Mata Pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
GURU PEMBELAJAR
MODUL PELATIHAN GURU
KELOMPOK KOPETENSI B
Profesional :
Perkembangan Seni Rupa
Pedagogik :
Teori dan Prinsip Pembelajaran
U PEMBELAJ
AR
MA
TA PELAJ
ARAN SENI R
UP
A SMP
KEL
OMPOK K
PERKEMBANGAN
SENI RUPA
Sigit Purnomo, M.Pd.
KOMPETENSI PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
MATA PELAJARAN SENI RUPA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
Copyright 2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya,
Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
c
PERKEMBANGAN
SENI RUPA
KOMPETENSI PROFESIONAL
KELOMPOK KOMPETENSI A
MATA PELAJARAN SENI RUPA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
Penulis : Sigit Purnomo, M.Pd., 081226812966
SAMBUTAN DIRJEN GTK ………. iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... xi
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 3
C. Peta Kompetensi ... 3
D. Ruang Lingkup ... 4
E. Saran Penggunaan Modul ... 5
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK-ANAK. ………. 7
A. Tujuan ... 7
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 7
C. Uraian Materi ... 7
D. Aktivitas Pembelajaran ... 23
E. Latihan/Kasus/Tugas ... 23
F. Rangkuman ... 23
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 24
H. Kunci Jawaban ... 24
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2. TIPOLOGI GAMBAR ANAK-ANAK … 25 A. Tujuan ... 25
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 25
C. Uraian Materi ... 25
D. Aktivitas Pembelajaran ... 39
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3. SEJARAH SENI RUPA INDONESIA…… 43
A. Tujuan ... 43
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 43
C. Uraian Materi ... 43
D. Aktivitas Pembelajaran ... 80
E. Latihan/Kasus/Tugas ... 81
F. Rangkuman ... 81
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 82
H. Kunci Jawaban ... 82
KEGIATAN PEMBELAJARAN 4. CORAK ATAU GAYA SENI RUPA DAN KARAKTERISTIKNYA……… 83
A. Tujuan ... 83
B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 83
C. Uraian Materi ... 83
D. Aktivitas Pembelajaran ... 88
E. Latihan/Kasus/Tugas ... 89
F. Rangkuman ... 89
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ... 90
H. Kunci Jawaban ... 90
PENUTUP ... 91
EVALUASI ... 93
DAFTAR PUSTAKA ………. 99
LAMPIRAN 1. Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran 1 Perkembangan Seni Rupa Anak-Anak ... 101
Seni Rupa Dan Karakteristiknya ... 104
Gambar 1. Contoh Karya Anak Masa Coreng-moreng ... 8
Gambar 2. Lukisan Masa Coreng Moreng Tak Teratur ... 8
Gambar 3. Karya Seni Rupa Anak Masa Coreng dengan Goresan Mulai Teratur ... 9
Gambar 4. Karya Seni Rupa Anak-anak Masa Simbolisme ... 10
Gambar 5. Karya Seni Rupa Anak-anak Masa Simbolisme ... 10
Gambar 6. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 11
Gambar 7. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 11
Gambar 8. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 12
Gambar 9. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 12
Gambar 10. Karya Seni Rupa Masa Visual Realisme ... 13
Gambar 11. Karya Seni Rupa Masa Perwujudan ... 13
Gambar 12. Karya Seni Rupa Masa Perwujudan ... 14
Gambar 13. Karya Seni Rupa Masa Revival ... 14
Gambar 14. Karya Seni Rupa Masa Revival ... 15
Gambar 15. Gambar Masa Expresi ... 16
Gambar 16. Gambar Masa Expresi ... 16
Gambar 17. Gambar Masa Prabagan ... 17
Gambar 18. Gambar Masa Prabagan ... 17
Gambar 19. Gambar Masa Bagan ... 18
Gambar 20. Gambar Masa Bagan ... 18
Gambar 21. Gambar Masa Realisme ... 19
Gambar 22. Gambar Masa Realisme ... 19
Gambar 26. Gambar Tipe Haptic ... 26
Gambar 27. Gambar Tipe Haptic ... 26
Gambar 28. Gambar Tipe Haptic ... 27
Gambar 29. Gambar Tipe Visual ... 27
Gambar 30. Gambar Tipe Visual ... 28
Gambar 31. Gambar Tipe Visual ... 28
Gambar 32. Gambar Ungkapan Ingatan ... 29
Gambar 33. Gambar Ungkapan Ingatan ... 30
Gambar 34. Gambar Ungkapan Ingatan (Perhatikan adanya pengulangan bentuk) ... 30
Gambar 35. Gambar Ungkapan Ingatan (Perhatikan adanya pengulangan bentuk) ... 31
Gambar 36. Gambar Ideoplastis (bagian dalam kelihatan dari luar) ... 32
Gambar 37. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,... 33
Gambar 38. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,... 33
Gambar 39. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan ... 34
Gambar 40. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan ... 34
Gambar 41. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi ... 35
Gambar 42. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi ... 35
Gambar 43. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung ... 36
Gambar 44. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung ... 36
Gambar 45. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung ... 37
Gambar 46. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan ... 37
Gambar 47. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan ... 38
Gambar 48. Gambar Anak-anak Bermain Warna ... 39
Gambar 49. Punden Berundak dari Selulung Bangli Bali ... 45
Gambar 50 Waruga ... 45
Gambar 55. Candi Perambanan ... 50
Gambar 56. Candi Bajang Ratu ... 50
Gambar 57. Candi Jalatunda ... 51
Gambar 58. Pura Agung Besakih ... 52
Gambar 59. Pura Gunung Salak ... 53
Gambar 60. Patung Dyani Budha ... 54
Gambar 61. Hiasan Puncak Candi Prambanan ... 55
Gambar 62. Hiasan Kala di Atas Pintu Candi ... 55
Gambar 63. Hiasan Sudut Candi ... 56
Gambar 64. Hiasan Relief Pada Dinding Candi ... 57
Gambar 65. Hiasan Bermotif Flora Fauna di Candi Prambanan ... 57
Gambar 66. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri ... 58
Gambar 67. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri ... 58
Gambar 69. Stupa Candi Borobudur ... 59
Gambar 70. Salah satu Hiasan Relief Candi Borobudur ... 60
Gambar 71. Komplek Candi Belahan ... 60
Gambar 72. Dua Patung Unik di Komplek Candi Belahan ... 61
Gambar 73. Candi Kidal ... 61
Gambar 75. Patung Pratnya Paramita ... 62
Gambar 74. Candi Singosari ... 62
Gambar 76. Candi Bajang Ratu ... 63
Gambar 77. Candi Panataran ... 63
Gambar 78. Pura Uluwatu ... 64
Gambar 79. Masjid Agung Demak ... 66
Gambar 80. Masjid Agung Banten ... 67
Gambar 81. Kasultanan Cirebon ... 67
Gambar 82. Kraton Yogyakarta ... 68
Gambar 86. Ragam Hias Jaman Islam ... 71
Gambar 87. Ragam Hias Jaman Islam ... 71
Gambar 88. Ragam Hias Jaman Islam ... 72
Gambar 89. Lukisan Raden Saleh ... 73
Gambar 90. Lukisan Raden Saleh ... 73
Gambar 91. Lukisan Raden Saleh. Penangkapan Diponegoro ... 74
Gambar 92. Lukisan Basuki Abdullah ... 74
Gambar 93. Lukisan Basuki Abdullah ... 75
Gambar 94. Lukisan Rudolf Bonet ... 75
Gambar 95. Lukisan Sudjojono “Seko (perintis gerilya)” ... 76
Gambar 96. Lukisan Sudjojono “Mengungsi” ... 76
Gambar 97. Lukisan Agus Jaya ... 77
Gambar 99. Karya Sidarta ... 78
Gambar 98. Beratapkan Langit dan Bumi Ampran Berita Duka Karya AD Pirous ... 78
Gambar 100. Garuda Karya Kanvas ... 79
Gambar 101. Hutan Karya Widaya ... 79
Gambar 102. Salah satu contoh karya seni rupa baru ... 80
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sektor penting dalam pembangunan secara
keseluruhan. Melalui pendidikan, upaya peningkatan kualitas sumber daya
manusia dapat diwujudkan. Untuk itu peningkatan kualitas pendidikan
merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap pengelola
negara.
