• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosiologi Hukum

Dalam dokumen PROF ABDULLAH Buku Pengantar Ilmu Hukum (Halaman 93-101)

BAB IV BAB IV TUJUAN HUKUM

A. Sosiologi Hukum

86

Ilmu kenyataan atau tasachenwissenschaft atau seinwissenschaft yang menyoroti hukum sebagai perikelakuan atau sikap tindak, yang antara lain mencakup sosiologi hukum, antropologi hukum, psikologi hukum, perbandingan hukum dan sejarah hukum.

87

pengetahuan yang secara empiris dan analitis mempelajari hubungan timbal-balik antara hukum sebagai gejala sosial dengan gejala-gejala sosial lainnya.127 Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. mengemukakan bahwa sosiologi hukum adalah ilmu yang mempelajari fenomen hukum dari sisinya yang demikian itu128. Dengan memperhatikan proses terjadinya pola perilaku (hukum) dan proses terjadinya kaidah atau norma (hukum), maka dapat dikatakan bahwa sosiologi hukum itu bisa merupakan cabang sosiologi maupun ilmu-ilmu hukum sekaligus. Hal ini akan tampak dengan menelaah sudut atau titik tolak di dalam mempelajari gejala-gajala atau peristiwa-peristiwa sosial yang diidentifikasikan sebagai hukum. Akan menjadi lebih jelas lagi hal tersebut kalau diperhatikan lagi mengenai disiplin hukum.

Beberapa karakteristik daripada sosiologi hukum antara lain;

1). Sosiologi hukum bertujuan untuk memberikan penjelasan terhadap praktek-praktek hukum, misalnya pembuan atau undang-undang, penerapan/prakteknya di pengadilan. Sosiologi hukum berusaha untuk menjelaskan mengapa praktek demikian itu terjadi, sebab-sebabnya, faktor-faktor yang berpengaruh, latar belakangnya, dsb. Tujuan untuk memberikan penjelasan itu oleh Max Weber dinamakan sebagai suatu "interpretative understanding", yaitu dengan cara menjelaskan sebab, perkembangan serta efek dari tingkah laku sosial, cara ini tidak dikenal dalam studi hukum tradisional, yaitu yang bersifat preskriptif, yang hanya berkisar pada "apa hukumnya ", dan "

bagaimana menerapkannya ". Sosiologi hukum tidak hanya menerima tingkah laku yang tampak dari luar saja, melainkan ingin juga memperoleh penjelasan yang bersifat internal, yaitu motif-motif tingkah laku seseorang dan membedakan antara tindak laku yang sesuai atau yang menyimpang dengan hukum dan keduanya menjadi obyek pengamatan dan penyelidikan sosiologi hukum.

2). Sosiologi hukum senantiasa menguji keshahihan (kebenaran) empiris (empiri cal validity) dari suatu peraturan atau pernyataan hukum. Peraturan yang bersifat khas sebagaimana dalam kenyataannya peraturan itu, dan memang seperti tertera redaksi

127 Soerjono Seekanto; Ibid., hal.11

128 Satjipto Rahardjo, Op.Ct., hal. 310

88 peraturan.

3) Sosiologi hukum tidak melakukan penilaian terhadap hukum. Perhatian sosiologi hukum yang utama hanyalah pada memberikan penjelasan terhadap obyek yang dipelajarinya, mendekati hukum dari segi obyektivitas semata dan bertujuan memberikan penjelasan terhadap fenomen hukum yang nyata.

Obyek yang menjadi sasaran studi sosiologi hukum adalah mempelajari pengorganisasian sosial hukum, obyeknya adalah badan-badan yang terlibat dalam kegiatan penyelenggaraan hukum, seperti pembuatan undang- undang, pengadilan, polisi, advokat, dsb.

Dalam mempelajari pembuatan undang-undang perhatian bisa tertarik pada komposisi badan perundang- undangan, seperti usia para anggotanya, pendidikannya, latar belakang sosialnya. Faktor-faktor tersebut memperoleh perhatian, sebab pembuat undang-undang itu dilihat sebagai manifestasi dari kelakuan manusia. Perta- nyaan-pertanyaan yang karakteristik seperti :

1). Seberapa besarkah efektivitas dari peraturan- peraturan hukum tertentu?

2). Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi efektivitas peraturan-peraturan hukum itu?

3). Apakah sebabnya orang taat kepada hukum?

4). Golongan manakah yang diuntungkan dan yang dirugikan dengan dikeluarkannya undang-undang tertentu?

