BAB IV BAB IV TUJUAN HUKUM
B. Antropologi Hukum
94
hukum yakni;134
1) Kemampuan untuk memahami hukum dalam konteks sosial.
2) Kemampuan untuk menganalisa dan konstruksi terhadap efektivitas hukum dalam masyarak, baik sebagai sarana pengendalian sosial maupun sebagai sarana untuk merubah masyarakat.
3) Kemampuan mengadakan evaluasi terhadap efektivitas di dalam masyarakat.
Apabila seorang ahli atau sarjana hukum mempunyai kemampuan-kemampuan tersebut, maka hal itu akan sangat berguna untuk :
1) Mengadakan konkretisasi terhadap kaedah-kaedah hukum tertulis refereneial.
2) Mengadakan konkretikasi terhadap pengertian- pengertian hukum yang tidak jelas atau kurang pasti.
3) Membentuk atau merumuskan kaedah hukum yang mempunyai dasar
4) Melakukan interpretasi teleologis yang tepat terhadap kaedah hukum tertulis.
95
"Suatu segi ilmu antropolugi yang menonjol ialah pendekatan secara menyeluruh yang dilakukan terhadap manusia; karena ahli antropologi mempelajari tidak hanya bermacam jenis menusia, mereka juga mempelajari semua aspek daripada pengalaman- pengalaman manusia. Misalnya dalam menulis tentang suatu kelompok manusia, seorang ahli antropologi mungkin juga menggambarkan suatu bagian sejarah manusia, lingkungan hidup, cara kehidupan keluarga, pola pemukiman, sistem politik, dan ekonomi, agama, gaya kesenian dan berpakaian, segi umum bahasa,dsb."
Karakteristik antropolgi hukum tampaknya memang terletak pada sifat pengamatan, penyelidikan serta pemahamannya secara menyeluruh terhadap kehidupan manusia. Sifat menyeluruh tampak dari pengamatan yang dilakukannya tidak hanya pada satu atau dua bangsa saja, melainkan secara lintas bangsa dan lintas budaya, yang memberikan hasil pengertian-pengertian yang dibentuknya tidak terbatas penerimaannya oleh satu atau dua bangsa dan lingkungan kebudayaan, tetapi lebih mempunyai nilai universal, baik dalam hubungannya dengan waktu maupun dengan tempat. Setidak-tidaknya ia berusaha ke arah itu.
Antropologi hukum menyediakan waktu banyak untuk membicarakan tentang definisi hukum. Hal ini bisa dimengerti terutama karena ia dihadapkan kepada definisi- definisi serta pengertian-pengertian yang sudah ada pada para ahli hukum. Pada perkembanagan pengertian hukum modern, yang sangat cenderung untuk diterima sebagai instrumen serta teknologi sosial, yang dengan demikian membatasi hukum dalam lingkungan pengertian yang semakin konkrit, tetapi juga sekaligus semakin sempit. Sifat sempit ini mengandung arti memisahkan apa yang bisa disebut sebagai hukum dan apa yang tidak.
Para ahli antropologi hukum sangat menentang pemahaman hukum secara demikian itu yang disifatkannya sebagai pemahaman yang etnosintris. Memahami hukum dengan kriteria modern seperti yang dikenal sekarang, menyebabkan bahwa hukum " pada masyarakat yang lebih sederhana tidak diterima sebagai hukum.
Baginya hukum hendaknya diartikan lebih dari sekedar peraturan dan lembaga: Iembaga pelaksanaannya yang formal, seperti dapat diikuti pada perumusan mengenai fungsi-fungsi yang dijalinkan oleh hukum berikut (Adamson Hoebel):
96
1) Untuk merumuskan hubungan-hubungan antara anggota-anggota suatu masyarakat, untuk menentukan perbuatan-perbuatan apa yang dibolehkan dan apa yang tidak, dengan tujuan mempertahankan dan paling tidak integrasi minimal dari kegiatan-kegiatan orang-orang dan kelompok-- kelompok dalam masyarakat.
