BAB 2 LANDASAN TEORI
C. Keuangan Negara
3. Landasan Hukum Pengelolaan Keuangan Negara 105
Keuangan negara merupakan urat nadi bagi pembangunan suatu negara dan sangat menentukan kelangsungan perekonomian pada saat sekarang maupun di masa yang akan datang. Keuangan negara berasal dari pajak maupun pungutan yang wajib dibayar oleh rakyat, jadi penggunaannya pun harus ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Keuangan negara merupakan instrumen yang sangat vital untuk menggerakkan roda organisasi pemerintahan. Penyelenggaraan fungsifungsi pemerintahan tidak akan bisa dilaksanakan secara efektif tanpa didukung oleh sarana keuangan negara, seperti untuk mencukupi kebutuhan akan bendabenda atau barangbarang bagi institusi pemerintah dengan meng
adakan pengadaan barang/jasa pemerintah, sehingga institusi tersebut dapat melaksanakan fungsi pelayanan publik dengan baik.
Demikian pentingnya arti sarana keuangan negara, sehingga diperlukan suatu aturan khusus di bidang pengelolaan keuangan negara ini. Berikut bebe
rapa peraturan sebagai landasan hukum pengelolaan keuangan negara.67 a. Pusat
1) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
3) UndangUndang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
4) UndangUndang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Penge
lolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
5) UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
6) Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah.
7) Peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.
b. Daerah
1) UndangUndang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah.
2) UndangUndang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
3) Peraturan Daerah (Perda) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Peraturanperaturan tersebut merupakan legal framework yang dimaksud
kan sebagai acuan bagi pemerintah untuk mengelola keuangan negara, sehingga diharapkan penggunaan dan pengelolaan keuangan negara tersebut berorientasi pada efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas.
4. Historisasi Pengaturan Keuangan Negara
Dari sejarahnya, pengaturan keuangan negara mendapatkan pengaruh dari pengaruh hukum pemerintah Hindia Belanda, karena pada waktu itu Indonesia berada di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda, sehingga dengan asas konkordansi, pemerintah Hindia Belanda menerapkan peraturan yang sama di negara jajahannya.
67 W. Riawan Tjandra, Hukum Keuangan ..., op.cit., hlm. 35 dan 36.
Bab 2 Landasan Teori 107 Perkembangan sistem perekonomian di Indonesia di zaman penjajahan Belanda tidak lepas dari perubahan sistem politik yang terjadi di negeri Belanda.
Sebelum tahun 1870, di Hindia Belanda diterapkan sistem tanam paksa, sistem tanam paksa ini sangat merugikan rakyat Indonesia karena mereka dipaksa menanam tanaman yang dapat memberikan keuntungan bagi pemerintah Hindia Belanda dengan menggunakan tanah milik rakyat, dan rakyat hanya dapat menanam tanaman untuk kebutuhannya seharihari dengan sedikit bagian tanah dari tanah yang harus ditanami tanaman yang diinginkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Sistem tanam paksa ini mendapatkan banyak tantangan, tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari tokohtokoh di negeri Belanda sendiri, terutama kaum liberal. Kemudian sistem tanam paksa diubah menjadi sistem ekonomi politik pintu terbuka atau sistem ekonomi liberal, di mana pihak swasta yang akan mengurusi perkebunan dan pemerintah hanya sebagai pengawas.
Dari politik pintu terbuka ini, kemudian dikeluarkan beberapa peraturan yang salah satunya adalah Indonesische Comptabiliteit Wet. Secara historis yuridis, pengaturan keuangan negara dimulai pada tahun 1864, yakni pada saat ditetapkannya Indonesische Comptabiliteit Wet (ICW), yang berlaku pertama kali pada tanggal 1 Januari 1967. Riwayat ICW tersebut, terkait dengan perubahan paradigma Grondwet Nederland 1848, yang memberikan kewenangan lebih kuat kepada parlemen untuk melakukan fungsi kontrol keuangan negara.68
Indonesische Comptabiliteit Wet merupakan undangundang perben
daharaan Hindia Belanda yang menyatakan bahwa anggaran belanja Hindia Belanda harus ditetapkan dengan undangundang dengan persetujuan parlemen Belanda. Dapat dikatakan bahwa ICW merupakan ketentuan yang mengatur tentang tata cara pembukuan yang dilakukan oleh pejabat untuk melakukan pengurusan dan pengelolaan keuangan negara. Pencatatan atau pembukuan tersebut mempunyai tujuan untuk menghindari terjadinya penipuan dan pemal
suan, kalau sekarang ini adalah korupsi.