Peningkatan kualitas pendidikan menyangkut beberapa aspek, yakni : aspek
sarana dan prasarana, aspek kurikulum, aspek sistem pendidikan, aspek
regulasi pendidikan, dan aspek sumber daya manusia pengelola pendidikan.
Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan secara garis besar terdiri dari
pendidik dan tenaga kependidikan. Salah satu pendidik adalah guru, guru
sebagai pendidik merupakan garda terdepan yang ikut menentukan
keberhasilan suatu proses pendidikan. Guru memiliki peran strategis sebagai
agen perubahan (agent of change). Guru memiliki peran langsung untuk melakukan transfer pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan
membangun sikap peserta didiknya. Sebaik apapun suatu sistem pendidikan
dibangun dan sebaik apapun kurikulum yang digunakan tidak akan ada
artinya jika gurunya tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam
menjalankan fungsinya. Untuk itu upaya peningkatan kompetensi guru
harus selalu dilakukan agar guru benar-benar professional.
Guru seni budaya merupakan guru yang memiliki kewajiban untuk
melaksanakan pembelajaran seni budaya di kelas sesuai dengan
jenjangnya. Pembelajaran seni budaya memiliki dampak yang signifikan
terhadap pembentukan karakter peserta didik. Saat ini pendidikan karakter
menjadi topik yang hangat untuk selalu dibicarakan. Banyak persoalan sosial
karakter dalam proses pembelajaran di sekolah. Dunia pendidikan
merupakan instrument penentu kemajuan suatu bangsa sedangkan lembaga
pendidikan adalah motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan
pendidikan, dan guru merupakan pelaksana pemelajaran yang langsung
berhadapan dengan peserta didik. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang
harus berjalan secara harmonis.
Pendidikan seni dan budaya memiliki potensi yang besar untuk diarahkan
menjadi bagian dari pendidikan karakter. Dalam pembelajaran seni budaya
dikembangkan sikap apresiatif, yakni sikap yang menunjuk pada kemauan
dan kemampuan seseorang untuk menghargai dan mencintai seni dan
budaya bangsa, disamping sikap apresiatif dalam pembelajaran seni budaya
juga dikembangkan kreatifitas serta sensitifitas. Kreativitas mengarah pada
pengembangan kemampuan berpikir, beritndak, dan bersikap secara
divergen dan kebaruan. Melalui pengasahan daya kreasi diharapkan
seseorang memiliki sifat yang kreatif. Orang kreatif tidak akan berpikir secara
monoton, kemampuanya selalu akan berkembang sesuai dengan
perkembangan jaman dan sifat tantangan yang dihadapi. Sensitivitas
memiliki makna peka. Dalam pembelajaran seni budaya aspek ini menjadi
bagian yang dikedepankan. Melalui pembiasaan untuk peka terhadap suatu
karya seni diharapkan seseorang juga akan memiliki sifat yang peka juga
terhadap persoalan yang muncul di sekitarnya. Potensi-potensi yang ada
dalam pembelajaran seni budaya tersebut hanya dapat diwujudkan apabila
guru yang melaksanakan proses pembelajaran memiliki kompetensi di
bidang seni budaya sesuai dengan tuntutan standar kualifikasi guru seni
budaya.
Kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,
kompetensi pedagogik, dan kompetensi professional. Dalam kaitan modul ini
akan dibahas mengenai kompetensi pedagogik dan kompetensi
professional. Kompetensi pedagogik menyangkut pada penguasaan guru
terhadap teori-teori pendidikan serta kemampuan mengaplikasikannya di
harus diajarkan sesuai dengan bidang tugasnya. Kedua kompetensi ini
menjadi landasan pokok yang harus benar-benar dikuasai oleh seorang
guru. Dalam kaitannya dengan peran seorang guru seni budaya maka
penguasaan kompetensi pedagogik tidak sekedar pada teori-teori pendidikan
yang bersifat murni namun harus bersifat aplikatif disesuaikan dengan
konteks pembelajaran seni budaya. Dalam modul ini untuk materi
kompetensi pedagogik meliputi: model pembelajaran. Untuk materi
kompetensi professional meliputi: perkembangan kemampuan menggambar
pada anak-anak, tipologi seni rupa anak, sejarah seni rupa Indonesia, gaya
atau corak karya seni rupa dan karakteristiknya.
B. Tujuan
Modul ini disusun sebagai bahan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
bagi guru seni budaya khususnya guru yang mengajarkan materi seni rupa.
Modul ini bertujuan memberikan bekal pengetahuan tentang Model
pembelajaran.Untuk materi kompetensi professional meliputi: Perkembangan
kemampuan menggambar pada anak-anak, tipologi seni rupa anak, sejarah
seni rupa Indonesia, gaya atau corak karya seni rupa dan karakteristiknya
serta aplikasinya di dalam pembelajaran seni budaya di jenjang Sekolah
Menengah Pertama.
C. Peta Kompetensi
Kompetensi Utama Pedagogik
Kompetensi Inti Guru Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
Kompetensi Guru Mata Pelajaran
Menerapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran yang mendidik secara kreatif dalam mata pelajaran yang diampu
Indikator Esensial Mengidentifikasi berbagai strategi pembelajaran dan ciri-cirinya
Kompetensi Utama Pedagogik
dengan materi seni rupa pada pembelajaran Seni Budaya.
Kompetensi Guru Mata Pelajaran
Menguasai materi, struktur, konsep, dan
pola pikir keilmuan yang mendukung
mata pelajaran yang diampu.
Indikator esensial Menguraikan perkembangan kemampuan menggambar sesuai dengan usia anak
Menguraikan tipologi seni rupa anak
Menguraikan sejarah seni rupa Indonesia
Menguraikan gaya/corak/aliran dalam karya seni rupa
Menganalis karakteristik karya seni rupa sesuai dengan gaya/corak/aliran
D. Ruang Lingkup Materi
Materi atau isi modul untuk setiap unit pembelajaran sebagai berikut:
Unit Pembelajaran I
Unit ini membahas materi professional tantang perkembangan kemampuan
menggambar sesuai dengan usia anak
Unit Pembelajaran II
Pada unit ini dibahas tentang materi professional tentang tipologi seni rupa
anak-anak
Unit Pembelajaran III
Dalam unit pembelajaran ini dibahas tentang materi professional mengenai
Unit Pembelajaran IV
Dalam unit pembelajaran ini dibahas tentang materi professional mengenai
corak / aliran/ gaya dalam seni rupa beserta karakteristiknya.
E. Saran Penggunaan Modul
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka penggunaan modul dalam
proses pembelajaran sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Bacalah secara seksama isi materi untuk setiap unit pembelajaran secara
urut dan teliti
2. Kerjakan latihan atau tugas yang diberikan untuk setiap unit kerja, baik
yang bersifat praktek maupun teori sesuai ketentuan yang ada
3. Apabila dalam latihan atau tugas belum mencapai hasil yang maksimal
disarankan untuk tidak melangkah pada unit selanjutnya
4. Lakukan kegiatan untuk mempertajam kompetensi yang dicapai sesuai
dengan rekomendasi yang diberikan pada bagian umpan balik dan tindak
PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK-ANAK
A. Tujuan
Peserta diklat mampu menguraikan perkembangan seni rupa anak-anak
secara runtut dan benar
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Peserta diklat mampu menjelaskan periodisasi perkembangan seni rupa
anak-anak
2. Peserta diklat mampu mengidentifikasi tipologi karya seni rupa anak-anak
dengan tepat
3. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa
anak-anak
C. Uraian Materi
1. Perkembangan Seni Rupa Anak-anak
Cyril Burt, Italo L,de Francesco dan Victor Lowenfeld adalah adalah tiga
pakar pendidik yang melakukan penelitian khusus di bidang
perkembangan kemampuan menggambar pada kanak-kanak. Bagan
sederhana di bawah memberi gambaran tentang perkembangan
kemampuan menggambar mulai dari tingkat usia 2 tahun sampai dengan
17 tahun.
