C. Pendidik
4. Syarat-syarat pendidik
Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab membimbing anak untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, pendidik terlebih dahulu harus beriman.
Sehubungan dengan ini, terdapat hadis sebagai berikut:
57 Umar Bukhari,Hadis Tarbawi,(Jakarta:AMZAH,2012),Hal.76
ي ِ ف ْ ي ِل ْلُق ِالله ُل ْو ُس َر َإي ُت ْ ل ُ
ق لإق ي فقثلإ الله دبع نب نإيفس نع
ِم َ لا ْس ِلإ
َ ة َمإ َس ُ أ ي ِرن َ
أ ِث ْي ِد َح ي ِ ف َو( َك َ د ْع َب إ ً
د َح َ
أ ه ُ ن ْ ع ُل َ َ أ ْس َ
أ َ لا ً
لا ْو َ ق
) َ ك َ ْري َ ْم ِق ت ْسإ َ َ غ
ف ِلله ِإب ت ُ ن َمآ ْل ْ ُ ق َلإ َ ). ق :
دمحأو ملسم هإور (
Sufyan bin Abdullah al-Saqafiy meriwayatkan bahwa ia berkata kepada Rasulullah: Ya Rasulullah ! Katakanlah kepada saya sesuatu tentang Islam yang tidak akan saya tanyakan lagi sesudah Engkau!
Nabi berkata: Katakanlah! Saya beriman kepada Allah lalu tetapkanlah pendirianmu.
Hadis ini menunjukkan bahwa iman kepada Allah dan istiqamah dengan pengakuan keimanan itu merupakan suatu hal yang sudah cukup dan memadai bagi seseorang muslim.
Oleh karena itu, para pendidik harus berusaha agar peserta didik memiliki iman yang kuat dan teguh pendirian dalam melaksanakan tuntutan iman tersebut. Segala aktivitas kependidikan agar diarahkan menuju terbentuknya pribadi- pribadi yang beriman. Bila yang diinginkan adalah peserta didik yang beriman kepada Allah, maka terlebih dahulu pendidik harus beriman. Tidak mungkin orang yang tidak beriman mampu membina orang menjadi orang beriman.
Orang yang tidak memiliki tidak akan mampu memberi.
b. Pendidik harus berilmu
Sehubungan dengan ini ditemukan hadis sebagai berikut:
ِ َّ
للَّإ َلو ُس َر ُ
ت ْع ِم َس َلإَق ِصإ َعْلإ ِن ْب و ِر ْم َع ِن ْب ِ َّللَّإ ِدْبَع ْنَع -
لىص
ملسو هيلع الله -
ُلو ُ ق َي
ُ « ه ُ
عِ ي َر ن َي ، إ ْ عإ ً ي َ ر ِ ْ نإ َم ْ
ل ِع ْ لإ ُضِب ْ
ق َي َ لا للَّإ َ َّ َّ
َ ن ِؤ
ذ ِؤ َّرن َح ، ِءإَمَل ُع ْ
لإ ِض ْب َق ِب َمْل ِع ْ لإ ُضِب ْ
ق َي ْن ِك َ
ل َو ، ِدإَب ِع ْ لإ َن ِم ِق ْبُي ْمَل إ
إو ُّ
ل ض َ َ ف ، ٍم ْ
ل ِع ِ ي ْ ر َ غِب إ ْوَتْف َ
أ َ ف ، إو ُ
ل ِئ ُس َ
ف لاإ َّه ُج إ ًسو ُء ُر ُسإ ً نلإ َّ َ ذ َ
خ َّ
تإ ، إ ًم ِلإ ع َ و ُّ
ل ض َ َ أ َو ىرإخبلإ هإور
) (Abdullah ibn 'Amru ibn al-'Ash meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak menarik ilmu penetahuan kembali dengan mencabutnya hati sanubar manusia, akan tetapi dengan mewafatkan orang-orang berpengetahuan (ulama).Apabila tidak ada lagi orang alim yang tersisa, manusia akan mengangkat orang bodoh menjadi pemimpin yang dijadikan tempat bertanya. Lalu orang- orang bodoh itu ditanya dan mereka berfatwa tanpa ilmu mengakibatkan mereka sesat dan menyesatkan.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadis ini berisi anjuran menjaga ilmu, peringatan bagi pemimpin yang bodoh, peringatan bahwa yang berhak mengeluarkan fatwa adalah pemimpin yang benar-benar mengetahui, dan larangan bagi orang yang berani mengeluarkan fatwa tanpa berdasarkan ilmu pengetahuan. Hadis ini juga dijadikan alasan oleh jumhur ulama untuk mengatakan, bahwa pada zaman sekarang ini tidak ada lagi seorang mujtahid.
Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa orang yang berfatwa dan mengajar harus berilmu pengetahuan.Termasuk dalam hal ini adalah pendidik, guru. Bila pendidik tidak berilmu pengetahuan, maka murid-murid yang diajarnya akan sesat atau dalam bahasa kependidikan bila guru tidak profesional akan mengakibatkan proses pembelajaran akan sia-sia. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen Republik Indonesia, salah satu syarat bagi guru adalah profesional.
Sehubungan dengan ini, Rasulullah SAW. bersabda:
ِ َّ
للَّإ ُلو ُس َر َلإ َ ق ُلو ُ
ق َي َ ة َر ْي َر ُ
ه رن َ أ نع -
صلى الله عليه وسلم -
َ « نإ َ
ك ٍم ْ ل ِع ِ ي ْ ر َ
غِب رن ْ فأ ْن َم
ْ ث ِؤ
c. Pendidik Harus Mengamalkan Ilmunya
Selain berilmu, pendidik harus mengamalkan ilmunya.
Berkaitan dengan ini terdapat hadis:
َلإ َ ق َ
ة َمإ َس ُ أِ ْن ع َ َم ْو َي ِل ُج َّرلإ ِب ُءإ َجُي َمَّل َس َو ِهْي َ
ل ع َ للَّإ ُ َّ َّ
لى َص ِ َّ
للَّإ ُلو ُس َر ُرإ َم ِح ْ
لإ ُرو ُ د َي إ َم َ
ك ُرو ُ د َي َ
ف ِرإ َّ
نلإ ي ِ ف ُهُبإَتْق َ أ ُق ِل َ
د ْ ن َ
ت َ ف ِرإ َّ
نلإ ي ِ ف َرفْلُيَف ِة َمإَي ِق ْ
َ لإ لا ُ
ف ْي َ أ َ
نو ُ لو ُ
ق َي َ ف ِهْي َ
ل َ ع ِرإ َّ
نلإ ُل ْ ه َ
أ ُع ِم َ ت ْج َي َ
ف ُ هإ َح َر ِب َسْي َ
ل َ أ َ
ك ُ ن ْ
أ َ ش إ َم ُ
ن ْم ُ
ك ُر ُمآ ت ُ ن ْ ُ ك َلإ َ
ق ِر َ ك ن ُم ْ ْ
لإ ْن ع إ َ َ نإ َه ن ْ َ
ت َو ِفو ُر ْع َم ْ لإِب إ َ
ن ُر ُم ْ أ َ
ت ت َ ن ْ ُ ك ِهيِتآ َو ِر َ
ك ْ ن ُم ْ
لإ ْن ع ْم َ ُ كإ َه ْ
ن َ أ َو ِهيِتآ َ
لا َو ِفو ُر ْع َم ْ لإِب ىرإخبلإ هإور
)(
Usamah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW.bersabda, ―Seseorang akan didatangkan pada hari kiamat dan dilemparkan ke neraka.
