• Tidak ada hasil yang ditemukan

ADULT BASIC LIFE SUPPORT

Dalam dokumen EIMED PAPDI pdf text (Halaman 170-184)

TRANSFUSI DARAH

XII. ADULT BASIC LIFE SUPPORT

(opa mh “2 aburr Basic Lire SUPPORT

Penyusun...” EKA GINANJAR 0 Pr

TINJAUAN UMUM Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar (BHD) adalah

(DEFINISI, PATOGENESIS sistematika upaya oksigenasi darurat. Sebelum mengetahui tentang SINGKAT, KLASIFIKASI) BHD maka harus dipahami bahwa sistem pernapasan dan sirkulasi yang berhenti mendadak menyebabkan darah yang teroksigenasi tidak dapat sampai ke otak dan jaringan tubuh lainnya sehingga dapatkan menyebab- kan kematian bila tidak segera ditolong. Berdasarkan berbagai penelitian berhentinya oksigenasi ke otak akan menimbulkan kerusakan di otak sejak menit ke-4 dan kematian otak terjadi mulai menit ke-6. Untuk itu BHD yang dilakukan memang harus secepatnya.

BHD dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung dan henti nafas secara mendadak yang disebabkan oleh berbagai keadaan seperti pada korban tenggelam, tersengat listrik, kecelakaan lalu lintas, korban kebakaran, serangan jantung, dan keadaan kegawatdaruratan lainnya.

Penyebab tersering dari kondisi henti jantung ini adalah ventrikular takikardia (VT) dan ventrikular fibrilasi (VF). Untuk itu pada bulan Oktober 2010, American Heart Association (AHA) mengeluarkan guidelines terbaru dengan beberapa perubahan mendasar dalam penatalaksanaan BHD bila dibandingkan dengan guidelines tahun 2005

Berdasarkan AHA 2010 tersebut maka Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan upaya oksigenasi darurat meliputi :

- Penilaian kondisi henti jantung mendadak secepat mungkin dengan menilai:

« Apakah korban tidak responsif

“ Apakah korban tidak bernapas atau gasping

« Pastikan lokasi korban dan penolong aman

“Nilai kesadaran korban dengan menggunakan ASNT : Awas, Suara, Nyeri, Tanpa respon. (Inggris: AVPU: Alert, Voice, Pain, Unresponsive). Korban yang tidak sadar tidak akan mem- berikan respon pada rangsangan. Bila korban tidak berespon buka pakaian yang menutupi dada (ekspos dada korban) untuk memudahkan tindakan resusitasi. Nilai apakah korban henti napas atau hanya gasping. Letakkan korban pada alas yang rata dan keras, dengan posisi telentang, kedua lengan di sisi kanan dan kiri korban. Apabila penolong seorang diri, penolong berlutut di samping korban sejajar dengan

&

SIRKULASI

bahunya, agar saat melakukan bantuan napas dan sirkulasi penolong tidak perlu banyak bergerak, sehingga akan memudahkan dalam melakukan pertolongan.

- Pengaktifkan sistem penanganan gawat darurat, bila skenario diluar rumah sakit maka aktifkan ambulan gawat darurat (contohnya 911 di Amerika Serikat) dan bila skenarionya di dalam rumah sakit maka yang diaktifkan adalah sistim respon gawat darurat rumah sakit tersebut (contohnya 'code blue' sekaligus mendapatkan defibrilator). Pada skenario diluar rumah sakit defibrilator yang digunakan adalah Automated External Defibril- lator (AED) yang seharusnya tersedia ditempat-tempat umum atau keramaian.

- Circulation support

- Airway control dan cervical control - Breathing support

- Defibrillator

- Lakukan evaluasi setiap 5 siklus. Satu siklus terdiri atas 30 kompresi dan 2 kali napas buatan. Hal ini berlaku baik pada 1 penolong maupun pada 2 penolong. Bila penolong terdiri atas 2 orang, lebih dianjurkan penolong berada pada sisi berlainan dari korban. Bila korban bernapas spontan tetapi belum sadar kan diri, posisikan pada posisi pulih

Pada AHA 2010 circulation didahulukan dengan cara penilaian nadi terlebih dahulu, begitu nadi tidak teraba maka resusitasi jantung paru (RJP) segera dimulai (lihat Gambar 2). Penilaian nadi ini dilakukan setelah melakukan penilaian kondisi henti jantung yang sudah dijelaskan di atas.