Gambar 1. Contoh Karya Anak Masa Coreng-moreng Sumber : yandhajja.blogspot.com
Gambar 3. Karya Seni Rupa Anak Masa Coreng dengan Goresan Mulai Teratur Sumber : livebinders.com
Menurut penelitian Cyril Burt hasil gambar karya anak-anak usia: 2-5 tahun
merupakan Masa corengan yang meliputi goresan yang tak teratur (2 tahun),
goresan teratur (3 tahun), goresan berdasarkan intuisi anak (4 tahun), goresan
yang terlokalisir (5 tahun). Masa simbolisme diskriptif (6 tahun), Masa realisme
deskriptif (7-8 tahun), Masa visual realisme (9-10 tahun), Masa perwujudan(11-
Gambar 4. Karya Seni Rupa Anak-anak Masa Simbolisme Sumber : fayettewoman.com
Gambar 6. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif Sumber : elephantaday.blogspot.com
Gambar 8. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif Sumber : cuded.com
Gambar 10. Karya Seni Rupa Masa Visual Realisme Sumber : newkidscenter.com
Gambar 12. Karya Seni Rupa Masa Perwujudan Sumber : newkidscenter.com
Gambar 14. Karya Seni Rupa Masa Revival Sumber : favload.com
Italo L,de Francesco menggolongkan perkembangan gambar anak sebagai
berikut: Tahap manipulatif (2-6 tahun), Masa pra simbolik (simbolik) (7-10 tahun),
Masa awal realisme (11-13 tahun), Realisme proyektif (14-15 tahun), Realisme
analistis (16-17 tahun)
Victor Lowenfeld Awal masa ekspresi diri ( 2-4 tahun) Prabagan (5-7 tahun)
Bagan (8-9 tahun) Realisme (10-12 tahun) Naturalisme semu (13-14 tahun)
Masa penentuan (15-17 tahun) Bila kita amati perkembangan menggambar dari
ketiga pakar tersebut, maka dapat disimpulkan adanya perbedaan cara pandang
tentang perkembangan menggambar anak. Cyril Burt lebih mengutamakan segi
perkembangan psikomotor (keterampilan) anak memakai tangannya, sedangkan
Italo L, de Francesco lebih mengutamakan perkembangan afeksi (sikap dan
perasaan) anak, Victor Lowenfeld lebih mengutamakan gabungan dari
perkembangan aspek kognitif (pengetahuan), afeksi dan psikomotorik anak.
Sedangkan batas usia pola menggambar anak bersifat relatif, sebab setiap
individu anak memiliki irama dan tempo perkembangan tidak sama. Berikut ini
penjelasan singkat tentang perkembangan anak menurut pendapat Cyril Burt.
Gambar 15. Gambar Masa Expresi Sumber : expresivveheart.com
Gambar 17. Gambar Masa Prabagan Sumber : mikinder.blogspot.com
Gambar 21. Gambar Masa Realisme Sumber : printablecolouringpages.co.uk
Gambar 23 Gambar Masa Naturalis Semu Sumber : picturescollections.com
Gambar 25. Gambar Masa Pemantapan Sumber : pics9.this-pict.com
Pendapat Cyril Burt
Usia 2 tahun: goresan tak terarah dalam menggores dengan goresan lurus,
membusur dengan arah sembarang seperti horisontal, vertikal atau
diagonal.
Usia 3 tahun: goresan terarah dalam menggores yang berupa goresan
melingkar atau spiral.
Usia 4 tahun: goresan intuitif yakni goresan dengan bentuk tertentu yang
diperoleh secara kebetulan.
Usia 5 tahun: Goresan lokalisasi ialah goresan melingkar, vertikal,
horisontal dan diagonal dibuat mengelompok pada salah satu bidang
Usia 6 tahun: masa simbolisme deskriptif, seorang anak menamai
gambarnya, meskipun tidak mirip dengan bentuk aslinya.
Usia 7-8 tahun: merupakan masa realisme deskriptif. Pada usia ini anak
merasakan adanya kenyataan nyata dari apa yang dilihat, tetapi belum
mampu mengungkapkan dengan cara yang benar. Kenyataan itu ialah
segala benda dan makhluk hidup keberadaannya dalam ruang dan
kedalaman.
Usia 9-10 tahun: masa visual realisme, dimana anak mampu menggambar
bentuk dan warna obyek cenderung mirip aslinya, meskipun bila diamati
dengan cermat masih banyak ditemukan bagian-bagian gambar yang tidak
mirip dengan obyek aslinya.
Usia 11 – 14 tahun: merupakan masa perwujudan dengan ciri-ciri umum dengan gambar yang dibuat jauh lebih mirip dengan obyek aslinya,
meskipun dengan proporsi yang tidak tepat dengan obyek aslinya.
Usia 15 -17: adalah masa revival, yakni masa anak mencoba menggambar
untuk menghidupkan kembali obyek yang pernah dilihatnya. Ciri umum
ialah pengungkapan dimensi ruang dan kedalaman menjadi usaha serius,
misalnya dengan memperhatikan terang gelapnya obyek jika ditimpa
cahaya dari arah sudut tertentu.
Cara lain dengan menggambar benda dengan metode perspektif paralel
seperti metode isometri, dimetri atau kavalier. Beberapa anak bahkan
mampu menggambar obyek dengan metode menggambar perspektif
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Peserta membaca modul secara perorangan
2. Peserta merumuskan permasalahan yang ditemukan terkait materi
tentang Perkembangan tipologi karya seni rupa anak-anak
3. Peserta melakukan diskusi kelompok (5-6 orang untuk setiap
kelompoknya) untuk membahas permasalahan yang ditemukan
4. Bersama dengan fasilitator peserta membahas hasil diskusi untuk diambil
kesimpulan bersama
5. Peserta melakukan konfirmasi dalam bentuk tanya jawab dengan
fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
tipologi karya seni rupa anak-anak
6. Peserta mengerjakan tugas modul
7. Peserta mempresentasikan hasil pelaksanaan tugas
E. Tugas/Latihan
Lakukan analisis terhadap karya seni rupa anak-anak berupa lukisan,
minimal 3 buah. Identifikasi ciri-ciri yang ada di dalamnya kemudian
simpulkan termasuk pada tahapan perkembangan yang mana karya
tersebut.
F. Rangkuman
Ada banyak teori yang menganalisis tentang perkembangan seni rupa
anak-anak, dari sekian banyak teori yang ada memang menunjukkan adanya
beberapa perbedaan cara pandang masing-masing pencetus teori tersebut.
Namun jika dicerna secara mendalam sebenarnya perbedaan itu hanya
terletak pada rinci tidaknya masing-masing teori dalam membuat periodisasi
perkembangan seni rupa pada anak-anak.
Cyril Burt:
1. 2-5 tahun merupakan Masa corengan,
2. Masa simbolisme diskriptif (6 tahun),
3. Masa realisme deskriptif (7-8 tahun),
5. Masa perwujudan (11- 14 tahun),
6. Masa revival (15-17 tahun).
Italo L,de Francesco:
1. Tahap manipulatif (2-6 tahun),
2. Masa pra simbolik (simbolik) (7-10 tahun),
3. Masa awal realisme (11-13 tahun),
4. Realisme proyektif (14-15 tahun),
5. Realisme analistis (16-17 tahun)
Victor Lowenfeld:
1. Awal masa ekspresi diri ( 2-4 tahun)
2. Prabagan (5-7 tahun)
3. Bagan (8-9 tahun)
4. Realisme (10- 12 tahun)
5. Naturalisme semu (13-14 tahun)
6. Masa penentuan (15-17 tahun)
G. Umpan Balik
Untuk memperkuat pemahaman terhadap perkembangan seni rupa yang
terjadi pada anak-anak sebaiknya guru melakukan penelitian terhadap karya
seni rupa anak dari karya anak usia 2 tahun s/d karya seni rupa
anak-anak pada usia 14 tahun untuk selanjutnya dianalisis dan dibandingkan
dengan teori yang ada.
