan rancangan yang akan menentukan garis besar apa saja yang akan dikerjakan selanjutnya, dan ini akan sangat menentukan hasil akhirnya. Untuk membuat sketsa sederhana, pertama harus memiliki pengetahuan dan pemahaman. Agar dapat membuat sketsa secara cepat dan sesuai dengan gaya masing-masing diperlukan kepercayaan pada diri. Selain itu, kita perlu menyadari bahwa menyeket bukanlah merupakan kebutuhan meniru hal-hal yang sifatnya kecil (detail), melainkan mengambil bagian intinya yang diperlukan.

Dalam proses membuat sketsa banyak waktu yang digunakan untuk perenungan dan menganalisa tentang garis panjang, aturan petunjuk, ruang pendek, hubungan garis horizontal dan garis vertikal, proporsi, serta ruang kosong. Mencari secara cepat dari bagian yang terkecil (detail) dan segera menyisihkan bagian yang tidak penting. Semuanya itu dikerjakan dengan sabar, sungguh-sungguh penuh semangat dengan pengamatan yang jeli. Sedangkan dalam pembuatan sketsa selain memperhatikan hal-hal tersebut, juga perlu melibatkan imajinasi, mengingat imajinasi adalah merupakan intisari dari penjelajahan dan pengalaman masalalu. Apa yang digambarkan mungkin bertentangan dengan hasil ingatan yang didapat dari pengamatannya, akan tetapi semua yang dikerjakan itu semata-mata untukm endapatkan originalitas yang sifatnya baru.

(31)

Membuat sketsa secara cepat bukanlah hal yang mudah, perlu melakukan latihan yang sungguh-sungguh. Karena dalam menyeket sebuah tekanan kecil dapat mempengaruhi ungkapan perasaan. Oleh karenanya antara ketajaman pengamatan dan ingatan sangat diperlukan, sedangkan tangan hanya mengikuti perintah.

Untuk pembuatan sketsa dalam gambar model, perlu memperhatikan banyak hal, terutama yang terkait dangan masalah teknik, baik teknik pengamatan pada obyek, maupun teknik penggambaran. Sebagai contoh dapat dilihat pada gambar berikut:

(32)

Gambar 2. Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan tinggi badan

Elemen dasar-dasar yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan sketsa. 1. Garis Panjang.

(33)

Gambar 3. Contoh penarikan garis panjang atau garis sumbu.

2. Proyeksi Garis.

Proyeksi garis lurus pada dasarnya adalah cara pandang melihat objek kedepan seperti mata melihat, atau ayunan sebuah curva pegangan seperti mengingat pembuatannya . Di sini curva pegangan terakhir pada garis lurus kedepan di titik K. Garis I dan J berselang-seling ditit!k

3. Sistem Jam (The clock System)

Sistem jam adalah merupakan salah satu cara untuk meniru/penggambaran obyek nyata kebidang gambar yang sifatnya 2 demerisional secara tepat, dengan menggunakan pertolongan

sudut-It is fascinating to learn to relate DT- RECTION of LINES with; some obvious point on the model. For example: The direction of the handle (C, D) .projects across the pot to point E-1. This tells us how to shape the handle correctly F-E 2 is the projection of wooden handles . The AXIS is the longest directicn iu the center of a mass (A, B).

The direction of the axis has to

be observed and f elt. To get the

(34)

sudut seperti yang terbentuk dari jari-jari jam. Seperti contoh pada gambar berikut:

Gambar 4. Teknik sketsa dengan system Jam

4. Ruang Kosong

(35)

B. Tahapan dalam Membuat Sketsa

Gambar 5. Cara Mengamati objek dengan perspektif garis lurus

Banyaknya objek yang dapat ditirukan dalam menggambar model mengharuskan kita menentukan objek terlebih dahulu sebelum pembuatan sketsa berlangsung. Masalahnya adalah banyak obyek-obyek yang digambar belum tentu dapat kita kenali sebelum menggambarnya.

(36)

PERMASALAHAN DALAM GAMBAR MODEL

A. Prinsip-Prinsip Dalam Gambar Model

Gambar model merupakan bagian dari seni lukis yang paling sederhana, walaupun bidang ini sederhana namun prinsip-prinsip pengorganisasian elemennya sama seperti yang dimiliki seni lukis pada umumnya, yaitu setiap elemen saling berhubungan antara satu bagian dengan lainnya secara harmonis organis. Untuk itu, selain harus taat pada asas-asas unity, balans, proporsi, irama, dan kontras juga harus memakai elemen-elemen lain selain garis dan warna. Agar lebih jelas tentang prinsip-prinsip pengorganisasian elemen yang sering digunakan dalam menggambar model, maka berikut ini akan dibahas lebih lanjut satu demi satu.

1. Kesatuan (Unity)

Sebagai prinsip yang sifatnya umum sebuah lukisan yang pertama harus memiliki kesatuan (unity) antar seluruh bagian yang ada antara satu bagian dengan bagian lainnya supaya tampak harmonis dan organis. Jika sebuah lukisan seluruh bagiannya memberikan efek yang sama kuatnya, berarti memiliki kesatuan. Tetapi jika itu mengganggu isinya, tidak ada hubungan kualitas atau faktornya, maka dalam karya tersebut tidak ada kesatuan.

Dalam teori pengorganisasian elemen seni, untuk mendapatkan susunan komposisi yang memiliki kesatuan, maka kuncinya adalah balans, proporsi, irama, klimaks, dan kontras. Prinsip penyusunan ini digunakan untuk mengatasi, menolong dan mengatur agar dapat menyatukan elemen yang ada. Sebagai contoh: jika seniman menggambar bentuk, menemukan beberapa objek yang sama dan salah

(37)

satunya mengganggu, maka seharusnya mengubah atau meninggalkan obyek tersebut dari lukisannya atau jika tidak meninggalkan obyek maka hasil akhirnya akan kurang mendapat kesatuan.

