• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akar Permasalahan

Dalam dokumen pengadaan barang (Halaman 30-33)

BAB 1 PENDAHULUAN

B. Akar Permasalahan

Peran Hukum Administrasi Negara sangat penting di dalam mewujudkan tujuan bangsa Indonesia, sebagaimana tertuang di dalam Alinea Keempat Pembukaan Undang­Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yakni:

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar­

kan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang­Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat ....

Peran penting tersebut, yakni berkaitan dengan pembatasan terhadap tindakan­tindakan pemerintah agar tidak menyimpang dari peraturan per undang­

undangan. Demikian pula dalam kebijakan hukum birokrasi dan pengaturan kegiatan pengadaan barang dan jasa pemerintah dalam rangka mencegah terjadi­

nya tindak pidana korupsi di Indonesia, tidak hanya Hukum Administrasi Negara yang berperan tetapi juga Hukum Pidana, Hukum Perdata, dan lainnya.

Hukum Administrasi Negara, salah satunya mengatur mengenai kewenangan yang diberikan pejabat untuk melakukan tindakan­tindakan hukum tertentu.

Kewenangan tersebut tidak boleh diselewengkan dan dimanfaatkan untuk kepen­

tingan pribadinya, karena kewenangan yang disalahgunakan akan menimbulkan kerugian bagi negara, dan tentunya setiap pelanggaran akan dikenakan hukuman atau sanksi.

Sebagaimana diketahui bahwa setiap penyelenggaraan kenegaraan dan peme­

rintahan harus memiliki legitimasi, yaitu kewenangan yang diberikan oleh undang­undang. Dengan kata lain, untuk melakukan tindakan­tindakan

hukum tertentu, maka penyelenggara negara harus mempunyai kewenangan.

Kewenangan pemerintah merupakan kemampuan untuk melaksanakan hukum positif, dan dengan begitu dapat diciptakan hubungan hukum antara pemerintah dengan warga negara.10

Begitupun dalam pengadaan barang/jasa, pemerintah diberikan kewenangan oleh peraturan perundang­undangan untuk itu, yakni Perpres No. 70 Tahun 2012 jo. Perpres No. 4 Tahun 2015. Mekanisme pengadaan barang/jasa juga harus sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.

Atas dasar itu, penulis mengkritisi Perpres No. 70 Tahun 2012 tentang Per­

ubahan Kedua Perpres No. 54 Tahun 2010 jo. Perpres No. 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Perpres No. 54 Tahun 2010 sebagai dasar hukum melaksa­

na kan pengadaan barang dan jasa pemerintah yang di dalam pelaksanaannya terdapat banyak modus penyimpangan, penyalahgunaan wewenang oleh panitia selaku pengguna barang/jasa maupun rekanan selaku penyedia barang dan jasa.

Penulis juga mengkritisi tentang ruang lingkup dan sifat kewenangan yang dimiliki pengguna anggaran, pejabat pembuat komitmen, serta panitia pengadaan barang dan jasa, apakah kewenangan yang dimiliki tersebut bersifat delegasi, mandat, ataupun atribusi sebagaimana dikenal dalam istilah Hukum Administrasi Negara.

Hal ini berkaitan dengan mekanisme pertanggungjawaban atas pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/ jasa pemerintah.

Pembentukan panitia pengadaan barang/jasa merupakan langkah awal yang strategis dan harus diwaspadai dalam proses pengadaaan barang/jasa pemerintah, sebab berkembangnya penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah sangat tergantung pada komitmen panitia lelang yang berpengaruh terhadap bersih atau tidaknya proses pengadaan barang/

jasa di suatu unit kerja pemerintah.

Beberapa masalah yang terkait dengan tahap ini adalah panitia tidak transparan, integritas panitia lemah, panitia memihak atau tidak independen dengan cara menambah persyaratan untuk membatasi jumlah peserta, dan berbagai bentuk kecurangan lainnya.

