Seni Budaya Seni Rupa SMP KK B Prof

181 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Mata Pelajaran Seni Budaya/Seni Rupa

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

GURU PEMBELAJAR

MODUL PELATIHAN GURU

KELOMPOK KOPETENSI B

Profesional :

Perkembangan Seni Rupa

Pedagogik :

Teori dan Prinsip Pembelajaran

U PEMBELAJ

AR

MA

TA PELAJ

ARAN SENI R

UP

A SMP

KEL

OMPOK K

(2)

PERKEMBANGAN

SENI RUPA

Sigit Purnomo, M.Pd.

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI A

MATA PELAJARAN SENI RUPA

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

(3)
(4)

Copyright 2016

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan

Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya,

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

c

PERKEMBANGAN

SENI RUPA

KOMPETENSI PROFESIONAL

KELOMPOK KOMPETENSI A

MATA PELAJARAN SENI RUPA

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Penulis : Sigit Purnomo, M.Pd., 081226812966

(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)

SAMBUTAN DIRJEN GTK ………. iii

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 7

C. Uraian Materi ... 7

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2. TIPOLOGI GAMBAR ANAK-ANAK … 25 A. Tujuan ... 25

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 25

C. Uraian Materi ... 25

D. Aktivitas Pembelajaran ... 39

(11)

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3. SEJARAH SENI RUPA INDONESIA…… 43

A. Tujuan ... 43

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 43

C. Uraian Materi ... 43

KEGIATAN PEMBELAJARAN 4. CORAK ATAU GAYA SENI RUPA DAN KARAKTERISTIKNYA……… 83

A. Tujuan ... 83

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 83

C. Uraian Materi ... 83 1. Kunci Jawaban Kegiatan Pembelajaran 1 Perkembangan Seni Rupa Anak-Anak ... 101

(12)

Seni Rupa Dan Karakteristiknya ... 104

(13)
(14)

Gambar 1. Contoh Karya Anak Masa Coreng-moreng ... 8

Gambar 2. Lukisan Masa Coreng Moreng Tak Teratur ... 8

Gambar 3. Karya Seni Rupa Anak Masa Coreng dengan Goresan Mulai Teratur ... 9

Gambar 4. Karya Seni Rupa Anak-anak Masa Simbolisme ... 10

Gambar 5. Karya Seni Rupa Anak-anak Masa Simbolisme ... 10

Gambar 6. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 11

Gambar 7. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 11

Gambar 8. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 12

Gambar 9. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif ... 12

Gambar 10. Karya Seni Rupa Masa Visual Realisme ... 13

Gambar 11. Karya Seni Rupa Masa Perwujudan ... 13

Gambar 12. Karya Seni Rupa Masa Perwujudan ... 14

Gambar 13. Karya Seni Rupa Masa Revival ... 14

Gambar 14. Karya Seni Rupa Masa Revival ... 15

Gambar 15. Gambar Masa Expresi ... 16

Gambar 16. Gambar Masa Expresi ... 16

Gambar 17. Gambar Masa Prabagan ... 17

Gambar 18. Gambar Masa Prabagan ... 17

Gambar 19. Gambar Masa Bagan ... 18

Gambar 20. Gambar Masa Bagan ... 18

Gambar 21. Gambar Masa Realisme ... 19

Gambar 22. Gambar Masa Realisme ... 19

(15)

Gambar 26. Gambar Tipe Haptic ... 26

Gambar 27. Gambar Tipe Haptic ... 26

Gambar 28. Gambar Tipe Haptic ... 27

Gambar 29. Gambar Tipe Visual ... 27

Gambar 30. Gambar Tipe Visual ... 28

Gambar 31. Gambar Tipe Visual ... 28

Gambar 32. Gambar Ungkapan Ingatan ... 29

Gambar 33. Gambar Ungkapan Ingatan ... 30

Gambar 34. Gambar Ungkapan Ingatan (Perhatikan adanya pengulangan bentuk) ... 30

Gambar 35. Gambar Ungkapan Ingatan (Perhatikan adanya pengulangan bentuk) ... 31

Gambar 36. Gambar Ideoplastis (bagian dalam kelihatan dari luar) ... 32

Gambar 37. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,... 33

Gambar 38. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,... 33

Gambar 39. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan ... 34

Gambar 40. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan ... 34

Gambar 41. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi ... 35

Gambar 42. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi ... 35

Gambar 43. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung ... 36

Gambar 44. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung ... 36

Gambar 45. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung ... 37

Gambar 46. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan ... 37

Gambar 47. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan ... 38

Gambar 48. Gambar Anak-anak Bermain Warna ... 39

Gambar 49. Punden Berundak dari Selulung Bangli Bali ... 45

Gambar 50 Waruga ... 45

(16)

Gambar 55. Candi Perambanan ... 50

Gambar 56. Candi Bajang Ratu ... 50

Gambar 57. Candi Jalatunda ... 51

Gambar 58. Pura Agung Besakih ... 52

Gambar 59. Pura Gunung Salak ... 53

Gambar 60. Patung Dyani Budha ... 54

Gambar 61. Hiasan Puncak Candi Prambanan ... 55

Gambar 62. Hiasan Kala di Atas Pintu Candi ... 55

Gambar 63. Hiasan Sudut Candi ... 56

Gambar 64. Hiasan Relief Pada Dinding Candi ... 57

Gambar 65. Hiasan Bermotif Flora Fauna di Candi Prambanan ... 57

Gambar 66. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri ... 58

Gambar 67. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri ... 58

Gambar 69. Stupa Candi Borobudur ... 59

Gambar 70. Salah satu Hiasan Relief Candi Borobudur ... 60

Gambar 71. Komplek Candi Belahan ... 60

Gambar 72. Dua Patung Unik di Komplek Candi Belahan ... 61

Gambar 73. Candi Kidal ... 61

Gambar 75. Patung Pratnya Paramita ... 62

Gambar 74. Candi Singosari ... 62

Gambar 76. Candi Bajang Ratu ... 63

Gambar 77. Candi Panataran ... 63

Gambar 78. Pura Uluwatu ... 64

Gambar 79. Masjid Agung Demak ... 66

Gambar 80. Masjid Agung Banten ... 67

Gambar 81. Kasultanan Cirebon ... 67

Gambar 82. Kraton Yogyakarta ... 68

(17)

Gambar 86. Ragam Hias Jaman Islam ... 71

Gambar 87. Ragam Hias Jaman Islam ... 71

Gambar 88. Ragam Hias Jaman Islam ... 72

Gambar 89. Lukisan Raden Saleh ... 73

Gambar 90. Lukisan Raden Saleh ... 73

Gambar 91. Lukisan Raden Saleh. Penangkapan Diponegoro ... 74

Gambar 92. Lukisan Basuki Abdullah ... 74

Gambar 93. Lukisan Basuki Abdullah ... 75

Gambar 94. Lukisan Rudolf Bonet ... 75

Gambar 95. Lukisan Sudjojono “Seko (perintis gerilya)” ... 76

Gambar 96. Lukisan Sudjojono “Mengungsi” ... 76

Gambar 97. Lukisan Agus Jaya ... 77

Gambar 99. Karya Sidarta ... 78

Gambar 98. Beratapkan Langit dan Bumi Ampran Berita Duka Karya AD Pirous ... 78

Gambar 100. Garuda Karya Kanvas ... 79

Gambar 101. Hutan Karya Widaya ... 79

Gambar 102. Salah satu contoh karya seni rupa baru ... 80

(18)

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan sektor penting dalam pembangunan secara

keseluruhan. Melalui pendidikan, upaya peningkatan kualitas sumber daya

manusia dapat diwujudkan. Untuk itu peningkatan kualitas pendidikan

merupakan tuntutan mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap pengelola

negara.

Peningkatan kualitas pendidikan menyangkut beberapa aspek, yakni : aspek

sarana dan prasarana, aspek kurikulum, aspek sistem pendidikan, aspek

regulasi pendidikan, dan aspek sumber daya manusia pengelola pendidikan.

Sumber Daya Manusia (SDM) Pendidikan secara garis besar terdiri dari

pendidik dan tenaga kependidikan. Salah satu pendidik adalah guru, guru

sebagai pendidik merupakan garda terdepan yang ikut menentukan

keberhasilan suatu proses pendidikan. Guru memiliki peran strategis sebagai

agen perubahan (agent of change). Guru memiliki peran langsung untuk melakukan transfer pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan

membangun sikap peserta didiknya. Sebaik apapun suatu sistem pendidikan

dibangun dan sebaik apapun kurikulum yang digunakan tidak akan ada

artinya jika gurunya tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam

menjalankan fungsinya. Untuk itu upaya peningkatan kompetensi guru

harus selalu dilakukan agar guru benar-benar professional.