2) Fungsi kedua mengalir dari keharusan untuk menjinakkan kekuatan mentah dan mengarahkan kekuatan yang demikian itu kepada pemeliharaan tatanan. Fungsi kedua ini meliputi pengalokasian kekuasaan dan penegasan tentang siapa boleh menggunkan paksaan fisik sebagai suatu hak privilese yang diakui secara sosial, bersama-sama dengan pemilihan bentuk-bentuk sanksi fisik yang paling efektif guna mencapai tujuan-tujuan sosial dari
3) Ketiga adalah penyelesaian sengketa-sengketa yang timbul.
4) Akhirnya, melakukan perumusan kembali hubungan- hubungan antara orang-orang dan kelompok- kelompok, manakala kondisi kehidupan berubah.
Fungsi ini dijalankan untuk mempertahankan kemampuan beradaptasi.
Antropologi hukum itu memperhatikan dan menerima hukum sebagai bagian dari proses-proses yang lebih besar dalam masyarakat. Dengan demikian, sesungguhnya ia melihat hukum tidak secara statis, melainkan dinamis, yaitu proses-proses menjadi dan menghilang.135
2. Ruang Lingkup Antropologi
Dipelajari antropologi adalah masalah yang berkaitan dengan manusia dengan berbagai aspek, baik pribadi, sosial maupun budaya. Dengan demikian ruang lingkup antropologi itu agak luas, walaupun sorotannya menurut ahli antropologi, Koentjaraningrat, tertuju pada masalah- masalah:
1) Sejarah teriadinya serta perkembangan manusia sebagai makhluk biologis (diteliti oleh paleoantropologi).
2) Terjadinya aneka warna manusia dari sudut ciri-ciri badaniah (diteliti oleh antropologi fisik dalam arti khusus atau somatologi).
135 Satjipto Rahardjo; Op. Cit. hal.321
97
3) Penyebaran dan tumbunnya aneka bahasa manusia (ditinjau oleh etnolanguistik).
4) Terjadinya perkembangan dan penyebaran aneka warna kebudayaan (dipelajari oleh prehistori).
5) Dasar-dasar kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat (ditelaah oleh etnologi).
Sebagai salah satu unsur kebudayaan manusia, maka hukum dapat pula dicakup sebagai salah satu bagian dari obyek penelitian antropologi, yang dibedakan:
1) Penelitian antropologis terhadap hukum untuk kepentingan pengembangan antropologi sebagai ilmu pengetahuan.
2) Penelitian antropologis terhadap hukum bagi kepentingan pengembangan ilmu hukum.
3) Penelitian antropologis untuk keoerluan praktek hukum.136
Menurut Prof. Dr.Satjipto Rahardjo, S.H., lingkup persoalan yang dijelajahi oleh ahli antropologi di bidang hukum cukup luas, antara lain maliputi: 137
1) Bagaimanakah tipe-tipe badan yang menjalankan pengadilan (adjudication) dan perantaraan (mediation) dalam masyarakat ?
2) Apakah yang menjadi landasan kekuasaan dari badan-badan itu untuk menjalankan peranannya sebagai penyelesaian sengketa ?
3) Dalam keadaan tertentu, macam-macam sengketa yang bagaimanakah yang menghendaki penyelesaian melalui pengadilan dan yang manakah menghendaki perundingan (negotiation) ?
4) Fungsi-fungsi serta efek-efek ekosistemik yang manakah yang bekerja atas suatu proses hukum ? (ini meliputi penyelidikan terjadap jaringan hubungan- hubungan sosial, psikologi, ekonomi dan politik anta- tara para pihak, wakil-wakil atau pendukung- pendukungnya dan kepala-kepala mereka).
5) Prosedur-prosedur manakah yang dipakai untuk masing-masing jenis sengketa pada kondist-kondisi tertentu ? (mengandung penyelidikan terhadap segi-
136 Soerjono Soekanto, Cp. Cit., hal.12,13
137 Satjipto Rahardlo,Op. Cit.,hal.321
98
segi seperti penangkapan tersangka, tempat kejadian- nya, bukti-bukti, dsb).
6) Bagaimanakah keputusan itu dijalankan ? 7) Bagaimanakah hukum berubah ?
