• Tidak ada hasil yang ditemukan

T1 802009014 Full text

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "T1 802009014 Full text"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh

Melinda Inesia Ritavip 802009014

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Untuk Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Perbedaan jenis kelamin dalam mengekspresikan emosi dihubungkan dengan perbedaan dalam tujuan laki-laki dan perempuan mengontrol emosinya. Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak berdaya. Sedangkan laki-laki menunjukan sifat maskulinnya, yang tampak tegar dan kuat Tamres (2002). Peneliti mengambil populasi 90 keseluruhan Atlet yang ada di kota Salatiga berdasarkan data yang didapat dari wisma Atlet Salatiga. Sampel yang digunakan pada penelitian ini semua populasi yaitu 90 orang.

(8)

Gender differences in expressing emotions associated with the differences in the

objectives of men and women in control of his emotions. Women are more emoting to

maintain interpersonal relationships as well as make them look weak and helpless.

While men showed the nature of the maskulinnya, who looked rigid and strong Tamres

(2002). Researchers took population 90 overall Athletes in Salatiga City based on data

obtained from the guesthouse Athletes Salatiga. The sample used in this study

population, i.e. all 90 people.

(9)

PENDAHULUAN

Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong, mengembangkan, serta membina potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang. Olahraga juga dapat memunculkan tingkah laku yang tidak dapat dipisahkan dari aspek-aspek psikis yang mendasarinya. Pada cabang-cabang olahraga tertentu aspek psikis tidak terlalu dominan, namun pada cabang olahraga lain aspek psikis cukup atau bahkan sangat berperan (Purwanto, 2006).

Peranan aspek psikis dalam olahraga Taekwondo sangat penting. Taekwondo adalah salah satu bela diri yang berasal dari Korea yang saat ini sudah banyak berdiri di berbagai negara. Bela diri ini menggunakan teknik tendangan dan pukulan. Taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri, olahraga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat. Taekwondo yang cenderung sebagai olahraga fisik secara psikis sangat berperan dalam proses pelatihan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Berkaitan dengan psikis ada dua hal yang diberikan saat belajar Taekwondo, yaitu moral dan mental. Masalah moral dan mental merupakan modal utama seseorang hidup bermasyarakat dan semua itu diajarkan dalam Taekwondo (Tirtawirya, 2005). Atlet yang mempunyai kondisi fisik yang bagus dan prima belum tentu menghasilkan prestasi yang gemilang kalau tidak didukung oleh mental yang baik (Gunarsa, 1996). Pengendalian emosi ketika bermain atau bertanding acapkali menjadi faktor penentu dalam mencapai kemenangan. Tidak mampu menguasai emosi merupakan suatu pelanggaran dalam sebuah pertandingan yang dapat menyebabkan seorang atlet di diskualifikasi (Gunarsa, 1996).

(10)

peningkatan pikiran dan tindakan (Richman & Rehberg, 1986). Kepercayaan diri yang berkaitan dengan fisik dalam beladiri adalah penting, karena tidak hanya untuk mendorong indera perasa seseorang dalam melakukan berbagai latihan fisik, dan kepercayaan diri ini dapat diwujudkan dalam meningkatkan kekuatan fisik (Guthrie, 1995), dan mengurangi perasaan-perasaan mudah terluka oleh serangan fisik (Madden, 1990). Dalam sebuah studi yang didalamnya terdapat murid-murid sekolah laki-laki dan perempuan yang terdaftar dalam kelas-kelas karate, teknik pertahanan diri yang diajarkan di kelas ini dapat mengurangi perasaan yang mudah tersakiti dari serangan fisik baik untuk laki-laki dan perempuan ketika mendapatkan serangan fisik,(Madden, 1990).

Ketika dihadapkan dengan tantangan yang menyangkut kemampuan fisik yang baru (seperti tendangan samping), murid-murid Taekwondo belajar untuk menghadapi, mengatasi kegelisahan dan ketakutan; kemampuan dalam menghadapi beberapa tantangan adalah pengendalian diri yang dapat dikatakan sebuah alat inti yang diajarkan melalui seni beladiri (Weiser, Kutz, Kutz, & Weiser, 1995). Mereka menemukan bahwa Taekwondo menghasilkan kemajuan yang berpengaruh, termasuk pengendalian emosi yang lebih besar dalam merespon sebuah tantangan dan perilaku prososial yang lebih besar di dalam ruang kelas dan lingkungan sekolah (Weiser, Kutz, Kutz, & Weiser, 1995).

(11)

Hal ini regulasi sangat penting untuk diteliti karena bahwa emosi timbul dari penlilaian kognitif individu terhadap sebuah situasi yang dinilai mempengaruhi kesejahteraan personal individu. Oleh karena itu, sebuah situasi yang sama atau mirip dapat menimbulkan emosi-emosi yang berbeda bagi tiap individu, tergantun dari penialain kognitif masing-maing individu.

Menurut Middendrop (dalam Umar, 2012) ada beberapa faktor yang mempengaruhi regulasi emosisalah satunya adalah jenis kelamin. Beberapa penelitian menemukan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda dalam mengekspresikan emosi baik verbal maupun ekspresi wajah sesuai dengan jenis kelamin. Perempuan menunjukkan sifat kelembutannya dengan mengekspresikan emosi sedih, takut, cemas, dan menghindari mengekspresikan emosi marah dan bangga yang menunjukan sifat maskulin atau menunjukkan sifat laki-laki. Perbedaan jenis kelamin dalam mengekspresikan emosi dihubungkan dengan perbedaan dalam tujuan laki-laki dan perempuan mengontrol emosinya. Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak berdaya. Sedangkan laki-laki menunjukan sifat maskulinnya, yang tampak tegar dan kuat.

(12)

Temuan lain juga memperlihatkan kepercayaan diri, konsentrasi, dan goal setting turut mempengaruhi capaian prestasi seorang atlet. Atlet yang memiliki kepercayaan diri akan lebih berkonsentrasi terhadap tugas gerak yang harus dilakukan.

“Atlet yang memiliki regulasi emosi tinggi akan lebih konsentrasi terhadap tugas

gerak yang harus dilakukan sehingga mempercepat waktu tempuh yang diraih. Begitu pula atlet yang menetapkan goal setting dalam dirinya akan terdorong untuk presisten dalam berlatih untuk meraih prestasi, kata wanita kelahiran Kediri, 17 Januari 1972.

Emosi memegang peranan penting pada seseorang dalam mempersiapkan anggapan melalui tingkah laku seseorang. Emosi yang ada dalam individu sangat menentukan bagaimana individu tersebut merespon dan memaknai perilaku. Fungsi emosi yang utama adalah untuk mengkoordinir sistem tanggap, sehingga seseorang dapat mengendalikan dan meregulasi emosi tersebut (Levenson dalam Gross, 2007). Menurut Gross (dalam Manz, 2007), respon emosional dapat menuntun individu ke arah yang salah, pada saat emosi tampaknya tidak sesuai dengan situasi tertentu. Individu sering mencoba untuk mengatur respon emosional agar emosi tersebut dapat lebih bermanfaat untuk mencapai tujuan, sehingga diperlukan suatu strategi yang dapat diterapkan untuk menghadapi situasi emosional berupa regulasi emosi yang dapat mengurangi pengalaman emosi negatif maupun respon-respon sikap yang tidak tepat fungsi.

(13)

merupakan hal yang sehat dan konstruktif asalkan dilakukan dengan tepat (Shaffer, 2005).

Menurut Fischer (dalam Coon, 2005), wanita lebih dapat melakukan regulasi terhadap emosi marah dan bangga, sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas. Laki-laki lebih mengekspresikan marah dan bangga untuk mempertahankan dan menentukan dominasi. Benner dan Salovey (1997) mengatakan bahwa wanita lebih sering berusaha mencari dukungan sosial untuk menghadapi stres, sedangkan pria lebih memilih melakukan aktivitas fisik untuk mengurangi stres. Wanita lebih sering menggunakan emotion focused regulation yang melibatkan komponen kognitif dan emosi dari pada pria.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Garnefski (dalam Umar, 2012), terungkap bahwa perempuan dan laki-laki memiliki regulasi emosiyang berbeda. Selanjutnya, menurut Garnefski (2001) terdapat beberapa macam strategi-strategi untuk meregulasi emosi, yaitu menyalahkan diri sendiri (self blame), menyalahkan orang lain (blaming others), menerima (acceptance), tidak fokus pada rencana (refocus on planning). Tidak fokus pada rencana (Refocusing on planning) merupakan meniru

strategi (copying strategy) yang memiliki hubungan positif dengan pengukuran harga diri (self esteem) dan optimisme yang memiliki hubungan negatif dengan pengukuran kecemasan.

(14)

wanita, namun kedua jenis kelamin terkadang memiliki perbedaan persepsi dan atribusi yang menghasilkan emosi dan intensitas manusia. Begitu juga dalam taekwondo baik pada pria dan wanita masing-masing memiliki tingkat regulasi emosi, yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah dalam taekwondo terdapat perbedaan regulasi emosi baik pada pria maupun wanita.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas terjadi perbedaan pendapat bahwa ada perbedaan regulasi emosi antara pria-wanita dan tidak ada perbedaan regulasi emosi antara pria dan wanita. Maka peneliti merasa sangat perlu untuk melakukan penelitian ini juga dikarenakan perbedaan hasil penelitian tersebut dan sangat sedikit penelitian mengenai bidang terkait. Untuk mengontrol variabel-variabel terkait agar tidak menambah indikator dalam penelitian ini diperlukan rumusan masalah yang jelas mengenai regulasi emosi yang berhubungan dengan perbedaan jenis kelamin.

Berdasarkan hal-hal yang dipaparan di atas, maka rumusan penelitian ini adalah adakah perbedaan regulasi emosi berdasarkan jenis kelamin pada atlet beladiri taekwondo pria dan wanita di Salatiga? Adapun tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengetahui adakahperbedaan regulasi emosi berdasarkan jenis kelamin terhadap prestasiatlet beladiri taekwondo pria dan wanita di Salatiga.

Hipotesis

Hipotesi dalam Penelitian ini adalah :

Ha : Terdapat perbedaan regulasi emosi pada atlet beladiri taekwondo pria dan wanita di Salatiga

(15)

Rumusan masalah

Berdasarkan dari latar belakang serta fenomena yang ada, maka masalah pada penelitian ini dapat dirumuskan “adakah perbedaan regulasi emosi berdasarkan jenis

kelamin pada atlet beladiri taekwondo pria dan wanita di Salatiga?”

Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan regulasi emosi berdasarkan jenis kelamin terhadap prestasi atlet beladiri taekwondo pria dan wanita di Salatiga.

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan yang berarti bagi perkembangan ilmu psikologi, khususnya psikologi klinis dan psikologi olahraga dengan cara memberi tambahan data empiris yang sudah teruji secara ilmiah dan merangsang kepada penelitian selanjutnya untuk mengadakan penelitian pada bidang psikologi olahraga dan psikologi.

1.1.Manfaat Praktis

 Bagi pelatih, pengetahuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi

yang berkaitan dengan perbedaan regulasi emosi antara atlet laki-laki dan perempuan sehingga dapat digunakan dalam sebagai acuan dalam memberikan pelatihan untuk membedakan regulasi emosi antara laki-laki dan perempuan.

 Bagi atlit Taekwondo, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan atlet untuk

mengontrol emosi pada saat mengikuti latihan maupun kejuaraan. Dengan menggunakan latihan meditasi.

 Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui perbedaan regulasi

(16)

Regulasi Emosi

1. Definisi Regulasi Emosi

Regulasi emosi yang dimaksud lebih kepada kemampuan individu dalam mengatur dan mengekspresikan emosi dan perasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Regulasi emosi diri ini lebih pada pencapaian keseimbangan emosional yang dilakukan oleh seseorang baik melalui sikap dan perilakunya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi ialah suatu proses intrinsik dan ekstrinsik yang dapat mengontrol serta menyesuaikan emosi yang muncul pada tingkat intensitas yang tepat untuk mencapai suatu tujuan yang meliputi kemampuan mengatur perasaan, reaksi fisiologis, cara berpikir seseorang, dan respon emosi (ekspresi wajah, tingkah laku dan nada suara) serta dapat dengan cepat menenangkan diri setelah kehilangan control atas emosi yang dirasakan.

2. Rangkaian Proses Regulasi Emosi

Gross (dalam Strongman, 2003) membuat daftar lima rangkaian proses, regulasi emosi yaitu :

1. Pemilihan situasi.

(17)

2. Perubahan situasi.

Situasi-situasi yang berpotensi membangkitkan emosi. Upaya untuk memodifikasi situasi secara langsung untuk mengubah dampak emosionalnya merupakan salah satu bentuk regulasi emosi yang kuat.

3. Penyebaran perhatian.

Termasuk di sini, contohnya, bingung atau gangguan, konsentrasi dan/atau perenungan. Attentional deployment adalah salah satu proses regulasi emosi yang pertama muncul di dalam perkembangan dan tampaknya digunakan sejak masa bayi sampai masa dewasa, terutama ketika tidak mungkin mengubah atau memodifikasi situasi mereka. Bukan hanya bayi dan anak-anak kecil yang secara spontan mengalihkan pandangannya dari kejadian aversif (dan mengarahkannya pada hal-hal yang menyenangkan), tetapi proses atensional mereka juga dapat dipandu oleh orang lain dengan maksud mengelolanya. Di dalam contoh yang diberikan sebelumnya, regulasi emosi melibatkan fasilitasi perubahan perhatian pada anak dengan membuat si anak memfokuskan perhatiannya pada apa yang diinginkannya sebagai hadiah ulang tahun.

(18)

melibatkan mengubah fokus internal, misalnya ketika individu membangkitkan pikiran atau ingatan yang tidak konsisten dengan keadaan emosional yang tidak diharapkan atau ketika seorang aktor sengaja mengingat tentang sebuah insiden emosional agar dapat menggambarkan sebuah emosi dengan meyakinkan. Jadi, (attentional deployment)bisa memiliki banyak bentuk, termasuk pengalihan perhatian secara fisik (misalnya menutup mata atau telinga), pengubahan arah perhatian secara internal (misalnya melalui distraksi atau konsentrasi), dan merespon pengalihan arah perhatian oleh orang lain.

4. Perubahan kognitif.

Perubahan penilaian yang dibuat dan termasuk di sini adalah pertahanan psikis dan pembuatan pembandingan sosial dengan yang ada di bawahnya (keadaannya lebih buruk daripada saya). Pada umumnya, hal ini merupakan transformasi kognisi untuk mengubah pengaruh kuat emosi dari situasi. Perubahan kognitif mengacu pada mengubah cara kami menilai situasi kami terlibat di dalamnya untuk mengubah signifikansi emosionalnya, dengan mengubah bagaimana kami memikirkan tentang situasinya atau tentang kapasitas kami untuk menangani tuntutan-tuntutannya.

5. Perubahan respon.

(19)

pengalaman emosi adalah hal yang lazim dilakukan. Obat mungkin digunakan untuk mentarget respon-respon fisiologis seperti ketegangan otot (anxiolytics) atau hiperaktivitas (sistem-syaraf) simpatik (beta blockers). Olahraga dan relaksasi juga dapat digunakan untuk mengurangi aspek-aspek fisiologis dan pengalaman emosi negatif, dan, alkohol, rokok, obat, dan bahkan makanan, juga dapat dipakai untuk memodifikasi pengalaman emosi. Menurut Garnefski (2001) terdapat beberapa strategi untuk meregulasi emosi, yaitu :

1. Menyalahkan diri sendiri (Self blame) disini adalah mengacu kepada pola pikir menyalahkan diri sendiri. Beberapa penelitian menemukan bahwa self blame berhubungan dengan depresi dan pengukuran kesehatan

lainnya.

2. Menyalahkan orang lain (Blaming others) adalah mengacu pada pola pikir menyalahkan orang lain atas kejadian yang menimpa dirinya.

3. Menerima (Acceptance) adalah mengacu pada pola pikir menerima dan pasrah atas kejadian yang menimpa dirinya. (Acceptance) merupakan strategi (coping) yang memiliki hubungan yang positif dengan pengukuran keoptimisan dan hraga diri (self esteem) dan memiliki hubungan yang negatif dengan pengukuran kecemasan.

(20)

(dalam Atkinson & Hilgard’s, 2003). Berikut adalah tabel klasifikasi

strategi regulasi mood:

Tabel 2.1 Klasifikasi strategi regulasi mood

Klasifikasi Kognitif Kepribadian

1. Diverson

b. Distraction Berfikir tentang sesuatu yang menyenangkan

b. Situation-directed Berfikir bagaimana cara untuk menyelesaikan permasalahan

Mengambil tindakan untuk menyelesaikan permasalahan

(21)

3. Faktor-Faktor Regulasi Emosi

Faktor-Faktor yang mempengaruhi regulasi emosi menurut Salovey dan Sluyter (dalam Kartika, 2004) antara lain :

1. Hubungan Antara Orang tua danAnak

Hubungan antara mahasiswa dengan orangtua sangat penting pada masa perkembangan dewasa awal. Mahasiswa menginginkan pengertian yang bersifat simpatis, telinga yang peka, dan orangtua yang dapat merasakan anak-anaknya memiliki sesuatu yang berharga untuk dibicarakan (Rice, 1999). Menurut Rice, (affect)yang berhubungan dengan emosi atau perasaan yang ada di antara anggota keluarga bisa bersifat positif ataupun negatif. (Affect) yang positif antara anggota keluarga menunjuk pada hubungan yang digolongkan pada emosi seperti kehangatan, kasih sayang, cinta, dan sensitivitas (Felson & Zielinski dalam Rice, 1999).

Dengan adanya kebutuhan (affect) tersebut maka Banerju (1997) mengemukakan bahwa orangtua memiliki pengaruh dalam kehidupan emosi anak-anaknya.

2. Umur dan Jenis Kelamin

(22)

3. Hubungan Interpersonal

Salovey dan Sluyter (1997) juga mengemukakan bahwa hubungan interpersonal dan individual juga mempengaruhi regulasi emosi. Keduanya berhubungan dan saling mempengaruhi, sehingga emosi meningkat bila individu yang ingin mencapai suatu tujuan berinteraksi dengan lingkungan dan individu lainnya. Biasanya emosi positif meningkat bila individu mencapai tujuannya dan emosi negatif meningkat bila individu kesulitan dalam mencapai tujuannya. Faktor-faktor lainnya menurut Salovey dan Sluyter (1997) adalah permainan yang mereka mainkan, program televisi yang mereka tonton, dan teman bermain mereka dapat mempengaruhi perkembangan regulasi mereka.

Dari pernyataan di atas regulasi emosi pada pria dan wanita dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : Hubungan Antara Orang tua dan Anak, Umur dan Jenis Kelamin dan Hubungan Interpersonal

4. Aspek-Aspek Regulasi Emosi

Aspek-aspek kemampuan regulasi emosi menurut Thompson (dalam Gross, 2005) terdiri dari :

1. Emotions Monitoring (Memonitor Emosi).

(23)

keterhubungan ini membuat individu mampu menamakan setiap emosi yang muncul.

2. Emotions evaluating (Mengevaluasi Emosi).

Mengevaluasi emosi yaitu kemampuan individu untuk mengelola dan menyeimbangkan emosi yang dialami. Kemampuan mengelola emosi-emosi khususnya emosi-emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, kecewa, dendam, dan benci akan membuat individu tidak terbawa dan terpengaruh secara mendalam. Hal ini mengakibatkan individu tidak mampu lagi berfikir rasional. Sebagai contoh ketika individu mengalami perasaan kecewa dan benci, kemudian mampu menerima perasaan tersebut apa adanya, tidak berusaha menolak, dan berusaha menyeimbangkan emosi tersebut secara konstruktif.