Guru seni budaya merupakan guru yang memiliki kewajiban untuk

melaksanakan pembelajaran seni budaya di kelas sesuai dengan

jenjangnya. Pembelajaran seni budaya memiliki dampak yang signifikan

terhadap pembentukan karakter peserta didik. Saat ini pendidikan karakter

menjadi topik yang hangat untuk selalu dibicarakan. Banyak persoalan sosial

(19)

karakter dalam proses pembelajaran di sekolah. Dunia pendidikan

merupakan instrument penentu kemajuan suatu bangsa sedangkan lembaga

pendidikan adalah motor penggerak untuk memfasilitasi perkembangan

pendidikan, dan guru merupakan pelaksana pemelajaran yang langsung

berhadapan dengan peserta didik. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang

harus berjalan secara harmonis.

Pendidikan seni dan budaya memiliki potensi yang besar untuk diarahkan

menjadi bagian dari pendidikan karakter. Dalam pembelajaran seni budaya

dikembangkan sikap apresiatif, yakni sikap yang menunjuk pada kemauan

dan kemampuan seseorang untuk menghargai dan mencintai seni dan

budaya bangsa, disamping sikap apresiatif dalam pembelajaran seni budaya

juga dikembangkan kreatifitas serta sensitifitas. Kreativitas mengarah pada

pengembangan kemampuan berpikir, beritndak, dan bersikap secara

divergen dan kebaruan. Melalui pengasahan daya kreasi diharapkan

seseorang memiliki sifat yang kreatif. Orang kreatif tidak akan berpikir secara

monoton, kemampuanya selalu akan berkembang sesuai dengan

perkembangan jaman dan sifat tantangan yang dihadapi. Sensitivitas

memiliki makna peka. Dalam pembelajaran seni budaya aspek ini menjadi

bagian yang dikedepankan. Melalui pembiasaan untuk peka terhadap suatu

karya seni diharapkan seseorang juga akan memiliki sifat yang peka juga

terhadap persoalan yang muncul di sekitarnya. Potensi-potensi yang ada

dalam pembelajaran seni budaya tersebut hanya dapat diwujudkan apabila

guru yang melaksanakan proses pembelajaran memiliki kompetensi di

bidang seni budaya sesuai dengan tuntutan standar kualifikasi guru seni

budaya.

Kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,

kompetensi pedagogik, dan kompetensi professional. Dalam kaitan modul ini

akan dibahas mengenai kompetensi pedagogik dan kompetensi

professional. Kompetensi pedagogik menyangkut pada penguasaan guru

terhadap teori-teori pendidikan serta kemampuan mengaplikasikannya di

(20)

harus diajarkan sesuai dengan bidang tugasnya. Kedua kompetensi ini

menjadi landasan pokok yang harus benar-benar dikuasai oleh seorang

guru. Dalam kaitannya dengan peran seorang guru seni budaya maka

penguasaan kompetensi pedagogik tidak sekedar pada teori-teori pendidikan

yang bersifat murni namun harus bersifat aplikatif disesuaikan dengan

konteks pembelajaran seni budaya. Dalam modul ini untuk materi

kompetensi pedagogik meliputi: model pembelajaran. Untuk materi

kompetensi professional meliputi: perkembangan kemampuan menggambar

pada anak-anak, tipologi seni rupa anak, sejarah seni rupa Indonesia, gaya

atau corak karya seni rupa dan karakteristiknya.

B. Tujuan

Modul ini disusun sebagai bahan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

bagi guru seni budaya khususnya guru yang mengajarkan materi seni rupa.

Modul ini bertujuan memberikan bekal pengetahuan tentang Model

pembelajaran.Untuk materi kompetensi professional meliputi: Perkembangan

kemampuan menggambar pada anak-anak, tipologi seni rupa anak, sejarah

seni rupa Indonesia, gaya atau corak karya seni rupa dan karakteristiknya

serta aplikasinya di dalam pembelajaran seni budaya di jenjang Sekolah

Menengah Pertama.

C. Peta Kompetensi

Kompetensi Utama Pedagogik

Kompetensi Inti Guru Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. kreatif dalam mata pelajaran yang diampu

Indikator Esensial Mengidentifikasi berbagai strategi pembelajaran dan ciri-cirinya

(21)

Kompetensi Utama Pedagogik

dengan materi seni rupa pada pembelajaran Seni Budaya.

Kompetensi Guru Mata Pelajaran

Menguasai materi, struktur, konsep, dan

pola pikir keilmuan yang mendukung

mata pelajaran yang diampu.

Indikator esensial Menguraikan perkembangan kemampuan menggambar sesuai dengan usia anak

Menguraikan tipologi seni rupa anak

Menguraikan sejarah seni rupa Indonesia

Menguraikan gaya/corak/aliran dalam karya seni rupa

Menganalis karakteristik karya seni rupa sesuai dengan gaya/corak/aliran

D. Ruang Lingkup Materi

Materi atau isi modul untuk setiap unit pembelajaran sebagai berikut:

Unit Pembelajaran I

Unit ini membahas materi professional tantang perkembangan kemampuan

menggambar sesuai dengan usia anak

Unit Pembelajaran II

Pada unit ini dibahas tentang materi professional tentang tipologi seni rupa

anak-anak

Unit Pembelajaran III

Dalam unit pembelajaran ini dibahas tentang materi professional mengenai

(22)

Unit Pembelajaran IV

Dalam unit pembelajaran ini dibahas tentang materi professional mengenai

corak / aliran/ gaya dalam seni rupa beserta karakteristiknya.

E. Saran Penggunaan Modul

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka penggunaan modul dalam

proses pembelajaran sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

1. Bacalah secara seksama isi materi untuk setiap unit pembelajaran secara

urut dan teliti

2. Kerjakan latihan atau tugas yang diberikan untuk setiap unit kerja, baik

yang bersifat praktek maupun teori sesuai ketentuan yang ada

3. Apabila dalam latihan atau tugas belum mencapai hasil yang maksimal

disarankan untuk tidak melangkah pada unit selanjutnya

4. Lakukan kegiatan untuk mempertajam kompetensi yang dicapai sesuai

dengan rekomendasi yang diberikan pada bagian umpan balik dan tindak

(23)
(24)

PERKEMBANGAN SENI RUPA ANAK-ANAK

A. Tujuan

Peserta diklat mampu menguraikan perkembangan seni rupa anak-anak

secara runtut dan benar

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Peserta diklat mampu menjelaskan periodisasi perkembangan seni rupa

anak-anak

2. Peserta diklat mampu mengidentifikasi tipologi karya seni rupa anak-anak

dengan tepat

3. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa

anak-anak

C. Uraian Materi

1. Perkembangan Seni Rupa Anak-anak

Cyril Burt, Italo L,de Francesco dan Victor Lowenfeld adalah adalah tiga

pakar pendidik yang melakukan penelitian khusus di bidang

perkembangan kemampuan menggambar pada kanak-kanak. Bagan

sederhana di bawah memberi gambaran tentang perkembangan

kemampuan menggambar mulai dari tingkat usia 2 tahun sampai dengan

17 tahun.

(25)

Gambar 1. Contoh Karya Anak Masa Coreng-moreng Sumber : yandhajja.blogspot.com

(26)

Gambar 3. Karya Seni Rupa Anak Masa Coreng dengan Goresan Mulai Teratur Sumber : livebinders.com

Menurut penelitian Cyril Burt hasil gambar karya anak-anak usia: 2-5 tahun

merupakan Masa corengan yang meliputi goresan yang tak teratur (2 tahun),

goresan teratur (3 tahun), goresan berdasarkan intuisi anak (4 tahun), goresan

yang terlokalisir (5 tahun). Masa simbolisme diskriptif (6 tahun), Masa realisme

deskriptif (7-8 tahun), Masa visual realisme (9-10 tahun), Masa perwujudan(11-

(27)

Gambar 4. Karya Seni Rupa Anak-anak Masa Simbolisme Sumber : fayettewoman.com

(28)

Gambar 6. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif Sumber : elephantaday.blogspot.com

(29)

Gambar 8. Karya Seni Rupa Masa Realisme Deskriptif Sumber : cuded.com

(30)

Gambar 10. Karya Seni Rupa Masa Visual Realisme Sumber : newkidscenter.com

(31)

Gambar 12. Karya Seni Rupa Masa Perwujudan Sumber : newkidscenter.com

(32)

Gambar 14. Karya Seni Rupa Masa Revival Sumber : favload.com

Italo L,de Francesco menggolongkan perkembangan gambar anak sebagai

berikut: Tahap manipulatif (2-6 tahun), Masa pra simbolik (simbolik) (7-10 tahun),

Masa awal realisme (11-13 tahun), Realisme proyektif (14-15 tahun), Realisme

analistis (16-17 tahun)

Victor Lowenfeld Awal masa ekspresi diri ( 2-4 tahun) Prabagan (5-7 tahun)

Bagan (8-9 tahun) Realisme (10-12 tahun) Naturalisme semu (13-14 tahun)

Masa penentuan (15-17 tahun) Bila kita amati perkembangan menggambar dari

ketiga pakar tersebut, maka dapat disimpulkan adanya perbedaan cara pandang

tentang perkembangan menggambar anak. Cyril Burt lebih mengutamakan segi

perkembangan psikomotor (keterampilan) anak memakai tangannya, sedangkan

Italo L, de Francesco lebih mengutamakan perkembangan afeksi (sikap dan

perasaan) anak, Victor Lowenfeld lebih mengutamakan gabungan dari

perkembangan aspek kognitif (pengetahuan), afeksi dan psikomotorik anak.

