• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGAMA SEBAGAI OBYEK PENELITIAN

Dalam dokumen STUDI ISLAM Dalam DINAMIKA GLOBAL (Halaman 155-163)

PRODUKSI BUDAYA

H. AGAMA SEBAGAI OBYEK PENELITIAN

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi dan lahir dari hasil pemikiran dari manusia. Sehingga bisa dikatakan semua yang lahir dari pemikiran manusia disebut budaya. Sedangkan agama adalah sistem kepercayaan manusia yang berhubungan dengan Tuhan.

Jika aturan itu berasal dari Tuhan, maka itu tidak bisa dikatakan suatu kebudayaan, karena bukan kreasi manusia, melainkan kreasi Tuhan yang bersifat mutlak. Budaya dan agama adalah sesuatu yang berbeda namun dapat saling mempengaruhi sehingga muncul kebudayaan baru atau pencampuran kebudayaan.

Agama sebagai produksi budaya yaitu sebagaimana dijalankan di atas agama dan budaya adalah sesuatu yang berbeda, namun tetap tidak menutup kemungkinan keduanya akan bertemu dan saling berhubungan. Hal inilah salah satu faktor yang menyebabkan adanya Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis dalam lingkup budaya dan agama. Dan Islam sebagai produk budaya yakni Islam antara gejala sosial dan budaya, Islam sebagai agama yang mempunyai konsep atau ajaran yang bersifat manusiawi dan universal yang dapat menyelamatkan umat manusia dan alam semesta dari kehancurannya. Oleh karena itu, Islam harus bisa menawarkan nilai, norma, dan aturan hidup yang bersifat manusiawi dan universal kepada manusia dan diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan terhadap problematis umat manusia pada era global ini. Ajaran agama Islam telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan pikiran manusia serta sosial budayanya untuk mewujudkan suatu sosial budaya dan masyarakat Islami.

abstrak. Dari sudut ini mungkin dapat dibedakan ke dalam tiga kategori agama sebagai fenomena yang menjadi subyek materi penelitian, yaitu agama sebagai doktrin, dinamika dan struktur masyarakat yang dibentuk oleh agama dan sikap masyarakat pemeluk terhadap doktrin (Taufik Abdullah, 1989:xii)

Pertama, agama sebagai doktrin. Penelitian agama sebagai suatu doktrin menimbulkan beberapa pertanyaan.

Pertanyaan yang timbul di antaranya: apakah substansi dari keyakinan religius itu, apakah yang diyakini sebagai kebenaran yang hakiki, apa maknaajaran agama itu bagi pemeluknya?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mungkin paling berdekatan dengan usaha pencarian kebenaran agama, sebagaimana yang dilakukan oleh pemikir agama dan mujtahid. Tetapi apabila para mujtahid mengatakan bahwa “inilah ajaran yang sesungguhnya”

dan pemikir mengatakan “inilah sepanjang penelitian saya yang benar”, maka akan terjadi kemandekan satu pemikiran karena pendapat/pemikirannya itu adalah sudah benar dan sempurna.

Apabila ulama dan pemikir berpendapat demikian maka akan terjadi kemandekan pemikiran terhadap agama karena mereka sudah mengambil sebuah kesimpulan demikian. Tradisi ilmiah tidak berakhir dengan kepastian dan mendakwahkan diri sebagai penemu kebanaran. Tradisi ilmiah hanya berusaha menemukan apa yang dianggap benar. Ali Syari’ati (1933-1977), seorang sarjana Iran, menyatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan kemandegan atau stagnasi dalam pemikiran, peradaban dan kebudayaan yang berlangsung hingga seribu tahun di Eropa pada abad pertengahan adalah metode pemikiran analogi Aristoteles. Di kala cara melihat masalah obyek itu berubah, maka sains, masyarakat dan dunia juga berubah dan segala akibatnya kehidupan manusia juga berubah (Ali Syari’ati, 1982:39). Dengan demikian kita dapat memahami akan pentingnya metodologi sebagai faktor fundamental dalam renaisans.

Karena bertolak dari keinginan untuk mengetahui dan memahami esensi agama, maka salah satu disiplin ilmu yang

paling banyak berkecimpung dalam penelitian agama sebagai satu doktrin ini adalah perbandingan agama. Pengetahuan yang mendalam tentang esensi ajaran agama ini akan mampu meningkatkan pengalaman agama bagi seseorang sehingga pada akhirnya seseorang akan mampu menemukan makna agama bagi manusia itu sendiri. Ilmu perbandingan agama di sisi lain akan juga mampu menciptakan satu tatanan masyarakat agamis yang satu agama dengan agama yang lainnya dapat saling menghormati. Sehingga pada akhirnya kerukunan antar umat beragama dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Makna kerukunan tidak lagi sebatas pada tataran struktural idiologis yang bersifat eksklusif. Dalam penelitian agama sebagai doktrin, studi yang banyak dilakukan adalah bercorak sejarah intelektual atau sejarah pemikiran dan biografi tokoh agama.

