• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PROFIL KOTA DENPASAR - DOCRPIJM 1536553662Bab 2 Profile Kab Kota

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II PROFIL KOTA DENPASAR - DOCRPIJM 1536553662Bab 2 Profile Kab Kota"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

II-1 Provinsi Bali. Secara administrasi Kota Denpasar terdiri dari 4 wilayah kecamatan terbagi menjadi 27 desa dan 16 kelurahan. Dari keempat kecamatan tersebut berdasarkan luas wilayah, Kecamatan Denpasar Selatan memiliki wilayah terluas yaitu 49,99 km2 (39,12 persen). Denpasar Utara memiliki wilayah seluas 31,12 km2 (24,35 persen), dan Denpasar Barat dengan luas wilayah sebesar 24,13 km2 (18,88 persen). Kecamatan dengan wilayah terkecil yaitu Kecamatan Denpasar Timur dengan luas wilayah 22,54 km2 (17,64 persen). Selengkapnya disajikan pada Tabel 2.1.

Tabel 2. 1 Luas Wilayah Kota Denpasar Menurut Kecamatan, Desa/Kelurahan No. Kecamatan/Desa/Kelurahan Luas (Ha) Persentase (%)

1

Kecamatan Denpasar Utara 3.112,00 24,35

1.1 Desa Dangin Puri Kaja 142,00 1,11

1.9 Kelurahan Peguyangan 644,00 5,04

1.10 Desa Peguyangan Kaja 536,00 4,19

1.11 Desa Peguyangan Kangin 416,00 3,26

2

Kecamatan Denpasar Barat 2.413,00 18,88

2.1 Desa Padang Sambian Klod 412,00 3,22

2.7 Kelurahan Pemecutan 186,00 1,46

2.8 Desa Tegal Harum 50,00 0,39

2.9 Desa Tegal Kertha 35,00 0,27

2.10 Kelurahan Padang Sambian 374,00 2,93

2.11 Desa Padang Sambian Kaja 409,00 3,20

3

Kecamatan Denpasar Timur 2.254,00 17,64

3.1 Desa Dangin Puri Klod 142,00 1,11

(2)

II-2 No. Kecamatan/Desa/Kelurahan Luas (Ha) Persentase (%)

3.3 Kelurahan Kesiman 266,00 2,08

3.4 Desa Kesiman Petilan 290,00 2,27

3.5 Desa Kesiman Kertalangu 405,00 3,17

3.6 Kelurahan Sumerta 52,00 0,41

3.7 Desa Sumerta Kaja 73,00 0,57

3.8 Desa Sumerta Kauh 89,00 0,70

3.9 Kelurahahn Dangin Puri 65,00 0,51

3.10 Kelurahan Penatih 281,00 2,20

3.11 Desa Penatih Dangin Puri 320,00 2,50

4

Kecamatan Denpasar Selatan 4.999,00 39,12

4.1 Desa Pemogan 971,00 7,60

4.2 Kelurahan Pedungan 749,00 5,86

4.3 Kelurahan Sesetan 739,00 5,78

4.4 Kelurahan Serangan 481,00 3,76

4.5 Desa Sidakarya 389,00 3,04

Kota Denpasar 12.278,00 100

Sumber: BPS Kota Denpasar, 2016

Batas wilayah Kota Denpasar berbatasan dengan Kabupaten Badung sebelah Utara, Barat dan Selatan sedangkan di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Gianyar dan Selat Lombok, secara rinci batas wilayah Kota Denpasar antara lain:

a. Sebelah Utara : Kecamatan Mengwi dan Abiansemal (Kabupaten Badung). b. Sebelah Timur : Kecamatan Sukawati (Kabupaten Gianyar) dan Selat Badung. c. Sebelah Selatan : Kecamatan Kuta Selatan (Kabupaten Badung) dan Teluk Benoa. d. Sebelah Barat : Kecamatan Kuta Utara dan Kuta (Kabupaten Badung).

2.1.2.Letak dan kondisi geografis

Menurut letak geografis Kota Denpasar berada diantara 08 35’ 31”–08 44’ 49” Lintang Selatan dan 115 10’ 23”–115 16’ 27” Bujur Timur seperti tampak pada Tabel 2.2.

Tabel 2. 2 Letak Geografis Kota Denpasar Per Kecamatan

No Kecamatan Lintang Selatan Bujur Timur

(3)

II-3

Gambar 2. 1 Peta Wilayah Kota Denpasar

(4)

II-4

2.2. Potensi Wilayah Kota Denpasar 2.2.1.Potensi Pengembangan Wilayah

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional (RTRWN), yang selanjutnya diakomodasi dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Bali 2009-2029, menegaskan bahwa Kota Denpasar yang terintegrasi dalam Kawasan Perkotaan Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan dalam sistem perkotaan nasional ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Selanjutnya Perkotaan Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan juga sekaligus ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dari pertimbangan sudut kepentingan ekonomi nasional, dengan nama Kawasan Metropolitan Sarbagita.

Berdasarkan Perda Kota Denpasar No. 27 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK) Denpasar, potensi pengembangan wilayah di Kota Denpasar sesuai dengan arahan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan, yaitu:

a. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung, meliputi:  Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup.

 Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.

 Pemulihan dan penanggulangan kerusakan lingkungan hidup.  Pengembangan mitigasi dan adaptasi kawasan rawan bencana.

 Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya dan aktivitas yang memiliki nilai historis dan spiritual.

b. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budidaya, meliputi:

 Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan.  Pengendalian perkembangan kegiatan budi daya perkotaan sesuai dengan daya

dukung dan daya tampung lingkungannya.

 Pengembangan kawasan budidaya kreatif dan unggulan.  Pengembangan sarana dan prasarana kepariwisataan.

 Peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan. c. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis, meliputi:

 Pengembangan keterpaduan pengelolaan kawasan strategis nasional dan kawasan

strategis provinsi dalam wilayah kota.

 Pengembangan kawasan strategis kota berdasarkan sudut kepentingan pertumbuhan

(5)

II-5  Pengembangan kawasan strategis kota berdasarkan sudut kepentingan sosial budaya

kota.

 Pengembangan kawasan strategis kota berdasarkan sudut kepentingan pelestarian

lingkungan hidup.

Rencana struktur ruang wilayah Kota terdiri dari Sistem Pusat Pelayanan Kota dan Sistem Prasarana Kota. Sistem pusat-pusat pelayanan kota terdiri dari: Pusat Pelayanan Kota; Sub Pusat Pelayanan Kota; dan Pusat Lingkungan.

Pusat pelayanan kota terdiri dari:

a. Pusat-pusat pelayanan kegiatan sosial ekonomi dan pemerintahan dengan skala pelayanan wilayah terdiri dari:

 Kawasan sekitar Niti Mandala sebagai pusat kegiatan pemerintahan skala wilayah.  Kawasan sekitar Sanglah sebagai pusat kegiatan ekonomi, pendidikan tinggi dan

pelayanan kesehatan skala wilayah.

 Kawasan sekitar terminal Ubung sebagai pusat transportasi penumpang antar wilayah Tipe B.

 Kawasan Pelabuhan Benoa sebagai pusat transportasi laut antar wilayah dan internasional.

 Kawasan perdagangan dan jasa skala wilayah di sepanjang Jalan Ngurah Rai, Jalan

Gatot Subroto dan Jalan Mahendradata.

 Kawasan pariwisata Sanur sebagai kawasan khusus pariwisata.

b. Pusat-pusat pelayanan kegiatan sosial ekonomi dan pemerintahan yang melayani seluruh wilayah kota yang tersebar di Bagian Wilayah Kota (BWK) tengah terdiri dari:  Kawasan cathus patha agung Kota Denpasar dan sekitar jalan Gajah Mada sebagai

pusat kegiatan perdagangan dan jasa, sosial, budaya, pemerintahan dan kawasan heritage.

 Kawasan Niti Praja Lumintang sebagai kawasan pemerintahan.

 Kawasan sekitar koridor Jalan Teuku Umar, Jalan Dewi Sartika, Jalan Diponegoro,

Jalan Setiabudi, Jalan Cokroaminoto, Jalan Surapati, Jalan Hayam Wuruk, Jalan WR. Supratman, Jalan Gunung Agung dan Jalan Letda Tantular.

 Kawasan Ubung sebagai pusat kegiatan perdagangan dan terminal kargo.

(6)

II-6 Sub Pusat Pelayanan Kota terdiri dari pusat-pusat pelayanan sosial ekonomi dan pemerintahan yang melayani skala kecamatan atau BWK, terdiri dari:

a. Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Utara dikembangkan di Kawasan Ubung Kaja. b. Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Timur dikembangkan di Kawasan di sekitar Jalan

WR. Supratman, Kelurahan Kesiman Kertalangu.

c. Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Selatan dikembangkan Kawasan di sekitar Jalan Diponegoro, Kelurahan Sesetan.

d. Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Barat dikembangkan di Kawasan sekitar Jalan Gunung Agung dan Jalan Mahendradata, Desa Tegal Kertha.

Pusat Lingkungan meliputi:

a. Pusat Lingkungan sebagai pendukung Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Tengah:  Pusat Lingkungan Tengah I dikembangkan di Kawasan Catur Muka dan Lapangan

Puputan Badung.

 Pusat Lingkungan Tengah II dikembangkan di Koridor Jalan Cokroaminoto.

 Pusat Lingkungan Tengah III dikembangkan di Koridor Jalan Gatot Subroto dan

Jalan Ahmad Yani.

 Pusat Lingkungan Tengah IV dikembangkan di Koridor Jalan Hayam Wuruk.

 Pusat Lingkungan Tengah V dikembangkan di Koridor Jalan Diponegoro dan koridor Jalan Teuku Umar.

b. Pusat Lingkungan sebagai pendukung Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Utara:  Pusat Lingkungan Utara I dikembangkan di Kawasan sekitar Pasar Ubung.  Pusat Lingkungan Utara II dikembangkan di Kawasan sekitar Pasar Peguyangan.  Pusat Lingkungan Utara III dikembangkan di Kawasan sekitar Pasar Agung.

c. Pusat Lingkungan sebagai pendukung Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Timur:  Pusat Lingkungan Timur I dikembangkan di Kawasan Penatih.

 Pusat Lingkungan Timur II dikembangkan di Kawasan Kesiman Kertalangu.  Pusat Lingkungan Timur III dikembangkan di Kawasan Kesiman.

d. Pusat Lingkungan sebagai pendukung Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Selatan:  Pusat Lingkungan Selatan I dikembangkan di sekitar Pasar Sanur.

(7)

II-7  Pusat Lingkungan Selatan III dikembangkan di Kawasan sekitar Koridor Jalan Raya

Sesetan sebagai

 Pusat Lingkungan Selatan IV dikembangkan di Kawasan sekitar Koridor Jalan Raya

Kepaon.