Penilaian nadi tidak melebihi waktu 10 detik. Pemeriksaan nadi ini hanya dilakukan oleh petugas kesehatan atau orang yang sudah biasa meraba nadi. Bila masyarakat umum yang kira-kira sulit dalam menilai.

nadi, maka hal ini dapat dilewati. Yang terpenting adalah penilaian nadi ini tidak memperlama dimulainya kompresi jantung luar.

Lokasi penilaian denyut nadi :

- Arteri karotis. Terletak 2 jari ke kiri dan kekanan dari garis pertengahan leher

Gambar 3. Penilaian Denyut Nadi Dilakukan di Arteri Karotis

156 | EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN SIRKULASI - Keadaan nadi

- Frekuensi nadi melebihi 100 kali/menit atau kurang dari 60 kali permenit

- Denyut nadi melemah - Nadi tidak teratur - Adanya perdarahan

- Adanya syok. Frekuensi nadi cepat, suhu kulit dingin, warna kulit pucat hingga kebiruan, dan pengisian kapiler pada ujung-ujung jari lambat.

Catatan: Penilaian adanya perdarahan atau kondisi syok dilakukan bila teraba nadi. Bila nadi tidak ada maka dimulai kompresi jantung luar.

PENGELOLAAN GANGGUAN SISTEM SIRKULASI

- Pengadaan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung luar (Resusitasi Jantung Paru — RJP). Caranya dengan seperti pada gambar 4.

Gambar 4.

Cara melakukan kompresi jantung luar:

1. Tentukantitik kompresi. Titik kompresi terletak di bagian setengah bawah tulang dada atau di antara 2 puting susu (pada garis tengah).

2. Letakkan tumit salah satu tangan di titik kompresi. Tangan yang lain ditempatkan di atas tangan pertama. Dianjurkan jari-jemari kedua tangan saling mengait. Tekanan hanya diberikan melalui tumit tangan tersebut, usahakan agar jari-jari penolong tidak menyentuh bahkan menekan tulang-tulang iga korban.

AIRWAY CONTROL &

CERVICAL CONTROL

3. Saat melakukan penekanan dinding dada, posisi badan penolong tegak lurus bidang datar, dengan kedua lengan lurus. Penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badan- nya. Setiap siklus dilakukan 30 kali kompresi, dengan kedalaman sekitar 5 cm. Kompresi dilakukan dengan kecepatan 100 kali/

menit. Setiap kali setelah kompresi biarkan dada korban kembali mengembang. Jangan lepaskan tangan penolong dari dada korban atau merubah posisi tangan.

KONSEP PENTING: HIGH OUALITY AND EFFECTIVE CPR Frekuensi kompresi jantung luar minimal 100x/menit Kedalaman kompresi minimal 5 cm

Biarkan chest recoil (dinding dada kembali Pee semula) setelah setiap kompresi jantung luar

Minimalkan interupsi ketika sedang kompresi jantung luar.

Interupsi yang boleh hanyalah untuk cek nadi dan defibri- lasi.

Hindari ventilasi yang berlebihan.

AIRWAY NORMAL

- Tidak ada suara-suara napas tambahan.

- Berbicara dan memberikan jawaban adekuat, ditandai dengan:

suara dan kalimat yang jelas dan tidak terputus-putus, tidak ada kesulitan dalam berbicara.

- Tidak ada usaha tambahan saat bernapas.

GEJALA DAN TANDA GANGGUAN AIRWAY - Korban tampak kesulitan bernapas

- Adanya suara napas tambahan baik saat inspirasi maupun ekspirasi

- Adanya usaha tambahan untuk bernapas - Sianosis

PENGELOLAAN GANGGUAN AIRWAY Pembebasan jalan napas :

Head tilt-chin lift

Teknik ini dilakukan dengan mendorong dahi korban ke belakang sehingga kepala korban mendongak dan dagu korban diangkat. Lihat Gambar 5.

