• Tidak ada hasil yang ditemukan

يرﺎﺨﺒﻟا هاور

Dalam dokumen Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Halaman 190-193)

(

Artinya: Ya Rasulullah sesungguhnya sebuah kaum memberi kepada kami sejumlah daging. Tapi kami tidak diketahui, apakah wakt

atau tidak, lalu Rasulullah berpesan “bacakanlah oleh kalian lalu makanlah”.

Bukhari)

Hal lain yang sering menjadi perdebatan di masyarakat adalah apakah menghadap kiblat termasuk syarat dalam pemotongan binat

menghadap kiblat ketika penyembelihan dilakukan tak didapati sedikitpun dalil yang menjelaskan tentang keharusannya.

Hewan yang Halal Disembelih

Hewan yang diperintahkan untuk disembelih adalah semua dikonsumsi. Dengan kata lain, binatang

diharamkan oleh Islam seperti babi, binatang buas seperti ular dan buaya, binatang yang bergigi taring sepertianjing, kucing dan macan serta bi

dan sebagainya. Macam macam binatang seperti tersebut terakhir ini tidak boleh disembelih untuk dimakan dagingnya. Dengan demikian hewan yang diperintahkan dipotong untuk tujuan konsumsi sendiri atau di jual adalah hewan

kelinci, bebek dan lain sebagainya. Selain hewan yang halal seperti yang tersebut terakhir ini, terdapat juga hewan-hewan yang halal untuk dikonsumsi tapi sebelumnya tidak diperl

penyembelihan yaitu belalang dan ikan.

Ketentuan tentang kehalalan dan keharaman binatang,

al-Qur’an dan terdapat juga yang dijelaskan kriterianya oleh Hadits seperti tersebut di atas (binatang buas,binatang yang bergigi taring, dan binatang yang berkuku tajam). Ayat al

yang menjadi dasar kehalalan sebagian binatang ternak untuk dimakan yang meliputi onta, sapi dan kerbau terdapat dalam al-Qur’an berikut ini:

Artinya: Dan Dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai

Nahl/16:5)

Cara dan Alat Penyembelihan

Terkait dengan cara penyembelihan,pelaku penyembelihan binatang harus dilakukan oleh orang Islam, berakal dan memiliki kemampuan menyembelih. Alat yang digunakan dipastikan alat yang tajam yang mampu memutus urat leher binatang secara cepat, tidak dengan alat

Penguatan Materi PAI dan Budi Pekerti di SD/SMP/SMA/SMK

menyebut nama Allah baik disengaja atau tidak disengaja (lupa) hukumnya tetap halal.

Lanjutnya, penyebutan nama Allah tidak mempengaruhi akan kehalalan daging hewan yang dipotong asalkan si pemotongnya adalah orang yang sudah dianggap layak secara hukum.

Nampaknya dari perbedaan pendapat seperti tersebut di atas pendapat terakhir merupakan n dengan kondisi sekarang ini. Didapati banyak daging hewan yang dibeli sudah dalam keadaan siap saji tidak diketahui cara pemotongannya, apakah ketika penyembelihannya mengucapkan nama Allah atau tidak. Maka dengan tidak adanya keharusan n nama Allah ketika penyembelihanmaka diperbolehkan untuk memakan daging tersebut asalkan si pemotongnyadiketahui adalah orang Islam yang berakal.

Dalam hadits Rasulullah dijelaskan untuk menghilangkan keraguan terhadap daging hewan tidak diketahui carapemotongannya dianjurkan untuk membaca nama Allah sebelum memakannya, hal ini diperkuat oleh hadits Rasulullah:

ُﺗْﺄَﯾ ﺎًﻣْﻮَﻗ ﱠنِإ َﻢﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُﮫﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱢﻲِﺒﱠﻨﻠِﻟ اﻮُﻟﺎَﻗ ﺎًﻣْﻮَﻗ ﱠنَأ ﺎَﮭْﻨَﻋ ُﮫﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﻦَﻋ ُهﻮُﻠُﻛَو ْﻢُﺘْﻧَأ ِﮫْﯿَﻠَﻋ اﻮﱡﻤَﺳ َلﺎَﻘَﻓ ﺎَﻟ ْمَأ ِﮫْﯿَﻠَﻋ ِﮫﱠﻠﻟا ُﻢْﺳا َﺮِﻛُذَأ يِرْﺪَﻧ )

يرﺎﺨﺒﻟا هاور

Ya Rasulullah sesungguhnya sebuah kaum memberi kepada kami sejumlah daging. Tapi kami tidak diketahui, apakah waktu penyembelihannya menyebut nama Allah atau tidak, lalu Rasulullah berpesan “bacakanlah oleh kalian lalu makanlah”.

