LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA
TAHUN 2012 NOMOR 1
PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA
NOMOR 1 TAHUN 2012
TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH
(RPJMD)
KOTA SALATIGA TAHUN 2011-2016
PEMERINTAH KOTA SALATIGA
TAHUN 2012
PEMERINTAH KOTA SALATIGA
PERATURAN DAERAH KOTA SALATIGA NOMOR 1 TAHUN 2012
TENTANG
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA SALATIGA TAHUN 2011–2016
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SALATIGA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka menjabarkan visi, misi dan program Walikota Salatiga serta untuk menjamin keterpaduan dan konsistensi perencanaan pembangunan daerah Kota Salatiga mengacu pada perencanaan pembangunan nasional dan Provinsi Jawa Tengah dengan memperhatikan kondisi lingkungan strategis daerah dan hasil evaluasi pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah periode sebelumnya, perlu adanya perencanaan pembangunan daerah Kota Salatiga untuk periode 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2016;
b. bahwa untuk maksud tersebut pada huruf a sesuai ketentuan Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, perlu menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Salatiga Tahun 2011–2016;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Salatiga Tahun 2011–2016;
Mengingat : 1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 18 ayat (6) yang berbunyi “Pemerintah daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan’;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kota Kecil dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat;
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
5. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5237);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1992 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga dan Kabupaten Daerah Tingkat II Semarang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3500);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4807);
8. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014;
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
10. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 4 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2013 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 21);
11. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029 (Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 28);
12. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 4 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Salatiga Tahun 2007-2012 (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2007 Nomor 4);
13. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 8 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Kota Salatiga (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2008 Nomor 8);
14. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan
Nomor 9), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 7 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Salatiga (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2011 Nomor 7);
15. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Salatiga (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2008 Nomor 10), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Salatiga (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2011 Nomor 8);
16. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 11 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu, dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Salatiga (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2008 Nomor 11), sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 9 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 11 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu, dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Salatiga (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2011 Nomor 9);
17. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan Kota Salatiga (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2008 Nomor 12);
18. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Salatiga Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2010 Nomor 6);
19. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 4 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Salatiga Tahun 2010-2030 (Lembaran Daerah Kota Salatiga Tahun 2011 Nomor 4);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA SALATIGA dan
WALIKOTA SALATIGA MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN
JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA SALATIGA TAHUN 2011–2016.
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kota Salatiga.
2. Pemerintah Daerah adalah Walikota dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.
3. Walikota adalah Walikota Salatiga.
4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014, yang selanjutnya disingkat RPJMN Tahun 2010-2014, adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 5 (lima) tahun.
5. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2013, yang selanjutnya disingkat RPJMD Provinsi Jawa Tengah, adalah dokumen perencanaan daerah Provinsi Jawa Tengah untuk periode 5 (lima) tahun.
6. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025, yang selanjutnya disingkat RPJPD Tahun 2005-2025, adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun.
7. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat RPJMD, adalah dokumen perencanaan daerah untuk periode 5 (lima) tahun.
8. Rencana Kerja Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disingkat RKPD, dokumen perencanaan daerah untuk periode 1 (satu) tahun.
9. Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD, adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah.
10. Rencana Strategis SKPD, yang selanjutnya disingkat Renstra SKPD, adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun.
BAB II
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Pasal 2
RPJMD Tahun 2011-2016 merupakan dokumen perencanaan pembangunan Daerah sebagai landasan dan pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan pembangunan 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan pelaksanaannya lebih lanjut dituangkan dalam RKPD.
Pasal 3
Sistematika RPJMD disusun sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN
BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN
BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN BAB XI PENUTUP
Pasal 4
RPJMD Tahun 2011-2016 berikut matriknya sebagaimana tercantum dalam Lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Pasal 5
(1) RPJMD Tahun 2011-2016 merupakan penjabaran visi, misi, dan program Walikota hasil pemilihan umum Walikota tahun 2011.
(2) RPJMD Tahun 2011-2016 berpedoman pada RPJPD Tahun 2005-2025 dan memperhatikan RPJMN Tahun 2010-2014 serta RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008-2013.
Pasal 6
RPJMD Tahun 2011-2016 merupakan dokumen perencanaan pembangunan Daerah sebagai landasan dan pedoman bagi Pemerintah Daerah dalam penyusunan Rencana Strategis dan sebagai acuan pelaksanaan pembangunan 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan pelaksanaan lebih lanjut dituangkan dalam RKPD.
Pasal 7
RPJMD Tahun 2011-2016 wajib dilaksanakan oleh Walikota dalam rangka penyelenggaraan pembangunan di Daerah.
Pasal 8
RPJMD Tahun 2011-2016 menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun Renstra SKPD dan sebagai acuan bagi seluruh pemangku kepentingan di Daerah dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan selama periode tahun 2011 sampai dengan tahun 2016.
BAB III
PENGENDALIAN DAN EVALUASI Pasal 9
(1) Walikota melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD Tahun 2011-2016.
(2) Tata cara pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD dilaksanakan sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
Pasal 10
RKPD Tahun 2011 dan RKPD Tahun 2012 yang ditetapkan sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini berpedoman pada RPJMD Tahun 2007-2012.
Pasal 11
RPJMD Tahun 2011-2016 dapat diberlakukan sebagai pedoman penyusunan RKPD Tahun 2017 sebelum tersusunnya RPJMD Tahun 2016-2021 yang memuat visi dan misi Walikota hasil pemilihan umum Walikota tahun 2016.
BAB V
KETENTUAN PENUTUP Pasal 12
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Salatiga.