2. Keseimbangan (Balance)

Balance atau keseimbangan adalah hukum pokok alam semesta. Pohon tumbuh mengeluarkan cabang-cabangnya, semua itu untuk pencapaian stabilitas. Oleh karena itu penampilan keseimbangan· semata-mata

penting untuk kenyamanan pisik. Demikian pula manusia, sesungguhnya sejak kanak-kanak telah melatih keseimbangan tubuh

diatas kakinya. Hal ini karena keseimbangan tersebut penting bagi

kenyamanan tubuhnya. Begitu pula halnya dengan seniman, latihan membuat posisi yang seimbang sangat penting, karena di dalam dunia seni rupa untuk menciptakan keindahan diperlukan adanya kepekaan

dalam merasakan keseimbangan.

Kalau diamati lebih teliti, kenyataannya manusia sedikit banyak memiliki kepekaan tersebut, hanya berbeda-beda tingkatannya. Hal yang paling sederhana dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari di dalam rumah tangga. Sebagai contoh seseorang mengatur memasang sebuah lukisan yang diletakkan atau digantuntungkan ditengah-tengah sebidang

dinding selalu mempertimbangkan keseimbangan. Atau meletakkan photo keluarga diatas bufet tepat ditengah-tengahnya dan diapit dua

buah hiasan patung kecil yang jaraknya sama dari photo tersebut, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. lni semua merupakan upaya

untuk mencari keseimbangan yang sudah dilakukan meskipun dengan

perkiraan intuisinya. Semua itu dilakukan sesuai dengan perasaan orang awam yang sifatnya masih elementer, dan untuk

pengembangannya dapat melalui belajar dan berlatih. Tentu

kemampuan profesional hasilnya akan lebih baik jika di bandingkan dengan orang awam, dalam hal kepekaan keseimbangan yang selalu

(38)

3. Proporsi

Proporsi merupakan salah satu prinsip pengorganisasian elemen yang ada dalam gambar model dan tentunya juga untuk gambar yang lainnya. Sebagaimana kita ketahui, dalam menggambar model manusia, hal utama yang perlu dicermati adalah proporsi tubuh manusia. Proporsi yang dimaksudkan adalah perbandingan bagian perbagian dengan keseluruhan tubuh manusia. Hal ini untuk mengetahui berapa perbandingan ukuran kepala dengan tubuh, berapa panjang lengan atas dibandingkan lengan bawah, berapa ukuran lebar bahu dibandingkan tinggi badang dan sebagainya. Begitu juga pemahaman bagaimana bentuk jari, tangan, hidung, mata, kaki dan anggota tubuh yang lainnya. Secara umum proporsi tubuh manusia adalah yang sering dipedomani adalah:

a. Tinggi manusia dewasa (Indonesia) = 7 x tinggi kepalanya b. Tinggi anak-anak usia 10 tahun = 6 x tinggi kepalanya c. Tinggi anak-anak usia 5 tahun = 5 x tinggi kepalanya d. Tinggi balita usia 1 tahun = 4 x tinggi kepalanya e. Bahu pria lebih lebar dari pada bahu perempuan

f. Panjang telapak tangan sama dengan lebar wajah g. Panjang telapak kaki sama dengan tinggi wajah h. Letak mata setengah tinggi wajah

i. Lebar mata seperlima lebar wajah

(39)

Sebagai contoh dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 9. Perbandingan anatomi tubuh manusia

Sumber: https://www.google.co.id/search?q=ilustrasi+gambar+manusia

Selain itu, manyusun obyek merupakan salah satu faktor yang menentukan proporsi dan komposisi. Apakah hasilnya akan menarik atau kurang menarik. lni karena gambar model merupakan bentuk

latihan mentrasnfer gambar manusia dalam berbagai gerak dan

komposisi yang sudah dipersiapkan. Sebagai contoh proporsi kepala seorang wanita harus disesuaikan dengan perbandingan ukuran kepala

itu sendiri dan pada obyek yang lain secara menyeluruh.

Satuan ukuran perbesarannya harus sama antara obyek satu dengan

lainnya. Jika yang dilakukan tidak konsisten maka. yang terjadi adalah

penggambaran yang tidak proporsional. Begitu pula pengaturan

penggunaan bidang harus proporsianal, antara penggunaan bidang isi

dan bidang kosong harus diatur sedemikiah rupa sehingga ada

keseimbangan. Jika bidang isi terlalu besar maka yang melihat terasa

(40)

sempit, sebaliknya jika bidang isinya terlalu kecil tampak sepi dan rasanya ada keinginan untuk membesarkan obyeknya.

4. lrama (Rhythm)

lrama merupakan salah satu hal yang sering dicari didalam sebuah komposisi. Pengulangan secara terus-menerus· dan teratur dari unsur

yang ada pada batas tertentu akan membantu untuk menarik perhatian.

Tetapi apabila terlalu sering mengulangnya akan mengakibatkan kejemuan. Oleh karena itu kadang-kadang diperlukan bentuk penyelewengan.

variasi bentuk pendukung lainnya.

5. Klimaks (Dominan)

Klimaks atau dominan ini penting keberadaannya didalam sebuah karya seni, khusunya gambar model. Prinsip dominan ini, berfungsi untuk

menciptakan fokus pada suatu objek yang digambar. Menciptakan pusat perhatian diantara tebaran elemen yang ada, menjadi sangat penting agar tidak memilik kekuatan atau daya tarik yang sama. Masalah penciptaan pusat perhatian ini merupakanhal yang tidak bisa diabaikan begitu saja karena dengan adanya hal ini akan membawa kearah yang paling penting dari suatu susunan.