 Pusat Lingkungan Selatan V dikembangkan di sekitar Pasar Serangan.

e. Pusat Lingkungan sebagai pendukung Sub Pusat Pelayanan Kota di BWK Barat:  Pusat Lingkungan Barat I dikembangkan di Kawasan sekitar simpang Kebo Iwa.  Pusat Lingkungan Barat II dikembangkan di Kawasan sekitar jalan Gunung Rinjani.  Pusat Lingkungan Barat III dikembangkan di Kawasan sekitar jalan Pasar Umad.

2.2.2.Potensi Ekonomi Kreatif

Potensi ekonomi kreatif, khususnya industri kreatif seperti berbagai jenis patung, aksesories taman, dan ornamen bangunan khas Bali yang dipajang dan diproduksi di sepanjang Jalan Ida Bagus Mantera, dan Jalan By Pass Ngurah Rai; utamanya sebagai etalase hasil industri kreatif.

2.2.3.Potensi Pariwisata

Kebijakan pengembangan pariwisata di Kota Denpasar menitikberatkan pada pariwasata budaya berwawasan lingkungan. Sebagai salah satu sentra pengembangan pariwisata, Kota Denpasar menjadi barometer bagi kemajuan pariwisata di Bali, hal ini dapat dilihat dengan munculnya berbagai hotel berbintang sebagai sarana menunjang aktifitas pariwisata tersebut.

Pantai Sanur merupakan salah satu kawasan wisata pantai yang ramai dikunjungi. Sementara Lapangan Puputan merupakan kawasan ruang terbuka hijau di Kota Denpasar sekaligus berfungsi sebagai paru-paru kota.

(8)

II-8 Kertalangu (11) Pasar Burung Satria; (12) Pantai Sindu; (13) Pura Agung Jagatnatha; (14) Pura Sakenan.

Denpasar juga terkenal dengan wisata kulinernya. Beberapa tempat yang sangat dikenal baik oleh turis lokal maupun mancanegara adalah: (1) Nasi Ayam Kedewatan - Jalan Tukad Badung, Denpasar; (2) Nasi Ikan Mak Beng - dekat Hotel Radisson; (3) Nasi Campur - Pantai Segara, Sanur; (4) Babi Guling Chandra - Jalan Teuku Umar (non-halal); (5) Warung Wardana - Jalan Merdeka, Denpasar; (6) Bebek Goreng HT - Jalan Merdeka, Denpasar; (7) Sate Plecing - Jalan Yudhistira, Denpasar (non-halal); (8) Depot Kepiting Super - Jalan Bypass Ngurah Rai (9) Resto Bali Nikmat - Jalan Raya Kuta deket Alfa; (10) Warung Batan Waru - sebelah Discovery Mall; (10) Warung Made - Kuta; (11) Ikan Bakar - Jimbaran; (12) Nyoman Cafe – Jimbaran; (13) Menega Cafe - Four Seasons Jimbaran (14) Jebak (Jejak Bali Kuliner) - Jalan Teuku Umar, Denpasar.

Beberapa oleh-oleh Bali yang terkenal diantaranya adalah dodol bali, brem, kacang rahayu, pie susu, kacang disco, salak bali, kacang kapri, kerupuk ceker ayam, pia legong dan kopi bali. Beberapa tempat khusus yang menjual oleh-oleh diantaranya adalah: Toko Krisna; Toko Erlangga; Pasar Kumbasari.

2.3. Demografi dan Urbanisasi

2.3.1.Jumlah Penduduk dan KK Keseluruhan

Tahun 2016, jumlah penduduk di Kota Denpasar mencapai 897.300 jiwa (BPS Kota Denpasar, 2017). Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Denpasar Selatan sebanyak 286.060 jiwa diikuti Denpasar Barat sebanyak 259.790 jiwa dan Denpasar Utara sebanyak 197.970 jiwa. Sementara penduduk dengan jumlah terkecil berada di Kecamatan Denpasar Timur yaitu berjumlah 153.480 jiwa. Selengkapnya disajikan pada Tabel 2.3.

Tabel 2. 3 Proyeksi Penduduk Kota Denpasar Menurut Jenis Kelamin per Kecamatan Tahun 2016

Kecamatan Penduduk Jumlah

Laki-laki Perempuan

Denpasar Selatan 146.220 139.840 286.060

Denpasar Timur 78.040 75.440 153.480

Denpasar Barat 132.760 127.030 259.790

Denpasar Utara 101.280 96.690 197.970

(9)

II-9

2.3.2.Jumlah Penduduk Miskin dan Sebaran Penduduk

Kepadatan penduduk di Kota Denpasar tahun 2016 telah mencapai 5.850 jiwa/km2. Angka ini merupakan angka tertinggi di Provinsi Bali. Dari empat kecamatan di Kota Denpasar, kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Denpasar Barat (10.798 jiwa/km2) kemudian Kecamatan Denpasar Timur (6.879 jiwa/km2), Kecamatan Denpasar Utara (6.301 jiwa/km2), dan Kecamatan Denpasar Selatan (5.722 jiwa/km2). Selengkapnya disajikan pada Tabel 2.4.

Tabel 2. 4 Rata-Rata Penduduk Per Rumah Tangga, Per Desa dan Kepadatan Penduduk di Kota Denpasar Tahun 2015

Kecamatan Jumlah Rumah

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2016

Penduduk miskin adalah penduduk yang pendapatan perkapitanya kurang dari satu dolar/orang per hari atau penduduk yang pendapatannya kurang dari 2.100 kilo kalori per orang/hari (BPS, 1998). Selengkapnya persentase penduduk miskin kabupaten/kota se Bali disajikan pada Tabel 2.5.

