BAB IV BAB IV TUJUAN HUKUM
B. Subyek Hukum
142
Ilmu hukum sebagai ilmu pengertian187 ialah ilmu tentang pengertian-pengertian pokok dalam hukum seperti masyarakat hukum, subyek hukum, peranan (hak dan kewajiban) dalam hukum, peristiwa hukum, hubungan hukum dan obyek hukum.
143
masyarakat, antara subyek hukum.190 Subyek hukum (subjectum juris) adalah dalam “orang” atau “person” dalam hukum mengandung arti pembawa atau pendukung hak dan kewajiban, yaitu sesuatu yang mempunyai hak dan kewajiban yang disebut subyek hukum. Jadi subyek hukum ialah sesuatu yang dapat mempunyai hak dan kewajiban menurut hukum sesuatu pendukung atau pembawa hak dan kewajiban, jadi mempunyai kewenangan.
Kewenangan adalah kecakapan menjadi pendukung atau pembawa hak dan kewajiban yang diberikan oleh hukum obyektif dan hanya boleh dimiliki oleh mereka, untuk mana ia diberikan oleh hukum. Subyek hukum ada dua macam, yaitu manusia (natuurlijk persoon) dan badan hukum (rechtspersoon).191
a. Manusia sebagai Subyek Hukum
Konsep tentang "orang" dalam hukum memegang kedudukan sentral, sebab semua konsep yang lain seperti hak, kewajiban, pemilikan, hubungan hukum, dsb. Pada akhirnya berpusat pada konsep mengenai orang. Hukum itu berurusan dengan hak dan kewajiban. Keseluruhan bangunan hukum disusun dari hak dan kewajiban tersebut.
Hukum itu harus menentukan “apa" dan "siapa" yang bisa menjalankan dan dikenai oleh hak dan kewajiban.
hukumlah yang menentukan bahwa manusialah yang diakui sebagai pendukung hak dan kewajiban.192
Subyek hukum itu menurut Sifatnya, yaitu;
1) Mandiri, karena mempunyai kemampuan penuh untuk bersikap tindak
2) Terlindung, karena (dianggap) tidak mampu bersikap tindak,
3) Perantara, walaupun berkemampuan penuh-sikap tindaknya dibatasi sebatas kepentingan yang diantarai.
Menurut Hakekatnya, subyek hukum itu dapat dibedakan;
1) Pribadi kodrati (natuurlijk persoon) , yaitu manusia tanpa terkecuali.
2) Pribadi hukum (rechtspersoon) yang mungkin;
- Suatu keutuhan harta kekayaan, misalnya wakaf dan yayasan;
190 Sudikno Mertokusumo, Op.Cit., hal, 67
191 L.J. van Apeldoorn, Op. Cit., hal. 160-161
192 Satjipto Rahardjo, Op. Cit., hal. 107
144
- Suatu bentuk susunan relasi, misalnya koperasi, perseroan terbatas di bidang Hukum Perdata dan Negara serta bagiannya di bidang Hukum Tantra/Negara.
3) Tokoh.
Logemann menganggap ambt/jabatan sebagai "
persoon "/subyek Hukum Negara, akan tetapi sesungguhnya ambtenaar/pejabat lebih tepat, asal pe- ngertian ini dikorelasikan dengan " status ",jadi tidak melihat manusianya.193
Setiap manusia selama hidupnya adalah orang, adalah subyek hukum. Manusia itu sejak lahir mempunyai hak dan kewajiban, dan apabila meninggal dunia, maka hak dan kewajibannya beralih kepada ahli warisnya.
Bahwa setiap manusia adalah orang bisa disimpulkan dari Pasal 3 KUHPer, yaitu bahwa tidak suatu hukumanpun mengakibatkan kematian perdata atau kehilangan segala hak-hak kewargaan ".
Dalam sejarah umat manusia memang pernah ada manusia yang tidak mempunyai hak dan kewajiban, bukan subyek hukum, yaitu budak belian; bahkan dikenal pula adanya kematian perdata (wort civile) sebagai hukuman, misalnya harta warisannya menjadi terbuka untuk dibagi194. Di Indonesia kita bisa melihat Sila kedua Pancasila, yaitu "
Kemanusiaan yang adil dan beradab " adalah merupakan larangan bagi manusia dijadikan obyek hukum, yang dapat diperlakukan sebagai benda.
