BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
2. Appreciative Inquiry sebagai Pendekatan
Secara terminologis AI terdiri dari dua kata (dalam bahasa Inggris) yaitu “appreciative” yang bermakna penghargaan atau menghargai dan
“inquiry”. Menurut kamus Oxford kata “appreciative” merupakan kata sifat (adjective) yang berarti “feeling or showing pleasure or admiration.”36 Sedangkan kata “inquiry” bermakna penyelidikan, dalam kamus Oxford berarti “the action of seeking; the action of asking questioning; interrogation.”37
Secara etimologis, David Coperrider dan Diana Whitney mendeskripsikan bahwa AI “is the cooperative, coevolutionary search for the best in people, their organization, and the world around them. It involves systemic discovery of what give life to an organization or a community when it is most effective and most capable in economic, ecological, and human terms.”38 Inti dari AI adalah sebuah kerjasama yang bertujuan untuk kebaikan masyarakat, organisasi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. AI berusaha menemukan apa yang diberikan oleh kehidupan untuk dimanfaatkan secara efektif dalam berbagai bidang.
Pendapat lain yang memiliki substansi makna yang sama menurut Diana Whitney dan Amanda Trosten “Appreciative Inquiry is the study of what gives life to human systems when they function at their best. This approach to personal change and organization change is based on the
36 Keith Brown, dkk, Oxford Student’s Dictionary of English, (London: Oxford University Press, 2001), hlm. 31.
37 Eric Buckley, The Oxford English Dictionary, (London: Oxford University Press, 1978), hlm. 323.
38 David L. Cooperrider dan Diana Whitney, Appreciative Inquiry: A Positive Revolution in Change, (San Francisco: Berrett-Koehler Publishers, 2005), hlm. 8.
25
assumption that questions and dialogue about strengths, successes, values, hopes, and dreams are themselves transformation.”39 Appreciative mengandung makna “the act of recognition and the act of enhancing value”.40 Sedangkan inquiry mengandung makna “the act of exploration and discovery”.41 Sehingga terdapat empat diksi penting yang terkandung di dalam pengertian AI yaitu pengakuan, penguatan nilai, eksplorasi dan penemuan.
Keempat term di atas memiliki hubungan yang apabila dikaitkan akan menjadi dasar dari konsep AI itu sendiri. Penemuan apa yang diberikan oleh sebuah kehidupan merupakan sebuah pengakuan terhadap aset-aset atau hal-hal yang bermakna dalam kehidupan.
Disinilah pentingnya sebuah nilai-nilai dari kehidupan ditemukan.
“AI assumes that every organization and community has many untapped and rich accounts of the positive-what people talk about past, present, and future capacities, or the positive core.”42 Asumsi AI terhadap struktur komunal manusia yaitu organisasi dan komunitas yang kaya akan inti positif merupakan sebuah kekuatan nilai yang dimiliki oleh AI. AI memandang bahwa setiap percakapan manusia kapanpun dilakukan mengandung inti positif. Sehingga inti positif (positive core) menjadi sumber nilai, kekuatan dan dasar berpikir AI.
AI merupakan pendekatan yang sering digunakan di dalam dunia psikologis karena memang AI berangkat dari asumsi psikologis. Namun di manakah posisi AI dalam organisasi atau manajemen organisasi?
Pertanyaan ini berusaha dijawab oleh Widyanto Muttaqien sebagai berikut:
AI cocok diterapkan dalam berbagai tipe rapat (perencanaan strategis, monev, sesi curah pendapat) dan berbagai tingkatan manajemen (pekerja, manajemen madya dan eksekutif). AI juga
39 Diana Whitney dan Amanda Trosten, The Power of Appreciative Inquiry: A Practical Guide to Positive Change Second Edition, (San Francisco: Berrett-Koehler Publishers, 2010), hlm. 1.
40 Ibid., hlm. 2.
41 Ibid., hlm. 3.
42 David L. Cooperrider dan Diana Whitney, Loc. Cit.
bisa diaplikasikan pada komunitas, baik pedesaan atau perkotaan, juga komunitas tertentu seperti pemuda dan lain-lain. Fasilitas AI untuk berbagai ruang tersebut tentu membutuhkan keterampilan mengkombinasikan berbagai instrumen pengambil keputusan lainnya. AI dapat dikombinasikan dengan alat lain, terutama yang menggunakan pendekatan partisipatoris, seperti dalam penggalian informasi tentang strategi adaptasi masyarakat dalam menghadapi bencana, penyusunan program dengan pendekatan SOAR- Strength, Opportunities, Aspiration, and Result yang dimodifikasi dari metode SWOT-Strength, Weakness, Opportunities, and Treat.43
b. Sirkulasi 4D
AI memiliki sebuah alur sirkulasi yang biasanya disebut 4-D cycle (Sirkulasi 4D). Sirkulasi 4D tersebut terdiri dari discovery (penemuan), dream (impian), design (model), dan destiny (rancangan masa depan).
