• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKG DALAM KEGAWADARURATAN —

Dalam dokumen EIMED PAPDI pdf text (Halaman 119-132)

TINJAUAN UMUM PENDAHULUAN

(DEFINISI, PATOGENESIS,

KLASIFIKASI) Eltektrokardiografi (EKG) adalah grafik yang merekam aktivitas potensial listrik yang dihasilkan oleh denyut jantung. Pada perekaman EKG, digunakan elektroda positif (anoda), elektroda negatif (katoda) dan galvanometer, ketiganya bersama-sama disebut sandapan (lead).

« Hukum dasar EKG (Goldberger) :

- Arus depolarisasi jantung yang merambat menuju ke elektroda positif (meninggalkan elektroda negatif) akan menimbulkan defleksi positif,

- Arus depolarisasi jantung yang merambat menuju ke elektroda negatif (meninggalkan elektroda positiftif)y akan menimbulkan defleksi negatif,

- Arus depolarisasi jantung yang berjalan tegaklurus terhadap sumbu yang menghubungkan kedua elektroda akan menimbul- kan defleksi bifasik,

- EKG direkam pada kertas khusus yang memiliki kotak-kotak dalam ukuran milimeter (mm), yang terbagi atas kotak kecil, kotak sedang dan kotak besar. Satu kotak kecil berukuran 1 mm x 1 mm: 1 kotak sedang berukuran 5 mm x 5 mm, dan 1 kotak besar berukuran 25 mm x 25 mm.

» Pada rekaman EKG standard, telah ditetapkan bahwa kecepatan rekaman adalah 25 mm/detik dan kekuatan voltage adalah 10 mm setara dengan 1 MV, sehingga ukuran pada kertas EKG adalah : - Pada garis horizontal

1 mm - 1/25 detik - 0,04 detik 5 mm - 5/25 detik - 0,20 detik 25 mm 5 1,0 detik

- Pada garis vertikal 1 mm - 0,10 mv 10 mm - 1,00 mV

SISTEM KONDUKSI JANTUNG |

“ Sinoatrial (SA) node, merupakan sekumpulan sel yang terletak di sudut kanan atas atrium kanan yang mengatur ritme jantung yang normal (60- 100 kali/menit) dengan siklus jantung diawali oleh sistole atrium,

&

104 Ex ED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

» Atrioventricular (AV) node, terletak dekat septum interatrial bagian bawah, di atas sinus koronarius dan di belakang katup trikuspid:

berfungsi memperlambat kecepatan konduksi dari SA node sehingga memberi kesempatan darah dari atrium masuk ke ventrikel. AV node juga berfungsi melindungi ventrikel dari stimulasi SA node yang berlebihan, misalnya fibrilasi atrial. AV node dapat menghasilkan impouls dengan frekuensi 40-60 kali/menit,

» Berkas His, terbagi atas berkas kanan dan kiri. Berkas kiri akan terbagi menjadi fasikulus anterior kiri dan posterior kiri. Berkas kanan akan bercabang-cabang menjadi serabut Purkinye yang menghasilkan impuls 20-40 kali/menit.

GELOMBANG EKG NORMAL Gelombang P

- Gelombang P menggambarkan aktifitas depolarisasi atrium kiri dan kanan

- Adanya gelombang P yangdiikuti kompleks ORS-T menunjukkan bahwa denyut jantung dalam irama sinus,

- Arah gelombang P normal selalu positif di sandapan lateral (IL aVL, V, dan V,) dan sandapan inferior (aVF): selalu negatif di aVR: bifasik di sandapan V,,

- Normal tinggi gelombang P « 3 mm dan lebar gelombang P « 3 mm (0,11 detik)

- Apabila gelombang P di sandapan I negatif dan letak elektroda aVR dan aVL tidak terbalik, maka hal ini merupakan gambaran EKG dekstrokardia,

- Pada hipertrofi atrium kanan akan didapatkan P pulmonal, yaitu gelombang P yang tinggi dan tajam di sandapan II (amplitudo » 3 mm): sedangkan pada hipertrofi atrium kiri akan didapatkan P mitral, yaitu gelombang P yang lebar dan berlekuk di sandapan II (lebar gelombang P » 0,11 detik),

- Gelombang P dapat tidak tampak pada keadaan henti sinus (sinus arrest), blok SA derajat III, fibrilasi atrium, junctional tachycardia, takikardia supraventrikular.