Ditetapkan di Salatiga pada tanggal 29 Mei 2012
WALIKOTA SALATIGA, cap ttd
YULIYANTO Diundangkan di Salatiga
pada tanggal 29 Mei 2012
SEKRETARIS DAERAH KOTA SALATIGA, cap ttd
AGUS RUDIANTO
LEMBARAN DAERAH KOTA SALATIGA TAHUN 2012 NOMOR 1 Sesuai dengan aslinya :
KEPALA BAGIAN HUKUM SETDA KOTA SALATIGA
cap ttd
ARDIYANTARA, SH. MH. Pembina Tk. I
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR GAMBAR DAN GRAFIK ... iii
DAFTAR TABEL ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Landasan Hukum ... 4
1.3. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya 7 1.4. Sistematika Penulisan ... 9
1.5. Maksud dan Tujuan ... 12
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH ... 14
2.1. Gambaran Umum Wilayah Kota Salatiga ... 16
2.1.1. Letak, Luas dan Batas Wilayah ... 16
2.1.2. Topografi ... 18
2.1.3. Klimatologi ... 19
2.1.4. Kondisi Tata Ruang ... 19
2.2. Demografi dan Kependudukan ... 25
2.3. Aspek Kesejahteraan Masyarakat ... 26
2.4. Aspek Perekonomian Daerah ... 32
2.5. Aspek Daya Saing Daerah ... 40
2.6. Gambaran Tentang Aspek Potensi Rawan Bencana ... 41
2.7. Gambaran Tentang Aspek Pelayanan Umum ... 43
BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN ... 56
3.1. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah ... 57
3.1.1. Kebijakan Anggaran Pendapatan ... 57
3.1.2. Kebijakan Anggaran Belanja ... 59
3.1.3. Kebijakan Anggaran Pembiayaan ... 60
3.2. Analisis Kinerja Keuangan Daerah ... 61
3.2.1. Analisis Pendapatan Daerah ... 62
3.2.2. Analisis Belanja Daerah ... 66
3.2.3. Analisis Pembiayaan Daerah ... 72
3.2.3.1. Arus Kas Bebas (Free Cash Flow) ... 72
3.2.3.2. Analisis Sisa Lebih Perhitungan Anggaran ... 73
3.2.3.3. Dana Cadangan ... 74
3.2.4. Analisis Neraca Daerah ... 74
3.2.5. Analisis Rasio Kinerja Keuangan Daerah ... 79
3.2.6. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah ... 79
3.2.6.1. Derajat Desentralisasi ... 80
3.2.6.2. Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah ... 80
3.2.6.3. Rasio Efektifitas PAD ... 81
3.2.6.4. Rasio Efektifitas Pajak Daerah ... 82
3.2.6.5. Rasio Efektifitas Retribusi Daerah ... 83
3.3. Analisis Kerangka Pendanaan ... 84
3.4. Permasalahan Umum dan Opsi Kebijakan Keuangan Daerah ... 85
BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS ... 88
4.1. Permasalahan Pembangunan ... 88
4.2. Isu Strategis ... 89
BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH .... 90
5.1. Visi ... 90
5.2. Misi ... 92
5.3. Tujuan dan Sasaran ... 106
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH ... 115
6.1. Strategi Pembangunan Daerah ... 115
6.1.1. Analisis Lingkungan Internal ... 125
6.1.2. Analisis Lingkungan Eksternal ... 128
6.2. Arah Kebijakan Pembangunan Daerah ... 130
BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH .. 150
BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN ... 257
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA ... 339
BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAN ... 385
9.1. Pedoman Transisi ... 385
9.2 Kaidah Pelaksanaan ... 385
DAFTAR
GAMBAR DAN GRAFIK
Gambar 1.1. Keterkaitan Hubungan Antar Dokumen Perencanaan ... 8
Gambar 2.1. Peta Kota Salatiga ... 17
Gambar 2.2. Peta Struktur Ruang Kota Salatiga ... 22
Gambar 2.3. Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Salatiga Tahun 2007-2010 (Atas Dasar Harga Konstan 2000) ... 33
Gambar 2.4. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 dan Atas Dasar Harga Berlaku di Kota Salatiga Tahun 2007-2010 (%) ... 33
Gambar 2.5. Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto Kota Salatiga Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (Persen) ... 35
Gambar 2.6. Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto Kota Salatiga Tahun 2007-2010 Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 ... 36
Gambar 2.7. PDRB Perkapita Penduduk Kota Salatiga Tahun 2007-2010 37 Gambar 2.8. Grafik Perbandingan Laju Inflasi Nasional, Kota Semarang Kota Salatiga dan Kota Surakarta 2007-20010 (%) ... 38
Gambar 2.9. Peta Rawan Bencana Kota Salatiga ... 42
Grafik 3.1. Rasio Kemandirian Keuangan Daerah ... 79
Grafik 3.2. Derajat Desentralisasi ... 80
Grafik 3.3. Rasio Ketergantungan Keuangan Daerah ... 81
Grafik 3.4. Rasio Efektifitas PAD ... 82
Grafik 3.5. Rasio Efektifitas Pajak Daerah ... 83
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Luas Wilayah Kota Salatiga
Menurut Kecamatan dan Kelurahan Tahun 2010 ... 18
Tabel 2.2. Tabel Perkebunan, Perikanan dan Peternakan ... 24
Tabel 2.3. Tabel Ketersediaan Energi dan Protein ... 25
Tabel 2.4. Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kelurahan Tahun 2010 ... 25
Tabel 2.5. Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin ... 25
Tabel 2.6. Tabel Data UMK dan Data KHL ... 27
Tabel 2.7. Indeks Pembangunan Manusia di Kota Salatiga ... 31
Tabel 2.8. Indeks Pembangunan Manusia Kota Salatiga Dibandingakan dengan Kabupaten/Kota di Sekitarnya dan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 ... 32
Tabel 2.9. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Kota Salatiga Tahun 2007-2010 (Juta Rupiah) ... 34
Tabel 2.10. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kota Salatiga Tahun 2007-2010 (Juta Rupiah) ... 35
Tabel 2.11. Laju Inflasi Menurut Kelompok Jenis Barang dan Jasa Kota Salatiga Tahun 2007-2010 ... 37
Tabel 2.12. Tabel Jumlah Perusahaan Industri Besar dan Sedang ... 38
Tabel 2.13. Tabel Jumlah Tenaga Kerja dan Investasi ... 39
Tabel 2.14. Jumlah Pencari Kerja (Pencari Kartu Kuning) Menurut Pendidikan Kota Salatiga Tahun 2006-2010 ... 41
Tabel 2.15. Aspek dan Fokus Gambaran Umum Kondisi Daerah Menurut Bidang Urusan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Kota Salatiga ... 44
Tabel 3.1. Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2007 s/d 2011 Kota Salatiga ... 63
Tabel 3.2. Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Kota Salatiga ... 66
Tabel 3.3. Pengeluaran Wajib dan Mengikat seta Prioritas Utama Kota Salatiga ... 69
Tabel 3.4. Realisasi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Apartur Kota Salatiga, 2009-2011 ... 70
Tabel 3.5. Realisasi dan Proyeksi Pendapatan dan Belanja Daerah
Kota Salatiga ... 71
Tabel 3.6. Analisis Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Kota Salatiga Tahun 2007-2011 ... 73
Tabel 3.7. Ringkasan Neraca Pemerintah Kota Salatiga Per 31 Desember 2008 dan 2009 ... 76
Tabel 3.8. Permasalahan Umum dan Opsi Kebijakan Keuangan Daerah ... 85
Tabel 5.1. Penjelasan Visi ... 91
Tabel 5.2. Tujuan dan Sasaran Pada Setiap Misi Kota Salatiga ... 108
Tabel 6.1. Identifikasi SWOT ... 116
Tabel 6.2. Penentuan Alternatif Srategi dan Indikator Sasaran ... 117
Tabel 6.3. Strategi dan Arah Kebijakan Kota Salatiga ... 131
Tabel 7.1. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Kota Salatiga Tahun 2011-2016 ... 158
Tabel 8.1. Indikasi Rencana Program Prioritas Yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Kota Salatiga ... 262
B
BAABB II P
PEENNDDAAHHUULLUUAANN
1.1. Latar Belakang
Pembangunan daerah sebagai bagian dari pembangunan nasional merupakan rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat dalam rangka perwujudan tujuan daerah dan tujuan nasional. Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional, maka pengelolaannya harus dilakukan secara terarah dan terpadu dengan pembangunan nasional. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Pasal 1 menyatakan bahwa Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, menengah dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Sementara itu, Pasal 5 menyatakan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan penjabaran visi, misi dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMN), memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), lintas SKPD dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
Selanjutnya sistem perencanaan pembangunan daerah harus mengacu pada prinsip-prinsip perencanaan pembangunan yang merupakan :
1) satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional; 2) dilakukan pemerintah daerah bersama para pemangku
kepentingan berdasarkan peran dan kewenangan masing-masing; 3) mengintegrasikan rencana tata ruang dengan rencana
pembangunan daerah;
4) dilaksanakan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah, sesuai dinamika perkembangan daerah
dan nasional. RPJMD adalah pedoman pokok pembangunan untuk kurun waktu lima tahun yang merupakan penjabaran visi dan misi Walikota terpilih.
RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 ini sesuai dengan masa jabatan kepala daerah terpilih terhitung sejak dilantik, dan pada peralihan periode kepemimpinan maka RPJMD lama yang akan berakhir menjadi pedoman sementara bagi pemerintahan kepala daerah terpilih sebelum ada RPJMD baru.
Penyusunan RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, dengan berbagai turunan peraturan pelaksanaannya, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 disusun dengan tahapan sebagai berikut :
1) Persiapan penyusunan RPJMD;
2) Penyusunan rancangan awal RPJMD; 3) Penyusunan rancangan RPJMD; 4) Pelaksanaan musrenbang RPJMD; 5) Perumusan rancangan akhir RPJMD;
6) Penetapan Peraturan Daerah tentang RPJMD.
Proses penyusunan RPJMD Kota Salatiga tahun 2011-2016 telah diawali dengan proses teknokratik, yaitu menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah dan proses politik yaitu program-program pembangunan daerah yang ditawarkan Walikota terpilih yang dituangkan didalam visi dan misi. Melalui pengumpulan dan pengolahan data sekunder dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan instansi lain terkait tersusunlah rancangan awal RPJMD
yang kemudian disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk memperoleh kesepakatan. Dari kesepakatan tersebut disusun Rancangan RPJMD sebagai pedoman untuk menyusun Renstra SKPD dan bahan pelaksanaan musrenbang RPJMD. Pelaksanaan perencanaan partisipatif dan pendekatan top-down dan bottom-up melalui musrenbang RPJMD merupakan upaya penyerapan aspirasi masyarakat/stakeholder sehingga tercipta sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran rencana pembangunan daerah.
Sebagai dokumen perencanaan pembangunan daerah, RPJMD disusun mengacu kepada berbagai dokumen perencanaan terkait, baik yang dihasilkan oleh komponen vertikal maupun horizontal. Dokumen perencanaan komponen vertikal yang digunakan sebagai acuan adalah RPJPN dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi/Kota, RPJMN dan RPJMD Provinsi, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional/Provinsi/Kota, dan dokumen perencanaan lainnya yang disusun secara sektoral. Maksud memperhatikan RPJMN adalah untuk menyelaraskan pencapaian visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan :
1) arah, kebijakan umum dan prioritas pembangunan nasional; 2) arah, kebijakan, dan prioritas bidang-bidang pembangunan; 3) pembangunan kewilayahan.
Memperhatikan RPJMD provinsi juga merupakan hal yang penting untuk melakukan penyelarasan pencapaian visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan program pembangunan jangka menengah daerah Kota dengan arah, kebijakan, prioritas pembangunan jangka menengah Provinsi. Sedangkan dokumen horizontal yang dapat digunakan antara lain RTRW, Rencana Aksi Daerah Millenium Development Goals (RAD MDGs), dan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD). Oleh karena itu, sebagai bahan masukan dalam merumuskan kerangka kebijakan dan strategi pembangunan Kota Salatiga, sebagai acuan jangka pendek maupun jangka menengah dengan ketentuan perundang-undangan, memandang perlu menyusun dokumen RPJMD, yang menjadi
landasan hukum bagi perencanaan pembangunan daerah dalam bidang ekonomi, fisik, sosial dan budaya.
1.2. Landasan Hukum
RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 adalah dokumen resmi yang menjadi payung hukum dalam perencanaan pembangunan daerah. Landasan hukum penyusunan RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kota Kecil dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan;
4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008;
6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah; 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; 9. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1992 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga dan Kabupaten Daerah Tingkat II Semarang;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota; 18. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi
Perangkat Daerah;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;
20. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan;
21. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
22. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
23. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014; 24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011;
25. Peraturan Menteri Dalam negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
26. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah;
27. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131.33-503 Tahun 2011 tentang Pengesahan Pemberhentian dan Pengesahan Pengangkatan Walikota Salatiga Provinsi Jawa Tengah;
28. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 3 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005-2025;
29. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029;
30. Peraturan Gubernur Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Percepatan Pencapaian Target RAD MDG’s Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011-2015;
31. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;
32. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 4 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Salatiga Tahun 2007-2012;
33. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 8 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Kota Salatiga;
34. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 7 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Salatiga;
35. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 10 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Salatiga;
36. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 9 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 11 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah, Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Salatiga;
37. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 12 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kecamatan dan Kelurahan Kota Salatiga;
38. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 4 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Pendidikan;
39. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 6 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Salatiga Tahun 2005-2025;
40. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 2 Tahun 2011 tentang Pajak Air Tanah;
41. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Salatiga Tahun 2010-2030. 42. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 5 Tahun 2011 tentang
Penyelenggaraan Pelayanan Publik;
43. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah;
44. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 12 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum;
45. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 13 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Usaha;
46. Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 14 Tahun 2011 tentang Retribusi Perizinan Tertentu.
1.3. Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya
Sistem perencanaan pembangunan adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat baik di tingkat pusat maupun daerah. Dalam hal ini keterkaitan suatu dokumen perencanaan dengan dokumen perencanaan lainnya sangat menentukan dan diupayakan saling bersinergi. Sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, mengenai ruang lingkup Perencanaan Pembangunan Nasional maka dokumen perencanaan terdiri atas RPJPN Tahun 2005-2025, RPJMN Tahun 2009-2014, Rencana Strategis Kementerian/Lembaga, Rencana Kerja Pemerintah (RKP), dan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga. Sejalan dengan payung hukum perencanaan di tingkat pusat, maka dokumen perencanaan daerah meliputi RPJPD dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 pasal 5 ayat 2, RPJMD merupakan rencana strategis daerah, yang terdiri dari strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, arah kebijakan keuangan
daerah, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), lintas SPKD dan lintas kewilayahan yang memuat kerangka regulasi dan kerangka anggaran.
Rencana Strategis (Renstra) SKPD disusun berpedoman pada RPJMD yang isinya antara lain visi, misi, tujuan, strategi dan pencapaian tujuan. Renstra SKPD juga memuat program-program dan kegiatan indikatif. Renstra SKPD dijabarkan dalam Rencana Kerja (Renja) SKPD. Renstra SKPD berisi Kebijakan SKPD dan program kegiatan pembangunan. Program Kegiatan pembangunan disusun sebagai acuan untuk pelaksanaan pembangunan dan mendorong partisipasi masyarakat. Kaitannya dengan sistem keuangan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, maka RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 akan dijabarkan ke dalam RKPD untuk setiap tahunnya, dan dapat dijadikan pedoman bagi penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kota Salatiga. Adapun keterkaitan hubungan antar dokumen perencanaan dapat dilihat dalam gambar sebagai berikut :
Gambar 1.1.
