• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGERTIAN “KONSTRUKSI TEORI” PENELITIAN AGAMAGAM

Dalam dokumen STUDI ISLAM Dalam DINAMIKA GLOBAL (Halaman 100-106)

BAB V PENELITIAN AGAMAPENELITIAN AGAMA

A. PENGERTIAN “KONSTRUKSI TEORI” PENELITIAN AGAMAGAM

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengartikan metodologi/konstruksi adalah cara membuat (menyusun) bangunan-bangunan (jembatan dan sebagainya), dan dapat pula berarti susunan dan hubungan kata di kalimat atau kata di kelompok kata.1

Agama sebagai elemen yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia dapat dilihat dari dua segi yakni, dari segi isi dan dari segi bentuknya. Dari segi isinya, agama adalah ajaran atau wahyu Tuhan yang dengan sendirinya tidak dapat dikategorikan sebagai kebudayaan. Sedangkan dari segi bentuknya agama dapat dipandang sebagai kebudayaan batin manusia yang mengandung potensi psikologi yang mempengaruhi jalan hidup manusia. Dengan demikian, yang dapat diteliti adalah pada bentuk atau praktik yang tampak dalam kehidupan sosial, yang dipandang sebagai kebudayaan batin manusia.2

Penelitian dapat dilakukan pada bentuk pengalaman dari ajaran agama tersebut, misalnya kita dapat meneliti tingkat

1W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Balai Pustaka, Jakarta.

1991), hlm 520

2Abuddinnata. Metodologi Studi Islam. (PT RajaGrafindo Persada. Jakarta: 1998) hlm 122

keimanan dan ketaqwaan yang dianut masyarakat. Selain itu penelitian agama juga dapat dilakukan dalam upaya menggali ajaran-ajaran agama yang terdapat dalam kitab suci serta kemungkinan aplikasinya sesuai dengan perkembangan zaman.

Salah satu penelitian itu adalah tela’ah konstruksi teori penelitian agama Islam. Teori penelitian ini merupakan upaya untuk mempelajari dan memahami gejala keagamaan secara seksama, menyusun antara satu bagian dengan bagian lainnya untuk melakukan penelitian. Secara sederhana telaah konstruksi teori penelitian agama adalah suatu upaya untuk mempelajari, menguraikan kaidah-kaidah dan dimensi ilmiah tentang kebenaran serta memahami ajaran agama Islam secara Ilmiah.3

Seseorang yang akan menyusun konstruksi teori penelitian terlebih dahulu perlu mengetahui bentuk dari macam-macam penelitian karena perbedaan bentuk atau macam-macam penelitian yang dilakukan akan mempengarui bentuk konstruksi teori penelitian yang dilakukan, termasuk pula penelitian agama. Penelitian dapat mengambil bentuk bermacam-macam tergantung dari sudut pandang mana yang akan digunakan untuk melihatnya

Bagi pemeluk agama samawi, agama memiliki kriteria yang jelas karena telah disebutkan dalam kitab-kitab sucinya dan agama bukan ciptaan manusia, melainkan berasal dari Tuhan, sehingga asal-usulnyapun tidak bersumber pada kondisi dan situasi alam sekitar atau masyarakat. Bertolak dari ciri-ciri tesebut diatas, kaum agamawan mendefinisikan agama sebagai berikut: “Suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk memegang peraturan Tuhan4

Penelitian berarti pemeriksaan, penyelidikan yang dilakukan dengan berbagai cara secara seksama dengan tujuan

3Abdullah, Yatimin. Studi Islam Kontemporer. (Sinar Grafika Offest. Jakarta: 2006) hlm 217

4Abuddin Nata. Metodologi Studi Islam (Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2013), hlm.

165-172.

mencari kebenaran-kebenaran objektif yang diperoleh tersebut kemudian digunakan sebagai dasar atau landasan untuk pembaharuan, pengembangan atau perbaikan dalam masalah- masalah teoritis dan praktis dalam bidang-bidang pengetahuan yang bersangkutan.5

Selanjutnya, dalam ilmu penelitian teori-teori itu pada hakikatnya merupakan pernyataan mengenai sebab akibat atau mengenai adanya suatu hubungan positif antara gejala yang diteliti dari satu atau beberapa faktor tertentu dalam masyarakat, misalnya kita ingin meneliti gejala bunuh diri.