Sedangkan batas usia pola menggambar anak bersifat relatif, sebab setiap

individu anak memiliki irama dan tempo perkembangan tidak sama. Berikut ini

penjelasan singkat tentang perkembangan anak menurut pendapat Cyril Burt.

(33)

Gambar 15. Gambar Masa Expresi Sumber : expresivveheart.com

(34)

Gambar 17. Gambar Masa Prabagan Sumber : mikinder.blogspot.com

(35)
(36)

Gambar 21. Gambar Masa Realisme Sumber : printablecolouringpages.co.uk

(37)

Gambar 23 Gambar Masa Naturalis Semu Sumber : picturescollections.com

(38)

Gambar 25. Gambar Masa Pemantapan Sumber : pics9.this-pict.com

Pendapat Cyril Burt

Usia 2 tahun: goresan tak terarah dalam menggores dengan goresan lurus,

membusur dengan arah sembarang seperti horisontal, vertikal atau

diagonal.

Usia 3 tahun: goresan terarah dalam menggores yang berupa goresan

melingkar atau spiral.

Usia 4 tahun: goresan intuitif yakni goresan dengan bentuk tertentu yang

diperoleh secara kebetulan.

Usia 5 tahun: Goresan lokalisasi ialah goresan melingkar, vertikal,

horisontal dan diagonal dibuat mengelompok pada salah satu bidang

(39)

Usia 6 tahun: masa simbolisme deskriptif, seorang anak menamai

gambarnya, meskipun tidak mirip dengan bentuk aslinya.

Usia 7-8 tahun: merupakan masa realisme deskriptif. Pada usia ini anak

merasakan adanya kenyataan nyata dari apa yang dilihat, tetapi belum

mampu mengungkapkan dengan cara yang benar. Kenyataan itu ialah

segala benda dan makhluk hidup keberadaannya dalam ruang dan

kedalaman.

Usia 9-10 tahun: masa visual realisme, dimana anak mampu menggambar

bentuk dan warna obyek cenderung mirip aslinya, meskipun bila diamati

dengan cermat masih banyak ditemukan bagian-bagian gambar yang tidak

mirip dengan obyek aslinya.

Usia 11 – 14 tahun: merupakan masa perwujudan dengan ciri-ciri umum dengan gambar yang dibuat jauh lebih mirip dengan obyek aslinya,

meskipun dengan proporsi yang tidak tepat dengan obyek aslinya.

Usia 15 -17: adalah masa revival, yakni masa anak mencoba menggambar

untuk menghidupkan kembali obyek yang pernah dilihatnya. Ciri umum

ialah pengungkapan dimensi ruang dan kedalaman menjadi usaha serius,

misalnya dengan memperhatikan terang gelapnya obyek jika ditimpa

cahaya dari arah sudut tertentu.

Cara lain dengan menggambar benda dengan metode perspektif paralel

seperti metode isometri, dimetri atau kavalier. Beberapa anak bahkan

mampu menggambar obyek dengan metode menggambar perspektif

(40)

D. Aktivitas Pembelajaran

1. Peserta membaca modul secara perorangan

2. Peserta merumuskan permasalahan yang ditemukan terkait materi

tentang Perkembangan tipologi karya seni rupa anak-anak

3. Peserta melakukan diskusi kelompok (5-6 orang untuk setiap

kelompoknya) untuk membahas permasalahan yang ditemukan

4. Bersama dengan fasilitator peserta membahas hasil diskusi untuk diambil

kesimpulan bersama

5. Peserta melakukan konfirmasi dalam bentuk tanya jawab dengan

fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang

tipologi karya seni rupa anak-anak

6. Peserta mengerjakan tugas modul

7. Peserta mempresentasikan hasil pelaksanaan tugas

E. Tugas/Latihan

Lakukan analisis terhadap karya seni rupa anak-anak berupa lukisan,

minimal 3 buah. Identifikasi ciri-ciri yang ada di dalamnya kemudian

simpulkan termasuk pada tahapan perkembangan yang mana karya

tersebut.

F. Rangkuman

Ada banyak teori yang menganalisis tentang perkembangan seni rupa

anak-anak, dari sekian banyak teori yang ada memang menunjukkan adanya

beberapa perbedaan cara pandang masing-masing pencetus teori tersebut.

Namun jika dicerna secara mendalam sebenarnya perbedaan itu hanya

terletak pada rinci tidaknya masing-masing teori dalam membuat periodisasi

perkembangan seni rupa pada anak-anak.

Cyril Burt:

1. 2-5 tahun merupakan Masa corengan,

2. Masa simbolisme diskriptif (6 tahun),

3. Masa realisme deskriptif (7-8 tahun),

(41)

5. Masa perwujudan (11- 14 tahun),

6. Masa revival (15-17 tahun).

Italo L,de Francesco:

1. Tahap manipulatif (2-6 tahun),

2. Masa pra simbolik (simbolik) (7-10 tahun),

3. Masa awal realisme (11-13 tahun),

4. Realisme proyektif (14-15 tahun),

5. Realisme analistis (16-17 tahun)

Victor Lowenfeld:

1. Awal masa ekspresi diri ( 2-4 tahun)

2. Prabagan (5-7 tahun)

3. Bagan (8-9 tahun)

4. Realisme (10- 12 tahun)

5. Naturalisme semu (13-14 tahun)

6. Masa penentuan (15-17 tahun)

G. Umpan Balik

Untuk memperkuat pemahaman terhadap perkembangan seni rupa yang

terjadi pada anak-anak sebaiknya guru melakukan penelitian terhadap karya

seni rupa anak dari karya anak usia 2 tahun s/d karya seni rupa

anak-anak pada usia 14 tahun untuk selanjutnya dianalisis dan dibandingkan

dengan teori yang ada.

H. Kunci Jawaban Tugas/Rubrik

(42)

TIPOLOGI GAMBAR ANAK-ANAK

A. Tujuan

Setelah mengikuti pembelajaran, peserta diklat dapat :

1. Mengidentifikasi beragam tipologi karya seni rupa anak-anak

2. Mengidentifikasi gejala-gejala yang muncul pada karya seni rupa

anak-anak

B. Indikator

1. Peserta diklat mampu menjelaskan tipologi karya seni rupa anak-anak

2. Peserta diklat mampu menyebutkan beragam tipologi karya seni rupa

anak-anak

3. Peserta diklat mampu menguraikan ciri-ciri karya seni rupa anak-anak

sesuai dengan tipologinya

4. Peserta diklat mampu menyebutkan gejala-gejala yang muncul pada karya

seni rupa anak-anak

5. Peserta diklat mampu menguraikan ciri-ciri karya seni rupa anak-anak

sesuai dengan gejala yang muncul di dalamnya

C. Uraian Materi

1. Tipologi Gambar Anak-anak

Keberhasilan karya gambar buatan anak ditentukan oleh orisinalitas

gambar yang sesuai dengan dunia anak-anak menurut perkembangan

usianya.

Berdasarkan bentuk, dikenal beberapa tipe gambar, yakni tipe visual, tipe

(43)

mirip dengan obyek aslinya. Gambar anak tipe haptik, obyek yang

digambar hanya yang menarik minat atau perasaannya, hasilnya berupa

gambar yang tidak mirip dengan obyek aslinya. Kebanyakan gambar

anak-anak berupa campuran yakni dengan ciri-ciri visual dan haptic .

Gambar 26. Gambar Tipe Haptic

Sumber : raisingsparks.com

(44)

Gambar 28. Gambar Tipe Haptic Sumber : paolojacopomedda.com

Gambar 29. Gambar Tipe Visual

(45)

Gambar 30. Gambar Tipe Visual Sumber : fineartamerica.com

(46)

a. Bentuk Ungkapan Gambar Anak

Bentuk ungkapan gambar anak merupakan hal yang berbeda dengan

tahap-tahap perkembangan pola gambar dunia seni rupa anak. Yang

dimaksud dengan bentuk ungkapan gambar anak adalah gaya atau

style gambar buatan anak-anak. Ada beberapa gaya atau style yakni :

1) Gambar Ungkapan Ingatan

Gambar ungkapan ingatan meliputi gambar stereotipe dan gambar

ideoplastis. Gambar stereotipe ialah gambar ungkapan ingatan

secara berulang-ulang bentuk tertentu. Gambar stereotipe meliputi

pengulangan obyek dan unsur dari obyek. Gambar streotipe meliputi:

Pengulangan total dan pengulangan tertentu.