Pusat perhatian ini dapat diciptakan melalui: a. Menempatkan model pada ruang yang kosong

(41)

d. Dengan latar belakang sederhana disekitar model yang dekat dan yang jauh, bentuk vertikal dan bentuk horizontal, serta ruang padat dan ruang kosong. Sebaliknya karya akan menjadi monotone dan menjemukan bila tidak terdapat kontras.

Pada gambar model sejak memilih model, penyusunan, pembuatan

sketsa sampai penyelesaiannya perlu adanya perencanaan yang penuh pertimbangan, termasuk penggunaan prinsip kontras. Sebagai contoh: bila pemilihan kostum atas warna hijau maka disisi bawah atau salah satu sisi ada yang warna merah, jika ada obyek yang sifatnya transparan ada pula yang padat, ada yang lembut ada juga yang keras dan sebagainya. Atau bisa jadi sebagian obyek diberikan penerangan dari arah tertentu, sehingga terjadi gelap terang terutama pengaruhnya sangat besar pada pembuatan back ground.

B.

Elemen-elemen dalam Gambar Model

1. Garis

Garis mempunyai suatu dampak estetis dan emosional didalam suatu gambar, baik di dalam posisi, warna, atau elemen/unsur seni lukis lainnya. Penekanan dalam penggunaan garis-garis tertentu akan menambah keindahan, selain itu, garis juga dapat memberikan penekanan atau penonjolan pada sesuatu yang dianggap menarik. Walaupun demikian, penggunaan garis bukanlah hal yang mudah, semua garis akan dapat dikomposisikan kearah satu kesatuan yang harmonis dan organis dengan keterampilan yang tinggi pula.

(42)

suatu obyek. Kehadiran garis dalam gambar seolah-olah seperti memberikan nafas pada manusia yang pucat. Garis dapat menghidupkan objek-objek yang digambar. Selain itu, garis dapat juga memberikan efek getar dan akan lebih memberikan daya tarik tersendiri.

2. Warna

Berpikir tentang warna, tentunya berpikir tentang banyak hal dalam melukis atau menggambar. Kemahiran dalam penggunaan warna

merupakan hasil dari pengalaman panjang dari berbagai seniman. Walaupun demikian, ada beberapa hal mendasar yang dapat dipedomani dalam penggunaan warna. Pertama adalah masalah

keseimbangan warna, ·yaitu antara warna panas dan dingin. Pada suatu karya seni, khususnya lukisan penggunaan warna panas dan dingin hendaknya seimbang. Walaupun demikian, penggunaan warna panas seperti merah orange, kuning, violet, dan merah (dalam teori six

standart colour prang system) relatif lebih sedikit dibandingkan dengan

penggunaan warna dingin, (warna violet biru, biru, hijau biru, dan hijau.

Kedua, penggunaan warna abu-abu atau warna netral. Warna netral

dapat difungsikan untuk mengikat warna komplementer yang sulit

disatukan. Kebanyakan warnaenak dipandang tapi belum tentu memiliki

(43)

pucat. Untuk mendapatkan unsur tidak terlalu keras dan tidak terlalu pucat, dipandang tidak melelahkan tetapi. tetap menggairahkan pada

umumnya dapat dilakukan dangan cara dimodifikasi dengan warna tarik, dan ini merupakan bentuk kreatifitas dalam menciptakan suasana yang menakjubkan. Paul Cezane, salah satu pelukis besar dalam

melukis alam benda, dengan menggunakan warna-warna bersemangat, kadang-kadang ia menggambarkan kain kordennya secara realistik, dan didalam penggambarannya memakai teknik yang sangat terkendali

(mahir). Mereka menggunakan korden tua untuk dilukis berulang-ulang, mungkin saja tertarik pada warnanya, tekstur/tenunan yang terdapat pada lipatan kainnya, yang semuanya telah dikenalnya secara mendalam. Bahkan dari beberapa pelukis memiliki almari untuk menyimpan koleksi berupa kain bludru, kain broklat, sutera, rayon, linen,

kain mori, dan beberapa dipolakan dan diwarnai, juga ada yang polos

Drapery selain memiliki fungsi seperti tersebut, juga dapat berfungsi

(44)

alam benda karya Paul Cezanne, buah apel dan jeruk dengan kain biru terletak di atas meja.

4. Pencahayaan

Pencahayaan merupakan salah satu faktor penting dalam menggambar model. Arah, tingkat kuat lemahnya, dan banyaknya cahaya akan membantu untuk menentukan pengaturan yang ideal. Sebenarnya

cahaya bukanlah merupakan hal yang prinsip, namun jika cahaya

datang dari berbagai arah akan mempersulit dalam berbagai hal. Misalnya suatu model dengan diberikan cahaya dari berbagai penjuru, akan kelihatan datar (flat) dan sebagainya, terutama untuk pencapaian

volume yang akan ditajamkan karena banyak cahaya yang mendapatkan pantulkan (reflected lighting), apalagi kalau cahaya yang

datang sama-sama kuat, Olen karena itu, pencahayaan harus diubah dari satu arah, setidaknya yang dominan harus datang dari satu

arah. Dengan begitu gelap terang pada obyek menjadi kontras,

sehingga volume obyek tanpak jelas dan lebih menarik dipandang.

Cara untuk mendapatkan cahaya yang baik dari satu arah sanget bervariasi, pelukis dapat memanfaatkan cahaya dari lampu atau dapat

juga dengan cara mendekatkan obyek pada pintu yang dibuka atau

jendela sampai cahaya tersebut sesuai seperti yang dimaksud.

