• Tidak ada hasil yang ditemukan

DENGAN KURIKULUM MERDEKA

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT

pendidikan. Banyak cara mendidik yang dipraktekan selama ini terhadap generasai muda (peserta didik) memberi nuansa akan suatu perilaku “pembodohan” yang mana. Ada tiga jenis pembodohan peserta didik yang menunjukan disintegrasi pendidikan: Pertama, pembodohan dalam keluarga seperti adanya pemaksaan hak, dalam hal ini anak dipaksa untuk mematuhi keinginan orang tua. Kedua, dalam lingkup sekolah, adanya gaya mengajar yang membodohkan siswa, di mana siswa harus bersusah payah menyesuaikan gaya belajarnya dengan gaya mengajar guru yang monoton dan tentu saja mematikan daya kreativitas peserta didik. Ketiga, perilaku pembodohan seorang individu (peserta didik) dalam lingkup masyarakat itu seperti “pendidikan kapitalis”, dalam hal ini banyak sekolah yang mahal sehingga pendidikan seolah-olah diperuntukan bagi anak-anak yang mampu saja.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, ketiga disintegritas itu bahkan terasa telah menjadi rekan seperjalanan dari dinamika perubahan kurikulum yang ada di negara ini sampai hari ini. Kali ini, pemerintah berupaya mengentaskan hal-hal tersebut dengan mencanangkan kurikulum baru, yaitu kurikulum merdeka yang menjunjung slogan merdeka belajar.

Tulisan sederhana ini mau melihat bagaimana sesungguhnya konsep pendidikan yang dicanangkan oleh seorang Jean Jacques Rousseau dan utilitas konsep tersebut dalam kurikulum merdeka. Apa sesungguhnya pendidikan itu dan bagaimana konsep Rousseau mengenai pendidikan itu?

Konsep Pendidikan menurut J.J Rousseau

Menurut Rousseau yang menjadi tolok ukur dalam pendidikan adalah sifat khas si anak itu sendiri dan bukan menurut sifat yang berlaku bagi orang dewasa (Boehlke, 2005: 125). Teori pendidikan Rousseau bertitik-tolak pada si anak didik sendiri. Hal ini dirumuskannya demikian “orang

|51 dewasa perlu diperlakukan sebagai orang dewasa dan si anak perlu diperlakukan sebagai seorang anak.”

Rousseau juga menyatakan bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berproses pada alam. Pendidikan yang berporos pada alam yang dimaksud ialah membiarkan anak melihat dengan mata sendiri dan merasa dengan hatinya, dan semata-mata hanya dipengaruhi oleh suara nalarnya saja, sehingga ia tidak mudah diombang-ambingkan oleh aliran yang bergelora dalam masyarakat. Di sini, pentingnya sebuah pendidikan adalah bahwa melalui pendidikan, anak memperoleh kebebasan untuk berkembang menurut hukum alam yang telah digariskan baginya, yakni dengan memperhatikan masa pertumbuhannya. Pendidikan perlu membiarkan anak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang ia ingini dan mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Dengan jalan itulah pendidikan dapat membahagiakan anak. Rousseau sendiri mengatakan bahwa kebahagiaan seorang anak terletak dalam penggunaan kebebasan mereka.

Dalam suasana pendidikan seperti ini, guru hanya berperan untuk mengarahkan anak untuk berkembang menurut kehendak dan keinginannya. Selain itu, guru memainkan peran negatif dalam pendidikan anak.

Maksudnya guru hanya berperan member koreksi kepada si anak, tanpa mengintervensi kepada si anak. Jadi, membiarkan anak untuk bebas bergiat dan berkembang sesuai keinginannya.

Seperti sudah dikatakan di atas, Rousseau sangat menegaskan suatu pendidikan yang selaras dengan alam demi mempertahankan dan mengembangakan segala potensi bawaan (kodrat) masing–masing anak didik. Ia belajar dari pengalaman pribadinya secara langsung, bukan dari mata pelajaran, ia adalah penemu bukan peniru, ia memunculkan daya kreasinya, bukan daya ingatannya, ia belajar tergantung pada dirinya, bukan pada orang lain. Oleh karena itu

pendidikan harus dapat membawa anak kembali kepada alam dan sekaligus kepada pemahaman akan eksistensinya.

Sama seperti John Locke yang mengutamakan pengalaman sebagai faktor fundamental dalam pengetahuan, dan merupakan sumber dari pengetahuan manusia, Rousseau pun sangat menekankan suatu praktek pendidikan yang bertitik tolak dari pengalaman pribadi secara langsung.

Menurut Rousseau, anak-anak lekas lupa akan apa yang dikatakan ataupun diucapkan kepada mereka, tetapi mereka tidak akan pernah lupa akan apa yang mereka perbuat ataupun akan apa yang mereka lakukan atas dirinya sendiri.

Ia akan menyimpan dengan lebih baik di dalam memorinya semua tindakan dan segala yang ada di sekitarnya.

Rousseau sangat percaya bahwa pengalaman selalu mendahului segala macam instruksi apapun. Baginya sebelum anak mangenali sesuatu dari gurunya, sesungguhnya ia telah belajar banyak, sebab pendidikan manusia yang sebenarnya itu sudah dimulai sejak kelahirannya, sebelum ia dapat berbicara dan memahami bahwa ia sedang belajar.