Adanya penyalahgunaan kekuasaan/wewenang oleh pimpinan sangatlah terlihat, baik pada level eksekutif maupun legislatif, modusnya bisa berupa reko­

men dasi lisan dari pimpinan, rencana pengadaan yang diarahkan, adanya lelang

10 Ridwan H.R., Hukum Administrasi Negara, Cetakan Kedua, UII Press, Yogyakarta, 2003, hlm. 70 dan 71.

Bab 1 Pendahuluan 19 tanpa tender, adanya pendelegasian lelang yang tendensius, ataupun rencana pengadaan yang digagalkan. Hal tersebut menunjukkan intervensi penguasa atau pimpinan pada pelaksanaan lelang sangat kuat. Terlebih jika pimpinan memiliki rangkap jabatan sebagai pejabat publik sekaligus merangkap sebagai pimpinan partai tertentu, sehingga kadang muncul adanya kecenderungan kualifikasi yang mengarahkan pada perusahaan tertentu yang sudah bekerja sama dengan partai tersebut.

Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan negara serta mencegah adanya kebocoran keuangan negara yang berindikasi tindak pidana korupsi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah, diperlukan adanya peningkatan kualitas pelayanan publik oleh birokrasi pemerintah melalui penye­

lenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih, dengan melaksanakan prinsip good governance dan clean government yang didukung dengan pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.

Tidak ada jaminan bahwa perbaikan­perbaikan dalam sistem peraturan yang ada akan menunjang akuntabilitas para pejabat jika pola perilaku para elit politik dan para birokrat masih tetap dipengaruhi oleh nilai­nilai lama yang cenderung koruptif. Kondisi yang mengungkung para birokrat yang sekian lama selalu tunduk kepada pimpinan politis dan kurang mengutamakan pelayanan publik jelas sangat memengaruhi akuntabilitas dalam birokrasi publik.

Nilai­nilai koruptif yang seolah melembaga tersebut muncul dalam ber bagai bentuk dan variasinya. Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadaan barang/

jasa pemerintah, birokrasi paternalistis di mana jabatan dilihat sebagai sekum­

pulan kekuasaan atasan tentu menjadi penyebab ketidakadilan dan cenderung koruptif. Pola dari perilaku koruptif ini akhirnya dapat pula mewujud dalam bentuk pemberian perlakuan yang berbeda oleh birokrasi kepada pengguna layanan, bawahan, atau rekanan dalam kegiatan bisnis pemerintah atau pengadaan barang/ jasa pemerintah ini sangat merugikan banyak pihak.

Pejabat birokrasi publik seringkali memberikan hak­hak istimewa kepada pengusaha (calon rekanan) yang memiliki hubungan dekat dengannya. Akibat­

nya, dalam pelaksanaan tender pekerjaan pemerintah, para pengusaha yang dekat dengan penguasa cenderung selalu dimenangkan. Akses mereka untuk memperoleh proyek dan pekerjaan dari pemerintah sangat besar, dan mereka bisa memenangkan tender bahkan tanpa harus memiliki profesionalitas yang tinggi, asalkan mereka memiliki hubungan dekat dengan elite birokrasi dan politik.

Selain itu, penyakit lain yang bersumber kepada nilai koruptif lainnya yang menggejala di dalam birokrasi Indonesia adalah kecenderungan untuk mem­

bengkakkan atau menggelembungkan anggaran (mark up). Dalam perencanaan anggaran, para pejabat birokrasi cenderung mengusulkan anggaran yang jauh melebihi kebutuhan nyata yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan. Hal itu dikarenakan semakin besar anggaran yang dialokasikan untuk melaksanakan sebuah kegiatan, akan semakin besar pula insentif atau keuntungan yang diperoleh pelaksana. Semua ini didorong oleh sikap yang mementingkan diri sendiri untuk memperoleh keuntungan dengan jalan yang tidak benar, yakni korupsi.

Reformasi kebijakan hukum birokrasi pengadaan barang dan jasa pemerintah sangatlah diperlukan, selain itu juga adalah implementasi perundang­undangan yang konsisten dan reorientasi dari para pejabat birokrasi agar benar­benar menjalankan tugasnya sebagai pelayan masyarakat juga sangat penting dalam rangka mencegah tindak pidana korupsi, sehingga mewujudkan rasa keadilan bagi rakyat.

C. KERANGKA TEORI

Dalam dokumen pengadaan barang (Halaman 30-33)