H. Kunci Jawaban Tugas/Rubrik
TIPOLOGI GAMBAR ANAK-ANAK
A. Tujuan
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta diklat dapat :
1. Mengidentifikasi beragam tipologi karya seni rupa anak-anak
2. Mengidentifikasi gejala-gejala yang muncul pada karya seni rupa
anak-anak
B. Indikator
1. Peserta diklat mampu menjelaskan tipologi karya seni rupa anak-anak
2. Peserta diklat mampu menyebutkan beragam tipologi karya seni rupa
anak-anak
3. Peserta diklat mampu menguraikan ciri-ciri karya seni rupa anak-anak
sesuai dengan tipologinya
4. Peserta diklat mampu menyebutkan gejala-gejala yang muncul pada karya
seni rupa anak-anak
5. Peserta diklat mampu menguraikan ciri-ciri karya seni rupa anak-anak
sesuai dengan gejala yang muncul di dalamnya
C. Uraian Materi
1. Tipologi Gambar Anak-anak
Keberhasilan karya gambar buatan anak ditentukan oleh orisinalitas
gambar yang sesuai dengan dunia anak-anak menurut perkembangan
usianya.
Berdasarkan bentuk, dikenal beberapa tipe gambar, yakni tipe visual, tipe
mirip dengan obyek aslinya. Gambar anak tipe haptik, obyek yang
digambar hanya yang menarik minat atau perasaannya, hasilnya berupa
gambar yang tidak mirip dengan obyek aslinya. Kebanyakan gambar
anak-anak berupa campuran yakni dengan ciri-ciri visual dan haptic .
Gambar 26. Gambar Tipe Haptic
Sumber : raisingsparks.com
Gambar 28. Gambar Tipe Haptic Sumber : paolojacopomedda.com
Gambar 29. Gambar Tipe Visual
Gambar 30. Gambar Tipe Visual Sumber : fineartamerica.com
a. Bentuk Ungkapan Gambar Anak
Bentuk ungkapan gambar anak merupakan hal yang berbeda dengan
tahap-tahap perkembangan pola gambar dunia seni rupa anak. Yang
dimaksud dengan bentuk ungkapan gambar anak adalah gaya atau
style gambar buatan anak-anak. Ada beberapa gaya atau style yakni :
1) Gambar Ungkapan Ingatan
Gambar ungkapan ingatan meliputi gambar stereotipe dan gambar
ideoplastis. Gambar stereotipe ialah gambar ungkapan ingatan
secara berulang-ulang bentuk tertentu. Gambar stereotipe meliputi
pengulangan obyek dan unsur dari obyek. Gambar streotipe meliputi:
Pengulangan total dan pengulangan tertentu.
Pengulangan total yakni pengulangan menyeluruh dari obyek yang
digambar tanpa variasi. Anak miskin daya cipta, tidak kreatif, dan
cepat puas. Misalnya gambar pemandangan alam yang sesuai
dengan ingatannya, yakni dua buah gunung, matahari terbit, deretan
pohon, dan bentangan sawah dikiri-kanan jalan.
Gambar 33. Gambar Ungkapan Ingatan Sumber : mewarnaigambar.web.id
Gambar 35. Gambar Ungkapan Ingatan (Perhatikan adanya pengulangan bentuk) Sumber : jendelagertak.blogspot.com
Pengulangan obyek tertentu yakni Pengulangan obyek tertentu dari
aneka macam obyek, misalnya sebuah bidang digambari bentuk
rumah model tertentu yang diulang-ulang dengan tataletak bervariasi
diantara aneka gambar pohon, semak, awan, pagar, dan aneka
ragam bentuk bunga. Pengulangan unsur atau bagian dari obyek
Pengulangan unsur dari obyek yang digambar, misalnya unsur mata
hidung dan mulut manusia yang di gambarkan pada beberapa batang
pohon dan matahari.
2) Gambar Ideoplastis
Gambar ideoplastis ialah gambar obyek tertentu tembus pandang,
berdimensi ruang di dalamnya terdapat benda lain, misalnya gambar
rumah tampak luar dengan segala perabotnya tampak. Hal ini dibuat
berdasarkan apa yang diingat oleh anak tentang benda-benda dalam
Gambar 36. Gambar Ideoplastis (bagian dalam kelihatan dari luar) Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno
3). Gambar Ungkapan Dimensi Ruang/Kedalaman
Dalam menggambar, dimensi ruang dapat diungkapkan dengan
berbagai macam cara, antara lain cara dimensi, penumpukan,
perebahan, tutup menutupi, perspektif burung terbang, dan
pengecilan. Dimensi ialah cara menggambar ruang dan kedalaman
dengan cara obyek dekat dibuat besar ukurannya dibanding dengan
obyek jauh.
a) Penumpukan
Penumpukan obyek ialah cara menggambar obyek dekat di
bagian bawah bidang gambar, makin jauh letaknya makin keatas,
misalnya sebuah pohon posisinya dekat pemirsa, maka
diletakkan bagian bawah bidang gambar, pohon yang jauh
Gambar 37. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,
(objek dekat diletakkan di bagian bawah, objek jauh diletakkan di bagian atas) Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno
Gambar 38. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,
(objek dekat diletakkan di bagian bawah, objek jauh diletakkan dibagian atas) Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno
b) Perebahan
Perebahan ialah cara menggambar beberapa obyek dengan
posisi seolah-olah si penggambar berada di tengah-tengah obyek
kiri jalan yang mengarah ke garis cakrawala dengan posisi
mendatar, deretan pohon tersebut di gambar demikian rupa
sehingga letaknya tegak lurus terhadap garis tepi kiri-kanan jalan.
Gambar 39. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno
Gambar 40. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno
c) Tutup menutupi
Tutup menutupi ialah cara menggambar sejumlah obyek dengan
posisi dekat dan jauh, misalnya menggambar sejumlah rumah
masuk, hingga ke atapnya. Sederet rumah yang berada
dibelakangnya hanya digambar bagian atapnya saja.
Gambar 41. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi Sumber : jauharieffendy.blogspot.com
d) Perspektif pandangan burung
Perspektif pandangan burung ialah cara menggambar obyek
tampak atas layaknya pandangan seekor burung yang sedang
melayang diudara. Misalnya menggambar sekelompok bangunan
bertingkat diwilayah perkotaan, maka bagian atas atap bangunan
terdapat tangki air, tempat jemuran pakaian, dan sebagainya akan
digambar dengan lengkap.
Gambar 45. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung Sumber : blogkuapadanya.blogspot.com
e) Pengecilan
Anak sudah mampu membedakan bahwa obyek jauh akan
nampak makin mengecil seperti mata kita melihat obyek tersebut.