5. Bayangan (Shadows)

Bayangan merupakan hal yang penting. Bayangan dapat menunjukkan suatu jarak antara obyek atau model utama dengan benda lainnya. Adapun bentuknya tergantung pada konfigurasi obyek di depan bayangan dan bagaimana permukaan yang terkena bayangan tersebut.

Apakah permukaannya rata, bergelombang, atau berupa bidang datar.

(45)

setiap bagian-bagian secara bertingkat (dari agak gelap sampai tergelap).

Memberi penggambaran sebuah bayangan, belum tentu sama dengan

bentuk bayangan tersebut, hal ini tergantung dari mana arah/posisi pelukisnya. Bayangan terjadi akibat adanya cahaya. Jika cahaya yang

datang sangat terang, maka bayangan akan tampak jelas, baik kontur maupun konfigurasinya. Sebaliknya jika cahayanya kurang terang, maka bayangannya agak redup/kurang tegas, tergantung pada posisi jauh dekatnya posisi bayangan dari objek. Bayangan yang dihadirkan dekat dengan objek akan jauh lebih gelap, lebih jelas kontur dan konfigurasinya. Sedangkan bayangan yang jauh dari objek akan

semakin terang dan kabur.

6. Latar belakang (Back ground)

Latar belakang atau background selain berfungsi memperindah sebuah

gambar, memberi kesan ruang, mengarahkan pada obyek, menonjolkan

obyek yang digambar, juga memberikan keseimbangan. Sepintas latar

belakang dianggap sesuatu pelengkap dan kurang penting kedudukanya di dalam suatu gambar model. Namun sesungguhnya latar belakang

sebenarnya merupakan bagian yang sama pentingnya jika dibandingkan dengan obyek yang digambar. Hal ini dapat dilihat pada sebuah gambar model yang penggambaran obyeknya sudah bagus, tetapi pemberian warna pada backgroundnyakurang harmonis, gambar tersebut menjadi kurang enak dipandang, apalagi goresan kuas pada obyeknya tidak satu

bahasa dengan goresan kuas yang terdapat pada baqkgroundnya. Jadi

baik pewarnaan maupun goresan pada obyek dan background harus

merupakan satu kesatuan yang harmonis dan dinamis. Untuk itu unsur

warna pada obyek harus terdapat pada warna background atau

(46)

Berdasarkan pengamatan atas pengalaman praktik menggambar model

di kelas, kelemahan pengambaran latar belakang adalah objek terkesan sama dengan background. Hal ini terjadi karena tidak adanya perbedaan intensitas warna dan goresan antara objek dan background. Untuk penggambaran background intensitasnya harus lebih lembut

dibandingikan dengan objeknya. Untuk melembutkan/melemahkannya pada warna dapat dilakukan dengan memberi unsur warna putihsesuai kebutuhan. Untuk mengetahui seberapa banyak warna putih yang dibutuhkan, sehingga background menjadi ada jarak terhadap obyek

yang digambar, diperlukan latihan pemahaman intensitas dan tingkat

penekanan kuas sewaktu menggores.

C. Latihan/Kasus/Tugas

1. Perbandingan ukuran proporsinal tinggi tubuh wanita Indonesia diukur dengan menggunakan rasio tinggi kepala adalah....

a. 6.5 tinggi kepala b. 7 tinggi kepala c. 7.5 tinggi kepala d. 8 tinggi kepala

2. Perbandingan ukuran proporsinal tinggi tubuh Pria Indonesia diukur dengan menggunakan rasio tinggi kepala adalah....

a. 6.5 tinggi kepala b. 7 tinggi kepala c. 7.5 tinggi kepala d. 8 tinggi kepala

3. Menggambar model yang menampilkan hanya bagian badan, dari dada, pinggang, dan panggul saja disebut....

a. Model torso b. Model dada

(47)

4. Dalam pembelajaran seni rupa pemberian tugas menggambar objek dengan detail dapat memberikan manfaat bagi anak untuk mengembangkan aspek….

a. Kepekaan b. Kreatifitas c. Ketekunan d. Kerajinan

5. Adanya spontanitas dalam menorehkan garis/warna serta kemampuan menangkap essensi dari bentuk objek merupakan factor penting dalam menilai karya seni rupa…

(48)

Abdul Majid (2008), Perencanaan Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya

AECT (1986). Definisi Teknologi Pendidikan (Terjemahan Yusufhadi Miarso). Jakarta: Rajawali Pers

Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R. (2001). Es. Taxonomy for Learning, teaching assessing: A revision of bloom’s taxonomy of education objectives. New York: Longman.

Barrett, Maurice(1982), Art Education, a strategy for course design, London: Heinemann Educational Books.

Benny A. Pribadi (2009), Modul Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Dian Rakyat.

Coze, Paul. Tanpa Tahun, "Quick Sketching", A Walter T. Foster Publication, Tustin California.

Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, (2007), Materi Sosialisasi danPelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMP, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta

.

Fatriani. (2006). Dongeng Rakyat Jawa dalam Karya Ilustrasi Sampul Buku Cerita Anak-anak. Unnes. Semarang.

Fauzi, Eddy. Effendy, Widihardjo, (2008). Peta Konsep Pendidikan Seni Rupa, Pusbuk, Depdiknas, Jakarta.

Feldman, E.B. (1967), Art as Image an Ideas, Englewood-Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Fraser, Lynch Diane. (1991). Discoverring and Developing Creativity. Americans: A Dance Horizons Book Princeton Book Company, Publisher.

(49)

Goldberg,Merryl Ruth, (1997). Art and Learning: An Integrated Approach to Teaching and Learning in Multicultural and Multilingual Settings, Longman, New York.

Goleman, Daniel. (2000). Kecerdasan Emotional. Terjemahan T. Hermaya. Jakarta: Gramedia.

Henkes, Robert. 1965. "Orientation to Drawing and Painting". International Text book Company, Scranton, Pennsylva"nia .

Joni, T. Raka. (1980). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : P3G.

Kamaril, Cut. WS., (2007) Materi Pelatihan Pengenalan Pembelajaran Aktif diSekolah Dasar dan Menengah, Jakarta,.

Kadarsah Suryadi (2000), Pedoman Penulisan dan Penilaian Bahan Belajar: Pendekatan Sistem Pendukung Multi Kriteria. Jakarta: DepDikNas.

Laughlin, H. P. Mc. Tanpa Tahun . "Painting witb Oil Paster'. Published by Walter T. Foster, Tustin California.

Latrop Sears, Elinor, (1971). "Pastel Painting Step by Step" . Secon printing.Watson - Guptill Publications :New York .

Muhibbin Syah. (2003). Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosda

Mulyasa,E. (2010). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda

Munir. (2008). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.

Parramon, J. M. 1971. "Improve Your Painting a:id Drawing'' , Fountain Press, London.

Perceival, F. & Ellington, H. (1998). Teknologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta: Erlangga.

(50)

Republik Indonesia. (2007). Permendiknas Nomor 41 tahun 2007: Standar Proses Satuan Pendidikan, Jakarta: Depdiknas, 2007.

Sanjaya, Wina. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana, Prenada Media Group.

Seels, B. Barbara dan Rickey, Rita C. (2002). Teknologi Pembelajaran (Terjemahan Dewi S. Prawiradilaga, dkk). Jakarta: Universitas Negeri Jakarta.

Sidik, Fajar dan Arning Prayitno, 1981. "Desain Elemen te!'' STSRI. Yogyakarta ,

Sukadi. (2006). Guru Powerful Guru Masa Depan. Bandung : Kolbu.

Suparno, Paul. (2005). Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika. Jakarta: Grasindo.

Suparman. A. (1997). Desain Instruksional. Jakarta: PAU-PPAI.

Suprayekti. (2002). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: FIP UNJ (tidak diterbitkan).

. (2007). Strategi Pembelajaran. Jakarta: FIP UNJ (tidak diterbitkan).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Peraturan Pemerintah tengtang Standar Pendidikan Nasional.

Von Dewitz, Arden, Tanpa Tallun, "A Fun Book on Acrylic Painting” Polymer, Published by Walter T, Foster, Tustin, California,

(51)
(52)
(53)
(54)

Lampiran 1. Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran 3 –

Permasalahan dalam Gambar Model

(55)
(56)

BERKOMUNIKASI

SECARA EFEKTIF,

EMPATIK, DAN SANTUN

DENGAN PESERTA DIDIK

DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

?

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI G

(57)
(58)

Copyright 2016

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan

Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengcopy sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan

c

Penulis : Dr. Rin Surtantini, M.Hum. Editor Substansi : Dra. Irene Nusanti, M.A. Editor Bahasa : Is Yuli Gunawan, S.Pd.

BERKOMUNIKASI

SECARA EFEKTIF,

EMPATIK, DAN SANTUN

DENGAN PESERTA DIDIK

(59)
(60)
(61)
(62)
(63)
(64)

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN .... iii KATA PENGANTAR ... v DAFTAR ISI ... vii

PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan Pembelajaran Umum ... 3

C. Peta Kompetensi ... 3

D. Ruang Lingkup ... 4

E. Saran cara Penggunaan Modul ... 4

KEGIATAN PEMBELAJARAN-BERKOMUNIKASI DENGAN PESERTA DIDIK ... 7 A. Tujuan ... 7

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 7

C. Uraian Materi ... 7

D. Aktivitas Pembelajaran ... 43

E. Latihan/Tugas/kasus... 44

F. Rangkuman ... 44

EVALUASI ... 45 DAFTAR PUSTAKA ... 45

(65)
(66)

A. Latar Belakang

Berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan peserta didik

merupakan salah satu kompetensi inti guru dalam bidang pedagogik yang

tertuang dalam Permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi

Akademik dan Kompetensi Guru. Kompetensi ini dijabarkan menjadi

kompetensi guru kelas atau guru mata pelajaran sesuai dengan jenjang

pendidikan tempat guru mengajar (PAUD/TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA,

dan SMK/MAK) yang mencakup (1) memahami berbagai strategi

berkomunikasi yang efektif, empatik, dan santun secara lisan, tulisan, dan/atau

bentuk lain, dan (2) berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun dengan

peserta didik dengan bahasa yang khas dalam interaksi kegiatan/permainan

yang mendidik yang terbangun secara siklikal dari penyiapan kondisi

psikologis peserta didik untuk ambil bagian dalam permainan melalui bujukan

dan contoh, ajakan kepada peserta didik untuk ambil bagian, respon peserta

didik terhadap ajakan guru, dan reaksi guru terhadap respon peserta didik.

