Seni Budaya Seni Rupa SMP KK J Prof

186  16 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mata Pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

GURU PEMBELAJAR

MODUL PELATIHAN GURU

KELOMPOK KOPETENSI J

Profesional :

Pameran Karya Seni Rupa

Pedagogik :

Penelitian Tindakan Kelas

DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

U PEMBELAJ

AR

MA

TA PELAJ

ARAN SENI R

UP

A SMP

KEL

OMPOK K

(2)

PAMERAN

KARYA SENI RUPA

Drs. Suwarna, M. Pd.

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI J

MATA PELAJARAN SENI RUPA

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

(3)

Copyright 2016

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan

Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

c

Penulis : Drs. Suwarna, M. Pd Editor Substansi : Banu Arsana

Editor Bahasa : Is Yuli Gunawan, M.Pd.

PAMERAN

KARYA SENI RUPA

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI J

MATA PELAJARAN SENI RUPA

(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)

SAMBUTAN DIRJEN GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ... iii

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 3

C. Peta Kompetensi ... 4

D. Ruang Lingkup ... 4

E. Saran Cara Penggunaan Modul ... 6

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 KONSEP PAMERAN SENI RUPA ... 7

A. Tujuan ... 7

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 7

C. Uraian Materi ... 7

D. Aktivitas Pembelajaran ... 65

E. Latihan/ Kasus/ Tugas ... 65

F. Rangkuman ... 66

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 68

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 MENGAPRESIASI KARYA SENI RUPA SECARA LISAN MAUPUN TERTULIS ... 71

A. Tujuan ... 71

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 71

(10)

viii

E. Latihan/ Kasus/ Tugas ... 80

F. Rangkuman ... 83

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 83

PENUTUP ... 85

EVALUASI ... 87

GLOSARIUM ... 95

DAFTAR PUSTAKA ... 97

LAMPIRAN 1. Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran1-Konsep Pameran Seni Rupa ... 99

2. Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran 2-Mengapresiasi Karya Seni Rupa Secara Lisan Maupun Tertulis ... 101

(11)

Gambar 7. Gambiranom “Pronocitro-Roro Mendut” 23 Gambar 8. Popo Iskandar ”Dua macan dan matahari senja” 23 Gambar 14. Bambang Toko “Bagaikan musang berbulutangkis” 26 Gambar 15. Amang Rahman “Sayangilah apa yang ada di muka

bumi, maka

kau akan disayang oleh semua yang di atas langit”

26

Gambar 16. Suwarna “ Maha suci Allah” 27 Gambar 17. Sirkulasi pengunjung dan display karya 31 Gambar 18. Sirkulasi pengunjung pameran 32 Gambar 19. Pemajangan lukisan 33 Gambar 20. Pemajangan lukisan sama rata sama tinggi 33 Gambar 21. Pemajangan karya sejenis 34

Gambar 22. Vitrine. 34

(12)

x

Gambar 26. Hajar Satoto “Dewi Sri” 35

Gambar 27. Ken Dedes 36

Gambar 28. Ign. Pamungkas G. “Figur” 36 Gambar 29. Hermaningsih “Tari Kupu-Kupu” 36 Gambar 30. Eko Sunarko “Gadis” 36 Gambar 31. Pemajangan karya seni instalasi outdoor. 37 Gambar 32. Pemajangan karya di sawah 37 Gambar 33. G. Sidharta S.”Ayam Kinantan”. 38 Gambar 34. G. Sidharta S “Pertemuan” 38 Gambar 35. G. Sidharta S. “Keseimbangan dan Orientasi” 38 Gambar 36. Vitrine kosong 39 Gambar 37. Vitrine berisi karya 39 Gambar 38. Teknis pengepakan karya dua dimensi tunggal dan

digulung

40

Gambar 39. Teknis pengepakan karya seukuran lebih dari satu 40 Gambar 40. Teknis pengepakan karya tiga dimensi 41 Gambar 41. Tata cahaya pameran seni rupa 42 Gambar 48. Katalog purbakala nisan-nisan Samudra Pasai. 46 Gambar 49. Katalog pameran Asean Festival of Art’92 47 Gambar 50. Katalog Painting Exibition Hajar Pamadhi 47 Gambar 51. Hajar Pamadhi “The Miror of Life” 47 Gambar 52. Katalog pameran retrospeksi G. Sidharta Soegijo 48 Gambar 53. G. Sidharta Soegijo “ Matinya garuda Tua” 48 Gambar 54. Katalog pameran lukisan Arfial Arsad Hakim dan

Budhi AZ

48

Gambar 55. Bagian dalam Katalog pameran lukisan Arfial Arsad

(13)

Gambar 59. Katalog pameran tunggal H. Widayat 51 Gambar 60. H. Widaya t” Karnaval Seniman” 51 Gambar 61. Riwayat dan penghargaan H. Widayat 51 Gambar 62. Katalog Pameran pendidikan Seni Rupa Asean 52 Gambar 63. Muhammad laynan Bin Mohd Sapri “ Untitled”,

Malaysia. 52

Gambar 64. Mazlinda ASbdullah “Tradisi baba Nyonya”, Sekolah

Seni Johor Malaysia. 52 Gambar 65. Suwarna “ Mencari madu 52 Gambar 66. Katalog Pameran Estetika Rupa Dua Dimensi

mahasiswa PGPAUD FIP UNY 53 Gambar 67. Katalog Pameran hasil lomba Seni Lukis Anak

DIY-Kyoto 2015

54

(14)
(15)
(16)
(17)

A. Latar Belakang

Karya seni rupa merupakan buah cipta perupa yang penuh dengan nilai-nilai. Nilai-nilai terebut di antaranya adalah nilai seni, pedagogis, sosial-kemasyarakatan, religious, ekonomi, budaya dan humanis. Manusia sebagai perupa merupakan makhluk sosial yang hidup yang memerlukan pertolongan dan kerjasama dengan orang lain. Dengan pertolongan dan kerjasama dengan orang lain ini, perupa akan lebih bermakna dan berkembang sesuai dengan harkat dan martabatnya.

Perkembangan seni rupa dewasa ini sangat pesat, karena adanya pengaruh teknologi yang sangat canggih (internet). Dengan mengunduh tentang perkembangan seni rupa dari internet, maka si pengunduh dapat dengan segera mengetahui seluk-beluk perkembangan tersebut. Begitu juga kegiatan keseni-rupaan yang diselenggarakan oleh siapa saja dapat diunggah di internet, sehingga kegiatan pameran tersebut segera tersosialisasikan ke seluruh pelosok dunia.

Tidak ketinggalan pula bahwa para guru Seni Budaya (sub Seni Rupa) di sekolah menengah pertama, juga merupakan salah satu kelompok perupa dan pendidik yang menyandang sebagai guru berkompetensi pedagogik, professional, sosial dan kepribadian. Guru, mempunyai kewajiban moral untuk mendidik, membimbing, dan memotivasi peserta didik agar dapat berekspresi lewat seni rupa sesuai dengan tingkat kemampuan dan tipologi masing-masing. Seperti dikemukakan oleh Herbert Read (1961) bahwa konsep pendidikan seni rupa adalah ”education trough art”. Pada hakekatnya adalah “pendidikan lewat seni”, adalah usaha yang positif ke arah perubahan perilaku peserta didik menjadi lebih baik, untuk mencapai cita-cita yang dilandasi oleh spirit religious “untuk ibadah”. Dengan demikian maka segala bentuk perilaku kita di usahakan sebagai ibadah untuk

(18)

2

mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, penuh rasa syukur, dan ikhlas. Kita selalu mengharap ridha Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala tindak laku kita yang baik sebagai amal jariyah dan mendapat ganjaran yang berlipat ganda dariNya, amin.

Secara konseptual dan faktual, Modul “Diklat Guru Pembelajar” ini ditulis untuk meningkatkan kompetensi guru Seni Budaya di sekolah menengah pertama, pada aspek kognitif, psikomotor dan afektif. Salah satu bentuk dari aspek afektif adalah pameran seni rupa. Pameran Seni Rupa, penyelenggaraannya perlu dikaji secara saksama, langkah demi langkah, disamping itu juga diperlukan persiapan yang cermat, bekerjasama antara panitia, peserta pameran (perupa, dosen, guru, mahasiswa, peserta didik), kurator, kolektor, pejabat penyandang dana, dan penonton (apresian). Anggaran juga memegang peranan yang sangat penting, pepatah Jawa mengatakan “JER BASUKI MAWA BEA”. Jika kita ingin selamat, maka harus mengeluarkan biaya. Biaya dapat diagali dari: sponsor, pejabat penyandang dana, peserta pameran, dan person lain yang tidak mengikat. Besar kecilnya biaya tergantung pada event, dan sangat relatif sesuai dengan tingkatan pameran seni rupa tersebut. Kesemuanya ini bertujuan agar pameran seni rupa dapat berjalan dengan baik dan memuaskan semua fihak. Pameran seni rupa sangat berguna untuk meningkatkan apresiasi seni pejabat, guru, karyawan, peserta didik, dan masyarakat umum.

Dengan modul ini diharapkan terjadi jaringan publik seni rupa. Secara garis besar pembahasan tentang pameran seni rupa ditulis dengan pendekatan praktis dan akademis agar lebih mudah dipelajari dan dipahami oleh peserta diklat “Diklat Guru Pembelajar” Seni Budaya sekolah menengah pertama.

(19)

Gambaran umum isi modul “Diklat Guru Pembelajar” ini meliputi: pengertian

Secara yuridis formal modul “Diklat Guru Pembelajar” ini ditulis berdasarkan Permendiknas Nomor 16, Tahun 2007 tentang peta kompetensi guru seni budaya yaitu: Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi, apresiasi, dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa, musik, tari, teater) dan keterampilan, serta mampu menganalisis materi, struktur, konsep, dan pola pikir ilmu-ilmu yang relevan dengan pembelajaran Seni Budaya.