Maka usus-ususnya keluar di neraka.Ia pun berputar sebagaimana berputarnya keledai di penggilingan. Para penghuni neraka berkumpul kepadanya dan bertanya, wahal fulan! Ada apa denganmu? Bukankah engkau dahulu memerintahkan kami untuk melakukan yang ma ‗ruf dan melarang kami dari perbuatan munkar?Ia menjawab, ‗Dahulu aku memerintahkan kamu kepada yang ma‗ruf tetapi aku tidak
melakukannya, dan aku melarang kamu dan perbuatan mungkar tetapi aku mengerjakannya, ‖
Hadist di atas menjelaskan siksaan Allah yang bakal diterima oleh orang yang mengajarkan kebaikan (al-amr bi al- ma'ruf) tetapi ia sendiri tidak mengerjakannya, dan orang yang menasihati orang agar meninggalkan yang jelek (al-nahy 'an al- munkar) tetapi ia sendiri mengerjakannya. Tugas tersebut adalah salah satu yang dikerjakan oleh pendidik, guru. Jadi guru harus mengamalkan ilmu yang diajarkannya kepada peserta didiknya agar terhindar dari siksa Allah.
d. Pendidik harus adil
Sehubungan dengan ini ditemukan hadist:
َم َّ
ل َس َو ِهْي َ
ل ع َ للَّإ ُ َّ َّ
لى َص ِ َّ
للَّإ ُلو ُس َر َلإ َ ق َلإ َ
ق ٍ ري ِش ب َن ْب نإ َم ْع َ نلإ نع ُّ
ْم ُ ك ِئإ َ
ن ْب َ أ َ ْر ي َب إو ُ
ل ِد عإ ْم ْ ُ ك ِئإ َ
ن ْب َ أ َ ْر ي َب إو ُ
ل ِد عإ ْ )
ر
فهيبلإو ئنإسنلإ هإور (
Dari Nu'man ibn Basyir, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu! Berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu!
Dalam hadis ini dengan tegas Rasulullah saw.
memerintahkan kepada para sahabat (umatnya) agar berlaku adil terhadap anak-anaknya. Dalam konteks pendidikan, peserta didik itu adalah anak oleh pendidiknya. Dengan demikian, pendidik wajib berlaku adil dalam berbagai hal terhadap peserta didiknya.
Muhammad Athiyah Al-Abrasyi menegaskan agar pendidik itu harus memiliki sifat-sifat keadilan, kesucian, dan kesempurnaan.[7] Keadilan pendidik terhadap peserta didik mencakup dalam berbagai hal, seperti: memberikan perhatian, kasih sayang, pemenuhan kebutuhan, bimbingan, pengajaran dan pemberian nilai.
Mengapa pendidik harus memiliki niat yang ikhlas?
Dengan keikhlasan karena Allah, pendidik dalam melaksanakan tugasnya akan mendapatkan kemudahan.
Karena sasaran pendidikan itu adalah hati.Apa yang diberikan dengan hati akan diterima oleh hati dengan baik. Dengan demikian, proses pendidikan akan mencapai hasil yang optimal. Selain itu dan yang tidak kalah pentingnya adalah semua proses pendidikan yang diberikan oleh pendidik
dengan ikhlas akan dihitung sebagai ibadah kepada Allah. Jadi, sangat rugi pendidikan yang melaksanakan tugas kependidikannya tanpa disertai dengan niat yang ikhlas.
Selain bersifat ikhlas, pendidik harus mengajar peserta didik untuk berbuat ikhlas, baik di dalam melaksanakan pekerjaan atau-pun proses belajarnya.Semuanya itu harus mereka laksanakan dengan ikhlas, demi mendapatkan rida dari Allah SWT.Jangan sampai, perbuatan tersebut dilandaskan pada sifat munafik, riya, atau hanya ingin mendapatkan rasa terima kasih dan pujian dari orang-orang.
Segala bentuk pekerjaan dinilai sesuai dengan niat pelakunya.Oleh sebab itu, proses pendidikan dapat bernilai ibadah bila orang yang melaksanakannya mempunyai niat yang ikhlas.Agar mendapat pahala dari Allah, pendidik harus mendidik/mengajar dengan niat mengerjakan perintah Allah dan mengharapkan rida-Nya.Niat merupakan salah satu motivasi intrinsik (dorongan yang berada di dalam diri seseorang).Motivasi ini sangat besar pengaruhnya kepada hasil pekerjaan seseorang.Oleh sebab itu, dalam kegiatan belajar mengajar, pendidik dan peserta didik harus mempunyai motivasi yang benar.
e. Pendidik harus Berlapang Dada
Berlapang dada adalah sikap ntidak mudah marah dan apabila marah dapat mengendalikan diri secara normal.