5). Apakah benar bahwa Undang-undang Perburuhan melindungi buruh?. Seberapa besar perlindungannya, dan dalam hal apa?

Pengadilan dipelajari oleh sosiologi hukum sebagai suatu institusi yang menghimpun beberapa macam pekerjaan, menghimpun hakim-hakim yang mempunyai ke- cenderungan ideologi yang bermacam-macam. Juga dipelajari dampak keputusan pengadilan terhadap masyarakat. Sosiologi hukum yang memverifikasikan pengadilan dan hakim ke dalam tingkah laku manusia, senantiasa berusaha untuk menemukan masalah-masalph dibelakang suatu keputusan, khususnya alasan yang bersifat kelakuan. Juga dilihat kaitan pendidikan, pergaulan, asal-usul sosial para hakim dalam jabatan hakim.

Polisi adalah obyek sosiologi hukum yang amat

89 menarik, sebab bidang tugasnya memberikan kesempatan yang sangat luas bagi metode pendekatan interpretative untuk diterapkan. Di satu pihak, polisi dituntut untuk manjalankan hukum, dipihak lain polisi adalah jabatan yang harus menjaga ketertiban. Hukum dan ketertiban tidak selalu sejalan, hukum mendasarkan legitimasinya pada peraturan sedangkan ketertiban pada pertimbangan sosiologis.

Dilihat dari sudut sosiologi hukum, polisi adalah sekaligus hakim, jaksa, dan bahkan bisa menjadi pembuat undang-undang, hal ini tentu saja hanya dalam garis-garis besarnya. Karena pekerjaan polisi itu banyak berhadapan dengan resiko bahaya, bahkan bisa mengancam nyawanya, maka ia membentuk suatu solidaritas kelompok yang kuat untuk menghadapi bahaya itu.

Advokat atau pengacara itu sebagian merupakan seorang pejuang, sedangkan bagian yang lain ia merupakan seorang pengusaha yang menjalankan kepengacaraannya secara komersial, termasuk kebutuhan memelihara kelangsungan prakteknya. Sebagai pejuang, advokat itu berpegang kepada idealisme dan berusaha membela moral dan, keadilan untuk nasabahnya, sedangkan sebagai penguasaha mengharapkan bisa mempertahankan pekerjaannya dalam waktu yang lama, maka adcokat harus berusaha memelihara semacam hubungan baik dengan tim pengadilan.

Prespektif organisasi dari sosiologi hukum juga menyingkapkan tentang janji-janji kepada orang-orang tertentu, yang bisa dinikmati oleh kelompok-kelompok dalam masyarakat yang mampu mengorganisasikan dirinya dengan baik. Dengan demikian antara hukum dan pengorganisasian sosial terdapat suatu hubungan tertentu.

Seperti dikemukakan oleh Schuyt, kemampuan untuk mengorganisasikan diri demikian itu ternyata tergantung pula dari beberapa faktor lain, seperti " prestasi sosial dari suatu kelompok sosial tertentu.129

3. Sejarah Pembentukan Sosiologi Hukum

Istilah sosiologi hukum ditinjau dari sudut sejarahnya, untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Anzilotti (Italia) pada tahun 1882. Dilihat dari sudut perkembangan terbentuknya sosiologi hukum, maka sosiologi hukum itu

129 Satjipto Rahardjo,Op.Cit., hal.310-313.

90

lahir dari hasil penelitian para ahli pikir baik dari bidang filsafat hukum, ilmu hukum maupun sosiologi. Hasil penelitian tersebut, mewakili kelompok-kelompok di siplin filsafat, ilmu hukum maupun disiplin nomotetis, karenanya sosiologi hukum merupakan refleksi dari inti pemikiran disiplin tsb.

Ada beberapa faktor penting yang merupakan masukan dari aliran-aliran yang mempengaruhi terbentuknya sosiologi hukum adalah antara lain:

ALIRAN / MAZHAB FAKTOR YANG RELEVAN

• Aliran hukum Alam : (Ariestoteles, Aquinair, Grotius).

1. Hukum dan moral

2. Kepastian hukum dan keadilan yang dianggap sebagai tujuan dan syarat utama dari hukum.

* Mazhab Formalisme 1. Logika hokum

2. Fungsi keajegan dari penegak/ petugas /pejabat hukum.

• Mashab Kebudayaan dan Sejarah: (von Avigny, Maine)

1. Kerangka kebudayaan dari hukum; hubungan antara hukum dengan sistem nilai-nilai.

2. Hukum dan perubahan-perubahan sosial

Aliran Utilitarianism dan Sociological Jurisprudence:

(Bentham, Jhering, Ehrlich dan Pound).

1. Konsekuensi-konsekuensi sosial dari hukum.

2. Penggunaan yang tidak wajar dari pembentukan undang-undang.

3. Klasifikasi tujuan dan kepentingan warga dan masyarakat, serta tujuan-tujuan sosial.

Aliran Sociological Jurisprodence dan Legal Realism : (Ehrlich,Pound,Holme s,Llewellyn, Fraadk).

1. Hukum sebagai mekanisme pengendalian sosial.

2. Faktor politik dan kepentingan dalam hukum.

3. St.Latifihai qosial dan hukum.

4. Hubungan antara hukum tertulis/ resmi dengan kenyataan hukum/ hukum yang hidup.

5. Hukum dan kebijaksanaan umum.

6. Segi perikemanusiaan dari hukum.

Studi tentang keputusan pengadilan dan pola perikelakuan (hakim).

Ruang lingkup sosiologi hukum adalah sbb :

1). Dasar sosial dari hukum, atas dasar anggapan bahwa hukum timbul serta tumbuh dari proses-proses sosial lainnya.

2). Efek hukum terhadap gejala-gejala sosial lainnya

91

dalam mesyarakat,130

4. Sejarah Perkembangan Sosiologi Hukum

Para ahli filsafat hukum adalah merupakan perintis jalan terbentuk dan berkembangnya sosiologi hukum. Ahli filsafat hukum tersebut. adalah dari aliran "Sociological jurisprudence " di Amerika awal abad ke-20 : Roscoe Pound, Cordozo, Holmes; Eugen Erlich dari Jerman awal abad ke-20; dari aliran "Realisme Hukum" yang berkembang sesudah Perang: Dunia-II: Lunstedt, Hagerstrom;

Petrazycki dari Rusia (murid-muridnya antara lain Timaskfir, Gurvitch, Sorikin). Pengaruh filsafat hukum terlihat pada kegiatan untuk menetralisasikan atau merelatifkan dogmatik hukum, sebab tekanan lebih banyak pada beraksinya atau berprosesnya hukum.

Roscoe Pound misalnya berpendapat bahwa hukum adalah suatu proses yang mendapatkan bentuk dalam pembentukan peraturan perundang-undangan dan keputusan hakim/pengadilan.

Hans Kelsen mengakui pengaruh faktor-faktor politisi, sosiologis, filosofis, dan ia ingin menghilangkan atau membersihkan hukum dari pengaruh faktor-faktor tersebut.

Ia hanya mau melihat hukum sebagai kaedah. Durkheim mengklasifikasikan kaedah-kedah hukum ke dalam dua macam kaidah, yaitu;

1) Kaidah Hukum Represif, yaitu kaidah hukum yang sanksinya menimbulkan penderitaan bagi si pelanggar yang bisa kehilangan kemerdekaannya. Kaidah hukum ini merupakan hukum pidana.

2) Kaidah Hukum Restitutif, yaitu kaidah hukum yang tujuan utama sanksinya untuk pemulihan keadaan seperti sebelum terjadinya pelanggaran. Kaedah hukum ini mencakup antara lain hukum perdata, hukum dagang, hukum administrasi, dan lain-lain selain hukum pidana.131

5. Paradigma Sosilogi Hukum

Masalah apakah yang dimaksudkan dengan "hukum"

dan apa arti" gejala sosial lainnya" telah dikemukakan dalam bab sebelumnya bahwa Hukum yang diberi arti oleh masyasarakt adalah : hukum sebagai ilmu pengetahuan,

130Soerjono Soekanto,Op.Cit., hal.13-15- .

131Soerjono Soekanto Ibid. , hal. 17-18

92 hukum sebagai dispilin hukum, hukum sebagai kaedah, hukum sebagai tata hukum, hukuk sebagai petugas, hukum sebagai keputusan penguasa, hukum sebagai proses pemerintahan, hukum sebagai sikap tindak, hukum sebagai jalinan nilai, hukum sebagai lembaga, sosial (yaitu merupakan himpunan dari kaedah-kaedah dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat), hukum sebagai sistem pengendalian sosial (yaitu mencakup segala peroses baik yang direncanakan maupun tidak, yang bertujuan untuk mendidik, mengajar, bahkan memaksa warga-warga masyarakat agar mematuhi kaedah-kaedah dan nilai-nilai), dan hukum sebagai seni.

Adapun yang menjadi ruang lingkup daripada gejala- gejala sosial adalah meliputi :

1). Struktur sosial yang merupakan keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu :

a) Kelompok sosial.

b) Kebudayaan.

c) Lembaga-lembaga sosial.

d) Stratifikasi.

e) Kekuasaan dan wewenang.

2). Proses sosial, yaitu pengaruh timbal-balik antara perbagai bidang ke hidupan, yang mencakup :

a) Interaksi sosial.

b) Perubahan-perubahan sosial.

c) Masalah-masalah sosial.

Dr. Soerjono Soekanto, S.H., M.A. mengemukakan bahwa berdasarkan pengertian hukum dan ruang lingkup gejala-gejala sosial tersebut di atas, dapat disusun suatu paradigma sosiologi hukum yang ruang lingkupnya adalah pengaruh timbal balik antara hukum dengan gejala-gejala sosial lainnya yaiu;132

d. Sosiologi hukum di Indonesia

Pendapat para sarjana hukum Indonesi, misalnya

132 Soerjono Soekanto Ibid. , hal. 34,15

Gejala sosial lain Hukum Gejala sosial lain

93

Prof. Dr. Soepomo, S.H., yang perhatiannya tertuju kepada Hukum Adat pernah menyinggung masalah-masaah menurut pendekatan sosiologi hukum, yang dianggap sebagai pembuka jalan lahirnya aosiologi hukum di Indonesia.

Kalangan sarjana hukum adat Belanda. seperti van Vollenhoven dan Ter Haar secara langsung atau tidak langsung mengakui hal tersebut. Teori Ter Haar yang terkenal dengan nama "beslissin genleer " bertitik tolak pada anggapan bahwa timbulnya dan terpeliharanya hukum adat terjadi karena;

a. Keputusan para pejabat hukum, dan b. Keputusan warga-warga masyarakat.

Pendapat-pendapat Prof. Dr. Soepomo, S.H. banyak berisi konsep-konsep yang dasarnya sosiologi hukum yang terdapat dalam buku-bukunya antara lain;

1) Hukum Perdaca Adat Barat yang merupakan identifikasi terhadap bidang-bidang hukum adat, seperti hukum keluarga, hukum perkawinan, hukum waris, hukum tanah, hukum utang-piutang, hukum, pelanggaran. Indentifikasi atas dasar penelitian empiris yang ditekankan pada metode studi kasus, metode analisa yang dipergunakan adalah metode induktif untuk selanjutnya merumuskannya dalam bentuk kaidah hukum.

2) Hukum Adat, di mana aspek-aspek-hukum ditemukan dalam uraiannya tentang sistem hukum adat, peradilan hukum adat, tata susunan masyarakat Indonesia.

Menyangkut konsepsi-konsepsi atau teori-teori hukum adat dapat di kemukakan hal-hal, yaitu;

1) Pengembangan ilmu hukum adat dan penelitian hukum adat membuka jalan bagi lahiraya teori-teori hukum yang bersifat sosiologis.

2) Studi hukum adat merupakan suatu jembatan yang menghubungkan pendekatan yuridis murni dengan pendekatan sosiologis murni.133

Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa dengan mendalami sosiologi hukum akan diperoleh beberapa manfaat yang diberikan oleh sosiologi hukum dalam bidang

133 Ibid., hal. 11.40

94

hukum yakni;134

1) Kemampuan untuk memahami hukum dalam konteks sosial.

2) Kemampuan untuk menganalisa dan konstruksi terhadap efektivitas hukum dalam masyarak, baik sebagai sarana pengendalian sosial maupun sebagai sarana untuk merubah masyarakat.

3) Kemampuan mengadakan evaluasi terhadap efektivitas di dalam masyarakat.

Apabila seorang ahli atau sarjana hukum mempunyai kemampuan-kemampuan tersebut, maka hal itu akan sangat berguna untuk :

1) Mengadakan konkretisasi terhadap kaedah-kaedah hukum tertulis refereneial.

2) Mengadakan konkretikasi terhadap pengertian- pengertian hukum yang tidak jelas atau kurang pasti.

3) Membentuk atau merumuskan kaedah hukum yang mempunyai dasar

4) Melakukan interpretasi teleologis yang tepat terhadap kaedah hukum tertulis.

Dalam dokumen PROF ABDULLAH Buku Pengantar Ilmu Hukum (Halaman 93-101)