3. Emotion modification (Modifikasi Emosi)

Modifikasi emosi yaitu kemampuan individu untuk mengubah emosi sedemikian rupa sehingga mampu memotivasi diri terutama ketika inidividu berada dalam keadaan putus asa, cemas, dan marah. Kemampuan ini membuat individu mampu menumbuhkan optimisme dalam hidup. Kemampuan ini membuat individu mampu bertahan dalam masalah yang membebani, mampu terus berjuang.

Selain aspek-aspek regulasi emosi menurut Thomson (dalam Gross, 2005), terdapat pula aspek-aspek regulasi emosi menurut Gross (2007) ada empat aspek yang digunakan untuk menentukan kemampuan regulasi emosi seseorang yaitu :

a. Strategies to emotion regulation (strategi)

(24)

cara yang dapat mengurangi emosi negative dan dapat dengan cepat menenangkan diri kembali setelah merasakan emosi yang berlebihan.

b. Engaging in goal directed behavior (tujuan)

Engaging in goal directed behavior (goals) ialah kemampuan individu untuk tidak terpengaruh oleh emosi negatif yang dirasakannya sehingga dapat tetap berpikir dan melakukan sesuatu dengan baik.

c. Control emotional responses (dorongan)

Control emotional responses (impulse) ialah kemampuan individu untuk dapat mengontrol emosi yang dirasakannya dan respon emosi yang ditampilkan (respon fisiologis, tingkah laku dan nada suara), sehingga individu tidak akan merasakan emosi yang berlebihan dan menunjukkan respon emosi yang tepat. d. Acceptance of emotional response (penerimaan)

Acceptance of emotional response (acceptance) ialah kemampuan individu untuk menerima suatu peristiwa yang menimbulkan emosi negative dan tidak merasa malu merasakan emosi tersebut.

(25)

periodik memonitor kemajuan ke arah tujuan, menyesuaikan atau memperbaiki strategi berdasarkan kemajuan yang dibuat oleh anak, dan mengevaluasi halangan yang mungkin muncul serta melakukan adaptasi yang diperlukan.

Atlet

Hakikat dari kata atlet juga banyak diungkapkan oleh para ahli. Menurut Wibowo (2002) atlet adalah subjek atau seseorang yang berprofesi atau menekuni suatu cabang olahraga tertentu dan berprestasi pada cabang olahraga tersebut, sedangkan menurut Salim (1991) atlet adalah olahragawan, terutama dalam bidang yang memerlukan kekuatan, ketangkasan, dan kecepatan. Selain itu menurut Monty P.Satiadarma (2002), atlet adalah individu yang memiliki keunikan tersendiri, yang memiliki bakat tersendiri, pola perilaku dan kepribadian tersendiri, serta latar belakang yang mempengaruhi spesifik dalam dirinya. Yang dimaksud dari atlet dalam penelitian ini adalah subjek/seseorang yang berprofesi atau menekuni suatu cabang olahraga anggar dan memiliki prestasi di cabang tersebut.

Menurut Peraturan Organisasi Aeromodelling Indonesia (2010), atlet adalah olahragawan baik laki-laki maupun perempuan yang melatih kemampuan secarakhusus untuk bersaing dalam pertandingan yang melibatkan kemampuan fisik, kecepatan atau daya tahan.

(26)

Taekwondo

Taekwondo adalah lebih dari sekedar aktifitas psikis. Filosofi Taekwondo berakar pada semangat umum dari pelatihan seni beladiri dan budaya dari orang Korea, yang keduanya sangat menarik pada konfusianisme dan filosofi Taoisme Katie & Bill (2013).

(27)

METODE Partisipan

Subjek penelitian adalah Atlet taekwondo. Peneliti mengambil populasi 90 keseluruhan Atlet yang ada di kota Salatiga berdasarkan data yang didapat dari wisma Atlet Salatiga.

Teknik sampling yang dugunakan dalam penelitian ini adalah teknik insidental. Insidental adalah teknik penentuan sampel yang kebetulan dijumpai peneliti saat melakukan penelitian (Winarsunu, 2009).

Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan dua skala, yaitu skala (a)Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) yang dikemukakan oleh Gross dan John (2003), dan telah peneliti terjemahkan sendiri dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Kuesioner ini terdiri dari 10 item, dengan menggunakan 7 skala dari “Sangat setuju” sampai

“sangat tidak setuju”.

Selain menggunakan skala regulasi emosi ERQ dari Gross & Jhon (2003), peneliti juga menggunakan skala regulasi emosi dari Salvatore Catanzaro dan Jack Mearns (1990) yaitu (b)Negative Mood Regulation (NMR). NMR yang terdiri dari lima aspek yaitu (1) menyeleksi situasi, (2) modifikasi situasi, (3) mengarahkan perhatian, (4) perubahan kognitif, dan (5) modifikasi respon. Skala NMR (Negative Mood Regulation) adalah alat ukur untuk mengetahui keyakinan mengenai kemampuan

(28)

salah satu dari mood negatif, misalnya seperti hari-hari yang tidak menyenangkan. Untuk menjawabnya partisipan menggunakan pedoman : 1= sangat tidak setuju, 2 = agak tidak setuju, 3 = setuju dan tidak setuju sama, 4 = agak setuju, 5 = sangat setuju. Semakin setuju responden terhadap pernyataan yang favorable semakin tinggi skor. Sebaliknya, semakin setuju responden terhadap pernyataan yang unfavorable, semakin rendah skornya. Dari kelima aspek, masing-masing aspek akan memiliki skor tinggi dan rendah sesuai respon yang diberikan oleh subjek penelitian.