Tabel 2. 5 Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota se-Bali 2011-2016

Kabupaten/

(10)

II-10 Tabel 2.5 menunjukkan bahwa terjadi fluktuasi persentase penduduk miskin, pada tahun 2011 sampai 2012 terjadi penurunan sedangkan dari tahun 2012 sampai tahun 2015 terjadi peningkatan dan pada tahun 2016 kembali terjadi penurunan. Dalam setahun terakhir kesejahteraan penduduk membaik yang tercermin dari berkurangnya persentase penduduk miskin. Penyebab kemiskinan Kota Denpasar lebih didorong pada fasilitas infrastruktur yang dimiliki. Jumlah kaum migran yang cukup tinggi, sering menimbulkan masalah karena tidak semua pendatang memiliki keterampilan yang memadai, sementara persaingan ekonomi cukup tinggi. Akibatnya pendatang justru membawa masalah pengangguran yang berdampak pada kemiskinan penduduk.

Untuk itu, salah satu sasaran pembangunan adalah dalam rangka menekan jumlah penduduk miskin dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011, di Kota Denpasar persentase penduduk miskin adalah sebesar 1,79% di bawah rata-rata Provinsi Bali sebesar 4,59%. Tahun 2012 presentase penduduk miskin di Kota Denpasar turun menjadi 1,52% tetapi di tahun-tahun berikutnya presentase penduduk miskin di Kota denpasar mengalami peningkatan hingga di tahun 2015 mencapai 2,39%. Tahun 2016 presentase penduduk miskin mampu ditekan menjadi 2,15%.

Tabel 2. 6 Indeks Kedalaman (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Provinsi Bali Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2014 – 2016

No Kabupaten /

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, 2017

(11)

II-11 bersifat mendasar. Berdasarkan pendekatan tersebut, indikator yang digunakan adalah

Head Count Index (HCI) yaitu jumlah persentase penduduk miskin yang berada di bawah garis kemiskinan (GK).

Indikator lain yang digunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan adalah index kedalaman kemiskinan (poverty gap index) atau P1 dan index keparahan kemiskinan (distritutionally sensitive index) atau P2 yang dirumuskan oleh Foster-Greer-Thorbecke. Indikator P1 mengukur kesenjangan (jarak) rata-rata antara pengeluaran masing-masing penduduk miskin dan GK. Semakin tinggi P1 berarti semakin jauh jarak antara rata-rata pengeluaran penduduk miskin dan garis kemiskinan. Sebagai contoh, dua daerah A dan B memiliki P0 yang sama tetapi daerah A memiliki P1 yang lebih tinggi dibanding daerah B. Hal ini menunjukkan bahwa walau persentase penduduk miskin dikedua daerah tersebut sama, penduduk miskin di daerah A secara rata-rata lebih miskin dibanding penduduk miskin di daerah B. Indikator P2 merupakan ukuran penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai P2 berarti pengeluaran diantara penduduk miskin semakin menyebar dari nilai rata-ratanya. Sebagai contoh, dua daerah A dan B memiliki P0 dan P1 yang sama tetapi daerah A memiliki P2 yang lebih tinggi dibanding daerah B. Hal ini berarti persentase penduduk daerah miskin kedua daerah tersebut berarti sama dan secara rata-rata penduduk miskin di kedua daerah tersebut sama miskinnya. Namun demikian tingkat kemiskinan penduduk miskin di daerah A lebih beragam dibanding daerah B. Dengan demikian P2 merupakan ukuran tingkat keparahan kemiskinan.

Indek kedalaman kemiskinan (P1) Kota Denpasar tahun 2014 sebesar 0,23 paling rendah secara regional Provinsi Bali. Tahun akhir 2016, Indek kedalaman kemiskinan (P1) Kota Denpasar turun menjadi 0,20 paling rendah nomor dua secara regional Provinsi Bali setelah Kabupaten Badung dengan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) sebesar 0,19. Sedangkan untuk Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di Kota Denpasar, tahun 2016 sebesar 0,03 masih lebih rendah dari Provinsi Bali yang mencapai 0,09.

(12)

II-12

Tabel 2. 7 Garis Kemiskinan per Kapita per Bulan Provinsi Bali Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2012 – 2016

No Kabupaten / Kota Tahun

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali 2017

Berdasarkan rumah tangga sasaran dari program perlindungan sosial bahwa rumah tangga miskin di Kota Denpasar seperti disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 2. 8 Data Rumah Tangga Sasaran (Miskin) PPLS Kota Denpasar Tahun 2011

Sumber : Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Provinsi Bali

Dilihat dari persebaran rumah tangga miskin, tertinggi berada di Kecamatan Denpasar Barat (4.224 KK) dan terendah di Kecamatan Denpasar Selatan (3.138 KK). Namun ditinjau dari prosentase rumah tangga miskin, tertinggi berada di Kecamatan Denpasar Timur (9,26 %) dan terendah berada di Kecamatan Denpasar Selatan (4,16 %).

2.3.3.Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Lima Tahun Kedepan

Pertumbuhan penduduk Kota Denpasar selama lima tahun terakhir menunjukan tren yang cukup tinggi, rata-rata pertumbuhan dari tahun 2010 – 2016 mencapai 3,90% per tahun. Pertumbuhan penduduk paling tinggi adalah di Kecamatan Denpasar Selatan dan terendah di Kecamatan Denpasar Timur seperti disajikan pada Tabel 2.9. Berdasarkan kecenderungan pertumbuhan tersebut maka Proyeksi jumlah penduduk Kota Denpasar tahun 2017 – 2021 disajikan pada Tabel 2.10.

KECAMATAN Klp 1 Klp 2 Klp 3 Total Jumlah

RT % Klp 1 % Klp 2 % Klp 3 % Total

Denpasar Selatan 582 1166 1390 3.138 75.424 0,77 1,55 1,84 4,16

Denpasar Barat 956 1.717 1.551 4.224 66.540 1,44 2,58 2,33 6,35

Denpasar Utara 1.121 1.235 1.181 3.537 46.891 2,39 2,63 2,52 7,54

Denpasar Timur 1.069 1.285 1.280 3.634 39.263 2,72 3,27 3,26 9,26

(13)

II-13

Tabel 2. 9 Pertumbuhan Jumlah Penduduk Kota Denpasar tahun 2010 – 2016

No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa)

Laju Pertumbuhan

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2016

Tabel 2. 10 Proyeksi Jumlah Penduduk Kota Denpasar tahun 2017 – 2021

No Kecamatan

Baseline Proyeksi Jumlah Penduduk (Jiwa) Pertum buhan Kota Denpasar 897.300 912.789 928.578 944.673 961.079 977.804 1.90 Sumber : Hasil Analisis, 2017

2.3.4.Jumlah Penduduk Perkotaan dan Proyeksi Urbanisasi

Kota Denpasar merupakan wilayah perkotaan jadi proyeksi jumlah penduduk yang terjadi tersebar di kota serta terkait dengan Urbanisasi memiliki proyeksi yang sama seperti yang tercantum pada tabel 2.9 dan tabel 2.10.

2.4. Isu Strategis Sosial, Ekonomi dan Lingkungan 2.4.1.Data Perkembangan PDRB dan Potensi Ekonomi

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh sektor usaha di suatu daerah. Secara agregatif PDRB menggambarkan kemampuan suatu daerah untuk menghasikan pendapatan dari seluruh sektor usaha. Produk Domestik Regional Bruto merupakan salah satu indikator yang dapat dipakai untuk mengetahui keberhasilan perkembangan ekonomi di suatu daerah. Sehingga akan dapat diketahui laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan suatu daerah.

(14)

II-14 berlaku menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dan dihitung menurut harga tahun berjalan, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan yang dihitung menurut tahun dasar. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga dapat menggambarkan keadaan perekonomian suatu daerah dimana dapat diketahui struktur dan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah tersebut, tingkat inflasi atau deflasi serta peranan masing-masing kegiatan ekonomi atau lapangan usaha. PDRB per kapita adalah PDRB atas dasar harga berlaku dibagi penduduk pertengahan tahun. PDRB perkapita merupakan suatu ukuran yang dapat dijadikan cerminan kasar tentang kesejahteraan penduduk di suatu daerah.

Produk Domestik Regional Bruto Kota Denpasar Atas Dasar Harga Berlaku setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan secara fluktuatif. Pada tahun 2013 jumlah PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 29,389,254.95 juta rupiah, tahun 2014 sebesar 34,209,865.60 juta rupiah, tahun 2015 sebesar 38,473,228.04 juta rupiah dan tahun 2016 sebesar 42,740,442.36 juta rupiah. Selengkapnya perkembangan PDRB Kota Denpasar disajikan pada Tabel 2.11 dan Tabel 2.12.

Tabel 2. 11 Produk Domestik Regional Bruto Kota Denpasar Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta rupiah) Tahun 2011 – 2015

No. Lapangan Usaha 2013 2014 2015 2016

A Pertanian. Kehutanan. dan Perikanan 2,170,980.17 2,475,899.44 2,747,028.13 3,012,687.19

B Pertambangan dan Penggalian 22,890.01 25,071.28 25,330.98 0,00

C Industri Pengolahan 2,058,868.34 2,342,479.72 2,595,381.48 2,808,466.86

D Pengadaan Listrik dan Gas 84,997.11 110,422.44 156,351.57 197,696.53

E Pengadaan Air. Pengelolaan Sampah.

Limbah dan Daur Ulang 80,390.37 87,636.88 101,116.08 112,042.08

F Konstruksi 2,951,641.20 3,126,126.47 3,555,518.01 3,855,518.01

G Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 2,645,105.46 3,047,571.07 3,512,823.53 3,895,470.43

H Transportasi dan Pergudangan 902,921.23 1,052,803.67 1,171,372.69 1,299,205.69

I Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 7,870,764.75 9,908,704.35 10,924,363.27 12,035,163.27

J Informasi dan Komunikasi 1,302,543.28 1,424,722.21 1,635,008.69 1,855,008.69

K Jasa Keuangan dan Asuransi 1,876,978.13 2,146,319.95 2,360,242.80 2,604,262.80

L Real Estat 1,319,135.56 1,495,441.72 1,676,201.72 1,827,401.72

MN Jasa Perusahaan 524,618.33 596,164.15 689,930.50 798,060.50

O Administrasi Pemerintahan. Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 1,427,889.91 1,617,884.07 1,785,016.57 2,028,216.57

P Jasa Pendidikan 3,105,983.97 3,561,373.51 4,141,638.79 4,837,338.79

Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 610,845.35 699,700.84 823,650.39 948,650.39

RS

TU Jasa lainnya 432,701.78 491,543.83 572,252.84 625,252.84

(15)

II-15

Tabel 2. 12 Produk Domestik Regional Bruto Kota Denpasar Dari Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Juta rupiah) Tahun 2012 – 2016

No. Lapangan Usaha 2012 2013 2014 2015 2016

C Industri Pengolahan 1,680,211.90 1,802,751.60 1,948,014.80 2,015,853,982.0

0 2,079,528.98

Komunikasi 1,242,755.20 1,302,991.70 1,386,996.90 1,507,982.08 1,657,982.08

K Jasa Keuangan dan

Regional Bruto 23,397,173.90 25,026,379.30 26,777,481.90 28,433,247.23 30,291,024.29 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2017

(16)

II-16 Selama tahun 2013–2016, laju pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar cenderung fluktuatif. Tahun 2013, laju pertumbuhan ekonomi Denpasar meningkat dari tahun sebelumnya menjadi sebesar 6,96% pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar kembali mengalami penigkatan menjadi 7,00% namun pada tahun 2015 terjadi penurunan menjadi 6,19% dan selanjutnya pada tahun 2016 dapat sedikit meningkat menjadi 6,50% Lapangan usaha yang memiliki laju pertumbuhan tertinggi tahun 2016 adalah jasa informasi dan komunikasi dengan laju pertumbuhan sebesar 9,95%. Sedangkan sektor yang memliki laju pertumbuhan terendah adalah sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,00%. Kota Denpasar tidak memiliki lokasi galian C namun masih dapat ditemui hasil produksi pertambangan dan penggalian. Dalam beberapa tahun belakangan ini pemerintah daerah semakit ketat dalam megawasi kegiatan penggalian terutama untuk kegiatan yang illegal atau tidak berijin. Selengkapnya disajikan pada Tabel 2.13 dan Tabel 2.14.

Tabel 2. 13 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kota Denpasar Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (persen) Tahun 2013-2016

No. Lapangan Usaha 2013 2014 2015 2016

A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 7.39 7.24 7.14 7.05 B Pertambangan dan Penggalian 0.08 0.07 0.07 0.00

C Industri Pengolahan 7.01 6.85 6.75 6.57

D Pengadaan Listrik dan Gas 0.29 0.32 0.41 0.46 E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 0.27 0.26 0.26 0.26

F Konstruksi 10.04 9.14 9.24 9.02

G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 9.00 8.91 9.13 9.11 H Transportasi dan Pergudangan 3.07 3.08 3.04 3.04

I Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 26.78 28.96 28.39 28.16

(17)

II-17

Tabel 2. 14 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kota Denpasar Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (%) Tahun 2013-2016

No. Lapangan Usaha 2013 2014 2015 2016

1 Pertanian. Kehutanan. dan Perikanan 2.43 8.54 -0.37 1.27 2 Pertambangan dan Penggalian 6.45 -0.84 -4.83 0.00

3 Industri Pengolahan 7.29 8.06 3.48 3.16

4 Pengadaan Listrik dan Gas 7.22 2.09 2.65 8.73 5 Pengadaan Air. Pengelolaan Sampah.

Limbah dan Daur Ulang 4.63 6.61 6.04 4.54

6 Konstruksi 5.05 1.12 7.61 6.61

7 Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 8.12 6.64 9.59 6.46

8 Transportasi dan Pergudangan 5.91 8.52 6.06 7.32 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 7.45 5.50 3.90 6.43

10 Informasi dan Komunikasi 4.85 6.45 8.72 9.95 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 11.90 8.96 7.22 7.95

12 Real Estat 6.03 8.27 9.44 6.45

13 Jasa Perusahaan 8.27 6.97 7.43 7.93

14 Administrasi Pemerintahan. Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib -0.96 10.21 6.57 8.40

15 Jasa Pendidikan 12.77 10.08 8.07 8.21

16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 11.81 11.86 12.67 9.11

R.S.T.U Jasa lainnya 3.24 7.18 9.38 5.54

Produk Domestik Regional Bruto 6.96 7,00 6.19 6.50 Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2016

Distribusi PDRB harga berlaku menurut lapangan usaha menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap kategori ekonomi dalam suatu wilayah. Kategori-kategori ekonomi yang mempunyai peran besar menunjukkan basis perekonomian suatu wilayah.

(18)

II-18

Gambar 2. 2 Distribusi PDRB Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015

Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Denpasar, 2017

2.4.2.Data Pendapatan Per Kapita dan Proporsi Penduduk Miskin

PDRB per kapita merupakan suatu indikator yang dihitung dengan cara membagi data PDRB terhadap jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang seberapa besar nilai tambah yang diciptakan/diterima tiap-tiap penduduk, sehingga secara tidak langsung akan menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk di daerah/wilayah bersangkutan. Semakin besar nilai PDRB per kapita, maka dapat dikatakan suatu daerah/wilayah makin sejahtera atau makmur. Kendati begitu, mesti diingat bahwa PDRB per kapita merupakan angka agregat (rata-rata), sehingga masih sangat kasar jika dijadikan cerminan bagi tingkat kesejahteraan penduduk. Angka ini mengasumsikan semua penduduk memiliki akses yang sama terhadap pendapatan, sehingga kurang tepat dalam mencerminkan kesejahteraan. Dengan kata lain, nilai PDRB per kapita ini belum mampu menggambarkan tingkat kemerataan distribusi pendapatan yang diterima penduduk di suatu daerah/wilayah bersangkutan. Namun apapun itu, data ini tetap sangat berguna setidaknya untuk melihat produktivitas perekonomian suatu daerah/wilayah.

(19)

II-19 PDRB atas dasar harga konstan, PDRB perkapita Kota Denpasar pada tahun 2014 adalah sebesar 31,00 juta rupiah. Nilai tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun 2013 dimana PDRB perkapita dari dasar harga konstan Kota Denpasar adalah sebesar 29,58 juta rupiah. Ini berarti bahwa peningkatan PDRB perkapita yang terjadi pada tahun 2014 tidak hanya terjadi secara nominal tapi juga disertai dengan peningkatan pendapatan secara riil. Selengkapnya disajikan pada Tabel 2.15.

Tabel 2. 15 Angka Agregatif PDRB, Jumlah Penduduk dan PDRB Per Kapita Kota Denpasar Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2010 Tahun

2011-2015

22.664.477,19 25.819.231,08 29.389.254,94 34.208.828,94 38.463.726,26

PDRB - Harga Konstan (Juta Rupiah)

21.763.406,25 23.397.173,90 25.026.379,26 26.777.481,86 28.433.247,23

Jumlah Penduduk

Proyeksi 810.900 828.900 846.200 863.620 880.600 PDRB Per Kapita

Harga Berlaku (Rupiah)

27.949.780,72 31.148.788,85 34.730.861,43 39.611.890,85 43.678.998,70

PDRB Per Kapita Harga Konstan (Rupiah)

26.838.582,13 28.226.775,12 29.575.016,85 31.006.810,86 32.288.493,33

Index Implisit

(%) 104,14 110,35 117,43 127,75 135,28

Laju Implisit (%) 4,14 5,96 6,42 8,79 5,89

Sumber: BPS Kota Denpasar 2016

(20)

II-20

Tabel 2. 16 Perbandingan PDRB Per Kapita Kota Denpasar dengan PDRB Per Kapita Kabupaten/Kota se Bali Atas Dasar Harga Berlaku (Juta Rupiah) Tahun

2011-2015 Kabupaten Badung seperti disajikan pada Tabel 2.17.

Tabel 2. 17 Perbandingan PDRB Per Kapita Kota Denpasar dengan PDRB Per Kapita Kabupaten/Kota se-Bali Atas Dasar Harga Konstan 2010 (Juta rupiah)

(21)

II-21 penduduk. Angka ini mengasumsikan semua penduduk memiliki akses yang sama terhadap pendapatan namun kenyataannya tidak demikian. Dengan kata lain, nilai PDRB per kapita ini belum mampu menggambarkan tingkat kemerataan distribusi pendapatan yang diterima penduduk di suatu daerah atau wilayah bersangkutan. Namun apapun itu, data ini tetap sangat berguna setidaknya untuk melihat perbandingan antar daerah atau wilayah atau pun antar tahun.

PDRB Perkapita Kota Denpasar atas dasar harga berlaku di tahun 2015 tercatat sebesar Rp. 38,11 juta. Angka ini menunjukkan bahwa secara rata-rata setiap penduduk di Kota Denpasar menerima pendapatan sebesar Rp. 38,11 juta selama tahun 2014. Jumlah ini meningkat sebanyak Rp. 4,98 juta atau 15,03 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selama tahun 2010–2014, rata-rata pendapatan perkapita penduduk Kota Denpasar mencapai Rp. 30,24 juta.

2.4.3.Data Kondisi Lingkungan Strategis

Kondisi Lingkungan Strategis dapat dijelaskan melalui kondisi Topografi, Geologi, Klimatologi dan Hidrologi. Kondisi fisik dasar Wilayah Kota Denpasar, 59,1 % berada pada ketinggian antara 0 – 25 mdpl, dan sisanya sampai 75 mdpl.

Topografi Kota Denpasar sebagian besar (82,2%) berupa dataran dengan kemiringan lereng secara umum berkisar 0 – 2 % ke arah selatan, sebagian lagi kemiringan lerengnya antara 2 – 8 %. Kemiringan lereng di beberapa tempat terutama di tebing sungai dapat mencapai 2 – 15 %.

Geologi Kota Denpasar terdiri dari beberapa batuan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bali skala 1 : 25.000 (Direktorat Geologi, 1971), susunan formasi batuannya adalah Batuan volkanik kuater menutupi sekitar 70 % wilayah Kota Denpasar, yaitu batuan gunung api hasil dari gunung api Buyan – Bratan dan gunung api Batur. Diantara kelompok batuan ini, batuan volkanik Buyan – Bratan merupakan yang tertua dengan materi penyusunnya terdiri dari tufa dan lahar. Batuan lainnya adalah lava, breksi, kerikil, pasir dan debu volkanik. Ketebalannya bervariasi yaitu bagian utara agak tebal (>200 m) dan menipis ke arah selatan.

(22)

II-22 tahun 2005 1.819 mm, dengan bulan basah ( curah hujan > 100 mm/bulan) selama 7 bulan (Januari – April, Oktober – Desember), dan sisanya bulan kering.