Hal lain yang sering menjadi perdebatan di masyarakat adalah apakah menghadap kiblat termasuk syarat dalam pemotongan binatang. Maka dengan singkat dapat terjawab bahwaperkara menghadap kiblat ketika penyembelihan dilakukan tak didapati sedikitpun dalil yang menjelaskan

Hewan yang diperintahkan untuk disembelih adalah semua hewan yang halal untuk dikonsumsi. Dengan kata lain, binatang-binatang dimaksud tidak termasuk hewan yang diharamkan oleh Islam seperti babi, binatang buas seperti ular dan buaya, binatang yang bergigi taring sepertianjing, kucing dan macan serta binatang yang berkuku tajam seperti burung elang dan sebagainya. Macam macam binatang seperti tersebut terakhir ini tidak boleh disembelih untuk dimakan dagingnya. Dengan demikian hewan yang diperintahkan dipotong untuk tujuan konsumsi l adalah hewan-hewan yang halal dagingnya seperti ayam, kambing, onta, sapi, kelinci, bebek dan lain sebagainya. Selain hewan yang halal seperti yang tersebut terakhir ini,

hewan yang halal untuk dikonsumsi tapi sebelumnya tidak diperl penyembelihan yaitu belalang dan ikan.

Ketentuan tentang kehalalan dan keharaman binatang, sebagiannya terdapat dasarnya dalam Qur’an dan terdapat juga yang dijelaskan kriterianya oleh Hadits seperti tersebut di atas

g yang bergigi taring, dan binatang yang berkuku tajam). Ayat al yang menjadi dasar kehalalan sebagian binatang ternak untuk dimakan yang meliputi onta, sapi dan

Qur’an berikut ini:

ءۡفِد َنﻮُﻠُﻛۡﺄَﺗ ﺎَﮭۡﻨِﻣَو ُﻊِﻔَٰﻨَﻣَو

٥

Dan Dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.

it dengan cara penyembelihan,pelaku penyembelihan binatang harus dilakukan oleh orang Islam, berakal dan memiliki kemampuan menyembelih. Alat yang digunakan dipastikan alat yang tajam yang mampu memutus urat leher binatang secara cepat, tidak dengan alat

menyebut nama Allah baik disengaja atau tidak disengaja (lupa) hukumnya tetap halal.

ah tidak mempengaruhi akan kehalalan daging hewan yang dipotong asalkan si pemotongnya adalah orang yang sudah dianggap layak secara hukum.

Nampaknya dari perbedaan pendapat seperti tersebut di atas pendapat terakhir merupakan n dengan kondisi sekarang ini. Didapati banyak daging hewan yang dibeli sudah dalam keadaan siap saji tidak diketahui cara pemotongannya, apakah ketika penyembelihannya mengucapkan nama Allah atau tidak. Maka dengan tidak adanya keharusan n nama Allah ketika penyembelihanmaka diperbolehkan untuk memakan daging tersebut Dalam hadits Rasulullah dijelaskan untuk menghilangkan keraguan terhadap daging hewan tidak diketahui carapemotongannya dianjurkan untuk membaca nama Allah

ُﺗْﺄَﯾ ﺎًﻣْﻮَﻗ ﱠنِإ َﻢﻠَﺳَو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُﮫﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱢﻲِﺒﱠﻨﻠِﻟ اﻮُﻟﺎَﻗ ﺎًﻣْﻮَﻗ ﱠنَأ ﺎَﮭْﻨَﻋ ُﮫﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﻦَﻋ ُهﻮُﻠُﻛَو ْﻢُﺘْﻧَأ ِﮫْﯿَﻠَﻋ اﻮﱡﻤَﺳ َلﺎَﻘَﻓ ﺎَﻟ ْمَأ ِﮫْﯿَﻠَﻋ ِﮫﱠﻠﻟا ُﻢْﺳا َﺮِﻛُذَأ يِرْﺪَﻧ

Ya Rasulullah sesungguhnya sebuah kaum memberi kepada kami sejumlah u penyembelihannya menyebut nama Allah atau tidak, lalu Rasulullah berpesan “bacakanlah oleh kalian lalu makanlah”. (HR.