Menjadi subyek hukum bukan saja orang, tetapi manakala kepentingannya menghendaki, calon anak yang masih dalam kandungan ibunya dapat dianggap sebagai telah dilahirkan. Ini berarti ia dianggap sebagai pendukung atau pembawa hak dan kewajiban (Pasal 2 KUHPer), misalnya untuk menjadi ahli waris. Meskipun manusia menuput hukum adalah pendukung atau pembawa hak dan kewajiban, hukumlah yang menentukan bahwa manusialah yang diakuinya sebagai pendukung atau pembawa hak dan kewajiban, mempunyai kewenangan, tetapi belum tentu manusia itu mempunyai " kecakapan "
untuk menjadi pendukung atau pembawa hak dan kewajiban.
Ada beberapa golongan manusia atau orang yang
193Purriadi Purbacareka dan Soerjono Soekanto, Op. Cit. hal. 51
194 Sudikno Mertckusumo, Op. Cit., hal. 67-68.
145
oleh hukum dinyatakan sebagai " tidak cakap " atau "
kurang cakap " untuk bertindak dalam melakukan perbuatan-perbuatan hukum, ia harus diwakili oleh orang lain. Seorang cakap hukum manakala ia telah dianggap cukup cakap untuk mempertanggung jawabkan sendiri segala tindakannya dalam lalu lintas atau hubungan hukum. Seseorang dianggap tidak cakap hukum adalah;195
1) Orang yang tidak sehat p/kirannya (gila), pemabuk, pemboros. Orang-orang ini ditaruh di bawah pengampuan (curatele).
2) Orang di bawah umur atau belum dewasa, belum mencapai umur 21 tahun dan belum kawin.
b. Badan Hukum
Untuk keperluan hukum, yaitu untuk mengurus kepentingan manusia, sesuatu yang " bukan manusia "
bisa diterima oleh hukum sebagai " orang dalam arti hukum. Oleh karena kepentingan tersebut. hanya ada pada "manusia yang hidup", maka konsep tentang orang dalam hukum diwakili oleh " manusia yang hidup ".Ada pendapat bahwa konsep "orang dalam hukum" tidak membedakan antara "manusia yang hidup" dan "manusia dalam khayal", yaitu sebagai suatu "Konstruksi Hukum".
Manusia yang hidup dan manusia dalam khayal diterima sebagai orang oleh hukum, karena hukumlah yang mengangkatnya. Hukum itu menguasai, melindungi kepentingan manusia yang hidup, manusia yang sudah mati, dan bayi dalam kandungan ibunya. Hukum tidak harus memikirkan manusia sebagai subyek dalam hukum, tetapi juga memikirkan yang "bukan orang", yaitu dengan membuat "konstruksi fiktif" yang diterima dan diperlakukan serta dilindungi seperti manusia. Konstruksi ini disebut
“badan hukum”.196
Jadi badan hukum ialah suatu perkumpulan atau organisasi yang oleh hukum diperlakukan seperti orang, yaitu sebagai pendukung atau pembawa hak dan kewajiban, dapat memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan anggota-anggotanya, dapat menggugat dan digugat di muka pengadilan, dapat melakukan tindakan hukum sebagai manusia. Perbedaan antara manusia dan badan hukum adalah bahwa badan hukum tidak dapat menikah, tidak dapat dihukun penjara, kecuali hukuman
195 C.S.T.Kansil, Op.. Cit., hal. 85
196 Sratjipto itaharajo, Op. Cit., hal.110
146
denda.197 dimaksud dengan purusan hukum.198
1) Tiap-tiap persekutuan manusia, yang bertindak dalam hukum seolah-olah ia suatu "purusa: yang tunggal.
Persekutuan manusia ialah :
a). Perhimpunan, yakni persekutuan-persekutuan, yang hidupnya diperolehnya dari pernyataan diri secara suka rela dari purusan-purusa pribadi, jadi yang didirikan oleh purusa: pribadi dan bersandar pada perjanjian.
b). Persekutuan-persekutuan, yakni tidak didirikan purusan-purusa khusus, melainkan tumbuh cara historis, seperti negara, provinsi, dsb.
c). Persekutuan-persekutuan, yakni didirikan oleh kekuasaan umum,
2) Yayasan (Stichting) adalah harta-benda yang mempu- nyai tujuan yang tertentu, tetapi tiada yang empunya.