Apresiasi seni rupa dengan pendekatan semiotika dapat dilaksanakan oleh guru kepada peserta didik, atau kepada siapa saja. Secara teknis pendekatan semiotika ini dapat disampaikan dengan analisa semiotika Roland Barthes. Hal ini merupakan bentuk apresiasi karya seni rupa secara lisan dan tertulis.

B. Tujuan

Setelah mempelajari modul ini, Anda dapat:

1. menguraikan konsep pameran seni rupa dengan menggunakan kata-kata sendiri;

2. menyusun kebutuhan pameran seni rupa pada event tertentu sesuai dengan anggaran yang diperlukan;

3. melaksanakan pameran seni rupa sesuai dengan anggaran, selama tiga hari di tempat “Diklat Guru Pembelajar” berlangsung;

(20)

4

C. Peta Kompetensi

Adaptasi dari Permendiknas Nomor 16 tahun 2007, peta kompetensi guru seni budaya adalah sebagai berikut:

1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan (mencakup materi yang bersifat konsepsi, apresiasi, dan kreasi/rekreasi) yang mendukung pelaksanaan pembelajaran seni budaya (seni rupa, musik, tari, teater) dan keterampilan;

2. Menganalisis materi, struktur, konsep, dan pola pikir ilmu-ilmu yang relevan dengan pembelajaran Seni Budaya.

D. Ruang Lingkup

Ruang lingkup modul “Diklat Guru Pembelajar” Seni Budaya ini adalah: Kegiatan pembelajaran 1: Terdiri dari tujuan, indikator pencapaian kompetensi, dan uraian materi yang meliputi: pengertian dan konsep pameran seni rupa, dan tipe pameran yang meliputi tipe estetik dan rekonstruksi. Sedangkan tipe pameran berdasarkan tujuan: fundraising (penggalian dana), apresiasi, dan festival/pesta. Panitia pameran seni rupa menjalankan tugas menyusun proposal, kebutuhan pameran, karya seni rupa, bukti pendaftaran peserta pameran seni rupa, pengumpulan karya, seleksi karya, display, dan pengepakan karya.

Penyusunan kebutuhan pameran seni rupa meliputi perabot pameran yang terdiri atas pustek, almari kaca, sketsel, dan kotak paking. Sedangkan assesoris pameran terdiri dari: pencahayaan, tanaman hias, poster, katalog, undangan, baliho, label, sound system, perlengkapan, dan kebutuhan lain seperti senar, lakban, meja kursi, buku tamu, buku kesan, taplak meja, dan konsumsi.

(21)

Aktivitas pembelajaran dengan mempelajari modul dan diskusi konsep pameran karya seni rupa.

Latihan/kasus/tugas meliputi pembentukan panitia pameran seni rupa, proposal, perijinan, berkarya, pendaftaran dan penyerahan karya, penyiapan perangkat pameran, publikasi, pemajangan karya seni rupa, pelaksanaan pameran, pembukaan, sarasehan, penutupan, evaluasi dan laporan serta penyiapan konsumsi pada setiap kegiatan.

Rangkuman berisi ide pokok materi yang disajikan secara berurutan dan ringkas, yang bersifat menyimpulkan, komunikatif, dan memantapkan pemahaman.

Umpan balik pameran seni rupa bersumber pada buku tamu dan buku kesan, masukan dari apresiator, dianalisis, didiskusikan, dirumuskan, jika terdapat kasalahan, kekurangan atau hal–hal yang dirasa kurang baik perlu disikapi dengan arif dan bijaksana untuk perbaikan di masa mendatang. Tindak lanjut, umpan balik ini dimanfaatkan untuk langkah tindak lanjut dalam pembelajaran di sekolah dan perlu diadakan pameran di sekolah maupun di tingkat yang lebih luas lagi baik antar guru maupun bersama peserta didik.

Kegiatan pembelajaran 2: terdiri dari apresiasi karya seni rupa secara lisan dan tertulis. Apesiasi seni rupa merupakan salah satu kegiatan yang beraspek afektif, yang dilakukan secara lisan tertulis oleh apresian, yang mengandung nilai apresiatif, pedagogis, dan dokumentatif. Nilai-nilai tersebut akan dicapai oleh apresian setelah melalui praktik mengapresiasi karya seni rupa dengan membawa bekal: cermat, terbuka, kesejarahan, objektif, memahami berbagai kata kunci: prinsip dan unsur seni rupa, berbagai teknik berkarya seni rupa, danaliran seni rupa.

(22)

6

Fungsi apresiasi karya seni rupa secara tertulis maupun lisan adalah: 1. Melaltih dan meningkatkan penghargaan karya seni rupa.

2. Menumbuhkan rasa empati.

3. Sebagai umpan balik dalam pemebelajaran.

4. Menumbuhkan sikap arif dan bijaksana dalam menanggapi tulisan apresiatif orang lain.

5. Memperluas jaringan apresiasi seni rupa memalui berbagai media komunikasi.

Apresiasi karya seni rupa dengan pendekatan semiotika, secara teknis menggunakan analisis dari Roland Barthes.

E. Saran Cara Penggunaan Modul

1. Pelajari Modul Grade 10 Pameran karya seni rupa dengan seksama, secara kronologis, dan kerjakan soal-soal latihan hingga mencapai mastery learning = 80. Bobot 20 soal essai = 40, cara menghitung nilai soal essai, jumlah jawaban yang benar anda kalikan dua. Bobot pameran seni rupa bersama peserta Diklat Guru Pembelajar= 60 (dinilai oleh widyaiswara). Total nilai = 100. Jika anda belum mencapai nilai 80 (terdiri nilai soal essai dan pameran), maka ulangi sampai mencapainya. 2. Kerjakan langkah-langkah untuk melaksanakan pameran karya seni

rupa: menentukan konsep, kebutuhan pameran, dan proposal rencana pelaksanaan pameran karya seni rupa.

3. Laksanakan pameran karya seni rupa selama tiga hari selama diklat. 4. Lakukan diskusi sebagai evaluasi diri sesama peserta diklat, agar

mendapat nilai apresiatif yang memadai.

(23)

KONSEP PAMERAN

SENI RUPA

A.

Tujuan

Setelah mempelajari Modul ini, Anda diharapkan dapat:

1. menguraikan konsep pameran karya seni rupa dengan benar; 2. menyusun kebutuhan pameran karya seni rupa;

3. melaksanakan pameran karya seni rupa;

4. apresiasi karya seni rupa dengan pendekatan semiotika menggunakan analisis dari Roland Barthes.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. teruraikannya konsep pameran karya seni rupa, oleh peserta Diklat Guru Pembelajar;

2. Terpenuhinya kebutuhan pameran karya seni rupa oleh peserta Diklat Guru Pembelajar, yang disusun secara kronologis mulai dari persiapan, penataan, pembukaan, pelaksanaan, penutupan, evaluasi, dan umpan balik;

3. Terlaksananya pameran karya seni rupa selama tiga hari oleh peserta Diklat Guru Pembelajar;

4. Terlaksanakannya apresiasi karya seni rupa, oleh peserta Diklat Guru Pembelajar dengan pendekatan semiotika menggunakan analisis dari Roland Barthes.

C. Uraian Materi

1. Pengertian dan Konsep Pameran Seni Rupa

Sebagaimana dikemukakan oleh Mikke Susanto (2011:12) bahwa pameran merupakan alat sajian pertanggungjawaban bagi perupa (maupun kurator) setelah berkreasi atau untuk menunjukkan kerja

KEGIATAN

PEMBELAJARAN

(24)

8

(25)

.

Konsep pameran karya seni rupa

Keterangan:

a. Kompetensi Guru SMP: kompetensi pedagogik, kepribadian, professional, dan sosial.

b. Proposal, dana, dan ijin, diurus oleh panitia.

c. Kebutuhan pameran seni rupa: karya seni rupa, data perupa, kurator, katalog, sketsel, fustek, tali, label, buku tamu, buku kesan, baliho, publikasi, dokumentasi, tempat, kursi tamu undangan, tanaman hias, sambutan, undangan, sound system, acara pembukaan dan penutupan, meja dan kursi untuk buku tamu.

(26)

10

e. Seleksi karya seni rupa dapat dilaksanakan secara langsung dengan melihat karya dan menerapkan prinsip seni sebagai tolok ukur karya yang layak pameran. Seleksi karya oleh TIM seleksi yang dibentuk oleh panitia.

f. Kerja kurator membantu dalam: penyusunan katalog, penelitian koleksi, penulisan informasi pada katalog, memutuskan tambahan item koleksi yang akan dipamerkan, mempresentasikan dan berbicara tentang karya yang dipamerkan, mengawasi kerja panitia, pAndai dalam bidang seni rupa klasik, modern, kontemporer, maupun terkait ilmu pengetahuan tertentu (Mikke Susanto, 2004: 112). Kritik seni rupa sangat diperlukan yang biasa ditulis oleh kritikus untuk mendapat gambaran tentang eksistensi karya yang dipamerkan.

g. Pelaksanaan pameran sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan h. Publikasi, dapat melalui radio, TV, media massa, poster, baliho, dll.,

sebagai salah satu cara mensosialisasikan pameran karya seni rupa.

i. Dengan adanya publikasi maka kolektorpun akan mengetahui tentang pameran karya seni rupa tersebut dan akan melihat, atau mungkin akan mengkoleksi karya yang dianggapnya berbobot, bagus dan menarik.

j. Publikasi, sangat diperlukan untuk mengundang penikmat seni atau apresian sangat perlu yang merupakan sasaran utama dalam pameran karya seni rupa tersebut.

k. Setelah selesai pameran, hendaknya karya yang terjual segera dibereskan dengan pemiliknya dan karya yang lain dikembalikan ke perupa.