Teknik Analisa Data

Prosedur penelitian diawali dengan melakukan uji ahli terhadap skala, selain itu skala juga di uji cobakan kepada lima Atlet untuk mengetahui bahasa yang digunakan sudah mudah dipahami atau belum. Kemudian dilakukan try out skala yang terdiri dari 40 item kepada 90 Atlet Salatiga. Melakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan SPSS (15.0) for windows dengan Cronbach Alpha. Berdasarkan uji validitas, didapatkan item yang valid. Metode analisis data yang digunakan yaitu teknik korelasi teknik uji t sampel bebas (Independent-Samples t-test). Pengujian t-test Independent Sample pada teknik parametrik atau Mann Whitney U Test pada teknik

nonparametrik dipilih karena dalam penelitian ini, peneliti ingin meneliti beda rata-rata dari kedua sampel.

HASIL

(29)

subjek penelitian yang akan digunakan untuk penskalaan atau evaluasi kualitas aitem secara statistik (Azwar, 2010).

Uji daya beda diketahui melalui perhitungan koefisien reliabilitas alat ukur melalui formula Alpha Cronbach yang dihitung dengan bantuan program komputer Statistical Packages for Social Science (SPSS) versi 16.00

 Uji Asumsi

Berdasarkan uji homogenitas hasil perhitungan uji f dengan SPSS ditemukan bahwa ternyata data tersebut homogen, nilai hitung uji f lebih besar dari nilai f tabel. Probilitas hasil perhitungan lebih dari 0,05 yaitu nilai signifikan pada uji f tersebut adalah 0,507.

Tabel Hasil Uji F

(30)

dapat disimpulkan bahwa terdapat homogen dan normalitas perbedaan antara regulasi emosi dengan pria dan wanita. Berikut adalah table hasil uji normalitas:

Tests of Normality

Jenis

kelamin

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

regulasi perempuan .086 45 .200

* .970 45 .284

laki-laki .211 15 .070 .910 15 .135

 Skala ERQ ( Emotion Regulation Questionnaire )

Skala ERQ terdiri dari 10 item, dengan menggunakan 7 skala dari “Sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”. Hasil dari kuesioner regulasi emosi akan menunjukkan kecenderungan regulasi emosi yang manakah yang paling menonjol dari responden. Gross dan John (2003) melaporkan nilai reliabilitas koefisien Alpha Cronbach 0,79 untuk reappraisal dan 0.73 untuk suppression, dan kehandalan tes-tes ulang di tiga bulan adalah 0.69.

Berdasarkan hasil uji coba kuesioner yang akan digunakan dalam penelitian ini dari 10 item skala 1, item yang tidak valid terdapat 2 item, instrument skala 1 setelah dihitung reliabilitas dengan SPSS diperoleh alpha cronbach’s 0.812 artinya lebih besar dari 0.05 dan menunjukan instrument tersebut reliabel untuk digunakan penelitian.

 Skala NMR ( Negatif Mood Regulation )

(31)

Berdasarkan hasil uji coba kuesioner yang akan digunakan dalam penelitian ini dari 30 item skala 2, item yang tidak valid terdapat 4 item, instrument skala 2 setelah dihitung reliabilitas dengan SPSS diperoleh alpha cronbach’s 0.672 artinya lebih besar dari 0.05 dan menunjukan instrument tersebut reliable untuk digunakan penelitian. Selanjutnya untuk item pernyataan kuesioner yang tidak valid dibuang dan tidak dipakai untuk perhitungan analisis dalam penelitian ini.

(32)

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan regulasi emosi yang signifikan antara atlet pria dan wanita dengan nilai probobilitas signifikan 0,302, artinya nilai tersebut lebih besar dari 0,05 (0,302 >α= 0,05). Berdasarkan perhitungan tersebut maka hipotesis ditolak tidak ada perbedaan signifikan regulasi emosi pada atlet taekwondo pria dan wanita di Salatiga. Atlet pria dan wanita memiliki regulasi emosi yang sama, sama-sama dapat mengatasi rasa cemas, sedih atau marah sehingga dapat memecahkan masalah dengan baik. Pria daan wanita sama-sama mampu mengontrol emosi yang dialami, tetapi dari segi rata-rata pria memiliki rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan wanita dalam mengontrol emosinya.

Menurut Fischer (dalam Coon, 2005), wanita lebih dapat melakukan regulasi terhadap emosi marah dan bangga, sedangkan laki-laki pada emosi takut, sedih dan cemas. Laki-laki lebih mengekspresikan marah dan bangga untuk mempertahankan dan menentukan dominasi. Benner dan Salovey (1997) mengatakan bahwa wanita lebih sering berusaha mencari dukungan sosial untuk menghadapi stres, sedangkan pria lebih memilih melakukan aktivitas fisik untuk mengurangi stres. Wanita lebih sering menggunakan emotion focused regulation yang melibatkan komponen kognitif dan emosi dari pada pria.

(33)

namun kedua jenis kelamin terkadang memiliki perbedaan persepsi dan atribusi yang menghasilkan emosi dan intensitas manusia.

Peran jenis kelamin menurut Papalia, Olds, & Feldman (dalam Verdi, 2008) adalah tingkah laku, minat, sikap, kemampuan, dan sifat yang dalam kebudayaan tertentu dianggap sesuai dengan jenis kelamin seseorang. Dalam masyarakat, wanita mendapat peran yang bersifat ekspresif, yaitu peran yang berhubungan dengan pembentukan dan pemeliharaan hubungan dengan orang lain. Menurut Gershung (dalam

Verdi’s, 2008), wanita dianggap memiliki sifat-sifat feminin, yang sebagian di

antaranya adalah inkompeten, submisif, tergantung, dan ragu-ragu/malu-malu.

(34)

Konsep ini menjawab bahwa atlet pria dan wanita dapat mengontrol emosi sehingga dapat mengontrol diri saat sedang mengikuti latihan taekwondo maupun sedang bertanding, sehingga atlet dapat mendapatkan prestasi yang baik.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarakan hasil penelitian di atas maka dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan regulasi emosi yang signifikan antara atlet pria dan wanita terhadap prestasi taekwondo. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki regulasi emosi yang sama dalam penelitian ini. Dan tidak semua atlet pria dan wanita memiliki regulasi mood negatif yang kurang baik, dimana terdapat beberapa atlet pria dan

wanita yang dapat melakukan aspek-aspek diatas secara baik, sehingga atlet mampu

melakukan regulasi mood negatif yang baik pula.

(35)
(36)

DAFTAR PUSTAKA

Abrar, H. (2011). Regulasi emosi remaja putri yang kecanduan pornografi. Skripsi. Salatiga: Fakultas Psikologi UKSW.

Amelia, J. (2011). Hubungan self-regularion dengan prestasi belajar pada mahasiswa fakultas psikologi universitas kristen satya wacana salatiga. Sripsi. Salatiga: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana.

Azwar, S. (2010). Penyusunan skala psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Basuki Wibowo. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Benner, E., & Salovey, P. (1997). Emotion regulation during childhood : Developmental, interpersonal, and individual considerations. Dalam P. Salovey & D. J. Skufter (eds). Emotional development and emotional intelligence, (pp.170-183). New York : Basic Book Division of Harper Collins Publisher Inc. Catanzaro, S.J., & Mearns, J. (1990). This study on the development of the Generalized

Expectancies for Negative Mood Regulation (NMR) Scale. Journal of Personality Assesment. Retrieved September 15, 2012 from http://psych.fullerton.edu/jmearns/reseach.html.

Christiany & Prawasti, Y.C. (2006). Hubungan antara strategi regulasi emosi dan aspek-aspek kesiapan memaafkan. Temu Ilmiah Psikologi-Psychology Expo2006. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Coon, D., (2005). Essentials of Psychology. Australia: Thomson Wadsworth.

Elaine, S., (ed),Speaking of Jenis kelamin, New York & London: Routledge, 1989, (3). Garnefski, N., Kraaij, V., & Spinhoven, Ph. (2001). Negative Life events, cognitive

emotion regulation and emotional problems. Personality and Individual Differences, 30, 1311–1327.

Gross, J. J. (1998). Antecedent- and response-focused emotion regulation: Divergent consequences for experience, expression, and physiology. Journal of Personality and Social Psychology, 74, 224–237.

Gross, J. J., & John, O. P. (2003). Individual differences in two emotion regulation processes: Implications for affect, relationships, and well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 85 (2), 348-362.

Gross, J. J (2005). The cognitive control of emotion. Journal of Trends in cognitive sciences,9 (5), 242-249.

(37)

Gunarsa, S.D., Setiadarma, M.P., & Soekasah, M.H.R. (1996). Psikologi olahraga: teori dan praktek. Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Guthrie, S. R. (1995). Liberating the amazon: feminism and the martial arts. Women and Therapy, 16, 107–119.

Hurlock, E.B. (1999). Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan-edisikelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jannah, M. (2012). Regulasi emosi terbukti pengaruhi pencapaian prestasi olahraga. Retreived Januari 30, 2015, from http://ugm.ac.id/id/berita/4309-regulasi.emosi.terbukti.pengaruhi.pencapaian.prestasi.olahraga

Kartika, Y. Nisfiannoor, M. (2004). Hubungan antara regulasi emosi dan penerimaan kelompok teman sebaya pada remaja. Jurnal Psikologi, 2(2).

Khiornia, I. (2003). Regulasi emosi negatif pada mahasiswa ditinjau dari jenis kelamin. Jurnal Online Psikologi, 1(2).