Hal lain yang sering menjadi perdebatan di masyarakat adalah apakah menghadap kiblat ang. Maka dengan singkat dapat terjawab bahwaperkara menghadap kiblat ketika penyembelihan dilakukan tak didapati sedikitpun dalil yang menjelaskan

hewan yang halal untuk binatang dimaksud tidak termasuk hewan yang diharamkan oleh Islam seperti babi, binatang buas seperti ular dan buaya, binatang yang bergigi natang yang berkuku tajam seperti burung elang dan sebagainya. Macam macam binatang seperti tersebut terakhir ini tidak boleh disembelih untuk dimakan dagingnya. Dengan demikian hewan yang diperintahkan dipotong untuk tujuan konsumsi hewan yang halal dagingnya seperti ayam, kambing, onta, sapi, kelinci, bebek dan lain sebagainya. Selain hewan yang halal seperti yang tersebut terakhir ini, hewan yang halal untuk dikonsumsi tapi sebelumnya tidak diperlukan proses sebagiannya terdapat dasarnya dalam Qur’an dan terdapat juga yang dijelaskan kriterianya oleh Hadits seperti tersebut di atas

g yang bergigi taring, dan binatang yang berkuku tajam). Ayat al-Qur’an yang menjadi dasar kehalalan sebagian binatang ternak untuk dimakan yang meliputi onta, sapi dan

ﺎَﮭﯿِﻓ ۡﻢُﻜَﻟ ۖﺎَﮭَﻘَﻠَﺧ َﻢَٰﻌۡﻧَﺄۡﻟٱَو ءۡفِد

Dan Dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu) yang bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. (QS. al-

it dengan cara penyembelihan,pelaku penyembelihan binatang harus dilakukan oleh orang Islam, berakal dan memiliki kemampuan menyembelih. Alat yang digunakan dipastikan alat yang tajam yang mampu memutus urat leher binatang secara cepat, tidak dengan alat yang tumpul

yang lambat untuk memutus urat leher binatang. Penggunaan alat dengan kondisi yang tersebut terakhir ini tidak diperbolehkan karena akan menyiksa binatang disebabkan ketidak tajamannya itu.

Alat yang tajam sepertidimaksud di atas adalah seper

yang sudah ditajamkan atau diasah. Bagaimana dengan gigi dan kuku. Meskipun kedua macam alat yang tersebut terakhir ini terbilang alat yang tajam, namun menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali kedua macam alat tersebut tidak boleh digunakan sebagai alat penyembelihan. Namun Hanafi berpendapat boleh, dengan syarat kedua benda tersebut sudah terpisah dari badan. Pemotongan dengan alat yang diperbolehkan seperti telah tersebut harus benar

leher atau tenggorokkan sebagai alat saluran makanan dan minuman dipastikan putus. Oleh karena itu diperlukan konsentrasi sebelum pemotongan dimulai selain diharuskan untuk membaca nama Allah dan tidak ada persyaratan untuk menghadap kiblat.

Tidak terdapat penjelasan tentang cara

penyembelihan. Oleh karena banyak cara yang digunakan untuk memotong hewan sembelihan, asalkan syarat syarat sebagimana tersebut di atas terpenuhi. Namun menurut para imam mazha yang berdasar kepada hadits, terkait dengan teknis penyembelihan, untuk jenis onta disembelih dengan cara diikat kakinya sedangkan sapi dan kambing disembelih dengan cara dibaringkan.