(27)

Konsep ini bukan harga mati, namun dapat ditambah sesuai kebutuhan, misalnya perlu adanya para sponsor penyAndang dana dan berbagai fasilitas, perlu adanya kompensasi agar terjadi hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Pameran dapat diselenggarakan dalam berbagai even misalnya: lustrum sekolah, menyambut hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, promosi, lomba, syukuran dan lain-lain. Jika dalam rangka diklat para guru sekolah menengah pertama, maka segala sesuatunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Dengan demikian konsep pameran karya seni rupa ini akan menjadi fondasi dan pegangan utama dalam penyelenggaraan pameran karya seni rupa. Konsep ini setelah disetujui oleh berbagai fihak yang terkait, maka perlu disoalisasikan agar dapat diketahui secara terbuka.

2. Tipe pameran

Sebagaimana dikemukakan oleh Mikke Susanto (2011: 44) bahwa tipe pameran karya seni rupa bila ditinjau dari pendekatan karya, maka terdapat dua tipe yaitu:

a. Tipe estetik

Tipe estetik, merupakan pameran yang berkonsentrasi pada pAndangan bahwa objek (karya yang dipamerkan) mempunyai nilai instrinksik, dan tidak bermaksud untuk menyediakan informasi tentang latar belakang budaya objek, tetapi merepresentasikan kualitas estetik objek itu sendiri.

b. Tipe rekonstruktif

Tipe rekonstruktif merupakan suatu pendekatan yang menghadirkan objek (karya yang dipamerkan) sebagai sesuatu yang memiliki arti secara etnografi dan berusaha untuk menginformasikan budaya latarnya.

Tipe pameran berdasarkan tujuan:

(28)

12

b. Apresiasi, untuk meningkatkan apresiasi seni publik, terhadap perubahan apa yang terjadi tentang seni rupa dewasa ini menyangkut kultur, tema, teknik, bahan, dan kuratorial. Jika ada keuntungan, maka hal ini dianggap sebagai akibat dan bukan sebagai tujuan utama. Pameran sejenis ini banyak dilakukan oleh lembaga pendidikan, kelompok perupa, dan pemerintah yang Penyeleksiannya cenderung ketat.

c. Festival/pesta, tipe ini adalah untuk menggalang kebersamaan, misalnya Fstival Kesenian Yogyakarta, Bandung Art Event, Festival Kesenian Indonesia, Makasar Art Forum, Pekan Seni Mahasiswa Nasional, Sanggar Dewata Indonesia,dsb.

Karakter pameran dibedakan menjadi:

a. Menurut jumlah peserta, pameran tunggal dan bersama. Pameran tunggal dapat diadakan oleh perupa sendiri untuk mengenalkan corak lukisannya, atau diselenggarakan oleh lembaga tertentu, karena mengingat jasa-jasa perupa (mungkin sudah almarhum) yang sangat mengesankan dan berharga. Dalam hal ini perupa harus banyak berkomunikasi dengan pemilik galeri, kurator, manajer, atau peneliti untuk menentukan tema pameran yang akan digelar. Jika pameran bersama, biasa digagas oleh kelompok perupa tertentu dan sangat luas tema yang ditentukan, tanpa memAndang gaya atau kepribadian perupa.

b. Menurut jenis kelompok, pameran ini biasanya diadakan oleh kelompok seniman/perupa dengan alasan gender, suku, organisasi, sanggar, usia, dan agama.

c. Menurut waktu, misalnya annual, biennial, triennial, yangbiasanya diadakan secara rutin setahun sekali, dua tahun sekali atau tiga tahun sekali.

(29)

e. Menurut ruang, terdapat ruang formal misalnya galeri, museum, art shop, rumah seni. Sedangkan ruang non formal merupakan tempat yang lebih bebas dipakai untuk pameran seni rupa, misalnya, mall, gedung bioskop, stasiun, lapangan, gunung, sawah, pantai, warung makan dll. Terdapat pula ruang nyata dan ilusif atau illusory space seperti di internet dan pameran lukisan pada website.

f. Menurut tempat, di dalam ruang atau di luar ruang. Pameran seni rupa di dalam ruang sudah cukup jelas, sedangkan pameran di luar ruang misalnya pameran di taman kota, jalan raya, lapangan, di danau, laut, dan pameran secara permanen misalnya neon box, patung, mural, seni lampu dll.

g. Menurut pelaku (perupa dan non perupa), pamern jika dilakukan oleh perupa sudah biasa, namun dilakukan oleh wartawan, pengusaha, arsitek, desainer, pejabat, bahkan “kelompok non pelukis”, termasuk hal yang luar biasa.

h. Menurut peta kepentingan, pameran bersifat profit (mencari keuntungan) dan non profit misalnya pameran tugas akhir mahasiswa, bersifat edukasi, pekan seni mahasiswa nasional (Peksiminas). Terdapat juga pameran bertujuan politik, yang biasanya diadakan oleh negara, parpol, keolompok seni rupa Islami, misalnya tahun 1992 pameran BINAL secara politis menandingi Biennial II Yogya. Pameran kebudayaan, misalnya KIAS (Kebudayaan Indonesia-Amerika) di Ammerika Serikat tahun 1990-1991.

(30)

14

j. Menurut geopgrafis, pameran yang terbatas pada faktor geografis, misalnya pameran perupa Minangkabau, perupa Aborigin, perupa Bali,dsb.

k. Menurut hasil penelitian, merupakan hasil olahan etnografi, kebudayaan, antropologi, misalnya pameran oleh Yayasan Seni Rupa Komunitas Tulungagung Jawa Timur oleh perupa Moelyono. l. Masih terdapat jenis pameran yang lain, misalnya pameran tetap,

pameran keliling, pameran insidental, dan pameran berkala.

3. Panitia

Panitia pameran karya seni rupa memegang peran sangat penting, karena merupakan kunci utama kesuksesan kegiatan tersebut, yang akan berhubungan dengan minimal dua hal utama yaitu karya seni rupa dan pengunjung atau disebut apresian. Adaptasi dari Suwarna dkk. (2013: 22-23) mengatakan bahwa untuk memperlancar pelaksanaan pameran karya seni rupa ini perlu disusun panitia pameran yang meliputi:

a. Penanggungjawab:bertanggungjawab terhadap segala urusan administrasi dan operasional selama diklat khususnya penyelenggaraan pameran karya seni rupa oleh peserta diklat yaitu para guru seni budaya sekolah menengah pertama.

b. Penasihat: memberikan nasihat, atau saran tentang penyelenggaraan pameran karya seni rupa yang akan digelar. c. Ketua: bertanggungjawab secara organisatoris, prosedural,

humanis, kekeluargaan, terhadap seluruh kegiatan pameran karya seni rupa sejak awal sampai akhir.

d. Sekretaris: menyiapkan proposal berdasarkan rapat pleno panitia dan surat-menyurat.

(31)

f. Seksi-seksi:

1) Seksi humas: mempublikasikan melalui media massa (Koran, TV, radio, majalah), baliho, poster, dan termasuk mengundang peserta pameran.

2) Seksi karya: mengumpulkan karya, memberi nomor urut pendaftaran, memberikan tAnda bukti penyerahan, dan pengembalian karya. Mengurus pembagian hasil sesuai dengan ketentuan jika ada karya yang terjual. Menyiapkan katalog, disertai dengan sekapur sirih dari kurator atau pejabat yang mendukung dana atau yang punya kepentingan penyelenggaraan pameran, sambutan panitia, susunan panitia, dan label karya.

3) Seksi dokumentasi: mendokumentasikan melalui foto/video seluruh kegiatan pameran: pengumpulan karya, memotret karya, pemasangan karya, acara pembukaan, seminar/sarasehan, penutupan, dan pembongkaran karya. 4) Seksi tempat dan perlengkapan: menyiapkan tempat,

skessel, tali dan alat untuk pajang karya, alas patung, buku tamu. buku kesan, meja kursi untuk tamu, untuk menaruh buku tamu dan buku kesan, atau papan kenangan yang ditulis nama maupun kesan dan kritik pengunjung. Tanaman hias sebagai dekorasi agar suasana ruang pameran lebih sedap dan indah.

5) Seksi acara: menentukan acara pembukaan apakah dengan pengguntingan pita/buntal oleh pejabat atau siapa saja yang dipAndang kompeten, apakah melukis, atau dengan pemukulan gong pijit tombol, dan lain sebagainya. Jika ada acara sarasehan maka seksi acara yang ambil peran, termasuk acara penutupan.

6) Seksi konsumsi: menyiapkan konsumsi untuk: panitia, rapat, piket penyerahan karya, seleksi, pemajangan karya, pembukaan, jaga pameran, penutupan, pembongkaran, dan pengembalian karya.

(32)

16

8) Seksi asuransi (jika diperlukan): mengasuransikan seluruh karya seni rupa, jika ada karya yang rusak atau hilang maka ganti rugi ke perupa dengan dana asuransi tersebut.

Agar panitia pameran seni rupa dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan time schedule. Time schedule ini dipasang di sekretariat, dan apabila kegiatan telah berjalan, maka nama bagian kegiatan tersebut dapat distabilo. Hal ini berguna untuk mengingatkan panitia agar kegiatan apa saja yang telah dilakukan.

Time schedule

Pameran Karya Seni Rupa

“Diklat Guru Pembelajar” Sekolah Menengah Pertama

se Indonesia

2016

No Tanggal Kegiatan Petugas

1 1 Oktober Penbentukan Panitia Pameran, pembagian job deskripsi, ijin tempat setahun sebelumnya (misalnya di Tembi Rumah Budaya, Taman Budaya Yogyakarta, di Galeri Yogya), jika di PPPPTK Yogyakarta sesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Peserta rapat dari perwakilan provinsi se Indonesia

2 2 Oktober Pembagian tugas panitia dan penyusunan rencana kerja, serta penyebaran leaflet, dan undangan langsung, dan atau lewat internet

Panitia

3 3-10 Oktober Pembuatan karya, dan mengurus Ijin ke pemerintah

(33)

setempat

7 24-26 Okt. Pengiriman karya yang diterima ke panitia

Panitia

8 27 -28 Okt Pembuatan katalog, baliho, spanduk, dan perlengkapan lain

10 30 Oktober Pengangkutan karya dari sekretarian ke tempat pameran

Panitia

11 1-2 November Pemajangan karya Panitia

12 3-10 November Pameran karya seni rupa Panitia

13 4 November Persiapan sarasehan Panitia

13 10 November Saresehan dan penutupan Panitia

14 11-12 November

Pengembalian karya dan berbagai fasilitas

Panitia

15 13 November Evaluasi kegiatan pameran Panitia

16 15 November Laporan pameran karya seni rupa ke pejabat penyAndang dana, instansi terkait, peserta, dan ucapan terima kasih

(34)

18

17 17 November Pembubaran Panitia Pameran Seni Rupa

Panitia

4. Proposal

Proposal pameran karya disusun bersama pada rapat panitia awal, diusahakan telah ada draft proposal dan digAndakan secukupnya, agar seluruh panitaia dapat membahasnya. Rapat dipimpin oleh ketua panitia, sertelah draft direvisi, kemudian sekretaris menulis sesuai dengan keputusan rapat. Proposal didistribusikan ke penyAndang dana, sponsor, kurator, bahkan jika perlu ke kolektor. Panitia harus mempunyai arsip proposal. Adaptasi dari Mikke Susanto (2011, 130-132) format proposal pameran karya seni rupa adalah sebagai berikut. a. Halaman pembuka, ditAnda tangani oleh ketua panitia.

b. Judul pameran/ program (sub judul) biasanya singkat, dan menarik.

c. Ringkasan (executive summary) pameran, biasanya sekitar 200 kata yang berisi: tujuan pameran bersifat spesifik, eksplisit, dapat diukur tentang apa yang hendak dicapai dalan pameran tersebut, event apa, waktu pelaksanaan, dan kebutuhan dana.

d. Latar belakang, menjelaskan fakta atau informasi yang mendukung, target kelompok masyarakat yang akan dilayani, atau penyebab mengapa pameran digelar.

e. Metode, menjelaskan aktivitas yang akan dijalankan termasuk jenis karya, peserta dan acara selama pameran.

f. Evaluasi, dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan pameran dan akan dipakai sebagai lAndasan untuk masa mendatang.

g. Anggaran, seluruh kegiatan pameran dianggarkan dan ditotal jumlahnya.

(35)

i. Lampiran meliputi hal–hal yang mendukung misalnya foto gedung atau ruang yang akan digunakan pameran, beberapa logo sponsor atau penyAndang dana, foto tokoh/perupa/seniman/pendidik yang sangat berperan di dalam pameran tersebut.

Cetak proposal tersebut, dengan penampilan yang menarik, dan artistik, maka pihak lain akan tertarik untuk mensukseskan pameran tersebut. Distribusikan proposal pameran tersebut ke berbagai fihak terkait, diantaranya untuk menggalang dana, ijijn ke pemerintah setempat, atau lembaga/institusi yang berkompeten yang terkait langsung dengan pameran tersebut. Pengawalan proposal yang diajukan ke berbagai fihak sangat diperlukan, dengan sopan dan santun menghadap pejabat bersilaturahmi, atau kontak per telpon. Dengan pengawalan ini panitia akan mengetahui sampai dimana perjalanan proposal tersebut.

5. Kebutuhan pameran

Kebutuhan pameran karya seni rupa: karya seni rupa, data perupa, kurator, katalog, sketsel, pustek, vitrine, tali, label, tulisan dilarang pegang, buku tamu dan buku kesan, baliho, publikasi, dokumentasi, asuransi karya, tempat dan kursi tamu undangan, tanaman hias, sambutan, undangan, sound system, acara pembukaan dan penutupan, meja dan kursi, taplak untuk buku tamu.

a.

Karya seni rupa

(36)

20

buah lagi dikirim ke sekeretariat pameran. Perhatikan beberapa contoh karya seni rupa sebagai berikut.

Gambar 1. Ahmad Sadali, “ Mountain in layers of Gray”, 1980, oil on canvas, 80 cm x 80 cm.

(Sumber: Sem C. Bangun, 2001. Hal. Sampul)

(37)

Gambar 3. S, Soedjojono, “ Melihat Poster”, cat minyak di atas kanvas. (Sumber: Ajip Rosidi, 2008: 11)

(38)

22

Gambar 5. Amri Yahya, “Al Kursyi”, batik,

(Sumber: Katalog Pameran Nasional Seni Rupa di Pendopo Ambarukmo,1996)

Gambar 6. H. Widayat, “ Kontradiksi antara kota dan pedalaman Irian Barat”, cat minyak, 1997.

(39)

Gambar 7. Gambiranom, “Pronocitro-Roro Mendut”, cat minyak di kanvas, 1964 (Sumber: Mikke Susanto, 2013: 380)

Gambar 8. Popo IskAndar, “Dua macan dan matahari senja”, cat minyak di kanvas,1998 (Sumber: Mamannoor, 1998: 109)

Perhatikan contoh karya seni patung sebagai berikut.

(40)

24

Gambar 10. Samuel Hendratmo, “From Horror To Hope,”, mixed media, 1998 (Sumber: Jim Supangkat, dkk. 1997: 171)

Karya seni lukis dikelompokkan dengan seni lukis, seni patung dengan seni patung, begitu juga seni instalasi karya. Pengelompokan karya ditata sedemikian rupa agar aman, dan tidak rusak. Jika ukuran lukisan sama besar, maka karya dapat ditata dengan disAndarkan miring pada dinding dan disela-selanya diberi penyekat busa. Jika ukuran lukisan tidak sama maka lukisan dapat ditata berbolak balik agar bingkai tidak mengenai kanvas sehingga lukisan aman.

(41)

Gambar 12. Heri Dono, “ Gamelan of Rumour”,multi media, 1992, (Sumber: Jim Supangkat, dkk. 1997: 59)

(42)

26

Gambar 14. Bambang Toko, “ Bagaikan musang berbulu tangkis”, 2007 (Sumber: Muhidin M. Dahlan, 2012: 804)

Gambar 15. Amang Rahman, “Sayangilah semua yang di atas bumi, maka kau akan disayang oleh semua yang di atas langit” cat minyak di atas kanvas, 1996

(43)

Gambar 16. Suwarna, “Maha suci Allah”, cat minyak di atas kanvas, 1991 (Sumber: Koleksi pribadi, 1991).

Dari berbagai contoh karya seni rupa yang terdiri dari karya seni lukis, seni patung, dan seni instalasi di depan akan memberikan gambaran dari seksi karya dan seksi display tentang bagaimana karya-karya tersebut diterima dan disimpan sebelum pameran dan akan dipajang di dalam suatu pameran karya seni rupa.

b.

Bukti pendaftaran, data karya dan foto perupa.

(44)

28

PAMERAN SENI RUPA NASIONAL

(DIKLAT GURU PEMBELAJAR SENI BUDAYA INDONESIA)

Judul Pameran : “Menggapai masa depan” Organisasi penyelenggara : PPPP TK YOGYAKARTA

Alamat sekretariat : Klidon, No 75. Sleman, Yogyakarta Email : p4tk 16 @ yahoo.com. id

Kontak person : 08164224805

_______________________________________________________________ Nama perupa : Edy Suliman

Alamat : Jl. Kemuning 55 Bandung Nomor HP/telephon : 08164224866

Jenis karya : Seni Lukis

Format ini dibuat rangkap dua, satu lembar untuk perupa, satu lembar untuk panitia

(45)

Deskripsi singkat perupa dapat ditulis nama, alamat, sanggar, instansi, nomor HP/telephon, pengalaman pameran, penghargaan, dilengkapi dengan data karya tadi, maupun foto karya untuk pembuatan katalog, dilampiri foto perupa sesuai dengan ketentuan panitia.

c.

Pengumpulan karya

Pengumpulan karya disertai dengan data karya dan data pribadi peserta pameran dilengkapi nomor HP, diserahkan ke sekretariat pameran. Bila ada berbagai jenis karya dikelompokkan sesuai dengan jenisnya dan diberi nomor pendaftaran. Peserta pameran seni rupa diberi tAnda bukti pendaftaran dan membayar uang sesuai dengan ketentuan. Jenis karya telah ditentukan oleh panitia, apakah sejenis atau berbagai jenis.

d.

Seleksi karya seni rupa

(46)

30

e.

Display Karya

Display karya merupakan bagian yang paling utama di dalam pameran karya seni rupa. Hal ini bertujuan agar karya dapat dinikmati dengan enak dan nyaman oleh apresian/penikmat. Penataan karya seni rupa dalam pameran dapat memilih berbagai alternatif seperti yang diungkapkan oleh Suwarna dkk. (2013: 23) sebagai berikut.

1) Pengelompokan berdasarkan dimensi

Misalnya seni lukis dikelompokkan dengan ilustrasi grafis. Sedangkan patung dikelompokkan dengan karya seni tiga dimensi lainnya misalnya gerabah dan seni kriya tiga dimensi. Pengelompokan seperti ini mengenyampingkan perbedaan antara seni murni dan terapan.

2) Pengelompokan berdasarkan media

Misalnya lukisan cat air dikelompokkan dengan poster, lukisan cat minyak dikelompokkan dengan lukisan cat minyak. lukisan pastel dikelompokkan dengan gambar bentuk dengan pastel dsb.