Sebagaimana sudah dikatakan juga, Rousseau sangat menekankan pendidikan yang selaras dengan alam, yakni potensi-potensi bawaan anak serta berdasarkan pada pengalaman pribadi anak secara langsung. Kedua hal tersebut sebenarnya menunjuk pada sebuah model pendidikan yang lebih mengutamakan kesesuaian antara kemampuan dasariah anak dan pengembangannya. Pendidikan harus bertitik tolak dari potensi anak sendiri. Apa yang dimaksudkan sebagai potensi?

Potensi (potentia) dalam perspektif metafisis berhubungan dengan upaya Aristoteles membahas persoalan ada dan perubahan. Potentia selalu dipahami dalam hubungannya dengan actus. Di sini potentia berarti kemampuan, kemungkinan dari suatu realitas untuk mengalami perubahan dan mewujud dalam actus baru.

Sementara itu dalam pengertian populer, potensi dipahami

|53 sebagai kekuatan, daya, kesanggupan, kemampuan yang memiliki kemungkinan untuk dikembangan, yang bersifat internal dan unik. Dalam pembahasan ini, pengertian potensi yang dimaksudkan lebih pada pengertian kedua, tanpa mengabaikan yang pertama. Potensi adalah kemampuan alamiah anak yang bersifat internal, unik dan belum diaktualisasikan. Maka dalam pendidikan, hal yang harus dikembangkan adalah potensi dari anak sendiri.

Menyimak seluruh gagasan Rousseau tentang pendidikan, maka akan ditemukan bahwa yang menjadi prinsip dari pendidikan menurut ialah hidup itu sendiri, bukan suatu usaha persiapan untuk hidup. Artinya bahwa, pendidikan itu bukan soal “memberi” tetapi “memelihara”.

Pendidikan tidak bermaksud memberikan sejumlah materi ke dalam diri anak, melainkan memelihara segala yang baik dalam diri anak dengan membiarkan ia berkembang secara wajar menurut kodratnya. Maka pendidikan itu harus berhubungan secara langsung dengan kemampuan anak yang tercermin dalam minatnya. Itulah yang akan menjadi motivasi belajar anak. Anak akan memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman.

Implikasi terhadap Konsep Merdeka Belajar

Menyimak ulasan pandangan Rosseau tentang pendidikan, ada dua aspek penting yang bisa kita ambil untuk mendasari pemahaman kita atas konsep merdeka belajar.

Pertama, merdeka belajar hendaknya dipahami sebagai pembelajaran yang menghendaki siswa memiliki kontrol penuh atas perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan belajar yang mereka alami (Wallace, 2010). Merdeka belajar merupakan usaha untuk memberikan siswa kekuatan (power), kebebasan (independent/autonomy), dan tanggung jawab (responsibility) dalam pengembangan kompetensi dan

pengembangan diri mereka sendiri. Merdeka belajar, seperti yang dikehendaki oleh Rosseau, berupaya mengambil tampuk kekuasaan dalam pembelajaran dari tangan guru dan sekolah untuk diberikan kembali kepada siswa. Pendekatan belajar

‘one size fits all’ di mana guru mengajar dengan metode yang sama untuk semua siswa dan semua materi hendaknya dihilangkan.

Kedua, belajar memiliki tiga dimensi penting yang saling berkaitan dan menjadikan siswa sebagai aktor utama (Vilma et.al, 2015):

1. Belajar diarahkan sesuai kebutuhan siswa sendiri (self-directed learning). Rencana dan tujuan pendidikan dirumuskan sendiri oleh siswa. Dalam kaitannya dengan itu, guru bersama siswa akan menentukan strategi, fase-fase belajar, konten pembelajaran, dan media belajar yang dibutuhkan.

2. Proses atau alur pembelajaran diatur oleh siswa sendiri (self-regulated learning). Poin ini menegaskan kembali level kontrol dan otonomi siswa. Jadi dalam hal ini, siswa mengarahkan, memonitor, memperbaiki, dan menentukan tingkat ketercapaian belajarnya.

3. Motivasi belajar bersumber dan dipengaruhi paling banyak oleh siswa itu sendiri (self-management learning). Tanggung jawab akan proses dan hasil benar-benar bersumber dari siswa sendiri. Dalam hal ini, siswa dituntut untuk memiliki awareness atau kesadaran akan kebutuhan belajarnya juga sekaligus memiliki pemahaman yang baik atas dirinya sendiri.

|55 Daftar Pustaka

Boehlke, Robert R. 2005. Sejarah perkembangan pikiran dan praktek pendidikan agama Kristen, dari Yohanes Comenius sampai perkembangan PAK di Indonesia.

Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Suhartono, S. 2008. Filsafat pendidikan: Jogjakarta: Ar-Ruz Media.

Wallace, R.M. (2010). Online Learning in Higher Education: a review of research on interactions among teachers and students. Education, Communication & Information, 3(2): 241-280.

Vilma, Z., Margarita, T. & Genutė, G. (2015). The structure of independent learning in higher education: students’

attitude. society, integration, education. Proceedings of the International Scientific Conference. 1. 336.

10.17770/sie2014vol1.774

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN