• Tidak ada hasil yang ditemukan

Almi Hidayat, Pd. 19

REVIEW KURIKULUM PERIODE 2004–2013

M. Almi Hidayat, Pd. 19

REVIEW KURIKULUM

Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebenarnya merupakan lanjutan dari kurikulum 1994 dimana materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing- masing, misalnya bahasa daerah, kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Dalam pelaksanaan kegiatan, pendidik hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan peserta didik aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan peserta didik, pendidik dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan. Sedangkan ciri kurikulum 1994 adalah:

1. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

2. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.

3. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.

Sedangkan KBK memiliki ciri:

1. Belajar dipandang sebagai proses respons terhadap rangsangan.

2. Belajar diatur berdasarkan langkah-langkah tertentu dengan sejumlah tugas yang harus dipelajari.

|135 3. Secara khusus siswa belajar secara individual,

meskipun dalam hal-hal tertentu bisa saja belajar secara kelompok (Wina Sanjaya, 2011 : 48-49).

Pada KBK mulai dikenal dengan istilah semester (per enam bulan) dimana pada kurikulum 1994 masih memakai istilah caturwulan (per empat bulan). Kurikulum Berbasis Kompetensi sukses dan bertahan lama implementasinya pada Perguruan Tinggi. Dimana Kompetensi yang harus dicapai pada masing-masing jurusan atau program studi telah disusun secara sistematis. Hal tersebut tertuang dalam 4 kompetensi dasar yang harus ada pada KBK:

1. Kompetensi akademik: peserta didik harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengatasi tantangan dan persoalan hidup secara independent.

2. Kompetensi okupasional: peserta didik harus memiliki kesiapan dan mampu beradaptasi terhadap dunia kerja.

3. Kompetensi kultural: peserta didik harus mampu menempatkan diri sebaik-baiknya dalam sistem budaya dan tata nilai masyarkat yang pluralistk.

4. Kompetensi temporal: peserta didik tetap eksis dalam menjalani kehidupannya, serta mampu memanfaatkan ketiga kemampuan dasar yang telah dimiliki sesuai dengan perkembangan zaman (Wina Sanjaya, 2011: 8).

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Hal yang mencolok dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah pemberian wewenang dalam hal pengembangan perangkat kurikulum yang diwenangkan pada satuan pendidikan. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan

mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Dalam penerapnnya terdapat beberapa hal yang perlu dipahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan yaitu:

1. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta sosial budaya masyarakat stempat dan peserta didik.

2. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota dan departemen agama yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

3. Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (E Mulyasa, 2013 : 20).

Pada KTSP karakteristik dapat diketahui dari bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga kependidikan, serta sistem penilaian.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diuraikan KTSP memiliki karakteristik seperti :

1. Pemberian otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan

2. Partisipasi masyarakat dan orang tua yang tinggi 3. Kepemipinan yang demokratis dan professional 4. Tim-kerja yang kompak dan transparan (E Mulyasa,

2013 : 29).

Secara umum tujuan KTSP adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian

|137 kewenangan kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Secara khusus tujuan KTSP adalah:

1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam menembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya.

2. Meningkatkan kepedualian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.

3. Meningkatkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai (E Mulyasa, 2013 : 22).

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 lahir dari hasil evaluasi serta refleksi dari kurikulum sebelumnya yaitu KTSP. Kurikulum 2013 dalam pembentukannya memiliki 4 landasan yaitu; landasan Yuridis, Filosofis, Teoritis dan Empiris.

1. Landasan yuridis.

Secara yuridis memuat isi Pancasila dan Undang- undang Dasar 1945, Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (Kemendikbud, 2012 : 2).

2. Landasan filsofis.

Untuk mengembangkan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, pendidikan berfungsi mengembangkan segenap potensi peserta didik.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional maka

pengembangan kurikulum haruslah berakar pada budaya bangsa, kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa di masa mendatang (Kemendikbud, 2012 : 3).

3. Landasan teoritis.

Kurikulum dikembangkan atas dasar teori pendidikan berdasarkan standar dan teori pendidikan berbasis kompetensi. Pendidikan berdasarkan standar adalah pendidikan yang menetapkan standar nasional. Standar kualitas nasional dinyatakan sebagai Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan tersebut adalah kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau satuan pendidikan. SKL termasuk sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Kemendikbud, 2012 : 5).

4. Landasan empiris.

Dimana pada tahun tersebut terdapat ketidak harmonisan antara intelektual dengan prilaku seseorang.

Terlihat dari banyaknya orang yang berpendidikan namum belum mampu mencerminkan tingkat pendidikannya dalam bermasyarakat. Ditambah lagi kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan kasus pemaksaan kehendak yang sering muncul di Indonesia saat itu (Kemendikbud, 2012 : 8).

Sesuai dengan landasan empiris, kurikulum 2013 mencoba menyelesaikan persoalan di masyarakat muali dari aspek afektif. Hal ini terlihat pada penyusunan Standart Kompetensi (SK) yang berubah menjadi Kompetensi Inti (KI). Di dalam KI tersebut, pada KI 1 sikap spiritual dan KI 2 sikap sosial yang tertuang dalam silabus. Selain itu struktur kurikulum pun turut di inovasi secara tematik.

|139 Daftar Pustaka

Mulyasa, E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2013.

Sanjaya, Wina. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta : Kencana Prenada. 2011.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. Dokumen Kurikulum 2013. Jakarta: Depdiknas. 2012

PERAN MENDELEY DALAM PENYUSUNAN