3) Pengelompokan berdasarkan ukuran

(47)
(48)

32

(49)

Contoh Pemajangan karya (display) lukisan, diusahakan perpotongan diagonal karya, tepat pada mata orang dewasa normal. Hal ini akan mengenakkan penikmat di dalam berapresiasi. Perhatikan gambar berikut.

Gambar 19. Pemajangan lukisan (Sumber: Suwarna, dkk. 2013: 23)

Anda dapat memilih pemajangan karya seni lukis yang sama-rata, dan sama-tinggi seperti berikut.

(50)

34

Gambar 21. Pemajangan karya sejenis (Sumber: Margono dkk., 2006: 26)

Pemajangan karya tiga dimensi, misalnya dengan vitrine atau pustek seperti berikut.

Gambar 22. Vitrine

(Sumber: www.google//vitrine. com . id.)

(51)

Gambar 25. Melih4t pameran seni rupa. Tampak lima pustek berwarna putih. (Sumber: www.google//pameran. Com . id.)

Pemajangan karya tiga dimensi (Seni Patung), seperti gambar berikut.

Gambar 25. Syahrizal, “Tiduran”, kayu Sonokeling, 1991, tanpa pustek. (Sumber: Soedarso Sp. dkk: 32, 114).

Gambar 26. Hajar Satoto, “Dewi Sri”, Tembaga, padi, tanpa pustek. (Sumber: Soedarso Sp. dkk: 32, 114).

(52)

36

Gambar 27. “Ken Dedes” dari Singhasari, batu andhesit, pustek menyatu dengan patung (Sumber: M. Yamin, 1956).

(53)

Berikut contoh pemajangan karya di luar gedung

f.

Perabot Pameran

Perabot Pameran Seni Rupa terdiri dari: 1) Sculptur Stand / pustek

Pustek dibuat dari kayu yang kuat berbentuk kubistis, dengan permukaan bujur sangkar dan sisi-sinya empat persegi panjang. Ada tiga jenis ukuran fustek. Pustek pendek berukuran tinggi 50 cm, fustek sedang berukuran tinggi 75 cm, sedangkan fustek tinggi ukuran 100 cm. warna fustek sebaiknya netral, misalnya abu-abu dan tidak mengkilat. Permukaan fustek sebaiknya tertutup semua tanpa ada lubang sehingga ketika ditata dalam keadaan terlentang keberadaannya tetap bagus, dan tidak tampak berlubang. Perhatikan pustek pada tiga patung berikut ini, termasuk pustek pendek.

Gambar 31. Pemajangan karya seni instalasi outdoor, (Sumber: Muhiddin M.Dahlan dkk, 2012: 788)

(54)

38

(Sumber gambar 34, 35, 36, Katalog Pameran Retrospeksi G. Sidharta S. 15-22 Januari 2000)

Ketiga patung tersebut berdiri di atas pustek rendah

Pustek adalah alas patung yang berfungsi agar patung dapat berdiri dengan baik. Bentuk pustek bermacam -macam : kubistis, silindris, bahkan melengkung (pustek patung Dirgantara Jakarta/Patung AURI). Tinggi pustek berfariasi, minimal ada tiga ukuran, pendek, sedang, tinggi. Pustek pendek untuk memajang patung ukuran tinggi, pustek panjang untuk memajang patung ukuran kecil (rendah), dan pustek sedang untuk memajang patung ukuran sedang. Posisi pustek, berdiri, roboh, hal ini tergantung bentuk patung yang akan dipajang.

Gambar 33. G. Sidharta S.”Ayam Kinantan”, 1997

Gambar 34. G. Sidharta S., Pertemuan”, 1999

(55)

2) Vitrine/Glass Box/ Almari Kaca

Vitrine/Glass Box/ Almari Kaca, dapat diperhatikan pada gambar berikut.

Gambar 36. Vitrine kosong Gambar 37. Vitrine berisi karya (Sumber:www.google//vitrine. com . id.) (Sumber: www.google//vitrine. Com.id)

Fitrine adalah almari kaca yang berfungsi untuk memajang karya seni rupa tiga dimensi yang relative berukuran kecil, misalnya untuk: kerajinan dari bahan emas, perak, batu mulia, intan, topeng, gelang, kalung, dan lain-lain. Dengan demikian karya seni rupa tiga demensi tersebut lebih aman.

3) Art Display Stand/Sketsel

(56)

40

4) Painting Packing Box/ Kotak Paking

Kotak paking berfungsi untuk mengepak karya seni rupa yang akan di kirim ke lain daerah. Diadopsi dari Mikke Susanto (2011), pengepakan karya, dapat diperhatikan seperti pada gambar berikut.

.

Gambar 38. Teknis pengepakan karya dua dimensi tunggal dan digulung (Sumber : Mikke Susanto, 2004: 272 )

Berikut teknik pengepakan karya seukuran.

(57)

Gambar 40. Teknis pengepakan karya tiga dimensi (Sumber: Mikke Susanto, 2004: 275)

Kotak paking perlu diberi tAnda “Atas” dengan anak panah, agar karya seni rupoa lebih aman, tidak jungkir balik. Ditulis alamat yang dikirim dan pengirim lengkap.

g.

Asesoris Pameran

1) Lighting/Penerangan/Tata Cahaya

(58)

42

Gambar 41. Tata cahaya lampu pameran seni rupa

Tata cahaya di dalam ruangan juga memegang peranan penting agar karya dapat dinikmati dengan enak oleh penikmat. diadopsi dari Mikke Susanto (2011): pemasangan lampu hendaknya memperhatikan tata

cahaya lampu pameran seni rupa berikut. a) Lampu harus difokuskan pada objek (patung atau

lukisan).

b) Lampu tidak boleh difokuskan pada lantai atau dinding kosong.

c) Sudut sinar lampu dari atas ke karya antara 30 sampat 45 derajat.

d) Lampu harus tidak menyilaukan penikmat karya seni rupa.

e) Spotlight harus segera difokuskan kembali apabila lokasi karya dan display diubah.

f) Titik tengah lukisan setinggi orang normal Indonesia, sekitar 160 cm.

lampu

sinar

lukisan

(59)

Sering terjadi seleksi karya yang akan dipamerkan berupa foto karya, hal ini akan mempermudah kerja panitia, dan pernah dilaksanakan dalam Festival Kesenian Yogyakarta, karena tidak perlu mengembalikan karya. Foto menjadi milik panitia.

2) Poster, baliho, leflet, spanduk, katalog, undangan

Poster, baliho, leflet, spanduk, catalog, dan undangan merupakan perangakat untuk publikasi. Publikasi dapat dilakukan sebelum pameran dan saat pameran dengan tujuan agar publik mengetahui keberadaan pameran dan mau mengunjunginya. Publikasi dilakukan dengan berbagai bentuk di antaranya adalah pemasangan spanduk di beberapa tempat, poster, selebaran, baliho, lewat TV, media massa, radio, atau internet. Perhatikan contoh poster sebagai berikut.

Gambar 42. Poster Biennale Jogja XII 2013 (Sumber: www google//pameran fky 12. com.id)

(60)

44

Gambar 44. Pintu gerbang FKY 27 (Sumber: www google//pameran fky 12. com.id)

Gambar 45. Salah satu Baliho FKY 27, 2015 (Sumber : www google//pameran fky 27. com.id)

(61)

Gambar 46. Baliho FKY 27 matur nuwun , 2015 (Sumber: www google//pameran fky 27. com.id)

Poster, merupakan salah satu cara untuk mengajak orang lain agar berkenan melihat pameran seni rupa dengan lembar kertas atau papan relatif kecil, yang dipasang ditempat-tempat strategis. Syarat poster: komunikatif, terdapat gambar yang menarik, teks singkat-padat-berisi, dan orisinil. Sedangkan baliho, ujudnya mirip dengan poster namun dalam ukuran relatif besar. Leflet,

merupakan salah satu media komunikasi suatu kegiatan tertentu (pameran seni rupa) berujud lembar kertas kecil berisi informasi (ukuran folio/kuarto), dan diedarkan secara gratis

(62)

46

Gambar 47. Spanduk Gelar Seni Rupa Klaten 2003 (Sumber: Sukimin dan Sutandur, 2005: 102)

Katalog, sebagaimana dikemukan oleh Mikke Susanto (2011: 141), sangat berperan dalam pameran seni rupa, sebagai media penyampai pesan, dan seperti yang diungkapkan oleh Marshal McLuhan : Medium is the Message. Katalog berfungsi untuk: (1) Alat promosi dan berita kekayaan, keyakinan, dan harapan penyelenggara pameran karya seni rupa. (2) Referensi tekstual. (3) Dokumentasi individu, dan (4) Buah tangan/kenang-kenangan kepada publik sehabis mengunjungi pameran seni rupa.

Perhatikan contoh berbagai katalog berikut ini:

Gambar 48. Katalog purbakala nisan-nisan Samudra Pasai,

(63)

Gambar 49. Katalog pameran Asean Festival of Art ’92, bentuk buku (Sumber: Katalog Pameran Asean Festival of Art, Yogyakarta, 1992)

(Sumber gambar 40 dan 41: Katalog Pameran Seni Lukis hajar Pamadhi, 2000, Australia) Gambar 50. Katalog Painting

Exibition, Hajar Pamadhi, 2000, di Charles Strurt University Australia

(64)

48

(Sumber gambar 42, 43: Katalog Pameran Retrospektif G. Sidharta Soegijo, 2000)

Berikut contoh katalog pameran berdua.

Gambar 54. Katalog Pameran Lukisan Arfial Arsad Hakim dan Budie AZ. 2001 (Sumber: Katalog Pameran Lukisan Arfial Arsad Hakim dan Budie AZ. 2001)

Pameran di galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta tanggal 17-26 Oktober 2001, tampak bagian depan dan bagian belakang ucapan terima kasih. Di bagian dalam terdapat sambutan dari dewan Kesenian Jakarta, tertAnda Syahnagra Ismail. Di bagian dalam yang lain berisi kegiatan pameran di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Solo dan Bali.

