• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Hukum (Khusus PIH) Para Pakar lain;

Dalam dokumen PROF ABDULLAH Buku Pengantar Ilmu Hukum (Halaman 117-123)

BAB IV BAB IV TUJUAN HUKUM

B. Sumber Hukum (Khusus PIH) Para Pakar lain;

110

BAB VIII

SUMBER HUKUM DALAM PENGANTAR ILMU HUKUM

111 1) Asas Hukum, yakni sebagai permulaan hukum,

misalnya; kehendak Tuhan, akal manusia, jiwa, bangsa dan sebagainya.

2) Penunjukan Hukum, yang sebelumnya yang memberi bahan-bahan kepada hukum yang sekarang berlaku, misalnya; Hukum Perancis, Hukum Romawi.

3) Sebagai Sumber Berlakunya, yang memberi kekuatan, berlaku secara formal terhadap peraturan hukum (penguasa, masyarakat)

4) Sumber hukum darimana mengenal hukum, misal;

dokumen, peraturan perundang-undangan, lontar, batu- bertulis dan sebagainya.

5) Sumber lain terjadinya hukum, misal; sumber yang menimbulkan hukum.

2. Algra membagi Sumber Hukum, yakni; 155 a. Sumber Hukum Materiil

Yakni lokasi-wilayah (empat) darimana materi hukum itu diperoleh-diambil.

Sumber ini sebagai faktor yang membantu pembentukan hukum, misal; hubungan sosial, hubungan kekuasaan- kekuatan politik, sosial ekonomi, tradisi (kebiasaan, ajaran- pandangan agama, kesusilaan), hasil penelitian ilmiah (kriminologi, lingkungan hukum, lalu lintas dan sebagainya), perkembangan internasional, keadaan- kondisi geografis, dan kondisi social lainnya.

b. Sumber Hukum Formil

Yakni sumber hukum yang menjadi peraturan memperoleh kekuatan hukum yang berlaku secara resmi kelembagaan dalam bentuk dan cara menyebabkan peraturan hukum itu formal berlaku,

2. Van Apeldoorn membagi Sumber Hukum tardiri; 156 a. Sumber Hukum dalam arti Historis,

Ialah sumber lokasi-wilayah-tempat menemukan hukumnya dalam sejarah atau segi histories.

Sumber histories pertama; diperoleh-diketemukan berupa dokumen kuno, lontar. Juga Sumber histories kedua;

merupakan-lokasi-wilayah pembentukan ketentuan perundang-undangan yang diambil bahannya.

155Abdullah Sulaiman, Pengantar Ilmu Hukum (PIH) Ibid.

156Abdullah Sulaiman, Pengantar Ilmu Hukum (PIH), Ibid.

112

b. Sumber Hukum dalam arti Sosiologis (teleologis) Merupakan faktor menentukan Isi hukum positif, seperti;

kondisi-keadaan keagamaan, pandangan agama dan sebagainya.

c. Sumber Hukum dalam arti Filosofis, dibagi;

1). Sumber Isi Hukum, yang ditegaskan-dinyatakan isi hukum didasarkan asal-muasalnya, yakni;

- Pikiran Theocratis, yang menggunakan dari isi hukum berasal dari Tuhan.

- Pikiran Hukum Kodrat, memakaian isi hukum berasal dari manusia.

- Pikiran Mazhab Historis, yang didasarkan isi hukum berasal dari kesadaran hukum.

2). Sumber Kekuatan Mengikat dari Hukum, terhadap mengikatnya hukum, perlu tunduk pada hukum.

Terhadap kekuatan mengikat yang bersifat memaksa, alasan kesusilaan, faktor kepercayaan.

d. Sumber Hukum dalam arti Formil

Ialah sumber hukum didasarkan cara terjadinya hukum positif yang merupakan fakta yang menimbulkan hukum berlaku yang mengikat hakim dan rakyat-masyarakat.

Sumber hukum formil ini yang berasal Isinya yang timbul dari kesadaran rakyat, agar dapat terwujud peraturan mengatur tingkah laku mutlak dituangkan dalam pola undang-undang, kebiasaan, traktat atau perjanjian antar Negara.

Tambahan van Apeldorn menyatakan bahwa; perjanjian, yurisprudensi, ajaran hukum atau doktrin sebagai faktor yang membantu pembentukan hukum.

Lemaire menyatakan bahwa yurisprudensi kesadaran hukum dan ilmu hukum sebagai determinan (utama) bagi pmbentukan hukum.

3. Prof. Dr. Achmad Sanusi, S.H. menurut sumber hukum; 157 a. Sumber Hukum Normal yang langsung diatur undang-

undang, seperti; undang-undang, perjanjian antar Negara, kebiasaan.

b. Sumber Hukum Normal yang tidak langsung atas pengakuan undang-undang, seperti; perjanjian, doktrin, yurisprudensi.

157Abdullah Sulaiman, Pengantar Ilmu Hukum (PIH), Ibid.

113 c. Sumber Hukum Ab-Normal, yakni; proklamasi,

revolusi, coup d’etat.