Pengulangan total yakni pengulangan menyeluruh dari obyek yang

digambar tanpa variasi. Anak miskin daya cipta, tidak kreatif, dan

cepat puas. Misalnya gambar pemandangan alam yang sesuai

dengan ingatannya, yakni dua buah gunung, matahari terbit, deretan

pohon, dan bentangan sawah dikiri-kanan jalan.

(47)

Gambar 33. Gambar Ungkapan Ingatan Sumber : mewarnaigambar.web.id

(48)

Gambar 35. Gambar Ungkapan Ingatan (Perhatikan adanya pengulangan bentuk) Sumber : jendelagertak.blogspot.com

Pengulangan obyek tertentu yakni Pengulangan obyek tertentu dari

aneka macam obyek, misalnya sebuah bidang digambari bentuk

rumah model tertentu yang diulang-ulang dengan tataletak bervariasi

diantara aneka gambar pohon, semak, awan, pagar, dan aneka

ragam bentuk bunga. Pengulangan unsur atau bagian dari obyek

Pengulangan unsur dari obyek yang digambar, misalnya unsur mata

hidung dan mulut manusia yang di gambarkan pada beberapa batang

pohon dan matahari.

2) Gambar Ideoplastis

Gambar ideoplastis ialah gambar obyek tertentu tembus pandang,

berdimensi ruang di dalamnya terdapat benda lain, misalnya gambar

rumah tampak luar dengan segala perabotnya tampak. Hal ini dibuat

berdasarkan apa yang diingat oleh anak tentang benda-benda dalam

(49)

Gambar 36. Gambar Ideoplastis (bagian dalam kelihatan dari luar) Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno

3). Gambar Ungkapan Dimensi Ruang/Kedalaman

Dalam menggambar, dimensi ruang dapat diungkapkan dengan

berbagai macam cara, antara lain cara dimensi, penumpukan,

perebahan, tutup menutupi, perspektif burung terbang, dan

pengecilan. Dimensi ialah cara menggambar ruang dan kedalaman

dengan cara obyek dekat dibuat besar ukurannya dibanding dengan

obyek jauh.

a) Penumpukan

Penumpukan obyek ialah cara menggambar obyek dekat di

bagian bawah bidang gambar, makin jauh letaknya makin keatas,

misalnya sebuah pohon posisinya dekat pemirsa, maka

diletakkan bagian bawah bidang gambar, pohon yang jauh

(50)

Gambar 37. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,

(objek dekat diletakkan di bagian bawah, objek jauh diletakkan di bagian atas) Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno

Gambar 38. Gambar yang Menunjukkan Penumpukan,

(objek dekat diletakkan di bagian bawah, objek jauh diletakkan dibagian atas) Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno

b) Perebahan

Perebahan ialah cara menggambar beberapa obyek dengan

posisi seolah-olah si penggambar berada di tengah-tengah obyek

(51)

kiri jalan yang mengarah ke garis cakrawala dengan posisi

mendatar, deretan pohon tersebut di gambar demikian rupa

sehingga letaknya tegak lurus terhadap garis tepi kiri-kanan jalan.

Gambar 39. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno

Gambar 40. Gambar yang Menunjukkan Gejala Perebahan Sumber : Koleksi Penelitian Drs.Suwarno

c) Tutup menutupi

Tutup menutupi ialah cara menggambar sejumlah obyek dengan

posisi dekat dan jauh, misalnya menggambar sejumlah rumah

(52)

masuk, hingga ke atapnya. Sederet rumah yang berada

dibelakangnya hanya digambar bagian atapnya saja.

Gambar 41. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi Sumber : jauharieffendy.blogspot.com

(53)

d) Perspektif pandangan burung

Perspektif pandangan burung ialah cara menggambar obyek

tampak atas layaknya pandangan seekor burung yang sedang

melayang diudara. Misalnya menggambar sekelompok bangunan

bertingkat diwilayah perkotaan, maka bagian atas atap bangunan

terdapat tangki air, tempat jemuran pakaian, dan sebagainya akan

digambar dengan lengkap.

(54)

Gambar 45. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung Sumber : blogkuapadanya.blogspot.com

e) Pengecilan

Anak sudah mampu membedakan bahwa obyek jauh akan

nampak makin mengecil seperti mata kita melihat obyek tersebut.

(55)

Gambar 47. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan Sumber : treehugger.com

b Kemampuan Anak Mengolah dan Mengkombinasi Warna

Mengkombinasi warna pada gambar buatan anak-anak cenderung

menyukai warna-warna primer dan netral dari pensil berwarna, crayon,

atau spidol. Adapun warna primer yang dimaksud adalah merah, biru dan

hijau. Sedangkan warna netral yang dimaksud ialah hitam, abu-abu, atau

putih. Mengkombinasi warna yang sama dengan bahan pewarna buatan

pabrik berupa pensil, crayon atau spidol tidak hanya dilakukan di

kalangan anak-anak saja, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang yang

lebih dewasa, karena cara ini jauh lebih mudah pengerjaannya. Tetapi

dengan perkembang industri bahan pewarna yang lebih canggih, maka

pihak pabriklah yang mengolah warna primer menjadi warna sekunder,

(56)

Gambar 48. Gambar Anak-anak Bermain Warna Sumber : photo.elsoar.com

Mengolah warna, biasanya dilakukan oleh anak-anak tertentu yang

sudah terlatih menggambar. Mereka umumnya dengan memakai tehnik

sungging, yang mengutamakan gradasi/tingkatan warna dasar yang

sama, misalnya dari merah tua secara bertahap-tahap kemerah muda

pada suatu bidang tertentu. Ada juga yang mengolah warna dengan

cara mencampur dua warna atau lebih dengan jalan tumpang tindih,

sehingga hasilnya berupa warna-warna yang cenderung lebih gelap

D Aktivitas Pembelajaran

1. Peserta membaca modul secara perorangan

2. Peserta merumuskan permasalahan yang ditemukan terkait materi tentang

Perkembangan tipologi karya seni rupa anak-anak

3. Peserta melakukan diskusi kelompok (5-6 orang untuk setiap

kelompoknya) untuk membahas permasalahan yang ditemukan

4. Bersama dengan fasilitator peserta membahas hasil diskusi untuk diambil

(57)

5. Peserta melakukan konfirmasi dalam bentuk tanya jawab dengan

fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang

tipologi karya seni rupa anak-anak

6. Peserta mengerjakan tugas modul

7. Peserta mempresentasikan hasil pelaksanaan tugas

E. Tugas/Latihan

Buatlah suatu analisis satu karya seni rupa anak-anak ditinjau dari aspek

tema, keteknikan, tipologi, dan gejala yang muncul dalam visualisasinya

F. Rangkuman

Tipologi karya seni rupa anak-anak merupakan jenis atau bentuk ungkapan

secara visual yang ditunjukkan oleh karya seni rupa masing-masing anak.

Secara garis besar ada dua tipe karya seni rupa anak-anak, yakni tipe haptic

dan tipe visual. Anak-anak dengan tipe haptic memiliki kecenderungan

menghasilkan karya seni yang ekspresif dan tidak terikat oleh warna dan

bentuk objeknya secara riil. Bentuk-bentuk yang muncul lebih kearah abstrak

atau berbeda dengan objek yang digambarkan. Anak-anak dengan tipe

visual memiliki kemampuan menggambarkan suatu objek sesuai dengan

karakter objek aslinya.

Tipologi karya seni rupa anak-anak meliputi tipe haptic dan tipe visual.

Sedangkan bentuk ungkapan karya seni rupa anak-anak adalah

1. Bentuk Ungkapan Gambar Anak

2. Gambar Ungkapan Dimensi Ruang/Kedalaman

Gejala yang sering muncul pada karya seni rupa anak-anak adalah :

1. Penumpukan

2. Perebahan

3. Tutup menutupi

(58)

G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut

Untuk memperkuat pemahaman tentang tipologi karya seni rupa anak-anak,

maka dianjurkan guru melakukan kegiatan pengamatan pada karya seni rupa

siswa-siswinya kemudian didokumentasikan untuk dianalisis tipologinya,

sehingga guru memiliki strategi yang tepat dalam melakukan pembinaan

terhadap siswa-siswinya sesuai dengan kecenderungan tipe yang dimiliki.