Keterkaitan Hubungan Antar Dokumen Perencanaan
RKPD Renstra SKPD Renja SKPD RKA SKPD RKP RAPBD KUA+PPAS RPJP Nasional RPJPD RPJM Nasional RPJMD
Sumber : Permendagri No.54 Tahun 2010
Proses penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Salatiga Tahun 2011-2016 dilakukan melalui beberapa tahap yaitu :
1) Proses Teknokratik : menggunakan metoda dan kerangka berpikir ilmiah yang merupakan proses keilmuan dalam memperoleh pengetahuan secara sistematis terkait perencanaan pembangunan berdasarkan bukti fisik, data dan informasi yang akurat, serta
dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah;
2) Proses Partisipatif : perencanaan yang melibatkan stakeholders yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta, dimana keterlibatan mereka adalah untuk mendapatkan aspirasi dan menciptakan konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan, seperti perumusan prioritas isu dan permasalahan, perumusan tujuan, strategi, kebijakan dan prioritas program;
3) Proses Politik : pemilihan langsung Walikota dan Wakil Walikota menghasilkan rencana pembangunan hasil proses politik (public choice theory of planning) khususnya penjabaran visi dan misi dalam RPJMD. Oleh karena itu, rencana pembangunan adalah penjabaran dari agenda pembangunan yang ditawarkan Walikota pada saat kampanye kedalam rencana pembangunan jangka menengah dan merupakan kontrak politik antara masyarakat dan Walikota terpilih;
4) Proses Bottom-Up dan Top-Down : pendekatan dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah dalam perencanaan dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan serta rencana hasil proses dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah yang diselaraskan melalui Musrenbang yang dilaksanakan baik di tingkat nasional, propinsi, kota, kecamatan dan kelurahan, sehingga tercipta sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah.
1.4. Sistematika Penulisan
Sebagai dokumen publik RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 memuat visi, misi, dan program kepala daerah, arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program SKPD, program lintas SKPD, program kewilayahan, rencana kerja dalam kerangka regulasi yang bersifat indikatif dan rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah maka sistematika
penyusunan dokumen perencanaan jangka menengah untuk daerah dalam dokumen RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Menguraikan secara ringkas latar belakang, landasan hukum, hubungan RPJMD dengan dokumen perencanaan lainnya, sistematika penulisan dan maksud serta tujuan penyusunan RPJMD.
BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar analisis, gambaran umum kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah.
BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN
Menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis terhadap pengelolaan keuangan daerah, kinerja pelaksanaan APBD, neraca daerah, proporsi penggunaan anggaran, analisis pembiayaan, analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama dan penghitungan kerangka pendanaan. Bab ini juga menguraikan perkembangan pendapatan dan belanja tidak langsung, proporsi sumber pendapatan, pencapaian kinerja pendapatan, dan gambaran realisasi belanja daerah, serta menguraikan perkembangan neraca daerah.
BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
Analisis isu-isu strategis merupakan salah satu bagian terpenting dokumen RPJMD karena menjadi dasar utama visi dan misi pembangunan jangka menengah. Oleh karena itu, penyajian analisis ini harus dapat menjelaskan butir-butir penting isu-isu strategis yang akan menentukan kinerja pembangunan dalam lima tahun mendatang. Penyajian isu-isu strategis meliputi permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis.
BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH
Menguraikan visi dan misi Kepala Daerah terpilih, menjelaskan hubungan setiap tujuan dan sasaran yang ditetapkan dengan isu strategis daerah serta menjelaskan hubungan setiap strategi dengan arah dan kebijakan dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran yang ditetapkan.
BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH
Menjelaskan berbagai strategi dan kebijakan pembangunan daerah yang diambil dalam rangka mengimplementasikan visi dan misi Kepala Daerah. Strategi disusun dalam konteks pengembangan spasial dan sektoral sebagai landasan bagi perumusan program dan kegiatan pembangunan.
BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH
Menguraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih dengan target capaian indikator kinerja dan menjelaskan tentang hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator kinerja yang dipilih.
BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN
Menguraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD dan disajikan pula pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal periode perencanaan.
BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH
Memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah pada akhir periode masa jabatan. Hal ini ditunjukan dari akumulasi pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.
BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN
Menjelaskan program transisi untuk kurun waktu satu tahun, disiapkan untuk melayani perencanaan pembangunan pasca masa kerja Kepala Daerah terpilih. Program disusun untuk menjembatani kekosongan RPJMD pada masa pemilihan Kepala Daerah. Program disiapkan untuk dapat dilaksanakan oleh pejabat Kepala Daerah hingga terpilih dan ditetapkannya Kepala Daerah yang akan menjabat untuk masa lima tahun berikutnya. Selain itu, bab ini juga membahas kaidah-kaidah pelaksanaan RPJMD, sebagai pedoman bagi
tersusunnya dokumen perencanaan di satuan-satuan kerja pemerintah daerah, seperti Renstra SKPD dan RKPD.
BAB X PENUTUP 1.5. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan dokumen RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 adalah :
1) Memberikan landasan kebijakan strategis dalam kerangka pencapaian visi, misi dan program Walikota;
2) Memastikan keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pada setiap tahun anggaran selama lima tahun yang akan datang serta keterkaitan dan konsistensi dokumen RPJMD dengan dokumen perencanaan pembangunan lainnya, baik secara vertikal maupun horisontal, sekaligus juga sebagai pedoman dalam melihat dan memelihara konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan;
3) Merupakan acuan bagi SKPD dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Salatiga;
4) Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi dan sinergi antar pelaku pembangunan;
5) Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efektif, efisien, berkeadilan dan berkelanjutan;
6) Memberikan tolok ukur dan mempermudah untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan setiap SKPD.
Tujuan penyusunan dokumen RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 adalah sebagai berikut :
1) Menjabarkan visi dan misi Walikota Salatiga kedalam bentuk strategi, kebijakan, program dan kegiatan;
2) Memberikan arah pembangunan dalam jangka lima tahun ke depan;
3) Menjamin keterkaitan dan konsistensi dokumen RPJMD dengan dokumen perencanaan pembangunan lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal, sekaligus juga sebagai pedoman dalam melihat dan memelihara konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan;
4) Mengoptimalkan penggunaan sumber daya secara efektif, efisien, berkeadilan, dan berkelanjutan, sejalan dengan upaya menggeser ketergantungan pada pemanfaatan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui kepada pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui;
5) Mengidentifikasi isu-isu pembangunan dan kebijakan perencanaan pembangunan daerah, sehingga betul-betul bisa berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, dalam rangka mengoptimalkan partisipasi masyarakat;
6) Melakukan analisis kebijakan perencanaan pembangunan daerah, untuk dapat merumuskan arah kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah yang menjamin tercapai pemanfaatan sumber daya secara optimal tersebut di atas;
7) Membagi pencapaian sasaran setiap SKPD dalam rangka mewujudkan visi dan misi Walikota, sehingga tercipta sinkronisasi dan sinergitas pemahaman antar pelaku pembangunan, baik secara lintas ruang, maupun lintas kegiatan;
8) Meletakkan landasan kokoh dan kuat untuk mencapai Kota Salatiga untuk masa depan yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin;
9) Menjadi tolok ukur untuk mengukur dan melakukan evaluasi kinerja tahunan setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah.
B
BAABBIIII
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
Sejarah Kota Salatiga diawali dengan penetapan tanah perdikan terhadap sebuah desa yang bernama Hampra pada tanggal 24 Juli 750 Masehi. Pemberitaan tersebut tertulis dalam sebuah prasasti yang ditemukan di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, yang dikenal dengan Prasasti Plumpungan atau Prasasti Hampran. Prasasti tersebut berukuran panjang 170 cm, lebar 160 cm dengan garis lingkar 5 m, terbuat dari batu andesit. Prasasti tersebut berbahasa Sansekerta dan berhuruf Jawa Kuno terdapat tulisan yang berbunyi: //Srīr = astu swasti prajābyah śakakālātīta, yang artinya kurang lebih sebagai berikut : semoga bahagia dan selamatlah rakyat sekalian.
Dalam perkembangannya Kota Salatiga yang mempunyai posisi geografis sangat strategis, yaitu menjadi salah satu phery-phery (kota pendukung) pada Kawasan Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang) memfungsikan sebagai Kota Pendidikan dan Olah Raga, Kota Transit Pariwisata serta Kota Perdagangan dan Jasa yang selanjutnya dikenal dengan Tri Fungsi Kota Salatiga.
Sehubungan dengan hal tersebut, secara implisit makna yang terkandung dalam //Srīr = astu swasti prajābyah śakakālātīta pada Prasasti Plumpungan maupun Trifungsi Kota Salatiga sebagai kota pendidikan dan olah raga, kota transit pariwisata, maupun kota perdagangan dan jasa, dapat dirasakan sejalan dan senafas dengan visi dan misi Walikota Salatiga terpilih yaitu mewujudkan Kota Salatiga SMART Sejahtera, Mandiri, dan Bermartabat.
Gambaran umum kondisi daerah Kota Salatiga ini disusun dengan berpedoman pada Lampiran I dan Lampiran III Permendagri No. 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Namun karena faktor keterbatasan kapasitas fiskal dan untuk memberi fokus yang lebih tajam kepada isi RPJMD Kota Salatiga Tahun 2011-2016 ini, maka data dan informasi yang disajikan di dalam Bab II ini dibatasi hanya pada data dan informasi yang menyangkut isu-isu strategis yang akan ditampung pada rancangan APBD Kota Salatiga selama lima tahun ke depan. Data dan informasi tentang
bidang pemerintahan yang tidak dianggap prioritas tidak dicantumkan di dalam Bab II ini.
Selain itu, penyajian data dan informasi pada Bab II ini juga dilakukan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip perencanaan sebagai berikut :
1) Klasifikasi Data dan Informasi. Mengumpulkan data dan informasi
sebanyak mungkin dan memilahnya menjadi data dan informasi yang relevan dengan Visi dan Misi Walikota terpilih serta sesuai dengan batas kewenangan Pemerintah Daerah Kota Salatiga, sebagaimana diatur di dalam Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 8 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Kota Salatiga dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi setiap SKPD, sebagaimana telah diatur di dalam beberapa Peraturan Daerah Kota Salatiga tentang organisasi dan tata kerja perangkat daerah.
2) Analisis dan Penyajian Data dan Informasi. Melakukan analisis data
sesuai skala prioritas dan mensinergikan kemampuan keuangan daerah sepanjang periode 2011-2016 dengan data dan informasi yang dianggap paling prioritas. Menyajikan sebagian data ke dalam narasi dan sebagian lagi ke dalam matriks dalam rangka memudahkan penerjemahan data dan informasi.
3) Penguraian Data dan Informasi. Menguraikan data dan informasi pada
Bab II ini dalam bentuk narasi negatif. Maksudnya adalah bahwa data dan informasi yang tersaji di dalam Bab II ini hanya mencakup aspek-aspek yang perlu ditangani selama lima tahun ke depan secara terfokus dan terencana. Data dan informasi yang diuraikan mencakup kondisi infrastruktur yang ada, kondisi kesejahteraan masyarakat, dan ketersediaan fasilitas pelayanan publik.
4) Penggunaan Tabel dan Matriks. Untuk memudahkan proses analisis
data dan informasi dan dalam rangka menuangkannya ke dalam bentuk pernyataan target kinerja dan arah kebijakan umum pembangunan daerah, maka sebagian data dan informasi yang disajikan di dalam bab ini dilakukan dengan menggunakan tabel dan matriks sebagai alat bantunya. Data dan informasi yang disajikan di dalam bab ini terdiri dari data dan informasi turunan kewenangan setiap SKPD, dengan menggunakan Lampiran I Permendagri No. 54 tahun 2010 sebagai rujukan.
2.1. Gambaran Umum Wilayah Kota Salatiga 2.1.1. Letak, Luas, dan Batas Wilayah
Kota Salatiga terletak dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Secara juridis formal, Kota Salatiga terbentuk sejak diberlakukannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kota-Kota Kecil dalam lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1992 tentang perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga dan Kabupaten Daerah Tingkat II Semarang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3500).
Secara astronomi terletak antara 110.27’.56,81” - 110.32’.4,64” Bujur Timur dan terletak di antara 007.17’ dan 007.17’.23” Lintang Selatan, secara morfologis berada di daerah cekungan, kaki gunung Merbabu diantara gunung-gunung kecil antara lain Gajahmungkur, Telomoyo dan Payung Rong, secara administrasi dikelilingi wilayah kabupaten Semarang antara lain :
1) Sebelah Utara : Kecamatan Pabelan (Desa Pabelan dan Desa Pejaten) dan Kecamatan Tuntang (Desa Kesongo, Desa Watuagung);
2) Sebelah Selatan : Kecamatan Getasan (Desa Sumogawe, Desa Samirono dan Desa Jetak) dan Kecamatan Tengaran (Desa Patemon dan Desa Karangduren);
3) Sebelah Barat : Kecamatan Tuntang (Desa Candirejo, Desa Jombor, Desa Sraten dan Desa Gedangan) dan Kecamatan Getasan (Desa Polobogo);
4) Sebelah Timur : Kecamatan Pabelan (Desa Ujung-Ujung, Desa Sukoharjo dan Desa Glawan) dan Kecamatan Tengaran (Desa Bener, Desa Tegal Waton dan Desa Nyamat).
Kota Salatiga dilalui oleh jalan arteri primer (jalan nasional) yang menjadi perlintasan dua kota besar di Jawa Tengah, yakni Semarang dan Surakarta. Kota Salatiga juga perlintasan dari Jawa Timur (jalur tengah) ke Semarang dan Jawa Barat sehingga transportasi darat melalui Salatiga cukup ramai. Salatiga berjarak 100 km dari Yogyakarta, 57 km dari Semarang, dan 53 km dari Surakarta,
serta secara administratif Kota Salatiga mempunyai 4 kecamatan dan 22 kelurahan, dengan jumlah RT sebanyak 1.044 dan RW sebanyak 199 pada tahun 2010.
Gambaran Kota Salatiga secara lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2.1. Peta Kota Salatiga
Sumber: Bappeda Kota Salatiga, 2010
Tabel 2.1. menyajikan data tentang luas wilayah Kota Salatiga menurut kecamatan dan kelurahan.
Tabel 2.1.
Luas Wilayah Kota Salatiga
Menurut Kecamatan dan Kelurahan Tahun 2010
No. WILAYAH LUAS JUMLAH
(ha) % RW RT
1 KECAMATAN SIDOREJO 1 Kelurahan Blotongan 2 Kelurahan Sidorejo Lor 3 Kelurahan Salatiga 4 Kelurahan Bugel
5 Kelurahan Kauman Kidul 6 Kelurahan Pulutan 1.623,72 423,80 271,60 202,00 294,37 195,85 237,10 28,61 59 15 14 12 6 7 5 297 70 87 78 20 23 19 2 KECAMATAN TINGKIR 1 Kelurahan Kutowinangun 2 Kelurahan Gendongan 3 Kelurahan Kalibening 4 Kelurahan Sidorejo Kidul 5 Kelurahan Tingkir Lor 6 Kelurahan Tingkir Tengah
1.054,85 293,75 68,90 99,59 277,50 177,30 137,80 18,58 48 41 5 3 8 8 10 279 151 37 9 28 23 31 3 KECAMATAN ARGOMULYO 1 Kelurahan Noborejo 2 Kelurahan Ledok 3 Kelurahan Tegalrejo 4 Kelurahan Kumpulrejo 5 Kelurahan Randuacir 6 Kelurahan Cebongan 1.852,69 332,20 187,33 188,43 629,03 377,60 138,10 32,63 56 10 13 9 10 8 6 251 35 63 55 42 34 22 4 KECAMAN SIDOMUKTI 1 Kelurahan Kecandran 2 Kelurahan Dukuh 3 Kelurahan mangunsari 4 Kelurahan Kalicacing 1.145,85 399,20 377,15 290,77 78,73 20,18 36 6 9 14 7 217 23 68 87 39 JUMLAH 5,678,11 100,00 199 1,044 Sumber : Salatiga Dalam Angka 2010
2.1.2. Topografi
Kota Salatiga merupakan salah satu kota yang berhawa cukup sejuk, hal ini karena secara geomorfologi wilayah Kota Salatiga berada di daerah kaki gunung Merbabu dan gunung-gunung kecil antara lain Gajahmungkur, Telomoyo dan Payung Rong, dengan ketinggian wilayah berada di kisaran 450-825 meter di atas permukaan laut. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat Salatiga nyaman sebagai daerah tujuan wisata lokal dan memiliki potensi yang sangat strategis untuk berperan sebagai kota transit, kota pendidikan dan pusat pengumpulan serta pengolahan produksi pertanian dari kabupaten di sekitarnya.
Berdasarkan aspek topografi, wilayah Kota Salatiga dibagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu :
1) Daerah bergelombang, ± 65% dari luas wilayah yang meliputi wilayah Kelurahan : Dukuh, Kutowinangun, Salatiga, dan Sidorejo Lor, Bugel, Kumpulrejo, dan Kauman Kidul;
2) Daerah miring, ± 25% dari luas wilayah yang meliputi Kelurahan : Tegalrejo, Mangunsari, Sidorejo Lor, Bugel, Sidorejo Kidul, Tingkir Lor, Pulutan, Kecandran, Randuacir, Tingkir Tengah, dan Cebongan;
3) Daerah yang relatif datar, 10% dari luas wilayah yang meliputi Kelurahan : Kalicacing, Noborejo, Kalibening, dan Blotongan.
Sedangkan struktur tanah yang ada di wilayah Kota Salatiga dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Tanah Latosol Coklat
Bahan induknya terdiri dari tufa vulkanis intermedier, teksture remah dan konsegtasinya gembur, produktivitas tanah sedang sampai tinggi. Jenis tanah ini terdapat di sebagian wilayah Kota Salatiga dan ini sangat baik ditanami padi, palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, cengkih dan lain-lain.
2) Tanah Latosol Coklat Tua
Bahan dasarnya terdiri dari tufa vulkanis intermedier, tekstur tanahnya remah dan konsegtasinya gembur sekali. Tanah ini terdapat di bagian ujung utara kota, sekitar Pegunungan Payung Rong. Tanah ini cocok sekali ditanami kopi, teh, coklat, padi, pisang, cengkih, dan tanaman campuran.
2.1.3. Klimatologi
Berdasarkan letak geografis wilayah, maka Kota Salatiga beriklim tropis. Musim penghujan antara bulan Nopember-April dipengaruhi oleh angin musim Barat sedang musim kemarau antara bulan Mei-Oktober yang dipengaruhi oleh angin musim Timur. Sedangkan jumlah curah hujan pada tahun 2009 ± 1.935 mm, dengan jumlah hari hujan 104 hari dan rata-rata curah hujan 19 mm/hari. Suhu udara Kota Salatiga terendah pada bulan Juli sekitar 23.89°C dan tertinggi pada bulan Oktober 31.80°C. Sedangkan suhu udara tahunan rata-rata 26,25ºC.
2.1.4. Kondisi Tata Ruang
Tujuan penataan ruang Kota Salatiga adalah mewujudkan Kota Salatiga sebagai pusat pendidikan dan olahraga di kawasan Kendal-Ungaran-Semarang-Salatiga-Purwodadi (Kedungsapur) yang
berkelanjutan didukung sektor perdagangan dan jasa yang berwawasan lingkungan sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 4 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Salatiga Tahun 2010-2030.
Rencana pengembangan sistem pusat pelayanan Kota Salatiga terdiri dari :
1) Pusat pelayanan kota meliputi : Kelurahan Salatiga, Kelurahan Kutowinangun, Kelurahan Gendongan dan Kelurahan Kalicacing. Memiliki fungsi sebagai pusat perdagangan jasa dan perkantoran;
2) Sub pusat pelayanan kota meliputi : Kelurahan Sidorejo Lor di Kecamatan Sidorejo, Kelurahan Mangunsari di Kecamatan Sidomukti, Kelurahan Randuacir di Kecamatan Argomulyo dan Kelurahan Sidorejo Kidul di Kecamatan Tingkir. Sub Pusat pelayanan kota dapat dirinci sebagai berikut :
a) Kelurahan Sidorejo Lor di Kecamatan Sidorejo dijadikan sebagai pusat pengembangan pendidikan tinggi dan pariwisata;
b) Kelurahan Mangunsari di Kecamatan Sidomukti dijadikan sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan dan pemukiman;
c) Kelurahan Randuacir di Kecamatan Argomulyo dijadikan sebagai pengembangan kegiatan industri dan kegiatan berbasis pertanian meliputi Agrowisata dan Agroindustri;
d) Kelurahan Sidorejo Kidul di Kecamatan Tingkir dijadikan sebagai pengembangan kegiatan industri dan kegiatan berbasis pertanian lahan basah.
3) Pusat lingkungan meliputi : Kelurahan Blotongan, Kelurahan Bugel, Kelurahan Kauman Kidul, Kelurahan Pulutan, Kelurahan Kalibening, Kelurahan Tingkir Lor, Kelurahan Tingkir Tengah, Kelurahan Noborejo, Kelurahan Ledok, Kelurahan Tegalrejo, Kelurahan Kumpulrejo, Kelurahan Cebongan, Kelurahan Kecandran dan Kelurahan Dukuh. Memiliki fungsi sebagai pusat pelayanan lokal meliputi pelayanan ekonomi, sosial dan/atau administrasi.
Adapun rencana pola ruang untuk kawasan peruntukan industri meliputi :
a) Kelurahan Kutowinangun b) Kelurahan Gendongan c) Kelurahan Tingkir Lor d) Kelurahan Tingkir Tengah 2) Industri menengah
a) Kelurahan Sidorejo Kidul b) Kelurahan Noborejo 3) Industri besar non polutan
a) Kelurahan Kutowinangun b) Kelurahan Ledok c) Kelurahan Mangunsari d) Kelurahan Cebongan e) Kelurahan Randuacir f) Kelurahan Noborejo
Sedangkan rencana pengembangan kawasan peruntukan industri meliputi :
1) Peningkatan kualitas sarana prasarana kawasan peruntukan industri menengah dan industri besar non polutan di Kelurahan Noborejo dan Kelurahan Randuacir dengan luas kurang lebih 157 (seratus lima puluh tujuh) hektar;
2) Industri kecil diarahkan berbentuk klaster;
3) Mengarahkan pembangunan IPAL komunal bagi industri kecil yang menimbulkan polusi.
Gambar 2.2.
Peta Struktur Ruang Kota Salatiga
Berdasarkan karakteristik sumber daya alam, Kota Salatiga terdiri dari :
1) Hutan Rakyat : Salatiga memiliki hutan rakyat yang diberdayakan untuk menanam beberapa jenis pohon seperti sengon, suren, jati, mahoni dan lain sebagainya. Hutan rakyat ini selain sebagai area produksi kayu juga dimanfaatkan sebagai Ruang Terbuka Hijau Kota Salatiga;
2) Tanaman Pangan dan Perkebunan : Pada tahun 2010 jumlah area yang dimanfaatkan untuk produksi pertanian adalah 1.939 hektar yang dimanfaatkan untuk produksi padi sawah seluas 1.428
hektar dan 511 hektar untuk produksi jagung. Dari lahan tersebut, hingga okober 2010 telah menghasilkan 7.753 ton padi sawah dan 1.892 ton jagung. Namun angka hasil produksi ini belum memenuhi jumlah konsumsi masyarakat Salatiga, yaitu 16.155,40 ton beras dan 2.360,36 ton jagung. Pada tahun 2010 dan 2011 Kota Salatiga mendapat penghargaan Peningkatan Produksi Beras Nasional dari Presiden Republik Indonesia. Perkebunan yang ada di Kota Salatiga adalah perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Perkebunan besar di Salatiga yaitu perkebunan karet, yang dikelola oleh PT. Perkebunan XVIII. Perkebunan rakyat tersebar di kelurahan-kelurahan baik dalam tanah pertanian maupun pekarangan penduduk, seperti kelapa, cengkeh, kopi yang jumlahnya relatif kecil-kecil dan lokasinya tersebar (sporadis). Populasi kebun kopi di Salatiga seluas 27,55 hektar banyak terdapat di daerah Ngawen, Bendosari dan Kumpulrejo. Untuk perkebunan kelapa rakyat seluas 188,59 hektar banyak terdapat di daerah Bugel dan Kauman Kidul;
3) Perikanan dan Peternakan
Perikanan : Kapasitas produksi perikanan Kota Salatiga cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yakni 2008 sebesar 205.905 ton, tahun 2009 sebesar 232.645 ton, dan tahun 2010 sebesar 327.444 ton. Upaya memajukan sektor perikanan terus dilakukan, antara lain melalui pengembangan :
a) Peningkatan prasarana pembibitan ikan di Kelurahan Kauman Kidul dan Kelurahan Tingkir Tengah;
b) Peningkatan prasarana klaster minapolitan di Kelurahan Pulutan;
c) Peningkatan prasarana pasar ikan di Kelurahan Pulutan. Salah satu pembenihan ikan yang cukup besar adalah pembenihan lele dengan jumlah produksi sampai tahun 2010 mencapai 5.207.820 ekor.
Peternakan : Pada tahun 2010, peternakan di Salatiga terdiri dari ternak sapi potong dengan jumlah ternak 1.786 ekor, sapi perah 8.668 ekor dengan hasil produksi susu sebanyak kurang lebih 7.226.757 liter per tahun, kambing 5.076 ekor, domba 1.121 ekor, ayam buras 95.826 ekor, ayam petelur 177.000 ekor, ayam
pedaging 25.000, dan itik 6.226 ekor. Jumlah ini cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Tabel 2.2.
Tabel Perkebunan, Perikanan dan Peternakan
No. Jenis Data 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010 1. Produksi Beras (ton) 4.207 3.480 2.746 2.754 4.651 2. Produksi Jagung (ton) 2.594 2.708 2.333 2.424 1.892 3. Produksi Singkong dan
Umbi-umbian (ton) 7.505 7.447 8.674 8.604 6.523 4. Produksi perikanan darat
(kolam) (ton) 54.205 115.38 3 205.90 5 232.64 5 327.4 44 5. Populasi Sapi Potong
(ekor) 1.625 1.643 1.712 1.766 1.786
6. Populasi Sapi Perah
(ekor) 7.961 8.100 8.379 8.523 8.669
7. Populasi Kambing (ekor) 5.315 5.162 5.276 5.006 5.076 8. Populasi Domba (ekor) 1.697 1.626 3.453 1.108 1.121
9. Kacang Panjang 83 44 65 60 119 10. Cabe Merah 22 47 11,70 97 66 11. Cabe Rawit 3.460 4.211 3.950 2.073 4.085 12. Buah Alpukat 2.224 2.585 3.109 5.952 9.319 13. Buah Rambutan 4.437 5.144 6.319 6.425 3.084 14. Buah Salak 13.718 14.583 10.950 15.221 8.683 15. Buah Pisang 6.326 6.585 7.124 7.444 6.896 16. Buah Duku 2.908 7.006 823 1.620 3.403
Sumber : Salatiga Dalam Angka
Penggunaan lahan tahun 2010 untuk daerah terbangun seluas 2.629,09 hektar atau 46,25% dari total luas lahan (perumahan 41,11%, jasa 3,36%, perdagangan 0,61% dan perindustrian 1,06%) daerah non urban 2.984,05 hektar atau 52,55% dari total luas lahan (sawah 15,29%, tegalan 21,64%, kebun campur 12,43% dan perkebunan 3,20%) dan 67,97 hektar untuk lainnya. Pada tahun 2009, menurut jenis pengairannya, lahan sawah sebesar 869,51 hektar atau 15,13% terdiri dari lahan sawah berpengairan teknis 7,15%, sedangkan lainnya berpengairan setengah teknis, sederhana dan tadah hujan. Lahan kering yang dipakai untuk tegal/kebun sebesar 33,79% dari total bukan lahan sawah. Berdasarkan Perda Nomor 4 Tahun 2011 bahwa lahan pertanian berkelanjutan seluas 478 hektar terdiri dari sawah lestari seluas 274 hektar dan lahan kering berkelanjutan 204 hektar.
Seluruh kecamatan dan kelurahan yang ada di Kota Salatiga mampu memenuhi konsumsi pangan, sehingga dapat dikatakan bahwa di Kota Salatiga tidak terdapat wilayah yang rawan pangan.