Levenson, R.W. (1999). The intrapersonal functions of emotion. Cognition and Emotion, 13, 481-504.

Madden, M. E. (1990). Attributions of control and vulnerability at the beginning and end of a karate course. Perceptual and Motor Skills, 70, 787-794.

Manz, C. C. (2007). Emotional discipline, 5 langkah menata emosi untuk merasa lebih baik setiap hari. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum.

McClelland, DC. (1987). Human Motivation. New York : Cambrige University Press. Monty, P. (2002). Dasar-Dasar Psikologi Olahraga. Jakarta: Balai Pustaka.

Moon Jong, Hong. (2013). Seoul world tae kwon do leaders forum. Ebook. From http://www.kukkiwon.or.kr/upload/pr/news/2013_forum_material2.pdf

Nolen-Hoeksema S, & Aldao A. (2011). Gender and age differences in emotion regulation strategies and their relationship to depressive symptoms. Personal. Individ. Differ.51:704–8.

Papalia, D.E & Olds, S.W. (1995). Human development. New York : McGraw-Hill Companies, Inc.

Purwanto, S. (2006). Pentingnya pelaksanaan administrasi pembelajaran pendidikan jasmani di smu. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia, 5, 1, April 2006.

Pottle, K., & Pottle, B. (2013). Taekwondo: A practical guide to the world’s most

popular matrial art. Ebook. From

(38)

Ramandhani, A.V. (2008). Perbedaan regulasi emosi ditinjau dari jenis kelamin. Jurnal Online Psikologi, 20, 1.

Rice, P. F, (1999). The adolescent: Development, relationship, and culture, (9th edition), Needham Heights, Allyn and Bacon, MA.

Richman, C. L. & Rehberg, H. (1986). The development of self-esteem through the martial arts. International Journal of Sport Psychology, 17, 234-239.

Richards, J. M., & James J. Gross. (2000). Emotion Regulation and Memory : The Cognitive Costs of Keeping One's Cool. Journal of Personality and Social Psychology. 79, 3.

Salovey, P. & Sluyter, D. J. (eds.). (1997). Emotional development and emotional intelligence: educational implications. New York: Basic Books.

Santrock, J.W. (2010). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Speilberger, C. (2004). Enyclopedia of applied psychology. USA : Elsevier Academic Press.

Strongman, K.T. (2003). The psychology of emotion: from everyday life to the theory. New Zealand: Department of Psychology University of Canterbury Christchurch.

Susan Nolen-Hoeksema (2012). Emotion Regulation and Psychopathology. The Role of Jeniskelamin Department of Psychology, Yale University, New Haven, Connecticut 06520

Tamres, L.K., Janicki, D., & Helgeson V.S. (2002). Sex differences in coping behavior: a meta-analytic review and an examination of relative coping. Personal. Soc. Psychol. Rev.6 :2–30

Tirtawirya, D. (2005). Perkembangan dan peranan taekwondo dalam pembinaan manusia Indonesia. Jurnal Olahraga Prestasi, 1(2), 195-211. ISSN 0216-4493. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogjakarta.

Umar, N.M. (2012). Regulasi emosi pada remaja panti asuhan muhajirin balikpapan timur. Skripsi. Malang: Program Sarjana Psikologi Universitas Muhammadiyah.

Verdi’s, J. (2008). Regulasi emosi. Retreived Mei 1, 2013, from http://vj20i2008-regulasi-emosi.html.

Weiser, M., Kutz, I., Kutz, S. J., & Weiser, D. (1995). Psychotherapeutic aspects of the martial arts. American Journal of Psychotherapy, 49 (1), 118-127.

(39)

Wikipedia. (2000). Taekwondo. Retreived Agustus 0, 2013, from http://id.wikipedia.org/wiki/Taekwondo.

Winarsunu, T. (2009). Statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan. Malang : UMM Press.

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi strategi regulasi mood
Tabel Hasil Uji F

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang padat akan dapat memunculkan kemampuan untuk mengatur diri (Alsa, 2007), begitu juga

Tahapan penelitian pada Gambar 2, dapat dijelaskan sebagai berikut. Tahap pertama : identifikasi masalah, yaitu perlunya sistem untuk mengatur data produksi. Data

Jadwal kegiatan adalah salah satu unsur yang penting dalam sebuah organisasi, perusahaan, instansi dan lembaga untuk dapat mengatur semua rencana kegiatan yang

keyakinan individu untuk melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan pengambilan keputusan karir. Pengambilan keputusan karir sangat penting untuk siswa SMK Kristen

hubungan positif yang signifikan antara parent attachment dengan regulasi

Motivasi intrinsik untuk mengetahui (Saya merasa puas jika saya berusaha untuk tahu lebih banyak tentang olahraga basket), motivasi intrinsik untuk mencapai atau

Tugas Akhir ini ditulis untuk memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Sains dalam bidang Teologi (S.Si.Teol). Tugas Akhir ini disusun

Semakin kuat seorang wanita memiliki motivasi untuk memaafkan pria yang telah menghamilinya, maka regulasi emosi yang terjadi dalam dirinya akan menjadi positif,