Gambar 47. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan Sumber : treehugger.com
b Kemampuan Anak Mengolah dan Mengkombinasi Warna
Mengkombinasi warna pada gambar buatan anak-anak cenderung
menyukai warna-warna primer dan netral dari pensil berwarna, crayon,
atau spidol. Adapun warna primer yang dimaksud adalah merah, biru dan
hijau. Sedangkan warna netral yang dimaksud ialah hitam, abu-abu, atau
putih. Mengkombinasi warna yang sama dengan bahan pewarna buatan
pabrik berupa pensil, crayon atau spidol tidak hanya dilakukan di
kalangan anak-anak saja, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang yang
lebih dewasa, karena cara ini jauh lebih mudah pengerjaannya. Tetapi
dengan perkembang industri bahan pewarna yang lebih canggih, maka
pihak pabriklah yang mengolah warna primer menjadi warna sekunder,
Gambar 48. Gambar Anak-anak Bermain Warna Sumber : photo.elsoar.com
Mengolah warna, biasanya dilakukan oleh anak-anak tertentu yang
sudah terlatih menggambar. Mereka umumnya dengan memakai tehnik
sungging, yang mengutamakan gradasi/tingkatan warna dasar yang
sama, misalnya dari merah tua secara bertahap-tahap kemerah muda
pada suatu bidang tertentu. Ada juga yang mengolah warna dengan
cara mencampur dua warna atau lebih dengan jalan tumpang tindih,
sehingga hasilnya berupa warna-warna yang cenderung lebih gelap
D Aktivitas Pembelajaran
1. Peserta membaca modul secara perorangan
2. Peserta merumuskan permasalahan yang ditemukan terkait materi tentang
Perkembangan tipologi karya seni rupa anak-anak
3. Peserta melakukan diskusi kelompok (5-6 orang untuk setiap
kelompoknya) untuk membahas permasalahan yang ditemukan
4. Bersama dengan fasilitator peserta membahas hasil diskusi untuk diambil
5. Peserta melakukan konfirmasi dalam bentuk tanya jawab dengan
fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
tipologi karya seni rupa anak-anak
6. Peserta mengerjakan tugas modul
7. Peserta mempresentasikan hasil pelaksanaan tugas
E. Tugas/Latihan
Buatlah suatu analisis satu karya seni rupa anak-anak ditinjau dari aspek
tema, keteknikan, tipologi, dan gejala yang muncul dalam visualisasinya
F. Rangkuman
Tipologi karya seni rupa anak-anak merupakan jenis atau bentuk ungkapan
secara visual yang ditunjukkan oleh karya seni rupa masing-masing anak.
Secara garis besar ada dua tipe karya seni rupa anak-anak, yakni tipe haptic
dan tipe visual. Anak-anak dengan tipe haptic memiliki kecenderungan
menghasilkan karya seni yang ekspresif dan tidak terikat oleh warna dan
bentuk objeknya secara riil. Bentuk-bentuk yang muncul lebih kearah abstrak
atau berbeda dengan objek yang digambarkan. Anak-anak dengan tipe
visual memiliki kemampuan menggambarkan suatu objek sesuai dengan
karakter objek aslinya.
Tipologi karya seni rupa anak-anak meliputi tipe haptic dan tipe visual.
Sedangkan bentuk ungkapan karya seni rupa anak-anak adalah
1. Bentuk Ungkapan Gambar Anak
2. Gambar Ungkapan Dimensi Ruang/Kedalaman
Gejala yang sering muncul pada karya seni rupa anak-anak adalah :
1. Penumpukan
2. Perebahan
3. Tutup menutupi
G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Untuk memperkuat pemahaman tentang tipologi karya seni rupa anak-anak,
maka dianjurkan guru melakukan kegiatan pengamatan pada karya seni rupa
siswa-siswinya kemudian didokumentasikan untuk dianalisis tipologinya,
sehingga guru memiliki strategi yang tepat dalam melakukan pembinaan
terhadap siswa-siswinya sesuai dengan kecenderungan tipe yang dimiliki.
.
H. Kunci Jawaban Tugas / Rubrik
SEJARAH SENI RUPA INDONESIA
A. Tujuan
Peserta diklat mampu menguraikan sejarah perkembangan seni rupa di
Indonesia
B. Indikator Pencapaian Materi
1. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa jaman
pra sejarah
2. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa jaman
Hindu
3. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa jaman
Islam
4. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karaktersitik karya seni rupa jaman
modern.
C. Uraian Materi
1. Sejarah Seni Rupa Indonesia
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya yang luar
biasa. Beragam seni budaya tumbuh dan berkembang dengan subur di
Indonesia. Salah satu bentuk kekayaan seni budaya tersebut adalah seni
rupa. Perkembangan seni rupa di Indonesia mengalami berbagai jaman
yang setiap jamannya memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda-beda.
Secara kronologis dapat diuraikan mengenai perkembangan seni rupa di
Indonesia sebagai berikut:
a. Jaman prasejarah (Prehistory)
Jaman sebelum ditemukan sumber-sumber atau dokumen-dokumen
tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya
berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu
Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan
dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara
(bersifat simbolisme)
1) Seni Rupa Jaman Batu
Jaman batu terbagi lagi menjadi: jaman batu tua (Palaeolithikum), jaman
batu menengah (Mesolithikum), Jaman batu muda (Neolithikum),
kemudian berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman
megalithikum (Batu Besar). Peninggalan- peninggalannya yaitu:
a) Seni Bangunan
Manusia phaleolithikum belum meiliki tempat tinggal tetap, mereka
hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda-tanda adanya karya seni rupa dimulai dari jaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat
tinggal di goa-goa. Seperti goa yang ditemukan di Sulawesi Selatan
dan Irian Jaya. Juga berupa rumah-rumah panggung di tepi pantai,
dengan bukti-bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur
berupa bukit-bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa-sisa
sampah dapur para nelayan.
Kemudian jaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah
dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah-rumah kayu/bambu.
Pada jaman megalithikum banyak menghasilkan
bangunan-bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara
Gambar 49. Punden Berundak dari Selulung Bangli Bali Sumber : geetackey.blogspot.com
Gambar 50 Waruga
Gambar 51. Sakofagus yang Ditemukan di Bali Sumber : Mbahare.blogspot.com
b) Seni Patung
Seni patung berkembang pada jaman Neolithikum, berupa
patung-patung nenek moyang dan patung penolak bala,
bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian
jaman megalithikum banyak ditemukan patung-patung
berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis
c) Seni Lukis
Dari jaman Mesolithikum ditemukan lukisan-lukisan yang dibuat
pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan
Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan
magis dan ritual, seperti adegan perburuan binatang lambang
nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada jaman neolithikum
dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan-
bangunan dan benda-benda kerajinan sebagai hiasan
ornamentik (motif geometris atau motif per lambang)
Gambar 53. Lukisan di Gua Leang Timpuseng, lokasi karst Maros, Sulawesi. Sumber : forumku.com
2) Seni Rupa Jaman Logam
Jaman logam di Indonesia dikenal sebagai jaman perunggu,
karena banyak ditemukan benda-benda kerajinan dari bahan
perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan
perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik cor (cetak)
1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisa di ulang berulang
2) Acire Perdue, ialah teknik mengecor yang hanya satu kali pakai
(tidak bisa diulang)
Gambar 54. Benda Karya Seni Rupa Jaman Logam Sumber : nadarili.blogspot.com
3. Seni Rupa Indonesia Hindu
Kebudayaan Hindu berasal dari India yang menyebar di Indonesia sekitar
abad pertama Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama dan politik.
Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian
bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan
istana dan feodal). Proses akulturasi kebudayan India dan Indonesia
berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan
proses:
1) Proses peniruan (imitasi)
2) Proses Penyesuaian (adaptasi)
1) Ciri-ciri Seni rupa Indonesia Hindu
a) Bersifat feodal, yaitu kesenian berpusat di istana sebagai media
pengabdian kepada penguasa atau raja
b) Bersifat sakral, yaitu kesenian sebagai media upacara agama
c) Bersifat konvensional, yaitu kesenian yang bertolak pada suatu
pedoman pada sumber hukum agama (Silfasastra)
d) Hasil akulturasi kebudayaan India dengan Indonesia
2) Karya Seni Rupa Indonesia Hindu
a) Seni Bangunan:
(1) Bangunan Candi
Candi berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Durga). Karenanya candi selalu dihubungkan
dengan monumen untuk memuliakan raja yang meninggal
contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati, selain
itu candi pula berfungsi sebagai: Candi Stupa, yakni candi yang
didirikan sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur. Candi
Pintu Gerbang, candi ini didirikan sebagai gapura atau pintu
masuk, contohnya candi Bajang Ratu. Candi Balai Kambang/Tirta,
candi ini biasanya didirikan di dekat/di tengah kolam, contoh candi
Belahan. Candi Pertapaan, candi pertapaan didirikan di
lereng-lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda. Candi
Vihara, candi vihara didirikan untuk tempat para pendeta
Gambar 55. Candi Perambanan Sumber : ikhsanpanorama.blogspot.com
Gambar 57. Candi Jalatunda
Sumber : nasionalisrakyatmerdeka.wordpress.com
(2) Struktur bangunan candi terdiri dari 3 bagian
(a) Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk
denahnya (berbentuk segi empat, ujur sangkar atau segi 20)
(b) Tubuh candi, terdapat kamar-kamar tempat arca atau patung
(c) Atap candi, berbentuk limasan, bermahkota stupa, lingga, ratna
atau amalaka
Bangunan candi ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok.