Di wilayah Kota Denpasar, terdapat potensi sumber daya air meliputi: air hujan, air permukaan (air sungai, air danau/waduk), air tanah/mata air maupun air laut. Air sungai di Kota Denpasar mengalir memanjang dari Utara ke Selatan (parallel) dengan sungai-sungai utama yaitu : Tukad Ayung, Tukad Mati, Tukad Badung, Tukad Buaji dan Tukad Ngenjung. Air Danau/waduk Kota Denpasar bersumber dari Waduk Muara Nusa Dua yang secara administratif berada pada batas wilayah Kota Denpasar dengan Kabupaten Badung. Keterdapatan mata air di Kota Denpasar ditemukan di daerah aliran sungai pada bagian hulu dan \tengah Tukad Badung, bagian hulu Tukad Mati, serta bagian hilir Tukad Ayung dengan debit yang relatif kecil namun mempunyai kontribusi yang nyata terhadap kontinyuitas aliran sungai yang mewadahi. Air laut berada di zone pantai atau pesisir, Kota Denpasar memiliki garis pantai di bagian Selatan dan Timur mulai dari Serangan hingga Padanggalak sepanjang 36,6 km.

2.4.4.Data Resiko Bencana Alam

Kawasan rawan bencana sebagaimana diatur dalam Perda Kota Denpasar Nomor 27 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar 2011-2031 terdiri dari: a) Kawasan rawan banjir.

b) Kawasan rawan tsunami. c) Kawasan rawan abrasi pantai. d) Kawasan rawan intrusi air laut.

Kawasan rawan banjir sebarannya terdiri dari: kawasan sekitar Tukad Tebe, Tukad Mati Pemecutan Kelod, hilir Tukad Badung, Pemogan, Panjer, Sidakarya dan Sanur Kauh. Kawasan rawan tsunami sebarannya terdiri dari:

a) Kelurahan Serangan dan Sidakarya meliputi seluruh dusun/banjar.

b) Desa Sanur Kaja dan Kelurahan Sanur, meliputi sepanjang pantai pada jarak 100 – 200 (seratus sampai dua ratus) meter dari pasang tertinggi.

c) Desa Sanur Kauh, meliputi seluruh dusun/banjar kecuali Puseh Kauh, Puseh Kangin, Panti, Pekandelan dan Medura.

(23)

II-23 f) Kelurahan Pemogan, meliputi banjar/dusun Gelogor Carik, Kajeng, Rangkansari,

Tempelasjuwet, Sakah, Teruna Bhineka, dan Tangkas. g) Desa Pemecutan Kelod, meliputi banjar/dusun Margaya. h) Kelurahan Panjer, meliputi banjar/dusun Bekul.

i) Kelurahan Renon, meliputi banjar/dusun Kelod. j) Desa Kesiman Petilan, meliputi pantai Padanggalak.

k) Desa Kesiman Kertalangu, meliputi daerah pantai Tangtu pada jarak 100–200 meter dari pasang rata-rata.

Kawasan rawan abrasi sebarannya meliputi seluruh pesisir di wilayah Kota Denpasar di luar pantai yang berbentuk hutan bakau. Kawasan rawan yang berpotensi terintrusi air laut sebarannya terdiri dari kawasan sepanjang pesisir pantai ke arah darat.

2.4.5.Isu Isu Strategis Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya

Capaian layanan air minum kota Denpasar tahun 2014 dengan kualitas baik :44,79 % sisanya 55,21 % dengan kualitas kurang baik. Capaian layanan air limbah kota Denpasar tahun 2015 : 99,50 %; Persampahan Denpasar 88,32 %.

Gambar

Tabel 2. 1 Luas Wilayah Kota Denpasar Menurut Kecamatan, Desa/Kelurahan
Tabel 2. 2 Letak Geografis Kota Denpasar Per Kecamatan
Gambar 2. 1  Peta Wilayah Kota Denpasar
Tabel 2. 5 Persentase Penduduk Miskin Menurut Kabupaten/Kota se-Bali 2011-2016
+7

Referensi

Dokumen terkait

Terletak Di Desa Merangin Kecamatan Bangkinang Barat, merupakan objek wisata yang memiliki keindahan alam berupa air terjun dan kawasan hutan yang masih asli dengan flora

Alternatif rencana struktur ruang kota yang terpilih adalah dengan mengembangkan dua pusat utama pelayanan kota, yaitu pusat pelayanan kawasan Pusat Kota (BWK I) di Kecamatan

Pada penelitian ini telah dianalisis batas pengaruh Bagian Wilayah Kota (BWK) Pusat Kota Tomohon (Tomohon Tengah) terhadap Tomohon Timur, Tomohon Barat, Tomohon

• Anjir Kalampan sepanjang 14,5 km (yang menghubungkan Kota Mandomai Kecamatan Kapuas Barat ke Pulang Pisau, wilayah Kabupaten Pulang Pisau. mengarah ke Palangka

Sebagai simpul utama kawasan yaitu Kota Rumbia, pusat pelayanan berada di Kelurahan Kasipute Fungsi pusat pelayanan ini sebagai permukiman yang ditandai dengan

Sampai saat ini keterhubungan seluruh pusat-pusat kegiatan di wilayah Kabupaten Gorontalo Utara dengan Kota Gorontalo sebagai ibukota Provinsi telah terakses dengan

Sebagai pusat dari WP VII kota magelang memiliki peran besar sebagai daerah transit dalam perjalanan Jogja – Semarang, maupun pengembangan wisata dengan skala nasional dan bahkan

Gambar 2.4. : Kawasan Kumuh Kampung Bugis.. Sementara itu untuk lokasi permukiman kumuh di Kota Tanjungpinang tersebar di Kelurahan Tanjung unggat, Tanjung Ayun Sakti,