Mengacu kepada Permendiknas No. 16 tahun 2007 di atas, yang merupakan

ruang lingkup berkomunikasi dalam konteks kompetensi pedagogik adalah

berkomunikasi secara verbal menggunakan bahasa, baik secara lisan maupun

tulis, yang dilakukan oleh guru kepada dan dengan peserta didik dalam proses

pembelajaran. Berkomunikasi itu sendiri merupakan kebutuhan alami manusia

sebagai makhluk sosial. Melalui kegiatan komunikasi, manusia secara natural

memiliki keinginan mendasar untuk mengelola hubungan sosial atau

interpersonal dengan sesamanya melalui berbagai medium seperti bahasa,

tindakan atau perbuatan. Manusia dikaruniai oleh penciptanya organ-organ

tubuh yang sangat memungkinkannya terhubung dengan manusia lain untuk

menyampaikan maksudnya, pikirannya, perasaannya, dan juga untuk saling

berbagi, saling belajar, mendengarkan, dan melaksanakan bermacam-macam

(67)

berkomunikasi dengan peserta didik ini tidak mungkin dapat dilakukan secara

terpisah dengan pengembangan kompetensi inti guru lainnya, yaitu

kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial, khususnya yang terkait

dengan aspek-aspek perilaku dan budaya yang dianut atau yang berlaku

dalam kelompok sosial atau masyarakat di wilayah terjadinya proses

pembelajaran.

Tindakan yang ditunjukkan oleh seseorang melalui penggunaan bahasa dalam

komunikasi tidak hanya memiliki implikasi terhadap pikiran dan perasaan dari

orang-orang yang terlibat di dalam komunikasi tersebut, tetapi juga terhadap

hubungan (rapport) yang terjadi di antara mereka (Surtantini, 2014:4-5). Brown

dan Yule (1983) mengatakan bahwa fungsi interaksional bahasa merupakan

salah satu fungsi utama dalam pengelolaan hubungan yang bertujuan untuk

meng-komunikasikan keramahtamahan dan niat baik, dan juga untuk

membuat orang yang terlibat dalam interaksi merasa nyaman dan tidak

terancam (dalam Spencer-Oatey, 2008:2). Dalam konteks proses

pembelajaran, pola komunikasi yang diterapkan oleh seorang guru di dalam

kelas akan sangat berpengaruh terhadap hubungan antara guru dengan

peserta didiknya. Komunikasi verbal yang menerapkan prinsip-prinsip dan

strategi komunikasi yang tepat memungkinkan terjadinya hubungan yang baik

antara guru dengan peserta didiknya. Hubungan (rapport) yang baik akan

berdampak positif terhadap pengalaman belajar peserta didik. Dengan

demikian, guru memiliki peran yang strategis dalam menciptakan budaya dan

pola komunikasi di dalam kelas melalui proses pembelajaran yang dialami oleh

peserta didiknya.

Di dalam proses pembelajaran, kemampuan untuk berkomunikasi dengan

peserta didik menjadi salah satu kemampuan guru yang harus dimiliki dalam

pengelolaan kelas (classroom management), khususnya dalam menciptakan

iklim kelas yang positif, memberi stimulasi dan energi (positive, stimulating, and

energizing classroom climate) (Brown, 2001: 202). Iklim kelas yang positif

memberi fasilitas terjadinya proses belajar bagi peserta didik. Kemampuan

guru ber-komunikasi dengan peserta didik ini terintegrasi dengan kepribadian

(68)

bersosialisasi guru yang dikembangkan pada kompetensi sosial. Untuk itu,

guru perlu memahami konsep, prinsip, dan strategi komunikasi secara umum

dalam mengelola hubungan sosial menggunakan bahasa yang kemudian

diaplikasikan dan disesuaikan olehnya dalam konteks proses pembelajaran di

sekolah.

B. Tujuan Pembelajaran Umum

Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan akan dapat:

1. Memahami aspek-aspek dan konsep-konsep umum dalam komunikasi

melalui penggunaan bahasa.

2. Mengemukakan prinsip dan strategi berkomunikasi yang efektif, empatik

dan santun dengan peserta didik secara lisan maupun tulis dalam proses

pembelajaran.

3. Menerapkan prinsip dan strategi komunikasi verbal yang efektif, empatik

dan santun dengan peserta didik melalui interaksi yang terjadi dalam

proses pembelajaran.

C. Peta Kompetensi

Modul ini merupakan modul ketujuh dalam kelompok kompetensi pedagogik

guru sebagaimana terlihat pada bagan di bawah ini:

Modul 1 Menguasai Karakteristik Peserta Didik

Modul 2 Menguasai Teori Belajar dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran yang Mendidik

Modul 3 Mengembangkan Kurikulum

Modul 4 Menyelenggarakan Pembelajaran yang Mendidik

(69)

Modul 5 Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Kepentingan Pembelajaran

Modul 6 Memfasilitasi Pengembangan Potensi Peserta Didik

Modul 7 Berkomunikasi dengan Peserta Didik

Modul 8 Menyelenggarakan Penilaian dan Evaluasi Proses dan Hasil Belajar

Modul 9 Memanfaatkan Hasil Penilaian dan Evaluasi untuk Kepentingan Pembelajaran

Modul 10 Melakukan Tindakan Reflektif untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran

D. Ruang Lingkup

Di dalam modul ini Anda akan mempelajari hal-hal berikut ini:

1. Aspek-aspek penting yang saling mempengaruhi dalam proses komunikasi

verbal secara umum.

2. Konsep-konsep umum dalam komunikasi melalui penggunaan bahasa

pada pengelolaan hubungan sosial (rapport management).

3. Prinsip-prinsip dan strategi komunikasi dalam proses pembelajaran.

4. Interaksi yang mendukung proses pembelajaran.

E. Saran cara Penggunaan Modul

Modul ini didesain secara interdisipliner yang mencoba mengajak Anda

sebagai peserta diklat untuk menerapkan komunikasi dengan peserta didik

dari perspektif penggunaan bahasa, aspek kependidikan, dan faktor budaya.

Anda dapat mempelajari modul ini secara mandiri dengan memperhatikan

(70)

1. Bacalah dan pahami dengan cermat uraian materi.

2. Lakukan atau jawablah pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan

pada setiap topik materi untuk melatih cara berpikir kritis dan terbuka.