Ada dua sistem dalam pengelompokan candi, yaitu:
(a) Sistem konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi
berada di tengah anak-anak candi, contohnya kelompok candi
lorojongrang dan prambanan
(b) Sistem membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia )yaitu induk
candi berada di belakang anak-anak candi, contohnya candi
(3) Bangunan pura
Pura adalah bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur. Pura
merupakan komplek bangunan yang disusun terdiri dari tiga
halaman sebagai berikut :
(a) Halaman depan terdapat balai pertemuan
(b) Halaman tengah terdapat balai saja
(c) Halaman belakang terdapat meru, padmasana, dan rumah
dewa
Seluruh bangunan dikelilingi dinding dengan gerbang yang
berpintu/bertutup (kori agung) ada yang terbuka (candi bentar),
pura-pura tersebut dibedakan sesuai dengan tempat dimana pura
itu dibangun, pura-pura tersebut adalah:
(a) Pura agung, didirikan di komplek istana
(b) Pura gunung, didirikan di lereng gunung tempat bersemedhi
(c) Pura subak, didirikan di daerah pesawahan
(d) Pura laut, didirikan di tepi pantai
Gambar 59. Pura Gunung Salak Sumber : ronentalmedia.blogspot.com
(4) Bangunan Puri
Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan
dan pusat keagamaan. Bangunan-bangunan yang terdapat di
komplek puri antara lain, tempat kepala keluarga (Semanggen)
dan tempat upacara meratakan gigi
b) Seni patung Hindu Budha
Patung dalam agama Hindu merupakan perwujudan Raja dengan
Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti yang terdiri
dari Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Untuk membedakan
mereka setiap patung diberi atribut kedewaan (laksana/ciri), misalnya
patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan
kendaraanya atau wahananya berupa angsa. Sedangkan pada patung
wisnu laksananya adalah pada mahkotanya terdapat bulan sabit dan
kendaraannya atau wahananya berupa burung garuda, sedangkan
untuk dewa Siwa laksananya adalah mata ketiga di dahi, dan
Dalam agama Budha, sosok yang biasa dipatungkan adalah sang
Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa, dan Dewi Tara. Setiap
patung Budha memiliki tanda-tanda kesucian sebagai berikut:
(1) Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha)
(2) Diantara keningnya terdapat titik (urna)
(3) Telinganya panjang (lamba-karnapasa)
(4) Terdapat juga kerutan di leher
(5) Memakai jubah sanghati
Gambar 60. Patung Dyani Budha Sumber : stiven-alun.blogspot.com
c) Seni hias Hindu Budha
Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung
Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa. Candi
selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu
dengan motif flora dan fauna serta mahluk ajaib. Bentuk hiasan candi
dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
(1) Hiasan Arsitektural ialah hiasan bersifat tiga dimensional yang
membentuk struktur bangunan candi, contohnya:
(a) Hiasan mahkota pada atap candi
(b) Hiasan menara sudut pada setiap candi
(c) Hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu
Gambar 61. Hiasan Puncak Candi Prambanan Sumber : skyscrapercity.com
Gambar 63. Hiasan Sudut Candi Sumber : commons.wikimedia.org
(2) Hiasan bidang ialah hiasan bersifat dua dimensional yang terdapat
pada dinding. Contohnya ialah :
(a) Hiasan dengan cerita, candi Hindu ialah Mahabarata dan
Ramayana: sedangkan pada candi Budha adalah Jataka,
Lalitapistara
(b) Hiasan flora dan fauna
(c) Hiasan pola geometris
Gambar 64. Hiasan Relief Pada Dinding Candi Sumber : ennyern.blogspot.com
Gambar 65. Hiasan Bermotif Flora Fauna di Candi Prambanan Sumber : flickr.com
Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Tengah, terbagi atas:
a) Jaman Wangsa Sanjaya
Peninggalan seni rupa pada masa ini berupa candi yang didirikan di
daerah pegunungan. Selain candi juga terdapat peninggalan patung
yang menggambarkan perwujudan antara manusia dengan binatang
Gambar 66. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber : www.teruskan.com
Gambar 67. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber : www.teruskan.com
b) Jaman Wangsa Syailendra
Peninggalan seni rupa pada jaman ini adalah Candi Prambanan,
Kelompok, Candi Sewu, Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sari,
Candi Mendut, dan Kelompok Candi Plaosan. Peninggalan berupa Seni
patung bersifat Budhis, contohnya patung Budha dan Budhisatwa di
Gambar 68. Candi Borobudur Sumber : indonesia.travel
Gambar 70. Salah satu Hiasan Relief Candi Borobudur Sumber : startravelinternational.com
Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Timur, terbagi atas:
a) Jaman Peralihan
Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda-tanda gaya seni
jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan
kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian
pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India,
tetapi sudah diterapkan proporsi Indonesia seperti pada patung
Airlangga
Gambar 72. Dua Patung Unik di Komplek Candi Belahan Sumber : akucintanusantaraku.blogspot.com
b) Jaman Singasari
Pada jaman Singasari seni bangunan yang berkembang sudah benar-
benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi
maupun pada hiasannya, contohnya: candi Singosari, candi Kidal, dan
candi Jago. Seni patung yang berkembang bergaya Klasisistis yang
bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, Seni patung Singosari lebih halus
pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung
Prajnaparamita, Bhairawa, dan Ganesha.
c) Jaman Majapahit
Candi-candi peninggalan jaman Majapahit sebagian besar sudah tidak
utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa
Tengah yang terbuat dari batu kali/atau batu andhesit. Peninggalan
berupa candi diantaranya adalah kelompok candi Penataran, Candi
Bajangratu, candi Surowono, dan candi Triwulan.