Sehubungan dengan ini ditemukan hadist:
َءإ َي ْ ش َ
أ ْن ع َم َ َّ
ل َس َو ِهْي َ
ل ع َ للَّإ ُ َّ َّ
لى َص ُّ ي ِر ن َّ
نلإ َل ِئ ُس َلإَق َ شو ُم ي ِرن َ أ ْن ع َ َلإ َ
ق ْم ت ُ ْ ئ ِش إ َّم َ
ع ي ِ نوُل َس ِسإ َّ
نل ِل َلإَق َّمُث َب ِض َ غ ِهْي َ
ل َ ع َ ِ ي َ ْ
ك ُ أ إ َّم َ
ل َ ف إ َه َ
هِر َ ك ْن َم َلإ َ
ق َ ف ُر َ
خآ َمإ َ ق َ
ف ُ ة َ
فإ َ
ذ ُح كو ُب َ َ أ َلإ َ
ق ي ِرن َ
أ ْن َم ٌل ُج َر ِ َّ
للَّإ َلو ُس َر إ َي ي ِرن َ أ إ َي َلإ َ
ق ِه ِه ْج َو ف إ َم ُر َم ي ِ ع ى ُ َ أ َر إ َّم َ
ل َ ف َ
ة َب ْي َ
ش َ
ل ْو َم ٌم ِلإ َس َكوُب َ أ َلإ َ
ق َ ف َّل َج َو ز َّ َ
ع ِ َّ
للَّإ َ
ل ِؤ ُبوُتَن إَّن ِؤ ِ َّ
للَّإ َلو ُس َر )
ىرإخبلإ هإور (
.
Dari Abu Musa radhiallahu anhu, dia berkata, ―Seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengenai perkara yang tidak disukai beliau.Maka tatkala orang itu terrlalu banyak bertanya, Nabi menjadi marah.Kemudian beliau berkata, ―Tanyakanlah apa yang hendak kamu tanyakan.‖Seorang laki-laki bertanya, ―Siapakah bapakku?‖Nabi menjawab. ―Bapakmu, Hudzafah.‖ Bertanya pula
yang lain, ―Siapakah bapakku hai Rasulullah?‖ Nabi menjawab,
―Bapakmu Salim, hamba sahaya Syaibah.‖Tatkala Umar bin Khaththab, ) melihat rasa kurang senang tergambar di wajah Rasululluh karena soal-soal yang tidak menentu itu.segera iaberkata,
"Wahai Rasulullah SAW. ! Kami tobat kepada Allah Yang Maha Kuasa dan Yang Maha Agung.
Dalam hadist di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah saw. juga merasa marah ketika ada hal-hal yang tidak diinginkannya ditampilkan di depannya. Dalam kasus ini, sahabat bertanya banyak tentang hari kiamat.Akan tetapi kemarahan beliau itu tidak sempat menghilangkan sifat lapangan dadanya.
Menurut Ibnu Hajar, bahwa orang yang memberi nasihat boleh menampakkan sikap marah, karena dia sebagai orang yang memberi peringatan. Begitu juga seorang guru, jika dia mencela kesalahan murid yang belajar kepadanya. Karena terkadang hal itu terpaksa dia lakukan agar si murid dapat menerima kebenaran darinya, akan tetapi hal itu harus disesuaikan dengan keadaan psikologi masing-masing murid.
Sikap lapang dada dan jauh dari kedengkian akan mewujudkan keseimbangan jiwa bagi manusia dan akan membiasakannya untuk selalu cinta kepada kebaikan bagi masyarakat. Ia juga akan memberikan jalan bagi kebaikan pada jiwa manusia untuk sampai kepada puncaknva. Nabi telah memberikan bimbingan sahabat Anas bin Malik - ketika masih kecil agar mencuci noda-noda jiwa setiap pagi dan petang dengan cara memberikan maaf kepada setiap orang yang berbuat jahil kepadanya, dan juga mengosongkan hatinya dari sisa-sisa hembusan setan ke dalam akal pikiran.
Kelapangan dada Nabi SAW.juga terlihat dalam kasus seorang Arab Badui yang kencing dalam masjid seperti terekam dalam hadist:
َلإ َ ق َ
ف ِم ْو َقْلإ ُض ْعَب ِهْي َ
ل ِؤ َمإ َقَف ِد ِج ْس َم ْ
لإ ي ِ ف َلإ َب إ ًّي ِبإ َر ع ْ َ أ َّ
ن َ أ ٍس َ
ن َ أ ْن ع َ
َ غَر َ ف إ َّم َ
ل َ ف َلإ َ
ق ُ هو ُمِر ز ْ ُ
ت َ
لا َو هو ُ ع ُ د َم َ َّ
ل َس َو ِه ْي َ
ل ع َ للَّإ ُ َّ َّ
لى َص ِ َّ
للَّإ ُلو ُس َر [ ِهْي َ
ل ع َ ه َّب َص ُ َ
ف ٍءإ َم ْن ِم ٍو ْ ل َ
دِب إ ع َ د َ 15
ىرإخبلإ هإور .]
Dari Anas, sesungguhnya seorang Arab kencing dalam masjid. Lalu orang-orang berdiri dan menghadang ke sana. Rasulullah SAW.
bersabda, biarkanlah dia (sampai selesai), jangan hentikan. Setelah selesai, beliau meminta setimba air lalu menyiram kencing laki-laki itu.
Laki-laki yang kencing itu adalah orang Arab Badwi.
mungkin dia mengira kencingnya itu tidak akan najis, atau karena sebab lain. Yang jelas, Rasulullah SAW. tidak marah kepadanya dan melarang sahabat untuk memarahinya. Dalam kasus ini, Rasulullah SAW. sendiri yang langsung menyiram/membasuh kencing itu. Dalam hadis ini terlihat betapa berlapang dadanya Rasulullah SAW.sebagai rasul dan pendidik.
f. Guru harus ikhlas
Seorang guru harus iklas dalam mengajarkan peserta didiknya.dan hanya mengharap ridha Allah SWT.agar apa yang diniatkan sapai pada tujuannya yaitu membagi ilmu walau satu ayat.dan bukan untuk memamerkan kepintarannya ataupun agar orang lain berhutang budi kepadanya karena sudah di ajar dsb. 58
Mengapa pendidik harus memiliki niat yang ikhlas?
Dengan keikhlasan karena Allah, pendidik dalam melaksanakan tugasnya akan mendapatkan kemudahan.
Karena sasaran pendidikan itu adalah hati.Apa yang diberikan dengan hati akan diterima oleh hati dengan baik. Dengan demikian, proses pendidikan akan mencapai hasil yang optimal. Selain itu dan yang tidak kalah pentingnya adalah semua proses pendidikan yang diberikan oleh pendidik dengan ikhlas akan dihitung sebagai ibadah kepada Allah. Jadi, sangat rugi pendidikan yang melaksanakan tugas kependidikannya tanpa disertai dengan niat yang ikhlas.
Selain bersifat ikhlas, pendidik harus mengajar peserta didik untuk berbuat ikhlas, baik di dalam melaksanakan pekerjaan atau-pun proses belajarnya.Semuanya itu harus mereka laksanakan dengan ikhlas, demi mendapatkan rida dari Allah SWT.Jangan sampai, perbuatan tersebut dilandaskan pada sifat munafik, riya, atau hanya ingin mendapatkan rasa terima kasih dan pujian dari orang-orang.
g. Rendah hati dan tidak sombong
58 Ahmad izzan,saehudin,hadis pendidikan (konsep pendidikan berbasis hadis).humaniora.
Seorang guru harus memiliki sikap ini karena apabila seorang guru memiliki sikap sombong maka murid akan merasa tidak nyaman dengan guru tersebut
h. Perbuatan harus sesuai dengan perkataan
Seorang guru harus memiliki sikap ini agar siswa dapat meneladani seorang guru, karena apabila seorang guru hanya menyuruh saja dan dia sendiri tidak melakukan apa yang diperintahkan maka bagaimana siswa akan meneladani guru tersebut.