• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori

Dalam dokumen pengadaan barang (Halaman 33-53)

BAB 1 PENDAHULUAN

C. Kerangka Teori

Selain itu, penyakit lain yang bersumber kepada nilai koruptif lainnya yang menggejala di dalam birokrasi Indonesia adalah kecenderungan untuk mem­

bengkakkan atau menggelembungkan anggaran (mark up). Dalam perencanaan anggaran, para pejabat birokrasi cenderung mengusulkan anggaran yang jauh melebihi kebutuhan nyata yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan. Hal itu dikarenakan semakin besar anggaran yang dialokasikan untuk melaksanakan sebuah kegiatan, akan semakin besar pula insentif atau keuntungan yang diperoleh pelaksana. Semua ini didorong oleh sikap yang mementingkan diri sendiri untuk memperoleh keuntungan dengan jalan yang tidak benar, yakni korupsi.

Reformasi kebijakan hukum birokrasi pengadaan barang dan jasa pemerintah sangatlah diperlukan, selain itu juga adalah implementasi perundang­undangan yang konsisten dan reorientasi dari para pejabat birokrasi agar benar­benar menjalankan tugasnya sebagai pelayan masyarakat juga sangat penting dalam rangka mencegah tindak pidana korupsi, sehingga mewujudkan rasa keadilan bagi rakyat.

C. KERANGKA TEORI

Bab 1 Pendahuluan 21 membutuhkan referensi untuk mengetahui kebijakan yang pengesahannya ditentukan oleh pemberi mandat di luar struktur organisasi itu sendiri.

Birokrasi adalah organisasi yang memiliki jenjang, setiap jenjang diduduki oleh pejabat yang ditunjuk/diangkat, disertai aturan tentang kewenangan dan tanggung jawabnya, serta setiap kebijakan yang dibuat harus diketahui oleh pemberi mandat. Pemberi mandat pada sektor swasta adalah para pemegang saham, dan pada sektor publik adalah rakyat.

Birokrasi adalah suatu organisasi formal yang diselenggarakan berdasarkan aturan, bagian, unsur, yang terdiri dari pakar yang terlatih. Biasanya organisasi yang memiliki pemusatan kewibawaan yang menekankan unsur tata susila, pengetahuan teknis, dan tata cara impersonal. Birokrasi juga berarti alat kontrol yang memiliki hierarki yang berbeda dengan organisasi.

Wujud birokrasi berupa organisasi formal yang besar merupakan ciri nyata masyarakat modern dan bertujuan menjalankan tugas pemerintahan serta mencapai keterampilan dalam bidang kehidupan. Konsep birokrasi pertama kali dikemukakan Vincent de Gournay (1712–1759) ahli ekonomi, John Stuart Mill, dan Gaetano Mosca, kemudian Max Weber yang menyatakan ciri birokrasi antara lain: 12

a. pembagian tugas menurut aturan dan tata cara formal;

b. sistem peraturan, ditetapkan terlebih dahulu untuk segala tugas yang dijalankan pegawai, untuk memastikan keseragaman pelaksanaan tugas dan menye suaikan berbagai tugas;

c. kewibawaan tersusun berdasarkan hierarki, seperti bawahan diawasi atasan, hubungan subordinat ditentukan aturan tertentu;

d. tata cara impersonal, seorang pegawai melaksanakan tugasnya secara formal dan impersonal, artinya berdasarkan aturan tertentu tanpa diikuti emosi, kemarahan/kegairahan;

e. penentuan pegawai didasarkan kelayakan seseorang dan tidak boleh dihentikan sewenang­wenang, penghasilan dan kenaikan pangkat di­

tetapkan organisasi kinerjanya.

Birokrasi menurut Weber adalah suatu tipe ideal, karena itu dalam bentuk yang murni memang tak berwujud dalam suatu masyarakat, karena organisasi formal yang terwujud dalam masyarakat hanya mendekati tipe ideal dalam derajat berlainan satu sama lain.

12 Ibid., hlm. 68.

Reformasi birokrasi pada hakikatnya bertujuan untuk terselenggaranya sistem birokrasi yang efektif, bersih, kompetitif, dan responsif terhadap per­

ubahan serta berpihak kepada rakyat. Reformasi birokrasi diperlukan karena penghematan anggaran negara, optimalisasi alokasi sumber daya, optimalisasi kinerja, peningkatan mutu pelayanan, pencegahan korupsi, dan perbaikan sistem.