Setelah urat tenggorokan binatang yang disembelih dipastikan sudah te

langsung dikuliti karena binatang tersebut belum menghembuskan napas yang terakhir artinya binatang itu belum mati ditandai dengangerakan meronta

ditandai dengan tidak terlihat lagi gerakan maka pada k

dikuliti. Dengan tidak didapatinya cara khusus dalam penyembelihan hewan maka dibenarkan pemotongan dengan menggunakan alat mesin jika hal itu dilakukan oleh orang Islam dan membaca nama Allah ketika dalam penyem

Perkara yang Boleh dan Makruh a. Yang Boleh Dilakukan

Terdapat beberapa kondisi yang diperbolehkan dalam proses penyembelihan hewan:

1. Penyembelihan hewan yang cidera atau sakit. Hewan yang dipotong dalam keadaan sakit atau cidera yang sudah hampir mendekati kematian dihukumi boleh dan halal dagingnya untuk dimakan. Untuk mengetahui binatang itu masih hidup dapat dilakukan dengan melihat tanda tanda kehidupan pada badannya seperti gerakan tangan atau kakinya atau ekornya atau pernapasannya. Jika tanda-tanda fisik seperti yang terakhir ini tidak lagi didapati maka binatang itu dianggap sudah mati dan tidak boleh lagi untuk dipotong. Ibnu Abbas pernah ditanya, srigala yang telah menyerang seekor domba sampai perutnya robek dan ususnya berhambu

disembelih. Ia menjawab. “makanlah dan ususnya yang berhamburan jangan kau makan.”

2. Mengangkat tangan atau pisau sebelum penyembelihan sempurna. Jika didapati pemotongan hewan denganmengangkat tangan sebelum sempurna penyembelihannya, kemudian ia

meletakkan tangannya dan menyempurnakan penyembelihan, maka ihwal pemotong hewan yang tersebut terakhir dibolehkan dengan alasan karena ia telah melukai dan segera menyempurnakannya penyembelihan ditambah lagi kondisi hewan itu masih hidup.

3. Melukai hewan ketika penyembelihan gagal. Penyembelihan yang dilakukan oleh orang yang sudah memenuhi syarat, tapi tidak berhasil dikarenakan misalnya hewan yang disembelih itu lari, akibatnya penyembelihan melukai bagian tubuh yang mana saja. Kejadian yan

ini diperbolehkan asalkan luka itu mengeluarkan darah dan hewan tersebut pada akhirnya mati.

Hal ini diperkuat oleh hadits bahwa Rasulullah pernah ditanya, “bukankah yang diperbolehkan dalam penyembelihan itu hanya pada tenggorokan d

“jika sekiranya kau tusuk pada pahanya maka sudah dianggap memadai untukmu”. Dilalah hadits yang tersebut terakhir ini menurut al

binatang yang membinal atau lari, s

sebagaimana mestinya atau binatang yang jatuh ke laut maka boleh dipukul dengan pisau atau anak panah sehingga darahnya mengalir dan mati, dan dagingnya halal untuk dimakan.

Penguatan Materi PAI dan Budi Pekerti di SD/SMP/SMA/SMK yang lambat untuk memutus urat leher binatang. Penggunaan alat dengan kondisi yang tersebut terakhir ini tidak diperbolehkan karena akan menyiksa binatang disebabkan ketidak tajamannya itu.

Alat yang tajam sepertidimaksud di atas adalah seperti pisau, golok pedang dan lain sebagainya yang sudah ditajamkan atau diasah. Bagaimana dengan gigi dan kuku. Meskipun kedua macam alat yang tersebut terakhir ini terbilang alat yang tajam, namun menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali ut tidak boleh digunakan sebagai alat penyembelihan. Namun Hanafi berpendapat boleh, dengan syarat kedua benda tersebut sudah terpisah dari badan. Pemotongan dengan alat yang diperbolehkan seperti telah tersebut harus benar-benar mengenai sasaran yaitu u leher atau tenggorokkan sebagai alat saluran makanan dan minuman dipastikan putus. Oleh karena itu diperlukan konsentrasi sebelum pemotongan dimulai selain diharuskan untuk membaca nama Allah dan tidak ada persyaratan untuk menghadap kiblat.

penjelasan tentang cara-cara khusus yang mendetail terkait dengan cara penyembelihan. Oleh karena banyak cara yang digunakan untuk memotong hewan sembelihan, asalkan syarat syarat sebagimana tersebut di atas terpenuhi. Namun menurut para imam mazha yang berdasar kepada hadits, terkait dengan teknis penyembelihan, untuk jenis onta disembelih dengan cara diikat kakinya sedangkan sapi dan kambing disembelih dengan cara dibaringkan.