Teks-teks keagamaan baik yang wahyu maupun hasil ijtihad/

renungan, traidisi serta catatan sejarah merupakan bahan- bahan utama yang digali. Maka di samping filologi dan kritik teks serta ilmu filsafat maka sejarah merupakan disiplin yang memiliki peranan yang sangat penting.32

Kategori kedua, adalah struktur dan dinamika masyarakat agama. Agama kata seorang ahli adalah landasan dari terbentuknya suatu “komunitas kognitif” (ibid, xiv). Artinya agama merupakan awal dari terbentuknya suatu komunitas atau kesatuan hidup yang diikat oleh keyakinan hidup dan kebenaran hakiki yang sama yang memungkinkan berlakunya suatu patokan pengetahuan yang sama pula. Hanya dalam komunitas kognitif Islam bahwa Tuhan mutlak satu merupakan pengetahuan yang benar. Tri murti hanya riil di kalangan Hindu, sedangkan kesatuan roh kudus, Jesus dan Tuhan bapa adalah benar di masyarakat Kristen dan seterusnya.

Meskipun berangkat dari suatu ikatan spiritual para pemeluk agama membentuk masyarakat sendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Sebagai satu masyarakat komunitas inipun

32(http:www.search-document-paper_5_apr_2010.pdf, Islam Sebagai Objek Penelitian), diakses 10-10-2017

memiliki tatanan yang berstruktur dan tidak pula terlepas dari dinamika sejarah. Sebagai contoh penelitian kedua ini adalah terjadinya pengelompokan Islam Santri, Priyayi dan Abangan.

Ketiga kelompok komunitas muslim ini memiliki corak dan karakteristik yang berbeda. Corak kajian atau penelitian dalam kategori ke dua ini dihuni oleh disiplin-disiplin ilmu sosial – sosiologi, antropologi, sejarah dan lainnya.

Kategori ketiga, berusaha mengungkap sikap anggota masyarakat terhadap agama yang dianutnya. Jika kategori pertama mempersoalkan substansi ajaran agama yang dianutnyadengan segala refleksi pemikiran terhadap ajaran, sedangkan kategori kedua meninjau agama dalam kehidupan sosial dan dinamika sejarah, maka kategori ketiga adalah berusaha untuk mengetahui simbol-simbol dan ajaran agama.

Salah satu pernyataan yang sering kita dengar adalah “meskipun tidak shalat dan berpuasa, tetapi jika Islam dihinakan suku bangsa ini akan tampil bergerak untuk membela Islam”

artinya meskipun dimensi ritual masyarakat ini rendah namun dimensi keterikatan terhadap sebuah agama sangatlah kuat.

Tentu ini hanyalah stereotype saja, tetapi dengan ini kita dapat mengetahui bahwa keterikatan seseorang terhadap agama antara yang satu dengan lainnya adalah tidak sama. Dalam pengertian tidak semua aspek atau dimensi agama mengikat pemeluknya dan tidak sama pula dalam keterikatan dalam beragama. Sebagai contoh, si Ali lebih shaleh dibandingkan dengan si Amir. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan, apakah yang menyebabkan sikap keberagamaan yang berbeda?

Apakah faktor pendidikannya, lingkungannya, status sosialnya ataukah ada faktor yang lainnya? Jadi kategori ketiga ini adalah masalah yang bersifat corak dan tingkatan keberagamaan.

Meskipun ilmu-ilmu sosial yang bercorak kualitatif tidak terlalu sulit untuk memperlihatkan hal-hal yang berkaitan dengan keberagamaan ini.33

33(http:www.search-document-paper_5_apr_2010.pdf, Islam Sebagai Objek Penelitian), diakses 10-10-2017

I. PENELITIAN AGAMA DAN PENELITIAN KEAGAMAAN Penelitian agama (research on religious) lebih ditekankan pada aspek pemikiran (thought) dan interaksi sosial. Pada aspek pemikiran, menggunakan metode filsafat dan ilmu- ilmu humaniora. Sedangkan pada aspek interaksi sosial, yakni penelitian keagamaan sebagai produk interaksi sosial, menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, historia atau sejarah sosial yang biasa berlaku dan sebagainya. Misalnya:

penelitian tentang perilaku jama’ah haji di daerah tertentu, hubungan ulama dengan keluarga berencana, penelitian tentang perilaku ekonomi dalam masyarakat muslim.