2. Kebijakan Hukum

Sebagai negara hukum, pemerintah dalam kebijakan perlu mempertimbangkan aspek­aspek filosofis, yuridis, dan sosiologisnya agar kebijakan yang diambil tersebut tidak melanggar hukum dan sesuai dengan kebutuhan publik.

Menurut Samodra Wibawa bahwa kebijakan publik adalah keputusan suatu sistem politik untuk/dalam/guna mengelola suatu masalah atau memenuhi suatu kepentingan, di mana pelaksanaan keputusan tersebut membutuhkan dikerahkannya sumber daya milik (semua warga) sistem politik tersebut.

Bentuk­bentuk kebijakan publik di Indonesia beraneka ragam, mulai dari UUD, Keppres, Permen, hingga Perdes (peraturan desa) ataupun peraturan RT (rukun tetangga). Jadi, kebijakan publik itu sangat beragam, sebanyak jumlah level pemerintahan dikalikan jumlah policy makers-nya dikalikan jenis masalah yang hendak ditangani oleh kebijakan tersebut.13

Oleh karena itu, menurut penulis bahwa dalam membuat kebijakan publik tidak terlepas dari persoalan kepentingan publik bahkan bisa dikatakan produk utama dari sebuah sistem dan proses politik adalah kebijakan publik.

Kebijakan publik menurut Mustopodidjaja adalah suatu keputusan yang di­

maksudkan untuk mengatasi permasalahan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu, yang dilaksanakan oleh instansi yang berkewenangan dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan negara dan pem bangunan. Dalam kehidupan administrasi publik, secara formal keputusan tersebut dituangkan dalam berbagai bentuk perundang­undangan.14

Kebijakan publik sebagai suatu keputusan yang dibuat oleh instansi yang berwenang, tentunya sarat akan berbagai kepentingan di dalamnya karena

13 Samodra Wibawa, Politik Perumusan Kebijakan Publik, Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yog ya­

karta, 2011, hlm. 1.

14 Muhlis Madani, Dimensi Interaksi Aktor dalam Proses Perumusan Kebijakan Publik, Cetakan Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011, hlm. 18.

Bab 1 Pendahuluan 23 kebijakan publik ini merupakan sebuah produk politik. Tentunya kebijakan yang dibuat tersebut harus dilaksanakan oleh semua warga negara tidak terkecuali, meskipun menimbulkan pro dan kontra dalam implementasinya.

Bentuk instrumen kebijakan yang dipilih tergantung pada substansi dan lingkup permasalahan, sifat kebijakan, dan cakupan dampak kebijakan. Menurut Keban, pada umumnya bentuk kebijakan dapat dibedakan atas:15

a. regulatory, yaitu mengatur perilaku orang;

b. redistributive, yaitu mendistribusikan kembali kekayaan yang ada;

c. distributive, yaitu melakukan distribusi atau memberikan akses yang sama terhadap sumber daya tertentu; dan

d. constituent, yaitu sebuah kebijakan yang ditujukan untuk melindungi negara.

Pembuatan kebijakan publik harus didasarkan pada hukum karena dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, ditentukan bahwa: “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Menurut Immanuel Kant, negara hukum merupakan salah satu tujuan negara, maksudnya:16

Negara harus menjamin tata tertib dari perseorangan yang menjadi rakyatnya.

Ketertiban hukum perseorangan ialah syarat utama dari tujuan suatu negara.

Tujuan negara ialah pembentukan dan pemeliharaan hukum di samping dijamin daripada kebebasan dan hak­hak warganya. Rakyat harus menaati undang­undang yang dibuat dengan persetujuannya sendiri. Lain daripada itu, perseorangan dilihat oleh Kant sebagai pihak yang sama derajatnya dengan negara sendiri. Baik negara maupun perseorangan adalah subjek­

subjek hukum, yang harus memandang satu dengan lain sebagai sesamanya, sebagai pihak­pihak yang memegang hak­hak dan kewajiban. Hal ini berarti bahwa negara tidak dapat memandang perseorangan sebagai objek yang tak bernyawa dan tak mempunyai hak apa­apa.

Dalam penyelenggaraan pemerintahan, maka tindakan yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun warga masyarakatnya harus didasarkan pada hukum.

Jadi, menaati hukum merupakan kewajiban demi terciptanya keamanan dan ketertiban.