158 | EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

Gambar 5. Teknik Head tilt-chin lift dan Jaw Thrust pada pasien dgn kecurigaan fraktur leher

Menggunakan Alat Bantu

Oropharingeal airway (OPA) dan nasopharingeal airway digunakan apabila terjadi sumbatan airway karena jatuhnya pangkal lidah, agar pangkal lidah tidak jatuh ke belakang. OPA terbuat dari plastik, digunakan pada korban tidak sadar dan tidak memiliki refleks muntah

Recovery Position

Recovery position atau posisi pulih merupakan posisi yang tepat untuk menjaga agar airway tetap terbuka tanpa menggunakan bantuan alat. Posisi ini dilakukan pada korban yang tak sadar dengan pernapasan normal dan denyut nadi normal, serta tidak mengalami atau dicurigai mengalami cedera kepala, leher, tulang belakang, serta cedera lain yang tidak memungkinkan korban dimiringkan. Dengan menempatkan korban pada posisi pulih, muntahan, darah, maupun lendir akan keluar rongga mulut dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Ingat bahwa setiap korban potensial untuk muntah. Lihat Gambar 6.

Gambar 6. Recovery Position

Sumbatan Airway oleh benda asing Jenis sumbatan

» Benda padat : makanan.

«- Cairan : lendir, darah, muntahan

» Bagian dari tubuh/jaringan tubuh : lidah

“- Penyakit : Infeksi, tumor, abses

Derajat sumbatan Total

- Universal sign of choking, gambar 7

- Tidak dapat bicara, bernapas, maupun batuk (silent cough) - Pada korban yang masih berusaha bernapas akan tampak

sebagai gerakan paradoksal dada dan perut (see-saw breathing), yaitu dada bergerak turun ketika perut bergerak naik

Gambar 7. Universal sign of chocking dan melihat langsung ada atau tidaknya sumbatan di rongga mulut dan orofarings.

Parsial/sebagian

- Bernapas dan berbicara tidak adekuat

- Batuk. Pada korban dengan sumbatan parsial dan pernapasannya masih baik

- Terdengar suara napas tambahan baik saat inspirasi maupun ekspirasi. Suara napas tambahan pada sumbatan airway parsial:

»- Mengorok (snoring). Terjadi akibat sumbatan oleh lidah, dan

terdengar saat ekspirasi |

» Berkumur-kumur (gargling). Sumbatan oleh cairan. Bunyi terdengar saat inspirasi maupun ekspirasi.

“ Stridor. Terjadi bila terdapat pembengkakan laring. Contoh : korban dengan cedera inhalasi, cedera langsung pada laring, dan bayi yang mengalami infeksi saluran napas. Potensial menyebabkan kematian dengan cepat. Bila mendapati kondisi ini lakukan :

- Penilaian awal airway dan buka jalan napas - Berikan oksigen bila tersedia

- Segera bawa ke rumah sakit

160 | EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

Membebaskan Airway dari Sumbatan

Korban yang masih bisa batuk dengan adekuat, motivasi korban untuk batuk. Jangan lakukan intervensi. Apabila gejala sumbatan jalan napas semakin berat yang ditandai dengan silent cough, kesulitan bernapas meningkat yang disertai dengan stridor atau korban jadi tidak sadar, maka lakukan tindakan pembebasan jalan napas dan aktifkan sistem pelayanan gawat darurat.

Tanpa Alat/Manual

Abdominal Thrusts, posisi penolong ada dibelakang korban, lalu letakkan kepalan tangan di uluhati korban, kemudian dilakukan hentakan kuat ke arah uluhati atas korban.

Chest Thrust, pada korban hamil atau terlalu gemuk lakukan hentakan dada (chest thrust). Kepalan diletakkan antara pertengahan tulang dada dan tulang xifoid.

Sapuan jari, dilakukan bila terlihat dengan nyata benda asing padat yang menyumbat jalan napas pada korban tidak sadar.