Adanya harta-benda demikian adalah suatu kenyataan. Juga suatu kenyataan bahwa dalam pergaulan hukum ia diperlakukan seolah-olah ia suatu perusahaan.
Purusahaan sebagai terjemahan persoon yang diambil dari bahasa Jawa, asalnya bahasa Sansekerta.
Dalam pergaulan hukum menurut E.Utrecht ada bermacam-macam badan hukum, yaitu:
1) Perhimpunan (verenigingen) yang dibentuk dengan sengaja dan dengan sukarela oleh orang yang bermaksud memperkuat kedudukan ekonomis mereka, memelihara kebuduyaan, mengurus soal-soal sosial, dsb.
Badan hukum semacam ini berupa, misalnya, perseroan- bertanggung-terbatas (P.T. "naamloze venootschap" (N.V.) Pasal 36 K.U.H.Dagang), perhimpunan yang didirikan berdasarkan peraturan L.N.B.1939 No.717 (badan hukum Indonesia =
"Inlands rechtspersoon, perhimpunan yang didirikan berdasarkan peraturan L.N.B.1870 No.64 (badan hukum Eropah), perusahaan Negara.
2) Persekutuan orang (gemeenschap van mensen) yang ada karena perkembangan faktor-faktot sosial dan
197 C.S.T.Kansil, Op. Cit., hal. 86.
198 L.J.van Apeldoorn, Op. Cit., hal. 165
147
politik dalam sejarah, misalnya, negara, di negeri kita daerah swapraja, banyak kabupaten (sekarang daerah swatantra tingkat II), banyak desa.
3) organisasi orang yang didirikan berdasarkan undang- undang tetapi bukan perhimpunan yang termasuk dalam sub-1.
4) Yayasan.
Biasanya macam-macam badan hukum tersebut. sub 1,2 dan 3 diberi nama korporasi (Corporatie). Badan hukum pada umumnya dibagi dalam dua jenis golongan;
1). Korporasi; diberi tujuan tertentu dalam pergaulan hukum yayasan itu
2). Yayasan.
Korporasi ialah suatu gabungan orang yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai satu subyek hukum tersendiri (personifikasi). Korporasi adalah badan hukum yang beranggota, tetapi mempunyai hak- kewajiban sendiri. Yayasan ialah tiap kekayaan (vermogen) yang tidak merupakan kekayaan orang atau kekayaan badan hukum bertindak sebagai pendukung hak- kewajiban tersendiri. Perbedaan antara yayasan dan korporasi ialah yayasan itu menjadi badan hukum dengan tiada anggota. Tetapi yayasan mempunyai juga pengurus (bestuur) yang mengurus kekayaan dan menyelenggarakan tujuannya.
Berdasarkan aneka warna hukum, maka badan- badan hukum di Indonesia ada tiga macam, yaitu :
1). Badan hukum menurut hukum Eropah.
2). Badan hukum menurut hukum bukan-Eropah yang tertulis, sekarang badan hukum menurut hukum Indonesia.
3). Badan hukum adat.
Badan hukum Eropah ialah badan hukum yang diatur menurut hukum yang dikonkordansi dengan hukum yang berlaku di Negeri Belanda. Badan hukum Indonesia (In lands rechtspersoon) yaitu badan hukum menurut hukum undang-undang (ordonansi) yang dibuat dengan mengingat Pasal 131 ayat (2) sub b. I.S.199 Badan hukum adat adalah badan hukum menurut hukum bumi-putera umumnya tidak tertulis).
Berdasarkan pembagian hukum dalam hukum publik
199 EXtrecht/ Op, Cit., hal. 238-239
148
dan hukum privat, maka badan hukum itu dapat dibagi dua macam lagi, yaitu :
1) Badan hukum publik.
2) Badan hukum privat.
Menurut Surojo Wignjodipuro, S.H., dalam pergaulan hukum ada dua macam dan hukum, yaitu :200 1). Badan hukum Publik, seperti Negara, Nusantara,disb.
2). Badan hukum Perdata, bentuk serta susunannya diatur oleh hukum privy dan menurut tujuan yang dikejar dapat dibeda-bedakan dalam
a) Perserikatan dengan tujuan tidak materiil (perkumpulan gereja).
b) Perserikatan dengan tujuan memperoleh laba (perseroan-terbatas)
c) Perserikatan dengan tujuan memenuhi kebutuhan materiil para anggotanya (koperasi):
Selanjutnya dikemukakan bahwa disamping pembagian di atas, badan hukum itu dapat pula dibagi dalam dua jenis, yaitu;
1) Korporasi, ialah suatu gabungan orang yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai satu subyek hukum tersendiri (personifikasi).
Badan hukum yang beranggota, tetapi memiliki hak/kewajiban sendiri. Contoh : P.T. Nusantara - Koperasi - dlsb.
2) Yayasan, ialah tiap kekayaan yang tidak merupakan kekayaan orang atau kekayaan badan dan yang diberi tujuan tertentu. Yayasan sebagai pendukung hak kewajiban sendiri.
Contoh : Yayasan Sumber Daya, Wakaf Mandiri.
Di Indonesia pendirian yayasan selama ini hanya didasarkan atas kebiasaan dalam masyarakat dan yurisprudensi keputusan Hogerrechtschof tahun 1984 dan keputusan Mahkamah Agung tanggal 27 Juni 1973, karena belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang yayasan. Yayasan di Indonesia ternyata telah berkembang begitu pesat dengan macam-macam aktivitas, maksud dan tujuan.
Berdasarkan hal tersebut, maka untuk menjamin
200 Surojo-Wignjod.ipuro, Op.Cit., hal. 49.
149
kepastian hukum dan ketertiban hukum agar yayasan bisa berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya atas dasar prinsip keterbukaan dan akuntabilitas kepada masyarakat, maka ditetapkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan yang disahkan tanggal 6 Agustus 2001 L.N. RI Tahun 2001 Nomor 112, LN RI Nomor 1132).
Berdasarkan Pasal 7 Undang-undang ini mulai berlakunya 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal diundangkan.
Dimaksud dengan Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota Pasal 1 ayat (1).
Beberapa hal yang penting yang tercantum dalam Penjelasan Atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001;
1. Undang-undang ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat mengenai Yayasan, menjamin; kepastian dan ketertiban hukum serta mengembalikan fungsi.
Yayasan sebagai pranata hukum dalam rangka mencapai tujuan tertentu di bidang sosial keagamaan, dan kemanusiaan (Penjelasan umum).
2. Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha dengan cara mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha.
3. Yayasan mempunyai organ yang terdiri atas Pembina, Pengurus dan Pengawas.
4. Yayasan tidak boleh membagikan hasil kegiatan usaha kepada Pembina, Pengurus, dan Pengawas.
5. Kekayaan Yayasan baik berupa uang, barang, maupun kekayaan lain yang diperoleh Yayasan berdasarkan undang-undang ini dilarang dialihkan atau dibagikan secara langsung atau tidak langsung kepada Pembina, Pengurus, dan Pengawas, Karyawan atau pihak lain, yang mempunyai kepentingan terhadap Yayasan.
6. Yayasan dapat melakukan penyertaan dalam berbagai bentuk usaha Palirg banyak 25' dari seluruh nilai kekayaan Yayasan.
150
7. Anggota Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan dilarang merangkap sebagai anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris atau Pengawas dari badan usaha yang didirikan yang ada penyertaan Yayasan.
Untuk mencari dasar hukum daripada Badan Hukum, timbul beberapa teori :201
1. Teori Fictie.
Teri Fictie (fiksi) ini dari F.C.von Savigny yang berpendapat bahwa badan hukum itu semata-mata buatan negara saja. Sebetulnya menurut alam hanya manusia saialah sebagai subyek hukum, badan hukum itu hanya suatu fictie saja, yaitu sesuatu yang sesungguhnya tidak ada, tetapi orang menciptakan dalam bayangannya sesuatu pelaku hukum (badan hukum) yang sebagai subyek hukum diperhitungkan sama dengan manusia.
Sebagai pengikut teori fictie ini dapat disebut Mowing juga Langdeyer. Teori harta kekayaan.
Teori ini dari Brinz. Menurut teori ini hanya manusia saja yang dapat menjadi subyek hukum.
Tetapi juga tidak dapat di bantah adanya hak-hak atas sesuatu kekayaan, sedangkan tiada manusiapun yang menjadi pendukung hak-hak itu. Apa yang kita namakan hak-hak sari suatu badan hukum, sebenarnya adalah hak-hak yang tidak ada yang mempunyainya dan sebagai penggantinya adalah suatu harta kekayaan yang terikat oleh suatu tujuan atau kekayaan kepunyaan suatu tujuan. Pengikut teori ini adalah van der Hayden.
2. Teori Organ.
Teori ini dari Otto von Gierke. Badan hukum itu adalah suatu realitas sesungguhnya sama seperti sifat kepribidian 'alam manusia ada di delam pergaulan hukum. Di sini tidak hanya suatu pribadi yang sesungguhnya, tetapi badan hukum itu juga mempunyai kehendak atau kemauan sendiri yang dibentuk melalui alat-alat perlengkapannya (pengurus, anggota-anggotanya). Dan apa yang mereka putuskan adalah kehendak atau kemauan dari badan hukum.
Teori ini menggambarkan badan hukum sebagai
201Ali Pido, Badan Hukum dan Kedudukan Badan Nukum Perseroan, Perkumpulan, Koperasi Yavasanalakaf, (Bandung: Alumni, 1977), hal. 18
151
suatu. yang tidak berbeda dengan manusia. Pengikut teori organ antara lain Mr.L.C. Polano.
3. Teori Propriete Collective.
Teori propriete collective (Surojo Wignjodipuro menyebutnya teori Milik Kolektif) dari Planiol dan Molengraff. Menurut teori ini hak dan kewajiban badan hukum itu pada hakekatnya adalah hak dan kewajiban anggota bersama-sama.
Di samping hak milik pribadi, hak milik serta kekayaan itu merupakan harta kekayaan bersama.
Anggota-anggota tidak hanya dapat memiliki masing- masing untuk bagian yang tidak dapat dibagi, tetapi juga sebagai pemilik bersama-sama untuk keseluruhan, sehingga mereka secara pribadi tidak, bersama-sama semuanya menjadi pemilik. Kita katakan bahwa orang-orang yang berhimpun itu semuanya merupakan suatu kesatuan dan membentuk suatu pribadi, yang dinamakan badan hukum. Maka dari badan hukum adalah suatu konstruksi yuridis saja. Pengikutnya antara lain Star Busmann, Kranenburg.
Teori Propriete collective berlaku untuk korporasi, badan hukum yang mempunyai anggota, tetapi untuk Yayasan teori ini banyak artinya.
Sebaliknya teori harta kekayaan bertujuan (doe lvermogens-theorie) hanya tepat untuk badan hukum Yayasan yang tidak mempunyai anggota. Teori fictie yang memperumpamakan badan hukum seolah-olah sebagai manusia itu berarti bahwa badan hukum itu sebenarnya tidak ada, sedang sebaliknya teori organ memandang badan hukum itu suatu realitas yang sebenarnya sama dengan manusia.
Dari teori badan hukum tersebut. di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa syarat-syarat peraturan hukum yang melekat pada seorang manusia dianggap di penuhi oleh badan hukum, dengan pengertian bahwa badan hukum dapat bergerak dalam kancah pergaulan hidup dalam masyarakat dengan bermacam-macam berhubungan hukum yang ada di dalamnya. Bilakah suatu perkumpulan atau yayasan di katakan sebagai badan hukum. Untuk itu ada kriterianya, dan dalam ilmu pengetahuan hukum ada kata sepakat bahwa kriterianya terletak pada dua hal;
1). Adanya kekayaan yang terpisah dari kekayaan
152
orang perorangan yang melakukan tindakan hukum.
2). Adanya kepentingan yang bukan kepentingan orang perseorangan, tetapi untuk kumpulan orang-orang itu.