4. TAP MPRS No. XX/MPRS/1966, memberikan Sumber Tertib Hukum dengan klasifikasi, antara lain; 158

- Pancasila

- Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 - Dektrit Presiden 5 Juli 1959

- Undang-Undang Dasar - Surat Perintah 11 Maret 1966

5. Sumber Hukum Filosofis Idiologis dan Sumber Hukum Yuridis; 159

a. Sumbe Hukum Filosofis Idiologis

Ialah sumber hukum dari kepentingan individu, Nasional, Internasional, didasarkan falsafah dan idiologi yang dianut suatu Negara, misal;

1) Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Belgia dengan sumber hukumnya leberlisme dan individu, sebagai blok Barat.

2) Negara penganut Komunis, misal; Rusia, RRT dsb.

3) Negara RI menganut sumber hukum idiologisnya adalah Pancasila.

c. Sumber Hukum segi Yuridis;

Yakni penerapan hukum dan penjabaran langsung dari sumber hukum segi filosofis idiologis yang pembedaan sumber hukum formal dan sumber hukum materiil.

1) Sumber hukum segi materiil, dimana sumber hukumnya didasarkan dari segi Isinya, yaitu;

- KUH Pidana segi materiilnya adalah mengatur tentang pidana umum, kejahatan dan pelanggaran.

- KUH Perdata segi materiilnya adalah mengatur mengenai orang dimana sumber hukumnya, barang sebagai obyek hukum, perikatan, pembuktian dan kadaluarsa.

2) Sumber hukum segi formil, dimana sumber hukum berpedoman segi yuridis dalam arti formil yakni;

sumber hukum dari segi bentuknya biasanya terdiri;

- Undang-undang - Kebiasaan

158Abdullah Sulaiman, Pengantar Ilmu Hukum (PIH), Ibid.

159Abdullah Sulaiman, Pengantar Ilmu Hukum (PIH), Ibid.

114 - Traktat

- Yurisprudensi - Doktrin C. Sumber Hukum Lain, dari; 160

1. Undang-Undang Dasar atau Konstitusi tertulis

“Negara Indonesia adalah negara hukum” (Pasal 1 ayat (3)) UUD 1945.

2. Undang-Undang

Undang-undang Arti Materiil yang dinamakan undang- undang merupakan keputusan penguasa, yang dilihat dari isinya dinamakan undang-undang dan mengikat setiap orang secara umum.

Undang-undang Arti Formil adalah keputusan penguasa yang didasarkan dari bentuk dan cara terjadinya dikatakan undang-undang. Sehingga undang-undang arti formil adalah ketetapan penguasa atau “undang-undang”

karena cara pembentukannya.

Suatu undang-undang dimuat dalam Lembaran Negara, maka peraturan perundangan-undangan itu mempunyai kekuatan mengikat (Pasal 1 AB); “Mengikat setiap orang untuk mengakui eksistensinya”.

Agar dapat diketahui setiap orang, maka undang- undang harus diundangkan atau diumumkan dengan memuatnya dalam Lembaran Negara (LN). Di zaman Hindia Belanda terhadap LN dikenal juga dengan nama Staatsblad (S).

Di Indonesia yang disebut undang-undang adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dengan persetujuan DPR (Pasal 5 ayat (1)) UUD.

2. Kebiasaan

Kebiasaan atau tradisi adlah sumber hukum yang tertua, sumber darimana dikenal atau dapat digali sebagian dari hukum di luar undang-undang, lokasi-tempat menemukan atau menggali hukumnya.

Kebiasaan merupakan tindakan menurut pola tingkah laku yang tetap, lazim, normal atau adat dalam masyarakat atau pergaulan hidup tertentu.

Dari Pergaulan hidup dapat merupakan lingkungan yang sempit seperti desa, juga dapat pada masyarakat

160Abdullah Sulaiman, Pengantar Ilmu Hukum (PIH), Ibid.

115 negara berdaulat.

3. Traktat atau Perjanjian Internasional

Traktat atau Perjanjian Internasional merupakan sumber hukum dalam arti formal yang mutlak memenuhi syarat tertentu untuk dapat dinamakan perjanjian internasional yang mengikat internasional atau perjanjian internasional antar negara memuat peraturan hukum yang mengikat secara umum.

4. Yurisprudensi

Yurisprudensi berarti peradilan pada umumnya (judicature, rechtspraak) yakni pelaksanaan hukum dalam hal konkrit terjadi tuntutan hak dijalankan oleh suatu badan berdiri sendiri dan diadakan oleh negara serta bebas dari pengaruh atau diapapun dengan cara memberikan putusan bersifat mengikat dan berwibawa.

Yurisprudensi dapat pula berarti ajaran hukum atau doktrin yang dimuat dalam putusan.

Yurisprudensi dimaksudkan pula adalah putusan hakim diperadilan-pengadilan.

5. Doktrin

Doktrin merupakan pendapat para sarjana hukum yang dikategorikan sumber hukum, tempat hakim dapat menemukan hukumnya.

BAB IX

116 ILMU HUKUM SEBAGAI ILMU KAIDAH YURIDIS

A. Pengertian Ilmu Pengetahuan

Dalam dokumen PROF ABDULLAH Buku Pengantar Ilmu Hukum (Halaman 117-123)