Setelah urat tenggorokan binatang yang disembelih dipastikan sudah te

langsung dikuliti karena binatang tersebut belum menghembuskan napas yang terakhir artinya binatang itu belum mati ditandai dengangerakan meronta-ronta. Jika sudah benar

ditandai dengan tidak terlihat lagi gerakan maka pada kondisi itulah kemudian binatang itu dapat dikuliti. Dengan tidak didapatinya cara khusus dalam penyembelihan hewan maka dibenarkan pemotongan dengan menggunakan alat mesin jika hal itu dilakukan oleh orang Islam dan membaca nama Allah ketika dalam penyembelihannya.

Perkara yang Boleh dan Makruh

Terdapat beberapa kondisi yang diperbolehkan dalam proses penyembelihan hewan:

Penyembelihan hewan yang cidera atau sakit. Hewan yang dipotong dalam keadaan sakit atau hampir mendekati kematian dihukumi boleh dan halal dagingnya untuk dimakan. Untuk mengetahui binatang itu masih hidup dapat dilakukan dengan melihat tanda tanda kehidupan pada badannya seperti gerakan tangan atau kakinya atau ekornya atau

tanda fisik seperti yang terakhir ini tidak lagi didapati maka binatang itu dianggap sudah mati dan tidak boleh lagi untuk dipotong. Ibnu Abbas pernah ditanya, srigala yang telah menyerang seekor domba sampai perutnya robek dan ususnya berhambu

disembelih. Ia menjawab. “makanlah dan ususnya yang berhamburan jangan kau makan.”

Mengangkat tangan atau pisau sebelum penyembelihan sempurna. Jika didapati pemotongan hewan denganmengangkat tangan sebelum sempurna penyembelihannya, kemudian ia

meletakkan tangannya dan menyempurnakan penyembelihan, maka ihwal pemotong hewan yang tersebut terakhir dibolehkan dengan alasan karena ia telah melukai dan segera menyempurnakannya penyembelihan ditambah lagi kondisi hewan itu masih hidup.

ukai hewan ketika penyembelihan gagal. Penyembelihan yang dilakukan oleh orang yang sudah memenuhi syarat, tapi tidak berhasil dikarenakan misalnya hewan yang disembelih itu lari, akibatnya penyembelihan melukai bagian tubuh yang mana saja. Kejadian yan

ini diperbolehkan asalkan luka itu mengeluarkan darah dan hewan tersebut pada akhirnya mati.

Hal ini diperkuat oleh hadits bahwa Rasulullah pernah ditanya, “bukankah yang diperbolehkan dalam penyembelihan itu hanya pada tenggorokan dan urat nadi? Lalu Rasulullah menjawab

“jika sekiranya kau tusuk pada pahanya maka sudah dianggap memadai untukmu”. Dilalah hadits yang tersebut terakhir ini menurut al-Tarmidzi hanya dalam keadaan darurat saja seperti binatang yang membinal atau lari, sementara si penyembelih tidak dapat melakukan tugas sebagaimana mestinya atau binatang yang jatuh ke laut maka boleh dipukul dengan pisau atau anak panah sehingga darahnya mengalir dan mati, dan dagingnya halal untuk dimakan.