.

H. Kunci Jawaban Tugas / Rubrik

(59)
(60)

SEJARAH SENI RUPA INDONESIA

A. Tujuan

Peserta diklat mampu menguraikan sejarah perkembangan seni rupa di

Indonesia

B. Indikator Pencapaian Materi

1. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa jaman

pra sejarah

2. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa jaman

Hindu

3. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa jaman

Islam

4. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karaktersitik karya seni rupa jaman

modern.

C. Uraian Materi

1. Sejarah Seni Rupa Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya yang luar

biasa. Beragam seni budaya tumbuh dan berkembang dengan subur di

Indonesia. Salah satu bentuk kekayaan seni budaya tersebut adalah seni

rupa. Perkembangan seni rupa di Indonesia mengalami berbagai jaman

yang setiap jamannya memiliki ciri dan karakteristik yang berbeda-beda.

Secara kronologis dapat diuraikan mengenai perkembangan seni rupa di

Indonesia sebagai berikut:

(61)

a. Jaman prasejarah (Prehistory)

Jaman sebelum ditemukan sumber-sumber atau dokumen-dokumen

tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya

berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu

Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan

dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara

(bersifat simbolisme)

1) Seni Rupa Jaman Batu

Jaman batu terbagi lagi menjadi: jaman batu tua (Palaeolithikum), jaman

batu menengah (Mesolithikum), Jaman batu muda (Neolithikum),

kemudian berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman

megalithikum (Batu Besar). Peninggalan- peninggalannya yaitu:

a) Seni Bangunan

Manusia phaleolithikum belum meiliki tempat tinggal tetap, mereka

hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering) tanda-tanda adanya karya seni rupa dimulai dari jaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat

tinggal di goa-goa. Seperti goa yang ditemukan di Sulawesi Selatan

dan Irian Jaya. Juga berupa rumah-rumah panggung di tepi pantai,

dengan bukti-bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur

berupa bukit-bukit kerang (Klokkenmodinger) sebagai sisa-sisa

sampah dapur para nelayan.

Kemudian jaman Neolithikum, manusia sudah bisa bercocok tanah

dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah-rumah kayu/bambu.

Pada jaman megalithikum banyak menghasilkan

bangunan-bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara

(62)

Gambar 49. Punden Berundak dari Selulung Bangli Bali Sumber : geetackey.blogspot.com

Gambar 50 Waruga

(63)

Gambar 51. Sakofagus yang Ditemukan di Bali Sumber : Mbahare.blogspot.com

b) Seni Patung

Seni patung berkembang pada jaman Neolithikum, berupa

patung-patung nenek moyang dan patung penolak bala,

bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian

jaman megalithikum banyak ditemukan patung-patung

berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis

(64)

c) Seni Lukis

Dari jaman Mesolithikum ditemukan lukisan-lukisan yang dibuat

pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan

Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan

magis dan ritual, seperti adegan perburuan binatang lambang

nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada jaman neolithikum

dan megalithikum, lukisan diterapkan pada bangunan-

bangunan dan benda-benda kerajinan sebagai hiasan

ornamentik (motif geometris atau motif per lambang)

Gambar 53. Lukisan di Gua Leang Timpuseng, lokasi karst Maros, Sulawesi. Sumber : forumku.com

2) Seni Rupa Jaman Logam

Jaman logam di Indonesia dikenal sebagai jaman perunggu,

karena banyak ditemukan benda-benda kerajinan dari bahan

perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung dan

perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik cor (cetak)

(65)

1) Bivalve, ialah teknik mengecor yang bisa di ulang berulang

2) Acire Perdue, ialah teknik mengecor yang hanya satu kali pakai

(tidak bisa diulang)

Gambar 54. Benda Karya Seni Rupa Jaman Logam Sumber : nadarili.blogspot.com

3. Seni Rupa Indonesia Hindu

Kebudayaan Hindu berasal dari India yang menyebar di Indonesia sekitar

abad pertama Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama dan politik.

Pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian

bercampur (akulturasi) dengan kebudayaan asli Indonesia (kebudayaan

istana dan feodal). Proses akulturasi kebudayan India dan Indonesia

berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan

proses:

1) Proses peniruan (imitasi)

2) Proses Penyesuaian (adaptasi)

(66)

1) Ciri-ciri Seni rupa Indonesia Hindu

a) Bersifat feodal, yaitu kesenian berpusat di istana sebagai media

pengabdian kepada penguasa atau raja

b) Bersifat sakral, yaitu kesenian sebagai media upacara agama

c) Bersifat konvensional, yaitu kesenian yang bertolak pada suatu

pedoman pada sumber hukum agama (Silfasastra)

d) Hasil akulturasi kebudayaan India dengan Indonesia

2) Karya Seni Rupa Indonesia Hindu

a) Seni Bangunan:

(1) Bangunan Candi

Candi berasal dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa kematian (Durga). Karenanya candi selalu dihubungkan

dengan monumen untuk memuliakan raja yang meninggal

contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati, selain

itu candi pula berfungsi sebagai: Candi Stupa, yakni candi yang

didirikan sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur. Candi

Pintu Gerbang, candi ini didirikan sebagai gapura atau pintu

masuk, contohnya candi Bajang Ratu. Candi Balai Kambang/Tirta,

candi ini biasanya didirikan di dekat/di tengah kolam, contoh candi

Belahan. Candi Pertapaan, candi pertapaan didirikan di

lereng-lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda. Candi

Vihara, candi vihara didirikan untuk tempat para pendeta

(67)

Gambar 55. Candi Perambanan Sumber : ikhsanpanorama.blogspot.com

(68)

Gambar 57. Candi Jalatunda

Sumber : nasionalisrakyatmerdeka.wordpress.com

(2) Struktur bangunan candi terdiri dari 3 bagian

(a) Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk

denahnya (berbentuk segi empat, ujur sangkar atau segi 20)

(b) Tubuh candi, terdapat kamar-kamar tempat arca atau patung

(c) Atap candi, berbentuk limasan, bermahkota stupa, lingga, ratna

atau amalaka

Bangunan candi ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok.

Ada dua sistem dalam pengelompokan candi, yaitu:

(a) Sistem konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi

berada di tengah anak-anak candi, contohnya kelompok candi

lorojongrang dan prambanan

(b) Sistem membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia )yaitu induk

candi berada di belakang anak-anak candi, contohnya candi

(69)

(3) Bangunan pura

Pura adalah bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur. Pura

merupakan komplek bangunan yang disusun terdiri dari tiga

halaman sebagai berikut :

(a) Halaman depan terdapat balai pertemuan

(b) Halaman tengah terdapat balai saja

(c) Halaman belakang terdapat meru, padmasana, dan rumah

dewa

Seluruh bangunan dikelilingi dinding dengan gerbang yang

berpintu/bertutup (kori agung) ada yang terbuka (candi bentar),

pura-pura tersebut dibedakan sesuai dengan tempat dimana pura

itu dibangun, pura-pura tersebut adalah:

(a) Pura agung, didirikan di komplek istana

(b) Pura gunung, didirikan di lereng gunung tempat bersemedhi

(c) Pura subak, didirikan di daerah pesawahan

(d) Pura laut, didirikan di tepi pantai

(70)

Gambar 59. Pura Gunung Salak Sumber : ronentalmedia.blogspot.com

(4) Bangunan Puri

Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan

dan pusat keagamaan. Bangunan-bangunan yang terdapat di

komplek puri antara lain, tempat kepala keluarga (Semanggen)

dan tempat upacara meratakan gigi

b) Seni patung Hindu Budha

Patung dalam agama Hindu merupakan perwujudan Raja dengan

Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti yang terdiri

dari Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa. Untuk membedakan

mereka setiap patung diberi atribut kedewaan (laksana/ciri), misalnya

patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan

kendaraanya atau wahananya berupa angsa. Sedangkan pada patung

wisnu laksananya adalah pada mahkotanya terdapat bulan sabit dan

kendaraannya atau wahananya berupa burung garuda, sedangkan

untuk dewa Siwa laksananya adalah mata ketiga di dahi, dan

(71)

Dalam agama Budha, sosok yang biasa dipatungkan adalah sang

Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa, dan Dewi Tara. Setiap

patung Budha memiliki tanda-tanda kesucian sebagai berikut:

(1) Rambut ikal dan berjenggot (ashnisha)

(2) Diantara keningnya terdapat titik (urna)

(3) Telinganya panjang (lamba-karnapasa)

(4) Terdapat juga kerutan di leher

(5) Memakai jubah sanghati

Gambar 60. Patung Dyani Budha Sumber : stiven-alun.blogspot.com

c) Seni hias Hindu Budha

Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung

Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa. Candi

selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu

dengan motif flora dan fauna serta mahluk ajaib. Bentuk hiasan candi

dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

(1) Hiasan Arsitektural ialah hiasan bersifat tiga dimensional yang

membentuk struktur bangunan candi, contohnya:

(a) Hiasan mahkota pada atap candi

(b) Hiasan menara sudut pada setiap candi

(c) Hiasan motif kala (Banaspati) pada bagian atas pintu

(72)

Gambar 61. Hiasan Puncak Candi Prambanan Sumber : skyscrapercity.com

(73)

Gambar 63. Hiasan Sudut Candi Sumber : commons.wikimedia.org

(2) Hiasan bidang ialah hiasan bersifat dua dimensional yang terdapat

pada dinding. Contohnya ialah :

(a) Hiasan dengan cerita, candi Hindu ialah Mahabarata dan

Ramayana: sedangkan pada candi Budha adalah Jataka,

Lalitapistara

(b) Hiasan flora dan fauna

(c) Hiasan pola geometris

(74)

Gambar 64. Hiasan Relief Pada Dinding Candi Sumber : ennyern.blogspot.com

Gambar 65. Hiasan Bermotif Flora Fauna di Candi Prambanan Sumber : flickr.com

Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Tengah, terbagi atas:

a) Jaman Wangsa Sanjaya

Peninggalan seni rupa pada masa ini berupa candi yang didirikan di

daerah pegunungan. Selain candi juga terdapat peninggalan patung

yang menggambarkan perwujudan antara manusia dengan binatang

(75)

Gambar 66. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber : www.teruskan.com

Gambar 67. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber : www.teruskan.com

b) Jaman Wangsa Syailendra

Peninggalan seni rupa pada jaman ini adalah Candi Prambanan,

Kelompok, Candi Sewu, Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sari,

Candi Mendut, dan Kelompok Candi Plaosan. Peninggalan berupa Seni

patung bersifat Budhis, contohnya patung Budha dan Budhisatwa di

(76)

Gambar 68. Candi Borobudur Sumber : indonesia.travel

(77)

Gambar 70. Salah satu Hiasan Relief Candi Borobudur Sumber : startravelinternational.com

Seni rupa Jawa Hindu periode Jawa Timur, terbagi atas:

a) Jaman Peralihan

Pada seni bangunannya sudah meperlihatkan tanda-tanda gaya seni

jawa timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu pada perubahan

kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian

pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India,

tetapi sudah diterapkan proporsi Indonesia seperti pada patung

Airlangga

(78)

Gambar 72. Dua Patung Unik di Komplek Candi Belahan Sumber : akucintanusantaraku.blogspot.com

b) Jaman Singasari

Pada jaman Singasari seni bangunan yang berkembang sudah benar-

benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi

maupun pada hiasannya, contohnya: candi Singosari, candi Kidal, dan

candi Jago. Seni patung yang berkembang bergaya Klasisistis yang

bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, Seni patung Singosari lebih halus

pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung

Prajnaparamita, Bhairawa, dan Ganesha.

(79)

c) Jaman Majapahit

Candi-candi peninggalan jaman Majapahit sebagian besar sudah tidak

utuh lagi karena terbuat dari batu bata, perbedaan dengan candi di Jawa

Tengah yang terbuat dari batu kali/atau batu andhesit. Peninggalan

berupa candi diantaranya adalah kelompok candi Penataran, Candi

Bajangratu, candi Surowono, dan candi Triwulan.

Peninggalan berupa seni patung sudah tidak lagi memperlihatkan gaya

klasik Jawa Tengah, melainkan gaya magis monumental yang lebih

menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian

batik dan perhiasan khas Indonesia. Selain patung dari batu juga

ditemukan patung realistik dari Terakotta (tanah liat) hasil pengaruh dari

Campa dan China, contohnya patung wajah Gajah Mada

Gambar 75. Patung Pratnya Paramita Sumber : jawatimuran.wordpress.com

(80)

Gambar 76. Candi Bajang Ratu Sumber : ekoapt.wordpress.com

Gambar 77. Candi Panataran Sumber : pinterest.com

Seni Rupa Bali Hindu

Di Bali jarang ditemukan candi sebab masyarakatnya tidak mengenal

Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah Pura dan Puri. Pura

sebagai bangunan suci tetapi di dalamnya tidak terdapat patung

(81)

yaitu tidak mengenal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung

hanya sebagai hiasan saja

Gambar 78. Pura Uluwatu Sumber : bernardbaliadvisor.com

Perbedaan Gaya Seni Jawa Tengah dengan Jawa Timur

1) Perbedaan struktur bangunan candi

(a) Candi Jateng terbuat dari batu andhesit, sedangkan di Jatim terbuat

dari batu bata

(b) Candi Jateng bentuknya tambun, sedangkan di Jatim bentuknya

ramping

(c) Kaki candi Jateng tidak berundak sedangkan di Jatim berundak

(d) Atap candi Jateng pendek, sedangkan di Jatim lebih tinggi

(e) Kumpulan candi di Jateng dengan system konsentris, sedangkan di

Jatim dengan system membelakangi

2) Perbedaan pada seni patungnya

(a) Patung-patung di Jawa Tengah hanya sebagai perwujudan

(82)

(b) Seni patung Jateng bergaya simbolis realistis, sedangkan di Jatim

jaman Singasari bergaya klasisitis dan jaman Majapahit bergaya

magis monumental

(c) Prambandala (lingkaran kesaktian) pada patung Jateng terdapat

pada bagian belakang kepala, sedangkan di Jatim terdapat di

bagian belakang seluruh tubuh menyerupai lidah api

(d) Pakaian Raja/Dewa pada seni patung Jateng masih dipengaruhi

tradisi India, sedangkan di Jatim khas Indonesia seperti pakaian

batik, selendang dan ikat kepala

3) Perbedaan hiasan candi

(a) Hiasan adegan cerita pada candi Jateng bergala realis, sedangkan

di Jatim bergaya Wayang (distorsi)

(b) Adegan cerita pada candi Jateng hanya tentang Mahabarata dan

Ramayana, sedangkan di Jatim ada pula adegan cerita asli

Indonesia, misalnya cerita Panji

(c) Motif hias pada candi di Jateng bersifat Hindu dan Budha

sedangkan di Jatim ada pula hias asli Indonesia sperti motif

penawakan dan gunungan serta perlambangan

(d) Hiasan pada candi di Jatim lebih padat dan dipusatkan pada seni

Cina seperti motif awan dan batu karang

3. Seni Rupa Indonesia Islam

Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M. Masuknya agama

Islam dibawa oleh para pedagang dari India, Persia, dan Cina. Mereka

menyebarkan ajaran Islam sekligus memperkenalkan kebudayaannya

masing – masing sehingga timbul akulturasi kebudayaan

Seni rupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di istana – istana sebagai media pengabdian kepada para penguasa. Dalam kaitannya

dengan penyebaran agama Islam, para wali berperan dalam

mengembangkan seni di masyarakat pedesaan, misalnya da’wah Islam

(83)

a. Ciri – Ciri Seni Rupa Indonesia Islam

1) Bersifat feodal, yaitu kesenian yang bersifat di istana sebagai media

pengabdian kepada Raja / sultan

2) Bersumber dari kesenian pra Islam (seni prasejarah dan seni Hindu

Budha)

3) Berperan

b. Karya Seni Rupa Indonesia Islam

1) Seni Bangunan

a) Masjid

Masjid merupakan tempat ibadah pemeluk agama Islam. Bentuk

masjid sebagai salah satu peninggalan karya seni rupa

menampakkan adanya pengaruh Hindu. Pengaruh itu dapat dilihat

pada bagian atas masjid yang berbentuk limas bersusun ganjil

seperti atap balai pertemuan Hindu Bali. contohnya adalah atap

masjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten

(84)

Gambar 80. Masjid Agung Banten Sumber : abotegg.wordpress.com

b) Istana

Istana/keraton berfungsi sebagai tempat tinggal Raja, pusat

pemerintahan. Pusat kegiatan agama dan budaya. Komplek istana

bisaanya didirikan di pusat kota yang dikelilingi oleh dinding

keliling dan parit pertahanan.