Sudah mengetahui tentang teori integrasi atau kohesi sosial dari Emile Durkheim (seorang ahli sosiologi Perancis kenamaan), yang mengatakan adanya hubungan positif antara lemah dan kuatnya integrasi sosial dan gejala bunuh diri dari pengertian–

pengertian tersebut, kita dapat memperoleh suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan konstruksi teori adalah susunan atau bangunan dari suatu pendapat, asas-asas atau hukum–

hukum mengenai sesuatu yang antara suatu dan lainnya saling berkaitan, sehingga membentuk suatu bangunan.

Adapun penelitian berasal dari kata teliti yang artinya cermat, seksama, pemeriksaan yang dilakukan secara saksama dan teliti, dan dapat pula berarti penyelidikan, tujuan pokok dari kegiatan penelitian ini adalah mencari kebenaran-kebenaran objektif yang disimpulkan melalui data-data yang terkumpul.

Kebenaran-kebenaran objektif yang diperoleh tersebut kemudian digunakan sebagai dasar atau landasan untuk pembaruan, perkembangan atau perbaikan dalam masalah- masalah teoritis dan praktis bidang-bidang pengetahuan yang bersangkutan.

Dengan demikian, penelitian mengandung arti upaya menemukan jawaban atas sejumlah masalah berdasarkan data-data yang terkumpul. Berikutnya, sampailah kita kepada pengertian agama. Telah banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan

5H. M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), 142

seperti antropologi, psikologi, sosiologi, dan lain-lain yang mencoba mendefinikan agama. R.R. Maret salah seorang ahli antropologi Inggris, menyatakan bahwa agama adalah yang paling sulit dari semua perkataan untuk didefinisikan karena agama adalah menyangkut lebih daripada hanya pikiran, yaitu perasaan dan kemauan juga, dan dapat memanifestasikan dari menurut segi-segi emosionalnya walaupun idenya kabur.

Adapun pengertian agama adalah ajaran yang berasal dari Tuhan, ditulis dalam kitab suci, dan diwariskan oleh suatu generasi ke generasi berikutnya dengan tujuan memberikan tuntunan hidup bagi manusia agar tercapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.6

Harun Nasution menyebutkan adanya empat unsur penting yang terdapat dalam agama, yaitu :

• unsur kekuatan gaib yang dapat mengambil bentuk Dewa, Tuhan, dan sebagainya;

• unsur keyakinan manusia bahwa kesejahterahannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat nanti amat tergantung kepada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud;

• unsur respon yang bersifat emosional dari manusia yang dapat mengambil bentuk perasaan takut, cinta, dan sebagainya;

• unsur pahan adanya yang kudus (sacred) dan suci yang dapat mengambil bentuk kekuatan gaib.7

Jadi pendapat Harun Nasution mengenai penjelasan- penjelasan tentang ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab- kitab suci oleh para pemuka atau pakar agama membetuk ajaran agama kelompok kedua bersifat nisbi, relatif dan dapat dirubah sesuai perkembangan zaman tidak sesuai dengan ajaran Islam, sebagai contohnya Rasulullah menjelaskan tata cara shalat, sedangkan didalam kitab suci tidak diterangkan tata cara

6Fitri Oviyanti, Daras Metodologi Study Islam, (Palembang: IAIN Raden Fatah, 2005), 6

7Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, (Jakarta: UI Press, 1979), 11

shalat, dan tata cara shalat ini sendiri bersifat qhat’i/tidak bisa dirubah. Kalau menurut Harun Nasution berarti penjelasan- penjelasan RasulAllah tentang tata cara shalat berarti bersifat nisbi dan dapat dirubah.8

Sedangkan Agama yang mengandung banyak arti dan pengertian yang berbeda-beda dari para ahli, dapat diartikan sebagai kepercayaan manusia kepada suatu hal yang dianggap memiliki kekuatan mengikat terhadap kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh sang pencipta yang didalamnya terdapat unsur- unsur tunduk, patuh dan memaksa terhadap peraturan demi tercapainya cita-cita setiap individu untuk meraih kebaikan hidup didunia dan diakhirat kelak. Seperti yang kita ketahui bahwa agama merupakan fitrah manusia sejak lahir yang tak dapat dihindari.