15 Ibid.

16 I Wayan Suandi, Eksistensi Kebijakan Publik dan Hukum dalam Penyelenggaraan Peme­

rintahan Daerah, Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Vol. 1 No. 01, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, Bali, 2010, hlm. 14.

Dasar hukum bagi pemerintah dalam melakukan tindakannya ini dapat dilihat dari dua sisi, yakni pada satu sisi memberikan keabsahan bagi tindakan yang dilakukan oleh pemerintah yang sekaligus memberikan perlindungan hukum jika terjadi gugatan yang dilakukan oleh warga masyarakat. Oleh karena itu, menurut Sjachran Basah, salah satu inti hakikat hukum administrasi adalah “melindungi administrasi negara itu sendiri. Maksudnya, kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah akan mendapat perlindungan hukum jika kebijakan itu dibuat berdasarkan pada peraturan perundang­undangan. Pada sisi lain, melalui dasar hukum dilakukan pembatasan terhadap kekuasaan yang dimiliki oleh peme rintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan.17

Kaitannya dengan pendapat Immanuel Kant dengan bunyi Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, penulis berpendapat bahwa untuk menjamin kelangsungan hidup suatu negara harus dikelola atas dasar konstitusi negara sebagai landasan konstitusional dalam menyelenggarakan roda pemerintahan, artinya adalah setiap tindakan pemerintah dalam memimpin, mengatur, serta mengelola seluruh elemen dan sumber daya yang dimiliki oleh suatu bangsa harus didasarkan pada ketentuan perundang­undangan yang berlaku. Demikian pula terhadap kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah yang menggunakan uang negara wajib mendasarkan pada peraturan perundang­undangan yang berlaku yang mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.

Dapat dikatakan pula bahwa ketentuan peraturan perundang­undangan ditujukan untuk membatasi dan mengatur kekuasaan pemerintah agar tidak di gunakan sewenang­wenang yang pada akhirnya dapat menyengsarakan rakyat.

Menurut Cornelis Lay, pembatasan ini perlu dilakukan karena “sekecil apa pun kekuasaan yang digenggam satu lembaga atau seseorang, seperti yang sudah dibuktikan dalam keseharian kita, ia tetap problematik ketika tidak diatur”.18 Seperti diketahui, hukum tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan keberadaannya bukan sebagai suatu lembaga yang ber diri sendiri namun sebagai lembaga yang bekerja sama dengan lembaga­

lembaga lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kebi­

jakan publik.

17 Ibid., hlm. 15.

18 Ibid.

Bab 1 Pendahuluan 25 Bambang Sunggono berpendapat bahwa untuk menghindari terjadinya penyimpangan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, maka hukum dapat dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut karena secara teknis hukum dapat melakukan hal­hal sebagai berikut.19

a. Hukum merupakan suatu sarana untuk menjamin kepastian dan memberikan prediktabilitas di dalam kehidupan masyarakat.

b. Hukum merupakan sarana pemerintah untuk menerapkan sanksi.

c. Hukum sering dipakai oleh pemerintah sebagai sarana untuk melin­

dungi melawan kritik.

d. Hukum dapat digunakan sebagai sarana untuk mendistribusikan sumber­sumber daya.

Penulis berpendapat bahwa hukum sebagai landasan yuridis bagi penye­

lenggara negara dan masyarakat dalam melakukan tindakan atau perbuatan agar interaksi antara pemerintah dengan warga masyarakat dapat berjalan dengan tertib, aman dan lancar, karena hukum pada hakikatnya dibuat dan diberlakukan untuk mengatur tata kehidupan dalam masyarakat. Bila hukum tidak ditempatkan sebagai landasan yuridis dalam bertindak dalam suatu negara, maka suasana kehidupan dalam masyarakat tentu akan menjadi kacau bahkan bisa terjadi konflik di antara mereka.

Menurut Jhering, hukum itu dibuat dengan sengaja oleh manusia untuk mencapai hasil­hasil tertentu yang diinginkan, maka menurut Sudarto ada tiga pandangan tentang hukum, yaitu sebagai berikut.20

a. Legalistis

Hukum dipandang sebagai suatu struktur tertutup yang logis, tidak bertentangan satu sama lain, hukum sebagai perangkat aturan­

aturan yang diharapkan agar ditaati oleh para anggota masyarakat.

