E. Pendidikan Keluarga
4. Aspek-aspek pendidikan agama yang diajarkan
Tidak memukul anak ketika dalam kondisi marah
Tidak memukul anak ketika menyebut nama Allah SWT
Tidak memukul anak sebelum berusia sepuluh tahun.75
kurang nya mencakup pendidikan fisik, akal, agama ( aqidah dan agama), akhlak, kejiwaan, rasa keindahan, dan sosial kemasyarakatan.
Secara umum, pada mulanya aspek-aspek penting pendidikan agama Islam yang diajarka kepada anak meliputi :77
- Mengajarkan membaca Al-Quran
Mengajarkan anak membaca alquran merupakan pendidikan dasar dari agama Islam yang diperintahkan oleh rasulullah saw.
Dan bahkan dianjurkan untuk mengajarkannya jauh sebelum anak mengenal huruf latin, yaitu ketika anak suda bisa berfikir.
Hadist Rasulullah saw, menyatakan yang artinya “ tidaklah anak itu dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tual nya lah yang menjadikan anak itu yahudi, nasrani, atau majusi”
(H.R. Muslim)
- Menanamkan keyakinan (Aqidah) yang benar
Aqidah yang benar harus ditanamkan kepada diri sendiri dan anak sejak dini agar kelak tidak mudah berpaling dari keyakinan yang dapat merusak aqidah keIslamannya, bahkan bisa saja menjadi murtad.
- Membentuk akhlak terpuji
Mengajarkan anak untuk selalu berperilaku baik atau terpuji kepada semua orang terlebih kepada orang tua.
Pendidikan keluarga mencakup seluruh aspek dan melibatkan semua anggota keluarga, mulai dari bapak, ibu dan anak-anak. Namun yang lebih penting adalah pendidikan itu wajib diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Anak bukanlah sekedar yang terlahir, atau anak cucu keturunan kita saja, namun termasuk juga anak sluruh orang muslim dimanapun mereka berada atau berasal dari kebangsaan manapun. Kesemuanya adalah termasuk generasi umat yang menjadi tempat bertumpu harapan kita, untuk dapat mngembalikan kesatuan umat semuanya.
Hadits-hadits pendidikan dibawah ini adalah sebagian dari nasehat bapak pendidikan umat Islam Nabi Muhammad SAW, diantaranya ;
َر َ
ل ِإ ٌل ُج َر َل َب ْ ق َ
إ : َلإ َ ق ُ
ه ْ ن ع َ لله ُ َ
إ َ ي ِ ض َر َ ة َر ْي َر ُ
ه ِرن َ إ ْن ع َ َّل َص ِالله َل ْو ُس
َن ِم َر ْجلإ ِ غَتْبَإ ِدإ َه ِج ْ
لإ َو ِة َر ْج ِهلإ َ لى ع َ َ
ك ُعِيإ َبُإ : َلإ َقَف َمَّل َس َو ِهْي َ ل ع َ الله ُ
77 Haitami Salim, Pendidikan Agama Dalam Keluarga, (Jogjakarta:Ar-Ruzz Media 2013) hlm 204.
َ ل ِإ ْع ِج ْرإَف : َلإَق . ْم َعَن : َلإَق ؟ ٌّ ي َ ح ٌ د َح َ
إ ك ْي َ َ
د ِلإ َو ْن ِم ْل َه : َلإ َ ق ِالله
)ملسم هإور( َ
إم ُه َ
ت َب ْح ُص ْن ِس ْحَإف َكْي َدِلإ َو
Artinya: dari abu hurairah r.a berkata; ada seorang laki-laki menghadap kepada rasulullah sw lalu ia berkata ; saya berjanji kepada engkau, wahai rasulullah untuk berhijrah dan berjuang agar mendaoatkan pahala dari allah. Beliau bersabda ; apakah salah seorang dari kedua orag tuamu masih hidup. Laki-laki itu menjawab ; ya, masih.
Beliau bersabda pula ; pulanglah kamu kepada kedua orang tuamu dan dampingilah keduanya dengan baik. [H.R Muslim].
Menghormati dan bersikap szntun kepada orang tua, diperitahkan olh allah dan rasul-nya. Rasa hormat dan santun tidak boleh berkurang kendatipun berbeda agama dengan orang tua. Agama Islam membedakan antar pergaulan dan akidah. Oergaulan berhubungan dengan sesama manusia, termasuk ibu bapak.
Sedangkan akidah berhubungan dengan allah swt.
Perhatian, sikap lemah lembut dan sopan santun lebih diutamakan. Sebab materi, bkan segala-galanya. Walaupun kedua orang tua kaya raya, tetapi pemberian anaknya sangat tinggi nilainya dimata ibu bapaknya. Orang tua tidak melihat harga barang yang diterimanya dan tidak pula meliat besar kecilnya. Keikhlasan anakanya yang paling utama.
Perlu diketahui bahwa berbakti kepada ibu adalah lebih berlipat pahalanya dari kebaktian terhadap ayah. Begitulah maksud dari sebuah hadis, hal ini disebabkan karena sang ibu telah mengalami kesusahan dan kepayahan mngandug yang diikuti dengan sakitnyaa melahirkan anak, menyusui dan mengasuhnya hingga menjadi besar, dan sterusnya senantiasa memberikan penuh perhatian, belas kasih, dan kasih sayang.
Sebagaimana seseorang itu wajib berbakti kepada kedua orang tua semasa mereka masih hidup, maka wajib pula berbakti kepada keduanya sesudah mereka meninggal dunia.
ي ِرن َ
أ ٍرإ َّو َس ْن َع ُلي ِع َم ْسِؤ إَن َ ث َّ
د َح َّيِر ُ ك ْ
ش َي ْ
لإ ي ِ ن ْعَي ٍمإ َ
ش ِه ُنْب ُل َّم َؤ ُم إَنَث َّد َح
َ ز ْم َح ْن َ
ع ُّ ي ِ ف َ ْري َّصلإ ُّ ي ِ ن َز ُمْلإ َةَز ْم َح وُب َ
أ د ُوإ َ د ُن ْب ُرإ َّو َس َو َ ه َو د ُوإ ُ د و ُب َ َ أ َلإ َ
ق َ ة َلإ َ
ق ِه ِّ
د َج ْن َ ع ِهي ِب َ
أ ْن َ
ع ٍب ْي َع ُش ِن ْب و ِر ْم َع
ُ َّ , للَّإ َّ
لى َص ِ َّ
للَّإ ُلو ُس َر َلإ َ
ق
َم َّ
ل َس َو ِهْي َ ل ع َ ْب َ
أ ْم ُ ه َو ِة َ
لَ َّصلإِب ْمُكَد َلَ ْو َ أ إو ُر ُم ْم ُ
هو ُبِ صِإ َو َ ر ْ ي ِن ِس ِع ْب َس ُءإَن ِع ِجإ َ
ض َم ْ
لإ ي ِ ف ْم ُه َ ن ْي َب إو ُ
ق ِّر َ
ف َو ٍ ش َْ ع ُءإ َ َ ن ْب َ
أ ْم ُ ه َو إ َه ْي َ
ل ع َ
[4]
Artinya: ―Berkata Mu‘ammal ibn Hisyam Ya‘ni al Asykuri, berkata Ismail dari Abi Hamzah, berkata Abu Dawud dan dia adalah sawwaru ibn Dawud Abu Hamzah Al Muzanni Al Shoirofi dari Amru ibn Syu‘aib dari ayahnya dari kakeknya berkata, berkata Rasulullah SAW:
Suruhlah anakmu melakukan sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena mereka meninggalkan sholat ketika berumur sepuluh tahun. Dan pisahlah mereka (anak laki-laki dan perempuan) dari tempat tidur.‖ (H.R. Abu Dawud)
Pengertian hadis tentang pendidikan terhadap anak di atas mengandung pengertian yang sangat dalam dan bermakna luas, lagi mencakup pembahasan yang dimaksud, yakni ;
a. Pembahasan tentang kedudukan ibadah dan pengaruhnya sangat besar terhadap pendidikan
b. Hadis diatas memberikan peyunjuk dan mengandung hikmah serta tujuan yang sangat dalam
Secara rasional, ibadah berupa shalat, puasa maupun yang lain, berperan mendidik pribadi manusia hingga kesadaran dan pikirannya erus-menerus berfungsi dalam semua pekerjaan. Pada hakikatnya semua pekerjaan yng dilakukan oleh manusia, apabila tidak ditimbang dengan neraca keridaan allah, maka perbuatan tersbut akan berubah menjadi malapetaka bagi yang melakukannya. Sejak dini seorang anak sudah harus dilatih ibadah, diperintah melakukannya dan diajarkan hal-hal yang haram serta halal.
َ ك ُ ق ُ
ز ْر َ ن ُن ْح َ
ن إ ً ق ْ
ز ِر ك َ ُ ل َ
أ ْس َ ن َ
لَ إ َه ْي َ ل َ
ع ْ ِري َ
ط ْصإ َو ِة َ
لَ َّصلإِب ك َ َ ل ْ
ه َ أ ْر ُم ْ
أ َو ى َو ْ
ق َّ
تل ِل ُ ة َب ِقإ َع ْ
لإ َو
Artinya: ―Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akhirat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.‖ (Q.S. Thaha: 132) Kalau shalat belum diwajibkan atas anak-anak yang masih kecil mengingat mereka belum berstatus mukallaf. Islam mewajibkan kepada kaum muslimin, untuk memerintahkan anak-anaj mereka menjalankan shalat kepada mreka telah berusia tujuh tahun. Hal ini
dimaksudkan agar mereka senang melakukannya dan sudah terbiasa sememnjak kecil. Sehingga apabila semangat beribadah sudah bercokol pada jiwa mereka, niscaya akan muncul kepribadian mereka atas hal tersebut.
Dalam hadis lain juga tertera ; dari anas r.a ia berkata, rasulullah saw bersabda ; siapa pergi untuk menuntut ilmu maka ia berada dijalan alah hingga kembali. [HR AT-TIRMIDZI dan beliau mengatakan Hadis Hasan]78.
Dengan demikian diharapkan ia punya kepribadian dan semangat keagamaan yang tinggi. Tujuan mengajarkan wudhu dan menunaikan shalat fardhu pada wktunya. Pada dasarnya adalag mengajarkan ketaanan disiplin kesucian dan kebersihan. Demikian pula dengan membiasakan anak-anak kecil menunaikan puasa adalaah dalam rangka upaya mereka sabar dalam beribadah dan dalam menghadapi beban-beban kehidupan.
Imam al-Baghawi rahimanullah mengutip nasehat imam syafii rahimahullah yang mengatakan ;
َ ع
َ ة َ
لا َّصلإ َو َ
ة َرإ َه طلإ ْم َّ ُ هو ُم ِّ
ل َع ُي َو ْم ُ ك د َ َ
لَ ْو َ أ إو ُب د ِّ َ
ؤ ُي ْ ن َ
أ ِتإ َه َّم ُ
لْإ َو ِءإ َبلإ َلى
َ ة َ ََ ش َ ع َس ْم َ خ َل َم ْ
ك ت ْسإ ْو َ َ
أ َضإ َح ْو َ أ َم َ
ل ت ْحإ ْن َم َ َ ف .إ ْو ُ
ل َ ق ع إ َ َ
ذ ِؤ ْم ُهوُب صْ َي َو ِ ْ ُض ْر َ
ف ْ لإ ُ
ه َمِز َ ل ً
ة ن َس َ
―Kewajiban para ayah dan ibu untuk mendidik anak-anak mereka dan mengajarkan kepada mereka thaharah dan shalat. Dan hendaknya mereka memukul anak-anak jika sudah berakal (untuk tujuan tersebut).
Siapa saja (dari anak-anak itu) telah mengalami ihtilaam (mimpi basah), atau sudah haidh atau sudah genap berusia 15 tahun, ia sudah wajib menjalankan shalat fardhu‖. (Nukilan dari Syarhu as- Sunnah 2/407).
Hadis ini sama dengan penjelasan hadis di atas cuma bedanya dalam hadis ini menerangkan adanya sikap mengajarkan ibadah yang lebih tegas ketika anak sudah berakal dan juga ketika anak menginjak usia baligh. Ketika anak sudah mulai berakal maka ia boleh dipukul dan apabila dia menginjak usia baligh ingatkanlah dia atas kewajibannya mendirikan shala fardhu. Tujuannya sudah jelas, yaitu
78 Dhaif; at-tirmidzi; 2647. Beliau berkata, hadits ini hasan. Didhaifkan oleh syaikh di dalam dhaif al-jami;, 5580
menciptakan rasa cinta dan penggangguan terhadap ibadah shalat dan penamaan pemahaman akan pentingnya ibadah tersebut pada jiwa mereka dan membiasakan mereka untuk itu yang ada pada gilirannya dengan izin allah memudahkan mereka untuk menunaikannya kala sudah memasuki usia balih dan taklif.
Yang patut dipahami di sini, perintah utuk menyuruh anak-anak shalat tersebut mencakup seluruh perkara yag menyebabkan shalat itu menjadi sempurna sehingga perintah itu juga bermakna mengajari mereka segala sesuatu yang membaguskan shalat dan merusaknya serta menyempurnakannya.