BAB IV BAB IV TUJUAN HUKUM
4. Hubungan Undang-undang dengan Kebiasaan
Kebiasaan sebagai hukum dipermasalahkan oleh beberapa mazhab atau aliran dalam hukum, khususnya yang menyangkut hubungan antara undang-undang dengan kebiasaan Mazhab-mazhab tersebut. Adalah mazhab Absolutistis, mazhab Sejarah dan Mazhab Positivistis.
a. Mazhab Absolutistic
Pada zaman dahulu sering dilakukan pembuatan undang-undang atas perintah raja yang absolut, misalnya atas perintah Kaisar Justinianus dikitabkan Corpus Iurris Civilis. Para hakim tidak diizinkan untuk memberikan
174 Ibid. hal. 96-98
125
penafsiran pasal-pasal Corpus Iuris Civilis, yang memberi penafsirananya adalah pembuat undng-undang sendiri.
Disamping kitab-kitab yang dianggap sempurna itu, muncul pula kebiasaan-kebiasaan yang bersifat hukum yang dipatuhi oleh rakyat. Para ahli hukum yang menganut pendirian absoultistis mengemukakan bahwa pembuat undang-undang hanya dengan diam-diam menerima baik adanya hukum kebiasaan itu dan setiap waktu mereka dapat mengaturnya dalam undang-undang.
Jadi penganut pendirian absolutistis ini mengakui kebiasaan sebagai sumber hukum di bawah undang- undang.175
b. Mazhab Sejarah
Sebagai reaksi terhadap pemujaan Hukum Alam atau Hukum Kodrat dan terhadap mazhab-mazhab yang mendewa-dewakan kodifikasi, timbullah Mazhab Sejarah yang dasarnya diletakkan oleh Gustav Hugo (1764-1844) yang menyandarkannya pada hasil-hasil penyelidikan secara historis dan perbandingan hukum. Gustav Hugo memperoleh bahan-bahan dari montesguieu yang bersifat sejarah dan perbandingan hukum Mazhab ini dipelopori oleh Carl von Savigny (1779- 1861).
Hasil yang dianggap sebagai jasa dari Mazhab Sejarah ini adalah bahwa kepada hukum kebiasaan diberikan suatu tempat tersendiri selaku salah satu sumber hukum positif. Dr.Soedjono Dirdjosisworo,S.H.
mengemukakan pendapatnya bahwa tentulah tidak benar kesadaran hukum menjadi satu-satunya dasar bagi hukum positif seluruhnya, acap kali ditemukan undang-undang yang ditetapkan tanpa langsung berdasarkan hukum itu, malahan undang-undang tersebut adalah perwujudan hukum yang baik dan tepat sekali. Kekeliruan Savigny adalah bahwa ia kurang memperhatikan sifat kemanfaatan yang terkadung di dalam hukum positif; kebutuhan sosial seringkali menghendaki supaya hal-hal yang tertentu diatur secara praktis, sesuai dengan keadaan-keadaan yang sebenarnya. Tidak mungkin undang-undang itu langsung berdasatkan kesadaran hukum masyarakat.176 Selanjutnya bahawa tiap-tiap masayarakat bangsa mempunyai Volksgeist-nya, jiwa bangsanya, jiwa masyarakatnya yang dinyatakan dengan bahasa, adat- istiadat, organisasi sosial masyarakat yang berbeda-beda satu sama lain.
175Ibid., hal. 98-99
176Ibid,. hal. 99-100
126
Mazhab ini berpendirian bahwa hukum harus dipandang sebagai penjelmaan jiwa atau rokhani suatu bangsa yang ada hubungan erat dengan kepribadian bangsa itu. Hukum tumbuh sendiri ditengah-tengah rakyat, sebagai penjelmaan rakyat yang akan lenyap kalau bangsa itu kehilangan kepribadiannya. Dengan demikian, maka hukum Merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah suatu bangsa maka mazhab ini dinamakan Mazhab Sejarah, yang menimbulkan Ilmu Hukum Positif.177.
c. Mazhab Positivistis
Mazhab ini tidak mengakui kebiasaan sebagai hukum, hanyalah apabila kebiasaan itu diakui dan diterapkan dengan kepusan hakim. Ini berarti bahwa kepada kebiasaan sendiri tidak diberikan watak hukum, akan tetapi diberi watak kelaziman saja. Kebiasaan baru memperoleh watak hukum kalau negara, khususnya dengan perantara alat-alatnya mempergunakan kebiasaan. Mazhab ini berpendapat bahwa ia menemukan kebiasaan-kebiasaan di dalam pergaulan masyarakat yang ternyata benar. Akan tetapi kebiasaan itu baru memperoleh watak hukum kalau dipertahankan oleh keputusan hakim. Pendirian mazhab ini agak dekat dengan pendirian Mazhab Absolutistis, di mana keduanya baru mengakui kebiasaan sebagai hukum, apabila oleh alat-alat negara kebiasaan itu dinyatakan sesuai dengan kehendak negara atau sama dengan kehendak negara.
Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H. berpendapat bahwa baik undang-undang mau pun kebiasaan adalah perwujudan hukum, oleh karenanya hakim dapat mempergunakan kebiasaan dengan memberikan keputusan yang mempunyai kekuatan hukum.
isamping mazhab di atas, ada lagi mazhab lain, yaitu antara lain tokohnya adalah George Jellinek (1851-1911) yang berpendirian " positivis- murni ". Mengenai dasar berlakunya hukum-kebiasaan, sangat tenar perkataan Jellinek, yaitu " pada awal permulaan segala hukum di dalam suatu masyarakat adalah berdasarkan pengendalian yang sebenarnya, pengendalian yang selalu diperhatikan membangunkan bayangan bahwa pengendalian itu bersifat norma, oleh sebab itu norma muncul sebagai suatu perintah masyarakat, jadi sebagai norma hukum ". Perkataan lain yang sangat terkenal juga adalah bahwa hukum berdasarkan kepada kekuatan yang menentukan sifat
177 C.S.T.Kansil, Op. Cit., hal. 32
127 norma kepada hal-hal yang sebenarnya dilakukan. Me- ngenai perkataan Jellinek terakhir ini, Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H. sama sekali tidak menyetujuinya, oleh karena kita harus menginsyafi bahwa kenyataan-kenyataan tidaklah pernah bisa menjadi norma, tidak pernah bisa memperoleh kekuatan normatif dari dirinya sendiri. Manusia tetap mempergunakan budinya, tetap mendengar kepada suara bathinnya yang menyatakan kepadanya, apakah perbuatan itu sesuai dengan kesadaran keadilan atau tidak (dengan kata lain: apakah perbuatan bersifat " baik " atau "
buruk.").
Dalam kaitan dengan hal di atas, selanjutnya Dr.
Soedjono Dirdjosisworo, S.H. mengemukakan teori Kamphuisen yang menekankan pengaruh budi manusia terhadap perilaku sebagai penjelmaan hukum. Teori Kamphuisen adalah sbb :
a) Mengingat kepentingan umum, kita harus menaklukkan diri pada kebiasaan-kebiasaan yang terdapat di dalam suasana hukum yang diperhatikan pada umumnya;
b) Oleh sebab kebiasaan itu adalah batu ujian
(toetssteen) untuk
mempertimbangkan apakah sesuatu kaedah bersifat pantas ("redelijk"), jika sebagai makhluk yang berbudi ("met rede begaafd") haruslah menghormati kaidah (kaedah) itu.
Kedudukan kebiasaan lebih rendah dari undang- undang, sebab hukum pada umumnya hanyalah dapat dijalankan oleh alat-alat negara saja. Hakim lebih mem- perhatikan hukum yang dirumuskan dalam undang-undang daripada hukum yang ditetapkan oleh rakyat tanpa mempergunakan alat-alat perundang-undangan negara Pendirian ini diperkuat oleh Montesquieu dengan ajaran
“Trias Politica”nya, yang menyatakan bahwa para hakim hanyalah dapat dipandang sebagai "mulut undang-undang", artinya hakim hanyalah diwajibkan mempergunakan kaidah (kaedah) hukum yang sungguh dirumuskan di dalam undang-undang. Ditegaskan lagi oleh Alir An Legisme yaitu bahwa undang-undang adalah identik dengan hukum, maka hakim hayalah dapat mempergunakan undang-undang saja.
Dalam sejarah kodifikasi di Eropa Barat terbukti bahwa disamping hukum Rumawi yang dikodifikasikan atas Perintah Kaisar Justinianus menjadi Corpus Iuris Civilis, tetap diakui dan digunakan hukum kebiasaan. Kodifikasi di Eropa Barat baru menang pada abad ke-18, yang
128 mengakibatkam hukum kebiasaan umumnya ditindas sehingga memperoleh dudukan kedua.178