Gelombang Ta (auricular T-wave)

- Gelombang Ta menggambarkan repolarisasi atrium, biasanya tidak tampak karena terlalu kecil dan tertutup oleh kompleks ORS, - Gelombang Ta biasanya barutampak pada blokAV derajat!II, sebagai gelombang kecil yang berlawanan arah dengan gelombang P sebelumnya di sandapan yang sama.

Kompleks ORS & interval ORS

Kompleks ORS menggambarkan seluruh depolarisasi ventrikel, terdiri dari gelombang O, gelombang R dan gelombang S: normal lebar kompleks ORS 0,06-0,1 detik,

Gelombang O, merupakan defleksi negatif pertama pada kompleks ORS. Gelombang 9 yang patologis memiliki ciri lebar - 0,04 detik (1 mm) dengan kedalaman » 254 amplitudo gelombang R. Adanya gelombang O menunjukkan adanya nekrosis miokard.

Gelombang 9 pada sandapan aVR merupakan keadaan yang normal.

Gelombang R, merupakan defleksi positif pertama pada kompleks ORS dan menggambarkan depolarisasi ventrikel. Pada sandapan prekordial, defleksi positif gelombang R akan makin besar dari sandapan V, ke Vs keadaan ini disebut R-wave progression, Gelombang S, merupakan defleksi negatif setelah gelombang R dan menggambarkan depolarisasi ventrikel

Bila pada suatu kompleks ORS didapatkan defleksi positif kedua setelah gelombang R, maka disebut R' sedangkan bila didapatkan defleksi negatif kedua setelah gelombang S, maka disebut S', Jarak antara permulaan gelombang O sampai akhir gelombang S disebut interval ORS, menunjukkan lamanya aktifitas depolarisasi ventrikel. Norma! interval ORS « 0,12 detik: interval ORS 2 0,12 detik terdapat pada bundle branch block dan hiperkalemia.

Gelombang T

Menggambarkan fase repolarisasi ventrikel,

Normal arah gelombang T sesuai dengan arah gelombang utama kompleks ORS, yaitu positif di sandapan I, II, V3-V, dan negatif di sandapan aVR,

Amplitudo normal gelombang T adalah « 10 mm di sandapan prekordial dan « 5 mm di sandapan ekstremitas, minimum amplitudo gelombang T normal adalah 1 mm.

Gelombang T penting untuk diagnosis infark miokard atau gang- guan elektrolit: gelombang T yang terbalik dan dalam menun- jukkan adanya iskemia miokard transmural atau aneurisme, sedangkan gelombang T yang sangat tinggi sering ditemukan pada keadaan hiperkalemia dan hiperkalsemia,

Gelombang U

Merupakan gelombang kecil yang kadng-kadang tampak setelah gelombang T, merupakan bagian akhir dari repolarisasi ventrikel dan merupakan bagian dari gelombang T, sehingga seringkali tidak nampak,

Mekanisme timbulnya gelombang U tidak diketahui:

ke

106 |ermeo PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

- Gelombang U paling jelas terlihat pada sandapan prekordial V, -V,:

gelombang U yang terbalik di I, II, V, dan V,, sering berhubungan dengan penyakit jantung koroner dan hipertensi

- Bila amplitudo gelombang U » T, menunjukkan adanya hipokalemia.

Interval PR

- Interval PR adalah jarak antara awal gelombang P sampai dengan awal kompleks ORS: menggambarkan lama konduksi melalui nodus atrioventrikular dan berkas His-Serat Purkinye,

- Normal interval PR 0,12-0,20 detik. Bila interval PR « 0,12 detik menunjukkan adnya konduksi yang dipercepat, misalnya pada sindrom WPW. Bila interval PR » 20 detik, menunjukkan adanya blok atrioventrikular (AV block). Bila interval PR berubah-ubah, menunjukkan adanya wandering pacemaker.

Interval OT

- Interval OT adalah jarak antara permulaan gelombang 0 sampai dengan akhir gelombang T: menggambarkan lamanya aktifitas depolarisasi dan repolarisasi ventrikel.

- Nilai interval OT ditentukan oleh frekuensi jantung. Nilai interval OT yang telah disesuaikan dengan interval OT pada frekuensi jantung 60 kali/menit disebut interval OT-c, dan nilainya di- tentukan oleh nomogram. Normal nilai GT-c pada laki-laki adalah 0,42 detik dan pada wanita 0,43 detik.

