• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANAMAN NILAI KARAKTER MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CASE METHOD

Dr. Safrida, S.Pd, M.Si., AIFO.10 Universitas Syiah Kuala

“Pelaksanaan penanaman nilai-nilai karakter ternyata sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran yang dapat

dilihat dari penerapan prinsip-prinsip pembelajaran saintifik dan implementasi evaluasi

pembelajaran berbasis karakter”

endidikan karakter penting dalam rangka untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak yang mulia peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari- hari serta dalam lingkungan sekolah (Amalia dkk, 2021).

Dalam penanaman karakter yakni diharapkan kelak dapat memberikan arahan untuk menjadi insan atau manusia

10Dr. Safrida, S.Pd, M.Si., AIFO lahir di Aceh Besar pada Tanggal 5 Agustus 1980. Memulai karier Tahun 2005 sebagai dosen tetap pada Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Syiah Kuala, dan saat ini sebagai Koordinator Program Studi Magister Pendidikan Biologi (MPBIO) Universitas Syiah Kuala tahun 2022-sekarang.

P

ulul albab yang mana anak didik tersebut tidak hanya sadar dalam mengembangkan dirinya, memperbaiki hidupnya tetapi juga mempraktikkan nilai itu pada sehari-harinya.

Adapun bebarapa fungsi dalam penanaman karakter yaitu sebagai pengembangan potensi anak didik untuk bertingkah laku, sebagai perbaikan, penanaman karakter ini diharapkan dapat memperbaiki anak didik menjadi orang yang lebih bermartabat dalam berbagai hal, sebagai penyaring yang mana dengan penanaman karakter anak didik dapat memilah mana budaya yang tepat dan harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya (Luthfiyah ddk, 2021).

Pendidikan yang dapat menerapkan pendidikan karakter adalah pendidikan sejarah. Dalam pendidikan sejarah terdapat tujuan yang secara tidak langsung dapat membentuk karakter peserta didik. Tujuan dari pendidikan sejarah diantaranya: (1) mengembangkan kemampuan berpikir kronologis, kritis dan kreatif; (2) membangun kepedulian sosial; (3) mengembangkan semangat kebangsaan; (4) membangun kejujuran, kerja keras, dan tanggungjawab; (5) mengembangkan rasa ingin tahu; (6) mengembangkan nilai dan sikap kepahlawanan serta kepemimpinan; (7) mengembangkan kemampuan berkomunikasi; (8) mengembangkan kemampuan mencari, mengolah, mengemas dan mengkomunikasikan informasi (Rulianto, 2018).

Menanamkan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajarannya dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler diantaranya : (1) Kegiatan Intra Kurikuler, (a) Memasukkan nilai-nilai karakter dalam setiap materi pembelajaran di kelas sesuai yang direncanakan atau sesuai dengan menggunakan pendekatan pembelajaran, (b) Menanamkan nilai-nilai karakter pada kegiatan pembelajaran di kelas melalui diskusi kelompok, (c) Menanamkan nilai-nilai karakter dalam kegiatan-kegiatan pembiasaan (apel pagi, berjabat tangan, pemberian salam, jamaah sholat wajib dan sholat sunah, tadarus pagi dan

|67 petang, tahfidz, salaman pagi dan sholat berjamaah, komunikasi dua bahasa Inggris dan Arab, pemisahan kelas putra dengan kelas putri ), (d) Menanamkan nilainilai karakter dalam kegiatan-kegiatan peringatan hari besar nasional (PHBI), (e) Memberikan penilaian pendidikan karakter melalui penilaiaan sikap dan perilaku, (2) Kegiatan Ekstra Kurikuler dengan cara sebagai berikut: (a) Menanamkan nilai-nilai karakter dalam kegiatan ekstra kurikuler, Seni dan Budaya (Tilawah, Kaligrafi, Hisbul Wathan, Kitobah, Tari Islam, PHBI dan lain-lain), (b) Menanamkan nilai-nilai karakter dalam kegiatan ekstrakurikuler Olah Raga ( Bela diri, Basket, Bola Volley, Panahan, Berkuda, Bulu Tangkis (Sayektiningsih, 2017).

Ketika pembelajaran dengan menggunakan metode case method, peran guru sebagai fasilitator dapat dipahami dengan baik oleh responden. Hasil angket paling banyak 60% setuju dan 40% menyatakan sangat setuju bahwa guru berperan sebagai fasilitator dalam metode pembelajaran case method.