Menggunakan Alat Suction/Penyedot

Digunakan bila jenis penyumbat adalah cairan (lendir, darah, muntahan). Ingat, selain cairan, udara pernapasan pun akan terhisap.

BREATHING (PERNAFASAN) | PERNAPASAN NORMAL

Tidak adanya usaha tambahan dalam bernapas. Tidak tampak adanya penggunaan otot-otot pernapasan tambahan, seperti penarikan ke dalam sela-sela iga, cekungan di atas tulang dada, maupun tarikan leher.

Dada bergerak naik turun secara bersamaan kiri dan kanan sesuai dengan siklus inspirasi dan ekspirasi

Korban dapat berbicara lancar, tidak terputus-putusdan dapat menyelesaikan kalimatnya

Frekuensi pernapasan orang dewasa dalam keadaan normal 12- 20 kali per menit

TANDA DAN GEJALA GANGGUAN NAPAS

Sesak napas. Frekuensi pernapasan yang cepat serta penggunaan otot-otot pernapasan tambahan

Suara napas tambahan seperti mengi

Pergerakan dada kiri dan kanan yang tidak sama atau ada bagian

NA AREMA

Er DA IA Len AA La

dada yang pergerakannya tidak bersesuaian seperti flail chest - Pada orang dewasa frekuensi pernapasan kurang dari 8 kali/menit

atau lebih dari 30 kali/menit

- Henti napas. Tidak adanya suara napas, pergerakan dada maupun abdomen, termasuk didalamnya gasping.

SEBAB-SEBAB GANGGUAN NAPAS

- Gangguan pergerakan diafragma dan otot-otot pernapasan : pada cedera dada atau abdomen

- Gangguan saraf yang mengatur pernapasan : cedera pada kepala, leher, maupun tulang belakang

- karbondioksida dalam tubuh yang meningkat

CARA MENILAI BREATHING

Posisi saat melakukan penilaian :

- Pada AHA 2010 penilaian breathing ini tidak dilakukan secara khusus seperti pada guidelines AHA 2005 yang mengenal istilah LOOK, LISTEN and FEEL. Penilaian breathing dilakukan diawal simuitan ketika kita menilai apakah korban masih respon atau tidak. Ketika korban kolaps dan didapatkan tidak bernafas dengan normal apalagi henti nafas termasuk gasping.

Pengelolaan Gangguan Breathing

Pernapasan buatan adalah memberikan udara bertekanan positif yang mengandung oksigen, kemudian membiarkan udara mengalir keluar secara pasif, seperti layaknya proses inspirasi dan ekspirasi. Saat pemberian pernapasan buatan perlu diperhatikan adanya pertukaran udara keluar masuk paru-paru (ventilasi) dan tercukupinya oksigen yang akan mengalami pertukaran gas. Volume udara yang diberikan sebesar yaitu 6-7mL/ kgBB atau sampai dengan dada korban terlihat mengembang. Hati-hati, jangan terlalu kuat atau terlalu banyak karena dapat melukai paru-paru korban atau masuk ke lambung.

Pernapasan buatan mulut — mulut

Resiko dan kemungkinan kontak dengan cairan tubuh korban ter- masuk muntahan sangat besar. Untuk melakukan pernapasan buatan mulut ke mulut gunakanlah alat pelindung barrier device, face shield.

Langkah-langkah memberikan pernapasan buatan mulut ke mulut:

a. Pasang alat pelindung: barrier device, face shield.

b. Penolong menarik napas biasa saat akan memberikan napas

162 |eimeo PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

is buatan, agar volume tidal terpenuhi.

c. Jepit lubang hidung korban dengan ibu jari dan jari telunjuk.

d Tutupi mulut korban dengan mulut penolong. Mulut penolong harus dapat menutupi keseluruhan mulut korban agar tidak ter- jadi kebocoran.

e. Berikan hembusan napas 2 kali, sambil tetap menjaga terbukanya airway. Setiap hembusan napas dilakukan selama 1 detik. Beri kesempatan untuk ekspirasi.

Pernapasan buatan mulut - hidung

Teknik pernapasan buatan mulut ke hidung dilakukan bila tidak mungkin melakukan pernapasan mulut ke mulut, misal mulut korban yang terkatup rapat dan tidak bisa dibuka (trismus), atau mulut korban mengalami cedera berat. Langkah-langkah yang dilakukan sama seperti pernapasan buatan mulut ke mulut. Perbedaannya adalah ketika mem- berikan bantuan napas, hembusan napas diberikan melalui hidung korban sementara mulut korban ditutup. Pada saat korban ekspirasi usahakan mulut korban terbuka.

Pernapasan buatan mulut — stoma

Langkah-langkah melakukan pernapasan buatan mulut ke stoma pada dasarnya sama dengan dua teknik di atas, hanya saja hembusan napas diberikan melalui stoma.

Pernapasan buatan mulut-masker/ sungkup muka.

Tehnik pernapasan buatan mulut ke masker lebih efektif dan lebih aman dibanding cara-cara pernapasan yang telah dijelaskan sebelumnya.

Masker yang baik untuk pernapasan buatan memiliki karakter : - Ukuran sesuai dengan korban. Ukuran yang sesuai penting agar

masker dapat melekat erat pada wajah sehingga tidak terjadi

kebocoran. |

- Transparan/tembus pandang. Masker dari bahan transparan memungkinkan penolong dapat melihat adanya cairan mapun muntahan yang keluar dari korban.

- Dilengkapi katup satu arah atau dapat dihubungkan dengan katup satu arah pada bagian atasnya.

BVM ( Bag Valve Mask)

Bag valve mask (BVM) terdiri dari kantung, katup satu arah, dan sungkup muka. Isi kantung (dewasa) sekitar 1-21 dan dapat dihubung- kan dengan sumber oksigen. Pernapasan buatan dengan bantuan BVM lebih aman dan menguntungkan, karena dapat memberikan oksigen

Pn TR 5 pt

(RJP)

RESUSITASI JANTUNG BARU | DEFINISI

dengan konsentrasi lebih tinggi. BVM dianjurkan digunakan oleh dua orang penolong.

Gambar 8. Kiri-kanan: Bantuan napas mouth to mouth, mouth to device, bag valve mask (BVM)

Perhatian !

- Pemompaan udara pernapasan dilakukan saat korban inspirasi.

- Pemberian bantuan napas disesuaikan dengan kebutuhan korban.

Perhatikan volume tidal dan frekuensi napas yang dibutuhkan korban.

- Pemasangan masker harus sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan korban dan ketat

- Bila korban memiliki gigi palsu, biarkan gigi palsu tersebut tetap pada tempatnya, karena akan mempermudah dicapainya posisi masker yang ketat. Namun bila gigi tersebut lepas, segera keluar- kan dari mulut korban dan amankan. Lepasnya gigi palsu merupa- kan ancaman terjadinya sumbatan jalan napas. Lakukan penilaian berkala keberadaan gigi palsu selama menolong korban.

Resusitasi jantung paru merupakan upaya mengembalikan fungsi sistem sirkulasi dan pernapasan untuk menjamin tercukupinya oksi- genasi sel-sel terutama sel-sel otak dan jantung, ketika fungsi sistem sirkulasi dan pernapasan berhenti mendadak.

RJP dilakukan bila terjadi

- Hentinapas Korban tidak bernapas, ditandai dengan tidak adanya pergerakan dada dan aliran udara napas.

- Henti jantung. Jantung berhenti berdenyut dan memompa- kan darah, ditandai dengan tidak terabanya denyut nadi pada arteri-arteri besar, seperti arteri karotis, arteri brakialis dan arteri femoralis.

———— Ahh NN:

164 | EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

www w—

LANGKAH LANGKAH RESUSITASI JANTUNG PARU

1.

KONSEP PENTING: HIGH GUALITY AND EFFECTIVE CPR....!.

- Nilai Kesadaran/respon dan kesan pernapasan - Minta tolong (aktifkan sistem gawat darurat) - Circulation Support

- Airway control dan cervical control - Breathing support

- Defibrillator - Reevaluasi

Gambar 10. Langkah-langkah RIP dengan Automated External Defibrillator Nilai Kesadaran/respon dan kesan pernapasan dilanjutkan dengan minta tolong (aktifkan sistem gawat darurat)

Cek nadi (bagi petugas kesehatan)

Lakukan RJP dengan perbandingan 30 : 2 (setiap 1 siklus)

Ketika AED datang, orang kedua memasang AED tanpa menghenti- kan kompresi jantung luar. Kompresi jantung luar hanya dihentikan bila AED sedang menganalisis dan ketika sedang memberikan shock.

Setelah itu langsung dilanjutkan dengan kompresi jantung luar.

Reevaluasi dilakukan setiap 5 siklus

Frekuensi kompresi jantung luar minimal 100x/menit

Kedalaman kompresi minimal 5 cm .

Biarkan chest recoil (dinding dada kembali keposisi sauna setelah setiap kompresi jantung luar

Minimalkan interupsi ketika sedang kompresi jantung: luar, Interupsi yang boleh hanyalah untuk cek nadi dan defibrilasi. :

Hindari ventilasi yang berlebihan.

Tindakan resusitasi jantung paru tidak akan serta merta membuat korban hidup kembali. Perlu tindakan lebih lanjut dari tenaga medis atau para- medis (dengan peralatan yang lebih lengkap) seperti defibrilasi.

Ma

AAN HAN et AR

Pn ai

Tanda-tanda RJP yang dilakukan berhasil.

- Napas spontan

Gerakan dada turun naik Adanya aliran udara napas Denyut nadi kembali teraba

Denyut jantung kembali terdengar melalui stetoskop.

Kulit korban yang semula pucat menjadi kemerahan Dapat melakukan gerakan terarah

Korban berusaha menelan Refleks pupil positif RJP dihentikan bila :

Penolong kelelahan

Korban telah dialihkan kepada petugas lain yang lebih ahli Didapatkan informasi bahwa korban sudah lama meninggal Sirkulasi (denyut nadi) dan pernapasan sudah kembali pulih RJP boleh dihentikan untuk sementara bila :

Saat memindahkan pasien ke tandu

Memindahkan korban menuruni tangga atau melalui lorong yang sempit

Saat memasukan atau mengeluarkan korban dari ambulans Saat melakukan defribilasi

Kesalahan-kesalahan seputar RJP Posisi korban : tidak terlentang Alas : lunak dan tidak rata

Pemberian napas yang tidak adekuat atau terlalu cepat Posisi penolong tidak tepat

Kompresi dada yang kurang atau terlalu cepat Jumlah pijatan dan batuan napas tidak sesuai Penyulit dilakukannya RJP

Fraktur iga Pneumotoraks Hematotoraks

Luka dan memar pada paru, hati dan limpa

166 | EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine) www w——

ALGORITME Simplified Adult BLS

Gambar 1. Algoritme Besar Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan CPR Guidelines AHA 2010

Adult BLS Healthcare Providers

east 2 inches (5 cm)

“- Now complete chest recall Activats emergency.rasponse system after cach compreasion

Get AED/defibrittator 3 n

Or serid second rescuar (f avaliabla) to do this

Nate: The baxes bordered with dashed lines are performed

by healthcare providers and not by lay rescuers (0 2010 American Heart Association

Gambar 2. Algoritme Bantuan Hidup Dasar Berdasarkan CPR Guidelines AHA 2010

WEWENANG Dokter Umum (A2, B2, C2)

Spesialis Penyakit Dalam (A3, B3/B4, C3)

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskuler (A3, B3/B4, C3) Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Intensive Care (A3, B3/B4, C3 REFERENSI 1. Tintinalli JE (ed). Tintinalli's Emergency Medicine, A Comprehensive Stusy

Guide. 7th ed. The McGraw-Hill Company Inc, New York, 2011.

2. Fulde GW. Emergency Medicine : The Principles of Practice. 5th ed. Churchill Livingstone Elsevier, Sydney, 2009.

Dalam dokumen EIMED PAPDI pdf text (Halaman 170-184)