Namun demikian pada akhirnya hakimlah yang akan menentukan sejauh mana kriteria-kriteria tersebut.
harus diterapkan dalam perkara tertentu dengan memperhatikan kebutuhan yang timbul dalam masyarakat.
c. Kewenangan hukum dan kecakapan bertindak
Subyek hukum adalah segala sesuatu yang dapat memperoleh, mempunyal, menyandang atau menjadi pendukung, pembawa hak dan kewajiban. Kewenangan untuk memperoleh atau menjadi pendukung hak dan kewajiban tersebut. di atas disebut "kewenangan hukum”.
Akan tetapi ada beberapa hak tertentu yang timbul dari hukum tentang orang dan hukum keluarga yang melekat pada manusia hanya dapat dimiliki oleh subyek hukum orang saja dan tidak dapat dimiliki oleh badan hukum. Ke- pada setiap orang juga tidak diberikan kewenangan hukum secara penuh, dan ini merupakan pengecualian, misalnya hak memilih dalam Pemilihan Umum (Pasal 9 UU No.
A/1975 jo UU N0.15/1575) untuk - kawin (Pasal 7 UU No.1 Tahun 1974), untuk bekerja (Pasal 1 UU No.1 Tahun 1951 jo UU No.12 Tahun 1948).
Oleh undang-undang ditentukan persyaratan tertentu, atara lain batas umur tetapi pada umumnya setiap orang mempunyai kewenangan hukum. Namun demikian, tidak selalu berarti bahwa setiap orang mampu atau cakap untuk melaksanakan sendiri hak dan kewajibannya. Ada beberapa golongan orang yang diaggap tidak cakap atau tidak cakap melaksanakan beberapa hak dan kewajiban.
Golongan ini di dalam tiga golongan, yaitu : 1). Orang yang belum cukup umur.
2). Orang yang diletakkan atau ditaruh di bawah pengampuan atau pengawasan.
3). Isteri yang tunduk pada BW.
Jika dalam Undang-undang dipergunakan istilah "
belum cukup umur ", maka dimaksudkan adalah semua orang yang belum mencapai umur 21 tahun dan berkawin (S.1931 No.54 jo Pasal 330 BW). Mengenai batas umur kedewasaan itu beragam-ragam, yaitu :
1). Menurut UU Kerja adalah 18 tahun (Pasal 1 UU No.1
153
Tahun 1951 jo UU No.12 Tahun 1948).
2). Menurut UU Pemilu adalah 17 tahun (Pasal 9 UU No.4 Tahun 1975 Jo UU No.15 Tahun 1969).
3). Menurut HIR dan R. adalah 15 tahun untuk menjadi saksi di pengadilan (Pasal 145 ayat 1 no.3, 145 ayat 4 HIR, 172 ayat (1) jo 173 Rbg, Pasal 1912 PM).
4). Menurut UU Perkawinan;
- Bagi laki-laki 19 tahun, wanita 16 tahun untuk menikah atau kawin (Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974);
- Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin berada di bawah kekuasaan orang tuanya selama mereka tidak dicabut kekuasaannya (Pasal 47 ayat (1) UU No.1 Tahun 1974);
- Anak tersebut. di atas diwakili oleh orang tuanya mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan (Pasal 47 ayat 2 UU No.1 Tahun 1974).
Orang yang ditaruh di bawah pengampuan dianggap tidak cakap hukum (Pasal 446 dan 452 BW),khususnya yang menderita sakit ingatan. Sedangkan bagi pemabuk dan pemboros yang ditaruh di bawah pengampuan hanya terbatas pada perbuatan dalam bidang hukum harta kekayaan. Kepentingan orang-orang yang ditaruh di bawah pengampuan yang tidak cakap hukum diwakili oleh wakilnya menurut undang-undang atau yang ditunjuk oleh hakim. Kecakapan untuk bertindak ini adalah merupakan persyaratan bagi terjadinya perikatan.
Ini berarti bahwa tindakan hukum mereka itu dapat dibatalkan, misalnya perjanjian jual beli. Perbuatan hukumnya itu tetap sah dan mempunyai akibat hukum, akan tetapi atas tuntutan wakil atau walinya dapat dibatalkan oleh hakim. Dalam hal perbuatan melawan hukum, maka ketidakcakapan seseorang tidaklah mempengaruhi timbul atau tidaknya akibat hukumnya.