- Interval OT-c memanjang didapatkan pada efek guinidin dan hipokalsemia: dan interval OT-c menmendek didapatkan pada efek digitalis dan hiperkalsemia.

- Interval OT juga memanjang pada kelainan kongenital yang disebut long OT syndrome, keadan ini berhubungan dengan risiko timbulnya aritmia

VAT (Ventricular Activation Time, Intrinsic Deflection)

- VAT adalah jarak antara permulaan gelombang O ke puncak gelombang R, menggambarkan waktu yang diperlukan oleh impuls untuk menyebar dari permukaandalam ventrikel tendo- kardium) ke permukaan luar ventrikel (epikardium).

- Nilai normal VAT di V,-V, « 0,03 detik, sedangkan di V,-V, « 0,05 detik. Bila VAT memanjang menunjukkan adalanya bundle branch block dan hipertrofi ventrikel.

Segmen ST

- Segmen ST adalah bagian dari rekaman EKG diantara titik J sampai

PENILAIAN EKG NORMAL

permukaan gelombang T: titik J adalah titik akhir kompleks ORS dan awal segmen ST.

Normal, segmen ST isoelektris (-0,5 mm - #2 mm). Elevasi segmen ST didapatkan pada infark miokard, aneurisma ventrikel dan perikarditis. Depresi segmen ST didapatkan pada angina pektoris, efek digitalis, ventricular strain pattern.

Rate/frekuensi

Tentukan 1 puncak gelombang R (atau P) yang tepat berimpit dengan garis vertikal kotak sedang. Kemudian tentukan puncak gelombang R (atau P) yang kedua. Hitung jarak gelombang R (atau P) yang pertama dan kedua, sehingga dapat ditentukan rate/frekuensi jantung, yaitu :

“ Bila jaraknya 1 kotak sedang, maka frekuensi jantung 300 kali/menit

“ Bila jaraknya 2 kotak sedang, maka frekuensi jantung 150 kali/menit

» Bila jaraknya 3 kotak sedang, maka frekuensi jantung 100 kali/menit

“ Bila jaraknya 4 kotak sedang, maka frekuensi jantung 75 kali/

menit

“Bila jaraknya 5 kotak sedang, maka frekuensi jantung 60 kali/

menit

“ Bila jaraknya 6 kotak sedang, maka frekuensi jantung 50 kali/

menit

Normal, frekuensi jantung adalah 60-100 x/menit. Bila frekuensi

» 100 x/menit, disebut takikardia, sedangkan bila frekuensi jantung « 60 x/menit, disebut bradikardia.

Rhythm (irama)

Dalam keadaan normal, impuls dibentuk oleh pace-maker di SA node, kemudian menyebar melalui AV node — berkas His — right

& left bundle branch — serabut Purkinye, mengaktifkan serabut otot ventrikel.

Pace maker jantung normal adalah SA node dengan frekuensi 7 0-80 x/menit. Pace maker yang lain adalah atrium dengan frekuensi 75 x/menit: AV node dengan frkuensi 60 x/menit: berkas His dengan frkuensi 50 x/menit: dan serabut Purkinye serta otot ventrikel dengan frekuensi 30-40 x/menit.

Irama jantung yang normal adalah irama yang berasal dari pace maker SA node dan disebut irama sinus dengan diri-ciri :

» Frekuensi 60-100 kali/menit

“Interval P-P teratur: interval R-R teratur

108 EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

« Gelombang P positif di II dan negatif di aVR

« Tiap gelombang P diikuti oleh kompleks ORS-T

“ Interval PR 0,12-0,20 detik dan konstan

« Interval ORS « 0,10 detik

Setiap penyimpangan dari ciri-ciri tersebut diatas disebut aritmia (kordis).

Aksis (vektor jantung)

Aksis elektrik yang ditentukan oleh EKG tidak selalu sama dengan aksis anatomis jantung. Terdapat 3 jenis aksis (vektor jantung), yaitu vektor depolarisasi atrium (vektor P), vektor depolarisasi ventrikel (vektor ORS) dan vektor repolarisasi ventrikel (vektor T). Dari ketiga vektor tersebut, yang rutin diukur adalah vektor ORS (aksis ORS rata-rata), baik pada bidang frontal maupun pada bidang horizontal,

Aksis ORS rata-rata pada bidang frontal (I, II, III, aVR, aVL, aVF) normal adalah -309 - #1109, dengan rincian sebagai berikut (tabel VI.1)

Cara praktis menentukan aksis ORS rata-rata :

« Tentukan jumlah aljabar amplitudo ORS di sandapan I dan aVF

» Tentukan di kuadran mana vektor ORS berada

« Tentukan di sandapan mana terdapat keadaan ekuipotensial (jumlah aljabar amplitudo ORS adalah nol), yang menunjukkan vektor jantung tegak lurus dengan sandapan tersebut.

» Tentukan axis ORS rata-rata sesuai dengan tabel VI.2, Untuk menentukan aksis ORS rata-rata pada bidang horizontal (V,-V,), dilihat dari zona transisional (ekuipotensial), yaitu :

» Bila zona transisional di V,-V,, berarti no rotation

“ Bila zona transisional di V,-V,, berarti clockwise rotation (CR)

« Bila zona transisional di V,-V,, berarti counterclockwise rota- tion (CCR)

Dengan cara yang sama, aksis ventor P dan T juga dapat ditentu- kan, tetapi akan lebih sulit karena amplitudonya kecil

» Aksis P rata-rata normal : 4 159 - 4759

“- Aksis T rata-rata normal: 08 - 4905

« Sudut ORS-T normal : 450 — 60?

Tanda-Tanda Hipertrofi Hipertrofi atrium kanan

Ditandai oleh adanya P pulmonal, yaitu gelombang P yang tinggi

Na aa DAN

ARITMIA

dan tajam di sandapan II, III dan aVF (amplitudo » 2,5 mm), - Gelombang P yang positif di V, dan V, dan lebih besar dari 1,5

mm,

- Aksis P pada bidang frontal «750 - #90».

Hipertrofi atrium kiri

- Ditandai oleh adanya P mitral, yaitu gelombang P yang lebar dan beriekuk pada berbagai sandapan (lebar gelombang P » 0,12 detik)

- Gelombang P negatif di sandapan V,, - Aksis P pada bidang frontal & 15.

Hipertrofi ventrikel kiri

- RV, atau RV, » 27 mm

- SVWIRV atau SV, # RV, » 35 mm - RMS RV,

- RaVL 5 13 mm - RaVF» 20mm - R14 SIII5 26 mm - MAT di V//V, » 0,05 detik

- Ventricular strain pattern (depresi segmen ST dan inversi T) Hipertrofi ventrikel kanan

- Right axis deviation & 4110”) - RV 2SV,

- Gelombang R yang tinggi di sandapan aVR - Clockwise rotation

- MAT diV,/V, » 0,03 detik

- Ventricular strain pattern (depresi segmen ST dan inversi T) EKG dalam kegawatdaruratan terdiri dari Aritmia dan gangguan pada arteri koronaria (Sindrom Koroner Akut).

Aritmia dibagi berdasarkan frekuensi nadi menjadi takiaritmia (nadi

»100x/menit) dan bradiaritmia (nadi «60x/menit), berdasarkan asal fokus menjadi: aritmia nodal sinus, aritmia atrial, aritmia Junctional dan | aritmia ventrikel, sedangkan bila memperhatikan gangguan konduksi menjadi henti sinus (sinus arrest) dan blok, blok atrioventrikuler dan blok intraventrikular.

Beberapa terminologi dasar yang harus diketahui sebagai berikut:

Gelombang P yang berasal dari Nodul SA (P sinus) memiliki nilai positif di II dan negative di aVR, Gelombang P atrial memiliki bentuk gelombang P yang berbeda dengan gelombang P saat sinus namun tetap dengan nilai positif di II dan negative di aVR, gelombang P nodal (junctional) bisa berada di depan, di dalam dan di belakang gelombang ORS dengan nilai negatif di II dan positif di aVR. Sedangkan gelombang ORS dari

de

110 | EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

supraventrikel memiliki kompleks ORS sempit (durasi «0,12 detik) dengan aksis sesuai dengan gelombang ORS saat sinus. Kompleks ORS dari ventrikel memiliki bentuk yang bizarre dan diikuti dengan segmen ST yang ab- normal dan durasi » 0,12 detik sedangkan aksis ORS berbeda dengan saatsinus.

ARITMIA ATRIAL

Atrial Prematur Beat (Atrial ekstrasistol)

Rangsangan dari fokus ektopik di atrium kiti atau kanan. Gelombang P bukan gelombang P saat sinus, sehingga bentuk gelombang P ber- beda dengan saat sinus. Terdapat “noncompensatory pause”. Tidak ada konsekuensi klinis yang signifikan, namun mampu mencetuskan Atrial Fibrillasi paroksismal terutama bila fokus berasal dari vena pulmonalis.

Bila simptomatik dapat diberikan anti aritmia gol 1C.

Promature Atrial Gontractions

PACS Originatng from dttoront ata eetopic pacomakat 5105

Te 3

Gambar 1. Premature Atrial Complex

ATRIAL TAKIKARDI

Takikardia dengan frekuensi laju atrium mencapai 150-200 x/menit, kompleks ORS sempit, bentuk gelombang P berbeda dari saat sinus, letak gelombang P lebih dari setengah jarak R-R dan bila laju atrium terlalu cepat dapat disertai dengan blok “Wenckebach". Diagnosis bandingnya adalah SVT (supraventrikuler takikardia) atau AVNRT (AV nodal reentrant takikardia). Untuk membedakan digunakan cara pijat karotis (carotid massage) atau diberikan adenosis. Terapi yang diberikan adalah antiaritmia gol I atau III untuk terminasi. Bila gagal dapat diberi- kan obat pengontrol laju (rate control) seperti digitalis, verapamil atau penyekat beta.

Atrial Tachycardin

(Ectomic Atrlal Tachycardia, Multfocat Ata Tachycerdia)

akal tachyeanka mutntasal atrial tachyearsia (MAT) T"

atrial tnchycardin with AV block alial tachycardia with aborraney

Gambar 2. Atrial Takikardi

112 | FIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

ATRIAL FLUTTER

Merupakan bentuk takikardi dengan laju atrium 250-350 x/menit, terlihat gelombang flutter (tidak ada garis isoelektrik diantara 2 gelombang P) dengan laju ventrikel bisa teratur dan bisa pula tidak.

Takikardi atrium ini biasanya disertai dengan konduksi AV 2:1 atau 3:1.

Mekanismenya merupakan suatu "macroreentrant" pada atrium kanan.

Pada tipe yang “counterclockwise" terlihat gambaran seperti mata gergaji pada EKG permukaan. Takikardi ini bisa ditemukan pada jantung normal atau dengan kelainan anatomi. Diagnosis bandingnya adalah Atrial Fibrillasi. Terapinya bisa dengan obat termasuk kontrol irama (rhytm control) seperti golongan I dan III ataupun golongan kontrol laju (rate control) seperti verapamil, digoksin dan penyekat beta. Bila diperlukan bisa dilakukan ablasi kateter.

15/00JIbor 01:49:00 AW po INSTITUE JANTUNG KEGARA

Ha

5 n ni »

Sa

Oper:

ag an ERP ? Pa

TN BIL Private Seti

“Badal TEMU

" kodi bonde-s0no”- Spede!13 Bayide

Gambar 3. Atrial Flutter

ATRIAL FIBRILLASI (AF)

Akibat fokus ektopik muitiple atau sirkuit reentri yang cepat di atrium.

Laju gelombang P mencapai 350-360x/menit dan sangat tidak teratur dengan laju ventrikel (kompleks ORS) tidak teratur. Klasifikasi AF diberikan berdasarkan beberapa kriteria: berdasarkan respon ventrikel menjadi a.

AF "rapid response" dengan laju ventrikel » 100 x/menit: b. AF “normo response” dengan laju ventrikel 60-100 x/menit, dan c. AF “slow response"

dengan laju ventrikel «60 x/menit. Berdasarkan bentuk gelombang fibrilasi menjadi: a. AF kasar (coarse) dan b. AF halus (fine), berdasarkan waktu dan perjalanannya menjadi: a. AF paroksismal yang bisa menjadi Sinus Ritme spontan dan berlangsung «48 jam: b. AF persisten yang hanya dapat dikonversikan menjadi Sinus Ritme dengan obat atau dengan

kardioversi dan berlangsung »48 jam: c. AF permanen yang tidak dapat dikonversikan menjadi Sinus Ritme dengan cara apapun. Gangguan listrik ini menyebabkan tromboemboli sehingga perlu diberikan antikoagulan (sebagai patokan dapat digunakan Skor CHADS), obat untuk kontrol irama digunakan golongan I dan III sedangkan sebagai kontrol laju digunakan verapamil, digoksin atau penyekat beta. Kardioversi dilakukan pada AF paroksismal dan persisten saja. Bisa dilakukan ablasi kateter fokal pada focus di vena pulmonalis.

13 hak 4 A “ee ai « 2

$ f i V

i -

J | Tran dr Kn Tia 1 I 1 ad TA Ng ra

| | | | | | |

(1 to An / Ta 1Omm/ mu ADS | O, 08—3SHz P10PM

MAT Son Ka EN OeespiT 01 aa (ang

pa a 6 1 da Al, IP 5 Ir

mean Pata j | | i

| | | |

"kata FI $ ! 5 Hj

5: 2 2 Pe | | :

1 hu j |

lanang $ 5 JS | 1 Pang ina mala

| 1 i f

“— 2Sma/u Oam m3 ADS ma O, 08-33 san

Gambar 4. Atrial Fibrillasi.

ATRIAL TAKIKARDI MULTIFOKAL

Takikardi atrium ini berasal dari fokus yang berpindah-pindah antara nodul SA, fokus ektopik dan AV “junction”. Gelombang P berubah bentuk, ukuran dan arah dalam beberapa denyutan. Irama tidak teratur dengan laju 60-100 x/menit, interval PR turun dari 0,20 detik sampai 0,12 detik karena fokus berpindah dari nodal SA ke bagian bawah atrium. Gangguan irama ini akibat dari keracunan digitalis sedangkan sebab lain adalah hipoksia, gangguan elektrolit dan asidosis.

BEAN ata Sasana Yopi on

Dur

ge

114 | EIMED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

. z | : : | Tn ea T Ter -

HA Ri SAAT

rn Tea

Aman

Par AO 1 eri TA

il ..£

Ima La An Au 2 ts u

marpotlo dri | Ina,

ra

@ 1997 Frank G, Yanowitz, M.D.

Gambar 5. Atrial Takikardia Multifokal

ARITMIA JUNCTIONAL

Premature Junctional Contraction (Junctional Extrasystole)

Berasal dari fokus ektopik di AV Junction yang timbul lebih awal. Ke- cepatannya seperti irama dasar (saat Sinus Ritme), dengan irama irregular dan gelombang P junctional di depan, di dalam dan di belakang ORS.

Junctional Escape Rhytm

Berasal dari "escape rhythm di AV Junction dengan laju 40-60 x/

menit, irama ventrikel teratur dengan ORS normal dan gelombang P Junnctional bisa terlihat atau tidak.

Inverted, absent or after ORS 40-60 bpm Regular

Gambar 6. Junctional Escape Rhytm

Accelerated Junctional Tachycardia

Berasal dari focus ektopik di Av Junction dengan laju 60-150 x/menit, gelombang P Junction umumnya tidak terlihat dengan kompleks ORS normal dan teratur.

peta

Tar “ih

Gambar 7. Accelerated Junctional Tachycardi

AV Nodal Reentrant Tachycardia (AVNRT)

Takikardi dengan kompleks ORS sempit dengan kecepatan 160-240 x/menit. Gambaran umumnya adalah kompleks ORS sempit sangat tera- tur, gelombang P tidak terlihat karena terkubur di dalam kompleks ORS dan bila gelombang P terlihat di akhir ORS tampak seperti gambaran iskemia.

H3 i- Ha BEA NG Dk San Da la

Gambar 8 AVNRT

maa al

116 lam ED PAPDI Kegawatdaruratan Penyakit Dalam (Emergency in Internal Medicine)

-

| Atrioventricular Reciprocating Tachycardia

Takikardi dengan kompleks ORS sempit dan kecepatannya 160-240 x/menit yang disebabkan oleh accessory pathway. Gambaran umumnya adalah kompleks ORS sempit (pada tipe ortodromik) dan sangat ter- atur, gelombang P berada setelah kompleks ORS sebelum gelombang T, sedangkan pada tipe antidromik gelombang ORSnya lebar.

Kedua gambaran AV nodal takikardi ini dapat ditemukan pada pen- derita dengan usia muda dan jantung normal. Gambaran EKG tersebut hanya ditemukan saat serangan saja. Saat ditemukan (biasanya di ruang gawat darurat atau poliklinik) dapat dilakukan maneuver valsava, pijat karotis, pemberian kantung es di mata penderita. Terapi lain adalah pemberian adenosine atau verapamil intravena. Bila serangan jarang terjadi dapat diberikan verapamil oral, penyekat beta dan digoksin. Bila dengan obat tetap simptomatik maka dilakukan ablasi.

ARITMIA VENTRIKEL

Ventrikel Ekstrasistol (VES)/ Premature Ventricular Contraction

Dalam dokumen EIMED PAPDI pdf text (Halaman 119-132)