Penguatan Materi PAI dan Budi Pekerti di SD/SMP/SMA/SMK yang lambat untuk memutus urat leher binatang. Penggunaan alat dengan kondisi yang tersebut terakhir ini tidak diperbolehkan karena akan menyiksa binatang disebabkan ketidak tajamannya itu.

ti pisau, golok pedang dan lain sebagainya yang sudah ditajamkan atau diasah. Bagaimana dengan gigi dan kuku. Meskipun kedua macam alat yang tersebut terakhir ini terbilang alat yang tajam, namun menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali ut tidak boleh digunakan sebagai alat penyembelihan. Namun Hanafi berpendapat boleh, dengan syarat kedua benda tersebut sudah terpisah dari badan. Pemotongan benar mengenai sasaran yaitu urat leher atau tenggorokkan sebagai alat saluran makanan dan minuman dipastikan putus. Oleh karena itu diperlukan konsentrasi sebelum pemotongan dimulai selain diharuskan untuk membaca nama cara khusus yang mendetail terkait dengan cara penyembelihan. Oleh karena banyak cara yang digunakan untuk memotong hewan sembelihan, asalkan syarat syarat sebagimana tersebut di atas terpenuhi. Namun menurut para imam mazhab yang berdasar kepada hadits, terkait dengan teknis penyembelihan, untuk jenis onta disembelih dengan cara diikat kakinya sedangkan sapi dan kambing disembelih dengan cara dibaringkan.

Setelah urat tenggorokan binatang yang disembelih dipastikan sudah terputus, maka jangan langsung dikuliti karena binatang tersebut belum menghembuskan napas yang terakhir artinya ronta. Jika sudah benar-benar mati ondisi itulah kemudian binatang itu dapat dikuliti. Dengan tidak didapatinya cara khusus dalam penyembelihan hewan maka dibenarkan pemotongan dengan menggunakan alat mesin jika hal itu dilakukan oleh orang Islam dan membaca

Terdapat beberapa kondisi yang diperbolehkan dalam proses penyembelihan hewan:

Penyembelihan hewan yang cidera atau sakit. Hewan yang dipotong dalam keadaan sakit atau hampir mendekati kematian dihukumi boleh dan halal dagingnya untuk dimakan. Untuk mengetahui binatang itu masih hidup dapat dilakukan dengan melihat tanda- tanda kehidupan pada badannya seperti gerakan tangan atau kakinya atau ekornya atau

tanda fisik seperti yang terakhir ini tidak lagi didapati maka binatang itu dianggap sudah mati dan tidak boleh lagi untuk dipotong. Ibnu Abbas pernah ditanya, srigala yang telah menyerang seekor domba sampai perutnya robek dan ususnya berhamburan, lalu disembelih. Ia menjawab. “makanlah dan ususnya yang berhamburan jangan kau makan.”

Mengangkat tangan atau pisau sebelum penyembelihan sempurna. Jika didapati pemotongan hewan denganmengangkat tangan sebelum sempurna penyembelihannya, kemudian ia kembali meletakkan tangannya dan menyempurnakan penyembelihan, maka ihwal pemotong hewan yang tersebut terakhir dibolehkan dengan alasan karena ia telah melukai dan segera menyempurnakannya penyembelihan ditambah lagi kondisi hewan itu masih hidup.

ukai hewan ketika penyembelihan gagal. Penyembelihan yang dilakukan oleh orang yang sudah memenuhi syarat, tapi tidak berhasil dikarenakan misalnya hewan yang disembelih itu lari, akibatnya penyembelihan melukai bagian tubuh yang mana saja. Kejadian yang tersebut terakhir ini diperbolehkan asalkan luka itu mengeluarkan darah dan hewan tersebut pada akhirnya mati.

Hal ini diperkuat oleh hadits bahwa Rasulullah pernah ditanya, “bukankah yang diperbolehkan an urat nadi? Lalu Rasulullah menjawab

“jika sekiranya kau tusuk pada pahanya maka sudah dianggap memadai untukmu”. Dilalah Tarmidzi hanya dalam keadaan darurat saja seperti ementara si penyembelih tidak dapat melakukan tugas sebagaimana mestinya atau binatang yang jatuh ke laut maka boleh dipukul dengan pisau atau anak panah sehingga darahnya mengalir dan mati, dan dagingnya halal untuk dimakan.

Penguatan Materi PAI dan Budi Pekerti di SD/SMP/SMA/SMK 4. Penyembelihan binatang yang

binatang yang di dalamnya terdapat janin, maka penyembelihan cukup dilakukan terhadap induknya saja sekalipun setelah itu janin seperti dimaksud keluar dalam keadaan mati atau hidup.

b. Yang Makruh Dilakukan

Perkara-perkara ini kedudukannya tidak sampai membatalkan sembelihan namun hanya makruh untuk dilakukanya yaitu : a). Penyembelihan dilakukan dengan alat yang tumpul, b).

Mematahkan leher atau mengulitinya sebelum hewan itu diyakini su ruhnya),berdasarkan hadits nabi Saw. “Janganlah kamu terburu pergi.”

Hikmah

Hikmah yang dapat diambil dari syariat penyembelihan hewanantara lain adalah:

1. Menambah rasa keimanan dan ketaqwaan

2. Menambah ketenangan terhadap jiwa karena apa yang dilakukan dan di makan diyakini sudah sesuai dengan syariat Allah dan syariat Allah tersebutmengandung nilai kemaslahatan hidup.

3. Akan terhindar dari pengaruh negatif yang dapat diakiba disembelih tidak sesuai dengan syariat.

Ringkasan Materi

1. Penyembelihan berarti melakukan pemotongan urat

menyebabkan binatang itu tidak bernyawa lagi (mati). Semua binatang y

dimakan diperintahkan untuk disembelih terlebih dahulu sesuai dengan aturan syara’ kecuali ikan dan belalang.

2. Dasar hukum penyembelihan hewan didasari oleh al Qur’an surat a-Maidah ayat 63

3. Para Imam mazhab sepakat bahwa daging hewan yang boleh dikonsumsi adalah hewan yang terlebih dahulu disembelih dengan mengucapkan nama Allah SWT.

4. Syarat peyembelihan hewan adalah: pelakunya adalah orang Islam baik laki atau perempuan, berakal dan memiliki kemampuan

peyembelihan tajam, pemotongaan harus mengenai sasarandan menyebut nama Allah ketika penyembelihannya

5. Hal yang diperbolehkan dan yang dimakruhkan dalam penyembelihan. Perkara pertamaantara lain meliputipenyembelihan hewan yang cidera atau sakit, mengangkat tangan atau pisau sebelum penyembelihan sempurna dan melukai hewan ketika penyembelihan gagal. Perkara kedua meliputi penyembelihan dilakukan dengan alat yang tumpuldan mematahkan leher atau mengulitinya sebelum hewan itu diyakini sudah benar

6. Hikmah yang dipetik dari ajaran peyembelihan diantaranya adalah untuk menambah ketaqwaan dan ketenangan jiwa

Tugas mandiri

Setelah anda melaksanakan pembelajaran sekarang jawablah soal-soal berikut ini!

1. Apa yang dimaksud dengan penyembelihan hewan?

2. Jelaskan syarat dan rukun dalam penyembelihan hewan!

3. Jelaskan pendapat imam mazhab tentang hukum membaca basmalah dalam penyembelihan!

4. Uraikah hikmah tentang perintah penyembelihan hewan!

Penguatan Materi PAI dan Budi Pekerti di SD/SMP/SMA/SMK

Penyembelihan binatang yang terdapat janin (embrio) di perutnya.Kasus penyembelihan seekor binatang yang di dalamnya terdapat janin, maka penyembelihan cukup dilakukan terhadap induknya saja sekalipun setelah itu janin seperti dimaksud keluar dalam keadaan mati atau

perkara ini kedudukannya tidak sampai membatalkan sembelihan namun hanya makruh untuk dilakukanya yaitu : a). Penyembelihan dilakukan dengan alat yang tumpul, b).

Mematahkan leher atau mengulitinya sebelum hewan itu diyakini sudah benar

ruhnya),berdasarkan hadits nabi Saw. “Janganlah kamu terburu-buru menghabisi nyawa sebelum ia

Hikmah yang dapat diambil dari syariat penyembelihan hewanantara lain adalah:

Menambah rasa keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah.

Menambah ketenangan terhadap jiwa karena apa yang dilakukan dan di makan diyakini sudah sesuai dengan syariat Allah dan syariat Allah tersebutmengandung nilai kemaslahatan hidup.

Akan terhindar dari pengaruh negatif yang dapat diakibatkan dari mengkonsumsi benatang yang disembelih tidak sesuai dengan syariat.

berarti melakukan pemotongan urat leher binatang dengan ala binatang itu tidak bernyawa lagi (mati). Semua binatang y

dimakan diperintahkan untuk disembelih terlebih dahulu sesuai dengan aturan syara’ kecuali Dasar hukum penyembelihan hewan didasari oleh al-Qur’an surat al-An’Am ayat 121 dan al

Maidah ayat 63

azhab sepakat bahwa daging hewan yang boleh dikonsumsi adalah hewan yang terlebih dahulu disembelih dengan mengucapkan nama Allah SWT.

Syarat peyembelihan hewan adalah: pelakunya adalah orang Islam baik laki atau perempuan, berakal dan memiliki kemampuan penyembelihan. Sedangkan rukunnya meliputi: alat peyembelihan tajam, pemotongaan harus mengenai sasarandan menyebut nama Allah ketika Hal yang diperbolehkan dan yang dimakruhkan dalam penyembelihan. Perkara pertamaantara yembelihan hewan yang cidera atau sakit, mengangkat tangan atau pisau sebelum penyembelihan sempurna dan melukai hewan ketika penyembelihan gagal. Perkara kedua meliputi penyembelihan dilakukan dengan alat yang tumpuldan mematahkan leher atau

sebelum hewan itu diyakini sudah benar-banar mati (pergi ruhnya).

Hikmah yang dipetik dari ajaran peyembelihan diantaranya adalah untuk menambah ketaqwaan

sanakan pembelajaran tentang materi penyembelih soal berikut ini!

Apa yang dimaksud dengan penyembelihan hewan?

Jelaskan syarat dan rukun dalam penyembelihan hewan!

Jelaskan pendapat imam mazhab tentang hukum membaca basmalah dalam penyembelihan!

tentang perintah penyembelihan hewan!

terdapat janin (embrio) di perutnya.Kasus penyembelihan seekor binatang yang di dalamnya terdapat janin, maka penyembelihan cukup dilakukan terhadap induknya saja sekalipun setelah itu janin seperti dimaksud keluar dalam keadaan mati atau

perkara ini kedudukannya tidak sampai membatalkan sembelihan namun hanya makruh untuk dilakukanya yaitu : a). Penyembelihan dilakukan dengan alat yang tumpul, b).

dah benar-banar mati (pergi buru menghabisi nyawa sebelum ia

Hikmah yang dapat diambil dari syariat penyembelihan hewanantara lain adalah:

Menambah ketenangan terhadap jiwa karena apa yang dilakukan dan di makan diyakini sudah sesuai dengan syariat Allah dan syariat Allah tersebutmengandung nilai kemaslahatan hidup.

tkan dari mengkonsumsi benatang yang

leher binatang dengan alat potong sehingga binatang itu tidak bernyawa lagi (mati). Semua binatang yang halal untuk dimakan diperintahkan untuk disembelih terlebih dahulu sesuai dengan aturan syara’ kecuali An’Am ayat 121 dan al- azhab sepakat bahwa daging hewan yang boleh dikonsumsi adalah hewan yang Syarat peyembelihan hewan adalah: pelakunya adalah orang Islam baik laki atau perempuan,

penyembelihan. Sedangkan rukunnya meliputi: alat peyembelihan tajam, pemotongaan harus mengenai sasarandan menyebut nama Allah ketika Hal yang diperbolehkan dan yang dimakruhkan dalam penyembelihan. Perkara pertamaantara yembelihan hewan yang cidera atau sakit, mengangkat tangan atau pisau sebelum penyembelihan sempurna dan melukai hewan ketika penyembelihan gagal. Perkara kedua meliputi penyembelihan dilakukan dengan alat yang tumpuldan mematahkan leher atau

banar mati (pergi ruhnya).

Hikmah yang dipetik dari ajaran peyembelihan diantaranya adalah untuk menambah ketaqwaan

tentang materi penyembelihan hewan maka

Jelaskan pendapat imam mazhab tentang hukum membaca basmalah dalam penyembelihan!

Dalam dokumen Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (Halaman 190-193)