3. Kerjakan latihan yang diberikan untuk Anda untuk meningkatkan

pemahaman Anda terhadap uraian materi.

4. Baca dan pahami rangkuman yang disajikan dengan cermat.

5. Gunakan kunci jawaban yang tersedia hanya untuk mengecek

pemahaman Anda. Ingatlah bahwa komunikasi melibatkan hubungan antar

manusia yang tidak pernah konstan dan pasti karena terikat konteks dan

budaya, sehingga dimungkinkan tidak hanya ada satu jawaban mutlak

untuk konteks yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Anda diharapkan dapat

mengembangkan cara berpikir kritis dan open-minded agar terbiasa

dengan banyak pilihan atau alternatif dalam memecahkan masalah yang

muncul ketika Anda berkomunikasi dengan peserta didik.

6. Lakukan diskusi atau tukar pendapat dengan pengajar Anda dan dengan

sesama peserta diklat sebagai wujud dari penerapan fungsi interaksional

(71)
(72)

BERKOMUNIKASI DENGAN PESERTA DIDIK

A. Tujuan

Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, Anda diharapkan akan dapat:

1. Mengidentifikasi secara cermat aspek-aspek penting yang secara umum

saling mempengaruhi dalam proses komunikasi verbal.

2. Menerangkan secara jelas konsep-konsep umum dalam komunikasi

melalui penggunaan bahasa pada pengelolaan hubungan sosial (rapport

management).

3. Menerapkan konsep-konsep umum penggunaan bahasa pada komunikasi

yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik pada proses

pembelajaran.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Mengidentifikasi 8 (delapan) aspek penting yang secara umum saling

mempengaruhi dalam proses komunikasi verbal.

2. Menguraikan secara cermat pemahaman mengenai tindak tutur, prinsip

kerjasama dalam komunikasi, kesantunan berbahasa, dan

komponen-komponen pengelolaan hubungan sosial melalui penggunaan bahasa pada

komunikasi verbal.

3. Melakukan penyesuaian terhadap konsep-konsep umum penggunaan

bahasa pada penerapan komunikasi dengan peserta didik.

C. Uraian Materi

Di dalam Kegiatan Pembelajaran ini, Anda akan diajak untuk memahami (1)

aspek-aspek umum yang saling mempengaruhi di dalam proses komunikasi

KEGIATAN PEMBELAJARAN

(73)

verbal, (2) konsep-konsep umum yang terdapat di dalam penggunaan bahasa

yang bertujuan untuk mengelola hubungan sosial, dan (3) keterkaitan aspek

dan konsep umum penggunaan bahasa dan proses komunikasi tersebut

dengan penerapannya di dalam proses belajar mengajar di dalam kelas.

1. Aspek-Aspek yang Saling Mempengaruhi di dalam Proses

Komunikasi Verbal

Bahasa digunakan sebagai medium di dalam komunikasi verbal yang

dilakukan oleh manusia. Penggunaan bahasa menjadi hal yang sentral di

dalam proses komunikasi karena bahasa dalam hal ini bersifat mengaitkan

atau mengikat berbagai aspek yang saling mempengaruhi ketika peristiwa

komunikasi terjadi. Berdasarkan terjadinya berbagai peristiwa komunikasi,

berikut ini disajikan identifikasi aspek-aspek yang saling terkait dan

mempengaruhi ketika bahasa digunakan oleh orang-orang yang terlibat di

dalam komunikasi tersebut:

a. Siapa yang terlibat di dalam peristiwa komunikasi?

Aspek ini mengacu kepada siapa peserta pertuturan, yang terdiri dari

penutur, lawan tutur, dan orang ketiga. Ketika sebuah peristiwa

komunikasi terjadi, pasti ada orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Orang-orang ini adalah penutur yang menyampaikan maksudnya

menggunakan bahasa, lawan tutur yang memberi makna atau

interpretasi terhadap apa yang disampaikan oleh penutur, dan orang

ketiga yang kemungkinan juga hadir di dalam peristiwa tutur tersebut.

Mereka semua terlibat dalam kegiatan menciptakan atau memberikan

makna terhadap penggunaan bahasa yang terjadi dalam proses

(74)

b. Topik yang dikomunikasikan oleh peserta pertuturan dalam peristiwa

komunikasi

Peserta pertuturan yang saling berkomunikasi pasti memiliki topik yang

membuat mereka berada dalam peristiwa komunikasi yang sama.

Topik adalah apa yang dibicarakan, didiskusikan, disampaikan,

dijelaskan, dideskripsikan, dipertahankan, diargumentasikan, bahkan

juga dikritisi, dibantah, dicaci, dicela, dicemooh, ditentang, dan

sebagainya, oleh mereka yang terlibat dalam komunikasi

menggunakan bahasa. Topik menjadi penting karena tanpa topik,

peristiwa komunikasi tidak terjadi.

Topik adalah persoalan atau wacana (discourse) yang direalisasikan

dalam bahasa melalui teks. Teks adalah satuan bahasa yang

digunakan dalam konteks. Ketika berkomunikasi, peserta pertuturan

menciptakan wacana atau teks yang bermakna, sehingga teks dapat

bersifat lisan dan tulis. Teks lahir dari konteks budaya, yang memiliki:

1) struktur,

2) tujuan-tujuan komunikatif tertentu,

3) fitur-fitur kebahasaan, dan

4) satuan makna.

Pertanyaan reflektif bagi Anda sebagai guru mengenai komunikasi

dalam proses pembelajaran:

 Siapakah yang berfungsi sebagai penutur dan lawan tutur?

 Apakah Anda sebagai guru menyampaikan maksud Anda

dengan harapan peserta didik memberi makna atau

melakukan interpretasi terhadap apa yang Anda sampaikan

melalui respon yang mereka berikan?

 Apakah Anda juga menempatkan peserta didik sebagai

penutur sehingga mereka juga memiliki kesempatan untuk

(75)

Teks mengusung makna yang diciptakan dan diinterpretasikan oleh

peserta atau pelaku komunikasi. Topik menjadikan orang-orang

memutuskan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam komunikasi, karena

topik adalah teks yang dimaknai. Apabila orang tertarik terhadap topik

atau memiliki kepentingan tertentu terhadap topik, maka ia akan terlibat

di dalam komunikasi tersebut. Apabila ia tidak menangkap makna atau

tidak dapat menciptakan makna dari topik, maka ia mungkin tidak dapat

terlibat di dalam komunikasi. Dengan demikian, topik yang

direalisasikan dalam bahasa melalui teks membutuhkan pemaknaan

agar orang dapat terlibat dan berperan dalam peristiwa komunikasi.

Topik tidak bisa terlepas dari konteks, sehingga selanjutnya kita perlu

mengetahui apa itu konteks dan perannya dalam peristiwa komunikasi.

Pertanyaan reflektif bagi Anda sebagai guru mengenai topik

komunikasi dalam proses pembelajaran:

 Apakah topik yang Anda sampaikan adalah topik yang memang

penting dan dibutuhkan oleh peserta didik berkaitan dengan

pengalaman belajarnya?

 Apakah Anda berusaha agar topik tersebut dapat mendorong atau

membuat peserta didik terlibat secara aktif di dalam perbincangan

mengenai topik tersebut?

 Bagaimanakah Anda sebagai guru merasa yakin bahwa topik yang

Anda sampaikan dapat bermakna bagi peserta didik?

 Bolehkah peserta didik mempermasalahkan atau menanggapi topik

yang Anda sampaikan?

c. Konteks dalam peristiwa komunikasi

Beberapa tokoh penggunaan bahasa dalam komunikasi

mendeskripsikan apa yang dimaksud dengan konteks. Konteks oleh

Leech (1993:20) dideskripsikan sebagai suatu pengetahuan latar

belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan lawan tutur dan

yang membantu lawan tutur menafsirkan makna tuturan, sedangkan

(76)

luas yang memungkinkan peserta pertuturan dalam proses komunikasi

berinteraksi dan yang membuat ekspresi linguistik mereka dapat

dipahami. Nadar (2009:251) mengatakan bahwa konteks adalah

pemahaman yang dimiliki oleh penutur maupun lawan tutur sehingga

rangkaian dan proses pertuturan bisa berlangsung tanpa

kesalahpahaman yang berarti. Konteks menurut Levinson (1983:5)

mencakup identitas dari peserta pertuturan, waktu dan tempat

terjadinya peristiwa tutur, pengetahuan dan niat peserta pertuturan

dalam peristiwa tutur tersebut, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan

itu semua.

Berdasarkan beberapa pemahaman mengenai konteks di atas, secara

sederhana dapat disimpulkan bahwa konteks dalam peristiwa

komunikasi merupakan deskripsi mengenai siapa saja yang terlibat

dalam komunikasi tersebut, apa yang dibicarakan, di mana dan kapan

terjadinya, serta bagaimana dan mengapa komunikasi tersebut

dilakukan. Konteks atau situasi dan kondisi tutur kemudian membuat

orang dapat menilai apakah respon atau tanggapan terhadap

pembicaraan menjadi relevan atau tidak, pantas atau tidak pantas,

sesuai atau tidak sesuai, sopan atau tidak sopan, aneh atau pas, dan

sebagainya. Itulah sebabnya ada orang yang bertanya apa konteksnya

sebelum ia menjawab sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya,

dengan harapan bahwa jawaban yang ia berikan nantinya sesuai,

relevan, atau tidak menyimpang dari topik pembicaraan. Ada juga

orang yang dikatakan keluar dari konteks karena orang tersebut tidak

dapat membangun makna pada sebuah peristiwa komunikasi,

sehingga ia dinilai oleh lawan tutur sebagai peserta pertuturan yang

aneh, tidak fokus, menyimpang, tidak pantas, dan bahkan dapat juga

dianggap tidak sopan, dan sebagainya. Dengan memahami konteks,

orang akan dapat menyesuaikan bahasa yang digunakannya ketika ia

Figur

GAMBAR MODELGAMBAR MODEL
GAMBAR MODELGAMBAR MODEL. View in document p.2
GAMBAR MODELGAMBAR MODEL
GAMBAR MODELGAMBAR MODEL. View in document p.4
Gambar Model  …………………………………………………………...
Gambar Model . View in document p.10
Gambar 1 Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan ...........
Gambar 1 Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan . View in document p.12
Gambar 1. Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan
Gambar 1 Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan. View in document p.31
Gambar 2. Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan tinggi badan
Gambar 2 Pembuatan sket dengan bantuan garis pertolongan tinggi badan. View in document p.32
Gambar 3. Contoh penarikan garis panjang atau garis sumbu.
Gambar 3 Contoh penarikan garis panjang atau garis sumbu . View in document p.33
gambar berikut:
gambar berikut: . View in document p.34
Gambar 5. Cara Mengamati objek dengan perspektif garis lurus
Gambar 5 Cara Mengamati objek dengan perspektif garis lurus. View in document p.35
Gambar 9. Perbandingan anatomi tubuh manusia https://www.google.co.id/search?q=ilustrasi+gambar+manusia
Gambar 9 Perbandingan anatomi tubuh manusia https www google co id search q ilustrasi gambar manusia. View in document p.39

Referensi

Memperbarui...