Gambar 52. Katalog Pameran Retrospektif G. Sidharta Soegijo, 2000

(65)

Gambar 55. Bagian dalam katalog pameran lukisan Arfial dan Budie AZ. (Sumber: Katalog Pameran Lukisan Arfial Arsad Hakim dan Budie AZ. 2001)

Gambar 56. Katalog mencantumkan logo-logo sponsor (Sumber: Katalog Pameran Seni Rupa Paguyuban Sidji Imogiri, 2002)

(66)

50

putih, sedangkan foto karya (lukis) berwarna, dilipat-lipat dicetak dengan kertas tebal lux.

Contoh katalog bentuk undangan sebagai berikut.

Gambar 57. Katalog sekaligus undangan

(Sumber : Katalog Pameran seni lukis Ratmoyo, 2003, di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul ,Yogyakarta)

Pameran lukisan tersebut dilakasanakan pada 24 januari – 17 Februari 2003 pukul 09.00 21.00 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Berikut adalah salah satu contoh lukisannya.

Gambar 58. Ratmoyo, “Anoman duto”, cat minyak, 90 cm x 120 cm

(67)

Berikut contoh katalog pameran tunggal H. Widayat.

(Sumber gambar 60, 61: Katalog Pameran Tunggal H. Widayat 1999) Isi bagian dalam: Riwayat dan penghargaannya.

Gambar 61. Riwayat dan penghargaan H. Widayat (Sumber: Katalog Pameran Tunggal H. Widayat,1999) Gambar 59. Katalog Pameran Tunggal H.

Widayat1999, jenis buku

(68)

52

Contoh katalog pameran seni rupa Asean 2015, bentuk buku sebagai berikut.

Gambar 62 . Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean, 2015, (Sumber: Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean Universiti Teknologi Mara, Malaysia)

Gambar 63. Muhammad Laynan Bin Mohd Sapri “ Untitled”, (Sumber: Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean Universiti Teknologi Mara, Malaysia)

Gambar 64. ”, Mazlinda Abdullah, “Tradisi baba Nyonya, 2015, ) Sekolah Seni Johor Malaysia. . (Sumber gambar : Katalog Pameran Seni Rupa Asean 2015 di Universiti MARA Malaysia)

(69)

Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean 2015 ini berlangsung pada tanggal 10 hingga 30 desember 2015 di Galeri Creative Mdia & Technology HUB (CMT), Universiti Teknologi Mara Malaysia, tema; “BREAKING DISSENT: THE ASEAN VISION”. Peserta dari dosen dan mahasiswa dari Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Pendidikan Bandung, Universitas Negeri Malang, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan Kualaumpur, Maktab Rendah Sains MARA Malaysia, Siswa Sekolah Seni Johor Bahru Malaysia.

Berikut adalah contoh katalog Pameran karya Esttetika Rupa Dua Dimensi mahsiswa semester V, 2015, PGPAUD, FIP, UNY di Jl. Bantul.

Gambar 66. Katalog pameran Estetika Rupa Dua Dimensi mahasiswa PAUD 2015 FIP UNY, bentuk folder

(70)

54

Gambar 67. Katalog Pameran hasil lomba Seni Lukis Anak DIY-Kyoto 2015

Gambar 68. Beberapa foto lukisan Anak DIY-Kyoto.

(Sumber: Katalog Pameran hasil lomba Seni Lukis Anak DIY-Kyoto 2015, bentuk folder)

Gambar 69. Katalog Pameran Nuansa Kriya Nusantara, mahasiswa Prodi Pemdidkan Seni Kriya, FBS, UNY, 2016 (Sumber: Katalog Pameran Nuansa Kriya Nusantara, mahasiswa Prodi

Pendidikan Seni Kriya, FBS, UNY, 2016) bentuk folder.

(71)

foto; dan (6) karya seni. Kritikus Soedarmadji (alamarhum) menyatakan: “ mengfungsikan katalog sebagai sarana membangun nilai moral dan solidaritas antara kita (seniman, kurator, galeri) dan mereka (penonton, pengamat, kritikus, kolektor dan pembutuh karta seni). Dengan demikian katalog merupakan jembatan yang sangat vital di dalam pameran karya seni rupa.

Undangan pameran seni rupa, dapat berujud mirip surat resmi atau diformat khusus semenarik mungkin dan dapat disertai gambar dan foto perupa yang berpameran. Sampul undangan: kepada siapa, dimana, dan alamat pengirim. Di sudut kiri atas dapat ditulis “UNDANGAN PEMBUKAAN PAMERAN SENI RUPA...”. Isi undangan: Acara pembukaan pameran seni rupa, di..., jam..., dibuka oleh..., pameran berlangsung tanggal ... sampai dengan ...jam....sampai....

3) Label karya

Label karya, menggunakan kertas tebal, dan dicetak yang memuat: judul, nama, teknik, media, ukuran, tahun pembuatan, jika karya kelompok maka perlu ditulis karya kelompok. Label juga dapat diberi logo dari penyelenggara. Penempelan label, biasanya pada sisi kanan karya, dan jika berupa lukisan, di sebelah kanan bawah. Jangan sampai pemasangan label mengganggu keindahan karya misalnya label ditempel pada bingkai atau pada lukisan tersebut. Perhatikan contoh pemasangan label berikut.

(72)

56

Contoh label lukisan sebagai berikut

Gambar 71. Label pameran seni lukis

4) Tanaman hias

Tanaman hias, berfungsi untuk dekorasi, dan menambah indahnya ruang pameran. Pilihlah tanaman yang tidak terlalu besar sehingga tidak menggangu karya seni rupa, misalnya berbagai jenis puring, sri rejeki, palem sikas yang pendek. Siram air secukupnya sebelum ditaruh di dalam ruang pameran, setelah air merata dan tidak rembes, maka tanaman hias siap ditata. Setiap dua hari sekali disiram air secukupnya, jangan sampai kekeringan.

5) Sound System

Sound system, pilih yang “gandem marem”, sangat diperlukan pada acara pembukaan, saresehan, pemberian penghargaan, dan penutupan pameran seni rupa. Penataannya diusahakan setepat mungkin sehingga enak didengar.

h.

Perlengkapan lain

Perlengkapan lain di antaranya adalah: senar, lakban, cutter, pukul besi kecil, paku, isolasi bolak-balik, buku tamu, buku kesan-pesan, meja-kursi penjaga pameran, taplak, perangkat pembukaan pameran, tulisan sold untuk karya yang terjual, jangan pegang.

Nama : Ahmad Suhada, S.Pd. Sekolah : SMPN 1 Yogyakarta Judul : “Murka Merapi” Bahan : Cat air

Teknik : Aquarel

(73)

i.

Pelaksanaan Pameran

Pelaksanaan pameran karya seni rupa terdiri dari: 1) Pembukaan

Tamu undangan dipersilahkan mengisi buku tamu, diberi katalog, dan dipersilahkan duduk ditempat yang telah disediakan. Sambil menunggu acara pembukaan biasa di perdengarkan alunan musik modern atau tradisional, hal ini disesuaikan dengan tema atau jenis karya yang dipamerkan. Susunan acara pembukaan pameran karya seni rupa biasanya terdiri dari:

a) Pembukaan dengan berdoa bersama dipimpin oleh pembawa acara.

b) Sambutan:

(1) Ketua panitia.

(2) Pejabat Instansi/ pimpinan galeri/ seniman/kurator.

c) Pendukung, dapat berupa tarian, nyanyian, atau puisi, atau happening art.

d) Pembukaan pameran oleh siapa saja yang telah ditentukan terlebih dahulu. Pembukaan pameran, bisa dengan menggunting buntal/pita, memukul gong/melukis bersama/bentuk yang lain.

e) Setelah pameran dibuka, kemudian para tamu undangan dipersilahkan menikmati karya seni rupa yang dipamerkan.

f) Disudut tertentu telah tersedia hidangan ala kadarnya, para tamu undangan dipersilahkan menikmati hidangan yang telah disediakan, sebaiknya juga disedikan kursi secukupnya, barangkali ada undangan yang sudah tua atau kurang sehat untuk berjalan dan berdiri lama-lama. g) Setelah menikmati karya yang dipamerkan, para

(74)

58

kritik, saran, pesan tertentu agar penyelenggara atau perupa mendapat umpan balik yang berarti.

h) Seksi keamanan tetap siaga agar tidak terjadi kerusuhan, atau kegaduhan, atau kekacauan.

Sedangkan kolektor diundang secara khusus, dan bila perlu silaturahmi ke para kolektor, agar mau datang dan memilih karya yang akan dikoleksinya. Demikian pula kritikus seni rupa maupun wartawan, diundang secara klhusus agar lebih terhormat, dan dikawal atau dimonitor lewat telephone apakah mereka dapat meluangkan waktu untuk datang pada acara pameran karya seni rupa tersebut.

2) Selama pameran berlangsung

Selama pameran berlangsung hendaknya disiapkan keamanan, penjaga yang ramah, sopan dan menarik, bisa wanita atau pria dan sediakan konsumsi baginya. Penjaga pameran disarankan yang menguasai permasalahan pameran tersebut sehingga apabila ada wartawan, orang yang mengadakan penelitian, atau akan mengkoleksi karya, mereka dapat melayani dengan baik.

3) Sarasehan dan penutupan

(75)

j.

Beberapa impetus

Impetus yang dimaksud adalah konsumen, pemerintah, sponsor, dan kompetisi (persaingan) yang dapat mendorong adanya perubahan dari keadaan yang kurang baik ke keadaan yang lebih baik, di antaranya adalah sebagaimama dikemukakan oleh Mikke Susanto (2011):

1) Konsultan seni, biasa dikontrak oleh lembaga yang mempunyai koleksi karya.