Tabel 2.3.
Tabel Ketersediaan Energi dan Protein Tahun Skor PPH Ketersediaan Energi (Kkal/kap/hr) Ketersediaa n Protein (gr/kap/hr) Konsumsi Energi (Kkal/kap/hr) Konsumsi Protein (gr/kap/hr) 2009 81,7 2.036,6 52,7 1.633,0 49,4 2010 85,6 1.981,1 51,3 1.550,5 45,2 2011 85,9 2.000,0 52 1.596,4 48,2
2.2. Demografi dan Kependudukan
Pada tahun 2010, jumlah penduduk Kota Salatiga sebesar 170,332 jiwa. Jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki, ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk perempuan), sebesar 96,12. Tabel 2.4. menyajikan jumlah dan kepadatan penduduk per kelurahan pada tahun 2010.
Tabel 2.4.
Jumlah dan Kepadatan Penduduk per Kelurahan Tahun 2010 Kelurahan Luas Kel. (km2) Penduduk Jumlah Kepadatan per km2 Kec. Argomulyo 18,536 40.101 2,163 1. Cebongan 1,381 4.240 3,070 2. Kumpulrejo 6,290 6.563 1,043 3. Ledok 1,873 9.459 5,050 4. Noborejo 3,332 5.060 1,519 5. Randuacir 3,776 4.891 1,295 6. Tegalrejo 1,884 9.888 5,248 Kec. Sidomukti 11,460 38.756 3,382 1. Dukuh 3,772 11.430 3,030 2. Kalicacing 0,787 6.641 8,438 3. Kecandran 3,993 5.060 1,267 4. Mangunsari 2,908 15.625 5,373 Kec. Sidorejo 16,247 51.604 3,176 1. Blotongan 4,238 11.046 2,606 2. Bugel 2,944 2.736 929 3. Kauman Kidul 1,958 3.437 1,755 4. Pulutan 2,371 3.724 1,571 5. Salatiga 2,020 16.380 8,109 6. Sidorjo Lor 2,716 14.281 5,258 Kec. Tingkir 10,547 39.871 3,780 1. Gendongan 0,689 4.948 7,181 2. Kalibening 0,995 1.757 1,766 3. Kutowinangun 2,937 19.137 6,516 4. Sidorejo Kidul 2,775 5.111 1,842 5. Tingkir Lor 1,773 4.197 2,367 6. Tingkir Tengah 1,378 4.721 3,426 Jumlah 170,332 56.790 2,999
Sumber : Sensus Penduduk 2010, BPS Salatiga Tabel 2.5.
Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
0 – 4 7.082 6.652 13.734
5 – 9 6.748 6.395 13.143
10 – 14 6.613 6.363 12.976
Umur Laki-laki Perempuan Jumlah 20 – 24 7.708 8.328 16.036 25 – 29 7.635 7.925 15.560 30 – 34 7.238 7.129 14.367 35 – 39 6.256 6.412 12.668 40 – 44 6.095 6.548 12.643 45 – 49 5.134 5.819 10.953 50 – 54 4.878 5.056 9.934 55 – 59 3.867 3.687 7.554 60 – 64 2.053 2.351 4.404 65 – 69 1.594 1.975 3.569 70 – 74 1.261 1.761 3.022 75+ 1.732 2.505 4.237 J u m l a h 83.479 86.853 170.332 Sumber : Sensus Penduduk 2010, BPS Salatiga
Penduduk Kota Salatiga belum menyebar secara merata di seluruh wilayah. Umumnya, penduduk banyak di daerah perkotaan. Secara rata-rata, kepadatan Kelurahan Kalicacing merupakan kelurahan yang paling padat penduduknya dengan kepadatan penduduk tercatat sebesar 8,438 jiwa per km2, sedangkan Kelurahan
Bugel merupakan kelurahan yang paling jarang penduduknya tersebar dengan kepadatan penduduk 929 jiwa per km2.
2.3. Aspek Kesejahteraan Masyarakat
Menjelaskan kondisi umum kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan, khususnya indikator yang paling dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan kesejahteraan masyarakat di Kota Salatiga. Berdasarkan data BPS yang digunakan sebagai acuan secara nasional, jumlah Rumah Tangga Sasaran (RTS) di Kota Salatiga pada tahun 2010 sebanyak 7.653 RTS. Sedangkan jumlah penduduk miskin di Kota Salatiga berdasarkan hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (Sussenas) yang dilakukan BPS sebanyak 14.200 jiwa, sedangkan prosentase penduduk miskin Kota Salatiga pada tahun 2010 sebesar 8,28%.
Pembangunan ekonomi Kota Salatiga saat ini diarahkan pada upaya meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat, yang diiringi oleh perubahan institusional dan modernisasi serta pertumbuhan ekonomi dengan memperhatikan aspek pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, laju pertumbuhan penduduk, dan perubahan sektor ekonomi daerah. Perkembangan ekonomi daerah Kota Salatiga
merupakan dampak kebijakan fiskal pemerintah daerah, terutama dalam proses pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah khususnya dalam pelayanan publik. Hal ini dapat dilihat dari indikator berupa pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Pertumbuhan ekonomi Salatiga tahun 2010 yang ditunjukkan oleh laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000 sebesar 5,01%. Pertumbuhan ini menggambarkan semakin bergairahnya sektor riil di Kota Salatiga, dengan sektor penyumbang terbesar adalah sektor jasa sebesar 25,48%, perdagangan, hotel dan restoran (18,49%), industri pengolahan sebesar 16,68%, dan angkutan dan komunikasi sebesar 11,37%.
Selama tahun kalender 2009 (Januari-Desember), inflasi Kota Salatiga sebesar 3,28%. Kondisi ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan laju inflasi periode yang sama untuk tahun 2007 dan 2008 dimana angkanya tercatat sebesar 7,22 persen dan 10,20 persen. Perkembangan laju inflasi tahun 2010 sebesar 3,37 persen dibandingkan tahun 2008 dan 2009. Perkembangan laju inflasi menurut kelompok pengeluaran yang paling dominan adalah kelompok sandang (8,69 persen) sedangkan laju inflasi untuk kelompok kesehatan mengalami kelambatan (1,58 persen). Upah minimum kabupaten/kota (UMK) ditetapkan berdasarkan perbedaan tingkat upah di berbagai kabupaten/kota di setiap provinsi tergantung pada jumlah penduduk, tingkat inflasi, infrastruktur daerah masing-masing, dan sebagainya. UMK diperbaharui setiap satu tahun sekali dan untuk tahun 2010 dan 2011 UMK di Kota Salatiga masing Rp 803.185 dan Rp 843.469.
Tabel 2.6.
Tabel Data UMK dan Data KHL
Tahun UMK (Rp) KHL (Rp) (UMK/KHL x 100) %
2006 500.000 631.961,23 79,12 2007 582.000 692.011,13 84,10 2008 662.500 711.134,79 93,16 2009 750.000 780.766,67 96,06 2010 803.185 803.185,00 100 2011 901.396 843.469,00 106,86
Sumber : BAPPEDA Kota Salatiga
Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, penduduk yang bersekolah, pada tahun ajaran 2009/2010 secara umum mengalami