Lebih jelasnya bisa dilihat gambar berikut:
43 Widhyanto Muttaqien, “Catatan Pendek tentang Appreciative Inquiry,” dalam Arika Winda (ed.), Pelajar Millenials bergerak: Catatan dan Narasi tentang Gerakan Pelajar di Indonesia, (Surabaya: Pustaka Saga, 2019), hlm. 34.
27
Gambar 2.1 Menunjukkan Ilustrasi Sirkulasi 4D44
1) Discovery merupakan sebuah bagian yang bertujuan melakukan penggalian terhadap inti positif yaitu aset-aset yang ada sebagai inti kekuatan. Diawali dengan sebuah pertanyaan what gives life? (apa yang telah diberikan dalam kehidupan?). Mengupayakan sebuah proses mengapresiasi usaha terbaik yang telah dilakukan oleh suatu organisasi. Bagian ini juga bertujuan untuk membuat peta awal aset- aset terbaik yang ada.
2) Dream, adalah bagian untuk menentukan visi ideal. Memimpikan visi ideal dengan menggunakan term pertanyaan what could be? (apa yang bisa?) atau what might be? (apa yang mungkin?). Merupakan pertanyaan ringan yang berguna untuk mencari peluang di masa depan. Analisa peluang itulah yang bisa dijadikan sebagai visi ideal.
Dengan pertanyaan ini memacu sebuah eksplorasi imajiner segala potensi positif yang bisa dimimpikan. Di sinilah letak strategic opportunities (kesempatan strategi) untuk berinovasi. Bagian ini juga yang menjadikan AI memiliki orientasi masa depan.
3) Design, bagian yang berbentuk rancangan umum dan strategis dari discovery dan dream. Bagian ini mewujudkan dream yang masih bersifat imajiner menjadi lebih nyata secara deskriptif dengan mengakomodir temuan hasil dari bagian discovery. Bagian ini merupakan ruang untuk berinovasi secara kreatif dalam membuat sebuah model. Pertanyaan yang menjadi dasar dari bagian ini adalah what should be? (apa yang seharusnya?). Maksudnya adalah apa yang seharusnya dilakukan? Apa yang akan dilakukan atau diimplementasikan?
4) Bagian selanjutnya adalah Destiny. Bagian ini memang cukup rumit untuk dipahami namun menjadi bagian yang sangat penting. Karena
44 Diana Whitney dan Amanda Trosten, Op. Cit., hlm. 6.
bagian ini menyerap tiga langkah sebelumnya menjadi satu bagian yang lebih nyata. Diawali dengan pertanyaan what will we do? (apa yang akan kita lakukan?). Memaknai bahwa destiny mengandung langkah perwujudan agenda aksi. Selain itu bagian ini juga merupakan sebuah proses mempelajari program yang sedang berjalan. Sehingga bagian ini memicu adanya dukungan terhadap kejadian yang tidak direncanakan dan mengharuskan adanya improvisasi secara kreatif namun tetap proporsional. Sebagian dari destiny bersifat evaluatif sehingga menjadi penghubung ke bagian awal, yaitu discovery.
Semua langkah-langkah di atas dibalut dengan pondasi inti positif.
Sehingga orientasi akan lebih bermakna dan lebih ringan. Hal ini disebabkan karena terbuangnya perihal negatif yang ada dan bergeser ke kacamata positif. Ini merupakan salah satu kegunaan AI yaitu sebagai pengembangan sebuah program dan masih banyak fungsi AI lainnya yang bersifat positif. Namun tidak menutup kemungkinan hasil yang bersifat negatif akan didapatkan apabila menggunakan analisa AI dalam penelitian yang mensyaratkan kejujuran dan apa adanya bahkan akan lebih mendalam.