2) Kurator, pengamat, kritikus, mereka adalah orang-orang yang dapat menunjukkan keberadaan pameran seni rupa sehingga akan menjembatani antara perupa dengan apresian.

3) Art Broker, pedagang karya seni rupa yang dapat menghubungkan antara perupa dan pembeli karya.

4) Manajer Seni, biasanya berjasa dalam pembuatan proposal, buku perupa atau untuk hubungan dengan masyarakat.

5) Penerbit dan wartawan, menerbitkan buku perupa, atau menyebarluaskan berita pameran tersebut.

6) Desainer interior/arsitek, membantu tata ruang pameran agar lebih menarik.

k.

Apresian dan Kolektor

(76)

60

merasakan, menikmati keindahan, keunikan karya seni rupa yang artistik dan estetis adalah suatu penghargaan yang patut diacungi jempol. Rambu-rambu “ dilarang pegang” untuk apresian kiranya masih diperlukan karena kebanyakan orang ingin memegang karya seni rupa tersebut.

Gambar 72. Penjaga menjelaskan isi lukisan kepada apresian (Sumber: Sukimin dan Edy Sutandur, 2005: 107)

Gambar 73. Salah satu patung FKY 27 2015, “Kalajengking” di luar ruang (Sumber: www google//pameran fky 27.com.id)

(77)

Suatu contoh misalnya patung Durga di candi Prambanan, bagian payudaranya tampak mengkilat karena sering dipegang oleh pengunjung padahal keras karena batu andhesit. Inilah contoh apresian yang kurang menghargai karya seni rupa. Dalam hal ini peran penjaga pameran harus jeli dalam mengawasi apresian agar tidak memegangnya. Namun, penjaga pameran tetap menunjukkan keramahannya.

Presiden Soekarno adalah salah satu kolektor seni rupa di Indonesia. Perhatikan lukisan Basoeki Abdullah “ Bung Karno” sebagai berikut.

Gambar 75. Basuki Abdullah, “Bung Karno” , 1945, (Sumber: Mikke Susanto, 2013: i).

Gambar 76. Basoeki

(78)

62

Patung dan lukisan koleksi Bung Karno yang lain adalah sebagai berikut.

Lukisan Basoeki Abdullah berjudul “Bung Karno’ dan “Pergiwo-Pergiwati tersebut merupakan koleksi Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno, karya Basoeki Abdullah, dipajang di Istana Presiden Jakarta. Basoeki Abdullah adalah pelukis karya Trubus, menghiassi halaman Istana Presiden Republik Indonesia di Jakarta.

Kolektor adalah seseorang yang mengkoleksi karya seni rupa dengan iklhas dan senang membeli karya seni rupa. Keberadaannya sangat menopang pendanaan dan keberlanjutan berkarya seni rupa oleh perupa. Para kolektor di indonesia

Gambar 77. Trubus “Gadis dan Kodok”, 1957-1958 (kiri) (Sumber: Mikke Susanto, 2013: 359)

(79)

antara lain: Bung Karno (Presiden pertama Republik Indonesia), Agus Usada (Bali), David Tedy Arianto (Magelang), Eddy Hartanto (Jakarta), Haudy Mamesah (Bandung), Helen Koeswoyo (Jakarta), Hendro Warsito (Semarang), Henky Kumiadi (Surabaya), Leo Silitonga ( Jakarta), Paulus Sutrisno (Jakarta), Simon Tan (Semarang), Steven Hardi (Semarang), Suwito Gunawan (Jakarta), Tony Hartawan (Ubud Bali), Wayan Sutarma (Ubud Bali), Wendy Irwan (Jakarta), Wiyu Wahono (Jakarta), (Muhidin M. Dahlan, 2012: 688). Sebab dengan adanya karya yang laku terjual, perasaan perupa senang dan bangga. Tentang harga suatu karya relative, tidak ada ketentuannya, tergantung pada bobot mutu karya, corak pribadi dan ketenaran dari perupa, Lukisan Affandi misalnya berharga ratusan juta, bahkan milyaran, begitu pula lukisan Joko Pekik, dan Entang Wiharso.

l.

Umpan balik

(80)

64

m.

Pengembalian karya

Pengembalian karya seni rupa hendaknya dilakukan dengan tertib dan tertulis dengan berita acara keadaan karya, apakah masih utuh tetap baik, atau ada kerusakan. Jika ada karya yang rusak atau hilang dan karena karya sudah diasuransikan, maka karya yang rusak atau hilang diganti dengan asuransi tersebut. Adaptasi dari Mikke Susanto (2011), contoh laporan kondisi karya seni rupa sebagai berikut.

LAPORAN KONDISI KARYA SENI RUPA

Judul Pameran : Nama penyelenggara : Alamat penyelenggara :

Nama perupa :

Keadaan : baik/ rusak/ cacat (coret salah satu) Jika karya rusak : tuliskan tingkat kerusakannya. Jika karya baik : tuliskan karya baik

(81)

D. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas pembelajaran peserta diklat PKB guru sekolah menengah pertama adalah sebagai berikut :

1. Mempelajari Modul Grade 10 Pameran Karya Seni Rupa dengan saksama.

2. Diskusi tentang konsep Pameran Karya Seni Rupa, setelah hasil diskusi dirumuskan, maka diteruskan dengan kegiatan berikutnya, latihan sebagai berikut

E. Latihan/Kasus/Tugas

Anda dimohon melaksanakan latihan sebagai berikut. 1. Pembentukan Panitia Pameran Karya Seni Rupa.

2. Penyusunan Proposal Pameran Karya Seni Rupa (sesuai dengan lingkup diklat, termasuk dana yang dibutuhkan).

3. Perijinan, sesuai dengan situasi dan kondisi. 4. Berkarya seni rupa, sesuai dengan ketentuan.

5. Pendaftaran dan penyerahan karya seni rupa yang akan dipamerkan (pengisian data pibadi dan data karya).

6. Penyiapan perangkat pameran: katalog, spanduk, baliho, label, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan.

7. Publikasi, kurasi, dan distribusi undangan bagi pejabat, kolektor, guru dan karyawan maupun siswa sekolah menengah pertama terdekat, termasuk ke TV, wartawan, jika dana memungkinkan.

8. Pemajangan karya seni rupa di ruang yang telah ditentukan. 9. Pelaksanaan pameran.

10. Pembukaan, sarasehan dan penutupan pameran.

11. Evaluasi pelaksanaan pameran karya seni rupa, dokumentasi sejak awal sampai akhir kegiatan pameran, foto maupun video. Unggah ke internet kegiatan tersebut.

(82)

66

F. Rangkuman

1. Latar belakang, Herbert Read menyatakan konsep pendidikan seni adalah education through art, artinya pendidikan lewat seni.

2. Pameran seni rupa sangat berguna untuk meningkatkan aprsiasi seni bagi siapa saja.

3. Tujuan diklat; peserta dapat menguraikan konsep pameran, kebutuhan, dan melaksanakan pameran karya seni rupa.

4. Peta kompetensi, menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung pembelajaran seni budaya.

5. Ruang lingkup modul grade 10: menguraikan konsep pameran, menyusun kebutuhan pameran dan melaksanakan pameran karya seni rupa.

6. Saran penggunaan modul: baca dengan saksama, kerjakan langkah-langkah pelaksanaan pameran, melaksanakan pameran, diskusi dan evaluasi, lebih lanjut pameran di sekolah.

7. Kegiatan pembelajaran, mencakup tujuan, indikator pencapaian dan uraian materi:

a. Konsep pameran seni rupa merupakan pokok utama yang mendasari seluruh kegiatan pameran.

b. Tipe pameran: tipe estetik tidak bermaksud menyediakan informasi tentang latar belakang budaya objek. Sedangkan tipe rekonstruktif, menghadirkan objek yang punya arti etnografi dan berusaha menampilkan budaya latarnya.

c. Tipe pameran berdasarkan tujuannya ada tiga: menggalang dana, meningkatkan apresiasi seni publik, dan menggalang kebersamaan. d. Karakter pameran dibedakan menjadi: pameran tunggal atau

bersama, kelompok, menurut waktu seperti biennal, jenis karya, ruang, tempat, pelaku, peta kepentingan, peta sejarah, geografis, hasil penelitian, pameran tetap, insidental, atau berkala.

(83)

f. Diperlukan time schedule, berisi kolom nomor, tanggal, kegiatan, dan petugas sejak awal sampai akhir pameran.

g. Proposal disusun dengan baik terdiri dari: pembuka, judul, ringkasan pameran, latar belakang, metode, evaluasi, anggaran, tindak lanjut, lampiran.

h. Kebutuhan pameran: karya seni rupa, bukti pendaftaran, data karya dan data perupa, pengumpulan karya, seleksi, display karya menurut dimensi, media dan ukuran karya.

i. Pemajangan karya dua dimensi memperhatikan tinggi orang normal dewasa tepat titik tengah lukisan, sedangkan bagian atas lukisan bisa sama rata atau diambil as semua karya lukisnya, bila karya seni patung menyesuaikan. Pemajangan karya bisa diluar gedung, bahkan di sawah dan lain-lain sesuai dengan tujuannya.

j. Sirkulasi pengunjung diatur sedemikian rupa agar seluruh karya dapat dinikmati dengan enak dan aman.

k. Tata cahaya: sinar lampu membentuk sudut sekitar 30 sampai dengan 45 derajat, dari atas.

l. Pengepakan karya: jika lukisan dengan diberi penyekat busa diantara bingkai ditaruh pada bok dan ditutup kuat-kuat. Jika seni patung, juga diberi penyekat busa atas bawah dan tengah atau sesuai dengan keadaan bentuk patung, dan dimasukkan box yang kuat.

m. Katalog pameran merupakan jembatan antara perupa dengan penikmat, berisi pembahasan karya, daftar karya, data perupa dan berbagai sponsor penyAndang dana.

n. Perlengkapan lain adalah sketsel, fustek, tali, label, mebeler, buku tamu buku kesan, tanaman hias, sound system, ruang berAC.

o. Publikasi pameran dengan spanduk, baliho, leaflet, TV, media massa, radio.