3. Antropologi dan Ilmu-ilmu Hukum
Ilmu-ilmu hukum mencakup ilmu kaedah atau normwissenschaft, yang menyoroti hukum dari sudut normatif, dan ilmu kenyataan atau tatsachenwissenschaft anglocnelaah yang menelaah hukum sebagai perikelakuan yang ajeg yang merupakan kenyataan dalam masyarakat.
Kaedah hukum mungkin merupakan hasil konkretisasi dari rasa susila yang menjadi azas hukum, misalnya " Tepatilah janjimu". Azas hukum tersebut, berpengaruh pada pola berpikir yang kemudian membentuk sikap seseorang, yang selanjutnya menghasilkan kaedah hukum, misalnya "
Perjanjian berlaku sebagai undang-undang bagi pembuatnya ".
Asas hukum tersebut merupakan nilai, dan nilai merupakan inti dari kebudayaan yang menjadi tinjauan utama antropologi. Dengan demikian, hasil penelitian antropologi akan sangat bermanfaat antara lain untuk mengetahui latar belakang kaedah-kaedah hukum. Kaidah hukum itu juga mungkin merupakan hasil abstraksi dari pola perikelakuan tertentu, abstraksi mana harus didasarkan pada kriteria :
1) Dilakukan berulang kali,
2) Ditujukan untuk menciptakan kedamaian.
Kriteria kedua itu yang pokok, sebab suatu perikelakuan yang Tanya sekali dilakukan asalkan memenuhi kriterai kedua ini dapat dianggap sebagai kaedah hukum. Disini data antropologis dapat dimanfaatkan, terutama hasil - hasil penelitian tentang pola perikelakuan.
Dengan demikian, dari sudut ilmu hukum, maka antropologi merupakan salah satu cabang ilmu yang dapat membantu pengembangan ilmu hukum. Manfaat itu makin penting bagi pengembangan ilmu hukum dan bagi praktek hukum dengan timbulnya pengkhususan dalam antropologi, khususnya dengan timbulnya antropologi hukum, dan karenanya antropologi hukum merupakan bagian dari ilmu kenyataan atau tatsachenwissenschaft.138
Mengenai antronpologi hukum di Indonesia, tidak bisa
138 Soerjono Soekanto, Op.Cit.. hal 11.14,15
99 dilepaskan dari perkembangan ilmu hukum adat. Prof. van Vollenhoven telah berjasa menciptakan metode untuk mengumpulkan serta menyusun data hukum adat yang menghasilkan 19 wilayah hukum adat. Usaha menghimpun dan mengklasifikasikan bahan-bahan hukum adat diwujudkan dengan menerbitkan "Pandecten van het Adatrecht". Pekerjaan van Vollenhoven diteruskan oleh murid-muridnya antara lain B. ter Haar, Hazairiu, Soepomo.139
5. Manfaat Antropologi Hukum bagi perkembangan Ilmu Huktim Mengenai manfaat antropologi hukum bagi perkembangan ilmu hukum, Prof. Dr. Soerjono Seokanto, S.H., M.A. mengemukakan;
1) Bahan-bahan atau hasil-hasil antropologi hukum dapat memberikan gambaran tentang hukum dalam konteks kebudayaan suatu masyarakat.
2) Dapat ditelusuri sistem nilai-nilai yang menjadi dasar dari sistem hukum tertentu.
3) Dengan menelaah bahan-bahan antropologi hukum dapat diketahui pola-pola proses hukum manakah yang dipergunakan untuk menegakkan sistem nilai- nilai dalam masyarakat.
4) Penelitian antropologi hukum memberikan data tentang penterapan hukum tertulis pada masyarakat majemuk.
5) Memberikan pengetahuan tentang kemungkinan dipergunakannya proses peradilan tidak resmi yang mungkin lebih efektif daripada peradilan yang resmi.
6) Dapat diketahui tentang sebab-sebab/latar belakang mengapa warga masyarakat enggan untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum pada pengadilan (resmi).
7) Dapat diidentifikasikan tentang kebutuhan-kebutuhan hukum warga masyarakat serta latar belakang sosial- budayanya.140
C. Ruang Lingkup Psikologi Hukum