c. Analisis SOAR: Sebuah Perencanaan Strategis dengan Orientasi Positif Appreciative Inquiry memuat berbagai macam konsepsi hasil pemaknaan inti positif. AI semakin berkembang dengan konsep-konsep baru yang juga terinspirasi dari konsep analisis sosial lainnya. Kajian komparasi antara AI dengan pendekatan lain sering dilakukan. Salah satunya adalah usaha pencarian alternatif konsep yang dilakukan oleh Jacqueline Stavros, dkk. Mereka memodifikasi konsep SWOT
29
(strengths, weakness, opportunities, threats) dengan cara memasukkan nilai-nilai positif dari AI.45
Diskursus dan praktik perencanaan strategis dan taktis dengan menggunakan konsep SWOT banyak dikembangkan. Mulai dari era 1990-an sampai sekarang berbagai kombinasi perencanaan strategis dan taktis dikembangkan.46 Pemakaian konsep SWOT dinilai komprehensif karena meninjau banyak sudut pandang. Mulai dari tinjauan internal sebuah perusahaan atau organisasi sampai tinjauan eksternal dilakukan.
Lebih spesifik lagi, SWOT memiliki empat asesmen yaitu internal- positif asesmen (strengths), internal-negatif asesmen (weakness), eksternal-positif asesmen (opportunities) dan eksternal-negatif asesmen (threats).47
Penggunaan SWOT mengharuskan untuk memikirkan dua sudut pandang secara berimbang antara sisi positif dan sisi negatif. Namun pada prakteknya, sisi negatif sering kali memakan porsi yang lebih besar. Tentunya usaha untuk memecahkan sebuah masalah yang ditemukan lebih besar dari pada hanya sekedar mencari peluang dan mengembangkan kekuatan internal. Menggunakan pendekatan AI akan memangkas sisi negatif dan memaksimalkan sisi positif. Hal ini akan berdampak lebih efisien dan progresif.48
Lantas bagaimana AI mempengaruhi SWOT sehingga melahirkan modifikasi konsep baru? Menurut Jen Hetzel dan Tony Silbert AI didasarkan pada dua konsep sederhana yaitu “what you seek, you find more of” (apa yang kamu cari dengan niat sendiri akan kamu temukan lebih banyak) dan “people commit to what they help to create” (orang
45 Jacqueline Stavros, dkk., Strategic Inquiry-Appreciative Intent: Inspiration to SOAR A New Framework for Strategic Planning, tt.p., AI Practitioner, November 2003, hlm. 20-21.
46 Ibid, hlm. 4.
47 Ibid, hlm. 11.
48 Ibid, hlm. 7.
berkomitmen pada apa yang mereka bantu ciptakan).49 Dua konsep sederhana ini menginspirasi perubahan SWOT menjadi SOAR.
Konsep pertama bertumpu pada pengembangan proses melalui ide yang kreatif dan inovatif. Sehingga pencarian yang dilakukan akan berkembang dan mengeksplorasi lebih banyak hal-hal yang positif dan menginspirasi. Sehingga orientasi proses akan menuju pada hasil akhir.
Dari sini menginspirasi salah satu asesmen yaitu result (hasil). Konsep kedua menginspirasi asesmen yang lain yaitu aspiration (aspirasi).
Partisipasi yang banyak akan semakin membangun perencanaan dan komitmen dari orang-orang yang berpartisipasi menjadi kunci sukses dalam pengimplementasian sebuah rencana. Dua konsep asesmen ini yang menggantikan weakness dan threats sehingga terbangun konsep empat asesmen baru yaitu SOAR (Strengths, Opportunities, Aspiration dan Result).
Perubahan dari SWOT ke SOAR tentunya diikuti dengan perubahan sudut pandang konseptual dari pandangan yang terbagi dua terhadap lingkungan yaitu internal dan eksternal menjadi pandangan yang lebih strategis. strengths dan opportunities, dua konsep asesmen yang dipertahankan membangun konsep pencarian strategis.
Selanjutnya, aspiration dan result merupakan dua konsep asesmen yang diapresiasi. Mengapresiasi aspirasi setiap pemangku kepentingan dan memfokuskan usaha pada capaian hasil yang lebih terukur menjadikan sebuah analisis perencanaan yang lebih jelas dan positif.
49 Jen Hetzel Silbert dan Tony Silbert, “SOARing from SWOT: Four Lessons Every Strategic
Plan Must Know,” tt.p., AI Practitioner, Agustus 2007, hlm. 2.
31
Gambar 2.2 Mengilustrasikan Konsep SOAR50