Respons positif guru menggambarkan bahwa guru memahami dengan baik metode pembelajaran berbasis case method.

Guru paling banyak 53% setuju bahwa peserta didik memiliki peran protagonis (pemeran utama) yang akan melakukan analisis kasus dan memecahkan kasus yang diberikan guru (Rahmi, 2022).

Case method adalah cara terbaik untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan kepemimpinan dan melalui proses dinamis pertukaran perspektif, melawan dan mempertahankan poin, dan membangun ide satu sama lain, peserta didik menjadi mahir dalam menganalisis masalah, melatih penilaian, dan membuat keputusan sulit. Case method adalah metode pembelajaran partisipatif dan berbasis diskusi di mana peserta didik memperoleh keterampilan dalam berpikir kritis, komunikasi, dan dinamika kelompok.

Ini adalah jenis pembelajaran berbasis masalah. Umumnya ditemukan di sekolah kedokteran, hukum, dan bisnis, metode

kasus sekarang berhasil digunakan dalam disiplin ilmu seperti teknik, kimia, pendidikan, dan jurnalisme. Peserta didik dapat mengerjakan seluruh kasus kelas atau dalam kelompok kecil.

Seringkali peserta didik hanya menghafal definisi suatu konsep tanpa memperhatikan hubungan antara konsep tersebut dengan konsep lainnya sehingga konsep baru tidak terhubung ke dalam jaringan konsep yang sudah ada di benak peserta didik. Konsep tersebut terisolasi dan tidak ada hubungannya dengan konsep lainnya. Kemudian konsep baru tersebut tidak dapat digunakan oleh peserta didik dan tidak memiliki makna, karena makna konsep tersebut berasal dari hubungannya dengan konsep lain. Misalnya, jika seorang peserta didik hanya menghafal besar suatu energi, maka peserta didik tersebut tidak mengetahui hal-hal apa saja yang memepengaruhi energi tersebut. Oleh karena itu, pemahaman konsep sangatlah penting (Fatimah, 2022).

Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk memelihara, membedakan, memperkirakan (estimate), menafsirkan, mengembangkan, menyimpulkan, menggeneralisasi, memberi contoh, menulis ulang dan memperkirakan. Kemampuan seseorang untuk dapat menafsirkan,mmenafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu menurut caranya sendiri dari pengetahuan yang telah diterimanya. Dengan demikian, pemahaman merupakan suatu proses/tindakan/cara untuk memahami sesuatu, dan belajar merupakan usaha untuk memperoleh pemahaman tersebut (Fatimah, 2022).

Pelaksanaan penanaman nilai-nilai karakter ternyata sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran. Hal itu dapat dilihat dari penerapan prinsip-prinsip pembelajaran saintifik dan implementasi evaluasi pembelajaran berbasis karakter.

|69 Daftar Pustaka

Fatimah, M, T. 2022. Pembelajaran Berbasis Case Method Melalui Aplikasi Zoom Meeting Terhadap Pemehaman Konsep Peserta Didik. Jurnal Eduksi Matematika dan Sains. 1(3). 348-567.

Nurulita Anisa Amalia, Ikha Listyarini, Muhammad Arief Budiman. 2021. Analisis Pemahaman Nilai-Nilai Karakter dalam Pembelajaran. Jurnal Mimbar Ilmu.

26(1). 2685-9033.

Rifa Luthfiyah, Ashif Az Zafi. 2021. Penanaman Nilai Karakter Religius Dalam Perspektif Pendidikan Islam Di Lingkungan Sekolah RA Hidayatus Shibyan Temulus.

Jurnal Golden Age. 5(2). 513-526.

Rulianto, R. 2018. Pendidikan IPA sebagai Penguat Karakter.

Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan. 4(8). 324-367.

Sayektiningsih, Bambang Sumardjoko, dan Achmad Muhibin.

2017. Penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan di Madrasah Aliyah Muhammadiyah klaten. Jurnal Managemen Pendidikan. Vol. 12, No. 2, Juli 2017: 228-238. ISSN: 1907-4034

Yosi, L.R 2022. Peningkatan Pengetahuan Guru IPA dan Biologi tentang Metode Pembelajaran Case Method.

Jurnal Pengabdian Masyarakat Biologi dan Sains. 1(2).

2828-6162.

ORIENTASI POSISI PENDIDIK,