Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Strategi Manajemen Sekolah dalam Meningkatan Mutu Pembelajaran di SD Negeri Purwosari 1 Sayung Demak T2 942014060 BAB II

Teks penuh

(1)

BAB II KAJIAN TEORI 2. Manajemen Sekolah Dasar

2.1 Definisi Manajemen Sekolah Dasar

Manajemen merupakan serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan,

menggerakkan, mengembangkan segala upaya di dalam mengatur dan mendayagunakan sumber

daya manusia, sarana dan prasarana, untuk mencapai tujuan organisasi, secara efisien dan efektif

(Wahjosumidjo, 2000: 117). Menurut Scanlan dan Key, manajemen merupakan proses

pengoordinasian dan pengintegrasian semua sumber, baik manusia, fasilitas, maupun sumber

daya teknikal lain untuk mencapai tujuan khusus yang ditetapkan (Danim, 2007: 32).

Sementara itu, manajemen sekolah adalah proses dan instansi yang memimpin dan

membimbing penyelenggaraan pekerjaan sekolah sebagai suatu organisasi dalam mewujudkan

tujuan pendidikan dan tujuan sekolah (Sagala, 2007:55). Sekolah dasar sebagai bagian dari

pendidikan dasar merupakan jenjang yang melandasi jenjang pendidikan menengah (Depdiknas,

2006: 10).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen atau

pengelolaan sekolah dasar merupakan proses pendayagunaan sumber daya sekolah dasar melalui

kegiatan fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian secara

lebih efektif dan efisien. Dari fungsi perencanaan sekolah tentunya diawali dari penentuan visi,

misi dan tujuan sekolah yang telah dirancang dan dikembamngkan pada setiap tahun ajaran baru.

Ini diawali sejak sekolah menentukan pembagian surat keputusan mengajar pada personil guru di

kelas. Menentukan visi dan misi sekolah tentunya sangat tergantung dari kondisi dan situasi

sekolah tersebut baik lingkungan sekolah, guru dan staf yang tersedia, sarana dan prasarana

maupun stok holder yang sudah terbangun

Pengorganisasian, peneliti beranggapan bahwa sebuah lembaga baik formal maupun non

formal sangat tergantung pada pengorganisasian yang dibangun. Lembaga akan berjalan lancer

sesuai tujuan yang dicanangkan tentunya diawali dengan pengorganisasian yang teratur pula.

Sebaliknya pengorganisasian yang ala kadarnya juga berdampak sangat siknifikan terhadap

kinerja sebuah organisasi. Pengorganisasian yang dibangun di sekolah tidak terlepas dengan

(2)
(3)

Sesuai dengan pelaksanaan penelitian yang dilaksanakan dalam waktu dekat ini Penyusunan Program Supervisi di SDN Purwosari 1 ini bertujuan sebagai berikut :

1. Acuan bagi pelaksanaan kegiatan supervisi di lingkungan SD N Purwosari 1

2. Meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pendidik

3. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran yang bermuara pada peningkatan kualitas tamatan.

4. Selain supervisi akademis , program supervisi ini juga dilengkapi dengan supervisi manajerial pada setiap unit kegiatan di lingkungan SD N Purwosari 1 yang merupakan supervisi internal dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan unit kegiatan dan administrasi sekolah.

3. Supervisi Manajerial Internal

Pelaksanaan Supervisi Internal dalam bidang manajerial sekolah dilakukan pada setiap unit kegiatan yang ada dalam jajaran manajerial SD Tambakroto. Pelaksanaannya dilakukan bersama oleh Kepala Sekolah bersama dengan Pengawas pada setiap unit dengan target utama adalah pembenahan pada :

1. Kinerja Tim Pengembang Kurikulum dalam mereviu dan merevisi KTSP 2. Perlunya dibentuk Tim Pengembang Kurikulum SD Negeri yang solid 3. Peningkatan pengelolaan sarana dan prasarana

4. Peningkatan pengelolaan lingkungan dan Budaya Sekolah 5. Peningkatan sistem informasi manajemen

6. Peningkatan Kemitraan dan kerjasama dengan orang tua siswa dan pihak lain 7. Peningkatan Manajemen Pengelolaan UKS dan Labor serta optimalisasi

pemakaiannya dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa

8. Peningkatan kegiatan pengembangan diri meliputi layanan konseling dan peningkatan kualitas kegiatan ekstra kurikuler

Fungsi penggerakan peneliti menyikapai bahwa keberadaan seorang pemimpin dalam hal ini kepala sekolah vital keberadaannya. Seorang pemimpin harus meneladani kaedah pendidikan yang telah dicanangkan Ki Hajar Dewantoro yaitu Ing Ngarso sun Tuladha artinya sebagai pemimpin segala tingkah lakunya di lembaga menjadi tolak ukur dan contoh bawahannya.

Manajemen sekolah bukan merupakan terminologi baru dalam dunia akademik

kependidikan. Sebagai substansi tugas, manajemen sekolah telah ada sejak lembaga

persekolahan ada. Substansi prosesnya yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,

dan pengawasan telah dikembangkan sejalan dengan berjalannya substansi tugas (manajemen

akademik, manajemen keuangan, manajemen ketatalaksanaan sekolah, manajemen kemuridan,

manajemen bangunan dan perlengkapan sekolah, manajemen pelayanan khusus, manajemen

(4)

Pendapat ahli mengenai manajemen , menurut peneliti sangatlah beralasan. Ini

dikarenakan pengejawantahan manajemen mengandung makna yang luas dalam pengelolaan

sebuah organisasi Ini tertian dalam tugas = tugas seorang pemimpin dalam hal ini kepala

sekolah. Salah satu tugas kepala sekolah adalah memastikan bahwa sarana dan prasarana sekolah

dapat digunakan dengan baik dalam rangka menunjang pembuatan kebijakan dan pengambilan

keputusan yang tepat, penyusunan rencana kerja sekolah, pelaksanaan pembelajaran dan

pelaporan kinerja sekolah. Sarana berarti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan dalam

pendidikan, misalnya : lokasi/tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, uang dan

sebagainya. Prasarana berarti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya :

Ruang, Buku, Perpustakaan, Laboratorium dan sebagainya.

Dalam keputusan Menteri P dan K No. 079/1975, sarana pendidikan terdiri dari 3

(tiga) kelompok besar, yaitu: (1) bangunan dan perabot sekolah, (2) alat pelajaran yang terdiri

dari pembukuan, alat-alat peraga dan laboratorium; (3) media pendidikan yang dapat

dikelompokkan menjadi audiovisual yang menggunakan alat penampil dan media yang tidak

menggunakan alat penampil.

Adapun macam-macam sarana dan prasarana yang diperlukan di sekolah demi

kelancaran dan keberhasilan proses pendidikan sekolah adalah: (1) Ruang kelas; (2) Ruang

Perpustakan; (3) Ruang Laboratorium; (4) Ruang Keterampilan; (5) Ruang Kesenian; (6)

Fasilitas Olah raga. Sedangkan komponen-komponen sarana dan prasarana pendidikan adalah :

(1) Lahan; (2) Ruang; (3) Perabot; (4) Alat dan media pendidikan.

Dalam paradikma baru manajemen pendidikan ini Depdiknas melukiskan fungsi - fungsi

pendidikan yang didesentralisasikan ke sekolah (Mulyasa , 2006 : 20) Alurnya sebagai berikut :

INPUT PROSES OUTPUT

OUTPUT P

Perencanaan dan evaluasi

Kurikulum

Pembelajaran

Ketenangan

Fasiitas

Keuangan

Kepesertadidikan

Hub. sekolah -masyarakat

Iklim sekolah

KBM

PRESTASI

(5)

2.2 Fungsi Manajemen Sekolah

Fungsi manajemen sekolah adalah mengoptimalkan kemampuan menyusun rencana sekolah dan rencana anggaran. Sekolah dikelola berdasarkan rencana sekolah dan rencana anggaran. Masyarakat juga didorong untuk berpartisipasi mengelola sekolah. Berikut diuraikan fungsi-fungsi pengelolaan sekolah yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengoordinasian, pengarahan, dan pengawasan dalam konteks kegiatan satuan pendidikan.

a. Fungsi Perencanaan

Perencanaan sekolah adalah proses menentukan sasaran alat, tuntutan-tuntutan, taksiran, pos-pos tujuan, pedoman, dan kesepakatan yang menghasilkan program-program sekolah yang terus berkembang (Sagala, 2007: 58).

b. Fungsi Pengorganisasian

Pengorganisasian sekolah merupakan kemampuan kepala sekolah bersama guru, tenaga kependidikan, dan personel lainnya di sekolah dalam melakukan semua kegiatan manajerial untuk mewujudkan hasil yang direncanakan dengan menentukan hasil yang direncanakan dengan menentukan sasaran, menentukan struktur tugas, wewenang dan tanggung jawab (Sagala, 2007: 60).

Fattah (2006: 71) mengartikan pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan organisasi

.

c. Fungsi Penggerakan (Actuating)

Berdasarkan seluruh rangkaian proses manajemen, pelaksanaan (actuating) merupakan

fungsi manajemen yang paling utama. Dalam fungsi perencanaan dan pengorganisasian lebih

banyak berhubungan dengan aspek-aspek abstrak proses manajemen. Fungsi actuating justru

lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam

organisasi.

(6)

d. Fungsi Pengkoordinasian

Pengkoordinasian dalam organisasi sekolah adalah mempersatukan rangkaian aktifitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah dengan menghubungkan, manyatupadukan, dan menyelaraskan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan personel lainnya sehingga berlangsung secara tertib ke arah tercapainya maksud yang telah ditetapkan (Sagala, 2007: 62).

Usaha pengkoordinasian dapat dilakukan malalui berbagai cara, antara lain dengan

melaksanakan penjelasan singkat, mengadakan rapat kerja, memberikan petunjuk pelaksanaan

dan petunjuk teknis serta memberikan balikan tentang hasil kegiatan (Suryosubroto, 2004: 24).

e.Tujuan Model Manajemen Pembelajaran Melalui Metode “Stop and Stop”

Model manajemen pembelajaran melalui metode “stop and stop”berbasis pendidikan karakter untuk mengatur proses belajar mengajar, dalam rangka tercapainya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Tujuan dalam model manajemenpembelajaran melalui metode “stop and stop” yang dilakukan oleh para guru atau pengajarantara lain :

1. Planning (Perencanaan) dalam proses pembelajaran pada pembuatan RPP

dan sudah tercantum metode yang diterapkan dan disusun secara jelas.

2. Organizing (Pengorganisasian) dalam penyediaan media atau alat peraga,

pengelompokan SK dan KD, perumusan dan penetapan metode serta prosedur pembelajaran dapat dilakukan secara tepat.

3. Actuating (Penggerakan/Pelaksanaan) dalam proses pembelajaran dapat

dilakukan secara runtut dan baik berdasar pada RPP.

4. Controlling (Pengawasan) untuk memantau proses pembelajaran agar

sesuai dengan apa yang dilakukan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

C.Manfaat Model Manajemen Pembelajaran Melalui Metode “Stop and Stop”

(7)

2. Model manajemen pembelajaran melalui metode “Stop and Stop”

pendidikan karakter di sekolah ini akan meningkatkan potensi kegiatan belajar mengajar.

3. Model manajemen pembelajaran melalui “Stop and Stop” berbasis pendidikan karakter di sekolah ini dapat memudahkan guru untuk memahami tugas dan tanggungjawabnya dalam pembelajaran.

e. Fungsi Pengawasan

Pengawasan manajemen sekolah adalah usaha sistematis menetapkan standar prestasi

dengan perencanan sasarannya guna sistem informasi umpan balik (Sagala, 2007: 66)

2.3 Fokus Manajemen Sekolah 2.3.1 Input Sekolah

Menurut Sagala (2006: 140), input adalah segala sesuatu yang harus tersedia (perangkat

lunak maupun perangkat keras) karena dibutuhkan bagi berlangsungnya proses. Proses

pendidikan adalah berubahnya sesuatu yang merupakan input menjadi sesuatu yang lain dari

hasil proses yang disebut output.

Input sekolah dapat diidentifikasikan mulai dari manusia, uang, material/bahan-bahan,

metode-metode, dan mesin-mesin (Komariah dan Triatna, 2006: 2). Manusia yang dibutuhkan

sebagai masukan bagi proses pendidikan adalah siswa sebagai bahan utama atau bahan mentah.

Untuk menghasilkan manusia yang seutuhnya diperlukan input manusia yang memiliki potensi

untuk dididik, dilatih, dibimbing, dan dikembangkan menjadi manusia seutuhnya.

2.3.2 Proses Penyelenggaraan Sekolah

Proses penyelenggaraan sekolah merupakan kiat manajemen sekolah dalam mengelola

masukan-masukan agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan atau output sekolah (Komariah dan

Triatna, 2006: 5). Menurut Slamet (dalam Komariah dan Triatna, 2006: 5) menyatakan bahwa

proses adalah berubahnya “sesuatu” menjadi “sesuatu yang lain”. Sesuatu yang berpengaruh

terhadap berlangsungnya proses disebut input, sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut

(8)

Proses sekolah dalam dimensi kepemimpinan adalah menghasilkan keputusan

kelembagaan yang terjadi sebagai keputusan partisipatif atau keputusan bersama antara kepala

sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, para ahli, dan orang-orang yang berkepentingan terhadap

pendidikan. Keputusan tentang bagaimana berlangsungnya sekolah yang didasarkan atas

partisipasi diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki bagi semua kelompok kepentingan

sekolah.

Penyelenggaraan sekolah dari dimensi kepemimpinan ini adalah terjadinya pemotivasian

terhadap staf agar mereka terus semangat bekerja dan menghasilkan karya yang berguna dan

bermutu. Di era global ini, dituntut keahlian yang harus terus dikembangkan seiring dengan

inovasi-inovasi yang ditemukan dalam bidang pendidikan.

Pengelolaan program sekolah adalah pengkoordinasian dan penyerasian program sekolah

secara holistik dan integratif yang meliputi:

a. Perencanaan, pengembangan, dan evaluasi program;

b. Pengembangan kurikulum;

c. Pengembangan proses belajar mengajar;

d. Pengelolaan sumber daya manusia (guru, konselor, karyawan, dan sebaginya).

e. Pelayanan siswa;

f. Pengelolaan fasilitas;

g. Pengelolaan keuangan;

h. Pengelolaan hubungan sekolah-masyarakat;

i. Perbaikan program (Komariah dan Triatna, 2006: 5)

2.3.3 Output Sekolah

Sekolah sebagai sistem, seharusnya menghasilkan output yang dapat dijamin kepastiannya (Komariah dan Triatna, 2006: 5). Output dari aktivitas sekolah adalah segala sesuatu yang kita pelajari di sekolah, yaitu seberapa banyak yang dipelajari dan seberapa baik kita mempelajarinya. Output sekolah secara mudah dapat dikatakan sebagai siswa yang berhasil keluar sebagai pemenang dari kegiatan menuntut ilmu yang diakhiri dengan ujian-ujian dan menghasilkan suatu nilai penghargaan, berupa angka-angka nilai.

(9)

berguna bagi kehidupan, yaitu lulusan yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan lingkungannya. Lulusan ini mencakup outcome, yaitu hasil dari investasi pendidikan yang selama ini dijalani siswa untuk menjadi suatu yang berguna dan bermanfaat. Output pendidikan dasar adalah siswa dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

2.3.4 Spesifikasi ModelManajemen Pembelajaran melalui Metode “Stop and Stop”

Model manajemen pembelajaran melalui “Stop andstop”berbasis pendidikan karakter di satuan pendidkan memiliki spesifikasi antara lain: 1.Penerapan proses manajemen yaitu: (perencanaan, pengorganisasian,

pelaksanaan dan pengawasan) pada pembelajaran dapat dijadikan acuan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar agar tujuan kegiatan belajar mengajar dapat tercapai secara efektif dan efisien.

2.Pendidikan anak terintegrasi dalam pembelajaran dan pelaksanaannya harus menggunakan metode yang tepatyang dilakukan pada proses manajemen pembelajaran. Nilai pengajaran pada setiap mata pelajaran yang dilakukan oleh setiap guru sangat membutuhkan metode, cara yang terkandung dalam pembelajaran itu sendiribertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.

3.Penggunaan model pembelajaran melalui metode “stopand stop”diterapkan pada semua pelajaran yang diselenggarakan oleh setiap satuan pendidikan untuk satuan pendidikan di sekolah dasar.

Pola Pelaksanaan Pembelajaran Melalui Metode “stop & stop” di Sekolah

Pengawasa oleh Kepala Sekolah

Tenaga kependidikan

(10)

2.4 Konsep Mutu

Mutu mempunyai pengertian yang bervariasi Seperti ang dikemukakn Nomi pfeffer dan Anna Coote “ mutu merupakan konsep yang licin “ .Mutu mengimplementasikan hal -hal yang berbeda masing masing orang.bahkan semua menyetujui untuk mengungkapkan upaya peningkaan mutu pendidikan. Mutu sebuah ide yang dinamis. Memang makna mutu yang demikian luas akan sedikit membingungkan pemahaman kita. Akan tetapi pemahaman kita konsekwensi praktis yang siknifikan akan muncul dari perbedaan - perbedaan makna tersebut. Denngan demikian mutu membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam. Devinisi relatif mutu memiliki dua aspek yaitu ; Menysuaikan diri dengan spesivikasi dan kedua memenuhi kebutuhan pelanggan. Mutu memilikisebuah sistem yang biasa disebut sistem jaminan mutu “

qualyty

assurance system

“ ( Edward Sallis 2011 : 49 )

2.5 Hakekat Pembelajaran

Menurut aliran behavioristik pembelajaran adalah usaha guru membentuk tingkah lakuyang diinginkandengan menyediakan lingkungan atau stimulus. Aliran kognitif mendifinisikn pmbelajara sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir agar mengnal danmemahami sesuatu yang sedang dipelajari. Adapun humanistik mendiskrifsikan pemblajaran sebgaimemberikan kebebsan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.(Hamdani 2011: 23)

Salah satu pembelajaran adalah membangun gagasan sainstifik setelah siswa berinteraksi dengan lingkungan, peristiwa, dan informasi dari sekitarnya. Pada dasarnya semua siswa memiliki gagasan atau pengetahuan awal yang sudah membangun dlam wujud skemata. Dari pengetahuan awal dan pengalaman yang ada , siswa menggunaka informasi dari lingkungan dlam rangka mengkontruksi interprestasi pribadi serta makna - maknanya. Makna dibangun ketika guru memberikan permasalahan yang relevan dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah ada sebelumnya, memberi kesempatan kepada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri. Untuk membangun maknater sebut, proses belajar mengajar berpusat pada siswa. Berbicara pda konsep pembelajaran maka di dalamnya tidak akan epas yang namanya belajar. Belajar memiliki bentuk - bentuk sesuai karakter anak dan lingkungan belajarnya. Belajar dibedakan menjadi lima bentuk yaitu : (1) Belajar responden, (2) Belajar kontiguitas, (3) belajar operant, (4) belajar observasional dan (5) belajar kognitif .( Ratna Wilis Dahar : 4 ). Di sini peran guru sangat sentral dan vital, sentral dibutuhkan kehadiran guru secara utuh dan karismatik, vital

(11)

sangat penting untuk membentuk karakter anak.Guru harus memiliki minat besar terhadap materi yang mereka ajarkan dan menunjukkan minat yang jelas dan pengharapan yang tinggi bahwa anak - anak juga akan menyukai pelajaran karena antosiasme guru itu menular. ( Barbara K. Given 2007 : 217 )

2.6 Mutu Pendidikan

Dalam Peraturan Menteri Pendidikn Nasional Nomor 63 tahun 2009 tentang sistem penjamin mutu Pendidikan pasal (1) ayat ( 1) memberikan pengertian bahwa mutu pendididkan adalah tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dpat diraih dari penerapan Sitem Pendidikan Nasional .Standar mutu pendidikan di Indonesia ditetapkan dalam suatu standarisasi Nasional dan dikenal dengan standar Nasioanl Pendidikan.

Standar Pendidikan Naioanal tersebut meliputi : (1) Standar Kompentensi Lulusan yang mencakup Sikap, Pengetahuan, dan Ketrampilan. ( 2) Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompentensi yang dituangkan dalam kreteria tentang kompentensi tamatan, kompentensi bahan kajian, kompenten, kompentensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didikpada jenjang dan jenis pendidikan tertentu; (3) Standar proses adalah standar Nasioanal Pendidikan yanag berkaitan dengan pelaksanaan Pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompentensi lulusan. (4). Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan adalah kreteria pendidikan dan kelayakan fisik maupun mental ,serta pendidikan dalam jabatan. ( 5 ). Standar Sarana dan Prasarana adalah standar Nasioanal Pendidikan yang berkaitan dengan kreteria monimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat ibadah, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berekreasi, serta sumber belajar lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran ,termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. ( 6 ) Standar Pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan , Kab / Kota , Propinsiatau Nasional agar tercapai efisiensindan efektifitas penyelenggaraan pendidikan . ( 7) . Standar pembiayaan adalah : Standar yanag mengatur komponen dan besarnya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun ( 8 ) Standar Penilaian Pendidkan adalah ; Standar Nasioanl Pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.

(12)

Mutu Pendidikan menurut Amtu ( 2011 : 22-23 ) , adalah berbagai indikator dan komponen pendidikan yang saling bekaitan . Komponen dan variabel yang menentukan terwujudnya mutu pendidikan yang baik secara umum masih dikaitkan dengan sistem , kurikulum, tenaga pendidikan, peserta didik, proses belajar mengajar, anggaran, sarana prasarana pendidikdn lingkungaan belajar budya organisasi, kepemimpinan dan lain sebagainya.

Menurut Zahroh ( 1014: 58 ) mutu pendidikan harus mengutamakan siswa atau perbaikan program sekolah yang dilakukan secara kreatif dan konstruktif oleh pihak pendidikan . Lembaga pendidikan dikatakan bermutu jika Input , proses, dan output dapatmemenuhi persyaratan yang dituntut oleh pengguna jasa pendidikan. Input yaitu segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya KBM , saran prasarana, program dan harapan ( visi misi dan tujuan ) . Proses yaitu pengambilan keputusan proses pengelolaan kelembagaan , proses pengelolaan program, proses belajar dan mengajar dan proses monitoring dan evaluasi. Output yaitu prestasi sekolah yang dihasilkan dari proses sekolah . Output sekolah dapat dikatakan berkualitas / bermutu tinggi jika pristasi sekolah , kususnya pristasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi. ( 1 ) Pristasi akademik berupa nilai ulangan umum ujian Nasional, karya ilmiah, lomba akademik. dan (2 ) pristasi non akademik seperti kegiatan - kegiatan ekstrakurikuler.

Ditegaskan lebih jauh bahwa mutu Pendidikan adalah kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber sumber pendidikn untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin. Analisis konsep ini lebih menekankan kepada kinerja lembaga, yaitu kecenderungan semakin efektif dalam mendayagunakan sumbr - sumber pendidikan dan semakin baik hasil yang dicapai, maka dapat dikatakan pendidikan tesebut memiliki mutu yang baik.

2.7 Konsep Team Work Teacher ( Kelompok Kerja Guru )

Kelompok Kerja Guru sebenarnya sudah cukup lama mengemuka di kalangan kaum

pendidik.Ini kebanyakan guru menyebutnya KKG. KKG sering kita laksanakan pada setiap

Gugus Sekolah yang terbentuk atas beberapa lembaga Pendidikan atau Sekolah bergabung

menjadi satu dengan nama Gugus sekolah. Keberadaan Gugus Sekolah telah diakui memberi

manfaat yang signifikan bagi pengembangan sistem pembinaan profesional bagi Guru.bahkan

Kepala Sekolah maupun Pengawas Sekolah.

Prinsip pengembangan Gugus Sekolah melalui wadah KKG, KKKS dan KKPS adalah “

dari Guru, Oleh Guru dan untuk Guru “. Artinya semua kegiatan didesain untuk kepentingan dan

pengembangan kompentensi profesional Guru, dilakukan sepenuhnyaoleh para guru di bawah

(13)

semuanya berasal dari guru. Melalui wadah KKG,KKKS dan KKPS semua guru yang ada dapat

saling berbagi dan saling mengisi , mereka yang mempunyai kelebihan berbagi dengan mereka

yang memiliki permasalahan kesulitan mengajar di bidang - bidang tertentu. Sehingga semua

permasalahan dan kesulitan akan bisa terpecahkan tanpa harus bertanya ke sana ke mari. Dalam

kegiatan yang dikembangkan guru di gugus sekolah dikenal dengan “ Tutor Sebaya “ atau istilah

“ peer teaching. “ ( Asep Rachmat , 2009 :

2.8 Penelitian Terdahulu

Rita Dunn, Andrea Honigsfeld dkk (2008) Impact of Learning-Style Instructional Strategies on Students’ Achievement and Attitudes: Perceptions of Educators in Diverse

Institutions ( Dampak Pembelajaran Instruksional dan keragaman gaya dalam peningkatan Pristasi anak ) Hasil dari penelitian ini menyatakan tentang gaya belajar yang diterapkan di dalam masyarakat dan institusi mereka. Dari antara mereka materi diselidiki adalah dampak dari gaya mengajar terhadap praktek, syllabi, dan nilai-nilai dan apakah hal tersebut mampu membangun siswa atau instruksi untuk meningkatkan hasil, bagaimana hal itu meningkatkan persepsi para siswa dan juga hasil belajar mereka, dan bagaimana itu mendukung profesi pendidikan. Persaamaan dari penelitian saya adalah sama-sama mencari solusi bagaimana pembelajaran yang baik guna meningkatkan pristasi anak. Perbedaannya Rita Dunn menekankan pada gaya mengajar sementara saya menekankan pada pembentukan pokja guru.

Penelitianlain tentang peranan guru dalam pembelajaran yang dilakukan oleh Algozzine, Gretes dan Queen (2007) yang berjudul “Beginning Teachers' Perceptions of Their Induction Program Experiences”. ( Persepsi awal Program Induksi Guru ) Hasil dari penelitian yang mereka lakakukan yaitu membahas tentang keberadaan seorang guru yang berkualitas di dalam kelas sangat membantu siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya. Karena dengan adanya guru yang berkualitas tersebut dapat membimbing siswa dalam memaksimalkan kualitas siswa tersebut. Karena dalam pembinaan siswa di sekolah membutuhkan adanya tanggung jawab seorang guru. Penelitian ini menekankan pada karakteristik induksi Guru pemula yang berkualitas, sementara penelitian saya mencakup keberadaan semua guru dalam satu lembaga pendidikan. Persamaannya mempunyai tujuan yang sama yaitu berusaha meningkatkan mut pembelajran di Sekolah.

(14)

berkualitas dengan meningkatkan kualitas guru yang dapat menghasilkan keuntungan yang cukup besar dalam kinerja murid serta membuat kebijakan yang tepat untuk mengubah gaya guru dalam mengajar. Dalam penelitian ini menekankan dari segi biaya seolah sedang penelitian saya menekankan pada kekompakan kerja. Kesamaannya bermuara pada mutu Sekolah.

Penelitian yang dilakukan oleh Theresia Sri Rahayau ( 2013 ) dengan penelitian yang berjudul “ Evaluasi Program Pengembangan Profesional Guru Melalui KKG Di Gugus Imam Bonjol Kec. Sidorejo Kota Salatiga “ guru Dalam Penelitian ini dijelaskan bahwa melalui kegiatan KKG ( Team Work Theacher ‘ yang diadakan pada masing - masing gugus sekolah membawa dampak positif guna peningkatan cara belajar dan mengajar yang baik. Ini membawa dan meningkatkan kualitas belajar siswa. Pada peneliti ini mengarah evaluasi program KKG / POKJA Guru penelitian saya pengembangan POKJA Guru. Persamaannya pada Kelompok Kerja Guru.

Arifah Haryati ( 2015 ) dengan penelitian yang berjudul “ Strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan Mutu Pendidikan pada Sekolah Dasar “ Dalam Penelitian ini dijelaskan bahwa melalui Setrategi Kepemimpinan Kepala Sekolah yang Bijak dan transparan akan dapat memperoleh mutu Pendidikan yang baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Sulasmi ( 2015 ) yang berjudul “ Strategi Peningkatan Mutu Sekolah di SD Negeri 2 Jampiroso Temanggung “ Dalam penelitiannya membukikan bahwa setrategi yang dikembangkan sekolah membawa peningkatan mutu sekolah sesuai harapan . Penelitian yang dilakukan Arifah Haryati berfokus pada setrategi Kepala Sekolah sementara saya pada setrategi semua Guru. Persamaanya bertujuan untuk meningkatkan mutu Sekolah dan pembelajaran maupun prestasi siswa.

Pada awal sebelum Melakukan setrategi Pembelajaran guru banyak yang mengajar belum optimal sebagaimana pada standar proses dan Permendikbud 103 tahun 2014 tentang Pelaksanaan Pembelajaran pada Pendidikan Dasar dan Menengah, oleh karena itu diadakan Solusi dan setrategi Pembelajaran dengan merancang model kelompok kerja guru sesuan karakter, kemampuan maupun bidang penguasaan masing - masing guru, agar dalam memberikan pembelajaran dan bimbingan bisa optimal yang mengarah ke dalam kemajuan Pembelajaran dan Manajemen Sekolah.

2.9 Hipotesis Pengembangan

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir di atas, maka dapat disimpulkan

sementara (hipotesis) sebagai berikut : “Bahwa pengembangan manajemen Pendidikan dengan

model Team Work Theacher ( pokja guru ) .dapat meningkatkan kompetensi guru dalam

(15)

karakter dan kemampuan yag dimiliki guru di bidang yang dikuasai masing - masingdengan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...