Orang-orang yang memeluk agama samawi, agama memiliki kriteria yang jelas karena telah disebutkan dalam kitab-kitab sucinya dan agama bukan ciptaan manusia, melainkan berasal dari Tuhan, sehingga asal-usulnya tidak bersumber pada kondisi dan situasi alam sekitar atau masyarakat. Bertolak dari ciri- ciri tersebut di atas, kaum agamawan mendefinisikan agama sebagai berikut: “suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal untuk memegang akal peraturan Tuhan itu atas pilihannya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup dan kebahagiaan kelak di akhirat.”9 Dengan demikian, agama samawi memiliki ciri-ciri antara lain:

• Berasal dari Tuhan.

• Diperuntukkan bagi orang-orang yang berakal.

• Dianut berdasarkan pilihan dan kemauannya sendiri.

• Menawarkan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat.

H. M. Arifin mengatakan bahwa agama sebagai elemen yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia sejak zaman pra-sejarah sampai zaman modern sekarang ini dapat dilihat dari dua segi yakni:

8Ibid.

9Taib Thahir Abd. Mu’in, Ilmu Kalam, (Jakarta: Wijaya, 1986), 121

• Segi bentuk, agama dapat dipandang sebagai kebudayaan batin manusia yang mengandung potensi psikologis yang mempengaruhi jalan hidup manusia.

• Segi isinya, agama adalah ajaran atau wahyu Tuhan yang dengan sendirinya tak dapat dikategorikan sebagai kebudayaan. Dan hanya berlaku bagi agama-agama samawi(wahyu).

Isi agama samawi sebagaimana terdapat didalam Al-Qur’an dan haditst muttawatir(shahih) tidak perlu dipersoalkan lagi karena sudah diyakini kebenarannya. Ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an, baik yang berkenaan dengan akidah, ibadah, aklhak, maupun kehidupan akhirat adalah hukum yang pasti benar. Kita tidak akan menambah atau mengurangi rukun iman maupun rukun Islam dan lainnya yang berada di dalam kitab suci.

Penelitian keagamaan merupakan penelitian yang objek kajiannya adalah agama sebagai produk interaksi social.

Metode yang digunakan adalah metode-metode penelitian pada umumnya. Kita tidak perlu menyusun teori penelitian tersendiri, tetapi cukup meminjam teori ilmu-ilmu social yang sudah ada. Salah satu contoh teori yang digunakan dalam penelitian keagamaan yang akan diungkapkan disini adalah penelitian Hj. Ummu Salamah adalah “Tradisi Tarekat dan Dampak Konsistensi Aktualisasinya terhadap Perilaku Sosial Penganut Tarekat (Studi Kasus Tarekat Tijaniah di Kabupaten Garut,Jawa Barat: dalam Perspektif perubahan social)”. Teori- teori yang digunakan dalam penelitiannya adalah sebagai berikut:

• Teori perubahan social

• Teori structural-fungsional

• Teori antropologi dan sosiologi agama

• Teori budaya dan tafsir budaya sibolik

• Teori pertukaran social

• Teori sikap

Penelitian di atas meminjam teori-teori yang dibangun dalam ilmu-ilmu social. Ia disebut penelitian keagamaan (religious research)dalam pandangan Midletton atau penelitian hidup agama dalam pandangan Juhaya S. Praja, karena objeknya adalah perilaku Tarekat Tijaniah.10

Dalam dokumen STUDI ISLAM Dalam DINAMIKA GLOBAL (Halaman 100-106)