Peninggalan berupa seni patung sudah tidak lagi memperlihatkan gaya
klasik Jawa Tengah, melainkan gaya magis monumental yang lebih
menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian
batik dan perhiasan khas Indonesia. Selain patung dari batu juga
ditemukan patung realistik dari Terakotta (tanah liat) hasil pengaruh dari
Campa dan China, contohnya patung wajah Gajah Mada
Gambar 75. Patung Pratnya Paramita Sumber : jawatimuran.wordpress.com
Gambar 76. Candi Bajang Ratu Sumber : ekoapt.wordpress.com
Gambar 77. Candi Panataran Sumber : pinterest.com
Seni Rupa Bali Hindu
Di Bali jarang ditemukan candi sebab masyarakatnya tidak mengenal
Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah Pura dan Puri. Pura
sebagai bangunan suci tetapi di dalamnya tidak terdapat patung
yaitu tidak mengenal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung
hanya sebagai hiasan saja
Gambar 78. Pura Uluwatu Sumber : bernardbaliadvisor.com
Perbedaan Gaya Seni Jawa Tengah dengan Jawa Timur
1) Perbedaan struktur bangunan candi
(a) Candi Jateng terbuat dari batu andhesit, sedangkan di Jatim terbuat
dari batu bata
(b) Candi Jateng bentuknya tambun, sedangkan di Jatim bentuknya
ramping
(c) Kaki candi Jateng tidak berundak sedangkan di Jatim berundak
(d) Atap candi Jateng pendek, sedangkan di Jatim lebih tinggi
(e) Kumpulan candi di Jateng dengan system konsentris, sedangkan di
Jatim dengan system membelakangi
2) Perbedaan pada seni patungnya
(a) Patung-patung di Jawa Tengah hanya sebagai perwujudan
(b) Seni patung Jateng bergaya simbolis realistis, sedangkan di Jatim
jaman Singasari bergaya klasisitis dan jaman Majapahit bergaya
magis monumental
(c) Prambandala (lingkaran kesaktian) pada patung Jateng terdapat
pada bagian belakang kepala, sedangkan di Jatim terdapat di
bagian belakang seluruh tubuh menyerupai lidah api
(d) Pakaian Raja/Dewa pada seni patung Jateng masih dipengaruhi
tradisi India, sedangkan di Jatim khas Indonesia seperti pakaian
batik, selendang dan ikat kepala
3) Perbedaan hiasan candi
(a) Hiasan adegan cerita pada candi Jateng bergala realis, sedangkan
di Jatim bergaya Wayang (distorsi)
(b) Adegan cerita pada candi Jateng hanya tentang Mahabarata dan
Ramayana, sedangkan di Jatim ada pula adegan cerita asli
Indonesia, misalnya cerita Panji
(c) Motif hias pada candi di Jateng bersifat Hindu dan Budha
sedangkan di Jatim ada pula hias asli Indonesia sperti motif
penawakan dan gunungan serta perlambangan
(d) Hiasan pada candi di Jatim lebih padat dan dipusatkan pada seni
Cina seperti motif awan dan batu karang
3. Seni Rupa Indonesia Islam
Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M. Masuknya agama
Islam dibawa oleh para pedagang dari India, Persia, dan Cina. Mereka
menyebarkan ajaran Islam sekligus memperkenalkan kebudayaannya
masing – masing sehingga timbul akulturasi kebudayaan
Seni rupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di istana – istana sebagai media pengabdian kepada para penguasa. Dalam kaitannya
dengan penyebaran agama Islam, para wali berperan dalam
mengembangkan seni di masyarakat pedesaan, misalnya da’wah Islam
a. Ciri – Ciri Seni Rupa Indonesia Islam
1) Bersifat feodal, yaitu kesenian yang bersifat di istana sebagai media
pengabdian kepada Raja / sultan
2) Bersumber dari kesenian pra Islam (seni prasejarah dan seni Hindu
Budha)
3) Berperan
b. Karya Seni Rupa Indonesia Islam
1) Seni Bangunan
a) Masjid
Masjid merupakan tempat ibadah pemeluk agama Islam. Bentuk
masjid sebagai salah satu peninggalan karya seni rupa
menampakkan adanya pengaruh Hindu. Pengaruh itu dapat dilihat
pada bagian atas masjid yang berbentuk limas bersusun ganjil
seperti atap balai pertemuan Hindu Bali. contohnya adalah atap
masjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten
Gambar 80. Masjid Agung Banten Sumber : abotegg.wordpress.com
b) Istana
Istana/keraton berfungsi sebagai tempat tinggal Raja, pusat
pemerintahan. Pusat kegiatan agama dan budaya. Komplek istana
bisaanya didirikan di pusat kota yang dikelilingi oleh dinding
keliling dan parit pertahanan.
Gambar 82. Kraton Yogyakarta Sumber : gadingmoore.blogspot.com
c) Makam
Arsitektur makam orang muslimin di Indonesia merupakan hasil
pengaruh dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah
tampak pada bentuk makam seperti punden berundak. Sedangkan
pengaruh Hindu tampak pada nisannya yang diberi hiasan motif
gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat
Gambar 84. Makam Sunan Giri Sumber : awalinfo.blogspot.com
2) Seni Kaligrafi
Seni kaligrafi atau seni khat adalah seni tulisan indah. Dalam
kesenian Islam menggunakan huruf dan bahasa arab, sebagai
bentuk simbolis dari rangkaian ayat suci Al Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi tiga yaitu:
a) Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan
b) Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar
c) Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan
Kaligrafi adalah seni menulis indah. Seni kaligrafi berkembang pada zaman kebudayaan madya. Kaligrafi berwujud tulisan indah yang merupakan komposisi huruf-huruf Arab yang biasanya merupakan rangkaian ayat-ayat suci dalam Al-quran. Rangkaian tersebut disusun sedemikian rupa sehingga membentuk suatu gambar atau ukiran yang indah. Kaligrafi biasanya dipahatkan pada dinding masjid, batu nisan, gapura, keraton, seperti pada Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon.
Kaligrafi Dewa Ganesha di Cirebon bebentuk lukisan pada kaca. Sebelum lukisan kaca dikenal di Cirebon, masyarakat Cirebon memakai media kayu, kulit, maupun kain. Ketika kaca mulai dipakai, tema yang banyak muncul adalah tema-tema wayang dengan kaligrafi Islam dengan harapan mampu menyampaikan nilai-nilai Islami kepada masyarakat melalui simbol-simbol pewayangan.
Lukisan kaca sendiri mengandung berbagai filosofis-filosofis yang menyangkut religi dankepercayaan, fungsi sebagai azimat pun masih dipercaya di beberapa kalangan masyarakat Cirebon. Sebagai contoh adalah lukisan kaca dengan obyek Ganesha, dipercaya sebagai penolak bala dan biasanya dipasang di bagian depan rumah. Gambar dua gajah yang satu membawa pedang dan satunya lagi membawa gada.
3) Seni Hias
Seni hias islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup
secara realis, maka untuk penyamarannya dibuatkan stilasinya
(digayakan) atau deformasi (disederhanakan) dengan bentuk
Gambar 86. Ragam Hias Jaman Islam Sumber : fotografer.net
Gambar 88. Ragam Hias Jaman Islam Sumber : thearoengbinangproject.com
4. Seni Rupa Indonesia Modern
Istilah modern dalam seni rupa Indonesia yaitu bentuk dan perwujudan
seni yang terjadi akibat dari pengaruh kaidah seni Barat atau Eropa.
Dalam perkembangannya seni rupa di Indonesi tidak terlepas dari
dinamika perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari
penjajahan. Perkembangan seni rupa Indonesia modern dapat dibagi
dalam beberapa masa, sebagai berikut :
a. Masa Perintis
Dimulai dari prestasi Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), seorang seniman Indonesia yang belajar kesenian di eropa dan
sekembalinya di Indonesia ia menyebarkan hasil pendidikannya.
Kemudian Raden Saleh dikukuhkan sebagai bapak perintis seni
Gambar 89. Lukisan Raden Saleh Sumber : mrwise23.blogspot.com
Gambar 91. Lukisan Raden Saleh. Penangkapan Diponegoro Sumber : mrwise23.blogspot.com
b. Masa seni lukis Indonesia jelita / moek (1920 – 1938)
Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis barat yaitu Rudolf
Bonnet, Walter Spies, Arie Smite, R. Locatelli dan lain-lain. Ada
beberapa pelukis Indonesia yang mengikuti kaidah/teknik ini antara
lain: Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi dan Wahid
Gambar 93. Lukisan Basuki Abdullah Sumber : dunialukisan-javadesindo.blogspot.com
Gambar 94. Lukisan Rudolf Bonet Sumber : doddi-sularto.blogspot.com
c. Masa PERSAGI (1938 – 1942)
PERSAGI (Peraturan Ahli Gambar Indonesia) didirikan tahun 1938 di
Jakarta yang diketuai oleh Agus Jaya Suminta dan sekreTarisnya S.
Sujoyono, sedangkan anggotanya Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S,
Tutur, Emira Sunarsa (pelukis wanita pertama Indonesia) PERSAGI
bertujuan agar para seniman Indonesia dapat menciptakan karya seni
Gambar 95. Lukisan Sudjojono “Seko (perintis gerilya)” Sumber : dunialukisan-javadesindo.blogspot.com.