Di Hindia Belanda, pada tahun 1917 gubernur jenderal memiliki ke
wenangan menetapkan sementara anggaran. Setelah dibentuk volksraad mulai dilakukan perintisan ke arah fungsi kontrol parlemen meskipun
68 Ibid., hlm. 30.
sampai dengan tahun 1925 kewenangan dalam hal financiele beleid masih berada di tangan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.69
Setelah Indonesia merdeka, pelaksanaan pengelolaan keuangan negara masih menggunakan ketentuan peraturan perundangundangan yang di
susun pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang berlaku berdasarkan Aturan Peralihan UUD 1945. Peraturan tersebut antara lain adalah Indische Comptabiliteits Wet (Stbl. 1925 Nomor 448) tersebut, yang diubah dan diundangkan dalam Lembaran Negara 1954 Nomor 6, 1955 Nomor 49, dan terakhir UndangUndang Nomor 9 Tahun 1968 diubah menjadi UndangUndang Perbendaharaan Negara (UPI), yang ditetapkan pertama kali pada tahun 1864 dan mulai pada tahun 1867, Indische Bedrijvenwet (IBW) [Stbl. 1927 Nomor 419 jo. Stbl. 1936 Nomor 445] dan Reglement voor het Administratief Beheer (RAB) [Stbl. 1933 Nomor 381].
Dalam pelaksanaan pemeriksaan pertanggungjawaban keuangan negara, digunakan Instructie en verdure bepalingen voor de Algemeene Rekenkamer (IAR) Stbl. 1933 Nomor 320. Peraturanperaturan seperti ICW, IAR, IBW, dan RAB diciptakan oleh pemerintah kolonial Belanda hanya untuk menjaga kepentingan mereka di negara jajahan.70
Pada masa Indonesia Merdeka, pengaturan keuangan negara dapat dilihat dalam dua periode, yakni pada periode Konstitusi RIS dan UUDS 1950, serta periode UUD 1945. Dalam Pasal 166 ayat (2) Konstitusi RIS mengatakan bahwa: “Keuangan negara diurus dan dipertanggungjawabkan menurut ketentuan yang akan ditetapkan dengan UndangUndang Federal”.
Selanjutnya dalam Pasal 170 Konstitusi RIS disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat dengan mengajukan perhitungan yang disetujui oleh Algemene Rekenkamer (Dewan Pengawas Keuangan). Ketentuan yang sama ditemukan dalam Pasal 111 ayat (2) dan Pasal 166 UUDS 1950. Undang
undang yang mengatur tentang pengurusan dan pertanggungjawaban ke
uangan yang dibuat berdasarkan Konstitusi RIS dan UUDS tersebut tidak pernah ada, yang berlaku adalah ICW.71
Ketentuan Algemene Rekenkamer ini juga terdapat dalam UndangUndang Dasar Hindia Belanda, yakni Indische Staatsregeling, di mana pada Pasal 117 ayat
69 Ibid.
70 Ibid., hlm. 11.
71 Arifin P. Soeria Atmadja, Keuangan Publik ..., op.cit., hlm. 25.
Bab 2 Landasan Teori 109 (1) menetapkan bahwa Algemene Rekenkamer ini melakukan tugas pengawasan atas penguasaan administratif dan keuangan negara.
Justifikasi pemberlakuan ICW semula didasarkan atas Pasal II, Aturan Peralihan (UUD 1945 sebelum diamandemen) sebagai suatu transition clausule untuk mencegah vakum dalam pengaturan dan sistem kekuasaan pasca kemerdekaan. UPI dapat dinilai sebagai sekadar “polesan” dari ICW, meng ingat proses revisi yang dilakukan terhadap ICW hanya menjangkau pada ranah sistem dan struktur formal dari ICW. Pada tahun 1945–1963 masih dipergunakan anggaran perang (war budgetting) dengan mempergunakan ICW sebagai dasar penganggaran APBN dan Beheersvoorschriften sebagai dasar penganggaran APBD.72
ICW merupakan warisan kolonial penjajah Belanda, yang tentunya sangat jauh dari semangat kemerdekaan RI, dan sudah seharusnya ICW dihapus dan di
gantikan dengan peraturan perundangundang yang mengatur keuangan negara sesuai dengan semangat proklamasi kemerdekaan RI dan semangat reformasi sekarang ini.
Secara garis besar, baik ICW maupun UPI mengatur mengenai tiga hal pokok dalam pengelolaan keuangan negara, yaitu:73
a. aspek pengelolaan keuangan negara;
b. aspek perbendaharaan negara; dan c. aspek pengawasan keuangan negara.
Ketiga aspek tersebut selanjutnya diatur secara terpisah melalui paket UndangUndang Keuangan setelah reformasi, yaitu UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UndangUndang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UndangUndang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan, Pengelolaan, dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.