Pandangan ini bertumpu kepada kepastian hukum (prediktabilitas atau rechtszekerheid).

b. Fungsional

Hukum dipandang sebagai instrumen untuk pengaturan masyarakat yang menghendaki pengukuran norma­norma, doktrin­doktrin, dan lembaga­lembaga hukum sampai berapa jauh ketiganya ini dapat

19 Ibid.

20 Marwan Effendy, Pemberantasan Korupsi ..., op.cit., hlm. 2.

sampai ke tujuan yang hendak dicapai. Pandangan ini bertumpu kepada kegunaan dan kemanfaatan hukum (utility atau doelmatigheid).

c. Kritis

Hukum sebagai bagian dari masyarakat dengan mengkaji hukum dengan ukuran­ukuran yang dipergunakan oleh hukum itu sendiri.

Pandangan ini bertumpu kepada keadilan (justice atau gerechtigheid).

Menurut penulis, hukum harus dipandang sebagai norma­norma yuridis yang secara sosiologis berfungsi untuk mengatur tata perilaku dan bertindak bagi setiap warga negara agar tercipta suasana kehidupan dalam masyarakat yang lebih tertib dan teratur. Oleh karena itu, hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hukum sebagai suatu sistem dapat berperan di tengah masyarakat dengan baik dan benar jika ditegakkan secara konsisten dan konsekuen. Sebaliknya hukum yang dibuat sebaik apapun jika tidak dipatuhi oleh pemerintah dan warga masyarakat, maka hukum tersebut menjadi tidak bermanfaat bagi kepentingan negara maupun warga negara.

Menurut Jay A. Sigler, et.al., bahwa hukum dapat digunakan sebagai sarana bagi kebijakan publik untuk mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan melalui proses politik. Hasil utama dari sistem politik adalah hukum. Oleh karena itu, maka “constitution, statutes, administrative orders and executive orders are indicators of policy. Law also sets the framework for public policy”.

Dengan demikian, dasar bagi suatu pembuatan kebijakan publik oleh pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintahan harus didasarkan pada hukum, baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis.21

Dari kalimat di atas, dapat dipahami bahwa konsekuensi hukum yang muncul sebagai akibat diterbitkannya kebijakan merupakan tanggung jawab dari pengambil kebijakan, sedangkan bagi pelaksana kebijakan, selama dalam pelaksanaannya tidak menyimpang dari kebijakan yang ada, maka tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum atas akibat dari pelaksanaan kebijakan.

Namun apabila dalam pelaksanaan kebijakan ada penyimpangan dan berdampak hukum, maka pelaksana kebijakan yang menyimpang bertanggung jawab secara pribadi (ultra vires) atas dampak yang muncul.

21 I Wayan Suandi, loc.cit., hlm. 15.

Bab 1 Pendahuluan 27 Hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan ma­

syarakat, berbangsa, dan bernegara. Hukum adalah keseluruhan daripada norma­norma yang secara mengikat dan mengatur hubungan antara manusia dalam masyarakat. Hukum berurusan dengan hak­hak dan kewajiban­

kewajiban.22

Bagi penulis, sifat dasar dari hukum adalah mengikat, mengatur, bahkan memaksa siapa saja yang berada dalam ruang lingkup wilayah berlakunya hukum itu sendiri, karena di dalam hukum mengatur tentang hak dan kewajiban bagi setiap warga negara. Hak artinya hukum menjamin dan melindungi hak­hak setiap warga negara, dan kewajiban artinya mengikat setiap warga negara untuk mematuhi atau melaksanakan apa yang diperintahkan oleh hukum dan menjauhi atau menghindari apa yang dilarang oleh hukum. Jika apa yang dilarang oleh hukum itu dilanggar, maka kepada yang melanggar hukum akan dikenakan sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya, yang penerapannya tentu dilakukan secara profesional dan proporsional untuk mewujudkan kepastian, keadilan, dan kemanfaatan hukum bagi setiap warga negara termasuk di dalamnya dalam hal kewajiban pemerintah dalam mengelola keuangan negara secara profesional, pro­

porsional, transparan, akuntabel, dan penuh kehati­hatian.

3. Keuangan Negara

Menurut Undang­Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, yang dimaksud dengan keuangan negara adalah:

Semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang termasuk ke bijakan di bidang fiskal, moneter, pengelolaan negara, dan badan lain dalam rangka penyelenggaraan negara. Selain itu adalah sesuatu baik berupa barang maupun uang yang dapat dijadikan milik negara sehu bungan dengan pelaksanaan hak dan kewajibannya.

Pengertian keuangan negara menurut Suparmoko adalah:

Bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari mengenai kegiatan­kegiatan pemerintah dalam bidang ekonomi, terutama mengenai penerimaan dan pengeluarannya dalam bidang perekonomian tersebut. Keuangan negara merupakan studi mengenai pengaruh dari anggaran penerimaan dan belanja negara terhadap perekonomian terutama pengaruh­pengaruhnya

22 Marwan Effendy, Pemberantasan Korupsi ..., op.cit., hlm. 1.

terhadap pencapaian tujuan kegiatan ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga­harga, distribusi penghasilan yang lebih merata dan juga peningkatan efisiensi serta penciptaan kesempatan kerja.23 Atas kalimat tersebut, penulis berpendapat bahwa keuangan negara adalah segala hal yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran yang dikelola dan dioperasionalkan dari, oleh, dan untuk kepentingan institusi negara, baik yang dilaksanakan secara individu pegawai negeri sipil maupun yang dilaksanakan secara kolektif atau kelembagaan oleh pemerintah selaku penyelenggara negara.

Oleh karena pengaturan dalam pengelolaan keuangan negara menjadi kewajiban pemerintah.

Mamesah mengemukakan bahwa keuangan negara adalah hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu, baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.24

Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa dalam rangka upaya mencipta­

kan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, wajib mengutamakan prinsip profesionalisme, transparan, serta kehati­hatian. Selain itu, pengelolaan keuangan negara harus dibedakan, yaitu ada keuangan negara yang berupa uang dalam bentuk tunai, dan ada keuangan negara dalam bentuk barang. Keduanya menjadi hak dan kewajiban negara untuk mengelola dan menggunakannya untuk dan atas nama kepentingan negara.

Berikut adalah hak­hak negara untuk mengelola dan mempergunakan keuangan negara antara lain:25

a. hak monopoli mencetak dan pengeluaran uang;

b. hak untuk memungut sumber­sumber keuangan seperti pajak, bea, dan cukai;

c. hak untuk memproduksi barang dan jasanya yang dapat dinikmati oleh khalayak ramai, yang dalam hal ini pemerintah memperoleh jasa (kontra prestasi) sebagai sumber penerimaan negara.

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya bahwa kewajiban­kewajiban negara adalah berupa pelaksanaan tugas­tugas pemerintah, yakni yang sesuai

23 Suparmoko dalam Dasril Munir, Henry Arys Djuanda, dan Hiessel Nogi S. Tangkilisan, Kebijakan & Manajemen Keuangan Daerah, YPAPI, Yogyakarta, 2004, hlm. 162.

24 Ibid., hlm. 163.

25 Ibid.

Bab 1 Pendahuluan 29 dengan pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdas­

kan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Atas pelaksanaan kewajiban dan tugas­tugas pemerintah tersebut, peme­

rintah dapat melaksanakan pemungutan sumber­sumber keuangan negara untuk menunjang pengeluaran­pengeluaran sebagai belanja negara, maka setiap tahun ditetapkan undang­undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta Anggaran Pendapatan Belanja Daerah di mana keduanya saling terkait.26

Pemungutan sumber­sumber keuangan negara itu dilakukan melalui pajak, restribusi, denda, dan sebagainya. Pemungutan itu ditujukan kepada rakyat, dan hasilnya adalah pembangunan yang akan dinikmati oleh rakyat pula. Pungutan­

pungutan dari rakyat tersebut merupakan sumber utama pemasukan uang kas bagi pemerintah. Rakyat memberikan kepercayaan penuh terhadap pemerintah untuk mengelola dan menggunakan dengan sebaik­baiknya.

Pengertian keuangan negara tidak hanya berbentuk uang tetapi segala bentuk dalam wujud apa pun yang dapat diukur dengan nilai uang. Pengelo­

laan dan penggunaan keuangan negara harus dapat dipertanggungjawabkan oleh pemerintah dengan sebaik­baiknya, sehingga tidak akan menimbulkan kerugian keuangan negara. Kerugian keuangan negara adalah berkurangnya kekayaan negara yang disebabkan oleh penyalahgunaan wewenang/kesempatan atau sarana yang ada pada seseorang karena jabatan dan kedudukannya. Selain itu, diartikan juga sebagai kelalaian seseorang dan atau sesuatu yang disebabkan oleh keadaan di luar kemampuan manusia (force majeur).

Keuangan negara dalam arti luas meliputi APBN, APBD, keuangan negara pada Perjan, Perum, PN­PN, dan sebagainya, sedangkan definisi keuangan negara dalam arti sempit hanya meliputi setiap badan hukum yang berwenang mengelola dan mempertanggungjawabkannya. Keuangan negara merupakan urat nadi dalam pembangunan suatu negara dan sangat menentukan kelang­

sungan perekonomian, baik sekarang maupun yang akan datang.

Perumusan keuangan negara dalam Undang­Undang Nomor 17 Tahun 2003 di atas menggunakan beberapa pendekatan, yaitu:27

26 Ibid.

27 Adrian Sutedi, Hukum Keuangan Negara, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hlm. 11.

a. Pendekatan dari sisi objek

Keuangan negara meliputi seluruh hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, di dalamnya termasuk berbagai kebijakan dan kegiatan yang terselenggara dalam bidang fiskal, moneter, dan/atau pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan. Selain itu, segala sesuatu dapat berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.

b. Pendekatan dari sisi subjek

Keuangan negara meliputi negara dan/atau pemerintah pusat, peme­

rintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara.

c. Pendekatan dari sisi proses

Seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan objek di atas mulai dari proses perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan pertanggungjawaban.

d. Pendekatan dari sisi tujuan

Keuangan negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan, dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan peme rin­

tahan negara.

Oleh karena itu, tentang keuangan negara yang dirumuskan dalam Undang­

Undang Nomor 17 Tahun 2003 dapat dijelaskan bahwa keuangan negara dalam perspektif pendekatan objek meliputi keseluruhan hak­hak dan kewajiban yang dimiliki oleh negara dalam penyelenggaraan pemerintahan yang dapat dinilai dengan uang, termasuk di dalamnya adanya kebijakan­kebijakan yang dilakukan di bidang fiskal, moneter, demikian pula terhadap pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan.

Selain itu, segala sesuatu dapat berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Sedangkan dalam perspektif pendekatan dari sisi tujuan dapat dijabarkan bahwa keuangan negara terdiri dari segala aset yang dimiliki oleh negara baik pusat maupun daerah provinsi, kabupaten/kota termasuk di dalamnya segala aset berupa BUMN/BUMD, perusahaan milik negara di pusat dan daerah ataupun badan­badan usaha lainnya yang berkaitan dengan keuangan negara.

Bab 1 Pendahuluan 31 Demikian pula terhadap keuangan negara yang dilihat dari perspektif proses, dimaksudkan sebagai seluruh rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan objek di atas mulai dari proses perumusan kebijakan dan peng­

ambilan keputusan sampai dengan pertanggungjawaban. Keuangan negara dilihat dari perspektif tujuan meliputi seluruh kebijakan, kegiatan, dan hubungan hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagai­

mana tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.

4. Korupsi

Menurut Fockema Andreae, kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptus.28 Selanjutnya disebutkan bahwa corruptio itu berasal pula dari kata asal corrumpere, suatu kata Latin yang lebih tua. Dari bahasa Latin itulah turun ke banyak bahasa Eropa, seperti Inggris, yaitu corruption, corrupt;

Perancis, yaitu corruption; dan Belanda, yaitu corruptie (korruptie). Dari bahasa Belanda inilah, kata itu turun ke bahasa Indonesia, yaitu korupsi.

Arti harfiah dari kata korupsi ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata­kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah. Kehidupan buruk di dalam penjara misalnya, sering disebut sebagai kehidupan yang korup, di mana segala macam kejahatan terjadi di sana.

Meskipun kata corruptio itu luas sekali artinya, namun sering corruptio dipersamakan artinya dengan penyuapan. Istilah korupsi yang telah diterima dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia itu, disimpulkan oleh Poerwa­

darminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia:

“Korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, pene­

rimaan uang sogok, dan sebagainya”.

Berbicara tentang korupsi perlu dipahami secara benar terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan korupsi, mengapa orang dikatakan melakukan perbuatan korupsi, apa saja unsur­unsur korupsi serta apa akibat hukumnya jika sesorang melakukan korupsi.

Dalam hal ini, Lubis dan Scott mengemukakan pandangannya tentang korupsi yang disebutkan bahwa dalam arti hukum, korupsi adalah tingkah laku yang menguntungkan kepentingan diri sendiri dengan merugikan

28 Fockema Andreae dalam Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hlm. 4.

Dalam dokumen pengadaan barang (Halaman 33-53)