(84)

68

q. Sarasehan dan penutupan pameran diperlukan untuk mendapatkan umpan balik.

r. Beberapa impetus antara lain: konsultan seni, kurator, art broker, manajer seni, penerbit dan wartawan, serta desainer interior, membantu kelancaran pameran seni rupa.

s. Apresian adalah orang yang menikmati karya seni rupa terdiri dari siapa saja, dan kolektor adalah orang yang membeli karya dengan ikhlas dan senang.

t. Umpan balik, datang dari apresian, kritikus, kurator maupun dari buku kesan, digunakan sebagai bahan kajian untuk memperbaiki pameran yang akan datang dan untuk meningkatkan kompetensi guru sekolah menengah pertama.

u. Pengembalian karya, dilakukan dengan tertib dan disertai berita cara keadaan karya.

v. Aktivitas pembelajaran adalah mempelajari modul grade 10 tentang pameran seni rupa dan diskusi tentang konsep pameran seni rupa. w. Latihan/kasus/tugas, peserta diklat PKB mengerjakan soal latihan,

dan

x. melakukan kegiatan pembetukan panitia pameran, menyususn proposal, ijin, pendaftaran, penyerahan karya, penyiapan katalog, spanduk, baliho, label dan perlengkapan lainnya, publikasi, pemajangan karya, pelaksanaan pameran, dokumentasi, evaluasi dan laporan ke penyAndang dana, maupun atasan langsung.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

Umpan balik dari kegiatan pameran karya seni rupa tersebut adalah bersumber pada :

1. Buku tamu dan buku kesan.

2. Masukan dari apresian (kurator, kritikus, pejabat, dosen, karyawan, maupun masyarakat umum).

3. Umpan balik dianalisis dan dapat dikategorikan berupa: a. Kritik yang membangun.

(85)

d. Ajakan untuk maju dan berkembang.

Dari berbagai jenis umpan balik tersebut didiskusikan sesama teman sejawat, dan dirumuskan kesimpulannya, karena akan bermanfaat untuk pameran yang akan datang agar lebih baik penyelenggaraannya.

Tindak lanjut dari pameran karya seni rupa ini adalah:

1. Di sekolah menengah pertama Anda, melaporkan ke kepala sekolah bila diklat Anda telah selesai dan mendapat sertifikat, kategori tertentu. 2. Rencanakan pameran karya seni rupa dari guru dan pembelajar secara

periodik misalnya tiap akhir semester walaupun pameran tingkat kelas. 3. Remcanakan pameran karya seni rupa tiap tahun dan pada event-event

penting lainnya, misalnya lustrum yang keberapa sekolah Anda.

4. Rencanakan adanya pameran bersama guru-guru tingkat kabupaten, provinsi, regional, nasional, atau tingkat internasional.

(86)

(87)

MENGAPRESIASI KARYA

SENI RUPA SECARA LISAN

MAUPUN TERTULIS

A. Tujuan

Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran 2 ini, Anda diharapkan mampu: 1. mengapresiasi karya seni rupa secara lesan;

2. mengapresiasi karya seni rupa secara tertulis;

3. merumuskan hasil mengapresiasi karya seni rupa secara lesan dan tertulis.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Terlaksananya apresiasi karya seni rupa secara lesan, oleh peserta Diklat Guru Pembelajar;

2. Terlaksananya apresiasi karya seni rupa secara tertulis, oleh peserta Diklat Guru Pembelajar;

3. Tersusunnya hasil mengapresiasi karya seni rupa secara lesan dan tertulis.

C. Uraian Materi

Mengapresiasi karya seni rupa secara lesan

1. Pendekatan ideoplastis

Apresiasi karya seni rupa dengan pendekatan ideoplastis secara lisan dilakukan dengan tutur kata,yang membahas tentang: ide (ide, menurut Mikke Susanto (2011: 187) merupakan: (1) Pokok isi yang dibicarakan oleh perupa melalui karya-karyanya; (2) Idea atau pokok isi merupakan sesuatu yang hendak diketengahkan), cerita, dan nilai-nilai yang terkandung di dalam karya tersebut.

KEGIATAN

PEMBELAJARAN

Figur

Gambar  1.  Ahmad Sadali, “ Mountain in layers of Gray”, 1980, oil on canvas, 80
Gambar 1 Ahmad Sadali Mountain in layers of Gray 1980 oil on canvas 80 . View in document p.36
Gambar 2. Dadang Christanto,  “Thousand earth people”, 1996.
Gambar 2 Dadang Christanto Thousand earth people 1996 . View in document p.36
Gambar 5.   Amri Yahya, “Al Kursyi”, batik,
Gambar 5 Amri Yahya Al Kursyi batik . View in document p.38
Gambar 6.   H. Widayat, “ Kontradiksi antara kota dan pedalaman Irian Barat”, cat
Gambar 6 H Widayat Kontradiksi antara kota dan pedalaman Irian Barat cat . View in document p.38
Gambar 10.  Samuel Hendratmo, “From Horror To Hope,”, mixed media, 1998
Gambar 10 Samuel Hendratmo From Horror To Hope mixed media 1998 . View in document p.40
Gambar 12.  Heri Dono, “ Gamelan of Rumour”,multi media, 1992,
Gambar 12 Heri Dono Gamelan of Rumour multi media 1992 . View in document p.41
Gambar 14. Bambang Toko, “ Bagaikan musang berbulu tangkis”,  2007
Gambar 14 Bambang Toko Bagaikan musang berbulu tangkis 2007 . View in document p.42
Gambar 26. Hajar Satoto, “Dewi Sri”, Tembaga, padi, tanpa pustek.
Gambar 26 Hajar Satoto Dewi Sri Tembaga padi tanpa pustek . View in document p.51
Gambar 27. “Ken Dedes” dari Singhasari, batu andhesit,  pustek menyatu dengan
Gambar 27 Ken Dedes dari Singhasari batu andhesit pustek menyatu dengan . View in document p.52
Gambar 31.  Pemajangan karya seni
Gambar 31 Pemajangan karya seni . View in document p.53
Gambar 35. G.
Gambar 35 G . View in document p.54
Gambar 39. Teknis pengepakan karya seukuran, lebih dari satu
Gambar 39 Teknis pengepakan karya seukuran lebih dari satu. View in document p.56
Gambar 40. Teknis pengepakan karya tiga dimensi
Gambar 40 Teknis pengepakan karya tiga dimensi . View in document p.57
Gambar   43.   Baliho Agenda Kegiatan FKY 27  2015
Gambar 43 Baliho Agenda Kegiatan FKY 27 2015 . View in document p.59
Gambar 44. Pintu gerbang FKY 27
Gambar 44 Pintu gerbang FKY 27 . View in document p.60
Gambar 46.  Baliho FKY 27 matur nuwun , 2015
Gambar 46 Baliho FKY 27 matur nuwun 2015 . View in document p.61
Gambar 48.  Katalog  purbakala nisan-nisan Samudra Pasai,
Gambar 48 Katalog purbakala nisan nisan Samudra Pasai . View in document p.62
Gambar 51. Hajar Pamadhi, “ The Miror
Gambar 51 Hajar Pamadhi The Miror . View in document p.63
Gambar   61.  Riwayat dan penghargaan H. Widayat (Sumber: Katalog Pameran Tunggal H. Widayat,1999)
Gambar 61 Riwayat dan penghargaan H Widayat Sumber Katalog Pameran Tunggal H Widayat 1999 . View in document p.67
Gambar   61.  Riwayat dan penghargaan H. Widayat
Gambar 61 Riwayat dan penghargaan H Widayat . View in document p.67
Gambar   62 . Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean, 2015, (Sumber: Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean Universiti Teknologi Mara, Malaysia)
Gambar 62 Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean 2015 Sumber Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean Universiti Teknologi Mara Malaysia . View in document p.68
Gambar   62 . Katalog Pameran Pendidikan
Gambar 62 Katalog Pameran Pendidikan . View in document p.68
Gambar  65.  Suwarna, “ Mencari madu”,
Gambar 65 Suwarna Mencari madu . View in document p.68
Gambar   63.   Muhammad Laynan Bin Mohd Sapri “ Untitled”, (Sumber: Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean Universiti Teknologi Mara, Malaysia)
Gambar 63 Muhammad Laynan Bin Mohd Sapri Untitled Sumber Katalog Pameran Pendidikan Seni Rupa Asean Universiti Teknologi Mara Malaysia . View in document p.68
Gambar  72. Penjaga menjelaskan isi lukisan kepada apresian
Gambar 72 Penjaga menjelaskan isi lukisan kepada apresian . View in document p.76
Gambar 76. Basoeki Abdullah,“Pergiwo-Pergiwati”, 1960 (kanan)   (Sumber: Mikke Susanto, 2013: 261)
Gambar 76 Basoeki Abdullah Pergiwo Pergiwati 1960 kanan Sumber Mikke Susanto 2013 261 . View in document p.77
Gambar  75. Basuki
Gambar 75 Basuki . View in document p.77
Gambar 77. Trubus  “Gadis dan
Gambar 77 Trubus Gadis dan . View in document p.78
Gambar 82.  Amang Rahman, “Alif Laam Miim”,
Gambar 82 Amang Rahman Alif Laam Miim . View in document p.91
Gambar 1. Alur siklus PTK Model Kemmis dan Mc Taggart
Gambar 1 Alur siklus PTK Model Kemmis dan Mc Taggart . View in document p.140

Referensi

Memperbarui...