(85)

Gambar 82. Kraton Yogyakarta Sumber : gadingmoore.blogspot.com

c) Makam

Arsitektur makam orang muslimin di Indonesia merupakan hasil

pengaruh dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah

tampak pada bentuk makam seperti punden berundak. Sedangkan

pengaruh Hindu tampak pada nisannya yang diberi hiasan motif

gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat

(86)

Gambar 84. Makam Sunan Giri Sumber : awalinfo.blogspot.com

2) Seni Kaligrafi

Seni kaligrafi atau seni khat adalah seni tulisan indah. Dalam

kesenian Islam menggunakan huruf dan bahasa arab, sebagai

bentuk simbolis dari rangkaian ayat suci Al Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi tiga yaitu:

a) Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan

b) Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar

c) Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan

(87)

Kaligrafi adalah seni menulis indah. Seni kaligrafi berkembang pada zaman kebudayaan madya. Kaligrafi berwujud tulisan indah yang merupakan komposisi huruf-huruf Arab yang biasanya merupakan rangkaian ayat-ayat suci dalam Al-quran. Rangkaian tersebut disusun sedemikian rupa sehingga membentuk suatu gambar atau ukiran yang indah. Kaligrafi biasanya dipahatkan pada dinding masjid, batu nisan, gapura, keraton, seperti pada Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon.

Kaligrafi Dewa Ganesha di Cirebon bebentuk lukisan pada kaca. Sebelum lukisan kaca dikenal di Cirebon, masyarakat Cirebon memakai media kayu, kulit, maupun kain. Ketika kaca mulai dipakai, tema yang banyak muncul adalah tema-tema wayang dengan kaligrafi Islam dengan harapan mampu menyampaikan nilai-nilai Islami kepada masyarakat melalui simbol-simbol pewayangan.

Lukisan kaca sendiri mengandung berbagai filosofis-filosofis yang menyangkut religi dankepercayaan, fungsi sebagai azimat pun masih dipercaya di beberapa kalangan masyarakat Cirebon. Sebagai contoh adalah lukisan kaca dengan obyek Ganesha, dipercaya sebagai penolak bala dan biasanya dipasang di bagian depan rumah. Gambar dua gajah yang satu membawa pedang dan satunya lagi membawa gada.

3) Seni Hias

Seni hias islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup

secara realis, maka untuk penyamarannya dibuatkan stilasinya

(digayakan) atau deformasi (disederhanakan) dengan bentuk

(88)

Gambar 86. Ragam Hias Jaman Islam Sumber : fotografer.net

(89)

Gambar 88. Ragam Hias Jaman Islam Sumber : thearoengbinangproject.com

4. Seni Rupa Indonesia Modern

Istilah modern dalam seni rupa Indonesia yaitu bentuk dan perwujudan

seni yang terjadi akibat dari pengaruh kaidah seni Barat atau Eropa.

Dalam perkembangannya seni rupa di Indonesi tidak terlepas dari

dinamika perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari

penjajahan. Perkembangan seni rupa Indonesia modern dapat dibagi

dalam beberapa masa, sebagai berikut :

a. Masa Perintis

Dimulai dari prestasi Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), seorang seniman Indonesia yang belajar kesenian di eropa dan

sekembalinya di Indonesia ia menyebarkan hasil pendidikannya.

Kemudian Raden Saleh dikukuhkan sebagai bapak perintis seni

(90)

Gambar 89. Lukisan Raden Saleh Sumber : mrwise23.blogspot.com

(91)

Gambar 91. Lukisan Raden Saleh. Penangkapan Diponegoro Sumber : mrwise23.blogspot.com

b. Masa seni lukis Indonesia jelita / moek (1920 – 1938)

Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis barat yaitu Rudolf

Bonnet, Walter Spies, Arie Smite, R. Locatelli dan lain-lain. Ada

beberapa pelukis Indonesia yang mengikuti kaidah/teknik ini antara

lain: Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi dan Wahid

(92)

Gambar 93. Lukisan Basuki Abdullah Sumber : dunialukisan-javadesindo.blogspot.com

Gambar 94. Lukisan Rudolf Bonet Sumber : doddi-sularto.blogspot.com

c. Masa PERSAGI (1938 – 1942)

PERSAGI (Peraturan Ahli Gambar Indonesia) didirikan tahun 1938 di

Jakarta yang diketuai oleh Agus Jaya Suminta dan sekreTarisnya S.

Sujoyono, sedangkan anggotanya Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S,

Tutur, Emira Sunarsa (pelukis wanita pertama Indonesia) PERSAGI

bertujuan agar para seniman Indonesia dapat menciptakan karya seni

(93)

Gambar 95. Lukisan Sudjojono “Seko (perintis gerilya)” Sumber : dunialukisan-javadesindo.blogspot.com.

Gambar 96. Lukisan Sudjojono “Mengungsi”

Sumber : dunialukisan-javadesindo.blogspot.com.

d. Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945)

Pada jaman Jepang para seniman Indonesia disediakan wadah yaitu

balai kebudayaan Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif

(94)

tenaga Rakyat) oleh empat sekawan yaitu Soekarno, Hatta, Ki Hajar

Dewantara, dan KH. Mansur

Gambar 97. Lukisan Agus Jaya Sumber : wodrpress.com

e. Masa Sesudah Kemerdekaan (1945 – 1950)

Pada masa ini seniman banyak terorgisir dalam kelompok – kelompok diantaranya: Sanggar seni rupa masyarakat di Yogyakarta oleh

Affandi, Seniman Indonesia Muda (SIM) di Madiun, oleh S. Sujoyono,

Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Djajengasmoro, Himpunan

Budaya Surakarta (HBS) dll

f. Masa Pendidikan Seni Rupa Melalui Pendidikan Formal

Pada tahun 1950 di Yogyakarta berdiri ASRI (Akademi Seni Rupa

Indonesia) yang berubah namanya menjadi STSRI (Sekolah Tinggi

Seni Rupa Indonesia) yang dipelopori oleh RJ. Katamsi, kemudian di

Bandung berdiri Perguruan Tinggi Guru Gambar (sekarang menjadi

Jurusan Seni Rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof. Syafe Sumarja.

Selanjutnya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) disusul

(95)

tingat Sekolah Lanjutan Atas. Pada masa ini ditandai dengan lebih

mantap berdirinya pendidikan formal. Berdirinya ASRI ( Akademi Seni

Rupa Indonesia ) Tanggal 18 Januari 1948 di Yogyakarta dengan

direktur R.J. Katamsi.

Perguruan Tinggi Guru Gambar yang selanjutnya berubah menjadi

jurusan seni rupa ITB, yang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarja di

Bandung. Guru gambar pada tingkat sekolah-sekolah menengah

menuntut terbentuknya jurusan seni rupa pada perguruan tinggi Institut

Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang terbesar di Indonesia.

Dari Masa Pendidikan Formal lahir pelukis-pelukis akademis seperti

Widayat, Bagong Kusudiharjo, Edhi Sunarso, Saptoto, G. Sidharta,

Abas Alibasyah, Hardi, Sunarto, Siti Rulyati, Mulyadi, Irsam, Arief

Sudarsono, Agus Dermawan, Aming Prayitno, dan lainnya

(Yogyakarta). Popo Iskandar, Achmad Sadali, But Muchtar, Srihadi,

A.D. Pirous, Hariadi, Kabul Suadi, Sunaryo, Jim Supangat, Pandu

Sadewa, T. Sutanto. (Bandung).

Beberapa contoh karya Masa pendidikan Formal:

Gambar 98 Beratapkan Langit dan Bumi Ampran Berita Duka Karya AD Pirous Sumber : wordpress.com

(96)

Gambar 100. Garuda Karya Kanvas

Sumber : wordpress.com

Gambar 101. Hutan Karya Widaya

Sumber : wordpress.com

g. Masa Seni Rupa Baru Indonesia

Pada tahun 1974 muncul para seniman Muda baik yang berpendidikan formal

maupun otodidak. Pada saat itu perkembangan seni rupa Indonesia

disemarakkan oleh munculnya seniman-seniman muda yang berlatar

belakang berbeda bersama-sama mencetuskan aliran yang tidak dapat

dikelompokkan pada aliran/corak yang sudah ada dan merupakan corak baru

dalam kancah seni rupa Indonesia. Karya seni yang diciptakan berlandaskan

pada konsep:

1) Tidak membeda-bedakan disiplin seni

2) Mengutamakan ekspresi

3) Menghilangkan sikap mengkhususkan cipta seni tertentu

4) Mengedepankan kreatifitas dan serta ide baru

(97)

Pelopor Masa Indonesia Baru diantaranya adalah :

1) Jim Supangkat,

2) Nyoman Nuarta,

3) S. Primka,

4) Dede Eri Supria,

5) Redha Sorana dan sebagainya

Gambar 102. Salah satu contoh karya seni rupa baru Sumber : artintern.net

D. Aktivitas Pembelajaran

1. Peserta membaca modul secara perorangan

2. Peserta merumuskan permasalahan yang ditemukan terkait materi

tentang sejarah seni rupa Indonesia

3. Peserta melakukan diskusi kelompok (5-6 orang untuk setiap

kelompoknya) untuk membahas permasalahan yang ditemukan

4. Bersama dengan fasilitator peserta membahas hasil diskusi untuk diambil

kesimpulan bersama

5. Peserta melakukan konfirmasi dalam bentuk tanya jawab dengan

fasilitator untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang

(98)

6. Peserta mengerjakan tugas modul

7. Peserta mempresentasikan hasil pelaksanaan tugas

E. Latihan / Tugas

Buatlah suatu tabel resume tentang sejarah perkembangan seni rupa di

Indonesia dengan mengikuti format berikut:

NO JAMAN/PERIODE KARAKTERISTIK CONTOH KARYA

1

Perkembangan seni rupa Indonesia dimulai sejak jaman prasejarah, yang

meliputi jaman batu dan jaman logam. Secara lengkap perkembangan seni

rupa di Indonesia dapat diurutkan sebagai berikut:

1. Jaman Prasejarah

a. Jaman batu

b. Jaman logam

2. Jaman Hindu, dengan peninggalannya berupa candi, patung, dan

beberapa bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan pada

Dewa

3. Jaman Islam, peninggalannya berupa Keraton, makam, dan beberapa

karya Kaligrafi

4. Jaman Modern yang diawali oleh Raden Saleh Syarif Bustaman.

(99)

beberapa organisasi atau perkumpulan seniman yang masing-masing

memiliki tujuan dan ciri tersendiri.

