• Tidak ada hasil yang ditemukan

Obyek Hukum

Dalam dokumen PROF ABDULLAH Buku Pengantar Ilmu Hukum (Halaman 160-163)

BAB IV BAB IV TUJUAN HUKUM

C. Obyek Hukum

153

Tahun 1951 jo UU No.12 Tahun 1948).

2). Menurut UU Pemilu adalah 17 tahun (Pasal 9 UU No.4 Tahun 1975 Jo UU No.15 Tahun 1969).

3). Menurut HIR dan R. adalah 15 tahun untuk menjadi saksi di pengadilan (Pasal 145 ayat 1 no.3, 145 ayat 4 HIR, 172 ayat (1) jo 173 Rbg, Pasal 1912 PM).

4). Menurut UU Perkawinan;

- Bagi laki-laki 19 tahun, wanita 16 tahun untuk menikah atau kawin (Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974);

- Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin berada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut kekuasaannya (Pasal 47 ayat (1) UU No.1 Tahun 1974);

- Anak tersebut. di atas diwakili oleh orang tuanya mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan (Pasal 47 ayat 2 UU No.1 Tahun 1974).

Orang yang ditaruh di bawah pengampuan dianggap tidak cakap hukum (Pasal 446 dan 452 BW),khususnya yang menderita sakit ingatan. Sedangkan bagi pemabuk dan pemboros yang ditaruh di bawah pengampuan hanya terbatas pada perbuatan dalam bidang hukum harta kekayaan. Kepentingan orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan yang tidak cakap hukum diwakili oleh wakilnya menurut undang-undang atau yang ditunjuk oleh hakim. Kecakapan untuk bertindak ini adalah merupakan persyaratan bagi terjadinya perikatan.

Ini berarti bahwa tindakan hukum mereka itu dapat dibatalkan, misalnya perjanjian jual beli. Perbuatan hukumnya itu tetap sah dan mempunyai akibat hukum, akan tetapi atas tuntutan wakil atau walinya dapat dibatalkan oleh hakim. Dalam hal perbuatan melawan hukum, maka ketidakcakapan seseorang tidaklah mempengaruhi timbul atau tidaknya akibat hukumnya.

154

" benda ". Menurut pasal 499 KHUPer., benda ialah segala barang-barang dan segala hak-hak yang dapat dimiliki oleh orang. Benda itu dalam Pasal 503 KUHPer. Di bedakan dalam : a. Benda yang berwujud, yaitu segala sesuatu yang dapat

diraba oleh pancaindera, seperti rumah, buku, mobil.

b. Benda tak berwujud, yaitu segala macam hak, seperti hak cipta, hak merek perdagangan.

Menurut Pasal 504 KUHPer benda itu dibedakan dalam : a. Benda bergerak (benda tak tetap), yaitu benda-benda yang

dapat dipindahkan, seperti sepeda, hewan, meja.

b. Benda yang tak bergerak (benda tetap), yaitu benda-benda yang tak dapat dipindahkan, seperti tanah, alat-alat percetakan yang ditempatkan dalam gedung percetakan.

Benda bergerak (benda tak tetap) dibedakan : a. Menurut sifatnya dapat bergerak, seperti hewan.

b. Dapat dipindahkan, seperti buku, meja, kursi.

c. Karena penetapan Undang-undang, yaitu hak-hak atas benda-benda tersebut di atas.

Benda tak bergerak (benda tetap) dibedakan :

a. Karena sifatnya, yaitu tanah dan semua yang didirikan atau diranam di atasnya seperti pohon-pohon, gedung dan yang ada di dalam tanah.

b. Karena maksud atau tujuannya, yaitu benda-benda yang oleh pemiliknya dihubungkan dengan benda tersebut. di atas,seperti gambar-gambar atau kaca yang dipasang di dinding rumah,alat-alat percetakan yang ditempa kan dalam gedung percetakan.

c. Karena penetapan undang-undang, yaitu hak-hak atas benda-benda tersebut di atas.

Purnadi Purbacaraka,S.H. dan Prof.Dr.Soerjono Soekanto, S.H.,M.A. mengemukakan bahwa obyek hukum merupakan kepentingan bagi subyek hukum dan kepentingan itu mungkin :202

a. Bersifat material dan berwujud yang dalam bahasa Indonesia disebut benda/barang, tetapi tidak sama dengan pengertian zaak yang luas sekali penggunaannya dan juga bukan goad yang mungkin imaterial seperti tenaga listrik.

202 Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Op. Cit., hal. 51

155

b. Bersifat imaterial seperti misalnya obyek hak cipta yang tidak bisa disamakan dengan hasil ciptaannya, misalnya patung yang sebagai sesutu yang berwujud adalah material, tetapi model patung itu adalah imaterial.

Jadi Hukum Obyektif adalah peraturan hukumnya, sedangkan Hukum Subyektif adalah peraturan hukum yang dihubungkan dengan seseorang tertentu dan dengan demikian menjadi hak diikuti kewajiban. Hukum Subyektif itu timbul manakala Hukum Obyektif beraksi,oleh karena Hukum Obyektif yang bereaksi itu melakukan dua pekerjaan, yaitu memberikan hak pada satu pihak dan pada pihak lain memberikan kewajiban. Biasanya dikatakan bahwa Hukum Subyektif adalah hak yang diberikan Hukum Obyektif. Prof. van Apeldoorn tidak menganggap pandangan itu salah seluruhnya, akan tetapi hal itu bersifat sepihak. Oleh karena ada tiga hal yang tidak diperhitungkan, yaitu:

Dengan tampilnya hak menyebabkan adat-bahasa hanya biasa menyatakan yang aktif sebagai hak, sehingga sulit dirubah. Akan tetapi hak disatu pihak selalu diikuti kewajiban.

Hak dan kewajiban adalah dua sisi dari hal yang sama atau hubungan hukum yang sama yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena Hukum Subyektif adalah hubungan yang diatur Hukum Obyektif, maka yang satu mempunyai hak dan yang lain mempunyai kewajiban.

Hukum-obyektif tidak hanya mengatur, akan tetapi juga memaksa. Dengan demikian dibelakang Hukum Subyektif berdirilah kekuasaan yang memaksa dari Hukum Obyektif.

Disamping hak, Hukum Obyektif memberikan juga alat-alatnya untuk menjalankannya, dihubungkan dengan tuntutan hukum, yaitu hak meminta bantuan Hakim untuk mempertahankan Hukum Subyektif. Yang meminjam uang misalnya, tidak hanya berhak menagih, tetapi juga mempunyai kekuasaan menerimanya kembali dengan pertolongan Hakim, Jurusita dan Polisi.

Hak yang diberikan Hukurat Subyektif dapat berbentuk:

a ) . Hak menuntut agar orang lain bertindak, yaitu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu.

Sebaliknya orang lain berkewajiban untuk bertindak.

b ) . Hak untuk bertindak sendiri, dan sebaliknya

terdapat kewajiban tidak dari seorang tertentu, tetapi dari semua orang untuk tidak melanggar hak itu, misalnya :

156

(1) Hak milik,dalam mana si pemilik berhak menikmati dan menguasai barangnya dalam batas-batas yang ditentukan Hukum Obyektif, dan diletakkan kewajiban atas orang-orang untuk menghormatinya.

(2) Ouderlijke macht (kekuasaan orang tua), yang meletakkan hak untuk melakukan kekuasaan atas anak yang belum dewasa, dan kewajiban baginya melakukannya (memelihara, mendidik, lihat Pasal 298 KUHPER).203

Dalam dokumen PROF ABDULLAH Buku Pengantar Ilmu Hukum (Halaman 160-163)