Dalam pandangan Middleton, penelitian agama Islam adalah penelitian yang objeknya adalah substansi agama Islam, seperti kalam, fikih, akhlak, dan tasawuf. Sedangkan dalam pandangan Juhaya S. Praja menyebutkan bahwa penelitian agama adalah penelitian tentang asal usul agama, dan pemikiran serta pemahaman penganut ajaran agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung di dalamnya.34

M. Atho Mudzhar menyatakan bahwa perbedaan antara penelitian agama dengan penelitian keagamaan perlu disadari karena perbedaan tersebut membedakan jenis metode penelitian yang diperlukan. Untuk penelitian agama sebagai doktrin, pintu bagi pengembangan suatu metodologi penelitian tersendiri sudah terbuka, bahkan sudah ada yang pernah merintisnya. Adanya ilmu ushul al-fiiqh sebagai metode untuk istinbath hukum dalam agama Islam dan ilmu mushthalah al-hadits sebagai metode untuk menilai akurasi sabda Nabi Muhammad saw. merupakan bukti bahwa keinginan untuk mengembangkan metdologi penelitian tersendiri bagi bidang pengetahuan agama ini pernah muncul.35

M. Atho Mudzhar mengatakan bahwa perbedaan antara penelitian agama dengan penelitian keagamaan perlu disadari

34Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005),219.

35M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 89.

karena perbedaan tersebut membedakan jenis metode penelitian yang diperlukan. Untuk penelitian agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin, pintu bagi pengembangan suatu metodologi penelitian tersendiri sudah terbuka, bahkan sudah ada yang merintisnya. Adanya ilmu ushul fiqh sebagai metode istinbath hukum dalam agama Islam dan ilmu musthalahul haditst sebagai metode untuk menilai akurasi sabda Nabi Muhammad saw merupakan bukti bahwa keinginan untuk mengembangkan metodologi penelitian tersendiri bagi bidang pengetahuan agama ini pernah muncul. Persoalan berikutnya ialah, apakah kita hendak menyempurnakannya atau meniadakannya sama sekali dan menggantinya dengan yang baru, atau tidak menggantinya sama sekali dan membiarkannya tidak ada.36

Sedangkan untuk penelitian keagamaan yang sasarannya agama sebagai gejala sosial, kita tidak perlu membuat metodologi penelitian tersendiri. Ia cukup meminjam metodologi penelitian sosial yang telah ada.37

Dalam pandangan Juhaya S. Praja, penelitian agama adalah penelitian tentang asal-usul agama, dan pemikiran serta pemahaman penganut ajaran agama tersebut terhadap ajaran yang terkandung didalamnya. Dengan demikian, terdapat dua bidang penelitian agama, yaitu sebagai berikut:

• Penelitian tentang sumber ajaran agama yang telah melahirkan disiplin ilmu tafsir dan ilmu haditst.

• Pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran yang terkandung dalam sumber ajaran agama itu.

Sedangkan penelitian hidup keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif. Berdasarkan batasan tersebut, penelitian hidup keagamaan meliputi hal-hal berikut:

• Perilaku individu dan hubungannya dengan masyarakatnya yang didasarkan atas agama yang dianutnya.

36Ibid.,hlm. 90.

37Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, op. cit., 50.

• Perilaku masyarakat atau suatu komunitas, baik perilaku politik, budaya maupun yang lainnya yang mendefinisikan dirinya sebagai penganut suatu agama.

• Ajaran agama yang membentuk pranata sosial, corak perilaku, dan budaya masyarakat beragama.38

Manusia mempunyai fitrah sebagai makhluk politik (zoo politicon) yang tidak dapat dipisahkan dengan konteks sosialnya.Perbedaan yang ada dalam bentuk fisiologis manusia sebenarnya merupakan sunnatullah dan kehendak Tuhan yang seharusnya dihadirkan sebagai potensi untuk menciptakan kehidupan sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

Keragaman suku bangsa, ras, etnik, bahasa, budaya maupun dialek selayaknya dijadikan potensi dasar untuk membangun kehidupan bersama yang damai serta meneguhkan pola interaksi sosial dalam mewujudkan kehidupan bersama yang tentram. Islam sebagai agama yang diyakini mempunyai nilai-nilai universal (rahmat al-li’alamin) dengan serangkaian nilai-nilai kemausiaan, kedamaian dan keharmonisan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Islam dengan semangat religiusitasnya dituntut mampu untuk mampu untuk menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat untuk hidup rukun dan berdampingan.39

38http://kaksus2310.blogspot.co.id/2012/06/agama-sebagai-doktrin-agama- sebagai.html. Diakses tanggal 29 September 2017

39Mundir Thahir. Agama Ber-Politik.“Universum”. Vol. 6 No. 1 Januari 2012, 121- 130.

BAB VII

Dalam dokumen STUDI ISLAM Dalam DINAMIKA GLOBAL (Halaman 155-163)