5. Era Gerakan Seni Rupa Bari, dimotori oleh beberapa seniman muda

yang memberontak terhadap kemapanan kaidah-kaidah dalam

pengungkapan gagasan yang sudah ada.

G. Umpan Balik

Untuk memperkuat pemahaman guru megenai perkembangan seni rupa di

Indonesia dianjurkan guru membuat media pembelajaran dalam bentuk

presentasi tentang perkembangan seni rupa di Indonesia dengan

menampilkan contoh – contoh karya seni rupa sesuai dengan jamannya. Media tersebut digunakan sebagai media pembelajaran di kelas.

H. Kunci Jawaban Latihan / Rubrik

(100)

CORAK ATAU GAYA SENI RUPA DAN

KARAKTERISTIKNYA

A. Tujuan

Peserta diklat mampu menguraikan beragam corak karya seni rupa sesuai

dengan karakteristiknya secara tepat

B. Indikator Pencapaian Materi

1. Peserta diklat mampu mengidentifikasi beragam corak atau gaya dalam

seni rupa

2. Peserta diklat mampu mengidentifikasi karakteristik karya seni rupa sesuai

dengan gaya atau coraknya secara tepat

C. Uraian Materi

Dalam mewujudkan karyanya setiap perupa memiliki ciri dan karakteristik

yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Adanya perbedaan tersebut

maka pada karya-karya yang memiliki kesamaan gejala dikelompokkan pada

corak atau gaya tertentu. Gaya-gaya yang ada dalam seni rupa secara umum

adalah:

1. Naturalisme

Naturalisme merupakan corak atau aliran dalam seni rupa yang berusaha

melukiskan sesuatu obyek sesuai dengan alam (nature). Obyek yang digambarkan diungkapkan seperti mata melihat. Untuk memberikan kesan

mirip diusahakan bentuk yang persis, ini artinya proporsi, keseimbangan,

perspektf, pewarnaan dan lainnya diusahakan setepat mungkin sesuai

mata kita melihat.

(101)

Tokoh-tokoh Naturalisme: Rembrant, Williamn Hogart dan Frans Hall di

Indonesia yang menganut corak ini: Raden Saleh, Abdullah Sudrio

Subroto, Basuki Abdullah, Gambir Anom dan Trubus.

2. Realisme

Realisme adalah corak seni rupa yang menggambarkan kenyataan yang

benar-benar ada, artinya yang ditekankan bukanlah obyek tetapi suasana

dari kenyataan tersebut. Tokoh-tokoh realisme ialah : Gustove Corbert,

Fransisco de Goya dan Honore Daumier.

Gambar 103. Karya Naturalis Basuki Abdullah Sumber : Koleksi Soekarno

3. Romantisme

Romantisme merupakan corak dalam seni rupa yang berusaha menampilkan

hal-hal yang fantastic, irrasional, indah dan absurd. Aliran ini melukiskan

cerita-cerita romantis tentang tragedy yang dahsyat, kejadian dramatis yang

Figur

Gambar 10. Karya Seni Rupa Masa Visual Realisme  Sumber : newkidscenter.com
Gambar 10 Karya Seni Rupa Masa Visual Realisme Sumber newkidscenter com . View in document p.30
Gambar 11. Karya Seni Rupa Masa Perwujudan  Sumber : newkidscenter.com
Gambar 11 Karya Seni Rupa Masa Perwujudan Sumber newkidscenter com . View in document p.30
Gambar 41. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi  Sumber : jauharieffendy.blogspot.com
Gambar 41 Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi Sumber jauharieffendy blogspot com . View in document p.52
Gambar 42. Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi Sumber : stonepathmontessori.com
Gambar 42 Gambar yang Menunjukkan Gejala Tutup Menutupi Sumber stonepathmontessori com . View in document p.52
Gambar 44. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung Sumber : nessyoctavia.wordpress.com
Gambar 44 Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung Sumber nessyoctavia wordpress com . View in document p.53
Gambar 45. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung  Sumber : blogkuapadanya.blogspot.com
Gambar 45 Gambar yang Menunjukkan Gejala Pandangan Mata Burung Sumber blogkuapadanya blogspot com . View in document p.54
Gambar 47. Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan Sumber : treehugger.com
Gambar 47 Gambar yang Menunjukkan Gejala Pengecilan Sumber treehugger com . View in document p.55
Gambar 48. Gambar Anak-anak Bermain Warna Sumber : photo.elsoar.com
Gambar 48 Gambar Anak anak Bermain Warna Sumber photo elsoar com . View in document p.56
Gambar 49. Punden Berundak dari Selulung Bangli Bali Sumber : geetackey.blogspot.com
Gambar 49 Punden Berundak dari Selulung Bangli Bali Sumber geetackey blogspot com . View in document p.62
Gambar 50  Waruga
Gambar 50 Waruga . View in document p.62
Gambar 51. Sakofagus yang Ditemukan di Bali  Sumber : Mbahare.blogspot.com
Gambar 51 Sakofagus yang Ditemukan di Bali Sumber Mbahare blogspot com . View in document p.63
Gambar 54. Benda Karya Seni Rupa Jaman Logam
Gambar 54 Benda Karya Seni Rupa Jaman Logam . View in document p.65
Gambar 55. Candi Perambanan
Gambar 55 Candi Perambanan . View in document p.67
Gambar 56. Candi Bajang Ratu
Gambar 56 Candi Bajang Ratu . View in document p.67
Gambar 57. Candi Jalatunda
Gambar 57 Candi Jalatunda . View in document p.68
Gambar 58. Pura Agung Besakih
Gambar 58 Pura Agung Besakih . View in document p.69
Gambar 59. Pura Gunung Salak
Gambar 59 Pura Gunung Salak . View in document p.70
Gambar 61. Hiasan Puncak Candi Prambanan  Sumber : skyscrapercity.com
Gambar 61 Hiasan Puncak Candi Prambanan Sumber skyscrapercity com . View in document p.72
Gambar 62. Hiasan Kala di Atas Pintu Candi  Sumber : yogyatrip.com
Gambar 62 Hiasan Kala di Atas Pintu Candi Sumber yogyatrip com . View in document p.72
Gambar 63. Hiasan Sudut Candi
Gambar 63 Hiasan Sudut Candi . View in document p.73
Gambar 65. Hiasan Bermotif Flora Fauna di Candi Prambanan Sumber : flickr.com
Gambar 65 Hiasan Bermotif Flora Fauna di Candi Prambanan Sumber flickr com . View in document p.74
Gambar 66. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber : www.teruskan.com
Gambar 66 Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber www teruskan com . View in document p.75
Gambar 67. Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber : www.teruskan.com
Gambar 67 Patung Perwujudan Manusia dan Binatang dari Kediri Sumber www teruskan com . View in document p.75
Gambar 68.  Candi Borobudur
Gambar 68 Candi Borobudur . View in document p.76
Gambar 69. Stupa Candi Borobudur
Gambar 69 Stupa Candi Borobudur . View in document p.76
Gambar 70. Salah satu Hiasan Relief Candi Borobudur  Sumber : startravelinternational.com
Gambar 70 Salah satu Hiasan Relief Candi Borobudur Sumber startravelinternational com . View in document p.77
Gambar 73. Candi Kidal
Gambar 73 Candi Kidal . View in document p.78
Gambar 75. Patung Pratnya Paramita
Gambar 75 Patung Pratnya Paramita . View in document p.79
Gambar 76. Candi Bajang Ratu
Gambar 76 Candi Bajang Ratu . View in document p.80
Gambar 78. Pura Uluwatu
Gambar 78 Pura Uluwatu . View in document p.81

Referensi

Memperbarui...