Gambar 96. Lukisan Sudjojono “Mengungsi”
Sumber : dunialukisan-javadesindo.blogspot.com.
d. Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945)
Pada jaman Jepang para seniman Indonesia disediakan wadah yaitu
balai kebudayaan Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif
tenaga Rakyat) oleh empat sekawan yaitu Soekarno, Hatta, Ki Hajar
Dewantara, dan KH. Mansur
Gambar 97. Lukisan Agus Jaya Sumber : wodrpress.com
e. Masa Sesudah Kemerdekaan (1945 – 1950)
Pada masa ini seniman banyak terorgisir dalam kelompok – kelompok diantaranya: Sanggar seni rupa masyarakat di Yogyakarta oleh
Affandi, Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun, oleh S. Sujoyono,
Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Djajengasmoro, Himpunan
Budaya Surakarta (HBS) dll
f. Masa Pendidikan Seni Rupa Melalui Pendidikan Formal
Pada tahun 1950 di Yogyakarta berdiri ASRI (Akademi Seni Rupa
Indonesia) yang berubah namanya menjadi STSRI (Sekolah Tinggi
Seni Rupa Indonesia) yang dipelopori oleh RJ. Katamsi, kemudian di
Bandung berdiri Perguruan Tinggi Guru Gambar (sekarang menjadi
Jurusan Seni Rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof. Syafe Sumarja.
Selanjutnya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) disusul
tingat Sekolah Lanjutan Atas. Pada masa ini ditandai dengan lebih
mantap berdirinya pendidikan formal. Berdirinya ASRI ( Akademi Seni
Rupa Indonesia ) Tanggal 18 Januari 1948 di Yogyakarta dengan
direktur R.J. Katamsi.
Perguruan Tinggi Guru Gambar yang selanjutnya berubah menjadi
jurusan seni rupa ITB, yang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarja di
Bandung. Guru gambar pada tingkat sekolah-sekolah menengah
menuntut terbentuknya jurusan seni rupa pada perguruan tinggi Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang terbesar di Indonesia.
Dari Masa Pendidikan Formal lahir pelukis-pelukis akademis seperti
Widayat, Bagong Kusudiharjo, Edhi Sunarso, Saptoto, G. Sidharta,
Abas Alibasyah, Hardi, Sunarto, Siti Rulyati, Mulyadi, Irsam, Arief
Sudarsono, Agus Dermawan, Aming Prayitno, dan lainnya
(Yogyakarta). Popo Iskandar, Achmad Sadali, But Muchtar, Srihadi,
A.D. Pirous, Hariadi, Kabul Suadi, Sunaryo, Jim Supangat, Pandu
Sadewa, T. Sutanto. (Bandung).
Beberapa contoh karya Masa pendidikan Formal:
Gambar 98 Beratapkan Langit dan Bumi Ampran Berita Duka Karya AD Pirous Sumber : wordpress.com
Gambar 100. Garuda Karya Kanvas
Sumber : wordpress.com
Gambar 101. Hutan Karya Widaya
Sumber : wordpress.com
g. Masa Seni Rupa Baru Indonesia
Pada tahun 1974 muncul para seniman Muda baik yang berpendidikan formal
maupun otodidak. Pada saat itu perkembangan seni rupa Indonesia
disemarakkan oleh munculnya seniman-seniman muda yang berlatar
belakang berbeda bersama-sama mencetuskan aliran yang tidak dapat
dikelompokkan pada aliran/corak yang sudah ada dan merupakan corak baru
dalam kancah seni rupa Indonesia. Karya seni yang diciptakan berlandaskan
pada konsep:
1) Tidak membeda-bedakan disiplin seni
2) Mengutamakan ekspresi
3) Menghilangkan sikap mengkhususkan cipta seni tertentu
4) Mengedepankan kreatifitas dan serta ide baru
Pelopor Masa Indonesia Baru diantaranya adalah :
1) Jim Supangkat,
2) Nyoman Nuarta,
3) S. Primka,
4) Dede Eri Supria,
5) Redha Sorana dan sebagainya
Gambar 102. Salah satu contoh karya seni rupa baru Sumber : artintern.net
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Peserta membaca modul secara perorangan
2. Peserta merumuskan permasalahan yang ditemukan terkait materi
tentang sejarah seni rupa Indonesia
3. Peserta melakukan diskusi kelompok (5-6 orang untuk setiap
kelompoknya) untuk membahas permasalahan yang ditemukan
4. Bersama dengan fasilitator peserta membahas hasil diskusi untuk diambil
kesimpulan bersama
5. Peserta melakukan konfirmasi dalam bentuk tanya jawab dengan
fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
6. Peserta mengerjakan tugas modul
7. Peserta mempresentasikan hasil pelaksanaan tugas
E. Latihan / Tugas
Buatlah suatu tabel resume tentang sejarah perkembangan seni rupa di
Indonesia dengan mengikuti format berikut:
NO JAMAN/PERIODE KARAKTERISTIK CONTOH KARYA
1
2
3
4
….
F. Rangkuman
Perkembangan seni rupa Indonesia dimulai sejak jaman prasejarah, yang
meliputi jaman batu dan jaman logam. Secara lengkap perkembangan seni
rupa di Indonesia dapat diurutkan sebagai berikut:
1. Jaman Prasejarah
a. Jaman batu
b. Jaman logam
2. Jaman Hindu, dengan peninggalannya berupa candi, patung, dan
beberapa bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan pada
Dewa
3. Jaman Islam, peninggalannya berupa Keraton, makam, dan beberapa
karya Kaligrafi
4. Jaman Modern yang diawali oleh Raden Saleh Syarif Bustaman.
beberapa organisasi atau perkumpulan seniman yang masing-masing
memiliki tujuan dan ciri tersendiri.
5. Era Gerakan Seni Rupa Bari, dimotori oleh beberapa seniman muda
yang memberontak terhadap kemapanan kaidah-kaidah dalam
pengungkapan gagasan yang sudah ada.
G. Umpan Balik
Untuk memperkuat pemahaman guru megenai perkembangan seni rupa di
Indonesia dianjurkan guru membuat media pembelajaran dalam bentuk
presentasi tentang perkembangan seni rupa di Indonesia dengan
menampilkan contoh – contoh karya seni rupa sesuai dengan jamannya. Media tersebut digunakan sebagai media pembelajaran di kelas.
H. Kunci Jawaban Latihan / Rubrik
CORAK ATAU GAYA SENI RUPA DAN
KARAKTERISTIKNYA
A. Tujuan
Peserta diklat mampu menguraikan beragam corak karya seni rupa sesuai
dengan karakteristiknya secara tepat
B. Indikator Pencapaian Materi
1. Peserta diklat mampu mengidentifikasi beragam corak atau gaya dalam
seni rupa
2. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa sesuai
dengan gaya atau coraknya secara tepat
C. Uraian Materi
Dalam mewujudkan karyanya setiap perupa memiliki ciri dan karakteristik
yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Adanya perbedaan tersebut
maka pada karya-karya yang memiliki kesamaan gejala dikelompokkan pada
corak atau gaya tertentu. Gaya-gaya yang ada dalam seni rupa secara umum
adalah:
1. Naturalisme
Naturalisme merupakan corak atau aliran dalam seni rupa yang berusaha
melukiskan sesuatu obyek sesuai dengan alam (nature). Obyek yang digambarkan diungkapkan seperti mata melihat. Untuk memberikan kesan
mirip diusahakan bentuk yang persis, ini artinya proporsi, keseimbangan,
perspektf, pewarnaan dan lainnya diusahakan setepat mungkin sesuai
mata kita melihat.
Tokoh-tokoh Naturalisme: Rembrant, Williamn Hogart dan Frans Hall di
Indonesia yang menganut corak ini: Raden Saleh, Abdullah Sudrio